• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh jangka waktu, suku bunga, dan jaminan kredit terhadap besarnya kredit macet : studi kasus pada BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas Jl. Gatot Subroto No.12 - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh jangka waktu, suku bunga, dan jaminan kredit terhadap besarnya kredit macet : studi kasus pada BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas Jl. Gatot Subroto No.12 - USD Repository"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen

Disusun oleh: Brigitta Tyas F

(042214115)

PROGRAM STUDI MANAJEM

Disusun oleh : Brigitta Tyas Firmani 04 2214 115

PROGRAM STUDI MANAJEMEN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

rancangan kecelakaan,

untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.(Yer 29:11)

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya pada Tuhan!

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,

dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau,

yang tidak kuatir dalam tahun kering,

dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yer 17:7-8)

(5)

dan menuntun setiap langkahku.

Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan karunia, berkat dan mujizat-Nya.

(6)
(7)

Jln. Gatot Subroto No.2, Banyumas.

Brigitta Tyas Firmani Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) perbedaan besarnya kredit macet antara jenis kredit pegawai, kredit umum, dan kredit modal kerja, 2) pengaruh jangka waktu, suku bunga, dan jaminan kredit terhadap besarnya kredit macet di PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas baik secara parsial maupun simultan.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melihat dokumen di PD BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas. Populasi dalam penelitian ini adalah nasabah kredit macet pada periode Mei 2007 sampai dengan Mei 2008 sebanyak 263 orang, sedangkan sampel sebanyak 109 orang berdasarkan karakteristik tertentu (purposive sampling) yang ditentukan dengan propotional random sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah one way ANOVA dan analisis regresi linier berganda.

(8)

Jln. Gatot Subroto Number 2, Banyumas

Brigitta Tyas Firmani Sanata Dharma University

Yogyakarta 2008

The research aimed to identify: 1) the difference of the amount of bad debts among employees’ credit, general credit, and working capital credit, 2) the influence of term, interest, and credit collateral to the amount of bad debts at PD. BPR BKK North Purwokerto Banyumas branch, either partially or simultaneously.

Technique of data collection was conducted by reviewing documents at PD. BPR BKK North Purwokerto Banyumas Branch. The population in the research was the customers of bad debts at the period of May 2007 to May 2008, which consists at 263 customers, meanwhile the samples were 109 customers based on certain characteristic (purposive sampling) determined by proportional random sampling. Technique of data analysis in the research used one way ANOVA and analysis of multiple linear regressions

The result of the research indicated that: 1) the amount of bad debts of working capital credit type was bigger than the bad debts of employees’ credit type

and general credit (working capital credit > employees’ credit = general credit), 2) simultaneously the term, interest, and credit collateral had influence to the amount

(9)
(10)

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Jangka Waktu, Suku Bunga, dan Jaminan Kredit Terhadap Besarnya Kredit Macet”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis juga menyadari skripsi ini tidak akan selesai tanpa campur tangan berbagai pihak yang telah membantu, dengan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Drs. YP. Supardiyono, M.Si., Akt., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak V. Mardi Widyadmono, S.E., M.B.A., selaku Ketua Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Drs. Aloysius Triwanggono, M.S., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengetahuan, dan saran yang berguna dalam penulisan skripsi ini.

4. Bapak A. Yudi Yuniarto, S.E., M.B.A., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengetahuan, dan saran yang berguna dalam penulisan skripsi ini.

(11)

7. Bapak Drs. Agus Ariyanto, M.M., pimpinan PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan memberikan data yang dibutuhkan.

8. Bapakku (Drs. Y. Sukata, M.M) dan Ibuku (Bernadette Sukarmi) yang selalu memberikan dukungan, doa, kasih sayang, perhatian, semangat, dan nasehat. Terima kasih atas perjuangan mencari nafkah hingga aku bisa kuliah sampai selesai.

9. Masku (A.Widhi Setyawan, ST.), saudara kembarku (L. Agung F), simbahku dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberi dukungan, doa, perhatian, dan kasih sayangnya.

10. Tyas, Dian, Fika, Made, Rocky, Angga, Ari, Reo, dan teman-teman manajemen 2004 yang telah memberikan dukungan, doa, dan membantu dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih atas persahabatan yang indah.

11. Keluarga pringwulung 123, keluarga besar SA tour and travel dan teman-temanku yang telah memberikan banyak dukungan, doa, dan pelajaran yang berharga bagi kehidupanku.

(12)
(13)

Setelah perekonomian mengenal spesialisasi, perekonomian menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang cepat sehingga diperlukan sumber-sumber dana untuk membiayai usaha tersebut. Salah satu sumber dana pembiayaan usaha adalah bank yang penyediaan dana dengan cara pengambilan kredit. Pengambilan kredit ini menguntungkan kedua belah pihak, baik pelaku usaha maupun bank. Bagi pelaku usaha sebagai debitur, kredit akan memberikan manfaat dalam memperluas atau mengembangkan usaha, sedangkan bagi pihak bank sebagai kreditur akan mendapat keuntungan berupa pendapatan dari bunga kredit yaitu selisih antara bunga dari sumber-sumber dana dengan bunga yang diterima dari kredit. Tujuan bank memberikan kredit adalah mencari keuntungan, membantu usaha nasabah, membantu pemerintah (Kasmir.2004:96-97).

(14)

sentral atau Bank Indonesia. Bank Indonesia memberikan plafon besarnya tingkat suku bunga yaitu bunga tertinggi dan bunga terendah dalam pemberian kredit sesuai dengan jenis kredit yang diambil oleh nasabah. Kebijakan BPR atau Bank Perkreditan Rakyat adalah menentukan berapa besarnya suku bunga yang harus ditanggung nasabahnya. Dalam menentukan nilai jaminan, bank mempunyai badan analis jaminan yang bertugas menganalisis seberapa besar nilai jaminan tersebut bila dikonversikan dalam bentuk uang. Bank akan menafsir harga jual barang dan menawarkan jumlah kredit tertinggi yang dapat diambil oleh nasabah. Besarnya kredit yang dapat diambil oleh nasabah adalah 75 persen dari nilai jual tertinggi jaminan tersebut berdasarkan tafsiran dari analis.

(15)

yang setelah jatuh tempo belum dapat diselesaikan pembayarannya karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan kondisi debitur (Siamat.2003:220).

Dalam mengatasi masalah kredit macet, pihak bank sebagai kreditur perlu melakukan penyelamatan sehingga tidak akan menimbulkan kerugian. Penyelamatan yang dilakukan dapat dengan memberikan keringanan berupa perpanjangan jangka waktu pembayaran atau angsuran dan penurunan suku bunga terutama bagi kreditur yang terkena musibah atau dengan melakukan penyitaan jaminan bagi kreditur yang sengaja lalai untuk membayar. Penanganan kredit macet harus ditinjau dari sebab terjadinya kemacetan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan yang mengakibatkan reputasi bank bersangkutan menjadi buruk.

(16)

demikian bank juga akan membebankan bunga kredit yang lebih rendah (Suyatno,dkk.2003:101-102).

Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Jangka Waktu, Suku Bunga dan Jaminan Kredit terhadap Besarnya Kredit Macet Studi Kasus : PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas, Jln. Gatot Subroto No.2, Kabupaten Banyumas.

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini penulis merumuskan beberapa permasalahan yang akan diteliti, yaitu:

1. Apakah ada perbedaan besarnya kredit macet berdasarkan jenis kredit?

2. Apakah jangka waktu, suku bunga, dan jaminan kredit berpengaruh terhadap besarnya kredit macet?

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah-masalah yang akan diteliti pada :

1. Nasabah yang mengambil jenis kredit yaitu kredit umum atau konsumsi, kredit modal kerja, dan kredit pegawai, namun mengalami kredit macet. 2. Penelitian ditujukan bagi nasabah yang mengalami kredit macet pada periode

(17)

3. Peneliti tidak meneliti hal-hal lain di dalam bank tersebut yang tidak ada hubungannya dengan permasalahan yang telah dikemukakan diatas. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan di bank yang mempunyai etika perbankan yang harus menyimpan rahasia intern nasabahnya maupun identitas bank itu sendiri.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan besarnya kredit macet berdasarkan jenis kredit.

2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh jangka waktu, suku bunga, dan jaminan kredit terhadap besarnya kredit macet.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi PD.BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas

(18)

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk menambah pengetahuan dalam menunjang perkuliahan yang membahas masalah perkreditan.

3. Bagi Penulis

Sebagai media untuk menuangkan pengetahuan dan teori-teori mengenai perbankan dan kredit yang diperoleh selama kuliah di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma.

F. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Dalam bab ini dibahas teori-teori mengenai bank secara umum dan BPR, kredit, siklus perkreditan, jangka waktu, suku bunga, jaminan kredit, risiko kredit, kolektibilitas, kredit macet, serta rumusan hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN

(19)

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Dalam bab ini dibahas gambaran umum tentang PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas tempat dilakukannya penelitian.

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini dibahas tentang identitas responden, analisis pengujian data, hasil pengolahan data, pembahasan dan jawaban dari masalah yang telah dirumuskan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

(20)

A. Pengertian Bank dan Usaha-usaha BPR

Menurut Undang-Undang RI no.10 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan dalam bukunya Kasmir.2004:23 mendefinisikan bank sebagai berikut:

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Fungsi pokok perbankan dilihat dari sudut peranan ekonomi meliputi empat faktor, yaitu (Santoso.1996:2):

1. Menerima simpanan dalam bentuk tabungan (Saving Account), deposito berjangka (Demand Deposit), dan Giro (Current Account) serta mengkonversikannya menjadi rekening koran yang fleksibel untuk dapat dipergunakan oleh masyarakat.

2. Melaksanakan transaksi pembayaran melalui perintah pembayaran (Standing Instructions) atau bukti-bukti lainnya.

3. Memberikan pinjaman atau melaksanakan kriteria investasi lain di sektor-sektor yang menghasilkan Rate Of Return mencukupi daripada Cost Of Fund sumber dana perbankan.

(21)

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menurut Kasmir.2004:33 mendefinisikan sebagai berikut: “Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.”

Usaha-usaha BPR meliputi (Pasal 13 UU No.7 tahun 1992) :

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. 2. Memberikan kredit.

3. Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

4. Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.

Dalam melaksanakan kegiatannya bank dibedakan antara Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Kegiatan-kegiatan BPR meliputi :

1. Menghimpun dana dalam bentuk: a. Simpanan tabungan

b. Simpanan deposito

2. Menyalurkan dana dalam bentuk: a. Kredit investasi

(22)

B. Kredit

Kredit berasal dari bahasa Yunani (credere) berarti kepercayaan (truth atau Faith). Oleh karena itu, dasar dari kredit adalah kepercayaan. Seseorang atau suatu badan yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan. Definisi kredit menurut Undang-Undang Perbankan No.14 tahun 1967 sebagai berikut:

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain dalam hal pihak peminjam berkewajiban melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditetapkan. Kredit adalah hak untuk menerima pembayaran atau kewajiban untuk melakukan pembayaran pada waktu diminta, atau pada waktu yang akan datang karena penyerahan barang-barang sekarang (Suyatno,dkk.2003:13).

Dalam pemberian suatu fasilitas kredit terdapat unsur-unsur kredit sebagai berikut (Kasmir.2004:94):

1. Kepercayaan

(23)

2. Kesepakatan

Kesepakatan pemberi kredit dengan penerima kredit dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajiban masing-masing.

3. Jangka waktu

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.

4. Risiko

Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak tertagihnya atau macet dalam pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya.

5. Balas jasa

Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa dengan kata lain bunga.

Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu, tujuan utama pemberian kredit adalah (Kasmir.2004:96-97):

1. Mencari keuntungan 2. Membantu usaha nasabah 3. Membantu pemerintah

Secara umum jenis-jenis kredit dapat dilihat dari berbagai segi antara lain: 1. Dilihat dari segi ciri dan tujuan penggunaan

(24)

Kredit konsumsi adalah kredit yang diberikan untuk membiayai kebutuhan konsumtif yang diperlukan pemohon dan sumber pembayaran kembali kreditnya berasal dari penghasilan atau gaji pemohon. Pada umumnya kredit konsumtif bunganya tinggi, karena risiko yang dihadapi oleh bank juga tinggi. Tingginya risiko yang dihadapi oleh bank tersebut tergambar pada proses pemberian kredit tersebut, yaitu cepat dan mudah cairnya. b. Kredit modal kerja

Kredit modal kerja adalah fasilitas kredit yang dipergunakan untuk membiayai aktiva lancar dan atau menggantikan hutang dagang, serta membiayai sementara kegiatan operasional rutin perusahaan baik langsung maupun tidak langsung.

c. Kredit investasi

Kredit investasi adalah fasilitas kredit yang diberikan untuk membantu pembiayaan pemohon dalam memperoleh barang modal selain tanah yang tercermin dalam aktiva tetap perusahaan.

2. Dilihat dari segi jangka waktu a. Kredit jangka pendek

(25)

b. Kredit jangka menengah

Kredit jangka menengah berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun, biasanya untuk investasi.

c. Kredit jangka panjang

Kredit jangka panjang merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit jangka panjang waktu pengembaliannya diatas 3 tahun atau 5 tahun. Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang. 3. Dilihat dari segi jaminan

a. Kredit dengan jaminan

Kredit yang diberikan dengan suatu jaminan, jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi senilai jaminan yang diberikan si calon debitur.

b. Kredit tanpa jaminan

Merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha dan karakter serta loyalitas atau nama baik si calon debitur selama ini.

C. Siklus Perkreditan

(26)

Gambar II.1 Siklus Perkreditan

1. Pengajuan kredit

Pengajuan kredit dilakukan oleh nasabah atau calon nasabah dengan tujuan mendapatkan kredit sesuai dengan yang dibutuhkan. Permohonan ini harus dilakukan secara tertulis dan ditujukan ke pihak bank, permohonan ini menjelaskan kebutuhan pinjaman yang diinginkan serta jenis pembiayaan yang diharapkan. Dengan adanya permohonan tersebut, bank dapat segera melakukan penilaian atas calon nasabah baik kondisi usaha maupun karakteristik pribadinya.

2. Analisis kredit

Analisis kredit adalah proses pengolahan informasi dasar yang telah diperoleh menjadi informasi yang lengkap. Pada umumnya setiap bank melakukan penilaian 5C’s sebagai berikut :

(27)

Penilaian terhadap karakter pemohon kredit dilakukan untuk mengetahui tanggung jawab, kejujuran, dan keseriusan dalam berbisnis dan keseriusan dalam membayar semua kewajiban ke bank dengan seluruh kekayaan yang dimilikinya.

b. Penilaian terhadap Kemampuan (C2/Capacity)

Penilaian terhadap kemampuan nasabah bertujuan mengukur kemampuan nasabah dalam menjalankan usahanya.

c. Penilaian terhadap Modal (C3/Capital)

Penilaian terhadap modal perusahaan bertujuan mengetahui kemampuan nasabah atau perusahaan milik nasabah dalam menanggung beban pembiayaan yang dibutuhkan serta kemampuan dalam menanggung beban risiko (risk sharing) yang mungkin dialami perusahaan tersebut.

d. Penilaian terhadap Kondisi Perekonomian dan Prospek Usaha (C4/Condition)

Penilaian terhadap kondisi ekonomi dan prospek usaha dilakukan untuk mengetahui kekuatan perusahaan atas berubah-ubahnya kondisi makro ekonomi dan kemampuan perusahaan mengatisipasinya untuk bisa bertahan dalam keadaan yang sulit sekalipun.

e. Penilaian terhadap Agunan Kredit (C5/Collateral)

(28)

kredit adalah jaminan dari nasabah ke bank untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul dari pemberian kredit.

b. Penetapan Struktur Kredit

Struktur kredit merupakan bagian dari ketentuan realisasi kredit yang memperhatikan kebutuhan nasabah dan sumber pembayaran. Bagian-bagian yang ada dalam struktur kredit adalah sebagai berikut:

a. Nama peminjam, baik perorangan maupun perusahaan harus dicantumkan dengan jelas dan benar. Identitas perusahaan, pengurus, dan jabatan harus dicantumkan dengan lengkap.

b. Jumlah, pencantuman jumlah kredit berdasarkan hasil analisis, evaluasi, dan negosiasi.

c. Jenis kredit, pencantuman jenis kredit sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

d. Tujuan, pencantuman tujuan dan keperluan harus disebutkan dengan jelas. e. Jangka waktu, pencantuman jangka waktu disampaikan dengan jelas. f. Agunan, pencantuman dengan jelas dan lengkap sesuai dengan identitas

agunan dan didasarkan pada ketentuan yang berlaku.

g. Ketersediaan dana, dicantumkan kapan dan berapa besar dana kredit yang tersedia bagi debitur sesuai dengan jadwal penarikan yang telah disepakati.

(29)

telah ditentukan. Pencantuman denda bertujuan memaksa nasabah agar senantiasa memenuhi kewajibannya. Denda juga merupakan alat kompensasi atas kerugian bank akibat beberapa kewajiban peminjam yang tidak dipenuhinya.

i. Provisi, merupakan jasa bagi bank dalam menyediakan dana bagi debitur. Pencantuman provisi ini berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam internal bank.

j. Commitment fee, merupakan jasa bank atas jenis kredit tertentu, misalnya : jenis kredit investasi.

4. Perjanjian kredit

Perjanjian kredit atau akad kredit adalah bentuk kesepakatan antara nasabah atau debitur dengan bank dan dilakukan setelah terjadi keputusan kredit. Perjanjian kredit dilakukan secara tertulis dengan bentuk dan format sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5. Pencairan kredit

Pencairan kredit yang diminta debitur hanya dapat dilakukan bank setelah debitur yang bersangkutan memenuhi berbagai persyaratan seperti dituangkan dalam perjanjian kredit yang ditandatangani kedua belah pihak (bank dan debitur) serta dicatat di hadapan notaris publik.

6. Pengawasan kredit

(30)

ketajaman dan ketelitian yang dilakukan sewaktu melakukan analisis kredit. Terjadinya kegagalan kredit (kredit bermasalah atau kredit macet) terutama disebabkan oleh kelalaian bank dalam melakukan pengawasan kredit.

7a. Pelunasan kredit

Dalam kondisi yang ideal, nasabah akan dapat selalu memenuhi kewajibannya terhadap bank sesuai dengan kesepakatan yang dimuat dalam perjanjian kredit. Nasabah dapat (mampu dan mau) membayar angsuran pokok pinjaman beserta bunganya sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, sehingga kredit atau pinjaman bank akhirnya dinyatakan lunas.

7b. Tambahan kredit

Nasabah yang berhasil dalam menjalankan usaha atau proyeknya, akan datang kembali ke bank untuk membicarakan kemungkinan memperoleh tambahan kredit bagi perluasan usaha atau proyek.

7c. Kredit bermasalah

Kredit bermasalah terutama disebabkan oleh kegagalan pihak debitur memenuhi kewajibannya untuk membayar angsuran (cicilan) pokok kredit beserta bunga yang telah disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian kredit.

D. Jangka Waktu Kredit

(31)

bahwa pinjaman itu harus telah dilunasi oleh debitur yang bersangkutan. Grace period (masa tenggang waktu) merupakan bagian dari jangka waktu kredit. Dalam perjanjian pinjam-meminjam jangka waktu kredit menduduki peranan penting, oleh karena dengan adanya jangka waktu kredit perjanjian kredit itu adalah batas waktunya, baik bagi bank pemberi pinjaman maupun debitur.

Beberapa pedoman dalam menentukan lamanya jangka waktu kredit sebagai berikut:

1. Kemampuan debitur untuk membayar kembali pinjamannya kepada bank pemberi pinjaman.

2. Umur teknis maupun ekonomis dari barang modal yang dibiayai dan dipergunakan oleh debitur.

3. Jangka waktu ijin pemakaian atau penempatan yang ditentukan oleh instansi yang berwenang.

Berdasarkan pedoman diatas, maka lamanya jangka waktu kredit adalah sebagai berikut (Kasmir.2004:100-101):

1. Kredit jangka pendek

Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk modal kerja.

2. Kredit jangka menengah

(32)

3. Kredit jangka panjang

Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit jangka panjang waktu pengembaliannya diatas 3 tahun atau 5 tahun. Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang.

Apabila dalam kenyataan jangka waktu kredit yang telah disetujui dan ditetapkan bersama antara debitur dengan bank pemberi pinjaman tidak sesuai lagi, misalnya oleh karena waktu menyelesaikan proyek mengalami keterlambatan, maka debitur dapat mengajukan permintaan perpanjangan waktu (jadwal) akibat yang dialami proyek itu adalah timbulnya time overrun (pelampauan waktu penyelesaian dari rencana semula). Bilamana permintaan ini disetujui oleh bank, maka jangka waktu kredit ini akan mempengaruhi pula grace period, jadwal angsuran (pembayaran kredit) dan batas waktu pelunasan pinjaman. Perpanjangan waktu ini biasa disebut time rescheduling.

E. Suku Bunga Kredit

Suku bunga kredit adalah bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank (Kasmir.2004:121). Dalam menetapkan besar kecilnya suku bunga terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi sebagai berikut (Suyatno,dkk.2003:101-103): 1. Jangka waktu

(33)

risiko yang mungkin muncul, maka bank pun akan membebankan bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan kredit jangka pendek.

2. Kualitas jaminan kredit

Jaminan kredit merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam memberikan pertimbangan mengenai berapa besarnya bunga yang akan dibebankan kepada seorang nasabah atau perusahaan. Bila nasabah memberikan suatu jaminan kredit yang mempunyai kualitas yang sangat tinggi yaitu mudah dicairkan, nilainya tidak mengalami penurunan, sangat mudah diperjualbelikan, berarti risiko atas kredit yang diberikan bank rendah. Dengan demikian bank juga akan membebankan bunga kredit yang lebih rendah.

3. Reputasi perusahaan

Pada umumnya perusahaan-perusahaan penerima kredit dapat dibedakan dalam 3 kelompok besar, yaitu:

a. Perusahaan (MNC’S, Joint Venture, dan lain-lain)

b. Perusahaan milik negara (Badan Usaha Milik Negara atau BUMN) c. Perusahaan menengah (Wholesale, Perdagangan Impor dan Ekspor) d. Perusahaan-perusahaan kecil (Pengusaha perseorangan).

(34)

yang mempunyai credit-rating kurang baik, bank akan membebankan bunga kredit yang lebih tinggi.

4. Produk yang kompetitif

Perusahaan-perusahaan yang mempunyai produk yang mudah diproduksi oleh perusahaan lain menunjukkan bahwa perusahaan tersebut berada dalam industri yang sangat kompetitif. Kompetitif yang sangat tinggi membawa risiko yang tinggi pula bagi perusahaan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi risiko kredit yang diberikan bank kepada perusahaan tersebut. 5. Hubungan baik

Yang dimaksud hubungan baik ialah seberapa jauh perusahaan telah mengadakan hubungan (transaksi) dengan bank, bagaimana catatan (historial focard) dari hubungan tersebut. Bila suatu perusahaan telah menjalin hubungan yang lama dengan bank dengan ketentuan sangat memuaskan bagi bank, maka bank akan menetapkan bunga lebih rendah daripada perusahaan yang baru berhubungan dengan bank.

6. Jaminan pihak ketiga

(35)

Dalam perhitungan bunga kredit terdapat beberapa cara sebagai berikut (Suyatno,dkk.2003:107 )

1. Sliding rate

Cara perhitungan bunga dengan rumus sliding rate adalah bahwa pembebanan bunga terhadap nilai pokok pinjaman akan semakin menurun dari bulan ke bulan (dari suatu periode ke periode berikutnya) sesuai dengan menurunnya pokok pinjaman sebagai akibat adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman. 2. Flat rate

Cara perhitungan bunga dengan rumus flat rate adalah pembebanan bunga terhadap nilai pokok pinjaman akan tetap dari satu periode ke periode lainnya walaupun pokok pinjaman menurun sebagai akibat adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman.

3. Floating rate

Cara perhitungan bunga dengan rumus floating rate (bunga mengambang) adalah cara penentuan bunga yang besarnya tidak ditetapkan untuk suatu jangka waktu, namun diambangkan sesuai dengan perkembangan tingkat bunga yang ada di pasar uang (money market rate).

F. Jaminan Kredit

(36)

materiil, yang disediakan oleh debitur untuk menanggung pembayaran kembali suatu kredit, apabila debitur tidak dapat melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan. Jaminan kredit berfungsi sebagai pengaman apabila kredit yang telah diberikan tersebut mengalami kegagalan dalam pengembaliannya. Besarnya jaminan dikonversikan dalam bentuk uang oleh badan analisis pada bank tersebut, dimana hanya 75 persen besarnya nilai jaminan tersebut menentukan jumlah tertinggi kredit yang bank berikan.

Kegunaan jaminan kredit yang diberikan nasabah penerima kredit sebagai berikut (Suyatno,dkk.2003:88):

1. Memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan pelunasan dari hasil penjualan barang-barang jaminan tersebut, apabila nasabah melakukan cidera janji, yaitu tidak membayar kembali utangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian.

2. Menjamin agar nasabah berperan serta di dalam transaksi untuk membiayai usahanya, sehingga kemungkinan untuk meninggalkan usaha atau proyeknya dengan merugikan diri sendiri atau perusahaannya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya kemungkinan untuk dapat berbuat demikian diperkecil terjadinya.

(37)

Jenis-jenis jaminan kredit dilihat dari berbagai segi sebagai berikut : 1. Dari pemilik barang jaminan itu sendiri:

a. Dapat berupa kekayaan dari debitur yang bersangkutan.

b. Dapat berupa kekayaan dari pihak ketiga lainnya yang digunakan untuk menjamin kredit yang diperoleh oleh debitur tersebut.

2. Dari status kekayaan di dalam suatu perusahaan: a. Dapat sebagai current assets.

b. Dapat sebagai fixed assets.

3. Dari wujud barang jaminan itu sendiri:

a. Jaminan dalam bentuk tangible assets yaitu barang-barang yang ada wujudnya secara fisik misalnya aktiva lancar.

b. Jaminan dalam bentuk intangible assets yaitu jaminan yang tidak ada wujudnya secara fisik misalnya jaminan pribadi letter of guarantee.

4. Dari fungsinya dalam kegiatan perkreditan:

a. Jaminan utama yaitu barang-barang yang diperoleh atau diberi dengan kredit yang bersangkutan dan kemudian dijaminkan pada bank kembali. b. Jaminan tambahan yaitu barang-barang jaminan lainnya diluar yang

dibiayai dengan kredit tersebut diatas dengan maksud sebagai alat pengaman terhadap kredit yang ditarik oleh debitur.

5. Dari risiko barang jaminan :

(38)

b. Kekayaan yang tidak mengandung risiko, oleh karena itu tidak perlu ditutup asuransinya.

G. Risiko Kredit

Dalam bisnis perbankan risiko kredit timbul karena kegagalan debitur memenuhi kewajibannya. Menurut Darmawi.2006:151 risiko kredit yaitu tidak tertagihnya kredit yang diberikan kepada nasabah atau risiko tidak kembalinya dana yang ditempatkan di bank lain.

Risiko kredit adalah risiko yang timbul dari kegagalan salah satu pihak untuk memenuhi kontrak pembayaran (Taswan.2006:298).

Menurut Taswan.2006:298 risiko kredit sedikitnya mengandung tiga komponen yaitu:

1. Peluang gagal bayar

Peluang gagal bayar (probability of default) yaitu debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada bank.

2. Tingkat pemulihan

Tingkat pemulihan (recovery rate) yaitu proporsi klaim atau tuntutan berkaitan dengan upaya pemulihan kinerja bank.

3. Eksposur kredit

(39)

Dengan melihat komponen tersebut maka setiap bank dituntut untuk menghadapi penyebab terjadinya risiko kredit. Penyebab risiko kredit yaitu : 1. Tidak adanya kebijakan kredit standar.

2. Pelanggaran terhadap batas maximum pemberian kredit bagi satu debitur. 3. Konsentrasi kredit pada kredit yang tergolong berisiko tinggi dan spekulatif. 4. Ketidaklengkapan dokumen kredit.

5. Hanya terfokus kepada fee kredit daripada creditworthiness. 6. Tidak ada standar formal tentang pricing procedure.

7. Tidak ada analisis, review dan pengawasan kredit yang efektif.

Risiko kredit perbankan seperti halnya risiko-risiko usaha yang lain, tidak dapat lepas dari faktor ekonomi makro nasional. Penekanan risiko kredit masih dapat dilakukan seperti pemilihan nasabah maupun bisnis yang ditekuninya. Kebijakan-kebijakan bank dalam pemberian kredit untuk menekan risiko kredit yaitu:

1. Pemberian kredit harus sesuai dan seirama kebijakan moneter dan ekonomi nasional.

2. Pemberian kredit harus selektif dan diarahkan kepada sektor-sektor yang diprioritaskan.

(40)

4. Setiap kredit harus diikat dengan suatu perjanjian kredit untuk pertimbangan yuridis dari revenue, yaitu penghasilan pemerintah dari adanya bea materai kredit.

5. Overdraft, yaitu penarikan dana yang melebihi saldo giro atau plafon pinjaman sebaiknya dihindarkan.

6. Kredit tanpa jaminan (Clean Loan) sebaiknya dihindari demi keamanan pembayaran kembali.

H. Kolektibilitas

Kolektibilitas atau kualitas kredit adalah keadaan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh nasabah serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan (Taswan.2006:184-185). Kualitas kredit didasarkan pada ketepatan pembayaran kembali angsuran pokok dan bunga serta kemampuan peminjam dari keadaan usahanya. Ada empat tingkat kolektibilitas sebagai berikut:

1. Kredit lancar

(41)

2. Kredit tidak lancar

Kredit tidak lancar yaitu kredit yang selama 3 atau 6 bulan mutasinya tidak lancar, pembayaran-pembayaran bunga tidak baik serta angsuran pokok pun demikian pula.

3. Kredit diragukan

Kredit diragukan yaitu kredit yang telah tidak lancar dan telah sampai pada jatuh temponya belum dapat juga diselesaikan oleh nasabah bersangkutan. 4. Kredit macet

Kredit macet yaitu kredit yang setelah jatuh tempo belum dapat diselesaikan pembayarannya karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan kondisi debitur.

Menurut SK DIR. BI No.30/267/Kep/DIR/1998 kolektibilitas atau kualitas kredit adalah:

1. Lancar (pass), apabila memenuhi kriteria:

a. Pembayaran angsuran pokok dan atau bunga tepat waktu; dan b. Memiliki mutasi rekening yang aktif; atau

c. Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral). 2. Dalam perhatian khusus (special mention), apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang belum melampaui 90 hari; atau

(42)

c. Mutasi rekening masih relatif aktif; atau

d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau e. Didukung oleh pinjaman baru.

3. Kurang lancar (substandard), apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 90 hari; atau

b. Sering terjadi cerukan; atau

c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah; atau

d. Terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari; atau e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau f. Dokumentasi pinjaman yang lemah.

4. Diragukan (doubtful), apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 hari; atau

b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen; atau c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari; atau

d. Terjadi kapitalisasi bunga; atau

e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan.

5. Macet (loss), apabila memenuhi kriteria:

(43)

b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau

c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan dengan nilai yang wajar.

I. Kredit Macet

Kredit macet atau bad debt adalah kredit yang setelah jatuh tempo belum dapat diselesaikan pembayarannya karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan kondisi debitur (Siamat.2003:220).

Kredit macet merupakan kondisi yang sangat ditakuti oleh setiap pegawai bank, karena dengan adanya kredit bermasalah tersebut akan menyebabkan menurunnya pendapatan bank, yang selanjutnya memungkinkan terjadinya penurunan laba. Kondisi kinerja usaha bank yang kurang bagus akan berpengaruh secara menyeluruh terhadap upaya perbaikan kesejahteraan pegawai, pemupukan modal sendiri, pengembangan usaha.

Tabel II.1

Penyebab kredit macet sebagai berikut (Kuncoro.2002:470-474):

Klasifikasi Kemungkinan Penyebab

Lingkungan usaha debitur.

Musibah (misal: kebakaran, bencana alam) atau kegagalan usaha.

Faktor eksternal

Persaingan antar bank yang tidak sehat.

(44)

Kelemahan sistem dan prosedur penilaian kredit.

Pemberian dan pengawasan kredit yang menyimpang dari prosedur.

Itikad yang kurang baik dari pemilik, pengurus, dan pegawai bank.

Kredit macet akan berdampak pada kedua belah pihak, baik pihak bank sebagai kreditur maupun pihak nasabah penerima kredit sebagai debitur. Akibat dari kredit macet sebagai berikut :

1. Bagi nasabah

Nasabah harus menanggung kewajiban yang cukup berat kepada bank, karena bunga terus dihitung selama kredit belum dilunasi (utang pokok ditambah bunga), sehingga jumlah kewajiban nasabah semakin lama semakin besar. 2. Bagi Bank

Bank akan kekurangan dana sehingga mempengaruhi kegiatan usaha bank dan akan terganggu kesehatannya dan kesulitan memenuhi permintaan nasabah. Keadaan yang demikian mempengaruhi pula kepercayaan masyarakat terhadap bank berkurang.

Penyelamatan terhadap kredit macet dilakukan dengan cara antara lain (Kuncoro.2002:475-477):

(45)

Reschedulling yaitu perubahan syarat kredit yang hanya menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktunya yang meliputi:

a. Perubahan grace period. b. Perubahan jadwal pembayaran. c. Perubahan jangka waktu. d. Perubahan jumlah angsuran. 2. Reconditioning (persyaratan kembali)

Reconditioning yaitu perubahan sebagian atau seluruh syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, dan atau persyaratan lainnya, sepanjang tidak menyangkut maksimum saldo kredit, yang meliputi reschedulling dan atau:

a. Perubahan tingkat suku bunga atau denda. b. Perubahan cara perhitungan tingkat suku bunga. c. Keringanan bunga atau denda.

d. Perubahan atau penggantian kepemilikan atau pengurus. e. Perubahan atau penggantian nama dan atau status perusahaan. f. Perubahan atau penggantian nasabah atau novasi.

g. Perubahan atau penggantian anggunan. 3. Restructuring (penataan kembali)

Restructuring yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang meliputi reschedulling, reconditioning, dan atau:

(46)

b. Konversi seluruh atau sebagian tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru.

c. Perubahan jenis fasilitas kredit termasuk konversi pinjaman dalam valuta asing atau sebaliknya.

d. Konversi seluruh atau sebagian dari kredit menjadi penyertaan dalam perusahaan.

Upaya penyelamatan dengan cara 3R tersebut dapat dilakukan apabila masih memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Debitur menunjukan itikad yang positif untuk bekerja sama (kooperatif) terhadap upaya penyelamatan yang akan dijalankan.

2. Usaha debitur masih berjalan dan mempunyai prospek yang bagus. 3. Debitur masih mampu untuk membayar kewajiban yang dijadwalkan. 4. Debitur masih mampu membayar bunga berjalan.

5. Adanya kemampuan dan prospek usaha debitur untuk pulih kembali. 6. Posisi bank akan menjadi lebih baik.

Apabila usaha penyelamatan dengan 3R tidak berhasil, maka harus segera dilakukan upaya penyelesaian agar bank tidak mengalami kerugian dengan cara, antara lain:

1. Penyelesaian kredit bermasalah secara damai, dengan cara sebagai berikut: a. Pemberian keringanan bunga untuk kredit kolektibilitas diragukan dan

(47)

harus dicantumkan syarat batal dan kembali pada kewajiban sesuai surat utang, apabila kewajiban yang telah dijadwalkan tidak dipenuhi dengan tertib.

b. Penjualan agunan dibawah tangan, yaitu penyelamatan kredit secara damai dengan penjualan agunan di bawah tangan.

c. Penjualan sebagian atau seluruh harta kekayaan debitur atau barang agunan.

d. Penebusan sebagian atau seluruh barang agunan oleh debitur atau pemilik barang agunan.

2. Penyelesaian kredit bermasalah melalui saluran hukum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Penyelesaian kredit melalui pengadilan negeri.

b. Penyerahan pengurusan kredit macet kepada BUPLN atau PUPN. c. Penyerahan penyelesaian kredit macet melalui kejaksaan.

d. Penyelesaian kredit dengan pengajuan klaim asuransi.

J. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Ada perbedaan besarnya kredit macet berdasarkan jenis kredit.

(48)

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah studi kasus, yaitu penelitian

tentang kredit macet pada periode Mei 2007 sampai dengan Mei 2008. Data yang

diperoleh kemudian diolah dan dianalisis selanjutnya ditarik kesimpulan. Hasil

analisis dan kesimpulan hanya berlaku pada perusahaan tempat penelitian, yaitu

PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian pada PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas,

Jln. Gatot Soebroto No. 2, Kabupaten Banyumas.

Waktu penelitian : Bulan Juni – Juli 2008

C. Subyek dan Obyek Penelitian

1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang-orang yang terlibat dalam penelitian, dalam

hal ini pimpinan PD.BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas

(49)

2. Obyek Penelitian

Obyek yang akan diteliti adalah jangka waktu, suku bunga, jaminan kredit dan

kredit macet pada PD.BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel masalah pertama

Variabel masalah pertama yaitu kredit macet yang dapat dikategorikan

berdasarkan jenis kredit, kredit macet atau bad debt adalah kredit yang setelah jatuh tempo belum dapat diselesaikan pembayarannya karena mengalami

kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau

karena kondisi di luar kemampuan kondisi debitur (Siamat.2003:220). Kredit

macet dapat diukur dengan rupiah (Rp). Jenis-jenis kredit yang akan diteliti

sebagai variabel moderator yaitu :

a. Kredit pegawai adalah kredit yang diambil oleh pegawai negeri atau

swasta, yang dalam pengambilan kreditnya tidak dipengaruhi feasibility. Kredit macet berdasarkan kredit pegawai diukur dengan rupiah (Rp).

b. Kredit umum atau kredit konsumsi adalah kredit yang diberikan untuk

membiayai kebutuhan konsumtif yang diperlukan pemohon dan sumber

(50)

pemohon. Kredit macet berdasarkan kredit umum atau kredit konsumsi

diukur dengan rupiah (Rp).

c. Kredit modal kerja adalah fasilitas kredit yang dipergunakan untuk

membiayai aktiva lancar dan atau menggantikan hutang dagang, serta

membiayai sementara kegiatan operasional rutin perusahaan baik langsung

maupun tidak langsung. Kredit macet berdasarkan kredit modal kerja

diukur dengan rupiah (Rp).

2. Variabel masalah kedua, yaitu :

a. Variabel Dependen yaitu besarnya kredit macet. Kredit macet berarti

kredit yang setelah jatuh tempo belum dapat diselesaikan pembayarannya

karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor atau

unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan kondisi debitur.

Skala pengukuran untuk variabel dependen besarnya kredit macet

menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah (Rp).

b. Variabel Independen :

1) Jangka waktu

Jangka waktu kredit terletak diantara tanggal mulai berlakunya

perjanjian kredit dan tanggal pelunasan kredit. Apabila jangka waktu

kredit habis berarti bahwa pinjaman itu harus telah dilunasi oleh

debitur yang bersangkutan. Nasabah mengambil jangka waktu tertentu

yang akan menentukan berapa lama nasabah harus mengembalikan

(51)

atau lamanya mengangsur menggunakan skala rasio dengan satuan

bulan.

2) Suku bunga kredit

Suku bunga kredit yaitu bunga yang diberikan kepada para peminjam

atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank.

Nasabah mengambil kredit jenis tertentu dengan jangka waktu tertentu

dan bank menentukan suku bunga. Suku bunga yang diberikan bank

akan ditanggung nasabah tiap bulannya selama jangka waktu yang

telah disepakati. Skala pengukuran untuk variabel independen suku

bunga menggunakan skala rasio dengan satuan persen (%).

3) Jaminan kredit

Jaminan kredit diartikan sebagai penyerahan kekayaan atau pernyataan

kesanggupan seseorang untuk menanggung pembayaran kembali suatu

utang. Nasabah menyerahkan jaminan kepada bank, badan analis bank

yang menentukan nilai dari jaminan tersebut. Nilai jaminan berlaku

hanya 75 persen dari harga yang ditafsir badan analis bank, dimana

akan menentukan kredit tertinggi yang dapat diambil. Skala

pengukuran untuk variabel independen jaminan kredit menggunakan

skala rasio dengan satuan rupiah (Rp).

(52)

E. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang

mempunyai karakteristik tertentu (Indriantoro dan Supomo,1999:115).

Populasi dalam penelitian ini semua nasabah yang menerima kredit dari PD.

BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas, namun mengalami

kemacetan dalam pembayaran angsuran atau bahkan tidak mengangsur sama

sekali pada periode bulan Mei 2007 sampai dengan Mei 2008 yaitu sebanyak

263 nasabah.

2. Sampel

Sampel adalah sekelompok atau beberapa bagian dari suatu populasi

(Indriantoro dan Supomo.1999:258). Dalam penelitian ini sampel yang

digunakan adalah sebagian nasabah yang menerima kredit dari PD. BPR BKK

Purwokerto Utara Cabang Banyumas, namun mengalami kemacetan dalam

pembayaran angsuran atau bahkan tidak mengangsur sama sekali pada periode

bulan Mei 2007 sampai dengan Mei 2008. Mengetahui sampel dengan rumus

(Somantri.2006:101) :

S = ukuran sampel yang diperlukan

(53)

P = proporsi populasi = 0,50 (maksimal sampel yang mungkin)

d = tingkat akurasi = 0.05

λ2

= tabel nilai chi-square sesuai tingkat kepercayaan 0,95 = 1,841

Jadi, sampel yang digunakan sebanyak 109 nasabah yang dihitung sebagai

berikut : S =

(

)

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target

yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian (Somantri.2006.83).

Sampel adalah sekelompok atau beberapa bagian dari suatu populasi, nasabah

yang diambil harus memenuhi karateristik sebagai berikut: nasabah

mengambil kredit dengan jenis kredit yaitu kredit umum atau konsumsi, kredit

modal kerja, dan kredit pegawai yang mengalami kredit macet pada periode

bulan Mei 2007 sampai dengan Mei 2008 di PD.BPR BKK Purwokerto Utara

Cabang Banyumas. Jenis kredit umum atau konsumsi, kredit modal kerja dan

kredit pegawai dapat diambil sampelnya dengan cara proposional random

(54)

kelompok yang tidak saling tumpah tindih. Teknik sampling ini dilakukan

dengan melihat proporsi sampel masing-masing kredit, sampel diambil secara

acak. Proporsi sampel setiap jenis kredit dapat dihitung sebagai berikut:

Ku = xs

NMKu = Nasabah Macet Kredit modal kerja

TNM = Total Nasabah Macet

(55)

Kp = xs TNM NMKp

= 109

263 21

x

= 8,703 = 9 Nasabah

Kp = Kredit pegawai

NMKp = Nasabah Macet Kredit pegawai

TNM = Total Nasabah Macet

s = Jumlah sampel

Jumlah proporsi setiap jenis kredit diambil dengan cara diundi dengan

memberi nomor setiap nasabah dan diambil secara tidak disengaja sebanyak

proporsi setiap jenis kredit, jika digabungkan sebanyak jumlah sampel yang

dibutuhkan yaitu 109 nasabah.

F. Jenis dan Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung

melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain), umumnya berupa

bukti, catatan atau laporan historis yang tersusun dalam arsip (Indriantoro dan

Supomo,1999:248). Dalam penelitian ini data yang berhubungan dengan jangka

(56)

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam mencari data yang digunakan dengan cara

dokumentasi. Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang bersumber pada

catatan-catatan dokumen atau arsip yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Data yang berisi jangka waktu, suku bunga, jaminan kredit, jenis kredit serta

besarnya kredit macet.

H Teknik Analisis Data

1. Analisis Masalah Pertama

Untuk menguji hipotesis pertama menggunakan teknik analisis ANOVA

adalah teknik analisis statistik yang dapat memberi jawaban atas ada tidaknya

perbedaan skor beberapa kelompok (khususnya untuk kelompok yang banyak

atau lebih dari 2), dengan suatu risiko kesalahan yang sekecil mungkin.

ANOVA satu arah merupakan metode analisis varians yang hanya

memperhatikan satu jenis perlakuan saja. Dalam hal ini perlakuan adalah

kondisi yang membedakan suatu populasi dengan populasi lainnya

(Wibisono.2000:211).

ANOVA memerlukan asumsi-asumsi sebagai berikut (Mason dan

Lind.1999:7) :

a. Populasi-populasi yang diuji memiliki distribusi normal.

b. Populasi-populasi tersebut memiliki deviasi standar yang sama (atau

(57)

c. Sampel tidak berhubungan satu dengan yang lain.

ANOVA satu arah dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut

(Mason dan Lind.1999:9-12):

a. Menyusun hipotesis

H0 : µ1 = µ2 = µ3

Ha : µ1 ≠ µ2 ≠ µ3

Dalam hipotesis nol biasanya menyatakan bahwa harga mean dari berbagai populasi yang diketahui identik. Sedangkan pada hipotesis

alternatif menyatakan bahwa harga mean untuk berbagai populasi tersebut tidak identik.

b. Menentukan taraf nyata

Taraf nyata yang dipilih 0,05.

c. Uji statistik

Nilai F diperoleh dengan cara sebagai berikut :

(58)

MSTR : Mean square between treatment atau mean square

antarperlakuan

MSE : Mean square error

SST dan SSE dalam rumus F diperoleh dengan cara:

SST =

(

)

Tc : Kuadrat dari setiap kolom, nilai setiap pengamatan (X) dalam satu

kolom atau perlakuan dijumlahkan kemudian dikuadratkan

nc : Jumlah pengamatan dalam setiap kolom atau perlakuan

X : Nilai setiap pengamatan

N : Jumlah total pengamatan

Bentuk umum dari analisis uji varians biasanya disajikan sebagai berikut:

Sumber

Kuadrat tengah (1/2)

(59)

d. Menentukan Ftabel

Ftabel dapat diketahui dengan menghitung numenator (jumlah variabel - 1)

dan denumerator (jumlah kasus-jumlah variabel) dengan tingkat signifikan

(α) adalah 5%.

e. Keputusan

Jika Statistik Hitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (ketiga

varians populasi adalah tidak identik).

Jika Statistik Hitung ≤ Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (ketiga

varians populasi adalah identik).

Atau

Jika probabilitas > 0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Jika probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima.

2. Analisis Masalah Kedua

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier

berganda. Menurut Purwanto (2004:508) analisis regresi linier berganda

digunakan untuk menganalisis besarnya hubungan dan pengaruh variabel

independen yang jumlahnya lebih dari dua. Dalam analisis regresi linier

berganda dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dapat dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut

(60)

1) Uji Asumsi Klasik Multikolinieritas

Uji asumsi klasik jenis ini diterapkan untuk analisis regresi linier

berganda yang terdiri atas dua atau lebih variabel bebas atau

independent variable, dimana menentukan ada tidaknya multikolinieritas dapat digunakan cara yaitu dengan :

a) Nilai tolerance adalah besaran tingkat kesalahan yang dibenarkan secara statistik (α ).

b) Nilai variance inflation factor (VIF) adalah faktor inflasi penyimpangan baku kuadrat.

Nilai tolerance (α) dan variance inflation factor (VIF) dapat dicari dengan menggabungkan kedua nilai tersebut sebagai berikut :

- Besar nilai tolerance (α ) :

α = 1/VIF

- Besar nilai variance inflation factor (VIF) : VIF = 1/α

Variabel bebas mengalami multikolinieritas jika :

α hitung < α dan VIF hitung > VIF

Variabel bebas tidak mengalami multikolinieritas jika :

α hitung > α dan VIF hitung < VIF 2) Uji Asumsi Klasik Heteroskedastisitas

Dalam persamaan regresi linier berganda perlu diuji mengenai sama

(61)

yang lain. Jika residualnya mempunyai varians yang sama disebut juga

Homokedastisitas dan jika varians tidak sama atau berbeda disebut

terjadi Heteroskedastisitas. Persamaan regresi yang baik jika tidak

terjadi Heteroskedastisitas. Analisis uji asumsi heteroskedastisitas

hasil output SPSS melalui grafik scatterplot antara Z prediction

(ZPRED) yang merupakan variabel bebas (sumbu X = Y hasil

prediksi) dan nilai residualnya (SRESID) merupakan variabel terikat

(sumbu Y = Y prediksi-Y riil).

Homokedastisitas terjadi jika pada scatterplot titik-titik hasil

pengolahan data antara ZPRED dan SRESID menyebar di bawah

maupun di atas titik origin (angka 0) pada sumbu Y dan tidak

mempunyai pola yang teratur.

Heteroskedastisitas terjadi jika pada scatterplot titik-titiknya

mempunyai pola yang teratur baik menyempit, melebar maupun

bergelombang-gelombang.

3) Uji Asumsi Klasik Normalitas

Uji normalitas akan menguji data variabel bebas (X) dan data variabel

terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan. Berdistribusi

normal atau berdistibusi tidak normal. Uji asumsi klasik normalitas

(62)

kumulatif. Suatu data dikatakan berdistribusi normal jika garis data riil

mengikuti garis diagonal.

b. Uji Keseluruhan (Uji F)

Uji keseluruhan atau uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel

independen (X1, X2, X3) secara bersama-sama berpengaruh secara

signifikan terhadap variabel dependen (Y'). Selain itu, bertujuan untuk

mengetahui apakah semua variabel bebas memiliki koefisien regresi sama

dengan nol.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam uji F yaitu:

1) Menyusun hipotesis

Hipotesis yang ingin diuji adalah kemampuan variabel bebas

menjelaskan tingkah laku variabel tidak bebas. Penyusunan hipotesis

selalu ada hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis nol selalu

mengandung unsur kesamaan, maka dapat dirumuskan hipotesis nol

adalah koefisien regresi sama dengan nol. Sedangkan hipotesis

alternatif adalah koefisien regresi tidak sama dengan nol. Rumusan

hipotesisnya sebagai berikut :

H0 : b1 = b2 = b3 =0

Ha : b1 ≠b2 ≠ b3 ≠ 0

2) Menentukan nilai Fhitung

(63)

3) Menentukan Ftabel

Ftabel dapat dicari dengan menggunakan tingkat keyakinan 95%,

a = 5% , df 1 (jumlah variabel -1), dan df 2 (n-k-1) (n adalah jumlah

kasus dan k adalah jumlah variabel independen).

4) Keputusan

Jika Fhitung > Ftabel pada α sebesar 0.05 atau jika Fhitung pada

P-value < 0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima

Jika Fhitung ≤ Ftabel pada α sebesar 0.05 atau jika Fhitung pada

P-value≥ 0.05 maka H0 diterima dan Ha ditolak

c. Uji Parsial (Uji t)

Uji Parsial atau uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel

independen (X1, X2, X3) secara parsial berpengaruh secara signifikan

terhadap variabel dependen (Y'). Langkah-langkah yang dilakukan dalam

uji t yaitu :

1) Menyusun hipotesis

Variabel bebas berpengaruh tidak nyata apabila nilai koefisiennya

sama dengan nol, sedangkan variabel bebas akan berpengaruh nyata

apabila nilai koefisiennya tidak sama dengan nol.

Hipotesisnya sebagai berikut :

H0 : b1 = b2 = b3 =0

(64)

2) Menentukan nilai thitung

thitung dapat dilihat pada tabel pengolahan data.

3) Menentukan nilai ttabel

Tabel distribusi t dicari pada a = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan

derajat kebebasan (df) n-k-1 (n adalah jumlah kasus dan k adalah

jumlah variabel independen).

4) Keputusan

Jika thitung > ttabel pada α sebesar 0.05 atau jika thitung pada P-value <

0.05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Jika thitung ≤ ttabel pada α sebesar 0.05 atau jika thitung pada P value

0.05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.

d. Persamaan Regresi Linier Berganda

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis linier

regresi berganda. Menurut Purwanto (2004:508) analisis regresi linier

berganda digunakan untuk menganalisis besarnya hubungan dan pengaruh

variabel independen yang jumlahnya lebih dari dua.

Bentuk persamaan regresi dengan 3 variabel independen adalah

Y' = a + b1X1 + b2X2 + b3X3

Dimana :

Y' : besarnya kredit macet

a : nilai konstan

(65)

b2 : koefisien nilai regresi suku bunga

b3 : koefisien nilai regresi jaminan kredit

X1 : jangka waktu

X2 : suku bunga

(66)

Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah suatu badan usaha yang

melaksanakan tugas dan fungsi untuk memberikan pelayanan khususnya

kepada masyarakat pedesaan dalam bidang perkreditan dan tabungan guna

meningkatkan taraf hidup mereka terutama masyarakat ekonomi lemah. Badan

kredit kecamatan merupakan lembaga perkreditan pedesaan yang berdiri sejak

awal tahun 1971-an. Atas dasar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah

Tingkat I Jawa Tengah tanggal 4 September 1966 nomor :

Dsa.

tanggal 4 September 1969

Dsa.

tanggal 19 November 1970

Masing-masing sebagai keputusan pembentukan LPPD (Lembaga

Pembiayaan Pembangunan Pedesaan) tingkat kecamatan se-wilayah propinsi

Jawa Tengah dan membuka Badan Kredit Kecamatan (BKK) sebagai unit

operasinya. Pada tahun 1981 dikeluarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa

Tengah nomor : 11 tahun 1981 tentang Badan Kredit Kecamatan yang

disahkan oleh Menteri Dalam Negeri sebagai pemantapan peraturan daerah

yang terdahulu dan meningkatkan status BKK dari proyek menjadi Badan

Usaha Daerah Provinsi Jawa Tengah. Kemudian dikeluarkan lagi surat

(67)

Tahun 1993 No : 58/87/1993 tentang pembentukan Bank Perkreditan Rakyat

Badan Kredit Kecamatan (BPR BKK).

Atas dasar Surat Keputusan Depati Gubernur Bank Indonesia

Nomor : 9/2/KEP.DpG/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Izin

Penggabungan Usaha (Merger) dan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah

Nomor : 539/12/2007 tanggal 7 Maret 2007 tentang persetujuan Izin

Penggabungan Usaha (Merger) PD. BPR BKK se-Kabupaten Banyumas,

maka pada tanggal 2 April 2007 sebanyak 24 PD BPR BKK se-Kabupaten

Banyumas melakukan Penggabungan Usaha (Merger) dan yang menjadi

kantor pusatnya adalah PD. BPR BKK Purwokerto Utara. Tujuan

Penggabungan Usaha (Merger) adalah untuk memperkuat struktur

permodalan, untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan untuk

meningkatkan fungsi intermediasi perbankan.

PD. BPR BKK Purwokerto Utara memiliki cabang wilayah operasinya

di kabupaten Banyumas, yaitu:

1. Purwokerto Barat 13. Kembaran

2. Purwokerto Timur 14. Kemranjen

3. Ajibarang 15. Lumbir

4. Banyumas 16. Pekuncen

5. Baturaden 17. Purwojati

6. Cilongok 18. Rawalo

7. Gumelar 19. Sokaraja

(68)

9. Kalibagor 21. Sumpiuh

10.Karanglewas 22. Tambak

11.Kebasen 23. Wangon

12.Kedungbanteng

B. Struktur Organisasi

PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas menggunakan

sistem organisasi garis dan staff, karena terdapat ciri-ciri sebagai berikut :

1. Bentuk sederhana dan mudah dilaksanakan.

2. Adanya pembagian tanggungjawab dan kekuasaan yang jelas.

3. Adanya kekuasaan dan tanggungjawab yang mengalir dalam garis lurus.

Organisasi yang menganut sistem organisasi garis dan staff

mempunyai kekuatan dan kelemahan antara lain :

1. Kebaikan

a. Pengambilan keputusan dapat lebih mudah.

b. Perwujudan “The Right Man and The Right Place” dapat dilaksanakan,

artinya peran tersebut ditempatkan pada bidang yang semestinya.

c. Dapat digunakan untuk unit organisasi yang besar.

d. Pimpinan lebih leluasa dalam memberikan saran terhadap tugas khusus

diluar bagiannya.

e. Adanya kesatuan dalam pimpinan sehingga menciptakan aliran

(69)

f. Staff dapat membantu mengatasi berbagai persoalan sehingga akan

meringankan pekerjaan dan meningkatkan kualitas kerja.

2. Kelemahan

a. Koordinasi kadang-kadang sulit diterapkan.

b. Staff dapat ikut disalahkan jika saran yang diberikan tidak memperoleh

hasil.

c. Dapat menimbulkan anggapan untuk lebih percaya staff daripada

kepada atasannya.

d. Karyawan tidak saling kenal karena besarnya organisasi sehingga

solidaritas kurang.

Struktur organisasi merupakan mekanisme resmi atau formal dalam

menjalankan dan mengelola organisasi untuk mencapai tujuan dan dibentuk

untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana. Dalam

struktur organisasi terdapat fungsi dan wewenang yang satu sama lain

berhubungan, baik itu kegiatannya maupun antar karyawan. Struktur

organisasi PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas dapat dilihat

(70)

DIREKSI

Pimpinan Cabang Drs. Agus Ariyanto, MM

Kepala Seksi Pelayanan Budi Astutiningrum, SE

Staff Sekre. &Adm

Pesuruh Joko Prasetyo

Jaga Malam Saeran Kasir

Rita Herlinawati Kepala Seksi Pemasaran

Sudirwan, SE

Staff Kredit Ananto Djatmiko Staff Dana

Sunarni

(71)

Keterangan :

1. Direktur

Tugas :

a. Menyusun perencanaan

b. Melaksanakan koordinasi dalam pelaksanaan tugas antara anggota

Direksi dan melakukan pembinaan.

c. Pengendalian terhadap bagian/ sub bagian/ pos/ unit pelayanan

berdasarkan azas keseimbangan dan keserasian.

2. Pimpinan Cabang

Tugas :

a. Memimpin jalannya operasional kantor cabang.

b. Mengkoordinir tugas-tugas dari Kepala Seksi.

c. Memenuhi pencapaian target anggaran sesuai dengan yang telah

digariskan.

d. Menyetujui realisasi pinjaman sebatas wewenangnya.

e. Penyusunan dan penyampaian laporan bulanan, laporan keuangan

tahunan, dan laporan-laporan lainnya yang diperlukan kepada Badan

Pengawas kantor pusat.

3. Kepala Seksi Pemasaran

Tugas :

a. Menghimpun dana dan menyalurkannya dalam bentuk pinjaman atau

(72)

b. Pendekatan pembinaan kepada calon nasabah maupun yang sudah

menjadi nasabah.

c. Penyelenggaraan promosi baik dalam menghimpun dana maupun

penyalurannya.

d. Pemberian saran dan pertimbangan mengenai langkah dan atau

tindakan-tindakan yang perlu diambil di bidang tugasnya.

4. Staff Dana

Tugas :

a. Melakukan usaha dan koordinasi pengembangan dana.

b. Melaksanakan administrasi keluar dan masuknya dana.

c. Melakukan pemindahbukuan bunga deposito ke bank.

d. Pengelolaan rekening nasabah.

5. Staff Kredit

Tugas :

a. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan usaha perkreditan,

antara lain penagihan dan pengadministrasian.

b. Memberikan penjelasan tentang syarat-syarat calon debitur yang

mengajukan pinjaman.

c. Membuat surat penagihan bagi debitur yang tergolong kurang lancar,

diragukan dan macet.

d. Pelaksanaan penyimpanan dan pemeliharaan berkas-berkas perjanjian

(73)

6. Analis Kredit

Tugas :

a. Menyortir surat permohonan pinjaman.

b. Melakukan wawancara dan pengecekan terhadap barang jaminan calon

debitur.

c. Memproses permohonan pinjaman berdasarkan urutan tanggal

permohonan masuk.

d. Melakukan analisa kelayakan pemberian pinjaman pada debitur dan

mengusulkan kepada Pimpinan Cabang.

e. Mempersiapkan berkas perjanjian kredit.

f. Membuat surat persetujuan pencairan pinjaman.

7. Kepala Seksi Pelayanan

Tugas :

a. Meneliti kebenaran laporan kas harian.

b. Meneliti pengeluaran dan pengembalian uang antar bank.

c. Mengerjakan kearsipan data-data keuangan.

d. Membuat pembukuan dan laporan bulanan bank.

e. Membuat rekapitulasi harian dan rupa-rupa aktiva/pasiva.

f. Memberi saran dan pertimbangan mengenai tindakan-tindakan dan

(74)

8. Kasir

Tugas :

a. Melaksanakan penerimaan atau pembayaran kredit dan tabungan dari

nasabah.

b. Melakukan pengecekan terhadap nota, kwitansi, dan surat-surat

perintah lainnya.

c. Menyortir pecahan uang secara terperinci.

d. Menghitung uang tunai setiap hari dan mempertanggungjawabkannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan.

e. Melakukan pencocokan mutasi kas setiap hari.

9. Pesuruh

Tugas :

a. Melakukan penagihan kepada debitur.

b. Merawat dan memelihara aset-aset perusahaan.

c. Membantu penyelenggaraan promosi baik dalam menghimpun dana

maupun penyalurannya.

d. Menyimpan seluruh berkas-berkas perjanjian kredit.

10.Jaga Malam

Tugas : Menjaga keamanan PD. BPR BKK Purwoketo Utara Cabang

(75)

C. Proses atau prosedur permohonan kredit :

1. Calon nasabah (pemohon kredit) membuat surat permohonan kredit dan

diserahkan pada petugas bagian kredit dengan disertai syarat lain seperti :

KTP, Kartu Keluarga, Sertifikat, BPKB, SPPT atau Bukti Pembayaran

Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Dari bagian kredit diajukan ke pimpinan di disposisi guna diteliti oleh

Kepala Seksi Kredit, setelah diteliti diteruskan ke seksi analis untuk

diteliti.

3. Seksi analis minta informasi ke bank lain atau pihak ketiga mengenai baik

tidaknya calon nasabah. Kemudian analis mengadakan peninjauan ke

lokasi usaha, dari hasil peninjauan seksi analis membuat laporan ke bagian

kredit dan diteruskan ke Direktur.

4. Setelah kredit disetujui Direktur, nasabah dipanggil untuk menandatangani

perjanjian kredit dan pengikat jaminan dan kemudian kepala bagian kredit

menugaskan bagian kas untuk membuka rekening nasabah tersebut.

5. Dengan rekening itu maka jasa dan kredit bank telah dapat diterima

nasabah untuk dapat digunakan sesuai dengan rencananya. Dengan

memperhatikan proses perubahan dana masyarakat menjadi dana kredit

bank, maka proses produksi jasa dan kredit bank tersebut adalah

sederhana. Sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan aktivitas

(76)

D. Kegiatan PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang

Banyumas adalah sebagai berikut :

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa

deposito berjangka dan Tamades (Tabungan Masyarakat Desa).

2. Memberikan kredit dalam bentuk kredit modal kerja, kredit investasi,

maupun kredit konsumsi.

3. Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana sesuai ketentuan yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia.

4. Pengelolaan dana dari yang bersumber dari pembayaran rekening PDAM,

karena selain melakukan kegiatan perbankan pada umumnya PD. BPR

BKK Purwokerto Utara bekerjasama dengan PDAM kecamatan

Banyumas.

E. Visi dan Misi PD. BPR BKK Purwokerto Utara Cabang Banyumas

1. Visi

Meningkatkan BPR yang terpercaya dan unggul dalam memberikan

layanan kepada masyarakat.

2. Misi

a. Menggali potensi di setiap Kecamatan agar lebih intensif dan terfokus

di semua sektor kegiatan usaha serta memperluas jaringan pasar

(77)

b. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan pelatihan dan

pendidikan, agar mampu mempererat hubungan komunikasi dengan

masyarakat guna meningkatkan kualitas pelayanan untuk kepentingan

perusahaan, dengan tujuan memperoleh laba dan kesejahteraan

Gambar

Gambar II.1
Tabel II.1
     Tabel V.1     Berdasarkan Kolektibilitas
       Tabel V.2       Berdasarkan Jenis Kredit
+3

Referensi

Dokumen terkait