• Tidak ada hasil yang ditemukan

yeliyunita PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "yeliyunita PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG"

Copied!
244
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

1

-yeliyunita

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 merupakan pelaksanaan dari

Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang

Pemerintahan Daerah, serta Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung

Jabung Barat Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Penyusunan

Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah,

Penyusunan RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

mengakomodir aspirasi masyarakat di daerah yang dihasilkan melalui

penyelenggaraan forum-forum perencanaan secara berjenjang dan

terjadwal mulai dari Musrenbang Tingkat Desa/Kelurahan, Musrenbang

Tingkat Kecamatan, Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah (F-SKPD) serta

Musrenbang Tingkat Kabupaten dan hasil Musrenbang Tingkat Provinsi.

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 merupakan

dokumen perencanaan tahunan Pemerintah Daerah dan akan menjadi

periode pertama kepemimpinan Kepala Daerah Terpilih tahun 2015 ini.

Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka penyusunan Rencana

Kerja Pemerintah Daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri

Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan

Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara

Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

Pembangunan Daerah, dapat diarahkan pada program dan kegiatan

prioritas yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat

dan pencapaian keadilan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

LAMPIRAN

PERATURAN BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015

TENTANG

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT TAHUN 2016

(3)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

2

-1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN

Dasar Hukum sebagai pijakan dalam penyusunan RKPD Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2015 adalah :

1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah

Otonomi Kabupaten di Provinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 25) sebagaimana telah diubah

dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 tentang Pembentukan

Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko dan Daerah Tingkat II Tanjung

Jabung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 50,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2755);

2) Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 tentang Pembentukan

Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi

dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1999 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 3903) sebagaimana telah diubah dengan

Undang –Undang Nomor 14 Tahun 2000 ( Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2000 Nomor 81, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 3969);

3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

4) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 4421);

5) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan

Perundang-undangan

(Lembaran

Negara

Republik

Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 5234);

(4)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

3

-7) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir

dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan

kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republlik Indonesia

Nomor 5679);

8) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005

Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4578);

9) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah

Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

10) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2007

Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

4741);

11) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan,

Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan

Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4817);

12) Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 5,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5272);

13) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah

terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun

(5)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

4

-2011 tentang perubahan kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan

Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);

14) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang

Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang

Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi

Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik

Indonesia Tahun 2010 Nomor 517);

15) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 tahun 2011 Tentang

Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana telah diubah

dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2012

tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32

Tahun 2011 Tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial

Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 540);

16) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 Tentang

Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita Negara Republik

Indonesia Tahun 2014 Nomor 32);

17) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 23

Tahun 2006 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah

(Lembaran Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2006

Nomor 23);

18) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 13 Tahun

2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah

dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tanjung

Jabung Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Tahun 2008 Nomor 13) sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan

Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 6 Tahun 2012

(lembaran Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2013

Nomor 6);

(6)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

5

-19) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 14 Tahun

2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah

Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Lembaran Daerah Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2008 Nomor 14) sebagaimana diubah

terakhir dengan Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Nomor 7 Tahun 2012 (Lembaran Daerah Kabupaten Tanjung Jabung

Barat Tahun 2013 Nomor 7);

20) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 15 Tahun

2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis

Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Lembaran Daerah

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2008 Nomor 15);

21) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 3 Tahun

2009 tentang Tata Cara Penyusunan Perencanaan, Pengendalian dan

Evaluasi Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2009 Nomor 3);

22) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 11

Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Lembaran Daerah Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2011 Nomor 11);

23) Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Nomor 12 Tahun

2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011-2016 (Lembaran

Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011 Nomor 12);

1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN

Dalam kaitannya dengan sistem perencanaan pembangunan

sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU Nomor 25 tahun 2004

maupun UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemeritahan Daerah maka

keberadaan RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

merupakan bagian yang tidak terpisahkan didalam Sistem Perencanaan

Pembangunan Daerah, khususnya dalam menjalankan agenda

pembangunan yang telah tertuang baik dalam RPJPD maupun RTRW

(7)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

6

-Kabupaten Tanjung Jabung Barat, serta dari keberadaannya untuk

dijadikan pedoman bagi SKPD untuk penyusunan Renja SKPD.

Dalam kaitannya dengan sistem keuangan sebagaimana yang

diamanatkan dalam UU No. 17 tahun 2003, maka penyusunan RKPD

Kabupaten Tanjung Jabung Barat untuk setiap tahunnya, akan

dijadikan pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Gambaran tentang hubungan antara RKPD Kabupaten Tanjung

Jabung Barat Tahun 2016 dengan dokumen perencanaan lainnya baik

dalam kaitan dengan sistem perencanaan pembangunan maupun

dengan sistem keuangan adalah sebagaimana ditunjukkan pada gambar

berikut ini:

Dengan ditetapkanya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah yang menggantikan Undang-Undang Nomor

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada pasal 9

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menjelaskan bahwa urusan pemerintahan

terdiri dari 3 jenis, yaitu urusan pemerintahan absolut, urusan

(8)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

7

-pemerintahan konkuren dan urusan -pemerintahan umum. Pemerintah

Daerah Kab. Tanjung Jabung Barat akan menjalankan urusan

pemerintahan konkuren sebagai dasar pelaksanaan otonomi daerah.

Urusan pemerintahan konkuren dimaksud terdiri atas 24 jenis

urusan pemerintahan wajib yang terbagi menjadi 6 urusan pemerintahan

wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan 18 urusan

pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar, serta 8

jenis urusan pemerintahan pilihan, dan berdasarkan pasa 14

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 bahwa penyelenggaraan urusan

pemerintahan bidang kehutanan, kelautan, serta energi dan sumber daya

mineral dibagi antara pemeritah pusat dan daerah provinsi yang

memungkinkan terjadinya perubahan nomenklatur Struktur Organisasi

dan Tata Kerja (SOTK) SKPD di Pemerintah Daerah Kab. Tanjung Jabung

Barat.

Berkenaan dengan hal tersebut Pemerintah Daerah Kab. Tanjung

Jabung Barat pada tahun 2016 dapat melakukan penyerasian dan/

penyesuaian dalam penyusunan RKPD Perubahan tahun 2016 dengan

mempedomani RPJMN 2015-2019 dan RKP Tahun 2016 serta peraturan

dan perundang-undangan yang berlaku.

1.4. SISTEMATIKA PENULISAN RKPD

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 adalah

disusun dengan sistimatika penyusunan sebagai berikut :

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Dasar Hukum Penyusunan

1.3. Hubungan Antar Dokumen

1.4. Sistematika Penulisan RKPD

1.5. Maksud dan Tujuan

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2014 DAN

CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

(9)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

8

-2.2. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Tahun

2014 dan Realisasi RPJMD

2.3. Permasalahan Pembangunan Daerah

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN

KEUANGAN DAERAH

3.1.

Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

3.2.

Arah Kebijakan Keuangan Daerah

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan

4.2. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Tahun 2016

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB VI PENUTUP

1.5. MAKSUD DAN TUJUAN

1.5.1. Maksud Penyusunan RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat

1. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 merupakan

dokumen perencanaan pembangunan daerah dari hasil

penjaringan

aspirasi

melalui

Musyawarah

Perencanaan

Pembangunan (Musrenbang) dan forum-forum perencanaan

lainnya.

2. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 ini

mengakomodir Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Daerah (RPJMD) Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun

2011-2016, yang memuat evaluasi RPJMD, rancangan kerangka

ekonomi daerah, prioritas dan sasaran pembangunan daerah

beserta kerangka pendanaannya.

3. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 dapat

menjadi salah satu acuan untuk mengukur efektivitas

pencapaian tujuan dan sasaran yang tertuang dalam RPJMD

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011-2016.

(10)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 1

Hal

9

-1.5.2. Tujuan Penyusunan RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

1. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 menjadi

pedoman dalam penyempurnaan Rencana Kerja Satuan Kerja

Perangkat Daerah (Renja SKPD) Tahun 2016.

2. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 menjadi

pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA)

serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun

2016.

3. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 menjadi

pedoman dalam penyusunan Rancangan APBD Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun Anggaran 2016.

4. RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016 digunakan

sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan

daerah.

(11)
(12)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

10

-EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2014

DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

Pemerintah Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam

melakukan penyusunan Perbup RKPD Tahun 2016 ini menggunakan hasil

evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah (EKPOD),

dilakukan proses pengumpulan dan analisa data secara sistematik

terhadap penyelenggaraan pemerintah daerah (peyelenggaraan urusan

wajib dan urusan pilihan), kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah,

dan kelengkapan aspek-aspek penyelenggaraan pemerintah beserta fokus

dan indikator kinerja kuncinya dengan menggunakan sistem pengukuran

kinerja, sehingga kemampuan daerah dalam mencapai tujuan otonomi

daerah yang meliputi peningkatan kesejahteraan masyarakat, kualitas

pelayanan umum dan kemampuan daya saing daerah dapat terpantau

dan terukur, untuk menciptakan lingkungan atau atmosfer kelembagaan

yang memungkinkan adanya interaksi antar strata pemerintahan dan

antara pemerintah dan rakyat berada dalam suatu tata nilai yang baik.

Pencapaian hasil evaluasi kinerja pemerintah daerah tersebut

disampaikan kepada pemerintah, dewan perwakilan rakyat daerah dan

dinformasikan kepada masyarakat sebagai bentuk transparansi capaian

pembangunan pemerintah daerah dalam bentuk dokumen-dokumen

laporan penyelenggaraan pemerintah daerah (LPPD, ILPPD dan LKPJ) atau

dokumen evaluasi, dokumen perencanaan pembangunan daerah (RPJPD,

RPJMD, Renstra SKPD dan RKPD).

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah bahwa pemerintah pusat melakukan

pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan

pemerintah oleh daerah, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Tanjung

Jabung Barat dapat melakukan penyesuaian dan penyerasian terhadap

aspek-aspek beserta fokus dan indikator kunci yang tertuang dalam Perda

(13)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

11

-RKPD Tahun 2016 sesuai peraturan dan perundang-undangan yang

ditetapkan oleh pemerintah.

2.1. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1.1. Karakteristik lokasi dan wilayah

Tanjung Jabung Barat adalah salah satu Kabupaten yang terletak

di Pantai Timur Provinsi Jambi, tepatnya antara 0

o

53’ – 01

o

41’ Lintang

Selatan dan antara 103

o

23’ – 104

o

21’ Bujur Timur. Berdasarkan letak

geografisnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat berbatasan dengan :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Batanghari

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala dan Kabupaten

Tanjung Jabung Timur.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Batanghari dan

Kabupaten Tebo.

Pusat pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat berada di

Kota Kuala Tungkal yang berjarak ± 125 Km dari Kota Jambi (Ibukota

Provinsi Jambi). Posisi Kabupaten Tanjung Jabung Barat cukup strategis

sebagai Kawasan Pantai Timur (KPT) Provinsi Jambi yang langsung

berhadapan dengan kawasan pertumbuhan ekonomi yaitu IMS-GT

(Indonesia, Malaysia, Singapura Growth Triangle).

Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdiri dari 13 (tiga belas)

kecamatan, dengan 114 (seratus empat belas) desa dan 20 (Dua puluh)

kelurahan. Luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat keseluruhan

adalah 5.375,16 Km

2

, dimana kecamatan yang memiliki wilayah terluas

adalah Kecamatan Batang Asam yaitu 1.042,37 Km

2

dan wilayah

tersempit adalah Kecamatan Tungkal Ilir yang merupakan Ibu Kota

(14)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

12

-Tabel 2.1

Pembagian Wilayah Administrasi

di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2014

No

Kecamatan

Ibukota

Luas

(Km

2

)

Kelurahan/Desa

Kel. Desa Jml.

1 Tungkal Ulu

Pelabuhan Dagang

345,69

1

9

10

2 Merlung

Merlung

311,65

1

9

10

3 Batang Asam

Dusun Kebun

1.042,37

1

10

11

4 Tebing Tinggi

Tebing Tinggi

342,89

1

9

10

5 Renah Mendaluh Lubuk Kambing

473,72

1

9

10

6 Muara Papalik

Rantau Badak

336,38

1

9

10

7 Pengabuan

Teluk Nilau

440,13

1

12

13

8 Senyerang

Senyerang

426,63

1

9

10

9 Tungkal Ilir

Kuala Tungkal

222,09

8

2

10

10 Bram Itam

Bram Itam Kiri

312,66

1

9

10

11 Seberang Kota

Tungkal V

243,07

1

7

8

12 Betara

Mekar Jaya

570,21

1

11

12

13 Kuala Betara

Betara Kiri

307,67

1

9

10

Jumlah

5.375,16 20

114

134

Sumber : BPS Kab.Tanjab Barat, tahun 2014, data di olah

Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki topografi wilayah yang

bervariasi mulai dari ketinggian 0 m dpl (diatas permukaan laut) di bagian

timur sampai pada ketingian di atas 500 m dpl.

Secara topografis, Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdiri atas 3

(tiga) kelompok variasi ketinggian yaitu (BPS, 2014):

1) Daerah dataran rendah 0-25 m seluas 213.424,4 ha (42,8%), terdapat

di Kecamatan Tungkal Ilir, Kecamatan Seberang Kota, Kecamatan

Kuala Betara, Kecamatan Bram Itam, Betara, Kecamatan Pengabuan

dan Kecamatan Senyerang;

2) Daerah dataran dengan ketinggian sedang 25-500 m seluas 273.090,9

ha (54,8%), terdapat di Kecamatan Tungkal Ulu, Kecamatan Merlung,

sebagian Kecamatan Batang Asam, Kecamatan Tebing Tinggi, sebagian

Kecamatan Renah Mendaluh dan Kecamatan Muara Papalik; dan

(15)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

13

-3) Daerah dataran tinggi >500 m seluas 11.910 ha (2,4%), terdapat di

sebagian Kecamatan Batang Asam dan Kecamatan Renah Mendaluh.

Kondisi air permukaan dan air tanah di Kabupaten Tanjung Jabung

Barat dipengaruhi oleh musim dan fluktuasi pasang surut. Pada saat

musim penghujan fluktuasi air tanah dan permukaan akan tinggi

sehingga menyebabkan dibeberapa tempat terjadi genangan atau banjir

sedangkan pada saat kemarau dimana air sungai rendah dan terjadi

penyusutan air laut jatuh ke wilayah pedalaman.

Dibagian muara sungai dan pesisir keadaan tata airnya sangat

tergantung pada pengaruh pasang surut yang terjadi di Selat Berhala.

Frekwensi pasang surut terjadi pada setiap 12 jam dengan ketinggian

permukaan antara 2-3 meter, bahkan pada saat pasang besar (spring tide)

dapat lebih tinggi lagi. Batas jangkauan pasang surut yang langsung

maupun yang tidak sehingga intrupsi air laut dapat berpindah-pindah

sesuai dengan keadaan sungai dan pergantian musim. Berdasarkan

pengaruh pasang surut pada dataran rendah dapat diidentifikasikan

sebagai daerah yang sedikit atau sama sekali tanpa pengaruh pasang

surut yakni jalur aliran sungai perential dan tawar, dataran banjir

musiman dan daerah belakang.

Berdasarkan ketersediaan sumberdaya air dibagi dalam 3 (tiga)

wilayah sebagai berikut : (1) Wilayah Basah, di wilayah ini

dikembangkan padi, sayur-sayuran, palawija tambak/kolam keramba

dan pengembangan peternakan unggas; (2) Wilayah Basah/Kering, di

wilayah ini dikembangkan padi, palawija termasuk sayur-sayuran dan

ternak seperti kambing dan ayam; dan (3) Wilayah Kering, di wilayah ini

dikembangkan ternak besar dan perkebunan.

Kabupaten Tanjung Jabung Barat beriklim tropis dengan

temperatur rata-rata 26.9

o

C, suhu minimun adalah 21,9

o

C dan

maksimum 32

o

C. Curah hujan rata-rata berkisar 2238,5 mm/tahun

atau rata berkisar antara 186,54 mm/bulan dengan hari hujan berkisar

antara 5–11 hari/bulan. Artinya distribusi hujan bulanan cukup merata.

Puncak bulan basah terjadi pada bulan Nopember – Januari dan bulan

kering pada bulan Juni sampai dengan Agustus sebagaimana daerah lain

yang ada di Provinsi Jambi.

(16)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

14

-2.1.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi pengembangan wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat

terdiri dari kawasan lindung dan kawasan budidaya.

1) Kawasan Lindung

Kawasan lindung yaitu kawasan yang berfungsi utama melindungi

kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam,

sumberdaya binaan, nilai sejarah, dan budidaya bangsa untuk

kepentingan pembangunan yang berkelanjutan.

Luas kawasan lindung di Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah

34.500,00 Ha, yang terdiri hutan lindung gambut, sempadan pantai,

sempadan sungai, taman Nasional Bukit Tigapuluh, Cagar Alam Hutan

Bakau Pantai Timur dan perlindungan lainnya. Luas dan penyebaran

masing-masing kawasan lindung dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2.

Luas Kawasan Lindung Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Tahun 2014

NO

JENIS KAWASAN

LUAS (HA)

% THD LUAS

KAB.

I

KAWASAN YANG MEMBERIKAN

PERLINDUNGAN KAWASAN

BAWAHANNYA

15.050,00

2,80

1 Hutan Lindung Gambut

15.050,00

2,80

II

KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT

7.439,00

1,40

1 Sempadan Pantai

450,00

0,80

2 Sempadan Sungai

6.989,00

1,30

III KAWASAN SUAKA ALAM DAN CAGAR

BUDAYA

12,014,18

2,20

1 Taman Nasional Bukit Tigapuluh

11.520,00

2,10

2 Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur

126,09

0,02

IV PERLINDUNGAN LAINNYA

365,30

0,07

LUAS KAWASAN LINDUNG

34.500,00

6,40

LUAS WILAYAH KABUPATEN TANJUNG

JABUNG BARAT

537.516,00

Sumber : Perda RTRW, 2013 – 2033

2) Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi

utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya

alam, sumberdaya binaan dan sumberdaya manusia.

(17)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

15

-Luas Kawasan Budidaya Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar

465.045 Ha, terdiri dari Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas,

Pertanian dan Non Pertanian. Luas dari masing-masing jenis kawasan

dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut :

Tabel 2.3

Luas Kawasan Budidaya Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Tahun 2010 – 2030

No

Jenis Kawasan

Luas (Ha)

% thd luas

Kab.

1 Hutan Produksi

179.635

33,42

2 Hutan Produksi Terbatas

35.585

6,62

3 Pertanian dan Non Pertanian

249.825

46,48

LUAS KAWASAN BUDIDAYA

465.045

86,52

LUAS WILAYAH KABUPATEN TANJUNG

JABUNG BARAT

537.516

Sumber : Perda RTRW, 2013 – 2033

Dalam kawasan budidaya terdapat pula kawasan andalan yang

merupakan keterpaduan dan keterkaitan berbagai kegiatan produksi dan

kawasan fungsional yang mempunyai dampak terhadap perkembangan

perekonomian daerah.

2.1.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Bencana alam yang dikategorikan besar dan yang menimbulkan

korban jiwa belum pernah terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun ini,

Secara umum wilayah Kab. Tanjung Jabung Barat dapat dikenali memiliki

beberapa potensi bahaya yang dapat menimbulkan bencana; yakni potensi

bencana banjir yang sering terjadi di Desa Lubuk Bernai dan sepanjang

sungai di Betara Kiri, serta potensi bencana kebakaran yang sering

dialami di Kota Kuala Tungkal.

2.1.1.4. Demografi

Jumlah penduduk merupakan modal dasar dalam pembangunan

namun jumlah penduduk yang besar jika tidak diikuti dengan

peningkatan kualitasnya justru dapat menjadi beban pembangunan. Oleh

karena itu masalah kependudukan harus mendapat perhatian yang

(18)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

16

-serius, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai modal

pembangunan.

Pada tahun 2014 penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Barat

berjumlah 309.583 jiwa dengan kepadatan 62 jiwa per km

2

. Dilihat

sebaran menurut kecamatan, penduduk lebih terkonsentrasi pada

Kecamatan Tungkal Ilir dengan jumlah penduduk 74.215 jiwa atau sekitar

23,97 % jumlah penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Tabel 2.4

Jumlah, Penyebaran Penduduk dan Luas Wilayah

Menurut Kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2014

Kecamatan

Penduduk

Kepadatan

Penduduk

Per Km2

Penyebaran

Penduduk

(%)

Luas Wilayah

(Km2)

Tungkal Ulu

13.522

39

4,37

345,69

Merlung

16.943

54

5,74

311,65

Batang Asam

27.060

26

8,74

1.042,37

Tebing Tinggi

39.294

115

12,69

342,89

Renah Mendaluh

14.850

31

4,80

473,72

Muara Papalik

12.002

36

3,88

336,38

Pengabuan

24.492

56

7,91

440,13

Senyerang

23.426

55

7,57

426,63

Tungkal Ilir

74.215

740

23,97

100,31

Bram Itam

17.794

57

5,75

312,66

Seberang Kota

8.891

73

2,87

121,29

Betara

24.038

42

7,76

570,21

Kuala Betara

13.056

70

4,22

185,89

Jumlah

309.583

62

100,00

5.009,82

Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data diolah.

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

1) Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan ekonomi dengan memperhitungkan migas Kabupaten

Tanjung Jabung Barat selama periode 2011-2014 memperlihatkan

kecenderungan melambat. Tabel 2.5 menunjukan bahwa pada tahun 2011

(19)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

17

-PDRB dengan Migas sebesar 7,85 % dan melambat di tahun 2012 menjadi

7,68 % dan terus melambat di tahun 2013 menjadi sebesar 7,55 %, dan

pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tanjung Jabung

Barat dengan memperhitungkan migas sebesar 7,23 %.

Tabel 2.5

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Menurut Lapangan Usaha Periode 2011-2014 (%)

Lapangan Usaha

2011

2012

Tahun

2013

2014

Pertanian

11,30

8,77

7,38

11,30

Pertambangan & Penggalian

20,35

6,86

1,40

1,81

Industri Pengolahan

2,17

7,48

9,67

4,87

Listrik, Gas& Air Bersih

10,87

9,55

18,51

12,14

Konstruksi

9,22

17,54

19,85

28,03

Perdagangan, Hotel &

Restoran

5,91

8,03

9,61

6,85

Pengangkutan &

Komunikasi

3,19

4,59

3,69

5,06

Keuangan, Real Estat& Jasa

Perusahaan

5,64

7,14

7,17

6,78

Jasa-Jasa

4,41

5,19

5,82

8,36

PDRB Dengan Migas

7,85

7,68

7,55

7,23

PDRB Tanpa Migas

6,27

8,66

7,36

7,66

Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data diolah.

Apabila dilihat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tanjung Jabung

Barat menurut lapangan usaha pada kurun waktu 2011 – 2014, sektor

pertambangan dan penggalian cenderung melambat dari 20,35 % di tahun

2011 hingga mencapai 1,81 % di tahun 2014. Sektor konstruksi dan

jasa-jasa cenderung mengalami percepatan dimana sektor konstruksi

mengalami percepatan yang signifikan dari 9,22 % di tahun 2011 menjadi

28,03 % di tahun 2014.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi tanpa memperhitungkan migas

memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif, dimana tahun 2011

sebesar 6,27 % dan mengalami percepatan tahun 2012 menjadi 8,66 %, di

tahun 2013 mengalami perlambatan menjadi 7,36 % kemudian tahun

2014 mengalami percepatan menjadi 7,66%.

(20)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

18

-2) Sumber-Sumber Pertumbuhan

Selama kurun waktu 2011 – 2014 sumber-sumber pertumbuhan

ekonomi lebih didominasi oleh sektor pertanian dimana tahun 2011

sebesar 2,85 % mengalami penurunan di tahun 2012 menjadi 2,28 % dan

pada tahun 2013 menjadi 1,94 %, namun di tahun 2014 memberikan

kontribusi terhadap sumber pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tanjung

Jabung Barat sebesar 2,94 %. Posisi kedua sektor industri pengolahan

dimana tahun 2011 sebesar 0,64% menjadi 2,10% dan mengalami

kenaikan di tahun 2013 menjadi 2,71% sedangkan tahun 2014

memberikan kontribusi terhadap sumber pertumbuhan ekonomi sebesar

1,39 %. Sementara sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran berada pada

urutan ketiga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dimana tahun 2014

memberikan kontribusi sebesar 1,16 % (Tabel 2.6). Ketiga sektor tersebut

perlu mendapat perhatian serius dalam konteks pengembangan, sehingga

mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi ke depan.

Tabel 2.6

Sumber Pertumbuhan Ekonomi

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011-2014

Lapangan Usaha

Tahun

2011

2012

2013

2014

Pertanian

2,85

2,28

1,94

2,96

Pertambangan & Penggalian

2,59

0,98

0,20

0,24

Industri Pengolahan

0,64

2,10

2,71

1,39

Listrik, Gas& Air Bersih

0,05

0,05

0,10

0,07

Konstruksi

0,13

0,25

0,30

0,48

Perdagangan, Hotel &

Restoran

1,00

1,33

1,60

1,16

Pengangkutan &

Komunikasi

0,11

0,16

0,12

0,16

Keuangan, Real Estat& Jasa

Perusahaan

0,10

0,13

0,13

0,12

Jasa-Jasa

0,36

0,41

0,45

0,64

PDRB Dengan Migas

7,85

7,68

7,55

7,23

PDRB Tanpa Migas

6,27

8,66

7,36

7,66

(21)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

19

-Tingginya tingkat pertumbuhan suatu sektor tidak otomatis menjadi

penyumbang terbesar bagi laju pertumbuhan PDRB secara total. Faktor

lain yang menentukan adalah berapa besar kontribusi suatu sektor

terhadap pembentukan PDRB. Hal ini tergambar pada struktur ekonomi

Kabupaten Tanjung Jabung Barat selama Empat tahun terakhir (Tabel

2.7).

Tabel 2.7

Struktur Perekonomian

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011-2014 (%)

Lapangan Usaha

Tahun

2011

2012

2013

2014

Pertanian

30,49

30,19

29,97

30,84

Pertambangan & Penggalian

17,43

17,16

16,39

14,84

Industri Pengolahan

23,34

24,07

24,33

23,35

Listrik, Gas& Air Bersih

0,63

0,64

0,70

0,75

Konstruksi

1,49

1,63

1,88

2,30

Perdagangan, Hotel &

Restoran

14,91

15,15

15,82

16,17

Pengangkutan &

Komunikasi

2,62

2,49

2,51

2,57

Keuangan, Real Estat& Jasa

Perusahaan

1,93

1,89

1,84

1,78

Jasa-Jasa

7,17

6,78

6,56

7,41

PDRB Dengan Migas

100,00

100,00

100,00

100,00

PDRB Tanpa Migas

81,62

82,35

82,18

83,70

Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data diolah

Sektor konstruksi pada tahun 2011 memiliki pertumbuhan ekonomi

sebesar 9,22 % namun peran dalam struktur perekonomian hanya

1,49 %, kecenderungan selalu naik tiap tahun hingga pada tahun 2014

pertumbuhan ekonomi 28,03 % dan peran dalam struktur ekonomi hanya

2,30 %. Hal tersebut berbanding terbalik dengan sektor pertanian yang

memberikan kontribusi terbesar dalam struktur ekonomi namun

pertumbuhannya cenderung menurun. Untuk itu sektor pertanian harus

mendapat prioritas, karena disamping sebagai basis ekonomi kerakyatan

juga dapat mendukung pencapaian ketahanan pangan daerah. Begitu

juga sektor industri pengolahan, memberikan kontribusi kedua dalam

(22)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

20

-struktur perekonomian yaitu sebesar 23,35 % pada tahun 2014 namun

pertumbuhannya melambat menjadi 4,87 % dibanding tahun 2013

sebesar 9,67 %. Posisi ketiga yang berperan dalam struktur perekonomian

Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2011-2013 adalah sektor

pertambangan & penggalian, namun tahun 2014 telah beralih ke sektor

Perdagangan, Hotel & Restoran dengan kontribusi sebesar 16,17 %

dengan pertumbuhan sebesar 6,85 %. Hal ini menggambarkan keseriusan

untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil pertambangan &

penggalian.

3) PDRB dan Pendapatan Regional per Kapita

Pola peningkatan PDRB perkapita dengan Migas berdasarkan harga

berlaku mempunyai kecenderungan yang sama dengan Tanpa Migas.

Tabel 2.8 menujukkan bahwa pada tahun 2011 PDRB perkapita dengan

migas sebesar Rp. 27,486 juta naik menjadi Rp 30,659 juta pada tahun

2012 dan cenderung naik hingga tahun 2014 menjadi Rp. 37,080 juta.

Begitu juga pada PDRB perkapita tanpa Migas dimana pada tahun 2011

sebesar Rp 22,435 juta naik menjadi Rp 25,249 juta pada tahun

2012 dan mengalami kenaikan di tahun 2013 menjadi Rp. 28,320 juta

dan terus mengalami perkembangan positif di tahun 2014 menjadi

Rp. 30,472 juta.

Secara makro Pendapatan Regional per kapita dengan Migas atas

dasar harga berlaku menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2011

pendapatan perkapita dengan memperhitungkan migas sebesar

Rp. 27,054 juta naik menjadi Rp. 30,229 juta di tahun 2012, begitu juga

tahun 2013 naik menjadi sebesar Rp. 34,011 juta dan terus mengalami

peningkatan hingga tahun 2014 menjadi Rp. 36,596 juta. Kecenderungan

yang sama juga terjadi pada Pendapatan perkapita tanpa Migas, pada

tahun 2011 sebesar Rp. 22,125 juta meningkat pada tahun 2012 menjadi

Rp. 23,775 juta. Begitu juga tahun 2013 meningkat menjadi sebesar

Rp. 26,666 juta dan terus mengalami peningkatan sampai tahun 2014

menjadi Rp. 28,693 juta. (lihat Tabel 2.8).

(23)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

21

-Tabel 2.8

Pendapatan Regional Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011-2014 (Rp. 000)

U r a i a n

Tahun

2011

2012

2013

2014

Dengan Migas

PDRB Per Kapita

27.486

30.659

34.461

37.080

Pendapatan Per kapita

27.054

30.229

34.011

36.596

Tanpa Migas

PDRB Per Kapita

22.435

25.249

28.320

30.472

Pendapatan Per kapita

21.125

23.775

26.666

28.693

Sumber : BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data diolah.

Gambaran PDRB dan Pendapatan Ragional per kapita atas dasar

harga berlaku (ADHB) di atas tidak dapat dijadikan sebagai ukuran

peningkatan kemakmuran ekonomi maupun penyebaran pendapatan di

setiap strata ekonomi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

4) Inflasi

Tingkat inflasi nasional pada tahun 2011 sebesar 3,79 % dan

mengalami kenaikan menjadi 4,30 % di tahun 2012. Pada tahun 2013

terjadi lonjakan laju inflasi menjadi 8,38 %, hal tersebut terjadi karena

melemahnya nilai rupiah serta kenaikan harga BBM. Sedangkan tahun

2014 laju inflasi mencapai 8,36 %, sedikit lebih rendah dari tahun

sebelumnya. Masih tingginya inflasi tersebut penyebabnya adalah

kenaikan harga BBM yang terjadi pada november 2014, kenaikan tarif

dasar listrik yang keduanya berpengaruh terhadap harga-harga

kebutuhan dasar.

Nilai inflasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat mengacu pada kota

jambi karena pasar induk terdapat di kota jambi. Tabel 2.09

menunjukkan bahwa lonjakan tingkat inflasi kota jambi tertinggi terjadi

tahun 2013 mencapai angka 8,74 % dan menurun di tahun 2014 menjadi

8,72 %.

(24)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

22

-Tabel 2.9

Tingkat Inflasi Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2011– 2014

DESKRIPSI

Tingkat Inflasi

2011

2012

2013

2014

Nasional

3,79

4,30

8,38

8,36

Provinsi Jambi

2,76

4,22

8,74

8,72

Kab. Tanjung Jabung Barat

2,76

4,22

8,74

8,72

Sumber :

BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data diolah.

2.1.2.2. Sumber Daya Alam

1) Sektor Pertanian

a) Tanaman Pangan

Pada tahun 2011 luas panen padi sawah dan ladang mencapai

25.603 ha dengan produktivitas sebesar 36,38 kw/ha dan produksi

sebanyak 93,139 ton GKG (Gabah Kering Giling), pada tahun 2012 luas

panen menurun menjadi 21.065 ha dengan produktivitas sebesar

36,92 kw/ha dan produksi sebanyak 77.775 ton KGK, tahun 2013

terjadi peningktan yang signifikan, luas panen meningkat menjadi

23.514 ha, produktivitas meningkat menjadi 39,01 kw/ha dan

produksi meningkat menjadi sebanyak 91.738 ton GKG, tetapi pada

tahun 2014 terjadi penurunan yang sangat drastis, luas panen

menurun menjadi 11.280 ha atau mengalami penurunan (52,03) %

apabila di rata-rata selama empat tahun turun (19,38) %, dengan

produktivitas 38,39 kw/ha atau mengalami penurun (1,59) %, apabila

di rata-rata selama empat tahun mengalami kenaikan 1,85 %, dan

produksi sebanyak 43.07 ton GKG atau turun (52,79) %, apabila di

rata-rata selama empat tahun mengalami penurunan (17,11) %.

Perkembangan Luas panen sawah turun (57,65) % dengan

rata-rata perkembangan selama empat tahun menurun (21,98) % dan

produktifitas mengalami perkembangan positif 1,46 % dengan

perkembangan rata-rata selama empat tahun 2,06 % serta

perkembangan produksi mengalami penurunan (57,04) % dengan

perkembangan rata-rata selama empat tahun menurun (20,31) %.

(25)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

23

-Tabel 2.10

Luas panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah dan Ladang

Kabupaten Tanjung Jabung Barat 2011 – 2014

Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Tanjab Barat,

tahun 2014

Sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 ketersediaan beras

untuk konsumsi masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat sudah

mencukupi kebutuhannya sendiri, bahkan cenderung surplus (tabel

2.11). Dalam rangka swasembada pangan terutama beras di Kabupaten

Tanjung Jabung Barat, ke depan diperlukan upaya intensifikasi padi

disamping usaha ekstensifikasi salah satunya bisa saja dengan

pemanfaatan lahan tidur atau yang belum diusahakan untuk

meningkatkan produksi padi sawah terutama di lima kecamatan

potensial penghasil padi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Bila

lahan yang ada dimanfaatkan untuk program ekstensifikasi, maka

kedepan Kabupaten Tanjung Jabung Barat akan menjadi lumbung

pangan Provinsi.

Pada tahun 2011 jumlah penduduk sebanyak 285.731 jiwa,

dengan produksi beras sebanyak 56.028 ton dan kebutuhan komsumsi

beras sebanyak 32.859 ton, kelebihan beras sebesar 23.169 ton atau

41,35 %. Tahun 2012 jumlah penduduk sebanyak 293.594 jiwa,

Uraian

Tahun

2011

2012

2013

2014

Padi Sawah

Luas Panen (Ha)

22.902

18.186

20.424

8.649

Produktivitas (Kw/Ha)

37,82

38,85

39,62

40,20

Produksi (Ton GKG)

86.624

70.649

80.923

34.767

Padi Ladang

Luas Panen (Ha)

2.801

2.879

3.090

2.631

Produktivitas (Kw/Ha)

24,12

24,75

35

32,46

Produksi (Ton GKG)

6.576

7.126

10.815

8.540

Sawah + Ladang

Luas Panen (Ha)

25.603

21.065

23.514

11.280

Produktivitas (Kw/Ha)

36,38

36,92

39,01

38,39

(26)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

24

-dengan produksi beras sebanyak 46.665 ton dan kebutuhan komsumsi

beras sebanyak 33.763 ton, kelebihan beras sebesar 12.902 ton atau

27,64 %. Tahun 2013 jumlah penduduk sebanyak 301.469 jiwa,

dengan produksi beras sebanyak 55.042,8 ton dan kebutuhan

komsumsi beras sebanyak 34.668 ton, kelebihan beras sebesar

20.374,8 ton atau 37,01 %. Tahun 2014 dengan asumsi jumlah

penduduk pertengahan tahun sebanyak 304.897 jiwa, dengan produksi

beras sebanyak 30.535 ton atau mengalami perkembangan 3,96 %

dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun 1,73 % dan

kebutuhan komsumsi beras sebanyak 28.355 ton, kelebihan beras

sebesar 2.180 ton atau 1,2 %.

Tabel 2.11

Ketersedian Beras Kabupaten

Tanjung Jabung Barat Tahun 2011 – 2014

Keterangan

2011

2012

2013

2014

Jumlah Penduduk Tanjung

Jabung Barat

285.731 293.594 301.469 304.897

Produksi beras (ton)

56.028

46.665

55.042,8

30.535

Kebutuhan Konsumsi Beras

(Ton)

32.859

33.763

34.668

28.355

Plus/minus (Ton)

23.169

12.902

20.374,8

2.180

%

kelebihan

kebutuhan

konsumsi

41,35

27,64

37,01

1,2%

Sumber: BPS Kab. Tanjung Jabung Barat, tahun 2014, data di olah

b) Peternakan

Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, maka

perlu ketersediaan sumber protein tersebut. Keberadaan ternak besar

dan kecil di suatu daerah adalah upaya memenuhi kebutuhan protein

hewani dalam rangka menciptakan kualitas sumberdaya manusia yang

lebih baik.

Pada periode tahun 2011-2014 populasi ternak terjadi

peningkatan pada setiap tahunnya (tabel 2.12), pada populasi sapi

(27)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

25

-potong dari tahun 2011 sebanyak 6.510 ekor meningkat menjadi 6.994

ekor pada tahun 2014, populasi kerbau tahun 2011 sebanyak 444

ekor, pada tahun 2014 berkembang menjadi 546 ekor, populasi

kambing pada tahun 2011 sebanyak 36.839 ekor, pada tahun 2014

meningkat menjadi 48.481 ekor, populasi domba tahun 2011 sebanyak

1.029 ekor meningkat menjadi 1.390 ekor pada tahun 2014, populasi

babi tahun 2011 sebanyak 788 ekor cenderung menurun dan menjadi

778 ekor pada tahun 2014, populasi ayam kampung pada tahun 2011

sebanyak 556.689 ekor pada tahun 2014 meningkat menjadi 839.822

ekor, begitu juga pada populasi ayam broiler pada tahun 2011

sebanyak 107.155 ekor meningkat menjadi 140.995 ekor pada tahun

2014, untuk populasi itik pada tahun 2011 sebanyak 58.500 ekor,

pada tahun 2014 meningkat menjadi sebanyak 123.563 ekor.

Tabel 2.12

Populasi Ternak Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Selama Kurun Waktu 2011-2014

Jenis Ternak

Tahun (Ekor)

2011

2012

2013

2014

Sapi Potong

6.510

7.121

6.488

6.994

Kerbau

444

510

530

546

Kambing

36.839

43.575

46.602

48.481

Domba

1.029

1.115

1.244

1.390

Babi

788

582

755

778

Ayam Kampung

556.689

699.228

763.475

839.822

Ayam Broiler

107.155

107.880

128.177

140.995

Itik

58.500

67.267

65.136

123.563

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Tanjung Jabung Barat

Perkembangan populasi ternak tertinggi sebesar 89,7 % pada

jenis ternak itik dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun

33,84 % sedangkan perkembangan populasi ternak terendah pada jenis

ternak kerbau dengan perkembagan 3,02 % dengan perkembangan

rata-rata selama empat tahun 7,27 %.

(28)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

26

-Produksi daging sapi potong dari tahun 2011 sampai dengan

2014 cenderung fluktuativ (tabel 2.13), tahun 2011 produksi daging

sapi potong mencapai angka 363.555 kg, tahun 2012 menurun

menjadi 243.794 kg, tahun 2013 naik menjadi 325.881 kg dan tahun

2014 kembali meningkat menjadi 332.398 kg. Produksi daging kerbau

tahun 2011 sebanyak 28.395 kg, tahun 2012 menurun menjadi 18.108

kg, tahun 2013 meningkat menjadi 20.083 kg dan pada tahun 2014

menjadi 20.483 kg. Produksi daging kambing tahun 2011 sebanyak

13.680 kg, tahun 2012 meningkat menjadi 16.698 kg, tahun 2013

meningkat kembali menjadi 18.760 kg dan tahun 2014 kembali

meningkat menjadi 19.134 kg. Produksi daging domba tahun 2011

sebanyak 1.396 kg, tahun 2012 meningkat menjadi 1.840 kg, tahun

2013 kembali meningkat menjadi 1.906 kg dan tahun 2014 meningkat

kembali menjadi 1.944 kg. Produksi daging babi tahun 2011 sebanyak

6.564 kg, tahun 2012 menjadi 7.601 kg, tahun 2013 meningkat

menjadi 15.390 kg dan pada tahun 2014 menjadi 15.698 kg.

Tabel 2.13

Produksi Daging Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Selama Kurun Waktu Tahun 2011 – 2014

Jenis Ternak

Tahun (Kg)

2011

2012

2013

2014

Sapi Potong

363.555

243.794

325.881

332.398

Kerbau

28.395

18.108

20.083

20.483

Kambing

13.680

16.698

18.760

19.134

Domba

1.396

1.840

1.906

1.944

Babi

6.564

7.601

15.390

15.698

Ayam Kampung

290.473

321.442

345.275

352.182

Ayam Broiler

1.476.663

1.634.526

1.644.431

1.677.322

Itik

19.631

18.597

18.960

21.750

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Tanjung Jabung Barat

Produksi daging unggas ayam kampung tahun 2011 sebanyak

290.473 kg, tahun 2012 meningkat menjadi 321.442 kg, tahun 2013

meningkat kembali menjadi 345.275 kg dan tahun 2014 menjadi

(29)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

27

-352.182 kg. Produksi ayam broiler tahun 2011 sebanyak 1.476.663

kg, tahun 2012 menjadi 1.634.524 kg, tahun 2013 menjadi 1.644.431

kg dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 1.677.322 kg. Produksi

daging itik tahun 2011 sebanyak 19.631 kg, tahun 2012 menurun

menjadi 18.597 kg, tahun 2013 naik menjadi 18.960 kg, dan tahun

2014 meningkat menjadi 21.750 kg.

Perkembangan produksi daging tertinggi pada jenis ternak itik

sebesar 14,72 % dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun

23,8 % dan perkembangan terendah pada jenis ternak domba sebesar

1,9 % dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun 12,46 %.

Peningkatan ini terjadi karena secara umum masyarakat

cenderung mengkonsumsi daging ayam setiap hari. Sementara untuk

daging ternak itik lebih banyak dikonsumsi pada rumah makan dan

restoran, baik pada tingkat lokal maupun daerah tetangga.

c) Perkebunan

Pada tahun 2011 tanaman kelapa dalam dengan luas areal

53.648 ha dengan produksi sebanyak 59.499 ton, tahun 2012 luas

areal menjadi 53.631,5 ha dengan produksi sebanyak 56,242,2 ton,

tahun 2013 luas areal 53.648 ha dengan produksi sebanyak 54.664

ton dan tahun 2014 luas areal 54.324 ha dengan produksi sebanyak

54.766 ton. Tahun 2011 sampai dengan 2014 perkembangan luas areal

perkebunan dan produksi komoditi unggulan dimaksud diatas cukup

menjanjikan, terlihat pada tabel 2.14

Komoditi kelapa sawit tahun 2011 luas areal 47.846,5 ha dengan

produksi sebesar 81.412 ton, tahun 2012 luas areal 49.017,5 ha

dengan produksi 79.253,9 ton, tahun 2013 luas areal 50.265 ha

dengan produksi 82.218 ton, dan tahun 2014 luas areal bertambah

menjadi 110.962 ha dengan produksi 317.675 ton.

Komoditi karet tahun 2011 luas areal 16.018 ha dengan produksi

sebesar 7.793 ton, tahun 2012 luas areal 16.193 ha dengan produksi

7.069,4 ton, tahun 2013 luas areal 16.063 ha dengan produksi 7.737

ton, dan tahun 2014 luas areal bertambah menjadi 16.631 ha dengan

(30)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

28

-produksi 7.243 ton. Komoditi pinang tahun 2011 luas areal 8.507 ha

dengan produksi sebesar 10.030 ton, tahun 2012 luas areal 8.615,4 ha

dengan produksi 9.761,6 ton, tahun 2013 luas areal 8.698 ha dengan

produksi 9.712 ton, dan tahun 2014 luas areal bertambah menjadi

8.902 ha dengan produksi 10.237 ton.

Komoditi kopi tahun 2011 luas areal 2.540 ha dengan produksi

sebesar 1.114 ton, tahun 2012 luas areal 2.754 ha dengan produksi

1.608,4 ton, tahun 2013 luas areal 2.721 ha dengan produksi 1.287

ton, dan tahun 2014 luas areal bertambah menjadi 2.952 ha dengan

produksi 1.535 ton.

Tabel 2.14

Perkembangan Luas Areal Perkebunan dan Produksi

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011 – 2014

Komoditi

T a h u n

2011

2012

2013

2014

Kelapa Dalam (Ha)

Produksi (Ton)

53.648

59.499

53.631.5

56.242,2

53.648

54.664

54.324

54.766

Kelapa Sawit (Ha)

Produksi (Ton)

47.846.5

81.412

49.017,5

79.253.9

50.265

82.218

110.962

317.675

Karet (Ha)

Produksi (Ton)

16.018

7.793

16.193

7.069,4

16.063

7.737

16.631

7.243

Pinang (Ha)

Produksi (Ton)

8.507

10.030

8.615,4

9.761,6

8.698

9.712

8.902

10.237

Kopi (Ha)

Produksi (Ton)

2.540

1.114

2.754

1.608,4

2.721

1.287

2.952

1.535

Sumber: Statistik Disbun Kab. Tanjung Jabung barat, tahun 2014

Perkembangan luas areal perkebunan terbesar pada jenis

komoditi sawit sebesar 120,75 % dengan perkembangan rata-rata

selama empat tahun 41,92 % dan yang terendah pada komoditi pinang

sebesar 2,35 % dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun

1,53 %. Perkembangan produksi tertinggi pada jenis komoditi sawit

sebesar 286,38 % dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun

95,82 % dan terendah pada komoditi kelapa dalam sebesar 0,19 %

dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun (2,70) %.

(31)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

29

-d) Kehutanan

Berdasarkan SK Gubernur No. 727/Menhut-ii/2012 tanggal 10

Desember 2012 tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan

menjadi Bukan Kawasan Hutan, bahwa luas kawasan hutan

Kabupaten Tanjung Jabung Barat seluas 241.916 Ha dengan ditribusi

penggunaan seperti pada Tabel 2.16 berikut ini.

Tabel 2.16

Distribusi Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsinya

Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2014

Penggunaan Hutan

Luas ( Ha )

Hutan Produksi Terbatas

179.635

Hutan Produksi Tetap

35.585

Hutan Lindung Gambut

15.050

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

11.520

Hutan Cagar Alam Pantai Timur

126

Jumlah

241.916

Sumber : Dinas Kehutanan (data diolah), tahun 2014

Untuk merespon aspirasi masyarakat dalam upaya ikut serta

dalam pengelolaan hutan, dengan adanya kekuatan dan kepastian

hukum, maka sebagai Implementasi dari kebijakan pro poor, pro job dan

pro growth (triple track strategy). Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung

Barat telah mencadangkan areal untuk Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

seluas 2.280 Ha, sesuai dengan SK. Menteri Kehutanan RI Nomor 70/

Menhut-II/2009 tanggal 29 Februari 2009 yang tersebar di dua

kecamatan, yaitu (1) Kecamatan Batang Asam seluas 659 Ha dan (2)

Kecamatan Renah Mendaluh Seluas 1.621 Ha.

e) Perikanan

Produksi ikan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2011

sebesar 24.495,1 ton meningkat menjadi 26.873,15 ton di tahun 2012

dan pada tahun 2013 sebesar 26.873,2 ton namun menurun di tahun

2014 menjadi sebesar 26.210 ton.

(32)

RKPD Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2016

BAB 2

Hal

30

-Sektor perikan laut seperti terlihat pada tabel 2.17, tahun 2011

sebanyak 21.107,20 ton, tahun 2012 meningkat menjadi 23.217,92

ton, tahun 2013 kembali meningkat menjadi 23.648 ton, tahun 2014

terjadi penurunan menjadi 22.973,2 ton. Sektor perairan umum tahun

2011 sebanyak 782,1 ton, tahun 2012 meningkat menjadi 860,31 ton,

tahun 2013 menurun menjadi 808,85 ton, tahun 2014 kembali terjadi

penurunan menjadi 811,4 ton. Sektor budidaya perikanan tahun 2011

sebanyak 2.605,8 ton, tahun 2012 meningkat menjadi 2.852,60 ton,

tahun 2013 menurun menjadi 2.416,30 ton, tahun 2014 terjadi

penurunan menjadi 2.151 ton.

Perkembangan produksi ikan secara keseluruhan menurun

(2,74) % dengan perkembangan rata-rata selama empat tahun 2,41 %,

apabila dilihat dari jenisnya, produksi ikan perairan umum mengalami

perkembangan tertinggi yaitu 0,32 % dengan perkembangan rata-rata

selama empat tahun 1,44 % dan terendah jenis budidaya perikanan

mengalami penurunan (2,74) % dengan perkembangan rata-rata

selama empat tahun 2,41 %.

Tabel 2.17

Produksi Ikan Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Selama Kurun Waktu Tahun 2011 – 2014

Uraian

Tahun (Ton)

2011

2012

2013

2014

Perikanan laut

21.107,20

23.217,92

23.648

22.973,2

Perairan umum

782,1

860,31

808,85

811,4

Budidaya

perikanan

2.605,8

2.852,60

2.416,30

2.151

Jumlah

24.495,1

26.873,15

26.873,2

26.210

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Tanjung Jabung Barat,

tahun 2014

Perkembangan budidaya perikanan Kabupaten Tanjung Jabung

Barat tahun 2011 sebesar 2.606 ton naik di tahun 2012 menjadi

2.852,60 ton dan di tahun 2013 turun menjadi 2.416,30 ton namun

tahun 2014 kembali mengalami peningkatan menjadi sebesar 2.761,6

ton.

Gambar

Tabel  2.27  menunjukkan  bahwa  selama  kurun  waktu  2011  –  2014,  sarana  kesehatan  Rumah  sakit  dan  Puskesmas  tidak  mengalami  penambahan yaitu 1 rumah sakit dan 16 puskesmas
Tabel 3.7  Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Kabupaten  Tanjung Jabung Barat Tahun 2011 – 2013 (dalam jutaan  rupiah)
Tabel 3.8   Realisasi  dan  Proyeksi  APBD  Kabupaten  Tanjung  Jabung  Barat Tahun Anggaran 2013 s.d  2016 (dalam juta rupiah)

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang yang telah paparkan, rumusan masalah yang akan diuraikan dalam tulisan ini adalah menganalisa kualitas layanan video conference jika user hanya

Pada penelitian ini, larva ikan betok di usia 7 hari diberikan perlakuan perendaman ekstrak buah-buahan dengan tujuan pengarahan jenis kelamin menjadi betina atau

Pada lahan sulfat m asam dalam budi day a padi saw ah sudah dikenalkan penyiapan lahan yang inovatif, yakni (I) tanpa olah tanah (TO T) m eng- gunakan herbisida, (2) olah tanah m

(c) The Power of Attorney to attend EGMS shall have been received by the Board of Directors, at the Company’s head office, at the address stated in point (b) above, at the latest

Tanggal 31 Desember 2014 dan untuk Tahun yang Berakhir pada Tanggal Tersebut (Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain). PT SURYA TOTO INDONESIA Tbk NOTES TO THE

[r]

Hasil penghitungan total populasi bakteri yang dikandung di dalam Biang Bioplus (awal) dan Biang Bioplus yang telah dikering oven dan disimpan di dalam freezer kemudian

Dari pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dengan melihat GCG di perusahaan, maka pihak-pihak yang terkait di perusahaan memiliki tanggung jawab yang