BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pre Operasi
1. Pengertian Pre operasi
Tindakan operasi memerlukan sebuah tindakan keperawatan sebelum dan sesudah operasi. Lebih dari 230 juta operasi mayor dilakukan setiap tahun di dunia yang menyebabkan keadaan pasien saat operasi akan lemah. Pre operasi yang merupakan tahapan awal dari keperawatan operatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan. Salah satu persiapan pre operasi ialah persiapan mental/psikis (Renani Dwi, et al 2019).
Menurut Smelltzer and Bare (2010) dalam Maryunani (2014) Pre operasi adalah fase dimulai ketika keputusan unntuk menjalani operasi atau pembedahan dibuat dan berakhir ketika dipindahkan kemeja operasi.
2. Respon Pasien Terhadap Pre Operasi
Respon endokrin karena adanya pembedahan diuraikan sebagai berikut : (Maryuani, 2014:24-25).
a. Respon system syaraf simpatis
1) Vasokontriksi, yang memiliki dampak positif yaitu mempertahankan tekanan darah, aliran darah ke jantung dan otak adekuat.
2) Peningkatan curah jantung atau cardiac output, yang memiliki dampak positif yaitu mempertahankan tekanan darah.
3) Penurunan aktivitas gastro-intestinal, yang memiliki dampak negatif yaitu anoreksia, nyeri karena adanya gas, konstipasi.
b. Respon Hormonal
1) Peningkatan sekresi glukokortikoid (korteks adrenal) a) Retensi sodium :
(1) Dampak positif : Peningkatan volume darah (2) Dampak negatif : Kehilangan potassium b) Katabolisme protein dan lemak :
(1) Dampak positif : Peningkatan energi dan tersedia asam amino untuk penyembuhan
(2) Dampak negatif : Penurunan berat badan 2) Peningkatan produksi platelet :
a) Dampak positif : Mencegah perdarahan melalui pembekuan b) Dampak negatif : Kemungkinan terjadi pembentukan thrombus 3) Peningkatan sekresi Anti Diuretic Hormon (ADH) :
a) Dampak positif : Peningkatan volume darah. b) Dampak negatif : Kemungkinan kelebihan cairan
3. Respon Psikologis Terhadap Pembedahan Pada Pasien Pre Operasi
Uraian singkat menegenai respon psikologi terhadap pembedahan (Maryuani, 2014:26).
a. Setiap orang berbeda-beda dalam memahami tentang pembedahan dan respon mereka pun berbeda-beda juga. Namun, mereka umumnya mempunyai ketakutan dan keluhan - keluhan tertentu.
1) Dalam hal ini, pasien yang akan dioperasi biasanya menjadi agak gelisah dan takut.
2) Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas.
3) Tetapi kadang-kadang pula, kecemasan ini terlihat dalam bentuk lain. 4) Pasien yang gelisah dan takut sering bertanya terus menerus dan berulang
ulang, walaupun pertanyaannya telah dijawab.
5) Kadang pasien tidak mau berbicara dan mempertahankan keadaan sekitarnya.
6) Atau sebaliknya, pasien tidak mau bergerak dan tidak bisa tidur.
4. Persiapan Pre operasi
Perawatan persiapan fisik dan mental apabila tidak dilakukan dengan baik akan menyebabkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca bedah seperti infeksi pasca operasi, dehesiensi, demam, penyembuhan luka yang lama dan kondisi mental pasien yang tidak siap atau labil dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang akan berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Perawatan persiapan fisik dan mental sangat penting dilakukan karena untuk mencegah terjadinya penyulit pasca bedah dan komplikasi pasca bedah serta mempersiapkan mental pasien dalam mengahadapi operasi, menurunkan ketakutan dan kecemasan serta mempebaiki koping individu menghadapi
operasi dari gangguan konsep diri klien yang akan di operasi. Perawatan persiapan fisik yang harus dilakukan sebelum menghadapi operasi terdiri dari pemeriksaan status kesehatan fisik secara umum, status nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit, kebersihan lambung dan kolon, pencukuran daerah operasi, personal hygine, pembersihan luka serta latihan pra operasi. Peranan perawat dalam persiapan mental pasien dapat dilakukan dengan memberikan informasi, gambaran, penjelasan tentang tindakan persiapan operasi dan memberikan kesempatan bertanya tentang prosedur operasi serta kolaborasi dengan dokter terkait pemberian obat pre medikasi (Girsang dan Hasrul, 2011:65-66).
5. Jenis-jenis Operasi
Menurut Rahmayati et al (2018) operasi pada umumnya dibagi menjadi dua bagian :
a. Minor
Operasi minor adalah operasi yang sering dilakukan dirawat jalan, dan dapat pulang pada hari yang sama. Operasi ini jarang menimbulkan komplikasi. b. Mayor
Operasi mayor adalah pembedahan yang membutuhkan pemulihan jangka panjang dan dapat melibatkan perawatan intensif dalam beberapa hari di rumah sakit, karena memiliki resiko lebih tinggi setelah pembedahan.
6. Tahap-tahap Keperawatan Pre operasi
Pengalaman pembedahan dapat dibagi dalam tiga tahap keperawatan yaitu : (Maryuani, 2014:2-3).
a. Tahap Pre operasi 1) Pengertian
Perawatan pre operasi merupakan tahap pertama dari perawatan pre operasi yang dimulai sejak pasien diterima masuk ruangan dan berakhir ketika pasien dipindahkan kemeja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
2) Ruang Lingkup Pre operasi
Pada fase ini lingkup aktivitas keprawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara preoperasi dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan saat pembedahan.
b. Tahap Intra-Operasi 1) Pengertian
Perawatan intra-operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien ditransfer ke wilayah ruang pemulihan.
2) Ruang Lingkup keperawatan Intra-Operatif
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi intervena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.
c. Tahap Post-Operasi 1) Pengertian
Tahap post-operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre- operasi dan intra-operasi yang dimulai ketika klien diterima di ruang pemulihan (recovery room) sampai evaluasi tindak lanjut.
2) Ruang Lingkup Keperawatan Post-Operasi
Pada fase ini lingkup aktifitas keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase ini focus pengkajian meliputi efek anastesi dan memantau fungsi vital serta mencegas komplikasi.
7. Peran Perawat Dalam Asuhan Keperawatan Pre operasi
Beberapa peran perawat dalam asuhan keperawatan pada pasien menjelang pembedahan, saat pembedahan dan setelah operasi, antara lain : (Maryuani, 2014:49-50).
a) Perawat memiliki peran aktif dalam persiapan psikologis maupun fisiologis pasien menjelang pembedahan, saat pembedahan maupun setelah pembedahan.
b) Perawat memberikan penjelasan pada pasien pre operasi mengenai teknik pengurangan stress, hal-hal yang dihadapi pada asa setelah operasi, dan penggunaan peralatan post-operasi khusus.
c) Di beberapa rumah sakit, telah terdapat jadwal dimana perawat kamar operasi melakukan visit terlebih dahulu pada pasien yang akan di operasi untuk mengkaji evaluasi pasien terhadap intervensi pembedahan.
d) Menjelang pembedahan, dokter bedah menjelaskan metode dan tujuan mengenai pembedahan yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarganya. 1) Karena masa pre-operasi merupakan masa yang seringkali meningkatkan kecemasan bagi pasien dan keluarganya, dimana seringkali merka tidak memahami atau mempercayai alasan untuk pembedahan.
2) Oleh karena itu, peran perawat dalam kondisi ini adalah mengklarifikasi lebih lanjut.
a) Tanpa memandang operasi apa yang dilakukan, perawat memiliki peran penting dalam mempersiapkan pasien untuk pembedahan, mempertahankan surveilanas pasien selama pembedahan, mencegah komplikasi dan memfasilitasi pemulihan selama pembedahan. Untuk melakukan peran ini secara efektif maka perawat harus memiliki informasi dasar tertentu, yakni :
1) Perawat harus memverifikasikan atau meyakinkan kondisi penyakit yang memerlukan pembedahan dan proses proses penyakit yang menyertainya.
2) Perawat harus mengetahui respon pasien secara individu terhadap situasi yang menimbulkan stress.
3) Perawat harus mengkaji hasil pemerikasaan diagnostik yang dilakukan sebelum pembedahan.
4) Perawat harus mempertimbangkan adanya perubahan-perubahan tubuh dan kemungkinan adanya resiko dan komplikasi berkaitan dengan prosedur pembedahan.
B. Kecemasan
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan adalah emosi, perasaan yang timbul sebagai respon awal terhadap stress psikis dan ancaman terhadap nilai-nilai yang berarti bagi individu. Kecemasan sering digambarkan sebagai perasaan yang tidak pasti,ragu-ragu, tidak berdaya, gelisah, kekhawatiran, tidak tentram yang sering disertai keluhan fisik (Azizah dkk, 2016:135).
Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis,sedangkan pada gangguan ansietas terkandung unsure penderita yang bermakna dan gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasaan tersebut (Irianto dkk, 2014:2).
Ansietas adalah tentang pemeliharaan diri. Hal ini terjadi akibat dari ancaman terhadap kepribadian seseorang, harga diri atau identitas. Ansietas adalah hasil dari ancaman terhadap sesuatu yang pusat kepribadian diri seseorang penting bagi keberadaan dan keamanan seseorang. Ansietas dapat dihubungkan dengan rasa takut akan hukuman, ketidaksetujuan, penarikan cinta, gangguan hubungan, isolasi, atau kehilangan fungsi tubuh. Budaya terkait ansietas,karena budaya dapat mempengaruhi nilai-nilai yang dianggap paling penting (Gail dan Budi, 2016:171).
2. Rentang Respon Kecemasan
Rentang kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif antisipasi dan yang maladaptif yaitu panik (Keliat, 2016:174).
Adaptif Maladaptif Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik a. Antisipasi
Suatu keadaaan yang digambarkan lapangan persepsi menyatu dengan lingkungan.
b. Cemas Ringan
Ketegangan ringan, pengindraan lebih tajam dan menyiapkan diri untuk bertindak.
c. Cemas Sedang
Keadaan lebih waspada dan lebih tegang, lapangan persepsi menyempit dan tidak mampu memutuskan pada peristiwa yang penting baginya. d. Cemas Berat
Lapangan persepsi sangat sempit, berpusat pada detail yang kecil,tidak memikirkan yang luas,tidak mampu menyelesaikan masalah.
e. Panik
Persepsi menyimpang, sangat kacau dan tidak terkontrol, berpikir tidak teratur, perilaku tidak tepat dan agitasi.
3. Sumber Kecemasan
a. Ancaman internal dan eksternal terhadap ego
Adanya gangguan pemenuhan kebutuhan dasar makan, minum, sexual. b. Ancaman terhadap keamanan interpersonal dan harga diri.
2) Tidak menemukan prestige 3) Tidak memperoleh aktualisasi diri
4) Malu/tidak kesesuaian pandangan diri dan lingkungan nyata.
4. Gejala-gejala Kecemasan
a. Perilaku, diantaranya: 1) gelisah, 2) ketegangan fisik, 3) tremor, 4) reaksi terkejut, 5) bicara cepat, 6) kurang koordinasi, 7) cenderung mengalami cedera, 8) menarik diri dari hubungan interpersonal, 9) inhibisi, 10) melarikan diri dari masalah, 11) menghindar, 12) hiperventilasi, dan 13) sangat waspada.
b. Kognitif, diantaranya: 1) perhatian terganggu, 2) konsentrasi buruk, 3) pelupa, 4) salah dalam memberikan penilaian, 5) preokupasi, 6) hambatan berpikir, 7) lapang persepsi menurun, 8) kreativitas menurun, 9) produktivitas menurun, 10) bingung, 11) sangat waspada, 12) keasadaran diri, 13) kehilangan objektivitas, 14) takut kehilangan kendali, 15) takut pada gambaran visual, 16) takut cedera atau kematian, 17) kilas balik, dan 18) mimpi buruk.
c. Afektif, diantaranya: 1) mudah terganggu, 2) tidak sabar, 3) gelisah, 4) tegang, 5) gugup, 6) ketakutan, 7) waspada, 8) kengerian, 9) kekhawatiran, 10) kecemasan, 11) mati rasa, 12) rasa bersalah, dan 13) malu.
5. Karakteristik Tingkat kecemasan
Menurut Peplau dalam Keliat (2016:171) mengidentifikasi empat tingkat kecemasan dengan penjelasan efeknya :
a. Cemas Ringan terjadi saat ketegangan hidup sehari-hari. Selama tahap ini seseorang waspada dan lapang persepsi meningkat.
b. Cemas sedang dimana seseorang hanya berfokus pada hal yang penting saja lapang persepsi menyempit sehingga kurang melihat, mendengar, dan menangkap.
c. Cemas berat ditandai dengan penurunan yang signifikan di lapang pesepsi. Cenderung memfokuskan hal yang detai dan tidak terfikir hal yang lain. d. Panik dikaitkan dengan rasa takut dan terror, sebagian orang mengalami
kepanikan tidak dapat melakukan hal-hal bahkan dengan arahan.
6. Kecemasan terhadap pembedahan
Beberapa hal tentang kecemasan pada masa pre operasi ini diuraikan sebagai berikut : (Maryuani, 2014:34-35).
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien menjelang pembedahan ( pre operasi) :
1. Uraian singkat :
a) Masuk rumah sakit dan akan menjalani pembedahan operasi dapat menyebabkan beberapa tingkat kecemasan dan stress.
b) Stress merupakan respon fisiologis maupun psikologis terhadap stressor, yaitu tuntutan untuk beradaptasi.
c) Kecemasan merupakan respon stress terhadap stressor yang ada. 2. Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan dan Stress :
a) Kemungkinan pasien bereaksi dengan adanya stress dengan kecemasan yang tinggi.
b) Sejumlah peristiwa yang menimbulkan stress yang telah terjadi akhir-akhir ini pada kehidupan pasien atau dalam keluarga pasien.
c) Presepsi pasien terhadap hosptalisasi dan pengalaman pembedahan. d) Pentingnya pembedahan untuk pasien.
e) Berbagai hal yang tidak diketahui yang dihadapi pasien pada saat masuk rumah sakit.
f) Tingkat harga diri dan image diri pada pasien. g) Sistem keyakinan dan keagamaan pasien.
3. Beberapa hal yang menigkatkan kecemasan pada masa pre operasi Kecemasan pre operasi dapat ditingkatkan denngan adanya hal-hal berikut ini :
a. Ambiguitas / hal yang mendua :
Ambiguitas terjadi akibat dari adanya ketidakpastian atau hal-hal yang tidak jelas mengenai :
1) Lingkungan rumah sakit. 2) Prosedur pre operasi.
3) Peristiwa yang terjadi saat post-operasi. b. Persepsi yang menimbulkan konflik :
1) Persepsi yang menimbulkan konflik terjadi jika pengalaman operasi yang akan dilaluainya berbeda dengan apa yang dipikirkan nya.
2) Misalnya, pasien beranggap bahwa hernioraphy akan sembuh dengan cepat dan aman,tetapi menjadi hal yang sangat mencemaskan.
c. Kesalah pahaman
1) Kesalah pahaman terjadi jika diberikan informasi yang tidak akurat, atau jika istilah-istilah yang digunakan tidak dimengerti. 2) Misalnya, pasien yang dijadwalkan untuk tindakan bronkhoskopi
pada pagi dan orang yang merawat diam diam meberikan tanda puasa‟ daiatas tempat tidurnya.
7. Respon Terhadap Kondisi Kecemasan
Respon perilaku terhadap kecemasan atau stress dapat dibagi menjadi respon perilaku adaftaif dan maladaftif berikut ini : (Maryuani, 2014:36,37-38). a. Perilaku adaptif / perilaku sesuai.
1. Respon stress merupakan hal adaptif.
2. Sejumlah peningkatan stresor adakalanya malah menimbulkan energi yang adaptif.
3. Pasien bedah yang baru masuk rumah sakit, memungkinkan
4. mengalami stressor yang lebih tinggi dari pada seteleh berada di rumah sakit
5. Respon adaptif pada pasien pre operasi ini ditunjukan pada pasien dengan kecemasan tingkat kecemasan rendah / tinggi.
b. Perilaku maladaptif diakibatkan ketidakmampuan untuk beradaptasi terhadap situasi yang mengakibatkan stress. Perilaku maladaptif pada pasien pre operasi ini ditunjukan pada pasien dengan tingkat kecemasan tinggi menjelang pembedahan.
a) Respon terhadap kondisi kecemasan juga dapat dibagi menjadi tingkat kecemasan rendah dan tingkat kecemsan tinggi.
(1) Uraian singkat :
(a) Salah satu tujuan dari memberikan perawatan pre operasi adalah untuk menidentifikasi tingkat kecemasan yang terjadi pada pasien.
(b) Jika intervensi keperawatan dapat direncanakan yang menurunkan tingkat kecemasan yang tinggi pada pasien, maka dapat menimbulkan masa intra operasi yang aman.
(2) Respon kecemasan rendah / ringan :
(a) Reaksi terhadap stressor lebih rendah daripada reaksi pada pasien dengan respon kecemasan tinggi.
(b) Sedikit perubahan pada situasi diri pada masa lalu atau sebelumnya.
(c) Menganggap bahwa masuk rumah sakit dan pembedahan adalah hal penting bagi kesehatannya. Beranggapan bahwa prosedur masuk rumah sakit sangat suportif bagi dirinya.
(d) Kecemasan yang rendah dapat menigkatkan kesiapan ,meningkatkan kemampuan untuk belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
(e) Kecemasan atau ringan juga meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap beberapa stressor yang terjadi secara serempak / simultan.
(3) Respon kecemasan tinggi :
(a) Bereaksi dengan kecemasan tinggi terhadap stressor.
(b) Banyak perubahan pada situasi diri pada masa lalu / sebelumnya.
(c) Menganggap masuk rumah sakit dan pengalaman pembedahan sebagai suatu ancaman.
(d) Ketakutan bahwa pembedahan bisa menimbulkan nyeri / sakit dan kemungkinan kematian.
(e) Pasien dengan kecemasan sangat tinggi tidak dapat mengatakan tingkat kecemasannya dan tidak dapat memulai koping.
(f) Tingkat kecemasan pasien tinggi dapat mencegah adaptasi pre operasi yang berhasil dan dapat menimblkan pengaruh yang negatif terhadap pemulihan pasca operasi.
(g) Pada tingkat kecemasan yang sangat tinggi membuat mekanisme pertahanan diri pasien menjadi sangat terganggu dan pasien menginginkan merubah realita yang ada.
8. Respon kecemasan dan Aktifitas
Adanya respon stress pada pasien pre operasi, dapat diperlihatkan dari respon-respon fisiologis berikut ini : (Maryuani, 2014:37)
a) Hiperaktivitas: Berjalan bolak-balik, mengibas-ngibaskan tangan, menggigit bibir atau ujung kuku, megetuk-ngetukan jari mudah tersinggung, insomnia b) Pemikiran tidak terorganisir : Berbicara berulang-ulang,percakapan yang
konstan / menetap, sulit berkonsentrasi.
c) Peningkatan sensitivitas terhadap lingkungan : Suara berisik/gaduh, cahaya, temperature, aktivitas.
d) Peningkatan ketegangan otot : Alis ata berkenyut,wajah bergerenyut (facial tic), rahang mengatup, suara keras atau melengking,gagapbicara cepat,pundak terangkat,pergelangan tangan mengepal, sering buang air kecil, ketidakmampuan untuk rileks.
e) Peningkatan energi dan kesiapan : Geelisah, mudah terkejut, tigat aktivitas meningkat
9. Masalah-masalah Yang Terjadi Berkaitan Dengan Kecemasan pada masa pre operasi
Menurut Maryunani (2014:47-48) ada tiga masalah utama yang bisa terjadi pada kecemasan pasien pre operasi
a. Masalah 1: Tingkat kecemasan meningkat dengan cepat. Intervensi yang bisa dilakukan antara lain :
2) Gunakan sentuhan untuk mengkomunikasikan sikap „caring‟ perawat dan kedamaian.
3) Kuatkan penerimaan diri pasien sebagai seorang individu.
4) Jika tidak mampu untuk mencapai keberhasilan dengan teknik mengurangi stress, laporkan kepada dokter.
b. Masalah 2: pasien menjadi marah atau bermusuhan. Intervensi yang bisa dilakukan :
1) Pertahankan sikap sabar dan tenang.
2) Terima kemarahan pasien, tetapi tetapkan batas-batas bagaimana kemarahan ini diungkapkan (misalnya, bukan perilaku yang dekstruktif / merusak)
3) Jangan memuji perilaku ini, tetapi cari cara lain umtuk memenuhi kebutuhan pasien.
4) Jangan mengisolasi/menyendirikan pasien, tetapi lanjutkan untuk merespon kebutuhan pasien.
5) Laporkan pada dokter mengenai perilaku pasien dan tindakan yang anda gunakan untuk mengurangi kemarahan atau sikap bermusuhannya.
c. Masalah 3: pasien menjadi depresi karena dilingkupi kecemasan dan perasaan tidak berdaya. Intervensi yang bisa dilakukan :
1) Sampaikan sikap meghargai dan keyakinan pada pasien.
2) Berikan umpan balik positif dan pengakuan terhadap kekuatan dan peningkatan harga dirinya.
3) Luangkan waktu bersama pasien sehingga pasien mau mengungkapkan ketakutannya.
C. Hipnoterapi
1. Pengertian Hipnoterapi
Hipnoterapi adalah sebuah penyembuhan dengan hipnotis. Hipnoterapi merupakan cabang ilmu psikologis yang mempelajari manfaat sugesti untuk mengatasi masalahpikiran, perasaan, dan perilaku dengan memasukan sugesti ke alam bawah sadar (Irianto dkk, 2014:3).
Hipnoterapi adalah tentang segala sesuatu yang terkait dengan kekuatan sugesti yang dapat menghasilkan efek terapeutik (penyembuhan), pada umumnya berbagai teknik terapeutik ini diadopsi dari pengetahuan psikologi. Dalam dunia Hypnotherapy terdapat setidaknya 2 pendekatan, yaitu pendekatan yang masih dipengaruhi oleh paradigma psikologi klasik, sehingga cenderung untuk melakukan intevensi ke masa silam, dan pendekatan yang didasari oleh paradigma psikologi positif (Nurindra, 2015:25-26).
2. Manfaat Hipnoterapi
Manfaat hipnoterapi yaitu dapat menyembuhkan gangguan mental, sebagai efek anastesi alami, gangguan fisik, menggali informasi, meningkatkan percaya diri, menghilangkan phobia dan juga bisa mengembangkan potensi diri.
3. Tahapan Dalam Hipnosis a. Pre-Induction Talk
Proses yang dilakukan sebelum langkah Induction. Pada prinsipnya pada proses ini Hypnotist melakukan pengenalan terhadap Subyek, melakukan Suggestibility Test, dan menerapkan Hypnotic Training. Dalam konteks Hipnoterapi, maka Hipnoterapis melakukan eksplorasi permasalahan klient secara detail pada proses ini.
b. Induction
Teknik untuk membawa Subyek ke kondisi Hypnotic State. Sangat banyak teknik Induction diciptakan orang, akan tetapi pada pembelajaran “Basic Hypnotherapy” dapat disederhanakan menjadi 2 metode Induction saja, yaitu : Instant Induction (Rapid, Shock) bagi Subyek yang memiliki tingkat sugestivitas tinggi, dan Extended Progressive Relaxation bagi Subyek yang memiliki tingkat sugestivitas yang moderat dan rendah.
c. Deepening
Teknik untuk memperdalam kondisi Trance dari Subyek. Terdapat sangat banyak Script untuk keperluan Deepening, akan tetapi secara sederhana dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Hitungan (Simple Depeening), yaitu Deepening dengan mengistirahatkan sisi Conscious Mind dari Subyek.
2) Tempat kenyamanan, yaitu Deepening dengan memandu Subyek pergi ke suatu tempat yang nyaman untuknya.
3) Aktivitas, yaitu Deepening dengan memandu Subyek untuk melakukan aktivitas tertentu (menuruni tangga, menuruni gedung menggunakan Lift, dsb.).
d. Depth Level Test
Suatu teknik untuk memeriksa kedalaman dari Subyek. Dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
1) Dengan melakukan konfirmasi secara langsung kepada Subyek (misal dengan teknik Ideo Motor Response). Seperti meminta pasien mengangkat telunjuk untuk mengatakan “Ya”
2) Dengan cara mengamati tanda-tanda di fisik Subyek (Trance Signal) 3) Dengan membandingkan tanda-tanda kedalaman dengan Depth Trance
Scale (skala kedalaman Trance). e. Suggestion
Merupakan inti dari proses Hypnosis, yaitu pemberian kata-kata Sugesti, sesuai dengan kebutuhan.Terdapat 2 jenis Suggestion, yaitu Suggestion yang menghasilkan efek Therapeutic (Hypnotherapy), dan Suggestion yang tidak menghasilkan efek Therapeutic (Stage Hypnotism). Dalam konteks Hypnotherapy, Suggestion yang bertentangan dengan nilai dasar dan sistem keyakinan dari klien tidak akan dapat bertahan lama.
f. Termination
Teknik untuk mengembalikan Subyek kembali ke kondisi Normal. Harus dilakukan secara bertahap dan tegas.
D. Relaksasi 1. Pengertian
Teknik relaksasi nafas dalam yaitu proses yang dapat melepaskan ketegangan dan mengembalikan keseimbangan tubuh. Teknik nafas dalam dapat meningkatkan konsentrasi pada diri, mempermudah untuk mengatur nafas, meningkatkan oksigen dalam darah dan memberikan rasa tenang sehingga membuat diri menjadi lebih rileks sehingga membantu untuk memasuki kondisi tidur, karena dengan cara meregangkan otot-otot akan membuat suasana hati menjadi lebih tenang dan juga lebih santai. Dengan suasana ini lebih tenang dapat membantu mencapai kondisi gelombang alpha yang merupakan suatu keadaan yang sangat diperlukan seseorang untuk dapat measuki frase tidur lebih awal. Dengan keadaan rileks juga dapat memberikan kenyamanan sebelum tidur sehingga para lansia dapat memulai tidur dengan mudah (Syamsiah, 2014)
2. Tehnik Relaksasi Nafas Dalam
1. Atur posisi pasien dengan posisi duduk ditempat tidur atau dikursi. 2. Letakkan satu tangan pasien diatas abdomen ( tepat bawah iga) dan
tangan lainnya berada di tengah-tengah dada untuk merasakan gerakan dada dan abdomen saat bernafas.
3. Keluarkan nafas dengan perlahan-lahan.
4. Tarik nafas dalam melalui hidung secara perlahan-lahan selama 4 detik sampai dada dan abdomen terasa terangkat maksimal, jaga mulut tetap tertutup selama menarik nafas.
6. Hembuskan dan keluarkan nafas secara perlahan-lahan melalui mulut selama 4 detik .
7. Lakukan secara berulang dalam 5 siklus selama 15 menit dengan periode istirahat 2 menit ( 1 siklus adalah 1 kali proses mulai dari tarik nafas, tahan dan hembuskan).