• Tidak ada hasil yang ditemukan

Grand Design Pembangunan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Grand Design Pembangunan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Grand Design Pembangunan

Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan

di Jawa Barat

PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Disampaikan dalam acara:

Kunjungan Kerja Pansus III DPRD Provinsi Jawa Barat di Pemerintah Kab. Karawang

Selasa, 15 Juli 2014

(2)

SISTEMATIKA

PEMBAHASAN

2

1.

Karakteristik Kawasan Metropolitan

(halaman 3)

2.

Tiga Metropolitan di Jawa Barat

(halaman 4 – 5)

3.

Konsep Pengembangan

(halaman 6 – 11)

4.

Pengembangan Metropolitan:

4.A. Metropolitan Bodebek Karpur (halaman 12-13) 4.B. Metropolitan Bandung Raya (halaman 14-15) 4.C. Metropolitan Cirebon Raya (halaman 16-17) 4.D. Pusat Pertumbuhan Palabuhanratu (halaman 19) 4.E. Pusat Pertumbuhan Rancabuaya (halaman 20) 4.F. Pusat Pertumbuhan Pangandaran (halaman 21)

5.

Kelembagaan Metropolitan dan

Pusat Pertumbuhan

(3)

Karakteristik Kawasan Metropolitan

(menurut standar literatur)

1.

Kependudukan, Metropolitan merupakan pusat konsentrasi penduduk (Goheen, 1971;

Yeates dan Garner, 1980; Goodman, 1980)

Standar Jumlah Penduduk:

a. Standard Metropolitan Statistical Area (SMSA) :

• satu kota berpenduduk min. 50.000 jiwa; atau

• dua kota atau lebih yang berintegrasi dengan jumlah penduduk kota induk min.

50.000 jiwa dan kota kecil min. 15.000 jiwa

b. National Urban Development Strategy (NUDS) :

satu kota berpenduduk min. 1 juta jiwa

c. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan No.15 thn 2010 tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang:

kawasan perkotaan terkait secara fungsional dan terintegrasi berpenduduk min. 1 juta

jiwa

2.

Ekonomi, pusat pertumbuhan wilayah, berperan menggerakan perekonomian, dan

umumnya bersifat non pertanian ditandai dengan proporsi lahan terbangun yang lebih

tinggi

3.

Mobilitas Penduduk, tingginya pergerakan antara kota inti dengan wilayah pendukung di

sekitarnya.

4.

Struktur Kawasan, mempunyai satu pusat (monocentric) ataupun lebih dari satu

(polycentric) dengan ketepaduan infrastruktur sehingga membentuk satu kesatuan

fungsional

(4)

TIGA METROPOLITAN DI JAWA BARAT

SEBAGAI PENGHELA EKONOMI, KESEJAHTERAAN, MODERNISASI DAN KEBERLANJUTAN BAGI SELURUH MASYARAKAT JAWA BARAT

B

ODEBEK KARPUR

KOTA BOGOR| KAB. BOGOR| KOTA DEPOK|KOTA BEKASI| KAB. BEKASI| KAB KARAWANG| KAB. PURWAKARTA|

11.6 JUTA JIWA

BANDUNG RAYA

KOTA BANDUNG| KOTA CIMAHI| KAB. BANDUNG BARAT| KAB. BANDUNG| KAB. SUMEDANG 5.8 JUTA JIWA

CIREBON RAYA

KOTA CIREBON| KAB. CIREBON| KAB. KUNINGAN| KAB. MAJALENGKA| KAB. INDRAMAYU 1.58 JUTA JIWA METROPOLITAN

BODEBEK

KARPUR

METROPOLITAN

CIREBON

RAYA

METROPOLITAN

BANDUNG

RAYA

PUSAT PERTUMBUHAN RANCABUAYA PUSAT PERTUMBUHAN PALABUHANRATU PUSAT PERTUMBUHAN PANGANDARAN

SUMBER: Analisis Tim WJPMDM Tahun 2011, 2012, 2013; Data SP Tahun 2010; GIS Bappeda Jabar 2020

TAHUN 2010

(5)

TAHUN 2010 TAHUN 2015

TAHUN 2020 TAHUN 2025

(6)

Metropolitan Key Performance Indicator

6

1. Ekonomi/PDRB

metropolitan yang dikelola akan lebih besar dari jumlah ekonomi/PDRB

masing-masing daerah tanpa pengelolaan metropolitan

2. Kesejahteraan penduduk

metropolitan yang dikelola akan lebih baik dari kesejahteraan penduduk di

masing-masing daerah tanpa pengelolaan metropolitan

3. Indeks modernisasi

metropolitan yang dikelola akan lebih besar dari indeks modernisasi di

masing-masing daerah tanpa pengelolaan metropolitan

4. Keberlanjutan /Sustainability fiskal dan lingkungan

metropolitan yang dikelola akan lebih baik dari kondisi fiskal dan lingkungan di

masing-masing daerah tanpa pengelolaan metropolitan

5. Unit price/cost urban services (biaya per unit pelayanan umum perkotaan) di

metropolitan yang dikelola akan jauh lebih rendah dari unit price/cost urban

services (biaya per unit pelayanan umum perkotaan) di masing-masing daerah

tanpa pengelolaan metropolitan

KONSEP PENGEMBANGAN METROPOLITAN

(7)

1. PENGEMBANGAN METROPOLITAN AKAN MENGHELA PEMBANGUNAN EKONOMI JAWA BARAT

WILAYAH METROPOLITAN DI JAWA BARAT WILAYAH LAIN DI JAWA BARAT LINKAGE EKONOMI TENAGA KERJA PENDAPATAN PRODUK PERTANIAN KONSUMSI PERTUMBUHAN EKONOMI INVESTASI MEMBUKA LAPANGAN KERJA MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT MENINGKATKAN KONSUMSI MASYARAKAT

MEMPERLUAS PASAR PRODUK JAWA BARAT

MENINGKATKAN INVESTASI SWASTA DAN PENGELUARAN

PEMERINTAH MENINGKATKAN EFISIENSI EKONOMI MENINGKATKAN EKSPOR KATA KUNCI: MENGEMBANGKAN LINKAGE KE SELURUH WIL. JAWA BARAT

(8)

2. PENGEMBANGAN METROPOLITAN AKAN MENGHELA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT JAWA BARAT

MENINGKATKAN AKSES TERHADAP PENDIDIKAN MENDORONG PERBAIKAN FASILITASN DAN KUALITAS

PENDIDIKAN MENINGKATKAN AKSES TERHADAP PELAYANAN

KESEHATAN MENDORONG PERBAIKAN

FASILITAS DAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN MENINGKATKAN DAYA BELI

MASYARAKAT MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP MASYARAKAT WILAYAH METROPOLITAN DI JAWA BARAT WILAYAH LAIN DI JAWA BARAT LINKAGE ANTAR DAERAH GENERASI MUDA SEKOLAH RUMAH SAKIT TENAGA MEDIS AKSES TERHADAP PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN KEHIDUPAN YANG SEHAT KEHIDUPAN YANG LAYAK

=

+

+

RP.

KONSEP PENGEMBANGAN METROPOLITAN

DI PROVINSI JAWA BARAT

(9)

3. PENGEMBANGAN METROPOLITAN AKAN MENGHELA MODERNISASI DI JAWA BARAT

PRODUKTIVITAS GOOD GOVERNANCE

MODERN INFRASTRUCTURE

RESOURCE EFFICIENCY

MEMBAWA PERUBAHAN TERHADAP TATANAN SOSIAL

MASYARAKAT MENINGKATKAN

PRODUKTIVITAS MASYARAKAT JAWA BARAT

MENINGKATKAN KUALITAS GOOD GOVERNANCE

DI JAWA BARAT MENINGKATKAN EFISIENSI

DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SUMBER DAYA

MODERNISASI DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

(10)

4. PENGEMBANGAN METROPOLITAN AKAN MENGHELA KEBERLANJUTAN DI JAWA BARAT

WILAYAH METROPOLITAN DI JAWA BARAT WILAYAH LAIN DI JAWA BARAT MENINGKATKAN PELUANG MENCAPAI TARGET 45 % KAWASAN LINDUNG MENDORONG PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR BERKELANJUTAN MENINGKATKAN KELAYAKAN FINANSIAL BAGI PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PERKOTAAN

MODERN

MENGHASILKAN KONDISI FISKAL YANG BERKELANJUTAN

KONSEP PENGEMBANGAN METROPOLITAN

DI PROVINSI JAWA BARAT

(11)

KEUNGULAN ABSOLUT:

Keunggulan yang dimiliki suatu daerah/kota dari keberadaan sumberdaya satu-satunya dan atau dari sejarah yang

dimilikinya yang tidak dimiliki wilayah lain KEUNGGULAN KOMPARATIF:

Keunggulan yang dimiliki suatu daerah/kota karena memiliki sumberdaya produksi yang lebih banyak dibandingkan dengan

yang dimiliki wilayah lain KEUNGGULAN KOMPETITIF:

Keunggulan yang dimiliki suatu daerah/kota karena kualitas sumber daya produksinya yang lebih baik atau karena penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga

memiliki daya saing dalam kompetisi antarwilayah

DENGAN MEMPERHATIKAN:

PENDEKATAN HYBRID

KETERANGAN:

Pendekatan Hybrid merupakan: 1. Penguatan praktek kombinasi

pembangunan berbasis FRAGMENTASI dan KONSOLIDASI yang selama ini telah diaplikasikan di dalam pembangunan Jawa Barat (PP 38 Tahun 2007)

2. FRAGMENTASI (berbasis kabupaten/kota

sebagai daerah otonom) untuk

pembangunan yang dilakukan di masing-masing kabupaten/kota

3. KONSOLIDASI untuk hal-hal yang bersifat

lintas batas administratif kabupaten/kota dan bernilai strategis bagi perekonomian, kesejahteraan, modernisasi, dan

keberlanjutan di Jawa Barat 1. BERBASIS Kabupaten/ Kota

sebagai Daerah Otonom

2. BERBASIS Metropolitan dan Pusat

Pertumbuhan di Jawa Barat

2. POTENSI DAN KEUNGGULAN WILAYAH: 1. KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN :

kualitas kehidupan kawasan metropolitan dan pusat

pertumbuhan tanpa menimbulkan beban bagi generasi yang akan datang akibat berkurangnya sumberdaya alam dan penurunan

kualitas lingkungan, diantaranya: membangun perkotaan

berkelanjutan yang modern dan berwawasan lingkungan, terwujudnya 45% kawasan lindung , melesatarikan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

(12)

2010 2015 2020 2025

11,6

14,3

18,36

23,16

Kabupaten/ Kota:

BOGOR (KAB/ KOTA) | DEPOK | BEKASI (KAB/ KOTA) | KARAWANG | PURWAKARTA

Kecamatan:

82 Kec. (2010) | 83 Kec. (2015) | 105 Kec. (2020) | 112 Kec. (2025-2050)

300.845 310.753 450.924 503.634 2010 2015 2020 2025-2050 JUMLAH POPULASI (JUTA JIWA)

METROPOLITAN BODEBEK KARPUR

DELINEASI WILAYAH

BERDASARKAN KRITERIA JUMLAH PENDUDUK, LUAS LAHAN TERBANGUN, DAN AKTIVITAS EKONOMI MASYARAKAT

LUAS WILAYAH

(HEKTAR)

(13)

KONSEP SEBELUMNYA 1 2 2 2 2 2 2 2 2

Bodebek Karpur sebagai 1

st

tier

Berdampingan dengan DKI Jakarta yang

juga 1

st

tier

DKI Jakarta sebagai 1 st

tier Wilayah BODETABEK sebagai 2 nd tier DKI JAKAR TA METROPO LITAN BODEBEK KARPUR

METROPOLITAN DKI JAKARTA

Tahun Penduduk Luas Wilayah

2010 9,6 juta 66.152 Ha

2015 ?? 66.152 Ha

2020 ?? 66.152 Ha

2025 ?? 66.152 Ha

Karakteristik

Masing-masing metropolitan memiliki: 1. aktivitas perkotaan yang mandiri 2. ciri khas yang berbeda

3. manajemen metropolitan yang mandiri 4. kompetisi sosial-ekonomi yang sehat

METROPOLITAN BODEBEK KARPUR

Tahun Penduduk Luas Wilayah 2010 11,60 juta 300.845 Ha 2015 14,30 juta 310.753,9 Ha 2020 18,36 juta 450.924 Ha 2025 23,16 juta 503.634 Ha

“Metropolitan Bodebek Karpur dikembangkan sebagai METROPOLITAN MANDIRI dengan sektor unggulan INDUSTRI

MANUFAKTUR, JASA, KEUANGAN, serta PERDAGANGAN, HOTEL, DAN RESTORAN”

(14)

KOTA/ KABUPATEN:

KOTA BANDUNG | KOTA CIMAHI | KAB. BANDUNG | KAB. BANDUNG BARAT | KAB. SUMEDANG

2010 2015 2020 2025

5,8

9,9

11,4

12,9

10.,015 134.042 168.629 212.288

METROPOLITAN BANDUNG RAYA

Prediksi Perkembangan Kependudukan

JUMLAH POPULASI (JUTA JIWA) LUAS WILAYAH (HEKTAR)

14

2010 2015 2025-2050 2020 Kecamatan:

(15)
(16)

METROPOLITAN CIREBON RAYA

DELINEASI WILAYAH

BERDASARKAN KRITERIA JUMLAH PENDUDUK, LUAS LAHAN TERBANGUN, DAN AKTIVITAS EKONOMI MASYARAKAT

JUMLAH PENDUDUK

(JUTA JIWA)

KOTA/KABUPATEN

KOTA CIREBON | KAB. CIREBON | KAB. KUNINGAN | KAB. MAJALENGKA | KAB. INDRAMAYU

LUAS WILAYAH METROPOLITAN

(HEKTAR) 2010 2015 2020 2030-2050 2010 2015 2020 2025

1,58

2,4

3,9

6,58

57.369 60.425 71.775 98.722

16

Kecamatan:

(17)

KONSEP PENGEMBANGAN

CIREBON RAYA SEBAGAI METROPOLITAN BUDAYA DAN SEJARAH, BERBASIS WISATA, INDUSTRI, DAN KERAJINAN

METROPOLITAN

BUDAYA DAN

SEJARAH

PUSAT KEGIATAN SENI DAN BUDAYA KERATON INDSUTRI BATIK DAN ROTAN INDUSTRI MAKANAN

KONSEP PENGEMBANGAN DISUSUN DENGAN MEMPERHATIKAN POTENSI

DAN KEUNGGULAN WILAYAH:

Keunggulan Absolut:

POSISI STRATEGIS | 3 ZONA TOPOGRAFI | WARISAN BUDAYA | KERATON |

SENTRA BATIK TRUSMI

Keunggulan Komparatif:

AKSESIBILITAS | SIMPUL TRANSPORTASI | KETERSEDIAAN SDM | KETERSEDIAAN

SUMBER DAYA ALAM

Keunggulan Kompetitif:

WARISAN BUDAYA DAN SEJARAH | KETERAMPILAN MEMBATIK BERSKALA

(18)

RANCABUAYA

SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN BERBASIS PARIWISATA DAN

PERKEBUNAN

(19)

Jumlah kecamatan : 5

Populasi(2010) : 296.616 jiwa

Sektor unggulan:

•Pariwisata

•Perikanan

Palabuhanratu akan dikembangkan

sebagai Pusat Pertumbuhan

berbasis Pariwisata dan Perikanan

Strategi Pembangunan

•Mengembangkan kawasan minapolitan

•Mengembangkan dan membangun

infrastruktur pariwisata

•Meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan

pariwisata dan perikanan

(20)

Jumlah Kecamatan: 5

Kab. Garut : 4 Kecamatan (Caringin, sebagian Cisewu, sebagian Bungbulang, Mekarmukti)

Kab. Cianjur: 1 Kecamatan (Sebagian Cidaun)

Sektor unggulan:

•Pariwisata

Rancabuaya akan dikembangkan

sebagai Pusat Pertumbuhan

berbasis Sektor Pariwisata

Strategi Pembangunan

•Mengembangkan transportasi regional

•Mengembangan dan membangun infrastruktur pariwisata

•Meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan pariwisata

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN

PUSAT PERTUMBUHAN RANCABUAYA

(21)

Population

Jumlah kecamatan: 5

Populasi(2010) : 182.473 jiwa

Sektor unggulan:

•Pariwisata

•Pertanian

Pangandaran akan dikembangkan

sebagai Pusat Pertumbuhan

berbasis Sektor Parwisata

Strategi Pembangunan

•Penataan kawasan pariwisata

•Pengembangan dan pembangunan infrastruktur pariwisata

•Meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan pariwisata di Pusat

Pertumbuhan Pangandaran

PUSAT PERTUMBUHAN PANGANDARAN

Kecamatan Parigi Kecamatan Cijulang Kecamatan Sidamulih Kecamatan Pangandaran Kecamatan Kalipucang

(22)

TELAAH ORGANISASI METROPOLITAN

STUDI KASUS DI LUAR NEGERI

Tokyo Metropolitan Government

[

pemerintah provinsi | mengelola penyediaan pelayanan publik yang bersifat lintas batas administrasi melalui mekanisme 1) joint operation dengan Kabupaten/Kota ATAU 2) pengambilalihan urusan khusus bernilai

strategis yang awalnya merupakan kewenangan Kabupaten/Kota

]

Seoul Metropolitan Government

[

kota istimewa yang memiliki kedudukan setara dengan Provinsi

]

Greater Vancouver

[

kerjasama sukarela di bidang-bidang strategis yang bersifat lintas batas administrasi | Ada dewan-dewan khusus yang dibentuk untuk masing-masing bidang yang ditangani

]

STUDI KASUS DI DALAM NEGERI

Metropolitan Mamminasata

(Makassar – Maros – Sungguminasa – Takalar, Sulawesi

Utara)

[

Berbentuk Badan Kerja Sama Pembangunan Metropolitan yang bersifat non struktural, dan berkedudukan sebagai unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur

]

Organisasi:

Ketua: Wakil Gubernur Wakil Ketua: BAPPEDA

Anggota: Bupati Walikota se-Mamminasata Tugas Utama:

Menyelesaikan pembangunan yang bersifat lintas batas wilayah dalam Kawasan

Metropolitan Mamminasata

(23)

PRINSIP TATA KELOLA HYBRID:

Manajemen pemerintahan yang mengkombinasikan antara: (a) manajemen berbasis daerah otonom (kab./kota) dengan (b) manajemen berbasis lintas daerah otonom.

Tata kelola Hybrid menempatkan peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah.

BIDANG PEMERINTAHAN BIDANG EKONOMI

BIDANG FISIK BIDANG SOSIAL BUDAYA

STRATEGI PENGELOLAAN PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN METROPOLITAN DAN PUSAT PERTUMBUHAN DI JAWA BARAT

• Sinergi Program dan Pendanaan: PUSAT – PROVINSI – KABUPATEN/KOTA • Kerjasama Pemerintah dengan Swasta

• Kerjasama Swasta – Swasta yang dikoordinasikan oleh BADAN USAHA KORPORASI PEMBANGUNAN

METROPOLITAN yang sejak awal didirikan bersama Kabupaten/Kota di lingkungan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan

LINGKUP YANG DITANGANI FOKUS PADA BIDANG-BIDANG YANG MEMILIKI CIRI:

1. BERSIFAT STRATEGIS BERSKALA METROPOLITAN – LINTAS DAERAH SERTA LINTAS PEMERINTAHAN DAN/ATAU;

(24)

USULAN STRUKTUR KELEMBAGAAN

BADAN METROPOLITAN DAN PUSAT PERTUMBUHAN JAWA BARAT (B-MP2JB)

Catatan: *)DI LINGKUNGAN METROPOLITAN DAN PUSAT

PERTUMBUHAN DI JAWA BARAT

**) SESUAI KEBUTUHAN, BERASAL DARI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

DEWAN METROPOLITAN DAN PUSAT PERTUMBUHAN JAWA BARAT

KETUA DEWAN : GUBERNUR KETUA HARIAN: WAKIL GUBERNUR WAKIL KETUA : BUPATI DAN WALIKOTA*)

ANGGOTA:

Unsur Pemerintah : a. SEKDA PROVINSI &

b. Para SEKDA KABUPATEN/KOTA*)

Unsur Pemangku Kepentingan : PROFESIONAL atau TOKOH PEMBANGUNAN (TP)

ADVISOR INTERNAL

ASISTEN SEKDA DAN STAF AHLI

PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA*)

METROPOLITAN BODEBEK KARPUR

I. Koordinator: 1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***).

METROPOLITAN BANDUNG RAYA

I. Koordinator: 1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***)

METROPOLITAN CIREBON RAYA

I. Koordinator: 1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***)

PUSAT PERTUMBUHAN PANGANDARAN I. Koordinator:

1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***) PUSAT PERTUMBUHAN PALABUHANRATU I. Koordinator: 1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***) PUSAT PERTUMBUHAN RANCABUAYA I. Koordinator: 1. Bidang Pemerintahan 2. Bidang Kerjasama Investasi II. Wakil Koordinator III. Anggota***) ADVISOR EKSTERNAL:

TIM MANAJEMEN METROPOLITAN DAN PUSAT PERTUMBUHAN JAWA BARAT

SEKRETARIS TIM:

1.KABID FISIK BAPPPEDA JABAR

2.KABAG PADA BIRO ADMREK SETDA JABAR

ANGGOTA :

Unsur Pemerintah: OPD / BIRO tertentu **) Unsur Pemangku kepentingan: Profesional atau TP

Catatan ***) KOORDINATOR :

Unsur Pemda : BIDANG PEMERINTAHAN: KEPALA BKPP | Unsur Pemangku Kepentingan: KOORDINATOR BIDANG KERJASAMA INVESTASI: PROFESIONAL | WAKIL KOORDINATOR:

PARA KEPALA BAPPEDA DAN KEPALA DINAS YANG MENANGANI PERMUKIMAN DAN PERUMAHAN KABUPATEN/KOTA

ANGGOTA:

OPD / BIRO TERKAIT di LINGKUNGAN KABUPATEN/KOTA DAN UNSUR PEMANGKU KEPENTINGAN

BUMD:

KORPORASI PEMBANGUNAN MP2JB

BADAN METROPOLITAN DAN PUSAT PERTUMBUHAN JAWA BARAT

KEPALA: KEPALA BAPPEDA PROV JABAR

WAKIL KEPALA BIDANG PEMBANGUNAN: KADISKIMRUM WAKIL KEPALA BIDANG KERJASAMA INVESTASI: PROFFESIONAL atau TP

SEKRETARIS EKSEKUTIF B-MP2JB Unsur Pemerintah:

1. BIDANG PEMERINTAHAN (KABIRO OTDA)

2. BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN (KABID PP BAPPEDA) Unsur Pemangku Kepentingan:

BIDANG KERJASAMA INVESTASI (PROFESIONAL)

(25)

T

ERIMA KASIH

Badan Perencananaan Pembangunan Provinsi Jawa Barat

Jalan Ir. H. Juanda No. 287 Bandung 40135

Telp.

: 022 2516061 / Fax. : 022 2510731

Website :metropolitan.jabarprov.go.id;

Email

:

[email protected]

Contact Person

: Linda Al Amin (0811230259)

Referensi

Dokumen terkait

menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Analisis Proyeksi Investasi,Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun 2015-2019

Hasil penelitian tentang Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pembangunan Ekonomi Antar Wilayah Kebijakan Pembangunan di Provinsi Jawa Timur adalah (1) Pola hubungan

Peraturan Daerah tentang Pengembangan Wilayah Jawa Barat Bagian Selatan Tahun 2010-2029, merupakan acuan pengembangan investasi berbagai sektor di Jawa Barat bagian

Dalam lingkup eksternal, khususnya jika dibandingkan dengan Jawa Barat, Wilayah Jawa Barat Selatan memiliki modal positif untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dengan kinerja

PENGARUH UPAH MINIMUM REGIONAL DAN PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DI KAB/KOTA PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2011-2015”.. Maksud dan tujuan skripsi ini

Tantangan yang harus dihadapi terkait tingginya tingkat pengangguran di Jawa Barat adalah mendorong pengembangan kegiatan dan sektor ekonomi yang menyerap tenaga

Analisis Pengaruh Aglomerasi, Infrastruktur, Upah Minimum, Jumlah Orang Bekerja, Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Ketimpangan Distribusi Pendapatan Antar Kabupaten/Kota Jawa

Pembangunan ekonomi berbasis pertanian untuk mewujudkan kota agropolitan di Kota Banjar, Jawa