Analisa Manajemen Strategi Bisnis dalam
Menghadapi Persaingan Bisnis Unified Communication
Studi Kasus di PT. Damai Sejati (Panasonic ITComm)
TESIS
Disusun Oleh
H E L M I
55409120001
PROGRAM MAGISTER TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM PASCASARJANA
MANAJEMEN TELEKOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
ABSTRAK
Kemajuan teknologi ICT (Information & Communication Technology) saat ini sudah mengarah akan adanya convergence atau kolaborasi antara teknologi telekomunikasi dan teknologi informasi sehingga kita harus memperhatikan kedua sistem ini menjadikan satu kesatuan sistem yang dapat dijalankan dengan baik, mudah dan murah. Dengan teknologi Unified Communication maka kini kita dapat mengkolaboraskan antara voice, video, chatting, email, presence dan data yang selama ini merupakan sistem berbeda menjadi satu kesatuan sistem yang dapat diimplementasikan, dikontrol dan dimonitor sehingga dapat mengoptimalkan kinerja dan produktifitas kerja suatu perusahaan. Saat ini PT. Damai Sejati sebagai distributor untuk peralatan Telekomunikasi Panasonic telah memulai untuk mengembangkan bisnis ini, akan tetapi persaingan bisnis ini sudah ketat dengan adanya pemain/vendor lama dan yang baru masuk ke pasar ini, sehingga muncul beberapa masalah dalam bisnis yang sedang dirintis oleh perusahaan. Penulis akan menganalisa permasalahan yang muncul ini dengan menggunakan
a age e t odel “WOT da Porter s Fi e For es.
PENGESAHAN TESIS
Judul : Analisa Manajemen Strategi Bisnis dalam Menghadapi Persaingan Bisnis Unified Communication, Studi Kasus di PT. Damai Sejati (Panasonic ITComm)
Nama : Helmi
N I M : 55409120001
Program : Pascasarjana Program Magister Teknik Elektro Konsentrasi : Manajemen Telekomunikasi
Tanggal : Januari 2015
Mengesahkan
Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro
Dr.-Ing. Mudrik Alaydrus
Pembimbing I
(Dr. Ir. Iwan Krisnadi, MBA)
PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa seluruh tulisan dan pernyataan dalam Tesis ini :
Judul : Analisa Manajemen Strategi Bisnis dalam Menghadapi Persaingan Bisnis Unified Communication, Studi Kasus di PT. Damai Sejati (Panasonic ITComm)
Nama : Helmi
N I M : 55409120001
Program : Pascasarjana Program Magister Teknik Elektro Konsentrasi : Manajemen Telekomunikasi
Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar magister pada program sejenis di perguruan tinggi lain. Semua informasi, data, dan hasil pengolahannya yang digunakan, telah dinyatakan secara jelas sumbernya dan dapat diperiksa kebenarannya.
Jakarta, Januari 2015
(Helmi)
KATA PENGANTAR
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan tesis ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan jerih payah saudara-saudara sekalian. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada:
1. Keluarga tercinta, yang telah mendukung selama mengikuti perkulihan dan penulisan tesis ini. 2. Bapak Dr. Ir. Iwan Krisnadi, MBA selaku Dosen Pembimbing Tesis yang telah membantu dalam
memberikan arahan dan masukan yang sangat berharga dan bermanfaat dalam penulisan Tesis ini dari awal hingga selesai
3. Kepada teman-teman di Program Studi MTEL khsususnya MTEL angkatan 6, terima kasih atas dukungannya
4. Kepada karyawan PT. Damai Sejati dan PT. Safir Eletronik Indonesia yang telah mendukung penulisan Tesis ini
5. Kepada semua rekan, kolega, teman-teman MTEL angkatan lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, Terima kasih atas bantuan dan dukungannya
Saya menyadari bahwa penulisan Tesis ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan sehingga diperlukan saran dan kritik yang membangun untuk penyempurnaan di masa yang akan datang. Dan akhir kata penulis berharap semoga Tesis ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Jakarta, Januari 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... vi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1.
Latar Belakang ... 1
1.2.
Rumusan Masalah ... 4
1.3.
Batasan Penelitian ... 4
1.4.
Tujuan Penelitian... 4
1.5.
Tentang PT. Damai Sejati ... 5
1.6.
Hipotesa Awal ... 6
1.7.
Sistematika Penulisan ... 7
BAB II. STUDI LITERATUR ... 9
2.1. Konsep Manajemen Strategi ... 9
2.2. SWOT (Strength
–
Weakness
–
Opportunity
–
Threath) ... 14
2.3
Porter’s 5 Forces
... 17
2.4.
Teknologi Unified Communication ... 23
2.5.
Tinjauan Jurnal ... 23
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 26
3.
Metodologi ... 26
3.1.
Metode Pengumpulan data ... 28
3.1.1.
Studi Pustaka ... 28
3.1.2.
Studi Lapangan ... 28
3.1.3.
Wawancara ... 28
3.1.5.
Observasi... 29
3.1.6.
Dokumentasi ... 29
3.2.
Keabsahan Data ... 29
3.3.
Metode Analisa Data ... 28
3.3.1.
Pemodelan Porter ... 29
3.3.2.
Pemodelan SWOT ... 32
BAB IV. ANALISA DATA ... 35
4.1.
Analisa Porter Five Forces ... 35
4.1.1. Ancaman Pendatang baru (Threat of New Entrants) ... 35
4.1.2. Ancaman produk pengganti (Threat of Subsitutes) ... 37
4.1.3. Kekuatan tawar menawar pembeli (bargaining power of buyers) ... 38
4.1.4. Kekuatan tawar menawar pemasok (bargaining power of supplier) ... 40
4.1.5. Persaingan antar pesaing yang sama (Rivalry among competitor)... 41
4.2.
Analisa SWOT ... 45
V. KESIMPULAN ... 52
5.1.
Hipotesa Awal vs Hasil Penelitian ... 52
5.2.
Kesimpulan Penelitian... 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Tren Konvergensi Telekomunikasi Perkantoran
…
... 3
Gambar 2.1 Matriks SWOT
……….
... 11
Gambar 2.2 Kuadran SWOT ... 13
Gambar 2.3
Li a kekuata ersai g pada Porter s For es
………
.... 19
Gambar 2.4 Strategi Generik Porter ... 20
Gambar 2.5 Produk Panasonic Unified Communication ... 22
Gambar 3.1 Identifikasi pemain dalam industri ... 31
Gambar 4.1 Hasil Analisa Porter ... 44
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1
Bobot SWOT ... 32
Tabel 4.1
Ancaman Pendatang Baru ... 37
Tabel 4.2
Ancaman produk pengganti
…
... 38
Tabel 4.3
Kekuatan Tawar Menawar Pembeli ... 40
Tabel 4.4
Kekuatan Tawar Menawar Pemasok ... 41
Tabel 4.5
Persaingan antar pesaing industri yang sama ... 43
Tabel 4.6
Evaluasi Tabel Internal ... 47
BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Suatu perusahaan yang ingin memperluas usahanya dalam persaingan usahanya haruslah
memandang keluar untuk melihat pangsa pasar sebagai kunci utama dalam mencapai tujuan
perusahaan.
Dalam menghadapi pasar yang sangat dinamis ada tiga pertanyaan mendasar yang berkaitan
dengan perusahaan yaitu [1] :
Bagaimanakah kondisi perusahaan pada saat ini?
Mau kemana perusahaan akan dibawa? dan apa tujuannya?
Bagaimana caranya untuk menuju kesana?
Dari tiga pertanyaan mendasar tersebut diatas maka harus dipilih strategi bisnis yang tepat
agar perusahaan mencapai tujuannya.
Strategi bisnis ini diharapkan mampu menjadi alat dalam menghadapi perubahan-perubahan
serta memberdayakan semua potensi sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dimana dapat
memberikan arah yang tepat bagi semua anggota perusahaan.
Tujuan dasar sebuah perusahaan adalah untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih
besar daripada biaya modal yang telah dikeluarkan. Untuk mencapai perihal tersebut diatas maka
perusahaan dapat menempuh dua cara yaitu :
Menemukan industri yang menguntungkan yang dapat menghasilkan tingkat pegembalian
yang tinggi dari rata- rata industri lainnya.
[1] Thompson, A. et al. (2010).
Crafting and Executing Strategy: The quest for competitive advantage, 17th Edition, New York, McGraw
‐
Hill.
Memperoleh keunggulan kompetitif dibandingkan dengan pesaingnya di dalam suatu
industri sehingga perusahaan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari
rata-rata perusahaan pesaingnya tersebut.
Strategi bisnis merupakan pedoman untuk memutuskan pilihan mana yang harus diambil dan
secara spesifik menentukan cara perusahaan dalam membagi sumber daya yang dimiliki
sehingga dapat mencapai target dan sasaran jangka panjang, serta bagaimana caranya
mengorganisir perusahaan untuk mengimplementasikan strategi tersebut.
perubahan tren telekomunikasi dengan masuknya produk baru yaitu
Unified Communication (UC).
Melihat kebutuhan diatas mendorong penulis sebagai salah satu karyawan PT. Damai Sejati
untuk melakukan penelitian tentang kondisi perusahaan saat ini, sejauh mana perkembangan
serta achievement yang telah dicapai, dan sejauh mana efektifitas strategi bisnis yang digunakan
saat ini mampu mengoptimalkan potensi dan peluang yang ada.
Tren Konvergensi Telekomunikasi di Perkantoran
Kemajuan teknologi ICT (Information & Communication Technology) saat ini sudah
mengarah akan adanya convergence atau kolaborasi antara teknologi telekomunikasi dan
teknologi informasi sehingga kita harus memperhatikan kedua sistem yang sebelumnya berbeda
jalur ini menjadikan dalam satu kesatuan sistem yang dapat dijalankan dengan baik, mudah dan
murah.
Dengan teknologi inovasi dan tepat maka saat ini kita dapat mengkolaborasi antara
voice, video, chatting, email, presencedan
datayang selama ini merupakan sistem yang berbeda
menjadi satu kesatuan sistem yang dapat kita implementasikan, dikontrol dan dimonitor
walaupun mempunyai banyak kantor cabang di lokasi yang berjauhan, sehingga dapat
mengoptimalkan kinerja telekomunikasi dan informasi yang tentunya juga akan meningkatkan
produktifitas kerja yang baik terhadap perusahaan.
Kalau kita melihat arah trend dari industri IT dan Telekomunikasi maka saat ini sering kita
mendengar istilah
NGN (Next Generation Network)yang nantinya akan mempunyai peranan
penting bagi perkembangan Telekomunikasi di dunia.
NGNsendiri merupakan evolusi dari
industri IT dan Telekomunikasi dimana kedua teknologi ini akan menyatu dalam satu jaringan
yang melewati informasi-informasi dari voice, video dan data melalui Internet Protocol (IP)
maka sering disebut juga dengan
IP NGN.
Kemudian sekarang timbul pertanyaan : peralatan atau sistem apa sajakah yang dapat
menjalankan teknologi IP NGN ini? Jawabannya adalah
Unified Communication (UC). UC
adalah sistem yang mengabungkan teknologi IT dan Telekomunikasi seperti
voice, video, chatting, fax, email, sms,dan lain-lain kedalam sebuah interface atau perangkat komunikasi.
Mungkin untuk mudahnya dikehidupan sehari-hari adalah kalau dulu dan sampai sekarang kita
melihat jalur telepon dan komputer merupakan dua sistem yang berbeda maka dengan adanya
UC sangat memungkinkan berjalan dalam satu sistem karena adanya
convergenceatau
kolaborasi diantara sistem-sistem yang berlainan ini dimana si pengguna dengan mudahnya
untuk dapat berpindah sesi pekerjaan dengan semua orang yang diinginkannya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka secara garis besar rumusan masalah yakni :
“Apa s
trategi bisnis yang tepat bagi PT. Damai Sejati dalam menghadapi persaingan penjualan Unified Communication di Indonesia?”
Batasan Penelitian
Untuk menghindari meluasnya materi pembahasan penelitian ini, maka penulis membatasi
penelitian sebagai berikut:
Penelitian hanya mencakup analisa strategi bisnis Unified Communication dengan PT.
Damai Sejati sebagai objek studi kasusnya
Area di Indonesia.
Tujuan Penelitian
Berikut ini adalah tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : memberikan
rekomendasi strategi bisnis bagi PT. Damai Sejati sehingga mampu mengoptimalkan potensi
perusahaan dengan melakukan identifikasi dan analisa kondisi internal perusahaan mencakup
kekuatan dan kelemahannya serta potensi dan faktor-faktor eksternal yang mampu memberikan
dampak bagi perusahaan baik positif maupun negatif.
Tentang PT. Damai Sejati
Perusahaan ini sering juga disebut dengan nama ITComm, berdiri pada tahun 1978 .
Sebelumnya perusahaan ini bernama Indo Tiga atau disingkat dengan Inti. Awalnya adalah
merupakan distributor peralatan elektronik merek National yang berlokasi hanya di kota Jakarta
saja.
1.
IP PBX
Salah satu peralatan pengolah voice yang banyak diimplementasikan pada sebuah
perusahaan untuk mendistribusikan proses voice kepada semua karyawan. Perlatan ini
berbasis IP sehingga akan lebih mudah untuk dikolaborasikan dengan system lain dan
dengan mudah pula untuk diintegrasikan dengan cabang yang berlainan lokasi walaupun
dengan jarak jauh sekalipun dikarenakan bisa disatukan pada jalur data yang ada.
2.
Fixed Wireless Terminal
Peralatan yang digunakan untuk mengkonversi signal GSM/CDMA ke signal analog dan
sebaliknya sehingga dengan mudah bisa digabungkan dengan CO analog yang terdapat di
IP PBX.
3.
Voice Mail / Voice Processing System
Peralatan ini adalah mesin pengolah voice yang bisa digabungkan dengan data,
penyimpanan pesan dan email. Biasanya kita hanya menggunakan voice hanya sebatas
menerima atau menelpon ke tempat lain, dengan menggunakan peralatan ini maka voice
sudah mulai diproses sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
4.
IP Camera
Alat ini digunakan untuk menggabungkan voice dan image menjadi video conference
sehingga kalobarasi ini bisa sebagai solusi pertemuan/meeting jarak jauh tanpa harus
berpergian dan dapat mengurangi biaya perjalanan yang mungkin memerlukan biaya
yang sangat tinggi.
5.
Telepon
Alat ini adalah terminal dari sentral PBX, dimana ada beberapa model seperti antara lain
adalah IP telephony, analog telepon, digital telepon, IP softphone, voice conference
telepon, DECT wireless telepon dan lainnya.
6.
Video Conference
Alat untuk melakukan conference secara visual dan audio dengan menumpang teknologi
data.
7.
Aplikasi CTI (Computer Telephony Interface)
CTI adalah interface yang menghubungkan PBX/telephony dengan jalur data sehingga
mempunyai peranan yang sangat penting untuk kolaborasi.
Dengan berkembangnya teknologi maka lahirlah produk baru yaitu unified communication yang
juga dipegang kedistributorannya oleh PT. Damai Sejati. unified communication ini adalah suatu
sistem yang dapat menyatukan semua sistem yang berbeda diatas menjadi satu kesatuan sistem.
Hipotesa Awal
Posisi PT. Damai Sejati dengan produknya merek Panasonic terancam oleh munculnya
pendatang baru seperti PT. Safir Eletronik Indonesia dengan merek produknya adalah
Ericsson LG.
Perubahan tren telekomunikasi yang dinamis mengharuskan PT. Damai Sejati untuk
mempersiapkan ekspansi produk dan layanan dari yang telah tersedia pada saat ini
Sistematika Penulisan
Penulisan tesis ini terdiri dari beberapa topik yang disusun secara sistematis sesuai dengan
urutan kegiatan penilitian, sebagai berikut:
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini akan memberikan informasi latar belakang, rumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan penelitian, hipotesa awal serta sistematika penulisan.
BAB II
STUDI LITERATUR
Bab ini akan membahas mengenai informasi unified communication dari berbagai
sumber dan tinjauan jurnal sebagai rujukan penelitian ini. Menguraikan referensi
konsep tentang unified communication serta teori-teori seputar strategi bisnis dan
manajemen perusahaan yang relevan dengan penelitian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini akan membahas metodologi yang digunakan dalam penelitian ini, dimulai
dari pengumpulan data (kuesioner), Analisa Porter
’s 5 F
orces dan Analisa SWOT
BAB IV
ANALISA DATA
Pada Bab ini akan menganalisa kondisi perusahaan dengan strategi yang
digunakan saat ini menggunakan me
tode analisa Porter’s 5 Forces dan
SWOT
BAB V
KESIMPULAN
BAB II. STUDI LITERATUR
2.1. Konsep Manajemen Strategi
Konsep mengenai strategi terus berkembang selama 30 tahun terakhir, difinisi strategi pertama di kemukakan oleh Chandler (1962) yaitu: “trategi adalah tujua ja gka pa ja g dari suatu perusahaan, serta pendayagunaan dan alokasi semua sumber daya yang penting untuk mencapai tujuan
terse ut
Jhon A. Bryne mendefinisikan yaitu: strategi se agai se uah pola ya g e dasar dari sasara yang berjalan dan yang direncanakan, penyebaran sumber daya dan interaksi organisasi dengan pasar, pesaing dan faktor –faktior li gku ga .
Sementara ini Jack Trout dalam bukunya Rout On Strategy mengulas bagaimana bertahan hidup dalam dunia kompetitif, bagaimana membuat persepsi yang berbeda di benak konsumen, menjadi berbeda, mengenali kekuatan, dan kelemahan pesaing, menjadi spesialisasi, kepemimpinan yang memberi arah dan memahami realita pasar dengan menjadi yang pertama dan lebih baik.
Porter 1 e gataka ah a Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing
Strategi secara umum adalah istilah yang sering diartikan sebagai alat untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan suatu masalah. Istilah strategi diterapkan untuk berbagai lapisan masyarakat atau organisasi dari tingkat pelaksana sampai pimpinan puncak organisasi
Pemahaman yang baik mengenai konsep strategi dan konsep–konsep lain yang berkaitan sangat menentukan suksesnya strategi yang disusun.
2.2. SWOT (Strength
–
Weakness
–
Opportunity
–
Threath)
Menurut David (2009) analisis SWOT merupakan alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahan, atau analisis sistematis untuk mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan eksternal (external environment) dan lingkungan internal (internal environment), peluang serta ancaman yang dihadapi oleh suatu perusahan.
Dari masing–masing lingkungan ini akan dihasilkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Faktor yang berasal dari lingkungan eksternal disebut External Factor Strategy (EFE), disusun untuk merumuskan kerangka Opportunities dan Threats. Sementara faktor yang berasal dari lingkungan internal disebut dengan Internal Factor Strategy (IFE) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal dalam kerangka strengths dan weaknesses.
Selanjutnya akan didapatkan kesimpulan dari kedua analisis tersebut menjadi satu ringkasan analisis strategis yang disebut SFAS (Strategic Factors Analysis Summary).
1. Eksternal Strategic Factor Analysis Summary (EFAS)
2. Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS)
Analisa faktor strategi internal, adalah analisa untuk menilai prestasi atau kinerja yang merupakan faktor kekuatan dan kelemahan yang ada untuk mencapai tujuan.
Penilaian analisa internal suatu produk meliputi faktor kekuatan dan kelemahan serta didasarkan pada faktor-faktor yang dapat dibandingkan dengan pesaingnya. Adapun identifikasi faktor-faktor strategi internal meliputi aspek sebagai berikut: produk atau layanan, distribusi dan promosi, perusahaan, SDM.
Analisa SWOT digunakan untuk menguji sifat permintaan dan tekanan pihak eksternal, mengidentifikasi peluang dan kendala sumber daya, menetapkan peluang program, menemukan ancaman, menetapkan tujuan dan prioritas organisasi dan menilai kapasitas internal, dimana dengan berdasarkan pertimbangan ini maka strategi yang berupa perencanaan dan tindakan dapat dikembangkan untuk mencapai aliansi kerjasama organisasi dengan lingkungannya.
Metode ini bisa dikatakan paling sesuai diimplementasikan pada lingkungan dimana organisasi mempunyai kapasitas yang cukup untuk melakukan pemilihan strategis, tindakan, dan preferensi yang jelas tentang sasaran dan tujuan yang akan dicapai.
Gambar 2.1 Matriks SWOT
Untuk memudahkan analisa maka digunakanlah matriks SWOT sebagai alat pencocokan masing-masing faktor dan pemilihan strategi.
Terdapat empat peluang strategi yang bisa diterapkan yaitu Strategi SO (Strengths-Opportunities), Strategi WO (Weaknesses-(Strengths-Opportunities), Strategi ST (Strengths-Threats), Strategi WT (Weaknesses-Threats). Berikut ini adalah uraian masing-masing strategi tersebut :
Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai
situasi di mana mereka dapat melaksanakan Strategi SO.
2.
Strategi WO (Weaknesses-Opportunities), bertujuan untuk memperbaiki kelemahan
internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Terkadang,
peluang-peluang besar muncul, tetapi perusahaan memiliki kelemahan internal yang
menghalanginya memanfaatkan peluang tersebut.
3.
Strategi ST (Strengths-Threats), menggunakan kekuatan internal sebuah perusahaan
untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal, ini bukan berarti bahwa
suatu organisasi yang kuat harus selalu menghadapi ancaman secara langsung di dalam
lingkungan eksternal.
4.
Strategi WT (Weaknesses-Threats), adalah merupakan teknik defensif yang diarahkan
untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal.
Sebuah organisasi yang menghadapi berbagai ancaman eksternal dan kelemahan internal
ini benar-benar dalam posisi dan kondisi yang membahayakan, perusahaan semacam ini
mungkin harus berjuang untuk bertahan hidup, melakukan marger, pengurangan
karyawan, menyatakan bangkrut ataupun likuidasi.
Berikut ini adalah kuadran analisa SWOT dimana masing-masing kuadran mengindikasikan kondisi yang berbeda-beda, demikian pula arahan strateginya dari masing-masing kondisi kuadran :
1. Kuadran I :
Kondisi yang paling baik, perusahan memiliki banyak peluang dan kekuatan, dimana strategi yang sesuai adalah strategi pertumbuhan (Growth Oriented strategy) atau disebut juga dengan strategi agresif (Agresif Strategy).
2. Kuadran II :
Kondisi dimana perusahaan memiliki cukup kekuatan, akan tetapi kondisi lingkungan kurang menguntungkan karena banyaknya ancaman, dan strategi yang sesuai adalah strategi diversifikasi(Diversification Strategy)
3. Kuadran III :
Kondisi dimana perusahaan memiliki cukup peluang, akan tetapi tidak didukung oleh kekuatan internal perusahan sehingga strategi yang harus digunakan adalah strategi mengubah haluan (Turn Arround Strategy)
4. Kuadran IV :
Kondisi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaaan menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.
Gambar 2.2 Kuadran SWOT
2.3.
Porter’s 5 Forces
Me urut Porter 1 persai ga adalah i ti dari ke erhasila . U tuk e e a gka setiap
persaingan, perusahan harus memiliki keunggulan didalam bersaing. Terdapat dua hal mendasar yang menentukan keunggulan tersebut :
1. Daya Tarik Industri
Daya tarik industri berkaitan dengan kemampuan jangka panjang (longterm profitability) 2. Penentu posisi bersaing
Penentu posisi bersaing bersifat relatif dalam setiap industri, dalam kebanyakan industri, beberapa perusahan mampu mengungguli laba perusahan lainnya (determinant).
Kedua poin di atas dapat dibentuk oleh perusahan yang dalam prakteknya menghasilkan pilihan-pilihan dalam strategi bersaing. Stretegi bersaing ini memiliki kekuatan besar untuk membuat suatu industry menjadi lebih atau kurang menarik. Oleh karena itu strategi bersaing tidak hanya memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, akan tetapi juga berusaha untuk membentuk lingkungan demi keunggulan perusahan.
Tujuan akhir strategi bersaing adalah untuk menanggulangi kekuatan lingkungan demi kepentingan perusahan. Adapun masih menurut Porter ada lima kekuatan bersaing yang menjadi tolak ukur penilaian :
1. Ancaman masuknya pendatang baru (threat of entry)
Suatu perusahaan akan tertarik terjun ke dalam suatu industri bila industry tersebut menawarkan keuntungan yang tinggi. Pendatang baru pada suatu industri membawa kapasitas baru, keinginan untuk mendapatkan bagian pasar, serta sering kali juga sumber daya utama. Akibatnya, harga dapat menjadi turun atau biaya membengkak, sehingga mengurangi profitabilitas. Ancaman masuknya pendatang baru kedalam industri tergantung pada rintangan masuk yang ada, digabung dengan reaksi dari para pesaing yang sudah ada.
Diferensiasi produk menggambarkan bahwa perusahaan mempunyai pelanggan yang
setia, merek yang sudah dikenal, barang tersedia, kualiatas produk baik, tepat waktu
dalam pelayanan, serta layanan purna jual yang responsif, dan bukan sekedar merupakan
perusahaan yang pertama yang memasuki industri. Diferensiasi menciptakan penghalang
untuk masuk ke suatu industri dengan membuat pendatang baru mengeluarkan biaya
yang besar untuk mengatasi masalah kesetiaan pelanggan.
Biaya investasi, pendatang baru membutuhkan biaya investasi yang besar demi
menciptakan penghalang untuk masuk ke suatu industri, terutama jika modal tersebut
diperlukan untuk biaya menyediakan stok, layanan instalasi, produk yang berkualitas,
dan layanan purna jual.
Biaya beralih pemasok, kebutuhan modal, besarnya biaya investasi yang harus
dikeluarkan pendatang baru untuk beralih dari suatu pemasok ke pemasok lain akan
menciptakan penghalang untuk masuk
Akses ke saluran distribusi tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pendatang baru,
apalagi bila pesaing telah terikat dengan jalur distribusi yang ada, sehingga pendatang
baru harus mencari jalur distribusi yang lain. Pelanggan yang memiliki loyalitas
terhadap produk akan terus menggunakan produk dari industri. Sehingga apabila
pelanggan loyal untuk menggunakan produk tertentu maka akan menciptakan
penghalang untuk masuknya pendatang baru.
Kebijakan pemerintah dalam menerapkan aturan, bisa menjadi salah faktor hambatan
untuk masuk
2. Ancaman produk/ layanan pengganti (threat of substitutions)
Barang atau jasa substitusi merupakan barang atau jasa yang dapat menggantikan produk sejenis. Adanya produk atau jasa pengganti akan membatasi jumlah laba potensial yang didapat dari suatu industri. Makin menarik alternative harga yang ditawarkan oleh produk pengganti, makin ketat pembatasan laba dari suatu industri. Produk pengganti yang perlu mendapatkan perhatian besar adalah produk yang mempunyai kecenderungan untuk memiliki harga atau kualitas yang lebih baik daripada produk industri atau dihasilkan oleh industri yang berlaba tinggi. Adapun yang menjadi sumber tekanan produk pengganti adalah sebagai berikut:
Produk atau jasa pengganti akan membatasi jumlah laba potensial yang akan
diperoleh dari suatu industri.
Harga yang lebih menarik dari produk pengganti akan menjadi ancaman.
Jika produk pengganti memiliki kualitas yang lebih baik, maka pelanggan akan mudah
beralih ke produk pengganti.
Ketersediaan
produk
pengganti.
Jika
mudah
didapatkan
dipasaran
akan
meningkatkan ancaman untuk masuknya produk atau jasa pengganti.
Rendahnya loyalitas pelanggan dan mudah beralih ke produk pengganti
Rendahnya biaya beralih pemasok (switching cost) sehingga pembeli mudah beralih
ke produk lain
3. Daya tawar pembeli (bargaining power of buyers)
Berperan dalam menekan harga untuk turun, serta memberikan penawaran dalam peningkatan kualitas ataupun layanan lebih, dan membuat kompetitor saling bersaing satu sama lain. Pembeli memiliki daya tawar yang kuat bila memenuhi beberapa hal sebagai berikut :
Kelompok pembeli terpusat atau membeli dalam jumlah besar, jika sebagian besar
hasil penjualan suatu perusahaan merupakan pembelian dari suatu kelompok
pembeli tertentu, hal ini akan mempertinggi posisi pembeli tersebut dalam industri.
Produk yang dibeli merupakan bagian dari suatu biaya pembelian dengan jumlah
yang cukup besar, sehingga pembeli cenderung mencari harga yang lebih rendah
sehingga akan menggunakan dananya untuk melakukan pembelian secara lebih
selektif.
Produk yang dibeli adalah produk standar atau tidak terdiferensiasi, sehingga
pembeli
yakin
akan
menemukan
penjual
alternatif
yang
memberikan
penawaran lebih baik.
Pembeli menghadapi switching cost yang kecil. Hal ini salah satunya dialami
apabila swiching cost ditanggung oleh penjual.
Pembeli mendapatkan laba kecil sehingga ada keinginan yang besar untuk
menekan biaya.
Pembeli menunjukkan keinginan untuk melakukan integrasi balik. Jika pembeli sudah
terintegrasi dengan industri maka ada keinginan untuk melakukan integrasi balik
yaitu memperluas jaringan pemasok.
Pembeli
mempunyai
informasi
lengkap
mengenai
suatu
produk.
Seperti
informasi tentang permintaan, harga pasar yang aktual, dan bahkan biaya yang
dikeluarkan penjual sehingga posisi tawar menawar menjadi lebih kuat.
4.
Daya tawar penjual (
bargaining power of suppliers)
Pemasok atau penjual dapat menggunakan kekuatan tawar-menawar terhadap pembeli dalam industri dengan cara menaikkan harga atau menurunkan kualitas produk atau jasa yang dibeli. Kondisi-kondisi yang membuat posisi pemasok kuat cenderung menyerupai kondisi yang membuat pembeli kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat atau tidaknya daya tawar penjual atau pemasok adalah sebagai berikut:
Pemasok didominasi oleh beberapa perusahaan dan lebih terpusat pada industri dimana mereka menjual. Pemasok yang menjual pada pembeli yang terfragmentasi biasanya akan dapat mempengaruhi harga, kualitas, serta syarat-syarat penjualan.
Industri bukan satu-satunya tempat pemasok menjual produknya.
Produk pemasok sangat penting bagi pembeli, hanya mempunyai sedikit pengganti barang substitusi
Produk pemasok memiliki biaya pengalihan yang tinggi
Kelompok pemasok melakukan integrasi maju pada suatu industri dengan kata lain pemasok memiliki ancaman integrasi ke depan yang kuat
Kebijakan pemerintah dalam membatasi perilaku pemasok. Pemerintah juga mempengaruhi posisi industri dengan produk pengganti melalui regulasi, subsidi dan lain-lain.
5. Persaingan antara pesaing dalam industri yang sama (rivalry among competition)
Menurut Porter persaingan antar pesaing dalam industri yang sama ini menjadi pusat kekuatan persaingan. Kompetitor dalam hal ini adalah pemain yang menghasilkan serta menjual produk sejenis, yang akan bersaing dalam memperebutkan marke tshare pasar. Semakin tinggi tingkat persaingan antar perusahaan mengindentifikasikan semakin tinggi pula profitabilitas industri, namun profitabilitas perusahaan mungkin menurun. Intensitas persaingan akan tinggi apabila :
Jumlah pesaing yang seimbang. Banyaknya pemain dengan kekuatan masing-masing tentu saja akan meningkatkan intensitas persaingan dalam kompetisi.
Pertumbuhan industri yang lamban, akan mengubah persaingan menjadi ajang perebutan pangsa pasar untuk perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan ekspansi.
Penambahan kapasitas dalam jumlah besar. Pada saat skala ekonomi memaksa bahwa kapasitas harus ditingkatkan dalam jumlah besar, maka penambahan kapasitas akan merusak keseimbangan penawaran / permintaan dalam industri.
Pesaing yang beragam. Pesaing mempunyai strategi beragam, asal-usul, karakteristik serta tujuan dan strategi bersaing yang berlainan.
Hambatan pengunduran diri yang tinggi. Hambatan pengunduran diri adalah faktor-faktor ekonomi, strategis, dan emosional yang membuat perusahaan tetap bersaing dalam bisnis meskipun mereka mungkin memperoleh laba atas investasi yang rendah atau bahkan negatif. Setelah melakukan identifikasi terhadap seluruh tekanan dari masing-masing komponen, berikutnya adalah melakukan perhitungan kekuatan dari setiap tekanan menggunakan data yang ada. Potensi keuntungan kompetitif akan tinggi bila akumulasi dari setiap tekanan tersebut pada masing-masing faktor adalah rendah.
Ga bar . Li a kekuata bersai g pada Porter’s 5 Forces
Lebih lanjut Porter merumuskan 3 pendekatan strategis generik untuk bagaimana menjadi
superior e peroleh keu ggula ersai g di ida g i dustri ya g di asuki suatu perusaha da
1. Strategi Kepemimpinan Harga (Cost Leadership)
Perusahaan dapat memperoleh keunggulan bersaing yang lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya jika dia dapat memberikan harga jual yang lebih murah daripada harga yang diberikan oleh pesaingnya dengan nilai/kualitas produk yang sama. Harga jual yang lebih rendah dapat dicapai oleh perusahaan tersebut karena memanfaatkan skala ekonomis, efesiensi produksi, penggunaan teknologi, kemudahan akses dengan bahan baku, dan sebagainya.
Gambar 2.4 Strategi Generik Porter
2. Strategi Diferensiasi
Diferensiasi adalah apa yang dapat membedakan kita dari pesaing, sehingga kita dapat terlihat berbeda. Berbeda di sini bukan hanya lain sama sekali atau tidak sama dengan pesaing, tetapi juga dapat memberi benefit ekstra yang dirasakan oleh konsumen. Menjadi berbeda adalah strategi yang banyak diterapkan saat ini dan merupakan strategi yang cukup jitu untuk memenangi persaingan. Konsumen akan melirik produk kita apabila produk kita dapat keluar dari keramaian dan tampil berbeda. Suatu perusahaan dapat melakukan strategi diferensiasi dengan menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya dan menjadi produk/jasa dambaan yang dianggap unik oleh konsumen sehingga konsumen mau memberikan nilai lebih. Sebagai contoh, persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, inovasi produk, pelayanan yang lebih baik dan brand image yang lebih unggul.
3. Strategi F okus
2.4.
Teknologi Unified Communication
Teknologi Telekomunikasi saat ini terus berkembang pesat, sehingga yang menjadi kendala adalah bagaimana peralatan telekomunikasi yang telah atau akan kita investasikan ini masih bisa digunakan cukup lama dan berkesinambungan walaupun teknologi tersebut akan berkembang terus mengikuti zaman, belum lagi kita harus memikirkan bagaimana jika perusahaan juga turut berkembang sehingga mempunyai kantor cabang dan karyawan yang makin bertambah pula.
Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, UC dapat dilihat sebagai komunikasi konvergens dalam proses bisnis yang sesungguhnya. UC menjadi lebih baik saat tujuan bisnis dan aplikasi bisnis digunakan untuk kegunaan kompetisi perusahaan dan meningkatkan nilai perusahaan di pasaran yang dituju, sehingga dapat dikatakan teknologi UC menjadi solusi dalam tantangan bisnis.
Sementara itu, implementasi UC akan bersentuhan dengan segala aspek dalam dunia IT, membutuhkan rencana yang matang, kerja sama antara anggota tim, dan tanggung jawab dalam operasional sehari-hari, sehingga UC tidak diragukan lagi untuk mengubah cara pekerja menjalankan bisnis sehari-hari. Dengan demikian, pekerja akan belajar mengenai alat-alat baru, beradaptasi pada teknologi baru, dan mengenali cara berkomunikasi yang lebih sederhana.
Penerapan UC membutuhkan rencana yang matang. Terdapat langkah-langkah yang direkomendasikan untuk menuju UC. Misalnya saja, UC tidak boleh dilihat sebagai proyek teknologi, tapi lebih sebagai teknologi yang memungkinkan inisiatif bisnis yang lebih maju dengan tujuan untuk mencapai tujuan dan kesuksesan yang diinginkan. Apa yang kita lihat dari generasi mendatang adalah perubahan proses bisnis, UC diperuntukan untuk proses bisnis bukan diperuntukan untuk sektor IT. Untuk menuju ke sana, kepemimpinan dalam proyek UC sangatlah penting. Selain itu, merger dan akuisisi perusahaan mendorong untuk perkembangan dan penggunaan UC dikarenakan biasanya dua perusahaan ini sebelumnya mempunyai system yang berbeda untuk tekonologi IT dan Telekomunikasi.
Sebaiknya proyek UC ini diterapkan berdasarkan target dan tidak menghilangkan tujuan bisnis dimana akhirnya si pengguna akan percaya pada teknologi ini bila mereka dapat membuat aplikasi yang dapat digunakan dengan baik dan mudah.
Teknologi UC jauh lebih kompleks karena menggabungkan banyak sistem yang sebelumnya berbeda, tapi bukan berarti tidak memenuhi kebutuhan bisnis dan yang menjadi hal penting dalam menjembatani antara IT, Telekomunikasi dan mempertahankan proyek bisnis. Dengan demikian, implementasi unified communication akan dapat memperkaya teknologi IT dan Telekomunikasi.
UC sendiri adalah teknologi yang aman untuk diterapkan di lingkungan kerja. Namun tren penggunaannya di kalangan pengguna juga berpotensi besar mengganggu keamanan jaringan. Namun para IT manajer tidak seyakin itu. Mereka khawatir terhadap penggunaan teknologi yang sulit dikendalikan seperti halnya penerapan instant messaging.
Hasil riset mengungkapkan, didalam penerapan UC motivasi perusahaan untuk memberikan keleluasaan dalam mobilitas kerja dengan alasan meningkatkan produktivitas adalah sebesar 41%, sedangkan 13% dari responden bertujuan untuk mempertahankan karyawan, dan 12% demi memenuhi keinginan karyawan untuk bekerja mobile.
Hasil riset juga mengungkapkan bahwa pekerja lebih sering menggunakan email sebagai sarana komunikasi dibandingkan telepon. Hampir seluruh responden menggunakan email, sementara 80% menggunakan telepon tetap, diikuti 76% menggunakan telepon bergerak, dan 66% menggunakan instant messaging.
2.5.
Tinjauan Jurnal
Tinjauan jurnal terhadap penelitian terkait mengacu pada 2 jurnal utama, dan masing-masing jurnal dengan penjelasan sebagai berikut.
2.5.1. Jurnal Enhancing Unified Communication Services with Communication Context
Jurnal ini diterbitkan oleh JOURNAL OF COMMUNICATION“, VOL. 7, NO. , FEBRUARY
Penulis : Krishna Kishore Dhara, Venkatesh Krishnaswamy, Eunsoo Shim, Xiaotao Wu, IP Communication Research Department, Avaya Labs Research, Basking Ridge, NJ, USA, Email: {dhara, venky, eshim, xwu}@avaya.com
Jurnal ini membahas unified communication dengan konteks layanan tehadap pelanggan, yaitu komunikasi antara 2 atau lebih pengguna. Komunikasi individu dibahas juga dengan membaginya dalam beberapa pembahasan seperti:
a. Rich Communication Log
b. Related Documents Service
c. Predictive Meeting Assistant
d. Predictive Contacts
Beberapa tantangan yang terkait dengan layanan unified communication dibahas dalam jurnal ini seperti berikut:
c. Real-Time Temporal Relationships: d. Extracting Lexical Relationships:
2.5.2. Jurnal COMPREHENSIVE PERFORMANCE ANALYSIS OF UNIFIED COMMUNICATIONS
TECHNOLOGY
Jur al i i diter itka oleh Journal of Theoretical and Applied Information Technology, ©2005 - 2008
JATIT
Penulis Dr.S.S.Riaz Ahamed, Professor & Head, Dept of Computer Applications, Mohamed Sathak Engg College & Principal, Sathak Institute of Technology, Ramanathapuram,TamilNadu, India-623501
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
Fokus tesis ini adalah untuk mengetahui strategi bisnis PT.Damai Sejati menghadapai
persaingan bisnis unified communication di Indonesia dengan cara mengetahui dari segi
ancaman yang ada.
Bab ini berfokus pada desain penelitian dan prosedur metodologi yang digunakan dalam pekerjaan penelitian. Dimulai dengan pembahasan desain penelitian dan metodologi yang kemudian diikuti dengan keterangan lengkap tentang metodologi yang digunakan dalam penelitian ini.
3.1.
Metodologi
Metode merupakan cara yang dipakai untuk mencapai tujuan, sedangkan penelitian merupakan penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta secara sistematis.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemecahan masalah atau mendapatkan jawaban-jawaban atas perumusan masalah. Metode penelitian digunakan sebagai pemandu peneliti dalam melakukan penelitian sehingga diperoleh jawaban yang sesuai dengan permasalahan.
Dalam Penelitian ini, fokus masalah yang akan dianalisa adalah bersifat kualitatif, yakni masalah yang bersifat sementara, tentative, dan akan terus berkembang/berubah, seiring perkembangan lingkungan sekitar serta faktor- faktor internal dan eksternal yang saling mempengarui. Karenanya penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Penelitian kualitatif itu sendiri bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan) dan bertujuan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya, tidak berdasarkan pada variabel khusus tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi (1) aspek tempat, (2) pelaku, (3) aspek aktifitas, dimana ketiganya berinteraksi secara sinergis. Riset kualitatif tidak mengutamakan besarnya populasi sampling tetapi lebih ditekankan pada kedalaman persoalan (kualitas) dan bukan banyaknya data (kuantitas).
Secara umum pemilihan penggunaan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif bertujuan mendeskripsikan hasil penelitian dengan kata- kata tertulis, dan tidak mengisolasikan individu atau organisasi yang telah menjadi informan, kedalam variable atau hipotesis, akan memandangnya sebagai bagian dalam satu kesatuan utuh.
Dengan pendekatan tersebut di atas maka jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian deskriptif kualitatif, karena data yang dikumpulkan tidak dalam bentuk angka melainkan kalimat, penyataan dan konsep. Penelitian deskriptif ditujukan untuk :
4. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada. 5. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi atau praktek yang berlaku. 6. Membuat perbandingan atau evaluasi.
Fokus Penelitian mengacu pada strategi bisnis yang dijalankan saat ini, seberapa efektif dan efisien relevansinya dengan :
1. Tren teknologi unified communication 2. Potensi bisnis unified communication
3. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum 4. Kemampuan finansial perusahan secara khusus
5. Kualitas layanan produk yang diharapkan dari user atau konsumen
3.2.
Metode Pengumpulan data
3.2.1. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi–informasi yang berkaitan dengan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini. Konsep-konsep teoritis dari berbagai sumber seperti jurnal-jurnal penelitian, buku-buku literatur,artikel dalam majalah, karya penelitian berupa tugas akhir pasca sarjana dipelajari untuk memperoleh landasan teoritis yang dapat digunakan untuk mengembangkan konsep penelitian, literatur ditekankan pada konsep strategi bisnis, Analisa SWOT, Analisa Porter s 5 For es serta profil kompetitif terhadap bisnis unified communication.
3.2.2. Studi Lapangan
Studi lapangan dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari langsung sistem layanan dan produk unified communication oleh PT. Damai Sejati dan beberapa sumber yang berhubungan dengan bisnis yang sama. Selain itu pengumpulan data langsung terhadap manajemen/karyawan PT. Damai Sejati sebagai salah satu distributor produk unified communication.
3.2.3. Wawancara
Melakukan wawancara dengan pihak, tanya jawab dilakukan secara bertatap muka langsung dengan orang yang diwawancarai, menggunakan pedoman wawancara secara khusus tentang manajemen strategi bisnis.
Adapun untuk menentukan key informan penulis menggunakan purposive sampling, yaitu teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang berada pada posisi management level untuk beberapa divisi antara lain sales marketing, business development dan technical/engineer.
Key Informan tersebut diharapkan mampu memberikan informasi sesuai dengan posisi dan kapabilitasnya serta sesuai dengan bahasan penelitian.
3.2.4. Kuisioner
3.2.5. Observasi
Penulis sebagai karyawan PT. Damai Sejati, melakukan pengamatan personal dalam kurun waktu tertentu, sharing dengan karyawan lainnya, memahami lingkup penelitian secara keseluruhan dengan objektif, termasuk segala bentuk interaksi dan pemahaman internal yang kemudian bisa dijadikan acuan kesimpulan awal.
3.2.6. Dokumentasi
Dokumentasi dalam hal ini merupakan data sekunder berupa : struktur organisasi, laporan kepegawaian, brochure, specsheet, data di server dan website, dalam hal ini maka diperoleh informasi-informasi yang bersifat historikal dari perusahaan.
3.3.
Keabsahan Data
Teknik keabsahan data yang digunakan adalah teknik triangulasi yaitu pemeriksaan teknik keabsahan data yang memanfaatkan data lain diluar data tersebut, untuk kepentingan pengecekan atau perbandingan.
Pemeriksaan dan pengecekan dilakukan pada penelitian ini dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dan hasil wawancara dengan informan dan hasil kuesioner, termasuk membandingkan dengan studi literature melalui penelitian sebelumnya, melalui media massa, media elekstronik dan internet.
3.4.
Metode Analisa Data
Berikut ini adalah teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian antara lain adalah :
Mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner
Hasil pengamatan dan studi literatur kemudian dihubungkan dengan pokok masalah penelitan, juga faktor-faktor pendukung atau penghambat yang memberikan pengaruh pada hasil penelitian
Selanjutnya dilakukan analisa masalah dengan menggunakan metode-metode analisa seperti yang telah dikemukakan pada bahasan sebelumnya yaitu Analisa SWOT dan Porter s 5 For es, dalam hal ini melakukan analisa kondisi perusahan dalam rangka penentuan strategi bisnis yang tepat sesuai dengan kebutuhan.
3.4.1. Pemodelan Porter
Pe defi isia pera dala odel Porter s For es pada is is Unified Communication dijabarkan sebagai berikut :
Pendatang baru didefinisikan sebagai pemain baru yang akan hadir dalam persaingan antar sesama industri yakni PT. Safir Elektronik Indonesia.
Pembeli dalam industri adalah customer ataupun dealer
Penjual dalam industri unified communication ini tentunya adalah PT. Damai Sejati
Produk pengganti dalam industri ini adalah Cloud Communication.
Pesaing dalam industri yang telah diketahui sebelumnya adalah PT. Microsoft Indonesia
Setelah melakukan identifikasi terhadap tiap-tiap komponen, kemudian dilakukan pemodelan dan perhitungan berdasarkan variabel-variabel dengan menggunakan asumsi pembobotan untuk menganalisis indikator dari masingmasing variabel yang telah ditentukan.
Gambar 3.1 Identifikasi pemain dalam industri
Adapun penilaian yanga akan digunakan untuk membantu menganalisa adalah dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
2. Pemberian bobot pada tiap-tiap faktor sesuai dengan kepentingan daripada pengaruh faktor tersebut, pembobotan dinilai dari angka 0,0 (tidak penting) hingga angka 1 (sangat penting). Pemberian bobot merupakan dimaksudkan untuk memberikan dampak terhadap faktor strategik. Pemberian bobot yang wajar dapat ditentukan dengan mendiskusikan faktor yang terkait. Jumlah bobot yang diberikan pada setiap faktor harus sama dengan 1.
3. Pemberian peringkat atau rangking dari nilai 1 hingga nilai 9 kepada masing-masing variabel didasarkan kepada kondisi eksternal pada industri saat ini yang mempengaruhi bisnis secara langsung maupun tidak langsung. Cara penilaian ini adalah nilai 1 untuk sangat tidak berkatian hingga nilai 9 untuk yang sangat berkaitan sekali.
4. Kalikan bobot dengan rangking untuk memperoleh nilai dari faktor-faktor tersebut, Dari nilai tersebut nantinya akan dipergunakan untuk memperoleh posisi industri terhadap lingkungan eksternal.
5. Untuk pembobotan dilakukan persentase rata-rata indicator yang sesuai yaitu yang memiliki nilai 1 terhadap keseluruhan jumlah indikator dalam suati tekanan, maka tekanan akan diberi penilaian sebagai berikut :
a. RENDAH : apabila nilai antara 0-3 b. SEDANG : apabila nilai antara 3,1 – 6 c. TINGGI : apabila nilai antara 6,1 - 9
3.4.2. Pemodelan SWOT
Penerapan strategi dalam rangka untuk menjalankan bisnis unified communication diperlukan analisa secara internal dan eksternal dengan cara menggunakan alat manajemen yang dikenal dengan strategi SWOT.
Posisi kuadran untuk strategi SWOT dapat dihitung menggunakan kombinasi rating dan bobot, dengan mengumpulkan informasi yang dilakukan melalui kuesioner kemudian dilakukan perhitungan pembobotan berdasarkan hasil pengisian kuesioner untuk kemudian dilakukan analisa lebih lanjut.
Untuk membuat rencana strategi berdasarkan kapabilitas internal dan eksternal dilakukan dengan wawancara terkait pengisian kuesioner adalah sebagai berikut:
1.
Memilih faktor faktor internal dan eksternal yang telah dianalisa
2.
Pemberian peringkat atau rangking dari nilai 1 hingga 4 terhadap masing-masing faktor
berdasarkan pada kondisi internal dan eksternal perusahaan tersebut. Cara penilaian
adalah sebagai berikut:
d.
Nilai 4 : isu yang disampaikan sangat relevan
3.
Model yang digunakan untuk menghitung bobot adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Bobot SWOT
STP Sangat tidak penting jika isu sangat tidak mempengaruhi bisnis unified communication
TP Tidak penting jika isu tidak mempengaruhi bisnis unified communication
R Ragu-ragu jika isu tidak dapat dijustifikasi
P Penting jika isu mempengaruhi bisnis unified communication
SP Sangat Penting jika isu sangat mempengaruhi bisnis unified communication
Karena jumlah bobot harus sama dengan 1 (satu) untuk setiap matriks evaluasi, maka bobot untuk setiap responden tidak mesti sama, tergantung dari banyak jumlah variabel yang dipilih, atau dapat diformulasikan sebagai berikut :
A (SP) + B (P) + C (R) + D (TP) + E (STP) = 1.00
Dimana :A = jumlah banyaknya SP dalam satu matrik evaluasi B = jumlah banyaknya P dalam satu matrik evaluasi C = jumlah banyaknya R dalam satu matrik evaluasi D = jumlah banyaknya TP dalam satu matrik evaluasi E = jumlah banyaknya STP dalam satu matrik evaluasi SP = bobot nilai Sangat Penting
P = bobot nilai Penting R = bobot nilai Ragu-ragu TP = bobot nilai Tidak Penting
STP = bobot nilai Sangat Tidak Penting
Agar Lebih Mudah maka nilai rasio perbandingan antara SP hingga STP, dibuat sama dengan 2, sehingga :
BAB IV. ANALISA DATA
4.1.
Analisa Porter Five Forces
Analisa Porter Five Forces dalam penelitian ini adalah untuk menentukan positioning PT. Damai Sejati dalam bisnis unified communication, menganalisis pengaruh lingkungan, potensi bisnis ataupun ancaman, keunggulan kompetitif maupun kelemahan, sehingga diharapkan mampu memberikan arahan bagi perusahan dalam upaya meningkatkan kekuatan, mengantisipasi kelemahan dan menghindarkan perusahan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan yang tidak tepat atau salah.
4.1.1. Ancaman pendatang baru (Threat of New Entrants)
1. Skala ekonomi
PT. Safir Elektronik Indonesia diketahui merupakan pendatang baru memasuki bisnis Unified Communications. Dari hasil wawancara dan studi lapangan PT. Safir Elektronik Indonesia menawarkan harga yang lebih murah dengan fitur yang lebih banyak dengan perkiraan perbedaan harga 20%.
Namun jika dibandingkan maka PT Safir memiliki jaringan bisnis yang lebih kecil dibanding PT. Damai Sejati di Indonesia.
2. Kebijakan Pemerintah
Telekomunikasi berasal dari kata tele dan communication, secara harfiah adalah komunikasi jarak jauh. Sedangkan menurut UU No. 36 Tahun 1999, telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.
Dalam PP No. 52 Tahun 2000 dan peraturan menteri yang mengatur masalah telekomunikasi sudah mulai mengatur prinsip penyelenggaraan jasa telekomunikasi berbasis VoIP. Kegiatan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia menurut Pasal 7 ayat 1 dibedakan menjadi:
a. Penyelenggaraan jaringan telekomunikasi; b. Penyelenggaraan jasa telekomunikasi; c. Penyelenggaraan telekomunikasi khusus.
3. Kebutuhan modal
Pemain baru tentunya membutuhkan modal yang besar untuk bisa bersaing dengan pemain lama. Terutama karena dalam bisnis ini memerlukan modal yang besar untuk persediaan barang yang akan didistribusikan sehingga diperlukan modal yang kuat menjadi sangat penting.
4. Biaya pengalihan
5. Diferensiasi produk
Pendatang baru memiliki fitur yang lebih banyak dibanding pemain lama dan ditawarkan dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi kepercayaan pelanggan terhadap layanan produk lama oleh PT. Damai Sejati dapat menjadi halangan bagi pendatang baru. Sehingga harga dan fitur tidak menjamin untuk dapat bersaing apalagi PT. Damai sejati memiliki produk lainnya yang dapat di integrasikan.
Setelah dianalisa dari informasi diatas, diperoleh hasil analisa bahwa hambatan masuk bisnis ini bagi pendatang baru sangat TINGGI, sesuai dengan hasl analisis pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Ancaman Pendatang Baru Ancaman Pendatang baru (Threat of new entrants)
No Variabel Indikator Bobot Rangking Nilai
1 Skala Ekonomi Layanan produk dari pendatang baru dalam skala besar
0.3 7 2.1
2 Diferensiasi Produk Produk dari pesaing memiliki diferensiasi produk
0.1 3 0.3
3 Biaya Pengalihan Biaya pengalihan ke produk baru lebih mahal
0.1 5 0.5
4 Kebutuhan Modal Kebutuhan modal untuk promosi 0.2 6 1.2 5 Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah untuk
penyelenggara telekomunikasi
0.3 8 2.4
TOTAL 1 6.5
4.1.2. Ancaman produk pengganti (Threat of subsitutes)
1. Produk pengganti
Produk pengganti merupakan cloud unified communication dimana IP PBX berada di cloud dan pelanggan menggunakan layanan komunikasi dengan cara mengakses ke cloud. Penempatan SIP PBX di cloud dapat dimana saja termasuk diluar negeri sehingga dapat menjadi halangan jika terjadi fraud.
Dengan tidak stabilnya dan tidak meratanya kualitas interner akan menjadi halangan bagi produk pengganti serta kepercayaan pelanggan terhadap layanan cloud.
2. Tarif produk pengganti
Tarif produk pengganti relatif lebih murah karena hanya berupa OPEX dibanding produk lama dimana pelanggan harus investasi dalam bentuk CAPEX. Biaya produk pengganti lebih murah karena digunakan secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
3. Pangsa pasar produk pengganti
Bisa dipastikan bahwa akan ada pangsa pasar yang cukup besar untuk produk atau layanan unified communication. Tentunya butuh kajian yang lebih mendalam lagi mengenai cost dan benefit secara keseluruhan untuk proses pengalihan.
Tabel 4.2 Ancaman produk pengganti Ancaman Produk Pengganti (Threat of subsitutes)
Variabel Indikator Bobot Rangking Nilai
Produk Pengganti Ada produk pengganti 0.4 7 2.8 Tarif produk pengganti Harga produk pengganti lebih
murah
4.1.3. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli (bargaining power of buyers)
1. Pangsa pasar pembeli
Pangsa pasar yang tinggi memberikan kekuatan kepada pembeli untuk melakukan tawar menawar dalam industri. Pembeli adalah perusahaan yang berniat meningkatkan efektifitas komunikasi dalam perusahaannya dan juga yang memiliki karyawan dengan kantor yang berjauhan atau disebut dengan istilah remote worker.
2. Informasi Produk
Produk yang ditawarkan dalam industri ini telah banyak yang mengetahui manfaatnya hanya perlu ditingkatkan mengenai informasi operasional yang efektif. Pada dasarnya produk ini adalah kombinasi antara teknologi informatika dan telekomunikasi dan sudah dikenal pada umumnya oleh pengguna.
3. Sensivitas Biaya
Pembeli cenderung akan memilih atau menekan biaya seminim mungkin. Artinya pemasok yang menawarkan produk atau layanan dengan harga yang paling murah dengan kualitas yang dibutuhkan yang akan menjadi pilihan pembeli. Pertimbangan lainnya adalah biaya pengalihan, semakin kecil biaya semakin besar daya tawar pembeli, begitupun sebaliknya.
4. Laba Pembeli
Laba pembeli merupakan faktor penting bagi pembeli untuk melakukan tawar menawar. Pembeli dalam hal ini perusahaan akan mencari cara bagaimana agar biaya operasional perusahan menurun dengan menekan cost untuk biaya investasi. Biaya pengalihan diprediksikan akan cukup besar maka hal tersebut akan berdampak pada berkurangnya laba yang akan diperoleh pemasok dan hal tersebut akan mengurangi daya tawar dari pembeli itu sendiri.
Tabel 4.3 Kekuatan Tawar Menawar Pembeli Kekuatan Tawar Menawar Pembeli (bargaining power of buyers)
No Variabel Indikator Bobot Rangking Nilai
1 Pangsa pasar pembeli Pembeli memiliki pangsa pasar yang sama
0.3 7 2.1
2 Informasi produk Pembeli memiliki informasi produk yang lengkap
0.1 7 0.7
3 Sensivitas Biaya Besarnya biaya untuk beralih ke produk lain
0.3 7 2.1
4 Laba Pembeli Pembeli mengalami penurunan biaya operasional
0.3 8 2.4
TOTAL 1 7.3
4.1.4. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (bargaining power of supplier)
1. Dominasi pemasok
PT. Damai Sejati telah mendominasi dari sisi cakupan wilayah layanan serta banyaknya jumlah pelanggan yang menggunakan produk unified communication membuat daya tawar sebagai pemasok menjadi besar.
2. Produk pemasok
Kepentingan produk pemasok merupakan salah satu faktor bagi pemasok untuk melakukan tawar menawar terhadap industri dalam hal ini kepada pembeli. Dimana produk ini memiliki landasan regulasi yang jelas tentang pemanfaatan, sehingga menaikan nilai kepentingan dari layanan ini.
3. Integrasi maju
Kuatnya core bisnis PT. Damai Sejati sebagai pemasok memberikan peluang untuk terus melakukan integrasi maju dengan penambahan jenis produk yang terintegrasi serta peningkatan kualitas layanan untuk terus menjaga kekuatan tawar terhadap pembeli.
4. Pasar pemasok
Pasar pemasok dapat mempengaruhi industri atau bisnis. PT. Damai Sejati sebagai pemasok berkepentingan untuk memperluas cakupan layanan seta penambahan jenis produknya, karena besar kaitannya antara kepentingan produk pemasok dengan pembeli.
Setelah dianalisa dari informasi diatas, diperoleh hasil analisa bahwa Kekuatan tawar menawar pemasok diperoleh penilaian yang TINGGI seperti terlihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Kekuatan Tawar Menawar Pemasok
Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (bargaining power of supplier)
No Variabel Indikator Bobot Rangking Nilai
1 Dominasi pemasok Industri pemasok didominasi sedikit perusahaan
0.3 7 2.1
2 Produk Pemasok Produk pemasok berupa produk unggulan
0.2 8 1.6
3 Integrasi maju Pemasok melakukan integrasi maju
0.3 7 2.1
4 Pasar pemasok Perusahaan merupakan pembeli yang penting
0.2 5 1
4.1.5. Persaingan antar pesaing yang sama (Rivalry among Competitors)
1. Jumlah pesaing
Ada beberapa pemain lain yang ikut serta dalam produk unified communication ini, pesaing terdekat ditinjau dari kapasitas layanan saat ini adalah PT. Microsoft Indonesia, potensi hadirnya produk pengganti lain juga masih dimungkinkan dengan adanya regulasi dari pemerintah.
2. Diferensiasi produk
Pemasaran dan layanan purna jual yang baik merupakan deferensiasi produk yang dimiliki PT. Damai Sejati termasuk dari beberapa pesaing yang menjalankan bisnis unified communication.
3. Pertumbuhan industri
Pertumbuhan bisnis unified communication di Indonesia pada khususnya mengalami pertumbuhan yang selalu naik tiap tahunnya, terutama pada dalam layanan suara dan aplikasi yang terintegrasi dengannya. Angka pertumbuhan tersebut menjadi faktor pendorong atau berbanding lurus dengan bisnis unified communication, sehingga potensi untuk memperoleh tambahan pangsa pasar semakin besar.
4. Biaya tetap
Biaya tetap yang harus dikeluarkan industri adalah biaya ketersediaan pengadaan barang, operasional dan maintenance. Penambahan model produk dan produk turunannya yang terintegrasi menyebabkan peningkatan biaya tetap semakin tinggi, jika tidak akan cenderung stabil. Adapun untuk meningkatkan daya tawar terhadap pembeli pada industri ini, penambahan model produk dan layanan memang diperlukan.
4. Hambatan pengunduran Diri
Meskipun kompetisi dalam industri ini berpeluang untuk semakin ketat tetapi dengan besarnya peluang akan potensi layanan yang akan meningkat terus, serta perolehan laba yang cukup signifikan. Karena tentunya setiap perusahan ingin tetap menyatakan eksistensinya bahkan akan terus berusaha untuk mengembangkan diri.
Setelah dianalisa dari informasi diatas, diperoleh hasil analisa bahwa Persaingan antar pesaing industri yang sama diperoleh penilaian SEDANG seperti terlihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Persaingan antar pesaing industri yang sama Persaingan antar pesaing industri yang sama (Rivalry among Competitors)
No Variabel Indikator Bobot Rangking Nilai
1 Jumlah pesaing Pesaing yang beragam 0.3 5 1.5 2 Diferensiasi produk Antar produk hanya ada sedikit 0.1 3 0.3 3 Pertumbuhan industri Pertumbuhan industri yang
Setelah dianalisa satu persatu dari 5 pengaruh yang mempengaruhi bisnis unified communication ini, diperoleh hasil analisa berdasarkan parameter sebagai berikut dibawah ini:
a. Untuk ancaman terhadap pendatang baru diperoleh hasil yang TINGGI, dapat disimpulkan bahwa ancaman pendatang baru akan menemui hambatan yang besar sehingga akan mengalami kesulitan
b. Untuk ancaman produk pengganti diperoleh hasil yang TINGGI, dimana produk pengganti akan mengancam dengan pengaruh yang besar, sehingga pemain lama memerlukan strategi yang baik yang menghadapai ancaman tersebut
c. Untuk daya tawar pembeli diperoleh hasil penilaian TINGGI, karena ada kaitan antara ancaman produk pengganti dengan daya tawar pembeli.
d. Untuk daya tawar pemasok diperoleh hasil TINGGI karena pemasok memiliki kepentingan terhadap bisnis unified communication ini karena pemasok berperan sebagai pemain.
e. Persaingan antar pesaing dalam industri sama memperoleh nilai SEDANG, karena persaingan pada bisnis ini tidak mengalami hambatan serius, akan tetapi dapat menjadi tinggi jika masuk pesaing baru nantinya.
Analisa SWOT
Proses analisis SWOT dilakukan untuk menguji sifat permintaan dan tekanan pihak eksternal, mengidentifikasi peluang dan kendala, sumber daya dan menilai kapasitas internal. Hasil Penilaian SWOT mengarahkan perusahan dalam pengembangan strategi untuk membangun kekuatan, mengatasi kelemahan, menangkal ancaman, dan mengeksploitasi peluang.
Analisa SWOT memberikan informasi yang berguna untuk menyelaraskan sumber daya dan kemampuan dengan lingkungan yang kompetitif terhadap perusahaan. Model ini dapat digunakan untuk menentukan strategi dan berlaku juga untuk semua situasi membuat keputusan. Berikut definisi masing-masing elemen SWOT.