• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendayagunaan TIK untuk pemerataan akses (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendayagunaan TIK untuk pemerataan akses (1)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PEMERATAAN AKSES

DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Oleh

Nama (NIM) : 1. Muhammad Khoiruman () 2. Atiyatul Mukmilah ()

3. Luthfiah ()

Mata Kuliah : Teknologi Informasi & Komunikasi () Pengampu :

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS SYARI’AH

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah ‘azza wa jalla, yang telah memberikan rahmat dan kasih-Nya, kekuatan dan keteguhan iman, kesehatan lahir dan batin, serta nikmat akal pikiran sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK PEMERATAAN AKSES DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN” ini.

Kami menyadari bahwa ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami menanti saran dan usul ke arah perbaikan dengan tangan terbuka dan senang hati. Kami juga haturkan terima kasih kepada mereka yang telah banyak memberikan bantuan dalam penyusunan makalah ini.

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar . . . i Daftar isi . . .

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang . . . 1 B. Rumusan Masalah . . . 2

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Potret Pendidikan di Indonesia . . . 3 B.

BAB III Pembahasan . . . . . . ?

A. B.

(4)

ii BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia telah begerak dari arah konvensional tradisional menuju ke arah moderenisasi dan digitalisasi di segala aspek kehidupan. Hal itu disebabkan oleh arus globalisasi yang melanda hampir seluruh negara di dunia. Kondisi ini memicu ketatnya persaingan di tingkat global sampai di tingkat yang paling kecil, yakni individu.

Wujud dari persaingan tersebut, yang paling sederhana adalah persaingan di dunia pendidikan. Dimana setiap siswa akan berlomba-lomba untuk mendapat nilai tertinggi, bersaing dalam kreatifitas dan inovasi masing-masing. Tentu saja persaingan tersebut berdampak positif bagi para siswa itu sendiri maupun bagi dunia pendidikan secara umum.

Namun sangat disayangkan, realitas menunjukkan hal yang kontras. Persaingan tersebut baru akan memiliki hasil maksimal di kota-kota besar di Indonesia. Penyebabnya tidak lain adalah timpangnya kualitas dan kuantitas calon terdidik, tenaga pendidik, maupun fasilitas yang ada di kota-kota besar dengan daerah-daerah perbatasan yang terpencil yang kesulitan dalam akses jalan dan sebagainya. Ini merupakan masalah yang sampai saat ini masih belum tuntas terselesaikan.

(5)

[ 1 ] B. Rumusan Masalah

Sesungguhnya ada jalan keluar bagi masalah itu. Kuncinya adalah dengan menerapkan atau menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika dunia sedang bergerak menuju ke arah modernisasi teknologi, maka negara ini melalui sistem pendidikannya pun harus beradaptasi dengan itu.

Tidak ada salahnya menerapkan teknolgi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan. Bahkan mungkin akan didapat hasil yang positif darinya. Maka dari itu di bab-bab selanjutnya akan dibahas beberapa poin sebagai berikut, yakni :

1. Bagaimana seharusnya kondisi pendidikan yang ?

2. Apa saja yang menjadi tantangan pendidikan di Indonesia ? 3. Dapatkah penerapan TIK menjadi solusi ?

(6)

[ 2 ] BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Potret Pendidikan di Indonesia

Pendidikan adalah pemutus lingkaran kemiskinan dan kebodohan. Tanpa pendidikan yang berkualitas, merata, dan berkuantitas cukup, maka suatu bangsa akan segera tertinggal dari bangsa lain di dunia. Tanpa pendidikan yang dimaksud, individu-individu tidak akan mampu memaksimalkan potensi dalam diri mereka.

Pendidikan itu sendiri, secara umum, adalah suatu hasil peradaban sebuah bangsa yang dikembangkan atas dasar suatu pandangan hidup bangsa itu sendiri, sebagai suatu pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan mereka berkembang. Sedangkan lebih spesifik, pendidikan ialah suatu proses pertumbuhan di dalam mana seorang individu di bantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya. Sehingga dapat di simpulkan disini bahwa pendidikan adalah, suatu usaha sadar dalam rangka menanamkan daya-daya kemampuan, baik yang berhubungan dengan pengalaman kognitif (daya pengetahuan), afektif (aspek sikap) maupun psikomotorik (aspek ketrampilan) yang dimiliki oleh seorang individu.

Pendidikan yang sudah terselenggara di Indonesia sejak dari merdeka, telah memberi hasil yang cukup, sehingga secara umum kualitas SDM Indonesia menjadi jauh lebih baik. Namun dibanding negara-negara ASEAN, Indonesia masih tertinggal jauh. Hal ini disebabkan berbagai problem mendasar dan bersifat kompleks, antara lain :

1. Tidak meratanya kesempatan belajar (equity) bersamaan dengan banyaknya siswa putus sekolah, dan banyaknya lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini merupakan ciri-ciri kemiskinan.

(7)

[ 3 ] 3. Lamanya masa belajar melampaui waktu standar yang ditentukan.

4. Terjadinya pengangguran tenaga pendidik yang cenderung terus meningkat.

5. Menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja.

Gambar 1. Peta jumlah siswa di Indonesia.

(sumber gambar : https://mamrh.files.wordpress.com/2011/08/sumbar1.jpg)

Berdasarkan kenyataan tadi, maka penyelesaian masalah pendidikan itu juga sangat kompleks, menyangkut banyak hal dan melibatkan banyak pihak. Sebenarnya dari lima masalah tadi, cuma ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu :

1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan pendidikan. 2. Bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan kerja yang mantap untuk dapat terjun kedalam kancah kehidupan bermasyarakat.

B. Teknologi Informasi dan Komunikasi

(8)

[ 4 ]

Gambar 2.Sketsa sistem TIK (ICT / IoT – Internet of Things)..

?

BAB III PEMBAHASAN

A. Kondisi Ideal Dunia Pendidikan

Negeri kita tercinta, Indonesia, adalah negara yang besar. Terbentang dari Sabang hingga Merauke.

?

Visi, Misi, dan Tujuan Strategis Kemdikbud 2014-2019 dibawah kepemimpinan Mendikbud Anies Baswedan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla adalah sebagai berikut.

Visi

“Terbentuknya Insan serta Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan yang Berkarakter dengan Berlandaskan Gotong Royong”

Misi

1. Mewujudkan Pelaku Pendidikan dan Kebudayaan yang Kuat 2. Mewujudkan Akses yang Meluas, Merata, dan Berkeadilan 3. Mewujudkan Pembelajaran yang Bermutu

(9)

5. Mewujudkan Penguatan Tata Kelola serta Peningkatan Efektivitas 6. Birokrasi dan Pelibatan Publik

Tujuan Strategis

1. Penguatan Peran Siswa, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang tua, dan Aparatur Institusi Pendidikan dalam Ekosistem Pendidikan

2. Pemberdayaan Pelaku Budaya dalam Melestarikan Kebudayaan

3. Peningkatan Akses PAUD, Dikdas, Dikmen, Dikmas, dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

4. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pembelajaran yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter

5. Peningkatan Jati Diri Bangsa melalui Pelestarian dan Diplomasi Kebudayaan serta Pemakaian Bahasa sebagai Pengantar Pendidikan

6. Peningkatan Sistem Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel dengan Melibatkan Publik

Sumber: http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/node/4774

Salah satu permasalahan pokok pendidikan di Negara kita adalah kualitas pendidikan yang tidak merata. Terdapat ketimpangan, Antara mereka yang berada di desa dengan kota. Antara mereka yang berada di wilyah Indonesia barat dengan wilayah Indonesia timur.

Kualitas pendidikan yang tidak merata, tentu tidaklah lepas dari pengaruh kondisi geografis dan demografis Indonesia yang unik. Letak geografis Indonesia yang begitu luas dengan keanekaragaman topografinya merupakan masalah tersendiri. Khususnya terkait dengan sarana prasarana dan daya aksesnya. Pun demikian dengan jumlah populasi penduduk beserta keanekaragaman demografisnya. Sehingga perlu perlakuan yang berbeda dalam proses pendidikan.

(10)

Sering kita mendengar, komparasi yang tidaklah apple to apple dengan membandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan Negara lain. Semisal, membandingkan kualitas pendidikan Indonesia dengan Singapura. Apalagi dengan menambahi embel-embel, padahal singapura Negara kecil dan sebagainya. Tidaklah relevan jika terlalu membandingkan pendidikan kita dengan Singapura. Pasalnya, Singapura dengan luas wilayah sempit dan jumlah penduduk yang sedikit, lebih mudah untuk di kelola sistem pendidikannya. Dibandingkan dengan Negara kita yang begitu kompleks permasalahannya.

Indicator kualitas yang sering digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan adalah output yakni kualitas lulusan. Ujian nasional (UN) menjadi alat tolak ukur untuk memetakan kualitas pendidikan dalam skala nasional. Dan hasil UN dari tahun ketahun masih menunjukan adanya ketimpangan atau kekurangmerataan kualitas antar satuan pendidikan ataupun antar daerah

Untuk memecahkan masalah pemerataan kualitas pendidikan, Kita perlu memandang pendidikan sebagai sebuah sistem. Dimana didalamnya merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur yang saling memengaruhi, yakni input, proses dan output. Dengan demikian, untuk mendapatkan output pendidikan yang berkualitas secara merata, perlu adanya perbaikan pada sisi input dan proses

Input pada sistem pendidikan adalah peserta didik beserta latar belakangnya, dasar pendidikan dan tujuan pendidikan. Proses pendidikan meliputi pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, sarana prasarana, administrasi dan anggaran. Adapun output pendidikan yakni lulusan peserta didiknya.

B. Tantangan dan Solusi dunia pendidikan Indonesia ?

(11)

?

(12)

berpendidikan maju bisa ditekan. Misalnya, materi kuliah para pakar terbaik di masing-masing institusi, terbuka untuk diakses oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas. (viva.co.id)

Kehadiran dan kecepatan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menyebabkan terjadinya proses perubahan dramatis dalam segala sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Kehadiran TIK ini tidak memberikan pilihan lain kepada dunia pendidikan selain turut serta dalam memanfaatkannya. TIK sekarang ini memungkinkan terjadinya proses komunikasi yang bersifat global dari dan ke seluruh penjuru dunia sehingga batas wilayah suatu negara menjadi semu. Melalui pemanfaatan TIK, siapa saja dapat memperoleh layanan pendidikan dari institusi pendidikan mana saja dan kapan saja sesuai kehendak. Secara khusus, pemanfaatan TIK dalam

pembelajaran paling tidak memberikan manfaat :

1. meningkatkan kualitas pembelajaran,

2. mengembangkan keterampilan TIK (IT skills) yang diperlukan oleh siswa ketika

bekerja dan dalam kehidupannya nanti.

3. memperluas akses terhadap pendidikan dan Pcmbelajaran, 4. menjawab the technological imperative (keharusan berparpartisipasi dalam TIK).

5. mengurangi biaya pendidikan.

6. meningkatkan rasio biaya manfaat dalam pendidikan.

Salah satu pemanfaatan TIK di bidang pendidikan yang paling sering digunakan dalah dalam bentuk sistem pembelajaran berbasis elektronik atau biasa dikenal dengan nama e-learning. Di Indonesia sendiri, sudah banyak institusi pendidikan yang menerapkan sistem pembelajaran ini. Bahkan keberadaan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang merupakan proyek pemerintah memiliki visi untuk mengintegrasikan seluruh sekolah yang ada dalam sebuah jaringan pendidikan.

(13)

misalnya, bisa dijadikan salah satu cara untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Pemerataan pendidikan memang merupakan suatu hal yang harus segara tercapai karena bagaimanapun juga pendidikan yang merata adalah modal utama untuk meningkatkan daya saing suatu bangsa. Jika ditinjau dari segi kreatifitas dan kemandirian belajar, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya.

(14)

tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya.

Kemandirian didukung

dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.

Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. (staff.blog.ui.ac.id)

Hasil survey Google Indonesia dengan lembaga riset Gfk pada tahun 2015, menyatakan 61 % masyarakat Indonesia menghabiskan waktu untuk internetan rata-rata 5,5 jam perhari. Dimana secara berurutan, intensitas penggunaanya dihabiskan untuk hiburan, mencari informasi, mengakses media social, belanja online, komunikasi dan kerja

Oleh karena itu, Tekhnologi informasi dan komunikasi sebenarnya dapat dijadikan sebagai solusi atas masalah pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia

(15)

Pertama, Pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, minat dan kreatifitas dalam pembelajaran. Dengan TIK pembelajaran lebih efisien, semisal penggunaan media presentasi dibandingkan dengan menulis materi di papan tulis. Ataupun penggunaan video pembelajaran untuk menjelaskan suatu fakta lebih efektif ketimbang dengan ceramah. Selain itu, minat dan kreatifitas siswa lebih terasah. Seperti yang penulis alami, pada saat menggunakan media komik berbantuan software dalam pembelajaran ekonomi.

Siswa membuat komik berbantuan software kemudian mempresentasikannya Kedua, Pemanfaatan TIK sebagai sumber pembelajaran. Dengan TIK, sumber pembelajaran lebih bervariatif, semisal dalam bentuk buku, website, blog, video, audio, ebook dan game pembelajaran. Dengan semakin banyaknya sumber pembelajaran dan semakin murahnya perangkat tekhnolgi , hal ini berakibat pada akses distribusi yang semakin merata.

(16)

komunitas-komunitas guru, yang mengadakan pelatihan secara online melalui pemanfaatan aplikasi android.

Salah satu Grup Guru untuk pembelajaran dengan WA

Keempat, Pemanfaatan TIK untuk peningkatan kualitas Siswa. Dengan TIK, siswa sebenarnya dapat belajar dengan teman sejawat (tutor sebaya) melalui penggunaan aplikasi tertentu. Semisal membuat grup belajar melalui penggunaan media social.

Pada akhirnya, dengan TIK, pembelajaran dapat dilakukan Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Yang mampu menembus sekat-sekat geografis dan demografis.

[ ? ] KESIMPULAN

(17)

DAFTAR PUSTAKA

http://www.samrintoday.com/2016/10/tik-solusi-pemerataan-kualitas.html

http://www.pontianakpost.co.id/tik-dalam-mengapgrade-kualitas-pendidikan-di-kepulauan-dan-daerah-terpencil

https://staff.blog.ui.ac.id/harrybs/2009/04/21/pemanfaatan-teknologi-informasi-dan-komunikasi-di-dunia-pendidikan-indonesia/

http://www.kompasiana.com/deasymaria/pemenuhan-pendidikan-di-daerah-terdepan-terpencil-dan-tertinggal_54f7b66fa333112e1f8b47ca

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/145125-anies-baswedan-tik-atasi-3-isu-pendidikan

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/96975-daya_saing_ti_indonesia_terbelakang

(18)

Gambar

Gambar 1. Peta jumlah siswa di Indonesia.
Gambar 2.Sketsa sistem TIK (ICT / IoT – Internet of Things)..

Referensi

Dokumen terkait

Dalam suatu proses pengeringan, dikenal adanya suatu laju pengeringan yang dibedakan menjadi dua tahap utama, yaitu laju pengeringan konstan dan laju pengeringan

Ia juga menambah maklumat sejarah terutama mengenai Mat Kilau yang selama ini kebanyakan para penulis tidak menyebut peranan guru dan ayah angkatnya Haji Uthman bin

Analisis merupakan penelaahan atau penelitian yang lebih mendetail dengan melakukan suatu percobaan yang menghasilkan kesimpulan dari penguraian suatu sistem yang utuh

Oleh sebab itu, cedera dapat terjadi pada daerah benturan (coup) atau pada sisi sebaliknya (contra coup). Menurut Tarwoto dkk, adanya cedera kepala dapat mengakibatkan

Inti dari Backpropagation adalah untuk mencari error suatu node. Dari hasil forward phase akan dihasilkan suatu output , dari output tersebut, pastilah tidak sesuai

Dengan keberhasilan kinerja yang dicapai saat ini, Dinas Kominfo akan terus berusaha untuk meningkatkan kinerja bidang komunikasi dan informatika melalui

Apabila kamu telah keluar dari keadaan semacam ini dan membuang syirik jauh-jauh; melepaskan kebergantungan hati kamu kepada pendapatan kamu dan kepada daya dan upaya kamu;

dapat menghubungi Majelis Jemaat di sektor pelayanan masing-masing. PELAYANAN PERJAMUAN KUDUS DI RUMAH DAN DI RUMAH SAKIT Akan dilaksanakan Sakramen perjamuan kudus di