• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX - DOCRPIJM b20dd13cd6 BAB IX03 9 RV RPI2JM KDS Aspek Pembiayaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB IX - DOCRPIJM b20dd13cd6 BAB IX03 9 RV RPI2JM KDS Aspek Pembiayaan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IX

ASPEK PEMBIAYAAN

Berdasarkan peraturan perundangan, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPI2-JM bidang Cipta Karya meliputi: 1. Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada Satuan Kerja di tingkat

provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi Khusus bidang Air Minum dan Sanitasi. 2. Dana APBD Provinsi, meliputi Dana Daerah Untuk Urusan Bersama (DDUB) dan dana lainnya

yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala provinsi/regional.

3. Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi Dana Daerah Untuk Urusan Bersama (DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala kabupaten/kota.

4. Dana Swasta meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS), maupun skema Corporate SocialResponsibility (CSR).

5. Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.

6. Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

Dana-dana tersebut digunakan untuk belanja pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan prasarana yang telah terbangun, serta rehabilitasi dan peningkatan prasarana yang telah ada. Oleh karena itu, dana-dana tersebut perlu dikelola dan direncanakan secara terpadu sehingga optimal dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan pelayanan bidang Cipta Karya.

9.1. Profil Perkembangan APBD Kabupaten Kudus

Bagian ini menggambarkan struktur APBD Kabupaten Kudus selama 3-5 tahun terakhir dengan

sumber data berasal dari dokumen Realisasi APBD dalam 5 tahun terakhir. Komponen yang dianalisis berdasarkan format Permendagri No. 13 Tahun 2006 adalah sebagai berikut:

a. Belanja Daerah yang meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tak Langsung.

b. Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain yang Sah.

(2)

9.1.1. Kinerja Pendapatan

Kinerja pelaksanaan APBD merupakan gambaran tentang capaian pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten. Capaian anggaran menunjukkan prestasi yang berhasil diraih oleh Pemerintah Daerah, yang digambarkan oleh besarnya perkembangan realisasi anggaran pendapatan. Capaian perkembangan realisasi pendapatan dan proporsi % (persentase) rata-rata dapat menunjukkan pos pendapatan manakah yang memiliki laju perkembangan tercepat. Pos pendapatan itulah yang kiranya dapat diandalkan sebagai potensi sumber pendapatan di masa datang. Berikut ini gambaran kinerja capaian realisasi pendapatan Kabupaten Kudus.

Tabel IX.1

Anggaran dan Realiasasi Pendapatan Daerah Kabupaten Kudus (juta Rp.)

No Rincian

1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 138.912,02 144.995,09 206.560,19 234.073,38 255.275,39 259.295,91

1.1 Pajak Daerah 50.392,79 58.194,21 60.446,00 63.085,73 71.511,00 78.860,99

1.2 Retribusi Daerah 20.609,92 15.588,52 22.092,88 21.083,38 19.137,81 18.093,28

1.3 Bagian Laba Usaha Daerah 4.505,02 4.318,22 5.077,40 5.077,40 8.051,59 8.051,59

1.4 Lain-lain PAD yang sah 63.404,29 66.894,14 118.943,91 144.826,87 156.574,99 154.290,05

2 PENDAPATAN DANA

PERIMBANGAN 930.992,38 954.512,79 1.026.921,25 1.012.351,53 1.057.634,18 784.919,18

2.1 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 159.376,56 182.896,97 175.880,50 175.108,01 196.167,27 187.347,77

2.2 Dana Alokasi Umum 719.406,94 719.406,94 795.851,85 795.851,85 784.919,18 784.919,18

2.3 Dana Alokasi Khusus 52.208,88 52.208,88 55.188,90 41.391,68 76.547,73 61.238,18

3 PENDAPATAN LAIN-LAIN

YANG SAH 276.913,35 286.675,21 352.251,89 363.812,25 469.423,95 466.980,20

3.1 Hibah 6.571,27 1.076,19 6.426,40 6.248,09 19.927,09 16.282,28

3.2 Dana Darurat - - - -

3.3 Bagi Hasil Pajak dari Prov dan

Pem. 59.225,26 74.958,70 78.870,40 95.320,99 123.345,92 112.356,68

3.4 Penyesuaian dan Otonomi Khusus 146.439,05 146.439,05 171.705,01 169.337,76 264.681,00 264.680,00

3.5 Bantuan Keuangan dari

Prov/Pemda 64.677,77 64.201,27 95.250,08 92.905,41 61.469,94 73.661,24

Jumlah 1.346.817,75 1.386.183,09 1.585.733,33 1.610.237,16 1.782.333,52 1.044.215,09

Sumber: Kabupaten Kudus Dalam Angka Tahun 2014-2016

(3)

Pajak/Bukan Pajak. Berdasarkan perkembangan dari tahun 2013 sampai dengan 2015 terlihat bahwa realisasi anggaran semakin menurun. Pada tahun 2013, realisasi anggaran sebesar 102,92% dari rencana anggaran. Pada tahun 2014, realisasi anggaran sebesar 101,55% dari rencana anggaran. Sedangkan Pada tahun 2015, realisasi anggaran sebesar 98,73% dari rencana anggaran.

Jika dilihat dari tahun 2013 PAD Kabupaten Kudus mengalami peningkatan. Pendapatan tertinggi diperoleh dari hasil sektor lain-lain PAD yang sah yaitu peningkatannya mencapai 154.290,05 juta rupiah pada tahun 2015. Penyebab terjadinya perkembangan kondisi tersebut dapat dijelaskan bahwa perkembangan PAD yang cukup signifikan per tahun karena faktor Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Potensi ke depan yang dimiliki Kabupaten Kudus dari sisi pendapatan daerah adalah: 1) Dilihat dari proporsi perkembangan, maka PAD merupakan potensi yang dapat digali untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan daerah; 2) Pendapatan Lain yang Sah yang cenderung meningkat setiap tahunnya.

9.1.2. Belanja Langsung dan Tidak Langsung

Perkembangan proporsi realisasi Belanja terhadap Anggaran menunjukkan perkembangan kinerja yang dicapai dalam pengelolaan belanja. Makin kecil proporsi realisasi anggaran dibanding dengan belanja anggaran (penetapan), maka makin baik atau makin efisien pengelolaan anggaran belanja APBD Kabupaten Kudus. Tabel berikut menunjukkan kinerja realisasi anggaraan belanja APBD Kabupaten Kudus 2011-2015.

Pada tahun 2015 (Data Kabupaten Kudus Dalam Angka, Tahun 2016) realiasasi pendapatan daerah Kabupaten Kudus adalah sebesar 1.759,78 milyar rupiah dengan anggaran sebesar 1.782,33 milyar rupiah. Dana pendapatan tersebut digunakan untuk belanja darah yang realisasinya sebesar 1.710,86 milyar rupiah dengan anggaran sebesar 2.128,39 milyar rupiah.

Realisasi belanja menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan dana dari Pendapatan yang diperoleh. Semakin kecil realisasi belanja menunjukkan kinerja yang baik karena terbuka peluang diperolehnya surplus anggaran. Selain dari proporsinya belanja juga perlu dilihat dari jenisnya.

(4)

Tabel IX.2

Perkembangan Proporsi Realisasi Belanja Daerah Dalam 5 Tahun Terakhir

No Uraian Tahun

2011 2012 2013 2014 2015

1 BELANJA TIDAK LANGSUNG

Belanja Pegawai 507.984.497.549 580.192.246.240 647.389.397.621 815.347.426.000 752.900.560.000

Belanja Bunga 70.801.380 1.054.653.530 44.378.263 70.802.000 16.880.000

Balanja Subsidi - - - - -

Belanja Hibah 37.800.533.500 38.878.555.008 25.607.571.733 46.029.515.000 11.465.430.000

Belanja Bantuan Sosial 27.328.859.000 26.663.285.000 24.098.658.500 32.371.987.000 20.244.810.000

Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa

2.732.069.950 4.321.279.650 4.319.038.625 6.181.567.000 9.183.180.000

Belanja Tak Terduga 1.449.383.200 1.870.960.500 3.991.500 3.000.000.000 451.200.000

Jumlah Belanja Tidak Langsung 598.652.921.429 683.900.756.778 738.734.501.503 947.813.401.000 929.054.250.000

2 BELANJA LANGSUNG

Belanja Pegawai - - - - 34.273.530.000

Belabja Barang Jasa - - - - 296.202.160.000

Belanja Modal - - - - 451.330.310.000

Jumlah Belanja Langsung - - - - 781.806.000.000

Jumlah Belanja Daerah 598.652.921.429 683.900.756.778 738.734.501.503 98.360.995.986,00 1.710.860.250.000

Jumlah Pendapatan Daerah 1.005.232.562.979,00 1.102.466.117.000,00 1.386.155.584.659 1.229.169.721.052,00 1.759.781.240.000

Surplus/(Derfisit) 406.579.641.550,00 418.565.360.222,00 647.421.083.156 1.130.808.725.066,00 48.920.990.000

(5)

Potensi ke depan yang bisa dilakukan untuk mencapai penghematan adalah mempertahankan atau bahkan kalau bisa menekan proporsi belanja pegawai. Tantangannya adalah kebutuhan belanja barang dan belanja modal menunjukkan trend yang meningkat. Adanya penurunan anggaran belanja operasi tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Kudus dapat menekan belanja pegawai, maka hal ini patut dilakukan. Namun tentunya pembatasan kuantitas gaji dan tunjangan pegawai perlu dibarengi dengan pengawasan pelayanan agar tetap terjaga baik. Efisiensi jumlah tenaga kerja juga dapat diimbangi dengan peningkatan penggunaan teknologi agar dapat dilaksanakan pelayanan yang cepat dan efisien. Di lain pihak kebutuhan pembangunan baik dalam bentuk belanja barang maupun belanja modal meningkat secara signifikan.

9.1.3. Perkembangan Pembiayaan Daerah

Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun pengeluaran yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan Pembiayaan mencakup: (1) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu; (2) Transfer dari Dana Cadangan; (3) Penerimaan Pinjaman dan Obligasi; dan (4) Hasil Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan, maupun berupa Pengeluaran Pembiayaan yang mencakup: (1) Transfer ke Dana Cadangan; (2) Investasi/Penyertaan Modal Daerah; (3) Pembayaran Utang Pokok yang Jatuh Tempo; dan (4) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berjalan.

(6)

Tabel IX.3

Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

No Uraian Tahun

2011 2012 2013 2014 2015

A PENERIMAAN PEMBIAYAAN -

1 Penggunaan Sisa Lebih

Pembiayaan Anggaran (SILPA)

127.299.510.384,79 107.353.526.000 109.597.422.000 -

2 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya - - - 318.129.557.148,00 420.502.500.000

3

1.200.000.000 2.500.000.000 2.500.000.000 380.580.000,00 791.000.000

6 Jumlah Penerimaan Pembiayaan 60.175.170.035 109.853.526.000 112.097.422.282 324.242.714.884,00 421.684.700.000

B PENGELUARAN PEMBIAYAAN

1 Pembentukan Dana Cadangan - - -

2 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah - 18.579.500.000 6.519.500.000 6.000.000.000,00 24.332.860.000

3 Pembayaran Pokok Utang 113.157.736 115,000,000 113.157.736 113.157.736,00 113.160.000

4 Pemberian dana talangan pengadaan pangan kepada LUEP

1.800.000.000 2.500.000.000 2.500.000.000 -

5

3.713.157.736 21.194.500.000 9.132.657.736 6.113.157.736,00 24.446.020.000

Pembiayaan Netto 88.659.026.000 318.129.557.148,00 397.238.680.000

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan

1.448.938.282.214,00

(7)

9.2. Profil Investasi Pembangunan Bidang Cipta Karya (APBN, APBD PROV, APBD Kabupaten Kudus, Swasta, Masyarakat)

9.2.1. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber Dari APBN

Tabel IX.4

Perkembangan Alokasi APBN Untuk Pembangunan Bidang Cipta Karya Dalam 4 Tahun Terakhir

Sektor 2012 2013 2014 2015

Pengembangan Air Minum 2.714.600.000 62.395.073.000 6.148.233.000 62.275.803.000 Pengembangan PLP 8.396.440.000 120.020.000.000 16.200.000.000 14.450.000.000 Pengembangan Permukiman 10.000.000.000 26.600.000.000 124.764.000 .000 22.130.660.000 Penataan Bangunan & Lingkungan 27.127.500.000 26.300.000.000 20.774.000.000 38.338.000.000

Total 48.238.540.000 235.315.073.000 43.122.233.000 137.194.463.000

Sumber:Laporan LPKJ Kabupaten Kudus Tahun 2012-2015 dan Tim Penyusun, 2016

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa alokasi APBN yang diberikan untuk Kabupaten Kudus mengalami perkembangan yang fluktuatif. Pada tahun 2012, alokasi APBN sebesar Rp.

48.238.540.000. mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi RP. 235.315.073.000 kemudian menurun di tahun 2014 menjadi Rp. 43.122.233.000.

Persentase alokasi dana APBN terbesar untuk tahun 2012 ada di sektor Penataan Bangunan dan

Lingkungan yaitu sebanyak Rp. 8.510.000.000., pada tahun 2013 alokasi terbanyak yaitu pada sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman sebesar Rp. 120.020.000.000, Pada tahun 2014 alokasi terbanyak yaitu pada sektor Pengembangan Permukiman yaitu sebesar Rp. 124.764.000

.000 sedangkan pada tahun 2015 alokasi terbesar yaitu pada sektor pengembangan air minum yaitu sebesar Rp. 62.275.803.000.

9.2.2. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari APBD

Perkembangan investasi pembangunan Cipta Karya yang bersumber dari dana APBD Kabupaten

Kudus selama kurun waktu 3 tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel IX.5

Perkembangan Alokasi APBD Provinsi

Untuk Pembangunan Bidang Cipta Karya Dalam 4 Tahun Terakhir

Sektor 2012 2013 2014 2015 Alokasi Alokasi Alokasi Alokasi

Pengembangan Air Minum 2.800.000.000 14.939.500.000 4.000.000.000 17.180.425.000 Pengembangan PLP 4.790.000.000 28.075.000.000 17.400.000.000 5.100.000.000 Pengembangan Permukiman 8.510.000.000 11.480.000.000 8.330.000.000 6.080.000.000 Penataan Bangunan & Lingkungan 110.000.000 26.061.840.000 3.600.000.000 3.225.000.000

Total APBD Cipta Karya 16.210.000.000 80.556.340.000 33.330.000.000 31.585.425.000

(8)

Berdasarkan data di atas, dapat diketahui perkembangan alokasi APBD di sektor Cipta Karya mengalami pertumbuhan fluktuatif. Pada tahun 2012, alokasi APBD di sektor Cipta Karya sebesar Rp. 16.210.000.000 tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi Rp. 80.556.340.000 dan pada tahun 2014 menurun kembali Rp. 33.330.000.000 dan pada tahun 2015 kembali menurun menjadi Rp. 31.585.425.000.

Persentase alokasi dana APBD Provinsi terbesar untuk tahun 2012 ada di sektor pengembangan permukiman yaitu sebanyak Rp. 8.510.000.000., pada tahun 2013 alokasi terbanyak yaitu pada sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman sebesar Rp. 28.075.000.000. Pada tahun 2014 alokasi terbanyak yaitu juga pada sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman yaitu sebesar Rp. 17.400.000.000 sedangkan pada tahun 2015 alokasi terbesar yaitu pada sektor pengembangan air minum yaitu sebesar Rp. 17.180.425.000.

Tabel IX.6

Perkembangan Alokasi APBD Kabupaten Kudus

Untuk Pembangunan Bidang Cipta Karya Dalam 4 Tahun Terakhir

Sektor 2012 2013 2014 2015 Alokasi Alokasi Alokasi Alokasi

Pengembangan Air Minum 1.431.352.000 14.221.950.000 3.867.500.000 13.030.118.000 Pengembangan PLP 19.400.807.000 85.705.000.000 42.640.000.000 35.614.000.000 Pengembangan Permukiman 10.709.800.000 9.742.000.000 6.177.000.000 4.612.000.000 Penataan Bangunan & Lingkungan 6.038.050.000 15.095.825.000 28.065.000.000 5.060.000.000

Total APBD Cipta Karya 37.580.009.000 124.764.775.000 80.749.500.000 58.316.118.000

Sumber:Laporan LPKJ Kabupaten Kudus Tahun 2012-2015 dan Tim Penyusun, 2016

Berdasarkan data diatas, dapat diketahui perkembangan alokasi APBD di sektor Cipta Karya mengalami pertumbuhan fluktuatif. Pada tahun 2012, alokasi APBD di sektor Cipta Karya sebesar Rp. 37.580.009.000 tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi Rp. 124.764.775.000 dan pada tahun

2014 menurun kembali Rp. 80.749.500.000 dan pada tahun 2015 kembali menurun menjadi Rp. 58.316.118.000.

Persentase alokasi dana APBD Kabupaten terbesar untuk tahun 2012 ada di sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman yaitu sebanyak Rp. 19.400.807.000., pada tahun 2013 alokasi terbanyak yaitu juga pada sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman sebesar Rp. 85.705.000.000, Pada

(9)

9.2.3. Proyeksi dan Rencana Investasi Pembangunan Bidang Cipta Karya

Proyeksi APBD dalam lima tahun ke depan dilakukan dengan melakukan perhitungan regresi terhadap kecenderungan APBD dalam lima tahun terakhir menggunakan asumsi atas dasar trend historis.

Tabel IX.7

Proyeksi Pendapatan APBD Kabupaten Kudus dalam 5 Tahun Terakhir (Juta Rp)

PROYEKSI ANGGARAN 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Pendapatan Asli Daerah 350.981,44 477.480,17 652.550,72 895.525,82 1.233.607,79 1.705.119,45

Dana Perimbangan 1.115.392,40 1.203.767,82 1.299.145,44 1.402.080,08 1.513.170,49 1.633.062,89

Lain-lain Pendapatan 553.005,64 654.878,38 775.517,76 918.380,89 1.087.561,77 1.287.908,55

JUMLAH PENDAPATAN 2.019.379,48 2.336.126,37 2.727.213,91 3.215.986,79 3.834.340,05 4.626.090,88

PENDAPATAN ASLI DAERAH

Pajak daerah 101.016,49 129.396,43 165.749,54 212.315,82 271.964,61 348.371,34

Retribusi daerah 20.113,12 22.358,44 24.854,42 27.629,03 30.713,39 34.142,07

Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang

dipisahkan 9.912,78 12.204,20 15.025,31 18.498,53 22.774,62 28.039,16

Lain2 PAD yg sah 219.939,05 313.521,10 446.921,46 637.082,44 908.155,17 1.294.566,87

JUMLAH 350.981,44 477.480,17 652.550,72 895.525,82 1.233.607,79 1.705.119,45

Sumber: Tim Penyusun, 2016

Dari perhitungan proyeksi pendapatan APBD Kabupaten Kudus, dapat diproyeksikan total pendapatan Kabupaten Kudus sampai dengan tahun 2021 sebesar Rp. 4.626.090.880.000dengan perincian PAD meliputi dana perimbangan, pajak daerah, retibusi, BUMD dan lain-lain PAD yang sah.

Net Public Saving

(10)

Net Public Saving = Total Penerimaan daerah - Belanja Wajib NPS = (PAD+DAU+DBH+DAK) - (Belanja mengikat + Kewajiban Daerah)

Belanja mengikat adalah belanja yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindari oleh Pemerintah Daerah dalam tahun anggaran bersangkutan seperti belanja pegawai, belanja barang, belanja bunga, belanja subsidi, belanja bagi hasil serta belanja lain yang mengikat sesuai peraturan yang berlaku.

Kewajiban daerah antara lain pembayaran pokok pinjaman, pembayaran kegiatan lanjutan.

Kemampuan Pinjaman Daerah (Debt Service Coverage Ratio/DSCR)

Pinjaman Daerah merupakan alternatif pendanaan APBD yang digunakan untuk menutup defisit APBD, pengeluaran pembiayaan atau kekurangan arus kas. Pinjaman Daerah dapat bersumber dari Pemerintah, Pemerintah Daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan

Masyarakat (obligasi). Berdasarkan PP No. 30 Tahun 2011 Tentang Pinjaman Daerah, Pemerintah Daerah wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

 Jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya;

 Memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman yang ditetapkan oleh Pemerintah.

 Persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh calon pemberi pinjaman.

 Dalam hal Pinjaman Daerah diajukan kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah juga wajib memenuhi persyaratan tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang

bersumber dari Pemerintah.

Salah satu persyaratan dalam permohonan pinjaman adalah rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman atau dikenal dengan Debt Service Cost Ratio (DSCR). Berdasarkan peraturan yang berlaku, DSCR minimal adalah 2,5. DSCR ini menunjukan kemampuan pemerintah untuk membayar pinjaman, sekaligus memberikan gambaran kapasitas keuangan pemerintah.

(11)

Batas jumlah pinjaman merupakan batas paling tinggi yang dianggap layak menjadi beban APBD menurut PP No. 107 Tahun 2000 yaitu tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya.

9.3. Keterpaduan Strategi Peningkatan Investasi Pembangunan Bidang Cipta Karya

Keterpaduan strategi peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya dilakukan untuk melihat tingkat ketersediaan dana yang ada untuk pembangunan bidang infrastruktur Cipta Karya yang meliputi sumber pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan daerah, serta dunia usaha dan masyarakat. Kemudian, dirumuskan strategi peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya dengan mendorong pemanfaatan pendanaan dari berbagai sumber.

9.3.1. Kemampuan Keuangan Daerah

Kemampuan keuangan daerah yang dapat digunakan dalam membiayai usulan program dan kegiatan yang ada dalam RPI2-JM bidang Cipta Karya dapat dilihat pada uraian berikut ini :

a) Proyeksi dana dari pemerintah pusat (APBN)

Kemampuan pendanaan yang berasal dari APBN dapat diproyeksikan dengan menggunakan asumsi trend historis maksimal 10% dari tahun sebelumnya. Proyeksi kemampuan pendanaan dari APBN dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel IX.8

Proyeksi Pendanaan dari Pemerintah Pusat (juta Rp)

Sektor 2017 2018 2019 2020 2021

Pengembangan Air Minum 75.353,72 82.889,09 91.178,00 100.295,80 110.325,38 Pengembangan PLP 17.484,50 19.232,95 21.156,25 23.271,87 25.599,06 Pengembangan Permukiman 26.778,10 29.455,91 32.401,50 35.641,65 39.205,81 Penataan Bangunan &

Lingkungan

46.388,98 51.027,88 56.130,67 61.743,73 67.918,11

Total 166.005,30 182.605,83 200.866,41 220.953,05 243.048,36 Sumber: Tim Penyusun, 2016

b) Proyeksi dana dari Pemerintah Provinsi (APBD Provinsi)

Tabel IX.9

Proyeksi Pendanaan dari APBD Provinsi Jawa Tengah (juta Rp)

Sektor 2017 2018 2019 2020 2021

Pengembangan Air Minum 20.788,31 22.867,15 25.153,86 27.669,25 30.436,17 Pengembangan PLP 6.171,00 6.788,10 7.466,91 8.213,60 9.034,96 Pengembangan Permukiman 7.356,80 8.092,48 8.901,73 9.791,90 10.771,09 Penataan Bangunan &

Lingkungan

3.902,25 4.292,48 4.721,72 5.193,89 5.713,28

(12)

c) Proyeksi dana dari Pemerintah Kabupaten (APBD Kabupaten)

Tabel IX.10

Proyeksi Pendanaan dari APBD Kabupaten Kudus (juta Rp)

Sektor 2017 2018 2019 2020 2021

Pengembangan Air Minum 15.766,44 17.343,09 19.077,40 20.985,14 23.083,65 Pengembangan PLP 43.092,94 47.402,23 52.142,46 57.356,70 63.092,37 Pengembangan Permukiman 5.580,52 6.138,57 6.752,43 7.427,67 8.170,44 Penataan Bangunan &

Lingkungan

6.122,60 6.734,86 7.408,35 8.149,18 8.964,10

Total 70.562,50 77.618,75 85.380,63 93.918,69 103.310,56 Sumber: Tim Penyusun, 2016

9.3.2. Strategi Peningkatan Investasi Bidang Cipta Karya

Dalam rangka percapatan pembangunan bidang Cipta Karya di daerah dan untuk memenuhi kebutuhan pendaanan dalam melaksanakan usulan program yang ada dalam RPI2-JM, maka Pemerintah Daerah perlu menyusun suatu strategi untuk meningkatkan pendanaan bagi pembangunan infrastruktur permukiman.

a. Strategi Peningkatan DDUB oleh Kabupaten/Kota

Strategi peningkatan pendanaan DDUB oleh Kabupaten Kudus dapat dilakukan melalui

peningkatan penerimaan daerah yang dialokasikan untuk DDUB.

Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB) merupakan dana pendamping kegiatan APBN di kabupaten/kota. DDUB ini menunjukan besaran komitmen pemerintah daerah dalam melakukan

pembangunan bidang Cipta Karya, sehingga dalam upaya peningkatan pendanaan melalui DDUB, Pemerintah Kabupaten Kudus perlu membuat komitmen dalam rencana pengembangan dan investasi antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemeritah Kabupaten Kudus sehingga

pengalokasian dana DDUB dapat terealisasi.

b. Strategi Peningkatan Penerimaan Daerah Dan Efisiensi Pengunaan Anggaran

Secara umum kebijakan keuangan daerah diarahkan pada peningkatkan kapasitas dan kemandirian kemampuan keuangan daerah disertai dengan efisiensi anggaran yang ditujukan bagi pembiayaan pembangunan. Untuk meningkatkan sumber penerimaan daerah, diperlukan

strategi kebijakan keuangan daerah berikut:

1. Mengoptimalisasikan sumber-sumber pendapatan daerah, khususnya sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah melalui optimalisasi pendataan dan penerimaan wajib pajak dan

restribusi daerah sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. 2. Meningkatkan penyuluhan pada masyarakat untuk kesadaran membayar pajak dan retribusi

(13)

3. Menyediakan sarana dan prasarana bagi pemungut penerimaan daerah yang bersifat mobilitas maupun pemberian operasional bagi penerimaan pendapatan.

4. Meningkatkan kualitas pelayanan publik pada bidang-bidang yang berhubungan dengan penerimaan daerah, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola penerimaan daerah.

5. Penataan performance budget melalui penataan sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja secara efisiensi, efektif dan berkesinambungan. Sehingga memberikan hasil yang baik dan biaya rendah.

6. Peninjauan kembali berbagai kebijakan Pemerintah Kabupaten Kudus, terutama yang terkait dengan atau dalam rangka optimalisasi pendapatan daerah.

Selain melalui optimalisasi penerimaan pendapatan, maka untuk meningkatkan penerimaan daerah dapat dilakukan dengan meningkatkan dana perimbangan. Berlakunya Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah, membawa perubahan yang mendasar dalam pengelolaan keuangan daerah. Undang-undang tersebut pada prinsipnya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya keuangan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah. Seiring dengan peningkatan pembangunan tersebut, maka pemerintah daerah berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembangunan yang diatur dengan sistem perimbangan keuangan antara pusat dan daerah mendapatkan pembagian dana perimbangan. Untuk itu kebijakan yang dilakukan untuk meningkatkan dana perimbangan antara lain melalui:

1. Melakukan upaya koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk untuk lebih mengoptimalkan pendapatan daerah yang bersumber dari APBN dan APBD Provinsi Jawa Tengah guna peningkatan pembangunan sarana prasarana perekonomian dan pelayanan publik.

2. Melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan yang bersumber dari Bagi Hasil Pajak untuk mendukung pendapatan yang bersumber dari dana perimbangan daerah.

c. Strategi Peningkatan Kinerja Keuangan Perusahaan Daerah

(14)

1. Reformasi Misi Perusahaan Daerah

a) Perusahaan Daerah sebagai salah satu pelaku ekonomi daerah dapat mendayagunakan aset daerah untuk mewujudkan kemakmuran rakyat;

b) Perusahaan Daerah adalah penyedia pelayanan umum yang menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas pelayanan;

c) Perusahaan Daerah mampu berperan sebagai pendukung perekonomian daerah dengan memberikan kontribusi kepada APBD, baik dalam bentuk pajak maupun deviden dan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah melalui multiplier effect yang tercipta dari kegiatan bisnis yang efisien seperti bertambahnya lapangan kerja dan kepedulian social; d) Perusahaan Daerah mampu berperan sebagai countervailing power terhadap kekuatan

ekonomi yang ada melalui pola kemitraan. Diharapkan berbagai perusahaan swasta dalam dan luar negeri berminat melakukan kerjasama dengan BUMD terpilih untuk selanjutnya membentuk Joint Venture/Joint Operation Company (JV/OC).

2. Restrukturisasi Perusahaan Daerah

Langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja dan kesehatan Perusahaan Daerah, yaitu tindakan yang ditujukan untuk membuat setiap Perusahaan Daerah menghasilkan laba termasuk mengubah mekanisme pengendalian oleh Pemerintah Daerah yang semula kontrol secara langsung melalui berbagai bentuk perizinan, aturan, dan petunjuk menjadi kontrol yang berorientasi kepada hasil. Artinya Pemerintah Daerah selaku pemegang saham hanya menentukan target kuantitatif dan kualitatif yang menjadi performance indicator yang harus dicapai oleh manajemen, misalnya Return On Equity (ROE) tertentu yang didasarkan kepada benchmarking kinerja yang sesuai dengan perusahaan sejenis;Pengkajian secara komprehensif terhadap keberadaan Perusahaan Daerah, karena selama ini Perusahaan Daerah dianggap kurang tepat bila disebut sebagai lembaga korporasi, khususnya, dikaitkan dengan upaya pemberdayaan BUMD agar dapat menjadi salah satu sumber keuangan daerah;

Restrukturisasi Perusahaan Daerah dengan prinsip Good Corporate Governance dapat dikelompokkan kedalam 2 (dua) kelompok yaitu :

a) Kelompok Perusahaan Daerah PDAM dimana tersedia berbagai pilihan restrukturisasi Perusahaan yang dapat dilakukan tergantung permasalahan yang dihadapi dan potensi yang tersedia;

(15)

3. Profitisasi Perusahaan Daerah

Profitisasi Perusahaan Daerah dalam rangka menghasilkan keuntungan atau laba serta memberikan kontribusi pada Pemerintah Daerah yaitu dapat dilakukan sebagai berikut : a) Melakukan proses penyehatan perusahaan secara menyeluruh dengan meningkatkan

kompetensi manajemen dan kualitas Sumber Daya Manusia;

b) Mengarahkan Perusahaan Daerah untuk dapat berbisnis secara terfokus dan terspesialisasi dengan pengelolaan yang bersih, transparan dan professional;

c) Bagi Perusahaan Daerah yang misi utama untuk pelayanan publik dan pelayanan sosial, diberikan sasaran kuantitatif dan kualitatif tertentu;

d) Memberdayakan Direksi dan Badan Pengawas yang dipilih dan bekerja berdasarkan profesionalisme melalui proses fit and proper test;

e) Merumuskan kebijakan yang diarahkan kepada tarif yang wajar, kenaikan harga produk (minimal menyesuaikan dengan inflasi, tarif listrik, BBM, dan lain-lain) untuk menghindarkan biaya produksi yang jauh lebih mahal, sehingga profit dapat diraih.

4. Privatisasi Perusahaan Daerah

Privatisasi utamanya bertujuan agar Perusahaan Daerah terbebaskan dari intervensi langsung birokrasi dan dapat mewujudkan pengelolaan bisnis yang efisien, profesional dan transparan. Diharapkan setelah melalui tahapan restrukturisasi, pihak perusahaan swasta akan berminat mengembangkan usaha dengan cara melakukan aliansi strategis dengan Perusahaan Daerah, dan bila memungkinkan untuk Perusahaan Daerah yang sehat dan memiliki prospek bisnis dapat menawarkan penjualan saham melalui Pasar Modal yang didahului Initial Public Offering (IPO). Penataan dan penyehatan Perusahaan Daerah yang usahanya bersinggungan dengan kepentingan umum dan bergerak dalam penyediaan fasilitas publik ditujukan agar pengelolaan usahanya menjadi lebih efisien, transparan, profesional. Hubungan kemitraan dapat dilaksanakan dalam bentuk kerjasama usaha yang saling menunjang dan menguntungkan antara koperasi, swasta, dan Perusahaan Daerah, serta antara usaha besar, menengah dan kecil dalam rangka memperkuat struktur ekonomi nasional. Bagi Perusahaan Daerah yang usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum didorong untuk privatisasi melalui pasar modal.

(16)

daerah, maka peranan Pemerintah Daerah sebagai salah satu stakeholder mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam penentuan arah kebijakan publik di daerahnya. Untuk itu perlu dikaji lebih mendalam pengembangan kerjasama Pemerintah Daerah dengan pihak swasta, baik langsung maupun melalui Perusahaan Daerah dalam dalam rangka menjalin hubungan kemitraan yang saling menguntungkan.

Untuk memelihara sense of belonging, daerah/ Perusahaan Daerah dan masyarakat dapat diberi peluang untuk memiliki sebagian saham Perusahaan Daerah tertentu yang berusaha di daerahnya sehingga merasa ikut memiliki dan turut bertanggung jawab atas keberhasilan usahanya. Dalam upaya optimalisasi sumber-sumber pembiayaan dan investasi bagi daerah otonom, diperlukan dukungan pemerintah dalam berbagai bentuk pembinaan dan pengawasan di berbagai bidang.

d. Strategi Peningkatan Peran Masyarakat Dan Dunia Usaha Dalam Pembiayaan

Pembangunan Bidang Cipta Karya

Strategi peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya dapat dilakukan melalui :

1. Meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi penerimaan pendapatan asli daerah melalui

pajak daerah dan retribusi daerah.

Intensifikasi salah satu cara dari yang dapat dilakukan oleh Pemerintah daerah memaksimalkan mitra kerja (peran masyarakat dan dunia usaha) yang ada saat ini, dimana Pemerintah Daerah mengintensifkan penerimaan melalui pajak dan retribusi yang sudah ada saat ini.

Ekstensikasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan Pemerintah Daerah dalam memaksimalkan mitra kerja yaitu dari pihak Dispenda mencari sumber-sumber pajak dan retribusi yang baru sehingga dapat meningkatkan PAD.

2. Meningkatkan kesadaran hukum para wajib pajak dan wajib retribusi.

Peningkatan kesadaran hukum dapat dilakukan melalui sosialisasi terharap Perda Pajak dan Retribusi kepada masyarakat dan dunia usaha sehingga menumbuhkan kesadaran hukum. Selain itu, pemberian insentif kepada masyarakat dan dunia usaha dapat dilakukan untuk memberikan reward kepada masyarakat dan dunia usaha yang taat pajak.

3. Mengembangkan sistem informasi manajemen di bidang pendapatan.

(17)

e. Strategi Pendanaan Untuk Operasi, Pemeliharaan Dan Rehabiltasi Infrastruktur

Permukiman Yang Sudah Ada

Strategi pendanaan yang adapt dilakukan oleh Kabupaten Kudus dalam operasionalisasi, pemeliharaan dan rehabilitasi infrastruktur permukiman dapat melalui :

1. Optimalisasi penyerapan pendanaan melalui APBN dan APBD Provinsi

Dalam usaha peningkatan pendanaan melalui APBN dan APBD Provinsi, beberapa upaya yang perlu dilakukan adalah :

a. Melengkapi semua persyaratan dalam upaya penyerapan pendanaan melalui APBN dan APBD

b. Menyiapkan DDUB sesuai kebutuhan fungsional dan rencana pemanfaatan sistem yang akan diajukan dengan pendanaan APBN, APBD Provinsi

c. Penyiapan MoU antara pengembang dan Pemerintah Kabupaten Kudus untuk pekerjaan bidang Cipta Karya yang memerlukan MoU

2. Optimalisasi pendanaan melalui upaya pinjaman daerah

Pinjaman daerah dapat dilakukan untuk pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya. Dari hasil analisis kemampuan daerah dalam mengembalikan pinjaman daerah dengan nilai DCSR lebih dari 2,5 maka Pemerintah Kabupaten Kudus memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.

3. Peningkatan penarikan pajak dan retribusi daerah

Peningkatan penarikan pajak dan retribusi daerah dapat digunakan sebagai sumber pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya di Kabupaten Kudus. Peningkatan penarikan pajak dapat dilakukan secara intensifikasi maupun ekstensifikasi.

f. Strategi Pengembangan Infrastruktur Skala Regional

Strategi dalam pengembangan infrastruktur yang mempunyai skala regional dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu :

1. Pemerintah daerah membuat/menyiapkan MoU dengan Pemerintah Daerah lain yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur skala regional

Gambar

Tabel IX.1
Tabel IX.2
Tabel IX.3
Tabel IX.4
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini, ekuitas merek bisa memberikan nilai tambah atau mengurangi nilai dari sebuah produk atau jasa, dan di dalam ekuitas merek terdapat aset-aset loyalitas merek,

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meninjau dan meneliti lebih jauh mengenai kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh humas PAMA Tanjung Enim melalui

Penelitian ini bertujuan untuk memudahkan staff umum dalam mengolah data inventarisasi barang milik negara dan penanggung jawab ruangan membuat laporan akurat

Hasil tes dan wawancara dianalisis mengacu pada kriteria kemampuan koneksi matematis yakni: kemampuan memahami topik antar matematika, kemampuan memahami konsep yang

Aktivi Adapun tujuan dari penelitian ini adalah anthelmintik diperoleh dengan menghi untuk mengetahui efek ekstrak tanaman jumlah cacing gelang yang mati da putri malu

Penelitian lain yang dilakukan oleh Sihotang (2010), dengan judul Pengaruh Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi di Rumah Sakit

Penyelidikan dan Evaluasi Potensi Rare Earth Element (REE) dan mineral ikutannya pada wilayah bekas tambang/tailing di Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang

Perairan muara Sungai Ciliwung mempunyai fungsi dan arti penting bagi wilayah DKI Jakarta, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan karena pencemaran yang ditimbulkan