• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH kwn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH kwn"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

MELEMAHNYA TOLERANSI BERAGAMA DI INDONESIA

(INTOLERANSI)

Disusun oleh :

Ana Maulana (151061021)

JURUSAN STATISTIKA

FAKULTAS SAINS TERAPAN

INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKRPIND

YOGYAKARTA

2016

(2)

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas Kewarganegaraan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Makalah kewarganegaraan “Tentang melemahnya toleransi beragama diindonesia (intoleransi)” ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Kewarganegaraan di program studi Statistik Fakultas Sains Terapan pada Institut Sains dan Teknologi AKPRIND yogyakarta. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Drs. Syukri Abdullah M.Hum selaku dosen pembimbing mata kuliah Kewarganegaraan.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Kewarganegaraan dan dapat meningkatkan sikap bertoleransi terhadap beragama diindonesia. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang akan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Yogyakarta, 07 Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

(3)

DAFTAR ISI...iii

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

A. Latar Belakang...4

B. Rumusan Masalah...5

C. Tujuan...5

D. Manfaat...6

BAB II...7

PEMBAHASAN...7

A. Pengertian Toleransi Keberagamaan...7

B. Pengertian Intoleransi Keberagamaan...7

C.Dasar Hukum Toleransi Beragama...8

D. Dampak Intoleransi Keberagamaan di Indoesia...11

E. Cara Menanggulani Toleransi Keberagamaan di Indonesia...13

BAB III...14

PENUTUP...14

A. Kesimpulan...14

B. Saran...14

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Manusia adalah makhluk indiviudu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya salah satunya adalah perbedaan agama.

Dalam menjalani kehidupan sosialnya tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan ras maupun dalam hubungan antar agama, seperti banyak muncul kasus-kasus yang terjadi di masa reformasi 15 tahun ini, seperti pelanggaran terhadap para penganut Ahmadiyah, penganut Syi’ah, pelarangan terhadap pembangunan gereja, dan lain-lain. Menurut Komnasham, selama 3 tahun terakhir, pengaduan tentang peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan begitu tinggi seperti kasus perusakan, gangguan dan penyegelan rumah ibadah, kekerasan terhadap “aliran sesat”. Pada 2011 pengaduan yang masuk sebanyak 83 kasus terkait gangguan dan penyegelan atas rumah ibadah, gangguan dan pelarangan ibadah, dan didkriminasi atas minoritas agama. Pada tahun 2012, tercatat 68 pengaduan dengan perincian perusakan dan penyegelan rumah ibadah sebanyak, gangguan dan pelarangan ibadah. Pada tahun 2013 Komnas menerima 39 berkas pengaduan. Seperti diskriminasi, pengancaman, dan kekerasan terhadap pemeluk agama, penyegelan, perusakan, atau penghalangan pendirian rumah ibadah dan penghalangan terhadap ritual pelaksanaan ibadah.

(5)

penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Olehnya itu kita sebagai warga Negara sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara. Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama. Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya.

Demikian juga sebaliknya, toleransi antarumat beragama adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Namun yang sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya, misalnya penekanan kebebasan yang mengabaikan toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membelenggu kebebasan. Untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang terkaji yakni : 1. Apa yang dimaksud dengan toleransi keberagamaan?

2. Apa yang dimaksud dengan intoleransi keberagamaan? 3. Dasar hukum toleransi keberagamaan?

4. Dampak intoleransi keberagamaan diindonesia?

5. Cara menangulangi melemahnya toleransi di indonesia (Intoleransi)?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

(6)

5. Mengetahui cara menangulangi melemahnya toleransi di indonesia.

D. Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi penulis

Pembuatan makalah ini dapat memberikan berbagai pengetahuan bagi penulis seperti pengetahuan tentang apa itu sikap bertoleransi terhadap keberagamaan, bagaimana dampak negatif yg diperoleh dari sikap intoleransi keberagamaan serta gejala apa saya yg terjadi diindonesia setelah terjadi intoleransi keberagamaan diindonesia.

2. Bagi pembaca

(7)

BAB II

PEMBAHASAN

A.

Pengertian Toleransi Keberagamaan

Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilakumanusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya deskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi “kelompok” yang lebih luas , misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konservatif. Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

Dalam masyarakat berdasarkan pancasila terutama sila pertama, bertaqwa kepada tuhan menurut agama dan kepercayaan masing-masing adalah mutlak. Semua agama menghargai manusia maka dari itu semua umat beragama juga wajib saling menghargai. Dengan demikian antar umat beragama yang berlainan akan terbina kerukunan hidup.

B.

Pengertian Intoleransi Keberagamaan

(8)

Namun, pernyataan bahwa kepercayaan atau praktik agamanya adalah benar sementara agama atau kepercayaan lain adalah salah bukan termasuk intoleransi beragama, melainkan intoleransi ideologi.

Kata intoleransi berasal dari prefikin- yang memiliki arti "tidak, bukan" dan kata dasar toleransi (n) yang memiliki arti "1) sifat atau sikap toleran; 2) batas ukur untuk

penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3) penyimpangan yang masih

dapat diterima dalam pengukuran kerja." Dalam hal ini, pengertian toleransi yang dimaksud adalah "sifat atau sikap toleran".[1] Kata toleran (adj) sendiri didefinisikan sebagai "bersifat

atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri."[2]

Kata keberagamaan (n) memiliki arti "perihal beragama". Sementara kata

beragama (v) didefinisikan sebagai "1 menganut (memeluk) agama; 2 beribadat; taat kepada

agama; baik hidupnya (menurut agama)."[3] Dengan demikian, intoleransi keberagamaan

dapat didefiniskan sebagai "sifat atau sikap yang tidak menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) perihal keagamaan yang berbeda atau bertentangan dengan agamanya sendiri."

C.

Dasar Hukum Toleransi Beragama

Hukum di Indonesia melindungi kebebasan beragama khusus untuk enam agama yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu.Meskipun demikian, penganut agama selain keenam agama resmi tetap memperoleh jaminan penuh oleh Pasal 29 (2) UUD 1945 selama tidak melanggar hukum Indonesia. Konstitusi dan hukum yang mengatur kebebasan beragama di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Versi berikut merupakan versi UUD 1945 setelah perubahan, khususnya amendemen kedua yang berkaitan dengan pasal-pasal berikut.

-BAB XA. HAK ASASI MANUSIA -Pasal 28E

(9)

(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

-Pasal 28I

(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. -BAB XI. AGAMA

-Pasal 29

(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pasal-pasal tersebut di atas penerapannya dibatasi oleh hak-hak asasi orang lain yang diatur dalam pasal 28J sebagai berikut :

(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

2. Ketetapan MPR tentang Pancasila

Butir-butir pengamalan Pancasila diuraikan dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa menjadi 36 butir, khusus Sila Pertama diuraikan menjadi 4 butir. Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) menguraikan kembali ke-36 butir tersebut pada tahun 1995 menjadi 45 butir, 7 diantaranya merupakan butir Sila Pertama[3] sebagai berikut:

(10)

2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap

Tuhan Yang Maha Esa.

5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Pada tahun 1998, TAP MPR No. II/MPR/1978 beserta penetapan Pancasila sebagai asas tunggal dicabut melalui TAP MPR No. XVIII/MPR/1998[4] dengan alasan politis yaitu

penghapusan produk Orde Baru.[3] Penghapusan ini dinilai sebagai suatu kesalahan karena

menyebabkan konflik SARA menjadi tidak terbendung.[5] Di sisi lain, wacana penetapan

kembali Pancasila sebagai asas tunggal ditentang oleh sebagian Ormas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Pansus RUU Ormas (2012)[6] karena sempat menimbulkan

ketegangan antara ormas dengan pemerintah Orde Baru yang dinilai represif.[7] Wakil

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Andry Dewanto (2016), berpendapat bahwa pemerintah seharusnya tidak mengesahkan organisasi-organisasi yang bertentangan dengan paham Pancasila. Ketua Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf

(2016), juga menyatakan bahwa ajaran yang ingin mengubah ideologi Pancasila sangat tidak bisa dimaafkan.[8]

3. Peraturan perundangan lain

1. UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.[9]

(11)

dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun."

Pasal 22 (1). "Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."

Pasal 22 (2). "Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu." 2. UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.[9]

Pasal 80. "Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya."

Pasal 185 (1). "Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ... Pasal 80 ... dikenakan sanksi pidana penjara ... dan/atau denda ... .

3. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

Pasal 175. "Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan merintangi pertemuan keagamaan yang bersifat umum dan diizinkan, atau upacara keagamaan yang diizinkan, atau upacara penguburan jenazah, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan."

D.

Dampak Intoleransi Keberagamaan di Indoesia

(12)

penghayat kepercayaan 6 kasus. Pada tahun 2013 Komnas menerima 39 berkas pengaduan. Diskriminasi, pengancaman, dan kekerasan terhadap pemeluk agama sebanyak 21 berkas, penyegelan, perusakan, atau penghalangan pendirian rumah ibadah sebanyak 9 berkas dan penghalangan terhadap ritual pelaksanaan ibadah sebanyak 9 berkas.

Selain itu, faktor SARA, suku, agama, ras, dan antar golongan selama masa reformasi muncul kembali dengan memanfaatkan suasana kebebasan yang disalahgunakan oleh orang atau golongan untuk kepentingannya sendiri-sendiri dan menurut tafsirannya masing-masing. Kebebasan telah dibajak dan dengan memanfaatkan sentimen-sentimen primordial yang berbau SARA, ditambah lagi oleh kenyataan bahwa struktur penguasaan sumberdaya ekonomi dan politik ternyata berkembang sangat timpang, sehingga menyebabkan terjadinya fenomena konflik dan kasus-kasus kekerasan dan ketidakadilan. Sikap dan semangat kedaerahan juga semakin berkembang seiring dengan kebijakan otonomi daerah, sehingga semakin diperlukan kewaspadaan bagi semua pemimpin bangsa untuk memberikan contoh dan teladan mengenai semangat kebangsaan untuk merawat dengan baik kebhinekaan kita sebagai bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

E.

Cara Menanggulani Toleransi Keberagamaan di Indonesia

Upaya-upaya yang dapat mengubah sikap permusuhan menjadi sikap bekerja sama dan saling menghormati yaitu :

1. Menyingkirkan segala upaya politisasi agama dan menempatkan agama sebagai nilai yang universal.

2. Menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat terdiri dari berbagai pemeluk agama yang berbeda dan kebersamaan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan utnuk menjaga kententraman kehidupan.

3. Kontak yang sering terjadi, walaupun mungkin tidak sampai pada belajar tentang jaran agama lain. Yang penting adalah adnaya kesempatan untuk bertemu sehingga kelihatan bahwa orang lain mesti berupa lawan.

(13)

5. Sikap pemerintah, seperti negara Pancasila, yang tidak memperlakukan umat-umat beragama degan berat sebelah.

6. Pendidikan yang tidak hanya mempertemukan beberapa anak pemeluk agama yang berbeda-beda namun juga mencerahkan pikiran dan memungkinkannya untuk membuka diri terhadap orang lain. (Hamdan Farchan, 1999:5)

(14)

A.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa :

1. Manfaat yang diperoleh dari sikap toleransi adalah Menghindari terjadinya perpecahan, memperkokoh silaturahmi dan dapat menerima perbedaan. Akibat apabila toleransi diabaikan adalah menimbulkan konflik di dalam masyarakat semakin maraknya pelanggaran HAM.

2. Kerukunan umat beragama adalah suatu bentuk sosialisasi yang damai dan tercipta berkat adanya toleransi agama. Kerukunan umat beragama bertujuan untuk memotivasi dan mendinamisasikan semua umat beragama agar dapat ikut serta dalam pembangunan bangsa dan menjadi hal yang sangat penting untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup dinegeri ini.

3. Ada tiga kerukunan umat beragama, yaitu kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. Kerukunan umat beragama dapat menjamin stabilitas sosial sebagai syarat mutlak pembangunan. Selain itu kerukunan juga dapat dikerahkan dan dimanfaatkan untuk kelancaran pembangunan. Ketidak rukunan menimbulkan bentrok dan perang agama serta mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara.

B. Saran

Dewasa ini, diharapkan adanya peningkatan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Toleransi sebagai salah satu kunci untuk mewujudkan hal tersebut perlu mendapatkan perhatian yang lebih, agar terciptanya Negara yang terhindar dari perpecahan, menerima adanya perbedaan serta mencintai silaturrahmi.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Intoleransi_keberagamaan

(15)

http://juliani-vj.blogspot.co.id/2011/11/makalah-toleransi-antar-umat-beragama.html http://nunung-kyeopta.blogspot.co.id/2012/04/toleransi-umat-beragama-dalam-islam.html https://id.wikipedia.org/wiki/Kebebasan_beragama_di_Indonesia

Ajat Sudrajat, Din Al Islam, Yogyakarta: UNY Press, 2008

Hamdan Farchan, Dari Teologi Profesional ke Teologi Praktisi, Kompas, 15 Februari 1999. Hlm.4.

Hamdan Farchan, Dari Teologi Profesional ke Teologi Praktisi, Kompas, 15 Februari 1999. Hlm.5.

(16)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Metode pengambilan dan pengukuran timbulan sampah, volume sampah, komposisi sampah dan densitas sampah dilakukan selama 8 hari (rumah tangga) dan 3 hari (sentra

Sistem park and ride dapat diartikan dengan pengendara yang akan memarkirkan kendaraannya karena parkir pada waktu periode tertentu atau dalam periode waktu yang

makna ibadah dalam di dalam Islam adalah luas yang menyangkut dengan segala aktivitas kehidupan yang ditunjukan untuk memperoleh ridha Allah SWT. Tempat Menuntut

Abstrak Pada kasus-kasus aktual di lapangan, penelitian mengenai kondisi air tanah adalah sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mempelajari lebih lanjut mengenai tinggi muka air

Namun demikian bila terjadi seringkali pada penderita yang menderita gagal jantung atau stenosis aorta atau yang pernah mengalami serangan jantung, mereka

tersebut dengan pidana yang dijatuhkan, apakah lamanya pidana yang dijatuhkan terhadap narapidana dengan perilaku tertentu sudah tepat (dalam arti cukup) untuk melakukan

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

dan air kecil (bagi yang tidak boleh menguruskan diri sendiri). 3) Memastikan kotoran yang terdapat dalam kelas seperti muntah, air kencing, najis yang perlu dibersihkan. 4) Menyambut