• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM PERCERAIAN DI KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM PERCERAIAN DI KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

GAMBARAN UMUM PERCERAIAN

DI KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG

3.1 Letak Geografis, Demografis dan Kondisi Sosial Budaya Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang

3.1.1 Letak geografis Kecamatan Ungaran

Kecamatan Ungaran terletak di Ungaran Kabupaten Semarang propinsi jawa tengah. Kecamatan Ungaran terdiri dari 21 kelurahan, yaitu Kelurahan Gogik, Langensari, Beji, Leyangan, Kalongan, Kawengen, Kalikayen, Mluweh, Susukan, Kalirejo, Sidomulyo, Gedang Anak, Candirejo, Ngatnyono, Genuk, Ungaran, Bandarjo, Lerep, Keji, Kalisidi, Branjang. Terdapat 113 dusun, 734 Rt dan 144 Rw. (Data Monografi Desa, 2002: 8).

Adapun btas wilayah Kecamatan Ungaran sebagai berikut :

a. Sebelah utara adalah Kecamatan Banyumanik Kota Semarang b. Sebelah timur adalah Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak c. Sebelah selatan adalah Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang d. Sebelah barat adalah Kecamatan Boja Kabupaten Kendal

e. Sebelah barat laut adalah Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang.

Daerah Kecamatan Ungaran mempunyai luas wilayah 7393,95 ha. Yang ditunjukkan dalam tebel berikut.

(2)

Tabel 3.1

JENIS PENGGUNAAN TANAH DI KECAMATAN UNGARAN No. Jenis Penggunaan Tanah Jumlah dalam Ha. 1 Tanah Sawah; a. Teknis b. ½ teknis c. Sederhana d. Tidak hujan e. Rembes - 170,00 906,02 450,52 - 2 Tanah Kering; a. Bangunan/pekarangan b. Tegalan/kebun/kolam c. Hutan/perkebunan negara 2.566,35 1.802,32 1165,31 3 Tanah keperluan fasilitas umum; sungai, jalan,

kuburan. 333,43

4 Rawa -

Jumlah 7393,95 (Dokumentasi Kecamatan Ungaran tahun 2003)

3.1.2 Kondisi Demografis dan Sosial Budaya a. Penduduk dan Pencahariannya

Penduduk Kecamatan Ungaran seluruhnya berjumlah 115.149 jiwa yang terdiri dari 56.659 jiwa penduduk laki-laki dan 58.490 jiwa penduduk perempuan. Sementara itu jika dihitung jumlah kepala keluarga (KK) terdapat 28.398 kepala keluarga dengan latar belakang sosiologi pribumi.

(3)

Tabel 3.2

JUMLAH PENDUDUK MENURUT UMUR Jenis Kelamin No. Umur L P Jumlah 1 0 – 4 3712 3595 7.307 2 5 – 9 5484 5263 10.747 3 10 – 14 5417 5114 10.531 4 15 – 19 5421 5433 10.854 5 20 – 24 5955 6778 12.733 6 25 – 29 5133 6199 11.332 7 30 – 34 5001 5452 10.453 8 35 – 39 4648 5133 9.781 9 40 – 44 4471 4410 8.881 10 45 – 49 3400 3018 6.418 11 50 – 54 2427 2100 4.527 12 55 – 59 1505 1476 2.981 13 60 – 64 1504 1548 3.052 14 65 – 69 968 1197 2.165 15 70 – 74 915 984 1.899 16 75 keatas 678 790 1.468 Total 56.639 58.490 115.149

Sedangkan ditinjau dari mata pencaharian penduduk Kecamatan Ungaran adan bermacam-macam sumber penghasilannya, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini. (Hasil observasi dan data monografi Kecamatan Ungaran, 2002: 14-21).

(4)

Tabel 3.3

PENDUDUK MENURUT MATA PENCAHARIANNYA

No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah Penduduk Prosentase

1 Petani 8.087 10,48 2 Buruh Tani 5.308 6,9 3 Nelayan - - 4 Pengusaha 1.008 1,30 5 Buruh Industri 18.573 24,06 6 Buruh Bangunan 6.543 8,5 7 Pedagang 10.685 13,84 8 Angkutan 3.826 4,95 9 PNS/ABRI 8.122 10,52 10 Pensiunan 1.252 1,62 11 Lain-lain 13.759 17,83 Jumlah 77.163 100

Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa sebagian besar penduduk Kecamatan Ungaran adalah buruh industri, mereka juga tidak lepas dari usaha sampingan dan pemanfaatan dari fasilitas yang ada seperti pasar, KUD, BRI, BKK, took/warung sebagai penunjang hidup mereka. (Data Monografi, Th. 2002: 14-21)

(5)

Tabel 3.4

JUMLAH SARANA PEREKONOMIAN No. Sarana Perekonomian Jumlah

1 Pasar 3 2 Koperasi - 3 KUD 1 4 BRI 5 5 BKK 1 6 Toko/warung 1.609 Jumlah 1.619 b. Agama Penduduk

Jumlah penduduk berdasarkan jumlah pemeluk ajaran agama di Kecamatan Ungaran sebanyak 115.149 orang, meliputi agama Islam ada 90,17 %, Kristen Katolik 5,05 %, Kristen Protestan 4,6 %, Hindu 0,07 % dan Budha 0,11 % dengan ketentuan dalam tabel berikut.

Tabel 3.5

JUMLAH PENDUDUK MENURUT PEMELUK AGAMA No. Pemeluk Agama Jumlah Prosentase

1 Islam 103.835 90,17 2 Kristen Katholik 5.816 5,05 3 Kristen Protestan 5.282 4,6 4 Hindu 86 0,07 5 Budha 130 0,11 Jumlah 115.149 100

(6)

Dengan melihat tabel di atas mak dapat kita ketahui bahwa mayoritas penduduk Kecamatan Ungaran adalah beragama Islam. Sebagai mayoritas, umat Islam yang ada di Kecamatan Ungaran, memiliki sarana ibadah di mana-mana. Setiap dusun di wilayah tersebut berdiri kokoh sebuah masjid sebagi pusat keagamaan umat Islam. Di samping itu juga terdapat sarana ibadah lain selain sarana ibadah Islam. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.6

JUMLAH TEMPAT IBADAH

No. Tempat Ibadah Jumlah Prosentase

1 Masjid 133 27,14 2 Mushola 332 67,75 3 Gereja Katholik 5 1,02 4 Gereka Kristen 19 3,89 5 Wihara 1 0,20 6 Pura - - Jumlah 490 100

(7)

c. Pendidikan

Keadaan pendidikan di Kecamatan Ungaran dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 3.7

SARANA PENDIDIKAN

No. Jenis Sekolah Jumlah

Sekolah Jumlah Siswa Jumlah Guru

1 TK 15 198 33 2 SD Negeri 60 11.525 478 3 SD Swasta 6 1.528 70 4 SMP Negeri 5 3.137 174 5 SMP Swasta 4 1.399 62 6 SMA Negeri 2 1.808 107 7 SMA Swasta 2 394 37 8 MI Negeri - - - 9 MI Swasta 16 2.161 35 10 MTs Negeri 9 1.608 120 11 MTs Swasta - - - 12 MA Negeri - - - 13 MA Swasta - - - Jumlah 119 23.758 1.116

(8)

Tabel 3.8

JUMLAH PENDUDUK MENURUT PENDIDIKAN No. Pendidikan Jumlah Prosentase

1 Tidak/belum tamat SD 30.531 26,51

2 Tamat SD 37.110 32,22

3 Tamt SLTP 16.720 14,52

4 Tamat SLTA 24.966 21,70

5 Tamat D.I – D.III 1.278 1,11

6 Tamat D.IV/S.1 4.544 3,94

Jumlah 115.149 100

Dari data tersebut dapt dilihat bahwa sebagian besar penduduk Kecamatan Ungaran adalah berpendidikan SD 32,22 %, tidak tamat SD 26,51 %, tamat SLTP 14,52 %, tamat SLTA 21,70 %, tamat D.I – D.III 1,11 % dan tamat D.IV/S.1 3,94 %.

3.2 Kasus Perceraian di Kecamatan Ungaran

Dari hasil wawancara penulis di pengadilan Agama Ambarawa di Kecamatan Ungaran dinformasikan bahwa perceraian adalah perbuatan yang halal akan tetapi dibenci oleh Allah SWT. Namun demikian tidak jarang suatu keluarga yang semula bertujuan membentuk rumah tangga bahagia sejahtera lahir batin tidak bisa tercapai akibat tidak ada tanggung jawab dan terus menerus berselisih. Perceraian pada hakikatnya bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu penderitaan karena kegagalan-kegagalan dan ketidak berhasilan suami istri di dalam rumah tangga yang baik, yang disebabkan oleh pertentangan-pertentangan dan ketidakcocokan di dalam

(9)

penysuaian diri antara suami istri yang kemungkinan untuk membentuk keluarga harmonis tidak mungkin terwujud dari pihak suami dan istri. Apabila persyaratan sudah terpenuhi dan memang hakim dalam memberikan nasehat-nasehat kepada kedua blah pihak tidak berhasil, mak terjadilah persidangan perceraian melalui keputusan hakim.( Hasil wawancara dengan Dra. Aina Aini Iswati Husnah serta hasil laporan Pengadilan Agama Ambarawa Kecamatan Ungaran pada tanggal 16 Maret 2004).

Sehubungan dengan perceraian ini, Pengadilan Agama Ambarawa Kecamatan Ungaran tahun 2003 telah memutuskan kasus perceraian sebanyak 522 kasus. Dari jumlah kasus tersebut 202 kasus diajukan oleh pihak laki-laki dan 320 kasus dari pihak perempuan. Sedangkan istilah yang bisa digunakan dalam Pengadilan Agama yaitu apabila yang mengajukan dari pihak laki-laki disebut cerai thalak, sedangkan bila yang mengajukan dari pihak wanita disebut cerai gugat.

Dari 522 kasus perceraian, 108 kasus berasal dari Kecamatan Ungaran dan yang berhasil ditemui sebanyak 59 kasus. 23 kasus berasal dari Kelurahan Leyangan, 14 kasus dari Kelurahan Kalongan, 12 kasus dari Kelurahan Beji, 10 kasus dari Kelurahan Gedang Anak.

Sementara kasus perceraian yang terjadi pada tahun 2003 yang selama ini masih dapat ditemui berjumlah 59 kasus. Ternyata ada 4 faktor penyebab terjadinya perceraian. Lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut ini.

(10)

Tabel 3.9

KASUS PERCERAIAN DI KECAMATAN UNGARAN TAHUN 2002 S/D 2004 Yang Mengajukan No. Kelurahan P W Jumlah Prosentase 1 Leyangan 5 18 23 39,00 2 Kalongan - 14 14 23,72 3 Beji 7 5 12 20,33 4 Gedang Anak - 10 10 16,95 Total 12 47 59 100

(Dokumentasi Pengadilan Agama Ambarawa Kecamatan Ungaran tahun 2003).

Dari tabel IX menunjukkan bahwa 59 kasus perceraian yang ada di Kecamatan Ungaran terdiri dari 47 kasus yang diajukan dari pihak wanita dan 12 kasus diajukan oleh pihak laki-laki.

Dari kasus tersebut 39 % dari Kelurahan Leyangan, 23,72 % dari Kelurahan Kalongan, 20,33 % dari Kelurahan Beji dan 16,95 % dari Kelurahan Gedang Anak.

3.3 Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian

Didapatkan pula data dari Kantor Pengadilan Agama Ambarawa kecamatan Ungaran bahwa dari 522 kasus perceraian di Kecamatan Ungaran masing-masing faktor penyebabnya adalah tidak ada tanggung jawab sehingga muncul sikap tidak harmonis.( Data Register Pengadilan Agama Ambarawa, Kecamatan Ungaran 2003).

Dan dari hasil wawancara di Pengadilan Agama Ambarawa Kecamatan Ungaran diperoleh keterangan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya perceraian sebagai berikut :

(11)

1. Terjadinya krisis akhlak 2. Masalah sosial

3. Masalah Ekonomi 4. Tidak ada tanggung jawab 5. Terus menerus berselisih

6. Kawin di bawah umur/ usia muda

Tabel 3.10

SEBAB PERCERAIAN KECAMATAN UNGARAN TH. 2003 No. Sebab Perceraian Jumlah Prosentase

1 Krisis Akhlak 8 1,55

2 Masalah Ekonomi 12 2,29

3 Tidak ada tanggung jawab 272 52,10

4 Terus menerus berselisih 230 44,06

Total 522 100

(Dokumentasi Kantor Kecamatan Ungaran Tahun 2003)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa faktor penyebab terjadinya perceraian di Kecamatan Ungaran adalah karena tidak ada tanggung jawab sebanyk 52,10 %, terus menerus berselisih sebanyak 44,06 %, masalah ekonomi sebanyak 2,29 % dan krisis akhlak sebanyak 1,55 %. Sehingga bisa dikatakan bahwa kasus perceraian yang ada di Kecamatan Ungaran prosentase terbesar disebabkan oleh tidak adanya tanggung jawab dan terus menerus berselisih.

(12)

3.4 Akibat Perceraian Terhadap Dampak Perilaku Negatif Anak

Lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang paling besar bagim kehidupan anak, maka dari itu setelah adanya perceraian yang paling penting adalah kewajiban orang tua terhadap pendidikan maupun perawatan terhadap anak-anak dalam hal ini menyangkut segala hal yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan anak. 59 laki-laki dan wanita yang bercerai pada tahun 2003 banyak yang mempunyai anak yaitu berkisar usia 6 – 12 tahun 47 anak, usia 13 tahun dan belum kawin 15 anak. Usia 6 – 12 tahun yang mengikuti ibunya sebanyak 32 anak, 5 anak mengikuti kakek, 7 anak mengikuti ayah dan 3 anak mengikuti paman. Sedangkan akibat negatif adalah kurang aman dalam keluarga, lemahnya pendidikan dalam keluarga dan kurang kasih sayang (Hasil Laporan Pengadilan Agama Ambarawa Kecamatan Ungaran pada tanggal 16 Maret 2004).

Dari 59 laki-laki dan wanita yang cerai pada 2003 banyak yang mempunyai anak usia 6 – 12 tahun dengan 47 anak. Anak seusia ini fantasinya telah berkembang dan belum mengerti perpisahan dan kehilangan salah satu orang tuanya. Anak mengalami psikomatis dan masalah-masalah pergaulan dan tingkah laku.

Runtuhnya keluarga idaman menjadi pencetus timbulnya emosi, kemurungan serta keinginan untuk menarik diri (tidak percaya diri). Beban yang dirasa menjadi gerogi, tanpa yahu mengatasinya. Beban mental acapkali disebabkan berupa gangguan fisik. Kondisi fisik dan kejiwaan bagaikan dua mata sisi uang yang saling menyatu walaupun mempunyai sisi yang berbeda.

Rasa ketidakmampuan serta ketidaksanggupan untuk menghadapi semua tantangan menandakan rasa rendah diri (tidak percaya diri), karena rendah diri sering

(13)

dirasakan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan maka seorang anak cepat-cepat melupakan lalu mencoba mengatasi dengan cara sebaliknya. Misalnya menjadi sok tahu atau sok pintar. Rasa tidak percaya diri tidak hanya menjadi sikap sok tahu atau sok pintar, gugup, malu, tetapi dapat pula termanifestasi dalam sikap dan perilaku berang, tinggi hati, agresif, bahkan negatifisme.

Percaya diri sebenarnya merupakan keberhasilan dari harga diri yang dimiliki secara bertahap dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Masa anak-anak merupakan suatu proses yang terus berkembang terjadi secara terus menerus dan berkesinambungan. Proses penyesuaian diri dapat dikatakan berhasil apabila seseorang dapat memenuhi tuntutan lingkungan dan oleh orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari mereka.

Bila seorang anak merasa gagal menyesuaikan diri dan merasa ditolak oleh lingkungannya ia akan menjadi regresif atau mengalami kemunduran. Secara tidak sadar ia akan kembali ke alam kehidupan kekanak-kanakan.

Terbentuknya wataj dasar, sikap perilaku serta budi pekerti tidak terlepas dari bawaan si anak sejak dalam kandungan. Namun faktor lingkungan hasil interaksi dengan orang tua, teman-teman sebaya maupun prestasi sekolah ikut melatar belakangi watak anak kelak.

Orang tua yang otoriter bersikap sebagai penguasa. Biasanya berwatak keras di sertai keharusan dan larangan dirasakan kaku bagi si anak. Hubungan orang tua sebagai penguasa anak menunjukkan sikap tidak hangat, kurang afeksi, kurang kasih sayang dan tentunya tidak akrab, kurang Percaya diri, agresif, negatifisme sikap bohong juga banyak ditemukan pada anak yang berasal dari orang tua yang bersifat

(14)

permisif. Mereka bersifat menyayangi dan mencintai tapi tidak mampu mengendalikan. Tidak ada target atau tuntutan tertentu dari orang tua terhadap si anak. Yang penting nilai cukup, mampu bermain dengan teman sebaya dan menjalankan tugas sesuai kemampuannya.

Perkembangan intelek berjalan sejajar dengan mereka yang mempunyai usia 2 tahun lebih tua darinya. Akan tetapi perkembangan aspek sosial sesuai denga anak sebaya dengan dia. Sehingga ia tidak dapat mengikuti dan menyesuaikan diri terhadap anak-anak yang lebih tua. Tidak ada gunanya mempermalukan anak, menertawakan, atau mengacuhkan rasa takut anak. Anak tidak perlu ditekankan hasil prestasi di sekolah jika anak mempunyai kemampuan intelektual lebih rendah daripada anak-anak sebaya. Desakan untuk meninggikan hasil prestasi di sekolah harus dikurangi, dan kegiatan yang terlalu melelahkan dan memberatkannya sehingga membuat anak ketakutan akan kegagalan dan tidak percaya diri. Demikian hanya anak-anak yang mempunyai intelektual tinggi dari anak-anak sebayanya merasa dirinya sok tahu, sok pintar yang akibatnya akan menjadi pembuat onar di dalam kelas.

Tabel 3.11

DAMPAK PERILAKU NEGATIF TERHADAP EMOSI ANAK AKIBAT PERCERAIAN

No. Masalah Emosi Jumlah Prosentase

1 Delinquency 6 18,75

2 Kurang percaya diri 18 56,25 3 Agresif dan Negatifisme 8 25

(15)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari seluruh perilaku negatif berdampak pada emosi anak yang diakibatkan oleh perceraian yang paling menonjol adalah kurang percaya diri yaitu sebanyak 18 anak. Sedangkan yang tidak berpengaruh masalah emosi sebanyak 15 anak yang justru yang justru moral dan prestasi semakin baik.

3.6 Usaha yang Dilaksanakan Lembaga Dakwah di Kecamatan Ungaran dalam Melaksanakan Bimbingan Konseling Islam

Amrullah Ahmad (1993: 11) menegaskan bahwa ilmu-ilmu sosial sangat diperlukan sebagai sebuah pendekatan dalam memetakan persoalan-persoalan dakwah Islam. Salah satu cabang ilmu-ilmu sosial adalah psikologi. Jamaluddin Ancok mengatakan bahwa psikologi mempunyai peranan penting dalam menciptakan efektifitas proses dakwah Islam. Sehingga sangat beralasan jika disimpulkan bahwa dalam dakwah Islam secara BKI mempunai hubungan yang erat dengan psikologi. Hubungan tersebut jelas sekali bila ditinjau dari sisi manusia sebagai obyek dakwah atau mad’u.

Manusia sebagai obyek dakwah terdiri atas unsur jasmani dan rohani. Masing-masing aspek memerlukan pemenuhan kebutuhan yang berbeda. Bila keduanya tidak terpenuhi maka akan terjadi penyimpangan mental. Inilah dakwah Islam perlu menciptakan aspek kejiwaan manusia yang seimbang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Abu Bakar Atjeh (1985: 83), mengatakan dakwah ialah perintah mengadakan seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah SWT yang benar dilakukan dengan penuh

(16)

kebijaksanaan dan nasihat yang baik. Dalam hal ini berarti dakwah yang dimaksudkan adalah untuk mengadakan perubahan baik secar fisik (perbuatan, sikap) dan mental (psikologi). Dakwah yang dilaksanakan oleh para mubaligh, lembaga-lembaga dakwah Islam di Kecamatan Ungaran lebih menekankan pada ceramah keagamaan dan santunan bagi anak yatim dan yatim piatu. anak-anak yang mengalami korban perceraian belum mendapat suatu perhatian khusus dalam menghadapi problem yang secara psikologis sangat rentan dan berbahaya yang perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. Pelaksanaan pembinaan keagamaan sebagai manifestasi kegiatan dakwah Islam dalam memelihara, membimbing dan mengembangkan potensi anak-anak yang memiliki perilaku negatif yang berdampak pada emosi anak akibat perceraian di Kecamatan Ungaran merupakan salah satu solusi bimbingan konseling Islam secara umum dalam bentuk penanganan terhadap masyarakat. Adapun kegiatan dakwah dengan pendekatan bimbingan konseling Islam yang diterapkan oleh Kecamatan Ungaran adalah dengan pendekatan agamis, yang berupa kegiatan ceramah agama dan penyantunan pada anak-anak yatim dan yatim piatu (hasil wawancara dengan Camat Ungaran pada tanggal 20 Desember 2004)

Peranan konseling Islam yang diterapkan di Kecamatan Ungaran dalam menjalankan dakwah terhadap penanganan perilaku negatif anak yaitu antara lain: a. Membantu individu anak mengetahui, mengenal dan memahami keadaan dirinya sesuai dengan hakikatnya, atau memahami kembali keadaan dirinya sebab dalam keadaan tertentu dapat terjadi seseorang tidak mengenal atau tidak menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya.

(17)

b. Membantu individu anak menerima dirinya sebagaimana keadaannya segi baik buruknya, kekuatan serta kelemahannya sebagai sesuatu yang ditetapkan oleh Allah SWT.

c. Membantu individu memahami keadaan atau kondisi yang dihadapi saat ini. d. Membantu individu menemukan alternatif pemecahan masalah.

Namun di sisi lain pelaksanaan konseling Islam yang diterapkan di Kecamatan Ungaran belum sepenuhnya berjalan dengan target yang ditentukan. Hal ini sangat mendasar pada hal-hal sebagai berikut :

a. Masyarakat belum mengetahui pengertian pemahaman dan pelaksanaan konseling dalam upaya membimbing, mengarahkan dan melindungi emosi anak akibat perceraian.

b. Peran serta lembaga-lembaga terkait dan para juru penerang keagamaan (muballigh, da’i) dalam mengatasi emosi anak akibat perceraian belum terealisasi secara utuh.

c. Fungsi konselor atau da’i adalah sebagai penceramah keagamaan semata (Dokumentasi Kecamatan Ungaran pada tanggal 20 Desember 2004).

Problematika dan kendala yang dihadapi semua komponen para pelaku dakwah (da’i), konselor, muballigh, dan pemerintah berkaitan dengan pembinaan keagamaan pada anak-anak yang terkena dampak perceraian orang tuanya meliputi: sarana dan prasarana yang terbatas, kurangnya kepedulian dari pemerintah dalam menangani masalah emosi anak akibat perceraian, latar belakang pendidikan warga yang rendah, pengertian dakwah hanya sebatas ceramah keagamaan dan mayoritas masyarakat sebagai buruh industri sehingga

(18)

kurang memahami mengenai emosi anak akibat perceraian, di mana anak membutuhkan kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melihat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada siswa yang diberi perlakuan menggunakan pembelajaran discovery learning dengan

Hasil pengolahan data untuk model penelitian regresi linier berganda kepuasan mahasiswa terhadap pemanfaatan produk Indosat yang diukur dari dimensi pelayanan yaitu

Indikator handal suatu komponen dapat dilihat dari nilai reliability yang dicapai oleh suatu sistem, menurunnya downtime, meningkatnya waktu produksi, dan meningkatkan

Riset ini bertujuan menganalisis pengaruh indikator keuangan perusahaan asuransi yang terdiri atas pendapatan premi, hasil investasi, volume of capital, loss ratio, beban

Motif atau pola hias segitiga (tumpal), bentuk huruf kapital ‘J’ dan motif spiral pada dasarnya tidak hanya ditemukan pada pada bejana perunggu saja tetapi terdapat pula

Analisis terhadap toleransi pergeseran lateral dan perbedaan luas bidang tanah hasil rekonstruksi batas bidang tanah menggunakan JRSP berdasarkan Juknis PMNA/KBPN No 3 tahun 1997

Dari gambar 10 dapat dilihat bahwa alternatif yang menempati urutan pertama yaitu karyawan yang bernama Joko dengan nilai 0,6631 sehingga dengan hasil tersebut

Mengembangkan program pendidikan dan peningkatan kapasitas kepada setiap kelompok pemangku kepentingan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan dan mempertahankan nilai- nilai