• Tidak ada hasil yang ditemukan

GOLAHAN DAN PENGAWETAN BAHAN MAKANAN SER (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GOLAHAN DAN PENGAWETAN BAHAN MAKANAN SER (1)"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

GOLAHAN DAN PENGAWETAN BAHAN

MAKANAN SERTA PE5RMASALAHANNYA

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan

manusia. Pengolahan dan pengawetan bahan makanan memiliki interelasi terhadap

pemenuhan gizi masyarakat, maka Tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju

maupun berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan yang cukup, aman

dan bergizi. Salah satunya dengan melakukan berbagai cara pengolahan dan pengawetan

pangan yang dapat memberikan perlindungan terhadap bahan pangan yang akan

dikonsumsi.

Seiring dengan kemajuan teknologi, manusia terus melakukan perubahan-perubahan dalam

hal pengolahan bahan makanan. Hal ini wajar sebab dengan semakin berkembangnya

teknologi kehidupan manusia semakin hari semakin sibuk sehinngga tidak mempunyai

banyak waktu untuk melakukan pengolahan bahan makana yang hanya mengandalkan bahan

mentah yang kemudian diolah didapur. Dalam keadaaan demikian, makanan cepat saji

(instan) yang telah diolah dipabrik atau telah diawetkan banyak manfatnya bagi masyarakat

itu sendiri. Permasalahan atau petanyaan yang timbul kemudian adalah apakah proses

pengawetan, bahan pengawet yang ditambahkan atau produk pangan yang dihasilkan aman

dikonsumsi manusia?

Banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi dimasyarakat saat ini mengindikasikan

adanya kesalahan yang dilakukan masyarakat ataupun makaan dalam mengolah dan

mengawetkan bahan makanan yang dikonsumsi. Problematika mendasar pengolahan

makanan yang dilakukan masyarakat lebih disebabkan budaya pengelohan pangan yang

kurang berorientasi terhadap nilai gizi, serta keterbatasan pengetahuan sekaligus desakan

ekonomi sehingga masalah pemenuhan dan pengolahan bahan pangan terabaikan, Industri

makanan sebagai pelaku penyedia produk makanan seringkali melakukan tindakan yang tidak

terpuji dan hanya berorientasi profit oriented dalam menyediakan berbagai produk di pasar

sehinngga hal itu membuka peluang terjadinya penyalahgunaan bahan dalam pengolahan

bahan makanan untuk masyarakat diantaranya seperti kasusu penggunaan belpagai bahan

tambahan makanan yang seharusnya tidak layak dikosumsi,

kasus yang paling menyeruak dikalangan masyarakat baru-baru ini ialah penggunaan

formalin dan borak dibeberapa produk makanan pokok masyarakat dengan bebrbagai dalih

(2)

digunankan terhadap kesehatan masyarakat, hal inilah yang mendorong diperlukannya

berbagai regulasi/peraturan dari instansi terkait Agar dapat melindungi konsumen dari

pelbagai masalah keamanan pangan dan industri pangan diindonesia. Selain Badan

Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang bernaung di bawah Departemen Kesehatan,

pengawasan dan pengendalian juga dilakukan oleh Departemen Pertanian, Departemen

Perdagangan, dan Departemen Perindustria rekonstruksi budaya Selain itu diperlukan juga

adanya rekonsruksi budaya guna merubah kebiasaan dan memberikan pemaham kepada

masyarat akan pentingnya gizi bagi keberlangsungan kehidupan

Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah teknik pengolahan dan pengawetan bahan makanan yang ideal bagi masyarakat?

2. Apa permasalahan gizi yang dihadapi dalam pengolahan dan pengawetan bahan makanan?

3. Bagaimana Upaya pengolahan dan pengawetan bahan makana dalam mempertahankan tekstur rasa, dan nilai gizi yang terkandung didalamnya

4. Bahan tambahan makanan (zat aditif ) apakah yang dapat dijadikan bahan untuk pengolahan dan pengawetan bahan makanan

5. bagaimana pengaruh penggunaan bahan aditif terhadap kesehatan masyarakat? Tujuan

1. Untukmengetahui bagaiman teknik dan cara pengolahan dan pengawetan bahan makanan yang ideal sekaligus implementasinya

2. Untuk mengetahui pelbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam pengolahan dan pengawetan bahan makanan

3. untuk mengetahui strategi dan upaya dalam mengatasi permasalahan gizi dalam pengolahan dan pengawetan makanan.

4. untuk mengetahui berbagai bahan tambahan makanan (BTM) yang aman digunakan dalam pengolahan dan pengawetan makanan.

5. untuk mengetahui pengaruh bahan aditif makanan terhadap kesehatan masyarakat. PEMBAHASAN

Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di

(3)

air suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat

aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. kriteria yang

dapat digunakan untuk menentukan apakah makanan tersebut masih pantas di konsumsi,

secara tepat sulit di laksanakan karena melibatkan factor-faktor nonteknik, sosial ekonomi,

dan budaya suatu bangsa. Idealnya, makanan tersebut harus: bebas polusi pada setiap tahap

produksi dan penanganan makanan, bebas dari perubahan-perubahan kimia dan fisik, bebas

mikroba dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit atau pembusukan (Winarno,1993).

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi

harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat

terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan

Pendinginan

Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2

sampai +10 0 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan

adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C.

Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan

biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung

pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan

untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain antara pendinginan dan

pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh

bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di

biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat

kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap

rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada

suhu penyimpangan yang terlalu rendah.

Pengeringan

pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari

suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan

energi panas. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga

mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan

menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan

menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang

sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih

(4)

keringkan, misalnya tembakau, kopi, the, dan biji-bijian. Di samping

keuntungan-keuntunganya, pengeringan juga mempunyai beberapa kerugian yaitu karena sifat asal

bahan yang di keringkan dapat berubah, misalnya bentuknya, misalnya bentuknya, sifat-sifat

fisik dan kimianya, penurunan mutu dan sebagainya. Kerugian yang lainya juga disebabkan

beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum di pakai, misalnya harus di

basahkan kembali (rehidratasi) sebelum di gunakan. Agar pengeringan dapat berlangsung,

harus di berikan energi panas pada bahan yang di keringkan, dan di perlukan aliran udara

untuk mengalirkan uap air yang terbentuk keluar dari daerah pengeringan. Penyedotan uap

air ini daoat juga di lakukan secara vakum. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika

pemanasan terjadi pada setiap tempat dari bahan tersebut, dan uap air yang di ambil berasal

dari semua permukaan bahan tersebut. Factor-faktor yang mempengaruhi pengeringan

terutama adalah luas permukaan benda, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di

udara, dan waktu pengeringan.

Pengemasan

Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk

pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air. Teknologi

pengemasan perkembangan sangat pesat khususnya pengemas plstik yang dengan drastic

mendesak peranan kayu, karton, gelas dan metal sebagai bahan pembungkus primer.

Berbagai jenis bahan pengepak seperti tetaprak, tetabrik, tetraking merupakan jenis

teknologi baru bagi berbagai jus serta produk cair yang dapat dikemas dalam keadaan

qaseptiis steril. Sterilisasi bahan kemasan biasanya dilakukan dengan pemberian cairan atau

uap hydrogen peroksida dan sinar UV atau radiasi gama.

Jenis generasi baru bahan makanan pengemas ialah lembaran plstik berpori yang disebut

Sspore 2226, sejenis platik yang memilki lubang – lubang . Plastik ini sangat penting

penngunaanya bila dibandingkan dengan plastic yang lama yang harus dibuat lubang dahulu.

Jenis plastic tersebut dapat menggeser pengguanaan daun pisang dan kulit ketupat dalam

proses pembuatan ketupat dan sejenisnya.

Pengalengan

Namun, karena dalam pengalengan makanan digunakan sterilisasi komersial (bukan sterilisasi

mutlak), mungkin saja masih terdapat spora atau mikroba lain (terutama yang bersifat tahan

terhadap panas) yang dapat merusak isi apabila kondisinya memungkinkan. Itulah sebabnya

makanan dalam kaleng harus disimpan pada kondisi yang sesuai, segera setelah proses

pengalengan selesai.

Pengalengan didefinisikan sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara

(5)

yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen

(penyebab penyakit) dan pembusuk. Pengalengan secara hermetis memungkinkan makanan

dapat terhindar dan kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, atau

perubahan cita rasa.

Penggunaan bahan kimia

Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan

dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan

pewarna. Contoh beberapa jenis zat kimia : cuka, asam asetat, fungisida, antioksidan,

in-package desiccant, ethylene absorbent, wax emulsion dan growth regulatory untuk

melindungi buah dan sayuran dari ancaman kerusakan pasca panen untuk

memperpanjangkesegaran masam pemasaran. Nitogen cair sering digunakan untuk

pembekuan secara tepat buah dan sayur sehinnga dipertahankan kesegaran dan rasanya

yang nyaman.

Suatu jenis regenerasi baru growth substance sintesis yang disebut morfaktin telah

ditemuakan dan diaplikasikan untuk mencengah kehilangan berat secara fisiologis pada

pasca panen, kerusakan karena kapang, pemecahan klorofil serta hilangnya kerennyahan

buah. Scott dkk (1982) melaporkan bahwa terjadinya browning, kehilangan berat dan

pembusukan buah leci dapat dikurangi bila buah – buahan tersebut direndam dalam larutan

binomial hangat (0,05%, 520C ) selama 2 menit dan segera di ikuti dengan pemanasan PVC

(polivinil klorida ) dengan ketebalan 0,001 mm.

Pemanasan

penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh

pada bahan pangan. Beberapa jenis bahan pangan seperti halnya susu dan kapri serta

daging, sangat peka terhadap susu tinggi karena dapat merusak warna maupun rasanya.

Sebaliknya, komoditi lain misalnya jagung dan kedelai dapat menerima panas yang hebat

karena tanpa banyak mengalami perubahan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas

yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di

tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan

makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan. Pada proses

pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk,

sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat

pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya

dengan bahan pengawet. Proses pengawetan dapat di kelompokan menjadi 3 yaitu:

pasteurisasi, pemanasan pada 1000 C dan pemanasan di atas 1000 C.

(6)

.fermentasi bukan hanya berfungsi sebagai pengawet sumber makanan, tetapi juga

berkhasiat bagi kesehatan. Salah satumya fermentasi dengan menggunakan bakteri laktat

pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5.0 sehingga dapat

menghambat pertumbuhan bakteri fekal yaitu sejenis bakteri yang jika dikonsumsi akan

menyebabkanakan muntah-muntah, diare, atau muntaber.

Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan

hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan.

tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lacobacillus acidophilus, L fermentum, L

brevis,dll

Asam laktat yang dihasilkan bakteri dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk

menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman.

Namun, selama proses fermentasi sejumlah vitamin juga di hasilnhkan khususnya B-12.

Bakteri laktat juga menghasilkan lactobacillin (laktobasilin), yaitu sejenis antibiotika serta

senyawa lain yang berkemampuan menontaktifkan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri

fekal di dalam tubuh manusia dan bahkan mematikannya , Senyawa lain dari bakteri laktat

adalah NI (not yet identified atau belum diketahui). NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi

3-metil glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD.

Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol dan kanker akan

terhambat.

Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama

menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari. Yang paling terkenal tentu saja adalah

asinan sayuran dan buah-buahan. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi,

bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu

ikan awetan dengan cara fermentasi bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan

tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas

penggunaannya. (F:\Suara Merdeka Edisi Cetak.mht)

h.Teknik Iradiasi

Iradiasi adalah proses aplikasi radiasi energi pada suatu sasaran, seperti pangan. Menurut

Maha (1985), iradiasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk pemakaian energi radiasi

secara sengaja dan terarah. Sedangkan menurut Winarno et al. (1980), iradiasi adalah teknik

penggunaan energi untuk penyinaran bahan dengan menggunakan sumber iradiasi buatan.

Jenis iradiasi pangan yang dapat digunakan untuk pengawetan bahan pangan adalah radiasi

elektromagnetik yaitu radiasi yang menghasilkan foton berenergi tinggi sehingga sanggup

(7)

elektromagnetik  Contoh radiasi pengion yang disebut terakhir ini paling banyak digunakan (Sofyan, 1984; Winarno et al., 1980).

Dua jenis radiasi pengion yang umum digunakan untuk pengawetan makanan adalah : sinar

gamma yang dipancarkan oleh radio nuklida 60Co (kobalt-60) dan 137Cs (caesium-37) dan

berkas elektron yang terdiri dari partikel-pertikel bermuatan listrik. Kedua jenis radiasi

pengion ini memiliki pengaruh yang sama terhadap makanan.

Menurut Hermana (1991), dosis radiasi adalah jumlah energi radiasi yang diserap ke dalam

bahan pangan dan merupakan faktor kritis pada iradiasi pangan. Seringkali untuk tiap jenis

pangan diperlukan dosis khusus untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kalau jumlah

radiasi yang digunakan kurang dari dosis yang diperlukan, efek yang diinginkan tidak akan

tercapai. Sebaliknya jika dosis berlebihan, pangan mungkin akan rusak sehingga tidak dapat

diterima konsumen

Keamanan pangan iradiasi merupakan faktor terpenting yang harus diselidiki sebelum

menganjurkan penggunaan proses iradiasi secara luas. Hal yang membahayakan bagi

konsumen bila molekul tertentu terdapat dalam jumlah banyak pada bahan pangan, berubah

menjadi senyawa yang toksik, mutagenik, ataupun karsinogenik sebagai akibat dari proses

iradiasi.

Tabel 5. Penerapan dosis dalam berbagai penerapan iradiasi pangan

Tujuan Dosis

(kGy)

Produk

Dosis rendah (s/d 1 KGy)

Pencegahan pertunasan

Pembasmian serangga dan

(8)

Pembasmian

mikroorganisme perusak dan

patogen

Perbaikan sifat teknologi

pangan

dosis yang sudah ditetapkan, sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh FAO-WHO-IAEA

pada bulan november 1980. Rekomendasi tersebut menyatakan bahwa semua bahan yang

diiradiasi tidak melebihi dosis 10 kGy aman untuk dikonsumsi manusia.

Untuk memastikan terdapatnya tingkat keamanan yang diperlukan, pemerintah perlu

mengundangkan peraturan, baik mengenai pangan yang diiradiasi maupun sarana iradiasi.

Peraturan tentang iradiasi pangan yang sampai sekarang digunakan antara lain adalah

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 826 Tahun 1987 dan No. 152 Tahun 1995. Peraturan

tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan acuan dalam penyusunan Undang-undang

Pangan No. 7 Tahun 1996.

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0303/20/232600.htm

Permasalahan gizi dalam pengolahan dan pengawetan makanan

Pada pengolahan bahan pangan zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan dapat

mengalami kerusakan bila di olah, karena zat itu peka terhadap PH pelarut, oksigen, cahaya

dan panas atau kombinasinya. Unsu-unsur minor terutama tembaga, besi, dan enzim dapat

mengkatalisis pengaruh tersebut. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai

(9)

oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain. Di dalam

masyarakat ada beberapa macam cara pengolahan dan pengawetan makanan yang di

lakukan kesemuanya untuk meningkatkan mutu makanan yang di maksut dengan tudak

mengurangi nilai gizi yang di kandungnya. Pada dasarnya bahan makanan diolah dengan tiga

macam alasan:

1. Menyiapkan bahan makanan untuk dihidangkan

2. Membuat produk yang di kehendaki termasuk di dalamya nutrifikasi bahan makanan, (contoh: roti)

3. Mengawetkan, mengemas dan menyimpan (contoh: pengalengan)

Pengolahan makanan di lakukan dengan maksut mengawetkan, lebih intensif dari pada

memasak biasa kecuali bahan makanan harus di masak, juga misalnya pada canning,

makanan itu harus di sterilkan dari jasad renik pembusuk. Untuk beberapa jenis makanan,

waktu yang di perlukan untuk proses itu cukup lama, sehingga dapat di pahami mengapa

kadar zat makanan dapat menurun, akan tetapi dengan penambahan zat makanan (nutrien)

dalam bentuk murni sebagai pengganti yang hilang maka hal seperti di atas dapat di atasi.

1. Pengolahan bahan makanan untuk menyiapkan bahan makanan siap hidang

Bahan makanan yang di olah sebelum di masak.

Bahan makanan segar dapat langsung di masak dan kemudian di hidangkan, akan tetapi ada

pula bahan makanan yang harus melalui beberapa cara pengolahan tertentu sebelum dapat

di masak, misalnya beras. Untuk memperoleh beras dari padi, padi itu harus di giling atau di

tumbuk terlebih dahulu. Setelah di giling, beras ini memiliki beberapa proses pengolahan

lainya seperti di simpan, di angkut, di cuci dan sebagainya. Pada proses pengilingan yang di

lakukan dengan cara yang kurang hati-hati dapat terjadi hasil dengan kualitas rendah, karena

butir beras menjadi kecil (beras menir) sehingga terbuang pada proses pemisahan dengan

butir yang tidak pecah. Cara menggiling yang terlalu intensif, sehingga menghasilkan beras

yang putih bersih (polished rice) sangat merugikan karena bagian-bagian yang mengandung

zat makanan dalam konsentrasi tinggi (lembaga dan kulit ari) turut terbuang. Sebaliknya

beras seperti itu tahan lama, sehingga masih di gemari pula.

Presentase beras pecah waktu penggilingan cukup tinggi berkisar antara 8%, ke atas.

Hanyalah pecahan butur-butir kecil, yang ikut terbuang bersama dedak, atau di pisahkan

dengan saringan dari beras yang di jual kepada para kelas pekerja. Sebagian besar dari

butir-butir yang pecah di saring dari derajat kualitas beras yang di jual para pedagang sebagai

beras kualitas tinggi. Bila pembuangan dengan di pertahankan di bawah 8%, hanya butir-butir

(10)

ringan yang mengandung thiamin 2 ug per gram. Berbeda halnya dengan beras yang di

peroleh melalui proses penggilingan, pada proses beras yang hanya di peroleh dari hasil

penumbukan hasilnya beras tumbuk tersebut tidak tahan lama, tetapi dengan cara

menumbuk berbagai zat makanan yang terdapat dalam lembaga dan kulit ari sebagian besar

dapat di pertahankan, sebagai jalan tengah beras dapat di giling dengan cara setengah giling

(half milled rice).

Bahan makanan pada waktu di masak

Di sini hanya akan di bahas secara umum, dengan mengambil beberapa contoh, mengingat

banyak jenis bahan makanan, dan juga banyak cara di lakukan untuk memasak makanan itu.

Sebagai contoh akan kita ambil pengaruh memasak terhadap beras, sayuran, dan daging,

tiga golongan bahan makanan yang paling penting dan dikenal di Indonesia.

1. Memasak nasi

Untuk memudahkan pengangkutan dan penyimpanan maka beras di masukan dalam karung.

Karung ini tidak selalu bersih, banyak di pakai sekali-sekali. Kemudian penjual eceran

menjualnya di toko atau di pasar dalam keadaan terbuka tanpa mengindahkan kemungkinan

pengotoran oleh debu dan lain-lain. Justru karena itulah beras sering kali kotor mangandung

debu, batu-batu kecil dan mungkin masih mengandung gabah serta di hinggapi serangga.

1. Memasak sayuran

Di beberapa daerah di Indonesia sayuran di makan dalam keadaan mentah sebagai lalap.

Kebiasaan makan seperti ini baik sekali, karena memberikan pada menu sehari-hari sejumlah

besar vitamin dan mineral. Tetapi ada biji-bijian yang sebaiknya tidak di makan mentah

karena mengandung zat yang merugikan badan. Sayuran yang sudah di masak berkurang

kadar zat makananya, karena pengaruh berbagai faktor selama memasak. Jumlah vitamin

dan mineral yang dipertahankan tergantung pada sifat yang di miliki oleh zat-zat makanan itu

sendiri serta cara memasakyang di lakukan. Sebagian besar vitamin yang sudah rusak ialah

yang tergolong vitamin yang mudah rusak oleh panas, yang larut dalam air dan yang mudah

di oksidasikan sehingga berubah sifat. Dalam golongan ini yang paling banyak menderita

kerusakan ialah vitamin C. jumlah mineral yang dapat berkurang karena larut dalam air

pemasak terutama karena terdapat asam-asam organik yang mempermudah pelarutan

mineral itu.

Dengan singkat, faktor-faktor yang dapat merendahkan kadar nutrien di dalam sayuran yang

di masak ialah :

(11)

2. bila air perebus ini kemudian bila di buang setelah di pakai, dan tidak terus di pergunakan sebagai bagian dari masakan

3. bila sayuran akan di rebus itu di potong-potong dalam ukuran yang kecil-kecil, dan di biarkan lama sebelum di masak

4. bila air perebus tidak di biarkan mendidih dahulu sebelum sayuran di masukan ke dalamnya

5. bila pada waktu merebus, panci di biarkan terbuka

6. bila di pergunakan panci atau lainya yang terbuat dari logam yang dapat mengkatalisa proses oksidasi terhadap vitamin, misalnya alat-alat yang terbuat dari

besi, tembaga dan lain-lain.

Sangat menarik hal sayuran yang dimasak dalam sedikit lemak (di tumis misalnya), karena

lemak ini dapat meninggikan suhu memasak, sehingga suhu yang diperlukan untuk memasak

menjadi lebih pendek. Berbagai vitaminyang mudah rusak oleh suhu memasak, biasanya

tidak larut dalam lemak dan lemak mungkin dapat melindungi berbagai vitamin yang mudah

di oksidasikan oleh zat asam.

1. Memasak daging

Daging dapat di masak dengan mengoreng, merebus atau dengan di panggang. Pada

umumnya memasak daging tidak akan menurunkan penurunan nilai gizi, bahkan dengan

memasaknya, daya cerna (digestibility) daging jauh lebih baik di bandingkan dengan yang

mentah. Ini di sebabakan oleh berbagai proses yang di akibatkan oleh suhu terhadap protein

(denaturation and coagulation). Suhu memasak dapat menyebabkan terbentuknya zat-zat

dengan aroma yang menarik selera, misalnya bau yang di timbulkan oleh kaldu (boullion),

daging panggang dan sebagainya. Mungkin dengan mamanggang daging dapat terjadi

penurunan kadar zat-zat makanan karena waktu lemak mencair, mungkin terbawa zat-zat

makanan yang larut terbakar di dalam arang dan terjadi ikatan-ikatan organic yang

merugikan tubuh.

Pengolahan bahan makana untuk dijual ke pasar.

Di Indonesia dikenal banyak sekali makanan ynga telah di olah dengan berbagai cara dengan

tujuan memberikan variasi dalam menu sehari – hari. Beberapa dari makanan seperti itu

memilki nilai gizi yasng tinggi. Untuk menaqrik perhatian pembeli sering makanan atau

minuman yang dijual di beri warna. Produsen makanan rakyat sering menggunakan zat warna

yang tidak dipruntukan makanan, karena harganya lebih murah. Yang sering dipergunakan

(12)

Tempe

Tempe terbuat dari kacang kedelai yang memilki kadar protein tnggi. Seperti diketahui

sumber – sumber protein nabati dengan kadar protein yang tinggi, belum tentu tinggi pula

nilai hayatinya. Ini disebabkan oleh lapisan selulosa di dalam jaringan bahan makanan yang

berasal dari tumbuhan yang sukar dicerna. Disamping itu pada berbagai kacang terdapat

berbagai jenis enzim yang mempunyai fungsi bertentangan dengan enzim – enzim

percernaan di dalam tubuh kita (trypsine inhibitor).

Pada pembuatan tempe, jamur yang menumbuhi dapat mencerna sebagian besr selulosa

menjadi bentuk yang lebih muda untuk dicerna oleh tubuh manusia. Juga pada proses

pembuatan tempe, trypsine inhibitor tadi menjadi tidak aktif lagi, sehingga nilai biologi tempe

menjadi lebih baik jika dibandikan dengan kacang kedelai biasa.

Tape singkong

Pada pembuatan tape singkong pada dasarnya ialah proses fermentasi. Hal yang menarik di

sini bahwa hidrosianida (HCN) yang mulanya mungkin terdapat dalam sinkong itu akan hilang

atau a kan tersisa sedikit sekali setelah diubah menjadi tape. Sudah menjadi pengetahuan

umum bahwa keracunan singkong telah membawa banyak korban pada orang – orang yang

tidak mengetahui terdapatnya racun ini pada jenis singkong yang tertentu.

Tahu

Makanan ini terbuat dari kacang kedelai dan merupakan makanan yang relative mahal karena

tersusun dari dispersed protein yang berasal dari kacang kedelai itu. Pada proses

pembuatannya protein kedelai telah di masak dalam waktu yang cukup lama serta di saring,

sehingga hasilnya akan mempunyai daya cerna (digestibility) yang tinggi.

Pindang

Makanan ini di buat dengan cara fermentasi juga. Pada pindang yang baik kualitasnya,

tulang-tulang ikan pun dapat menjadi sedemikian empuk, sehingga dapat di makan.

Kecap

Kecap di buat dari kacang kedelai yang proteinya sebagian besar telah di hidrolisa (oleh

jamur) mendapat campuran asam amino yang mudah di serap.

Ada 6 dasar prinsip pengolahan bahan makanan untuk pengawetan. Keenam prinsip ini

adalah:

(13)

2. Perlakuan panas – blanching, pasteurisasi, dan sterilisasi

3. Perlakuan suhu rendah – pendinginan dan pembekuan

4. Pengendalian makanan – fermentasi dan aditif asam

5. Berbagai macam zat kimia aditif

6. Iradiasi

Prinsip pengawetan bahan makanan didasarkan atas bagaimana caranya memanipulasikan

faktor – faktor linkungan bahan makanan yang dimaksud. Sebagai contoh mikroba

membutuhkan suhu optic untuk pertumbuhannya. Suhu yang lebih tinggi merusak

pertumbuhan sedangkan suhu yanag lebih rendah sanagat menghambat metabolisme.

Metabolisme mikroba memerlukan banyak air vbebes penghilangan air secara biologis aktif

dengan perlakuan pengeringan atau dehidrasi menghentikan pertumbuhan mokroba.

Perlakuan ini juga menurunkan akti fitas enzim dan reaksi – reaksi kimia. Proses ketengikan

lipid akan menurun apabila air sruktural yang melindungi dibiarkan tetap seperti semula.

Pengaruh penuapan air terhadap perubahan zat gizi dalam prose p[engeringan relative kecil

kalau suhu pengeringannya sedang dan bahan makanan dikemas cukup baik. Pengeringan

beku yaitu pengringan sublimasi dalam ruangan vakum pada suhu rendah mnemberikan

keuntungan lebih daripada pengeringan suhu tinggi ditinjau dari sudut pengawetan gizi.

Pengaruh utama perlakuan panas adalah denaturasi protein seperti innaktif mikroba dan

enzim – enzim yang lain. Pasteurisasi membebaskan bahan makan terhadap pathogen dan

sebagian besar sel vegetatif mikroba sedangkan sterilisasi dapat didefinisikan sebagai proses

memnetikan bsemua mikroba yang hidup. Sterilisasi dengan panas merupakn proses

pengawetan makanan yang paling efektif namun mempunyai pengaruh yang merugikan

terhadap zat gizi yang labil, terutuma vitamin – vitamin dan menurunnya nilai gizi protein

terutama pada reaksi mallard.

Pengawetan suhu rendah terutama pengawetan dengan suhu beku ditinjau dari banyak segi

merupakan cara pengawtan bahan makanan yang aling tidak merugikan. Suhu rendah

menghamabat pertumbuhana dan memperlambat laju reaksi kimia dan enzim. Aktifitas enzim

dalam danging dapat dikatakan berhenti dalam penyimpanan suhu beku sedangkan untuk

penyimpanan bahan makanan sala sebelum pembekuana perlu dikukus terlebih dashulu

untuk mencegah perubahan kwalitas yang tidak didinginkan. Susut kandungan vitamin

minimal bila dibandingkan dengan cara pengawetan lain. Penyebab utama kerusakan kualitas

secara keseluruhan terjadi terutama karena kondisi yang kurang menguntungkan pada proses

(14)

Kerusakan bahan makanan yang derajat keasamannya rendah secara relative berjalan cepat.

Pertumbuhan organisme penyebab kerusakan bahan makanan sangata terhambat dalam

lingkungan yang keasamannaya tinggi. Salah satu cara pengawetan bahan makanan adalah

menurunkan Ph bahan makanan tersebut dengan cara fermentasi anaerob senyawa

karbohidrat menjadi asam laktat. Keasaman beberapa beberapa bahan makanan dapat

dinaikkan dengan penambahan asam seperti cuka atau sama sitrat oleh prose fermentasi

kecil. Dalam kandungan zat gizi makanan dapat ditingkatkan terutama melalui sinesis vitamin

dan protein oleh mikroba.

Zat aditif berupa zat kimia mempunyai daya pengawet terhadap bahan makanan karena

menyediakan lingkungan yang menghambat pertumbuhan mikroba reaksi kimia enzimatis

dan kimia. Pengolahan demikian termasuk pola penggunaan agensia kiuring dan pengasapan

produk daging, pengawetan kadar gula tinggi untuk sayuran dan buah-buahan serta

perlakuan dengan berbagai macam zat kimia aditif. Pengaruh cara initerhadap zat gizi

bervariasi namun pada umumnya kecil.

Upaya mengatasi permasalahan gizi dalam pengolahan dan pengawetan makanan

Dalam pengolahan dan pengawetan makanan untuk mencegah hilangnya atau berkurangnya

kandungan gizi dan berubahnya tekstur, rasa, warna, dan bau di lakukan hal-hal sebagai

berikut:

1. Mengunakan teknik pengolahan dan pengawetan yang berorientasi gizi.

1. Memasak nasi

2. Kehilangan thiamin pada nasi dapat di lakukan dengan cara yaitu sebelum di masak hendaknya pencucian yang di lakukan jangan di ulang-ulang cukup 2

kali saja dan cara masaknya dengan meliwet.

3. Memasak sayuran

4. Sebelum di masak sayuran jangan di potong kecil-kecil sebab ruas permukaan yang meningkat akan menyebabkan nilai gizi yang hilang juga banyak.

1. Gunakan air secukupnya

2. Biarkan air yang akan di gunakan untuk merebus mendidih terlebih dahulu sebelum sayuran di masukan.

3. Panci yang di gunakan untuk memasak harus di tutup.

(15)

5. Gunakan air rebusan sebagai kuah.

6. Pengawetan sayuran dengan cara pendinginan harus memperhatikan suhu optimum sayuran yang di maksud agar tidak terjadi pembusukan karena aktifitas

mikroorganisme dan lain-lain.

Contoh: Kol pada suhu 00 C, buncis 7,5-100 C, tepung 7-100C, Wortel 0,1,50 C.

1.

1. Ikan atau daging 1.

1. pink spoilage dapat di cegah dengan mengunakan larutan sodium hypochlorite atau bahan lain yang serupa, dengan dosis tidak lebih dari 500

ppm.

2. Case hardening dapat di cegah dengan cara membuat suhu pengeringan tidak terlalu tinggi, atau proses pengeringan awal tidak terlalu cepat.

3. freezer burn dapat di cegah dengan cara membungkus daging yang di maksud.

Buah

Pada pendinginan buah maka untuk mencegah kehilangan air atau memberi kilap maka kulit

buah di lapisi dengan malam atau parafin.

Susu

Pada susu pasteurisasi yang di lakukan mengunakan suhu <600 C sedangkan untuk

pembuatan es krim menggunakan suhu 71,10 C selama 30 menit atau 82,2 0 C selama 16-20

detik.

1. Suplementasi bahan gizi

Pada dasarnya kehilangan bahan gizi seperti lemak asam amino, vitamin, dan mineral pada

proses pengolahan sudah bisa di tekan seminimal mungkin jika menggunakan teknik

pengolahan yang berorientasi gizi. Kebutuhan tubuh akan bahan gizi yang tidak dapat di

penuhi dari bahan yang kita konsumsi dapat di tambah dengan mengkonsumsi bahan lain

yang mengandung zat yang kita butuhkan. Salah satu cara yaitu dengan mengonsumsi

makanan yang masih segar, sayuran dan lain-lain. Dengan mengkonsumsi buah-buahan

(16)

karena dala buah-buahan dan sayuran segar tersebut sudah terdapat zat gizi seperti lemak,

protein, vitamin, dan mineral.

1. Bahan tambahan makanan (bahan Aditif) dan kesehatan

Bahan tambahan makanan (BTM) didefinisikan sebagai bahan yang tidak lazin dikonsumsi

sebagai makanan, dan biasanya bukan merupakan komposisi khas makanan, dapat bernilai

gizi ataupun tidak, ditambahkan ke dalam makanan dengan sengaja untuk membantu teknik

pengolahan makanan baik dalam proses pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan,

pengepakan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan produk makanan olahan, agar

menghasilkan suatu makanan yang lebih baik atau secara nyata mempengaruhi sifat khas

makanan tersebut.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang praktis dan awet menunjang

berkembangnya penggunaan BTM yang secara bermakna berperan besar dalam rantai

produksi dan pengolahan sejak abad ke-19. Seiring dengan banyaknya laporan kasus

keracunan makanan, Timbul berbagai diskusi dan keprihatinan yang mendalam mengenai

keamanan penggunaan BTM, termasuk bagaimana langkah-langkah pengendalian yang tepat

diperlukan.

Jenis BTM sangat beragam sesuai dengan fungsi dan tujuan penggunaannya, yaitu sebagai

antioksidan, mencegah penggumpalan, mengatur keasamam makanan, pemanis buatan,

pemutih dan pematang tepung, pengemulsi, pengental, pengawet, pewarna, pengeras,

penyedap rasa, penguat rasa, sekuestran, enzim dan penambah gizi, serta fungsi lainnya

seperti pelembab, antibusa, pelarut, karbonasi, penyalut, dan pengisi.

WHO mensyaratkan zat tambahan itu seharusnya memenuhi kriteria sebagai berikut : (1).

Aman digunakan, (2). Jumlahnya sekedar memnuhi kriteri pengaruh yang diharapkan, (3).

Sangkil secara teknologi, (4). Tidak boleh digunakan utnuk menipu pemakai dan jumlah yang

dipakai haruslah minimal. Bahan baku BTM dari bahan sintetik mempunyai kelebihan yaitu

lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Namun demikian ada kelemahannya yaitu sering

terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi

kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogenik, baik pada hewan maupun manusia.

Agar dapat dengan baik melindungi konsumen dari berbagai masalah keamanan pangan dan

industri pangan di Indonesia, berbagai peraturan dikeluarkan oleh instansi terkait. Selain

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang bernaung di bawah Departemen

Kesehatan, pengawasan dan pengendalian juga dilakukan oleh Departemen Pertanian,

Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian.

Suatu jenis BTM menjadi berbahaya bagi kesehatan tidak hanya karena secara obyektif

(17)

penggunaan BTM yang tidak dilarang tetapi dengan ukuran yang berlebihan dan sering

dikonsumsi.

Jenis BTM yang boleh digunakan sepanjang masih sesuai dengan ukuran yang telah

ditentukan. Sedangkan bahan tambahan yang dilarang digunakan pada makanan

berdasarkan Peraturan Menkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 dan perubahannya No.

1168/Menkes/Per/X/1999 adalah Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya, Asam Salisilat dan

garamnya (Salicylic Acid and its salt), Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC), Dulsin

(Dulcin), Kalsium Klorat (Potassium Chlorate), Kloramfenikol (Chloramfenikol), Minyak Nabati

yang dibrominasi (Brominate vegetable oils), Nitrofurazon (Nitrofurazone), Formalin

(Formaldehyde), dan Kalium Bromat (Potassium Bromate).( F:\Republika Online – http–

www_republika_co_id.mht)

Pewarna buatan

Dalam proses pengolahan bahan pangan kadang kala terdapat kecenderungan

penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat

pewarna untuk tekstil dan kulit di pakai untuk mewarnai bahan makanan. Karena adanya

residu logam berat pada zat pewarna tersebut Zat pewarna yang berbahaya dan dilarang

digunakan sebagai BTM, obat-obatan dan kosmetika telah diatur menurut ketentuan

Peraturan Menkes RI Permenkes RI No. 239/Men.Kes/Per/V/85, yaitu;

Nama Batas maksimum penggunaan

Merah (45430) 0,1 g/kg (Es krim), 0,2-0,3 g/kg (jem,

jeli, saus, buah kalengan)

Hijau (42053) 0,1 g/kg (es krim), 0,2 g/kg (jeli,

buah alengan), 0,3g/kg (acar)

Kuning (15985) 0,1 g/kg (es krim0, 0,2 g/kg (jeli,

buah kalengan), 0,3 g/kg (acar)

Coklat (20285) 0,07 g/kg (minuman ringan), 0,3

(18)

Biru (42090) 0,1 g/kg (Es krim), 0,2 g/kg (jeli

buahkalengan), 0,3g/kg (acar)

Serta ada beberapa pewarna lainnya seperti:Auramine, Alkanet, Butter Yellow, Black 7984,

Burn Umber, Chrysoidine, Chrysoine S, Citrus Red No. 2, Chocolate Brown FB, Fast Red E, Fast

Yellow AB, Guinea Green B, Indanthrene Blue RS, Magenta, Metanil Yellow, Oil Orange SS, Oil

Orange XO, Oil Yellow AB, Oil Yellow OB, Orange G, Orange GGN, Orange RN, Orchil and

Orcein, Poncheau 3R, Poncheau SX, Poncheau 6R, Rhodamine B,SudanI, Scarlet GN, dan Violet

6 B.

1.

1.

i.

1. Pengawet buatan

Bahan tambahan Pangan Pengawet boleh digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang

memproduksi pangan yang mudah rusak. Pencantuman label pada produk pangan sesuai

dengan Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Label

pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan,

kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam,

ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.

Label :

1.

1.

Nama produk

Berat bersih atau isi bersih

Nama dan alamat pabrik yang memproduksi atau memasukkan pangan ke wilayah Indonesia.

Pengawet yang diijinkan digunakan untuk pangan tercantum dalam Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, mencakup:

(19)

Asam Benzoat 600/kg (kecap, minumanringan) 1

Kalium Nitrit 50 mg/kg (keju), 500mg/kg (daging)

Bahan pengawet lainnya: Asam

Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi

Benzoat, Natrium Bisulfit Natrium

Metabisulfit, Natrium Nitrat,

Natrium Nitrit Natrium, Propionat

Natrium, Sulfit Nisin

Propil-p-hidroksi, Benzoat um Sulfit

Sehubungan dengan teka-teki yang muncul menyangkut keamanan penggunaan bahan

pengawet dalam produk pangan, maka berikut disajikan kajian keamanan beberapa pengawet

yang banyak digunakan oleh industri pangan

Tabel Pengaruh beberapa bahan pengawet terhadap kesehatan

Bahan

Dapat menyebabkan reaksi

merugikan pada asmatis

dan yang peka terhadap

(20)

Sulfur

daging asin, pikel daging

Nitrit dapat mempengaruhi

kemampuan sel darah

Produk roti dan tepung Migrain, kelelahan, kesulitan

tidur

Produk daging dan keju Dapat menyebabkan mual,

muntah, tidak nafsu

Menyebabkan penyakit hati

(21)

formalin Tahu, Mie Basah Kanker paru-paru,

Gangguan pada

jantung,Gangguan pada alat

pencernaan, Gangguan

pada ginjal, dll.

Boraks

atau

Pijer

Baso, mie Gangguan pada kulit,

Gangguan pada otak,

Gangguan pada hati, dll

Mencermati kemungkinan gangguan kesehatan seperti yang tercantum dalam Tabel 1, maka

FDA mensyaratkan kepada produsen pangan untuk membuktikan bahwa pengawet yang

digunakan aman bagi konsumen dengan mempertimbangkan:

Kemungkinan jumlah paparan bahan pengawet pada konsumen sebagai akibat mengkonsumsi produk pangan yang bersangkutan.

Pengaruh komulatif bahan pengawet dalam diet.

Potensi toksisitas (termasuk penyebab kanker) bahan pengawet ketika tertelan oleh manusia atau binatang.

Problematika yang sering terjadi dalam penggunaan bahan pengawet

Penggunaan Tidak sesuai dalam ketentuan Depkes

Kadar akumulatif tidak pernah dikonfirmasikan dengan DAILY INTAKE

Penggunaan bahan ilegal (Borak dan formalin)

Namun demikian perlu diperhatikan hal-hal penting dalam menggunakan bahan tambahan

pangan pengawet adalah :

oPilih pengawet yang benar/yang diijinkan untuk dalam pangan serta telah

terdaftar di Badan POM RI.

oBacalah takaran penggunaannya pada penandaan/label.

oGunakan dengan takaran yang benar sesuai petunjuk pada label.

oMembaca dengan cermat label produk pangan yang dipilih/dibeli serta

(22)

bahan pengawet. Contoh BTP Pengawet lengkap dengan penandaan dan

takaran penggunaannya.

oPemanis buatan

Pemanis yang termasuk BTM adalah pemanis pengganti gula (sukrosa).Pemanis, baik yang

alami maupun yang sintetis, merupakan senyawa yang memberikan persepsi rasa manis

tetapi tidak (atau hanya sedikit) mempunyai nilaigizi (non-nutritive sweeteners).

Mekanisme Kerja Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai pemanis,kecuali berasa manis, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, sepert (1) larut dan stabil dalam kisaran

pH yang luas, (2) stabil pada kisaran suhu yang luas, (3) mempunyai rasa manis dan tidak

mempunyai side atau after-taste, dan (4) murah, setidak-tidaknya tidak melebihi harga gula.

Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun demikian,

senyawa-senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu memiliki sistem

donor/akseptor proton (sistem AHs/Bs) yang cocok dengan sistem reseptor (AHrBr) pada

indera perasa manusia.

Beberapa pemanis buatan yang direkomendasikan oleh Depkes RI

Nama Batas maksimum penggunaan

Sakarin (300-700x manis gula) 100mg/kg (permen), 200mg/kg (Es

krim,jem,jeli)., 300 mg/kg (saus, Es

lilin, minuman ringan, minuman

yogurt)

Siklamat (30-80x manis gula) 1 g/kg (permen), 2 g./kg ((Es

krim,jem,jeli), 3mg/kg (saus, lilin,

minuman ringan, minuman yogurt

Citarasa buatan (Penyedap rasa dan aroma)

Cita rasa bahan pangan terdiri dari tiga komponen bau, rasa, dan rangsangan mulut. Untuk

membangkitkan tiga komponen ini maka dalam lahan pangan biasanya dalam proses

pengolahan di tambahka cita rasa tiruan (sintetik), misalnya amil asetat menyerupai aroma

pisang, vanillin memberikan aroma serupa dengan aksetat vanili, dan amil kaproat

(23)

di gunakan adalah asam amino L atau garamnya, misalnya monosodium glutamate (MSG)

dan jenis nukleotida seperti IMP dan GMP.

Beberapa cita rasa buatan yang direkomendasikan Sdepkes RI diantaranya tertera dalam

tabel dibawah ini:

Nama Batas penggunaan maksimum

Monosodium glutamat (MSG) Secukupnya

Vanilin (panili) 0,7 g/kg produk siap kosumsi

Benzadehida (Cherry) Secukupnya

Aldehida sinamat) Secukupnya

Mentol (mint) Secukupnya

Eugenol (rempah-rempah) Secukupnya

Benzilasetat (strawbery) Secukupnya

Amil asetat (pisang) Secukupnya

Penstabil

Proses pengolahan, pemanasan atau pembekuan dapat melunakan jaringan sel tanaman

sehingga produk yang di peroleh mempunyai tekstur yang lunak. Untuk memperoleh tekstur

yang keras, dapat di tambahkan garam (0,1-0,25% sebagai ion Ca). ion kalsium akan

berkaitan dengan pectin membentuk Ca-pektinat atau Ca-pektat yang tidak larut. Pada

umumnya untuk maksud tersebut di gunaka garam-garam Ca seperti CaCl2 Ca-sitrat,CaSO4,

Calaktat, dan Ca-monofosfoat. Hnya sayangnya garam-garam kalsium ini kelarutanya rendah

dan rasanya pahit.

(24)

Salah satu yang membuat geger massyarakat Baru-baru ini adalah penemuan kandungan

formalin dan Borak pada sejumlah produk makanan, dan sebagian besar pada jenis mi, tahu,

bakso dan juga ikan asin, yang selama ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Formalin

adalah zat kimia yang mengandung unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, dan mempunyai

nama lain formaldehid. Secara fisik terdapat dalam bentuk larutan tidak berwarna dengan

kadar antara 37-40%. Formalin biasanya mengandung alkohol/metanol 10-15% yang

berfungsi sebagai stabilisator untuk mencegah polimerisasi formaldehid menjadi

paraformaldehid yang bersifat sangat beracun. Karakteristik dari zat ini adalah mudah larut

dalam air, mudah menguap, mempunyai bau yang tajam dan iritatif walaupun ambang

penguapannya hanya 1 ‰, mudah terbakar bila kontak dengan udara panas atau api, atau

bila kontak dengan zat kimia tertentu. Di pasaran tersedia dalam bentuk sudah diencerkan

maupun dalam bentuk padat.

Pemakaian formalin

Formalin bersifat desinfektan, kuat terhadap bakteri pembusuk dan jamur. Oleh karena itu gas

formalin dipakai oleh pedagang bahan tekstil supaya tidak rusak oleh jamur atau ngengat.

Selain itu formalin juga dapat mengeraskan jaringan sehingga dipakai sebagai pengawet

mayat dan digunakan pada proses pemeriksaan bahan biologi maupun patologi.

Dampak formalin terhadap kesehatan

Formalin terbukti bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker pada hewan percobaan, yang

menyerang jaringan permukaan rongga hidung. Bila dilihat dari respon tubuh manusia

terhadap formalin, efek yang sama juga dapat terjadi

Regulasi terkait formalin

Formalin yang bersifat racun tersebut tidak termasuk dalam daftar bahan makanan tambahan

(BTM) yang dikeluarkan oleh badan internasional maupun oleh Departemen Kesehatan.

Menurut UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan

konsumen, distorsi penggunaan formalin secara sengaja dalam produk makanan dapat

diancam pidana penjara maksimal lima tahun atau denda maksimal Rp. 600 juta. Demikian

juga Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999 melarang penggunaan

formalin dalam makanan.

PERSPEKTIF AL QUR’AN

(25)

88. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan

kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

         

8. Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak

(pula) mereka itu orang-orang yang kekal.

                          

33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami

hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka

makan.

                 

168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan

janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah

musuh yang nyata bagimu.

KESIMPULAN

Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di

dalamnya sebagai faktor utama penyebab kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar

air suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat

aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak.

untuk mengawetkan makanan dapat dilakukan dengan beberapa teknik baik yang

menggunakan teknologi tinggi maupun teknologi sederhana. Caranya pun beragam dengan

berbagai tingkat kesulitan. Namun inti dari pengawetan makanan adalah suatu upaya untuk

menahahn laju pertumbuham mikroorganisme pada makananm

jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan itu ada 5 :

1. pendinginan

2. pengeringan

3. pengalengan

(26)

5. penggunaan bahan kimia

6. pemanasan

7. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai pembawa atau media zat gizi yang di dalamya banyak mengandung zat-zat yang di butuhkan oleh tubuh

seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain

8. Penggunaan zat aditif (tambahan) dalam makanan dan minuman sangat berbahaya bagi kesehatan masyaratkan, terutama zat tambahan bahan kimia sintetis yang

toksik dan berakumulasi dalam tubuh untuk jangka waktu yang relatif lama bagi yang

menggunakannya.

1. Keracunan makanan bisa disebabkan oleh karena kelalaian dan

ketidaktahuan masyarakat dalam

pengolahannya , seperti keracunan

singkong.

2. Keracunan makanan bisa juga disebabkan oleh kondisi lingkungan

yang memungkinkan mikroba untuk

berkembang biak lebih cepat, seperti

karena faktor fisik, kimia dan biologis

SARAN

Bagi produsen makanan hendaknya jangan hanya ingin mendapat keuntungan yang besar

tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsinyayaitu

dengan menggunakan zat aditf yang tidak membahayakan bagi kesehatan

Bagi Dinas kesehatan c/q Pengawasan makanan dan minuman hendaknya sebelum

mengeluarkan nomor registrasi mengetahui kandungan zat yang ada didalamnya terutama

yang membahayakan kesehatan.

Bagi instansi terkait hendaknya memberikan informasi kepada khalayak luas tentang bahan

kimia atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam makanan dan

minuman yang mengganggu kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, MAK. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi; malang UMM press

(27)

Fareliaz, Srikandi. Mikrobiologi Pangan, jakarta; Gramedia pustaka

Winarno, F.G.I. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan konsumsi. Jakarta; Gramedia Pustaka.

IKLAN

CV ZAIF ILMIAH (BIRO JASA PEMBUATAN PTK, KARYA ILMIAH, PPT PEMBELAJARAN, RPP,

SILABUS, DLL))

Ingin membuat PTK tapi merasa sulit????

Ingin membuat Karya Ilmiah tetapi kesusahan???

Ingin membuat presentasi powerpoint untu pembelajaran merasa sulit dan gaptek?????

Ingin membuat RPP dan silabus serta perangkat pembelajaran tetapi susah?????

Kini tidak usah bingung lagi ada Pak Zaif yang siap membantu berbagai kesulitan dan

kesusahan yang anda hadapi di bidang pendidikan di CV Zaif Ilmiah semua masalah anda di

bidang pendidikan akan dibantu, ingin membuat PTK saya bantu, membuat Karya Ilmiah saya

bantu, membuat berbagai perangkat pembelajaran saya bantu untuk info lebih lanjut hubungi

Contact Person 081938633462

INSYA ALLAH semua kesulitan dan kesusahan anda akan ada solusinya jangan lupa hubungi

Pak Zaif di nomer 081938633462 ATAU lewat E-mail di [email protected]

TERIMA KASIH DAN SALAM SUKSES

(28)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Bahan pangan olahan adalah bahan makanan segar dan kering yang

mengalami pengolahan untuk mempertahankan mutu gizi maupun

organoleptik. Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses

dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan

(PP No. 28/2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan).

Daging sapi merupakan sumber protein hewani, mudah rusak oleh

aktivitas bakteri pengurai protein. Kualitas daging sangat menentukan

mutu produk olahanya daging yang dipasar terbagi dalam 3 kelas :

· Daging yang tebal dengan jaringan lemak dan ikat yang sedikit

· Daging tipis, banyak lemak, dan jaringan ikat yang agak banyak

· Daging tetelan, dagig yang banyak mengandung jaringan ikat dan

atau lemak

Salah satu hasil pengolahan setengah jadi daging adalah dendeng,

macam-macam hasil olahan daging dan unggas adalah dendeng, sosis,

nugget, corned beef dan bakso yang bisa terbuat dari daging ayam

maupun daging sapi.

Oleh karena itu usaha pengolahan panganan merupakan cara untuk

mengurangi kerusakan daging pasca panen sekaligus memperoleh nilai

tambah dari produk yang dihasilkan. Pengolahan daging seperti halnya

pengolahan bahan lainya bertujuan untuk memperpanjang umur simpan,

memperbaiki sifat organoleptik, menambah variasi bentuk hasil olahan

daging, memungkinkan tersedianya produk daging setiap saat serta

menghemat waktu dan energy untuk persiapan daging sebelum

(29)

berbagai produk antara lain delikatesen, sosis, korned, dendeng,

abon, steak.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan

masalah sebagai berikut :

a. Apa pengertian daging dan bagaimana kualitasnya ?

b. Apa saja komposisi mikrobiologis dalam daging ?

c. Bagaimana proses pengolahan daging sapi ?

d. Apa contoh produk olahan bahan dari daging sapi ?

I.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai

pengembangan produk olahan daging sapi yang sudah beredar

dimasyarakat.

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 DAGING DAN KUALITASNYA

Menurut Soeparno (2005), daging adalah semua jaringan hewan dan

semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang dapat

dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang

mengkonsumsinya. Organ-organ misalnya hati, paru-paru, limpa,

pankreas, otak, jantung, ginjal dan jaringan otot termasuk dalam definisi

ini. Lawrie (1998) mendefinisikan daging dalam arti khusus sebagai

bagian dari hewan yang digunakan sebagai makanan.

Kualitas daging diartikan sebagai sejumlah sifat yang menentukan

daging itu yang berpengaruh terhadap penerimaan konsumen. Warna,

daya mengikat air, dan beberapa aroma daging dapat dideteksi baik

sebelum maupun sesudah pemasakan dan akan memberikan sensasi

yang lebih lama terhadap konsumen dibandingkan dengan juiciness,

tekstur, keempukan, rasa, dan kebanyakan aroma yang terdeteksi saat

pengunyahan (Lawrie, 1998).

(30)

jenis kelamin, stress, dan faktor postmortem yang meliputi pelayuan, dan

pembekuan termasuk faktor lama dan suhu penyimpanan, metode

pengolahan, ermasuk pemasakan, dan penambahan bahan

pengempuk. Semakin halus teksturnya maka daging semakin empuk

(Soeparno, 2005).

Penyimpanan daging pada suhu beku merupakan salah satu cara

untuk memperpanjang umur simpan daging. Penggunaan suhu yang

rendah dalam penyimpanan daging yang dikemas diketahui dapat

mengurangi resiko kontaminasi mikroba, namun tidak dapat

menghilangkanya. Keuntungan disimpa dalam suhu beku adalah dalam

memperpanjang waktu simpan dan dalam menghambat

perubahan-perubahan kimiawi daging. Cenderung diimbangi dengan eksudasi cairan

atau drip dalam proses pencairan kembali atau yang dikenal

dengan thawing (Lawrie, 1998).

2.2 MIKROBIOLOGI DAGING

Daging sangat memenuhi persyaratan sebagai media untuk

perkembangan mikroorganisme, termasuk mikroorganisme perusak atau

pembusuk. Hal ini disebabkan daging :

1). Mempunyai kadar air yang tinggi (kira-kira 68 %-75%).

2). Kaya akan zat yang mengandung nitrogen dengan kompleksitas yang

berbeda.

3). Mengandung sejumlah karbohidrat yang dapat difermentasikan.

4). Kaya akan mineral dan kelengkapan faktor pertumbuhan

mikroorganisme.

5). Mempunyai pH yang menguntungkan bagi sejumlah mikroorganisme

yaitu dalam kisaran 5,3-6,5 (Soeparno, 2005).

2.3 PROSES PENGOLAHAN DAGING

2.3.1. Pemeriksaan Ante-mortem

(31)

penyakit menular atau penyakit cacing yang dapat menulari manusia

dilarang untuk disembelih.

2.3.2. Penyembelihan

Penyembelihan adalah usaha untuk mengeluarkan darah hewan

dengan memotong pembuluh darah pada bagian leher (vena

jugularis). Dalam beberapa hal dilakukan pemingsanan hewan terlebih

dahulu sebelum penyembelihan dengan cara memukul atau menembak

daerah otak pada bagian kepala atau dengan menggunakan aliran listrik

dengan tujuan agar hewan tidak meronta pada waktu penyembelihan.

Untuk memperoleh daging yang berkualitas baik, faktor-faktor yang harus

diperhatikan pada waktu penyembelihan hewan adalah sebagai berikut :

a. Permukaan kulit hewan harus dalam keadaan bersih.

b. Hewan harus dalam kondisi prima, tidak lelah, tidak kelaparan dan

tenang.

c. Pengeluaran darah harus berlangsung dengan cepat dan sempurna.

d. Perlakuan-perlakuan yang menyebabkan terjadinya memar dan luka

pada

jaringan otot harus dihindari.

e. Kontaminasi dengan mikroorganisme harus dihindari dengan

menggunakan

alat-alat yang bersih.

2.3.3. Penyiangan dan pemeriksaan Pasca-mortem.

Setelah penyembelihan, kepala dipisahkan pada batas tulang kepala

dengan tulang leher pertama, kaki pertama dipotong pada persendian

metetarsus, kaki belakang dipotong pada persendian metacarpus, jeroan

dikeluarkan dengan membuka bagian bawah perut secara membujur dan

keudian dikuliti. Daging yang masih menempel pada tulang kerangka hasil

dari penyiangan ini disebut karkas. Khusus pada babi dan unggas tidak

dilakukan pengulitan, akan tetapi dilakukan pencabutan bulu dengan cara

mencelupkan kedalam air mendidih selama beberapa menit sehingga

bulunya mudah dicabut (scalding). Setelah penyiangan , dilakukan

pemeriksaan pasca mortem terhadap karkas dan jeroan (hati, jantung,

limpa, ginjal dan usus) untuk meyakinkan bahwa karkas tersebut tidak

mengandung penyakit yang dapat ditularkan kepada konsumen melalui

daging.

2.3.4. Pelayuan

(32)

pada daging setelah hewan mati dapat berlangsung secara sempurna

sebelum daging tersebut dikonsumsi. Pelayuan ini harus dilakukan untuk

memperoleh daging dengan keempukan dan cita rasa yang baik sebagai

hasil dari proses-proses biokimia yang berlangsung selama pelayuan.

Untuk mencegah terjadinya pembusukan, pelayuan sebaiknya

dilakukan untuk mencegah terjadinya pembusukan, pelayuan sebaiknya

dilakukan pada suhu rendah (3,6ºC – 4,4ºC) selama sekitar 12 – 24 jam

untuk karkas hewan kecil (babi, kambing dan domba) dan sekitar 24 – 48

jam untuk karkas hewan besar (sapi dan kerbau). Untuk karkas unggas

pelayuan tidak perlu dilakukan oleh karena proses-proses biokimia pada

daging unggas yang telah mati berlangsung lebih singkat, yaitu selama

penyiangan. Apabila pelayuan dilakukan pada suhu yang lebih tinggi,

waktunya harus lebih singkat agar tidak terjadi pembusukan daging.

2.3.5. Pemotongan Karkas

Kecuali karkas unggas, karkas hewan mamalia dibagi menjadi dua

sisi melaui tulang punggung. Kecuali karkas sapi dewasa, setiap sisi

karkas selanjutnya dipotong menjadi potongan-potongan eceran (retall

cuts) menurut cara yang bervariasi untuk setiap negara. Pada karkas sapi

dewasa, setiap sisi karkas dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian

perempat daun (fore qarter) dan bagian perempat belakang ( hind qarter).

Cara pembagian ini bervariasi, yang mana pada satu cara pembagian

semua tulang rusuk diikutkan kebagian perempat depan, sedangkan pada

cara pembagian yang lain satu atau dua tulang rusuk diikutkan kebagian

perempat belakang. Selanjutnya, bagian perempat depan dan bagian

perempat belakang ini dipotong menjadi potongan-potongan eceran

(retail cuts) menurut cara yang bervariasi untuk setiap negara. Cara

pemotongan karkas yang dilakukan di negara-negara maju atau menurut

standar Internasional belum banyak dilakukan di Indonesia, kecuali oleh

perusahaan-perusahaan daging yang menyuplai daging ke hotel-hotel

atau “supermarket”.

(33)

Bakso atau baso adalah makanan berupa bola daging. Bakso

umumnya dibuat dari campuran daging sapidan tepung tetapi ada juga

yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Untuk jenis baksodaging sapi,

ayam, dan ikan sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk frozen yang

dijual di minimarket, supermarket, swalayan dan mall. Dalam

penyajiannya bakso biasa dsajikan dengan kuah kaldu dan mi. Ada

beberapa pedagang yang dalam proses pembuatanya menggunakan

boraks atau bleng untuk membuat tepung lebih kenyal mirip daging, hal

ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh

BPOM.

Pembuatan bakso terdiri dari tahap pemotongan daging, penggilingan

daging, penghalusan daging giling sekaligus pencampuran dengan bahan

pembantu dan bumbu, pencampuran dengan tepung tapioka dan sagu

aren, pembentukan bola-bola dan perebusan.

Perebusan bakso dilakukan dalam dua tahap agar permukaan bakso yang

dihasilkan tidak keriput dan tidak pecah akibat perubahan suhu yang

terlalu cepat.Tahap pertama, bakso dipanaskan dalam panci berisi air

hangat sekitar 60

o

C sampai 80

o

C, sampai bakso mengeras dan

terapung.Tahap kedua, bakso direbus sampai matang dalam air mendidih.

(34)

Sosis adalah makanan yang terbuat dari daging cincang, lemak

hewan dan rempah serta bahan-bahan lain. Sosis umumnya dibungkus

dalam suatu pembungkus yang secara tradisional menggunakan usus

hewan, tapi sekarang kebanyakan menggunakan bahan sintesis serta

diawetkan dengan suatu cara, misalnya pengasapan. Pembuatan sosis

merupakan suatu teknik produksi dan pengawetan makanan yang telah

dilakukan sejak lama. Dibanyak Negara, sosis merupakan toping popular

untuk pizza.

Komposisi nilai gizi pada sosis yang sesuai dengan Standar Nasional

Indonesia (SNI 01-3820-1995), dengan ketentuan sebagai berikut :

a.

memiliki kadar air maksimal 67%

b.

memiliki kandungan abu maksimal 3%

c.

memiliki kandungan protein minimal 13%

d.

memiliki kandungan lemak maksimal 25%

e.

memiliki kandungan karbohidrat maksimal 8%

Namun dibalik kelezatan sepotong sosis, perlu diwaspadai pula

bahaya yang dapat ditimbulkan bagi kesehatan. Pada beberapa jenis

produk sosis mengandung kadar lemak dan kolesterol serta sodium yang

cukup tinggi yang berpotensi dapat menyebabkan timbulnya penyakit

jantung, stroke, maupun hipertensi apabila dikonsumsi secara berlebihan.

(35)

Dendeng adalah daging yang dipotong tipis menjadi serpihan yang

lemaknya dipangkas, dibumbui dengan saus asam, asin atau manis

dengan dikeringkan dengan api kecil atau dijemur. Hasilnya adalah daging

yang asin dan semi manis yang tidak perlu disimpan di lemari es.

d.Kornet

Daging kornet atau cornet beef adalah daging sapi yang diawetkan

dalam brine yang kemudian dimasak dengan cara simmering. Biasanya

digunakan potongan daging yang seratnya memanjang seperti brisket.

Nama cornet beef berasal dari garam kasar yang digunakan. Corn artinya

butiran, yaitu butiran garam.

(36)

Steak atau bistik adalah sepotong daging besar biasanya daging sapi.

Daging merah, dada ayam dan ikan sering kali dijadikan steak.

Kebanyakan steak dipotong tegak lurus dengan fiber otot, menambah

kelegitan daging. Steak biasanya dipanggang meskipun dapat digoreng

atau dibroil.

f.Abon

Abon merupakan makanan yang praktis dan siap saji. Abon dapat

disajikan bersama nasi, roti, atau sebagai pengisi kue kering. Abon bisa

terbuat dari daging. Umumnya daging sapi atau kerbau. Abon tergolong

produk olahan daging yang awet. Untuk mempertahankan mutunya

selama penyimpanan, abon dikemas dalam kantong plastik dan ditutup

dengan rapat. Dengan cara demikian, abon dapat disimpan pada suhu

kamar selama beberapa bulan.

Pembuatan abon terdiri dari perebusan daging, penumbukan daging,

pembentukan serat daging halus, penambahan bumbu, dan pengeringan.

Perebusan dan penumbukan daging bertujuan untuk memudahkan

(37)

Sebagaimana bahan aslinya yaitu daging, abon merupakan sumber

protein. Abon terbuat dari daging yang tidak berlemak, namun kandungan

lemak pada abon masih cukup tinggi, karena adanya proses

penggorengan dalam pengolahan daging menjadi abon. Mutu protein

pada abon terbilang lebih rendah dibanding dengan daging, disebabkan

dalam pembuatan abon terdapat proses pencokelatan (browning). Reaksi

browning menyebabkan protein bereaksi dengan karbohidrat sehingga

susah dicerna oleh enzim pencernaan. Kandungan gizi yang terkandung

dalam 10 gram abon sapi murni:

Komposisi

Nilai

Energi

212 Kkal

Protein

18 gram

Lemak

10.6 gram

Karbohidrat

59.3 gram

Kalsium

150 mg

Fosfor

209 mg

Besi

12.3 mg

Vitamin A

138 RE

Vitamin B1

0.17 mg

Air

7.1

%

Gambar

Tabel 5.  Penerapan dosis dalam berbagai penerapan iradiasi pangan
Tabel Pengaruh beberapa bahan pengawet terhadap kesehatan
tabel dibawah ini:

Referensi

Dokumen terkait

Pada Tugas Akhir ini, akan dirancang sebuah layout VLSI ( Very Large Scale Integration ) untuk komponen unit kontrol yang berguna untuk mengatur datapath dengan mengirimkan

Dari tabel di atas, maka dapat diketahui pengaruh kecepatan laju aliran terhadap laju erosi material carbon steel A53 Gr B yang ditunjukkan dalam bentuk grafik pada

(a) Daun trifoliat pertama kedelai yang diinokulasi dengan spora penyakit karat (foto: Sumartin, 2010), dan (b) pustul atau uredium pada daun dilihat dari dekat

Tiap-tiap silinder pasti dilengkapi minimal dengan dua katup yaitu katup masuk dan katup buang.Konstruksi katup terdiri dari kepala katup (valve head) dan batang

Hal tersebut diakibatkan pada uji persepsi yang pertama target modifikasi belum berterima semuanya pada penutur Jawa Surabaya, oleh karena itu dilakukan modifikasi

Jumlah DMU efisien paling banyak pada tahun 2007, hal ini diperkuat dengan nilai rata-rata efisiensi pada tahun tersebut yang juga merupakan nilai efisiensi

1 Sistem membantu para travel agent untuk dapat menjual tiket 2 Sistem dapat dengan mudah.. dimasukkan ke dalam sistem online milik

Hal ini berarti dari hasil ANOVA di atas menunjukkan bahwa ekstrak tunggal, dosis kombinasi ekstrak daun dewandaru dengan metformin yaitu 75, 150 dan 300 mg/200