• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model pembelajaran TAI pada bahan ajar gamifikasi : Dampak terhadap pemahaman konsep siswa pada materi sistem persamaan linear

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Model pembelajaran TAI pada bahan ajar gamifikasi : Dampak terhadap pemahaman konsep siswa pada materi sistem persamaan linear"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

Model pembelajaran TAI pada bahan ajar gamifikasi : Dampak

terhadap pemahaman konsep siswa pada materi sistem persamaan

linear

Safuatu Ardina Sari, Istihana, Rizki Wahyu Yunian Putra, Ahmad Sodiq, Ryuzen Praja Tuala

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Jalan Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung 35133

E-mail: [email protected]

Abstract

The aim of this research is to find out the difference in increasing students' understanding of mathematical concepts in SPLDV material that is given the application of the TAI (Team Assisted Individualization) type of cooperative learning model with gamification teaching material, the TAI type of cooperative learning model (Team Assisted Individualization), and the model conventional. In this study using Quasy Experimental Design. The independent variable (X) used in this study is the TAI (Team Assisted Individualization) learning model with gamification teaching material and the dependent variable (Y) is the understanding of students' mathematical concepts. This study uses a pretest posttest control design. Data collection in this study used test instruments provided in the experimental class and the control class. The hypothesis test used in this study is the one way analysis of variance (anava) test. From the results of anava N-gain test it was found that 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 19,602 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 3,09 and it can be concluded that there is a difference in the increase in students' understanding of the concept of SPLDV between the application of TAI type cooperative learning models with gamification teaching materials, TAI type cooperative learning models, and conventional learning models. From the results of the Scheffe calculation 'it can be concluded that the type of TAI cooperative learning model with gamification teaching material is better quality than the TAI type cooperative learning model and conventional learning model.

Keywords: Gamification Teaching Material; Cooperative Learning Model; SPLDV; Team Assisted Individualization

Abstrak

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan pemahaman konsep matematis siswa pada materi SPLDV yang diberi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dengan bahan ajar gamifikasi, model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization), dan model konvensional. Dalam penelitian ini mneggunakan Quasy Eksperimental Design. Variabel bebas (X) yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) dengan bahan ajar gamifikasi dan variabel terikat (Y) adalah pemahaman konsep matematis siswa. Penelitian ini menggunakan pretest posttest control design. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrument tes yang diberikan di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji analisis variansi (anava) satu

jalan. Dari hasil uji anava N-gain didapat bahwa 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 19,602 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 3,09 dan

(2)

2

pada materi SPLDV antara penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi, model pembelajaran kooperatif tipe TAI, dan model pembelajaran konvensional. Dari hasil perhitungan Scheffe’ dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi lebih baik kulitasnya dari pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI dan model pembelajaran konvensional.

Kata Kunci: Bahan Ajar Gamifikasi; Model Pembelajaran Kooperatif; SPLDV; Team

Assisted Individualization

PENDAHULUAN

Merujuk pada pembelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, matematika merupakan salah satu pelajaran yang sangat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak sedikit dalam kehidupan manusia yang membutuhkan ilmu matematika untuk memecahkan masalah (Tama, Rinaldi & Andriani, 2018). Dengan adanya pemahaman konsep yang tinggi akan memberikan kemudahan dalam memecahkan masalah sehingga akan berdampak baik terhadap Sumber Daya Manusia (SDM). Jika SDM yang ada di Negara ini semakin tinggi kualitasnya maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya (Karyanti & Komarudin, 2017).

Guru merupakan komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran di kelas yakni mempunyai pengaruh yang sangat besar. Dalam hal itu, guru bukan hanya dituntut dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pengajaran di dalam kelas. Guru harus dapat bertanggung jawab dalam keberhasilan siswa yang dibimbingnya. (Pakpahan & Sapta, 2020). Dalam keberhasilan siswa untuk memahami konsep matematis salah satu faktornya ialah penggunaan model pembelajaran. Model pembelajaran yang diberikan guru untuk siswa harus dapat membuat siswa paham dengan konsep matematis, karena jika siswa tidak paham maka tidak akan dapat memecahkan suatu masalah. Kemudian kurang bervariansinya buku yang digunakan juga akan membuat siswa merasa bosan sehingga siswa malas dalam mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku.

Model pembelajaran kooperatif atau sering disebut cooperative learning yang dianggap sangat menarik salah satunya adalah tipe Team Assisted Individualization (TAI). Menurut Halih (2016) TAI memiliki keunikan yakni dengan menerapkan pembelajaran gabungan yaitu secara individu dan kelompok. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Achiyat dan Andriyani (2016) menyatakan bahwa dengan penggunaan model Team Assisted Individualization (TAI) dapat membuat siswa untuk lebih aktif dari biasanya dengan mengerjakan soal-soal yang diberikan guru di dalam kelas dan tentunya memberikan hasil evaluasi yang meningkat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tinungki (2015) mengatakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan cooperative learning tipe Team Assisted Individualization (TAI) dapat membuat siswa untuk saling membantu, berdiskusi serta berdebat sehingga dapat mempertajam pengetahuan yang dimiliki siswa. Hal ini dapat juga untuk mengatasi kesenjangan dalam pemahaman konsep diantara siswa yang satu dengan yang lain.

Tujuan dari adanya gamifikasi adalah dapat meningkatkan ketertarikan bagi penggunanya sehingga pengguna merasa tertantang untuk terus melanjutkan sebuah permainan dan nantinya akan mencapai sebuah pencapaian yang paling tinggi. Dalam dunia pendidikan, dengan penggunaan gamifikasi memungkinkan siswa untuk menerima umpan balik dari guru secara langsung berupa penghargaan atas perkembangannya di dalam kelas (Seixas, Gomes & Filho, 2016). Karakteristik gamifikasi ini adalah adanya sebuah tantangan, kepuasan, penghargaan, bahkan hingga ketergantungan. Dalam bidang

(3)

3

pembelajaran, sudah banyak yang menggunakan multimedia seperti penggunaan teks, gambar, animasi bahkan video yang digunakan agar siswa termotivasi untuk menyukai materi. Mengingat motivasi instrinsik untuk siswa dalam pembelajaran itu sangat penting maka penggunaan gamifikasi merupakan alternative yang tepat untuk membuat pembelajaran di dalam kelas lebih menarik (Jusuf, 2016)

Namun dari beberapa penelitian yang telah dilakukan belum ada yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis khususnya pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Kemudian dari beberapa penelitian sebelumnya juga belum ada yg melakukan pembelajaran matematika dengan bahan ajar gamifikasi pada materi SPLDV. Materi SPLDV termasuk materi dasar yang nantinya digunakan untuk materi yang lebih tinggi tingkatannya seperti halnya program linear. Jadi, untuk pemahaman konsep pada materi tersebut siswa harus benar-benar jelas dan paham

Kondisi nyata yang didapatkan saat ini, siswa tidak sepenuhnya dapat menyerap materi khusus nya SPLDV yang diberikan guru di dalam kelas. Sebagian siswa juga merasa sangat bosan dengan pembelajaran. Bahkan siswa beranggapan matematika merupakan pelajaran yang sangat sulit, rumit dan susah untuk dipahami karena matematika selalu berhubungan dengan angka serta banyaknya rumus yang sering ditemui (Wirawan & Putra, 2018). Banyak juga guru yang hanya merasa mempunyai peran sebagai pemberi informasi yang bersifat konvensional pada siswanya. Sehingga tidak adanya keterbaharuan dalam metode pengajaran di kelas. Hal tersebut jelas akan membuat siswa merasa kesusahan dalam mengeluarkan ide-ide yang ia miliki (Rismayanti, Kartasasmita & Supianti; 2020).

Peneliti juga melakukan pengamatan langsung kepada siswa dengan hasil bahwa pemahaman konsep matematis yang dimiliki siswa dapat dikatakan rendah yang dapat diliat dari nilai siswa sebagian besar berada di bawah KKM. Rendahnya pemahaman konsep disebabkan karena siswa kesulitan dalam menyerap materi yang diajarkan guru di sekolah sehingga banyak yang tidak suka dan tidak minat dalam pembelajaran matematika khususnya materi SPLDV. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja, bahkan di Negara Turki mengalami hal yang sama yakni pemahaman konsep matematis tidak diajarkan oleh guru secara intersif (Aydin, 2014).

Berdasarkan kondisi nyata yang telah disebutkan maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan konsep matematis siswa dengan cara menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan bahan ajar gamifikasi pada mata pelajaran matemtika khususnya materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Tujuan ini merupakan anggapan penting untuk dicapai selain dalam peningkatan pemahaman konsep matematis juga agar siswa merasa lebih tertarik dengan suasana pembelajaran yang baru.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan bentuk quasy experiment. Dalam penelitian yang dilakukan ini yaitu mengujicobakan suatu tindakan guna mengetahui hubungan antara tindakan dan unsur tertentu yang ingin diukur. Perlakuan yang diberikan yaitu pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan bahan ajar gamifikasi, sedangkan untuk aspek yang diukur yaitu pemahaman konsep matematis

(4)

4

siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Dengan kondisi yang ada, pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization dengan bahan ajar gamfikasi (kelas eksperimen), model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization, dan model pembelajaran konvensional (kelas kontrol). Kemudian, untuk variabel terikat (Y) yang ada dalam penelitian ini yaitu kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).

Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Bandar Lampung yang bertempat di Sukarame, Kota Bandar Lampung provinsi Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tepatnya pada tahun ajaran 2019/2020. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 390 siswa yang dikelompokkan menjadi 11 kelas. Untuk menentukan pemilihan kelas menjadi kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 serta kelas kontrol adalah dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah penarikan sampel untuk memilih subjek berdasarkan kriteria atau spesifik yang ditetapkan (Novalia & Syazali, 2014). Dalam pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, dapat ditentukan berdasarkan kriteria yakni kelas yang memiliki pemahaman konsep yang setara. Sampel dalam penelitian yaitu terdiri dari 3 kelas yakni terbagi menjadi kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol. Dalam masing-masing kelas terdapat siswa sebanyak 32 siswa sehingga total sampel dalam penelitian ini yaitu 96 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, wawancara dan dokumentasi.

Upaya dalam mengetahui kelayakan dari instrumen yang akan digunakan dalam kelas eksperimen, maka sebelum dilakukannya penelitian instrumen sudah lulus uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Pada penelitian ini digunakan instrumen soal dengan jumlah 6 butir soal. Tipe soal yang diberikan berupa soal essay. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu sebanyak dua kali. Tes pertama dilakukan di awal pembelajaran sebelum guru memberikan materi kepada siswa (pretest). Kemudian tes kedua dilakukan di akhir pembelajaran setelah guru memberikan materi kepada siswa (posttest). Untuk kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol diberikan soal pretest dan posttest yang sama. Sehingga akan terlihat peningkatan di setiap kelas eksperimen maupun kelas kontrol.

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah uji normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis dengan menggunakan analisis variansi satu jalan. Kemudian digunakan uji lanjutan atau uji komparasi ganda dengan metode Scheffe’. Data analisis tersebut akan mempresentasikan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) antara kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 serta kelas kontrol.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses pembelajaran dalam penelitian ini melakukan 5 kali pertemuan di setiap kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol dengan alokasi waktu setiap pertemuannya adalah 2 jam pelajaran. Untuk pertemuan pertama pada kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas control dilakukan untuk pengerjaan soal atau pretest yang dilaksanakan di dalam kelas. Kemudian untuk pertemuan kedua, ketiga, dan keempat dilakukan di dalam kelas untuk penyampaian materi. Pertemuan kelima atau pertemuan terakhir siswa melaksanakan ujian yang berupa posttest.

(5)

5

Kelas eksperimen 1 menggunakan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi. Kemudian, untuk kelas eksperimen 2 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI saja dengan buku paket kemendikbud sebagai alat penunjang. Kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional dimana guru lebih banyak menyampaikan materi dengan metode ceramah sehingga siswa pasif dalam proses pembelajaran. Adapun tahapan dalam model TAI adalah persiapan materi, soal kuis awal, pembagian kelompok, berdiskusi, pembuatan rangkuman, soal kuis akhir, penghargaan (Priansa, 2017)

Tahap awal dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah tahap pemberian materi. Pada tahap ini guru harus mempersiapkan materi SPLDV untuk diberikan kepada siswa. Setelah itu siswa diminta guru untuk mempelajari materi SPLDV yang diberikan oleh guru sesuai batasan-batasan yang diberikan. Mempelajari materi tersebut dilakukan secara individu.

Pada tahap kedua dalam langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah tahap pemberian soal kuis awal. Soal ini diberikan oleh guru kepada siswa yang mencakup soal SPLDV. Nantinya skor yang di dapat siswa setelah mengerjakan kuis ini dianggap sebagai skor awal yang nantinya akan dibandingkan dengan skor akhir yang di dapat oleh siswa setelah kuis akhir diberikan oleh guru.

Pada tahap ketiga dalam langkah-langkah pembelajaran ini yaitu pembagian kelompok. Pembagian kelompok dilakukan oleh guru. Pembagian kelompok dibagi sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria ini mencakup perbedaan tingkat kemampuan, ras, suku, budaya yang berbeda termasuk dalam perbedaan gender. Hal ini dilakukan agar setiap siswa dapat membaur dengan kelompoknya sehingga siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi dapat membantu siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang rendah. Dari adanya perbedaan-perbedaan yang telah disebutkan juga akan dapat menumbuhkan sikap sosial setiap siswa dan dan dapat meningkatkan sikap tanggung jawab masing-masing kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4 sampai 5 anggota

Tahap selanjutnya dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah tahap diskusi. Hasil belajar siswa secara individu yang telah dilakukan pada tahap 1 sebelumnya akan menjadi bahan diskusi setiap kelompok. Selain mendiskusikan tentang materi, siswa juga mendiskusikan jawaban dari soal kuis awal yang diberikan oleh guru. Setiap kelompok memiliki leader atau pemimpin. Tugas pemimpin disini membantu anggotanya yang mengalami kesulitan baik kesulitan dalam memahami materi atau kesulitan dalam mengerjakan soal kuis yang diberikan oleh guru sehingga seorang leader dalam kelompok memiliki tanggung jawab yang besar atas kelompoknya. Leader dipilih guru sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki siswa. Setiap anggota juga diharuskan mengoreksi hasil kuis siswa lain yang ada dalam kelompok sehingga setiap siswa juga memiliki tanggung jawab dan dari tahap ini siswa yang kurang mengerti akan mulai memahami materi SPLDV.

Tahap kelima yaitu tahap pembuatan rangkuman. Pembuatan rangkuman dilakukan oleh guru. Tugas guru disini tidak hanya memberikan rangkuman semata tetapi dalam proses pembuatan rangkuman juga guru mengarahkan dan memberikan penegasan pada siswa tentang materi SPLDV. Dalam hal ini, siswa akan lebih memahami materi SPLDV yang diberikan guru.

Tahap selanjutnya dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah pemberian kuis akhir. Kuis ini diberikan oleh guru kepada siswa secara individu. Skor dalam kuis ini akan digunakan sebagai skor akhir atau skor penentu. Skor akhir dibandingkan dengan skor awal siswa yang didapatkan dari soal kuis pertama. Dengan

(6)

6

melakukan tahap-tahap dalam model pembelajaran ini, kemungkinan besar siswa akan mendapatkan nilai yang meningkat karena pemahaman siswa tentang materi akan lebih baik.

Tahap terakhir yaitu penghargaan. Penghargaan diberikan oleh guru dengan syarat siswa harus memperoleh skor kuis yang meningkat. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang memiliki anggota dengan skor kuis meningkat dengan rata-rata nilai tertinggi. Penghargaan dapat berupa nilai tambahan agar siswa lebih semangat dalam proses pembelajaran. Dengan adanya penghargaan yang diberikan oleh guru akan membuat siswa untuk lebih antusias dan berlomba-lomba dalam memperoleh nilai yang tinggi agar mendapatkan penghargaan dari guru.

Bahan ajar gamfikasi merupakan bahan pembelajaran yang digunakan siswa dengan mengandung beberapa elemen game. Bahan ajar gamifikasi ini berisi gambar dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikerjakan oleh siswa. Selain pertanyaan juga terdapat contoh soal dengan penyelesaiannya yang mudah dipahami siswa (Rembulan & Putra, 2019). Dengan menerapkan pembelajaran dengan bahan ajar gamifikasi ini akan membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Selain itu, dapat membantu siswa untuk lebih fokus dalam penyerapan materi dan mampu membuat siswa berkompetisi, berprestasi, serta bereksplorasi di dalam kelas karena di dalam bahan ajar gamifikasi terdapat soal-soal dengan tingkatan level dari yang termudah hingga level tertinggi.

Setelah data pemahaman konsep matematis siswa terkumpul baik dari kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2, dan kelas kontrol maka diperoleh :

Tabel 1. Deskripsi Data Hasil N-Gain Pemahaman Konsep

Kelompok 𝑿𝒎𝒂𝒌𝒔 𝑿𝒎𝒊𝒏 Ukuran Tendensi Sentral Ukuran variansi kelompok 𝑿̅ 𝑴𝒐 𝑴𝒆 𝑱 𝑺 Eksperimen 1 1,00 0,14 0,69 0,71 0,71 0,86 0,20 Eksperimen 2 1,00 0,00 0,51 0,42 0,50 1,00 0,27 Kontrol 0,75 0,00 0,35 0,00 0,33 0,75 0,19

Berdasarkan tabel 1 didapatkan deskripsi hasil N-gain bahwa nilai tertinggi kelas eksperimen dan kontrol yaitu 1,00, sedangkan nilai terendahnya adalah 0,00. Ukuran tendensi sentral itu sendiri mencakup mean, modus, dan median. Kelas eksperimen 1 memiliki mean sebesar 0,69, modusnya sebesar 0,71, dan mediannya sebesar 0,71. Sedangkan kelas eksperimen 2 memiliki mean sebesar 0,51, modusnya sebesar 0,42, dan mediannya sebesar 0,50. Kemudian kelas kontrol memiliki mean sebesar 0,35, modusnya sebesar 0,00, dan mediannya sebesar 0,33. Untuk kelas eksperimen 1 memiliki rentang dalam ukuran variansi kelompok yaitu 0,86. Sedangkan kelas eksperimen 2 memiliki rentang dalam ukuran variansi kelompok yaitu 1,00. Kemudian untuk kelas kontrol memiliki rentang dalam ukuran variansi kelompok yaitu 0,75. Untuk simpangan baku kelas eksperimen 1 ialah 0,20, untuk kelas eksperimen 2 ialah 0,27 dan untuk kelas kontrol ialah 0,19.

(7)

7

Tabel 2. Hasil Perhitungan Uji Normalitas N-Gain

Kelas 𝑳𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 𝑳𝒕𝒂𝒃𝒆𝒍 Keterangan

Eksperimen 1 0,100 0,157 Normal

Eksperimen 2 0,098 0,157 Normal

Kontrol 0,077 0,157 Normal

Berdasarkan tabel 2 hasil perhitungan uji normalitas N-gain pemahaman konsep pada kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2, dan kelas kontrol dengan menggunakan taraf signifikan ∝= 0,05 diperoleh bahwa nilai 𝐿ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝐿𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sehingga dari setiap kelompok memiliki hipoteisis nol yang diterima. Dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa data setiap kelompok berasal dari sebuah populasi dengan berdistribusi normal.

Tabel 3. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas N-Gain Kelas N 𝒙𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈𝟐 𝒙𝒕𝒂𝒃𝒆𝒍𝟐 Keterangan

Eksperimen 1 32

5,507 5, 991 Homogen

Eksperimen 2 32

Kontrol 32

Berdasarkan tabel 3 tentang hasil perhitungan uji homogenitas N-gain terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa diperoleh bahwa jumlah siswa untuk

setiap kelas sebanyak 32 orang dan 𝑥ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔2 = 5,507 serta 𝑥𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙2 = 5,991 menunjukkan

bahwa 𝑥ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔2 < 𝑥𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙2 dengan hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis nol diterima. Ketika hipotesis nol diterima maka sampel berasal dari populasi yang mempunyai variansi-variansi yang sama.

Adapun rangkuman dari hasil uji anava satu jalan dapat dilihatbpada tabel 4 sebagai berikut :

Tabel 4. Hasil Uji Anava N-gain

Sumber Keragaman JK Dk RK 𝑭𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 𝑭𝒕𝒂𝒃𝒆𝒍 Keterangan

Model Pembelajaran 1,93 2 0,97 19,60 3,09 𝐻0 ditolak

Galat 4,58 93 0,05

Total 6,52 95

Berdasarkan hasil uji anava N-gain pada tabel 4, dapat dilihat bahwa 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 =

19,60, sedangkan 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 3,09. Apabila 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 dan 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 dibandingkan maka didapat

𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔= 19,602 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 3,09 sehingga hipotesis nol ditolak yang berarti adanya

perbedaan berdasarkan hasil N-gain kemampuan pemahaman konsep antara kelas eksperimen 1, kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian. Untuk dapat mengetahui perlakuan manakah yang akan memberikan perbedaan secara signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep matematis siswa maka perlu dilanjutkan uji lanjutan.

Uji lanjutan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan perhitungan metode scheffe’. Hasil perhitungan uji lanjutan dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut:

(8)

8

Tabel 5. Hasil Perhitungan Uji Lanjutan

No 𝑯𝟎 𝑭𝒉𝒊𝒕𝒖𝒏𝒈 𝑭𝒕𝒂𝒃𝒆𝒍 Keterangan

1 𝜇1 vs 𝜇2 10,99 3,09 𝐻0 ditolak

2 𝜇1 vs 𝜇3 39,16 3,09 𝐻0 ditolak

3 𝜇2 vs 𝜇3 8,66 3,09 𝐻0 ditolak

Berdasarkan hasil perhitungan uji lanjutan pada tabel 5 di dapatkan bahwa adanya perbedaan pada setiap perlakuan. Taraf signifikan yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 0,05. Pada setiap perlakuan baik pada kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2, kelas eksperimen 1 dan kelas kontrol, serta kelas eksperimen 2 dan kelas kontrol menunjukkan hipotesis nol ditolak karena 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙. Dengan didapatkan nilai

𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 maka terdapat perbedaan secara signifikan pada tiap kelas.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh, pengolahan data serta pembahasan yang telah di paparkan maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan peningkatan pemahaman konsep matematis siswa yang diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi, model pembelajaran kooperatif tipe TAI, serta model pembelajaran konvensional pada materi SPLDV. Berdasarkan hasil perhitungan uji lanjutan dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi lebih baik kualitasnya dari pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI dan model pembelajaran konvensional.

Adapun saran dari peneltian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe TAI dengan bahan ajar gamifikasi dapat digunakan sebagai alternatif oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas sehingga dapat menghasilkan pemahaman konsep matematis siswa yang lebih baik. Seorang guru juga dapat menggunakan bahan ajar gamifikasi sebagai penunjang proses pembelajaran, dapat juga mengetahui suatu hambatan siswa, dapat memperkecil suatu kesalahan dalam pemahaman konsep dan juga dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Para peneliti lain diharapkan dapat mengemabangkan penelitian baru dengan variabel atau model pembelajaran lain sehingga dapat meningkatkan kuliatas serta wawasan pendidikan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Achdiyat, M., & Andriyani, F. (2016). Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 6(3).

Aydin, Y. (2014). The Effects of Problem Based Approach on Student’s Conceptual Understanding in a University Mathematics Classroom. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 152, 704-707.

Da Rocha Seixas, L., Gomes, A. S., & Filho, I. J. (2016). Effectiviness of Gamification in the engagement of Students. Computers in Human Behavior, 58, 48-63.

(9)

9

Halih, M. (2016). Pengaruh Model Pemebelajaran TAI (Team Assisted Individualization) Terhadap Hasil Belajar Siswa. Buana Matematika: Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika, 6(2), 45-52.

Jusuf, H. (2016). Penggunaan Gamifikasi dalam Proses Pembelajaran. Jurnal TICom, 4(3), 92772

Karyanti, K., & Komarudin, K. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Kumon Terhadap Pemahaman Matematis Ditinjau Dari Gaya Kognitif Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas Viii SMP Negeri Satu Atap 4 Pesawaran. In Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika (Vol. 1, No. 1, pp. 89-94).

Pakpahan, S. P., & Sapta, A. (2020). Pengaruh Model Think Pair Share Berbantuan Maple Terhadap Hasil Belajar Fungsi Invers. Aksioma: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 9(1).

Priansa, D. J. (2017). Pengembangan Strategi Dan Model Pembelajaran: Inovatif, Kreatif, dan Prestatif dalam memahami peserta didik.

Novalia, M. S., & Syazali, M. (2014). Olah Data Penelitian Pendidikan. Bandar Lampung: Anugrah Utama Rahaja.

Rembulan, A., & Putra, R. W. Y. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Gamifikasi pada Materi Statistika Kelas VIII. JMPM: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 3(2), 84-98.

Rismayanti, E., Kartasasmita, B. G., & Supianti, I. I. (2020). Peningkatan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Think Pair Share. JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika), 4(1), 154-167.

Tama, A. M., Rinaldi, A., & Andriani, S. (2018). Pemahaman Konsep Peserta Didik dengan Menggunakan Graded Response Models (GRM). Desimal: Jurnal Matematika,1(1), 91-99.

Tinungki, G. M. (2015). The Role of Cooperative Learning Type Team Assisted Individualization to Improve the Students’ Mathematics Communication Ability in the Subject of Probability Theory. Journal of Education and Practice, 6(32), 27-31

Wirawan, Y. M., & Putra, R. W. Y. (2018). Pengembangan Bahan Ajar Gamifikasi pada Materi Himpunan. Desimal: Jurnal Matematika, 1(3), 329-335.

(10)

Gambar

Tabel 1. Deskripsi Data Hasil N-Gain Pemahaman Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Hasil akhir dari perancangan model ini berupa rancangan model proses bisnis, rancangan model data dan rancangan model jaringan untuk pengelolaan

Mata kuliah ini menjelaskan dan menganalisis arti penting dari fisiologi pascapanen hortikultura mulai dari proses metabolism, perubahan fisik-morfologis, berbagai stress selama

Karena besarnya hubungan 0,599 bila dilihat dari nilai C (coefesien contingency) berarti sebesar 59,9 persen untuk variabel dukungan sosial yang diberikan kepada

Temali: Jurnal Pembangunan Sosial, Volume 2 Nomor 2 Tahun 2019; (204-218) 214 Kecenderungan umum kelompok-kelompok ini yang ke arah ortodoksi, dogmatisme, pandangan yang

5.2.1 Hubungan antara Debit Muatan Suspensi Sedimen dengan Curah Hujan dan Intensitas Hujan.... Konservasi dengan Kombinasi Metode Mekanis

Gerak kaki pada gaya dada saat ini adalah gerakan kaki yang cenderung membentuk gerak kaki dolpin (whip kick) , dimana pada saatfase istirahat yaitu fase ketika kedua tungkai

Permasalahan yang diakibatkan oleh gaya hidup biasanya mengalami perkembangan yang cepat seiring dengan perkembangan dari gaya hidup tersebut, begitu juga

Pengaruh pH terhadap kestabilan aktivitas enzim ditentukan dengan cara mengukur aktivitas sisa, yaitu aktivitas enzim yang diukur setelah enzim diinkubasi pada variasi pH yaitu 4,