Refleksi Kritis Kondisi
Pendidikan di Papua
Bambang Purwoko
• Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM • • Ketua Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada •
Disampaikan pada Forum Kebijakan Strategis untuk Pembangunan Papua: Melacak Akar Ketertinggalan Pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat, Gugus Tugas Papua UGM,
Latar Belakang
Pendidikan adalah instrumenyang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos kerja kepada masyarakat.
Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berorientasi kepada
peningkatan pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga pada
Pembangunan daerah akan berhasil jika didukung oleh SDM masyarakat yang memiliki
pengetahuan dan ketrampilan tinggi, sekaligus memiliki karakter positif yang kuat (bekerja keras, jujur, inovatif, dan disiplin).
Meskipun sejak tahun 2001 Papua mendapatkan kewenangan khusus (UU 21/2001) namun sampai tahun 2017 ini secara umum kondisi pendidikan di Papua masih belum menunjukkan tanda-tanda 1/3
Tiga cara memahami problematika pendidikan di Papua:
Data Mengkaji kondisi pendidikan dengan melihatSarpras Pendukung, Rasio Murid Guru, Angka Melek Huruf, dsb.Data Statistik: Jumlah Sekolah,
Fakta
Mengkaji kondisi pendidikan dengan melihat Kondisi Empiris di kabupaten, disrtik dan kampung : Ketersediaan sarana prasarana pendidikan,
ketersediaan Guru, metode belajar dan kualitas hasil pendidikan, interaksi dengan masyarakat.
Analisis
Mengkaji kondisi pendidikan dengan melakukan analisa terhadap Kinerja dan Kebijakan Dinas Pendidikan: Manajemen pendidikan di tingkat lokal,
Ibarat foto yang diedit, Data Statistik pendidikan di Papua
adalah sesuatu yang “lebih indah
dari aslinya”.
Realitas kondisi pendidikan di Papua tidaklah sebaik atau
seindah yang ditampilkan dalam data statistik.
Di atas kertas rasio Guru : Murid
terlihat bagus, dalam realitasnya
Kondisi Pendidikan di Papua
Presentase dan Jumlah masyarakat penyandang buta aksara juga jauh lebih banyak dibanding yang
tercatat dalam data statistik
Tingkatan kelas (1,2,3,4,5,6) atau
tingkatan pendidikan (SD, SMP, SMA) tidak mencerminkan
penguasaan dan penyerapan materi pelajaran yang sesuai
dengan standar umum pendidikan nasional.
Fakta Tentang Pendidikan di Papua
1/2 Kesenjangan Pantai –Gunung
Kecenderungan Mengejar Gelar,
Bukan Ilmu dan Kemampuan
Pendidikan Belum Menjadi Kesadaran Bersama Seluruh Masyarakat
Studi Lanjut ke Universitas yang Berkualitas Sangat Rendah
Kualitas Pendidikan SD, SMP, SMA Masih Sangat Rendah
Fokus pada Pengadaan / Perbaikan Sarpras dan Tenaga Kependidikan
Penguatan Kapasitas dan Perbaikan Manajemen Pendidikan
Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus menjamin / memastikan bahwa para Pejabat dan Staf di Dinas Pendidikan memiliki kualifikasi sbb:
Memahami problematika mendasar kondisi pendidikan di Papua dan memiliki rencana kerja yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut.
Memiliki KOMPETENSI (Pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap) yang mendukung pengembangan pendidikan di daerahnya.
Memiliki KOMITMEN untuk memajukan pendidikan di daerahnya (misal sanggup tinggal di lokasi tugas minimal 80% dari total masa tugas per tahun).
Menandatangani dan melaksanakan Pakta Integritas untuk membangun dan memajukan pendidikan di daerahnya.
Sanggup bekerjasama dan selalu berkoordinasi dengan Sekda dan Kepala Daerah.
Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus memberikan dukungan penuh agar Dinas Pendidikan memiliki kemampuan dan kewenangan untuk
melaksanan tugas-tugas sbb:
• Merancang kegiatan tahunan yang berorientasi kepada peningkatan gairah belajar masyarakat, bukan semata-mata pembangunan fisik sarpras pendidikan.
• Melakukan sosialisasi tentang urgensi pendidikan bagi masyarakat, dan perlunya dukungan orang tua
terhadap model pembelajaran di Sekolah.
• Melakukan pendataan jumlah sekolah, guru dan murid secara akurat serta merancang sistem Manajamen Sekolah yang
mendukung PBM.
• Mengangkat dan menempatkan Guru-guru berdasarkan
pertimbangan “merit system”, mendahulukan pertimbangan
komitmen dan kualitas kerja dan bukan semata-mata konektivitas.
• Menjamin agar alokasi dana pendidikan bisa digunakan sesuai sasaran, dan menjamin pemenuhan hak-hak Guru (administratif dan finansial), termasuk jaminan rasa aman dan ketersediaan hunian (tempat tinggal) yang layak.
• Ada kejelasan regulasi (Perdasus atau Perda Kab/Kota) yang menjamin
alokasi dana otsus untuk Pendidikan bisa tersalur dan terserap dengan
Penguatan Kapasitas Sistem
• Terdapat landasan hukum yang jelas untuk menjamin keamanan,
kesejahteraan dan kepastian status Guru-Guru yang bertugas di Daerah
Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota di Papua harus menjamin / memastikan bahwa:
• Ada sanksi yang tegas dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah bagi Guru-guru yang meninggalkan lokasi tugasnya tanpa ijin khusus dari Kepala Dinas atau Kepala
Daerah.
• Ada sanksi yang tegas bagi Murid dan Orang Tua Murid yang secara sengaja melakukan kecurangan dalam proses pendidikan dan atau melakukan tindak kekerasan / ancaman yang mengganggu proses pendidikan.
Terobosan Nyata
Gugus Tugas
Papua UGM :
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Pembangunan pendidikan di sebagian besar
kabupaten di Papua tidak didasarkan pada perencanaan yang jelas. Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan tidak
mempunyai rencana jangka panjang terkait
pengembangan pendidikan. Akibatnya, capaian pendidikan belum bisa naik secara signifikan.
Kurang maksimalnya perencanaan pendidikan berakibat pada rendahnya kualitas pengajaran, lemahnya komitmen Guru, belum memadainya sarana dan sarana pendidikan, serta belum
Untuk mengatasi persoalan itu, Gugus Tugas Papua UGM bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Puncak dan
Pemerintah Kabupaten Intan Jaya
melakukan studi dalam rangka Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan.
Rekomendasi dari kajian tersebut berkaitan dengan bagaimana layanan
pendidikan ditingkatkan
dengan fokus pada 3 aspek penting yaitu: availabilitas, aksesibilitas, kualitas.
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan
Guru Penggerak Daerah Terpencil
Kerjasama UGM dengan Pemkab Puncak, Intan Jaya, Mappi sejak tahun 2013.
Sudah diberangkatkan 90 Guru berbagai bidang studi ke Distrik-distrik Pedalaman di Kab Puncak, dan 40 Guru ke Kab Intan Jaya, dan dalam waktu dekat akan
memberangkatkan 50 orang guru ke Kabupaten Mappi.
Para Guru mengikuti kontrak kerja dengan Pemda untuk waktu 2 tahun dan bagi yang memenuhi syarat bisa diangkat menjadi PNS setempat.
seluruh daerah di Indonesia, memiliki komitmen untuk tugas-tugas di pedalaman Papua. Mereka mendapatkan pelatihan khusus untuk tugas-tugas pendidikan dan pengabdian di pedalaman Papua.
Masyarakat dan anak-anak usia sekolah menyambut dengan antusias kehadiran para Guru PAUD, SD, SMP dan SMA / SMK di daerahnya.
Kehadiran para Guru berhasil membangkitkan lagi gairah belajar masyarakat, dan
meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan kebermutuan pelayanan pendidikan bagi masyarakat Papua.
Guru Penggerak Daerah Terpencil
Kajian Kelayakan Sekolah Berpola Asrama
Sekolah Berpola Asrama (SBA) menjadi opsi yang banyak dilakukan oleh Pemda-Pemda di Papua untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan.
Beberapa SBA mengalami kegagalan akibat buruknya tata kelola oleh Pemda sehingga tidak ada kepastian anggaran pengelolaan, tidak ada rencana pengembangan pendidikan yang detail, dan bahkan hanya dijadikan
sebagai ajang mendapatkan dana proyek.
Kajian Kelayakan SBA ditujukan untuk melihat kelayakan pada aspek sosial budaya, teknis, anggaran, bahkan feasibilitas politik dan pemerintahan dalam mengelola agar SBA bisa
bertahan lama.
Dalam merancang pembangunan SBA, Pemerintah Daerah cenderung hanya menyiapkan bangunan fisik tanpa
merancang Program Pendidikan secara matang.
Kajian Kelayakan Sekolah Berpola Asrama
C
Model SBA pernah berhasil
sebagai model pendidikan ideal di Papua, khususnya di jaman Belanda.
Apakah model SBA bisa langsung direplikasi di era pemerintahan sekarang dengan berbagai
kompleksitasnya?
KKN PPM Papua
Kuliah Kerja Nyata – Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) adalah kegiatan
pengabdian masyarakat wajib bagi setiap mahasiswa UGM semester akhir untuk mempraktekan ilmu di masyarakat dan sekaligus sebagai proses belajar untuk
menambah pengetahuan dan ketrampilan empiris sesuai bidang studinya.
Sejak tahun 2013 LPPM UGM mengirimkan
belasan unit KKN PPm UGM ke kabupaten kota di provinsi Papua dan Papua Barat, baik
KKN PPM Papua
D
Kehadiran mahasiswa KKN PPM UGM di tengah-tengah masyarakat di kampung-kampung di
wilayah Papua mempunyai arti sangat penting dalam ikut serta memberdayakan masyarakat setempat, termasuk di bidang pendidikan.
Pendampingan Mahasiswa Papua
Salah satu tanggung jawab Gugus Tugas Papua UGM adalah melakukan pendampingan dan
penguatan kapasitas mahasiswa Papua, baik yang kuliah di UGM maupun di Perguruan Tinggi lain.
Pendampingan ini dilakukan dalam bentuk penyelenggaran kegiatan bersama, baik yang
bersifat akademik (seminar, diskusi, penyambutan mahasiswa baru) maupun kegiatan sosial budaya dalam (festival seni budaya Papua, dialog budaya, dsb).
Pendampingan Mahasiswa Papua
Para Dosen dan Peneliti yang tergabung dalam Gugus Tugas Papua UGM juga selalusiap jika
sewaktu-waktu dibutuhkan oleh para mahasiswa untuk memberikan konsultasi akademik sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.
Dengan model pendampingan ini diharapkan para mahasiswa Papua di Yogyakarta khususnya bisa merasa nyaman untuk melakukan aktifitas
aktifitas akademik maupun aktifitas sosial di lingkungannya, dan diharapkan juga bisa
menyelesaikan studinya dengan baik.
Cenderawasih dari Irian
TERIMA KASIH
Cukup Sekian
Bambang Purwoko adalah Dosen di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM. Lulus Sarjana (S1) dari Jurusan
Pemerintahan Fisipol UGM (1988) dan Sarjana (S1) dari Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Yogyakarta (1987). Mendapatkan Graduate Diploma of Development Studies dari Murdoch University (1995), dan Master of Arts dari The University of Western Australia, saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.
Mulai tahun 1999 sampai sekarang sangat aktif melakukan penelitian, pendampingan pemerintahan dan advokasi kebijakan di provinsi
Papua dan Papua Barat, dan pernah menjadi Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kabupaten Puncak (2013-2015).
Sejak tahun 2008 menjadi Kepala Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) Fisipol UGM, dan sejak tahun 2013 juga
Bambang Purwoko Dosen Departemen Politik dan
Pemerintahan Fisipol UGM
--Ketua Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada