GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI
KATARAK DI RUANG BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN CIAMIS
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan
Pada Program S1 Keperawatan
Oleh :
ANGGA NUGROHO
NIM : 12SP277006
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
CIAMIS
v
INTISARI
Katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang timbul karena adanya gangguan metabolisme pada lensa. Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaanya yaitu dengan operasi. Pembedahan atau operasi katarak merupakan salah satu stressor bagi pasien penderita katarak. Dari tinjauan keperawatan jiwa tindakan operasi menimbulkan krisis situasi yaitu gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiwa yang menegangkan, mengancam dan meningkatkan kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis.
Jenis penelitian menggunakan deskriptif yaitu suatu metode penelitian dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskripsi suatu objek. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi katarak di ruang bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel penelitian yaitu sebanyak 31 orang pasien pre operasi katarak.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kecemasan pasien pre operasi katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis, frekuensi tertinggi yaitu hampir setengah responden memiliki kecemasan ringan sebanyak 16 orang (51,6%), 10 orang (32,3%) mengalami kecemasan sedang, dan frekuensi terendah yaitu 5 orang (16,1%) mengalami kecemasan berat sedangkan pada kecemasan sangat berat (panik) tidak ada yang mengalami.
Saran diharapkan memberikan perhatian, rasa nyaman, sikap yang ramah, serta mencoba mengerti perasaan pasien terkait operasi yang akan dilakukan serta lebih menekankan pemberian penjelasan ataupun prosedur tindakan sebagai upaya pencegahan kecemasan pada pasien dengan meningkatkan komunikasi terapeutik oleh perawat yang tepat agar pasien tidak mengalami kecemasan dalam menghadapi operasi.
Kata Kunci : Kecemasan, Preoperasi, Katarak Kepustakaan : 25 Referensi (2006-2014)
Keterangan : 1 Judul, 2 Nama Mahasiswa S1 Keperawatan, 3 Nama Pembimbing I, 4 Nama Pembimbing II
vi
ANXIETY LEVEL OVERVIEW PATIENTS PRE CATARACT SURGERY OPERATIONS IN THE GENERAL HOSPITAL DISTRICT CIAMIS1
Angga Nugroho 2 Jajuk Kusumawaty 3 Yanti Srinayanti 4
ABSTRACT
Cataract is a clouding of the eyepiece arising from metabolic disorders in the lens. Cataracts can not be prevented unless the kebutaanya is by surgery. Surgery or cataract surgery is one stressor for patients with cataracts. From a review of nursing soul surgery lead to a crisis situation, namely internal disturbances caused by stressful events, threats and increased anxiety.
The aim of this study is to describe the patient's level of anxiety pre cataract surgery at General Hospital Operating Theatre District Ciamis.
This research uses descriptive is a research method with the ultimate aim of making a picture or description of an object. The population in this study were all patients pre cataract surgery in the operating room Public Hospital District Ciamis. The samples in this study using total sampling technique that is the entire
population of the research sample as many as 31 patients pre cataract surgery.
The results shows that anxiety patients pre cataract surgery at General Hospital Operating Theatre Ciamis District, which has The highest frequency that almost half of respondents have a mild anxiety as many as 16 people (51.6%) , 10 (32.3%) had moderate anxiety , and the lowest frequency is 5 people (16.1%) experienced severe anxiety while in the very anxiety weight (panic) no experience.
Advice is expected to provide care, comfort, a friendly attitude, and try to understand the feelings of the patient -related operations to be performed as well as more emphasis on the provision of explanation or action procedures for prevention of anxiety in patients with increasing the therapeutic communication by nurses the right so that the patient does not experience anxiety in the face operation.
Keywords : Anxiety , preoperative , Cataract Bibliography : 25 reference (2006-2014)
Description : 1.Title, 2. Student Name, 3. Name of Supervisor I, 4. Name of Supervisor II
1
A. Latar Belakang
Mata merupakan salah satu organ yang vital bagi individu dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari. Masalah pada mata dapat menurunkan
kualitas hidup seseorang. Masalah kesehatan pada mata yang dapat
mengancam kualitas hidup seseorang adalah kebutaan (Ilyas, 2014).
Angka kebutaan di Indonesia saat ini mencapai 1,5%. Dimana angka
tersebut merupakan yang tertinggi di Asia dan nomor 2 di dunia. Oleh karena
itu, kebutaan di Indonesia telah menjadi masalah nasional karena kebutaan
akan menyebabkan kehilangan produktivitas dan membutuhkan biaya besar
untuk rehabilitas dan pendidikan tuna netra. Penyebab utama antara lain
katarak, kelainan refraksi dan penyakit lain yang berhubungan dengan
degeneratif (Kemenkes RI, 2014).
Katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang timbul karena adanya
gangguan metabolisme pada lensa. Hal ini mengakibatkan gangguan refraksi
cahaya ke dalam retina. Masyarakat di daerah tropis sangat berisiko
mengalami katarak karena paparan sinar ultra violet yang lebih banyak dari
pada daerah sub tropis (Ilyas, 2014).
Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaanya yaitu dengan
operasi. Katarak merupakan penyakit degeneratif namun saat ini katarak
yang telah ditemukan pada usia muda (35-40 tahun) selama ini katarak
dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering
diremehkan oleh kaum muda. Hal ini disebabkan kurangnya asupan gizi dan
2
WHO memperkirakan jumlah ada 285 juta orang yang mengalami
gangguan penglihatan di dunia,dimana 39 juta mengalami kebutaan dan 246
juta memiliki low vision. Terlepas dari kemajuan dalam teknik bedah di
banyak negara selama sepuluh tahun terakhir, penyebab utama gangguan
penglihatan di seluruh dunia adalah katarak (51%), glaukoma (8%), AMD
(5%), kebutaan pada anak dan kornea opacitiy (4%),
kesalahan-refraktive-dikoreksi dan trakoma (3%), dan diabetik retinopathy (1%), idiopatik (21%)
(Kemenkes RI, 2014).
Prevalensi katarak hasil pemeriksaan petugas enumerator dalam
Riskesdas 2013 adalah sebesar 1,8%, Prevalensi katarak tertinggi di
Sulawesi Utara (3,7%) diikuti oleh Jambi (2,8%) dan Bali (2,7%). Prevalensi
katarak terendah ditemukan di DKI Jakarta (0,9%) diikuti Sulawesi Barat
(1,1%). Masih banyak penderita katarak yang tidak mengetahui jika
menderita katarak. Hal ini terlihat dari tiga terbanyak alasan penderita katarak
belum operasi hasil Riskesdas 2013 yaitu 51,6% karena tidak mengetahui
menderita katarak, 11,6% karena tidak mampu membiayai dan 8,1% karena
takut operasi. Di Jawa Barat prevalensi penderita katarak sebesar 1,5% dari
jumlah penduduk Jawa Barat (Kemenkes RI, 2014).
Satu-satunya terapi untuk penderita katarak adalah pembedahan
yang bertujuan untuk memperbaiki visus atau tajam penglihatan.
Pembedahan katarak dilakukan dengan mengambil lensa mata yang terkena
katarak kemudian diganti dengan lensa implan atau Intraokuler Lens (IOL).
Sebanyak lebih dari 90% operasi katarak berhasil dengan perbaikan fungsi
penglihatan yang dinyatakan dengan perbaikan visus pasien pasca operasi.
Sebagian besar pasien mencapai visus kategori baik yaitu 6/18-6/6 setelah
Pembedahan atau operasi katarak merupakan salah satu stressor
bagi pasien penderita katarak. Sebagaimana disampaikan Hawari (2011)
yang menyatakan bahwa prosedur pembedahan merupakan salah satu
stressor bagi individu yang akan menjalaninya. Dari tinjauan keperawatan
jiwa tindakan operasi menimbulkan krisis situasi yaitu gangguan internal yang
ditimbulkan oleh peristiwa yang menegangkan, mengancam dan
meningkatkan kecemasan. Menurut Long (2012), tindakan operasi adalah
salah satu bentuk terapi yang dapat merupakan ancaman, baik potensial
maupun aktual terhadap tubuh, integritas dan jiwa seseorang yang dapat
mencetuskan kecemasan pada diri pasien.
Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai
ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari
ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa
mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak
menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan
menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis (Rochman,
2010).
Perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di
rumah sakit adalah kecemasan, dimana yang sering terjadi adalah apabila
pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.
Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian
besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan.
Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan
penatalaksanaan medis. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak
diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan (Dewi Wijayanti,
4
Ketakutan dan kecemasan yang dirasakan pasien pre operasi
ditandai dengan adanya perubahan-perubahan fisik seperti meningkatnya
frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan-gerakan tangan yang tidak
terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menanyakan pertanyaan
yang sama berulang kali, sulit tidur, dan sering berkemih (Long, 2012).
Terjadinya kecemasan karena stressor yang dirasakan dan
dipersepsikan individu, merupakan suatu ancaman yang dapat menimbulkan
kecemasan. Oleh karana itu pasien pre operasi katarak harus selalu
berpandangan baik dalam menghadapi segala hal. Sikap optimis merupakan
sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam, sebagaimana firman Alloh SWT
dalam surat Al Imraan 3 Ayat 139 :
”Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran 3 : 139).
Sikap optimis haruslah mengalahkan pesimis yang bisa jadi
menyelinap dalam hati kita. Untuk itulah jika ingin hidup sukses, kita harus
bisa membangun rasa optimis dalam diri. pasien pre operasi katarak harus
mampu untuk percaya bahwa hidup memang tidak mudah, tetapi dengan
upaya baru, hidup akan menjadi lebih baik.
Tindakan operasi merupakan pengalaman yang menakutkan bagi
sebagian besar pasien yang akan menjalani operasi hal ini mengakibatkan
kecemasan pada pasien preoperasi. Berdasarkan data dari World Health
Organization (WHO) pada tahun 2007, Amerika Serikat menganalisis data
dari 35.539 klien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober
2003 dan 30 september 2006. Dari 8.922 pasien (25,1%) mengalami kondisi
Hasil penelitian Indrawati (2015) mengenai hubungan antara tingkat
kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi
fraktur ekstremitas bawah di RSUD Sidoarjo menunjukan bahwa dari 33
orang pasien pre operasi 13 responden (39,4%) mengalami kecemasan
berat, 9 responden (27,3%) mengalami kecemasan sangat berat, 9
responden (27,3%) mengalami kecemasan sedang dan 2 responden (6,1%)
mengalami kecemasan ringan.
Penelitian Rondonuwu, (2014) tentang hubungan pengetahuan
dengan tingkat kecemasan pada klien pre operasi katarak di Balai Kesehatan
Mata Masyarakat (BKMM) Manado diketahui bahwa dari 42 klien pre operasi
katarak yang memiliki kecemasan ringan 16 responden, kecemasan sedang
14 responden, kecemasan berat 10 responden, tidak ada kecemasan 2
responden dan kecemasan panik 0 responden.
Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis
didapatkan klien katarak :
Table 1.1 Data Pasien Katarak yang Menjalani Operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis
No Tahun Jumlah Pasien katarak Operasi Katarak Jumlah % 1 2014 1269 150 11,82 2 2015 1541 173 11,23 3 Januari-Februari 2016 303 31 10,23
(Sumber : Rekam Medik RSUD Kabupaten Ciamis, 2016)
Berdasarkan table 1.1 pasien katarak sebanyak 1269 orang pada
tahun 2014 sedangkan pada 2015 sebanyak 1541 orang dan pada periode
bulan januari-februari tahun 2016 sebanyak 303 orang sedangkan penderita
katarak yang melakukan operasi pada tahun 2015 sebanyak 173 orang
sedangkan pada periode januari-februari tahun 2016 sebanyak 31 orang
6
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10 maret 2016 di Ruang
Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis didapatkan data
bahwa dari 9 pasien yang akan melakukan operasi 3 orang mengalami
kecemasan ringan, 4 orang mengalami kecemasan sedang dan 2 orang
lainnya mengalami kecemasan berat hal ini disebabkan karena rasa takut
terhadap anastesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut karena
ketidaktahuan atau takut tentang ancaman lain terhadap citra tubuh, pasien
juga mengalami kekhawatiran seperti masalah keuangan, tanggung jawab
terhadap keluarga, dan kewajiban pekerjaan atau ketakutan terhadap
prognosa yang buruk atau probabilitas kecacatan di masa mendatang.
Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi
Katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis.
B. Rumusan Masalah
Mata merupakan salah satu organ yang vital bagi individu dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari. Masalah kesehatan pada mata yang dapat
mengancam kualitas hidup seseorang adalah kebutaan. Angka kebutaan di
Indonesia saat ini mencapai 1,5%, penyebab utama antara lain katarak,
kelainan refraksi dan penyakit lain. Katarak merupakan kekeruhan lensa
mata yang timbul karena adanya gangguan metabolisme pada lensa,
masyarakat di daerah tropis sangat berisiko mengalami katarak karena
paparan sinar ultra violet yang lebih banyak. Pembedahan merupakan
satu-satunya terapi untuk penderita katarak yang bertujuan memperbaiki visus
atau tajam penglihatan. Pembedahan atau operasi katarak merupakan salah
satu stressor bagi pasien penderita katarak. yang dapat mencetuskan
Berdasarkan uraian di atas yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimanakah gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Ciamis?”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya gambaran tingkat
kecemasan pasien pre operasi katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Ciamis.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya tingkat kecemasan ringan pasien pre operasi katarak Di
Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis
b. Diketahuinya tingkat kecemasan sedang pasien pre operasi katarak
Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis
c. Diketahuinya tingkat kecemasan berat pasien pre operasi katarak Di
Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Ciamis
d. Diketahuinya tingkat kecemasan sangat berat pasien pre operasi
katarak Di Ruang Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Ciamis
D. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang diharapkan di dalam pelaksanaan penelitian
ini yaitu bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama
8
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Rumah Sakit
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengatur, mengelola, menarik pelanggan yang menggunakan jasa
rumah sakit dan sebagai bahan evaluasi terhadap pelayanan
keperawatan terutama pada dukungan keluarga terhadap kecemasan
pasien pre operasi.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai tambahan referensi untuk
meningkatkan mutu pendidikan terutama masalah keperawatan dalam
kecemasan pasien pre operasi.
c. Bagi Perawat
Dapat berguna sebagai bahan informasi untuk meningkatkan
pelayanan keperawatan untuk memberikan penaganan kecemasan
pada pasien pre operasi.
d. Bagi Peneliti Lain
Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan sumber informasi atau
sebagai data awal bagi penelitian selanjutnya
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil studi pustaka tentang operasi katarak , pernah
diteliti oleh Herianto (2013) dengan judul Gambaran Pengetahuan Pasien
Katarak Tentang Tindakan Operasi di Poli Mata RSUD Raden Mataher
Provinsi Jambi Tahun 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif ini dilakukan
pada seluruh pasien katarak yang periksa di Poli Mata RSUD Raden
dilakukan dengan cara minimal sampel yaitu 93 orang yang akan dilakukan
tindakan operasi dan bersedia mengisi informed concent. Instrumen
penelitian menggunakan lembar kuisioner tertutup dan di uji validitas dan
reliabilitas dari kuisioner. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar pasien
katarak mempunyai pengetahuan kurang tentang pengertian penyakit
katarak yaitu 45 orang atau 46.9%, sebagian besar pasien katarak
mempunyai pengetahuan kurang tentang tindakan operasi yaitu 79 orang
atau 82.3%, sebagian besar persepsi pasien katarak tentang pelayanan di
Poli Mata RSUD Raden Mataher Jambi adalah cukup yaitu 86 orang atau
89.6% dan sebagian besar pasien yang berkunjung ke poli mata RSUD
Raden Mataher menggunakan layanan Askes yaitu 46 orang atau 47.9 %.
Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang
operasi katarak. Pada penelitian yang akan di lakukan oleh peneliti saat ini
mempunyai perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu judul, lokasi,
waktu dan jenis penelitian pada penelitian ini termasuk jenis penelitian
deskriptif yaitu suatu metode penelitian dengan tujuan utama membuat
gambaran atau deskripsi suatu objek yaitu kecemasan pasien operasi
katarak. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien preoperasi katarak,
sedangkan pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Kecemasan a. Pengertian
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan
menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya, dan keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik
dimana perasaan isolasi, keterasingan, dan ketidakamanan juga hadir
(Stuart, 2007). Sedangkan menurut Asmadi (2009) kecemasan
merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan
sesuatu di luar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam
mengatasi permasalahan. Didukung pula oleh Dalami (2009) yang
menyatakan bahwa kecemasan adalah respon emosional terhadap
penilaian individu yang subjektif, yang di pengaruhi alam bawah sadar
dan tidak diketahui secara khusus penyebabnya.
Menurut Arofiati (2010) kecemasan adalah suatu keadaan
dimana suatu individu/kelompok mengalami perasaan yang sulit dan
disertai saraf otonom dalam berespon terhadap ketidakjelasan
ancaman tidak spesifik. Notoatmodjo (2012) mengemukakan bahwa
kecemasan adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita
untuk berbuat sesuatu. Kecemasan berkembang dari konflik antara
sistem ID, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis
yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang
1) Kecemasan realita
Kecemasan realita yaitu rasa takut akan bahaya yang
datang dari luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat
tergantung kepada ancaman nyata (Stuart, 2007).
2) Kecemasan neurotic
Kecemasan neurotic adalah rasa takut kalau-kalau instink
akan keluar jalur dan menyebabkan seseorang berbuat sesuatu
yang dapat membuatnya terhukum (Stuart, 2007).
3) Kecemasan moral
Kecemasan moral yaitu rasa takut terhadap nuraninya
sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung
merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan
dengan norma moral (Stuart, 2007).
Dari pendapat beberapa para ahli diatas maka dapat
disimpulkan bahwa kecemasan adalah respon emosi tanpa objek yang
spesifik dan bersifat subjektif berupa rasa takut, kekhawatiran pada
sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan
dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.
b. Tingkat Kecemasan
Menurut Stuart (2007) kecemasan dapat digolongkan dalam
beberapa tingkat kecemasan, yaitu sebagai berikut :
1) Kecemasan ringan : Berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari, ansietas ini menyebabkan individu menjadi
waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Ansietas ini dapat
memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
12
2) Kecemasan sedang : Memungkinkan individu untuk berfokus pada
hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini
mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu
mengalami tidak perhatian yang tidak selektif namun dapat
berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk
melakukannya (Stuart, 2007).
3) Kecemasan berat : Sangat mengurangi lapang persepsi individu.
Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik
serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk
mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak
arahan untuk pada area lain (Stuart, 2007).
4) Tingkat panik dari ansietas : Berhubungan dengan terperangah,
ketakutan, dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya.
Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan.
Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan
peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan
kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak
sejalan dengan kehidupan; jika berlangsung terus dalam waktu
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik
Gambar 2.1 Rentan Respon Kecemasan
Sumber : Stuart (2007)
c. Teori Kecemasan
Stuart (2007) menyatakan ada beberapa teori yang telah
dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan, diantaranya :
1) Faktor Predisposisi
Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab
ansietas adalah :
a) Teori psikoanalitis
Menurut Sigmund Freud Kecemasan dimulai pada saat
bayi sebagai akibat dari rangsangan tiba-tiba dan trauma lahir.
Kegelisahan berlanjut dengan kemungkinan bahwa lapar dan
haus mungkin tidak puas. Kecemasan primer karena itu
keadaan tegang atau dorongan yang dihasilkan oleh penyebab
eksternal. Lingkungan mampu mengancam serta memuaskan.
Ini ancaman implisit predisposes orang untuk kecemasan di
kemudian hari (Stuart, 2007).
Freud menyatakan struktur kepribadian terdiri dari tiga
elemen, yaitu id, ego, dan superego. Id melambangkan
14
hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma
budaya seseorang, sedangkan ego atau aku digambarkan
sebagai mediator antara tuntutan dari id dan superego.
Menurut teori psikoanalitik, ansietas merupakan konflik
emosional yang terjadi antara id dan superego, yang berfungsi
memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu
diatasi (Stuart, 2007).
b) Teori interpersonal
Sullivan tidak setuju dengan Freud. Ia menyatakan
ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal.
Hal ini juga dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan
seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang
menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri
rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas
yang berat (Stuart, 2007).
c) Teori prilaku
Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu
yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Para ahli prilaku menganggap ansietas
merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan
keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini
bahwa individu yang pada awal kehidupannya dihadapkan
pada rasa takut berlebihan akan menunjukkan kemungkinan
ansietas berat pada kehidupan masa dewasanya (Stuart,
d) Kajian keluarga
Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan
ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu
keluarga. Gangguan ansietas juga tumpang tindih antara
gangguan ansietas dengan depresi (Stuart, 2007).
e) Kajian biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung
reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin
membantu mengatur ansietas. Selain itu kesehatan umum
seseorang mempunyai predisposisi terhadap ansietas.
Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan
selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi
stressor (Stuart, 2007).
2) Faktor Prespitasi
Faktor prespitasi dibedakan menjadi:
a) Faktor eksternal :
(1) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas
fisiologis yang akan terjadi atau penurunan kemampuan
untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Stuart, 2007).
(2) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan
identitas, harga diri, dan fungsi social yang terintegrasi
pada individu (Stuart, 2007).
b) Faktor internal :
(1) Umur, seseorang yang mempunyai umur lebih muda
ternyata lebih mudah mengalami gangguan akibat
kecemasan daripada seseorang yang lebih tua umurnya
16
Umur menunjukan ukuran waktu pertumbuhan dan
perkembangan seorang individu. Umur berkorelasi dengan
pengalaman, pengalaman berkorelasi dengan
pengetahuan, pemahaman dan pandangan terhadap suatu
penyakit atau kejadian sehingga akan membentuk persepsi
dan sikap. Mengungkapkan bahwa semakin bertambahnya
umur kematangan psikologi individu semakin baik, artinya
semakin matang psikologi seseorang, semakin baik pula
adaptasi terhadap kecemasan. (Feist, 2009). Semakin tua
semakin banyak seseorang mendapatkan pengalaman
sehingga semakin baik pula pengetahuannya.
(Notoatmodjo, 2010).
(2) Jenis kelamin, gangguan panik merupakan suatu gagasan
cemas yang ditandai dengan kecemasan yang spontan
dan episodik. Gangguan ini lebih sering dialami wanita
daripada pria. Perempuan memiliki tingkat kecemasan
yang lebih tinggi dibandingkan subjek berjenis kelamin
laki-laki. Dikarenakan bahwa perempuan lebih peka dengan
emosinya, yang pada akhirnya peka juga terhadap
perasaan cemasnya. Perbedaan ini bukan hanya
dipengaruhi oleh faktor emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor kognitif. Perempuan cenderung melihat hidup atau
peristiwa yang dialaminya dari segi detail, sedangkan
laki-laki cara berpikirnya cenderung global atau tidak detail.
dirundung oleh kecemasan karena informasi yang dimiliki
lebih banyak dan itu akhirnya bisa benar-benar menekan
perasaannya (Stuart, 2007).
(3) Pendidikan merupakan usaha kegiatan untuk membantu
individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan
kemampuan baik pengetahuan, sikap dan keterampilan
untuk mencapai hidup secara optimal. Makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi,
sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki
(Notoatmodjo, 2012). Faktor pendidikan sangat
berpengaruh terhadap tingkat kecemasan seseorang
tentang hal baru yang belum pernah dirasakan atau sangat
berpengaruh terhadap perilaku seseorang terhadap
kesehatannya (Stuart, 2007)..
(4) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih
mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
orang dengan kepribadian B. Adapun ciri-ciri orang dengan
kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, dan
ingin serba sempurna (Stuart, 2007).
(5) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada di
lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami
kecemasan dibanding bila dia berada di lingkungan yang
biasa dia tempati (Stuart, 2007).
d. Alat Ukur Kecemasan
Tingkatan kecemasan ini diukur dengan menggunakan
Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) oleh Lovibond &
18
Stress Scale 42 terdiri dari 42 item atau lebih diringkas sebagai Depression Anxiety Stress Scale terdiri dari 21 item. DASS adalah
seperangkat skala subyektif yang dibentuk untuk mengukur status
emosional negatif dari depresi, kecemasan dan stres (Psychology
Foundation of Australia, 2010).
DASS dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara
konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang
lebih lanjut untuk pemahaman pengertian, dan pengukuran yang
berlaku dimanapun dari status emosional. DASS dapat digunakan
baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan penelitian
(Psychology Foundation of Australia, 2010).
Menurut Psychology Foundation of Australia (2010), tingkatan
cemas pada instrumen ini berupa ringan, sedang, berat, dan panik.
Psychometric Properties Of The Depression Anxiety Stress Scale 42
(DASS) terdiri dari 42 item, sedangkan pertanyaan atau kuesioner
mengenai kecemasan terdiri dari 14 item memiliki nilai 0 hingga 3
dimana nilai 0 berarti responden tidak pernah mengalami hal tersebut,
nilai 1 berarti sesuai yang dialami, nilai 2 berarti sering mengalami,
nilai 3 berarti hampir setiap hari mengalami hal tersebut. skor yang
diperoleh dikategorikan dengan makna ≤ 14 (normal); 15-18 (ringan); 19-25 (sedang); 26-33 (berat); ≥ 34 (panik).
e. Respon terhadap Kecemasan
Menurut Stuart (2007) bahwa respon individual terhadap
kecemasan meliputi respon fisiologik, prilaku, kognitif dan afektif.
1) Respon fisikologik
Respon fisikologik individu terhadap kecemasan , yaitu :
a) Sistem kardiovaskuler
Responnya berupa palvitasi jantung berdebar,
meningkatnya tekanan darah, rasa mau pingsan, pingsan,
tekanan darah menurun dan nadi menurun (Stuart, 2007).
b) Sistem Respirasi
Responnya berupa nafas cepat dan dangkal, nafas
pendek, tekanan pada dada, pembengkakkan pada
tenggorokan, sensasi tercekik dan tersenggal-senggal (Stuart,
2007).
c) Sistem Neuromuskular
Responnya berupa refleks meningkat, reaksi kejutan,
mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, regiditas, gelisah,
wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah dan gerakan
yang janggal (Stuart, 2007).
d) Sistem Gastrointestinal
Responnya berupa kehilangan nafsu makan, menolak
makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual dan diare
(Stuart, 2007).
e) Sistem traktus urinarius
Responnya berupa sering berkemih atau pun tidak
dapat menahan kencing (Stuart, 2007).
f) Kulit
Responnya berupa wajah kemerahan, rasa panas dan
dingin pada kulit, berkeringat setempat (telapak tangan),
20
2) Respon perilaku
Respon perilaku gelisah, ketegangan otot, tremor, gugup,
bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mendapat cidera,
menarik diri dari hubungan interpersonal, menghalangi, serta
menghindari diri dari masalah (Stuart, 2007).
3) Respon kognitif
Respon kognitif meliputi perhatian terganggu, konsentrasi
buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, preokupasi,
hambatan berpikir, bidang persepsi menurun, kreativitas menurun,
takut pada gambaran visual, takut cidera atau kematian (Stuart,
2007).
4) Respon afektif
Respon afektif meliputi kondisi gelisah, tidak sabar,
tegang, nervous, mudah terganggu, ketakutan, tremor dan gugup
(Stuart, 2007).
2. Katarak
a. Pengertian
Katarak adalah setiap keadaaan kekeruhan pada lensa yang
dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan)lensa, denaturasi
protein lensa atau akibat keduanya (Tsamsuri Anas 2011).
Seseorang yang mengalami katarak penglihatannya menjadi
berkabut/buram. Lensa mata merupakan bagian jernih dari mata yang
berfungsi untuk menangkap cahaya atau gambar. Retina merupakan
bagian yang terdapat dibagian belakang mata bersifat sensitive
terhadap cahaya, pada keadaan normal cahaya atau gambar yang
selanjutnya rangsangan cahaya atau gambar akan diubah menjadi
sinyal/impuls yang akan diteruskan ke otak oleh saraf penglihatan
dan akhirnya akan diterjemahkan sehingga dapat dipahami.
(Ilyas, 2014).
Berbagai faktor yang dideteksi sebagai sumber penyakit
katarak diantaranya faktor keturunan, cacat bawaan lahir, masalah
kesehatan seperti diabetes, penggunaan obat-obat tertentu seperti
steroid, aksposur matahari terhadap mata dalam waktu yang relative
lama, operasi mata sebelumnya dan trauma pada mata contohnya
karena kecelakaan. (Ilyas, 2014)
Katarak bukan merupakan penyakit menular hingga saat ini
belum ada obat-obatan, makanan atau kegiatan olah raga yang
dapat menghindari/menyembuhkan gangguan katarak, salah satu
upaya yang efektif untuk memperlambat terjadinya gangguan
katarak adalah melindungi mata dari sinar matahari yang berlebihan.
(Ilyas, 2014).
b. Manifestasi klinik
Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa adanya
kelainan mata atau sistemik atau kelainan (katarak senile, juvenile,
herediter) atau kelainan congenital mata. Lensa yang dalam proses
pembentukan katarak ditandai adanya sembab lensa, perubahan
protein, necrosis, dan terganggunya keseimbangan normal
serabut-serabut saraf. Pada umumnya, terjadinya perubahan lensa sesuai
dengan tahap perkembangan katarak. Kekeruahn lensa pada katarak
imatur (insifiens) tipis. Akan tetapi, pada katarak matur
22
agak sembab. Jika kandungan airnya maksimal dan kapsul lensa
teregang, katarak ini dinamakan intumesens (sembab). Katarak
hipermatur (katarak lanjut) ditandai keluarnya air meninggalkan lensa
yang relative mengalami dehidrasi, sangat keruh, dan kapsulnya
keriput. Sebagian besar katarak tidak dapat dilihat oleh pengamat
yang awam sampai kekeruhannya sudah cukup padat (matur atau
hipermatur) yang menyebabkan kebutaan, walaupun demikian katarak
stadium dini dapat dipantau dengan oftalmoskop, lup, atau lampu
celah dengan pupil yang telah dilebarkan, semakin padat kekeruahn
lensa, semakin sulit memantau fundus okuli, sampai akhirnya refleks
fundus negative. Pada tahap ini, katarak sudah masak dan pupilnya
tampak putih (Ilyas, 2014).
Klien katarak mengeluh penglihatan seperti berasap dan tajam
penglihatan menurun secara progresif. Kekeruhan lensa ini
mengakibatkan lensa tidak transfaran sehingga pupil akan berwarna
putih atau abu-abu. pada mata, akan tampak kekeruhan ini juga
ditemukan pada berbagai lokasi dilensa seperti korteks dan nukleus.
(Tsamsuri Anas, 2011). Katarak menyebabkan :
1) Menyebabkan hilangnya penglihatan tanpa rasa nyeri
2) Menyebabkan rasa silau
3) Dapat mengubah kelainan refraksi
4) Tajam penglihatan berkurang
c. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan
Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yan
mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan
bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi
coklat kekuningan . Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri
di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul poterior
merupakan bentuk katarak yang paling bermakna seperti kristal salju
(Ilyas, 2014).
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan
hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel
(zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar
lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan
koagulasi, sehingga mengaburkan pandangan dengan menghambat
jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya
protein lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini
mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun
dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien
yang menderita katarak (Ilyas, 2014).
Katarak bisa terjadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian
trauma atau sistemis (Diabetes) tetapi paling sering karena adanya
proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan
dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan,
alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam
24
d. Etiologi
Menurut Dinfirman dan Gayuh (2010) katarak dapat
disebabkan oleh :
1) Akibat proses penuaan
2) Trauma mata tajam maupun tumpul
3) Penggunaan kortikosteroid dalam jangka waktu panjang
4) Penyakit iskemik seperti Diabetes mellitus, hipoparatiroid
5) Pemajanan radiasi
6) Pemajanan yang lama sinar matahari (sinar UV)
7) Kelainan mata lain seperti uveitis
e. Klasifikasi
Berdasarkan usia katarak menurut Ilyas, (2014) dapat
diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu :
1) Katarak congenital : yaitu katarak yang timbul sejak dalam
kandungan atau timbul setelah dilahirkan, umumnya disebabkan
karena adanya infeksi, dan kelainan metabolisme pada saat
pembentukan janin. Katarak Kongenital yang sering timbul karena
infeksi saat ibu mengandung, terutama pada kehamilan 3 bulan
pertama. Katarak sudah dapat terlihat pada usia kurang dari 1
tahun.
2) Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun.
3) Katarak senile, katarak setelah usia 50 tahun diduga karna proses
penuaan.
Berdasarkan penyebabnya menurut Ilyas, (2014) katarak
1) Katarak Traumatik
Katarak terjadi akibat rudapaksa atau trauma baik karena
trauma tumpul maupun tumpul. Rudapaksa ini dapat
mengakibatkan katarak pada satu mata(katarak monokuler)
Penyebab katarak ini antara lain karena radiasi sinar-X, radioaktiv
dan benda asing (Ilyas, 2014).
2) Katarak Toksila
Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya pejanan
dengan bahan kimia tertentu. Katarak ini dapat juga terjadi karena
penggunaan obat seperti kortikosteroid dan clorpromazin (Ilyas,
2014).
3) Katarak komplikata
Katarak terjadi karena gangguan sistematik seperti
diabetes mellitus, hipoparatiroid, atau akibat local seperti uveitis,
gloukomma, dan miopi atau proses degenerasi pada satu mata
lainnya (Ilyas, 2014).
Berdasarkan stadium menurut Ilyas, (2014) katarak senile
dapat dibedakan menjadi 4 jenis :
1) Katarak insipien
Merupakan stadium awal katarak yaitu kekeruhan lensa
masih terbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Klien
mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda pada
penglihatan satu mata. Pada stadium ini, proses degenerasi
belum menyerap cairan sehingga bilik mata depan memiliki
kedalaman normal. Iris dalam posisi biasa disertai kekeruhan
ringan pada lensa. Belum terjadi gangguan tajam penglihatan
26
2) Katarak imatur
Lensa mulai menyerap cairan sehingga lensa agak
cembung, menyebabkan terjadinya miopi, dan iris terdorong
kedepan serta bilik mata depan menjadi dangkal. Sudut bilik mata
depan dapat tertutup sehingga mungkin timbul gloukoma
sekunder (Ilyas, 2014).
3) Katarak matur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. Pada stadium
ini terjadi kekeruhan lensa. Tekanan cairan dalam lensa sudah
dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga
ukuran lensa akan normal kembali. Tajam penglihatan sudah
menurun dan hanya tinggal proyeksi sinar positif (Ilyas, 2014).
4) Katarak hipermatur
Pada stadium ini, terjadi proses degenerasi lanjut lensa
dan korteks lensa dapat mencair sehingga nucleus lensa
tenggelam didalam korteks lensa. Pada stadium ini dapat juga
terjadi degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa maupun
korteks lensa yang cair dapat masuk kedalam bilik mata depan.
Bahan lensa dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata depan
sehingga timbul gloukoma fakolitik (Ilyas, 2014).
f. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang jarang dilakukan kecuali bila terdapat
dugaan penyakit sistemik yang harus dieksklusi atau katarak telah
terjadi sejak muda. (James, Brues dkk, 2006)
Adapun pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain
1) Kartu mata Snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu
dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor,
kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.
2) Lapang Penglihatan : penuruan mngkin karena massa tumor,
karotis,glukoma.
3) Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg).
4) Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma.
5) Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe gllukoma.
6) Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng
optik, papiledema, perdarahan.
7) Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8) EKG, kolesterol serum, lipid
9) Tes toleransi glukosa : kotrol DM
g. Penatalaksanaan
Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk
memperlambat atau mencegah terjadinya katarak, tatalaksan masih
tetap dengan pembedahan. Pasien mungkin mengalami kesulitan
dalam mengenali wajah, membaca, atau mengemudi, bahkan
beberapa pasien sangat terganggu oleh rasa silau. Pasien diberikan
informasi tentang prognosis visual mereka dan harus diberitahu pula
mengenai semua penyakit mata yang terjadi bersamaan yang bisa
mempengaruhi hasil pembedahan katarak (Tsamsuri. Anas, 2011).
h. Operasi katarak
Operasi katarak/pengangkatan katarak adalah pengangkatan
melalui bedah terhadap lensa yang telah mengalami opak akibat
28
(diabetes) atau lensa opak congenital. Operasi katarak dibedakan
menjadi dua yakni operasi ekstrakapsuler dan intrakapsuler
(Tsamsuri. Anas, 2011).
Katarak ekstrakapsuler atau ekstraksi katarak ekstrakapsuler
(EKEK) merupakan tindakan pembedahan pada lensa katarak yaitu
dengan mengeluarkan isi lensa dengan memecah atau merobek
kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dapat keluar melalui
robekan tersebut (Tsamsuri. Anas, 2011).
Katarak intrakapsuller atau ekstraksi katarak intarkapsuler
(EKIK) merupakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa
dengan kapsul. (Tsamsuri. Anas, 2011)
3. Pre Operasi
a. Pengertian
Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari
keperawatan perioperatif. Perawatan pre operatif merupakan tahap
pertama dari perawatan perioperatif yang dimulai sejak pasien
diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien
dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan
(Brunner & Suddarth, 2011).
Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat
tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan
awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan
berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat
fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi
pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan
untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi (Brunner &
b. Persiapan Yang Harus Dilakukan
Persiapan pembedahan menurut Brunner & Suddarth (2011)
dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik
pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).
1) Persiapan Psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani
operasi emosinya tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena
Brunner & Suddarth (2011) :
a)
Takut akan perasaan sakit, narcosa atau hasilnya.b)
Keadaan sosial ekonomi dari keluarga.Penyuluhan merupakan fungsi penting dari perawat pada
fase pra bedah dan dapat mengurangi cemas pasien. Hal-hal
dibawah ini penyuluhan yang dapat diberikan kepada pasien pra
bedah. Informasi yang dapat membantu pasien dan keluarganya
sebelum operasi Brunner & Suddarth (2011) :
a) Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi (alasan
persiapan).
b) Hal-hal yang rutin sebelum operasi.
c) Alat-alat khusus yang diperlukan
d) Pengiriman ke ruang bedah.
e) Ruang pemulihan.
Kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi
Brunner & Suddarth (2011) :
a) Bernafas dalam dan latihan batuk
b) Latihan kaki
c) Mobilitas
30
2) Persiapan Fisiologi
a) Diet
Pada 8 jam menjelang operasi pasien tidak
diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak
diperbolehkan minum, (puasa) pada operasi dengan
anaesthesi umum (Brunner & Suddarth, 2011).
Pada pasien dengan anaesthesi lokal atau spinal
anaesthesi makanan ringan diperbolehkan. Bahaya yang
sering terjadi akibat makan/minum sebelum pembedahan
antara lain Brunner & Suddarth (2011) :
(1) Aspirasi pada saat pembedahan
(2) Mengotori meja operasi.
(3) Mengganggu jalannya operasi.
b) Persiapan Perut.
Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi
dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah
periferal. Untuk pembedahan pada saluran pencernaan
dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan pagi hari menjelang
operasi (Brunner & Suddarth, 2011).
Maksud dari pemberian lavement antara lain Brunner &
Suddarth (2011) :
(1) Mencegah cidera kolon
(2) Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah
yang akan dioperasi.
(3) Mencegah konstipasi.
c) Persiapan Kulit
Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut.
Pencukuran dilakukan pada waktu malam menjelang operasi.
Rambut pubis dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus
terbebas dari daerah kulit yang akan dioperasi. Luas daerah
yang dicukur sekurang-kurangnya 10-20 cm2 (Brunner &
Suddarth, 2011).
d) Hasil Pemeriksaan
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG
dan lain-lain (Brunner & Suddarth, 2011).
e) Persetujuan Operasi / Informed Consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia.
Persetujuan bisa didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri,
anak tertua, orang tua dan kelurga terdekat (Brunner &
Suddarth, 2011).
Pada kasus gawat darurat ahli bedah mempunyai
wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa surat izin
tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai
usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada
sisa waktu yang masih mungkin (Brunner & Suddarth, 2011).
3) Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah
terima dengan perawat OK)
Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau
cidera perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini Brunner &
Suddarth (2011) :
a) Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut
32
b) Cek gelang identitas / identifikasi pasien.
c) Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.
d) Lepas perhiasan
e) Bersihkan cat kuku.
f) Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.
g) Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.
h) Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada
gangguan pendengaran.
i) Kaos kaki anti emboli perlu dipasang pada pasien yang
beresiko terhadap tromboplebitis.
j) Kandung kencing harus sudah kosong
k) Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek
meliputi :
(1) Catatan tentang persiapan kulit.
(2) Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).
(3) Pemberian premedikasi.
(4) Pengobatan rutin.
(5) Data antropometri (BB, TB)
(6) Informed Consent
(7) Pemeriksan laboratorium.
4) Pemberian Obat premedikasi
Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi
kecemasan, memperlancar induksi dan untuk pengelolaan
anasthesi Sedative biasanya diberikan pada malam menjelang
operasi agar pasien tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas
B. Landasan Teori
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya, dan keadaan
emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik (Stuart, 2007).
Katarak adalah setiap keadaaan kekeruhan pada lensa yang dapat
terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa
atau akibat keduanya. Operasi katarak/pengangkatan katarak adalah
pengangkatan melalui bedah terhadap lensa yang telah mengalami opak
akibat perubahan degeneratif senile, trauma atau penyakit sistemik (diabetes)
atau lensa opak congenital (Tsamsuri Anas 2011).
Pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif
yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan
berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan (Brunner & Suddarth, 2011).
Kecemasan pre operasi merupakan suatu respons antisipasi
terhadap suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai suatu
ancaman terhadap perannya dalam hidup, integritas tubuh, atau bahkan
kehidupannya itu sendiri. Pasien yang menghadapi pembedahan dilingkupi
oleh ketakutan akan ketidaktahuan, kematian, tentang anestesia,
kekhawatiran mengenai kehilangan waktu kerja dan tanggung jawab
mendukung keluarga (Brunner & Suddarth 2011).
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka
hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui
34
Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan diatas maka
kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.2 Kerangka Penelitian
Kerangka konsep diatas menggambarkan bahwa operasi katarak
dapat menimbulkan perasaan cemas pada pasien pre operasi katarak.
Perasaan cemas bervariasi dari, cemas ringan, cemas sedang, cemas berat
dan cemas sangat berat (panik). Pasien Operasi katarak Kecemasan pasien pre operasi Cemas Ringan Cemas Sedang Cemas Berat Panik
Ady Novery, (2011). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian katarak
Pada Pasien Di Poli Matarsud Pariaman. KTI. Akademi Keperawatan
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Tersedia Dalam https://www.scribd.com/doc/77991037/KTI-Katarak
Arikunto, S, (2010). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi
VI, Cetakan 13. Rineka Cipta. Jakarta.
Arofiati. (2010). Tingkat Kecemasan Individu Keluarga Pasien ICU Atau ICCU
RSU PKU Muhamadiyah Yogyakarta. Yogyakarta, KTI Program Studi
Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Asmadi. (2009). Konsep Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth, (2011). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Yasmin
Dalami, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Psikososial. Jakarta. : Trans Info Media
Dewi Wijayanti,. (2006). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Pre Operasi di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. tersedia dalam http://skripsistikes.wordpress.com/.
Dinfirman dan Gayuh (2010) Etiologi dalam Marianti (2011) Hubungan Pengetahuan Dan Tingkat Kecemasan Klien Pre Operasi Katarak di Poli Klinik Mata Rumah Sakit Islam Siti Khodijah Palembang Tahun 2011. Karya Tulis Ilmiah
Hawari, D. (2011). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
James, Bruce, dkk. (2006). Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta : Penerbit Erlangga
Kusuma, (2008). Perbedaan Tajam Penglihatan Pasca Operasi Katarak Senilis
Di RSUP. dr. Kariadi Semarang Periode 1 Januari 2007-31 Desember 2007 (Antara Operator Dokter Spesialis Mata Dan Calon Dokter
Spesialis Mata Tahap Mandiri). Artikel karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Kemenkes RI, (2014) Infodatin Situasi Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan. Jakarta : Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Long, (2012). Praktek Perawatan Medikal Bedah. Bandung : Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Universitas Padjajaran.
Notoatmodjo,S, (2010). Promosi Kesehatan Teori Dan Aplikasi, Rineka Cipta Jakarta.
____________, (2012) Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan Edisi Revisi. Rineka Cipta Jakarta.
Nursalam. 2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktik Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika
Psychology Foundation of Australia. (2010). Depression anxiety stress scale.
Tersedia dalam http://www2.psy.unsw.edu.au/ [Diakses 17 maret 2016]
Riduwan Akdon, (2007). Rumus dan Data dalam Analisis dan Statistik. Bandung : Alfabeta
Rochman. (2010). Kesehatan Mental. Purwokerto: Fajar Media Press.
Sain, Awan (2010) Duration of Diabetes as a Significant Factor for Retinopathy, Pak J Ophthalmol 2010, Vol. 26 No.4: 183 – 185
Sanjaya (2011) Penderita Katarak di Indonesia Terbanyak Setelah Etiopia Jurnal Nasional : Bandung
Sidarta Ilyas. (2014). Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Jakarta: FKUI
Stuart, G.W, (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. (Edisi 5). Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tsamsuri, Anas, (2011), Klien Gangguan Mata Dan Penglihatan : Keperawatan