A. Latar Belakang Masalah
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan Millenium Development Goal’s (MDG’s) yang ke-5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu
dimana target yang akan dicapai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ risiko jumlah kematian ibu (Menko Kesra, 2013). Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2015 baru mencapai 161/ 100.000 kelahiran hidup, sementara target MDG’s Indonesia adalah 102/ 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembangunan yang Berkeadilan, maka seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota diwajibkan memprioritaskan upaya pencapaian target MDG’s dalam program pembangunan di daerah yang dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencapaian MDG’s (Kemenkes RI, Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Ditjen Bina Gizi dan KIA, 2013).
tahun 2012 adalah 21 orang ibu meninggal atau sebesar 136 per 100.000 kelahiran hidup, dengan demikian AKI tahun 2012 mengalami peningkatan melebihi target (Dinkes Provinsi Jateng, 2012).
Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian pada ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya abortus juga merupakan salah satu penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis, hal ini merupakan indikasi bahwa hingga saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversi di masyarakat (Yudiayutz, 2008 dalam Yusnaini, 2010).
Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus (Wiknjosastro, 2007). Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis (Saifuddin, 2005). Perdarahan pada abortus inkompletus dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan (Wiknjosastro, 2005). Salah satu penyebab terjadinya perdarahan, abortus inkomplit menjadi indikasi dilakukannya curetage (Rezky, 2003 dalam Ningsih, 2012). Pada pasien persiapan curetage biasanya mengalami cemas jika tidak mendapatkan penjelasan yang cukup dari perawat.
Pemantauan kesehatan pada organ reproduksi pada ibu post curetage dilakukan tiga hari setelah tindakan. Pemeriksaan juga dilakukan selama tiga kali berturut-turut untuk memastikan bahwa curetage berhasil, serta tidak menunjukkan tanda-tanda perdarahan. Prosedur tindakan yang bersih, aman dan mengetahui kondisi pasien sejak awal merupakan langkah awal pencegahan terjadinya perdarahan dan infeksi (Sheris, 2002 dalam Hirmawati, 2012). Hal tersebut menunjukkan bahwa pasien pre dan post curetage perlu perhatian khusus terutama dalam hal perawatan, supaya tidak terjadi komplikasi. Apabila ibu dengan abortus tidak dikelola secara komprehensif maka berbagai masalah akan muncul baik komplikasi dari abortusnya maupun masalah lain seperti biaya perawatan.
Menurut studi pendahuluan pada tanggal 23 Juni 2015, pada bagian rekam medik dengan petugas RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata, data yang tercatat dari 1 Januari s/d 31 Mei tahun 2015 ada sekitar 41 wanita yang mengalami abortus inkomplit dan menjalani tindakan curetage. .
Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk mengambil kasus kelolaan dengan judul “Asuhan Keperawatan Pre dan Post Curetage Abortus Inkomplit pada Ny. U G2 P1 A0 Hamil 12 Minggu
4 Hari di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibarata
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Menggambarkan kompetensi mahasiswa dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Pre dan Post Curetage Abortus Inkomplet pada Ny. U G2 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan pengkajian dan analisa data tentang masalah pre dan post curetage abortus inkomplet pada pasien Ny. U G2 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goetheng Taroenadibrata .
b. Menggambarkan rumusan diagnosa keperawatan untuk mengatasi masalah pre dan post curetage abortus inkomplet pada pasien Ny. U G2 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
c. Menggambarkan rumusan rencana keperawatan untuk mengatasi masalah pre dan post curetage abortus inkomplet pada pasien Ny. U G2 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
e. Menggambarkan evaluasi asuhan keperawatan dengan masalah pre dan post curetage abortus inkomplet pada pasien Ny. U G1 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
C. Pengumpulan data
Metode penulisan dalam laporan ini adalah secara deskriptif dengan memperhatikan pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan secara komprehensif terhadap klien melalui pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
1. Observatif Partisipasif
Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi terhadap keadaan fisik klien dengan cara inspeksi : yaitu pemeriksaan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa, palpasi yaitu pemeriksaan fisik melalui perabaan terhadap bagian tubuh yang mengalami kelainan, kemudian auskultasi adalah pemeriksaan fisik dengan cara mendengarkan dan biasanya menggunakan stetoskop, perkusi dengan cara mengetuk bagian tubuh dengan tangan atau alat bantu.
2. Wawancara
Pengumpulan data dilakukan dengan cara tanya jawab atau anamnesis kepada klien, keluarga atau orang terdekat dengan klien atau tenaga kesehatan lainnya.
3. Studi Literatur
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggali sumber pengetahuan melalui buku-buku atau jurnal terkini yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada klien.
4. Studi Dokumentasi
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mempelajari tentang catatan-catatan keperawatan dan kesehatan klien. (Catatan medik dokter, hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, catatan ahli gizi yang terdapat dalam catatan medik klien). Tujuan dari dokumenter adalah membantu pelaksanaan dan pemeliharaan kesehatan.
D. Tempat dan Waktu
1. Tempat
Asuhan keperawatan dengan masalah pre dan post curetage abortus inkomplit pada pasien Ny. U G1 P1 A1 di Ruang Bugenvil RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
2. Waktu
E. Manfaat Penulisan
Hasil laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dalam keperawatan yaitu:
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kepustakaan dan bahan pengayaan teori, khususnya mengenai pre dan post kurtase abortus inkomplit untuk peserta didik yang akan datang.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi pihak penentu kebijakan dan instansi terkait untuk memprioritaskan program kesehatan dalam upaya preventif atau pencegahan untuk menurunkan komplikasi dari pre dan post curetage abortus inkomplit, sehingga angka mobiditas dan mortalitas pre dan post curetage abortus inkomplit dapat menurun khususnya di wilayah kota Purbalingga.
3. Bagi Penulis
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan kasus ini terdiri :
BAB I : Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Tujuan Penelitian, Pengumpulan Data, Tempat dan Waktu serta Sistematika Penulisan.
BAB II : Membahas tentang Tinjauan Pustaka yang terdiri dari Pengertian, Anatomi dan Fisiologi, Etiologi, Manifestasi Klinis, Patofisiologi, Pemeriksaan Penunjang, Pathway dan Penatalaksanaan Keperawatan.
BAB III : Tinjauan Kasus BAB IV : Pembahasan