• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alternatif Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Alternatif Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Daerah"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN PEMBIAYAAN DAN RISIKO

Alternatif Pembiayaan Pembangunan

Infrastruktur Daerah

(2)

Outline

o

Kebutuhan Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur dan Skema

Pembiayaannya.

o

Pembiayaan Infrastruktur Melalui APBN/APBD.

o

Pembiayaan Infrastruktur Daerah Melalui Pinjaman Daerah

Berdasarkan PMK 174/PMK.08/2016.

o

Pembiayaan Infrastruktur Daerah melalui Kerjasama Pemerintah dan

Badan Usaha (KPBU).

(3)

Kebutuhan Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur

dan Skema Pembiayaannya

(4)

BUMN (22.23%) KPBU (36.52%) Skema pembiayaan alternatif APBN/APBD-termasuk pinjaman (41.25%) Sumber : Bappenas, 2015

Kebutuhan Pembangunan Infrastruktur 2015-2019

Infrastruktur Dasar

Pem. Pusat &

Daerah BUMN Swasta Total IDR

Konektivitas 1003 379,2 445 1827,2 Kelistrikan 124,3 596,5 786,5 1507,3 Komunikasi, Air dan Perumahan 851,3 90,5 519,9 1461,7 Total 1987,6 1066,2 1751,4 4769,2

Investasi

Infrastruktur

Prioritas

IDR 4.769,2 Triliun

Kebijakan Fiskal Dalam Mengatasi Keterbatasan APBN/APBD:

- Agar Pemerintah tidak semata-mata mengandalkan APBN/APBD sebagai sumber pembiayaan infrastruktur.

- Lebih mendorong skema Kerjasama dengan swasta termasuk Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

- Kementerian Keuangan memberikan perhatian khusus pada skema KPBU dengan cara menyediakan berbagai

(5)

Strategi Pembiayaan Infrastruktur

Layak Secara Ekonomi tetapi Tidak Layak Secara Finansial

Layak Secara Ekonomi dan Finansial Marjinal

Layak Secara Ekonomi dan Finansial Pemerintah Swasta Pemerintah Swasta Swasta Swasta Swasta

Operasi dan Pemeliharaan Konstruksi 1

2

3

Pembiayaan secara kombinasi (Hybrid Financing)

KPBU Dengan Dukungan Pemerintah (VGF) atau Inovasi pembiayaan lainnya seperti Bank

Infrastruktur, Bank Tanah, dll)

KPBU Reguler Skema Pembiayaan

Kelayakan Proyek

Layak Secara Ekonomi tetapi Tidak Layak Secara Finansial

BUMN BUMN 4

Penugasan BUMN Layak Secara Ekonomi tetapi

Tidak Layak Secara Finansial

Pemerintah Pemerintah APBN/APBD 5 R eg ule r * Cr ea tive F ina ncin g **

*Lebih diutamakan untuk wilayahtimur, pedesaan dan perbatasan

** Lebih diutamakan untuk wilayah barat dan perkotaan

Sumber: BAPPENAS

Sekuritisasi Aset (Aset

Recycling)

(6)

Penugasan BUMN untuk Pembangunan Infrastruktur yang

Mendapat Fasilitas Fiskal

 Program 10.000 MW Tahap I

o Bentuk Jaminan: Jaminan penuh atas pinjaman PT PLN kepada Lembaga Keuangan o Dasar Hukum: Perpres No. 91/2007 dan Peraturan Menteri Keuangan No. 44/2008 o Pemerintah telah menerbitkan 36 surat jaminan.

 Program 10.000 MW Tahap II

o Bentuk Jaminan: Jaminan Kelayakan Usaha (“JKU”) untuk PT PLN (Persero)

 Pemerintah menjamin PT PLN dapat membayar kewajiban atas pembelian listrik.

o Dasar Hukum: Perpres No. 4/2010, Permen ESDM Nomor No 40/2014, Peraturan Menteri Keuangan No. 173/2014 jo. Peraturan Menteri Keuangan No. 130/2016.

o Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 130/2016 JKU dapat diterbitkan untuk proyek ekspansi (in common facilities and non common facilities).

o Pemerintah telah menerbitkan 12 SJKU.

 Program 35.000 MW

o Bentuk Jaminan: Jaminan atas pinjaman PLN dan Jaminan Kelayakan Usaha.

o Dasar Hukum: Perpres 4 Tahun 2016 dan Peraturan Menteri Keuangan No.130 Tahun 2016. o Dibutuhkan daftar proyek dari PT PLN.

 Proyek Tol Trans Sumatera

o Dasar Hukum Penugasan: Perpres No. 100/2014 jo. 117/2015 o Bentuk Jaminan:

 Jaminan penuh atas pinjaman PT Hutama Karya kepada Lembaga Keuangan sesuai PMK No. 253/2015

(7)

Skema Pembiayaan Penyediaan Infrastruktur Daerah

P

enyediaan prasarana dan/atau sarana untuk pelayanan publik di daerah,

seperti pembangunan Jalan, Pasar Tradisional, Rumah Sakit, serta infrastruktur

lainnya yang mendukung peningkatan produktivitas masyarakat di daerah.

6. Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan

Daya Saing di Pasar Internasional

Pinjaman Daerah

KPBU

Badan Usaha

APBN/APBD

Proyek

PT SMI

Bank

Pemda

PSO & Non PSO BUMD

(8)

Pembiayaan Infrastruktur Daerah melalui

APBN/APBD

(9)

9

Pembiayaan Infrastruktur Daerah melalui APBN/APBD

Sumber: DJA, Kementerian Keuangan

No Uraian 2015 2016 2017 2017 2018

APBNP APBNP APBN APBNP RAPBN

I. Infrastruktur Ekonomi 280,3 307,1 377,8 390,3 395,1

1. Melalui K/L 196,8 151,2 153,7 157,1 161,2

33 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 111,1 101,7 98,9 101,5 104,2

22 Kementerian Perhubungan 59,1 45,5 42,1 40,8 44,2 18 Kementerian Pertanian 8,9 5,3 2,7 2,5 1,4 20 Kementerian ESDM 8,1 4,6 3,6 3,1 2,8 2. Melalui Non K/L 6,8 5,3 2,6 6,0 3,0 a. VGF (termasuk Cadangan VGF) 1,2 1,1 0,3 0,5 1,2 b. Belanja Hibah 4,5 4 2,2 5,4 1,4

3. Melalui Transfer Daerah 41 88 183,7 180,9 182,8

a. Dana Alokasi Khusus 29,7 66,3 32,3 32,3 33,9

b. Tambahan Otsus Infrastruktur Prov. Papua & Papua Barat 3 1,8 - - - c. Perkiraan Dana Desa Untuk Infrastruktur 8,3 18,8 24 24,0 24,0 d. Perkiraan Dana Transfer Umum untuk Infrastruktur - - 124 121,2 120,9

4. Melalui Pembiayaan 35,7 62,1 37,8 46,2 48,1

a. Fasilitas Likuiditas 5,1 9,2 9,7 3,1 2,2

b. Penjaminan Pemerintah pada Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik menggunakan Batubara

0,8 36,2 - - -

c. Penyertaan Modal Negara - - 7,2 9,6 6,1

d. BLU LMAN - - 20 32,1 35,4

II. Infrastruktur Sosial 6,3 5,7 5,5 8,2 9,0

23 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 4,3 4,6 4,2 5,6 5,8

25 Kementerian Agama 2,1 1,2 1,2 2,6 2,9

24 Kementerian Kesehatan 0,3

III. Dukungan Infrastruktur 3,7 4,2 4,1 2,6 4,9

56 BPN 1,3 0,3 0,1 0,2 2,8

19 Kementerian Perindustrian 0,6 0,4 0,6 0,4 0,2

(10)

Pembiayaan Infrastruktur Daerah Melalui Pinjaman

Daerah Berdasarkan PMK 174/PMK.08/2016

(11)

Pertimbangan Daerah Melakukan Pinjaman

APBD

Pinjaman Daerah

1. Dengan kapasitas fiskal yang terbatas,

maka daerah memiliki keterbatasan

penyediaan

infrastruktur

(hanya

infrastruktur dasar).

2. APBD lebih ditujukan untuk perbaikan

atau pemeliharaan infrastruktur yang

telah ada.

1. Percepatan peningkatan pelayanan

kepada masyarakat melalui penyediaan

infrastruktur dasar;

2. Percepatan pencapaian target Program

Pembangunan Daerah;

3. Pelaksanaan kegiatan prioritas Daerah;

4. Keterbatasan alokasi anggaran pada

APBD;

5. Efisiensi dalam proses pengadaan

(dilakukan hanya satu kali).

(12)

Pembiayaan Infrastruktur Daerah melalui Pinjaman Pemerintah

Pusat (PIP)

2011 2012 2013 2014 2015 Series2 190,00 1.160,28 606,96 368,61 239,69 200,00 400,00 600,00 800,00 1.000,00 1.200,00 1.400,00

Dalam Miliar Rupiah

Sejak Tahun 2015, fungsi pemberian pinjaman

daerah PIP dialihkan Menteri Keuangan

kepada PT SMI.

31,6% 63,2% 5,3% Berdasarkan Wilayah Barat Tengah Timur 42,86% 42,86% 9,52% 4,76%

Berdasarkan Sektor Infrastruktur

Jalan & Jembatan Rumah Sakit Pasar

(13)

1. UU Nomor 3 Tahun 2015 Tentang APBN –P Tahun 2015, Pasal 23A ayat (1).

2. PP Nomor 95 Tahun 2015 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT SMI.

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 232 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Pengalihan Investasi Pemerintah dalam PIP menjadi PMN pada PT SMI.

Memiliki fungsi untuk memanfaatkan aset (leveraging Asset) dalam rangka meningkatkan kapasitas pembiayaan

1. PMK Nomor 174/PMK.08/2016 tentang Pemberian Jaminan Kepada Perusahaan Perseroan (Persero) PT SMI Dalam rangka Penugasan Penyediaan Pembiayaan Infrastruktur Daerah

Mendapatkan Penambahan Penyertaan Modal Negara melalui Pengalihan

Investasi Pemerintah Memiliki fleksibilitas

Memiliki fleksibiltas khususnya dalam hal pemupukan modal, memperoleh sumber pendanaan dan strategi investasi jangka panjang, serta secara langsung tidak memiliki risiko fiskal yang besar bagi keuangan negara.

2. PMK Nomor 121/PMK.07/2017

tentang Perubahan PMK

47/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui Sanksi Pemotongan DAU dan/atau DBH

3. PMK Nomor 125/PMK.08/2017 tentang Tata Cara Pengelolaan Dana Jaminan Penugasan Pembiayaan Infrastruktur Daerah

13

1. Jaminan dari Menteri Keuangan

atas Pemenuhan Kembali Kewajiban Pemerintah Daerah kepada PT. SMI berdasarkan perjanjian pinjaman. 2. Jaminan bertujuan untuk menjaga

kualitas aset PT SMI. Sehingga tidak memberikan pengaruh negative atas pelaksanaan fungsi pemanfaatan aset (Leveraging Asset).

3. Jaminan tersebut bersifat garansi

halmana Menteri Keuangan memastikan pemenuhan kewajiban pemda kepada PT. SMI melalui

Security Mechanism.

(14)

Profil PT SMI

Regulasi

Legalitas

Visi

Misi

PMK No. 100 / PMK.010/ 2009 sebagai Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur (berisi lingkup usaha dan sektor pembiayaan infrastruktur)

• PP No. 66/2007 jo PP No. 75/2008 sebagai Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur

• KMK No. 396/KMK.01/2009 sebagai Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur (Industri Keuangan Non Bank (IKNB)

100% dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Keuangan sebagai RUPS)

Menjadi katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur nasional

1. Menjadi mitra strategis yang memberikan nilai tambah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia

2. Menciptakan produk pembiayaan yang fleksibel

3. Menyediakan pelayanan berkualitas dengan tata kelola yang baik

(15)

Penugasan kepada PT SMI

Pemerintah melalui Menteri Keuangan menugaskan kepada PT SMI untuk menyediakan

pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur daerah dalam bentuk

Pinjaman Daerah

sebagaimana program Pemerintah yang sebelumnya dilakukan oleh Pusat Investasi

Pemerintah (PIP).

Dalam menjalankan penugasan dimaksud, PT SMI dilengkapi dengan mekanisme yang

dapat memastikan pengembalian pinjaman, sehingga pelaksanaan penugasan oleh PT SMI

tidak akan memberikan pengaruh negatif kepada kualitas aset PT SMI

(Security

Mechanism)

.

Mekanisme dimaksud berangkat dari adanya

JAMINAN dari Menteri Keuangan

kepada PT

SMI. Jaminan tersebut memastikan bahwa

Pemda dapat memenuhi kewajibannya

sebagaimana telah disepakati di dalam perjanjian pinjaman.

Security Mechanism

dilakukan oleh Menteri Keuangan melalui

penggunaan dana talangan

dan

pelaksanaan pemotongan DAU dan/atau DBH

(“

intercept

”)

.

Skema

intercept

dilakukan oleh Menteri Keuangan sebagai bentuk penggantian atas

penggunaan dana jaminan penugasan pembiayaan infrastruktur daerah.

Penugasan (* Pinjaman Daerah

542 Pemda

*) PMK 174/PMK.06/2016

(16)

Kriteria Pinjaman dan Lingkup Infrastruktur

Pemda dapat melakukan Pinjaman yang digunakan untuk membiayai kegiatan penyediaan

infrastruktur dalam rangka pelayanan publik.

Penyediaan infrastruktur yang dapat diberikan fasilitas pembiayaan, yaitu:

o

Infrastruktur yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD).

o

Infrastruktur yang dapat menjadi obyek pembiayaan perusahaan pembiayaan

infrastruktur berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan pembiayaan yang telah disalurkan oleh PIP maupun PT SMI sebagian besar

merupakan daerah-daerah yang berada di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Oleh

karena itu, dengan memperhatikan tujuan pemerataan distribusi pembangunan

infrastruktur, PT SMI ditugaskan untuk dapat memprioritaskan pembangunan infrastruktur

di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah

.

Disamping itu, PT SMI ditugaskan untuk memberikan pinjaman daerah dalam rangka

pembiayaan sektor infrastruktur yang belum memiliki anggaran yang memadai, sehingga

sektor prioritas adalah sektor non-kesehatan dan non-pendidikan,

seperti: infrastruktur

instalasi pengelolaan air, irigasi, pengelolaan limbah, jalan, jembatan, transportasi dan sektor

lainnya dalam ruang lingkup usaha perusahaan pembiayaan infrastruktur.

(17)

Jangka Waktu dan Suku Bunga Pinjaman Daerah

Suku Bunga Pinjaman Daerah

o Besaran suku bunga atas pinjaman pembiayaan infrastruktur daerah sebesar imbal hasil Surat

Berharga Negara dengan tenor setara ditambahkan 0,75% (nol koma tujuh lima persen). Hal ini berbeda dengan besaran bunga yang telah dikenakan oleh PIP atas pinjamannya kepada Pemda (sebesar suku bunga BI ditambahkan 2%).

o Dalam hal terdapat perubahan kebijakan perbankan maupun kebijakan pembiayaan

infrastruktur daerah, PT SMI dapat mengajukan perubahan besaran bunga pinjaman yang dapat dikenakan kepada Pemda kepada Menteri Keuangan.

o Struktur tingkat suku bunga dimaksud diharapkan dapat memberikan kemudahan akses

pembiayaan kepada daerah dalam rangka mengejar percepatan pembangunan infrastruktur.

Jangka Waktu

o

Pinjaman daerah yang disediakan oleh PT SMI dalam rangka pembiayaan infrastruktur

daerah baik skala kecil, menengah maupun besar sehingga jangka waktu pinjaman yang

dapat diberikan oleh PT SMI diharapkan

di atas 5 tahun

. Hal ini berbeda dengan

pinjaman daerah yang diberikan oleh PIP yaitu rata-rata 5 tahun.

o

Jangka waktu pinjaman diatas 5 tahun diharapkan dapat memberikan edukasi kepada

daerah dalam rangka mengakses pembiayaan jangka menengah dan panjang dari

lembaga keuangan komersial sehingga dapat memperbesar volume pembiayaan dalam

rangka pembangunan infrastruktur daerah.

(18)

Pelaksanaan Pemberian Pinjaman PT SMI

Pengajuan Usulan Pinjaman

• SMI menerima usulan pinjaman dari Pemda.

• Usulan pinjaman disampaikan dengan melampirkan dokumen pendukung, yaitu sebagai berikut: • Persetujuan DPRD;

• Salinan berita acara pelantikan gubernur, bupati, atau walikota;

• Pernyataan Kepala Daerah bahwa Pemda tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah dan/atau pihak lain;

• Studi kelayakan;

• Laporan keuangan daerah yang telah diaudit;

• Dokumen resmi Pemda mengenai RPJMD;

• APBD dan RAPBD tahun berkenaan.

Penilaian dan Persetujuan Usulan Pinjaman

• Penilaian usulan pinjaman, dengan memperhatikan, antara lain: aspek keuangan, ekonomi, sosial&politik, dan teknis/proyek. • SMI dapat berkoordinasi dengan

DJPK, mengenai: kapasitas fiskal daerah, batas kumulatif pinjaman daerah, kemampuan membayar kembali, batas maksimal defisit APBD.

• Persetujuan/penolakan

disampaikan SMI kepada Pemda paling lambat 40 hari setelah usulan pinjaman diterima benar dan lengkap.

Perjanjian Pinjaman Pembiayaan

• Syarat penandatanganan perjanjian pinjaman pembiayaan yaitu Pemda telah menyampaikan surat pernyataan Kepala Daerah yang disetujui DPRD, kesediaan dipotong DAU/DBH dan syarat penandatanganan lainnya.

• Syarat efektif perjanjian pinjaman pembiayaan yaitu pemda telah menyampaikan surat persetujuan pelampauan defisit APBD dari Menteri Keuangan dalam hal Pinjaman melebihi maksimal defisit APBD tahun berkenaan, dan memenuhi syarat efektif lainnya.

Pelaksanaan Penugasan Penyediaan Pembiayaan Infrastruktur Daerah • Pemberian pinjaman dilakukan secara selektif oleh PT SMI.

• Pelaksanaan pemberian pinjaman oleh PT SMI dilakukan sesuai ketentuan peraturan

(19)

Pembiayaan Infrastruktur Daerah melalui Skema

KPBU

(20)

Perbedaan Pengadaan Infrastruktur Skema Konvensional dan

KPBU

Konvensional

APBN/APBD harus menyediakan

100% biaya konstruksi

Risiko Konstruksi ditangggung oleh

Pemerintah dan APBN

Fokus pengadaan pada aset secara

fisik

Pemerintah harus mengadakan

kontrak

terkait

konstruksi,

operasional

dan

pemeliharaan

serta layanan tambahan

Risiko operasi dan kinerja aset

ditanggung oleh pemerintah

Adanya keterbatasan atas inovasi

yang dilakukan oleh Badan Usaha

karena

design

dibuat

oleh

Pemerintah

KPBU

APBN/APBD

tidak

harus

menyediakan 100% biaya konstruksi

Risiko

konstruksi

seluruhnya

ditanggung oleh swasta

Fokus pengadaan pada layanan

Kontrak tunggal dengan Badan

Usaha untuk seluruh kegiatan

Desain, Konstruksi, Pembiayaan,

Perawatan dan Operasional

Risiko operasi dan kinerja asset

ditanggung oleh swasta

Persaingan

yang

kompetitif

memungkinkan inovasi-inovasi yang

dilakukan Badan Usaha

(21)

Pembiayaan Infrastruktur melalui KPBU

21

• Skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) sebagai salah satu

solusi untuk menyelesaikan permasalahan kekurangan pendanaan dalam penyediaan

infrastruktur di Indonesia.

• KPBU dapat membawa

transfer teknologi dan keahlian sehingga diharapkan

tersedianya layanan infrastruktur yang lebih efisien dan membuka lapangan kerja

atas proyek infrastruktur dimaksud.

• Dalam skema KPBU, investor akan mendapatkan

pengembalian atas investasinya

berdasarkan pendapatan yang diperoleh dari pengguna layanan infrastruktur tersebut

dan/atau dari pembayaran/subsidi dari Pemerintah berdasarkan ketersediaan dan

kualitas layanan infrastruktur.

• KPBU secara umum dapat didefinisikan sebagai pola pengadaan proyek infrastruktur

yang didasarkan pada

kontrak tertulis antara Pemerintah sebagai pemilik proyek

kerjasama dengan pihak sponsor/investor dari swasta yang berdasarkan pada skema

pembagian risiko dan pengembalian atas investasi yang wajar berdasarkan

spesifikasi layanan infrastruktur yang dibutuhkan.

• Secara umum proyek-proyek yang dilakukan dengan skema KPBU mempunyai

karakteristik yaitu: (1) mempunyai nilai investasi yang besar/sangat besar; (2)

mempunyai dampak yang strategis untuk kepentingan nasional; (3) transformatif

artinya hanya Pemerintah yang baik yang bisa menyediakan layanan infrastruktur

tersebut.

(22)

Pembiayaan Infrastruktur melalui KPBU

Infrastruktur Ekonomi

• Transportasi; Jalan; Sumber Daya Air dan Irigasi;

Ketenagalistrikan; Telekomunikasi dan Elektronika, dll.

Infrastruktur Sosial

• Kesehatan; Lembaga Pemasyarakatan; Perumahan

Rakyat, dll.

• Dalam pelaksanaan KPBU, Menteri/Kepala

Lembaga/Kepala Daerah bertindak selaku Penangungg Jawa Proyek Kerjasama (PJPK).

• Penentuan Menteri/Kepala Lembaga /Kepala Daerah

sebagai PJPK dilakukan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan sektor.

• BUMN/BUMD dapat bertindak selaku PJPK sepanjang diatur dalam peraturan perundang-undangan sektor.

PJPK menetapkan bentuk pengembalian investasi yang meliputi penutupan biaya modal, biaya operasional, dan keuntungan Badan Usaha Pelaksana.

Jenis Infrastruktur

PJPK

Pengembalian Investasi

Pembayaran oleh pengguna dalam bentuk tarif Pembayaran ketersediaan layanan (Availability Payment)

Pengembalian investasi Badan Usaha Pelaksana atas Penyediaan Infrastruktur bersumber dari:

•PJPK menetapkan tarif awal atas penyediaan infrastruktur.

•Tarif dapat ditentukan berdasarkan tingkat kemampuan pengguna

•PJPK memberikan Dukungan Kelayakan sehingga Badan Usaha Pelaksana dapat

memperoleh pengembalian investasi

•PJPK menganggarkan dana pembayaran ketersediaan layanan untuk penyediaan

infrastruktur yang dilakukan oleh Badan Usaha Pelaksana pada masa operasi selama jangka waktu yang diatur dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS).

•PJPK melakukan pembayaran Ketersediaan Layanan kepada Badan Usaha Pelaksana

apabila telah memenuhi kondisi:

(23)

Tahap Pengadaan Infrastruktur Berbasis KPBU

(24)

Pembiayaan pelaksanaan penyiapan kajian akhir studi kelayakan dan

pendampingan transaksi

PDF dapat diberikan setelah kajian awal studi kelayakan dan market sounding

dilaksanakan oleh PJPK dan/atau Bappenas, dan/atau KPPIP (untuk proyek KPBU

prioritas)

Dasar Hukum

Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah

dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur

Peraturan Menteri Keuangan nomor 129/PMK.08/2016 tentang Perubahan

atas Peraturan Menteri Keuangan nomor 265/PMK.08/2015 tentang Fasilitas

dalam Rangka Penyiapan dan Pelaksanaan Transaksi Proyek KPBU dalam

Penyediaan Infrastruktur.

Contoh Proyek

Proyek SPAM Umbulan, Jawa Timur

Palapa Ring (Barat, Tengah, Timur)

Proyek SPAM Lampung

(25)

25

Dukungan Kelayakan atau Viabilty Gap Fund (VGF)

• Dukungan Pemerintah dalam bentuk kontribusi sebagian biaya konstruksi yang diberikan secara tunai

pada proyek KPBU yang sudah memiliki kelayakan ekonomi namun belum memiliki kelayakan finansial. Dukungan Kelayakan dapat diberikan setelah tidak terdapat lagi alternatif lain untuk membuat Proyek Kerja Sama layak secara finansial. Pemerintah Daerah dapat berkontribusi atas pemberian dukungan ini setelah memperoleh persetujuan dari DPRD.

• Tujuan Dukungan Kelayakan yaitu:

 Meningkatkan kelayakan finansial Proyek Kerja Sama sehingga menimbulkan minat dan partisipasi Badan Usaha pada Proyek Kerja Sama.

 Meningkatkan kepastian pengadaan Proyek Kerja Sama dan pengadaan Badan Usaha pada Proyek Kerja Sama sesuai dengan kualitas dan waktu yang direncanakan.

 Mewujudkan layanan publik yang tersedia melalui infrastruktur dengan tarif yang terjangkau oleh masyarakat.

• Dalam hal Proyek Kerja Sama Daerah, Pemerintah Daerah dianjurkan untuk dapat berkontribusi atas

pemberian Dukungan Kelayakan setelah mendapatkan persetujuan dari DPRD.

• Dasar Hukum

 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur

 Peraturan Menteri Keuangan 223/PMK.011/2012 tentang Pemberian Dukungan Kelayakan atas Sebagian Biaya Konstruksi Pada Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.

 Peraturan Menteri Keuangan 143/PMK.011/2013 tentang Panduan Pemberian Dukungan Kelayakan atas Sebagian Biaya Konstruksi Pada Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur sebagaimana diubah menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 170/PMK.08/2015.

• Contoh Proyek:

(26)

Pembayaran Ketersediaan Layanan (Availability Payment)

• Pembayaran secara berkala oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah kepada badan usaha atas

tersedianya layanan infrastruktur yang sesuai dengan kualitas dan/atau kriteria sebagaimana ditentukan dalam perjanjian KPBU.

• Pembayaran ketersediaan layanan merupakan Belanja Negara atau Belanja Daerah yang bertujuan

untuk:

 Memastikan ketersediaan layanan yang berkualitas kepada masyarakat secara berkesinambungan.  Mengoptimalkan nilai guna dari APBN/APBD.

 Menyediakan skema pengembalian investasi yang menarik minat Badan Usaha untuk bekerjasama dengan Pemerintah.

• Pembayaran ketersediaan layanan dilakukan untuk:

 KPBU Pemerintah Pusat melalui mekanisme APBN  KPBU Pemerintah Daerah melalui mekanisme APBD

• Setiap pelaksanaan pembayaran ketersediaan layanan dilakukan secara tepat waktu dan dilakukan

dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaan pembayaran APBN/APBD.

• Pembayaran ketersediaan layanan tidak disediakan untuk KPBU yang telah mendapatkan Dukungan

Kelayakan.

• Pembayaran ketersediaan layanan yang dilakukan oleh BUMN/BUMD selaku PJPK mengikuti

mekanisme korporasi.

• Dasar Hukum

 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.

 PMK Nomor 190/PMK.08/2015 tentang Pembayaran Ketersediaan Layanan Dalam Rangka KPBU dalam Penyediaan Infrastruktur.

(27)

Penjaminan Infrastruktur dalam Skema KPBU

pemberian jaminan atas kewajiban finansial PJPK untuk membayar kompensasi

kepada badan usaha saat terjadi risiko infrastruktur

sesuai dengan alokasi yang

disepakati dalam perjanjian KPBU

yang menjadi tanggung jawab PJPK.

Dasar Hukum

Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2010 tentang Penjaminan Infrastruktur

dalam Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha yang Dilakukan

Melalui Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 260/PMK.011/2010 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Penjaminan Infrastruktur dalam Proyek Kerjasama Pemerintah

dengan Badan Usaha sebagaimana diubah menjadi Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 8/PMK.08/2016.

Contoh Proyek

Proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x1000 Megawatt di Batang,

Jawa Tengah, senilai Rp54 triliun.

(28)

Referensi

Dokumen terkait

Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa sistem peredaran darah pada katak merupakan sistem sirkulasi tertutup, jumlah denyutan jantung akan berbeda pada keadaan

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLII-4/W2, 2017 FOSS4G-Europe 2017 – Academic Track, 18–22 July 2017, Marne

Pokja Pengadaan Barang/Jasa pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Aceh Barat Daya akan melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi kepada penerbit dokumen, apabila

Sesuai Perencanaan Kegiatan Rehabilitasi Sedang/Berat Rumah Gedung Kantor   11 54.065.000,00 Banda Aceh Sesuai. Perencanaan Revitalisasi Puskesmas Kuta

Identitas Visual Brand adalah salah satu alat untuk membangun citra tersebut yang didasari oleh sejarah, visi dan misi serta kelebihan dari perusahaan, untuk

Al seleccionar una muestra lo que se hace es estudiar una parte o un subconjunto de la población, pero que la misma sea lo suficientemente representativa de ésta para que

Third, the wide variation in training rates across the major trade occupations suggests that the decline in the overall training rate does not reflect a systemic problem with the

[r]