• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Hadi SA, Ikhsan F Respect Budaya Organisasi Universitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Hadi SA, Ikhsan F Respect Budaya Organisasi Universitas"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

dalam Perspektif Kampanye

Public Relations

Hadi Suprapto Ariin1 dan Ikhsan Fuady2

1Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fikom Unpad

[email protected]

2Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fikom Unpad

Pendahuluan

Prosesi Dies Natalis ke-52 Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 11 September 2009 telah menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika Unpad untuk melangkah meraih prestasi dan mewujudkan Word Class University (WCU). Pada saat itu Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia mendeklarasikan budaya organisasi dengan slogan “Universitas Padjadjaran RESPECT.”Jika sebelumnya semua Rektor Unpad selalu mengenalkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unpad “Bina Mulya Hukum dan Lingkungan Hidup” kepada mahasiswa baru (maba), maka pada tahun akademik 2010/2011, Rektor Unpad mengkampanyekan “Universitas Padjadjaran RESPECT” kepada ribuan mahasiswa baru dalam prosesi Sidang Terbuka Senat Universitas Padjadjaran Penerimaan Mahasiswa Baru.

RESPECT merupakan singkatan dari Responsible (tanggung jawab), Excellent (keunggulan), Scientiic (ketelitian ilmiah), Professionalism (professional), Encouragement (semangat), Creativity (kreativitas), dan Trust (kepercayaan). Sebagai budaya organisasi, maka semua elemen yang terkandung dalam RESPECT wajib dikenali, dipahami, dan diimplementasikan oleh seluruh sivitas akademika Unpad baik tenaga pendidik (dosen), tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa dalam perilaku akademis keseharian mereka.

(2)

mendorong dan menuntun semua kegiatan sivitas akademika Unpad untuk berkompetisi di era global dan meraih prestasi serta mewujudkan WCU.

Era global adalah era yang juga penuh dengan kompetisi di segala bidang. Hampir semua lembaga bisnis, sosial, pemerintah, dan apapun bidangnya termasuk pendidikan berupaya melangkah menjadi yang terbaik. Dalam dunia pendidikan tinggi (perguruan tinggi), kini tidak ada lagi mitos bahwa perguruan tinggi negeri selalu lebih baik dari swasta. Semua perguruan tinggi, negeri maupun swasta memiliki potensi untuk menjadi yang terbaik.

Sejauh ini sampai dekade tahun 2010-an Unpad masih merupakan salah satu perguruan tinggi yang terbaik di Indonesia. Hal ini karena sikap pandang pimpinan dan para tokoh Unpad yang menyadari bahwa saat memasuki dekade tahun 2000-an almamaternya berada dalam kepungan perguruan tinggi negeri maupun swasta sebagai kompetitor. Dalam pusaran kompetisi yang sangat ketat, tidak mungkin Unpad hanya menjalankan program dengan cara yang biasa-biasa saja. Kecuali Unpad ingin ditinggalkan masyarakat dan memposisikan sebagai universitas tanpa prestasi. Dalam konteks inilah komitmen menerapkan budaya organisasi RESPECT menjadi conditio sine quanon bagi seluruh sivitas akademika Unpad di setiap langkahnya.

Pusaran waktu terus berjalan, dan di tahun 2017 RESPECT sudah tujuh tahun berada di tengah-tengah kehidupan akademis sivitas akademika Unpad. Sudahkah komitmen yang dibangun dalam budaya organisasi RESPECT mewujud dalam perilaku sivitas akademika? Seberapa besar upaya Unpad mengenalkan dan memahamkan RESPECT kepada sivitas akademika? Tentu menjadi hal yang menggelitik dan menarik untuk dikaji.

(3)

sivitas akademikanya. Budaya organisasi RESPECT semestinya telah mendorong Unpad ataupun pribadi-pribadi sivitas akademikanya meraih prestasi yang membanggakan.

Bagaimana sikap pandang sivitas akademika Unpad tentang budaya oraganisasi RESPECT? Bagaimana langkah-langkah mewujudkan budaya organisasi RESPECT? Tentu hal ini menarik untuk dikaji dalam penelitian empiris.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tindakan atau action research. Penelitian tindakan adalah proses penelitian yang dilakukan dengan pola mengidentiikasi masalah dan berupaya memecahkan masalah pada saat yang bersamaan (Cormack dalam Moleong, 2005:238). Implementasi dalam penelitian tindakan tergambarkan saat peneliti dan peserta atau pembuat keputusan bersama-sama mengidentiikasi dan mengembangkan serta membuat perlakuan terhadap berbagai variabel yang dikaji yang dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan sebagai pemecahan masalah. Hal utama dalam penelitian tindakan adalah menghasilkan penemuan-penemuan (rancangan kebijakan dan atau rancangan program) yang bersifat praktis dalam penerapannya.

Dalam konteks penelitian budaya organisasi Unpad RESPECT, peneliti dan pembuat keputusan (pimpinan Unpad) bersama-sama menentukan masalah dan fakta-fakta yang berkaitan dengan budaya organisasi RESPECT, membuat analisis dan rancangan kampanye RESPECT kemudian melaksanakan program-program kampanye yang telah dirancang. Penelitian ini dirancang dalam tiga tahap atau periode. Tahap pertama merupakan proses menganalisis masalah dan identiikasi khalayak. Tahap kedua, merancang program kampanye RESPECT dengan mengacu pada hasil tahap pertama. Tahap ketiga implementasi program kampanye RESPECT.

(4)

Respect dalam Sikap Pandang Sivitas Akademika Unpad

Secara sepintas sesungguhnya dapat diketahui bagaimana kualitas pengenalan, pemahaman, dan komitmen sivitas akademika Unpad tentang RESPECT sebagai budaya organisasinya. Namun untuk menghindari bias persepsi, maka dalam penelitian ini dilakukan identiikasi terhadap 300 orang sivitas akademika Unpad. Mereka adalah seratus orang dosen, seratus orang tendik, dan seratus orang mahasiswa. Sumber data diambil secara purposif dari 16 fakultas yang ada di lingkungan Unpad dan mereka yang aktif di kancah universitas.

Untuk menggambarkan keragaman karakteristik sosiodemograi responden, maka dosen dan tendik diambil dari unsur pimpinan dan dosen/tendik biasa, baik di tingkat fakultas maupun universitas. Demikian juga dengan mahasiswa, mereka mewakili unsur aktivis/ pimpinan lembaga kemahasiswaan dan mahasiswa biasa di tingkat fakultas maupun universitas.

Kepada responden digali beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan RESPECT melalui angket. Wawancara mendalam juga dilakukan kepada sebagian kecil dari mereka. Selain itu secara insidental dilakukan juga pengamatan terhadap perilaku sebagian sivitas akademika Unpad.

Hasil identiikasi ini relatif tidak begitu mengejutkan, seperti yang sudah diduga sebelumnya. Sebagian besar responden mahasiswa (92%) tidak mengenal RESPECT. Dari delapan persen sisanya yang mengenal dalam arti pernah mendengar tentang RESPECT,tidak ada satupun yang dapat menyebutkan arti kepanjangan dari RESPECT secara utuh. Namun dalam konteks kecenderungan berperilaku (aspek konasi) sebagian elemen RESPECT telah melekat pada sebagian besar (69%) responden mahasiswa. Secara keseluruhan tidak ada perbedaan antara aktivis/pimpinan lembaga kemahasiswaan dan mahasiswa biasa dalam sikap pandangnya terhadap RESPECT.

(5)

berperilaku (aspek konasi) sebagian elemen RESPECT telah melekat pada sebagian besar dosen (91%) dan tendik (77%). Secara keseluruhan tidak ada perbedaan antara dosen dan tendik yang menjabat sebagai pimpinan dengan mereka yang menjadi dosen dan tendik biasa tentang sikap pandangnya terhadap RESPECT.

Dengan perkataan lain hasil identiikasi khalayak menunjukkan sebagian besar dosen, tendik, dan mahasiswa sebagai sivitas akademika Unpad belum cukup mengenal dan memahami tentang RESPECT sebagai budaya organisasi almamaternya. Bahkan hal yang cukup ironis hal ini terjadi pada dosen yang menjabat sebagai pimpinan fakultas seperti Wakil Dekan (wadek), Ketua Program Studi (kaprodi), Sekretaris Program Studi (sekprodi), Kepala Laboratorium (kalab), Ketua Departemen (kadep), dan atau dosen yang menjabat sebagai pimpinan universitas seperti Direktur, dan Pimpinan Senat.

Hal yang serupa terjadi pada tendik yang menjabat sebagai Kepala Biro (kabiro), Kepala Bagian (kabag), dan Kepala Sub Bagian (kasubag). Demikian juga pimpinan lembaga kemahasiswaan seperti mahasiswa yang aktif dan menjabat di lembaga BEM, BPM, UKM dan berbagai lembaga kemahasiswaan lainnya.

Sudahkah identiikasi ini mewakili sikap pandang sivitas akademika tentang budaya organisasi Universitas Padjadjaran RESPECT? Sebagai survai awal dengan sumber data yang ditetapkan secara purposif tentu hasil ini belum cukup valid dan representatif sebagai potret sivitas akademika Unpad dalam konteks RESPECT. Penggunaan teknik random sampling perlu dilakukan untuk identiikasi khalayak lanjutan.

(6)

Ada apakah dengan RESPECT? Hasil penelitian ini sebenarnya sudah cukup memberi jawaban dari pertanyaan tersebut. Sebagian besar responden merasa belum pernah sekalipun melihat poster, spanduk, banner, dan media luar ruang lainnya, atau membaca informasi melalui media internal cetak maupun online universitas/fakultas, atau memperoleh arahan/sosialisasi langsung tentang RESPECT. Dengan perkataan lain dapat disimpulkan bahwa selama hampir delapan tahun sepertinya Unpad tidak cukup gencar melakukan kampanye atau sosialisasi RESPECT kepada sivitas akademikanya. Bahkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir RESPECT sebagai budaya organisasi nyaris tidak pernah lagi terdengar dalam berbagai event universitas ataupun fakultas. Gentra sebagai media cetak internal Unpad tidak pernah lagi memaparkan informasi tentang RESPECT. Web Unpad ataupun berbagai media sosial yang sesungguhnya efektif untuk kampanye juga nyaris tidak pernah menyajikan informasi tentang RESPECT. Rapat, lokakarya, prosesi dies, prosesi PMB, perkuliahan di kelas nyaris tidak pernah menyisipkan materi tentang RESPECT.

RESPECT mengalami kondisi mati suri setelah dicanangkan Rektor Unpad secara resmi dalam prosesi Dies Unpad ke-52 pada tahun 2009. RESPECT mati suri setelah dipidatokan dihadapan ribuan sivitas akademika dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Padjadjaran dalam Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2010/2011 di Graha Sanusi Kampus Dipati Ukur 35 Bandung pada hari Senin 16 Agustus 2010. Lantas akankah Unpad mebiarkan RESPECT mati suri seterusnya? Membiarkan sivitas akademikanya melangkah hanya mengandalkan naluri tanpa tuntunan budaya organisasi yang sarat nilai luhur dan nilai juang untuk berprestasi di pentas nasional dan internasional. Inilah substansi masalah yang dihadapi Unpad yang telah memiliki PIP dan budaya organisasi RESPECT namun belum mewujud utuh dalam diri sivitas akademikanya.

Model Perencanaan Komunikasi “Assii dan French” Langkah Solutif Kampanye Public Relations Universitas Padjadjaran Respect

(7)

atau sosialisasi RESPECT kepada sivitas akademika Unpad. Kondisi tersebut nyaris menjadikan budaya organisasi RESPECT seperti dalam keadaan mati suri. Meski pada sisi lain sivitas akademika juga sudah menjalankan sebagian dari budaya organisasi RESPECT. Namun tidaklah mungkin perilaku positif tersebut dibiarkan berjalan atas naluri saja. Di tengah pusaran kompetisi yang dahsyat, Unpad akan tergerus zaman jika tidak melakukan upaya-upaya konkrit untuk mewujudkan RESPECT sebagai perilaku yang sadar dan melekat pada setiap langkah sivitas akademikanya. Untuk itulah kampanye public relations tentang RESPECT menjadi mutlak untuk dilakukan.

Kampanye public relations RESPECT yang terstruktur, sistematis, dan matang harus segera dimulai. Banyak model atau langkah kampanye yang bisa dipilih dan ditetapkan untuk memberi pengenalan, pemahaman tentang RESPECT sampai melekat dalam setiap langkah keseharian sivitas akademika. Budaya organisasi tidak akan mewujud begitu saja atas dasar naluri. Perlu sentuhan dan perlakuan yang terencana, terstruktur, sistematis, dan proses waktu yang memadai. Oleh karena itu perencanaan program komunikasi dalam wujud kampanye public relations RESPECT menjadi kegiatan yang tidak lagi bisa ditunda.

Model perencanaan program komunikasi dari Assii dan French menjadi alternatif yang dapat dipilih untuk program kampanye public relations RESPECT. Model Assii dan French meski linier dan sederhana, namun relatif sesuai untuk kampanye program RESPECT dan karakter sivitas akademika sebagai khalayak sasaran.

(8)

Model Assii dan French menawarkan delapan langkah atau tahapan yang rinci dan runtut, seperti terlihat pada Gambar 1. Secara eksplisit Model Assii dan French tidak menyertakan tahap riset dalam perencanaan program komunikasi. Padahal kegagalan program kampanye public relations sebagian besar akibat mengabaikan riset dan menetapkan tujuan atas dasar keinginan pegiat program, bukan berbasis pada kondisi dan kebutuhan khalayak. Oleh karena itu riset dalam kampanye public relations menjadi sangat penting. Tanpa riset maka sesungguhnya pegiat program kampanye hanya mengarang dalam melakukan kegiatannya.

Model Assii dan French yang tanpa riset, apakah menunjukkan kelemahan model? Meski secara eksplisit tidak menyertakan tahapan riset, tapi model Assii dan French menggunakan kata analisis pada dua langkah pertama yaitu; (1) Menganalisis masalah dan (2) Menganalisis khalayak. Kata menganalisis inilah yang sesungguhnya gambaran langkah riset pada Model Assii dan French. Artinya langkah 1 dan 2 merupakan tahap riset yang mutlak dilakukan oleh pegiat program kampanye yang menggunakan Model Assii dan French. Riset pada langkah 1 dan 2 dalam implementasi Model Assii dan French akan mencakup data yang diperlukan pada langkah tiga (merumuskan objektif) sampai tujuh (merencanakan manajemen program). Secara konseptual tahapan program kampanye Model Assii dan French untuk kampanye public relations RESPECT dapat dirinci sebagai berikut;

Langkah 1. Menganalisis Masalah

Paparan identiikasi khalayak (sivitas akademika Unpad) dalam penelitian ini pada akhir 2016 menggambarkan bahwa masalah budaya organisasi RESPECT adalah minimnya pengenalan dan pemahaman sivitas akademika Unpad tentang budaya organisasi RESPECT. Data penelitian juga memberi gambaran 100% responden menyetujui budaya organisasi RESPECT. Data tersebut mengartikan bahwa sivitas akademika yang terwakili responden bukan orang yang menentang program RESPECT . Hal ini membuat program kampanye tidak akan banyak mengalami kendala ditentang khalayak.

(9)

khalayak tentang isu; (4) keterdedahan khalayak tentang isu; (5) kerumitan implementasi isu di mata khalayak; (6) kecenderungan perilaku khalayak tentang isu; (7) pola penanggulangan masalah; dan berbagai data masalah lainnya sudah cukup tersedia dari hasil penelitian ini. Namun demikian riset melalui survai terbaru perlu dilakukan, baik dalam konteks menyempurnakan instrumen maupun metodologi termasuk memperbaiki teknik sampling. Untuk survai ke depan perlu menggunakan teknik random sampling. Hal ini penting untuk menggeneralisasikan data hasil riset. Untuk menggali data (isu RESPECT) secara mendalam, perlu juga dilakukan FGD dengan peserta tokoh dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa.

Implementasi tahap atau langkah satu adalah mengoptimalkan riset tentang masalah yang berkaitan dengan RESPECT. Riset dilakukan dalam masa perencanaan kampanye sebagai upaya mengkontruksi program lebih baik sehingga tepat fokus kegiatan komunikasi, tepat khalayak sasaran, tepat pesan, tepat saluran, dan tepat komunikator. Tujuan riset adalah; (1) memperoleh bukti empiris adanya masalah yang perlu ditangani melalui kegiatan komunikasi; (2) menganalisis tingkat kesadaran dan perilaku khalayak pada isu; dan (3) merancang format evaluasi.

Langkah 2. Menganalisis Khalayak

Langkah dua Model Assii dan French sesungguhnya adalah langkah riset. Tidak mungkin akan diperoleh data yang akurat tentang khalayak kalau tidak dilakukan melalui riset. Sebagian data awal dari penelitian ini juga berkaitan dengan data khalayak. Namun demikian pembaruan data melalui riset tetap perlu dilakukan. Riset khalayak diperlukan untuk menjaring data yang berkaitan dengan audit komunikasi seperti; (1) kepemilikan media; (2) pola penggunaan media massa; (3) pola penggunaan media baru/media sosial/internet; (4) pola komunikasi khalayak. Selain itu riset analisis khalayak sangat bermanfaat untuk memperoleh data yang berkaitan dengan karakteristik melalui segmentasi khalayak.

(10)

sosio demograis; (3) segmentasi psikograis; dan segmentasi perilaku. Keterhandalan ataupun kualitas riset yang dilakukan pada langka 1 dan 2, akan sangat bermanfaat dalam merancang strategi langkah-langkah berikutnya. Dalam konteks kampanye public relations budaya organisasi RESPECT analisis penetapan khalayak tidaklah terlalu rumit. Secara eksplisit khalayak sasaran RESPECT adalah sivitas akademika Unpad yang terdiri dari dosen, tendik, dan mahasiswa. Jumlah dan cakupan aktivitas mereka relatif dalam jangkauan.

Langkah 3. Merumuskan Objektif

Dalam program kampanye public relations, banyak pegiat program yang merumuskan tujuan atas dasar keinginannya sendiri atau pemesan projek. Tentu saja tujuan tersebut tidak akan memilki kesesuaian dan menyentuh kebutuhan khalayak. Jika tujuan tidak memperhatikan kondisi khalayak, bagaimana mungkin kegiatan program komunikasi akan menuai hasil positif. Oleh karena itu penetapan tujuan hendaknya mengacu pada kondisi khalayak yang telah dijaring melalui riset pada langkah 1 dan 2. Pada hakekatnya tujuan mencakup tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dapat ditetapkan lebih mudah, karena sifatnya yang cenderung tidak spesiik. Sementara tujuan khusus betul-betul harus sepesiik dan mengacu pada kondisi atau masalah yang ada pada isu/program dan khalayak.

Tujuan program merupakan bentuk penegasan pemecahan masalah yang akan dilakukan. Oleh karena itu tujuan bukan saja harus realistis dan mencerminkan kelayakan program, lebih dari itu tujuan harus berisi penegasan tentang hasil-hasil yang akan diupayakan dicapai dalam pelaksanaan program. Secara eksplisit tujuan kegiatan program komunikasi harus mencakup; (1) mengidentiikasi khalayak yang dituju; (2) bentuk perubahan yang diharapkan; (3) derajat perubahan; (4) situasi penerapan; (5) mengidentiikasi batas waktu pencapaian; dan (6) memudahkan pengukuran yang akan digunakan dalam evaluasi.

(11)

(derajat dan khalayak yang dituju) mengetahui tentang budaya organisasi RESPECT” (bentuk perubahan kognisi). Untuk mengukur perubahan tersebut pada saat evaluasi dapat dilakukan dengan membuat tes pengetahuan sivitas akademika Unpad tentang RESPECT. Demikan seterusnya penetapan tujuan dapat dilakukan, baik dalam konteks perubahan kognisi, afeksi, konasi, sampai perilaku. Termasuk dalam konteks ini besarnya perubahan, lama capaian perubahan, dan subjek yang mengalami perubahan. Semua mengacu pada kondisi khalayak dan skala prioritas yang disepakati/ditentukan dalam program kampanye public relations RESPECT.

Langkah 4. Memilih Media atau Saluran Komunikasi

Data audit komunikasi dalam riset khalayak (langkah 2) sangat bermanfaat untuk menjadi acuan strategi memilih media atau saluran komunikasi. Karena data audit komunikasi akan memberi gambaran media yang dimiliki khalayak, media yang digunakan, pola penggunaan seperti intensitas (frekuensi dan durasi), jenis isi media yang dikonsumsi, dan perilaku bermedia lainnya. Audit komunikasi juga menyuguhi data tentang perilaku komunikasi non media yang biasa dilakukan khalayak.

Dari data penelitian tentang identiikasi karakteristik khalayak sivitas akademika Unpad, selanjutnya pegiat program kampanye public relations tinggal melakukan langkah-langkah; (1) mendatar semua media yang ada; (2) mengevaluasi setiap media; (3) menetukan ketersediaan media; (4) menentukan eisiensi biaya media; (5) menggunakan kombinasi beberapa media. Secara umum biasanya media-media yang sering digunakan dalam program kampanye public relations; (1) media personal; (2) media kelompok; (3) media massa; (4) media luar ruang; dan (5) cyber media/media sosial.

(12)

Langkah 5. Mengembangkan Pesan

Pengembangan pesan adalah upaya merancang pesan baik dalam konteks merancang bentuk, gaya, dan pendekatan isi pesan yang akan disampaikan kepada khalayak perencanaan program komunikasi kampanye public relations RESPECT. Prinsip pengembangan pesan biasanya mengikuti kaidah; (1) target pada kelompok yang spesiik; (2) fokus pada masalah yang spesiik; (3) berorientasi pada tindakan; (4) sederhana dan terarah; (5) mudah dimengerti; dan (6) menarik dan memikat.

Sementara dari sisi jenis pesan yang biasa digunakan antara lain; (1) serius/formal; (2) humor; (3) popular/informal; (4) satu sisi; (5) dua sisi; (6) agresif; (7) langsung; dan (8) tidak langsung. Pada umumnya jenis pesan yang digunakan tidak tunggal, tapi kombinasi berbagai jenis pesan. Semua pesan apapun jenisnya hanya digunakan jika sesuai dengan karakteristik khalayak

Dalam konteks kampanye public relations budaya organisasi RESPECT hampir semua jenis pesan dapat digunakan. Karakteristik khalayak yang khas komunitas intelektual dan cenderung homogin dalam beberapa hal, sesungguhnya lebih memudahkan dalam rancangan pengembangan pesan.

Langkah 6. Merencanakan Produksi Media

Problem utama pada langkah 6 adalah ketersediaan anggaran. Merencanakan produksi media bukan hanya sekedar berapa banyak media yang akan diproduksi, namun untuk meminimalisir kesalahan perlu juga uji coba media. Pada umumnya pegiat program kampanye akan melakukan langkah sebagai berikut; (1) review/kaji ulang tujuan; (2) memeriksa biaya yang tersedia; (3) menentukan rencana produksi media; (4) menyiapkan prototype media; (5) uji coba prototype; (6) revisi dan atau produksi inal.

(13)

terutama dalam kegiatan kampanye public rtelations sekala besar. Secara psikologis pegiat program kampanye public relations dihadapkan kesulitan dalam uji coba media karena factor-faktor; (1) biaya mahal; (2) keterbatasan waktu; (3) kurangnya minat; dan (4) hambatan psikologis. Alternatif pemecahan masalahnya adalah; (1) lakukan uji coba media dalam sekala terbatas; (2) pilih lokasi terdekat; (3) melakukan penyederhanaan metode; dan (4) membuat generalisasi model. Namun prinsip utama dari uji coba media adalah mengacu pada karakteristik khalayak. Dalam konteks ini pegiat program kampanye public relations harus memiliki kepekaan dan mampu mengedepankan aspek daya tarik, keterpahaman, penerimaan, keikutsertaan, dan bujukan. Jika semua langkah tersebut dilakukan semestinya produksi media dapat berjalan dengan baik.

Bagaimana dengan produksi media dalam kegiatan perencanaan program komunikasi kampanye public relations budaya organisasi RESPECT? Dalam banyak hal semestinya tidak akan banyak mengalami kendala, terutama dalam konsep keharusan uji coba media. Data penelitian tentang sikap pandang sivitas akademika Unpad tentang budaya organisasi RESPECT telah memberi gambaran yang relatif utuh karakteristik khalayak sasaran. Secara umum khalayak sivitas akdemika Unpad hanya dibedakan dalam konteks status profesi yaitu dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Cakupan wilayah yang relatif dalam jangkauan yaitu kampus Jatinangor dan kampus Bandung. Selain itu perilaku bermedia sivitas akademika yang cenderung menggunakan media sosial, relatif lebih membuat mudah pegiat kampanye public relations budaya organisasi RESPECT dalam memproduksi media.

Langkah 7. Merencanakan Manajemen Program

(14)

sumber daya komunikasi; (3) event yang akan digelar; (4) ketersediaan anggaran; (5) jadwal kegiatan; dan (6) monitoring kegiatan.

Demikian pula dalam program kampanye public relations budaya organisasi RESPECT membutuhkan tim pelaksana dengan berbagai keahlian dan seorang penanggungjawab yang memiliki kemampuan manjerial. Inti dari kegiatan manajemen program kampanye budaya organisasi RESPECT adalah mengelola berbagai event yang telah dirancang, menetapkan jadwal kegiatan dengan memperhatikan batasan waktu yang telah ditetapkan, dan melakukan monitoring untuk semua proses yang berlangsung dari mulai langkah satu sampai pelaksanaan manajemen program.

Langkah 8. Merencanakan Monitoring dan Evaluasi

Langkah delapan merencanakan monitoring dan evaluasi merupakan langkah yang kerap diabaikan para program kampanye public relations. Mereka merasa setelah kegiatan selesai maka tugaspun berakhir. Kondisi inilah yang menjadikan sebuah program kampanye public relations tidak diketahui hasilnya, apakah sukses atau gagal. Langkah kedelapan model Assii dan French menyertakan dua kegiatan yang harus dilakukan oleh pegiat atau pelaku program kampanye public relations yaitu monitoring dan evaluasi.

Cukup banyak pelaku kegiatan program kampanye yang berpikir bahwa monitoring adalah evaluasi. Oleh karena itu mereka hanya melakukan evaluasi di akhir kegiatan. Padahal monitoring merupakan hal penting dalam sebuah kegiatan program kampanye. Karena monitoring merupakan proses pemantauan program komunikasi/ kampanye dari awal sampai akhir kegiatan. Melalui monitoring semua kgiatan bukan saja dapat terpantau, tetapi juga bisa dievaluasi. Berbagai proses kegiatan yang keluar dari perencanaan atau tidak sesuai saat dilaksanakan di lapangan akan dapat terdeteksi melalui kegiatan monitoring. Proses ini sangat bermanfaat untuk menghindari berbagai kesalahan atau ketidaksesuaian program dalam sekala kecil maupun besar sejak awal kgiatan program kampanye. Dengan demikian kesalahan fatal yang memungkinkan kegagalan program dapat dihindari.

(15)

kegagalannya. Oleh karena itu evaluasi kerap dimaknai; (1) sebagai dampak program komunikasi; (2) proses mengukur hasil kegiatan komunikasi berdasarkan target atau tujuan yang dicapai; dan (3) mengetahui tingkat keberhasilan program komunikasi.

Langkah-langkah evaluasi yang biasa dilakukan dalam sebuah kegiatan program kampanye antara lain mencakup; (1) mempersiapkan alat pengumpul data; (2) mengorganisasikan pengumpulan data; (3) mengumpulkan data; (4) melakukan kompilasi data; (5) melakukan analisis data; dan (6) menyusun laporan dan rekomendasi. Gambaran semua langkah tersebut menunjukkan aktivitas riset. Dengan perkataan lain evaluasi dilakukan melalui proses riset terhadap khalayak sasaran.

Oleh karena itu dalam kegiatan program kampanye public relations ”Universitas Padjadjaran RESPECT,” proses monitoring dan evaluasi menjadi hal penting untuk dilakukan. Melalui monitoring berbagai proses kegiatan program kampanye public relations ”Universitas Padjadjaran RESPECT” dapat dipantau dalam setiap tahapannya. Hal ini bukan saja dapat meminimalisir kesalahan program, tetapi bisa mengoptimalkan kualitas program dalam setiap tahapan. Bagian akhir dari kegiatan program kampanye ”Universitas Padjadjaran RESPECT” adalah melakukan riset kembali kepada sivitas akademika Unpad sebagai khalayak sasaran.

Simpulan

(16)

Datar Pustaka

Cangara Haied. 2013. Perencanaan & Strategi Komunikasi. PT Raja Graindo Persada Jakarta.

Darmojuwono, Subarjo. 1992. Perencanaan Komunikasi Teori dan Praktek. Penerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Dresser, Peter van. 1973. Development on a Humen Scale, Potentials, for Ecologically Guide in Northern New Mexico. Praeger Publisher, New York, Washington, and London.

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya.

Nasution, Zulkarimein. 1994. Perencanaan Program Komunikasi. Penerbit Universitas Terbuka.

Perlaman, Robert, dan Arnold Gurin. 1972. Community Organization and Social Planning. John Wiley and Sons, Inc., New York.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil akumulasi skoring tingkat keberhasilan berdasarkan parameter Pengembangan Kapasitas Masyarakat yang dianalisis dengan metode skoring dan diperkuat dari temuan dilapangan

dapat diketahui bahwa keputusan dividen berpengaruh negatif signifikan terhadap keputusan pendanaan akan tetapi secara keseluruhan antara keputusan investasi, keputusan pendanaan

Yogyakarta: Depdiknas Dirjen peningkatan Mutu pendidik dan Tenaga Kependidikan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. Yamin,

kebenaran yang dicarinya. Model a la Sokrates inilah yang dikatakan sebagai metode baru. Peserta didik aktif, mencari, kritis, mempertanyakan, dan menemukan

Pemberian ekstrak etanol herba putri malu (Mimosa pudica L.) dapat menghasilkan jumlah sel neutrofil yang lebih tinggi pada tikus galur Wistar yang telah

Melalui kartu ini, para pengguna jalan tol tidak perlu repot membayar dengan uang tunai seperti yang biasa di lakukan, melainkan menggunakan sistem Touch &

3) Dan skor antara Mx - 1.SDx sampai dengan Mx + 1.SDx adalah tingkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI kelas VIII SMPN 1 Jetis Ponorogo cukup.