• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA OR (9)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA OR (9)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA DOSEN PADA POLITEKNIK SWASTA (POLITEKNIK

ANIKA, POLITEKNIK AKAMIGAS DAN POLITEKNIK DARUSSALAM) DI PALEMBANG

Novita Sari, SE., M.Si

Program Studi Administrasi Niaga Politeknik Anika [email protected]

Abstract

The main objective of this research was to determine the influence of leadership style in the construction of the manifest variables (participative, authoritarian, democratic, and bureaucratic style) and organizational culture in the construction of the manifest variables (integration, support management, conflict tolerance and communication patterns) partially, simultaneous and dominant influence on the performance of a lecturer at the Polytechnic Private in Palembang. The collected data is then analyzed using a structural equation model analysis techniques - Structural Equation Modeling (SEM). Results of SEM analysis has fulfilled the criteria eligibility index model (Goodness of Fit Index Criteria): chi-square = 6670.15, probability = 0.000, RMSEA = 0.073, GFI = 0.900, AGFI = 0.860, CMN/DF = 1.280, CFI = 0.980. The analysis result shows that there is a positive significant effect partially and simultaneously of variable leadership style and organizational culture on performance variables lecturer. While the leadership style variables have a dominant influence the performance of the lecturer. Based on the results, managerial implication suggest that is the increase in performance can be achieved by creating and maintaining a culture of engagement in culture at the polytechnic which apply a participative leadership style consistent with providing a satisfactory level of perceived salary for lecturers.

Keywords: Leadership Style, Organizational Culture, Performance Lecturer, Motivation, Work Performance.

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Gaya Kepemimpinan, Budaya Organisasi dan Kinerja Dosen adalah bagian dari Manajemen Sumber Daya Manusia yang merupakan issue populer saat ini di suatu organisasi atau perusahaan, baik di sektor swasta maupun pemerintahan serta banyak dipublikasikan dalam jurnal-jurnal lokal maupun internasional.

Menurut Robbins (2006:30)

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok

kearah tercapainya suatu tujuan.

Kepemimpinan adalah pribadi yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi kearah pencapaian satu atau beberapa

tujuan tertentu. Kepemimpinan

menyangkut proses pengaruh sosial

yang disengaja dijalankan oleh

(2)

Sementara menurut Fiedler dalam

Ogbonna dan Harris (2000:767)

membuktikan pentingnya efektifitas kepemimpinan dengan argumentasinya bahwa efektivitas seorang pemimpin

merupakan determinan utama

keberhasilan atau kegagalan kelompok, organisasi atau bahkan negara.

Menurut Yulk (1989:35)

mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses pengaruh sosial yang

sengaja dilakukan oleh seseorang

terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas-aktifitas dan relasi-relasi didalam sebuah organisasi.

Kepemimpinan yang akan dilihat disini adalah gaya kepemimpinan dalam

organisasi yang diterapkan oleh

pimpinan terhadap bawahannya. Gaya

kepemimpinan adalah suatu cara

bagaimana seorang pemimpin

menjalankan tugasnya.

Menurut Hersey dan Blanchard (2001:154)

“Gaya kepemimpinan adalah

pola-pola perilaku konsisten yang mereka terapkan dalam bekerja dengan

melalui orang lain seperti yang

dipersepsikan orang-orang itu”

Sementara menurut Fiedler dalam

Ogbonna dan Harris (2000:767)

membuktikan pentingnya efektifitas kepemimpinan dengan argumentasinya bahwa efektivitas seorang pemimpin

merupakan determinan utama

keberhasilan atau kegagalan kelompok, organisasi atau bahkan negara.

Melalui proses yang berkelanjutan

yang dinamis ini, pemimpin

menciptakan dan pada gilirannya

dibentuk oleh budaya organisasi

Budaya organisasi dalam sebuah organisasi biasanya dikaitkan dengan nilai, norma, sikap dan etika kerja yang

dipegang bersama oleh setiap

komponen organisasi. Unsur - unsur ini

menjadi dasar untuk mengawasi

perilaku karyawan, cara mereka

berpikir, kerja sama dan berinteraksi dengan lingkungannya. Jika budaya organisasi baik, maka akan dapat meningkatkan prestasi kerja karyawan

dan akan dapat menyumbangkan

keberhasilan kepada perusahaan.

Dalam penelitian ini gaya

kepemimpinan yang digunakan adalah Gaya Kepemimpinan menurut teori Hersey dan Blanchard (2001:154) Gaya

kepemimpinan adalah pola-pola

perilaku konsisten yang mereka

terapkan dalam bekerja dengan melalui orang lain seperti yang dipersepsikan

orang-orang itu. Research gap

penelitian ini adalah untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif harus diawali dengan mendiagnosa situasi sebaik-baiknya. Dimensinya meliputi Gaya Kepemimpinan Klasik, terdiri dari mengarahkan (directing), pembinaan (coaching), partisipatifi (participation) dan mendelegasikan (delegating) dan

mengarahkan (directing). Gaya

Kepemimpinan Situasional, Gaya

Kepemimpinan Otoriter, Gaya

Kepemimpinan Demokratis, Gaya

Kepemimpinan Birokratis. Dalam

penelitian ini budaya organisasi yang digunakan adalah budaya organisasi berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Robbins (2006:526) budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh

anggota-anggota yang membedakan

organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Dimensinya meliputi : ”Inisiatif

individu, toleransi terhadap tindakan,

pengarahan, integrasi, dukungan

manajemen, kontrol, identitas, sistem imbalan, toleransi konflik dan pola

komunikasi”. Sedangkan kinerja dosen

menurut Malthis dan Jackson, (2002:78)

kinerja dosen yang umum untuk

(3)

Berdasarkan data, informasi dan observasi dari beberapa temuan pada Pada Politeknik Swasta (Politeknik

Anika, Politeknik Akamigas dan

Politeknik Darussalam) di Palembang.

Penulis tertarik untuk meneliti

permasalahan yang ada dalam judul

penelitian “Pengaruh Gaya

Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi

Terhadap Kinerja Dosen Pada

Politeknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Akamigas dan Politeknik

Darussalam) di Palembang.”

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Berapa besar pengaruh gaya

kepemimpinan yang di konstruksi variabel manifes (gaya partisipatif, gaya otoriter, gaya demokratis, dan birokratis) dan budaya organisasi yang di konstruksi variabel manifes (integrasi, dukungan manajemen,

toleransi konflik dan pola

komunikasi) secara parsial dan simultan terhadap kinerja dosen yang pada Politeknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Akamigas dan

Politeknik Darussalam) di

Palembang?

2. Manakah diantara variabel gaya

kepemimpinan dan budaya

organisasi yang paling berpengaruh

terhadap kinerja dosen pada

Politeknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Akamigas dan Politeknik Darussalam) di Palembang?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah

tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Besarnya pengaruh gaya

kepemimpinan yang di konstruksi variabel manifes (gaya partisipatif,

gaya otoriter, gaya demokratis, dan

gaya birokratis) dan budaya

organisasi yang di konstruksi

variabel manifes (integrasi,

dukungan manajemen, toleransi

konflik dan pola komunikasi) secara parsial dan simultan terhadap kinerja

dosen pada Politeknik Swasta

(Politeknik Anika, Politeknik

Akamigas dan Politeknik

Darussalam) di Palembang.

2. Besarnya pengaruh variabel dari

gaya kepemimpinan yang di

konstruksi variabel manifes (gaya partisipatif, gaya otoriter, gaya demokratis, dan gaya birokratis) dan budaya organisasi yang di konstruksi

variabel manifes (integrasi,

dukungan manajemen, toleransi

konflik dan pola komunikasi) yang

berpengaruh dominan terhadap

kinerja dosen pada Politeknik Swasta

(Politeknik Anika, Politeknik

Akamigas dan Politeknik

Darussalam) di Palembang.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan

dapat berharap dapat bermanfaat

sebagai berikut :

1. Secara praktis : penelitian ini sebagai

bahan pertimbangan dan

pengambilan keputusan yang

berkaitan dengan peranan gaya

kepemimpinan dan budaya

organisasi dan pengaruhnya terhadap kinerja dosen pada Politeknik Swasta

(Politeknik Anika, Politeknik

Akamigas dan Politeknik

Darussalam) di Palembang 2. Secara teoritis :

1. Penelitian ini dapat memberikan

kontribusi kepada ilmu

(4)

2. Menjadi bahan untuk penelitian

selanjutnya mengenai gaya

kepemimpinan dan budaya

organisasi dan pengaruhnya

terhadap kinerja dosen pada Politeknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Akamigas dan

Politeknik Darussalam) di

Palembang

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gaya Kepemimpinan

Menurut Robbins (2006)

menyatakan bahwa kepemimpinan

merupakan kemampuan untuk

mempengaruhi kelompok menuju

pencapaian sasaran sedangkan menurut

Hersey dan Blanchard (1992:15)

mengemukakan bahwa: Gaya pemimpin adalah pola-pola perilaku konsisten yang mereka terapkan dalam bekerja dan melalui orang lain seperti yang dipersepsikan orang-orang itu. Pola-pola itu timbul pada diri orang-orang pada waktu mereka mulai memberikan tanggapan dengan cara yang sama

dalam kondisi serupa; pola itu

membentuk kebiasaan tindakan yang setidaknya dapat diperkirakan bagi mereka yang bekerja dengan orang-orang itu.

Menurut penelitian Ogbonna dan Harris (2000:766), menemukan gaya

kepemimpinan yang tidak terkait

langsung berhubungan dengan kinerja tetapi terkait secara tidak langsung.

Menurut Hersey dan Blanchard (2001:173) Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan kematangan bawahan. Dalam hubungannya dengan prilaku pemimpin ini, ada dua hal yang biasanya dilakukan oleh pemimpin terhadap bawahan atau pengikutnya, yaitu : perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung.

Dalam penelitian ini dimensi gaya kepemimpinan mengacu pada dimensi yang dikembangkan oleh Hersey dan Blancard (2001:155) yang terdiri dari :

1. Gaya Otoriter, yaitu gaya

kepemimpinan yang tidak

membutuhkan pokok-pokok pikiran dari bawahan dan mengutamakan kekuasaan serta prestise sehingga

seorang pemimpin mempunyai

kepercayaan diri yang tinggi dalam pengambilan keputusan.

2. Gaya Birokratis, yaitu gaya

kepemimpinan dimana pemimpin yang ditandai dengan keterikatan yang terus-menerus kepada aturan-aturan organisasi dan bagaimana memakai sebagian besar peraturan

untuk membuat orang-orang

melaksanakan.

3. Gaya Partisipatif, yaitu gaya

kepemimpinan dimana pemimpin mengharapkan saran-saran dan

ide-ide dari bawahan sebelum

mengambil suatu keputusan juga

dipengaruhi oleh partisipasi

bawahan.

4. Gaya Demokratis, yaitu gaya

kepemimpinan dimana

Kepemimpinan demokratis akan

sangat bermanfaat untuk memancing

ide-ide tentang cara terbaik

bagaimana pelaksanaan suatu

pekerjaan. Pemimpin harus terbuka terhadap segala sesuatu berita baik maupun berita buruk dan harus

membuat orang merasa aman

(5)

2.2 Budaya Organisasi

Menurut Edgar Schein yang dikutip

Moh. Pabundu Tika (2006:03)

mendefinisikan:

“ Budaya organisasi adalah suatu pola asumsi dasar yang dimiliki bersama yang didapat oleh suatu kelompok ketika memecahkan masalah penyesuaian eksternal dan integrasi internal, yang telah berhasil dengan cukup baik untuk dianggap sah dan karena itu, diinginkan untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang tepat untuk menerima, berpikir dan merasa berhubungan

dengan masalah tersebut.”

Menurut Djoko Santoso Moeljono (2005:95),

”Budaya perusahaan adalah

peramuan berpola

top-middle-bottom, kemudian disemaikan ke setiap sel

organisasi, dan menjadi

nilai-nilai kehidupan

bersama, yang dapat muncul

dalam bentuk perilaku

formal dan informal.”

Menurut Phiti Shiti Amunai dikutip oleh Moh. Pabundu Tika (2006:4)

mendefinisikan seperangkat asumsi

dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.

Pengertian budaya menurut

Robbins (2006:721) : Budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain”.

Menurut Robbins (2006:526)

menyatakan ada 10 (sepuluh) dimensi

budaya organisasi yaitu : ”Inisiatif

individu, toleransi terhadap tindakan,

pengarahan, integrasi, dukungan

manajemen, kontrol, identitas, sistem imbalan, toleransi konflik dan pola

komunikasi”.

2.3 Kinerja Dosen

Menurut Rivai (2004:14),

menyebutkan bahwa: Kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok

orang untuk melakukan sesuatu

kegiatan dan menyempurnakan sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan.

Berdasarkan batasan tersebut

dapat dikemukakan bahwa pada

hakekatnya kinerja merupakan prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya sesuai dengan standar dan kreteria yang ditetapkan untuk pekerjaan itu. Prestasi kerja seorang dosen dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor individu sebagai

kemampuan institusi, dan situasi

berlangsungnya fungsi pekerjaan

pelayanan mengajar selama satu periode waktu tertentu sebagai kondisi ekstern.

Menurut Sutiadi (2003:6)

mengemukakan bahwa

“Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang

dalam melaksanakan

tugas-tugas yang dibebankan

kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhanserta waktu”

Dengan kata lain bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas

yang diberikan kepadanya sesuai

dengan kriteria yang ditetapkan.

Selanjutnya As’ad dalam Agustina

(2002) dan Sutiadi (2003:6)

mengemukakan bahwa kinerja

(6)

Menurut Malthis dan Jackson, (2002:78) kinerja karyawan yang umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen antara lain : kualitas dari hasil, kuantitas dari hasil, ketepatan waktu

dari hasil, kehadiran, kemampuan

bekerja sama.

2.4 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono (2012), dengan jurnalnya

yang berjudul: “Analisa Pengaruh

Kepemimpinan, Motivasi dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Dosen Dan Karyawan Di Universitas Pawyatan

Daha Kediri.” Hasil penelitian

menunjukkan bahwa; gaya

kepemimpinan, motivasi dan budaya

organisasi secara bersama-sama

memberikan kontribusi sebesar 45,4% terhadap kinerja dosen dan karyawan, di Universitas Pawyatan Daha Kediri. Secara parsial dari tiga variabel bebas yang ada ternyata, ketiga variabel tersebut (gaya kepemimpinan, motivasi dan budaya organisasi) berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja dosen dan karyawan, di Universitas Pawyatan Daha Kediri.

M. Shakil Ahmad (2012) dengan jurnal penelitiannya yang berjudul:

“Impact Of Organization Culture On

Performance Management Practices In

Pakistan”. Menyimpulkan bahwa

budaya organisasi memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan praktek kinerja manajemen.

Chen, L. Y. (2004) dengan jurnal

penelitiannya yang berjudul:

“Examining the Effect of Organization

Culture and Leadership Behaviors on

Organization Commitment, Job

Satisfaction, and Job Performance at Small and Middle-sized Firms of

Taiwan”. Menyimpulkan Budaya

organisasi dan gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan positif terhadap

komitmen organisasi, kepuasan kerja dan kinerja karyawan.

Ogbonna dan Harris (2000)

dengan jurnal penelitiannya yang

berjudul: “Leadership Style,

Organization Culture and Performance:

empirical evidence from UK

Companies” Menyimpulkan bahwa

Budaya organisasi mampu memoderasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan.

Obiwuru Timothy C. (2011)

dengan jurnal penelitiannya yang

berjudul: “Effect of Leadership Style on Organizational Performance: A Survey of Selected Small Scale Enterprises in Ikosi-Ketu Coucil Development Area of

Lagos State, Nigeria” Menyimpulkan

bahwa gaya kepemimpinan

transaksional berpengaruh positif

signifikan terhadap kinerja, gaya

kepemimpinan transformasional

berpengaruh positif tetapi tidak

signifikan terhadap kinerja.

Frederick Binfor et al (2013)

dengan jurnal penelitiannya yang

berjudul: “The Effect of Leadership

Styles and Motivation on Employee Performance in Public Institutions:

Evidence from Ghana” Menyimpulkan

bahwa Kepemimpinan dan Motivasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Kepemimpinan dan motivasi menjadi sangat penting dalam setiap organisasi dan manajemen untuk mencapai yang investasi terbaik, ada kebutuhan untuk

memperhatikan bagaimana

kepemimpinan yang efektif dapat

dipraktekkan dalam organisasi.

M. J Uddin, Rumana Huq Luva & Saad Md. Maroof Hossian (2013)

dengan jurnal penelitiannya yang

berjudul: “Impact of Organization

Culture on Employee Performance and Produtivity : A Case Study of

(7)

Bangladesh” Menyimpulkan bahwa

budaya organisasi memiliki pengaruh positif yang signifikan atas kinerja organisasi dan aspek budaya yang berbeda dari organisasi sebagai serta menunjukkan hubungan penting antara budaya dan kinerja

Untung Widodo (2006) dengan jurnal penelitiannya yang berjudul:

“Analisis Pengaruh Gaya

Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Bawahan (Studi Empiris Pada Perguruan Tinggi Swasta

Di Kota Semarang)” Menyimpulkan

bahwa Gaya kepemimpinan memiliki dampak yang signifikan terhadap sikap bawahan, perilaku dan kinerja bawahan.

Secara parsial bahwa gaya

kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja bawahan. Sedangkan

secara simultan bahwa gaya

kepemimpinan dan kepuasan kerja secara signifikan berpengaruh positif secara bersama-sama terhadap kinerja bawahan.

M. Hanif Al Rizal dan Intan

Ratnawati (2012) dengan jurnal

penelitiannya yang berjudul: “Pengaruh

Budaya Organisasi dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Rumah Sakit Panti Wilasa

“Citarum” Kota Semarang)”

Menyimpulkan bahwa budaya

organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dan kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja

karyawan. Temuan empiris

menunjukkan bahwa untuk

meningkatkan kinerja karyawan,

manajemen harus lebih memperhatikan faktor-faktor budaya organisasi dan faktor kepuasan kerja, karena faktor-faktor tersebut terbukti berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Armanu Thoyib (2005) dengan jurnal penelitiannya yang berjudul:

“Hubungan Kepemimpinan, Budaya,

Strategi dan Kinerja: Pendekatan

Konsep” Menyimpulkan bahwa bahwa variabel Kepemimpinan dan Budaya

Organisasi berpengaruh terhadap

Strategi Organisasi. Kepemimpinan,

Budaya Organisasi, dan Strategi

Organisasi berpengaruh terhadap

Kinerja Karyawan.

III. METODE PENELITIAN 3.1 HIPOTESIS

Dalam penelitian ini dikemukakan

hipotesis sebagai berikut :

1. Ada pengaruh signifikan positif secara parsial dan simultan, dari variabel gaya kepemimpinan yang di konstruksi variabel manifes (gaya partisipatif, gaya otoriter, gaya demokratis, dan birokratis) dan budaya organisasi yang di konstruksi

variabel manifes (integrasi,

dukungan manajemen, toleransi

konflik dan pola komunikasi)

terhadap variabel kinerja dosen.

2. Variabel gaya kepemimpinan

memiliki pengaruh dominan,

terhadap kinerja dosen.

3.2 KERANGKA PEMIKIRAN Menurut Sugiyono (2008:88) :

“Kerangka berfikir merupakan

model konseptual tentang

bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai

masalah yang penting.”

(8)

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

3.3 METODE PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini membatasi masalah pada Pengaruh Gaya Kepemimpinan

dan Budaya Organisasi Terhadap

Kinerja Dosen PadaPoliteknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Akamigas

dan Politeknik Darussalam) di

Palembang. Berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian ini

dapat diklasifikasikan ke dalam

penelitian kausalitas yang meneliti karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.

Penelitian ini dibatasi oleh variabel yang dapat diidentifikasikan secara garis besar sebagai berikut:

1) Variabel Gaya Kepemimpinan X1, berdasarkan; gaya partitisipatif Y1, gaya otoriter Y2, gaya demokratis Y3, gaya birokratis Y4

2) Variabel Budaya Kepemimpinan

X2, berdasarkan; integrasi Y5, dukungan manajemen Y6, toleransi konflik Y7, pola komunikasi Y8

3) Variabel Kinerja Dosen Z,

berdasarkan; kualitas Y9, kuantitas Y10, ketepatan waktu Y11

3.4 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh melalui responden, dimana

responden akan memberikan respon verbal dan atau respon tertulis sebagai

tanggapan atas pernyataan yang

diberikan. 1. Jenis data

Menurut Nawawi (2005:96-97) :

“Data yang digunakan dalam

penelitian terdiri atas dua jenis, yaitu

data kuantitatif dan data kualitatif.”

Data tersebut adalah sebagai berikut : a. Data kuantitatif, adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka,

yang dapat dihitung secara

sistematis, contoh data kuantitatif adalah skor jawaban responden. b. Data kualitatif, adalah jenis data

yang tidak dalam bentuk angka, seperti struktur organisasi, uraian tugas, dan unit kerja.

2. Sumber : Data Primer

Data primer yaitu data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli dan data dikumpulkan

untuk menjawab pertanyaan

penelitian yang sesuai dengan

keinginan peneliti (Fuad Mas’ud,

2004). Data primer dalam penelitian ini adalah data dosen yang berjumlah 163 orang, serta yang berasal dari penyebaran kuesioner data mengenai pendapat responden tentang gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan kinerja dosen.

3. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang

diperlukan peneliti mengirimkan

kuisioner kepada dosen pada

Politeknik Swasta (Politeknik Anika,

Politeknik Darussalam dan

Politeknik Akamigas) di Palembang 1. Wawancara

Yaitu teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan

secara lisan kepada subyek

penelitian, yaitu dengan pimpinan

dan beberapa dosen pada

Politeknik Swasta di Kota

(9)

2. Kuesioner

Menurut Sutopo (2006:82) :

“Pengumpulan data bisa

dilakukan secara tidak langsung

melalui kuesioner, dengan

menggunakan daftar pertanyaan

yang disebarkan kepada

responden.” Daftar pertanyaan

tersebut memuat hal-hal yang

berkaitan dengan

variabel-variabel gaya kepemimpinan dan

budaya organisasi, yang di

indikasikan dapat mempengaruhi

kinerja dosen pada pada

Politeknik Swasta (Politeknik Anika, Politeknik Darussalam dan

Politeknik Akamigas) di

Palembang.

3.5 Definisi Operasional Variabel Menurut Sugiyono (2008:38):

“Merupakan segala sesuatu yang

berbentuk apa saja yang ditetapkan untuk dipelajari, sehingga diperoleh

informasi tentang hal tersebut,

kemudian ditarik kesimpulannya.”Dari model kerangka pemikiran teoritis, maka definisi operasional variabel dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut :

Tabel 1. Operasional Variabel Penelitian

N o

Variabel Dimensi Indikator Skala Kuesioner

1 Gaya pendapat, dan pengambilan keputusan secara terbuka

Gaya

diambil sendiri, mendahulukan pekerjaan dan arahan tugas

Instansi mampu menyatukan unit- unit yang ada untuk bekerja secara terkoordinasi dan bersikap adil

Integrasi

Ordinal

17-20

Peraturan-peraturan yang terdapat dalam instansi dapat mengendalikan perilaku pegawai dan peraturan-peraturan yang terdapat dalam sering terjadi konflik antara sesama pegawai dan pendapat dan saran dalam instansi dibatasi dalam konteks formal

Kualitas kerja dosen jauh lebih baik

Kualitas

Ordinal

33-36

Kuantitas kerja dosen dalam Pekerjaan

Kuantitas 37-40

Dosen dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat waktu

Ketepatan waktu

41-44

(10)

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian Menurut Sugiyono (2008:115) :

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

objek/subjek, yang

mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu, yang ditetapkan untuk dipelajari

dan kemudian ditarik

kesimpulannya.”

Populasi dalam penelitian ini adalah dosen tetap dan dosen tidak tetap pada politeknik anika, akamigas dan darussalam, yang berjumlah 163 orang. Seluruh populasi dijadikan sebagai sampel, atau menggunakan metode sensus.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis data dalam penelitian ini

menggunakan program Statistical

Package For Sosial Sciencess (SPSS) Ver.16.0 dan Lisrel 8.70.

Pengujian Validitas

Uji Validitas digunakan untuk

mengukur valid tidaknya suatu

kuesioner. Pengujian validitas tiap butir

digunakan analisis item, yang

mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir. Biasanya syarat minimum

suatu kuesioner untuk memenuhi

validitas adalah bila nilai Corrected Item-Total Correlation atau nilai r minimal 0,30, maka alat pengukur atau item pernyataan bersifat valid, seperti pada tabel.di bawah ini

Tabel 2

Uji Validasi untuk Setiap Item Pertanyaan Item-Total Statistics

Y1 <--- Gaya Kepemimpinan 0.806 Valid Y2 <--- Gaya Kepemimpinan 0.580 Valid Y3 <--- Gaya Kepemimpinan 0.333 Valid Y4 <--- Gaya Kepemimpinan 0.356 Valid Y5 <--- Budaya Organisasi 0.848 Valid Y6 <--- Budaya Organisasi 0.806 Valid Y7 <--- Budaya Organisasi 0.569 Valid Y8 <--- Budaya Organisasi 0.483 Valid Y9 <--- Budaya Organisasi 0.848 Valid Y10 <--- Kinerja Dosen 0.836 Valid Y11 <--- Kinerja Dosen 0.710 Valid Y12 <--- Kinerja Dosen 0.714 Valid

Berdasarkan Tabel. 2 di atas, dapat ditunjukkan bahwa uji Validalitas terhadap 162 responden dengan nilai Corrected Item-Total Correlation > 0,3 pada seluruh butir pertanyaan (item) pada semua variabel adalah valid, sebagai indikator untuk mengukur

konstruknya. Menurut Sugiyono

(2008:3) : “Uji validitas dilakukan

dengan cara mengkorelasikan masing-masing item skor dengan total skor.”

Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner, mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item, yang mengkorelasikan skor tiap butir dengan skor total, yang merupakan jumlah tiap skor butir.

Uji Realibilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat diandalkan. Reliabilitas bisa juga diartikan sebagai kepercayaan,

kehandalan dan konsistensi suatu

indeks. Instrumen dikatakan reliabel

apabila memiliki nilai α > 0.60.

Tinggi rendahnya reliabilitas

ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas, dengan

(11)

reliabel alat ukur tersebut. seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel. 3

Uji Realibilitas untuk Setiap Variabel

.869 .912 Reliabel

Budaya Organis asi

.886 .921 Reliabel

Kinerja Dosen

.919 .900 Reliabel

Berdasarkan Tabel. 3 di atas, dapat ditunjukkan bahwa Uji reliabilitas

dengan nilai Cronbach’s Alpha > 0,60

seluruh butir pertanyaan (item) pada semua variabel adalah reliabel, Semua

nilai Cronbach’s Alpha untuk variable

di atas menunjukkan bahwa instrumen memiliki angka reliabilitas yang cukup

tinggi (nilai Cronbach’s Alpha > 0.60).

Menurut Sugiyono (2008:73) :

“Instrumen dikatakan reliabel apabila

instrumen tersebut digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, serta mampu menghasilkan data yang

sama.” Pengujian reliabilitas dapat

dilakukan dengan menggunakan teknik

statistik cronbach’s alpha. Instrumen

dikatakan reliabel apabila memiliki nilai

α > 0.60. Tinggi rendahnya reliabilitas

ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas, dengan kisaran 0 – 1. Semakin mendekati 1,

maka semakin reliabel instrumen

tersebut.

Statistik Inferensial : SEM Uji Kecocokan Seluruh Model

Setelah melakukan pengujian

Validalitas dan Realibilitas, maka

tahapan selanjutnya adalah

menganalisis kecocokan data dengan model secara keseluruhan atau di dalam Lisrel disebut Goodeness of Fit (GOF).

Pengujian ini akan mengevaluasi

apakah model yang dihasilkan

merupakan fit atau tidak. Dari printed

output yang dihasilkan estimasi

pengukuran pada program Lisrel seperti pada tabel. 4 di bawah ini

Tabel. 4

Indeks Pengujian Kelayakan Model (Goodness of Fit Index)

Goodness of Fit Index

Cut-of

6670.15 kurang baik Significancy

Probability

≥0.05 0.000 kurang baik

RMSEA ≤0.08 0.073 Baik

GFI ≥0.90 0.900 Baik

AGFI ≥0.90 0.860 Marginal CMIN/DF ≤2.00 1.280 Baik Baik

CFI ≥0.95 0.980 Baik

Dari indeks-indeks goodness of fit yang disajikan pada tabel. 4.10, dapat disimpulkan bahwa model pengukuran bisa diterima karena bisa menjelaskan data yang sesungguhnya mengenai

dimensionalitas masing-masing

indikator observed pada masing-masing konstruk laten yang mendasarinya atau yang seharusnya diukur. Ini ditunjukkan oleh indeks-indeks goodness of fit yang

mempunyai nilai yang memenuhi

persyaratan berdasarkan cut of value yang direkomendasikan.

1. Nilai Chi-square yaitu 6670.15 dan P = 0,000 < 0,5. Hasil tersebut

menunjukan bahwa kecocokan

kurang baik karena syarat model

yang baik yaituChi-square kecil dan nilai P > 0,05 tidak terpenuhi.

2. Nilai Root Mean Square Error of

(12)

sebesar 0.073 sehingga kecocokan model baik (good fit).

3. Nilai Goodness of Fit Index (GFI) yaitu sebesar 0.900 sehingga kecocokan model baik.

4. NilaiAdjusted Goodness of Fit Index (AGFI) yaitu sebesar 0.860 sehingga kecocokan model Kurang baik. 5. Nilai CMN/DF yaitu sebesar 1.280

sehingga kecocokan model baik (good fit).

6. Nilai Comparative Fit Index (CFI)

yaitu sebesar 0.980 sehingga

kecocokan model baik (good fit).

Uji Kecocokan Model Struktural

Setelah peneliti melakukan uji kecocokan keseluruhan model, maka tahap selanjutnya menguji hipotesis penelitian pada model strukturalnya.

Pengujian model dilakukan untuk

mengetahui bagaimana hubungan antara variabel Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Dosen. Dengan pengujian ini akan

diketahui apakah hipotesis model

diterima atau di tolak.

Hasil uji hipotesis terlihat dari printed outputhasil prosessyntaxdalam rumus persamaan olahan penelitian dan

juga terdapat path diagram. Pada

hubungan signifikan nilai t-value harus lebih besar dari pada t-tabel. Hubungan yang signifikan akan ditandai dengan t-value yang berwarna hitam pada path

diagram dengan nilai > 1,96.

Sedangkan hubungan yang tidak

signifikan ditandai dengan t-value yang

berwarna merah pada path diagram

dengan nilai dibawah 1,96. Path

diagram yang ditunjukan pada gambar 2 memberikan gambaran mengenai hubungan antara variabel eksogen terhadap variabel endogen.

Sumber: output Lisrel hasil olahan penelitian

Note: nilait-value >1,96 adalah signifikan

Gambar 2 Struktur ModelT-Value

Sumber: output Lisrel hasil olahan penelitian

Gambar 3 StrukturModel Estimates

Berdasarkan hipotesis 1,

menyatakan bahwa ada pengaruh

signifikan positif secara parsial dan

simultan, dari variabel gaya

kepemimpinan yang di konstruksi variabel manifes (gaya partisipatif, gaya

otoriter, gaya demokratis, dan

birokratis) dan budaya organisasi yang

di konstruksi variabel manifes

(integrasi, dukungan manajemen,

toleransi konflik dan pola komunikasi) terhadap variabel kinerja dosen, dapat dibuktikan dengan melihat diagram path pada gambar 2.

Nilai t-value adalah 17,77 dan 7,26 dimana nilai t-value > 1,96 sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 1

(13)

kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap variabel kinerja dosen.

Pengujian hipotesis 2,

menyatakan bahwa variabel gaya

kepemimpinan memiliki pengaruh

dominan, terhadap kinerja dosen, dapat

dibuktikan dengan melihat diagram

path pada gambar 2. nilai t-value. adalah 17,77 dimana nilai t-value > 1,96, dibandingkan Budaya organisasi terhadap Kinerja Dosen sebesar 7,26

sehingga dapat dinyatakan bahwa

hipotesis 2 terbukti. Maka dapat

dikatakan bahwa variabel gaya

kepemimpinan memiliki pengaruh

dominan, terhadap kinerja dosen.

Pada bab ini telah dilakukan analisis data dan pengujian terhadap 2 hipotesis penelitian sesuai model

teoritis. Hasil yang diperoleh

menunjukkan bahwa 2 hipotesis dapat diterima. Model teoritis telah diuji dengan kriteria goodness of fit dan mendapatkan hasil yang baik.

Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan sebelumnya, kedua hipotesis penelitian membuktikan adanya hubungan signifikan dengan t-value > 1,96. Secara umum kesimpulan hasil uji hipotesis pada tabel.5 di bawah ini menandakan hubungan variabel eksogen terhadap variabel endogen.

Tabel. 5

Kesimpulan Uji Hipotesis Hasil Path

t-valu

7,26 0,66 Diterima

Sumber : Output Lisrel hasil olahan peneliti

1. Analisis Hipotesis 1

Hipotesis 1 dapat dilihat dari tabel. 5 terbukti diterima karena t-value 17,77 dan 7,26 yang berarti terdapat pengaruh signifikan positif secara parsial dan simultan, dari variabel gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap variabel kinerja dosen, dapat dibuktikan dengan melihat diagram path pada gambar 2. Nilai t-value adalah 17,77 dan 7,26 dimana nilai t-value > 1,96 sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 1 terbukti. Maka dapat dikatakan bahwa ada pengaruh signifikan positif secara parsial dan

simultan, dari variabel gaya

kepemimpinan dan budaya

organisasi terhadap variabel kinerja dosen.

Dengan diterimanya hipotesis 1, maka membuktikan penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono

(2012), dengan jurnalnya yang

berjudul: “Analisa Pengaruh

Kepemimpinan, Motivasi dan

Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Dosen Dan Karyawan Di Universitas

Pawyatan Daha Kediri.” Hasil

penelitian menunjukkan bahwa; gaya kepemimpinan, motivasi dan budaya

organisasi secara bersama-sama

memberikan kontribusi sebesar

45,4% terhadap kinerja dosen dan karyawan, di Universitas Pawyatan Daha Kediri. Secara parsial dari tiga variabel bebas yang ada ternyata,

ketiga variabel tersebut (gaya

kepemimpinan, motivasi dan budaya

organisasi) berpengaruh secara

signifikan terhadap kinerja dosen dan karyawan, di Universitas Pawyatan Daha Kediri

2. Analisis Hipotesis 2 Hipotesis 2 dapat dilihat dari

(14)

gaya kepemimpinan memiliki pengaruh dominan, terhadap kinerja dosen, dapat dibuktikan dengan melihat diagram path pada gambar 2. nilai t-value. adalah 17,77 dimana nilai t-value > 1,96, dibandingkan Budaya organisasi terhadap Kinerja dosen sebesar 7,26 sehingga dapat

dinyatakan bahwa hipotesis 2

terbukti. Maka dapat dikatakan bahwa variabel gaya kepemimpinan

memiliki pengaruh dominan,

terhadap kinerja dosen. Dengan

diterimanya hipotesis 2, maka

membuktikan penelitian Untung

Widodo (2006) dengan jurnal

penelitiannya yang berjudul:

“Analisis Pengaruh Gaya

Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Bawahan (Studi Empiris Pada Perguruan Tinggi

Swasta Di Kota Semarang)”

Menyimpulkan bahwa Gaya

kepemimpinan memiliki dampak

yang signifikan terhadap sikap

bawahan, perilaku dan kinerja

bawahan. Secara parsial bahwa gaya

kepemimpinan berpengaruh

signifikan terhadap kinerja bawahan. Sedangkan secara simultan bahwa gaya kepemimpinan dan kepuasan kerja secara signifikan berpengaruh positif secara bersama-sama terhadap kinerja bawahan.

Gaya kepemimpinan

merupakan suatu pola tingkah laku

yang dirancang untuk

mengintegrasikan kepentingan

individual dengan kepentingan

organisasi dalam mewujudkan

motivasi karyawan yang diharapkan menghasilkan produktivitas. Gaya

kepemimpinan bertujuan untuk

mendorong gairah kerja, kepuasan

kerja, dan produktivitas kerja

karyawan yang tinggi, agar dapat mencapai tujuan organisasi yang

maksimal. Dalam penelitian ini gaya kepemimpinan diukur berdasarkan gaya partisipatif, gaya otoriter, gaya

demokratis, dan birokratis,

sedangkan budaya organisasi adalah sebagai suatu konsep dapat menjadi

suatu sarana untuk mengukur

kesesuaian dari tujuan organisasi, strategi dan organisasi tugas, serta dampak yang dihasilkan. Penelitian

ini budaya organisasi diukur

berdasarkan integrasi, dukungan

manajemen, toleransi konflik dan pola komunikasi dan kinerja dosen merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan

tugas-tugas yang dibebankan

kepadanya yang didasarkan atas

kecakapan, pengalaman dan

kesungguhan serta waktu. Penelitian ini kinerja dosen diukur berdasarkan kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Nilai t-value adalah 17,77 dan 7,26 dimana nilai t-value > 1,96 sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 1

terbukti, maka dapat dikatakan

bahwa ada pengaruh signifikan positif secara parsial dan simultan dari variabel gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap variabel

kinerja dosen, dari gaya

kepemimpinan yaitu gaya partisipatif dan dari budaya organisasi adalah dukungan manajemen.

(15)

sehingga dapat dinyatakan bahwa hipotesis 2 terbukti, maka dapat dikatakan bahwa variabel gaya kepemimpinan memiliki pengaruh dominan terhadap kinerja dosen yaitu gaya Partisipatif.

Dari kesimpulan diatas, maka implikasi manajerial berhubungan atas gaya kepemimpinan terhadap kinerja dosen adalah 1,00. Dengan melihat hasil penelitian tersebut

bahwa gaya kepemimpinan

memberikan dukungan paling besar kepada kinerja dosen. Berkaitan dengan hal tersebut, maka gaya

kepemimpinan diarahkan kepada

peningkatan kinerja dosen. Untuk mewujudkan gaya kepemimpinan yang bisa memberikan dukungan peningkatan kinerja dosen, dapat diusahakan melalui dimensi-dimensi gaya kepemimpinan dengan urutan prioritas pengaruh masing-masing dimensi adalah sebagai berikut : gaya

kepemimpinan partisipatif, gaya

otoriter, gaya demokratis, dan gaya birokratis.

Sedangkan implikasi manajerial berhubungan atas budaya organisasi terhadap kinerja dosen adalah 0,66.

Dalam mendukung upaya

mengoptimalkan kinerja dosen.

Budaya organisasi yang dibangun dapat memberikan ruang gerak

perilaku dosen yang lebih

mendorong terhadap peningkatan

kinerja dosen. Dimensi-dimensi

budaya organisasi, sesuai prioritas

yang dapat diusahakan untuk

ditingkatkan adalah toleransi konflik,

pola komunikasi, integrasi dan

dukungan manajemen.

5.2 Saran

1. Kepada pihak Politeknik Anika, Politeknik Akamigas dan Politeknik Darussalam agar kinerja dosen lebih meningkat, pimpinan sebaiknya lebih

memfokuskan perhatiannya kepada

kemampuan dan pengetahuan

tentang Manajemen Leadership

sehingga kepemimpinan yang

dilakukan akan lebih efektif dan tidak monoton sehingga dapat juga memberi dampak pada Budaya Organisasi yang lebih kondusif guna

merangsang dosen dalam

meningkatkan kinerjanya di

Politeknik Anika, Politeknik

Akamigas dan Politeknik

Darussalam.

2. Untuk peneliti selanjutnya

diperlukan 1) gaya kepemimpinan yang sesuai situasi dan kondisi yang sesuai dengan lingkungan akademis di Politeknik Anika, Politeknik

Akamigas dan Politeknik

Darussalam; 2) variabel budaya organisasi terdiri atas Inisiatif individu, toleransi terhadap tindakan, pengarahan, kontrol, identitas, sistem imbalan. Sedangkan 3) variabel kinerja yaitu kemampuan dosen terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realiti (knowledge dan skills)

3. Implikasi manajerial yang dapat

disarankan adalah peningkatan

kinerja dapat dicapai dengan

menciptakan dan menjaga budaya

keterlibatan dalam budaya di

politeknik, yang menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif sejalan dengan memberikan tingkat gaji yang dirasa memuaskan bagi dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Al Rizal, M. Hanif dan Ratnawati, Intan, 2012. Pengaruh Budaya Organisasi dan Kepuasan Kerja

Terhadap Kinerja Karyawan

(Studi Pada Rumah Sakit Panti

Wilasa “Citarum” Kota

Semarang). Journal of

(16)

Armanu, Thoyib, 2005. Hubungan

Kepemimpinan, Budaya,

Strategi, dan Kinerja:Pendekatan Konsep. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 7, No. 1, Maret 2005, h. 60- 73

Binfor et al, Frederick, 2013. The Effect

of Leadership Styles and

Motivation on Employee

Performance in Public

Institutions: Evidence from

Ghana. International journal of Current Reseach, Vol. 5, Issue, 09, pp. 2667–2670.

Cahyono, Ari, 2012. Analisa Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi dan

Budaya Organisasi Terhadap

Kinerja Dosen Dan Karyawan Di Universitas Pawyatan Daha Kediri. Jurnal Ilmu Manajemen, Revitalisasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2012.

Hersey, Paul dan Blanchard, Kenneth

H., 2001. Management of

Organization Behavio: Utilizing Human Resources. New Jersey : Prentice-Hall Inc.

Jasim, Uddin Mohammad, Huq Luva, Rumana & Maroof Hossian, Saad Md, 2013. Impact of

Organization Culture on

Employee Performance and

Produtivity : A Case Study of

Telecommunicatin Sector in

Bangladesh. International

Journal of Business and

Management.

Li. Yueh, Chen, 2004. Examining the Effect of Organization Culture and Leadership Behaviors on Organization Commitment, Job

Satisfaction, and Job

Performance at Small and

Middle-sized Firms of Taiwan.

The journal of American

Academy of Business,

Cambridge

Mas’ud, Fuad, 2004. Survai Diagnosis

Organisasional. Badan Penerbit

Universitas Diponegoro,

Semarang.

Mathis Robert, L., Jackson John H.,

2002. Human Resource

Management (Terjemahan)

Buku 2, Edisi Kesembilan,

Penerbit Salemba Empat,

Jakarta.

Ogbonna, Emmanuel and Harris, Lloyd C, 2000. Leadership Style,

Organizational Culture and

Performance: Empirical

Evidence From UK Companies. International Journal of Human

Resource Management 11:4

August, p.766-788.

Robbins, Stephen P, 2006. Perilaku Organisasi. Edisi kesepuluh, PT Indeks Jakarta.

Shakil Ahmad, M, 2012. Impact Of

Organization Culture On

Performance Management

Practices In Pakistan. Business Intelligence Journal – January, 2012 Vol. 5 No. 1

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian

Administrasi. Alfabeta,

Bandung, Indonesia.

Suit, Jusuf, 1996, “Aspek Sikap Mental

dalam MSDM”, Ghalia

Indonesia, Jakarta.

(17)

T. Hani Handoko, 1995, “Manajemen Personalia dan SDM”, Edisi ke

dua, BPFE, Yogyakarta

Timothy C, Obiwuru, 2011. Effect of

Leadership Style on

Organizational Performance: A Survey of Selected Small Scale Enterprises in Ikosi-Ketu Coucil Development Area of Lagos State, Nigeria. Australia journal of business and management reseach.

Veithzal, Rivai, 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Edisi Kedua PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Waridin dan Masrukhin, 2006,

“Pengaruh Motivasi Kerja,

Kepuasan Kerja, Bidaya

Organisasi, dan Kepemimpinan

Terhadap Kinerja Pegawai”,

Ekobis, Vol.7, No.2.

Widodo, Untung, 2006. Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Bawahan (Studi Empiris Pada Perguruan Tinggi Swasta Di Kota Semarang). Jurnal Fokus Ekonomi, Vol. 1, No. 2 Desember 2006 : 92–108.

Yulk, 1989, “Management Leadership : A Review of Theory and

Research”, Journal of

Gambar

Gambar 1 Kerangka Pemikiran
Tabel 1. Operasional Variabel
Tabel. 3Setelah

Referensi

Dokumen terkait

Efektifitas peningkatan mutu Program Studi adalah kekuatan, kemampuan, dan kebiasaan Prodi dalam mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen Prodi untuk mencapai mutu

[r]

Analisis Teknik Bermain Violin Sonata E Minor K304 First Movement Karya Wolfgang Amadeus Mozart. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Dengan mengambil lebih banyak persegi panjang, dimana tiap persegi panjang lebih kecil dari sebelumnya, maka jumlahan berhingga ini akan memberikan perkiraan yang lebih

Pendekatan kurikulum ada 2 jenis, yang pertama adalah pendekatan top down yaitu pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah pendekatan grass root

Information for Tseng Chipset Users : linear memory base address (MemBase) issues Previous: general options in the XF86Config file. Next:

[r]

Gambar – baik dalam bentuk grafik maupun foto – diberi judul dengan penomoran gambar sesuai dengan urutan kemunculannya dalam naskah.. Judul gambar ditulis