5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identifikasi dan Analisis Lingkungan Internal
Analisis terhadap lingkungan internal pemerintah dan industri roti di Kota Bogor teridentifikasi beberapa faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan yang dapat mempengaruhi penerapan Good Manufacturing Pratices di industri roti-kue di Kota Bogor. Analisis ini berdasarkan hasil depth interview dengan para pakar/pelaku dan kajian literatur. Faktor-faktor internal yang teridentifikasi menjadi kekuatan dan kelemahan tercantum dalam Tabel 13.
Tabel 13 Faktor-faktor lingkungan internal No Faktor Lingkungan Internal
Kekuatan (Strenghts)
1 Lokasi Kota Bogor yang strategis menarik
2 Sektor industri makanan-minuman menjadi sektor basis perekonomian Bogor 3 Memiliki infrastruktur pendukung laboratorium uji terakreditasi
4 Dukungan sarana dan prasarana kota memadai 5 Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT
6 Sumber keuangan daerah cukup baik
7 Sudah memiliki jaringan koordinasi lintas SKPD Kelemahan (Weakness)
1 Belum ada Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah maupun Rencana Strategis Pengembangan Industri yang ditetapkan
2 Jumlah dan keahlian tenaga PKP dan DFI masih terbatas 3 Komitmen dan budaya kerja IKM masih kurang
4 Keterbatasan modal IKM
5 Media informasi/ publikasi masih terbatas
6 Keterbatasan pemahaman keamanan pangan tenaga kerja di IKM 7 Mekanisme pengawasan/survailen belum berjalan regular
5.1.1 Kekuatan
Terdapat 7 (tujuh) faktor internal yang teridentifikasi menjadi kekuatan yaitu : 1. Lokasi Kota Bogor yang strategis
Kedudukan topografis Kota Bogor ditengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor dengan kondisi geografis yang relatif lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jabodetabek, serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara,
merupakan potensi yang strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Lokasi yang berdekatan dengan ibu kota Jakarta juga memudahkan akses sumber informasi di pemerintahan pusat ibu kota seperti BPOM, Kementerian Perindustrian, Kementrian UKM, dan lainnya. Adanya Kebun Raya yang didalamnya terdapat Istana Bogor di pusat kota serta kedudukan Kota Bogor diantara jalur tujuan wisata Puncak - Cianjur menjadikan Kota Bogor sebagai salah satu alternatif pusat perbelanjaan, perdagangan dan wisata kuliner bagi masyarakat Kota Bogor dan sekitarnya.
Kota Bogor masih memberikan daya tarik yang besar bagi para wisatawan. Hal itu terlihat dari tingkat kunjungan wisatawan ke Kota Bogor di tahun 2011 yang mencapai 3.264.169 orang yang terdiri dari 3.112.414 wisatawan lokal dan 151.755 wisatawan mancanegara. Dengan demikian, kunjungan wisatawan tahun 2011 tumbuh sebesar 10,02% dibandingkan kunjungan wisatawan di tahun 2010 yang mencapai 2.967.426 orang (Bapeda, 2010). Tempat wisata di Kota Bogor yang menjadi tujuan para wisatawan diantaranya: Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Prasasti Batu tulis, Danau Situgede, Taman Topi (Plaza Kapten Muslihat), Museum Tanah, Museum PETA, Museum Perjuangan, dan Wisata Air The Jungle.
Lokasi strategis menciptakan peluang pasar bagi produk industri IKM roti di Kota Bogor. Hal ini juga berdampak baik bagi perkembangan ekonomi industri roti di Kota Bogor.
2. Sektor industri makanan menjadi sektor basis perekonomian Bogor
Berdasarkan data BPS Kota Bogor, sektor kedua yang dominan dalam pembentukan PDRB Kota Bogor periode 2005-2009 adalah sektor industri pengolahan dengan laju 27,97 %. Pada sektor industri pengolahan, sub sektor dominan adalah sektor makanan, minuman dan tembakau dengan jumlah industri terbanyak. Berdasarkan data sensus industri tahun 2011, selama jangka waktu tahun 2005-2009 sektor makanan dan minuman menunjukan: 1) Peningkatan jumlah output terbesar dibanding sektor lain mencapai 595 juta rupiah; 2) Peningkatan nilai tambah dari 55,82 juta rupiah menjadi 435,07 juta rupiah (7,79 kali lipat).
Industri makanan dan minuman termasuk dalam kategori industri penggerak perekonomian Kota Bogor. Adapun ciri-ciri kelompok industri penggerak perekonomian antara lain: 1) Menggunakan bahan baku lokal (atau bahan baku yang mudah diperoleh; 2) Cara memproduksinya tidak sulit dikuasai oleh masyarakat setempat , karena berbasis talenta dan ketrampilan daerah ataupun kalau membutuhkan alih tehnologi akan mudah dilakukan atau tidak menuntut ketrampilan tinggi; 3) Sebagian besar produknya dapat diserap oleh pasar lokal/domestik, atau tidak memerlukan pemasaran yang sulit; 4) Mempunyai potensi untuk dikembangkan, apabila memungkinkan dikembangkan sebagai produk unggulan daerah (Bapeda, 2010).
3. Memiliki infrastruktur pendukung laboratorium uji terakreditasi
Pemerintah Kota Bogor telah memiliki laboratorium uji terakreditasi KAN (No akreditasi LP-443-IDN ) yaitu Laboratorium Dinas Kesehatan yang beralamat di Jl. Kesehatan No. 3 Tanah Sareal Kota Bogor . Ruang lingkup yang dimiliki antara lain untuk pengujian kimia/fisika air dan air limbah, mikrobiologi makanan dan minuman, bahan tambahan/pengawet/pewarna makanan, hygiene dan sanitasi. Biaya pengujian berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bogor No. 4 Tahun 2006.
Pengujian di laboratorium dibutuhkan dalam membuktikan pemenuhan persyaratan pada penerapan GMP seperti pengujian kualitas air yang digunakan sesuai standar kualitas air menurut PerMenKes No. 907/MenKes/SK/Per./VII/2002; pengujian cemaran mikroba dan kimia sesuai Peraturan Kepala Badan POM RI No. Hk.00.06.1.52.4011 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makanan; pengujian laboratorium untuk memeriksa status kesehatan pekerja.
4. Memiliki dukungan sarana dan prasarana kota memadai
Kota Bogor telah memiliki kualitas dan jaringan air bersih (PDAM) yang cukup baik untuk mendukung operasional industri roti dalam pemenuhan sumber air untuk proses produksi . Baku mutu air minum yang dipersyaratkan dalam penerapan GMP harus memenuhi standar kualitas air menurut PerMenKes No. 907/MenKes/SK/Per./VII/2002. Tingkat pelayanan Air minum oleh PDAM Tirta Pakuan melalui sambungan langsung (SR) pada tahun 2008 sebesar 98,72% (RPJMD Kota Bogor, 2010-2014).
Data Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (tahun 2008) menunjukan jaringan jalan Kota Bogor sepanjang 783,412 km yang dalam kondisi baik sekali sepanjang 255,046 km dan kondisi baik sepanjang 428,222 km. Di Kota Bogor terdapat satu stasiun, empat terminal kendaraan umum yaitu terminal Baranangsiang, terminal Merdeka, terminal Bubulak dan terminal Laladon. Aksesbilitas jalan dan kereta api di Kota Bogor yang cukup baik menghubungkan dengan wilayah eksternal mendukung potensi pemasaran industri roti.
Jaringan listrik di Kota Bogor tersedia cukup baik dimana jumlah pelanggan dan daya tersambung setiap kecamatan hampir merata, yang paling rendah di Bogor Timur (Tabel 14). Jaringan listrik yang baik mendukung bagi kegiatan produksi IKM roti.
Tabel 14 Jumlah pelanggan listrik dan daya tersambung menurut kecamatan di Kota Bogor tahun 2008
No Kecamatan Jumlah Langganan Daya Tersambung 1 Bogor Selatan 34.580 32.387.551 2 Bogor Timur 16.932 23.743.271 3 Bogor Utara 29.403 25.612.646 4 Bogor Tengah 23.004 50.527.466 5 Bogor Barat 35.833 28.448.908 6 Tanah Sareal 30.728 22.811.799 170.480 183.531.641
Sumber : Kota Bogor dalam Angka BPS ( 2008)
5. Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT oleh pemerintah daerah Kota Bogor
Sejak tahun 2010 pemerintah daerah Kota Bogor melalui Dinas Kesehatan Bogor telah menetapkan kebijakan untuk melakukan pembebasan biaya pendaftaran SP-PIRT sebesar Rp.300.000,-. Hal ini meringankan bagi IKM roti untuk memperoleh SP-PIRT, dimana SP-PIRT merupakan jaminan tertulis yang diberikan oleh Walikota terhadap pangan produksi IRTP yang telah memenuhi persyaratan antara lain GMP. Tata Cara untuk memperoleh SP-PIRT diatur dalam Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 tahun 2012 tentang pedoman pemberian sertifikat produksi pangan industri rumah tangga.
6. Sumber keuangan daerah cukup baik
Sumber penerimaan pemerintah daerah Kota Bogor berasal dari bagian pendapatan asli daerah , bagian dana perimbangan dan pendapatan lain yang syah. Pendapatan asli daerah Kota Bogor tahun 2011 mencapai Rp. 127.4888.089.831, - ; dana perimbangan mencapai Rp. 659.141.536.834,- dan dana pendapatan lain yang yang syah mencapai Rp. 56.121.435.000,-. Total sumber penerimaan pemerintah daerah Kota Bogor mencapai Rp. 842.751.061.665 (Tabel 15). Sumber penerimaan daerah menjadi modal bagi penyelenggaraan urusan pemerintah daerah termasuk dalam pembiayaan kegiatan Dinas Kesehatan maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan terkait penyuluhan dan pengawasan IKM . Hal ini menjadikan iklim yang kondusif mendukung pemerintah daerah dalam melaksanakan program kerjanya.
Tabel 15 Realisasi penerimaan daerah Kota Bogor tahun 2011
No Jenis Penerimaan Nilai
1 Bagian Pendapatan Asli daerah 127.488.089.831
1.1 Pajak Daerah 66.504.761.353
1.2 Restribusi Daerah 34.681.146.445
1.3 Bagian Laba Usaha Daerah 15.137.968.088
1.4 Penerimaan lain-lain 11.164.213.945
2. Bagian dana Perimbangan 659.141.536.834
2.1Bagi Hasil Pajak 129.983.594.372
2.2Bagi Hasil Bukan Pajak 18.704.027.015
2.3Dana Alokasi Umum 426.093.607.000
2.4Dana Alokasi Khusus (DAK) 9.756.700.000
2.5 Bagi Hasil Pajak & Bantuan Keuangan dari Propinsi 74.603.608.447
2.5.1 Bagi hasil Pajak Propinsi 74.603.608.447
2.5.2 bantuan Keuangan dari Propinsi -
3 Lain–lain Pendapatan yang syah 56.121.435.000
3.1 Hibah 2.999.965.000
3.2 Pendapatan lainnya 53.121.470.000
Jumlah Penerimaan 842.751.061.665
Sumber : Kota Bogor dalam Angka, BPS (2011)
7. Sudah memiliki jaringan koordinasi lintas SKPD
Pemerintah Kota Bogor telah menyelenggarakan pertemuan rutin lintas satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) untuk mengkoordinasikan pelaksanaan program kerja rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), misalnya dalam urusan ketahanan pangan dengan indikasi kegiatan peningkatan distribusi,
mutu dan ketersediaan masyarakat maka terdapat jaringan koordinasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kantor Koperasi dan UKM . 5.1.2 Kelemahan
Terdapat 7 (tujuh) faktor internal yang teridentifikasi menjadi kekuatan yaitu : 1. Belum ada Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah maupun Rencana
Strategis Pengembangan Industri
Pemerintah Kota Bogor belum memiliki Rencana Aksi Pangan-Gizi Daerah yang mengacu ke Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) yang telah ditetapkan pemerintah melalui Badan Perencanaan Nasional (Bapenas). Bapenas telah menghimbau RAN-PG agar diacu oleh seluruh pemerintah daerah dalam penanganan masalah pangan-gizi untuk dijabarkan dalam Rencana Aksi Pangan-Gizi Daerah. RAN-PG yang berlaku saat ini RAN-PG tahun 2011-2015. RAN-PG disusun melalui pendekatan lima pilar pembangunan pangan dan gizi yang meliputi (1) perbaikan gizi masyarakat; (2) aksesibilitas pangan; (3) mutu dan keamanan pangan; (4)perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan (5) kelembagaan pangan dan gizi. Salah satu strategi kebijakan peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan dilakukan melalui peningkatkan pengawasan keamanan pangan yang difokuskan pada makanan jajanan yang memenuhi syarat dan produk industri rumah tangga (PIRT) tersertifikasi. Strategi peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan dalam RAN-PG dijabarkan dalam program kegiatan dengan indikator capaian seperti tercantum dalam Tabel 16.
Adapun misi dalam RPJMD Kota Bogor tahun 2010-2014 yang terkait dalam peningkatan mutu keamanan pangan pada IKM tercantum pada misi 1 yaitu ”Mengembangkan perekonomian masyarakat yang bertumpu pada kegiatan jasa perdagangan” dengan strategi meningkatkan nilai tambah produk industri kecil menengah dan strategi meningkatkan distribusi, mutu dan ketersediaan bahan pangan . Namun belum ada stategi yang mengacu secara spesifik ke program / indikator RAN-PG.
Pemerintah Kota Bogor belum memiliki Rencana Strategis Pengembangan Industri yang ditetapkan, baru tahap pengkajian penyusunan rencana induk perdagangan dan perindustrian Kota Bogor yang dilakukan pada tahun 2011.
Tabel 16 Program dan indikator pelaksanaan strategi peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan RAN PG Tahun 2011-2015
No Program Indikator
1 Pengawas Obat dan Makanan Proporsi makanan yang memenuhi syarat 2 Pengawasam Produk dan Bahan
Berbahaya Prosentase makanan yang mengandung cemaran bahan berbahaya yang dilarang 3 Inspeksi dan Sertifikasi Makanan ‐ Prosentase sarana produksi makanan MD yg
memenuhi GMP terkini
‐ Prosentase sarana produksi makanan bayi dan anak yg memenuhi GMP terkiniuhi standar GRP/GDP
‐ Prosentase penjualan makanan yang meme 4 Peningkatan jumlah dan
kompetensi tenaga penyuluh dan pengawas
- Jumlah tenaga penyuluh keamanan (PKP) - Jumlah tenaga pengawas Kab/Kota (FDI) 5 Bimbingan teknis pada industri
rumah tangga pangan (IRTP) - Jumlah penyusunan Modul Penerapan Prinsip Keamanan Pangan pada proses produksi di IRTP berdasarkan jenis produk
- Jumlah IRTP yang dilatih dan difasilitasi Penerapan Prinsip Keamanan Pangan pada proses produksi di IRTP
- Jumlah IRTP yang dilatih dan difasilitasi disain dan implementasi CPPB pada IRTP
- Monitoring dan verifikasi CPPB pada IRTP - Monitoring dan verifikasi BinTek pada kantin
sekolah Sumber : Bappenas (2011)
Sedangkan secara nasional telah ditetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 - 2025 sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007; Kebijakan Pembangunan Industri Nasional melalui Peraturan Presiden 28 Tahun 2008; penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN); dan Rencana Strategis Kementrian Perindustrian tahun 2010-2014. Rencana strategis tersebut perlu diacu dalam Rencana Strategis Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Arah kebijakan industri 2005-2025 seperti dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 antara lain : 1) Pembangunan industri diarahkan mewujudkan industri berdaya saing baik di pasar lokal maupun internasional, dan terkait dengan pengembangan Industri Kecil dan Menengah; 2) Menciptakan lingkungan usaha mikro (lokal) yang dapat merangsang tumbuhnya rumpun industri yang sehat dan kuat melalui penyediaan berbagai infrastruktur bagi peningkatan kapasitas kolektif, yang, antara lain, sarana dan prasarana fisik (transportasi, komunikasi, energi), sarana dan prasarana teknologi, prasarana
pengukuran, standardisasi, pengujian, dan pengendalian kualitas, serta sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan tenaga kerja industri. Indikator kinerja urusan perindustrian yang telah ditetapkan dalam RPJMD Kota Bogor 2010-2014 dan Renstra Dinas Perindustrian dan Perdagangan hanya mencakup jumlah industri kecil dan menengah (IKM) dengan target sebanyak 3510 unit IKM, dan jumlah IKM yang memanfaatkan teknologi tepat guna .
2. Jumlah dan keahlian tenaga penyuluh keamanan pangan dan tenaga pengawas pangan masih terbatas
Penyelenggara penyuluhan keamanan pangan dikoordinasikan oleh WaliKotac.q. Dinas Kesehatan Kota melalui tenaga Penyuluh Keamanan Pangan (PKP) yang diberi tugas untuk melakukan penyuluhan keamanan pangan kepada industri. Tenaga Pengawas Pangan Kota(District Food Inspector/DFI) diberi tugas untuk melakukan pengawasan keamanan pangan IRTP dalam rantai pangan. Kriteria tenaga PKP dan DFI dalah pegawai negeri sipil (PNS) yang memiliki Sertifikat kompetensi dari Badan POM dan ditugaskan oleh WaliKota c.q. Dinas Kesehatan Kota.
Saat ini Dinas Kesehatan Kota Bogor hanya memiliki 4 tenaga PKP yang aktif bertugas, dimana 3 orang tersebut juga merangkap sebagai tenaga Pengawas Pangan Kota (DFI). Jika dibandingkan dengan jumlah industri kecil-menengah pangan keseluruhan tahun 2011 di Kota Bogor sebanyak 1.366 industri maka tenaga tersebut belum memadai. Mengingati tugas sebagai PKP dan DFI tersebut masih merangkap tugas-tugas lain terkait pengawasan obat, farmasi dan kesehatan. Latar belakang pendidikan yang dimiliki 4 tenaga PKP/ DFI semuanya adalah sarjana Farmasi. Hal ini menjadikan dukungan kompetensi PKP/DFI terutama dalam hal keamanan pangan, tehnologi dan proses industri pangan terbatas. Jumlah dan dukungan kompetensi tenaga PKP/DFI juga akan mempengaruhi penerapan Good Manufacturing Practices di industri IKM roti di Kota Bogor.
3. Tingkat komitmen dan budaya kerja IKM masih kurang
Berdasarkan hasil depth interview dengan petugas PKP/DFI serta petugas pembina indusrti pangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, salah satu faktor yang menyebabkan industri IKM roti-kue di Kota Bogor belum menerapkan Good Manufacturing Practices adalah kurangnya komitmen dan
dukungan dari pimpinan/pemilik IKM . Walaupun IKM telah mendapat penyuluhan dan pembinaan intensif dari pemerintah bila tanpa diikuti komitmen dan dukungan dari pimpinan/pemilik IKM menyebabkan penerapannya berhenti. Hal serupa ditemukan pada penelitian Wilcock et al. (2011) bahwa prioritas pertama yang mempengaruhi penerapan HACCP pada SME’s yaitu komitmen manajemen puncak.
Selain itu kendala lain yang timbul selama pembinaan adalah sulitnya mengubah budaya kerja/perilaku dari tenaga kerja IKM kearah yang sesuai dengan aturan dalam Good Manufacturing Practices seperti budaya mencuci tangan, penggunaan masker, sarung tangan dan tutup kepala. Faktor penting yang mempengaruhi kepatuhan pekerja adalah sikap kepimpinan dan komitmen manajemen terhadap program dan juga pelatihan yang tepat ( Wilcock et al., 2011). 4. Keterbatasan modal IKM
Industri pangan roti di Kota Bogor bila dikelompokkan berdasarkan interval / range investasi Rp. 50 juta, mayoritas berada pada nilai investasi di bawah Rp. 50 juta berjumlah 36 industri (78,3%) lihat Tabel 12 sebelumnya. Secara umum modal dari IKM adalah terbatas, sedangkan untuk menerapkan Good Manufacturing Practices membutuhkan dukungan dana seperti perbaikan fasilitas bangunan, penyediaan alat kerja, training dan lain-lain. Penelitian Karaman et al. (2012) menemukan bahwa biaya (46,4%) dan ketidakkecukupan kondisi fisik pabrik (35,7%) merupakan penghalang utama untuk mengadopsi program prasyarat (PRPs) pada pabrik susu Aydın.
5. Media dan tehnologi informasi/penerbitan publikasi masih terbatas
Saat ini Dinas Kesehatan Kota Bogor belum mempunyai media informasi/ publikasi/panduan yang diterbitkan dalam mendukung program penerapan Good Manufacturing Practices. Bahan materi diberikan kepada pemilik IKM pada saat mengikuti penyuluhan dan masih terbatas dalam bentuk slides, belum dalam bentuk audio visual. Belum ada modul atau panduan penerapan prinsip-prinsip keamanan pangan pada proses produksi di IRTP berdasarkan jenis produknya yang telah dibuat oleh pemerintah Kota Bogor. Tata cara dan informasi, data base industri yang memperoleh SP-PIRT belum secara aktif dipublikasikan termasuk dalam website Dinas Kesehatan.
6. Keterbatasan pemahaman aspek keamanan pangan tenaga kerja di IKM Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, jumlah IRTP untuk keseluruhan komoditi pangan yang telah mendapatkan SP-PIRT yaitu sebanyak 497 maka sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah industri kecil pangan keseluruhan di Kota Bogor tahun 2011 sebanyak 1.335 industri. Hal tersebut menandakan masih banyak industri kecil yang belum paham terhadap aspek keamanan pangan. Hal serupa juga ditemukan Bass et al. (2007) pada penelitiannya di Turki, bahwa hambatan utama industri pangan dalam menerapkan HACCP yaitu kurangnya pengetahuan tentang HACCP.
7. Mekanisme pengawasan/survailen belum berjalan reguler
Sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor Hk.03.1.23.04.12.2205 tahun 2012 tentang pedoman pemberian sertifikat produksi pangan industri rumah tangga Lampiran 1 butir g bahwa Bupati/ WaliKota cq. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melakukan monitoring (pengawasan) terhadap pemenuhan persyaratan SP-PIRT yang telah diterbitkan minimal 1 (satu) kali dalam setahun. Sampai saat ini industri yang telah mendapatkan SP-PIRT dari Dinas Kesehatan Kota Bogor belum seluruhnya dilakukan monitoring (pengawasan) terhadap pemenuhan persyaratan SP-PIRT 1 (satu) kali dalam setahun. Hal ini sangat terkendala dengan jumlah tenaga pengawas /DFI yang terbatas.
5.2 Identifikasi dan Analisis Lingkungan Eksternal
Faktor-faktor eksternal yang teridentifikasi menjadi peluang dan ancaman yang dapat mempengaruhi penerapan Good Manufacturing Practices pada IKM roti-kue di Kota Bogor tercantum dalam Tabel 17.
5.2.1 Peluang
Terdapat 7 (tujuh) faktor internal teridentifikasi merupakan peluang yaitu : 1 Pontensial peluang pasar dalam negeri
Salah satu faktor sosial yang berpotensi terhadap penciptaan pangsa pasar bagi setiap bidang usaha di suatu wilayah adalah peningkatan jumlah penduduk
Tabel 17 Faktor-faktor lingkungan eksternal No Faktor Lingkungan Eksternal
Peluang (opportunity)
1 Pontensial peluang pasar dalam negeri
2 Adanya bantuan programn dari pemerintah pusat 3 Perubahan pola konsumsi dan hidup sehat masyarakat 4 Perkembangan teknologi dan informasi
5 Keberadaan dari lembaga pendidikan/peneliti di Kota Bogor Ancaman (threat)
1 Persaingan dari produk bakery sejenis (franchaise) dan produk luar Kota
2 Kenaikan biaya produksi yang mempengaruhi harga produk 3 Perkembangan jenis makanan jadi lain produk substitusi roti
4 Pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan diantara perusahaan roti yang ada
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Penduduk Indonesia yang semakin meningkat dapat berimplikasi terhadap peningkatan kebutuhan pangan. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia selama periode 2005-2008 rata-rata 1, 28 % ( BPS, 2008). Jumlah penduduk Kota Bogor terus mengalami pertumbuhan dengan rata-rata selama kurun waktu 11 tahun terakhir adalah 2, 83 %. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi industri roti-kue di Kota Bogor untuk mengembangkan usahanya. Hal ini karena jumlah penduduk yang semakin meningkat merupakan pangsa pasar yang potensial untuk memasarkan produknya.
Nilai konsumsi roti per kapita oleh masyarakat Indonesia pada 2010 tumbuh tertinggi dibandingkan 11 negara Asia Pasifik lainnya. Nilai konsumsi roti di Indonesia naik 25% pada 2010 menjadi US$ 1,5 per orang per tahun, dari konsumsi US$ 1,2 per orang per tahun pada 2009. Pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi dibanding kenaikan nilai konsumsi roti di negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, China, Taiwan, dan India pada periode yang sama. Asosiasi roti dan biskuit Indonesia memprediksi konsumsi roti dan biskuit pada kuartal II 2011 meningkat 10%-15% dibanding kuartal I tahun ini (http://id.indonesia financetoday.com/).
2. Adanya bantuan program dari pemerintah pusat
Pemerintah Kota Bogor juga menerima bantuan dari instansi pemerintahan pusat seperti BPOM, Kementrian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal IKM,
Kementrian Kesehatan, Kementrian UKM ,Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Barat . Bantuan biasanya dapat berupa bentuk program/dana insentif, training, bimbingan intensif, bantuan peralatan atau bantuan pemasaran/promosi/pameran bagi IKM. Namun program, jadwal dan besaran bantuan sangat tergantung dari instansi pusat.
Salah satu program yang dianggarkan oleh BPOM untuk seluruh kabupaten/kota di Indonesia tertera dalam Rencana Aksi Pangan Nasional 2011-2015 dengan sumber APBN untuk kegiatan mutu dan keamanan pangan sebesar 599 milyar untuk tahun 2012, 647 milyar tahun 2013, 725 milyar tahun 2014 dan 1.000 milyar untuk tahun 2015 ( Bapenas, 2010).
3. Perubahan pola konsumsi dan hidup sehat masyarakat
Pola konsumsi masyarakat Indonesia dapat dikenali berdasarkan alokasi penggunaannya. Secara garis besar, alokasi pengeluaran konsumsi masyarakat digolongkan dalam dua kelompok penggunaan, yaitu pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran untuk bukan makanan. Pengeluaran konsumsi untuk makanan hampir 56,86 % dari seluruh pendapatan perkapitanya.Kaitan antara pola konsumsi komoditas pangan utama dengan tingkat pendapatan dapat dipahami atau dibuktikan pada tingkat makro maupun mikro menurut dua hukum, yaitu Hukum Engel dan Hukum Bennet. Hukum Engel menyatakan bahwa proporsi anggaran Rumah Tangga yang dialokasikan untuk konsumsi pangan pokok akan semakin kecil pada saat tingkat pendapatan meningkat. Hukum Bennet menyatakan bahwa rasio makanan pokok yang mengandung zat tepung akan menurun pada saat pendapatan meningkat atau persentase kalori yang diperoleh dari pangan pokok berkurang saat pendapatan meningkat, karena konsumen melakukan diversifikasi pangan yang dikonsumsinya dengan memasukkan kalori tinggi (Hanani, 2009). Kecenderungan perubahan pola konsumsi produk pengganti nasi merupakan peluang bagi industri pangan termasuk IKM roti di Kota Bogor. Penduduk Kota Bogor memiliki tingkat konsumsi konsumsi pangan terbesar ke tiga di provinsi Jawa Barat setelah Kota Sukabumi dan Kota Depok.
Dewasa ini terjadi perubahan pola hidup sehat di dalam masyarakat juga berdampak pada tingkat kepedulian konsumen dalam pemilihan produk yang aman dikonsumsi. Hal ini menjadikan peluang bagi IKM roti yang telah mendapatkan
SP-PIRT sebagai salah bentuk jaminan dari pemerintah bahwa produknya diproduksi dengan memenuhi persyaratan Good Manufacturing Practices yang ditentukan pemerintah.
4. Perkembangan teknologi dan informasi
Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat merupakan peluang yang sangat besar bagi industri termasuk IKM roti di Kota Bogor. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi ini dapat mendukung kelancaran usaha baik pada aspek produksi maupun pemasaran.
5. Keberadaan dari lembaga pendidikan/peneliti di Kota Bogor
Di Kota Bogor dan sekitarnya terdapat beberapa perguruan tinggi seperti IPB, Universitas Pakuan, Universitas Djuanda, Diploma IPB , Universitas Ibnu Khaldun,Univeritas Nusa Bangsa, Diploma Analis Kimia yang dapat menjadi sumber informasi dan memiliki tenaga ahli yang dapat dimanfaatkan bagi IKM maupun pemerintah daerah. Perguruan tinggi tersebut umumnya juga punya aktivitas pengembangan dan pengabdian masyarakat yang salah satu kegiatannya ikut membantu membina/memfasilitasi IKM seperti Inkubator Bisnis, LPPM IPB, dan lain-lain. Hal ini dapat menjadi peluang kerjasama yang baik untuk meningkatkan penerapan Good Manufacturing Practices di IKM roti-kue di Kota Bogor. Lembaga penelitian yang berada di Kota Bogor cukup banyak, diantaranya seperti tercantum pada Tabel 18.
Tabel 18 Daftar balai penelitian di Kota Bogor
NO
Nama Balai Penelitian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Balai Besar Industri Agro
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian
Balai Penelitian Tanaman Pangan
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan Balai Penelitian Veteriner
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Balai Penelitian Tanah
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia SEAFAST Center IPB
Balitbang Botani
Puslitbang Gizi dan Makanan, Balitbang Kesehatan Institut Pertanian Bogor
5.2.2 Ancaman (threat)
Terdapat 7 (tujuh) faktor internal yang teridentifikasi menjadi ancaman yaitu : 1. Persaingan dari produk roti-kue sejenis (franchaise) dan produk luar
Kota yang punya jaminan kualitas dan keamanannya
Saat ini semakin banyak outlet produk roti-kue sejenis yang merupakan (franchaise) dari perusahaan besar dan produk luar Kota Bogor didirikan atau dipasarkan di lokasi strategis Kota Bogor seperti Bread Talk, Roti Boy, PT Yogya tbk , PT Hero Tbk, Amanda, Kartika Sari, Maxim, Sari Roti yang telah memiliki brand, jaminan kualitas dan keamanan melalui sertifikasi. Hal ini menjadi ancaman persaingan pasar bagi IKM roti di Kota Bogor.
2. Adanya kemungkinan kenaikan biaya produksi yang mempengaruhi harga produk
Harga minyak dunia mengalami fluktuasi yang besar selama tahun 2008-2010. Harga minyak sempat menembus angka lebih dari US$ 145 per barrel. Seiring dengan naik turunnya harga BBM dunia, maka harga BBM di dalam negeri juga mengalami fluktuasi. Saat ini pemerintah menetapkan harga premium subsidi Rp 4. 500 dan non subsidi Rp 7.500. Semula tahun 2011 akan menaikan harga premium, namun kondisi ekonomi masyarakat yang belum siap maka pemerintah menunda rencana kenaikan ini.
Selain menggunakan bahan bakar minyak, saat ini hampir sebagian besar industri menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakarnya. harga gas elpiji cenderung mengalami kenaikan (Tabel 19).
Tabel 19 Perkembangan Harga Gas Elpiji per Kemasan (Rp/Kg)
Tahun Harga Gas Elpiji (Rp)
3 Kg 6 Kg 12 Kg 50 Kg 2005 - 25.500 51.000 212.500 2006 - 25.500 51.000 212.500 2007 12.750 25.500 51.000 312.950 Jan-08 12.750 25.500 51.000 396.600 Apr-08 12.750 25.500 51.000 340.150 Jul-08 12.750 31.500 63.000 343.900 Agust-08 `12.750 - `69.000 362.750 Sumber : PT. Pertamina (2009)
Kondisi ini tentunya dapat mengancam IKM yang menggunakan gas elpiji untuk kelangsungan proses produksinya karena dapat menyebabkan biaya produksi menjadi meningkat. Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi, biaya distribusi dan mahalnya harga bahan baku produksi yang berakibat pada naiknya harga produk yang dibuat. Kondisi kenaikan BBM dan elpijii, membuat IKM berada dalam posisi yang sulit, margin keuntungan menjadi kecil dan menjadi suatu dilema untuk menaikkan harga.
Tarif Dasar Listrik (TDL) adalah tarif yang boleh dikenakan oleh pemerintah untuk para pelanggan PLN. Penurunan TDL penting dilakukan sebagai stimulus fiskal bagi sektor riil di tengah dampak krisis ekonomi global. Oleh karena itu, bersamaan dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM pada tanggal 15 Januari 2009, pemerintah juga menetapkan penurunan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 8%. Akan tetapi penurunan TDL ini hanya berlaku bagi pelanggan industri I-3 dengan daya tersambung 14-200 kVA dan industri I-4 dengan daya tersambung 201 kVA. Penurunan itu juga hanya pengurangan disinsentif bagi pelanggan industri yang menggunakan listrik melebihi daya tertentu saat beban puncak. Dengan kata lain, penurunan TDL pada tahun 2009 belum berdampak terhadap IKM. Bahkan pada tahun 2012 pemerintah akan menaikan TDL, kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi IKM roti yang menggunakan listrik dalam proses produksinya.
3. Perkembangan jenis makanan jadi lain yang tergolong produk substitusi roti
Produk substitusi atau produk pengganti adalah produk lain yang memiliki fungsi sama dengan produk perusahaan dan dapat mempengaruhi keberadaan produk perusahaan selama di pasar. Keberadaan produk substitusi dapat menjadi ancaman bagi suatu perusahaan jika produk substitusi tersebut mempunyai harga yang lebih murah namun memiliki kualitas yang sama dengan produk yang ditawarkan perusahaan. Oleh karena itu, faktor harga jual dan mutu produk sering digunakan oleh pelaku usaha sebagai alat dalam menghadapi keberadaan produk substitusi. Pada industri roti (bakery), produk yang dapat digolongkan menjadi produk substitusi adalah biskuit, kue, sereal, pie, wafer, mi instan dan lain-lain.
Produk substitusi roti yang semakin beragam baik dari segi harga maupun mutu produk, misalnya mi instan, biskuit, sereal, pie atau wafer merupakan salah satu ancaman bagi usaha bagi IKM di Kota Bogor.
4. Pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan diantara perusahaan roti yang ada
Secara umum, pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan dalam membeli produk roti sesuai dengan seleranya. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah perusahaan roti yang terdapat di Kota Bogor, dimana masing-masing perusahaan roti menawarkan produk yang semakin bervariasi dan semakin banyak jenisnya termasuk dari segi mutu produk dan harga jual produk. Oleh karena itu, kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi IKM roti di Kota Bogor.
5.3 Matrik IFE dan EFE
Setelah hasil analisa lingkungan internal dan eksternal di atas melalui depth interview dengan pakar pihak terkait, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan matriks IFE dan EFE. Matriks IFE terdiri dari faktor-faktor yang merupakan kekuatan dan kelemahan . Matriks EFE terdiri dari faktor-faktor yang merupakan peluang dan ancaman.
Untuk memperoleh Matriks IFE dan EFE terlebih dahulu ditentukan Bobot dan Rating. Rating didapat setelah melakukan depth interview dan pengisian kuisioner kepada 5 (lima) pakar yang memahami situasi dan kondisi penerapan GMP di IKM di Kota Bogor (Lampiran 1).
Penentuan bobot dilakukan dengan menggunakan metode pairwaised comparison sehingga diperoleh nilai bobot. Total skor diperoleh dengan cara mengalikan nilai perolehan rata-rata rating dan nilai perolehan nilai rata-rata bobot dari seluruh pakar. Analisis ini ditujukan untuk menilai dan mengevaluasi pengaruh faktor-faktor strategis terhadap peningkatan penerapan GMP di IKM roti Kota Bogor. Setelah nilai Rating dan Bobot diperoleh maka selanjutnya ditentukan nilai Matriks IFE dan EFE .
Dari matriks IFE (Tabel 20) tersebut menunjukan Nilai/Skor IFE adalah 2,333 menunjukkan pemerintah kota Bogor cukup baik dalam mengelola kondisi internalnya. Jika dikaji dari perbandingan skor masing-masing faktor yang menjadi
kekuatan, maka faktor kekuatan utama adalah kebijakan pemerintah kota Bogor membebaskan biaya SP-PIRT dengan skor tertinggi 0,278. Faktor kekuatan kedua dan ketiga adalah dukungan sarana dan prasarana kota yang memadai (skor 0,263) serta memiliki infrastruktur pendukung laboratorium uji terakreditasi (skor 0,259). Sebaliknya memiliki jaringan koordinasi lintas SKPD dinilai sebagai faktor kekuatan yang paling rendah (skor 0,176).
Mekanisme pengawasan yang belum diterapkan secara regular serta keterbatasan jumlah dan keahlian tenaga penyuluh (PKP) dan pengawas (DFI) dinilai menjadi kelemahan utama bagi peningkatan penerapan GMP di IKM roti Kota Bogor dengan skor terendah yang sama yaitu 0,081. Faktor kelemahan kedua adalah kurangnya komitmen dan budaya kerja IKM (skor 0,091) . Belum ada Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah maupun Rencana Strategis Pengembangan Industri yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kota Bogor dinilai menjadi faktor kelemahan ketiga (skor 0,095).
Tabel 20 Matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
No Faktor Internal Bobot
(a) Rating (b) Skor (axb) A Kekuatan (Strength)
1 Lokasi Kota Bogor yang strategis 0,052 3,6 0,186
2 Sektor industri makanan-minuman menjadi sector basis dalam perekonomian Bogor
0,066 3,8 0,251
3 Memiliki pendukung laboratorium uji terakreditasi 0,068 3,8 0,259 4 Dukungan sarana dan prasarana Kota memadai 0,077 3,4 0,263
5 Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT 0,073 3,8 0,278
6 Sumber keuangan daerah cukup baik 0,069 3,2 0,220
7 Sudah memiliki jaringan koordinasi lintas SKPD 0,055 3,2 0,176
Sub Jumlah A 1,632
B Kelemahan (weakness)
1 Belum ada Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah maupun Rencana Strategis Pengembangan
0,068 1,4 0,095
2 Jumlah dan keahlian tenaga PKP dan FDI terbatas 0,081 1 0,081 3 Komitmen dan budaya kerja IKM masih kurang 0,091 1 0,091
4 Keterbatasan modal IKM 0,077 1,8 0,139
5 Media informasi/penerbitan publikasi/ tehnologi informasi masih terbatas
0,054 2 0,109
6 Keterbatasan pemahaman tenaga kerja di IKM 0,088 1,2 0,105 7 Mekanisme pengawasan belum berjalan reguler 0,081 1 0,081
Sub Jumlah B 0,701
Hasil evaluasi terhadap faktor eksternal diperoleh nilai seperti pada Tabel 21 dibawah ini. Dari matriks IFE tersebut diperoleh Nilai / Skor EFE adalah 2,48 menunjukkan pemerintah Kota Bogor belum cukup mampu memanfaatkan peluang dan meminimalkan ancamam lingkungan eksternal.
Tabel 21 Matriks EFE (Exsternal Factor Evaluation)
No Faktor-Faktor Eksternal Bobot
(a) Rating (b) Skor (axb) C Peluang (opportunity)
1 Pontensialnya peluang pasar dalam negeri 0,114 4 0,457 2 Adanya bantuan program dari pemerintah pusat 0,131 3,2 0,420
3 Perubahan pola konsumsi masyarakat 0,100 3,6 0,362
4 Perkembangan teknologi dan informasi 0,088 3,8 0,334 5 Keberadaan dari lembaga pendidikan/peneliti di
Kota Bogor
0,067 3,2 0,214
Sub jumlah C 1,787
D Ancaman (threats)
1 Persaingan dari produk bakery sejenis (franchaise) dan produk luar kota
0,130 1,2 0,156
2 Kenaikan biaya produksi 0,134 1,4 0,187
3 Perkembangan jenis makanan jadi lain produk substitusi roti
0,105 1,8 0,188 4 Pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan
pilihan diantara perusahaan roti yang ada
0,131 1,2 0,157
Sub jumlah D 0,689
Jumlah (C +D) 2,476
Berdasarkan perbandingan nilai skor yang diperoleh, maka faktor peluang paling utama adalah masih potensialnya peluang pasar dalam negeri dengan nilai skor tertinggi yaitu 0,457. Faktor peluang kedua adalah faktor adanya bantuan pendanaan dari pemerintah pusat (skor 0,420). Keberadaan dari lembaga pendidikan/peneliti di Kota Bogor dinilai sebagai peluang terendah (skor 0,214).
Persaingan dari produk roti sejenis (franchaise) dan produk dari luar Kota yang sudah punya nama, jaminan kualitas dan keamanannya dinilai sebagai ancaman yang utama bagi IKM roti di Kota Bogor (skor 0,156). Ancaman utama kedua adalah pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan pilihan diantara perusahaan roti yang ada (skor 0,157). Ancaman yang dinilai paling lemah adalah perkembangan jenis makanan jadi lain yang tergolong produk substitusi roti dengan perolehan skor 0,188.
Wilcock et al. (2011) mengidentifikasi motivasi dalam menerapkan HACCP pada industri pangan kecil dan menengah antara lain karena regulasi pemerintah, keinginan lebih maju dari pesaingnya dan memenuhi persyaratan pelanggan. Oleh karena itu selain adanya regulasi wajib pemerintah, peluang potensi peluang pasar serta persaingan bisnis dapat diarahkan untuk meningkatkan motivasi IKM untuk menerapkan GMP dan memperoleh jaminan SP-PIRT. Bagi kebanyakan industri, penentuan utama seluruh persaingan serta tingkat profitabilitas secara umum adalah persaingan antara perusahaan dalam industri (Umar, 2005).
5.4 Matrik Internal- Eksternal (IE)
Matriks IE disusun untuk mengetahui strategi apa yang sebaiknya digunakan. Sumbu horizontal Matrik IE dibagi menjadi 3 bagian yaitu range antara 1.00–1.99 (lemah), range antara 2.00–2.99 (rataan), dan range antara 3.00–4.00 (kuat) demikian pula sumbu vertikal dibagi menjadi 3 bagian yaitu range antara 1.00-1.99 rendah), range antara 2.00–2.99 (sedang), dan range antara 3.00–4.00 (tinggi).
Dari hasil Matriks IFE dan EFE sebelumnya didapat nilai IFE 2.333 dan nilai EFE 2.476. Visualisasi posisi pada Matriks IE dapat dilihat pada Gambar 18. Berdasarkan hasil tersebut, terlihat posisi pemerintah Kota Bogor terkait penerapan GMP di IKM roti berada pada kotak sel V Matrik IE, yaitu pada kotak ‘jaga dan pertahankan’ (hold and maintain), sehingga strategi yang disaranan defensif.
I
Grow and Build Strategi intensif atau Integrative
II
Grow and Build Strategi intensif atau integratif
III
Hold and Maintain Penetrasi dan pengembangan I V
Grow and Build Strategi intensif atau Integrative
V
Hold and Maintain Penetrasi dan pengembangan
VI
Harvest or Divest
VII
Hold and Maintain Penetrasi dan pengembangan
VIII
Harvest or Divest IX Harvest or Divest
Gambar 18 Matriks IE posisi pemerintah Kota Bogor.
Rendah 1,0‐1,99 Lemah 1,0‐1,99 Rata 2,0,0‐2,99 Kuat 3,0‐4,0 EFE Tinggi 3,0‐4,0 Sedang 2,0‐2,99
Hal ini berarti strategi pemerintah daerah Kota Bogor adalah menjaga agar IKM roti yang saat ini telah memenuhi GMP tetap memenuhi persyaratan GMP melalui mekanisme pengawasan dan melakukan penetrasi terhadap IKM roti yang belum memenuhi persyaratan GMP melalui penyuluhan lebih intensif, publikasi, promosi maupun bimbingan mendukung IKM roti untuk memenuhi GMP. Selain itu pemerintah mencari alternatif pengembangan metode, paduan, publikasi dalam mendorong agar persyaratan GMP dapat dipahami oleh IKM roti.
5.5 Strukturisasi ISM ( Interpretive Structural Modelling)
Dalam rangka memperkaya penyusunan formula strategi digunakan analisis mengunakan teknik ISM untuk melihat hubungan kontekstual antar elemen dan hirarki untuk elemen penyusun strategi. Elemen yang dipilih adalah 1) elemen pendukung 2) elemen penghambat 3) elemen aktor pelaku.
5.5.1 Strukturisasi Elemen Pendukung (SO)
Elemen dan sub elemen pendukung dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi SWOT yaitu paduan faktor Kekuatan dan Peluang (SO) sehingga dihasilkan 12 sub
elemen pendukung untuk meningkatan penerapan GMP pada IKM roti-kue terdiri dari:
1) Lokasi Kota Bogor yang strategis (s1); 2) Sektor industri makanan-minuman menjadi sector basis dalam perekonomian Kota Bogor (s2); 3) Memiliki pendukung laboratorium uji terakreditasi (s3); 4) dukungan sarana dan prasarana kota memadai (s4); 5) Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT (s5); 6) Sumber keuangan daerah Kota Bogor cukup baik (s6) ; 7) Sudah memiliki jaringan koordinasi lintas SKPD (s7); 8) Pontensialnya peluang pasar dalam negeri (o1); 9) Adanya bantuan program dari pemerintah pusat (o2); 10) Perubahan pola konsumsi dan kesadaran hidup sehat masyarakat (o3); 11) Perkembangan teknologi dan informasi (o4); 12) Keberadaan dari lembaga pendidikan/peneliti di Kota Bogor (o5).
Hasil strukturisasi ISM (dengan (transitivity = 75%) menunjukkan terdapat 5 level hirarki dan 12 elemen tersebar dalam tiga kategori sub sektor dependent, linkage dan independent dengan koordinat daya dorong / driver power (DP) dan ketergantungan/ dependence power (D) seperti disajikan pada Gambar 19. Gambar di bawah dapat dibaca berdasarkan koordinatnya terbagi menjadi empat kuadran, yaitu 1) autonomous, 2) dependent, 3) linkage dan 4) independent dengan koordinat driver power (DP) dan dependence power (D) sebagai berikut:
1. Autonomous : DP ≤ 6 dan D ≤ 6 (weak driver – weak dependent variables). Peubah di sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem atau mungkin mempunyai hubungan kecil.
2. Dependent: DP ≤ 6 dan D ≥ 6 (weak driver – strongly dependent variables). Umumnya peubah di sini adalah peubah tak bebas yang dipengaruhi oleh elemen-elemen lainnya sesuai hierarki.
3. Likage: DP ≥ 6 dan D ≥ 6 (strong driver – strong dependence variables). Peubah pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar peubah tidak stabil. Setiap tindakan pada peubah tersebut akan memberikan dampak terhadap peubah lainnya dan umpan balik bisa memperbesar dampak .
4. Independent: DP ≥ 6 dan D ≤ 6 (strong driver – weak dependent variables). Peubah pada sektor ini merupakan bagian sisa dari sistem dan disebut peubah bebas dan merupakan elemen-elemen kunci dalam hierarki.
Dependent Linkage 12 s2 11 10 (s5) s(3) 9 s6 (s7,o2) 7 y= 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 Daya Dorong 5
(Driver Power) 4 (s1,s4,o1,03,o4) 3 2 o5 1 Independent Autonomus 0 x= Ketergantungan (Dependence)
Gambar 19 Matriks driver power-dependence untuk elemen pendukung.
Dari stukturisasi pendukung (Gambar 20) dapat dilihat bahwa Lokasi Kota Bogor yang strategis (S1), dukungan sarana prasarana yang memadai (S4), peluang potensial peluang pasar dalam negeri (O1), perubahan pola konsumsi dan kesadaran hidup sehat konsumen untuk mendapatkan produk pangan yang terjamin mutu keamanannya (O3) dan penggunaan tehnologi dan informasi (O4) termasuk faktor independent (strong driver – weak dependent variables). Berarti faktor tersebut
sektor ini merupakan peubah bebas dan merupakan elemen-elemen kunci dalam hierarki.
Bantuan pemerintah pusat (O2) dan memiliki jaringan koordinasi lintas Satuan Kerja Pemerintah Daerah/SKPD (S7) merupakan faktor linkage. Artinya peubah ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar peubah tidak stabil. Bantuan pemerintah dari pusat bila tidak dimanfaatkan dengan terencana dan terkoordinasi dengan baik lintas SKPD, menyebabkan dampak kurang berarti dalam meningkatkan penerapan GMP pada IKM roti. Bantuan pemerintah pusat
Sub elemen Pendukung (SO) Hirarki Dependency Kategori
Driver power
Depen‐ dence
1 S1 Lokasi Bogor yang strategis 11 5 Indepen
dent
2 S2 Industri makanan menjadi
sektor basis perekonomian 1 10
Depen dent 3 S3 Memilki laboratorium penguji terakreditasi 2 9 Depen dent
4 S4 Dukungan sarana dan
prasarana Kota memadai 11 5
Indepen dent 5 S5 Kebijakan pembebasan biaya SP‐PIRT 1 9 Depen dent
6 S6 Sumber keuangan daerah
cukup baik 4 8
Depen
dent
7 S7 Memiliki jaringan
koordinasi lintas SKPD 6 7 Linkage
8 O1 Potensial peluang pasar
dalam negeri 11 5
Indepen
dent
9 O2 Bantuan pemerintah pusat 6 7 Linkage 10
O3 Perubahandan kesadaran pola hidup konsumsi sehat 11 5 Independent 11
O4 danPerkembangan informasi tehnologi 11 5 Independent 12 O5 Keberadaan lembaga
penelitian/pendidikan di
Kota Bogor
1 1 Autono
Mous Sub elemen kunci Pendukung: 1,4,8,10,11
Gambar 20 Struktur hirarki dan faktor kunci elemen pendukung.
biasanya disalurkan melalui SKPD terkait seperti melalui Dinas Kesehatan, Kantor Koperasi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan sesuai asal instasi pusat yang memberi. Bantuan dapat berupa pelatihan, dana insentif, konsultasi, sertifikasi, dan lainnya. Jika bantuan tersebut diberikan pada IKM yang tidak tepat sasaran dan/ atau kurang terencana maka dampaknya menjadi kurang berarti. Namun dengan adanya koordinasi lintas SKPD maka bantuan dapat diarahkan secara strategis terencana jangka panjang dan tepat sasaran sesuai kebutuhan IKM.
6 12 7 3 10 8 11 1 4 9 2 5
Menurut FAO (1999) IKM sering tidak memiliki keahlian teknis yang diperlukan untuk melaksanakan keamanan pangan dan sistem manajemen, oleh karena itu memerlukan dukungan eksternal. Kemampuan pemerintah dan asosiasi industri / perdagangan memberikan dukungan teknis yang memadai merupakan faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan sistem manajemen kualitas makanan oleh IKM.
Indeks Pembangunan Manusia dan PDRB cukup baik (S6), memiliki laboratorium penguji terakreditasi (S3), industri makanan menjadi sektor basis perekonomian (S2), Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT (S5) merupakan faktor dependent (weak driver – strongly dependent variables). Umumnya peubah ini adalah peubah tak bebas yang dipengaruhi oleh elemen-elemen lainnya sesuai hierarki. Artinya kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT dan pemeliharaan fasilitas laboratorium penguji makanan terakreditasi dapat berjalan jika IPM dan PDRB pemerintah daerah Kota Bogor tetap dipertahankan baik serta industri makanan tetap menjadi sektor basis perekonomian.
Strategi pembebasan biaya SP-PIRT merupakan strategi yang berkaitan langsung dalam mendorong IKM roti di Kota Bogor mendapatkan jaminan SP-PIRT namun sangat dipengaruhi faktor lain sebagai pendorong. Penyediaan laboratorium penguji pangan milik pemerintah daerah dapat membantu memfasilitasi IKM dalam mengujikan produk pangannya yang dibutuhkan dalam pembuktian keamanan pangan dalam rangka permasaran/ pemenuhan standar regulasi.
Keberadaan lembaga penelitian/pendidikan di Kota Bogor (O5) berada pada sektor autonomous (weak driver – weak dependent variables). Peubah di sektor ini umumnya dianggap tidak berkaitan dengan sistem atau mungkin mempunyai hubungan kecil mempunyai dampak langsung terhadap peningkatan keamanan mutu pangan produk IKM.
5.5.2 Struktur Elemen Kendala (WT)
Elemen dan sub elemen penghambat dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi SWOT yaitu paduan faktor Kelemahan dan Ancaman (WT) sehingga dihasilkan 11
sub elemen. Sub elemen terdiri dari: 1) Belum ada rencana strategis aksi pangan-gizi
pemerintah daerah Kota Bogor (w1); 2) Keterbatasan jumlah dan keahlian tenaga penyuluh /PKP dan pengawas / DFI (w2); 3) Kurangnya komitmen dan budaya kerja IKM (w3); 4) Keterbatasan modal IKM (w4); 5) Keterbatasan media informasi, publikasi (w5); 6) Keterbatasan pemahaman keamanan pangan tenaga kerja IKM (w6); 7) Mekanisme survailen belum berjalan regular (w7); 8) Persaingan dari produk bakery sejenis berasal dari industri franchaise dan dari luar (t1); 9) Kenaikan biaya produksi (t2); 10) Perkembangan produk substitusi (t3); 11) Pembeli memiliki kekuatan menentukan pilihan (t4).
Analisis dengan teknik ISM (transitivity = 70%) seperti disajikan pada Gambar 21 menunjukkan bahwa elemen kunci dalam upaya peningkatan penerapan good manufacturing practices di IKM roti Kota Bogor adalah belum adanya rencana strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah maupun rencana strategis pengembangan industri yang ditetapkan oleh pemerintah Kota Bogor (w1).
Sub elemen kendala (WT) Hirarki
Dependency Kategori Driver power Depe ndenc e 1 W1
Belum ada Rencana Strategis
Aksi Pangan‐Gizi Daerah
maupun Rencana Strategis
Pengembangan Industri yang
ditetapkan
11 1 Independent ‐
2 W2
Keterbatasan Jumlah dan
keahlian tenaga penyuluh /PKP
dan pengawas/ DFI
10 2 Independent ‐ 3 W3 Kurangnya Komitmen dan
budaya kerja IKM 1 11
depen‐
dent 4 W4 Keterbatasan Modal IKM 7 10 Linkage 5 W5 Keterbatasan Media informasi,
publikasi 9 3
Indepen‐
dent 6 W6 Keterbatasan Pengetahuan
Tenaga kerja IKM 7 10 Linkage
7 W7 Mekanisme survailen belum
berjalan reguler 8 4
Indepen‐
dent 8 T1
Persaingan dari produk bakery
sejenis franchaise dan dari luar
kota
7 10 Linkage 9 T2 Kenaikan Biaya Produksi 7 10 Linkage 10 T3 Perkembangan produk
substitusi 7 10 Linkage
11 T4 Pembeli memiliki kekuatan
menentukan pilihan 7 10 Linkage
Sub elemen kunci kendala: Belum ada Rencana Stategis (1).
Gambar 21 Struktur hierarki elemen kunci kendala.
Ketiadaan rencana strategis berdampak pada keterbatasan jumlah maupun keahlian tenaga penyuluh keamanan pangan /PKP (w2) sehingga berpengaruh pada
3 10 9 8 4 6 11 1 7 5 2
minimnya informasi, publikasi, media (w5) yang disediakan pemerintah untuk mendukung program penerapan GMP pada IKM. Ketiadaan rencana strategis yang berdampak pula pada keterbatasan jumlah tenaga pengawas pangan/DFI yang berpengaruh menyebabkan mekanisme survailen /pengawasan penerapan GMP pada IKM tidak berjalan regular setahun sekali (w7).
Ketiadaan rencana strategis pemerintah daerah (w1); keterbatasan jumlah dan keahlian tenaga penyuluh dan pengawas keamanan (w2); keterbatasan media informasi, publikasi (w5); serta mekanisme survailen tidak berjalan secara regular (w7) sebagai faktor independent..
Kelemahan tingkat pemahaman keamanan pangan tenaga kerja IKM kurang (w6) ditambah dengan keterbatasan modal IKM (w4), serta adanya ancaman kenaikan biaya produksi (t2) akan mempengaruhi daya saing produk IKM roti di Kota Bogor dibanding dengan produk sejenis industri franchaise atau dari luar kota (t1). Selain itu daya saing produk IKM juga dipengaruhi oleh faktor kekuatan pembeli menentukan pilihannya (T4) dan perkembangan dari produk substitusi (t3). Pada akhirnya komitmen dan budaya kerja IKM dalam menerapkan GMP (w3) menjadi faktor dependent yang sangat dipengaruhi faktor-faktor diatas.
Hambatan penerapan HACCP di IKM juga telah dipresentasikan oleh Jirathana (1998) dan Taylor (2000), yaitu adanya hambatan internal dan hambatan eksternal pada IKM. Hambatan internal antara lain : tidak mencukupinya praktek kebersihan dasar, kurangnya keahlian dan informasi, kendala sumber daya manusia, prasarana dan sarana yang tidak memadai, dan persepsi dan kendala finansial yang nyata. Adapun hambatan eksternal yaitu pemerintah yang memiliki komitmen dan infrastruktur yang memadai; tidak adanya persyaratan sanksi hukum (untuk GHPs atau HACCP); kurangnya kesadaran bisnis dan sikap positif dari asosiasi industri dan perdagangan; kurangnya kesadaran pelanggan atau permintaan untuk GHPs / HACCP; kurangnya pendidikan yang efektif dan program pelatihan; tidak ada dukungan keahlian, informasi dan teknis tersedia untuk UKM; dan tidak ada komunikasi yang mamadai.
5.5.3 Strukturisasi Aktor Pelaku
Untuk melihat interaksi pengaruh semua pelaku, dalam kajian ini ditambahkan analisis aktor pelaku dengan menggunakan metode ISM. Hasil depth
interview dengan para pakar dan pelaku diperoleh identifikasi pelaku yang berkaitan dengan penerapan GMP di IKM roti yaitu : 1) Badan perencanaan daerah P1); 2) Dinas kesehatan daerah (p2); 3) Dinas perindustrian dan perdagangan (p3); 4) Asosiasi IKM (p4); 5) Peneliti/ perguruan tinggi (p5); 6) Tenaga penyuluh keamanan pangan/PKP (p6); 7) Tenaga inspektur pengawas pangan/FDI (p7); 8) Konsumen / masyarakat (p8); 9) Pemilik IKM (p9); 10) Karyawan IKM (p10).
Hasil analisis dengan metode ISM seperti disajikan pada Gambar 22 menunjukkan bahwa Badan Perencanaan Daerah (1) merupakan elemen yang kunci paling berpengaruh menggerakkan aktor lain, diikuti oleh Dinas Kesehatan (2), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (3) serta Perguruan Tinggi (5) sebagai faktor independent (strong driver – weak dependent).
Sub elemen Aktor Pelaku Hirarki
Dependency Kategori Driver power Depen dence
P‐1 Badan Perencanaan Daerah
(Bapeda)
10 4 Independent
P‐2 Dinas Kesehatan Daerah 10 4 Independent
P‐3 Dinas Perindustrian dan
Perdagangan 10 4 Independent
P‐4 Asosiasi industri 6 5 Linkage
P‐5 Peneliti/ Perguruan Tinggi 10 4 Independent
P‐6 Tenaga Penyuluh
Keamanan Pangan 5 8 Dependent
P‐7 Tenaga Inspector pengawas 5 8 Dependent
P‐8 Konsumen/masyarakat 5 8 Dependent
P‐9 Pemilik IKM 1 9 Dependent
P‐10 Karyawan IKM 1 9 Dependent
Sub elemen kunci Aktor Pelaku: P1. P2, P3, P5
Gambar 22 Struktur hierarki dan faktor kunci elemen aktor pelaku
Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang besar dan punya sedikit ketergantungan dengan pelaku lain. Bapeda dapat menjadi penggerak/pendorong koordinasi pelaku kunci antara Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Perguruan Tinggi yang
9 10 6 7 4 8 3 2 5 1
saling terkait dalam tujuan meningkatan penerapan Good Manufacturing Practices di IKM roti.
Asosiasi industri (4) merupakan faktor linkage (strong driver – strong dependence variables), yang artinya peranan asosiasi industri dapat dipengaruhi oleh dorongan pemerintah daerah dalam hal ini Bapeda, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Sementara petugas penyuluh keamanan pangan/PKP (6), petugas pengawas pangan/DFI (7), konsumen (8) merupakan faktor dependent (weak driver – strongly dependent variables), dimana posisi ketiga pelaku tersebut punya cukup kekuatan penggerak namun punya ketergantungan dengan pelaku lain tinggi. Pemilik IKM (9) dan Karyawan IKM (10) mempunyai tingkat ketergantungan yang paling tinggi dan kekuatan penggerak yang paling rendah termasuk faktor dependent (weak driver – strongly dependent variables). Hal ini berarti pemilik IKM dan karyawan IKM untuk menerapkan Good Manufacturing Practices sangat memerlukan daya dorong dari peranan pelaku kunci yaitu pemerintah daerah dalam hal ini Bapeda, Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Berdasarkan hasil analisis ISM, diperoleh sub-elemen kunci seperti disajikan pada Tabel 22 yang dijadikan pertimbangan dalam perumusan strategi peningkatan mutu keamanan produk IKM roti di Kota Bogor melalui penerapan Good Manufacturing Practices.
Tabel 22 Elemen kunci peningkatan penerapan GMP di IKM roti No. Elemen Sub elemen kunci
1 Pendukung 1. Lokasi Kota Bogor yang strategis (S1),
2. Dukungan sarana prasarana yang memadai (S4) 3. Peluang potensial peluang pasar dalam negeri (O1) 4. Perubahan pola konsumsi dan kesadaran hidup sehat
konsumen (O3)
5. Penggunaan tehnologi dan informasi (O4)
2 Kendala 1. Belum adanya Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi
Daerah maupun Rencana Strategis Pengembangan Industri yang ditetapkan oleh pemerintah Kota Bogor (W1)
3 Pelaku 1. Badan Perencanaan Daerah (P1)
2. Dinas Kesehatan Daerah(P2)
3. Dinas Perindustrian dan Perdagangan(P3) 4. Perguruan Tinggi
5.6 Perumusan Strategi (Matriks I’SWOT)
Dari hasil Matriks IE sebelumnya terlihat posisi pemerintah Kota Bogor terkait dalam meningkatkan penerapan Good Manufacturing Practices di IKM Roti dan Kue berada pada kotak sel V, yaitu pada kotak ‘jaga dan pertahankan’ (hold and maintain) dimana pada sel ini strategi yang umum digunakan adalah melakukan penetrasi pasar dan pengembangan produk (David, 2005).
Strategi penetrasi pasar (market penetration) adalah strategi yang mengusahakan peningkatan pangsa pasar untuk produk/jasa yang ada melalui upaya pemasaran yang lebih besar. Strategi ini secara luas dapat digunakan secara sendirian maupun dikombinasikan dengan strategi lain. Penetrasi pasar mencakup peningkatan pengeluaran untuk iklan, penawaran produk-produk penjualan secara ekstensif atau meningkatkan publisitas. Strategi pengembangan produk (product development) adalah strategi peningkatan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk/jasa saat ini (David, 2005).
Posisi pemerintah daerah Kota Bogor jika diaplikasikan pada matrik SWOT adalah strategi SO (Strengths –Opportunities), yaitu menggunakan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang.
Adapun perumusan strategi dengan menggunakan matriks SWOT untuk pemerintah daerah Kota Bogor dalam meningkatkan penerapan Good Manufacturing Practices di IKM roti dapat dilihat pada Tabel 23 di bawah ini. Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses) dicantumkan pada baris (Horizontal) sedangkan Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) pada kolom (Vertikal). Analisa SWO terdiri dari empat alternatif strategi yaitu : analisa SO (Strengths –Opportunities), WO ((Weaknesses-Opportunities), S-T ( Strengths- Threats) dan WT (Weaknesses-Threats).
5.6.1 Srategi S-O (Strengths – Opportunities)
Dari hasil stukturisasi strategi SO diperoleh bahwa letak Kota Bogor yang strategis (S1), dukungan sarana prasarana yang memadai (S4), peluang potensial peluang pasar dalam negeri (O1) , perubahan pola konsumsi dan kesadaran hidup sehat konsumen (O3) dan penggunaan tehnologi dan informasi (O4) merupakan faktor independent (strong driver – weak dependent variables). Peubah pada sektor ini merupakan peubah bebas dan merupakan elemen-elemen kunci dalam hirarki.
S Kekuatan (strenghs ) W Kelemahan (weakness )
s1 Lokasi Kota Bogor yang strategis w1 Belum ada Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah
maupun Pengembangan Industri
s4 Dukungan sarana dan prasarana kota memadai w2 Keterbatasan Jumlah/keahlian tenaga PKP dan FDI
s5 Kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT w3 Komitmen dan budaya kerja IKM masih kurang
w7 Mekanisme pengawasan belum berjalan reguler
O Peluang (opportunities ) Strategi S-O Strategi W-O
o1 Pontensial peluang pasar 1
o2 Adanya bantuan pemerintah pusat
2 Mempertahankan kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT (s5) 2 Melakukan pengawasan berkala setahun sekali (w7,02,01)
3 Mengarahkan program bantuan pemerintah secara terencana, berkesinambungan dan berjenjang (s4,o2)
3 Bimbingan intensif produsen IKM bakeri (w3,02)
T Ancaman (threats ) Strategi S-T Strategi W-T
t1 Persaingan produk bakery sejenis (franchaise)/ luar kota
1 Memfasilitasi asosiasi/perkumpulan IKM menggalang kekuatan dan kerjasama(t1)
1 Menetapkan Rencana Strategis Aksi Pangan-Gizi Daerah dan Pengembangan Industri (w1, t1) t4 Pembeli memiliki kekuatan untuk
menentukan pilihan
2 Memfasilitasi peningkatan desain dan inovasi pada label dan kemasan produk IKM roti ( t1,t4)
2 Pengembangan kemitraan dgn BUMN/ Bank
memfasilitasi pinjaman kredit lunak/modal bagi IKM roti (w3, t1)
Penyediaan “Kawasan Promosi Jajanan Sehat-Aman Asli Bogor” di kawasan strategis bagi produk IKM roti mendapat SP-PIRT(s1,o1)
Program pelatihan terencana petugas PKP dan petugas pengawas pangan (w2,02)
1 Faktor Internal
Faktor Eksternal
Tabel 23 Perumusan Strategi (Matriks I’SWOT )
Sedangkan hasil matrik IFE diperoleh bahwa kebijakan pemerintah kota Bogor membebaskan biaya SP-PIRT merupakan kekuatan utama.
Alternatif strategi yang dihasilkan dari upaya menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang adalah :
1. Penyediaan “Kawasan Promosi Jajanan Sehat-Aman Asli Bogor” di tempat strategis sebagai media promosi dan pemasaran produk IKM Kota Bogor dan telah terjamin mutu keamanannya melalui sertifikasi SP-PIRT oleh pemerintah daerah (s1,o1)
Adanya lokasi Kota Bogor yang strategis antara lain menjadi tujuan belanja dan wisata kuliner, serta didukung dengan pemanfaatan sarana prasarana yang memadai digunakan untuk menangkap peluang potensial peluang pasar dalam negeri. Peluang pasar dalam negeri yang dipengaruhi perubahan pola konsumsi dan kesadaran hidup sehat konsumen yang ingin mendapatkan produk pangan yang terjamin mutu keamanannya. Strategi yang dapat digunakan untuk hal ini adalah penyediaan tempat strategis yang sering dikunjungi belanja dan wisata untuk melakukan promosi sebagai kawasan penyediaan produk IKM yang terjamin mutu keamanannya melalui sertifikasi SP-PIRT oleh pemerintah daerah misal berslogan “Kawasan Jajanan Sehat-Aman Asli Bogor”. Selain promosi dan menciptakan peluang pasar bagi produk IKM, sekaligus memberikan pendidikan kepada konsumen agar memilih produk pangan yang memenuhi mutu keamanan.
“Kawasan Jajanan Sehat-Aman Asli Bogor” ini dapat dimasukan dalam agenda paket kunjungan wisata Bogor Visit Year. Kawasan yang potensial dikunjungi wisatawan ataupun sebagai wisata kuliner antara lain di sekitar Kebun Raya Bogor, Surya Kencana, Tajur, sepanjang Jalan Raya Pajajaran, Taman Kencana.
2. Mempertahankan kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT (s5)
Sumber keuangan daerah Kota Bogor yang cukup baik dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebijakan pembebasan biaya SP-PIRT tetap dipertahankan untuk mendukung sektor industri makanan–minuman yang menjadi basis perekonomian Kota Bogor. Pembebasan biaya SP-PIRT ditujukan untuk mendorong minat IKM memperoleh SP-PIRT tanpa ada pembebanan biaya pendaftaran. Semakin banyak IKM yang mendapatkan SP-PIRT, diharapkan
semakin banyak IKM yang telah menerapkan good manufacturing practices. Dengan adanya nomor registrasi dan sertifikasi produk IKM Kota Bogor, maka akan mempermudah pemerintah dalam pengawasan, pembinaan maupun mempromosikan produk-produk IKM.
3.Mengarahkan program bantuan pemerintah secara terencana, berkesinambungan dan berjenjang (s4,o2)
Adannya jaringan koordinasi lintas SKPD dimanfaatkan untuk merencanakan dan mengarahkan bantuan pemerintah sesuai identifikasi dan level kebutuhan IKM. Program yang berkesinambungan dan berjenjang bagi IKM roti penting dibutuhkan dalam mendorong keberhasilan implementasi pemenuhan persyaratan keamanan pangan.
Program bantuan diarahkan dalam paket yang berisikan berbagai segi aspek (baik aspek keamanan pangan, aspek keuangan, aspek pemasaran) karena IKM membutuhkan dukungan pengetahuan dalam berbagai segi aspek yang saling mempengaruhi dalam keberhasilan menjalankan usahanya. Program bantuan dibuat dalam paket yang berjenjang supaya disesuaikan tingkat kemampuan dan kebutuhan IKM, sehingga program bantuan tepat guna dan tepat sasaran. Misal paket bantuan dasar bagi IKM yang baru memulai usaha/tumbuh misal pelatihan pengetahuan prinsip dasar keamanan pangan, tata kelola keuangan dasar, teknik produksi dasar, teknik marketing dasar. Paket bantuan kedua misal bagi IKM yang telah menjalankan bisnisnya 3 tahun dengan materi penyusunan manual penerapan Good Manufacturing Practices, manajemen keuangan dan sumberdaya, penciptaan brand image, dan lain-lain. Paket bantuan ketiga misal diperuntukan bagi IKM yang siap memperluas jaringan pemasarannya dengan progam bantuan insentif sertifikasi GMP/HACCP. Untuk dapat mengarahkan rencana dan program bantuan pemerintah , maka perlu didukung data base pemetaan dan kondisi, pelatihan yang telah disalurkan bagi IKM di Kota Bogor yang dibahas secara lintas sektoral.
5.6.2 Strategi WO ((Weakness-Opportunities)
Alternatif strategi yang dihasilkan dari upaya meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang adalah :
1) Program pelatihan terencana petugas penyuluh keamanan pangan dan petugas pengawas pangan (w2, 02)
Jumlah dan keahlian petugas penyuluh dan pengawasa pangan dapat diperbaiki dengan dua alternatif yaitu merekrut baru sumber daya manusia yang kompeten atau memanfaatkan sumberdaya yang ada dengan memberikan program pelatihan yang terencana. Program pelatihan tersebut harus dimasukan dalam agenda Rencana Strategis Aksi Pangan Daerah sesuai acuan RAN-PG. Indikator capaian hasil yaitu jumlah tenaga PKP dan jumlah tenaga pengawas pangan.
Menurut Peraturan Kepala BPOM Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012, kriteria tenaga penyuluh keamanan pangan (PKP) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki sertifikat kompetensi di bidang penyuluhan keamanan pangan dari Badan POM dan ditugaskan oleh Bupati / Walikota. Kriteria Tenaga Pengawas Pangan Kabupaten/Kota (District Food Inspector/DFI) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki sertifikat kompetensi pengawas pangan dari Badan POM.
Selain ketersediaan jumlah, tingkat keahlian petugas penyuluh maupun pengawas keamanan pangan juga menentukan keberhasilan penyampaian informasi kepada IKM maupun masyarakat. Perkembangan masalah keamanan pangan maupun perkembangan tehnologi proses produksi yang sangat cepat, haruslah diikuti oleh kemampuan petugas penyuluh maupun pengawas dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu perlu diprogramkan peningkatan keahlian petugas penyuluh maupun pengawas yang ada melalui pelatihan yang sesuai seperti pelatihan SHACCP, ISO 22000, Penyusunan Dokumentasi Mutu, Teknik Komunikasi, Tehnologi Produksi, dan lainya.
2) Melakukan pengawasan berkala setahun sekali (w7,02,01)
Sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor Hk.03.1.23.04.12.2205 tahun 2012 tentang pedoman pemberian sertifikat produksi pangan industri rumah tangga lampiran 1 butir g bahwa Bupati/ WaliKota cq. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melakukan monitoring (pengawasan) terhadap pemenuhan persyaratan SP-PIRT yang telah diterbitkan minimal 1 (satu) kali dalam setahun.
Hasil penelitian Wilcock et al. ( 2011) mengidentifikasi salah satu motivasi utama dalam menerapkan HACCP (termasuk didalamnya Good Manufacturing Practices) pada industri pangan kecil dan menengah adalah karena adanya regulasi pemerintah. Kepatuhan terhadap standar terkait keamanan pangan terutama di negara berkembang dapat diimplementasikan hanya dengan bantuan sistem surveilan yang kuat (Aloui and Kenny, 2005). Mekanisme ini harus didukung dengan mekanisme umpan balik tepat terstruktur, strategi pengelolaan sistem informasi terkoordinasi antara lembaga terkait, dukungan infrastruktur teknis dan sumber daya finansial serta pemberdayaan tenaga kerja terlatih sebagai bagian integral dari kerangka keamanan pangan (Sagheer and Syadav, 2008).
Untuk itu program pengawasan harus ditegakkan secara regular untuk mendorong IKM benar-benar menerapkan Good Manufacturing Practices.
3) Bimbingan intensif produsen IKM roti (w3,02)
Salah satu strategi yang disarankan oleh WHO (1999) kepada pemerintah negara berkembang dalam upaya mendorong peningkatan penerapan sistem keamanan pangan pada industri kecil dan menengah, yaitu memberikan bimbingan dan informasi jelas (misalnya manual, booklet, leaflet dan video) serta membuat proyek percontohan pada IKM yang dibimbing intensif sebagai unjuk demonstrasi kepada IKM lain. Bimbingan intensif pada IKM dibutuhkan mengingat keterbatasan pengetahuan dan sumberdaya yang ada pada IKM.
5.6.3 Strategi S-T ( Strengths- Threats)
Alternatif strategi yang dihasilkan dari upaya menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman adalah :
1) Memfasilitasi asosiasi/perkumpulan IKM menggalang kekuatan dan kerjasama (t1)
Pada saat penelitian ini dilakukan baru dibentuk kepengurusan asosiasi IKM di Kota Bogor atas fasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor pada bulan Mei 2012. Mengingat asosiasi ini relatif baru terbentuk, maka dorongan dan fasilitasi dari pemerintah daerah sangat diperlukan agar IKM bergabung sehingga mempunyai kekuatan untuk mengatasi ancaman bersama-sama dengan pemerintah daerah Kota Bogor. Adanya perkumpulan/asosiasi akan memudahkan IKM membentuk kerjasama yang saling menguntungkan dan