BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pendidikan keperawatan merupakan suatu proses pembentukan tenaga

15  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pendidikan keperawatan merupakan suatu proses pembentukan tenaga kesehatan yang ahli dalam bidang keperawatan dalam menciptakan tenaga kesehatan yang professional (Nursalam, 2008) dimana setiap fasenya memiliki uji kompetensi dalam menyeleksi kelayakan perawat baru untuk ditempatkan menjadi tenaga kesehatan yang kompeten. Sehingga membutuhkan persiapan dengan penggunaan metode pengajaran dan evaluasi pembelajaran yang tepat. Menurut Nursalam (2008), metode pembelajaran yang perlu diterapkan di keperawatan antara lain kuliah/ceramah, penugasan tertulis, metode pemecahan masalah, praktikum dan praktek keterampilan klinik. Evaluasi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran baik klinik maupun akademik, antara lain observasi, tertulis, response dan Objective

Structured Clinical Examination (OSCE) yang mana OSCE merupakan evaluasi

penunjang yang baik dalam pendidikan klinis.

Objective Structured Clinical Examinations (OSCE) merupakan bagian dari sistem penilaian yang menguji kompetensi dan keterampilan klinis mahasiswa secara objektif dan terstruktur (Nursalam, 2008) sebab pengamatan dilakukan langsung pada tiap mahasiswa lebih terstruktur, terencana, dan visibel. OSCE dikembangkan di Sekolah kedokteran Skotlandia sejak tahun 1975. Hingga saat ini, OSCE digunakan sebagai sarana untuk menguji keterampilan klinis dasar mahasiswa kesehatan

(2)

termasuk keperawatan, kedokteran dan kedokteran gigi (Höfer et.al., 2012). Sebagai alat ukur yang memiliki keunggulan pada validitas, reliabilitas, dan setting klinik yang nyata (Nursalam, 2008), penggunaan OSCE sudah menyebar diseluruh negara maju terutama di Eropa (Brosnan et.al., 2006) dan saat ini telah digunakan di Indonesia untuk menguji keterampilan klinis mahasiswa kesehatan.

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PSIK FK UGM) merupakan program pendidikan akademik professional yang berorientasi pada “Community Oriented Nursing Education” dan menerapkan kemajuan IPTEKDOK yang relevan dengan kebutuhan saat ini sehingga memiliki tujuan untuk menghasilkan ners yang mempunyai kemampuan akademik professional keperawatan. Oleh karena itu, PSIK FK UGM senantiasa mengembangkan inovasi pendidikan secara terus menerus baik dalam akademis maupun secara keterampilan klinis (buku modul OSCE angkatan 2008, 2012) dan salah satu cara pengembangan dalam pendidikan dengan menggunakan evaluasi pembelajaran keterampilan klinis yaitu OSCE setiap semesternya. Proses berjalannya OSCE di PSIK FK UGM menggunakan standar waktu dalam setiap keterampilannya selama 7 menit, kecuali untuk keterampilan tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengukur dan melatih kemampuan mahasiswa dalam pemberian pelayanan yang baik dengan waktu yang efektif dan disesuaikan dengan jam standar perawat rata-rata dalam memberi tindakan keperawatan ringan selama 7-10 menit (Brookers et. al., 2007). Oleh karena itu, hal ini menjadi tantangan bagi mahasiswa setiap semesternya.

(3)

Menurut Bornais et. al., (2012), OSCE merupakan metode yang paling efektif untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan sebagai penilaian keterampilan klinis dalam pemberian praktek keperawatan yang aman. Hingga saat ini OSCE menjadi pokok penilaian kemampuan psikomotor yang efektif yang masih dikenal terbaik dan pengetahuan sistematis yang berhubungan dengan aplikasi di dunia keperawatan (Mitchell et. al., 2009). Oleh karena itu, OSCE harus diintegrasikan dalam kurikulum yang berhubungan dengan metode evaluasi mahasiswa yang relevan.

Penelitian dan pengembangan mengenai efektivitas, keuntungan dan kerugian OSCE hingga saat ini sedang dilakukan di negara-negara maju seluruh dunia. Akhir-akhir ini, penelitian mengenai OSCE dikembangkan ke arah persepsi mahasiswa terhadap OSCE. Menurut Brosnan et. al., (2006), OSCE memberi banyak dampak positif pada semua elemen yang terkait dengan semangat dan usaha untuk berlatih sebesar 50,6% dan besar validitas OSCE sebagai penilaian objektif sebesar 57,3%. Selain itu, OSCE membantu mahasiswa dalam menghadapi stress pada situasi klinik kedepannya sebesar 89,1%. Walaupun demikian, dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa OSCE menyebabkan stress pada angka 53,5%. OSCE membuat tingkat stress mahasiswa lebih tinggi yaitu 52,7% menyatakan OSCE lebih stress daripada ujian formal biasa secara tertulis dan 56,3% lebih stress daripada ujian tertulis secara berkelanjutan.

Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi tantangan, begitu juga halnya dengan mahasiswa yang memiliki perbedaan

(4)

kemampuan bertahan untuk menghadapi tantangan dalam OSCE. Hal ini merupakan salah satu hambatan dan tantangan bagi mahasiswa termasuk mahasiswa PSIK FK UGM yang harus dihadapi setiap semesternya agar mendapatkan nilai hasil ujian, hingga terkadang kebanyakan dari mereka mengalami stress dan putus asa menyerah sebelum melakukannya. Menurut Putri (2009), kemampuan untuk mengenali, memahami dan mengelola masalah akan sangat terkait dengan daya tahan dan daya toleransi seseorang terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Kesuksesan seseorang dalam mengahadapi segala tantangan dan kesulitan tergantung pada kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami dan mengelola tantangan yang dialaminya untuk diubah menjadi peluang kesuksesan. Hal inilah yang sekarang dikenal dengan Adversity Quotient (AQ) (Stoltz, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pranandari (2008), menunjukkan adanya perbedaan tingkat adversity quotient yang signifikan dimana individu dengan problem-focused coping lebih tinggi adversity quotientnya dibandingkan dengan individu emotion- focused coping dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan seperti yang dialami oleh orang tua tunggal wanita. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki AQ tinggi akan senantiasa berfokus pada penyelesaian masalah dan tidak takut dalam menghadapi masalah.

Adversity Quotient tidak hanya berperan dalam pengendalian koping terhadap

masalah, akan tetapi berperan juga dalam tipe kepemimpinan, penampilan peran dan kinerja seseorang (Canivel, 2010). Hal ini terlihat dalam penelitiannya mengenai AQ kepala sekolah ditinjau dari gaya kepemimpinan dan kinerjanya. Dalam penelitian ini

(5)

ditemukan bahwa kinerja dan penampilan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat AQ, dengan kata lain seseorang yang memiliki AQ tinggi memiliki penampilan dan kinerja yang lebih baik. Hasil penelitian yang serupa dengan penelitian yang dilakukan Laura (2009) bahwa AQ mempengaruhi kinerja karyawan secara positif dengan tingkat kinerja tinggi dan tingkat AQ sedang. Kemudian menurut penelitian yang dilakukan oleh Markman et. al., (2002) mengenai AQ dan ketekunan dalam berwirausaha ditemukan bahwa terjadi perbedaan yang signifikan antara AQ wirausahawan dengan AQ pada orang yang bukan wirausahawan. Hal ini juga terlihat dari kesuksesan seseorang dalam penghasilannya bahwa pengusaha dengan AQ di atas 20% mendapatkan rata-rata penghasilan $128.692 per tahun, sedangkan orang dengan AQ di bawah 20% mendapatkan penghasilan rata-rata $93.933 pertahun sehingga perbedaannya hampir $35.000 antara keduanya.

Pengaruh AQ selain pada kinerja dan kesuksesan berwirausaha juga menjadi peramal terhadap performa akademik seseorang. Hal ini terbukti dari beberapa penelitian mengenai AQ. Menurut penelitian Huijuan (2009), terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat AQ dan performa akademik mahasiswa di St. Joseph’s

Chollege Quezon City dengan peningkatan 15,7 %. Hasil ini sejalan dengan

penelitian Diana (2008) dan didapatkan hasil bahwa semakin tinggi tingkat AQ siswa SMA kelas akselerasi, maka semakin tinggi kemampuannya dalam menghadapi masalah dengan kategori AQ sedang presentasi 48% dan tingkat daya tahan yang tinggi.

(6)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2012), mayoritas AQ pada mahasiswa FK UGM dalam menyelesaikan skripsi adalah moderat/campers (53,3%) dan terdapat 15,6% mahasiswa dengan skor rendah pada dimensi daya tahan dan 14,4% mahasiswa yang mempunyai skor rendah pada dimensi jangkauan. Hasil penelitian ini seperti penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2011) bahwa AQ mahasiswa PSIK FK UGM tergolong dalam katergori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan mahasiswa FK UGM berada dalam posisi campers. Artinya mereka adalah tipe orang yang sudah mendaki kemudian menghentikan pendakian karena merasa tidak mampu lagi mendaki dan mencari tempat yang datar dan rata sebagai tempat persembunyian dari situasi yang tidak bersahabat (Stoltz, 2005). Tipe AQ campers bisa berubah menjadi climbers dengan memperhatikan faktor apa yang paling dominan dan yang paling minor, kemudian melakukan modifikasi perlakuan. Faktor-faktor yang memengaruhi AQ adalah daya saing, produktivitas, kreativitas, motivasi, kemampuan mengambil resiko, perbaikan, ketekunan, belajar, merangkul perubahan dan keuletan (Stoltz, 2005). Dan dalam hal ini motivasi merupakan salah satu faktor terkuat yang dapat meningkatkan adversity quotient seseorang.

Motivasi merupakan dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat untuk melakukan kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, harapan dan cita-cita dalam suatau capaian, penghargaan dan penghormatan atas diri dan lingkungan yang baik serta kegiatan yang menarik (Uno, 2007). Oleh karena itu, motivasi merupakan hal terpenting dalam meningkatkan semangat juang bagi seseorang untuk mencapai apa

(7)

yang diinginkannya. Menurut penelitian yang dilakukan Amrai et. al., (2011), mengenai hubungan antara motivasi akademik dan capaian akademik pada mahasiswa di Teheran University bahwa terdapat kolerasi positif antara motivasi akademik dan capaian akademik sehingga mahasiswa membutuhkan koordinasi dan interaksi antara mahasiswa yang mengalami perbedaan aspek motivasi dengan kolerasi lemah terhadap pujian, akan tetapi kolerasi kuat dengan daya kompetitif sebesar 6,5%. Sehingga secara keseluruhan dengan skor mutlak hubungan motivasi dalam akademik terhadap usaha mahasiswa sebesar 9,8%. Hal inilah yang menjadi penyebab seseorang dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

Faktor yang paling penting dalam melanjutkan pendidikan dan meningkatkan prestasi belajar adalah motivasi internal. Hal ini terbukti dalam penelitian yang dilakukan Aghili et. al., (2012) bahwa motivasi internal merupakan faktor paling tinggi terhadap edukasi pada mahasiswa sebesar 18,68% terutama motivasi untuk meraih masa depan dengan stabilitas ekonomi yang lebih baik. Selain itu, motivasi dan kontrol terhadap perasaan berkolerasi positif dengan motivasi berperilaku adaptif dengan dan berkolerasi negatif dengan perilaku konsumtif alkohol dengan skor sebesar (Shamloo et. al., 2010).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Siahaan (2012) tentang “Gambaran Faktor-Faktor yang Memengaruhi Adversity Quotient Warga Binaan Remaja di Rumah Tahanan Negara Klas I Bandung”, ditemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi AQ pada warga binaan remaja di Rutan meliputi daya saing, produktivitas, kreativitas, motivasi, belajar. Faktor yang paling berpengaruh adalah

(8)

faktor motivasi dengan prosentase 77,14%. Hal ini disebabkan karena hampir setiap hari warga binaan mendapatkan motivasi dari berbagai program yang diadakan melalui orang-orang disekitar mereka baik petugas Rutan maupun dari keluarga dan sesama warga binaan

Mahasiswa PSIK FK UGM harus mengikuti OSCE pada tiap semester sebagai syarat pemenuhan hasil belajar selama satu semester dan yang terpenting adalah sebagai tambahan nilai pada semester tersebut. Keadaan merupakan tantangan atau situasi sulit yang harus dilalui oleh mereka, sehingga memerlukan faktor penentu kesuksesan agar bisa berhasil melewati tantangan ini setiap semesternya. Tingkat keberhasilan dari suatu sistem pendidikan tidak hanya terlihat dari evaluasi sistem pembelajarannya saja, akan tetapi hal terpenting yang sangat berpengaruh adalah faktor internal dari dalam diri peserta didiknya untuk menunjang efektivitas sistem pembelajaran tersebut. Selama ini, penelitian yang dikembangkan terhadap OSCE kebanyakan adalah penelitian mengenai sistem dan efektivitas dari OSCE, namun belum ada penelitian mengenai respon dan dampak psikologis bagi mahasiswa ketika menghadapi OSCE terutama mengenai kemampuan daya juang (adversity quotient) yang berkaitan dengan motivasi berprestasi seseorang.

Hasil studi pendahuluan secara tidak terstruktur yang dilakukan oleh peneliti melalui wawancara pada 13 mahasiswa PSIK FK UGM angkatan 2010-2012 pada 27-29 Mei 2013, baik angkatan awal maupun angkatan atas menyatakan bahwa OSCE selalu membuat tegang dan khawatir, bahkan ada yang mengatakan bahwa tetap saja OSCE membuat gelisah dan stres walaupun sudah pernah mengalami

(9)

berkali-kali dan ini merupakan tantangan terberat setiap akhir semester. Hambatan dan tantangan yang mereka rasakan adalah manajemen waktu dan sulit mengendalikan tingkat stress dan ditambah dengan komentar dari dosen yang sering membuat tambah panik. Semua mahasiswa menyatakan bahwa mereka memotivasi diri sendiri untuk tidak remedial lagi dengan usaha dan berlatih hingga berhasil dan tiga orang diantara mereka berpengalaman dengan memotivasi diri sendiri dengan meminta dukungan kepeda teman atau keluarga untuk menenangkan diri agar berhasil dan mendapat hasil yang baik ketika OSCE. Dari gambaran ini terlihat bahwa motivasi berprestasi mahasiswa PSIK UGM dalam OSCE bisa dikatakan tinggi. Selain itu, dari data studi pendahuluan ini ditemukan bahwa sembilan mahasiswa diantara semua yang mengalami remedial merespon keadaan tersebut dengan ketahanan dan kontrol yang baik serta menganggap ini bagian dari pembelajaran sedangkan empat diantaranya mengalami kecewa dan mengalami penyesalan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswa PSIK memiliki ketahanan dan kontrol yang baik terhadap kegagalan terhadap OSCE, seperti hasil penelitian Anggraeni (2011) dan Susanti (2012) yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa rata-rata mahasiswa PSIK memiliki tingkat AQ sedang (campers), akan tetapi belum ada penelitian yang membandingkan tingkat AQ pada mahasiswa dan meninjau dari faktor yang mempengaruhi AQ seperti motivasi berprestasi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Perbedaan Adversity Quotient pada Mahasiswa yang Mengikuti Objective Structured Clinical Skills (OSCE) Berdasarkan Motivasi Berprestasi”

(10)

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah adakah perbedaan adversity quotient pada mahasiswa yang mengikuti Objective Structured Clinical Skills (OSCE) berdasarkan motivasi berprestasinya?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni:

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui perbedaan adversity quotient pada mahasiswa yang mengikuti Objective Structured Clinical Skills (OSCE) berdasarkan motivasi berprestasi.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui tingkat motivasi berprestasi mahasiswa PSIK UGM dalam mengikuti OSCE pada setiap angkatan

b. Untuk mengetahui tingkat adversity quotient pada mahasiswa PSIK FK UGM pada setiap angkatan yang mengikuti OSCE.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pengetahuan dan pemahaman mengenai adversity quotient.

(11)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Mahasiswa PSIK FK UGM

Penelitian ini diharapkan dapat menajadi sumber informasi mengenai tingkat adversity quotient pada mahasiswa PSIK FK UGM yang mangalami OSCE sehingga mahasiswa memiliki inisiatif untuk menambah motivasinya yang akan meningkatkan AQ dan kemampuan menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan yang salah satunya adalah OSCE

b. Bagi peneliti

Memberikan pengalaman yang sangat berharga dan melatih peneliti dalam melakukan penelitian sederhana secara ilmiah, sehingga memungkinkan untuk dapat melakukan penelitian lain yang lebih baik.

c. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai sumber informasi bagi akademik untuk mengetahi hubungan motivasi dengan adversity quotient pada mahasiswa dan untuk ditindaklanjuti, serta sebagai bahan pertimbangan dalam program-program pembelajaran untuk persiapan mahasiswa dalam menghadapi OSCE.

E. Keaslian Penelitian

Sejauh pengamatan peneliti, penelitian mengenai perbedaan adversity quotient pada mahasiswa yang mengikuti Objective Structured Clinical Skills (OSCE) berdasarkan motivasi berprestasi belum pernah dilakukan, akan tetapi penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini, Antara lain:

(12)

1. Susanti (2012) Skripsi yang berjudul: Adversity Quotient Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dalam Menyelesaikan Skripsi. Hasil penelitian didapat bahwa tingkat adversity quotient mahasiswa FK UGM dalam menyelesaikan skripsi berdasarkan program studi. Mayoritas AQ mahasiswa FK UGM dalam menyelesaikan skripsi adalah moderat AQ/campers (53,3%). Dimensi kendali diri mahasiswa memiliki skor sedang (60%). Dimensi asal-usul dan pengakuan mahasiswa mayoritas skor sedang (67,8%). Dimensi jangkauan mahasiswa mayoritas mempunyai skor sedang (45,6%). Dimensi daya tahan mahasiswa mayoritas mempunyai skor sedang (63,3%). Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah terletak pada variabel dan responden penelitian. Pada penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu adversity

quotient sedangkan peneliti menggunakan variabel bebas dan variabel terikat.

Subyek pada penelitian oleh peneliti adalah mahasiswa angkatan 2010-2012 yang mengikuti OSCE bulan Juni 2013 sedangkan pada penelitian ini pada mahasiswa angkatan 2007-2009 yang menyelesaikan skripsi. Sedangkan persamaannya adalah variabel adversity quotient.

2. Anggraeni Y.S (2011) skripsi yang berjudul: Hubungan antara Adversity Quotient dengan Strategi Koping dalam Proses Belajar Mahasiswa PSIK FK UGM. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat Adversity Quotient mahasiswa PSIK FK UGM tergolong sedang (77,6%). Strategi koping yang digunakan oleh mahasiswa PSIK FK UGM paling banyak adalah PFC (73,5%) dan tidak ada hubungan antara adversity quotient dengan strategi koping dalam proses belajar. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah pada sampel, dan variabel dan

(13)

desain penelitian. Variabel terikat dan variabel bebas pada penelitian ini adalah strategi koping dalam proses belajar dan adversity quotient sedangkan peneliti menggunakan variabel terikat dan variabel bebas yaitu adversity quotient dan motivasi berprestasi. Subyek pada penelitian oleh peneliti adalah mahasiswa angkatan 2010-2012 yang mengikuti OSCE bulan Juni 2013 sedangkan pada penelitian ini pada mahasiswa angkatan 2007-2009 pada proses belajarnya. Metode penelitian pada penelitian ini adalah descriptive colerative dengan mencari hubungan antara strategi koping dalam proses belajar dan adversity

quotient sedangkan peneliti menggunakan descriptive comparative. Sedangkan

persamaannya adalah variabel adversity quotient.

3. Diana (2008) skripsi dengan judul: Study deskriptif tentang Adversity Quotient pada siswa kelas akselerasi di sekolah menengah atas negeri 1 Malang (SMA N 1 Malang). Hasil penelitian menununjukkan: 1) tingkat adversity quotient pada siswa akselerasi berada pada kategori sedang dengan nilai prosentase 48%, adapun tingkat tiap faktornya adalah; 1)tingkat kendali diri siswa akselerasi berada kategori rendah dengan nilai prosentase 44%, 2) tingkat asal-usul dan pengakuan berada pada kategori sedang dengan nilai prosentase 44%, 3) tingkat jangkauan berada pada kategori sedang dengan prosentase 48%, dan 4) tingkat daya tahan berada pada kategori sedang dengan nilai prosentase sebesar 56%. Hasil korelasi antar faktor didapatkan, korelasi antara kendali diri dan adversity quotient adalah positif dan kolerasi yang hampir signifikan adalah korelasi antara asal-usul dan daya tahan, hal ini berarti makin tinggi tingkat asal-usul dan daya tahan siswa akselerasi, maka makin tinggi pula

(14)

tingkat adversity quotient siswa akselerasi SMA Negeri 1 Malang dalam menghadapi masalah atau kesulitan. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah terletak pada variabel dan responden penelitian. Pada penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu adversity quotient sedangkan peneliti menggunakan variabel bebas dan variabel terikat. Subyek pada penelitian oleh peneliti adalah mahasiswa angkatan 2010-2012 yang mengikuti OSCE bulan Juni 2013 sedangkan pada penelitian ini pada siswa SMA N 1 Malang. Sedangkan persamaannya adalah variabel adversity quotient.

4. Siahaan (2012) pada penelitian yang berjudul: Gambaran Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adversity Quotient Warga Binaan Remaja di Rumah Tahanan Negara Klas I Bandung. Hasil penelitian menggambarkan hampir seluruh warga binaan remaja di Rutan Klas I Bandung menunjukkan bahwa prosentase terbesar merupakan faktor motivasi yang memengaruhi AQ mereka dengan prosentase 77,14%. Faktor dengan prosentase terkecil adalah faktor daya saing sebanyak 53,58%. Perbedaan dengan penelitian ini ialah pada jenis penelitian, variabel dan responden penelitian. Pada penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif dengan case study sedangkan peneliti menggunakan metode descriptif

comparative dengan rancangan cross sectional. Variabel dalam penelitian ini

adalah faktor–faktor yang memengaruhi adversity quotient pada warga binaan remaja di Rutan Klas I Bandung variabel yaitu adversity quotient sedangkan peneliti menggunakan dua variabel yaitu motivasi berprestasi sebagai variabel bebas dan adversity quotient sebagai variabel terikat. Responden penelitian ini menggunakan warga binaan remaja di Rutan Klas I Bandung sedangkan peneliti

(15)

menggunakan responden penelitian yaitu mahasiswa yang mengikuti OSCE periode Juni 2013 di PSIK FK UGM. Sedangkan persamaannya adalah mengaitkan variabel adversity quotient dengan variabel motivasi.

5. Cornista dan Macasaet (2013) pada penelitian yang berjudul: Adversity Quotient

and Achievement Motivation of Selected Third Year and Fourth Year Psychology Students of De La Salle Lipa A.Y. 2012-2013. Hasil penelitian menunujukkan

bahwa ada hubungan antara adversity quotient dengan motivasi berprestasi, namun tidak semua dimensi adversity quotient berhubungan dengan motivasi berprestasi pada responden penelitian ini. Perbedaan dengan penelitian ini ialah pada metode penelitian dan responden penelitian. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif koleratif, sedangkan peneliti menggunakan metode deskriptif komparatif. Responden penelitian ini menggunakan mahasiswa Sekolah Tinggi De La Salle Lipa angkatan tahun ke tiga dan ke empat, sedangkan peneliti menggunakan responden penelitian yaitu mahasiswa yang mengikuti OSCE periode Juni 2013 di PSIK FK UGM. Sedangkan persamaannya adalah mengaitkan variabel adversity quotient sebagai variabel terikat dengan variabel motivasi berprestasi sebagai variabel bebas.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di