BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu
Hasil dari penelitian terdahulu dalam penelitian ini digunakan sebagai acuan untuk membuat dan mengembangkan kerangka konseptual. Hasil penelitian terdahulu juga digunakan untuk mengetahui lebih detail tentang
persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu satu dengan yang lainnya, sehingga bisa dijadikan dasar untuk mengembangkan penelitian.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu.
No Peneliti dan Tahun Peristiwa Analisis Hasil Penelitian 1 Nunung Nurhaeni
(2009) Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2009 Abnormal Return, TVA, Event Study, Uji T
Terdapat perbedaan yang signifikan
2 Sitrait,dkk (2012) Dampak Pergantian Menteri Keuangan RI Tahun 2010 Average Abnormal Return, Event Study, Uji T
Terdapat perbedaan yang signifikan
3 Muzammil dan Rahayu (2013)
Pelantikan Gubernur DKI Jakarta
Abnormal Return, Event Study, Uji Z
Terdapat perbedaan signifikan pasangan IHSG
4 Putri Novita Sari(2015)
Pengumuman Kabinet Kerja Joko Widodo
Abnormal Return, TVA, Event Study, Uji T
Adanya perbedaan AR dan TVA
5 Mahaputra dan Purbawangsa (2015)
Pemilu
Legislatif 2014
Abnormal Return, Event Study, Uji T
6 I Gede Bhakti Pratama,dkk(2015) Pelantikan Joko Widodo Sebagai Presiden Republik Indonesia Ke-7 Abnormal Return, Event Study, Uji T
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan
7 Rahmawati dan Pandansari (2016)
Peristiwa Bom Plaza Sarinah
Average Abnormal Return, Event Study, Uji T
Tidak ada
perbedaan rata-rata abnormal return
8 Fransisco dan Handayani (2017) Peristiwa Politik Pilkada DKI Jakarta 2017 Putaran Kedua Abnormal Return, TVA, Event Study, Uji T
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap AAR dan ATV
B. Landasan Pustaka
1. Studi Peristiwa ( Event Study )
Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari
reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event), yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study ini dapat
digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat. Event Study dapat digunakan untuk menguji
kandungan suatu informasi dari suatu peristiwa. Jika peristiwa tersebut mengandung informasi, maka kemungkinan pasar akan bereaksi ketika
Studi peristiwa (event study) disebut juga dengan nama analisis residual (residual analysis) atau pengujian indeks kinerja taknormal
(abnormal performance index test) atau pengujian reaksi pasar (market reaction test). Studi peristiwa merupakan suatu pendekatan metodologikal
yang penting dan mulai banyak digunakan di penelitian-penelitian keuangan, ekonomi, akutansi, pemasaran, politik, sistem informasi dan penelitian-penelitian sosial lainnya. Metoda studi peristiwa banyak
digunakan untuk menguji reaksi pasar modal dari suatu peristiwa atau pengumuman, misalnya untuk menguji reaksi pasar dari peristiwa
meledaknya bom bali, peristiwa pemilu presiden, pengumuman laba perusahaan, pengumuman merger , pengumuman pemecahan saham, pengumuman produk baru, pengumuman peluncuran situs di internet dan
lain sebagainya. Studi peristiwa banyak digunakan karena kemudahan mendapatkan data yang digunakan seperti tanggal peristiwa dan
harga-harga saham perusahaan bersangkutan dan indeks pasar(untuk mengukur return pasar), untuk menganalisis pengaruh dari suatu peristiwa terhadap nilai perusahaan, mengukur langsung pengaruh peristiwa terhadap harga
saham perusahaan pada saat terjadinya suatu peristiwa karena harga saham tersedia pada saat peristiwa yang terjadi. Jogiyanto (2015:3-6).
terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasian (return yang diharapkan oleh investor).
Menurut Jogiyanto (2015). Konsep dalam melakukan event study diantaranya adalah :
a. Mengidentifikasi peristiwa dan tanggal peristiwa (event dates). b. Menentukan perioda jendela (event window).
c. Menyesuaikan perusahaan-perusahaan yang mengalami kejadian
tersebut.
d. Menghitung abnormal return selama event windows dan menguji
tingkat signifikansinya.
2. Perioda Jendela
Perioda jendela (window period) atau jendela peristiwa (event window) atau perioda peristiwa (event period) merupakan perioda
terjadinya peristiwa dan pengaruhnya. Disebut dengan jendela (window) karena seperti halnya jendela rumah, suatu peristiwa yang sedang terjadi dan efek dari peristiwa dapat diamati lewat jendela yang ada. Perioda
jendela harus sependek mungkin. Jogiyanto (2015:22). Rentang waktu yang dipakai dalam penelitian ini adalah 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah
3. Pasar Modal
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.8 tahun 1995,
pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dana atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual danbeli efek
pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga
komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang,unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.
Menurut Husnan (2008:8-9) pasar modal dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya;
a. Ketersediaan sekuritas b. Permintaan akan sekuritas c. Masalah hukum dan peraturan
d. Keberadaan lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal dan berbagai lembaga yang memungkinkan dilakukan
transaksi secara efisien.
4. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkenalkan pada
tanggal 1 April 1983. IHSG mencakup pergerakan harga saham dari berbagai jenis saham, baik saham biasa maupun saham preferen, yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta (Umam,Susanto,2017:180).
5. Indeks LQ45
Indeks LQ45 terdiri dari 45 emiten terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan likuiditas (LiQuid ) tinggi, yang diseleksi melalui
beberapa kriteria pemilihan. Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas emiten-emiten tersebut juga mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Sejak diluncurkan pada bulan Februari 1997 ukuran utama likuiditas transaksi
adalah nilai tranksaksi pasar regular. Sesuai dengan perkembangan pasar dan untuk mempertajam kriteria likuiditas, maka sejak review bulan
Januari 2005 jumlah hari perdagangan dan frekuensi transaksi dimasukkan sebagai ukuran likuiditas. Kriteria suatu emiten untuk dapat masuk dalam perhitungan indeks LQ45 adalah dengan mempertimbangkan faktor-faktor
sebagai berikut :
a. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan.
b. Aktivitas transaksi di pasar regular yaitu nilai, volume dan frekuensi transaksi.
c. Jumlah hari perdagangan di pasar regular.
e. Keadaan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan.
f. Dilakukan evaluasi atas pergerakan urutan saham secara rutin oleh
Bursa Efek Indonesia setiap tiga bulan sekali.
g. Penggantian saham akan dilakukan setiap enam bulan sekali, yaitu
pada awal bulan Februari dan Agustus.
6. Saham
Saham menurut Tandelilin (2001) merupakan surat bukti
kepemilikan atas asset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Dengan
memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi pembayaran semua kewajiban perusahaan.
Saham adalah surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal yang dikeluarkan oleh perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas
(PT), yang dalam saham tersebut dinyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan
tersebut(Umam,Susanto,2017:74).
7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Alwi (2003), faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain :
1) Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai
regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
2) Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya,
3) Pengumuman industri saham (securities announcement), seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga
saham perdagangan, pembatasan/penundaan trading. 4) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga
merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya
pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara. 5) Berbagai isu baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
b. Faktor Internal (Lingkungan Mikro):
1) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti
pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan
penjualan.
3) Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director announcements) seperti perubahan dan pergantian
direktur, manajemen, dan struktur organisasi.
4) Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan
merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.
5) Pengumuman investasi (investment announcements), seperti
melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset, penutupan usaha, dan lainnya.
6) Pengumuman ketenagakerjaan (labor announcements), seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
7) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti:
a) Peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal.
b) Dividen Per Share (DPS).
c) Price Earning Ratio (PER).
d) Return On Assets (ROA).
e) Earning Per Share (EPS).
8. Return
Return merupakan salah satu aspek terpenting dalm analisis
suatu tingkat keuntungan tertentu. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. (Jogiyanto ,2015:63).
Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor
berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor untuk
menanggung resiko atas investasi yang dilakukan. Return dapat dibagi dalam dua macam yaitu:
a. Return realisasi (actual return) yaitu hasil keuntungan yang telah
terjadi dan dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting digunakan sebagai salah satu pengukur dari kinerja perusahaan dan
berguna juga untuk menentukan expected return dan resiko dimasa datang. Untuk menghitung return realisasi dengan rumus sebagai berikut:
R it : Return saham i pada periode t
Pit : harga saham penutupan perusahaan i pada periode t-1
Pit -1 : harga saham penutupan perusahaan i pada periode t-1 Rit ═ Pit ― Pit -1
b. Return ekspektasi (Expected return)
Menurut Jogiyanto (2015:67). Return normal merupakan return
ekspektasian (return yang diharapkan oleh investor). Return normal harus diekspektasi, maka return normal disebut juga dengan nama
return ekspektasian (expected return). Return normal dapat dihitung dengan beberapa model seperti model rerata sesuaian (mean-adjusted model), model pasar (market model), dan model pasar sesuaian
(market-adjusted model). Dalam menentukan return ekspektasian, peneliti menggunakan model sesuaian pasar. Model ini mengestimasi
return sekuritas sebesar return indeks pasarnya sehingga tidak perlu menggunakan periode estimasi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan peneliti bahwa reaksi yang terjadi adalah akibat dari peristiwa yang
diamati dan bukan karena peristiwa lain yang bisa mempengaruhi peristiwa yang akan diamati tersebut. Berikut adalah rumus
menghitung expected return
E [Rit] = IHSGt ― IHSGt-1 IHSGt-1
E [Rit] : Market return saham i pada waktu t
IHSG it : Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t
9. Return Tidak Normal (Abnormal Return)
Abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang
terjadi dengan return ekspektasi.Return taknormal tiap waktu untuk seluruh sekuritas, kemudian dapat direrata menjadi rerata return
taknormal. Rerata return taknormal ini merupakan reaksi dari pasar untuk tiap waktunya. Jogiyanto (2015:32). Abnormal return dihitung dengan cara return realisasi dikurangi dengan return ekspektasi, dengan
menggunakan rumus berikut ini:
ARit = Rit- E(Rit)
ARit : abnormal return sekuritas i pada periode peristiwa ke-t
Rit : actual return untuk sekuritas i pada periode peristiwa ke-t
E (Rit) : return ekspektasi sekuritas ke-I untuk periode peristiwa ke-t
C. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha : terdapat perbedaan Average Abnormal Return (AAR) yang signifikan
D. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kesimpulan dan hasil-hasil penelitian terdahulu, serta sesuai
dengan tujuan penelitian yang telah disebutkan di atas, maka dibangun kerangka pemikiran teoritis sebagai berikut:
Gambar 2.1. Kerangka konsep pemikiran Pelantikan
Gubernur DKI
Indeks LQ45
abnormal return
sebelum pelantikan
sesudah pelantikan
uji T-test