1
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN DIVIDEN
BADAN USAHA-BADAN USAHA SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI
YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2010-2014
Wirata
Jurusan Manajemen / Fakultas Bisnis dan Ekonomika
Dr. Werner Ria Murhadi, S.E., M.M. Endang Ernawati, S.E., M.Si.
Jurusan Manajemen / Fakultas Bisnis dan Ekonomika
Abstract
This study aims to analyze the factors that influence dividend policy. Variable used in this research is firm size (SIZE), profitability (ROA), debt policy (DER), growth (GROWTH), and liquidity (CR). This study used sample Firms Sector Consumer Good Industry which distribute dividend annually during 2010-2014 period are listed in the Indonesia Stock Exchange. The number of observations used in this study were 60 observations. The result showed that the Consumer Good Industry Sector, profitability and debt policy variable significant positive effect on dividend policy while, growth variable significant negative effect on dividend policy. However, firm size, and liquidity variable negative not significant effect on dividend policy.
Keyword : Dividend Policy, Profitability, Debt Policy, Growth.
PENDAHULUAN
Suatu badan usaha memiliki tujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan
pemilik atau pemegang saham (Brigham dan Ehrhardt, 2005:9). Secara umum
putusan manajemen keuangan berkaitan dengan 3 hal, yaitu keputusan investasi,
keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen (Irawati, 2006:3). Penelitian ini
berfokus pada keputusan keuangan berkaitan dengan kebijakan dividen. Investor
akan merasa yakin bahwa perusahaan yang mampu membagikan dividen
2
Investor melakukan investasi di pasar modal khususnya saham bertujuan
untuk mendapatkan return berupa capital gains ataupun dividen. Menurut Gordon
dan Lintner (1963) investor lebih menyukai dividen daripada capital gain. Investor
cenderung tidak menyukai risiko, mereka lebih suka terhadap return yang stabil. Brealey dan Myers (2003) memasukkan persoalan dividen kedalam “10 unsolved problem in finance”. Fama dan French (2001) menyatakan bahwa dividen merupakan “teka-teki” dan banyak usaha yang tidak mampu menjelaskan alasan badan usaha membayar dividen.
Tabel 1
Beberapa Hasil Penelitian yang Menguji Kebijakan Dividen Peneliti
(Tahun) Variabel Independen Hasil Temuan
Murhadi dan Wijaya (2011)
Good Corporate Governance, Invesment Opportunity Set, Company Life Cycle, Coverage Analyst, Ukuran Badan Usaha,
dan Profitabilitas
company life cycle dan profitabilitas berpengaruh positif
Abreu dan Gulamhussen
(2013)
Ukuran Badan Usaha, Profitabilitas, Pertumbuhan, Pertumbuhan, Expected Growth, Independence, dan Capitalization
Ukuran badan usaha, profitabilitas, dan independence berpengaruh positif, sedangkan pertumbuhan berpengaruh negatif Leon dan
Putra (2014)
Profitabilitas, Cash Flow, Tax, Kebijakan Utang, Market to Book Ratio, dan
Pertumbuhan
Profitabilitas berpengaruh positif, sedangkan pertumbuhan berpengaruh positif
Juhandi et al. (2013)
Ukuran Badan Usaha, Profitabilitas, Free Cash Flow, Kebijakan Utang, Financial
Risk, Management Ownership,dan Institutional Policy
Profitabilitas, pertumbuhan dan institutional policy berpengaruh positif, sedangkan
kebijakan utang dan financial risk berpengaruh negatif Sumiadji
(2011)
Profitabilitas, Kebijakan Utang, Likuiditas, EPS, dan Total Asset Turnover
Likuiditas berpengaruh positif, sedangkan EPS dan total asset turnover berpengaruh
negatif Latiefasari dan
Chabachib (2011)
Profitabilitas, Kebijkan Utang, Pertumbuhan, likuiditas dan
Collateralizable Assets
Pertumbuhan berpengaruh negatif, sedangkan Collateralizable Assets
berpengaruh positif
Berdasarkan Tabel 1, Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan
minimal dua variabel independen yang sama dan telah diteliti oleh peneliti
sebelumnya dengan hasil yang berbeda dan salah satunya signifikan. Hasil
penelitian peneliti sebelumnya tidak konsisten maka, perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut yang akan didasari teori.
Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa Sektor Industri Barang Konsumsi
di Indonesia memiliki rata-rata pembagian dividen tertinggi, sehingga peneliti
3
pada sektor tersebut memiliki kemampuan membayar dividen yang lebih besar
dibandingkan sektor lainnya.
Tabel 2
Rata-Rata Pembagian Dividen Sektor Industri Barang Konsumsi di Indonesia
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014
Rata-rata
Pertanian 126.85 146.64 138.80 221.33 63.92 139.51
Pertambangan 245.59 272.68 445.67 274.31 228.75 293.40
Industri Dasar & Kimia 147.79 119.63 118.77 89.56 85.76 112.30 Aneka Industri 391.38 446.92 306.94 171.03 69.16 277.09 Industri Barang Konsumsi 2,318.46 2,773.84 3,122.15 2,693.14 3,800.69 2,941.65 Properti & Real Estate 33.84 34.46 24.31 23.74 29.23 29.12 Infrastruktur, Utilitas &
Transportasi 105.97 102.45 106.09 109.33 78.91 100.55
Keuangan 44.62 59.25 61.77 69.05 129.00 72.74
Perdagangan, Jasa &
Investasi 47.90 57.34 60.99 45.02 41.57 50.56
LANDASAN TEORI
Pada bagian ini akan disajikan telaah literatur baik berupa kajian teori
maupun penelitian empiris yang akan dijadikan landasan teori dalam membangun
model konseptual penelitian dan mengembangkan hipotesis.
Pengaruh Ukuran Badan Usaha Terhadap Kebijakan Dividen
Menurut Megginson (1997) dalam penelitian Murhadi dan Wijaya (2011),
ukuran badan usaha berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Beberapa
penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa semakin besar ukuran badan usaha
maka semakin besar dividen yang dibagikan (Skinner, 2006; Fuller dan Goldstein,
2005; Jacob dan Ma, 2004; Mitton, 2004; Lewellen, 2004; Allen dan Michaely,
2002; dan Gaver, 1993) karena perusahaan dengan ukuran besar akan memiliki
kemampuan membayar dividen lebih besar dibandingkan perusahaan kecil.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Diduga ukuran badan usaha memiliki pengaruh positif terhadap
4
Pengaruh ProfitabilitasTerhadap Kebijakan Dividen
Menurut Megginson (1997) dalam penelitian Murhadi dan Wijaya (2011),
profitabilitas sangat berpengaruh terhadap besarnya dividen yang dibayarkan,
dimana semakin besar profitabilitas yang diperoleh suatu perusahaan akan semakin
besar pula dividen yang dibayarkan. Argumentasi ini mengungkapkan apabila
badan usaha memperoleh keuntungan yang besar maka arus kas akan besar juga
dan akan mengakibatkan badan usaha akan membagikan dividen dalam jumlah
yang besar. Hasil penelitian Leon dan Putra (2014) menunjukkan bahwa ROA
berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Hal ini sesuai dengan beberapa
penelitian sebelumnya (Abreu dan Gulamhussen, 2013; Murhadi dan Wijaya, 2011,
Skinner, 2006; Gill et al, 2010; Pluit dan Gitman, 1991 dan Nasar, 2009).
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Diduga profitabilitas memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan
dividen
Pengaruh Kebijakan Utang Terhadap Kebijakan Dividen
Pruit dan Gitman (1991) dalam penelitian Leon dan Putra (2014) menyatakan
bahwa badan usaha yang memiliki utang yang besar akan mengurangi pembayaran
dividen. Meningkatnya utang akan mengakibatkan badan usaha mengurangi fungsi
dividen sebagai alat untuk meminimalkan konflik keagenan karena adanya bonding
dan monitoring dari pihak eksternal, sehingga terdapat hubungan negatif antara
utang dengan dividen. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya (D’Souza dan Saxon, 1999; Al-Nazzar, 2009; Rozelf, 1982; Asif, 2011; Al-Malkawi, 2007; dan Leon dan Putra, 2014). Berdasarkan pemikiran tersebut, maka
dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H4 : Diduga kebijakan utang memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan
dividen
Pengaruh Pertumbuhan Terhadap Kebijakan Dividen
Menurut Juhandi et al. (2013) perusahaan dengan pertumbuhan dan peluang
investasi yang tinggi akan membutuhkan sumber dana internal untuk membiayai
5
yang kecil atau tidak membayar. Hal ini sesuai dengan dividend residual theory.
Hasil Penelitian Juhandi et al. (2013) menunjukkan bahwa pertumbuhan
berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian tersebut didukung
oleh penelitian Abreu dan Gulamhussen (2013), dan Al-Malkawi (2007).
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H5 : Diduga pertumbuhan memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan
dividen
Pengaruh Likuiditas Terhadap Kebijakan Dividen
Menurut Sartono (2001) dalam penelitian Latiefasari dan Chabachib (2011),
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam kebijakan dividen.
Karena dividen merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, semakin besar
likuiditas perusahaan maka semakin besar pula kemampuan perusahaan dalam
membagi dividen. Hasil Penelitian Sumiadji (2011) mengemukakan bahwa
likuiditas berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Temuan ini sesuai
dengan hasil penelitian Sutrisno (2001), Puspita (2009), dan Tsuji (2010).
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H6 : Diduga likuiditas memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan dividen
Berdasarkan pada landasan teori diatas, maka dapat digambarkan model
konseptual penelitian yang tampak pada Gambar 1.
Ukuran Badan Usaha
Kebijakan Utang
Pertumbuhan
Dividen Profitabilitas
Likuiditas
Gambar 1
6 METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data sekunder, dengan obyek Badan
Usaha-Badan Usaha Sektor Industri Barang Konsumsi yang konsisten membagikan
dividen selama periode 2010-2014 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang
memiliki laporan keuangan yang lengkap, tidak pernah tersuspen, dan memiliki
laba bersih yang positif.
Variabel penelitian terdiri dari dividend payout ratio sebagai variabel
dependen dan ukuran badan usaha, profitabilitas, kebijakan utang, pertumbuhan
dan likuiditas. Penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda yang
diolah dengan bantuan SPSS 22.0 For Windows. Model regresi linier berganda
dapat dinyatakan BLUE (Best Linear Unbiased Estimator), jika telah memenuhi uji
asumsi klasik. Adapun uji asumsi klasik yang digunakan adalah sebagai berikut:
Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan dengan metode One Sample Kolmogorov
Smirnov Test untuk mengetahui data-data yang ada telah terdistribusi secara normal atau tidak. Penelitian ini menggunakan α sebesar 5%.
Uji Multikolinearitas
Pendeteksian adanya multikolinearitas dapat dilakukan dengan menggunakan
Variance Influence Factor (VIF), data penelitian dapat dikatakan bebas multikol,
jika nilai VIF < 5.
Uji Autokorelasi
Untuk menguji ada atau tidaknya autokorelasi, maka digunakan pengujian
Durbin Watson. Jika nilai Durbin Watson diantara dU dan 4-dL, maka data penelitian
dapat dikatakan bebas masalah autokorelasi.
Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Glesjer.
Data penelitian dapat dikatakan bebas masalah hetoskedastisitas, jika nilai σ > 0.05.
Kebijakan dividen diukur menggunakan dividend payout ratio, karena lebih
mencerminkan persentase dividen yang dibagikan badan usaha. Alat ukur yang
7
DPR = ... (1)
Ukuran badan usaha diukur menggunakan natural log to total sales, karena
penjualan belum terkena manipulasi akutansi, sedangkan aktiva memiliki berbagai
macam metode pencatatan dan depresiasi sehingga menimbulkan distorsi antara
badan usaha satu dengan lainnya. Alat ukur yang digunakan adalah logaritma
natural dari total penjualan (sales) pada persamaan 2.
Size = Log. Total Penjualan ... (2)
Profitabilitas diukur menggunakan return on asset, karena return on asset
merupakan ukuran efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan
memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Alat ukur yang
digunakan adalah return on asset (ROA) pada persamaan 3.
ROA = ... (3)
Kebijakan utang diukur menggunakan debt to equity ratio, karena Debt to
Equity Ratio mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh
kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan
untuk membayar utang. Alat ukur yang digunakan adalah debt to equity ratio (DER)
pada persamaan 4.
DER = ... (4)
Pertumbuhan diukur menggunakan growth total aktiva. Penelitan ini tidak
menggunakan penjualan karena semakin besar penjualan tanpa diikuti dengan
peningkatan aktiva total menunjukkan bahwa badan usaha tersebut tidak
mengalami pertumbuhan investasinya. Alat ukur yang digunakan adalah growth
pada persamaan 5.
Growth = − −1
−1 ... (5) Likuiditas diukur menggunakan current ratio, Current Ratio merupakan
salah satu alat ukur dari likuiditas yang digunakan untuk membantu pihak
manajemen dalam mengetahui sejauh mana aktiva lancar suatu perusahan yang
dapat membayar kewajiban-kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya. Alat
8
CR = ... (6)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini, obyek penelitian yang digunakan adalah badan
usaha-badan usaha pada Sektor Industri Barang Konsumsi yang konsisten membagikan
dividen selama periode 2010-2014. Penelitian ini menggunakan 13 perusahaan
yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sebelumnya. Badan usaha
yang telah memenuhi persyaratan dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3 Data Penelitian
Kode Ticker Nama Badan Usaha
DLTA Delta Djakarta Tbk
INDF Indofood Sukses Makmur Tbk MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk MYOR Mayora Indah Tbk
GGRM Gudang Garam Tbk
HMSP HM Sampoerna Tbk
DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk KLBF Kalbe Farma Tbk
MERK Merck Tbk
SQBI Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
TCID Mandom Indonesia Tbk UNVR Unilever Indonesia Tbk
Pada analisis deskriptif ini, akan disajikan gambaran statistik deskriptif
masing-masing variabel penelitian yaitu kebijakan dividen (DPR), ukuran badan
usaha (SIZE), profitabilitas (ROA), kebijakan utang (DER), pertumbuhan
(GROWTH), dan likuiditas (CR).
Tabel 4 Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
DPR 60 .14 1.44 .6011 .30130
SIZE 60 12.63 18.21 15.5871 1.69624
ROA 60 .04 .66 .2185 .13698
DER 60 .10 2.49 .6942 .60380
GROWTH 60 -.07 .55 .1341 .11707
CR 60 .58 11.74 3.4527 2.29291
9
Adapun hasil uji asumsi klasik penelitian sebagai berikut:
Normalitas
Pengujian normalitas menggunakan 65 observasi menunjukkan bahwa data
penelitian tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti mengidentifikasi subjek
outlier menggunakan boxplot dengan bantuan SPSS 22.0For Windows.
Berdasarkan Gambar 2, hasil pengolahan menunjukkan bahwa nilai residual
badan usaha KLBF (2012), MERK (2012), MLBI (2014), INDF (2013), dan MLBI
(2010) outlier, maka peneliti membuang subjek tersebut. Lalu dilakukan Pengujian
normalitas menghasilkan nilai asymp. sig (2-tailed) residual sebesar 0.200 yang
tampak pada Tabel 5. Nilai residual 0.200 > 0.05, maka data penelitian berdistribusi
normal.
Gambar 2. Hasil Boxplot
Tabel 5
Hasil Pengolahan Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize d Residual
N 60
Normal Parametersa,b Mean -.0541394 Std. Deviation .14698139 Most Extreme
Differences
Absolute .066
Positive .066
Negative -.059
Test Statistic .066
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
KLBF 2012
MERK 2012 MLBI 2014 INDF 2013
10 Non-Multikolinearitas
Berdasarkan Tabel 6, hasil pengolahan uji multikolinearitas data penelitian
memiliki nilai VIF kurang dari 5 untuk masing-masing variabel independen, maka
data penelitian bebas dari multikolinearitas.
Tabel 6
Hasil Pengolahan Uji Multikolinearitas
Variabel Dependen: DPR
Vairabel Independen Coefficient Sig. Tolerance VIF
SIZE -.009 .592 .508 1.970
ROA 1.410 .000 .828 1.208
DER .099 .035 .499 2.003
GROWTH -1.437 .000 .943 1.061
CR -.001 .969 .385 2.598
Non-Autokorelasi
Tabel 7
Hasil Pengujian Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .878a .772 .751 .15047 2.102
a. Predictors: (Constant), CR, ROA, GROWTH, SIZE, DER b. Dependent Variable: DPR
Hasil pengujian autokorelasi pada Tabel 7 menunjukkan pehitungan
Durbin-Watson sebesar 2.102. Jumlah observasi (n) sebanyak 60 dan variabel independen
(k) sebanyak 5, maka diperoleh dL=1.4083, dU=1.7671, dU=2.2329, dan
4-dL=2.5917. Hasil pengujian Durbin-Watson menunjukkan bahwa data penelitian
ini, berada pada daerah tidak terdapat autokorelasi dan asumsi terpenuhi yaitu
dU<DW<4-dU. Berdasarkan data diatas dapat digambar kurva statistik Durbin
Watson pada gambar berikut ini.
11 Non-Heteroskedastisitas
Berdasarkan Tabel 8, Hasil pengujian Glesjer menunjukkan semua variabel memiliki σ > 0.05, sehingga dapat dikatakan bahwa data penelitian ini bebas dari masalah heteroskedastisitas.
Tabel 8
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel dependen: ABS_RES
Variabel Independen Coefficient t Sig.
(Constant) .079 .399 .691
SIZE .002 .177 .860
ROA -.106 -1.005 .319
DER .041 1.331 .189
GROWTH -.034 -.294 .770
CR .003 .329 .743
Pembahasan Analisis Regresi
Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan terhadap variabel-variabel yang
diteliti, maka diketahui hasil persamaan regresi sebagai berikut ini.
DPR = 0.555 - 0.009 SIZE + 1.410 ROA + 0.099 DER – 1.437 GROWTH -
0.001 CR.
Persamaan regresi ini menunjukkan kedudukan kebijakan dividen sebagai
variabel terikat (dependent) dan ukuran badan usaha, profitabilitas, kebijakan
utang, pertumbuhan, likuiditas sebagai variabel bebas (independent).
Tabel 9 Hasil Uji F
ANOVA
Berdasarkan Pengujian serempak/simultan pada Tabel 9, didapatkan nilai F
hitung sebesar 36.517 dengan signifikansi 0.000, yaitu 0.000 < 0.05. Hal ini berarti
variabel independen ukuran badan usaha, profitabilitas, kebijakan utang,
pertumbuhan dan likuiditas secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression 4.134 5 .827 36.517 .000b
Residual 1.223 54 .023
12
(kebijakan dividen) secara signifikan, sehingga model dapat digunakan untuk
memprediksi kebijakan dividen suatu badan usaha.
Tabel 10 Hasil Uji Parsial
Variabel Dependen: DPR
Variabel Independen Coefficient Sig. Arah Hipotesis Keterangan SIZE -.009 .592 Positif H1 ditolak ROA 1.410 .000 Positif H1 diterima
DER .099 .035 Negatif H1 ditolak dan terjadi kesalahan tipe I GROWTH -1.437 .000 Negatif H1 diterima
CR -.001 .969 Positif H1 ditolak
Berdasarkan uji parsial pada Tabel 10, variabel ukuran badan usaha memiliki
nilai koefisen sebesar -0.009 dengan signifikansi 0.592. Hal ini berarti bahwa H1
ditolak, ukuran badan usaha berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap
kebijakan dividen. Hasil penelitian ini didukung oleh Murhadi dan Wijaya (2011),
sedangkan Abreu dan Gulamhussen (2013) menemukan hal yang berbeda yaitu
ukuran badan usaha berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Namun,
Juhandi et al. (2013) menemukan bahwa ukuran badan usaha berpengaruh positif
tidak signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel ukuran badan usaha menunjukkan hubungan yang negatif dan tidak
signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini dikarenakan, badan usaha dengan
ukuran yang kecil di Indonesia kurang mendapat publisitas, berbeda dengan badan
usaha yang besar dimana relatif mendapat perhatian yang tinggi dari investor
maupun media massa. Badan usaha dengan skala ukuran besar cenderung memiliki
informasi yang tersedia di publik relatif banyak, sehingga peranan dividen untuk
mengkomunikasikan kondisi perusahaan menjadi berkurang. Badan usaha besar
relatif sering dibahas yang menjadikannya lebih terkenal, sehingga badan usaha
yang besar mengurangi peranan dividen sebagai sinyal kondisi kesehatan
perusahaan (Murhadi dan Wijaya, 2011). Variabel ukuran badan usaha bukanlah
menjadi faktor pertimbangan pihak manajemen dalam menentukan besar kecilnya
pembayaran dividen. Dengan demikian, variabel ukuran badan usaha memiliki
13
Variabel profitabilitas memiliki nilai koefisien sebesar 1.410 dengan
signifikansi 0.000. Hal ini berarti H1 diterima, profitabilitas berpengaruh positif
secara signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini didukung oleh
Murhadi dan Wijaya (2011), Abreu dan Gulamhussen (2013), Leon dan Putra
(2014), Juhandi et al. (2013). Namun Sumiadji (2011) dan Latiefasari dan
Chabachib (2011) menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap kebijakan dividen. Variabel profitabilitas berpengaruh positif
signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini dikarenakan profitabilitas yang tinggi
akan membuat badan usaha memiliki dana yang berlebih. Dana yang berlebih akan
membuat badan usaha mampu membayar dividen dalam jumlah yang besar (Leon
dan Putra, 2014).
Variabel kebijakan utang memiliki nilai koefisien sebesar 0.099 signifikansi
0.035. Hal ini berarti H1 ditolak dan terjadi kesalahan tipe I, kebijakan utang
berpengaruh positif secara signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian
ini berkontradiksi terhadap penelitian Juhandi et al. (2013) yang menemukan bahwa
kebijakan utang berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kebijakan dividen,
sedangkan Leon dan Putra (2014), dan Sumiadji (2011) menemukan bahwa
kebijakan utang berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen.
Namun Latiefasari dan Chabachib (2011) menemukan bahwa kebijakan utang
berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen
Variabel kebijakan utang menunjukkan hubungan yang positif signifikan
terhadap kebijakan dividen. Utang yang meningkat mengindikasikan bahwa risiko
financial distress dan kebangkrutan meningkat (Connolly, 2006). Untuk
mengkompensasi risiko tersebut, maka dividen digunakan untuk memberikan
sinyal kepada investor bahwa badan usaha dalam kondisi yang sehat. Dengan
demikian, semakin tinggi utang maka semakin tinggi pula dividen yang dibayarkan
badan usaha.
Variabel pertumbuhan memiliki nilai koefisien sebesar -1.437 dengan
signifikansi 0.000. Hal ini berarti H1 diterima, pertumbuhan berpengaruh negatif
secara signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini didukung oleh
14
Chabachib (2011). Namun hasil penelitian ini, berkontradiksi terhadap hasil
penelitian Juhandi et al. (2013) yaitu pertumbuhan berpengaruh positif secara
signifikan terhadap kebijakan dividen. Variabel pertumbuhan berpengaruh negatif
signifikan terhadap kebijakan dividen. Badan usaha yang memiliki pertumbuhan
yang tinggi (high growth) akan membayar dividen dalam jumlah yang sedikit,
karena badan usaha yang high growth memiliki kesempatan investasi yang tinggi
daripada badan usaha yang low growth, sehingga membutuhkan dana yang cukup
besar untuk mendanai investasi tersebut. Dividend residual theory menyatakan
bahwa badan usaha akan menahan laba untuk diinvestasikan kembali daripada
digunakan untuk membayar dividen (Gitman, 2009:604). Dengan demikian, badan
usaha akan menggunakan dana internal untuk mengambil peluang investasi yang
ada dan akan mengurangi pembayaran dividen.
Variabel likuiditas memiliki nilai koefisien sebesar -0.001 dengan
signifikansi 0.969. Hal ini berarti H1 ditolak, likuiditas berpengaruh negatif tidak
signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini berkontradiksi terhadap
hasil penelitan Latiefasari dan Chabachib (2011) dan Sumiadji (2011). Sumiadji
(2011) menemukan bahwa likuiditas berpengaruh positif secara signifikan terhadap
kebijakan dividen, sedangkan Latiefasari dan Chabachib (2011) menemukan bahwa
likuiditas berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen
Variabel likuiditas menunjukkan arah yang negatif dan tidak signifikan
terhadap kebijakan dividen. Brigham dan Ehrhard (2008:125) menyatakan bahwa
current ratio yang tinggi menunjukkan bahwa badan usaha memiliki uang yang
banyak dalam aset yang kurang produktif. Badan Usaha Sektor Industri Barang
Konsumsi memiliki rata-rata current ratio sebesar 3.45, likuiditas yang tinggi dapat
menyebabkan profitabilitas badan usaha menurun yang akan berdampak pada
penurunan pembayaran dividen. Likuiditas badan usaha diukur dengan kemampuan
badan usaha untuk memenuhi kewajiban jangka pendek yang akan jatuh tempo
(Gitman, 2009:58). Bagian likuiditas yang dapat digunakan untuk membayar
dividen yaitu kas. Berdasarkan Tabel 11, dapat dilihat bahwa tidak ada hubungan
15
sehingga menyebabkan bahwa variabel likuiditas tidak signifikan mempengaruhi
kebijakan dividen badan usaha.
Pembahasan Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi yang digunakan adalah adjusted R2 dengan nilai 0.751
untuk dependen kebijakan dividen. Koefisien ini memiliki makna bahwa perubahan
variabel kebijakan dividen (DPR) dapat dijelaskan oleh variabel ukuran badan
usaha, profitabilitas, kebijakan utang, pertumbuhan dan likuiditas sebesar 75.1%,
sedangkan 24.9% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan
dalam penelitian ini.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji F, diperoleh hasil
bahwa variabel ukuran badan usaha, profitabilitas, kebijakan utang, pertumbuhan
dan likuiditas secara bersama-sama (serempak) berpengaruh terhadap kebijakan
dividen pada Badan Usaha-Badan Usaha Sektor Industri Barang Konsumsi yang
terdaftar di BEI selama periode 2010-2014.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t, dapat
diketahui bahwa variabel profitabilitas, kebijakan utang, dan pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada tingkat α=5%, sedangkan ukuran badan usaha dan likuiditas berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan
dividen.
Berdasarkan hasil koefisien determinasi (R2), variabel independen seperti
ukuran badan usaha, profitabilitas, kebijakan utang, pertumbuhan dan likuiditas
mempengaruhi perubahan kebijakan dividen sebesar 75.1%, sedangkan 24.9%
lainnya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang di luar penelitian ini.
Implikasi Teoritis
Hasil penelitian untuk variabel ukuran badan usaha menunjukkan bahwa
ukuran badan usaha berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kebijakan
16
tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini konsisten dengan
penelitian yang dilakukan oleh Murhadi dan Wijaya (2011).
Hasil penelitian untuk variabel profitabilitas menunjukkan bahwa
profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini
berarti semakin tinggi profitabilitas, maka kebijakan dividen badan usaha akan
semakin tinggi. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan
oleh Murhadi dan Wijaya (2011), Abreu dan Gulamhussen (2013), Leon dan Putra
(2014) dan Juhandi et al. (2013).
Hasil penelitian untuk variabel kebijakan utang menunjukkan bahwa
kebijakan utang berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini
berarti semakin tinggi utang, maka kebijakan dividen badan usaha akan semakin
tinggi juga.
Hasil penelitian untuk variabel pertumbuhan menunjukkan bahwa
pertumbuhan berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini
berarti bahwa semakin tinggi pertumbuhan, maka kebijakan dividen badan usaha
akan semakin rendah. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang
dilakukan oleh Abreu dan Gulamhussen (2013), Leon dan Putra (2014) dan
Latiefasari dan Chabachib (2011).
Hasil penelitian untuk variabel likuiditas menunjukkan bahwa likuiditas
berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini berarti
likuid tidaknya badan usaha memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap
kebijakan dividen.
Implikasi Praktis
Semakin tinggi profitabilitas badan usaha, maka kebijakan dividen akan
semakin tinggi. Ketika profit badan usaha meningkat, maka arus kas badan usaha
bertambah banyak, sehingga akan mendorong badan usaha untuk membagikan
dividen kepada investor dalam jumlah yang besar.
Semakin tinggi pertumbuhan badan usaha, maka kebijakan dividen akan
semakin rendah. Hal ini dikarenakan saat pertumbuhan badan usaha tinggi biasanya
diikuti peluang investasi yang besar juga, maka perusahaan cenderung
17
menyebabkan badan usaha membagikan dividen kepada investor dalam jumlah
yang kecil, bahkan dapat juga tidak membagikannya.
Semakin tinggi kebijakan utang badan usaha, maka kebijakan dividen akan
semakin tinggi juga. Ketika utang meningkat, berarti risiko financial distress dan
kebangkrutan badan usaha meningkat, maka dividen digunakan untuk memberikan
sinyal kepada investor bahwa badan usaha dalam kondisi yang sehat. Dengan
demikian, semakin tinggi kebijakan utang maka kebijakan dividen badan usaha
akan semakin tinggi.
Rekomendasi Bagi Investor
Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi investor untuk memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen badan usaha seperti ukuran
badan usaha, profitabilitas, kebijakan utang, pertumbuhan dan likuiditas. Bagi
investor yang menyukai dividen, lebih baik berinvestasi pada badan usaha yang
memiliki profitabilitas dan utang yang tinggi sedangkan pertumbuhannya rendah.
Bagi Badan Usaha
Berdasarkan implikasi, bahwa badan usaha yang memiliki profitabilitas yang
tinggi akan memberikan sinyal positif kepada investor yang menginginkan dividen
yang besar. Badan usaha dapat juga meningkatkan utang untuk memberikan sinyal
kepada investor bahwa badan usaha dalam kondisi yang sehat. Badan usaha
sebaiknya mengambil proyek-proyek yang mengguntungkan yang dapat
meningkatkan profitabilitas badan usaha, sehingga dapat mempertahankan investor
yang menyukai penghasilan dividen yang besar.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.
Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu jumlah sampel yang masih sedikit, dan
hanya sektor industri barang konsumsi. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan
meneliti dengan jumlah sampel yang lebih besar dan meneliti sektor lainnya,
18 DAFTAR PUSTAKA
Abreu, José F., dan M.A. Gulamhussen, 2013, Dividend Payouts: Evidence From U.S. Banking Holding Companies In The Context Of The Financial Crisis, Journal of Corporate Finance 22, 54-65.
Ang, R., 1997, Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Edisi 1, Mediasoft Indonesia.
Astuti, D., 2004, Manajemen Keuangan Perusahaan, Jakarta : Ghalia Indonesia.
Bahri, S., dan F. Zamzam, 2014, Metode Penelitian Kuantitatif Berbasis SEM-AMOS, Deepublish Publisher.
Brealey, Richard A., dan S.C. Myers, 2003, Principles of Corporate Finance, International edition, Boston MA: Mc Graw Hill.
Brigham, Eugene F., dan M.C. Ehrhardt, 2005, Financial Management Theory and Practice, International Student Edition, South Western.
Brigham, Eugene F., dan M.C. Ehrhardt, 2008, Financial Management: Theory & Practice, Twelfth Edition, Thomson Learning. Inc.
Connolly, Michael B., 2006, International Business Finance, British Library Cataloguing in Publication Data.
Copeland, Thomas E., dan J.F. Weston, 1992, Financial Theory and Corporate Policy, Third Edition, Addison-Wesley Publishing Company.
Damodaran, A., 2001, Corporate Finance Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Inc, New York.
Deshmukh, S., 2005, The Effect of Asymetric Information on Dividend Policy, Quarterly Journal of Business and Economics, Vol 44. No 1 dan 2.
Fama, E.F., dan K.R. French, 2001, Disappearing Dividend: Changing Firm Characteristics or Lower Propensity to Pay?, Journal of Financial Economics, Vol.60: 3-43.
Gill, A., et al., 2010, Determinant of Dividend Payout Ratios : Evidence from United States, The Open Business Journal,3: 8-14.
Gitman, Lawrence J., 2009, Principle of Managerial Finance, Twelfth Edition, Pearson Education, UK.
Gitman, Lawrence J., dan C.J. Zutter, 2012, Principle of Managerial Finance, 13th
Edition, Pearson Education, UK.
Gordon, Myron J., dan Lintner, 1963, Optimal Investment and Financing Policy, Journal of Finance. Vol. 18, No. 2 (May, 1963) p. 264- 272.
Greene, W., 2003, Econometric Analysis, 5th Edition, Upper Saddle River: Prentice-Hall
19
Gujarati, Damodar N., 2004, Basic Econometrics, 4th Edition, McGraw Hill International.
Irawati, S., 2006, Manajemen Keuangan, Pustaka: Bandung.
Juhandi, N., et al., 2013, The Effects of Internal Factors and Stock Ownership Structure on Dividend Policy on Company’s Value, International Journal of Business and Management Invention (IJBMI), Volume 2 Issue 11, November 2011, pp.06-18.
Latiefasari, Hani D., dan Chabachib, 2011, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2005-2009), Skripsi, Universitas Diponegoro.
Leon, Farah M., dan P.M. Putra, 2014, The Determinant Factor of Dividend Policy at Non Finance Listed Companies, International Journal of Engineering, Business and Enterprise Applications (IJEBEA), pp.22-26.
Modigliani, F., dan M.H. Miller, 1963, Corporate income taxes and the cost of capital: A correction, American Economic Review 53, 433–443
Murhadi, Werner R., dan L.I. Wijaya, 2011, Studi Pengaruh Good Corporate Governance, Analyst Coverage, dan Tahapan Daur Hidup Terhadap Kebijakan Deviden, Jurnal Manajemen & Bisnis, Vol. 10, No. 1, edisi Maret 2011, p.111-126, Terakreditasi DIKTI.
Puspita, F., 2009, Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2007: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividend Payout Ratio, Thesis, Universitas Diponegoro.
Riyanto, B., 1989, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi ke 13, Penerbit Gadjah Mada Yogyakarta 1989.
Riyanto, B., 2000, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi keempat, Yogyakarta, BPFE.
Ross, S., et al., 2005, Corporate Finance, Seventh Edition, Mc Graw Hill, Singapore.
Sartono, A., 1990, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, Edisi ke 1, Yogyakarta: BPFE.
Sartono, A., 1996, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, Edisi Ketiga, Yogyakarta: BPFE.
Sartono, A., 2001, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, Edisi Keempat, Yogyakarta: BPFE.
20
Sumiadji, 2011, Analisis Variabel Keuangan Yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden, Jurnal Dinamika Akutansi, Vol. 3, No. 2, September 2011, p. 129-138.
Sundjaja, Ridwan S., dan I. Barlian, 2003, Manajemen Keuangan Satu, Litera Lintas Media, Edisi Kelima.
Sundjaja, Ridwan S., dan I. Barlian, 2003, Manajemen Keuangan Dua, Litera Lintas Media, Edisi Keempat.
Weston J. Fred, dan Eugene F. Brigham, 1993, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Jilid 2, Edisi Kesembilan, Terjemahan oleh Alfonsus Sirait, Jakarta: Erlangga
21 Tabel 11
Hubungan antara Likuiditas Terhadap Dividen yang dibayarkan Badan Usaha Sektor Industri Barang Konsumsi Periode 2010-2014
Tahun Dividen t Rp'000.000 Cash t-1 Rp'000.000 Net Income Rp'000.000
Cash t-1 + Net Income Rp'000.000 Dividen /Cash Dividen/ (Cash
t-1 + Net Income)
DLTA 2010 152,125 386,105 139,567 525,672 39.40% 28.94%
2011 168,138 248,782 151,715 400,497 67.58% 41.98%
2012 176,145 246,669 213,421 460,091 71.41% 38.28%
2013 184,152 290,769 270,498 561,267 63.33% 32.81%
2014 192,158 433,776 288,073 721,850 44.30% 26.62%
INDF 2010 816,580 4,474,830 2,952,858 7,427,688 18.25% 10.99%
2011 1,167,797 10,439,353 3,077,180 13,516,533 11.19% 8.64%
2012 1,536,575 13,049,048 3,261,176 16,310,224 11.78% 9.42%
2013 1,624,380 13,343,028 2,503,841 15,846,869 12.17% 10.25%
2014 1,246,821 13,666,194 3,885,375 17,551,569 9.12% 7.10%
MLBI 2010 76,906 337,162 442,916 780,078 22.81% 9.86%
2011 448,349 206,585 507,238 713,823 217.03% 62.81%
2012 653,676 248,409 453,343 701,752 263.15% 93.15%
2013 507,071 99,129 1,170,988 1,270,117 511.53% 39.92%
2014 1,221,554 145,511 794,708 940,219 839.49% 129.92%
MYOR 2010 76,658 321,582 484,086 805,668 23.84% 9.51%
2011 99,656 472,105 471,027 943,132 21.11% 10.57%
2012 99,656 325,316 729,634 1,054,950 30.63% 9.45%
2013 176,314 1,339,570 1,041,766 2,381,336 13.16% 7.40%
2014 205,700 1,860,492 403,630 2,264,122 11.06% 9.09%
GGRM 2010 1,250,657 1,222,897 4,146,282 5,369,179 102.27% 23.29%
2011 1,693,197 1,249,249 4,894,057 6,143,306 135.54% 27.56%
2012 1,924,088 1,094,895 4,013,758 5,108,653 175.73% 37.66%
2013 1,539,270 1,285,799 4,328,736 5,614,535 119.71% 27.42%
2014 1,539,270 1,404,108 5,368,568 6,772,676 109.63% 22.73%
HMSP 2010 6,684,075 527,681 6,421,429 6,949,110 1266.69% 96.19%
2011 8,064,720 3,209,559 8,065,414 11,274,973 251.27% 71.53%
2012 6,793,650 2,070,123 9,945,296 12,015,419 328.18% 56.54%
2013 9,945,027 783,505 10,818,486 11,601,991 1269.30% 85.72%
2014 10,650,690 657,276 10,181,083 10,838,359 1620.43% 98.27%
DVLA 2010 25,200 183,743 110,881 294,624 13.71% 8.55%
2011 33,600 252,466 120,915 373,381 13.31% 9.00%
2012 35,280 256,481 148,909 405,390 13.76% 8.70%
22
2014 24,640 316,700 80,929 397,629 7.78% 6.20%
KLBF 2010 253,900 1,562,664 1,286,330 2,848,994 16.25% 8.91%
2011 710,921 1,901,871 1,482,236 3,384,107 37.38% 21.01%
2012 964,821 2,291,335 1,733,928 4,025,263 42.11% 23.97%
2013 964,821 1,859,662 1,919,508 3,779,170 51.88% 25.53%
2014 796,877 1,426,460 2,064,686 3,491,146 55.86% 22.83%
MERK 2010 109,962 79,336 118,794 198,130 138.60% 55.50%
2011 99,994 107,898 231,159 339,057 92.67% 29.49%
2012 185,248 253,731 107,808 361,539 73.01% 51.24%
2013 79,968 143,551 175,445 318,996 55.71% 25.07%
2014 140,000 184,226 181,472 365,698 75.99% 38.28%
SQBI 2010 87,040 116,844 92,643 209,487 74.49% 41.55%
2011 87,040 144,838 120,059 264,897 60.09% 32.86%
2012 112,640 163,433 135,249 298,682 68.92% 37.71%
2013 128,000 171,418 149,521 320,939 74.67% 39.88%
2014 143,360 187,672 164,808 352,480 76.39% 40.67%
TSPC 2010 292,500 1,180,730 488,889 1,669,619 24.77% 17.52%
2011 180,000 1,398,375 566,048 1,964,423 12.87% 9.16%
2012 337,500 1,608,818 627,950 2,236,768 20.98% 15.09%
2013 337,500 1,651,451 634,622 2,286,073 20.44% 14.76%
2014 337,500 1,792,221 579,379 2,371,600 18.83% 14.23%
TCID 2010 64,341 147,152 131,445 278,597 43.72% 23.09%
2011 68,363 129,104 140,038 269,142 52.95% 25.40%
2012 74,395 89,862 150,373 240,235 82.79% 30.97%
2013 74,395 134,940 160,148 295,088 55.13% 25.21%
2014 74,395 73,824 174,314 248,138 100.77% 29.98%
UNVR 2010 3,044,370 858,322 3,386,970 4,245,292 354.69% 71.71%
2011 4,532,000 317,759 4,163,369 4,481,128 1426.24% 101.14%
2012 4,547,480 336,143 4,839,277 5,175,420 1352.84% 87.87%
2013 5,066,320 229,690 5,352,625 5,582,315 2205.72% 90.76%