Pembantu Rektor Universitas Palangkaraya yang saya hormati, Bapak Dekan, Pembantu Dekan, Direktur Pasca Sarjana, Asisten
Direktur, Ketua Lembaga Penelitian, dan Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat yang saya hormati,
Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah,
Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palangka Raya, Bapak Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi
Kalimantan Tengah,
Rekan-rekan Dosen yang saya hormati,
Para Tamu dan Hadirin sekalian yang saya muliakan.
Salam sejahtera bagi kita semua,
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan yang diberikan kepada kita untuk mengikuti acara Pengukuhan Guru Besar di Universitas Palangkaraya. Selanjutnya, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pada acara pengukuhan Guru Besar ini yang berjudul:
DESENTRALISASI PENDIDIKAN: PELUANG DAN TANTANGAN, KAJIAN TERHADAP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN PENILAIAN HASIL BELAJAR.
siswa, dan buku pelajaran merupakan faktor-faktor penyebab kesalahan konsepsi pada siswa. Hal ini diperkuat dengan kegiatan pembelajaran di kelas yang lebih didominasi oleh guru, padahal apa yang diucapkan guru di depan kelas belum tentu semuanya dapat dipahami oleh siswa.
Pada umumnya, para guru tidak mengetahui penyebab kesalahan konsepsi tersebut. Salah satu cara untuk mengetahui kesalahan konsepsi ini dilakukan melalui pemberian tes tertulis. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang naik kelas pada setiap tingkatan gagal jika dituntut mengintegrasikan konsep kimia serta alasannya, walaupun mereka mampu menerapkan hukum secara benar. Kegagalan ini terutama disebabkan siswa memiliki algorithmic -dependent. Artinya, kegiatan pembelajaran di kelas cenderung untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan prosedural daripada deklaratif siswa.
Hadirin yang saya hormati,
Kulit Putih merasa mustahil mengajari mereka, sementara orang tua mereka menganggap anak-anak mereka telah dicemari kebudayaan asing”.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang tidak mempertimbangkan lokalitas akan mengingkari hakikat pendidikan itu sendiri, yaitu menjadikan manusia seutuhnya. Tulisan ini mencoba menawarkan pemikiran cara mengatasi permasalahan di atas, khususnya kajian tentang pengembangan bahan ajar dan penilaian hasil belajar, dikaitkan dengan desentralisasi pendidikan.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan usaha sadar yang terencana, terprogram, dan berkesinambungan membantu peserta didik mengembangkan kemampuannya secara optimal, baik aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Berdasarkan pengertian ini, terdapat tiga komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan, yaitu pengelolaan dan pendanaan, serta kurikulum. Pengelolaan dan pendanaan terkait dengan keberlanjutan program, serta kurikulum merupakan dokumen strategi pencapaian tujuan program.
ini antara lain adalah desentralisasi pendidikan. Desentralisasi diartikan sebagai pemindahan sebagian kekuasaan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau lokal. Pengertian ini menggambarkan sejumlah pembaharuan yang bertujuan untuk meningkatkan suara lokal dalam kebijakan. Apabila sentralisasi merupakan respon terhadap kebutuhan untuk persatuan nasional, maka desentralisasi adalah tanggapan atas tuntutan terhadap keberagaman. Artinya, pemerintah menyadari bahwa aspek lokalitas dalam menyelenggarakan pendidikan adalah suatu keniscayaan.
Sejauh ini, kebijakan desentralisasi terhadap ketiga komponen penyelenggaraan pendidikan di atas telah dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah telah diberikan kewenangan dalam pengelolaan, pendanaan, dan pengembangan kurikulum. Pada tingkat sekolah, pemerintah telah memberikan kewenangan antara lain, dalam bentuk Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Pasal 36; 1). Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Pasal 36; 2).
Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Artinya, pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan harus mempertimbangkan potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Bila hal ini dilakukan maka kurikulum pada setiap satuan pendidikan akan memiliki karakter yang sesuai dengan karakter dan potensi tempat pendidikan tersebut diselenggarakan. Oleh karena itu, kurikulum yang dikembangkan di Kalimantan Tengah seharusnya berbeda dengan di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik memang berbeda.
Hadirin yang saya hormati,
Hal ini menjelaskan bahwa guru memiliki otoritas yang kuat dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Otoritas ini belum diikuti oleh pengetahuan guru tentang metode pengembangan tes, sehingga sebagian besar tes buatan guru belum memenuhi standar kualitas tes. Oleh karena itu, informasi yang diberikan melalui tes ini menjadi tidak akurat. Selain itu, pemahaman tentang keutamaan tes prestasi belajar dalam meningkatkan kualitas pendidikan masih kurang dimiliki oleh para pengambil kebijakan, sehingga upaya mengembangkan bank soal secara serius belum pernah dilakukan.
Berdasarkan uraian di atas, mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan potensi/karakteristik, sosial budaya masyarakat, dan peserta didik di Kalimantan Tengah, serta mengembangkan tes prestasi belajar adalah peluang dan sekaligus tantangan bagi para pengambil kebijakan, para akademisi, juga para pemangku kepentingan (stakeholders).
PEMBELAJARAN BERMAKNA
Pengertian ini menjelaskan bahwa bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian merupakan komponen yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan seperti yang yang ditetapkan dalam kurikulum.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Ausabel (Cardellini, 2002) pembelajaran akan bermakna bagi siswa jika ada keselarasan sekuensi psikologis yang berkaitan dengan pembentukan konsep, yaitu dari konkret, pengetahuan personal (personal knowledge), abstrak, menjadi tidak personal (less personal). Oleh karena itu, untuk mengefektifkan konstruksi pengetahuan yang dibuat oleh siswa, guru harus mempertimbangkan pengetahuan awal atau jaringan informasi yang telah dimiliki siswa, sebab ketika mengikuti pelajaran siswa tidak dengan “pikiran kosong”. Pengetahuan awal ini dapat membantu siswa dalam membangun konsep yang baru secara benar, namun seringkali menjadi penghalang dan menimbulkan miskonsepsi. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, pada umumnya guru tidak mempertimbangkan pengetahuan awal ini.
kepada siswa, atau “telling is teaching” (Spencer, 1999). Pembelajaran seperti ini menjadikan guru sebagai otoritas ilmu atau kegiatan belajar mengajar berfokus pada guru (teacher-centered) dan lebih menekankan pada hapalan atau ingatan daripada pemahaman konseptual siswa. Muth & Guzman (2001) melaporkan bahwa 80% kegiatan belajar mengajar di kelas berfokus pada guru, dan dua per tiga siswa belajar tidak efisien ketika mengikuti pelajaran menggunakan pendekatan seperti ini.
Hadirin yang saya hormati,
Berbeda dengan teori behaviorisme, teori konstruktivisme menawarkan pendekatan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Menurut teori ini setiap individu membangun pengetahuannya sendiri secara mandiri dengan cara menggabungkan apa yang sedang dipelajari dengan apa yang diketahuinya (Radford, 1998). Artinya, menurut pandangan konstruktivisme strategi pembelajaran harus menekankan pada proses berpikir siswa dan mengasumsikan pengetahuan awal siswa mempengaruhi proses belajar. Oleh karena itu, pengetahuan awal siswa memegang peranan penting dalam membangun konsep.
sekolah, jika guru di sekolah mengajarkan air sungai (hanya dapat) mengalir dari hulu ke hilir. Hal ini dapat menyebabkan siswa merasa asing selama mengikuti kegiatan tersebut.
Banyak penelitian melaporkan bahwa sebagian besar pengetahuan awal siswa memiliki kesalahan yang sulit dihilangkan. Meiliawati & Sidauruk (2001) melaporkan bahwa sebagian besar siswa SMP dapat menyebutkan hukum kekekalan massa dengan benar, tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa massa gula sebelum dipanaskan dalam tabung reaksi tertutup lebih besar daripada massa gula setelah dipanaskan pada tabung yang sama. Menurut siswa, hal ini terjadi karena selama pemanasan wujud gula berubah menjadi cair dan gas, serta zat yang berwujud gas selalu lebih ringan dari zat yang berwujud padat. Ketika dilakukan penimbangan oleh siswa, sebagian besar dari mereka menjadi percaya bahwa pada pembakaran gula berlaku hukum kekekalan massa, yaitu massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu sama.
Hasil penelitian di atas menjelaskan bahwa salah satu cara untuk menghilangkan kesalahan konsepsi akibat pengetahuan awal siswa adalah dengan menyajikan data yang dapat menimbulkan conflicting data pada struktur kognitif siswa. Data seperti ini sebaiknya digali dari sekitar siswa untuk dijadikan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Data ini dapat berupa peristiwa-peristiwa alam, pengetahuan tradisional (etnosains), atau kearifan lokal.
Sejak dahulu tradisi keilmuan berkembang pesat di negara barat, sehingga sebagian besar konsep sains (semua pengetahuan yang dikumpulkan melalui metode ilmiah) menggunakan istilah (term) barat, khususnya bahasa Inggris. Pada perkembangannya, konsep-konsep ini menjadi konsep baku dalam ranah keilmuan yang dipublikasikan dalam bentuk buku-buku teks. Beberapa dari istilah tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Meiliawati & Sidauruk (2001) melaporkan bahwa terdapat beberapa siswa SMP yang menuliskan “gula lenyuh dalam air” bukan “gula larut dalam air”. Menurut mereka pengertian larut adalah kayu yang hanyut di sungai. Bila tidak jeli, siswa tersebut dapat dicap “bodoh” oleh guru, padahal secara substansi dia benar. Sebaliknya, siswa juga dapat berpikiran gurunya “bodoh” jika tidak ada komunikasi di antara mereka. Guru dan siswa memiliki “dunia” yang berbeda. Untuk menghindari kejadian ini, guru perlu mempertimbangkan latar belakang budaya siswa dalam upaya meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam mainstream classroom.
tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan lingkungan siswa, maka contoh tersebut menjadi abstrak bagi siswa.
Dalam beberapa buku pelajaran biologi tentang topik rantai makanan, salah satu contoh yang populer dan disajikan dalam bentuk gambar adalah peristiwa elang makan ular. Peristiwa ini tidak pernah dilihat oleh anak-anak di sekitar sungai Kahayan, yang sering mereka lihat adalah peristiwa elang makan ikan. Jika kegiatan pembelajaran seperti ini terus terjadi di kelas tanpa ada upaya perbaikan, maka siswa “dipaksa” mengembangkan konsep berdasarkan teori yang seringkali gagal menjelaskan fenomena di sekitarnya.
Hadirin yang saya hormati,
lagi, karena cara membuat mihing tersebut ternyata tidak mudah. Artinya, satu kekayaan sains yang dimiliki masyarakat Dayak hampir (telah?) punah. Jika tidak segera dilakukan rekonstruksi terhadap kekayaan ini dan digunakan sebagai sumber belajar, maka generasi muda tidak akan pernah tahu bahwa pendahulu mereka memiliki pengetahuan yang cukup tinggi.
PENILAIAN HASIL BELAJAR
Penilaian hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar. Oleh karena itu, kualitas informasi yang diberikan oleh hasil pengukuran hasil belajar sangat berperan dalam menentukan suatu kebijakan.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran seperti ini, alat ukur harus memenuhi persyaratan yaitu memiliki bukti kesahihan atau validitas dan bukti keandalan atau reliabilitas (Mardapi, 2002). Bukti kesahihan diperlukan untuk menjawab pertanyaan “apakah alat ukur telah mengukur apa yang hendak diukur?”. Bukti keandalan diperlukan untuk menjawab pertanyaan “apakah alat ukur yang digunakan dapat menghasilkan pengukuran yang ajeg (konsisten)?”. Artinya, kesahihan sangat tekait dengan isi tes dan kehandalan sangat terkait dengan pelaksanaan tes.
dipenuhinya kesahihan tes dapat digambarkan sebagai berikut. Kepada siswa SMU dan siswa kelas 2 SD disuruh mengerjakan soal matematika, yaitu 3x4+5. Apakah siswa SMU yang mengerjakan soal ini dengan benar dapat dikategorikan memiliki kemampuan matematika tinggi (pintar) dan siswa SD yang salah mengerjakan soal ini dapat dikategorikan memiliki kemampuan matematika rendah (bodoh)? Siswa SMU dikategorikan pintar karena soal yang dikerjakan mudah bagi mereka, siswa SD dikategorikan bodoh karena soal yang dikerjakan sukar bagi mereka. Dalam kasus ini terjadi ketidak adilan dalam pengambilan keputusan, yaitu pintar dan bodohnya seseorang ditentukan oleh mudah atau sukarnya soal, bukan berdasarkan kapasitas kemampuan peserta tes. Artinya, soal tersebut belum mengukur apa yang hendak diukur, yaitu mengukur kemampuan matematika yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta tes.
Hadirin yang saya hormati,
Gugatan ini terkait dengan aspek keadilan, yang menjadi pertanyaan adalah adil untuk siapa? Untuk siswa, guru, atau sekolah?. Salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam melakukan tes adalah setiap peserta mendapat kesempatan yang sama. Kesempatan yang sama akan terjadi bila setiap peserta tes beranjak dari kondisi yang sama. Artinya, terdapat keadilan dalam mendapatkan proses pendidikan bagi semua peserta tes. Kenyataannya, kondisi geografis Kalteng menjadi kendala untuk menciptakan keadilan seperti yang diharapkan. Sebagian besar sekolah yang berada di daerah terpencil kurang memadai sarana maupun prasarana untuk mendukung kelancaran proses belajar mengajar, sehingga proses pendidikan tidak sesuai dengan yang ditetapkan. Oleh karena itu, jika UN mengukur substansi materi pelajaran yang cakupannya berdasarkan kurikulum, maka sudah tentu siswa di daerah terpencil akan kesulitan menjawab soal-soal yang diujikan, karena kondisi awalnya tidak menguntungkan. Siswa seperti ini akan di cap “bodoh”, meskipun kapasitas kemampuannya belum tentu rendah. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah “apakah tes tersebut sudah mengukur apa yang hendak diukur?”. Sepertinya menjadi tidak adil jika jawabannya adalah sudah dengan alasan kurikulum yang digunakan sama. Kurikulum hanya sebuah dokumen, pada tataran kelas diperlukan sarana, prasarana, dan strategi untuk menerapkannya.
Akhir Nasional, UAN (sebelum diganti UN) karena siswa mereka semua akan lulus bila hasil UAN (materi tes bidang studi) digunakan sebagai alat untuk menetapkan kelulusan siswa. Beliau mengatakan, De Brito memiliki tradisi tidak pernah meluluskan siswa 100%, seperti yang selalu di”upaya”kan kebanyakan sekolah. Mengapa demikian? Karena capaian kurikulum mereka selalu melebihi cakupan kurikulum yang berlaku.
Untuk mengatasi hal ini perlu diupayakan bentuk tes yang substansinya bukan muatan bidang studi, tetapi potensi dasar yang dimiliki siswa agar berhasil menyelesaikan pendidikan. Banyak penelitian merekomendasikan potensi dasar tersebut adalah kemampuan berhitung, membaca, dan menulis. Hal ini mungkin yang menjadi dasar pemikiran mengapa matematika dan bahasa digunakan sebagai materi tes UN.
Hadirin yang saya hormati,
Apakah tes prestasi belajar dengan substansi mata pelajaran menjadi tidak perlu dilakukan? Tes seperti tetap perlu dilakukan, tetapi hasil tes ini sebaiknya digunakan untuk menentukan keputusan didaktik (yang menyangkut pengajaran) guna memenuhi kebutuhan menyusun kurikulum, peningkatan cara mengajar, pemberian bahan pelajaran tambahan, dan sebagainya.
dikembangkan secara sungguh-sungguh. Akibatnya, sulit memetakan secara objektif topik yang mudah atau sukar dipahami oleh sebagian besar siswa. Kesulitan tersebut hanya sebatas pengetahuan guru tetapi tidak pernah dilakukan upaya yang sistematis untuk memperbaiki kesulitan tersebut. Kadangkala dalam kegiatan pembelajaran, guru berada pada posisi membuktikan kepada siswa bahwa “topik itu sulit”, sehingga tidak perlu diperbaiki.
Hasil tes prestasi belajar juga mencerminkan capaian kurikulum. Oleh karena itu, hasil tes ini dapat juga digunakan sebagai patokan pemeringkatan kualitas sekolah. Pemeringkatan ini dapat kita analogikan dengan pemeringkatan dalam olah raga, misalnya cabang atletik lompat tinggi. Pada cabang ini, tinggi lompatan minimal telah ditetapkan sebagai persyaratan bagi atlet untuk mengkuti pertandingan. Tinggi lompatan ini disesuaikan dengan tingkatan ajang kompetisi, misalnya PORDA (Pekan Olahraga Daerah), PON (Pekan Olahraga Nasional), atau Olimpiade. Secara periodik, tinggi lompatan minimal pada setiap ajang dapat dievaluasi berdasarkan rata-rata tinggi lompatan atlet.
reliabilitas yang sangat tinggi. Hampir setiap orang dapat membuat alat ukur meteran dengan validitas yang tinggi dengan cara membandingkannya dengan alat ukur meteran yang ada dan sudah diakui ketepatannya sebagai alat ukur. Hampir semua orang juga dapat melakukan pengukuran dan menerjemahkan hasil pengukuran dengan akurasi yang tinggi sebagai bukti keandalan alat ukur.
Hadirin yang saya hormati,
Jika setiap mata pelajaran dapat dipetakan tingkat kesulitannya dan setiap sekolah dapat ditentukan peringkatnya, maka strategi peningkatan kualitas pendidikan dapat dirumuskan secara tepat. Kegiatan pengembangan tes prestasi belajar dan menggunakan hasil tes ini untuk merumuskan keputusan didaktik belum dilakukan oleh Pemerintah Daerah sebagai salah satu strategi peningkatan kualitas pendidikan. Padahal kegiatan ini merupakan salah satu peluang bagi Pemerintah Daerah sebagai konsekuensi dari desentralisasi pendidikan.
PENUTUP
Ketua Senat dan Anggota Senat yang saya hormati,
Sebelum saya akhiri pidato ini, izinkanlah saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rektor Universitas Palangkaraya yang telah merekomendasikan saya untuk diusulkan memperoleh jabatan guru besar, Bapak Dekan FKIP Unpar beserta jajarannya, serta para dosen yang telah memotivasi saya dalam melakukan aktivitas akademis, Bapak Kepala Dinas P dan K Provinsi Kalimanta Tengah serta para guru yang telah memberikan kesempatan dan bantuan kepada saya untuk melakukan penelitian di sekolah, serta para undangan sekalian yang telah berkenan hadir dan meluangkan waktu dalam acara pengukuhan ini. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada panitia yang telah bersusah payah menyelenggarakan acara pengukuhan ini. Biarlah Tuhan Yang Maha Baik berkenan membalaskan semua kebaikan Bapak dan Ibu serta para hadirin sekalian.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada istriku Ruli Meiliawati Situmorang beserta anak-anakku Pamela Actinina Srirumata Sidauruk, Rani Oktaviani Sidauruk, dan Toni Salvatio “Parlinggoman Soramuntul” Sidauruk, kesabaran dan doa kalian merupakan tenaga pendorong bagi saya untuk berkarya, you are my own dear familiy.
Terima kasih, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih memberkati kita semua.
Prof. Dr. Suandi Sidauruk, M.Pd.
PUSTAKA ACUAN
Boeree, C. George (2006). Personality Theories; Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia (terjemahan oleh Inyiak Ridwan Muzir). Prismasophie; Yogyakarta.
Cardellini, L.. (2002). An interview with Hans Jürgen Schmidt. Chemistry Education: Research and Practice. 4(1), 11-17
Mardapi, Djemari. (2002). Bukti kesahihan dan keandalan alat ukur: Tanggapan atas artikel “tes keterampilan olah raga judo bagi mahasiswa”. Jurnal Kependidikan. No. 1, tahun XXXII. Lembaga Penelitian UNY. Meiliawati, Ruli & Sidauruk, Suandi (2001). Pengaruh pelaksanaan
demonstrasi terhadap konsepsi Siswa SLTP tentang konsep perubahan materi dan hukum kekekalan massa. Laporan Penelitan; Unpar.
Muth, R. & Guzman, N. (2001). Conceptions and misconceptions in the undergraduate science curriculum. Diambil pada tanggal 26 Oktober 2002 dari http://web.uccs.edu /bgaddis/leadership/topicfocus1D1 .htm.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
Radford, D.L. (1998) Transfering theory into practice: A model for professional development for science education reform. Journal of Research in Science Teaching, 35(1), 73-88.
Sidauruk, Suandi (2001). Mempertimbangkan NEM sebagai alat seleksi, Jurnal Pendidikan, Univ. Palangkaraya.
Sidauruk, Suandi (2007). Kesalahan siswa SMA memahami konsep persamaan reaksi. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran; FKIP UNILA.
Spencer, J.N. (1999) New directions in teaching chemistry: A phlosophical and pedagogical basis. Journal of Chemical Education. 76(4); 566-569. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem