SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA
SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN KINERJA
(LKj)
TAHUN 2014
SEKRETARIAT KABINET
2015
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
Gambaran Umum Perencanaan Kinerja Sekretariat Kabinet
Perencanaan kinerja Sekretariat Kabinet didasarkan pada Rencana Strategis (Renstra) Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 sebagaimana telah diubah beberapa kali dan terahir dengan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penyempurnaan Kedua Rencana Strategis Sekretariat Kabinet RI Tahun 2010—2014. Perubahan atau penyempurnaan Renstra tersebut dilakukan untuk peningkatan kualitas pelaksanaan SAKIP Sekretriat Kabinet dengan mempertajam pencapaian tujuan yang menjadi core business Sekretariat Kabinet yaitu dengan mempertajam rumusan fungsi pengelolaan/ manajemen kabinet yang menjadi salah satu tugas dan fungsi utama Sekretariat Kabinet.
Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 beserta revisi/ penyempurnaannya tersebut merupakan panduan pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat Kabinet pada periode 2010—2014 yang disusun berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2005—2009, analisis terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik global maupun nasional, dan Rencana Reformasi Birokrasi Sekretariat Kabinet. Renstra tersebut juga disusun dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010—2014 dan dimaksudkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pencapaian sasaran, agenda, dan misi pembangunan serta visi Indonesia 2014.
Guna mendukung pencapaian visi dan misi, sasaran, dan agenda pembangunan nasional yang termaktub dalam RPJMN 2010—2014, Sekretariat Kabinet merumuskan visi, misi, dan strategi dalam renstra instansi yang
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 selanjutnya dioperasionalkan dalam suatu perencanaan kinerja. Di dalam proses perencanaan kinerja, Sekretariat Kabinet mendefinisikan seluruh sasaran, program, dan kegiatan yang akan diimplementasikan dalam satu tahun anggaran yang kemudian diformulasikan dalam Rencana Kinerja Tahunan (RKT).
Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Sekretariat Kabinet memuat angka target kinerja tahunan untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan. Angka target kinerja ini akan menjadi komitmen yang harus dicapai dalam satu periode tahunan. Selain itu, dokumen RKT tersebut menjadi dasar bagi penetapan kesepakatan tentang kinerja yang akan diwujudkan oleh organisasi (performance agreement) atau lebih dikenal sebagai Penetapan Kinerja (PK). Penetapan Kinerja ini menjadi kontrak kinerja yang harus diwujudkan oleh para pejabat di lingkungan Sekretariat Kabinet sebagai penerima amanah kepada pimpinan dan stakeholdernya. Keberhasilan pencapaian PK diukur menggunakan instrumen berupa Indikator Kinerja Utama (IKU) atau Key Performance Indicators (KPI) yang ditetapkan secara formal dengan keputusan Sekretaris Kabinet. Melalui IKU, diharapkan akan diperoleh informasi kinerja yang diperlukan untuk mengukur keberhasilan/kegagalan pencapaian suatu tujuan dan sasaran strategis yang digunakan sebagai dasar evaluasi kinerja untuk perbaikan kinerja organisasi dan peningkatan akuntabilitas kinerja Sekretariat Kabinet.
Gambaran secara ringkas tentang substansi perencanaan kinerja, ikhtisar Penetapan Kinerja serta ikhtisar Indikator Kinerja Utama Sekretariat Kabinet dapat dilihat pada penjelasan berikut.
Visi dan Misi
Sekretariat Kabinet mengemban mandat untuk menyediakan dukungan kepada Presiden dalam hal penyelenggaraan pengelolaan dan pengendalian manajemen kabinet. Guna melaksanakan mandat tersebut, Sekretariat Kabinet melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, dan pengendalian proses manajemen kabinet, kebijakan, dan program pemerintah.
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Dalam hal ini, Sekretariat Kabinet terlibat aktif dalam keseluruhan siklus manajemen kebijakan dari proses formulasi, implementasi, evaluasi, sampai dengan reformulasi/terminasi kebijakan. Pentingnya mandat yang diemban oleh Sekretariat Kabinet tersebut, dicerminkan dalam rumusan visi dan misi Sekretariat Kabinet yang telah disempurnakan sejalan dengan adanya restrukturisasi organisasi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2010 dan aturan-aturan pelaksanaannya. Rumusan visi dan misi itu selanjutnya mempengaruhi penetapan tujuan dan sasaran strategisnya.
Rumusan visi Sekretariat Kabinet sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Sekretariat Kabinet Tahun
2010-2014 yang telah beberapa kali disempurnakan, terakhir melalui Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penyempurnaan Kedua Rencana Strategis Sekretariat Kabinet RI Tahun 2010-2014, adalah sebagai berikut:
Perumusan visi tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan yang diharapkan Sekretariat Kabinet dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, terkait peranan dan fungsi suatu organisasi. Visi Sekretariat Kabinet 2010-2014 mengandung pengertian bahwa Sekretariat merupakan lembaga pemerintah yang strategis, profesional, dan dapat diandalkan dalam memberikan dukungan kepada Presiden untuk melaksanakan tugas sehari-hari sebagai kepala pemerintahan berupa pemberian dukungan kebijakan dan administrasi secara cepat, tepat, transparan, dan akuntabel. Adanya visi ini diharapkan Sekretariat Kabinet akan mampu mengantisipasi berbagai tantangan di masa depan sekaligus meningkatkan kualitas kinerja secara maksimal dalam rangka memberikan dukungan kebijakan dan administrasi kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan.
Visi 2010-2014
Menjadi Sekretariat Kabinet yang profesional dan handal dalam mendukung Presiden dan Wakil Presiden dalam
menjalankan kekuasaan
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Guna memastikan bahwa visi Sekretariat Kabinet tersebut sesuai dan selaras dengan perubahan yang harus dilakukan, maka diperlukan penetapan misi yang jelas. Misi tersebut menjadi pernyataan yang menetapkan tujuan Sekretariat Kabinet dan sasaran yang ingin dicapai.
Perumusan misi Sekretariat Kabinet dilakukan dengan mengacu kepada visi, nilai-nilai, tugas dan fungsi yang diemban Sekretariat Kabinet; melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan yang mencakup para pegawai, masyarakat yang akan dilayani, mitra kerja, dan stakeholder lainnya; menilai lingkungan yang sangat berguna untuk menentukan apakah
misi organisasi tidak bertentangan secara internal dan eksternal dengan kebijakan pemerintah serta menyelaraskan kegiatan, proses utama, dan sumber daya untuk memungkinkan Sekretariat Kabinet melaksanakan kegiatannya secara lebih baik dan efisien. Rumusan misi Sekretariat Kabinet adalah sebagai berikut:
Perumusan misi tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran bahwa dalam rangka membantu Presiden dan Wakil Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan diperlukan dukungan manajemen sehingga penyelenggaraan kabinet dapat terlaksana dengan baik dengan mengacu kepada prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Tujuan, Sasaran Strategis, dan Cara Pencapaian Tujuan dan
Sasaran
Penetapan tujuan dilakukan oleh Sekretariat Kabinet dalam rangka operasionalisasi visi dan misi berdasarkan hasil identifikasi potensi dan permasalahan yang dihadapi Sekretariat Kabinet. Tujuan ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis strategis serta dimaksudkan untuk mengarahkan perumusan sasaran, kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi.
Misi 2010-2014
Memberikan dukungan
manajemen kabinet kepada
Presiden dan Wakil
Presiden dengan memegang teguh pada prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Penetapan tujuan Sekretariat Kabinet telah diarahkan agar konsisten dengan tugas dan fungsi, mempertajam fokus pelaksanaan misi organisasi, dan meletakkan kerangka prioritas bagi arah program dan kegiatan yang akan dilakukan. Perumusan tujuan Sekretariat Kabinet juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor kunci keberhasilan berupa potensi, peluang, kekuatan, tantangan, kendala dan kelemahan yang dihadapi, termasuk sumber daya manusia (SDM), sumber daya material, pendanaan serta
peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang digunakan instansi pemerintah dalam melakukan kegiatan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, diperoleh rumusan tujuan strategis Sekretariat Kabinet sebagai berikut:
Guna mempertajam prioritas pencapaiannya, tujuan perlu diuraikan ke dalam sasaran yang lebih detil dan akan membentuk semacam alur untuk mencapai tujuan. Meskipun telah ditentukan sasaran tahunan dengan jelas dan terdapat keterkaitan nyata dengan tujuan 5 (lima) tahunan, akan tetapi hal tersebut masih sulit diimplementasikan untuk meraih visi dan misi organisasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut dalam bentuk strategi. Strategi merupakan rencana yang menyeluruh dan terpadu mengenai upaya organisasi yang meliputi penetapan kebijakan dan program, dengan memperhatikan sumber daya organisasi serta keadaan lingkungan yang dihadapi. Dalam kaitan dengan Sistem AKIP, sebagai suatu alat dari strategi, kebijakan dan program akan memberikan arah bagi pencapaian tujuan dan sasaran.
Sekretariat Kabinet telah menetapkan arah kebijakan dan strategi yang memuat langkah-langkah berupa program indikatif yang memiliki dampak besar terhadap pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis dalam jangka menengah 2010—2014 sesuai bidang yang menjadi tugas dan fungsi Sekretariat
Tujuan Strategis
Memberikan dukungan teknis, administrasi, dan pemikiran yang prima dalam rangka mendukung Presiden dan Wakil Presiden menjalankan kekuasaan
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Kabinet. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan sasaran strategis Sekretariat Kabinet sebagai bagian dari sasaran strategis nasional yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010—2014. Peran Sekretariat Kabinet dalam
mendukung pencapaian sasaran RPJM 2010—2014, yang diatur dalam arah kebijakan Sekretariat Kabinet selama 5 (lima) tahun ke depan dirumuskan sebagai berikut:
Sekretariat Kabinet terus berupaya melakukan optimalisasi pemberian dukungan kebijakan dan program pemerintah kepada Presiden melalui pembenahan dan peningkatan dari sisi manajemen, organisasi, dan sarana-prasarana pendukungnya. Oleh karena itu, strategi Sekretariat Kabinet dalam jangka lima tahun difokuskan pada penguatan enam aspek yang terkait dengan manajemen organisasi, yaitu sebagai berikut:
Arah kebijakan
sekretariat kabinet
2010-2014
Mengoptimalkan pemberian dukungan kebijakan dan program kepada Presiden
STRATEGI SEKRETARIAT KABINET 2010
—
2014
1. Mewujudkan SDM yang profesional dan berkualitas 2. Mewujudkan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang efektif 3. Mewujudkan peningkatan layanan sistem informasi yang responsif
dan transparan
4. Mewujudkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan
5. Meningkatkan efektivitas pengelolaan sarana dan prasarana 6. Meningkatkan pengawasan internal yang optimal
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Berdasarkan arah kebijakan dan strategi Sekretariat Kabinet tersebut, selanjutnya tujuan strategis dijabarkan kedalam sasaran strategis yang akan dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan yang dilakukan oleh satuan organisasi dan unit kerja di lingkungan Sekretariat Kabinet. Pada tahun 2014 terdapat 5 (lima) sasaran strategis yang dijabarkan dalam 2 (dua) program dan 5 (lima) kegiatan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 2.1
Sasaran Strategis, Program dan Kegiatan Sekretariat Kabinet Tahun 2014
Sasaran Program Kegiatan
1. Terwujudnya peningkatan
kualitas hasil analisis kebijakan Program Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Kepada Presiden Selaku Kepala Pemerintahan Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Presiden di bidang politik, hukum dan keamanan, perekonomian serta kesejahteraan rakyat
2. Terwujudnya peningkatan
kualitas penyelesaian Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, dan Instruksi Presiden
Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Presiden di bidang perancangan perundang-undangan bidang politik, hukum dan keamanan, perekonomian serta kesejahteraan rakyat 3. Terwujudnya peningkatan kualitas pengelolaan persidangan kabinet Penyelenggaraan dan pendokumentasian sidang kabinet, rapat dan
pertemuan yang dipimpin oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden 4. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan administrasi aparatur yang wewenang penetapannya di tangan
Presiden Program Dukungan
Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Sekretariat Kabinet Penyelesaian administrasi kepegawaian yang wewenang penetapannya berada di tangan Presiden
5. Terwujudnya peningkatan
layanan sistem informasi yang responsif dan transparan
Pengelolaan data dan informasi
penyelenggaraan
pemerintahan, peraturan perundang-undangan, persidangan, kepegawaian, dan perpustakaan melalui SIM, arsip dan/atau dokumen
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 Perumusan sasaran strategis Sekretariat Kabinet telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Perubahan terakhir dilakukan dalam revisi dokumen Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 beserta dokumen perencanaan turunannya. Fokus penetapan sasaran tersebut telah diupayakan mengarah kepada core business dan outcome Sekretariat Kabinet. Hal ini dapat dilihat pada perubahan nomenklatur sasaran-sasaran strategis dengan fokus pada “terwujudnya peningkatan kualitas” yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek “ketepatan waktu penyelesaian, “kesesuaian dengan standar (SP/SOP)” dan “ketepatan substansi” semata, namun juga menitikberatkan pada upaya “pengukuran kepuasan stakeholder dan respon/ animo stakeholder” atas sejumlah layanan/produk Sekretariat Kabinet yang direpresentasikan dalam sasaran strategis Sekretariat Kabinet.
Ikhtisar Penetapan Kinerja (PK) Sekretariat Kabinet Tahun
2014
Penetapan kinerja (PK) adalah dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi atau unit organisasi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui penetapan kinerja atau perjanjian kinerja ini terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Kinerja yang disepakati tidak dibatasi pada kinerja yang dihasilkan atas kegiatan tahun yang bersangkutan, tetapi termasuk kinerja (outcome) yang seharusnya terwujud akibat kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian target kinerja yang diperjanjikan juga mencakup outcome yang dihasilkan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya sehingga terwujud kesinambungan kinerja setiap tahunnya.
Dengan demikian, penetapan kinerja ini menjadi kontrak kinerja yang harus diwujudkan oleh para pejabat tersebut sebagai penerima amanah dan pada akhir tahun nanti akan dijadikan sebagai dasar evaluasi kinerja dan penilaian terhadap pejabat tersebut. Adanya penetapan kinerja ini, diharapkan
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014 para pimpinan instansi dan unit kerja tidak hanya pandai mendapatkan dan menghabiskan anggaran saja, tetapi juga harus mampu menunjukkan serta mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada pimpinannya dan masyarakat. Penetapan kinerja sebagai bagian tidak terpisahkan dari SAKIP merupakan upaya dalam membangun manajemen pemerintahan yang transparan, partisipatif, akuntabel, dan berorientasi hasil, yaitu peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat.
Sekretariat Kabinet menetapkan dokumen PK Tahun 2014 sebagai ikhtisar perencanaan kinerja dari seluruh satuan organisasi dan unit kerja di lingkungan Sekretariat Kabinet, yang memuat target kinerja yang ingin dicapai sebagai ukuran keberhasilan sasaran strategis organisasi. Gambaran tentang PK Sekretariat Kabinet Tahun 2014 tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.2
Penetapan Kinerja Sekretariat Kabinet Tahun 2014
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Program Anggaran
(1) (2) (3) (4) (5) 1. Terwujudnya peningkatan kualitas hasil analisis kebijakan 1. Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu
97% Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Kepada Presiden Selaku Kepala Pemerintahan Rp9.296.245.000,00 2. Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh pemerintah 97% 2. Terwujudnya peningkatan kualitas penyelesaian Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, dan Instruksi Presiden 1. Persentase penyelesaian Rancangan Peraturan Presiden, Rancangan Keputusan Presiden, dan Rancangan Instruksi Presiden secara tepat waktu
97% Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Kepada Presiden Selaku Kepala Pemerintahan Rp567.455.000,00
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Program Anggaran
(1) (2) (3) (4) (5) 2. Persentase Rancangan Peraturan Presiden, Rancangan Keputusan Presiden, dan Rancangan Instruksi Presiden yang ditindaklanjuti 97% 3. Terwujudnya peningkatan kualitas pengelolaan persidangan kabinet 1. Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap penyelenggaraan sidang kabinet A Penyelenggaraan Dukungan Kebijakan Kepada Presiden Selaku Kepala Pemerintahan Rp11.900.000.000, 2.Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap risalah sidang kabinet B 4. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan administrasi aparatur yang wewenang penetapannya di tangan Presiden 1. Kecepatan penyiapan dan penyelesaian Keppres tentang: Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan fungsional jenjang utama kepangkatan kenaikan pangkat pengabdian dan pensiun pemberhentian dan pensiun 15 hari 15 hari 25 hari 40 hari 25 hari Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Sekretariat Kabinet Rp900.000.000,00
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Program Anggaran
(1) (2) (3) (4) (5) 2. Akurasi/ketepatan Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden 100% 3. Persentase tingkat kepuasan stakeholder terhadap penyelesaian Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden 85% 5. Terwujudnya peningkatan layanan sistem informasi yang responsif dan transparan 1. Persentase keberlangsungan layanan (Continuity of service) 99% Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Sekretariat Kabinet Rp1.575.800.000,00 2. Jumlah pengakses layanan data dan informasi Sekretariat Kabinet
6.098.730 pengakses
3. Jumlah pendownload
layanan data/ informasi Sekretariat Kabinet 771.057 pendownload 4. Tingkat kepuasan pengakses terhadap layanan website Sekretariat Kabinet 90%
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
Ikhtisar Indikator Kinerja Utama (IKU) Sekretariat Kabinet
Tahun 2014
Indikator kinerja utama (IKU) merupakan ukuran keberhasilan yang menggambarkan kinerja utama instansi pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsi serta mandat (core business) yang diemban. IKU dipilih dari seperangkat indikator kinerja yang berhasil diidentifikasi dengan memperhatikan proses bisnis organisasi dan kriteria indikator kinerja yang baik.
Sekretariat Kabinet telah melakukan beberapa kali perubahan/ penyempurnaan rencana strategis (Renstra). Perubahan Renstra ini mencakup juga perubahan atau penyempurnaan rumusan sasaran dan indikator yang selanjutnya juga berpengaruh pada formulasi Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi tolok ukur keberhasilan Sekretariat Kabinet. IKU Sekretariat Kabinet selama beberapa tahun telah mengalami perubahan yang dinamis secara terus menerus dan berkelanjutan. Penetapan IKU tahun 2014 didasarkan pada dokumen Renstra Revisi Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014 (baik revisi I maupun II) maupun dokumen perencanaan kinerja dan penetapan kinerja tahun 2014.
Setelah dilakukan reviu terhadap penetapan IKU Sekretariat Kabinet, ditetapkan bahwa sejumlah IKU tahun 2014 sama dengan IKU tahun 2013, namun terdapat perubahan mendasar dimana pada tahun 2014 sejumlah indikator terkait pengukuran ketepatan waktu tidak lagi dijadikan IKU sebagaimana halnya pada tahun 2013. Sebagian besar IKU merupakan indikator yang dipertimbangkan bersifat outcome seperti indikator “yang ditindaklanjuti” dan indikator “tingkat kepuasan”. Selain itu, terdapat perubahan indikator pada sasaran ketiga terkait penyelenggaraan sidang kabinet yaitu penggantian indikator terkait pengukuran ketepatan waktu dengan indikator pengukuran tingkat kepuasan. Sehingga pada tahun 2014 terdapat 4 (empat) indikator tingkat kepuasan yang terdapat dalam 3(tiga) sasaran strategis yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sasaran-sasaran strategis Sekretariat Kabinet.
Gambaran perbandingan IKU Sekretariat Kabinet tahun 2013 dengan 2014 tersebut dapat dilihat pada skema berikut:
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
Tabel 2.3
Perbandingan IKU Sekretariat Kabinet Tahun 2013 dan 2014
IKU 2013 IKU 2014
1. a. Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu (tidak dijadikan IKU pada tahun 2014)
b. Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah
1. Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah
2. a. Persentase penyelesaian RPerpres, RKeppres, dan RInpres secara tepat waktu (tidak dijadikan IKU pada tahun 2014)
b. Persentase RPerpres, RKeppres, dan RInpres yang ditindaklanjuti
2. Persentase RPerpres, RKeppres, dan RInpres yang ditindaklanjuti
3. a. Persentase penyelesaian hasil sidang kabinet secara tepat waktu (tidak dijadikan IKU pada tahun 2014)
b. Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap penyelenggaraan sidang kabinet
3. a. Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap penyelenggaraan sidang kabinet b. Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet
terhadap risalah sidang kabinet(indikator baru di tahun 2014)
4. a. Kecepatan penyiapan dan penyelesaian Keppres tentang:
Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I
Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan jenjang utama
Kepangkatan
Kenaikan pangkat pengabdian dan pensiun
Pemberhentian dan pensiun
4. a. Kecepatan penyiapan dan penyelesaian Keppres tentang:
Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I
Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan jenjang utama
Kepangkatan
Kenaikan pangkat pengabdian dan pensiun
Pemberhentian dan pensiun b. Akurasi/ketepatan Keppres tentang
pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden
b. Akurasi/ketepatan Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden
c. Persentase tingkat kepuasan stakeholder
terhadap penyelesaian Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden
c. Persentase tingkat kepuasan stakeholder
terhadap penyelesaian Keppres tentang pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya di tangan Presiden
Laporan Kinerja (LKj) Sekretariat Kabinet 2014
IKU 2013 IKU 2014
5. a. Persentase keberlanjutan pelayanan (continuity of service) (tidak dijadikan IKU pada tahun 2014)
b. Jumlah pengakses layanan data/ informasi
c. jumlah pen-download layanan data/ informasi Sekretariat Kabinet
d. Tingkat kepuasan pengakses terhadap layanan website Sekretariat Kabinet
5. a. Jumlah pengakses layanan data dan informasi
b. jumlah pen-download layanan data/ informasi Sekretariat Kabinet
c. Tingkat kepuasan pengakses terhadap layanan website Sekretariat Kabinet
Laporan Kinerja merupakan media pertanggungjawaban atas target-target kinerja yang telah diperjanjikan dalam dokumen perjanjian kinerja antara pimpinan organisasi yang memberikan mandat dengan pimpinan unit organisasi dibawahnya sebagai penerima mandat (managerial accountability). Oleh karena itu, pengungkapan dan penyajian akuntabilitas kinerja dalam Laporan Kinerja harus berdasarkan pada hasil pengukuran kinerja sesuai dengan hierarki akuntabilitas kinerja yang ada.
Laporan Kinerja Sekretariat Kabinet Tahun 2014 mengungkapkan dan menyajikan akuntabilitas kinerja yang mencakup informasi keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai sasaran strategis Sekretariat Kabinet dengan menggunakan analisis atas capaian indikator hasil (outcome) yang merupakan indikator kinerja utama (IKU) Sekretariat Kabinet dan ditunjang oleh capaian indikator kinerja penunjang yang secara langsung juga memberikan kontribusi bagi pencapaian kinerja sasaran strategis Sekretariat Kabinet.
Penyajian informasi akuntabilitas kinerja dalam Laporan Kinerja ini menitikberatkan pada pencapaian sasaran strategis Sekretariat Kabinet dengan menguraikan hasil pengukuran kinerja, evaluasi dan analisis akuntabilitas kinerja, termasuk didalamnya menguraikan secara sistematis keberhasilan dan atau/kegagalan, hambatan/kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan secara langkah antisipatif yang akan diambil untuk perbaikan dan peningkatan manajemen kinerja maupun kinerja Sekretariat Kabinet secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu, Laporan Kinerja ini juga memuat informasi tentang kehematan (ekonomis), efisiensi, dan efektivitas penggunaan dana publik terhadap output yang dihasilkan dan yang dapat dirasakan oleh seluruh stakeholder Sekretariat Kabinet.
Pengukuran Kinerja
Hal terpenting yang diperlukan dalam penyusunan laporan kinerja adalah pengukuran kinerja dan evaluasi serta pengungkapan secara memadai hasil analisis terhadap pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja tersebut dimaksudkan sebagai hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja yang berupa indikator-indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak.
Pengukuran kinerja merupakan aktivitas pembandingan antara sesuatu dengan alat ukurnya. Dalam hal ini proses pengukuran kinerja merupakan suatu proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi organisasi.
Pengukuran kinerja di Sekretariat Kabinet telah dilakukan sesuai dengan peran, tugas, dan fungsi Sekretariat Kabinet, serta dilakukan secara berjenjang dari tingkatan unit kerja sampai pada tingkatan tertinggi organisasi. Guna mengatasi berbagai kerumitan pengukuran di berbagai tingkatan dan agregasinya, digunakan beberapa indikator kinerja utama (IKU) yang dipilih diantara berbagai indikator yang paling dapat mewakili dan menggambarkan apa yang diukur.
Guna mendapatkan hasil yang komprehensif, proses pengukuran kinerja selain memuat analisis capaian kinerja juga dilengkapi dengan evaluasi atas hasil capaian kinerja tersebut. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui progress realisasi kinerja yang dihasilkan maupun kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mencapai sasaran, serta menilai efisiensi, efektivitas, keekonomisan maupun perbedaan kinerja (gap), sebagai umpan balik untuk mengetahui pencapaian implementasi perencanaan strategis maupun perencanaan kinerja.
Pengukuran dan analisis kinerja yang dilakukan pada tingkat Sekretariat Kabinet terbatas pada pencapaian sasaran-sasaran strategis Sekretariat Kabinet. Dengan demikian, Laporan Kinerja Sekretariat Kabinet hanya melaporkan hal-hal
yang penting atau strategis saja, dan kemudian hal-hal yang lebih rinci dan lebih operasional dilaporkan oleh unit kerja eselon I atau eselon II dibawahnya.
Pengukuran atas pencapaian sasaran strategis dalam Laporan Kinerja Sekretariat Kabinet Tahun 2014 menggunakan 2 (dua) rumus yang disesuaikan dengan karakteristik komponen realisasinya1, yaitu:
1. Semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik, digunakan rumus:
Rumus 1 ini digunakan untuk mengukur pencapaian indikator kinerja terkait “ketepatan substansi/yang ditindaklanjuti” pada sasaran 1 dan 2, indikator pengukuran kepuasan pada sasaran 3, 4 dan 5, indikator tentang akurasi pada sasaran 4, serta indikator terkait pengukuran pengakses dan pendownload
dan continuity of service pada sasaran 5.
2. Semakin tinggi realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja, digunakan rumus:
Rumus 2 ini digunakan untuk mengukur pencapaian indikator kinerja yang terkait dengan “pengukuran ketepatan waktu/berkas yang tepat waktu/ kecepatan” pada sasaran 1, 2, dan 4.
1
Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2003), h. 23.
Rumus 2
Persentase pencapaian Realisasi rencana tingkat capaian
Rencana – (Realisasi – Rencana)
= × 100%
Rencana Persentase pencapaian Realisasi rencana tingkat capaian
Realisasi
= × 100%
Penilaian atas capaian kinerja Sekretariat Kabinet tahun 2014 menggunakan kategori capaian kinerja dengan skala ordinal, sebagaimana yang ditetapkan pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.1
Kategori Pencapaian Kinerja
No. Rentang Capaian Kinerja Kategori Capaian Kinerja Kategori Capaian Penggolongan
1. ≥ 100 Memuaskan Biru
2. 85 % - <100 % Sangat Baik Hijau
3. 70 % - < 85 % Baik Oranye
4. 55 % - < 70 % Cukup Kuning
5. < 55 % Kurang Baik Merah
Capaian Kinerja Tahun 2014
A. Capaian Kinerja Jangka Menengah (Capaian Renstra) Sekretariat Kabinet Tahun
2010—2014
Pencapaian tujuan Sekretariat Kabinet dapat digambarkan melalui capaian sasaran-sasaran strategisnya selama periode jangka menengah maupun jangka panjang. Tahun 2014 merupakan tahun terakhir pelaksanaan Renstra Sekretariat Kabinet 2010—2014. Oleh karena itu, perlu diungkapkan informasi kinerja terkait resume/rekapitulasi pencapaian tujuan jangka menengah 2010—2014.
Pencapaian tujuan tersebut dapat digambarkan dalam capaian beberapa indikator sasaran strategis Renstra Sekretariat Kabinet selama periode 5 (lima) tahun terakhir yaitu 2010—2014, yang digambarkan dengan uraian sebagai berikut:
Tabel 3.2
Capaian Kinerja Renstra untuk Periode 2010—2014
No Indikator Kinerja Sasaran Strategis
Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013 2014
1 Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu
102,45 110,36 88,73 102,67 102,08
2 Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah
105,2 106,45 96,30 104,17 101,36
3 Persentase penyelesaian RPerpres, RKeppres, dan RInpres secara tepat waktu
107,82 111,36 105,47 104,17 103,09
4 Persentase RPerpres,
RKeppres, dan RInpres yang ditindaklanjuti
108,21 107,52 105,47 103,26 102,74
5 Persentase penyelesaian hasil sidang kabinet secara tepat waktu
(pengukuran indikator ini hanya sampai tahun 2013)
122,33 119 103,69 98,57 -
6 Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap penyelenggaraan sidang kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2012)
- - 99,20 94,54 93,31
7 Tingkat kepuasan peserta sidang kabinet terhadap risalah sidang kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2014)
No Indikator Kinerja Sasaran Strategis
Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013 2014
8 Kecepatan penyiapan dan
penyelesaian Keppres tentang
Pengangkatan dan
pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I
97,73
136 151,13 152 140,26
Pengangkatan dan
pemberhentian dalam jabatan fungsional jenjang utama 85,33 83,87 98,33 120,53 Kepangkatan 76,60 117,04 121,88 109,12 132,80 Kenaikan pangkat
pengabdian dan pensiun 8 90,80 76,18 111,17
Pemberhentian dan pensiun 43,20 99,28 40,52 114,24 9 Akurasi/ketepatan Keppres tentang Pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan struktural eselon I
99,99
99,99 99,75 100 100
Pengangkatan dan
pemberhentian dalam jabatan fungsional jenjang utama 99,79 99,75 100 100 Kepangkatan 103,47 104,63 99,32 99,75 99,83 Kenaikan pangkat
pengabdian dan pensiun 102,17 98,12 99,55 99,06
Pemberhentian dan
pensiun 104,93 99,35 99,15 98,88
yang wewenang
penetapannya di tangan Presiden
No Indikator Kinerja Sasaran Strategis
Capaian Kinerja (%)
2010 2011 2012 2013 2014
10 Persentase tingkat kepuasan
stakeholder terhadap
penyelesaian Keppres tentang pengangkatan dan
pemberhentian dalam jabatan pemerintahan, kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang
penetapannya di tangan Presiden
(indikator ini baru ada di tahun 2012)
- - 86,10 90,42 88,73
11 Persentase keberlanjutan
layanan (continuity of service) 99,99 100 100,67 98,90 100,45
12 Jumlah pengakses layanan data dan informasi Sekretariat Kabinet
178,06 122,03 212,29 328,02 183,58
13 Jumlah pen-download layanan
data /informasi Sekretariat Kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2012)
- - 383,55 124,80 76,27
14 Tingkat kepuasan pengakses terhadap layanan website
Sekretariat Kabinet
(indikator ini baru ada di tahun 2013)
Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa capaian kinerja Sekretariat Kabinet selama 5 (lima) tahun terakhir cukup dinamis namun masih menunjukkan trend positif ke arah peningkatan capaian kinerja. Secara umum rata-rata capaian indikator
kinerja utama dan indikator kinerja penunjang cukup memuaskan, dan apabila terdapat penurunan hal itu disebabkan adanya peningkatan target yang cukup subtansial dibandingkan tahun sebelumnya sehingga
mempengaruhi angka capaian. Selain itu, terdapat kondisi lain yang mempengaruhi besaran capaian kinerja antara lain perbedaan/perubahan metode dan instrumen pengukuran, perluasan cakupan kinerja yang diukur, peningkatan requirement/persyaratan kinerja, dan lain-lain.
Apabila dianalisis lebih lanjut, dari sejumlah indikator kinerja utama dan indikator kinerja penunjang yang menjadi ukuran keberhasilan pencapaian 5 (lima) sasaran strategis Sekretariat Kabinet, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan pencapaian kinerja yang cukup stabil yaitu indikator kinerja terkait penyelesaian RPerpres, RKeppres, dan RInpres (baik secara tepat waktu maupun ditindaklanjuti), indikator terkait akurasi/ ketepatan Keppres tentang kepangkatan, pemberhentian dan pensiun PNS yang wewenang penetapannya berada di tangan Presiden serta indikator tentang continuity of service. Indikator-indikator tersebut pencapaiannya selalu berada dalam kategori memuaskan dan apabila terdapat penurunan capaian masih berada dalam kisaran ≤5%.
Mengingat tahun 2014 merupakan tahun terakhir pelaksanaan Renstra Sekretariat Kabinet, perlu dilakukan upaya pembandingan kinerja antar tahun selama kurun waktu 5 (lima) tahun tersebut guna memperoleh
baseline data dan informasi kinerja yang memadai sebagai bahan perbaikan
perencanaan kinerja, rujukan pelaksanaan program dan kegiatan serta bahan
Capaian kinerja Sekretariat
Kabinet selama 5 (lima) tahun
terakhir cukup dinamis, namun
menunjukkan trend yang positif
ke arah peningkatan capaian
kinerja.
evaluasi bagi pengambilan kebijakan pimpinan organisasi. Terkait pembandingan kinerja tersebut terdapat beberapa indikator kinerja yang hanya dapat dilakukan pembandingan 1—2 tahun saja karena indikator-indikator tersebut merupakan indikator-indikator baru yaitu indikator-indikator-indikator-indikator terkait pengukuran kepuasan. Namun demikian, penetapan indikator pengukuran kepuasan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pengukuran pencapaian sasaran strategis agar lebih mencerminkan outcome Sekretariat Kabinet. Ke depan, Sekretariat Kabinet akan berupaya untuk memetakan dan menetapkan indikator-indikator kinerja yang lebih mencerminkan pencapaian outcome-outcome dari sasaran strategis Sekretariat Kabinet.
Sejumlah upaya telah dilakukan Sekretariat Kabinet dalam rangka peningkatan capaian kinerja jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Upaya tersebut antara lain berupa benchmarking terhadap best
practices pelaksanaan SAKIP dari Kementerian/Lembaga lain, terutama yang
sejenis atau tipologinya mirip dengan Sekretariat Kabinet dan melakukan perbaikan terhadap manajemen kinerja Sekretariat Kabinet secara terus-menerus dan berkesinambungan.
B. Capaian Kinerja Sekretariat Kabinet Tahun 2014
Pengukuran atas capaian kinerja Sekretariat Kabinet tahun 2014 dilakukan dengan membandingkan antara target (rencana) dengan realisasi indikator kinerja utama (IKU) maupun indikator-indikator penunjangnya yang menggambarkan keberhasilan pencapaian sasaran strategis Sekretariat Kabinet dari perspektif stakeholder maupun business process Sekretariat Kabinet, melalui penilaian sendiri (self assessment). Penjelasan tentang capaian setiap sasaran strategis Sekretariat Kabinet adalah sebagai berikut:
Capaian sasaran pertama diukur melalui pengukuran terhadap indikator kinerja utama (IKU) tentang persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh pemerintah dan didukung dengan indikator kinerja penunjang yaitu persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu.
Uraian mengenai pencapaian sasaran pertama adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Penunjang dari Sasaran Pertama
Indikator Kinerja Utama Target Realisasi % Capaian
Kategori Capaian Kinerja
Indikator Kinerja Utama
1.Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah
97% 98,33% 101,36 Memuaskan
Indikator Kinerja Penunjang
2.Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu
97% 98,95% 102,08 Memuaskan
Capaian IKU dan capaian indikator kinerja penunjang dari sasaran pertama dihitung menggunakan rumus 1. Berdasarkan kategori pencapaian kinerja, dapat dinyatakan bahwa pencapaian IKU untuk sasaran ini dikategorikan memuaskan begitu juga dengan pencapaian indikator kinerja penunjangnya.
Sasaran 1
Terwujudnya Peningkatan
Kualitas Hasil Analisis
Kebijakan
Apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 memang ada sedikit penurunan capaian masing-masing sebesar 0,67% dan 2,94%. Namun demikian, perlu dipertimbangkan bahwa pada tahun 2014 terdapat peningkatan target sebesar 1% dan ditambah dengan jumlah berkas kebijakan yang ditangani oleh Sekretariat Kabinet jauh lebih besar atau mengalami peningkatan sebesar 112,53% dibandingkan tahun 2013.
Uraian lebih lanjut tentang analisis capaian IKU sasaran pertama adalah sebagai berikut:
1. Formulasi IKU
Guna mencapai target kinerja yang telah ditetapkan, IKU “Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah”, diformulasikan dengan menggunakan perhitungan berikut:
Saran kebijakan yang dimaksud disini adalah saran kebijakan yang disampaikan oleh Sekretariat Kabinet kepada Pemerintah yaitu Presiden maupun Kementerian/Lembaga dan selanjutnya saran kebijakan tersebut ditindaklanjuti apabila saran tersebut tepat secara substansi dan ditindaklanjuti atau direspon positif oleh pemerintah atau dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
IKU
Persentase
Saran
Kebijakan
yang
Ditindaklanjuti oleh Pemerintah
Saran kebijakan yang ditindaklanjuti
Saran kebijakan yang disampaikan
2. Pencapaian IKU
Peningkatan kualitas hasil analisis kebijakan bersumber dari pelaksanaan fungsi Sekretariat Kabinet sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Kabinet. Kualitas hasil analisis tersebut dilihat dari hasil analisis perumusan rencana kebijakan maupun pemantauan, evaluasi, dan analisis atas pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah, yang menghasilkan saran kebijakan dan difokuskan pada beberapa bidang yaitu bidang politik, hukum dan keamanan, perekonomian, dan kesejahteraan rakyat. Hal tersebut lebih lanjut merupakan bagian dari penyelenggaraan pengelolaan dan pengendalian manajemen kabinet.
Saran kebijakan atas kebijakan dan program pemerintah, tidak semata rencana kebijakan dan program pemerintah yang akan dibentuk dan diwadahi dengan peraturan perundang-undangan. Namun, terdapat saran kebijakan atas rencana kebijakan dan program pemerintah dengan cakupan luas antara lain dalam bentuk Sekretariat Kabinet menyampaikan laporan/ rekomendasi dan pertimbangan kepada stakeholder untuk menindaklanjuti suatu permasalahan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah. Gambaran terakhir dapat juga mencerminkan bahwa Sekretariat Kabinet merupakan institusi yang menjembatani dan memfasilitasi usulan dan permasalahan yang disampaikan stakeholder kepada Presiden selaku penyelenggara pemerintahan.
Pengukuran pencapaian sasaran pertama ini mempunyai konsekuensi lanjutan apabila saran kebijakan dimaksud pada proses berikutnya ditetapkan dalam suatu peraturan perundang-undangan khususnya Perpres, Keppres, dan Inpres. Dengan demikian, dalam pengukuran pencapaiannya akan digambarkan bahwa terdapat beberapa dokumen/laporan saran kebijakan hasil analisis terkait yang memberikan kontribusi terhadap pencapaian sasaran kedua Sekretariat Kabinet, yakni “Terwujudnya
peningkatan kualitas penyelesaian Perpres, Keppres, dan Inpres”. Dengan adanya konsekuensi ini akan terlihat bahwa terdapat pencapaian
kinerja lintas sasaran. Misalnya terdapat permasalahan pelaksanaan kebijakan yang disampaikan stakeholder ke Presiden melalui Sekretariat Kabinet. Pada awalnya, permasalahan dan alternatif pemecahan bersifat umum (hanya perlu penguatan, pembinaan atau koordinasi) dan tidak mengarah pada penyempurnaan atau mengeluarkan suatu kebijakan dalam suatu perundang-undangan (Perpres, Keppres, dan Inpres). Namun, dalam proses pembahasannya ditemukan permasalahan yang solusi pemecahannya perlu diwadahi oleh peraturan perundang-undangan (Perpres, Keppres, dan Inpres).
Lebih lanjut, saran kebijakan atas perumusan kebijakan dan program pemerintah meliputi pula kontribusi Sekretariat Kabinet dalam pengambilan kebijakan melalui penyusunan Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Menteri/LPNK, Peraturan Daerah (Perda) dan Keputusan Kepala Daerah. Berdasarkan ilustrasi tersebut, terdapat saran kebijakan atas perumusan kebijakan yang memberi kontribusi terhadap sasaran pertama dan sasaran kedua Sekretariat Kabinet
Saran kebijakan yang disampaikan Sekretariat Kabinet dapat berupa tertulis dan lisan. Secara tertulis, saran kebijakan diukur berdasarkan dokumen/laporan saran kebijakan yang disampaikan kepada stakeholder. Sedangkan secara lisan, batasan ukurannya lebih luas berupa kehadiran, keikutsertaan, dan keterlibatan Sekretariat Kabinet (Sekretaris Kabinet atau lembaga) dalam suatu event penyelenggaraan pemerintahan, khususnya terkait pembahasan perumusan/rencana, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan dan program pemerintah, seperti sidang kabinet dan rapat koordinasi.
Terkait pengukuran kinerja Sekretariat Kabinet untuk sasaran ini, perlu digarisbawahi bahwa saran kebijakan yang diukur dalam laporan kinerja ini adalah saran kebijakan yang disampaikan dalam bentuk tertulis sedangkan saran kebijakan dalam bentuk lisan meskipun ada namun karena sulit diukur dan sulit dibuktikan evidence-nya, maka tidak diikutsertakan dalam pengukuran kinerja untuk sasaran pertama.
Tidak dipungkiri bahwa suatu kebijakan dan program pemerintah dalam pembahasannya melibatkan beberapa unsur institusi yang salah satunya adalah Sekretariat Kabinet. Dengan demikian, saran kebijakan yang disampaikan Sekretariat Kabinet dan ditindaklanjuti/disetujui sangat sulit
di-trace. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dengan telah tersampaikannya
saran kebijakan Sekretariat Kabinet kepada stakeholder maka Sekretariat Kabinet telah berkontribusi pada pembentukan suatu kebijakan dan program pemerintah.
Saran kebijakan program pemerintah dapat dikatakan berkualitas apabila saran tersebut tepat secara substansi dan ditindaklanjuti atau direspon positif oleh pemerintah. Ukuran ketepatan saran kebijakan dilihat berdasarkan presentase saran kebijakan kepada Pemerintah yang dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Terminologi Pemerintah disini mengacu kepada penyelenggara pemerintahan yang didalamnya terdiri dari Presiden maupun Kementerian/ Lembaga. Dalam hal ini, IKU Sasaran Strategis Pertama yang berbunyi “Persentase saran kebijakan yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah”, dimaksudkan bahwa sebesar 97% dari keseluruhan jumlah saran kebijakan yang diberikan kepada Pemerintah telah ditindaklanjuti.
Adapun rincian target dan realisasi saran kebijakan yang ditindaklanjuti tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Rincian Realisasi dan Capaian Saran Kebijakan yang Ditindaklanjuti (Outcome) Tahun 2014
Klasifikasi per Bidang Jumlah Berkas
Target (97%)
Realisasi % Bidang Politik, Hukum, dan
Keamanan 525 509 525 103,14
Bidang Perekonomian 397 385 397 103,12 Bidang Kesejahteraan Rakyat 517 502 493 98,20
Berdasarkan data dari tabel di atas, dari jumlah berkas masuk yang ditangani Sekretariat Kabinet sebanyak 1.439 berkas dan ditargetkan 97%nya dapat ditindaklanjuti atau 1.396 berkas, ternyata dapat direalisasikan sebanyak 1.415 berkas yang ditindaklanjuti (98,33%) sehingga capaiannya adalah 101,36%.
Apabila dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 2013, terlihat seperti adanya penurunan capaian sebesar 2,81% (capaian tahun 2013 sebesar 104,17%). Namun jika dianalisis lebih lanjut, hal tersebut tidak dapat semerta-merta dikatakan sebagai penurunan kinerja mengingat target yang ditetapkan tahun 2014 meningkat sebesar 1% jika dibandingkan tahun 2013. Selain itu, jumlah berkas yang ditangani di tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 809 berkas atau 128,41%.
Gambaran rinci terhadap realisasi penanganan berkas saran kebijakan yang ditindaklanjuti selama tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.5
Rekapitulasi Realisasi Penanganan Saran Kebijakan Tahun 2014
Bulan Jumlah Berkas Jumlah Berkas yang Ditindaklanjuti Persentase Realisasi (%) Januari 100 98 98 Februari 134 129 96,27 Maret 128 127 99,22 April 141 139 98,58 Mei 92 91 98,91 Juni 111 110 99,09 Juli 117 116 99,14 Agustus 123 116 94,30 September 141 139 98,58 Oktober 133 133 100 November 112 111 99,10 Desember 107 106 99,06 Total 1.439 1.415 98,33
Perkembangan pencapaian sasaran dapat diketahui melalui perbandingan dengan kinerja tahun-tahun sebelumnya. Berikut adalah perbandingan target, realisasi, dan capaian IKU sasaran pertama untuk tahun 2010—2014.
Gambar 3.1
Perbandingan IKU Sasaran Pertama Tahun 2010—2014
Berdasarkan data pada gambar di atas dapat dinyatakan bahwa secara umum realisasi dan capaian IKU sasaran pertama ini cukup dinamis dan rata-rata capaian melebihi 100% kecuali untuk tahun 2012. Oleh karena itu perlu terus diupayakan peningkatan kualitas pemberian saran kebijakan tersebut melalui monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program dan kegiatan terkait sasaran pertama tersebut dan ditunjang koordinasi secara intensif dengan pihak eksternal yang terkait.
Terkait IKU ini, Sekretariat Kabinet berupaya untuk mengkonfirmasi tindak lanjut atas saran yang disampaikan khususnya kepada Kementerian/ Lembaga terkait baik melalui korespondensi/surat-menyurat, pertemuan/ rapat koordinasi maupun media lain. Dalam hal ini dilakukan verifikasi secara seksama terhadap berkas saran kebijakan yang disampaikan kepada
ditindaklanjuti. Sebagaimana arahan Presiden, Sekretariat Kabinet berupaya lebih proaktif dalam merespon permasalahan pelaksanaan kebijakan dan program pemerintah.
Dalam hal penyelenggaraan manajemen kabinet yang menjadi fungsi Sekretariat Kabinet, Sekretariat telah memberikan kontribusi yang memadai. Bentuk kontribusi tersebut berupa
surat edaran atau surat kepada Kementerian Lembaga yang berisikan tentang Kebijakan Program/ Pemerintah. Penerbitan Surat Edaran Sekretaris Kabinet ini mempunyai tujuan:
a. memastikan seluruh arahan Presiden dapat dilaksanakan dengan baik oleh seluruh anggota kabinet;
b. mengkritisi kinerja kementerian/lembaga; serta
c. meluruskan pemberitaan negatif terhadap pemerintah.
Selama tahun 2012—2014, Sekretaris Kabinet telah menerbitkan 35 (tiga puluh lima) Surat Edaran yang ditujukan kepada pimpinan Kementerian/Lembaga dengan rincian lengkap dapat dilihat pada lampiran dalam laporan kinerja ini. Berikut akan diberikan contoh beberapa Surat Edaran Sekretaris Kabinet yang cukup menonjol, mempunyai arti penting yang cukup signifikan bagi stakeholders Sekretariat Kabinet atau mempunyai dampak luas di masyarakat.
1. SE.8/Seskab/I/2012 tentang Percepatan Proses Penyelesaian RPerpres, RKeppres, dan RInpres.
2. SE.542/Seskab/IX/2012 tentang Pengawalan APBN 2013—2014 dengan Mencegah Praktik Kongkalikong.
3. SE.592/Seskab/XI/2012 tentang Permintaan agar semua Kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) membatasi pengajuan program/proyek dengan menggunakan fasilitas pinjaman luar
Sekretaris Kabinet menerbitkan
Surat Edaran untuk memastikan
agar arahan Presiden dapat
dilaksanakan dengan baik oleh
seluruh anggota kabinet
negeri, termasuk hibah yang mengikat seperti adanya “commitment fee”, dana pendampingan murni yang akan membebani APBN dan APBD.
4. SE.03/Seskab/IV/2013 tentang Penanganan Masalah dan Potensi Konflik Sengketa Lahan.
5. SE.08/Seskab/VI/2013 tentang Pemberian Penjelasan terhadap Isu-Isu yang Berkembang di Masyarakat Terkait dengan Kenaikan BBM.
6. SE.11/Seskab/VIII/2013 tentang Langkah-Langkah Pasca Pengumuman Paket Kebijakan Pencegahan Krisis Ekonomi.
7. SE.03/Seskab/II/2014 tentang Persiapan Menghadapi Pemilihan Umum 2014.
8. SE.04/Seskab/III/2014 tentang Perjalanan Dinas Luar Negeri dan Penyelesaian Program Kerja Kementerian/Lembaga
9. SE.05/Seskab/V/2014 tentang Mencegah Kebijakan yang Berpotensi Menimbulkan Kontroversi.
10. SE.10/Seskab/IX/2014 tentang Koordinasi dan komunikasi dengan Tim Transisi Presiden Terpilih Periode 2014—2019.
11. SE.12/Seskab/XI/2014 tentang Rapat/Pertemuan Jajaran Pemerintah dengan DPR.
12. SE.17/Seskab/XII/2014 tentang Pengajuan Usulan Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pejabat Pimpinan Tinggi Utama dan Pimpinan Madya.
Selain capaian IKU di atas, yang tidak kalah penting adalah capaian indikator kinerja penunjang yang punya kontribusi besar dalam mendukung/ menunjang pencapaian sasaran kedua, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Formulasi Indikator Kinerja
Guna mencapai target kinerja yang telah ditetapkan, indikator kinerja “Persentase penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah secara tepat waktu” diformulasikan dengan menggunakan perhitungan berikut:
Saran kebijakan yang diselesaikan tepat waktu didefinisikan sebagai saran kebijakan yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari atau sama dengan target tenggat waktu penyelesaian yang ditetapkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) Sekretariat Kabinet yaitu 11 (sebelas) hari. Saran kebijakan tersebut tersebut dibandingkan terhadap jumlah seluruh saran kebijakan yang disampaikan kepada pemerintah/stakeholders.
2. Pencapaian Indikator Kinerja
Pemberian saran kebijakan dilakukan melalui dua cara, yaitu top down
dan bottom up. Secara top down ditentukan melaksanakan disposisi/arahan
Presiden dan/atau Sekretaris Kabinet, sedangkan secara bottom up artinya ide awal pelaksanaannya diprakarsai/inisiatif unit-unit kerja dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku. Pelaksanaan kegiatan tersebut dapat pula dilakukan berdasarkan inisiatif/undangan dari instansi dan/atau pemerintah daerah yang terkait erat dengan substansi kebijakan dan program pemerintah yang akan dipantau.
Saran kebijakan yang diselesaikan tepat waktu
Saran kebijakan yang disampaikan
X 100%
Indikator Kinerja Penunjang
Persentase Penyelesaian Hasil Analisis
Kebijakan Program Pemerintah secara
Tepat Waktu
Terkait dengan penghitungan berkas hasil analisis/saran kebijakan, terdapat ketentuan dalam pengukuran kecepatan penyelesaian saran kebijakan yang akan dijadikan dasar dalam menghitung jumlah berkas yang diselesaikan tepat waktu, yaitu sebagai berikut:
a. Top Down, yang diukurmulai adanya disposisi/arahan Presiden dan/atau
Sekretaris Kabinet sampai dengan diserahkannya saran kebijakan kepada stakeholder.
b. Bottom Up, yang diukur mulai adanya ide awal atau pemantauan yang
diprakarsai oleh unit kerja sampai dengan diserahkannya hasil pemantauan dalam bentuk saran kebijakan kepada stakeholder.
Waktu penyelesaian berkas hasil analisis kebijakan program pemerintah dihitung dengan menggunakan metode rata-rata sederhana. Perhitungan tersebut melibatkan populasi seluruh penyelesaian saran kebijakan dimaksud, yang dihitung setiap bulan guna memperoleh rata-rata dari data keseluruhan. Rincian berkas penyelesaian hasil analisis kebijakan program pemerintah sebagaimana tabel sebagai berikut:
Tabel 3.6
Rekapitulasi Penyelesaian Hasil Analisis Kebijakan Pemerintah Tahun 2014
Bulan Jumlah Berkas Berkas Tepat Waktu Berkas Tidak Tepat Waktu (%) Januari 100 100 - 100 Februari 134 134 - 100 Maret 128 125 3 97,5 April 141 140 1 99,18 Mei 92 91 1 98,85 Juni 111 111 - 100 Juli 117 116 1 99,08 Agustus 123 123 - 100 September 141 139 2 98,50 Oktober 133 132 1 99,19 November 112 111 1 99,09 Desember 107 103 4 96,26 Jumlah 1.439 1.425 14 99,02
Berdasarkan tabel di atas, realisasi penyelesaian hasil analisis kebijakan yang secara tepat waktu sebesar 99,02%. Mengingat target yang ditetapkan adalah 97% maka capaiannya adalah 102,08%. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013), terjadi peningkatan realisasi sebesar 0,45%, namun apabila dibandingkan dengan capaian maka terjadi penurunan sebesar 0,59%. Hal ini bukan berarti terjadi penurunan kinerja mengingat terjadi peningkatan target dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1%.
Tahun 2014 merupakan tahun kelima pelaksanaan Renstra Sekretariat Kabinet Tahun 2010—2014. Dalam hal ini data realisasi dan capaian selama kurun waktu 5 (lima) tahun tersebut bisa dijadikan baseline data untuk perbaikan perencanaan pada tahun-tahun berikutnya.
Berikut ini akan disajikan data distribusi penyelesaian hasil analisis kebijakan per bidang dalam manajemen kabinet yang ditangani Sekretariat Kabinet, sebagai berikut:
Tabel 3.7
Jumlah Berkas Penyelesaian Hasil Analisis Kebijakan Pemerintah Per Bidang Tahun 2014
No. Klasifikasi per Bidang Jumlah Berkas Waktu Tepat Tidak Tepat Waktu (%) 1. Bidang Politik, Hukum, dan
Keamanan 525 525 - 100
2. Bidang Perekonomian 397 394 3 99,24 3. Bidang Kesejahteran Rakyat 517 506 11 97,87
Total 1.439 1.425 14 99,02
Rincian distribusi waktu penyelesaian berkas hasil analisis kebijakan dimaksud secara lebih detail berdasarkan time-frame SOP dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.8
Distribusi Waktu Penyelesaian Berkas Hasil Analisis Kebijakan Tahun 2014
Klasifikasi per Bidang
Distribusi Waktu Penyelesaian dan Penyampaian Berkas Saran Kebijakan
Total Sesuai SOP
> 12 hari < 4 hari 5 -11 hari
Bidang Politik, Hukum dan Keamanan 420 brks (80%) 105 brks (20%) - 525 Bidang Perekonomian 224 brks (15,2%) 170 brks (42,82%) 3 brks (0,76%) 397 Bidang Kesejahteran Rakyat - 506 brks
(97,87%) 11 brks (2,13%) 517 Total 644 brks (44,76%) 781 brks (54,27%) 14 brks (0,97%) 1.439 brks
Secara umum penyelesaian berkas hasil analisis kebijakan tersebut secara rata-rata tidak melampaui target hari penyelesaian berdasarkan SOP (11 hari). Adanya penyelesaian beberapa berkas hasil analisis kebijakan yang melebihi target dalam SOP disebabkan oleh beberapa faktor antara lain permasalahan yang dipantau, dianalisis, dan dievaluasi mempunyai karakteristik khusus sehingga respon dan penyelesaiannya berbeda-beda. Terdapat pemantauan, analisis dan evaluasi kebijakan dilakukan atas substansi yang bersifat cross cutting issues atau lintas bidang dan pendekatan yang dilakukan bukan satu bidang saja. Dengan demikian, laporan yang disampaikan bersifat menyeluruh, tuntas dan konklusif sehingga memerlukan waktu penyelesaian yang lebih lama.
Berdasarkan tabel di atas, terdapat 1.425 berkas (99,02%) berkas hasil analisis kebijakan pemerintahan yang dapat diselesaikan dalam waktu ≤ 11 (sebelas) hari. Saran tersebut dapat diselesaikan dengan cepat karena dalam merumuskan saran kebijakan tidak diperlukan koordinasi yang melibatkan banyak stakeholder, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan suatu saran kebijakanpun relatif singkat dan dalam batas waktu penyelesaian
yang telah ditentukan. Saran tersebut dapat dilaksanakan dalam kategori cepat juga dikarenakan saran tersebut termasuk dalam kategori prioritas bagi pimpinan, sehingga harus segera ditangani dengan cepat (Quick Respon). Selanjutnya, terdapat 14 berkas (0,97%) yang membutuhkan waktu penyelesaian > 12 (dua belas) hari. Hal tersebut terjadi, karena analisis yang dihasilkan dalam proses memerlukan pembahasan lintas sektor. Selain itu, terdapat analisis yang bersifat bottom up dengan ide dasar berasal dari pemantauan secara terus menerus, sehingga membutuhkan data dan informasi yang lebih komprehensif dan mendalam (in-depth analysis).
Berdasarkan gambaran di atas, dapat diuraikan lebih lanjut bahwa waktu penyelesaian berkas tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
Target waktu berdasarkan SP, yaitu:
1) Bersifat Disposisi Prioritas, yaitu disposisi yang diberikan pimpinan/ atasan dengan mencantumkan kata “Prioritas” untuk kegiatan perumusan rencana kebijakan dan pengamatan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) hari, atau jangka waktu tertentu yang dicantumkan dalam disposisi yang penyelesaiannya didahulukan. Termasuk dalam kategori Disposisi Prioritas adalah disposisi yang mencantumkan kata “very top urgent”, “top urgent”, “urgent”, “sangat segera”, “segera” atau kata lain dengan maksud yang sama, yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari staf.
Pimpinan di lingkungan intern Sekretariat Kabinet memberikan petunjuk bersifat Disposisi Prioritas berdasarkan pertimbangan kepentingan nasional/negara dan/atau masyarakat dari segi politik, ekonomi, sosial budaya, dan/atau pertahanan keamanan bahwa saran kebijakan kebijakan pemerintah tersebut perlu diselesaikan dengan sangat segera (quick respon). Beberapa contoh saran kebijakan yang penanganannya bersifat prioritas tersebut antara lain:
Penyampaian Keputusan Terkait Perpanjangan Batas Akhir Pertanggungjawaban Keuangan serta Pengadaan Benih dan Pupuk Melalui Mekanisme Penunjukkan Langsung;
Penelaahan atas Penataan Ulang Penyediaan Pendistribusian, dan Penetapan Harga BBM;
Penyiapan Tindak Lanjut Arahan Presiden Terkait Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP);
Penyiapan Tindak Lanjut KTT APEC, KTT ASEAN, dan KTT G-20;
Penelaahan atas Percepatan Pengembangan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni, Papua Barat;
Penelaahan Pembentukan China Desk di Badan Koordinasi Penanaman Modal;
Penyempurnaan Inpres Tentang Percepatan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
2) Tidak bersifat Disposisi Prioritas, yaitu 11 (sebelas) hari.
Tingkat kompleksitas permasalahan menentukan waktu penyelesaian saran kebijakan, yaitu perlu didukung dengan kegiatan pemantauan, evaluasi, dan analisis yang komprehensif dan mendalam (
in-depth-analysis) berupa koordinasi ke kementerian, lembaga, atau pemerintah
daerah guna klarifikasi data dan informasi, analisis berdasarkan peraturan perundang-undangan terkait, dan/atau comparative studi terhadap referensi terkait (internet, buku, jurnal, dan/atau data statistik). Beberapa contoh saran kebijakan yang penanganannya memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu standar dalam SOP, antara lain:
Permohonan Izin Prakarsa Ratifikasi Persetujuan Antara RI-Republik Portugal Tentang Kerjasama Ekonomi (selesai dalam waktu 13 hari);
Penolakan Pembangunan Pembangkit Listrik Diesel di Desa Tanjung Karang, Kota Mataram-Nusa Tenggara Barat (selesai dalam waktu 13 hari);
Permohonan Konfirmasi Data Koordinat Batas Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih Dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 Tentang Penetapan Cekungan Air Tanah (selesai dalam waktu 12 hari).
Perkembangan pencapaian sasaran dapat diketahui melalui perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbandingan target, realisasi, dan capaian untuk indikator ini hanya bisa dilakukan selama tiga tahun (2012—2014) karena adanya perbedaan satuan indikator yang digunakan dalam kurun waktu 2010—2011 dengan 2012—2014 dimana pada kurun waktu 2010—2011 pengukuran realisasi ketepatan waktu menggunakan satuan hari sedangkan kurun waktu 2012—2014 menggunakan satuan persentase. Namun demikian untuk perbandingan angka capaian selama 5 (lima) tahun masih bisa dilakukan karena pada dasarnya substansi yang diukur masih sama.
Berikut adalah perbandingan target, realisasi dan capaian indikator kinerja lainnya dari sasaran kedua untuk tahun 2012—2014 dan perbandingan capaian untuk tahun 2010—2014.
Gambar 3.2
Perbandingan Indikator Kinerja Sasaran Pertama Terkait Ketepatan Waktu Tahun 2010-2014
b. Perbandingan Capaian 2010—2014
Berdasarkan 2 (dua) buah grafik pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa selama kurun waktu 5 (lima) tahun angka realisasi dan capaian dari indikator ini cukup bervariasi dengan realisasi ada pada kisaran 83%—98% sedangkan angka capaian rata-rata melebihi 100% kecuali untuk capaian tahun 2012 yang angkanya kurang dari 90%. Meskipun angka capaian pada tahun ke-5 (2014) lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (terkecuali tahun 2012), namun hal tersebut tidak dapat semerta-merta dikatakan terjadi penurunan capaian karena adanya peningkatan target dari tahun ke tahun pada kisaran 1%-2%.
Terkait kinerja tahun terakhir Renstra yaitu 2014, penurunan angka capaian sebagaimana terlihat pada gambar di atas tidak dapat dijustifikasi sebagai penurunan kinerja mengingat realisasi tahun 2014 justru mengalami peningkatan sebesar 0,38%. Disamping itu, pada tahun 2014 terdapat peningkatan target sebesar 1% dibandingkan tahun sebelumnya yang juga perlu dipertimbangkan mempengaruhi angka capaian 2014. Hal ini menunjukkan bahwa Sekretariat Kabinet telah berupaya mempercepat penanganan hasil analisis kebijakan melalui perbaikan sistem dan prosedur kerja, peningkatan dukungan sistem informasi maupun minimalisasi hambatan birokrasi.