DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN
2015
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015 dapat disusun. Laporan Tahunan ini dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Direktorat Perbenihan selama Tahun 2015.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Perbenihan yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, Direktorat Perbenihan merupakan salah satu unit kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang mempunyai fungsi pengaturan di bidang perbenihan untuk menunjang tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Perbenihan berperan untuk mendorong peningkatan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat melalui penguatan sistem penyediaan benih. Dalam proses penyediaan benih, Direktorat Perbenihan melibatkan beberapa kelembagaan seperti institusi pengawasan dan sertifikasi (BPSB, LSSM dsb) dan institusi produksi benih antara lain Balai Benih, UPBS Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, BATAN, Produsen Benih Swasta/BUMN/Penangkar Benih dan lain-lain.
Terkait dengan peran Direktorat Perbenihan tersebut dan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai selama tahun 2015, maka disusunlah Laporan Tahun 2015 yang berisikan kegiatan teknis dan kegiatan administrasi serta kegiatan lain yang mendukung kegiatan teknis seperti rapat koordinasi dan workshop. Selain hal tersebut Direktorat Perbenihan juga mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan Subsidi Benih dan Cadangan Benih Nasional (CBN). Pelaksanaan kegiatan teknis meliputi kegiatan Penilaian Varietas, Pemasukan dan Pengeluaran Benih, Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih, Produksi Benih Sumber, Revitalisasi/Optimalisasi Balai Benih, Pemberdayaan Penangkar Benih dan Insentif Pengawas Benih. Sedangkan pelaksanaan kegiatan administrasi meliputi kepegawaian, surat-menyurat, rumah tangga dan perlengkapan, serta keuangan DIPA TA 2015.
ii Disadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyajian Laporan Tahunan ini, oleh karena itu diharapkan saran dan masukan untuk penyempurnaannya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dalam memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan serta hasil-hasil yang telah dicapai di bidang perbenihan tanaman pangan.
Jakarta, Maret 2016 Direktur Perbenihan,
Ibrahim Saragih
iii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi RINGKASAN EKSEKUTIF ... ix I. PENDAHULUAN ... 1 A Latar Belakang ... 1 B Tujuan ... 2 C Sasaran ... 2
II. DASAR HUKUM ... 3
III. KEBIJAKAN ... 5
IV. KETERKAITAN ANTARA DIREKTORAT PERBENIHAN DENGAN KELEMBAGAAN PERBENIHAN LAINNYA ... 8
A Badan Benih Nasional (BBN) ... 8
B Lembaga Pemuliaan Tanaman ... 8
C Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih ... 9
D Produsen Benih ... 10
E Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) ... 10
F Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) ... 11
G Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBTPH) ... 12
H Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) ... 12 I Pengedar Benih ... 13 V. KEGIATAN TEKNIS ... 14 A Penilaian Varietas ... 14 1. Pengujian Adaptasi/Multilokasi ... 14 2. Pelepasan Varietas ... 14
3. Inventarisasi Penyebaran Varietas ... 14
iv Halaman
B Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih ... 17
1. Sertifikasi Benih ... 17
2. Pengecekan Mutu Benih... 18
3. Penyaluran Benih Pasar Bebas ... 19
C Produksi Benih Sumber di UPTD Balai Benih ... 20
D Pemberdayaan Penangkar Benih ... 22
E Seribu Desa Mandiri Benih... 23
F Tingkat Penggunaan Benih Varietas Unggul Bersertifikat Tanaman Pangan ... 24
G Insentif Pengawas Benih Tanaman... 24
H Rapat Koordinasi dan Workshop ... 25
I Subsidi Benih TA 2015 ... 26
J Cadangan Benih Nasional (CBN) ... 28
K Audit Sistem Manajemen Mutu ... 30
L Jumlah Produsen dan Pengedar Benih ... 32
M Pemasukan dan Pengeluaran Benih ... 33
1. Pemasukan Benih ... 33
2. Pengeluaran Benih ... 34
N Bantuan Benih Padi Inbrida dan Jagung Hibrida... 35
VI. KEGIATAN ADMINISTRASI ... 37
A Urusan Kepegawaian ... 37
1. Keadaan Pegawai ... 37
2. Pengadaan Pegawai ... 39
3. Mutasi Pegawai ... 39
4. Kesejahteraan Pegawai ... 41
B Urusan Surat Menyurat ... 42
C Urusan Rumah Tangga dan Perlengkapan ... 42
1. Pelayanan Rapat ... 42
2. Telepon ... 43
3. Faximili ... 43
D Urusan Keuangan ... 44
VII. PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH ... 46 LAMPIRAN
v
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Penyebaran Varietas Padi Tahun 2015 ………... 15
Tabel 2. Penyebaran Varietas Jagung Tahun 2015... 15
Tabel 3. Penyebaran Varietas Kedelai Tahun 2015………... 15
Tabel 4. Rekapitulasi Rencana dan Realisasi Tanam untuk Perbanyakan Benih Sumber pada Areal Produksi Benih Sumber di Balai Benih TA 2015 ... 21
Tabel 5. Rencana dan Realisasi Penjualan Benih Bersubsidi Padi Inbrida, Padi Hibrida, Jagung Hibrida, Jagung Komposit dan Kedelai TA 2015 ... 27
Tabel 6. Stok Cadangan Benih Nasional (CBN) Berdasarkan Surat Penugasan Direktur Jenderal Tanaman Pangan ... 29
Tabel 7. Stok dan Realisasi Penggunaan Cadangan Benih Nasional (CBN) Tahun 2015... 30
Tabel 8. Daftar Izin Pemasukan Benih Tanaman Pangan Tahun 2015 …. 34 Tabel 9. Daftar Izin Pengeluaran Benih Tanaman Pangan Tahun 2015 … 34 Tabel 10. Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Golongan ... 37
Tabel 11. Rekapitulasi Jumlah Pegawai Direktorat Perbenihan Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 38
Tabel 12. Rekapitulasi Jumlah Pegawai Direktorat Perbenihan Berdasarkan Status Perkawinan dan Jenis Kelamin ... 38
Tabel 13. Pengangkatan calon ASN... ... 39
Tabel 14. Pegawai yang beralih tugas atau mutasi Direktorat Perbenihan…………...……. 40
Tabel 15. Pegawai Direktorat Perbenihan yang Purna Bakti... 40
Tabel 16. Pegawai Direktorat Perbenihan yang Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan... 41
Tabel 17. Pelayanan Surat Masuk dan Surat Keluar Tahun 2015... 42
Tabel 18. Pelayanan Rapat Dinas Pada Tahun 2015 ... 43
Tabel 19. Penggunaan Telepon Pada Tahun 2015 ... 43
Tabel 20. Penggunaan Faximile Pada Tahun 2015 ... 44
Tabel 21. Realisasi Anggaran Direktorat Perbenihan Tahun 2015 Berdasarkan Jenis Pengeluaran…………... 45
Tabel 22. Realisasi Anggaran Direktorat Perbenihan Tahun 2015 Berdasarkan Unit Kerja………... 45
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Nama UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tahun
2015
Lampiran 2 Rencana dan Realisasi Pengiriman Galur/Mutan Uji
Adaptasi/Multilokasi Tahun 2015
Lampiran 3 Daftar Varietas Tanaman Pangan Yang Dilepas Tahun 2015
Lampiran 4 Rencana dan Realisasi Display Varietas Padi dan Kedelai Tahun
2015
Lampiran 5 Realisasi Luas Penangkaran Benih Padi Kelas BD, BP, dan BR
Tahun 2015
Lampiran 6 Realisasi Luas Penangkaran Benih Jagung Kelas BD, BP, dan
BR Tahun 2015
Lampiran 7 Realisasi Luas Penangkaran Benih Kedelai Kelas BD, BP, dan
BR Tahun 2015
Lampiran 8 Realisasi Luas Penangkaran Benih Kacang Tanah Kelas BD, BP,
dan BR Tahun 2015
Lampiran 9 Realisasi Luas Penangkaran Benih Kacang Hijau Kelas BD, BP,
dan BR Tahun 2015
Lampiran 10 Realisasi Produksi Benih Padi Kelas BD, BP, dan BR Tahun
2015
Lampiran 11 Realisasi Produksi Benih Jagung Kelas BD, BP, dan BR Tahun
2015
Lampiran 12 Realisasi Produksi Benih Kedelai Kelas BD, BP, dan BR Tahun
2015
Lampiran 13 Realisasi Produksi Benih Kacang Tanah Kelas BD, BP, dan BR
Tahun 2015
Lampiran 14 Realisasi Produksi Benih Kacang Hijau Kelas BD, BP, dan BR
Tahun 2015
Lampiran 15 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Padi Tahun 2015
Lampiran 16 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Jagung Komposit Tahun 2015
Lampiran 17 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Jagung Hibrida Tahun 2015
Lampiran 18 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Kedelai Tahun 2015
Lampiran 19 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Kacang Tanah Tahun 2015
Lampiran 20 Realisasi Pengecekan Mutu Benih Kacang Hijau Tahun 2015
Lampiran 21 Realisasi Penyaluran Benih Pasar Bebas Tahun 2015
Lampiran 22 Rencana dan Realisasi Tanam Perbanyakan Benih Sumber Padi
vii
Lampiran 23 Rencana dan Realisasi Tanam Perbanyakan Benih Sumber
Jagung Tahun 2015
Lampiran 24 Rencana dan Realisasi Tanam Perbanyakan Benih Sumber
Kedelai Tahun 2015
Lampiran 25 Rencana dan Realisasi Pemberdayaan Penangkar Benih Padi
Inbrida Tahun 2015
Lampiran 26 Rencana dan Realisasi Seribu Desa Mandiri Benih Tahun 2015
Lampiran 27 Grafik Perkembangan Penggunaan Benih Varietas Unggul
Bersertifikat Padi Tahun 2014 dan 2015
Lampiran 28 Penggunaan Benih Varietas Unggul Bersertifikat Padi Tahun
2014 dan 2015
Lampiran 29 Grafik Perkembangan Penggunaan Benih Varietas Unggul
Bersertifikat Jagung Tahun 2014 dan 2015
Lampiran 30 Penggunaan Benih Varietas Unggul Bersertifikat Jagung Tahun
2014 dan 2015
Lampiran 31 Grafik Perkembangan Penggunaan Benih Varietas Unggul
Bersertifikat Kedelai Tahun 2014 dan 2015
Lampiran 32 Penggunaan Benih Varietas Unggul Bersertifikat Kedelai Tahun
2014 dan 2015
Lampiran 33 Alokasi Anggaran Insentif Pengawas Benih Tanaman (PBT) pada
UPTD BPSBTPH Tahun Anggaran 2015
Lampiran 34 Rencana dan Realisasi Penjualan Benih Bersubsidi Padi Inbrida
Tahun 2015
Lampiran 35 Rencana dan Realisasi Penjualan Benih Bersubsidi Padi Hibrida
Tahun 2015
Lampiran 36 Rencana dan Realisasi Penjualan Benih Bersubsidi Jagung
Hibrida Tahun 2015
Lampiran 37 Rencana dan Realisasi Penjualan Benih Bersubsidi Kedelai
Tahun 2015
Lampiran 38 Perusahaan/Produsen Yang Diaudit, Waktu Pelaksanaan Audit,
dan PNBP Yang Disetorkan LSSMBTPH Ke Kas Negara
Lampiran 39 Jumlah Produsen Benih Tanaman Pangan dan Kemampuan
Produksi Benih Padi dan Palawija Tahun 2015
Lampiran 40 Jumlah Pengedar (Pedagang/Penyalur) Benih dan Kemampuan
Penyaluran Benih Padi dan Palawija Tahun 2015
Lampiran 41 Daftar Izin Pemasukan Benih Tanaman Pangan Tahun 2015
viii
Lampiran 43 Alokasi Bantuan Benih Padi Inbrida Untuk Mendukung Program
RJIT
Lampiran 44 Alokasi Bantuan Benih Jagung Hibrida Untuk Mendukung
Program RJIT
Lampiran 45 Daftar Pegawai Direktorat Perbenihan Berdasarkan Daftar Urut
Kepangkatan (DUK)
Lampiran 46 Daftar Kenaikan Pangkat Pegawai Direktorat Perbenihan Tahun
2015
Lampiran 47 Daftar Kenaikan Gaji Berkala Pegawai Direktorat Perbenihan
Tahun 2015
Lampiran 48 Daftar Usulan Pemberian Satya Lencana Karya Satya Pegawai
Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Lampiran 49 Daftar Pegawai Direktorat Perbenihan Yang Melaksanakan Cuti
Tahun 2015
Lampiran 50 Struktur Organiasi Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan
Lampiran 51 Alur Produksi Benih Padi Inbrida
Lampiran 52 Alur Produksi Benih Jagung Komposit
Lampiran 53 Alur Produksi Benih Kedelai
Lampiran 54 Alur Produksi Benih Kacang Tanah
Lampiran 55 Alur Produksi Benih Kacang Hijau
Lampiran 56 Alur Produksi Benih Ubi Kayu
ix
RINGKASAN EKSEKUTIF
Dalam rangka peningkatan produksi tanaman pangan, sasaran kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan adalah terlaksananya pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan melalui pengawalan, pembinaan, monitoring dan evaluasi dalam upaya mendukung pelaksanaan kegiatan secara efisien dan efektif. Hasil kegiatan TA 2015 dapat disampaikan sebagai berikut :
1. pada tanggal 31 Maret – 1 April 2015, 8-9 Juni 2015, 21-22 September 2015, dan 1-2 Desember 2015 serta diterbitkan Keputusan Menteri Pertanian tentang Pelepasan Varietas Tanaman Pangan sebanyak 23 Keputusan Menteri Pertanian terdiri dari 8 varietas padi sawah, 1 varietas padi gogo, 2 varietas padi hibrida, 10 varietas jagung hibrida, 1 varietas kedelai, dan 1 varietas sorgum hibrida.
2. Luas penyebaran varietas unggul pada tahun 2015 adalah sebagai berikut:
a. Penyebaran varietas padi pada tahun 2015 seluas 13.836.990 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Ciherang 4.194.448 ha, IR 64 seluas 1.651.718 ha, Mekongga 1.479.095 ha, Situbagendit 911.121 ha dan Cigeulis 603.716 ha.
b. Penyebaran varietas jagung pada tahun 2015 seluas 3.705.889 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Bisi 2 seluas 619.717 ha, P 21 seluas 206.480 ha, Bisma seluas 155.700 ha, Bisi 816 seluas 155.508 ha, dan Lamuru seluas 122.869 ha.
c. Penyebaran varietas kedelai pada tahun 2015 seluas 532.818 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Anjasmoro 219.817 ha, Wilis 125.439 ha, Grobogan 44.540 ha, Baluran 26.527 ha, dan Burangrang 24.364 ha.
d. Penyebaran varietas kacang tanah sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 321.609 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 174.514 ha (54,26%), Gajah seluas 71.039 ha (22,09%), Kelinci seluas 23.624 ha (7,35%), dan Kancil seluas 13.772 ha (4,28%).
e. Penyebaran varietas kacang hijau sampai dengan akhir Desember 2015 seluas
178.159 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 113.263 ha (63,57%), Walet seluas 16.433 ha (9,22%), No. 129 seluas 11.919 ha (6,69%), dan Betet seluas 8.149 ha (4,57%).
x f. Penyebaran varietas ubikayu sampai dengan akhir Desember 2015 seluas
788.859 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 411.935 ha (55,22%), UJ-5 seluas 124.022 ha (15,72%), Adira-1 seluas 73.787 ha (9,35%), Mentega seluas 46.183 ha (5,85%), dan UJ-3 seluas 40.488 ha (5,13%).
g. Penyebaran varietas ubijalar sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 112.353 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 75.301 ha (67,02%), Kuningan Putih seluas 12.438 ha (11,07%), Daya seluas 4.517 ha (4,02%), dan Taiwan 45 seluas 4.321 ha (3,85%).
3. Upaya untuk meningkatkan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat ditempuh antara lain melalui perbanyakan benih dari varietas unggul yang telah dilepas, baik melalui perbanyakan benih sumber maupun Benih Sebar. Penggunaan benih varietas unggul bersertifikat kelas Benih Sebar (BR) pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 adalah sebagai berikut:
2014 2015
1. Padi 155.720,00 177.843,00 0,14 2. Jagung 34.809,06 36.604,00 0,05 3. Kedelai 6.282,00 13.286,00 1,11
Volume Penggunaan Benih Tahun (Ton)
No. Jenis Naik/Turun
(%)
4. Luas penangkaran dan produksi benih pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014
adalah sebagai berikut:
Penangkaran Benih Produksi Benih Penangkaran Benih (Ha) Produksi Benih (Ton) Penangkaran Benih (Ha) Produksi Benih (Ton) Naik/Turun (%) Naik/Turun (%) 1. Padi 95.406,96 215.397,16 85.793,25 202.975,29 (-10,08) (-6,32) 2. Jagung 25.334,33 41.889,59 16.880,86 43.321,67 (-33,37) 3,42 3. Kedelai 21.870,45 11.362,45 34.911,64 22.009,30 59,63 93,7 4. Kacang Tanah 626,51 412,75 370,85 265,03 (-40,81) (-35,79) 5. Kacang Hijau 36,19 30,77 110,2 20,48 204,50 (-33,44) No. Jenis 2014 2015
5. Perbanyakan benih pada areal produksi benih sumber di Balai Benih di seluruh Indonesia untuk komoditas tanaman pangan semula direncanakan seluas 421,00 ha, namun karena adanya penghematan maka direvisi menjadi seluas 411,00 ha dan terealisasi 384,52 ha (93,56%).
xi 6. Kegiatan pemberdayaan penangkar benih pada tahun 2015 untuk benih padi seluas 3.750 ha terealisasi 2.536 ha ( 67,63%), dan benih kedelai seluas 2.475 ha terealisasi 1.513 ha (61,13%).
7. Realisasi pengecekan mutu benih yang beredar di pasaran untuk benih padi sebanyak 7.514,96 ton, benih jagung hibrida 2.720,77 ton, benih jagung komposit 103.37 ton, benih kedelai 3.070,35 ton, dan benih kacang tanah 19,33 ton. Dari jumlah tersebut yang masih memenuhi standar mutu benih untuk benih padi sebanyak 6.745,58 ton (89,76%), benih jagung hibrida 1.539,64 ton (56,59%), benih jagung komposit 70,56 ton (68,26%), benih kedelai 1.845,59 ton (60,11%), dan benih kacang tanah 12,52 ton (64,77%).
8. Untuk penjualan dan penyaluran benih bersubsidi padi inbrida, padi hibrida, jagung komposit, jagung hibrida, dan kedelai dialokasikan sebanyak 116.500.000 kg, sampai dengan akhir bulan Desember 2015, Daftar Usulan Pembelian Benih Bersubsidi (DUPBB) padi inbrida, padi hibrida, jagung hibrida, jagung komposit, dan kedelai yang diajukan sebanyak 17.235.526 kg atau 14,79% dari total alokasi, dengan realisasi penjualan benih bersubsidi padi inbrida, padi hibrida, jagung hibrida, dan kedelai sebanyak 14.13.516 kg atau 12,13% dari total alokasi.
9. Berdasarkan Surat Penugasan Direktur Jenderal Tanaman Pangan sampai dengan akhir tahun 2015, realisasi penugasan CBN yang digunakan untuk kegiatan pemulihan dan pengembangan adalah sebesar 953.919 ton benih padi inbrida. Sehingga stok CBN sampai dengan akhir bulan Desember 2015 untuk komoditas padi inbrida sebesar 11.649,705 ton, padi hibrida 815,91 ton, jagung hibrida 1.784,84 ton, jagung komposit 1.075,43 ton, dan kedelai 8.180,69 ton.
10. Anggaran yang tersedia untuk melaksanakan pembinaan/kegiatan pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan sebanyak sebesar Rp.11.895.524.000,00 (sebelas miliar delapan ratus sembilan puluh lima juta lima ratus dua puluh empat ribu rupiah). Realisasi penyerapan anggaran sampai dengan bulan Desember 2015 sebesar Rp.8.564.265.643,00 (delapan miliar lima ratus enam puluh empat juta dua ratus enam puluh lima ribu enam ratus empat puluh tiga rupiah) atau 72,00%.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 1 I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan pertanian sebagai salah satu wujud pembangunan nasional bertujuan untuk mendukung usaha-usaha peningkatan produksi serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sampai saat ini lahan usaha untuk pertanian masih cukup luas dan belum mencapai tingkat produktivitas yang optimal, antara lain disebabkan belum diterapkannya paket anjuran teknologi secara tepat seperti:penggunaan benih varietas unggul bersertifikat, pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik serta pupuk bio-hayati, pengelolaan pengairan dan perbaikan budidaya. Penggunaan benih varietas unggul bersertifikat memegang peranan yang cukup penting, karena selain dapat meningkatkan produktivitas juga dapat meningkatkan mutu hasil serta sarana dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pertanian tanaman pangan mempunyai arti strategis dalam perekonomian nasional, karena sub-sektor ini menyediakan kebutuhan paling esensial bagi kehidupan yaitu bahan pangan, yang saat ini menopang kehidupan lebih dari 60% petani di Indonesia. Dalam pembangunan tanaman pangan, benih memegang peran yang sangat penting dan menentukan.Kontribusi penggunaan benih varietas unggul bersertifikat yang didukung dengan penerapan teknologi lainnya, berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas, produksi dan mutu hasil komoditas tanaman pangan.
Fokus utama kegiatan perbenihan dalam rangka mendukung peningkatan produksi tanaman pangan adalah mendorong peningkatan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat. Upaya peningkatan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat dilakukan melalui pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan perbenihan, peningkatan penyediaan/produksi benih varietas unggul bersertifikat, peningkatan/pemberdayaan penangkar benih dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan perbenihan.
Berdasarkan Penetapan Kinerja Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan tahun 2015, sasaran strategis Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan adalah terwujudnya peningkatan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat secara berkesinambungan, yaitu penggunaan benih varietas unggul bersertifikat padi 50%, jagung 50% dan kedelai 35%.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 2
B. Tujuan
Laporan Tahunan bertujuan untuk memberikan informasi hasil capaian kegiatan Direktorat Perbenihan selama tahun 2015.
C. Sasaran
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 3 II. DASAR HUKUM
Dalam mewujudkan tercapainya peningkatan penggunaan benih unggul bersertifikat secara berkesinambungan, Direktorat Perbenihan berupaya untuk meningkatkan ketersediaan benih unggul bersertifikat, meningkatkan kualitas pengawasan dan sertifikasi benih serta memberdayakan dan meningkatkan peranan kelembagaan benih. Untuk itu Pemerintah menetapkan berbagai peraturan perundang-undangan yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam pelaksanaan pengelolaan sistem penyediaan benih Tanaman Pangan. Peraturan Perbenihan tersebut meliputi :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1971 tentang Badan Benih Nasional;
4. Peraturan Menteri Pertanian Republik IndonesiaNomor
127/Permentan/SR.120/11/2015 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih Tanaman;
5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2011 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan dan Penarikan Varietas;
6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.120/12/2012 tentang Pedoman Cadangan Benih Nasional;
7. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
56/Permentan/PK.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan dan Tanaman Hijauan Pakan Ternak;
8. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
09/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Pedoman Subsidi Benih Tahun Anggaran 2015;
9. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
1100.1/Kpts/KP.150/10/1999 juncto 361/Kpts/KP.150/5/2002 tentang
Pembentukan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura;
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 4
10. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 347/Kpts/OT.210/6/2003 tentang Pedoman Pengelolaan Balai Benih Tanaman Pangan dan atau Hortikultura;
11. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
3517/Kpts/OT.160/10/2012 tentang Tim Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi Benih (TP2S) Tanaman Pangan dan Perkebunan;
12. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
4472/Kpts/OT.160/7/2013 tentang Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) Tanaman Pangan, Perkebunan dan Tanaman Pakan Ternak;
13. Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor 78/HK.310/C/12/2012, tentang Petunjuk Teknis Cadangan Benih Nasional (CBN);
14. Keputusan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Nomor 24/HK.310/C/3/2015 tentang Petunjuk Teknis Subsidi Benih Tahun Anggaran 2015.
15. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 354/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Produksi Benih Bina Tanaman Pangan
16. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 355/HK.130/C/05/2015 tentang Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan
17. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 356/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Pembinaan dan Pengawasan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 5 III. KEBIJAKAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian,Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan penyediaan benih padi, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lain. Dan mempunyai fungsi:
1. penyiapan perumusan kebijakan di bidang peningkatan penyediaan varietas, pengawasan mutu, dan produksi benih tanaman pangan;
2. pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan penyediaan varietas, pengawasan mutu, dan produksi benih tanaman pangan;
3. penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang peningkatan penyediaan varietas, pengawasan mutu, dan produksi benih tanaman pangan; 4. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang peningkatan penyediaan
varietas, pengawasan mutu, dan produksi benih tanaman pangan;
5. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang peningkatan penyediaan varietas, pengawasan mutu, dan produksi benih tanaman pangan; dan
6. pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan.
Sesuai tugas dan fungsi Direktorat Perbenihan, kebijakan perbenihan
diprioritaskanpada:
a. Plasma Nutfah untuk Pemuliaan dapat dari dalam dan luar negeri.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, pada penjelasan Pasal 9 Ayat (4) disebutkan bahwa Plasma Nutfah mempunyai peran sangat mendasar dan merupakan kekayaan yang terpendam dan tidak ternilai harganya, sehingga menjadi kewajiban Pemerintah bersama masyarakat untuk melestarikan dan memanfaatkannya. Dalam rangka pemuliaan tanaman dapat dilakukan tukar menukar plasma nutfah dengan luar negeri,tanpa mengurangi kepentingan nasional. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman bahwa plasma nutfah merupakan unsur yang sangat mendasar dalam kegiatan pemuliaan tanaman dan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perolehan benih bermutu, sehingga pelestarian plasma
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 6
nutfah yang merupakan kekayaan nasional perlu ditingkatkan guna menunjang usaha pengembangan budidaya tanaman. Disebutkan pada Pasal 1 Ayat (2) bahwa plasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam kelompok makhluk hidup, dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul atau kultivar baru. Selanjutnya pada Pasal 14 Ayat (1) bahwa pengeluaran plasma nutfah dari wilayah negara Repubik Indonesia hanya untuk keperluan penelitian dalam rangka pemuliaan tanaman dan dilakukan secara tukar menukar plasma nutfah. Dalam Pasal 18 Ayat (1) disebutkan bahwa varietas unggul berasal dari varietas baru atau varietas lokal yang mempunyai potensi tinggi.
b. Benih yang diedarkan harus memenuhi peraturan perundangan (Undang Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Pertanian).
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, pada Pasal 13 Ayat (2) disebutkan bahwa benih bina yang diedarkan harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman Pasal 1 Ayat (7) bahwa benih bina adalah benih varietas unggul yang telah dilepas, yang produksi dan peredarannya diawasi. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 56/Permentan/PK.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina dijelaskan bahwa calon pengedar benih harus mengajukan permohonan sebagai pengedar benih kepada Bupati/Walikota melalui Dinas Pertanian yang menangani perbenihan dengan melengkapi administrasi yang telah ditentukan.
c. Perlakuan yang sama pada Industri/Produsen Benih dan Distributor/Penyalur Pedagang Benih.
Pemerintah memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada Industri/Produsen Benih dan Distributor/Penyalur Benih untuk memproduksi dan mengedarkan benih. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 56/Permentan/PK.110/11/2015 Pasal 7 yang menyatakan bahwa setiap produsen benih (perorangan, badan hukum atau instansi pemerintah) yang akan memproduksi benih bina harus menguasai lahan dan memiliki sarana pengolahan benih yang memadai, sarana penunjang sesuai dengan jenis benihnya, dan
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 7
tenaga yang mempunyai pengetahuan dibidang perbenihan. Sedangkan hak dan kewajiban distributor/penyalur benih, diatur dalam Pasal 37 antara lain diberikan tanda daftar pengedar benih bina jika telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, mematuhi peraturan perundang-undangan perbenihan yang berlaku, bertanggungjawab atas mutu benih bina yang diedarkan, melakukan pencatatan dan penyimpanan dokumen benih bina yang diedarkan selama 1 (satu) tahun bagi tanaman semusim, dan 5 (lima) tahun bagi tanaman tahunan, memberikan data atau keterangan yang diperlukan Pengawas Benih Tanaman (PBT), dan melaporkan setiap terjadi perubahan.
d. Fasilitasi penumbuhkembangan peran swasta dalam pengembangan perbenihan.
Pemerintah mendukung sepenuhnya instansi/swasta terkait untuk
mengembangkan program perbenihan tanaman pangan, antara lain melalui kegiatan pemberdayaan penangkar benih, dan peningkatan kemampuan industri perbenihan, baik yang dikelola oleh Pemerintah, BUMN maupun swasta, melalui peningkatan aspek-aspek strategis antara lain penelitian dan pengembangan varietas, perbanyakan benih, pengawasan mutu dan sertifikasi benih, distribusi/pemasaran dan penggunaan benih di tingkat petani. Peranan produsen benih dalam penyediaan benih varietas unggul bersertifikat sangat penting tetapi disisi lain masih memiliki keterbatasan seperti luas areal produksi dan sumber daya manusia. Untuk mendukung dan meningkatkan kinerja para produsen benih tersebut maka lembaga/institusi yang ada di aderah antara lain seperti Dinas Pertanian Provinsi dan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Balai Benih Padi/Palawija dan Produsen Benih Swasta/Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentunya harus selalu melakukan pembinaan dan memberikan dukungan kepada produsen benih untuk aspek teknis maupun manajemen.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 8 IV. KETERKAITAN ANTARA DIREKTORAT PERBENIHAN DENGAN
KELEMBAGAAN PERBENIHAN LAINNYA
Selain Direktorat Perbenihan ada kelembagaan benih lain di antaranya Badan Benih Nasional (BBN), Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBTPH), Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH), Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), Lembaga Pemuliaan Tanaman, Produsen dan Pengedar Benih, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH), dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih. Kegiatan perbenihan juga dilakukan oleh lembaga lain tersebut dengan anggaran dari Direktorat Perbenihan diantaranya pada LSSMBTPH, UPTD BPSBTPH, dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih. Ada juga yang hanya bersifat koordinasi fungsi administrasi yaitu pada Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). Tugas dan fungsi kelembagaan perbenihan lainnya adalah sebagai berikut :
A. Badan Benih Nasional (BBN)
Badan Benih Nasional (BBN) dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1971. Badan ini merupakan kelembagaan non struktural yang bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian. Mempunyai tugas
merumuskan peraturan-peraturan pembinaan produksi dan pemasaran,
mengajukan pertimbangan kepada Menteri Pertanian tentang peraturan benih meliputi penetapan varietas dan pengawasan produksi serta pemasaran dan berfungsi membantu Menteri Pertanian dalam merencanakan dan merumuskan kebijakan dibidang Perbenihan. Struktur BBN terdiri dari Kesekretariatan, Tim Pembinaan Pengawasan dan Sertifikasi (TP2S) serta Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V).
B. Lembaga Pemuliaan Tanaman
Kegiatan penelitian dan pemuliaan tanaman pangan tidak hanya dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan yang berkedudukan dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yaitu Balai Besar
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 9
Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) di Sukamandi, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) di Malang, Balai Penelitian Tanaman Serealia (BALITSEREAL) di Maros, namun dapat dilaksanakan juga oleh lembaga penelitian lain seperti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta baik nasional maupun multinasional. Untuk penelitian komoditi spesifik lokasi dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang berkedudukan di provinsi, sedangkan perguruan tinggi yang biasa menyelenggarakan penelitian dan pemuliaan dalam rangka penemuan varietas unggul baru, antara lain Institut Pertanian Bogor, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Negeri Jember, Universitas Pajajaran, dan Universitas Lampung.
C. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih
Keberadaan kelembagaan Balai Benih setelah diberlakukannya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, pada umumnya telah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pertanian Provinsi, dan menjadi kewenangan daerah.
Sampai dengan tahun 2015, dari 34 provinsi baru 31 provinsi yang telah membentuk UPTD Balai Benih. Sedangkan 3 provinsi yaitu Kepulauan Riau, DKI Jakarta dan Kalimantan Utara belum membentuk UPTD Balai Benih. Di Kepulauan Riau UPTD Balai Benih secara struktural berada dibawah Seksi Benih pada Subdin Produksi Dinas Pertanian Provinsi yang berfungsi sebagai unit produksi benih sumber sedangkan di Provinsi DKI Jakarta hanya ada UPTD Balai Benih Hortikultura. Dengan beragamnya organisasi di daerah, maka nomenklatur (penamaan) kelembagaan Balai Benih sangat beragam, antara lain: Balai Benih Induk (BBI), Instalasi Kebun Benih, Unit Produksi Benih, Kebun Benih, Balai Perbenihan dan Pembibitan, Instalasi Benih Induk, Balai Benih/Bibit, Unit Pengembangan Benih dan Unit Perbenihan Induk.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
347/Kpts/OT.210/6/2003 tentang Pedoman Pengelolaan Balai Benih Tanaman Pangan dan atau Hortikultura,ruang lingkupnya dibagi menjadi Balai Benih Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Tugas pokok Balai Benih Provinsi adalah melaksanakan produksi dan penyebarluasan benih varietas unggul
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 10
bersertifikat kelas Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP), dalam melaksanakan tugasnya Balai Benih Tanaman Pangan menyelenggarakan fungsi melaksanakan produksi Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP), penyebar luasan (penyaluran) Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP) kepada produsen benih, melaksanakan observasi penerapan teknologi perbenihan, baik teknologi produksi maupun pasca panen, melaksanakan pemurnian kembali varietas unggul, melaksanakan pembinaan teknis kepada produsen benih, melaksanakan penyebarluasan informasi perbenihan dan melaksanakan pengawasan internal. Sedangkan untuk Balai Benih Kabupaten/Kota tugasnya melaksanakan produksi dan penyebar luasan benih bermutu varietas unggul kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR). Dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi : pelaksanaan produksi Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR), penyebar luasan dan
penyaluran Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR) kepada
produsen/masyarakat, pelaksanaan observasi penerapan teknologi perbenihan, baik di lapangan maupun pada proses pengolahan, penyimpanan dan penyaluran, pelaksanaan pemurnian kembali varietas unggul, pelaksanaan pembinaan teknis kepada produsen benih, pelaksanaan penyebar luasan informasi perbenihan dan pelaksanaan pengamatan internal mutu benih.
D. Produsen Benih
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
56/Permentan/PK.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina, yang dimaksud dengan produsen benih bina adalah perseorangan, badan usaha, badan hukum atau instansi pemerintah yang melakukan proses produksi benih bina.
E. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH)
Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 78/Permentan/OT.140/11/2011. Balai Besar PPMB-TPH sebagai Unit Pelaksana Teknis Pusat yang secara administratif bertanggung jawab kepada Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan dan secara teknis dibina
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 11
oleh Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Hortikultura.
BBPPMBTPH mempunyai tugas melaksanakan pengembangan pengujian mutu benih dan pemberian bimbingan teknis penerapan sistem manajemen mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan dan hortikultura.
Sebagai UPT Pusat BBPPMBTPH berupaya menjadikan lembaga yang dapat dijadikan sebagai rujukan bagi laboratorium pengujian benih daerah (khususnya BPSBTPH), memfasilitasi hal-hal yang terkait dengan aturan perbenihan internasional, penyusunan Dokumen Sistem Mutu berdasarkan sistem manajemen mutu yang mengacu pada SNI ISO/IEC 17025:2008.
F. Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH)
Berdasarkan Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 46/M.PAN/2/2001 tanggal 26 Februari 2001 perihal Penyampaian Daftar Instansi Vertikal dan Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Departemen dan LPND,serta Keputusan Menteri Pertanian Nomor 168/Kpts/PL.810/3/2001 tanggal 8 Maret 2001 tentang Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) Departemen Pertanian yang ditindaklanjuti dengan pengalihan kepada Pemerintah Daerah, kelembagaan pengawasan dan sertifikasi benih yang telah diserahkan ke daerah dan menjadi kewenangan daerah berjumlah 25 BPSB di 25 provinsi. Dalam perkembangan selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Gubernur atau Peraturan Pemerintah Daerah, telah terbentuk institusi yang menangani pengawasan dan sertifikasi benih yang berbentuk UPTD yaitu UPTD BPSB. Berdasarkan hasil inventarisasi kelembagaan pengawasan dan sertifikasi benih, dari 33 provinsi di Indonesia telah terbentuk 32 UPTD Institusi Pengawasan dan Sertifikasi Benih, sementara 1 provinsi pengembangan yaitu Kepulauan Riau belum membentuk UPTD BPSB, untuk kegiatan pengawasan dan sertifikasi benih masih dilaksanakan di provinsi terdekat, oleh UPTD BPSB Riau. Secara rinci nama UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih dapat dilihat pada Lampiran 1.
UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura memiliki tugas dan fungsi melaksanakan berbagai kegiatan sertifikasi benih
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 12
tanaman pangan dan hortikultura, pengujian benih secara laboratories, penilaian varietas tanaman pangan dan hortikultura, pengawasan peredaran benih, tugas-tugas ketatausahaan dan pelayanan kepada masyarakat.
G. Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBTPH)
Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSMBTPH) adalah lembaga yang melekat pada Direktorat Perbenihan pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura, yang mempunyai kewenangan untuk melaksanakan Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu pada pelaku agribisnis perbenihan.
LSSMBTPH dibentuk sejak tahun 1999, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1100.1/Kpts/KP.150/10/1999 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 361/Kpts/KP.150/5/2002 sebagai peraturan pelaksanaan dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman, sedangkan operasional LSSMBTPH berlandaskan pada
Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
56/Permentan/SR.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih
Bina dan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
48/Permentan/SR.120/8/2012 tentang Produksi, Sertifikasi dan Pengawasan Peredaran Benih Hortikultura. LSSMBTPH juga telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada tanggal 28 Januari 2005 dengan Sertifikat Akreditasi Nomor LSSM-020-IDN, dengan ruang lingkup kegiatan Sertifikasi Benih Tanaman, dan Re-akreditasi oleh KAN yang terakhir telah dilaksanakan dengan Sertifikat Nomor LSSM-033-IDN tanggal 18 Agustus 2011 (acuan ISO 17021). Pada tanggal 1 Maret 2015 KAN telah melaksanakan survailen II terhadap LSSMBTPH.
H. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia
Nomor61/Permentan/OT.140/11/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP)
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 13
merupakan unit organisasi Eselon II di lingkungan Kementerian Pertanian yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian yang secara administratif dibina oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Pusat PVTPP memiliki tugas melaksanakan pengelolaan Perlindungan Varietas Tanaman serta pelayanan perizinan dan rekomendasi teknis pertanian, yang dalam kegiatannya menyelenggarakan fungsi: (a) perumusan rencana, program dan anggaran, serta kerjasama; (b) pemberian pelayanan permohonan hak dan pengujian perlindungan varietas tanaman, serta pendaftaran varietas dan sumber daya genetik tanaman; (c) penerimaan, analisis, fasilitasi proses teknis penolakan atau pemberian izin, rekomendasi teknis, dan pendaftaran di bidang pertanian; (d) pelayanan penamaan, pemberian, penolakan permohanan, pembatalan hak, serta pelayanan permohonan banding, konsultasi, pertimbangan dan perlindungan hukum perlindungan varietas tanaman; dan (e) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Struktur organisasi Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian terdiri atas: Bagian Umum, Bidang Pelayanan Perlindungan Varietas Tanaman, Bidang Pelayanan Perizinan Pertanian dan Bidang Pelayanan Hukum. Pusat PVTPP memberikan penghargaan atas kekayaan intelektual dan kepastian hukum terhadap pemuliaan tanaman yang telah menghasilkan varietas baru melalui kegiatan pemuliaan dalam bentuk Hak Perlindungan Varietas Tanaman. Perlindungan diberikan terhadap seluruh genus dan spesies tanaman dari komoditas: tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan kehutanan.Pusat PVTPP juga melaksanakan pelayanan satu pintu (one stop service) guna mendorong tumbuh kembangnya industri dan investasi di sektor pertanian melalui perizinan pertanian.
I. Pengedar Benih
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
02/Permentan/SR.120/1/2015 tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina, yang dimaksud dengan pengedar benih bina adalah perseorangan, badan usaha, badan hukum, atau instansi pemerintah yang melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka menyalurkan benih bina ke lokasi pemasaran dan/atau kepada masyarakat.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 14 V. KEGIATAN TEKNIS
A. Penilaian Varietas
1. Pengujian Adaptasi/Multilokasi
Rencana pengiriman galur/mutan untuk kegiatan uji adaptasi/multilokasi yang dilaksanakan oleh BPSBTPH dibeberapa provinsi pada tahun 2015 sebanyak 84 galur yang terdiri dari 63 galur padi dan 21 galur palawija. Dari jumlah tersebut, jumlah galur yang telah terealisasi pengirimannya sebanyak 84 galur, terdiri dari 62 galur padi dan 22 galur palawija (100%). Rincian rencana dan realisasi pengiriman galur/mutan uji adaptasi/multilokasi ke provinsi seperti pada Lampiran 2.
2. Pelepasan Varietas
Pada tahun2015 telah dilaksanakan sidang pelepasan varietas sebanyak 4
kali, yaitu pada tanggal 31 Maret – 1 April 2015, 8-9 Juni 2015, 21-22
September 2015, dan 1-2 Desember 2015 serta diterbitkan Keputusan Menteri Pertanian tentang Pelepasan Varietas Tanaman Pangan sebanyak 23 Keputusan Menteri Pertanian terdiri dari 8 varietas padi sawah, 1 varietas padi gogo, 2 varietas padi hibrida, 10 varietas jagung hibrida, 1 varietas kedelai, dan 1 varietas sorgum hibrida. Daftar varietas tanaman pangan yang dilepas pada tahun 2015 terdapat pada Lampiran 3.
3. Inventarisasi Penyebaran Varietas a. Padi
Penyebaran varietas padi pada tahun 2015 seluas 13.836.990 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Ciherang 4.194.448 ha, IR 64 seluas 1.651.718 ha, Mekongga 1.479.095 ha, Situbagendit 911.121 ha dan Cigeulis 603.716 ha. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 15
Tabel 1. Penyebaran Varietas Padi Tahun 2015
No Varietas Luas Penyebaran (ha)*) %
1 Ciherang 4,194,448 30.31
2 IR 46 1,651,718 11.94
3 Mekongga 1,479,095 10.69
4 Situbagendit 911,121 6.58
5 Cigeulis 603,716 4.36
6 Varietas Unggul Lainnya 3,674,576 26.56
7 Var. Lokal 1,322,316 9.56
Total 13,836,990 100.00
b. Jagung
Penyebaran varietas jagung pada tahun 2015 seluas 3.705.889 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Bisi 2 seluas 619.717 ha, P 21 seluas 206.480 ha, Bisma seluas 155.700 ha, Bisi 816 seluas 155.508 ha, dan Lamuru seluas 122.869 ha. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Penyebaran Varietas Jagung Tahun 2015
No Varietas Luas Penyebaran (ha)*) %
1 BISI 2 619,717 16.72 2 P 21 206,480 5.57 3 BISMA 155,700 4.20 4 BISI 816 155,508 4.20 5 LAMURU 122,869 3.32 6 VU Lainnya 1,670,121 45.07 7 Lokal 775,494 20.93 Total 3,705,889 100.00 c. Kedelai
Penyebaran varietas kedelai pada tahun 2015 seluas 532.818 ha, terdiri dari 5 (lima) varietas unggul yang dominan yaitu Anjasmoro 219.817 ha, Wilis 125.439 ha, Grobogan 44.540 ha, Baluran 26.527 ha, dan Burangrang 24.364 ha. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Penyebaran Varietas Kedelai Tahun 2015
No Varietas Luas Penyebaran (ha)*) %
1 Anjasmoro 219,817 41.26 2 Wilis 125,439 23.54 3 Grobogan 44,540 8.36 4 Baluran 26,527 4.98 5 Bungrangrang 24,364 4.57 6 VU Lainnya 45,905 8.62 7 Lokal 46,226 8.68 Total 532,818 100.00
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 16 d. Palawija Lainnya
Kacang Tanah
Penyebaran varietas kacang tanah sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 321.609 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 174.514 ha (54,26%), Gajah seluas 71.039 ha (22,09%), Kelinci seluas 23.624 ha (7,35%), dan Kancil seluas 13.772 ha (4,28%).
Kacang Hijau
Penyebaran varietas kacang hijau sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 178.159 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 113.263 ha (63,57%), Walet seluas 16.433 ha (9,22%), No. 129 seluas 11.919 ha (6,69%), dan Betet seluas 8.149 ha (4,57%).
Ubi Kayu
Penyebaran varietas ubikayu sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 788.859 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 411.935 ha (55,22%), UJ-5 seluas 124.022 ha (15,72%), Adira-1 seluas 73.787 ha (9,35%), Mentega seluas 46.183 ha (5,85%), dan UJ-3 seluas 40.488 ha (5,13%).
Ubi Jalar
Penyebaran varietas ubijalar sampai dengan akhir Desember 2015 seluas 112.353 ha dan varietas yang dominan adalah varietas Lokal seluas 75.301 ha (67,02%), Kuningan Putih seluas 12.438 ha (11,07%),Daya seluas 4.517 ha (4,02%), dan Taiwan 45 seluas 4.321 ha (3,85%).
4. Display Varietas
Rencana pelaksanaan kegiatan display varietas yang dilaksanakan oleh BPSBTPH dibeberapa provinsi pada tahun 2015 sebanyak 49 unit, terdiri dari padi inbrida 43 unit dan kedelai 6 unit, sedangkan untuk kegiatan dembul padi hibrida akan dilaksanakan sebanyak 12 unit dan semua telah terealisasi. Rincian rencana dan realisasi display varietas terdapat pada Lampiran 4.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 17 B. Sertifikasi dan Pengawasan Mutu Benih
1. Sertifikasi Benih
Realisasi perbanyakan Benih Dasar (BD), Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR) yang dilaksanakan di Balai Benih dan beberapa Produsen Benih Swasta serta BUMN tahun 2015 adalah sebagai berikut:
a. Luas Areal Sertifikasi Penangkaran Benih Kelas BD, BP, BR dan Hibrida
1) Padi
Realisasi penangkaran benih padi pada tahun 2015 seluas 85.793,25 ha, terdiri dari kelas BD 1.316,70 ha, BP 37.819,77 ha, BR 46.581,07 ha dan Hibrida 75,71 ha. Rincian penangkaran benih padi per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 5.
2) Jagung
Realisasi penangkaran benih jagung pada tahun 2015 seluas 16.880,86 ha, terdiri dari kelas BD 75,97 ha, BP 644,35 ha, BR 1.251,10 ha dan Hibrida 14.909,44 ha. Rincian penangkaran benih jagung per kelas
benih per provinsi terdapat pada Lampiran 6.
3) Kedelai
Realisasi penangkaran benih kedelai pada tahun 2015 seluas 34.911,64 ha, terdiri dari kelas BD 189,96 ha, BP 6.194,73 ha dan BR 28.526,96 ha. Rincian penangkaran benih kedelai per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 7.
4) Kacang Tanah
Realisasi penangkaran benih kacang tanah pada tahun 2015seluas 370,85 ha, terdiri dari kelas BD 28,48 ha, BP 53,96 ha dan BR 288,40 ha. Rincian penangkaran benih kacang tanah per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 8.
5) Kacang Hijau
Realisasi penangkaran benih kacang hijau pada tahun 2015 seluas 110,20 ha terdiri dari kelas BD 8,32 ha, BP 54,18 ha dan BR 47,70 ha. Rincian penangkaran benih kacang hijau per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 9.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 18 b. Produksi Benih Kelas BD, BP dan BR
1) Padi
Realisasi produksi benih padi pada tahun 2015 sebanyak 202.975,29 ton dengan rincian kelas BD 3.299,02 ton, BP 116.035,68 ton dan BR 83.640,59 ton (data sementara). Rincian produksi benih padi per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 10.
2) Jagung
Realisasi produksi benih jagung pada tahun 2015 sebanyak 43.321,67 ton dengan rincian BD 90,84 ton, BP 292,74 ton dan BR 42.938,09 ton (data sementara). Rincian produksi benih jagung per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 11.
3) Kedelai
Realisasi produksi benih kedelaipada tahun 2015 sebanyak 22.009,30 ton dengan rincian kelas BD 80,64 ton, BP 3.580,09 ton dan BR 18.348,57 ton (data sementara). Rincian produksi benih kedelai per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 12.
4) Kacang Tanah
Realisasi produksi benih kacang tanah pada tahun 2015 sebanyak 265,03 ton dengan rincian kelas BD 15,28 ton dan BP 36,39 ton dan BR 213,36 ton (data sementara). Rincian produksi benih kacang tanah per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 13.
5) Kacang Hijau
Realisasi produksi benih kacang hijau selama tahun 2015 sebanyak 20,48 ton dengan rincian kelas BD 0,78 ton, kelas BP 11,60 ton, dan BR 8,10 ton (data sementara). Rincian produksi benih kacang hijau per kelas benih per provinsi terdapat pada Lampiran 14.
2. Pengecekan Mutu Benih
Realisasi pengecekan mutu benih pada tahun 2015 adalah sebagai berikut : a. Padi
Pengecekan mutu benih padi pada tahun 2015 sebanyak 7.514,96 ton, dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 6.745,58 ton (89,76%) dan tidak memenuhi standar mutu 769,38 ton (10,24%). Rincian realisasi pengecekan mutu benih padi terdapat pada Lampiran 15.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 19
b. Jagung Komposit
Pengecekan mutu benih jagung komposit pada tahun 2015 sebanyak 103,37 ton, dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 70,56 ton (68,26%) dan tidak memenuhi standar mutu 32,81 ton (31,74%). Rincian realisasi pengecekan mutu benih jagung komposit terdapat pada Lampiran 16.
c. Jagung Hibrida
Pengecekan mutu benih jagung hibrida pada tahun 2015 sebanyak 2.720,77 ton, dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 1.539,64 ton (56,59%) dan tidak memenuhi standar mutu 1.181,13 ton (43,41%). Rincian realisasi pengecekan mutu benih jagung hibrida terdapat pada Lampiran 17.
d. Kedelai
Pengecekan mutu benih kedelai pada tahun 2015 sebanyak 3.070,35 ton dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 1.845,59 ton (60,11%) dan tidak memenuhi standar mutu 1.224,76 ton (39,89%). Rincian realisasi pengecekan mutu benih kedelai terdapat pada Lampiran 18.
e. Kacang Tanah
Pengecekan mutu benih kacang tanah pada tahun 2015 sebanyak 19,33 ton, dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 12,52 ton (64,77%) dan tidak memenuhi standar mutu 6,81 ton (35,23 %). Rincian realisasi pengecekan mutu benih kacang tanah terdapat pada Lampiran 19.
f. Kacang Hijau
Pengecekan mutu benih kacang hijau pada tahun 2015 sebanyak 5,95 ton, dengan rincian yang memenuhi standar mutu benih 5,22 ton (87,73%) dan tidak memenuhi standar mutu 0,73 ton (12,27%). Rincian realisasi pengecekan mutu benih kacang tanah terdapat pada Lampiran 20.
3. Penyaluran Benih Pasar Bebas
Pada tahun 2015, jumlah benih yang tersalur adalah benih padi sebanyak 116.397,103 ton terdiri dari kelas BD 2.461,232 ton, BP 72.559,609 ton, BR 41.149,599 ton, dan Hibrida 226,663 ton. Benih jagung sebanyak 27.331,721 ton terdiri dari kelas BD 23,175 ton, BP 239,541 ton, BR 7.960,439 ton, dan
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 20
Hibrida 19.108,566 ton. Benih kedelai sebanyak 7.244,071 ton terdiri dari kelas BD 74,799 ton, BP 892,637 ton dan BR 6.276,635 ton. Benih kacang tanah sebanyak 55,574 ton terdiri dari kelas BD 0,60 ton, kelas BP 11,76 ton, dan kelas BR 43,214 ton. Benih kacang hijau sebanyak 7,195 ton terdiri dari kelas BD 0,665 ton, kelas BP 1,23 ton, dan kelas BR 5,30 ton. Rincian realisasi penyaluran benih pasar bebas terdapat pada Lampiran 21.
C. Produksi Benih Sumber di UPTD Balai Benih
Dalam rangka mendukung penyediaan benih sumber khususnya kelas Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP) sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 347/Kpts/OT.210/6/2003 maka ditugaskan kepada Balai Benih untuk melakukan perbanyakan benih sumber kelas BD dan BP. Dalam rangka pelaksanaan perbanyakan benih sumber tersebut pemerintah tetap mengalokasikan anggaran perbanyakan benih melalui anggaran APBN Tugas Pembantuan provinsi.
Berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2015, rencana perbanyakan benih pada areal produksi benih sumber di Balai Benih di seluruh Indonesia untuk komoditas tanaman pangan seluas 421,00 ha, namun karena adanya penghematan maka direvisi menjadi seluas 411,00 ha dengan rincian sebagai berikut: 1) Areal tanam untuk produksi benih sumber padi kelas BS-BD 72,00 ha dan kelas BD-BP 140,00 ha, 2) Areal tanam untuk produksi benih sumber jagung kelas BS-BD 9,00 ha dan kelas BD-BP 15,00 ha, 3) Areal tanam untuk produksi benih sumber kedelai kelas
BS-BD 49,00 ha dan kelas BD-BP 126,00 ha. Dari rencana tanam perbanyakan
benih sumber seluas 411,00 ha, sampai dengan akhir tahun 2015 terealisasi seluas 384,52 ha atau (93,56%) dengan rincian realisasi tanam benih padi kelas BS-BD seluas 65,02 ha dan kelas BD-BP seluas 132,00 ha, realisasi tanam benih jagung untuk kelas BS-BD seluas 7,00 ha sedangkan kelas BD-BP seluas 14,50 ha dan realisasi tanam benih kedelai untuk kelas BS-BD seluas 46,00 ha dan kelas BD-BP seluas 120,00 ha. Rekapitulasi rencana dan realisasi tanam untuk perbanyakan benih sumber dapat dilihat pada Tabel 4.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 21
Tabel 4. Rekapitulasi Rencana dan Realisasi Tanam untuk Perbanyakan Benih Sumber pada Areal Produksi Benih Sumber di Balai Benih TA 2015
Rencana Tanam
Realisasi Tanam
Produksi Benih
(Ha)
(Ha)
(kg dan stek)
BS-BD 72,00
65,02
90,31
143.490
BD-BP 140,00132,00
94,29
442.300
BS-BD 9,007,00
77,78
6.446
BD-BP 15,0014,50
96,67
34.285
BS-BD 49,0046,00
93,88
14.474
BD-BP 126,00120,00
95,24
45.094
411,00 384,5293,56
(%)
No Komoditas Kelas Benih
Jumlah
1 Padi
2 Jagung
3 Kedelai
Secara rinci rencana dan realisasi tanam perbanyakan benih sumber serta produksi benih per provinsi tahun 2015 sebagai berikut:
1. Padi
Realisasi tanam perbanyakan benih sumber padi kelas BS-BD seluas 65,02 ha dari rencana tanam seluas 72,00 ha (90,31%) dan realisasi tanam perbanyakan benih sumber kelas BD-BP seluas 132 ha dari rencana tanam seluas 140 ha (94,29%). Sampai dengan akhir Desember 2015 realisasi sementara produksi benih sumber padi kelas BS-BD sebanyak 143.490 kg. Sedangkan produksi benih sumber kelas BD-BP sebanyak 442.300 kg. Rincian rencana dan realisasi tanam perbanyakan benih sumber padi per provinsi pada Lampiran 22.
2. Jagung
Realisasi tanam perbanyakan benih sumber jagung sampai dengan akhir Desember 2015 untuk kelas BS-BD 7,00 ha dari rencana tanam 9,00 ha (77,78%) sedangkan untuk kelas BD-BP 14,50 ha dari rencana tanam 15,00 ha (96,67%). Realisasi sementara produksi kelas BS-BD 6.446 kg dan produksi kelas BD-BP 34.285 kg. Rincian rencana dan realisasi tanam perbanyakan benih sumber jagung per provinsi pada Lampiran 23.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 22
3. Kedelai
Realisasi tanam perbanyakan benih sumber kedelai kelas BS-BD seluas 46,00 ha dari rencana tanam seluas 49,00 ha (93,90%) dan produksi benih sementara yang dihasilkan dari produksi APBN 2015 sebanyak 14.474 kg. Sedangkan realisasi tanam perbanyakan benih sumber kelas BD-BP seluas 120,00 ha dari rencana tanam seluas 126,00 ha (95,24%) dan produksi benih sementara yang dihasilkan dari APBN 2015 sebanyak 45.094 kg. Rincian rencana dan realisasi tanam perbanyakan benih sumber kedelai per provinsi pada Lampiran 24.
D. Pemberdayaan Penangkar Benih
Dalam rangka menuju kemandirian ketahanan pangan, Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai. Penggunaan benih varietas unggul bersertifikat diyakini dapat memberikan kontribusi yang signifikan
dalam peningkatan produktivitas tanaman pangan. Dalam mendukung
peningkatan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat diperlukan sistem pengelolaan produksi benih yang baik sehingga mampu menyediakan benih di tingkat lapangan sesuai dengan kebutuhan petani,yaitu varietas, mutu, jumlah, waktu, harga, lokasi dan harga. Peranan penangkar/kelompok penangkar benih dalam penyediaan benih varietas unggul bersertifikat sangat penting tetapi disisi lain masih memiliki keterbatasan seperti luas areal produksi dan sumber daya manusia, prasarana dan sarana serta modal.
Guna meningkatkan kinerja para penangkar/kelompok penangkar benih tersebut maka lembaga/institusi di daerah seperti Dinas Pertanian Provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH), Balai Benih Padi/Palawija dan Produsen Benih BUMN/Swasta tentunya harus selalu melakukan pembinaan dan memberikan dukungan kepada penangkar/kelompok penangkar benih baikaspek teknis maupun manajemen.
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 23
Tujuan dilaksanakannya kegiatan pemberdayaan penangkar benih adalah untuk : 1. Meningkatkan kemampuan penangkar/kelompok penangkar benih dalam
pengelolaan produksi dan pemasaran benih varietas unggul bersertifikat.
2. Menumbuhkembangkan penangkar/kelompok penangkar benih di daerah yang kelembagaan penangkar benihnya belum berkembang.
Kegiatan Pemberdayaan Penangkar Benih pada TA 2015 dialokasikan untukpadi sebanyak 75 unit atau 3.750 ha dengan anggaran Rp.13.125.000.000 (tiga belas miliar seratus dua puluh lima juta rupiah) di 31 provinsi dankedelai 100 unit atau 2.500 ha dengan anggaran Rp.8.000.000.000 (delapan miliar rupiah) di 27 provinsi. Realisasi keuangan untuk pemberdayaan penangkar benih padi sebesar Rp 12.425.000.000 (dua belas miliar empat ratus dua puluh lima juta rupiah) atau 94.67%, dan kedelai sebesar Rp 7.680.000.000 (tujuh miliar enam ratus delapan puluh juta rupiah) atau 96,00%. Sedangkan realisasi fisik untuk padi sebanyak 2.536 ha serta telah realisasi panen seluas 1.484 ha dan realisasi fisik untuk kedelai sebanyak 1.513 ha serta telah realisasi panen seluas 412 ha. Rincian alokasi pemberdayaan penangkar benih seperti terlihat pada Lampiran 25.
E. Seribu Desa Mandiri Benih
Dalam rangka mendukung Program Presiden Republik Indonesia Periode 2014-2019, dimana salah satunya adalah mewujudkan kemandirian pangan dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik sebagaimana yang
tertera dalam 9 (sembilan) agenda prioritas pembangunan, maka
penanggulangan kemiskinan pertanian dan regenerasi petani menjadi fokus utama pembangunan pertanian. Salah satu upaya kearah tersebut adalah pencanangan seribu desa berdaulat pangan hingga Tahun Anggaran 2019. Untuk tercapainya berdaulat pangan prioritas pembangunan pertanian yang harus terwujud adalah tercapainya sasaran produksi padi, jagung, dan kedelai. Dengan adanya kegiatan Pengembangan Seribu Desa Mandiri Benih ini diharapkan akan tumbuh kelompok tani / kelompok penangkar atau gabungan kelompok tani dengan kelompok penangkar yang mampu menyediakan benih untuk memenuhi kebutuhan benih di wilayah masing-masing. Alokasi pengembangan seribu desa mandiri benih di 32 provinsi sebesar 1.000 unit (10.000 Ha) dengan anggaran
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 24
Rp.170.000.000.000,00 (seratus tujuh puluhn miliar). Realisasi tanam sampai dengan bulan Desember sebesar 7.808 ha (78,08%) sedangkan realisasi anggarannya sebesar Rp. 168.980.000.000,00 (seratus enam puluh delapan miliar sembilan ratus delapan puluh juta rupiah) atau 99,4%. Rincian alokasi seribu desa mandiri benih seperti terlihat pada Lampiran 26.
F. Tingkat Penggunaan Benih Varietas Unggul Bersertifikat Tanaman Pangan
Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil ditempuh melalui penggunaan benih varietas unggul bersertifikat. Untuk itu pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat dan diharapkan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat selalu meningkat dari tahun ke tahun. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 27,28, 29, 30, 31, dan 32.
Tingkat penggunaan benih varietas unggul bersertifikat pada tahun 2015 untuk padi sebanyak 177.843,07 ton (50,88%), jagung 36.604,26 ton (50,40%), dan kedelai 13.285,96 ton (38,56%). Dibandingkan tahun 2014, penggunaan benih varietas unggul bersertifikat untuk padi mengalami kenaikan sebanyak 22.122 ton (12,43%), jagung mengalami peningkatan 1.795,26 ton (4,90%), dan kedelai mengalami peningkatan 6.463,96 ton (48,65%). Komponen yang digunakan dalam menghitung penggunaan benih varietas unggul bersertifikat, selain peredaran benih di pasar bebas (swadaya petani), komponen lainnya berasal dari bantuan pemerintah melalui Cadangan Benih Nasional , Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman terpadu (GP-PTT), APBN-P dan Subsidi Benih, sehingga beberapa komponen tersebut akan mempengaruhi tingkat penggunaan benih tersebut.
G. Insentif Pengawas Benih Tanaman (PBT)
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 09 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Benih Tanaman dan Angka Kreditnya, maka Pengawas Benih Tanaman (PBT) didefinisikan sebagai jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melakukan kegiatan pengawasan benih tanaman yang diduduki oleh PNS dengan hak dan kewajiban secara penuh yang diberikan oleh pejabat yang
Laporan Tahunan Direktorat Perbenihan Tahun 2015
Page 25
berwenang. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 Pasal 46 ayat 1, pengawas benih tanaman adalah pelaksana tugas pengawasan dibidang perbenihan yang diangkat oleh Menteri. Melihat definisi dari Pengawas Benih Tanaman berdasarkan peraturan perundangan diatas, maka tugas Pengawas Benih Tanaman memiliki tanggung jawab maupun “tanggung gugat” pada pengawasan benih tanaman. Tanggung jawab sebagai pemeriksa mutu benih dan pengawas peredaran benih dan tanggung gugat bila ada kesalahan dalam memeriksa mutu benih dan mengawasi peredaran benih. Dengan beban kinerja seperti itu, maka seorang Pengawas Benih Tanaman dituntut untuk mampu menunjukkan kompetensi dan pengalamannya, sehingga dalam melaksanakan tugas dapat berjalan secara akuntabel, transparan dan independen.
Tugas pokok Pengawas Benih Tanaman adalah menyiapkan, melaksanakan, mengevaluasi, mengembangkan dan melaporkan kegiatan pengawasan benih tanaman yang terdiri dari penilaian kultivar, sertifikasi, pengujian mutu benih, pengawasan peredaran benih tanaman, dan penerapan sistemmanajemen mutu. Dalam rangka meningkatkan tugas dan fungsi serta kompetensi Pengawas Benih Tanaman di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) dilaksanakan kegiatan insentif pengawas benih tanaman.Rincian alokasi insentif PBT per provinsi seperti pada Lampiran 33.
H. Rapat Koordinasi dan Workshop
Pada tahun 2015 telah direncanakan beberapa rapat koordinasi dan workshop perbenihan tanaman pangan, diantaranya adalah Koordinasi Teknis Perbenihan Tanaman Pangan dan Evaluasi Kegiatan Perbenihan Tanaman Pangan.Tujuan diselenggarakannya kegiatan Koordiasi Teknis Perbenihan Tanaman Pangan adalah untuk meningkatkan koordinasi dan menyatukan persepsi dalam pelaksanaan program pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan antara pusat dan daerah, sehingga mampu mendorong ketersediaan benih sesuai dengan tingkat kebutuhan petani serta tersosialisasinya mekanisme pelaksanaan kegiatan subsidi benih. Realisasi kegiatan Koordinasi Teknis Perbenihan Tanaman Pangan diselenggarakan pada tanggal 19 s.d 20 Mei 2015 di Auditorium Gedung D, Kementerian Pertanian. Pertemuan dibuka oleh Direktur