• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensisJacq.) merupakan salah satu komoditas utama perkebunan indonesia, dimana tanaman kelapa sawit telah memberikan peran penting pada perekonomian pada pembangunan Nasional. Perkebunan kelapa sawit juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga menambah kesejahteraan masyarakat. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (20150\-2017) sampai saat ini andalan pendapataan devisa Negara yang paling besar masih terpusat pada sektor perkebunan. Pada tahun 2015-2017 total ekspor dari bidang perkebunan mencapai US$ 23,933 Milyard atau setara dengan Rp. 311, 138 Triliun.

Kunci keberhasilan di sektor perkebunan kelapa sawit pada umumnya ditentukan dari faktor produksi, faktor genetik, lingkungan dan teknik budidaya biasanya yang mempengaruhi tinggi rendahnya produksi kelapa sawit. Faktor genetik sangat dipengaruhi oleh kwalitas bibit, oleh sebab itu sangat dianjurkan menggunakan bibit yang berkwalitas baik yang diketahui asal bibitnya dari mana seperti bibit dari PPKS, SOCFINDO dll. Selain dari faktor bibit, faktor dari tanah dan iklim juga mempengaruhi, kemudian pada proses pemeliharaan tanaman sampai panen juga merupakan keberhasilan budidaya tanaman (Tantra dan Sentosa,2016).

Dalam usaha budidaya tanaman kelapa sawit, ada beberapa kendala yang selalu dihadapi diantaranya adalah gulma. Apalagi di Indonesia yang tergolong ke dalam kawasan tropis dengan iklim yang sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman maupun gulma. Pengelolaan perkebunan merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan jumlah tenaga kerja yang besar. Untuk memperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang baik diperlukan usaha pemeliharaan tanaman secara intensif, antara lain

(2)

2

pemupukan secara tepat dosis maupun waktu, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman maupun gulma (Muklasin dan Syahnen, 2013).

Keberhasilan budidaya kelapa sawit selain dipengaruhi faktor tanaman dan lingkungan juga tidak terlepas dari faktor pemeliharaan. Untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi diperlukan pemeliharaan yang baik ketika tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun setelah menghasilkan (TM) meliputi pengendalian gulma, penunasan pelepah, pengendalian hama dan penyakit, pengawetan tanah dan air, pemupukan, serta pemeliharaan jalan (Hartanto,2011).

Secara umum kerugian yang ditimbulkan oleh gulma yaitu terjadinya persaingan dan kompetisi antara gulma dengan tanaman utama dalam memperebutkan sepertihara, air, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Selain persaingan kerugian tanaman akibat senyawa kimia (alelokimia) yang dikeluarkan oleh gulma, oleh sebab itu gulma sangat tidak diinginkan kehidupannya di dunia perkebunan (Sembodo, 2010).

1.2 Urgensi Penelitian

Dari latar belakang diatas, penulis ingin melakukan penelitian tentang analisa vegetasi gulma pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) pada perkebunan kelapa sawit, sebab sebelum dilakukan pengendalian terhadap gulma perlu mengetahui jenis-jenis gulma apa saja yang dominan pada suatu lingkungan lahan kelapa sawit agar dapat di lakukan pengendalian yang efektif dan efesien.

1.3 Tujuan Khusus

Adapun penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi jenis vegetasi gulma dari yang paling dominan hingga tidak dominan serta mengetahui karakteristik gulma di Afd III Kebun Rambutan PT. Perkebunan Nusantara II

(3)

3 1.4 Target Temuan

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis gulma yang dominan, kerapatan gulma dan indeks nilai penting (INP) yang tumbuh di Kebun kelapa Kebun Rambutan PT. Perkebunan Nusantara III.

1.5 Kontribusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagiperkebunan, petani, dan pelaku usaha perkebunan lainnya agar mengetahui jenis gulma yang tumbuh di areal kelapa sawit serta vegetasi gulma sehinga dapat mengendalikannya dengan efektif dan efisien.

(4)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gulma

Gulma merupakan tanaman yang tumbuh dengan sendirinya dikarenakan gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Sehingga para petani dan juga perusahaan dibidang pertanian dan perkebunan berusaha untuk mengendalikan pertumbuhan gulma (Sembodo, 2010).

Akibat perebutan unsur hara, cahaya matahari dan udara yang dilakukan gulma dengan tanaman utama sehingga menyebabkan menurunnya hasil produktifitas tanaman utama dan proses pertumbuhan tanaman utama menjadi terganggu akibat kehadiran gulma tersebut (Solahudin, dkk, 2010).

Dalam perebutan unsur hara , air, sinar matahari, udara, dan ruang tumbuh gulma dapat berkompetisi kuat dengan tanaman utama. Gulma berbeda dengan hama penyakit tanaman, secara umum dampak kerugian yang disebabkan gulma tidak terlihat langsung dan berjalan dengan lambat. Namun secara akumulatif kerugian yang ditimbulkan sangat besar karena berpengaruh dengan jumlah produksi yang akan di hasilkan akan menurun secara bertahap (Barus, 2003).

Gulma dianggap mengganggu karena adanya kompetisi antara tanaman produksi dan gulma dalam mendapatkan nutrisi yang ada di dalam tanah. Kehadiran gulma dalam perkebunan kelapa sawit tidak dikehendaki karena dapat mengakibatkan hal sebagai berikut, yaitu menurunkan produksi akibat bersaing dalam persaingan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang hidup, meurunkan mutu produksi akibat terkontaminasi oleh bagian-bagian gulma, mengeluarkan senyawa alelopati yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, menjadi inang bagi hama, di samping bersifat hotogen yang menyerang tanaman, mengganggu tata guna air, secara umum gangguan yang

(5)

5

disebabkan oleh gulma tersebut tidak kasat mata dan berlangsung perlahan, disamping itu kehadiran gulma akan meningkatkan biaya usaha tani karena adanya penambahan kegiatan di pertanaman (Sembodo, 2010).

2.2 Klasifikasi Gulma

Klasifikasi gulma diperlukan untuk mempelajari karakteristik dan ciri-ciri gulma, dengan tujuan untuk mempelajari manfaat dan pengendaliannya. Terdapat berbagai sistem klasifikasi gulma yang menggambarkan karakteristik, seperti berdasarkan karakteristik reproduksi, bentuk kehidupan botani dan sebagainya. Menurut klasifikasi ini gulma dibedakan menjadi: rerumputan, teki, paku-pakuan dan berdaun lebar dan juga berdasarkan ruang lingkupnya gulma tediri atas: gulma berkayu, gulma air, gulma perambat (Sukman dan Yakup, 2002).

Guna menentukan pilihan cara pengendalian gulma yang tepat maka sangat diperlukan cara-cara menganalisis vegetasi gulma terlebih dahulu. Analisis vegetasi gulma beserta identifikasi spesies gulma dilakukan sebelum tindakan pengendalian dipilih dan diterapkan. Ketidak tepatan dalam analisis bisa menyebabkan pengendalian gulma menjadi tidak efektif dan efisien, karena memboroskan biaya, waktu dan tenaga. Kerusakan yang ditimbulkan dari penggunaan herbisida pada lingkungan dan kontaminasinya pada air telah mendorong para peneliti untuk menemukan solusi untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Apabila kerapatan serangan gulma dan jenis gulma dapat diketahui dengan pasti, maka aplikasi pengendalian gulma yang efektif dan efisien dapat dilakukan dengan baik (Solahudin dkk, 2010 ).

2.2.1 Gulma Rumputan ( Grass)

Gulma rumputan berupa tumbuhan tidak berkayu atau herba. Batang tidak bercabang, dapat membentuk tunas pada buku. Bentuk batang seperti silinder, agak pipih atau persegi, kosong atau berisi, kecuali buku – bukunya berisi jaringan padat. Jenis-jenis gulma rumputan yang tumbuh di darat,

(6)

6

antara lain Imperata cylindrica, Ischaemum timoranse, Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, Sassiolepis indica, dan Cenodon dactylon, sedangkan yang tumbuh di perairan ialah Enchinochloa crus-galli, Leptochloa chinensis, dan Sacciolepis interrupta (Sukman dan Yakup, 2002). Dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 I.cylindrica(Sumber: id. Wikipedia.com) 2.2.2 Gulma Daun Lebar (Broad-leaved Weeds)

Gulma berdaun lebar merupakan golongan gulma yang mempunyai ciri-ciri umum yaitu batang tumbuh tegak dengan percabangannya, ada pula yang tumbuh merambat, daun tunggal maupun majemuk, helaian daun bulat atau bulat telur dan tepi daun rata, bergerigi dan bergelombang. Jenis – jenis gulma berdaun lebar antara lain: Ageratumconyzoides, Amaranthus spinosus, Borreria laevicaulis, Lantana cemara, Clidemia hirta, Centella asiatica, Colocasiaesculenta, Cordia curassavica, Urenaa lobota, Typha angustiolia, Mikania micrantha, Phyllanthus amarus (Barus, 2003). Dapat dilihat pada Gambar 2.2.

(7)

7

Gambar 2.2.C.esculenta (Sumber: Gea, 2019)

2.2.3 Gulma Tekian (Sedges)

Kelompok gulma tekian ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap mekanik karena mampu dengan cepat membentuk umbi baru yang bersifat dorman pada lingkungan tertentu serta umbi batang yang ada di dalam tanah mampu bertahan hidup berbulan-bulan. Ciri-ciri batang berbentuk membulat dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi (Sembodo, 2010). Jenis-jenis gulma tekian yang idup didarat (tanah lembab) antara lain, Cyperus rotondus, C. breviolius, C. iria, C. mricatus,C. kyllingia, Eleocharis acicularis, E. dultis, Scoenoplectus uncronatus (Barus, 2003). Dapat dilihat pada Gambar 2.3.

(8)

8 2.2.4 Gulma Pakis-pakisan ( Fern)

Gulma ini pada umumnya berkembang biak dengan spora dan berbatang tegak atau menjalar, memiliki pertumbuhan yang tidak terlalu cepat, tumbuh berupa perdu, dan keberadaannya tidak banyak menimbulkan kerugian atau gangguan, sehingga tumbuhan ini cenderung berada kebun kelapa sawit. Beberapa jenis gulma pakuan yang umum di perkebunan kelapa sawit antara lain Salvinia natans (paku rakit) dan Marsilea crenata (Semanggi, JW.) Lycopodiophyta, Lygodium flexuosum, Equisetum debile, Pteridium aquilinum (Barus, 2003). Dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4.P. aquilinum(Sumber: Gea, 2019)

2.2.5. Gulma Berkayu (Woody weed)

Gulma yang memiliki bentuk cabang-cabang sekunder menjadi masalah penting pada sektor perkebunan, kehutanan dan seluruh perairan dikarenakan sistem perkembangan gulma ini melalui produksi biji yang dapat tersebar secara efisien di dalam tanah (Sembodo, 2010).

Beberapa contoh adalah Melastoma spp, lantana spp, Cromolaena odorata dan Clidemia hirta (SukmandanYakup, 2002). Dapat dilihat pada gambar 2.5.

(9)

9

Gambar 2.5.C.hirta(Sumber: Gea, 2019)

2.2.6. Gulma Perambat

Tumbuhan merambat ini dikatakan menjadi gulma jika pertumbuhannya tidak dikontrol dengan baik, karakter yang melilit dan menyebabkan penutupan areal yang sangat cepat sehingga dapat mengganggu tanaman utama. Contoh gulma perambat: Mikania mikrantha, Coscuta campestris, Cassytha filiformis, Mucunabracteata (Sukman dan Yakup,2002). Dapat dilihat pada Gambar 2.6.

(10)

10 2.3. Siklus Hidup Gulma

Siklus hidup gulma berawal dari biji gulma berkecambah, tumbuh dewasa, menghasilkan biji, dan kemudian mati. Berdasarkan pengertian tesebut maka gulma dapat digolongkan menjadi gulma semusim (Annual Weeds) gulma dwimusim (Biannual Weeds) dan gulma tahunan (Perennial weeds) (Sembodo, 2010).

2.3.1 Gulma Semusim (Annual Weeds)

Gulma semusim menghabiskan satu siklus hidupnya dalam satu musim. Artinya gulma ini kemudian akan mati jika telah habis masa satu siklus hidupnya. Pada umumnnya perkembangan gulma semusim ini melalu biji, walaupun sebenarnya mudah dikendalikan tetapi kenyaataannya pada pengendaliannya sering mengalami kesulitan dikarenakan gulma tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya yang pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya (Barus, 2003). Beberapa contoh gulma semusim: Amaranthus spinosus, Ageratum conyzoides, Echinochloa colonum, Eragrotis amabilis, Euphorbia hirtai, Spigelia anthelmia, Borreria alata, Digitaria adscendens (Sembodo, 2010). Dapat dilihat pada Gambar 2.7.

(11)

11

2.3.2 Gulma Dua Musim (Biannual Weeds)

Gulma dwi musim adalah semua jenis gulma yang berumur antara satu sampai dua tahun. Pada tahun pertama umumnya membentuk organ perbanyakan vegetatif berupa umbi batang atau anakan, sedangkan pada tahun kedua membentuk organ perbanyakan generatif berupa biji. (Mangoensoekarjo dan Soejono, 2015). Contoh gulma dua musim: Imperata cylindrica, Circium vulgare, Verbascum thapsus, Cyperus difformis (Barus, 2003). Dapat dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8 I. cylindrica(Sumber: id. Wikipedia.com) 2.3.3 Gulma Tahunan (Perennial weeds)

Gulma tahunan (perennial weeds) tumbuhan yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau berkelanjutan bila kondisi memungkinkan. Proses perkembang biakan dengan potong batang, umbi, rhizoma, stolon, dan daun membuat gulma tahunan ini menjadi sangat reproduktif (Sukman danYakup, 2002). Contoh gulma tahunan: Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Leersia hexandra, Cyperus rotundus Chromolaena (Sembodo, 2010). Dapat dilihat pada Gambar 2.9.

(12)

12

Gambar 2.9 A. compressus(Sumber : Gea, 2019) 2.4 Habitat Tumbuh Gulma

Jenis gulma ditentukan oleh kondisi dimana tempat gulma tersebut tumbuh. Tempat gulma tersebut tumbuh disebut habitat gulma.

2.4.1 Gulma Air (Aquatic Weeds)

Gulma air yaitu semua tumbuhan yang hidup, tumbuh dan berkembangnya terjadi di dalam air, di daerah perairan atau tempat yang basah dan tergenang. Contoh gulma air Eichhorniacrassipes, Typha angustifolia, Hydrilla verticillata, Salvinia molesta, Azolla pinnata, Limnocharis flava (Sukman danYakup, 2002). Dapat dilihat pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10 E. crassipes(Eceng gondok) (Sumber: Id.wikipedia.org)

(13)

13 2.4.2 Gulma Darat (Terrestis Weeds)

Gulma yang seluruh siklus hidupnya berlangsung di daratan dan juga gulma daratan yang tumbuh di perkebunan tergantung pada jenis tanaman utama, tanah, iklim serta cuaca. Contoh gulma daratan adalah Melastoma malabatrichum, Mikania micrantha, Panicum repens, Stachytarpheta indica, Mimosa pudica, Chromolaena odorata, Euphorbia sp dan lain sebagainya (Barus, 2003). Dapat dilihat pada Gambar 2.11.

Gambar 2.11.M. pudica. (Sumber: Gea, 2019) 2.5. Manfaat Gulma

Meskipun gulma secara umum merugikan, namun gulma yang tumbuh di tempat tumbuhnya, apabila belum mencapai tingkatan kerapatan, penutupan dan tinggi yang telah dianggap mulai merugikan, adakalanya memberikan manfaat pada tempat tumbuhnya dan kelestarian lingkungan. Gulma juga dapat bermanfaat dalam situasi tertentu, misalnya apabila tumbuh pada tanah yang curam, sehingga mencegah erosi (Nasution, 1986).

Beberapa manfaat yang mungkin dihasilkan oleh gulma pada tempat tumbuhnya antara lain adalah:

a. Melindungi permukaan tanah dari terik matahari. b. Mengurangi bahaya erosi.

(14)

14

c. Menambah bahan organik ke dalam tanah sehingga dapat memperbaiki struktur dan status hara tanah.

d. Memperbaiki infiltrasi air sehingga menambah retensi air dalam tanah. e. Memperbaiki sifat biologi tanah.

2.6 Kerugian yang Ditimbulkan Gulma

Kerugian yang diakibatkan oleh gulma tidak terlihat secara langsung, beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kerugian akibat persaingan antara tanaman perkebunan dan gulma antara lain pertumbuhan tanaman terhambat sehingga waktu mulai berproduksi lebih lama, penurunan kuantitas dan kualitas hasil produksi tanaman, produktivitas kerja terganggu, gulma dapat menjadi sarang hama dan penyakit, serta biaya pengendalian gulma yang sangat mahal (Barus, 2003).

2.6.1 Menimbulkan Senyawa Kimiai (Allelopathy)

Allelopaty yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya. Senyawa alelokimia dilepas dari jaringan tumbuhan melalui berbagai cara termasuk melalui penguapan, pencucian dan pembusukan sebagai organ yang mati. Senyawa alelokimia yang dikeluarkan oleh gulma dapat menghambat pertumbuhan tanaman budidaya dan menyebabkan penurunan hasil panen (Sukman dan Yakup, 2002).

2.6.2 Persaingan Memperebutkan Hara

Seperti cahaya matahari, CO2, air, dan hara berada dalam keadaan terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan bersama, maka terjadi persaingan atau kompetisi, akibat kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu) hasil panen menurun. Penurunan hasil panen tergantung pada jenis tanaman, jenis gulma, dan factor-factor lingkungan yang mengaruhi pertumbuhan tanaman (Mangoensoekarjo dan Soejono, 2015).

(15)

15

Unsur hara yang paling banyak diperebutkan antara tanaman utama dengan gulma yaitu nitrogen, sehingga unsur hara nitrogen lebih cepat habis terpakai dikarenakan adanya daya saing yang tinggi antara tanaman utama dengan gulma (Sukman dan Yakup, 2002).

2.6.3 Gulma Sebagai Parasit

Gulma adalah tumbuhan yang hidup menumpang, melekat atau tinggal bersama organisme hidup lain termasuk tanaman budidaya untuk mendapatkan makanan, perlindungan, dan bantuan dari inangnya. Gulma parasit dapat merusak atau menghambat pertumbuhan tanaman sehingga menyebabkan kuantitas maupun kualitas hasil panen rendah (Mangoensoekarjo dan Soejono, 2015).

2.6.4 Persaingan Memperebut Cahaya

Apabila ketersediaan hara telah cukup dan berbagai pertumbuhan subur maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Berbagai tanaman berebut untuk mendapatkan cahaya matahari. Tumbuhan yang berhasil mendapatkan cahaya matahari adalah yang tumbuh lebih dahulu, oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan kurang tajukya, dinaungi oleh tumbuhan yang lebih terdahulu serta pertumbuhannya akan terhambat (Sukman dan Yakup, 2002).

(16)

16

BAB 3

METEDOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakanpadabulanMaret-April2019 diAfdIIIKebunRambutan PTPN III Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatra Utara.

3.2. Desain/Rancangan penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel (purposive sampling), dilaksanakan pada dua tanaman menghasilkan yaitu TM 15 dan 5 kemudian satu tahun tanaman belum menghasilkan (TBM) 1 dengan metode observasi langsung. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan metode analisis vegetasi gulma.

3.3. Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah gulma yang ada di perkebunan kelapa sawit pada tanaman belum menghasilkan (TBM) tahun tanam 2018 dan pada tanaman menghasilkan (TM) tahun tanam 2011, dan tahun tanam 2001.

Peralatan yang digunakan untuk penelitian ini yaitu pisau, pita ukur (meteran), kantong plastik, spidol, gunting, kamera, kertas label, tali rafia/plastik, pacak kayu dan buku identifikasi gulma.

(17)

17 3.4. Tahapan Penelitian

1. Pengamatan pendahuluan dilakukan secara visual menyeluruh situasi kebun. Tujuan dari pengamatan pendahuluan dan survey lokasi adalah untuk mengetahui gambaran umum lokasi dan kondisi kebun kelapa sawit tempat dilaksanakannya pengamatan serta memastikan lokasi dan blok yang akan diteliti.

2. Mengetahui penggunaan herbisida yang sering di pakai oleh pihak kebun 3. Mengetahui kapan terakhir aplikasi herbisida yang digunakan.

4. Letakpetak plot contoh diletakkan secara acak. Untuk memudahkan pelaksanaan dilapangan maka tanaman kelapa sawit dibagi berdasarkan umur tanaman.

5. Penempatan kuadrat titik contoh dalam plot (pembuatan plot).

Banyaknya plot untuk melakukan penelitian identifikasi gulma yaitu sebanyak umur tanaman yang diteliti, adapun rage umur yang dilakukan pada penelitian yaitu tahun tanam 2018, 2011, 2001 kemudian pada setiap rage umur penelitian terdapat 2 plot besar yang berukuran 20 X 60 M. Didalam plot besar terdapat juga plot kecil yang berukuran 2 X 2 M. Total sampel plot penelitan sebanyak 36 plot. Jumlah plot tersebut dianggap mampu mewakili keseluruhan tegakan gulma yang telah ditentukan sehingga mampu mengidentifikasi gulma yang ada disetiap blok tanaman kelapa sawit. Data yang akan diukur untuk menduga gulma dominan yang berada pada plot adalah kerapatan, frekuensi, dan dominasi gulma.

6. Varietas yang digunakan tidak berpengaruh terhadap jenis gulma yang ditemukan.

(18)

18 PLOT PENELITIAN

`

Keterangan : X = Kelapa Sawit

Gambar 3.1.SkemaPembuatan Plot 3.5 Pengamatan Parameter

Pengamatan dilakukan di lapangan dengan mengambil sampel gulma dan diindentifikasi jenis serta jumlah masing-masing gulma.

Adapun range umur tanaman kelapa sawit yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kelas I : TahunTanam2001 (Umur18tahun) 2. Kelas II : Tahun Tanam 2011 (Umur 8 tahun) 3. Kelas III : Tahun Tanam 2018 (Umur 1 tahun)

Perhitungan yang digunakan untuk menganalisis vegetasi gulma yang tumbuh dominan menggunakan jumlah dominasi ratio (summed dominance ratio).

(19)

19

Nilai SDR menunjukan dominasi suatu gulma yang tumbuh di perkebunan kelapa sawit. Jikanilai SDR suatu gulma tinggi, maka dominansi gulma tinggi. Begitu sebaliknya, jikanilai SDR rendah, maka dominasinya rendah. (Tantra dan Santosa, 2016).

Perhitungannilaipentingdanpenentian SDR dilakukandenganrumus: a) Kerapatan (K) = b) Kerapatan Relatif = x 100% c) Frekuensi = d) Frekuensi Relatif (FR) = x 100%

e) Indeks Nilai penting (INP) = KR + FR

(20)

20 3.6. Bagan Alur Penelitian

Bagan alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2. Bangan alur penelitian

Gambar 3.2. Bagan Alur Penelitian SURVEI LOKASI PENENTUAN BLOK PENELITIAN PEMBUATAN PETAK PLOT PENGAMBILAN GULMA IDENTIFIKASI GULMA ANALISA DATA PEMBUATAN DRAF TUGAS AKHIR SELESAI MULAI

(21)

21 3.7. Jadwal Penelitian

Tabel 3.1 Jadwal penelitian

No Jenis Kegiatan Bulan ke

1 2 4 5 6

1 Penyusunan dan Uji Proposal Penelitian

2 Pengurusan Izin Administrasi Penelitian

3 Survei Lokasi Kebun 4 Pembuatan Petak Plot 5 Pengambilan Data 6 Identifikasi Data 7 Analisa Data

8 Penyusunan Hasil Penelitian 9 Seminar

Gambar

Gambar 2.1 I.cylindrica(Sumber: id. Wikipedia.com)  2.2.2 Gulma Daun Lebar (Broad-leaved Weeds)
Gambar 2.2.C.esculenta (Sumber: Gea, 2019)
Gambar 2.4.P. aquilinum(Sumber: Gea, 2019)
Gambar 2.5.C.hirta(Sumber: Gea, 2019)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan

Dengan cara yang sama untuk menghitung luas Δ ABC bila panjang dua sisi dan besar salah satu sudut yang diapit kedua sisi tersebut diketahui akan diperoleh rumus-rumus

Dari teori-teori diatas dapat disimpulkan visi adalah suatu pandangan jauh tentang perusahaan, tujuan-tujuan perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk