• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGI(AT I BAII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGI(AT I BAII"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TEMBARAN DAERAH

PROPINSI DAERAH TINGI(AT I BAII

NOMOR:4 TAHUN:1990 SERI:DNO.4

GT'BERIVT'R

ISPAI"A

DAERAH

TINGI{AT I BALI

IGPUTUSAN

GI'BERNT'R

IGPAII\

DAERAE

TINGI(AT I BALI

NOMOR467

TAIII]N

1989

TE NTAN

G

PEMBINAAIY

DAI\

PENGAWA"SAT.I

PENGN)AAN'

PENYALUR.

AI\

DAIY

IIARGA BENIH DI PROPINSI DAERAII TINGKAT I

BALI

GT'BERNT'R

IGPAI"A DAERAII TINGI(AT I BALI, Menimbang :

a. bahwa benih bermutu mempunyai peranan pen-

ting dan strategis dalam

upaya meningkatkan mutu intensifikasi guna memantapkan kelestarian swasembada pangan/beras ;

bahwa

untuk

mencapai maksud pada

huruf

a, di- pandang perlu untuk menyelenggarakan pembina-

an

dan pengawasan pengadaan, penyaluran dan harga benih di Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali ; bahwa pembinaan dan pengawasan sebagaimana dirnaksud pada huruf b, ditetapkan dengan Kepu- tusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat

I

Bali.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 19?4 tentang Po- kok-pokok Pemerintahan

di

Daerah (Lembaran b.

Mengingat

:1.

(2)

Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 38;

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor e037) ;

.2.

Undang-undang Nomor

64 Tahun

1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah

fingkat I

Bali, Nusa Tenggara

Baratdan

Nusa Tenggara

Timur

(Lem- baran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 No-

mor

115; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649) ;

3.

Keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 25 Oktober 1971 Nomor 72

Tahun

1971 tentang Pembinaan, Pengawasan Pemasaran

dan

Serti- frkasi Benih ;

4.

Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia tanggal 24 Agustus 1978 Nomor 529/Kpts/Org/A

19?9 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengawasan dan Sei'tifikasi

Benih;

5.

Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia tanggal 2 Nopember 1971 Nomor a60/KpfslOrg,llU 19?1

tentang

Pelaksanaan

lGputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun

l97L;

6.

Keputusan

Direktur

Jendral Pertanian Tanaman Pangan tanggal 12 Desember 1979 Nomor SK-I.A5.

-

79.54 tentang Pedoman

Iftrja

Balai Pengawasan

dan Sertifikasi Benih ;

?.

Keputusan

Direktur

Jendral Pertanian Tanaman Pangan tanggal

4

Oktober 1984 Nomor IHK050.

84.66 tentang

Isi

dan Warna Label

Tiap

Benih Bina yang diperdagangkan.

8.

Keputusan Gubernur Kepala Daerah

Tingkat I Bali, tanggal

14

April

1983 Nomor 521.32/5127/

Binproda tentang Susunan Tugas dan Tanggung Jawab

Tim

Pelaksana

Teknis dan

Pengawasan

Benih;

9.

Keputusan Gubernur Kepala Daerah

fingkat I

Bali

Nomor

I25 Tahun

1989 tentang Ketentuan Pengadaan/Produksi Penyaluran dan Harga Ecer-

(3)

an Tertinggi Benih/Bibit Padi, Palawija dan Horti- kultura Hasil Balai Benih Dinas Pertanian Tanam- an Pangan Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali.

ME MU TU SKAN

:

Menetapkan

: KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA

DAERAH

TINGI(AT I BALI

TENTAT{G PEMBINAAT.I DAT{

PENGAWASAN PENGADAA}I, PE}IYALURAN DAT.I

HARGA BENIH DI PROPINSI DAERAH TINGI(AT

I

BALI.

BAB I

IGTENTUATII

UMIJM Pasal 1

,

Dalam Keputusan

ini

yang dimaksud dengan :

a. Benih

adalah segala bahan tanaman

untuk

di- kembangbiakan baik berupabiji maupun

bibit

;

b.

Benih Bina adalah benih dari jenis dan/atau vari- etas tanaman yang benihnya ditetapkan untuk di-

atur

dan diawasi dalam pemasarannya berdasar- kan peraturan yang berlaku ;

c.

Hibrida adalah keturunan pertama dari persilang- an yang dihasilkan dengan mengatur penyerbuk- an dan kombinasinya ;

d.

Sertifikasi benih adalah suatu cara pemberian ser-

tifikat

atas cara perbanyakan, produksi dan pe-

nyaluran benih yang

sesuai dengan peraturan yang ditetapkan ;

e.

Benih bersertifikat adalah benih yang diproduksi melalui cara sertifikasi dan benih tersebut mutu- nya telah memeduhi standar yang ditetapkan ;

f. Benih tidak bersertifikat

adalah benih

yang

di- produksi

tidak melalui

sertifikasi,

tetapi

melalui cara pelabelan dan benih tersebut mutunya telah memenuhi standar pelabelan yang berlaku ; 20

(4)

g.

Label

adalah keterangan

tertulis,

tercetak atau

bergambar mengenai

mutu

serta tempat asal be- nih yang ditempelkan atau disertakan secara jelas pada sejumlah benih menurutbatas toleransi yang diperbolehkan ;

Produsen benih atau penangkar benih adalah orang atau badan hukum yang bergerak di dalam bidang produksi benih untuk keperluan perdagangan dan penanaman ;

Pedagang benih adalah orangl/badan hukum yang berusaha di bidang perdagangan benih ;

Pendaftaran adalah pencatatan dalam daftar res-

mi

dari orang/badan hukum yang berusaha dalam bidang pemasaran benih ;

Produksi

benih

adalah semua kegiatan yang di-

mulai dari

sejak persiapan

lahan

penanaman' pemeliharaan, panen, pengolahan

benih

dan pe- kerjaan lain sebelum benih dipasarkan ;

Pengolahan benih adalah semua kegiatan terma- suk perontokan, pengeringan, pembersihan' pem- berian obat serta pengepakan benih dan pekerjaan lain sebelum benih diPasarkan ;

I

m. Pemasaran benih adalah pengangkutan, penyalur-

an

dan penjualan benih termasuk penyimpanan- nya baik di tempat pemasaran maupun wantu pe- nyaluran ;

n.

Pengadaan

benih

adalah

kegiatan untuk

men- dapatkan benih

yaitu

dengan memproduksi benih sendiri danr/atau mendatanlkan benih dari sumber

lain

untuk keperluan perdagangan dan penanam-

an;

o.

HPPB adalah Himpunan Penangkar/?rodusen dan Pedagang Benih yang merupakan wadah penang- kar/produsen dan pedagang benih yang bergerak dalam usaha perbenihan di Propinsi Daerah Ting- kat

I

Bali.

h.

J

k.

l.

2t

(5)

(1)

(2)

(1)

(2)

BAB U

PENGADAAN

DAI\ PENYALI]RAN Pasal

2

Pengadaan benih bermutu lebih diupayakan agar dapat

dilakukan di

Propinsi Daerah

Tingkat I

Bali yang dilaksanakan melalui kegiatan perba- nyakan /penan gkaran benih bersertifikat ataupun pelabelan.

Bilamana pengadaan di Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali belum mencukupi kebutuhan pasar, maka dapat dimungkinkan pengadaan benih bermutu dari

luar

Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali, sesuai

dengan ketentuan yang ada.

Pasal

3

Pengadaan

dan

penyaluran benih

bermutu

di-

lakukan oleh

anggota HPPB

baik dari

unsur

BUMN/D,

Koperasi maupun Swasta Nasional yang telah memenuhi syarat sesuai dengan ke- tentuan yang berlaku.

Dalam

hal

pengadaan benih bermutu

dari

luar Propinsi Daerah Tingkat I Bali, selambat-lambat- nya

7

(tujuh)

hari

setelah benih diterima, wajib dilaporkan kepada Kepala Dinas Pertanian Ta- naman Pangan Propinsi Daerah

Tingkat I

Bali

dan tembusan kepada Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih

VII

Wilayah Propinsi Bali

dan

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Daerah Tingkat

II

yang bersangkut- an.

Produsen

dan

pedagang

benih

diwajibkan me- nyelenggarakan administrasi perbenihan sesuai dengan

petunjuk dari

Kepala Dinas Pertanian

Tanaman

Pangan

Propinsi

Daerah

Tingkat I

Bali.

(3)

22

(6)

(1)

(2)

(3)

BAB Itr

PEMBINAAN

DAN PENGAWASAN

Pasal

4

Pembinaan teknis terhadap sumber-sumber pro- duksi benih, merupakan wewenang dan tanggung jawab dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan.

Pembinaan

dan

pengawasan

mutu benih

yang mencakup kegiatan sertifrkasi, pengujian benih pengawasan pemasaran merupakan wewenang dan tanggungjawab Balai Pengawasan dan Ser-

tifikasi

Benih

VII

Wilayah Propinsi Bali.

Penangkar/produsen benih

wajib

melaksanakan petunjuk teknis

dari

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan pembinaan

mutu

benih

dari

Balai

Pengawasan dan Sertifikasi Benih

VII

Wilayah Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali.

Pasal

5

Guna dapat tercapainya sebagaimana disebut pasal 4, agar dikoordinasikan dalam Forum Perbenihan Ting-

kat II

se-Bali dan

Tim

Pelaksana Teknis dan Peng- awasan Benih Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali.

Pasal

6

Hasil pembinaan di bidang pengadaan dan penyalur- an benih yang mencakup aspek teknis serta pelaksa- naan pembinaan dan pengawasan mutu benih di wi- layah Propinsi Daerah Tingkat I Bali agar dilaporkan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat

I

Bali.

BAB

TV

IIARGA

BENITI

Pasal

7

(1)

Tingkatharga benih sesuai dengan klasnya pada

tingkat

produsen, penyalur/pedagang dan petani konsumen

di

Propinsi Daerah Tingkat

I Bali

di-

(7)

(2)

(3)

tetapkan b dengan Keputusan Kepala Dinas Per- tanian Tanaman Pangan Propinsi Daerah Ting- kat

I

Bali atas dasar usulan dari HPPB Bali.

Tingkat harga benih dimaksud pasal 7 ayat (1), adalah benih yang berasal

dari

daerah dan

luar

daerah Bali.

Pengen dalian dan pengawasan tin gkat harga benih dimaksud pasal 7 ayat (1) dan (2), dilakukan oleh HPPB

Bali,

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Daerah

Tingkat I Bali

dan Kabupaten Daerah

Tingkat II

se-Bali, dibantu oleh Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Propinsi Bali.

BAB V

SANKSI

Pasal

8

Penangkar/produsen dan pedagang benih yang me- langgar ketentuan

ini

dikenakan peringatan tertulis oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Da-

erah Tingkat I Bali

atas pertimbangan

dari'Balai

Pengawasan dan Sertifrkasi Benih

VII

Wilayah Pro-

pinsi Bali atau

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Daerah Tingkat

II

se-Bali.

Pasal I

Bila peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pasal 8

tidak

diindahkan sampai dengan 3 (tiga)

kali

ber-

turut-turut,

maka yang bersangkutan dilarang untuk meneruskan kegiatan pengadaan dan penyaluran be- nih oleh instansi yang berwenang dan bilamana perlu dapat diproses sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

BAB \rI

KETENTUAN

PENUTUP DAT{

I,AIN.LAIN Pasal

10

24

Hal-hal yang belum

diatur

dalam Keputusan

ini

se-

(8)

panjang mengenai

petunjuk

pelaksanaannya akan

diatur

kemudian dengan Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali.

Pasal

11

Segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelengga-

raan

Pembinaan

dan

Pengawasan Pengadaan, Pe- nyaluran dan

laporkan oleh ngan Propinsi

nur Kepala Daerah Tingkat

I

Bali'

Pasal

12

(1)

Keputusan

ini mulai berlaku

pada tanggal di- tetapkan.

(2)

Dengan berlakunya Keputusan

ini,

maka Kepu-

tusan

Gubernur Kepala Daerah

Tingkat I

Bali

tanggal 16 Pebruari 1985 Nomor 26 Tahun 1985 tentang Ketentuan-ketentuan PengadaanlPenya-

luran

dan Harga Eceran Tertinggi Benih di Pro-

pinsi

Daerah

Tingkat I Bali,

dinyatakan tidak berlaku lagi.

Ditetapkan

di :

DenPasar'

Pada

tanggal :

20 Desember 1989.

GUBERNUR

KEPAI/.

DAERAH TINGKAT

I

BALI,

NIP.

:

L30 222 536.

ttd.

A

o K

(9)

Keputusan

ini

disampaikan kepada :

1. Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta.

2.

Menteri Pertanian RI di Jakarta.

3.

Menteri Perdagangan RI di Jakarta.

4.

Menteri Koperasi RI di Jakarta.

5.

Menteri Muda Pertanian RI di Jakarta.

6.

Sekretaris Badan Pengendali Bimas di Jakarta.

7.

Direktur Jendral Pertanian Tanaman Pangan di Jakarta.

8.

Direktur Bina Produksi Tanaman Pangan di Jakarta.

9.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan di Jakarta.

10. Direktur Bina Produksi

Hortikultura

di Jakarta.

11. Direktur Bina Program Tanaman Pangan di Jakarta.

12. Direktur Utama

PI.

Pertani di Jakarta.

13. Direktur Utama Perum Sang Hyang Sri di Jakarta.

14. Balai Karantina Pertanian di Surabaya.

15. Ketua DPRD Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali di Denpasar.

16. Muspida

fingkat I

Bali di Denpasar.

17. Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian Propinsi

Bali

di Denpasar.

18.

Staf

Lengkap Gubernur Kepala Daerah Tingkat

I Bali di

Den-

pasar.

19. Anggota Satuan Pembina Harian Bimas Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali di Denpasar.

20.

Bupati Kepala Daerah Tingkat

II

se-Bali.

21. Anggota Satuan Pelaksana Bimas Kabupaten Daerah Tingkat

II

se-Bali.

22.

Anggota,

Tim

Pelaksana

Teknis

dan Pengawasan Benih Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali di Denpasar.

23. Anggota Forum Perbenihan Tingkat

I

Bali di Denpasar.

Diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi Daerah Tingkat

I

Bali

Nomor :4 tanggal:

5Pebruari1990.

Seri:DNomori4,

Sekretaris Wilayah/Daerah, nd.

Drs.

SEMBAH

SUBHAKTI.

NIP.

010023939.

Referensi

Dokumen terkait

Usulan Pelepasan Jeruk varietas Lokal, Jeruk keprok Maga (Unggulan Sumatera Utara), Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura IV Provinsi Sumetera

UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Benih (BPSMB) terbentuk pada bulan Juni 2008 yang merupakan unit kerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi

Propinsi Daerah fingkat I Bali yang merupakan salah satu Daerah tujuan Wisata di Indonesia, telah dianugrahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan dalam

Menetapkan : KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I BALI TENTANG PEI"AKSANAAN PE- RATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TING- I(AT I BALI NOMOR 10 TAHUN 1983

dan b maka perlu ditetapkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I BaIi tentang Penetapan Uang Biaya Pemerintahan dari Penguasa Tunggal Kabupaten/Kotamadya

• Keputusan Menteri Pertanian No. 803 tahun 1997 mengenai sertifikasi dan pengawasan mutu benih bina. Di samping itu, Direktorat Jendral Tanaman Pangan telah pula

Nama Laboratorium : UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Alamat Jl.. Slamet Riyadi;

rakat Hukum Adat di Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat Umat Hindu secara turun iemurun