• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

DHARMMOTTAMA SATYA PRAJA PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006

TENTANG

IZIN PENDIRIAN LEMBAGA KURSUS DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SEMARANG,

Menimbang : a. bahwa sebagai upaya meningkatan sumber daya manusia yang berkualitas, perlu penyediaan jalur pendidikan di luar pendidikan formal;

b. bahwa untuk dapat mewujudkan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang berkualitas dipandang perlu pembinaan dan pengendalian;

c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, dipandang perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Semarang tentang Izin Pendirian Lembaga Kursus Di Kabupaten Semarang;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan

Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah ;

2. Undang-Undang Nomor 67 Tahun 1958 tentang Perubahan Batas-batas Wilayah Kotapraja Salatiga Dan Daerah Swatantra Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1652);

3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004, tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;

(2)

5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 Tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548) ;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1976 tentang Perluasan Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3079);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3485);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1992 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga Dan Kabupaten Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3500);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4262);

12. Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1998 tentang Pembinaan Kursus Dan Lembaga Pelatihan Kerja ;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SEMARANG dan

BUPATI SEMARANG MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG TENTANG IZIN

(3)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Semarang .

2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

4. Bupati Semarang yang selanjutnya disebut Bupati adalah Kepala Daerah Kabupaten Semarang.

5. Perangkat Daerah adalah Lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab kepada Bupati dan membantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan yang terdiri Sekretaris Daerah, Sekretaris DPRD, Badan, Dinas, Kantor, Kecamatan dan Kelurahan. 6. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

7. Pendidikan Non Formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

8. Badan atau Yayasan adalah badan hukum pendidikan.

9. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi dini dalam satuan proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan 10. Jenjang Pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat

perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan

11. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan

12. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah tempat kegiatan pembelajaran masyarakat dipusatkan pelaksanaannya.

13. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

14. Kurikulum Universal adalah bahan belajar yang bersifat keilmuan, keteknologian dan kesenian.

15. HIPKI adalah Himpunan Penyelenggaraan Kursus Indonesia.

16. Kelompok Belajar adalah sekumpulan peserta didik yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan agar memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi

17. Kursus adalah salah satu satuan pendidikan non formal yang diselenggarakan oleh seorang atau sekelompok warga negara Indonesia, atau suatu badan hukum yang berkedudukan di Indonesia tunduk kepada hukum Indonesia, tidak bersifat komersial dan tidak wajib daftar sebagai perusahaan.

(4)

18. Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

19. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Maksud pemberian Izin Pendirian Lembaga Kursus adalah untuk pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Pasal 3

Tujuan pemberian Izin Pendirian Lembaga Kursus adalah untuk : a. memberikan perlindungan hukum kepada Pendiri Lembaga Kursus; b. menjamin terwujudnya keterpaduan pelaksanaan Lembaga Kursus; c. menjamin terwujudnya Lembaga Kursus yang berkualitas.

BAB III

OBYEK DAN SUBYEK IZIN PENDIRIAN LEMBAGA KURSUS

Pasal 4 (1) Obyek izin adalah pendirian Lembaga Kursus.

(2) Subyek Izin adalah orang pribadi atau badan yang akan mendirikan Lembaga Kursus.

BAB IV

TATA CARA MEMPEROLEH IZIN

Pasal 5

(1) Setiap orang pribadi dan badan yang akan mendirikan Lembaga Kursus wajib memiliki izin.

(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis kepada Bupati dilampiri persyaratan sebagai berikut :

a. salinan Akte Notaris bagi yang memiliki;

b. susunan Pengurus / Penyelenggara (Struktur Organisasi) Lembaga Kursus;

c. salinan Sertifikat Bukti Hak Atas Tanah atau Bukti Kepemilikan Tanah atau Bukti Sewa atau bukti lain yang sah;

d. rekomendasi dari HIPKI;

e. rekomendasi dari Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan; f. kartu tanda penduduk (KTP);

g. pas photo (Pimpinan) Lembaga Kursus; h. kurikulum atau bahan ajar;

(5)

i. daftar pendidik ; dan

j. Jenis Sarana dan Prasarana.

Pasal 6

(1) Dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) hari kerja sejak permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan hasil penelitian lapangan dinyatakan lengkap Bupati dapat mengabulkan atau menolak permohonan izin.

(2) Bupati menunda permohonan izin apabila persyaratan belum lengkap dan benar.

(3) Penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan dengan disertai alasan-alasannya dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah dilakukan penelitian lapangan.

(4) Pemohon izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib melakukan perbaikan.

Pasal 7 Izin tidak dipungut biaya.

BAB V

JANGKA WAKTU BERLAKUNYA IZIN

Pasal 8

Izin sebagaimana dimaskud dalam pasal 5 ayat (1) diberikan atas nama pemohon selama kegiatan masih berjalan.

BAB VI

PELAKSANAAN AKREDITASI

Pasal 9

(1) Penyelenggara Lembaga Kursus wajib mengikuti akreditasi.

(2) Tata cara akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB VII

KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 10

Pemegang izin berkewajiban :

a. memiliki program yang jelas baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang; b. melaksanakan kurikulum kursus atau pendidikan luar sekolah;

c. memiliki tenaga kependidikan ; dan

d. memiliki fasilitas pendidikan sesuai dengan jenis kursus atau ketrampilan pelatihan dan sarana prasarana pendukung.

(6)

Pasal 11 Pemegang izin dilarang memindahtangankan izin.

BAB VIII

PEMBUKAAN CABANG Pasal 12

(1) Pemegang Izin dapat membuka cabang lain di Daerah dengan cara melaporkan secara tertulis kepada Bupati.

(2) Persyaratan pembukaan cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi ketentuan Pasal 5 ayat (2).

BAB IX

PENCABUTAN IZIN Pasal 13 Izin dapat dicabut apabila :

a. atas permintaan sendiri;

b. tidak melaksanakan kegiatan paling lama 1(satu) tahun sejak tanggal penetapan izin; c. tidak mengindahkan peringatan 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu

masing-masing 3 (tiga) bulan; dan

d. melanggar ketentuan Pasal 10 dan Pasal 11.

BAB X

PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 14

(1) Pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Perangkat Daerah yang ditunjuk. (2) Pengawasan atas pelaksanaan Peraturan Daerah dilakukan oleh tim yang dibentuk

dengan Keputusan Bupati.

BAB XI PENYIDIKAN

Pasal 15

Selain penyidik POLRI sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Daerah dapat diberikan wewenang untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan dalam Peraturan Daerah.

(7)

BAB XII

KETENTUAN PIDANA Pasal 16

(1) Setiap orang pribadi atau badan yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (2) dikenakan Pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 17

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diditetapkan dengan Keputusan Bupati .

Pasal 18

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Semarang.

Ditetapkan di Ungaran pada tanggal 09-02-2006 BUPATI SEMARANG, CAP TTD BAMBANG GURITNO Diundangkan di Ungaran pada tanggal 10-02-2006 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SEMARANG CAP TTD SOETRISNO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2006 NOMOR 3 SERI E NOMOR 2

Diperbanyak Sesuai dengan aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM

CAP TTD BUDI KRISTIONO

(8)

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 3 TAHUN 2006

TENTANG

IZIN PENDIRIAN LEMBAGA KURSUS DI KABUPTEN SEMARANG

I. UMUM

Pendidikan non formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan / atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hidup. Disamping itu berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian warga belajar.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi, kualitas sumber daya manusia disadari atau tidak dituntut untuk memiliki kemampuan yang benar-benar dapat diandalkan sesuai dengan bidangnya.

Merujuk :

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : a. Bab II Pasal 3

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

b. Bab VI Pasal 26

Ayat (5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja,usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ayat (6) Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

(9)

2. Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1998 tentang Pembinaan Kursus Dan Lembaga Pelatihan Kerja.

a. Pasal 1 ayat (1)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai tugas, fungsi, dan wewenang untuk melaksanakan pembinaan dan pengembangan terhadap kursus. b. Pasal 2 ayat (2)

Kursus merupakan lembaga pendidikan yang diselenggarakan bagi warga belajar yang memerlukan bekal untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah, dan/atau melanjutkan ke tingkat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Terkait dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1998 tentang Pembinaan Kursus Dan Lembaga Pelatihan Kerja dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 261 / U / 1999 tentang Penyelenggaraan Kursus, maka baik perorangan dan yayasan berpeluang untuk mendirikan berbagai lembaga kursus. Adapun seluruh program kursus yang dimaksud dikelompokkan ke dalam 10 (sepuluh) rumpun pendidikan sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Luar sekolah, Pemuda, dan Olah Raga Nomor : KEP.105 / E / L / 1990 tentang Pola Dasar

Pembinaan Dan Pengembangan Kursus Pendidikan Luar Sekolah Yang

Diselenggarakan Masyarakat (Diklusemas) BAB VI Pasal 13 ayat (2) yang mencakup rumpun pendidikan :

1. Kerumahtanggaan yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. 2. Kesehatan yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan

hubungan kesehatan.

3. Keolahragaan yaitu jenis pendidikan jasmani dan olah raga fisik dan mental.

4. Pertanian yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan teknologi pertanian termasuk peternakan, perkebunan dan kehutanan.

5. Kesenian yaitu jenis kegiatan yang berkaitan dengan seni.

6. Kerajinan dan Industri yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan aneka kerajinan dan industri.

7. Teknik dan Perambahan yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan teknik dan pertukangan serta perbengkelan.

8. Jasa yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan dukungan administrasi di bidang pemerintahan, sosial dan bisnis.

9. Bahasa yaitu jenis pendidikan yang berkaitan dengan bahasa.

10. Kursus yaitu jenis pendidikan yang tidak tercakup dalam kesembilan rumpun pendidikan.

Peraturan Daerah Kabupaten Semarang tentang Izin Pendirian Lembaga Kursus dibuat untuk memberi jaminan hukum bagi penyelenggara kegiatan kursus agar dapat menjalankan dan mengembangkan kegiatannya dengan seluas-luasnya.

Dengan Peraturan Daerah ini kegiatan lembaga kursus dapat dibina dan dikendalikan sehingga dapat berjalan dengan tertib dan terpelihara kelangsungannya sekaligus melindungi dari kemungkinan yang dapat merugikan bagi masyarakat maupun penyelenggara lembaga kursus itu sendiri.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1

(10)

Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10

Kewajiban dan Larangan tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 261 / U / 1999 tentang Penyelenggaraan Kursus .

Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas

(11)

Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas BUPATI SEMARANG, CAP TTD BAMBANG GURITNO

Referensi

Dokumen terkait

“Ya Allah ..waktu mana kami kecil2..ayah kami mandikan kami dgn penuh kasih sayang dgn penuh kelembutan…jadi kami mandikan jenazah ayah kami ini maka Kau ampunkan dosanya

Selain itu pendekatan kualitatif dapat mengungkap lebih jauh tentang peranan parapihak (stakeholder) dalam penerapan kebijakan terkait dengan pengelolaan hutan

Berdasarkan berbagai perubahan-perubahan positif yang terjadi selama proses belajar mengajar dari siklus pertama hingga siklus ketiga, maka guru dan observer

Dalam pembuatan kolam limbah yang akan digunakan untuk pengolahan limbah cair hingga siap dibuang untuk land application , harus sudah direncanakan terlebih dahulu

Berdasarkan hasil data perhitungan, perancangan dan pengujian rancang bangun sistem anti overloading pada kendaraan barang berbasis mikrokontroler menggunakan sensor jarak

 Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik.. a) Larutan elektrolit kuat = ditandai dengan lampu yang menyala terang... b) Larutan

The clinical signs of cats with intestinal disease are often similar to those of other diseases (chronic kidney disease, urinary tract obstruction in male cats, chronic progressive