Pengaruh Jumlah Uang Beredar, Suku Bunga Deposito, dan
Gross Domestic Product (GDP) Terhadap Inflasi di Indonesia
Tahun 1980-2013
Oleh :
1.
Meylinda Sulfiana Putri
120231100067
2.
Sony Wicaksono
120231100064
3.
Dony Herlanda M
120231100044
4.
Anita Suhartini
120231100057
5.
Aliyummah T
120231100063
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonometrika
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BAB I
LATAR BELAKANG
Pembangunan ekonomi pada dasarnya bertujuan untuk memberikan kesejahteraan
yang sebesar-besarnya bagi rakyat. Sudah menjadi tugas pemerintah untuk menjaga stabilitas
perekonomian suatu negara. Namun untuk mewujudkan stabilitas di bidang perekonomian
tidaklah mudah, setiap negara tentu pernah mengalami masalah dalam perekonomiannya.
Masalah perekonomian makro yang sering terjadi pada suatu negara biasanya tidak terlepas
dari masalah inflasi, pengangguran, dan ketimpangan neraca pembayaran. Fenomena inflasi
merupakan obyek kajian yang menarik karena merupakan topik yang tidak henti-hentinya
diperbincangkan dalam berbagai forum. Inflasi sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu
kala. Sukirno (2000:10) mengatakan bahwa semenjak perekonomian menerapkan standar fiat,
dalam arti bahwa negara memberikan kewenangan kepada bank sentral untuk menerbitkan
dan mengedarkan uang tersebut tersebut atas dasar kepercayaan, telah disadari bahwa jumlah
uang yang berlebihan yang melebihi jumlah uang yang dibutuhkan masyarakat maka akan
dapat menimbulkan masalah dalam perekonomian berupa kenaikan harga-harga agregat
(menyeluruh) yang biasa dikenal dengan inflasi.
Inflasi pada dasarnya disebabkan oleh adanya suatu kesenjangan antara kelebihan
permintaan aggregat dalam perekonomian yang tidak mampu diimbangi penawaran aggregat
yang ada dalam perekonomian itu. Keinginan masyarakat untuk melakukan pengeluaran yang
direncanakan apabila tidak mampu diimbangi dengan pemenuhan produksi yang mencukupi
maka akan berdampak inflatoir. Upaya pemenuhan produksi dapat dilakukan dengan
meningkatkan produksi nasional, maka dari itu diperlukan rangsangan investasi agar mampu
meningkatkan produksi nasional. Untuk menarik investor berinvestasi, salah satu cara yang
dilakukan yaitu dengan menurunkan tingkat suku bunga. Dengan menurunkan tingkat bunga,
investasi dapat dirangsang untuk meningkatkan produk nasional. Dalam jangka panjang,
peningkatan produk nasional akan menyebabkan peningkatan permintaan agregat. Apabila
permintaan akan barang semakin meningkat, maka tingkat harga barang akan meningkat.
Kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus akan menyebabkan inflasi.
Peningkatan produksi nasional akan meningkatkan GDP. Kenaikan produksi nasional
melebihi kesempatan kerja penuh akan menyebabkan kenaikan harga yang lebih cepat dan
pada akhirnya akan menyebabkan inflasi. Ketiga variabel tersebut sangat berhubungan dan
menarik untuk dilakukan suatu kajian dengan melihat bagaimana pengaruh jumlah uang
BAB II
LANDASAN TEORI
1. JUMLAH UANG BEREDAR
Teori kuantitas uang merupakan teori yang mengemukakan adanya hubungan
langsung antara perubahan jumlah uang yang beredar dengan perubahan harga
barang. Hubungan tersebut dapat dikemukakan bahwa harga barang berbanding lurus
dengan jumlah uang beredar (MV=PT ). Secara teoretis, tingkat inflasi dipengaruhi
oleh jumlah uang beredar. Bertambahnya jumlah uang beredar di masyarakat akan
meningkatkan daya beli masyarakat sehingga masyarakat cenderung akan menambah
konsumsinya melalui belanja. Hal ini akan menyebabkan naiknya harga dikarenakan
bertambahnya permintaan dari masyarakat, dan lama kelamaan hal inilah yang akan
memicu terjadinya inflasi.
2. SUKU BUNGA DEPOSITO
Pada dasarnya tingkat suku bunga adalah harga atas penggunaan uang yang
biasanya dinyatakan dalam persen (%). Dalam teori suku bunga Keynes, tingkat suku
bunga merupakan suatu fenomena moneter. Artinya tingkat suku bunga ditentukan
oleh penawaran dan permintaan uang. Uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi
(GDP), sepanjang uang ini mempengaruhi tingkat bunga. Perubahan suku bunga
selanjutnya akan mempengaruhi keinginan untuk melakukan investasi. Keynes
mengasumsikan bahwa perekonomian belum mencapai full employment. Oleh karena
itu, produksi masih dapat ditingkatkan tanpa mengubah tingkat upah maupun tingkat
harga. Dengan menurunkan tingkat bunga, investasi dapat dirangsang untuk
meningkatkan produk nasional. Dalam jangka panjang, peningkatan produk nasional
akan menyebabkan peningkatan permintaan agregat. Apabila permintaan akan barang
semakin meningkat, maka tingkat harga barang akan meningkat. Kenaikan harga
barang secara umum dan terus menerus akan menyebabkan inflasi.
Dalam teori klasik, bahwa bunga merupakan harga kapital (price of capital),
dimana apabila permintaan modal (uang) naik maka bunga akan naik pula. tingkat
bunga mempunyai hubungan dengan tingkat inflasi. Hubungan tingkat bunga nominal
Persamaan di atas merupakan persamaan Irving Fisher (Fisher equation). Dari
persamaan tersebut ditunjukkan bahwa, tingkat bunga bisa berubah karena dua alasan
(Makiw. 2007) yaitu karena tingkat bunga riil berubah dan karena tingkat inflasi
berubah. Menurut teori kuantitas, kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang sebesar 1
persen menyebabkan kenaikan tingkat inflasi sebesar 1 persen, selanjutnya dari
persamaan Fisher dapat dinyatakan pula bahwa kenaikan 1 persen tingkat inflasi akan
menaikkan suku bunga nominal sebesar 1 persen. Dari fakta ini jelas bahwa suku
bunga dan inflasi mempunyai hubungan yang positif.
3. GDP
Produk Domestik Bruto atau GDP merupakan pengukuran
yang paling luas dari tota output barang dan jasa suatu negara dengan menggunakan
faktor–faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk Negara tersebut/perusahaan
Negara lain. (SadonoSukirno:35). Ini merupakan jumlah nilai konsumsi (C), Investasi
bruto (I), pembelanjaan pemerintah atas barang dan jasa (G), dan ekspor neto(X) yang
dihasilkan didalam suatu Negara selama satu tahun tertentu. (Samuelson &
Nordhaus:99). Dalam kaitannya dengan inflasi, menurut Teori Keynes inflasi terjadi
karena masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi
menurut pandangan ini terjadi karena masyarakat ingin terus menambah
pengeluarannya, sehingga meningkatkan permintaan angregat. Apabila masyarakat
masih terus menambah pengeluarannya maka permintaan agregat akan kembali naik.
Untuk memenuhi permintaan yang semakin bertambah tersebut,
perusahaan-perusahaan akan menambah produksinya dan menyebabkan pendapatan nasional riil
(PDB) menjadi meningkat pula. Kenaikan produksi nasional melebihi kesempatan
kerja penuh akan menyebabkan kenaikan harga yang lebih cepat dan pada akhirnya
akan menyebabkan inflasi. (Sukirno, 2006:334).
Model Ekonometrika :
BAB III
HASIL REGRESI
1. Asumsi 1
Model Regresi harus linear. Dari persamaan diatas model regresi sudah linear
sehingga memenuhi asumsi 1, karena ketiga variabel independent berpengaruh
terhadap variabel dependent. Menurut Teori Kuantitas Uang, ketika jumlah uang
beredar meningkat maka tingkat harga atau inflasi akan meningkat. Dalam teori suku
bunga Keynes, tingkat suku bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan uang.
Perubahan suku bunga akan mempengaruhi keinginan untuk melakukan investasi.
Adanya investasi dapat meningkatkan produk nasional yang dalam jangka panjang
akan menyebabkan peningkatan permintaan agregat. Apabila permintaan akan barang
semakin meningkat, maka tingkat harga barang akan meningkat yang pada akhirnya
akan menyebabkan inflasi. Variabel GDP ditunjukkan dengan adanya keinginan
pemerintah untuk meningkatkan GDP, maka produksi nasional harus ditingkatkan.
Kenaikan produksi nasional melebihi kesempatan kerja penuh akan menyebabkan
kenaikan harga yang lebih cepat dan pada akhirnya akan menyebabkan inflasi.
2. Asumsi 2
Nilai X tetap pada sampel yang di ulang. Pada persamaan regresi diatas, menggunakan data sekunder time series sehingga tidak asumsi 2 tidak berpengaruh terhadap persamaan regresi diatas.
3. Asumsi 3
Rata-rata dari μ = 0. Berdasarkan hasil regresi diatas . Karena pada uji statistik, nilai mean pada nilai tersebut mendekati nol sehingga dapat dikatakan memenuhi asumsi 3.
4. Asumsi 4
Uji heterocedasticity, pada persamaan regresi diatas telah lolos uji heterocedasticity karena probabilita dari Obs*R-Squared = 0,8422. Probabilita tersebut diatas 0,05 dan 0,01 dan 0,1 sehingga lolos uji heterocedasticity dan telah memenuhi asumsi 4.
5. Asumsi 5
6. Asumsi 6
Tidak ada hubungan antara μ dengan variabel bebas (x). Dari persamaan regresi diatas uji statistik nilai probabilita = 1,0000. Nilai probabilita tersebut lebih besar dari 0,05 0,1 dan 0,01 sehingga lolos asumsi 6, tidak ada hubungan antara dengan variabel bebas (x).
7. Asumsi 7
Jumlah observasi harus lebih banyak dari parameter. Pada persamaan regresi diatas, jumlah observasi = 34 dan lebih banyak dari jumlah parameter sehingga lolos asumsi 7.
8. Asumsi 8
Nilai x harus berbeda. Dari persamaan regresi diatas, nilai x setiap variabel berbeda sehingga lolos asumsi 8.
9. Asumsi 9
Model regresi harus benar berdasarkan teori dan ekonometrika. Model regresi diatas telah benar berdasarkan teori karena ketiga variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependent. Berdasarkan uji statistik telah sesuai dengan ekonometrika sehingga lolos asumsi 9.
10.Asumsi 10
Uji Multicollinear. Model regresi diatas telah lolos asumsi 10 karena tidak ada korelasi atau hubungan linear diantara variabel bebas. Korelasi antara DJUB dan Deposit Interest Rate adalah 0.072633 sedangkan Korelasi antara DJUB dan GDP adalah -0.226594. Korelasi antara Deposit Interest Rate dan GDP adalah -0.544516
HIPOTESIS
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil regresi diatas diperoleh kesimpulan :
1. Nilai koefisien DJUB sebesar 0,054912 dengan probabilita 0,3700 hasil uji
tersebut benar secara teori tetapi berdasarkan uji statistik ditolak.
2. Nilai koefisien deposit interest rate sebesar 0,410796 dengan probabilita 0,0064
hasil uji tersebut salah berdasarkan teori tetapi berdasarkan uji statistik diterima.
3. Nilai koefisien GDP sebesar -1,563381 dengan probabilita 0,0000 hasil uji
LAMPIRAN
ASUMSI 3 – Rata-rata dari μ = 0
ASUMSI 4 – Uji Heterocedasticity
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 0.248600 Prob. F(3,28) 0.8616
Obs*R-squared 0.830230 Prob. Chi-Square(3) 0.8422
Scaled explained SS 0.835531 Prob. Chi-Square(3) 0.8410
Test Equation:
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 12.86841 9.816718 1.310867 0.2006
DJUB^2 0.007927 0.015279 0.518857 0.6079
DEPOSI_INTEREST_RATE^2 -0.010623 0.034735 -0.305830 0.7620
GDP^2 0.158128 0.243099 0.650471 0.5207
R-squared 0.025945 Mean dependent var 18.80705
Adjusted R-squared -0.078418 S.D. dependent var 30.98158 S.E. of regression 32.17342 Akaike info criterion 9.896627 Sum squared resid 28983.61 Schwarz criterion 10.07984 Log likelihood -154.3460 Hannan-Quinn criter. 9.957358
F-statistic 0.248600 Durbin-Watson stat 1.730652
ASUMSI 5 – Uji Autocorellation
Included observations: 32 after adjustments
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
DJUB 7.73E-17 0.060262 1.28E-15 1.0000
DEPOSI_INTEREST_RATE 3.91E-16 0.139365 2.81E-15 1.0000
GDP 1.28E-15 0.258337 4.94E-15 1.0000
C -1.07E-14 3.076180 -3.47E-15 1.0000
R-squared 0.000000 Mean dependent var 1.78E-15
Adjusted R-squared -0.107143 S.D. dependent var 4.406101 S.E. of regression 4.636137 Akaike info criterion 6.022109 Sum squared resid 601.8255 Schwarz criterion 6.205326 Log likelihood -92.35374 Hannan-Quinn criter. 6.082840 Durbin-Watson stat 1.982730
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0.274246 Prob. F(2,26) 0.7623
Obs*R-squared 0.661121 Prob. Chi-Square(2) 0.7185
Test Equation:
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
DJUB -0.002300 0.071924 -0.031981 0.9747
DEPOSI_INTEREST_RATE -0.020157 0.145788 -0.138260 0.8911
GDP 0.004512 0.265701 0.016980 0.9866
C 0.266490 3.179891 0.083805 0.9339
RESID(-1) -0.110436 0.215823 -0.511699 0.6132 RESID(-2) -0.109955 0.211101 -0.520865 0.6069
R-squared 0.020660 Mean dependent var 1.78E-15
Adjusted R-squared -0.167675 S.D. dependent var 4.406101 S.E. of regression 4.761188 Akaike info criterion 6.126232 Sum squared resid 589.3917 Schwarz criterion 6.401058 Log likelihood -92.01972 Hannan-Quinn criter. 6.217329
F-statistic 0.109699 Durbin-Watson stat 1.776761
ASUMSI 10 – Uji Multicollinear
HASIL REGRESI
DJUB DEPOSI_INTEREST_
RATE GDP
DJUB 1.000000 0.072633 -0.226594
DEPOSI_INTEREST_
RATE 0.072633 1.000000 -0.544516
GDP -0.226594 -0.544516 1.000000
Dependent Variable: INFLASI Method: Least Squares Date: 04/06/15 Time: 19:14 Sample (adjusted): 1982 2013
Included observations: 32 after adjustments
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
DJUB 0.054912 0.060262 0.911213 0.3700
DEPOSI_INTEREST_RATE 0.410796 0.139365 2.947636 0.0064
GDP -1.563381 0.258337 -6.051718 0.0000
C 12.81653 3.076180 4.166378 0.0003
R-squared 0.781395 Mean dependent var 10.09337
Adjusted R-squared 0.757973 S.D. dependent var 9.423770 S.E. of regression 4.636137 Akaike info criterion 6.022109 Sum squared resid 601.8255 Schwarz criterion 6.205326 Log likelihood -92.35374 Hannan-Quinn criter. 6.082840
F-statistic 33.36169 Durbin-Watson stat 1.982730