T0
LAPORAN
NERACA PEMBAYARAN
INDONESIA
Realisasi Triwulan I 2018
Agustus 2013 Mei 2018Alamat Redaksi:
Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik
Bank Indonesia
Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 14 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350 Telepon : (021) 29815150 Faksimili : (021) 3501935 E-mail : [email protected] Website : www.bi.go.id
LAPORAN
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Realisasi Triwulan I 2018
RINGKASAN
PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA TRIWULAN I 2018
1 3
TRANSAKSI BERJALAN 3
Neraca Perdagangan Barang 4
Neraca Perdagangan Nonmigas 4
Neraca Perdagangan Migas 10
Neraca Perdagangan Jasa 11
Neraca Pendapatan Primer 12
Neraca Pendapatan Sekunder 13
TRANSAKSI MODAL DAN FINANSIAL 13
Investasi Langsung 14
Investasi Portofolio 16
Investasi Lainnya 17
INDIKATOR SUSTAINABILITAS EKSTERNAL 21
PROSPEK NERACA PEMBAYARAN INDONESIA 23
Boks 1: Perubahan Angka Statistik NPI
Dibandingkan Publikasi Triwulan IV 2017 25
LAMPIRAN 27
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Hal Hal
Tabel 1 Ekspor Nonmigas menurut Kelompok Barang
(Berdasarkan SITC)
5 Tabel 6 Perkembangan Ekspor Minyak 10
Tabel 2 Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama 5 Tabel 7 Perkembangan Impor Minyak (f.o.b) Minyak 11
Tabel 3 Perkembangan Ekspor Komoditas Nonmigas Utama
(Berdasarkan HS) 8 Tabel 8 Perkembangan Ekspor Gas 11
Tabel 4 Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Kelompok Barang 9 Tabel 10 Indikator Sustainabilitas Eksternal 20
Tabel 5 Impor Nonmigas (c.i.f) Menurut Negara Asal Utama 9
DAFTAR GRAFIK
Hal Hal
Grafik 1 Neraca Pembayaran Indonesia 3 Grafik 14 Perkembangan Investasi Langsung 14
Grafik 2 Transaksi Berjalan 4 Grafik 15 Perkembangan PMA menurut Sektor Ekonomi 15
Grafik 3 Neraca Perdagangan Nonmigas 4 Grafik 16 Perkembangan PMA menurut Negara Asal 15
Grafik 4 Pertumbuhan Ekspor Nonmigas 4 Grafik 17 Perkembangan Investasi Portofolio 16
Grafik 5 Neraca Perdagangan Migas 10 Grafik 18 Perkembangan Posisi Kepemilikan SBI & SUN
oleh Asing 16
Grafik 6 Perkembangan Harga Minyak Dunia 10 Grafik 19 Perkembangan Transaksi Asing di BEI dan IHSG 17
Grafik 7 Perkembangan Neraca Perdagangan Jasa 11 Grafik 20 Perkembangan Indeks Bursa di Beberapa Negara
ASEAN 17
Grafik 8 Pembayaran Jasa Freight 11 Grafik 21 Investasi Portofolio menurut Sektor Institusi 17
Grafik 9 Neraca Jasa Travel 12 Grafik 22 Perkembangan Investasi Lainnya 18
Grafik 10 Perkembangan Neraca Pendapatan 13 Grafik 23 Transaksi Aset Investasi Lainnya Sektor Swasta 18
Grafik 11 Perkembangan Transfer Personal 13 Grafik 24 Transaksi Kewajiban Investasi Lainnya Sektor Swasta 18
Grafik 12 Posisi Tenaga Kerja Indonesia Triwulan I 2018 13 Grafik 25 Perkembangan Pinjaman LN Sektor Publik 18
Grafik 13 Transaksi Modal dan Finansial 14
Defisit transaksi berjalan triwulan I 2018 menurun sehingga menopang ketahanan sektor
eksternal perekonomian Indonesia. Defisit transaksi berjalan tercatat USD5,5 miliar (2,1% PDB) pada
triwulan I 2018, lebih rendah dari defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai USD6,0 miliar (2,3%
PDB). Penurunan defisit transaksi berjalan terutama dipengaruhi oleh penurunan defisit neraca jasa dan
peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder. Penurunan defisit neraca jasa terutama dipengaruhi
kenaikan surplus jasa perjalanan (
travel
) seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan
menurunnya impor jasa pengangkutan (
freight
). Peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder
sejalan dengan naiknya penerimaan remitansi dari pekerja migran Indonesia. Sementara itu, surplus
neraca perdagangan nonmigas menurun terutama dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas
.
Impor
nonmigas juga menurun meski lebih terbatas, dengan impor barang modal dan bahan baku masih
berada pada level yang tinggi sejalan dengan kegiatan produksi dan investasi yang terus meningkat.
Transaksi modal dan finansial triwulan I 2018 tetap mencatat surplus di tengah tingginya
ketidakpastian di pasar keuangan global. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2018
tercatat USD1,9 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk investasi langsung yang masih cukup
tinggi. Hal ini mencerminkan tetap positifnya persepsi investor terhadap prospek perekonomian
Indonesia. Namun demikian, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2018 tercatat lebih rendah
dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya. Penurunan surplus tidak terlepas dari dampak
peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global yang kemudian mengakibatkan penyesuaian
penempatan dana asing di pasar saham dan pasar surat utang pemerintah. Penurunan surplus juga
dipengaruhi oleh komponen investasi lainnya yang tercatat defisit, terutama dipengaruhi naiknya
penempatan simpanan sektor swasta pada bank di luar negeri.
Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2018 mencatat
defisit seiring dengan menurunnya surplus transaksi modal dan finansial. Defisit NPI pada triwulan
I 2018 tercatat USD3,9 miliar. Dengan perkembangan NPI tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir
Maret 2018 tercatat sebesar USD126,0 miliar. Jumlah cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan
7,7 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.
RINGKASAN
T
r
a
n
s
a
k
si
B
e
rj
al
a
n
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2018 mengalami defisit sebesar USD3,9 miliar. Defisit NPI pada triwulan laporan ini disebabkan oleh surplus transaksi modal dan finansial yang menurun sehingga tidak dapat membiayai defisit transaksi berjalan. Namun demikian, posisi cadangan devisa pada akhir triwulan I 2018 tercatat sebesar USD126,0 miliar, masih cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada akhir triwulan sebelumnya (Grafik 1). Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 7,7 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Grafik 1
Neraca Pembayaran Indonesia
Defisit transaksi berjalan triwulan I 2018 menurun dan tetap terjaga dalam batas aman. Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 2,1% terhadap PDB pada triwulan I 2018, lebih rendah dibandingkan dengan defisit 2,3% terhadap PDB pada triwulan sebelumnya. Perbaikan kinerja transaksi berjalan terutama ditopang oleh menyusutnya defisit neraca jasa seiring dengan meningkatnya penerimaan jasa perjalanan (travel). Selain itu, penurunan defisit neraca pendapatan primer dan kenaikan surplus neraca pendapatan sekunder
juga turut berkontribusi terhadap penurunan defisit transaksi berjalan.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial triwulan I 2018 masih mencatat surplus di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Surplus transaksi modal dan finansial terutama ditopang oleh arus masuk investasi langsung asing yang masih cukup tinggi sebagai cerminan persepsi investor terhadap kondisi fundamental Indonesia yang tetap positif. Secara total, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2018 lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya karena investasi portofolio dan investasi lainya berbalik arah menjadi defisit. Investasi portofolio mengalami defisit karena berlanjutnya neto jual asing atas saham domestik dan lebih rendahnya neto beli asing atas surat utang pemerintah, sedangkan defisit investasi lainnya terutama dipengaruhi penempatan simpanan sektor swasta pada bank di luar negeri.
TRANSAKSI BERJALAN
Neraca transaksi berjalan pada triwulan I 2018 mencatat defisit sebesar USD5,5 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD6,0 miliar (Grafik 2). Penurunan defisit tersebut dipengaruhi oleh perbaikan kinerja neraca perdagangan jasa dan neraca pendapatan. Defisit neraca perdagangan jasa menurun terutama didorong oleh peningkatan surplus jasa perjalanan. Defisit neraca pendapatan primer menurun terutama dipengaruhi oleh penurunan pembayaran pendapatan investasi langsung. Sementara itu, surplus
PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
TRIWULAN I 2018
neraca pendapatan sekunder meningkat terutama dipengaruhi oleh peningkatan penerimaan transfer personal dalam bentuk remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut sebagai dampak dari penurunan ekspor nonmigas yang lebih tinggi dari penurunan impor nonmigas.
Grafik 2 Transaksi Berjalan
Neraca Perdagangan Barang
Neraca perdagangan barang triwulan I 2018 mencatat surplus sebesar USD2,4 miliar, lebih rendah 22,9% dibandingkan dengan surplus triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar USD3,1 miliar karena ekspor turun lebih dalam dibandingkan dengan impor. Penurunan surplus neraca perdagangan barang tersebut dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas, sementara defisit neraca perdagangan migas relatif sama dengan triwulan sebelumnya.
Surplus neraca perdagangan barang pada triwulan I 2018 tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD5,6 miliar seiring tingginya pertumbuhan impor.
Neraca Perdagangan Nonmigas
Surplus neraca perdagangan nonmigas pada triwulan I 2018 tercatat sebesar USD4,7 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan sebelumnya sebesar USD5,4 miliar karena penurunan
ekspor nonmigas yang lebih dalam dibandingkan dengan penurunan impor. Surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut juga lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD7,8 miliar karena lebih tingginya pertumbuhan impor dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor (Grafik 3).
Grafik 3
Neraca Perdagangan Nonmigas
Ekspor Nonmigas
Ekspor nonmigas pada triwulan I 2018 tercatat sebesar USD40,3 miliar, turun 2,3% (qtq) dibandingkan dengan ekspor nonmigas triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar USD41,2 milliar karena turunnya ekspor riil di tengah melambatnya pertumbuhan harga. Secara tahunan, ekspor nonmigas triwulan I 2018 tumbuh melambat menjadi 9,4% (yoy) dari 12,3% (yoy) pada triwulan sebelumnya (Grafik 4). Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan harga ekspor (Tabel 1).
Grafik 4
Tabel 1
Ekspor Nonmigas menurut Kelompok Barang (Berdasarkan SITC)
Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama Ekspor nonmigas ke sepuluh negara tujuan utama pada triwulan I 2018 tumbuh 12,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2017 sebesar 16,1% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekspor terjadi pada negara tujuan Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Filipina, sedangkan ekspor ke India dan Belanda bahkan mengalami penurunan. Di sisi lain, ekspor ke Tiongkok, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Thailand tumbuh meningkat (Tabel 2).
Tabel 2
Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan Utama
2018 A. Produk Primer Nominal 52.0 51.0 -3.1 41.8 27.4 34.6 13.9 28.0 7.8 Riil 54.9 53.2 -3.0 10.7 8.0 16.5 -0.3 7.9 -0.9 Indeks Harga - - -0.1 28.1 18.0 15.5 14.2 18.7 8.8 Produk Pertanian Nominal 31.6 28.0 -1.9 45.2 21.2 33.0 4.7 24.1 -9.2 Riil 35.3 33.5 -6.1 19.0 17.4 33.0 2.4 16.6 -4.3 Indeks Harga - - 4.5 22.0 3.2 0.0 2.2 6.4 -5.1 Makanan Nominal 24.3 21.5 -0.6 42.7 17.8 28.6 -1.1 19.7 -9.5 Riil 27.3 25.9 -8.1 18.6 20.3 34.3 -0.7 16.3 -4.1 Indeks Harga - - 8.1 20.3 -2.1 -4.2 -0.4 2.9 -5.6 Bahan Baku Nominal 7.4 6.5 -6.3 54.4 33.3 49.1 30.8 41.3 -8.2 Riil 8.0 7.5 0.4 21.4 9.6 28.8 15.9 18.5 -4.9 Indeks Harga - - -6.7 27.1 21.7 15.7 12.9 19.3 -3.4
Produk Bahan Bakar & Pertambangan
Nominal 20.3 23.1 -5.1 35.7 38.3 37.3 29.4 34.7 39.5 Riil 20.0 20.8 1.8 -1.8 -4.2 -2.4 -0.9 -2.4 11.2 Indeks Harga - - -6.8 38.3 44.4 40.6 30.5 38.0 25.4 B. Produk Manufaktur Nominal 46.4 47.1 2.5 6.1 -7.3 15.2 9.6 5.5 9.7 Riil 43.7 44.9 -1.5 -3.7 -16.5 5.4 -0.4 -4.2 0.9 Indeks Harga - - 4.0 10.2 11.1 9.3 10.0 10.1 8.8 C. Lainnya Nominal 1.6 1.9 -1.5 0.7 15.7 50.2 42.7 28.0 62.9 Riil 1.7 2.0 -6.9 -2.9 15.4 57.8 36.8 27.1 49.4 Indeks Harga - - 5.9 3.7 0.2 -4.8 4.3 0.7 9.0 Total Nominal 100.0 100.0 -0.3 21.9 8.1 25.0 12.3 16.5 9.4 Riil 100.0 100.0 -2.6 3.7 -4.7 11.9 0.3 2.6 0.6 Indeks Harga - - 2.4 17.6 13.4 11.7 12.0 13.6 8.8 *) angka sementara **) angka sangat sementara
2016 Total Rincian Pangsa (%) 2017* 2018** Tw. I** Pertumbuhan Tahunan (% yoy)
2017* Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Total 2018 1 Tiongkok 14.0 15.8 14.4 66.6 35.0 48.5 26.4 41.1 34.5 2 Amerika Serikat 11.2 11.0 2.3 18.1 -4.0 19.9 5.7 9.3 3.1 3 Jepang 9.6 10.1 1.2 4.3 3.6 26.8 11.2 11.4 21.8 4 India 9.1 7.9 -14.3 60.7 47.7 33.9 25.0 40.2 -6.1 5 Singapura 5.8 5.9 -0.3 -5.0 -8.1 20.5 8.3 3.4 13.3 6 Malaysia 4.6 4.7 -4.5 24.0 11.9 32.6 10.0 18.9 10.3 7 Korea Selatan 4.1 4.0 -3.0 28.6 14.8 19.7 17.9 20.1 4.1 8 Filipina 4.3 3.8 33.9 46.5 11.8 21.2 29.0 25.7 6.6 9 Thailand 3.5 3.6 0.4 18.3 11.1 29.0 13.1 17.7 15.7 10 Belanda 100.02.6 100.02.4 -5.6 52.021.9 23.18.1 26.725.0 12.33.2 16.523.9 -5.89.4 Total 10 Negara 68.7 69.3 1.7 28.7 13.3 29.2 16.1 21.4 12.2 *) angka sementara **) angka sangat sementara
2016 Rincian
2018** Pangsa (%)
Tw. I** Pertumbuhan Tahunan (%, yoy)
2017
Tw. I* Tw. II* Tw. III* Tw. IV* TOTAL* 2017*
Ekspor menuju Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar 34,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 26,4% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ini utamanya didorong oleh naiknya ekspor batubara dan barang dari logam mulia yang memiliki pangsa sebesar 44,5% dari total ekspor ke Tiongkok. Peningkatan ekspor batubara ke Tiongkok disebabkan oleh demand yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri pengolahan baja. Selain itu, musim dingin yang lebih dingin dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya menyebabkan perusahaan energi meningkatkan inventori guna mengantisipasi peningkatan penggunaan heater.
Ekspor ke Amerika Serikat tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi sebesar 3,1% (yoy) dari 5,7% (yoy) pada triwulan IV 2017. Perlambatan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekspor tekstil dan makanan olahan serta kontraksi yang lebih dalam pada ekspor karet alam olahan. Ketiga komoditas ini memiliki pangsa sebesar 43,6% (yoy) dari total ekspor ke Amerika Serikat. Sementara itu, ekspor alas kaki ke Amerika Serikat menunjukkan peningkatan setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi.
Peningkatan ekspor alat listrik dan bijih tembaga menjadi pendorong utama naiknya pertumbuhan ekspor menuju Jepang pada periode laporan. Ekspor ke Jepang tumbuh meningkat menjadi 21,8% (yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 11,2% (yoy).
Ekspor menuju India pada triwulan I 2018 mengalami kontraksi sebesar 6,1% (yoy) setelah sepanjang 2017 mencatat pertumbuhan yang tinggi dengan tren triwulanan yang menurun. Kondisi tersebut disebabkan oleh kontraksi ekspor batubara, minyak nabati, dan biji tembaga, serta melambatnya pertumbuhan ekspor barang dari logam tidak mulia. Keempat komoditas tersebut memiliki pangsa sebesar 76,1% dari total ekspor nonmigas ke India. Penurunan ekspor minyak nabati ke India disebabkan oleh adanya kebijakan peningkatan bea masuk CPO sebesar 15%.
Sementara itu, penurunan ekspor batubara diindikasikan terkait dengan relatif tingginya harga batubara Indonesia, mengingat karakter impor batubara India yang sangat sensitif terhadap harga.
Ekspor ke Singapura menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang tercatat sebesar 8,3% (yoy). Pertumbuhan ekspor nonmigas ke Singapura ditopang oleh naiknya ekspor bahan kimia, makanan olahan, dan asam berlemak.
Peningkatan ekspor barang dari logam tidak mulia serta kontraksi ekspor minyak nabati dan makanan olahan yang lebih moderat menjadi faktor pendorong peningkatan ekspor ke Malaysia menjadi 10,3% (yoy). Perkembangan tersebut sedikit lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang tercatat sebesar 10,0% (yoy).
Pertumbuhan ekspor ke Korea Selatan tercatat melambat menjadi 4,1% (yoy) dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor pada periode sebelumnya yang sebesar 17,9% (yoy). Kondisi ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekspor batubara dan tekstil, serta masih terkontraksinya ekspor barang dari logam tidak mulia. Ketiga komoditas tersebut memiliki pangsa sebesar 49,1% dari total ekspor ke Korea Selatan.
Perlambatan ekspor menuju Filipina disebabkan oleh melambatnya ekspor kendaraan dan bagiannya, batubara, makanan olahan, dan minyak nabati. Keempat komoditas tersebut memiliki pangsa sebesar 65,6% dari total ekspor nonmigas ke Filipina.
Berbeda dengan Filipina, ekspor ke Thailand menunjukkan peningkatan pertumbuhan menjadi 15,7% (yoy) dari 13,1% (yoy) pada triwulan IV 2017. Peningkatan pertumbuhan ekspor batubara, kendaraan dan bagiannya, serta barang dari logam tidak mulia menjadi pendorong peningkatan ekspor tersebut. Peningkatan ekspor kendaraan didorong oleh meningkatnya permintaan dari Thailand serta perluasan pabrik di Indonesia. Namun demikian, ekspor mesin dan peralatan mekanik terlihat sedikit
melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Keempat komoditas ini memiliki pangsa 53,0% dari total ekspor ke Thailand.
Ekspor ke Belanda pada triwulan laporan mengalami kontraksi sebesar 5,8% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya masih mencatat pertumbuhan positif 3,2% (yoy). Perkembangan ini disebabkan oleh terkontraksinya ekspor minyak nabati, bahan kimia, dan alat listrik, serta perlambatan pertumbuhan ekspor asam berlemak. Terkontraksinya ekspor minyak nabati dipengaruhi oleh wacana negara Uni Eropa untuk tidak lagi melakukan impor minyak nabati dari Indonesia terkait isu lingkungan dan hak pekerja.
Ekspor Nonmigas menurut Komoditas Utama Melambatnya pertumbuhan ekspor nonmigas triwulan I 2018 juga tercermin dari perlambatan pertumbuhan ekspor sepuluh komoditas utama yang menjadi 5,1% (yoy) dari 10,8% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan ekspor tersebut disebabkan oleh menurunnya kinerja pertumbuhan ekspor riil dan harga ekspor pada sebagian komoditas utama (Tabel 3).
Ekspor batubara pada triwulan I 2018 menjadi komoditas ekspor nonmigas utama Indonesia menggantikan minyak nabati, dengan pangsa mencapai 14,9%. Pada triwulan I 2018 pertumbuhan ekspor batubara tercatat sedikit melambat menjadi 26,4% (yoy) dari 27,2% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan ini disebabkan oleh perlambatan harga yang cukup dalam, melebihi peningkatan pertumbuhan ekspor riil yang tercatat
sebesar 5,5% (yoy) setelah pada periode sebelumnya mengalami kontraksi. Perlambatan ekspor batubara utamanya terlihat untuk negara tujuan Jepang dan Korea Selatan, bahkan untuk tujuan India mengalami kontraksi, dengan pangsa ketiga negara tersebut mencapai 40,3% dari total ekspor batubara Indonesia..
Ekspor minyak nabati pada triwulan laporan mengalami kontraksi yang lebih dalam, yaitu 18,3% (yoy) dibandingkan dengan 5,5% (yoy) pada triwulan IV 2017. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh dalamnya penurunan harga ekspor, dan didorong pula oleh penurunan ekspor riil yang lebih besar. Penurunan ekspor terjadi untuk semua negara tujuan utama, yaitu India, Tiongkok, Pakistan, dan Amerika Serikat dengan pangsa keempat negara tersebut mencapai 45,0% dari total ekspor minyak nabati Indonesia. Penurunan ekspor minyak nabati ke India disebabkan oleh peningkatan bea masuk sebesar 15%, sedangkan penurunan ekspor menuju Amerika Serikat disebabkan oleh tingginya pasokan kedelai yang merupakan substitusi kelapa sawit. Sementara itu, penurunan ekspor minyak nabati ke Tiongkok lebih disebabkan oleh berkurangnya aktivitas perekonomian terkait panjangnya hari libur Tahun Baru Imlek.
Ekspor tekstil dan produk tekstil pada triwulan I 2018 tumbuh 7,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2017 sebesar 10,2% (yoy) karena melambatnya pertumbuhan ekspor riil maupun harga. Perlambatan pertumbuhan ekspor tekstil terjadi pada sebagian besar negara tujuan utama, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
Tabel 3
Perkembangan Ekspor Komoditas Nonmigas Utama (Berdasarkan HS)
Di sisi lain, ekspor barang dari logam tidak mulia pada periode laporan mencatat peningkatan pertumbuhan menjadi 50,6% (yoy) karena akselerasi pertumbuhan ekspor riil dan harga. Meningkatnya pertumbuhan ekspor ini terutama terlihat pada ekspor ke negara tujuan Jepang dan Thailand.
Peningkatan ekspor juga terlihat pada produk alat listrik yang tumbuh 3,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2017 yang tercatat sebesar 2,1% (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh perbaikan permintaan ekspor riil di saat harga masih tumbuh tinggi meskipun melambat. Peningkatan ekspor alat listrik terlihat pada ekspor menuju Jepang.
Ekspor makanan olahan tumbuh melambat menjadi 9,3% (yoy) disebabkan oleh penurunan ekspor riil meskipun harga sudah menunjukkan peningkatan. Perlambatan ekspor terlihat untuk negara tujuan Amerika Serikat, Filipina, dan Tiongkok, sedangkan ekspor ke Malaysia masih mengalami kontraksi meskipun lebih terbatas.
Sejalan dengan ekspor komoditas utama, pertumbuhan ekspor kendaraan dan bagiannya juga terlihat melambat, disebabkan oleh perlambatan ekspor riil dan harga ekspor. Ekspor ke Filipina terlihat melambat, sedangkan ekspor menuju Arab Saudi mengalami kontraksi.
Setelah mencatat pertumbuhan positif pada triwulan IV 2017, ekspor karet olahan terkontraksi cukup dalam sebesar 21,8% (yoy). Kontraksi harga ekspor menjadi faktor utama dalam penurunan ekspor karet olahan, selain ekspor riil yang juga mengalami kontraksi lebih dalam. Penurunan terlihat untuk negara tujuan Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok, sedangkan ekspor menuju India mengalami perlambatan.
Kontraksi ekspor riil dan perlambatan harga menjadi faktor penyebab melambatnya ekspor mesin dan peralatan mekanik pada triwulan laporan menjadi 2,2% (yoy). Perlambatan ini terutama terlihat untuk ekspor menuju Thailand, sedangkan ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat mengalami kontraksi. Sementara itu, ekspor alas kaki pada triwulan I 2018 tumbuh 7,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 6,1% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan ini disebabkan oleh naiknya ekspor riil dan didukung juga oleh melambatnya penurunan harga ekspor. Peningkatan ekspor terutama terlihat untuk ekspor menuju Amerika Serikat.
Impor Nonmigas
Impor nonmigas (cif) triwulan I 2018 tumbuh 22,8% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 17,4%
2018 2018 2018
1. Batubara 13.3 14.9 -9.0 45.0 48.7 45.5 27.2 40.4 26.4 -1.4 4.2 2.2 0.7 -0.3 1.3 5.5 -7.7 39.2 45.6 44.4 27.7 38.5 19.8
2. Minyak Nabati 14.3 12.2 -3.0 62.5 29.3 34.2 -5.5 25.7 -18.3 -13.6 16.2 26.4 36.3 -3.5 16.3 -4.5 12.3 39.9 2.3 -1.5 -2.0 8.1 -14.5
3. Tekstil dan Produk Tekstil 8.2 8.3 -3.7 4.1 -11.1 23.4 10.2 5.9 7.9 -6.9 -6.7 -20.7 9.3 0.4 -5.1 0.2 3.5 11.6 12.1 12.9 9.8 11.6 7.7
4. Barang dari Logam tdk Mulia 6.2 7.1 -1.9 32.0 13.6 29.4 35.7 27.7 50.6 -5.5 6.4 -5.6 14.0 19.1 8.5 29.1 3.8 24.0 20.4 13.5 14.0 17.7 16.7
5. Alat Listrik, Ukur, Fotografi, dll 5.8 5.5 -4.5 5.8 -1.1 15.8 2.1 5.5 3.2 -9.7 -6.1 -16.1 1.2 -13.2 -8.8 -10.6 5.9 12.6 17.9 14.5 17.7 15.7 15.5
6. Makanan Olahan 4.7 4.5 4.4 9.6 0.6 20.0 12.1 10.7 9.3 7.2 5.1 -3.6 16.8 10.8 7.3 5.6 -2.6 4.3 4.4 2.7 1.2 3.1 3.5
7. Kendaraan & Bagiannya 4.5 4.2 8.5 37.1 -0.1 25.8 9.3 16.5 4.1 4.0 30.1 -6.8 19.0 5.7 10.6 2.3 4.3 5.3 7.2 5.7 3.3 5.4 1.8
8. Karet Olahan 4.7 3.9 -5.2 67.3 29.3 28.1 4.8 30.6 -21.8 2.3 17.9 4.2 14.6 -0.5 8.7 -5.1 -7.3 41.8 24.1 11.8 5.3 20.2 -17.6
9. Mesin & Mekanik 3.7 3.5 5.1 19.8 -7.8 5.0 13.4 6.7 2.2 2.4 9.6 -16.3 -1.4 3.5 -2.0 -4.8 2.6 9.2 10.2 6.4 9.5 8.8 7.4
10. Alas Kaki 3.2 0.03.2 2.9 8.1 -7.9 21.2 6.1 5.8 7.0 0.01.9 -2.1 -13.40.0 0.0 19.90.0 11.30.0 2.70.0 11.90.0 0.01.0 10.30.0 0.06.4 0.01.1 -4.70.0 3.00.0 -4.30.0
Total 10 Komoditas 68.7 67.4 -2.4 31.6 12.8 27.8 10.8 20.1 5.1 -3.9 11.5 -1.1 15.7 2.4 6.7 1.3 1.6 18.1 14.1 10.5 8.2 12.5 3.8
*) angka sementara **) angka sangat sementara
Pertumbuhan (%, yoy) Indeks Harga Nominal Tw. I** Tw. I** Riil 2017 Uraian
TOTAL TOTAL Tw. I* Tw. II* Tw. III* Tw. IV* TOTAL* Tw. I**
2017*
2017 2016 2017
TOTAL Tw. I* Tw. II* Tw. III* Tw. IV* TOTAL*
2016
Tw. I* Tw. II* Tw. III* Tw. IV* TOTAL*
2016 2018**
(yoy). Percepatan tersebut didorong oleh peningkatan pertumbuhan impor riil maupun harga impor. Peningkatan pertumbuhan impor riil terjadi pada impor bahan baku dan barang modal, sedangkan peningkatan harga impor terlihat pada barang konsumsi dan bahan baku (Tabel 4).
Tabel 4
Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Kelompok Barang
Percepatan pertumbuhan impor nonmigas triwulan I 2018 merata pada seluruh jenis barang impor menurut penggunaan. Peningkatan tertinggi terlihat pada impor barang modal, diikuti oleh barang konsumsi dan bahan baku.
Impor barang konsumsi pada triwulan I 2018 tumbuh 22,3% (yoy), meningkat dari 19,9% (yoy) pada triwulan sebelumnya karena pertumbuhan harga impor, sementara pertumbuhan impor riil mengalami perlambatan. Akselerasi pertumbuhan impor barang konsumsi terutama dipengaruhi oleh naiknya impor beras, senjata dan amunisi, serta kosmetika.
Impor bahan baku pada triwulan I 2018 tumbuh 21,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2017 sebesar 17,8% (yoy)
didorong pleh peningkatan pertumbuhan impor riil maupun harga impor. Peningkatan pertumbuhan impor bahan baku dipengaruhi oleh naiknya pertumbuhan impor pesawat telekomunikasi, alat penyambung atau pemutus listrik, dan tabung termionis.
Sementara itu, impor barang modal tumbuh signifikan sebesar 26,8% (yoy) pada triwulan I 2018, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 19,8% (yoy), dipengaruhi oleh peningkatan impor riil. Produk utama yang mendorong akselerasi pertumbuhan impor tersebut adalah mesin otomatis pengolah data serta pesawat telekomunikasi & bagiannya.
Impor Nonmigas menurut Negara Asal
Berdasarkan negara asal, percepatan pertumbuhan impor nonmigas pada triwulan I 2018 terjadi pada sebagian besar negara asal impor utama, kecuali Korea Selatan dan India yang mengalami perlambatan pertumbuhan. Pada triwulan I 2018, pertumbuhan impor nonmigas dari sepuluh negara asal utama meningkat menjadi 22,3% (yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 17,7% (yoy) (Tabel 5).
Tabel 5
Impor Nonmigas (c.i.f) menurut Negara Asal Utama
2018 Barang Konsumsi Nominal 10.2 10.1 15.6 1.0 19.7 17.4 19.9 14.4 22.3 Riil 9.2 8.9 14.0 -6.7 8.4 2.8 9.9 3.6 8.9 Indeks Harga - - 1.4 8.3 10.4 14.2 9.0 10.5 12.3 Bahan Baku Nominal 70.0 69.4 -0.5 9.0 5.6 25.2 17.8 14.3 21.1 Riil 72.5 71.1 5.2 2.1 -2.8 16.2 7.3 5.6 9.6 Indeks Harga - - -5.4 6.7 8.7 7.8 9.8 8.3 10.4 Barang Modal Nominal 18.8 19.2 -9.8 6.0 -4.4 24.1 19.6 11.6 26.8 Riil 17.5 18.9 -10.2 -3.6 -10.7 14.6 14.1 3.8 24.1 Indeks Harga - - 0.5 9.9 7.1 8.3 4.9 7.5 2.1 Total Nominal 100.0 100.0 -0.9 8.1 5.2 25.0 17.4 13.9 22.8 Riil 100.0 100.0 2.8 0.5 -3.1 15.1 8.1 5.1 12.9 Indeks Harga - - -3.5 7.5 8.6 8.5 8.6 8.3 8.8 *) angka sementara
**) angka sangat sementara
Rincian
2018** Pangsa (%)
Tw. I* Pertumbuhan Tahunan (% yoy)
Tw. IV* Total 2017 2017* Total 2016 Tw. I* Tw. II* Tw. III* 1 Tiongkok 25.5 25.7 7.6 -1.1 22.2 16.8 11.3 25.7 2 Jepang 11.5 11.7 13.8 5.0 29.7 25.5 18.6 27.8 3 Singapura 7.3 8.0 14.4 16.0 42.3 30.0 25.8 43.1 4 Thailand 6.7 6.6 -11.0 2.3 13.4 15.0 4.2 16.2 5 Amerika Serikat 5.8 5.7 10.7 5.4 0.6 7.7 5.9 15.2 6 Korea Selatan 5.6 5.4 34.6 16.3 36.2 21.7 26.9 3.6 7 Malaysia 3.9 3.9 10.4 -9.2 21.3 13.5 8.3 18.2
8 Australia dan Oseania 4.4 3.6 14.6 7.6 36.4 -2.0 12.7 0.9
9 India 2.8 2.8 29.3 42.9 23.2 31.3 31.4 17.8
10 Jerman 100.0 100.02.6 2.7 2.98.1 11.3 18.25.2 0.0 10.60.0 10.913.9 37.10.0
Total 10 Negara 76.0 76.1 10.1 4.9 23.6 17.7 14.1 22.3
*) angka sementara ** angka sangat sementara
Tw.I** 2018 2018**
Rincian
2017*
Pangsa (%) Pertumbuhan Tahunan (%, yoy) 2017* Tw.II
Neraca Perdagangan Migas
Neraca perdagangan migas pada triwulan I 2018 mengalami defisit sebesar USD2,4 miliar, relatif sama dengan defisit triwulan IV 2017 karena penurunan impor migas disertai dengan penurunan ekspor migas. Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, defisit neraca perdagangan migas triwulan I 2018 tercatat meningkat karena impor tumbuh lebih tinggi dari ekspor (Grafik 5).
Dilihat dari rincian neraca komoditasnya, relatif stabilnya defisit neraca migas pada triwulan laporan dipengaruhi oleh kenaikan surplus neraca gas yang dapat mengkompensasi kenaikan defisit neraca minyak.
Grafik 5
Neraca Perdagangan Migas
Ekspor Minyak
Pada triwulan I 2018, ekspor minyak turun 15,5% (qtq)) menjadi sebesar USD1,8 miliar dari USD2,2 miliar di triwulan sebelumnya (Tabel 6). Ekspor minyak mentah turun 19,9% (qtq) sejalan dengan penurunan lifting minyak, sementara ekspor produk kilang turun 3,3% (qtq) karena menurunnya volume ekspor.
Lifting minyak mentah Indonesia pada triwulan I 2018 turun 8,6% (qtq) menjadi 0,752 juta barel/hari dari 0,823 juta barel/hari pada triwulan sebelumnya. Penurunan lifting ini dipengaruhi faktor cuaca yang menyebabkan terganggunya pengiriman minyak dari terminal penampung.
Secara tahunan, ekspor minyak triwulan I 2018 turun 7,4% (yoy), setelah pada triwulan IV 2017 tumbuh 34,4% (yoy), terutama karena turunnya volume ekspor minyak mentah sejalan dengan lifting yang menurun.
Tabel 6
Perkembangan Ekspor Minyak
Sementara itu, harga ekspor minyak mentah maupun produk kilang masih menunjukkan peningkatan sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia. Rata-rata harga minyak jenis SLC, Brent, WTI, dan OPEC meningkat masing-masing dari USD58,6/barel, USD61,5/barel, USD55,4/barel, dan USD59,4/barel pada triwulan IV 2017 menjadi USD66,8/barel, USD67,0/barel, USD62,9/barel, dan USD64,7/barel pada triwulan I 2018 (Grafik 6). Peningkatan harga minyak dunia pada periode laporan disebabkan oleh penurunan supply sebagai dampak dari komitmen OPEC dan Rusia untuk menurunkan produksi, serta adanya gangguan produksi di Venezuela, Nigeria, dan beberapa negara produsen minyak lainnya.
Grafik 6
Perkembangan Harga Minyak Dunia
Ekspor 2,151.0 35.6 1,818.0 28.1
Minyak Mentah 1,577.3 26.8 59.0 1,263.2 19.9 63.8
Produk Kilang 573.6 8.8 65.0 554.8 8.2 67.3
¹⁾ nilai ekspor dibagi dengan volume ekspor Sumber: SKK Migas dan Pertamina (diolah) * angka sementara ** angka sangat sementara
2017* 2018 Tw. I** Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Tw. IV Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Rincian
Impor Minyak
Impor minyak triwulan I 2018 naik 0,8% (qtq) menjadi USD5,9 miliar dari triwulan sebelumnya. sebesar USD5,8 miliar.. Peningkatan impor minyak didorong oleh naiknya harga impor, sementara volume impor menunjukkan penurunan (Tabel 7).
Secara tahunan, impor minyak pada triwulan laporan tumbuh 8,0% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV 2017 sebesar 40,1% (yoy). Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi volume impor produk kilang yang lebih rendah.
Tabel 7
Perkembangan Impor Minyak (f.o.b)
Ekspor dan Impor Gas
Ekspor gas pada triwulan I 2018 masih meningkat baik secara triwulanan maupun tahunan. Secara tahunan ekspor meningkat sebesar 16,3% (yoy) atau naik 6,9% (qtq) menjadi USD2,3 miliar. Peningkatan disebabkan oleh peningkatan ekspor LNG (6,9% qtq) dan ekspor gas alam (7,2% qtq), khususnya karena kenaikan harga (Tabel 8).
Tabel 8
Perkembangan Ekspor Gas
Di sisi lain, impor gas pada triwulan I 2018 turun 25,6% (qtq) menjadi USD0,6 miliar dari USD0,8 miliar pada triwulan sebelumnya. Secara tahunan, impor gas tercatat turun sebesar 9,6% (yoy).
Neraca Perdagangan Jasa
Kinerja neraca perdagangan jasa pada triwulan I 2018 membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dan berkontribusi pada penurunan defisit transaksi berjalan. Defisit neraca perdagangan jasa tercatat sebesar USD1,4 miliar pada periode laporan, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD2,3 miliar. Penurunan defisit neraca jasa tersebut terutama didukung oleh meningkatnya surplus jasa perjalanan dan menurunnya defisit jasa transportasi (Grafik 7).
Grafik 7
Perkembangan Neraca Perdagangan Jasa
Pada triwulan I 2018, surplus neraca jasa perjalanan tercatat sebesar USD1,7 miliar, meningkat dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD1,0 miliar. Peningkatan surplus neraca jasa perjalanan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan penerimaan jasa perjalanan (13,4% qtq) dan penurunan pembayaran jasa perjalanan (-11,6% qtq) (Grafik 8).
Grafik 8 Neraca Jasa Travel
Impor 5,838.1 92.6 5,881.9 85.6
Minyak Mentah 2,161.4 37.9 56.9 2,477.6 37.6 65.8 Produk Kilang 3,676.7 54.7 67.0 3,404.4 48.0 71.2
¹⁾ nilai impor dibagi dengan volume impor Sumber: SKK Migas dan Pertamina (diolah) * angka sementara ** angka sangat sementara
2018 Tw. I** Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Rincian 2017 Tw. IV** Nilai (juta USD) Volume (mbbl) Harga¹ (USD/barel) Ekspor 2,173.6 - 2,323.4 -LNG 1,496.0 223.1 6.7 1,599.7 220.8 7.2 Gas Alam 656.0 70.4 9.3 702.8 69.8 10.1 LPG 0.0 0.0 0.0 0.3 0.0 0.0 Gas Lainnya 21.6 1.5 14.4 20.6 1.5 14.5
¹⁾ vol LNG, gas alam, dan gas lainnya dlm juta mmbtu, vol LPG dalam ribu m/t, total volume dlm juta mmbtu ²⁾ harga LNG, gas alam, dan gas lainnya dalam USD/juta mmbtu, harga LPG dalam USD/ribu metric ton Sumber: SKK Migas
* angka sementara ** angka sangat sementara
2018 Tw. I** Nilai
(juta USD) Volume¹ Harga²
Rincian
2017* Tw. IV Nilai
Penerimaan jasa perjalanan dari wisatawan mancanegara (wisman) meningkat menjadi USD3,5 miliar pada triwulan I 2018, dari sebelumnya sebesar USD3,1 miliar pada triwulan IV 2017, seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang disertai dengan peningkatan pengeluaran wisman. Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama periode laporan mencapai 2,95 juta kunjungan, meningkat dari 2,88 juta kunjungan pada triwulan sebelumnya, atau meningkat 2,4% (qtq), setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 17,7% (qtq).
Wisatawan asal Tiongkok, Singapura, dan Malaysia merupakan kelompok wisman terbesar yang berkunjung ke Indonesia selama triwulan I 2018. Adapun tujuan favorit wisman ke Indonesia masih terkonsentrasi pada tiga daerah, yaitu Bali, Jakarta, dan Batam.
Di sisi lain, pembayaran jasa perjalanan tercatat sebesar USD1,8 miliar, lebih rendah dibandingkan USD2,1 miliar pada triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut sejalan dengan turunnya jumlah kunjungan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri, yaitu dari 2,35 juta kunjungan pada triwulan IV 2017 menjadi 2,34 juta kunjungan, dan disertai pula dengan pola pengeluaran wisnas yang lebih rendah.
Perbaikan kinerja neraca jasajuga didukung oleh penurunan defisit jasa transportasi, terutama karena turunnya impor jasa transportasi penumpang sejalan dengan lebih rendahnya jumlah kunjungan wisnas ke luar negeri. Selain itu, pembayaran jasa freight pada triwulan I 2018 tercatat sebesar USD1,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya
sebesar USD2,0 miliar, sejalan dengan menurunnya impor barang (Grafik 9).
Grafik 9 Pembayaran Jasa Freight
Neraca Pendapatan Primer
Kinerja neraca pendapatan primer turut menyumbang perbaikan neraca transaksi berjalan pada triwulan I 2018. Defisit neraca pendapatan primer triwulan I 2018 turun menjadi USD7,9 miliar dari triwulan sebelumnya sebesar USD8,0 miliar.
Penurunan defisit neraca pendapatan primer tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan pembayaran pendapatan investasi langsung sejalan dengan performa laba korporasi pada triwulan I 2018 yang terindikasi tumbuh melambat. Selain itu, penurunan pembayaran pendapatan investasi lainnya juga berkontribusi pada lebih rendahnya defisit neraca pendapatan primer dalam triwulan laporan. Di sisi lain, pembayaran pendapatan investasi portfolio tercatat meningkat terutama dipengaruhi oleh meningkatnya pembayaran bunga surat utang pemerintah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 10).
Grafik 10
Perkembangan Neraca Pendapatan Primer
Neraca Pendapatan Sekunder
Neraca pendapatan sekunder pada triwulan I 2018 mencatat surplus sebesar USD1,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya sebesar USD1,2 miliar. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya penerimaan transfer personal dalam bentuk remitansi yang diperoleh dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri (Grafik 11).
Grafik 11
Perkembangan Transfer Personal
Pada triwulan laporan, penerimaan remitansi dari PMI tercatat sebesar USD2,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar USD2,2 miliar. Ditinjau dari negara asal remitansi, PMI yang bekerja di kawasan Asia Pasifik menjadi penyumbang remitansi terbesar, yaitu mencapai USD1,5 miliar, diikuti kawasan Timur Tengah dan Afrika yang mencapai USD1,1 juta.
Pada akhir triwulan I 2018 tercatat sejumlah 3,5 juta PMI di luar negeri. Data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengindikasikan bahwa 69,3% dari jumlah PMI tersebut bekerja di wilayah Asia Pasifik dengan porsi terbesar di Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Sementara itu, 30,4% dari total PMI bekerja di wilayah Timur Tengah dan Afrika, terbesar berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania (Grafik 12).
Grafik 12
Posisi Pekerja Migran Indonesia Triwulan I 2018
TRANSAKSI MODAL DAN FINANSIAL
Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2018 masih mencatat surplus di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan laporan tercatat sebesar USD1,9 miliar, terutama ditopang oleh surplus investasi langsung. Namun demikian, secara total, surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2018 lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama pada tahun sebelumnya karena meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global menyebabkan aliran masuk dana asing ke Indonesia menjadi lebih terbatas.
Penurunan surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2018 terutama disebabkan oleh neto arus keluar pada investasi portofolio seiring dengan berlanjutnya pelepasan saham domestik dan lebih rendahnya neto pembelian surat berharga negara (SBN) oleh investor asing. Tekanan pada transaksi
modal dan finansial juga berasal dari penurunan investasi lainnya yang berbalik menjadi defisit. Selain itu, surplus investasi langsung juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 13).
Grafik 13
Transaksi Modal dan Finansial
Investasi Langsung
Kondisi fundamental makroekonomi yang baik dan prospek perekonomian domestik yang positif masih menjadi faktor yang menarik minat investor asing untuk berinvestasi jangka panjang di Indonesia. Hal ini tercermin dari investasi langsung yang mencatat neto arus masuk modal (surplus) sebesar USD3,1 miliar pada triwulan I 2018, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD2,8 miliar (Grafik 14).
Surplus investasi langsung pada triwulan I 2018 lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar USD4,3 miliar karena meningkatnya neto outflow di sisi aset dan menurunnya neto inflow di sisi kewajiban. Di sisi aset, investasi langsung penduduk Indonesia di luar negeri pada periode laporan mencatat arus keluar (outflow) sebesar USD0,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD0,5 miliar dan periode yang sama pada tahun lalu
1Perkembangan investasi langsung pada Tw.IV-2016 sangat dipengaruhi oleh
transaksi tutup sendiri (crossing) atas saham emiten di sektor perbankan pada
bursa saham domestik. Investasi langsung asing yang semula tercatat pada sektor perbankan tersebut awalnya berasal dari dana yang bersumber dari
dalam negeri (round-tripping FDI), sehingga pada saat terjadi divestasi asing
sebesar USD0,4 miliar. Arus keluar investasi langsung di sisi aset tersebut terutama berupa modal ekuitas, antara lain terkait dengan transaksi akuisisi yang dilakukan beberapa perusahaan yang bergerak di sektor industri.
Pada sisi kewajiban, investasi langsung mencatat neto arus masuk modal asing sebesar USD4,0 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan USD4,8 miliar pada periode sebelumnya terutama dipengarungi oleh penurunan arus masuk investasi langsung di sektor nonmigas.
Grafik 14
Perkembangan Investasi Langsung1
Berdasarkan arah investasi, investasi langsung asing di Indonesia mencatat arus masuk modal neto sebesar USD3,7 miliar. Arus masuk neto Penanaman Modal Asing (PMA) tersebut tumbuh 18,2% (yoy) jika dibandingkan dengan capaian triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar USD3,0 miliar. Secara triwulanan, arus masuk PMA triwulan I 2018 lebih rendah 13,7% jika dibandingkan dengan triwulan IV 2017.
Secara sektoral, aliran masuk modal PMA selama triwulan I 2018 didominasi oleh sektor manufaktur; sektor perdagangan; serta sektor pertanian, perikanan dan kehutanan (Grafik 15). Aliran masuk PMA pada ketiga sektor tersebut memiliki pangsa sebesar 86,9% dari total PMA atau senilai USD3,9 miliar.
(outflow di sisi kewajiban investasi langsung), terjadi pula divestasi oleh investor domestik atas entitas di luar negeri yang memiliki saham perbankan
dimaksud (inflow di sisi aset investasi langsung) dengan nilai yang sama (Bank
Indonesia, Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan IV 2016, hal. 15).
-15 -10 -5 0 5 10 15 20 T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017* 2018
Investasi Lainnya Investasi Portofolio Investasi Langsung Trans. Modal & Finansial
miliar USD
Grafik 15
Perkembangan PMA menurut Sektor Ekonomi2
Berdasarkan negara asal investasi, aliran masuk modal PMA selama triwulan I 2018 didominasi oleh negara-negara ASEAN, kemudian disusul oleh Jepang, negara emerging market di Asia (termasuk Tiongkok), dan Eropa. Keempat kawasan tersebut melakukan investasi langsung sepanjang triwulan I 2018 masing-masing senilai USD1,7 miliar, USD0,7 miliar, USD0,5 miliar, dan USD0,5 miliar atau total sebesar USD3,4 miliar (Grafik 16).
Arus masuk PMA dari kawasan ASEAN terutama terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor pertanian. Inflow PMA dari Jepang didominasi oleh sektor industri pengolahan dan perdagangan. Sementara itu, PMA dari EM Asia dan Eropa sebagian besar masuk ke sektor industri pengolahan.
Grafik 16
Perkembangan PMA menurut Negara Asal3
2 Bank Indonesia, loc.cit.
3 Bank Indonesia, loc.cit.
4Data realisasi PMA BKPM mencatat keseluruhan nilai proyek yang
direalisasikan pada suatu periode dan tidak mencakup investasi di sektor migas, perbankan dan lembaga keuangan lainnya, serta
Perkembangan PMA pada triwulan I 2018 tersebut sejalan dengan realisasi PMA yang dipublikasikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)4. Berdasarkan data BKPM, realisasi PMA
selama triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp108,9 triliun (ekuivalen dengan USD8,1 miliar). Nilai realisasi tersebut meningkat sebesar 12,4% dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp97,1 triliun (ekuivalen dengan USD7,3 miliar). Namun, nilai realisasi tersebut lebih rendah 2,7% jika dibandingkan dengan triwulan IV 2017.
Secara sektoral, BKPM mencatat bahwa realisasi PMA terkonsentrasi pada sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai USD1,9 miliar (pangsa 23,1% dari total PMA), disusul oleh sektor industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik senilai USD1,4 miliar (pangsa 17,9%); sektor listrik, gas, dan air senilai USD0,9 miliar (pangsa 10,5%); sektor pertambangan senilai USD0,6 miliar (pangsa 7,9%); serta sektor tanaman pangan dan perkebunan senilai USD0,6 miliar (pangsa 6,9%). Sementara itu, jika ditinjau dari negara asal investasi, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Hongkong merupakan negara dengan nilai realisasi terbesar masing-masing sebesar USD2,6 miliar, USD1,4 miliar, USD0,9 miliar, USD0,7 miliar, dan USD0,5 miliar, dengan pangsa mencapai 75,5% dari total PMA.
Keyakinan dunia internasional atas kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang semakin kuat dikukuhkan dengan aksi perbaikan peringkat Indonesia yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat global pada triwulan I 2018. Pada Februari 2018, Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari BBB-/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil. Selanjutnya, pada Maret 2018, Rating and Investment
industri rumah tangga. Sementara, data PMA yang tercatat di NPI mencakup hanya data aliran modal yang diterima perusahaan PMA dari investor langsungnya dan perusahaan dalam satu grup di luar negeri selama suatu periode dan meliputi investasi langsung di seluruh sektor ekonomi.
Information, Inc. (R&I) meningkatkan SCR Republik Indonesia dari BBB-/Outlook Positif menjadi BBB/Outlook Stabil.
Investasi Portofolio
Masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global memberi dampak lebih terbatasnya aliran masuk dana asing berjangka pendek ke Indonesia. Pada triwulan I 2018, neto arus masuk investasi portofolio di sisi kewajiban hanya tercatat sebesar USD0,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2017 yang mencapai USD3,3 miliar. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh keluarnya dana asing dari pasar saham domestik dan menurunnya net inflow dana asing pada surat berharga negara (SBN) berdenominasi rupiah. Selain itu, surplus kewajiban investasi portofolio yang lebih rendah juga disebabkan adanya pembayaran obligasi global baik pemerintah maupun swasta yang jatuh tempo.
Sementara itu di sisi aset, penduduk Indonesia tercatat melakukan neto pembelian surat berharga di luar negeri (defisit) sebesar USD1,4 miliar, relatif sama dengan nilai triwulan sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, neto investasi portofolio pada triwulan I 2018 mencatat defisit sebesar USD1,2 miliar, berbalik arah dibandingkan dengan surplus sebesar USD2,0 miliar pada triwulan sebelumnya (Grafik 17).
Grafik 17
Perkembangan Investasi Portofolio
Selama triwulan I 2018, aliran masuk neto dana asing pada instrumen surat utang pemerintah terjadi pada Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan Surat
Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah. Inflow pada SPN sebesar USD0,8 miliar, berbalik arah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatat neto aliran keluar dana asing sebesar USD0,3 miliar. Adapun net inflow SUN mencapai USD1,0 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan inflow triwulan sebelumnya sebesar USD1,7 miliar.
Meskipun investor asing masih melakukan neto pembelian SUN, namun porsi kepemilikan asing pada SUN menurun menjadi sekitar 46,1% dari total posisi SUN rupiah di akhir triwulan laporan dari sekitar 47,5% pada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, sama seperti triwulan sebelumnya, pada triwulan I 2018 tidak tercatat adanya SBI yang dimiliki asing (Grafik 18).
Grafik 18
Perkembangan Posisi Kepemilikan SBI & SUN oleh Asing
Sementara itu, neto aliran masuk dana asing dari penerbitan surat utang pemerintah di pasar global tercatat sekitar USD0,9 miliar, yang berasal dari hasil penerbitan sukuk global sekitar USD2,7 miliar (dari total penerbitan sebesar USD3,0 miliar) dan pembayaran obligasi global yang jatuh tempo pada Januari 2018 sekitar USD1,8 miliar. Secara keseluruhan, aliran masuk modal asing neto pada instrumen surat utang sektor publik sepanjang triwulan I 2018 tercatat sebesar USD2,6 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan aliran masuk pada triwulan sebelumnya sebesar USD4,8 miliar ataupun pada triwulan I 2017 sebesar USD6,4 miliar.
Perkembangan bursa di pasar saham dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan
global. Investor nonresiden pada triwulan I 2018 masih tercatat melakukan neto jual saham, yaitu sebesar USD1,9 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan neto jual triwulan sebelumnya sebesar USD2,2 miliar. Sejalan dengan berlanjutnya neto jual oleh asing tersebut, kinerja pasar saham pada triwulan I 2018 melemah sebagaimana ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang secara point-to-point mengalami penurunan dan ditutup pada level 6.189,0 dari posisi akhir triwulan IV 2017 sebesar 6.355,7.
Grafik 19
Perkembangan Transaksi Asing di BEI dan IHSG
Pada triwulan I 2018, IHSG bergerak searah dengan bursa Filipina yang mengalami pelemahan, berlawanan dengan pergerakan indeks harga saham di bursa regional Asia Tenggara yang berada dalam tren peningkatan. Harga saham di bursa regional ditutup menguat dibandingkan dengan harga penutupan akhir triwulan IV 2017 (Grafik 20).
Grafik 20
Perkembangan Indeks Bursa di Beberapa Negara ASEAN
Aktivitas pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada triwulan I 2018 ditopang oleh tambahan empat emiten baru yang melakukan penawaran saham perdana (IPO), yaitu LCK Global Kedaton (LCKM), Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS), Jaya Trishindo Tbk (HELI), dan Sky Energi Indonesia Tbk (JSKY) dengan total emisi senilai Rp1,3 triliun atau setara dengan USD92,5 juta. Nilai emisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan total nilai emisi yang tercatat pada triwulan sebelumnya sebesar Rp35,9 triliun atau setara dengan USD2,6 miliar dari lima belas emiten baru.
Dengan perkembangan tersebut, defisit investasi portofolio neto pada triwulan I 2018 terutama disumbang oleh sektor swasta yang secara neto mencatat arus keluar (defisit) sebesar USD3,6 miliar, lebih besar dari arus keluar (defisit) sebesar USD2,9 miliar pada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, sektor publik masih mencatat arus masuk investasi portofolio neto sebesar USD2,4 miliar, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan arus masuk (surplus) pada triwulan sebelumnya sebesar USD4,9 miliar (Grafik 21).
Grafik 21
Investasi Portofolio menurut Sektor Institusi
Investasi Lainnya
Transaksi investasi lainnya pada triwulan I 2018 mengalami defisit sebesar USD0,2 miliar, berkebalikan dengan periode sebelumnya yang mencatat surplus sebesar USD0,7 miliar, namun lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan I 2017
sebesar USD2,4 miliar. Defisit pada triwulan laporan tersebut terutama dipengaruhi oleh penempatan simpanan sektor swasta pada di luar negeri yang melampaui penarikan pinjaman luar negeri neto (Grafik 22).
Grafik 22
Perkembangan Investasi Lainnya
Pada sisi aset, transaksi investasi lainnya sektor swasta pada triwulan laporan mencatat defisit (arus keluar bersih) sebesar USD2,6 miliar, berbalik arah dibandingkan dengan surplus USD0,4 miliar pada triwulan sebelumnya. Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh sektor swasta yang kembali melakukan penempatan simpanan di luar negeri (Grafik 23).
Grafik 23
Transaksi Aset Investasi Lainnya Sektor Swasta
Pada sisi kewajiban, transaksi investasi lainnya di sektor swasta pada triwulan laporan mencatat arus masuk neto sebesar USD1,7 miliar, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar USD0,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh
transaksi neto penarikan pinjaman luar negeri korporasi non-BUMN. Menurut krediturnya, penarikan pinjaman tersebut terutama berasal dari Jepang, Singapura, dan Tiongkok. Di sisi lain, kewajiban dalam bentuk simpanan nonresiden pada perbankan domestik tercatat netoutflow (Grafik 24).
Grafik 24
Transaksi Kewajiban Investasi Lainnya Sektor Swasta
Sementara itu, transaksi kewajiban investasi lainnya di sektor publik pada triwulan I 2018 tercatat surplus, berbalik arah dari defisit pada triwulan sebelumnya. Surplus pada triwulan I 2018 tercatat sebesar USD0,7 miliar, terutama dipengaruhi oleh meningkatnya penarikan pinjaman luar negeri neto.
Grafik 25
Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Sektor Publik
Pada triwulan I 2018, sektor publik tercatat melakukan penarikan pinjaman luar negeri neto, berbalik arah dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya. Perkembangan tersebut karena pembayaran kembali pinjaman yang lebih rendah sesuai pola triwulan I, disertai penarikan pinjaman yang
-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017* 2018
Inv. Lainnya - Kewajiban Inv. Lainnya - Aset Investasi Lainnya (net)
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017* 2018
Aset lainnya Uang & Simpanan Pinjaman Investasi Lainnya - Aset
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .III T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017* 2018
Utang Dagang Kewajiban lainnya Uang & Simpanan Pinjaman Investasi Lainnya - Kewajiban
miliar USD
* angka sementara; ** angka sangat sementara
-3 -2 -1 0 1 2 3 T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I T w .II T w .II I T w .IV T w .I** 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017* 2018 Pembayaran Penarikan Pinjaman (net)
miliar USD
sedikit lebih tinggi dari periode sebelumnya. Penarikan pinjaman luar negeri pemerintah tercatat sebesar USD1,3 miliar, yang sebagian besar (79,2%) di antaranya merupakan penarikan pinjaman program
dan sisanya dalam bentuk pinjaman proyek. Penarikan pinjaman pemerintah tersebut berasal dari lembaga internasional yaitu IBRD, ADB, dan IDB, serta pemerintah Jerman dan Tiongkok.
y
Kondisi sektor eksternal perekonomian Indonesia pada triwulan I 2018 yang tercermin dari perkembangan beberapa indikator sustainabilitas eksternal menunjukkan perbaikan atau relatif terjaga. Rasio defisit transaksi berjalan terhadap PDB tetap terkendali di lebih rendah dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya seiring dengan menyempitnya defisit transaksi berjalan.
Sejalan dengan itu, rasio net ekspor barang dan jasa terhadap PDB, yang menunjukkan kontribusi sektor eksternal terhadap perekonomian domestik, meningkat dari 0,3% pada triwulan IV 2017 menjadi 0,4% pada triwulan I 2018. Namun demikian, rasio
akumulasi ekspor dan impor barang serta jasa terhadap PDB, yang menunjukkan derajat keterbukaan perekonomian Indonesia, tercatat sedikit lebih rendah menjadi 39,4% dari 40,3% pada triwulan sebelumnya.
Sementara itu, indikator terkait utang luar negeri (ULN) juga relatif terjaga. Rasio posisi total ULN terhadap PDB, yang menunjukkan kemampuan dalam memenuhi kewajiban luar negeri, pada triwulan laporan tercatat sebesar 34,8%, relatif sama dengan triwulan sebelumnya. Beberapa indikator terkait ULN lainnya mengalami sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, namun masih relatif terjaga dalam batas yang aman.
Tabel 10
Indikator Sustainabilitas Eksternal
Total Tw. I Tw. II Tw.III Tw.IV Total Tw. I Tw. II Tw. III Tw.IV Total Tw. I**
Transaksi Berjalan/PDB (%) 1) -2.22 -2.14 -2.41 -2.03 -0.74 -1.82 -0.89 -1.86 -1.76 -2.34 -1.73 -2.15 Ekspor - Impor Barang dan Jasa / PDB (%) 1) 0.6 0.7 0.6 0.9 1.4 0.9 1.8 1.0 1.2 0.3 1.1 0.3 Ekspor + Impor Barang dan Jasa / PDB (%)1) 39.2 35.2 35.5 32.5 37.3 35.1 36.7 34.3 36.7 40.3 37.0 36.5 Posisi ULN Total/PDB2) (%) 36.1 36.8 37.3 36.3 34.3 34.3 34.4 34.4 34.6 34.8 34.8 34.1 Posisi ULN Jangka Pendek3)/PDB2) (%) 6.4 6.6 6.7 6.4 5.9 5.9 5.8 5.9 5.5 5.4 5.4 5.5 Posisi ULN Total/Cadangan Devisa (%) 293.3 296.0 298.2 284.3 275.0 275.0 271.0 274.1 266.9 271.4 271.4 285.2 Posisi ULN Jangka Pendek3)/Cadangan Devisa (%) 52.4 53.4 53.7 50.4 47.0 47.0 45.7 46.9 42.8 42.1 42.1 46.1
Keterangan:
1) Menggunakan PDB harga berlaku kuartalan 2) Menggunakan PDB harga berlaku annualized (penjumlahan PDB empat triwulan ke belakang) 3) menurut jangka waktu sisa 4) meliputi pembayaran pokok dan bunga atas utang jangka panjang dan pembayaran bunga atas utang jangka pendek
* Angka sementara ** Angka sangat sementara
2015 2016 2017* 2018
Prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2018 diprakirakan akan tetap dibayangi oleh berbagai risiko yang berasal dari global di tengah prospek perekonomian domestik yang positif. Defisit transaksi berjalan diprakirakan meningkat didorong oleh kenaikan impor di tengah meningkatnya harga komoditas global, termasuk harga minyak dunia. Kenaikan impor tersebut sejalan dengan peningkatan perekonomian domestik, didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik. Di sisi lain, dukungan harga komoditas yang masih tinggi dan perbaikan perekonomian dunia yang terus berlanjut diprakirakan akan berdampak positif bagi kinerja ekspor Indonesia. Defisit neraca jasa diprakirakan akan meningkat sejalan dengan meningkatnya impor barang, sementara kinerja neraca pendapatan diprakirakan membaik. Meskipun demikian, secara keseluruhan defisit transaksi berjalan tahun 2018 diprakirakan berada masih dalam kisaran 2,0 2,5% PDB, atau masih tetap terkendali dalam batas aman di bawah 3% dari PDB.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial (TMF) diprakirakan masih mencatat surplus dengan level yang lebih moderat. Hal ini sebagai dampak dari masih tingginya kondisi ketidakpastian di pasar keuangan
global di tengah perkembangan ekonomi domestik yang terus membaik. Surplus TMF tersebut didorong oleh tetap positifnya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik, yang antara lain tercermin dari peningkatan peringkat Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional. Kondisi TMF yang tetap surplus diprakirakan disertai dengan struktur pembiayaan yang lebih berjangka panjang
Ke depan, kinerja NPI tersebut akan terus diperkuat dengan didukung oleh bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang berhati-hati, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Bank Indonesia juga akan terus mewaspadai berbagai risiko eksternal dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan. Namun demikian, sejumlah faktor risiko perekonomian global diprakirakan dapat membayangi kinerja TMF, antara lain bersumber dari peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global; kecenderungan penerapan inward oriented trade policy di sejumlah negara, dan risiko geopolitik khususnya di kawasan Timur Tengah.
Boks 1:
Perubahan Angka Statistik NPI Dibandingkan Publikasi Triwulan IV 2017
Dalam publikasi triwulan I 2018 ini terdapat beberapa perubahan terhadap data yang telah dirilis sebelumnya pada publikasi triwulan IV 2017. Perubahan tersebut disebabkan adanya pengkinian data dari beberapa sumber data dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 1
Perbandingan Publikasi NPI
Transaksi Barang perubahan data sejak Tw. I 2017 disebabkan adanya update data impor listrik serta minyak.
Transaksi Jasa perubahan data sejak Tw. I 2017 terutama karena update data Financial Services berdasarkan data LLD dan SIUL.
Transaksi Pendapatan Primer perubahan data sejak Tw. I 2017 terutama karena update estimasi tingkat keuntungan perusahaan investasi langsung.
Transaksi Investasi Langsung perubahan data sejak Tw. I 2017 karena update data utang luar negeri (ULN).
Transaksi Investasi Portofolio perubahan data sejak Tw. I 2017 karena update data ULN.
Transaksi Investasi Lainnya perubahan data investasi lainnya sejak Tw. I 2017 karena update data ULN.
Lama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru Lama Baru
Transaksi Berjalan -16,952 -16,951 -2,178 -2,164 -4,797 -4,705 -4,557 -4,616 -5,761 -6,043 -17,293 -17,528
Barang 15,318 15,318 5,637 5,635 4,839 4,835 5,256 5,258 3,161 3,057 18,892 18,785
Jasa -7,084 -7,084 -1,230 -1,229 -2,246 -2,223 -2,091 -2,121 -2,296 -2,258 -7,864 -7,831
Pendapatan Primer -29,647 -29,646 -7,723 -7,709 -8,390 -8,309 -8,904 -8,930 -7,821 -8,031 -32,838 -32,979
Pendapatan Sekunder 4,460 4,460 1,138 1,138 1,001 993 1,182 1,176 1,196 1,190 4,517 4,498
Transaksi Modal dan Finansial 29,346 29,281 6,933 6,926 5,613 5,532 10,789 10,254 6,545 6,823 29,881 29,534 Investasi Langsung 16,136 16,068 2,924 2,845 4,553 4,491 8,069 7,579 4,605 4,256 20,151 19,171 Investasi Portofolio 18,996 18,996 6,572 6,536 8,133 8,126 4,069 4,030 1,887 1,956 20,662 20,648 Derivatif Finansial -9 -9 -72 -72 25 25 -12 -12 -69 -69 -128 -128 Investasi Lainnya -5,817 -5,814 -2,491 -2,383 -7,103 -7,115 -1,356 -1,363 99 657 -10,851 -10,203 * angka sementara Juta USD Tw. IV* TOTAL* 2017* Tw. III* Komponen Tw. II* 2016 TOTAL Tw. I*
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Tabel 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: RINGKASAN ... 29
Tabel 2 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI BERJALAN, BARANG ... 30
Tabel 3 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI BERJALAN, JASA-JASA ... 31
Tabel 4 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI BERJALAN, PENDAPATAN PRIMER ... 32
Tabel 5 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI BERJALAN, PENDAPATAN SEKUNDER ... 33
Tabel 6 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI FINANSIAL, INVESTASI LANGSUNG ... 33
Tabel 7 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI FINANSIAL, INVESTASI PORTOFOLIO ... 34
Tabel 8 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA: TRANSAKSI FINANSIAL, INVESTASI LAINNYA ... 35