• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Isu perubahan iklim dan pemanasan global telah mendekonstruksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Isu perubahan iklim dan pemanasan global telah mendekonstruksi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Isu perubahan iklim dan pemanasan global telah mendekonstruksi paradigma pemikiran para pengambil kebijakan untuk mulai menyelaraskan pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Pembangunan yang sangat berorientasi pada pertumbuhan ekonomi melalui eksploitasi terhadap segala sumber daya hanya menghasilkan kerusakan lingkungan dan kekhawatiran mengenai kelangkaan ketersediaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang sehingga konsep pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan prinsip pemenuhan kebutuhan tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan harus menjadi prioritas (Brundtland, 1987: 37).

Pada tataran teoritis, keseimbangan antara kepentingan pembangunan dengan kelestarian lingkungan merupakan isu yang menarik untuk didiskusikan. Akan tetapi, implementasinya di ranah empiris harus berhadapan dengan dinamika yang begitu kompleks. Keengganan negara-negara maju dalam meratifikasi apa yang diamanahkan dalam “Protokol Kyoto” dapat menjadi contoh betapa rumitnya proses menciptakan keseimbangan dalam pembangunan. “Protokol Kyoto” telah mengamanahkan bahwasanya perubahan iklim merupakan tanggung jawab bersama yang dibedakan berdasarkan kontribusi emisi (Maryudi, 2012). Akan tetapi kesepakatan ini menciptakan konsekuensi yang cukup besar terutama bagi negara maju. Secara historis negara-negara tersebut berdasarkan data dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)

(2)

merupakan kontributor 40 persen dari total emisi dunia. Keengganan dari beberapa negara terutama Amerika Serikat untuk meratifikasi kesepakatan tersebut dikarenakan konsekuensi terhadap kestabilan ekonominya akibat pengurangan emisi. Hal yang serupa juga dialami oleh negara-negara sedang berkembang. Di satu sisi, negara berkembang harus meningkatkan perekonomiannya, namun banyak dari upaya peningkatan tersebut harus berhadapan dengan kepentingan menjaga kelestarian alamnya.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan luas hutan tropis terluas ketiga di dunia. Banyak pihak yang menyatakan bahwa hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia yang menjadi produsen kebutuhan oksigen dunia. Selain itu, hutan tropis Indonesia juga merupakan ekosistem yang kaya dengan berbagai keanekaragaman hayati dunia. Akan tetapi, fenomena deforestasi seperti pembakaran hutan, penebangan hutan dengan laju yang sangat cepat telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara berkembang yang menjadi penyumbang emisi karbon terbesar ketiga di dunia (Howden, 2007).

Masripatin (2007) mengemukakan bahwa data deforestasi hutan berdasarkan World Resource Institute pada tahun 2000 yang dikutip dalam Stern Report menyumbang sekitar 18 persen terhadap emisi gas rumah kaca (Green House Gases/GHGs) global sebesar 42 Gton CO2 per tahun. Dari jumlah 18 persen kontribusi emisi tersebut, 75 persen diantaranya disebabkan oleh deforestasi yang terjadi di negara berkembang. Deforestasi tersebut merupakan 17 persen terhadap total emisi GHGs global (Intergovernmental Panel on Climate Change, 2007).

(3)

Hal ini semakin diperkuat dengan laporan mengenai kontribusi emisi Indonesia yang dipublikasikan oleh PEACE pada bulan Maret 2007 yang menyatakan bahwa 85 persen emisi karbon di Indonesia diakibatkan oleh aktifitas pembukaan hutan (deforestation). Kondisi ini semakin dilegitimasi dengan berbagai laporan yang disampaikan dalam rilis Forest Watch Indonesia (2009) mengenai laju deforestasi di Indonesia saat ini mencapai 2 juta hektar pertahun (World Bank, 2000), 2 juta hektar pertahun (Forest Watch Indonesia/Global Forest Watch, 2001), dan 1,2 juta hektar per tahun (Kementerian Kehutanan, 2009). Bahkan, jika menilik data State of the World’s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 mencapai 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia.

Fenomena deforestasi yang terjadi di Indonesia banyak disebabkan oleh kepentingan ekonomi. FWI (2009) dalam situsnya menjelaskan bahwa berkembangnya industri perkayuan, pemberian ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam maupun hutan tanaman, ijin pemanfaatan kayu, alih fungsi lahan hutan untuk kawasan untuk perkebunan dan pertambangan, serta maraknya pembalakan liar (illegal logging) merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tutupan hutan yang tersisa di Indonesia.

Forest Watch Indonesia (2011) dalam laporannya mengemukakan bahwa selama periode 2000-2009, pulau Kalimantan merupakan wilayah dengan jumlah

(4)

deforestasi tertinggi di Indonesia. Luas tutupan hutan di Kalimantan mengalami deforestasi sebesar 5.505.863,93 ha dari 32.856.107,16 ha pada tahun 2000 menjadi 27.350.243,23 ha pada tahun 2009 sedangkan provinsi yang mengalami deforestasi terbesar adalah Provinsi Kalimantan Tengah dengan angka deforestasi yang mencapai 2 juta ha.

Faktor utama penyebab fenomena deforestasi ini adalah alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit. Seperti yang dijelaskan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Save Our Borneo pada Juni 2008 bahwa sekitar 80 persen kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar.

Secara ekonomi perkebunan kelapa sawit memberikan banyak keuntungan terutama bagi perekonomian daerah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data statistik mengenai Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Provinsi Kalimantan Tengah 2008-2012 di mana pada tahun 2012 struktur ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah didominasi oleh sektor pertanian (27 persen). Sub sektor perkebunan berkontribusi sebesar 44,16 persen pada pembentukan Nilai Tambah Bruto pada sektor pertanian dan 12,36 persen terhadap PDRB Provinsi Kalimantan Tengah dan perkebunan kelapa sawit merupakan komoditas utama di sektor tersebut. Kondisi ini tentunya membuat komoditas kelapa sawit menjadi komoditas unggulan perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah.

Meskipun demikian, jika ditinjau dari aspek lingkungan, ekspansi perkebunan kelapa sawit juga memiliki eksternalitas negatif yang seringkali tidak

(5)

diperhatikan oleh pengambil kebijakan. Dewasa ini, nilai hutan masih ditinjau oleh banyak pihak dari perspektif berdasarkan nilai kayu dan hasil hutan lainnya. Tentunya nilainya tidak sebanding dengan kentungan ekonomi dari perkebunan kelapa sawit. Akan tetapi, hutan juga memiliki manfaat ekologis, sosial dan budaya yang seringkali tidak diperhitungkan keberadaannya namun memiliki kontribusi besar terhadap keseimbangan kehidupan manusia. Sebagai habitat hidup berbagai flora dan fauna, berkurangnya luasan hutan akan berakibat pada hilangnya keanekaragaman hayati yang hidup di ekosistem tersebut. Beberapa satwa liar dan langka khas Indonesia akan terancam kepunahan. Deforestasi dan perubahan fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit akan memicu kerentanan kondisi alam seperti menurunnya kualitas lahan disertai erosi yang bisa menyebabkan berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Kerakusan akan unsur hara, air dan penggunaan zat kimia untuk merangsang pertumbuhan tanaman dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah, kekeringan lahan dan pencemaran lingkungan di kawasan sekitar perkebunan kelapa sawit.

Deforestasi hutan akibat dari pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit juga bisa mengganggu stabilitas sosial dan budaya di masyarakat lokal. Pertama, ekspansi tersebut melahirkan banyak konflik antara masyarakat setempat dengan pihak perusahaan. Permasalahan seperti sengketa lahan dan kesenjangan dalam akses sumberdaya ekonomi antara masyarakat asli dengan pendatang, perusahaan besar dan pihak terkait lainnya berpotensi menjadi sumber konflik sosial.

Kedua, ada banyak kearifan dan kebudayaan lokal yang sangat berkaitan erat dengan keberadaan hutan. Jika hutan tidak dipertahankan keberadaannya,

(6)

maka kearifan dan kebudayaan lokal yang ada terancam kelestarian serta keberlanjutannya.

Oleh karena itu, valuasi ekonomi terhadap nilai hutan sangat perlu dilakukan terutama terhadap manfaat ekologis, sosial dan budaya yang selama ini sering tidak menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan. Valuasi ekonomi terhadap nilai hutan dalam penelitian ini akan memberikan informasi mengenai nilai ekonomi dari keberadaan hutan dan kandungan di dalamnya baik manfaat hutan secara langsung maupun tidak langsung. Nilai ekonomi hutan tersebut akan dibandingkan dengan nilai ekonomi yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit sehingga dapat diketahui seberapa besar kerugian secara ekonomi dari konversi hutan menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit. Informasi ini diharapkan akan menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan untuk menentukan langkah-langkah strategis dalam agenda pembangunan.

1.2 Pertanyaan Penelitian

Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut.

1. Berapa nilai ekonomi total dari hutan di wilayah penelitian berdasarkan metoda pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

2. Berapa nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit yang berasal dari perubahan kawasan hutan di wilayah penelitian berdasarkan metoda pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

(7)

3. Berapa perbandingan nilai ekonomi hutan dengan nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah penelitian berdasarkan metoda pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui jumlah total nilai ekonomi hutan di wilayah penelitian berdasarkan metode pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

2. Mengetahui nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah penelitian berdasarkan metode pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

3. Menganalisis berapa perbandingan nilai ekonomi hutan dengan nilai ekonomi kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah penelitian berdasarkan metode pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

1.3.2 Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini dapat digunakan oleh berbagai pihak yaitu. 1. Bagi mahasiswa/peneliti

Hasil penelitian yang ada agar menjadi referensi untuk mengawal, menilai dan mengkritisi kebijakan pembangunan yang diselenggarakan Pemerintah Nasional maupun Pemerintah Daerah. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menggugah para intelektual muda lainnya untuk melakukan penelitian-penelitian lanjutan pada area topik yang sama dengan tesis ini.

(8)

2. Bagi pemerintah

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran serta penilaian secara objektif dan independen berdasarkan kajian ilmiah dan akademis mengenai dampak perubahan guna lahan dari hutan menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah penelitian. Hasil penelitian akan menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Daerah wilayah penelitian maupun Pemerintah Daerah lainnya dalam mengambil kebijakan. Dengan demikian proses pengambilan kebijakan Pemerintah Daerah bisa lebih baik dan lebih memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama pembangunan dapat tercapai dan berkelanjutan.

3. Bagi masyarakat umum

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pendidikan bagi masyarakat umum. Dengan penelitian ini masyarakat di wilayah penelitian dapat mengetahui bahwa sebenarnya seperti apa kebijakan pembangunan daerah yang diterapkan oleh Pemerintah terutama mengenai kesesuaian kebijakan dengan harapan dan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini juga akan membuka pemikiran masyarakat untuk lebih kritis dalam mengawal amanah yang mereka berikan kepada Pemerintah Daerah dalam menjalankan pembangunan.

1.4 Keaslian Penelitian

Pada dasarnya, penelitian mengenai valuasi nilai ekonomi sudah cukup banyak dilakukan di Indonesia maupun di luar negeri. Penelitian tersebut dilakukan dengan objek serta metoda yang sangat bervariasi sedangkan penelitian yang khusus mengenai valuasi ekonomi hutan di Kabupaten Kapuas belum pernah

(9)

dilakukan. Berikut ini beberapa penelitian yang pernah dilakukan dan memiliki keterkaitan dengan valuasi ekonomi dari manfaat sumber daya hutan ataupun nilai dari jasa lingkungan yang disediakan oleh suatu ekosistem alam.

(10)

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu Peneliti Objek Penelitian Variabel Metoda Penelitian Hasil Penelitian Chopra (1993) Nilai ekonomi hutan dari produksi non kayu Hutan Tropical Deciduous di India. Nilai ekonomi dari kayu bakar, pakan ternak, produksi hutan, konservasi tanah, daur ulang nutrisi, rekreasi dan wisata. Produktivitas, pendekatan teknologi alternatif, biaya oportunitas, eksperimen data, secondary data. Nilai total ekonomi dari produksi non kayu hutan Tropical Deciduous di India sebesar US$4034 per hektar (minimum) atau US$6662 per hektar. Wibowo, Suryadiputra dan Herry (2000) Nilai ekonomi pemanfaatan lahan gambut Blok Perian Kalimantan Timur. Manfaat dari lahan gambut. - Nilai hasil pemanfaatan lahan gambut oleh penduduk tujuh desa di sekitar wilayah tersebut mencapai Rp.8.669.885. 457 (delapan milyar enam ratus enam puluh sembilan juta delapan ratus delapan puluh lima ribu empat ratus lima puluh tujuh rupiah) per tahun. Greenomics Indonesia (2003) Valuasi ekonomi hutan rawa gambut Nilai ekonomi kawasan Sebangau sebagai hutan - Nilai ekonomi kawasan Sebangau secara

(11)

Sebangau Kalimantan Tengah. rawa gambut dibandingkan dengan nilai ekonomi kawasan Sebangau sebagai kawasan hutan produksi. ekologis lebih tinggi yaitu sekitar 1,6 kali lipat dari nilai penerimaan potensial kayu tersebut. Nurfatriani (2006) Konsep nilai ekonomi total dan metoda penilaian sumberdaya hutan . Teknik penilaian sumberdaya hutan. Desk study dan studi literatur. Rangkuman berbagai teknik penilaian sumberdaya hutan. Nurfatriani dan Handoyo (2007) Nilai ekonomi manfaat hidrologis hutan di DAS Brantas Hulu untuk pemanfaatan non komersial. Manfaat hidrologis hutan lindung. Pemanfaatan air untuk industri dan sumber pembangkit tenaga listrik. Air baku untuk PDAM. Pemanfaatan air untuk pertanian. Berdasarkan harga pasar. Nilai ekonomi dari manfaat air non komersial WTP atas manfaat air pertanian sebesar Rp20,8 juta/petani/tah un sebesar Rp5,9 trilyun/tahun. Nilai ekonomi dari manfaat air rumah tangga dengan WTP sebesar Rp641.783/or ang/tahun sebesar Rp14,4 milyar/tahun. Krantzberg dan de Boer (2008) Nilai jasa ekologis dari The Laurentian Great Lakes Nilai ekonomi dari penangkapan ikan komersial, budidaya

Studi literatur. Nilai ekonomi

dari jasa

ekologis dari The

(12)

Basin Kanada. perairan, transportasi, olahraga memancing, rekreasi, pantai, lahan basah dan keanekaragaman hayati. Great Lakes Basin dan uraian mengenai jenis ancaman yang berpotensi terganggunya ekosistem tersebut dan kerugian yang bisa ditimbulkan. Alves et. al.

(2009) Nilai ekonomi yang hilang dari erosi di kawasan pesisir Portugal Tengah. Nilai ekonomi dari lahan garapan, padang rumput, keheterogenan kawasan agrikultur, hutan, belukar, ruang terbuka, lahan basah pesisir, perairan darat. Benefit Transfer. Nilai total ekonomi dari jasa lingkungan di zona Portugal Tengah adalah sebesar €193 juta per tahun. Nilai ekonomi yang hilang akibat dari erosi di zona Portugal Tengah diperkirakan sebesar €30 juta pada tahun 2028 dan €45 juta pada tahun 2058. Rochmayanto , Darusman dan Rusolono (2010) Perubahan kandungan karbon dan nilai ekonominya pada konversi hutan rawa gambut menjadi hutan tanaman Kandungan karbon . Biaya oportunitas dan biaya transaksi. Konversi pada hutan rawa gambut bekas tebangan dan sekunder menyebabkan penurunan kandungan karbon vegetasi masing-masing

(13)

industri pulp di Pelalawan Riau. sebesar 103.53 ton/ha/tahun dan 61.02 ton/ha/tahun. Konversi pada hutan gambut terdegradasi menyebabkan terjadinya peningkatan kandungan karbon vegetasi sebesar 22.47 ton/ha/tahun. Nilai ekonomi HTI pulp diperoleh sebesar Rp15.561 772.30 per hektar. Nilai ekonomi karbon vegetasi berbeda untuk setiap kondisi hutan alam. Souza dan Ramos (2010) Nilai ekologis dan ekonomi dari mangrove di area wetlands Muara Potengi Brazil. Kandungan posfor, nitrogen dan logam berat. Nilai ekonomi potensi wisata dan pendapatan dari budidaya perairan (aquaculture). Ancillary Spatial Data dan Contingent Valuation. Nilai jasa ekologis setiap tahunnya sebesar US$15.000/ha dan nilai ekonomi pertahun dari pendapatan budidaya perairan sebesar US$12.500/ha.

Barbier et. al. (2011) Nilai jasa lingkungan dari ekosistem Jasa lingkungan dari rawa, hutan bakau, terumbu karang (dekat

(14)

muara dan pesisir. pantai), padang lamun, pasir pantai, bukit pasir. Alam (2012) Valuasi tangible benefits dari "homestead agroforestry" di Bangladesh. Nilai ekonomi manfaat langsung dari "homestead agroforestry" (buah-buahan, kayu, kayu bakar, bambu). Berdasarkan harga pasar. Nilai ekonomi dari tangible benefits sebesar US$535,2 /ha (dengan family labor cost) dan US$674,9 (tanpa family labor cost). Sumber : Olah data peneliti 2013

Dari berbagai penelitian yang pernah dilakukan ada beberapa persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai metoda pendekatan harga pasar. Namun ada beberapa perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitiam sebelumnya antara lain.

1. Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih adalah desa Mantangai Hilir Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan pada 10 November 2012 - 17 November 2012.

2. Variabel.

Adapun variabel yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai penyusun nilai ekonomi dari hutan adalah produksi komoditas (timber), lapangan kerja, keanekaragaman hayati dan budaya lokal.

3. Metoda penelitian.

Adapun metoda valuasi yang digunakan adalah pendekatan harga pasar, benefit transfer dan contingent valuation.

(15)

1.5 Sistematika Penulisan

Penulisan laporan penelitian ini dibagi menjadi empat bab dengan sistematika penulisan yang diawali dengan Bab I yang berisi pengantar meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian dan sistematika penulisan. Bab II merupakan tinjauan pustaka dan alat analisis penelitian. Bab III adalah analisis data dan pembahasan dan Bab IV merupakan kesimpulan dan saran.

Gambar

Tabel 1.1  Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Cangkang kelapa sawit sebagai salah satu limbah padat dari industri. pengolahan kelapa sawit merupakan

Kasepuhan Ciptagelar merupakan suatu daerah masyarakat adat yang mempunyai wilayah yang luas terletak di dalam dan sekitar kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Halimun

Dan penelitian ini sebagai langkah awal dalam menentukan sebuah metode baru dalam memonitoring hutan di Indonesia, baik yang terkait kawasan hutan dalam sebuah wilayah

Apakah terdapat perbedaan jumlah spesies dan kelimpahan serangga polinator pada kebun mentimun di sekitar perkebunan kelapa sawit di desa Pulau Gambar dusun X

Melalui proteksionisme memberlakukan bea masuk anti dumping terhadap produk biodiesel sawit Indonesia karena harga jual produk dianggap lebih rendah dari harga normal

Dengan diberlakukannya kebijakan RED II yang mempersulit masuknya minyak kelapa sawit Indonesia ke pasar Uni Eropa, maka dari kebijakan tersebut penulis menemukan sebuah

Dalam kaitannya dengan pelestarian hutan dan atau kawasan hijau di wilayah perkotaan, yang dinilai mampu sebagai pengendali dan pencegah terhadap pemanasan global,

Limbah padat terdiri dari tandan kosong kelapa sawit, cangkang kelapa sawit, dan juga pelepah kelapa sawit. Sedangkan limbah gas adalah limbah udara yang berasal