ABSTRAK
Bahwa setiap pelaku usaha di Indonesia mendapat kesempatan untuk berusaha dan bersaing secara sehat. Untuk itu salah satu perjanjian yang dilarang yang dapat menyebabkan persaingan usaha tidak sehat adalah perjanjian penetapan harga. Tindakan yang dapat berakibat kepada persaingan harga yang antara lain adalah perjanjian penetapan harga antar pelaku usaha, perjanjian penetapan harga yang berbeda terhadap barang dan atau jasa yang sama atau disebut juga diskriminasi harga, jual rugi, penetapan harga jual kembali.
Berkaitan dengan hal tersebut maka sangat menarik untuk deteliti apakah perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan apakah implikasi dari perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha dalam hukum persaingan usaha.
Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yaitu dengan meneliti dan mengkaji peraturan perundang-undangan yang berlaku dan terkait dengan masalah yang dibahas.
Dengan dilarangnya perjanjian penetapan harga ini dalam UU no. 5 th 1999 maka antar pelaku usaha akan bersaing secara sehat. Untuk membuktikan pelaku usaha telah melakukan perjanjian penetapan harga yang dilarang oleh ketentuan pasal 5,6,7,8 UU no. 5 th 1999 memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh komisi pengawas persaingan usaha (KPPU) sesuai dengan tugas dan wewenangnya.
Kata Kunci : Perjanjian penetapan harga, implikasi, hukum persaingan usaha.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat karuniaNya kegiatan penelitian dengan judul “Perjanjian Penetapan Harga dan Implikasinya dalam Hukum Persaingan Usaha” dapat terlaksana dengan baik.
Bahwa kegiatan penelitian ini melibatkan dosen-dosen pengasuh mata kuliah Hukum Persaingan Usaha dibagian hukum keperdataan dan juga mahasiswa.
Sangat diharapkan sekali kegiatan penelitian ini dapat bermanfaat baik bagi para pelaku usaha agar bersaing secara sehat dan tidak membuat perjanjian penetapan harga diantara mereka, maupun bagi pengembangan mata kuliah Hukum Persaingan Usaha secara teoritis dalam rangka proses pembelajaran pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.
Denpasar, 24 Juli 2016 Peneliti
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ... i ABSTRAK ... ii KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iv BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
BAB III METODE PENELITIAN ... 12
3.1 Konsep Penelitian ... 12
3.2 Jenis Penelitian ... 12
3.3 Jenis Pendekatan ... 13
3.4 Data dan Sumber Data ... 13
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 13
3.6 Pengolahan dan Analisis Data ... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
4.1 Perjanjian Penetapan Harga (Price Fixing Agreement) 15 4.2 Perjanjian Diskriminasi Harga (Price Discrimination Agreement) ... 21
4.3 Jual Rugi (Predatory Pricing) ... 23
4.4. Penetapan Harga Jual Kembali (Resale Price Maintenance) ... 25
BAB V. PENUTUP ... 29
5.1. Simpulan ... 29
5.2 Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA
1 1.1 Latar Belakang Masalah
Pada tahun 1999 Indonesia baru memiliki UU No. 5 th 1999 tentang, Lapangan Praktek Monopoli da Persaingan Usaha Tidak Sehat”, yang mana UU baru efektif berlaku satu tahun kemudian yaitu pada 5 Maret tahun 2000. Sebelum berlakunya UU ini praktek-praktek monopoli banyak terjadi seperti monopoli cengkeh oleh BPPC, monopoli tepung terigu oleh Bogasari. UU ini dimaksudkan untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat, sehingga dapat diwjudkan kegiatan usaha yang lebih kompetitif bagi setiap pelaku usaha. Sehingga konsumen dan atau masyarakat dapat memperoleh menikmati barang serta jasa yang berkualitas tinggi dengan harga bersaing yang rasional.
Perjanjian untuk penetapan harga merupakan salah satu bentuk perjanjian yang dilarang oleh Undang-Undang Anti Monopoli, sebagaimana disebutkan dalam pasal 5, 6, 7, 8 UU no. 5 tahun 1999. Dilarangnya perjanjian penetapan harga disebabkan karena perjanjian tersebut dianggap dapat menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Padahal harga itu terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan. Meskipun telah diketahui bahwa
perjanjian sebagaimana dirumuskan dalam pasal 1313 KUH Perdata adalah :
Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya dengan satu orang atau lain. Dengan demikian, sungguhpun mungkin sulit dibuktikan, perjanjian biasa secara hukum sudah dapat dianggap sebagai suatu perjanjian yang sah dan sempurna1. Hal tersebut dipertegas lagi dalam pasal 1 ayat (7) dari UU antimonopoli yang menyebutkan bahwa :
Yang dimaksud dengan suatu perjanjian adalah satu perbuatan dari satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.
Akan tetapi, bagaimana halnya jika tidak ada perjanjian yang tegas (tertulis atau lisan). Apakah semacam “understanding” antara para pihak sudah dapat dianggap sebagai perjanjian. Perjanjian dengan understanding ini disebut dengan “tacit a greement”2 Dalam hukum anti monopoli beberapa negara tacit agreement mungkin dapat diterima sebagai suatu perjanjian, tetapi untuk hukum anti monopoli di Indonesia, yang didasari atas UU no. 5 tahun 1999, masih belum mungkin menerima adanya perjanjian dalam anggapan
1 Munir Fuady. 1999. Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan
Sehat. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung. h.51.
atau tacit agreement tersebut. Contoh dari perjanjian dengan understanding ini adalah jika seorang pelaku usaha memberi sinyal kepada pelaku usaha lain dengan jalan membatasi output atau mengumumkan perubahan harga dengan harapan diikuti oleh pelaku usaha lain. Oleh UU no. 5 tahun 1999, tentang larangan Praktek Monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang untuk selanjutnya akan disebut UU anti monopoli, ada sepuluh macam atau jenis perjanjian-perjanjian yang dilarang bagi pelaku usaha, yang antara lain adalah perjanjian penetapan harga sebagaimana diatur dalam pasal 5,6,7,8 dan UU no. 5 tahun 1999, yang antara lain adalah :
1. Penetapan harga antar pelaku usaha
2. Penetapan harga yang berbeda terhadap barang dan atau jasa yang sama
3. Penetapan harga di bawah harga pasar dengan pelaku usaha lain
4. Penetapan harga jual kembali.
Dengan dilarangnya perjanjian – perjanjian tersebut di atas maka diharapkan pelaku usaha memahami akan hal tersebut sehingga tidak akan melanggarnya. Karena diharapkan pelaku usaha bersaing secara sehat. Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka penting untuk dilakukan penelitian ini yang berjudul “Perjanjian Penetapan Harga dan Implikasinya dalam Hukum Persaingan Usaha”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku?
2. Apakah implikasi dari perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha dalam hukum persaingan usaha?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah-istilah yang digunakan dan diperkenalkan dalam hukum persaingan usaha (competition low) meliputi hukum antimonopoli (anti monopoly law) dan hukum antitrust (antitrust law).3
Hukum persaingan usaha merupakan panah hukum privat dimana mengatur hubungan hukum antara pelaku usaha yang menyangkut hak dan kewajiban para pihak secara keperdataan dalam transaksi perdagangan yang meliputi kegiatan jual beli dan hubungan kontraktual. Dalam setiap persaingan terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
a. Ada dua pihak atau lebih yang terlibat dalam upaya saling menggungguli;
b. Ada kehendak diantara mereka untuk mencapai tujuan yang sama4
Dengan demikian kondisi persaingan sebenarnya merupakan satu karakteristik yang sehat dalam kehidupan manusia yang cenderung untuk saling mengungguli dalam banyak hal. Meskipun demikian Andersena dan Arie Siswanto berpendapat bahwa persaingan di bidang ekonomi merupakan salah satu bentuk persaingan yang paling utama dari sekian
3 Galuh Puspaningrum. 2013. Hukum Persaingan Usaha, Perjanjian dan
Kegiatan yang Dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia. Penerbit
Aswaja Pressindo Yogyakarta. H.67. 4 Ibid, h.70
banyak persaingan antar manusia, kelompok masyarakat dan bahkan bangsa.
Pengertian persaingan usaha secara emplisit tidak dicantumkan dalam UU no. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, namun UU ini hanya memberikan pengertian mengenai “persaingan usaha tidak sehat” dalam pasal 1 butir 6 yang menyebutkan bahwa : Persaingan Usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. Persaingan usaha tidak sehat merupakan dampak dari praktek persaingan usaha. Kondisi persingan usaha dalam beberapa hal memiliki juga aspek-aspek negatif, salah satunya apabila suatu persaingan dilakukan oleh pelaku ekonomi yang tidak jujur, bertentangan dengan kepentingan publik. Resiko ekstrim dari persaingan ini adalah kemungkinan ditempuhnya praktek-praktek curang karena persaingan dianggap sebagai kesempatan untuk menyingkirkan pesaing dengan cara apapun.
Mengenai perjanjian penetapan harga ini dibedakan dalam 4 (empat) macam sebagaimana diatur dalma pasal 5 sampai pasal 8 UU anti monopoli :
a. Penetapan harga (fixed pricing)
(1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha persaingan untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama.
(2) Ketentuan sebagiamana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi :
a. Suatu perjanjian yang dibuat dalam suatu usaha patungan ; atau
b. Suatu perjanjian yang didasarkan UU yang berlaku. Penetapan harga diartikan sebagai penentuan suatu harga umum untuk suatu barang atau jasa oleh suatu kelompok pemasok yang bertindak secara bersama-sama, sebagai kebalikan atas pemasok yang menetapkan harganya sendiri secara bebas5. Penentuan harga sering merupakan pencerminan dari suatu pasar aligopoli yang tidak teratur, serta tidak berlakunya hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan. Larangan melakukan perjanjian penetapan harga karena menyebabkan tidak dapat berlakunya hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari penawaran dan permintaan (supply and demand)6
5 Ibid. h.33.
6 Mustafa Kamal Rokan. 2011.Hukum Persaingan Usaha Teori dan Prakteknya
Pasal yang mengatur penetapan harga merupakan perse illegal, sehingga dapat dilakukan dan diterapkan secara langsung tanpa harus mencari latar belakang mereka melakukan perbuatan tersebut atau tidak diperlukan pembuktian perbuatan tersebut menimbulkan terjadinya praktek monopoli atau persaingan usaha tidak sehat.
b. Diskriminasi harga
Pasal 6 UU no. 5 tahun 1999 menyatakan bahwa : Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama.
Perjanjian deskriminasi harga adalah perjanjian yang dibuat oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya dimana unutk suatu produk dengan harga yang berbeda-beda. Hal yang dilarang adalah membuat perjanjian yang memberlakukan deskriminasi terhadap kedudukan konsumen yang satu dengan konsumen lainnya, dengan cara memberikan harga yang berbeda-beda terhadap barang atau jasa yang sama. Namun demikian dapat saja terjadi harga yang berbeda antara konsumen yang satu dengan lain disebabkan perbedaan biaya seperti promosi dan lain-lain. Karenanya
dalam teori ilmu hukum persaingan dikenal beberapa macam deskriminasi harga antara lain :7
a. Deskriminasi harga primer b. Deskriminasi harga sekunder c. Deskriminasi harga umum d. Deskriminasi harga geografis e. Deskriminasi harga tingkat pertama f. Deskriminasi harga tingkat kedua g. Deskriminasi harga secara langsung h. Deskriminasi harga secara tidak langsung.
Oleh karena itu, secara teknis deskriminasi harga baru layak dilarang oleh hukum anti monopoli manakah perbedaan harga terhadap konsumen yang satu dengan konsumen lainnya pada prinsipnya bukan cermin dari perbedaan harga dasar (marginal cost) yang dikeluarkan oleh pihak penjual.
c. Penetapan harga dibawah harga pasal (predatoring princing) Pasal 7 UU no. 5 tahun 1999 menyatakan bahwa :
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga dibawah harga pasar, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Pasal ini melarang pelaku usaha tidak sehat. Pasal ini
melarang pelaku usaha melakukan kesepakatan dengan pelaku usaha pesaing untuk menetapkan harga jual barang atau jasa di bawah harga standar pasar, sehingga dapat merugikan pelaku usaha lainnya. Penetapan harga di bawah harga pasar adalah strategis yang biasa dilakukan oleh suatu perusahaan atau beberapa perusahaan yang dominan untuk menyingkirkan dan merugikan pesaingnya di suatu pasar, seperti penekanan harga dan pemotongan harga selektif agar mereka dapat memonopoli pasar.
d. Penetapan harga jual kembali.
Pasal 8 UU no. 5 tahun 1999 menyatakan bahwa : pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak akan menjual atau memasok kembali, dengan barang dan atau jasa yang diterimanya harga yang lebih rendah dari pada harga yang telah diperjanjikan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Pada prinsipnya pembeli bebas untuk menetapkan harga dari barang atau jasa yang sudah dibelinya sesuai dengan permintaan dan penawaran yang ada di pasar.
a. Penetapan harga secara maksimum (maximum price fixing)
Strategi penetapan harga ini biasanya diterapkan oleh produsen kepada distributor produk bersangkutan, yang bertujuan untuk mengontrol distributor untuk menjual diatas harga maksimum yang ditawarkan. Yang diinginkan dari perjanjian ini adalah terkendalinya harga yang bersaing sampai pada tingkat penjualan eceran. b. Penetapan harga secara minimum (minimum price
fixing)
Penetapan harga minimum ini juga sering disebut dengan floor price, artinya kesepakatan antar pelaku usaha dimana pembeli akan menjual kembali barang yang dibelinya pada harga yang tidak boleh dibawah harga yang ditentukan. Strategi penetapan harga ini umumnya memiliki dua tujuan utama, yakni mempertahankan nama baik produsen atau merek tertentu dan untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat pada level distributor.8
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Konsep Penelitian
Konsep penelitian ini adalah dalam konteks hukum persaingan (hukum persaingan bisnis), dimana ketika pelaku usaha akan memasarkan produknya haruslah bersaing secara sehat dan tidak melakukan perjanjian penetapan harga yang dilarang sebagaimana diatur dalam UU no. 5 tahun 1999 karena akan dapat menimbulkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Maka konsep hukum yang akan dianalisis adalah hukum persaingan usaha, yang memberikan kepastian hukum bahwa UU no. 5 tahun 1999, telah memberikan sumber-sumber mengenai perjanjian-perjanjian yang dilarang dilakukan oleh pelaku usaha.
3.2 Jenis Penelitian
Jika ditinjau dari jenis penelitian hukum, maka penelitian yang akan dilakukan ini termasuk jenis penelitian hukum normatif, yang bertujuan untuk menemukan azas-azas hukum yang terkandung dalam suatu peraturan.
3.3 Jenis Pendekatan
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan dan regulasi. Disamping itu untuk mempertajam analisis juga dilakukan pendekatan konseptual.
3.4 Data dan Sumber Data
Data yang diteliti adalah data sekunder yang bersumber dari penelitian kepustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yang digunakan antara lain UU No. 5 Tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Bahan hukum sekunder yang terdiri dari karya ilmiah dalam bentuk buku-buku yang relevan dengan masalah yang diteliti. Bahan hukum tersier yang berupa kamus hukum dan lainnya.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah studi dokumen dengan sistem kartu.
3.6 Pengolahan dan Analisis Data
Untuk menganalisis bahan-bahan hukum yang telah terkumpul, pertama – tama digunakan teknik diskripsi artinya uraian apa adanya
terhadap suatu kondisi dari proporsi – proporsi hukum dan non hukum. Kemudian dilanjutkan dengan teknik interpretasi berdasarkan jenis enterpretasi yang ada dalam hukum.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Perjanjian Penetapan Harga (Price Fixing Agreement)
UU No. 5 Tahun 1999 melarang perjanjian antarprodusen, di mana produsen menetapkan harga yang hams dibayar pembeli untuk barang dan/atau jasa yang diperdagangkan di pasar bersangkutan yang sama dari segi faktual dan geografis. Perjanjian harga akan menjadikan harga menjadi tinggi, bukan harga pasar. Karenanya, penetapan harga merupakan tindakan yang mencederai persaingan. Tindakan tersebut akan merugikan konsumen dengan bentuk harga yang lebih tinggi dan jumlah barang yang lebih sedikit tersedia. Larangan melakukan perjanjian penetapan harga karena menyebabkan tidak dapat berlakunya hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari penawaran dan permintaan (supply and demand) Pasal 5 Ayat 1 berbunyi:
"Pelaku Usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan/jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan."
Melihat rumusan pasal tersebut berarti larangan ini ber-sifat per se yang tidak mengharuskan melihat implikasi atau ada-nya hambatan persaingan usaha. Perjanjian penetapan harga dilarang oleh UU No. 5 Tahun 1999 disebabkan penetapan harga bersama-sama
akan menyebabkan tidak dapat berlakunya hukum pasar tentang harga yang terbentuk dari adanya tawaran dan permintaan. "Pelaku usaha dilarang melakukan perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya. Selaijn itu, pihak yang melakukan perjanjian harus saling bersaing, berarti pelaku usaha tersebut berada pada pasar bersangkutan faktual yang sama baik secara vertikal maupun horizontal. Perjanjian dapat dilakukan dengan tertulis ataupun lisan.
Harga adalah pembayaran untuk barang dan jasa yang tidak hanya meliputi biaya pokok, tetapi juga mencakup biaya tambahan seperti diskon atau penundaan pembayaran. Hal ini menegaskan bahwa setiap penjual "bebas" menetapkan sendiri harga penjualannya. Misalnya, terjadinya kartel harga di mana anggota-anggota kartel menyepakati harga tertentu terhadap suatu barang, karenanya para pihak yang melakukan perjanjian tidak mempunyai pilihan lain, apakah menaikkan atau menurunkan harga. Inilah yang menghilangkan persaingan.
Dalam, praktiknya, pada pasar yang bersifat oligopolis ataupun pasar yang dikuasai oleh pelaku usaha yang memiliki posisi dominan penentuan harga dapat dilakukan hanya dengan memberikan tanda kepada pelaku usaha lainnya dengan bentuk menaikkan harga yang biasanya akan selalu diikuti oleh pelaku usaha lainnya. Atau juga dengan cara membuat pengumuman atau artikel di media massa yang
mengindikasikan bahwa perlu kenaikan harga sehingga pelaku usaha lainnya tahu bahwa mereka harus ikut menaikkan harga. Hal ini merupakan bentuk kolusi yang disamarkan (tacit collusion).
Perjanjian penetapan harga dikecualikan dalam tiga hal, yakni :
a. Perjanjian harga yang diizinkan. Seperti penentuan harga yang dilakukan oleh pemerintah. Contoh kasus, sewaktu perusahaan penerbangan di dalam negeri terlibat perang harga yang sebetulnya menguntungkan konsumen, tindakan yang diambil pemerintah adalah mendamaikan perusahaan penerbangan dengan jalan menentukan harga yang harus dipatuhi oleh semua perusahaan penerbangan.
b. Perjanjian harga yang dibuat dalam-joint venture. Sebe- narnya tidak jelas yang dimaksud dengan joint venture dalam UU ini. Sehingga joint venture di sini dapat diartikan penggabungan usaha tertentu dari ketentuan Pasal 5 ayat'l UUNo. STahun 1999.
c. Perjanjian Harga Langsung.
Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-I/2005 tentang Penyediaan Jasa Survei Gula Impor
Diawali kegiatan monitoring KPPU terhadap kegiatan penyediaan jasa verifikasi atau penelusuran teknis gula yang
pelaksanaannya dilakukan oleh PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) dan PT Surveyor Indonesia (Pesero).
Bahwa dari hasil pemeriksaan KPPU terbukti telah terjadi kese-pakatan kerja sama antara Sucofindo dan Surveyor Indonesia tentang pelaksanaan Verifikasi atau penelusuran Teknis Impor Gula dengan MOU-01/SP-DRU/IX/2004, No. 80S.1/DRU-IX/SPMM/2004 pada 24 September 2004.
Majelis Komisi melihat bahwa unsur-unsur Pasal 5 telah terpenuhi, yakni:
l. Pelaku Usaha. Bahwa PT Surveyor Indonesia (Pesero) merupakan badan usaha yang berbentuk badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di Jakarta dan melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia. PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) merupakan badan usaha yang berbentuk badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di Jakarta dan melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia.
2. Perjanjian. Bahwa PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) telah bersepakat atau mengikatkan diri dalam suatu Memorandum of Understanding membentuk KSO untuk pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis imporgula.
3. Pelaku Usaha Pesaing. Yang dimaksud dengan pelaku usaha pesaing dalam hal ini adalah PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan/atau PT Superintending Company of Indonesia (Pesero). PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan/atau PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) menjalankan usaha yang sama dan saling bersaing.
4. Unsur Menetapkan Harga. Berdasarkan fakta PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) yang ditunjuk sebagai surveyor pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula tidak pernah menawarkan surveyor fee masing-masing, tetapi justru membentuk KSO dengan menawarkan surveyor fee hasil kesepakatan PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) kepada para importir gula. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi pertemuan antara KSO dengan para importir gula yang juga membahas mengenai besaran surveyor fee namun para importir gula tidak mempunyai pilihan lain sehingga harus menerima besaran surveyor fee yang ditetapkan oleh KSO.
6. Barang dan/atau Jasa. Bahwa kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang dilakukan oleh PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) merupakan layanan yang berbentuk pekerjaaVi yang
diperdagangkan dan dimanfaatkan oleh para importirgula dan PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) memperoleh imbalan atas pekerjaan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang dilakukannya, dan oleh karenanya kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula ini dapat dikategorikan sebagai jasa.
7. Konsumen atau Pelanggan. Bahwa para importir gula adalah pemakai jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula untuk kepentingan mencukupi kebutuhan perusahaannya sendiri dan/ atau untuk kepentingan pihak lainnya.
8. Pasar Bersangkutan. Berdasarkan fakta telah terjadi interaksi antara PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) dengan para importir gula dalam hal proses verifikasi atau penelusuran teknis impor gula. Dalam interaksi tersebut, PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) berada dalam posisi sebagai penyedia jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula dan para importir gula berada dalam posisi sebagai pengguna atau pemakai jasa verifikasi.
Bahwa PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) menyediakan jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula bagi importir gula yang berada di
dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Majelis Komisi menyimpulkan bahwa PT Surveyor Indonesia (Pesero) dan PT Superintending Company of Indonesia (Pesero) secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.
4.2 Perjanjian Diskriminasi Harga (Price Discrimination Agreement) Perjanjian diskriminasi harga diatur pada Pasal 6 UU No 5 Tahun 1999 sebagai berikut.
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian yang meng-akibatkan pembeli yang satu harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untiik barang dan jasa yang sama."
Hal yang dilarang pada pasal ini adalah membuat perjanjian yang memberlakukan diskriminasi terhadap kedudukan konsumen yang satu dengan konsumen lainnya, dengan cara memberikan harga yang berbeda-beda terhadap barang atau jasa yang sama. Namun demikian, dapat saja terjadi harga yang berbeda antara konsumen satu dengan yang lain disebabkan perbedaan biaya seperti promosi dan lain-lain.
Tentu, tidak semua pemberian harga yang berbeda tersebut dilarang oleh hukum anti monopoli. Sebab, jika cost yang dikeluarkan
oleh penjual untuk satu konsumen dengan konsumen lainnya berbeda, maka harga secara logis tentu akan berbeda-beda pula. Misalnya, barang yang diambil dari tempat yang jauh dan memakan biaya yang tinggi, tentu akan menaikkan harga. Karena itu, secara teknis, diskriminasi harga baru layak dilarang oleh hukum antimonopoli manakala perbedaan harga terhadap konsumen yang satu dengan konsumen lainnya pada prinsipnya bukan cermin dari perbedaan harga dasar (marginal cost) yang dikeluarkan oleh pihak penjual.
Karenanya terdapat beberapa syarat untuk terjadinya dis-kriminasi harga:
1. Para pihak haruslah melakukan kegiatan bisnis, sehingga diskriminasi harga akan merugikan apa yang disebut dengan "primary line injury", yakni diskriminasi harga yang dilakukan produsen atau grosir terhadap pesaingnya. Demikian pula diskriminasi harga dapat merugikan "secondary line" jika diskriminasi harga dilakukan oleh suatu produsen terhadap suatu grosir, atau retail yang satu dan yang lain mendapat- kan perlakuan khusus. Hal ini akan menyebabkan grosir atau retail yang tidak disenangi tidak dapat berkompetisi secara sehat dengan grosir atau retail yang disenangi.
2. Terdapat perbedaan harga baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui diskon atau pembayaran
secara kredit, namun pada pihak lain harus cash dan tidak ada diskon.
3. Dilakukan terhadap pembeli yang berbeda. Jadi dalam hal ini paling sedikit harus ada dua pembeli.
4. Terhadap barang yang sama tingkat kualitasnya.
5. Perbuatan tersebut secara substansial akan merugikan, merusak, atau mencegah terjadinya persaingan yang sehat atau dapat menyebabkan monopoli pada suatu aktivitas perdagangan."
4.3 Jual Rugi (Predatory Pricing)
Penetapan harga di bawah harga pasar dengan pelaku usaha lain disebut juga penetapan harga di bawah biaya marjinal. Larangan ini dicakup oleh Pasal 7 dari Undang-Undang Anti Monopoli. Larangan berlaku apabila penetapan harga di bawah harga pasar dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Dengan demikian, penetapan harga di bawah harga pasar bersifat rule of reason. Larangan pembuatan perjanjian yang berisikan penetapan harga barang atau jasa di bawah harga pasar atau yang dikenal dengan istilah "and dumping". Ini dimaksudkan agar pesaingnya mengalami kerugian karena barang atau jasanya tidak laku, padahal harga barang atau jasa-nya sesuai dengan harga pasar.
Apabila perjanjian yang menetapkan harga di bawah harga pasar ini tidak dilarang, rnaka pihak yang kurang kuat modalnya tentu tidak sanggup menyainginya. Biasanya pada gilirannya nanti, apabila pihak pesaing satu demi satu berguguran karena barangnya tidak laku, pihak yang membuat perjanjian tadi kem-bali menaikkan harga dengan sangat tinggi karena tidak mem-punyai pesaing lagi. Tentunya, pasar akan menjadi monopolis atau oligopolis sehingga akan mudah merugikan konsumen.
Dengan kata lain, menetapkan harga yang sangat rendah untuk sementara waktu agar pelaku usaha lain tidak dapat masuk karena harga pasar yang ada terlalu rendah untuk mendapatkan keuntungan. Untuk menghambat atau rnengusir pelaku usaha dari pasar memang biasanya pelaku usaha saingannya akan menerapkan harga yang rendah (banting harga). Predatory pricing dari segi ekonomi adalah menetapkan harga yang tidak wajar, yaitu lebih rendah daripada biaya variabel rata-rata. Penentuan biaya variabel rata-rata sangat sulit dilakukan dalam dunia nyata. Oleh sebab itu, kebanyakan praktisi akan mengatakan bahwa predatory pricing adalah tindakan menentukan harga di bawah biaya rata-rata atau tindakan jual rugi.
Tindakan lain yang juga biasa dilakukan adalah membuat kapasitas produksi yang tidak memungkinkan pelaku usaha Jainnya untuk dapat masuk ke pasar karena skala ekonomis-nya tidak lagi
terjangkau. Penentuan kapasitas produksi dapat terjadi jauh sebelum pelaku usaha lain masuk atau sesaat sebelum pelaku usaha lain masuk.
Tindakan pertama dilakukan pada saat pendirian usaha, pada saat itu skala produksi ditentukan jauh lebih besar dari-pada jumlah produksi sesungguhnya. Jika ada pesaing yang ingin masuk, pelaku usaha itu tinggal membanjiri pasar dengan produknya. Akibat yang terjadi di pasar adalah jumlah peluang menipis dan harga turun. Dalam hal ini pesaing akan berpikir panjang dan bahkan mungkin akan mengurungkan niatnya untuk masuk ke pasar.
Cara kedua biasanya dilakukan pada bidang yang membutuhkan masa konstruksi panjang. Pada praktiknya sering kali penambahan kapasitas dilakukan hanya untuk menakut-nakuti pesaing tanpa perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kedua kegiatan ini tergolong pada tindakan pre-emptive expansion.
4.4. Penetapan Harga Jual Kembali (Resale Price Maintenance)
Penetapan harga jual kembali dilarang oleh Pasal 8 UU No. 5 Tahun 1999. Pexaku usaha dilarang untuk membuat perjan-jian dengan pelaku usaha lainnya bahwa pihak pembeli barang atau jasa tersebut tidak akan menjual atau memasok barang atau jasa barang tersebut di bawah harga yang telah ditetapkan bersama. Prinsipnya,
pihak pembeli bebas untuk menetapkan harga dari barang atau jasa yang sudah dibelinya sesuai dengan permintaan dan penawaran yang ada di pasar.
Terdapat dua macam penetapan harga jual kembali, yaitu: a. Penetapan Harga Secara Maksimum (Maximum Price Fixing)
Strategi penetapan harga ini biasanya diterapkan oleh pro-dusen kepada distributor produk bersangkutan, yang bertujuan untuk mengontrol distributor untuk tidak menjual di atas harga maksimum yang ditawarkan. Mungkin saja konsumen tidak di-rugikan dengan perjanjian ini, malah bisa diuntungkan karena yang diperjanjikan larangan untuk menjual lebih mahal atau di atas harga maksimum. Yang diinginkan dari perjanjian ini adalah hasil yang diharapkan melalui strategi ini adalah terkendalinya harga yang bersaing, sampai pada tingkat penjualan eceran.
b. Penetapan harga secara minimum (Minimum Price Fixing) Penetapan harga minimum ini juga sering disebut dengan floor price artinya, kesepakatan antarpelaku usaha di mana pembeli akan menjual kembali barang yang dibelinya pada harga yang tidak boleh di bawah harga yang ditentukan. Strategi penetapan harga ini umumnya memiliki dua tujuan utama, yakni mempertahankan nama baik (goodwill) produsen
atau merek tertentu dan untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat pada level distributor. Produsen yang memiliki nama yang terkenal untuk produk tertentu pada pasar tertentu, akan berusaha untuk mempertahankan nama baiknya tidak hanya melalui kualitas dan rancangan barang yang diproduksinya akan tetapi juga pada harga yang ditetapkannya. Produk yang berkelas biasanya juga memiliki kelas harga yang relatif tinggi yang harus dipertahankan untuk menjaga citra produsen.
Di sisi lain, pada level distributor, mereka juga bersaing untuk memperebutkan pasar produk berkelas tersebut dari dis-tributor pesaing. Untuk menciptakan kesan bahwa disdis-tributor bersangkutan merupakan pusat distribusi produk berkelas tertentu, maka dibutuhkan promosi yang memerlukan biaya tambahan. Hasil akhir, distributor yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk promosi sehingga distributor akan me-nawarkan harga yang sedikit lebih tinggi untuk produk berkelas yang sama, dibandingkan dengan distributor lain yang tidak melakukan upaya promosi. Namun, hampir dapat dipastikan konsumen akan lebih cenderung memilih untuk memperoleh produk yang dimaksud dari distributor yang menawarkan harga lebih rendah (karena tanpa biaya promosi).
Distributor yang memperoleh keuntungan (pangsa pasar) dalam situasi sema-cam ini disebut sebagai "free rider" pihak yang memperoleh keuntungan secara cuma-cuma.
Dengan kedua alasan pokok di atas, produsen biasanya menetapkan harga minimum untuk produk yang dihasilkan. Strategi ini selain dapat mengontrol produknya dijual pada tingkat harga yang sesuai dengan kelasnya, juga untuk men-cegah kemungkinan munculnya free rider.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dimana disini jelas ditetapkan bahwa pelaku usaha yang melanggar ketentuan UU No.5 th 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat khususnya mengenai penetapan harga ini diancam dengan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam pasal 47.
2. Implikasi dari perjanjian penetapan harga yang dilarang bagi pelaku usaha dalam hukum persaingan usaha adalah pelaku usaha akan bersaing secara sehat. Karena perjanjian penetapan harga antara para pelaku usaha sebagaimana diatur dalam pasal 5,6,7,8 UU no. 5 th 1999 akan mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.
5.2 Saran
Diharapkan pada komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk lebih intensif melakukan pengawasan terhadap para pelaku usaha yang berindikasi melakukan persaingan usaha tidak sehat sehingga benar-benar persaingan diantara mereka terjadi secara sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Galuh Puspaningrum. Hukum Persaingan Usaha, Perjanjian dan Kegiatan yang Dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia. Penerbit Aswaja Pressindo Yogyakarta. 2013.
Munir Fuady. Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti Bandung. 1999.
Mustafa Kamal Rokan. Hukum Persaingan Usaha Teori dan Prakteknya di Indonesia. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2011. UU No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan