7 BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Penelitian Terdahulu
Penelitian dilakuan (Hikmah et al., 2013) dengan judul “Kontribusi Pendapatan Perempuan Buruh Tani Pisang Terhadap Pendapatan Keluarga Di Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie” berdasarkan hasil penelitian diatas, maka pendapatan buruh tani wanita yang diperoleh pada usaha tani pisang sebesar Rp 787.500,00 bahwa kontribusi pendapatan yang diperoleh dari buruh tani perempuan usaha pisang merupakan salah satu sumber pendapatan besar setelah pendapatan suami, artinya membantu keluarga.
Penelitian dilakukan oleh (Dewi, P., 2012) dengan judul “Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga” berdasarkan hasil penelitian bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur, jam kerja, tingkat pendidikan, dan jumlah anak terhadap pendapatan keluarga perempuan di pasar Badung Kota Denpasar dengan menggunakan alat analisis regresi linear berganda, sehingga output pada variabel umur,waktu bekerja, pendidikan dan jumlah anak berpengaruh signifikan secara simultan terhadap pendapatan keluarga pedagang perempuan, kemudian estimasi OLS menunjukkan bahwa variabel waktu bekerja, pendidikan dan jumlah anak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan keluarga sedangkan variabel umur menunjukkan nilai yang negatif terhadap penapatan keluarga.
Penelitian dilakukan oleh (Heriyanto & Farida, 2017) dengan judul “Perempuan Bekerja Dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga Di Wilayah Pesisir” berdasarkan hasil penelitian ini bahwa perempuan memiliki potensi yang sangat besar untuk direalisaskan tetapi masih kurang dilibakan dalam pendapatan keluarga dalam penelitian ini dilihat sejauh mana perempuan ikut serta menjalankan perannya dalam meningkatkan pendapatan keluarga, sehingga hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan perempuan di wilayah ini dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, dengan dilihat dari hasil lapangan bahwa pendapatan responden terbanyak pada rentang pendapatan Rp. 3.000.000 – Rp. 4.000.000 (tingkatan keempat) dan pada rentang pendapatan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 (tingkatan kedua).
Penelitian diakukan oleh (Sinambela & Umiyati, 2020) dengan judul “Analisis Pola Konsumsi Rumah Tangga Pekerja Wanita di Kota Jambi” berdasarkan hasil penelitian tersebut dengan menggunakan analisis regresi linear berganda variabeel pendapatan istri, pendapatan suami, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pola konsumsi, sedangkan pada variabel pendidikan negatif dan tidak signifikan terhadap pola konsumi rumah tangga pekerja wanita di Kota Jambi.
Penelitian dilakukan oleh (Primafani, 2018) dengan judul “Analisis Tingkat Pendapatan Buruh Wanita Pada Usaha Tani Sayur Di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu” berdasarkan hasil penelitian maka besarnya kontribusi pendapatan yang diperoleh buruh wanita usaha tani sayur
terhadap pendapatan keluarga serta faktor yang berpengaruh pada pendapatan ekonomi keluarga di Desa Sumber Brantas yakni dari suami berkisar antara > Rp. 1.500.000 – Rp. 2000.000 sedangkan pendapatan buruh wanita berkisar dengan rata-rata > Rp. 800.000 – Rp. 1.000.000.
Penelitian dilakukan oleh (Umi Rahayu, 2015) dengan judul “Analisis Pendapatan Keluarga Wanita Single Parent (Studi Kasus Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar)” berdasarkan hasil penelitan menunjukkan bahwa variabel jumlah tanggungan keluarga, umur, pendidkan dan status pekerjaan berpengaruh secara simultan dan positif secara parsial terhadap pendapatan wanita single parent, dan penelitian ini bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat khususnya bagi wanita single parent yang memiliki beban hidup sangat berat sehingga pemerintah memberikan berbagai macam upaya kegiatan pembinaan wanita yang penting untuk dikembangkan.
Penelitian dilakukan oleh (Marwati et al., 2020) dengan judul “Factors Affecting Income of Female Workers Producing Ketupat Casing and Their Contribution to Household Income” berdasarkan hasil penelitian maka tingkat pendidikan, curahan waktu kerja, pengalaman kerja dan jumlah anggota keluarga berpengaruh signifikan terhadap pendapatan buruh wanita, karena wanita memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan rumah tangga. Dengan dianalisis menggunakan regresi berganda.
B. Teori
1. Pendapatan
Istilah pendapatan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat indonesia, dari berbagai macam kalangan status sosial, usia, ekonomi, dan budaya semua dapat mengetahui kata pendapatan. Indonesia cukup banyak mengaitkan pendapatan sebagai tolak ukur pada proporsi yang dimiliki, misalnya pada pendapatan masyarakat, pendapatan keluarga, pendapatan daerah, pendapatan per kapita hingga pendapatan negara.
Teori Neo Klasik mengemukakan bahwa dalam memaksimalkan suatu keuntungan dengan menggunakan factor produksi maka setiap produksi yang dipergunakan menerima atau diberi imbalan sebesar nilai pertambahan hasil marginal dari factor produksi tersebut. Teori Neo Klasik juga menyatakan bahwa tenaga kerja memperoleh pendapatan senilai dengan pertambahan hasil marginalnya.
Menurut (Wulandari, 2018) Pendapatan merupakan uang yang diterima dan diberikan kepada subjek ekonomi berdasarkan prestasi yang telah diserahkanberupa pendapatan dari profesi yang sudah dilakukan oleh sendirinya atau usaha milik perorangan dan pendapatan dari kekayaaan. Berdasarkan peningkatan pendapatan perekonomian rumah tangga, maka diperlukan adanya penambahan waktu kerja dengan demikian jumlah pendapatan mempengaruhi permintaan (Khan, 2012)
2. Buruh/Pekerja
Hukum perburuhan di indonesia, telah diupayakan dan diganti istilah menjadi pekerja sebagaimana telah diusulkan oleh pemerintah pada waktu kongres FBSI II pada tahun 1985, dengan alasan pemerintah bahwa istilah buruh kurang sesuai dengan pribadi bangsa karena istilah buruh lebih menunjukkan bahwasannya golongan yang selalu ditekan karena dia berada di bawah pihak oleh majikan.
Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, pasal 1 angka 4 memberikan pengertian pekerja atau buruh adalah setiap orang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk apapun. Setelah Indonesia merdeka tidak ada lagi yang dikenal dengan buruh halus dan buruh kasar, semua orang yang bekerja pada di sektor swasta maupun badan hukum disebut buruh. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1975 tentang penyelesaian perselisihan perburuhan yakni buruh adalah pertentangan antara majikan atau perkumpulan majikan dengan serikat buruh atau gabungan serikat buruh berhubung dengan tidak adanya persesuaian paham mengenai hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan/atau keadaan perburuhan (Pasal 1 ayat 1c).
3. Kesejahteraan Keluarga Buruh
Menurut penelitian (Akmaliyah, 2013) kesejahteraan merupakan kondisi yang ada pada seluruh kebutuhan jasmani dan rohani pada suatu rumah tangga agar dapat terpenuhinya tingkatan hidup yang sesuai. Pola konsumsi dapat diukur dari status kesejahteraan, dengan menjadi salah satu alat untuk menilai tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk dapat dilihat dimana semakin rendahnya presentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengelluaran, maka total pengeluaran akan semakin baik dan akan baik juga pada tingkat perekonomian penduduknya, dengan demikian hal tersebut dilihat dari pola konsumsi untuk kesejahteraan ekonomi. Presentase pengeluaran untuk memenuhi makanan terhadap total pengeluaran, akan semakin buruk pada tingkat perekonomian penduduk, untuk mengetahui baik atau buruknya tingkat perekonomian penduduk dapat dilihat melalui presentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran.
4. Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan di Indonesia memiliki masalah utama dan mendasar yakni masalah upah yang rendah dan tingginya tingkat pengangguran serta meningkatnya jumlah penduduk, disebabkan karena bertambahnya tenaga kerja yang baru dan lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja, sehingga menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi, sesuai dengan pernyataan (Nurrohman, 2010) yang menjadi masalah utama dalam jangka pendek dan selalu dihadapi
oleh setiap negara yakni pengangguran. Negara berkembang yang berusaha dalam meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan untuk rakyatnya melalui pembangunan yakni negara Indonesia, yang memiliki kemampuan untuk menguatkan perekonomian dalam negeri, memajukan pertumbuhan ekonomi, menambah peluang kerja, menekankan kesenjangan untuk berbagai daerah, meratakan penghasilan, dan memperluas lapangan pekerjaan, hal tersebut merupakan tujuan dari pembangunan ekonomi yang dinyatakan oleh (Happylya, 2018).
Sumber daya manusia memiliki dua pengertian, yang pertama merupakan pengertian usaha kerja atau jasa yang dapat memberikan pada faktor produksi hal ini mencerminkan kualitas usaha yang telah diberikan seseorang untuk mengahsilkan barang dan jasa, yang kedua yakni seseorang mampu bekerja dan memberikan jasa atau usaha tersebut, maka hal ini merupakan kegiatan yang memiliki nilai ekonomis berarti kegiatan tersebut mengahsilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Teddy Adhadika, 2013), dengan demikian, salah satu faktor tenaga kerja sebagai suatu struktur dasar aktivitas perekonomian adalah sebagai pelaku ekonomi, yang memiliki kemampuan bertindak aktif dan mampu mempengaruhi serta melakukan manajemen terhadap faktor yang lainnya.
5. Kemiskinan
Provinsi di Indonesia memiliki jumlah tingkat penduduk miskin yang bermacam ragam, acuan yang merupakan jumlah penduduk miskin
yang berada di pulau jawa, dan memiliki jumlah yang cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di luar puulau jawa. Jumlah penduduk miskin Jawa Timur meningkat dengan tingkat kemiskinan 11,46%. cara yang digunakan untuk menanggulangi kemiskinan yakni, menggurangi beban biaya dan pengeluaran untuk rumah tangga yang tergolong msikin. Sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup, hal ini yang sering dikatakan sebagai pemahaman teori kemiskinan. menurut (Mahsunah, 2013) kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang telah diukur dari sisi pengeluaran.
6. Peran Wanita
Suami dan istri memiliki pembagian peran yang dapat disesuaikan oleh norma yang berlaku di masyarakat. Pada dasrnya peran laki-laki memiliki kedudukan peran yang tinggi dibandingkan dengan peran perempuan, salah satu pemikiran yang dikemukakan oleh (Prasekti, 2017) yakni peran perempuan dalam konteks rumah tangga yakni alokasi sumber daya untuk memakksimalkan suatu pendapatan. Fungsi utama peran wanita disini adalah reproduksi, sosialisasi dan produksi. dimana dalam suatu rumah tangga tenaga kerja yang memiliki porsi berbeda harus mampu melakukan pembagian pekerjaan yang berbeda-beda.
Pentingnya perempuan dalam melakukan pembentukan suatu kehidupan keluarga yang kokoh supaya tidak menimbulkan pengaruh
negatif dalam pencapaian suatu keadaan. Potensi seorang wanita yang mampu memberikan keberhasilan dalan rumah tangga sebagai seorang ibu yakni suksesnya menjadi penunjang utama rumah tangga dan masa depan untuk anaknya, maka hal ini didapatkan oleh adanya adopsi serta inovasi yang berhubungan dengan mengenai strategi peningkatan kemampuan dan potensi bagi wanita, sehingga wanita bisa berperan0optimal pada sektor domestik secara proffessional (Darmawani, 2013).
7. Upah
Teori Karl Max mengemukakan bahwa buruh memiliki nilai ekonomi pada suatu barang yang bergantung pada nilai jasa atau jumlah waktu kerja untuk keperluan produksi. menurut sudut pandang dalam implikasi tersebut adalah :
a. Jumlah jasa buruh yang di alokasikan untuk keseluruhan proses produksinya yakni berbeda menurut harga barang
b. Jumlah jam kerja yang dikorbankan untuk memproduksi suatu jenis barang adalah hampir sama, maka harga di beberapa tempat juga hampir sama
c. Buruh berhak mendapatkan seluruh pendapatan nasional.
Dasar teori nilai dan asas pertentangan kelas pada sistem pengupahan menurut teori Karl Max yakni sumber nilai jasa dan waktu kerja dapat digunakan untuk memproduksi semua barang (Primafani, 2018).
8. Pola Konsumsi
Pola didalam KBBI memiliki arti gambar yang digunakan untuk contoh potongan kertas atau tenun atau kertas, dan bisa di artikan juga sebagai sistem usaha atau cara kerja untuk melakukan sebuah sesuatu, sedangkan istilah konsumsi atau consumer yang berarti menghabiskan. Konsumsi merupakan penggunaan atau pemakaian barang ataupun jasa seperti makanan, minuman, pakaian, peralatan rumah tangga, kendaraan, media elektronik, alat hiburan, belajar/les, jasa hukum dan lainnya. dengan demikian konsumi tidak di kaitkan hanya pada makanan dan minuman akan tetapi menjadi aktivitas setiap hari yang meliputi manfaat atau dayaguna segala sessuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Pengeluaran yang dikeluarkan oleh suatu rumah tangga atas barang dan jasa merupakan pengeluaran konsumsi pribadi (Aprilia, 2018).
Keynes mengemukakan bahwa besarnya tingkat pendapatan dapat ditentukaan oleh tingkat konsumsi, yang berarti bahwa belanja konsumsi merupakan bagian dari pendapatan. Menurut (Mankiw, 2012) pola konsumsi dapat ditunjukkan atas bagaimana seseorang hidup, bagaimana memanajemen waktu, serta bagaimana seseorang membelanjakan uang akan tetapi pola konsumsi juga dapat berubah sesuai kebutuhan pada umumnya, dan perubahan tersebut akan ada jika nilai yang diikuti oleh konsumen berpengaruh di lingkungan sekitarnya.
9. Pengeluaran dan Pola Konsumsi Rumah Tangga
Pengeluaran rata-rata perkpita merupakan suatu biaya yang telah dikeluarkan dan digunakan untuk konsumsi semua rumah tangga untuk sebulan yang dibagi untuk banyaknya rumah tangga tersebut yang bermula dari produksi sendiri, pemberian dan pembelian (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2015). Rumah tangga adalah seorang konsumen pemaikai barang atau jasa beserta pemilik faktor-faktor produksi tenaga kerja, seperti modal dan kewirausahaan, agar rumah tangga bisa memperoleh balas jasa tersebut maka suatu rumah tangga harus menjual atau mengelola faktor-faktor yang ada. Balas jasa atau imbalan tersebut berupa upah, laba, sewa, dan bunga deviden yang merupakan komponen penerimaan atau pendapatan rumah tangga. Nilai tanggungan rumah tangga dapat diperoleh jika penerimaan pada suatu rumah tangga itu dikurangi oleh biaya pengeluaran serta biaya transfer dan konsumsi. Apabila tabungan memiliki unsur penting dalam memproses pertumuhan dan pembangunan ekonomi, maka perilaku konsums dapat meunjukkan dasar pendapatan yang teah dibelanjakan. Dengan demikian tabungan dapat memungkinkan terciptanya modal dengan mendapatkan besarnya kapasitas produksi perekonomian (Anita, Djaimi, 2016).
10. Tabungan Rumah Tangga Buruh
Pendapatan dari berbagai sumber tersebut digunakan untuk rumah tangga nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, hasil dari para nelayan mencari ikan cukup banyak rumah tangga buruh memiliki pola
yang sejalan untuk menyiapkan generasi yang sehat dan berpendidikan bahwa kelebihan pendapatan perlu di tabung atau di simpan untuk kegiatan jangka panjang.
Selain untuk pola konsumsi, suami sebagai nelayan dan istri sebagai buruh wanita sortasi rajungan juga melakukan tabungan dengan bentuk yang beragam, dapat dilihat dengan yang telah dilakukan dalam suatu rumah tangga apa yang dilakukan untuk melakukan tabung menabung dengan berbagai macam tabungan seperti investasi, arisan, menyimpan dibank dan di koperasi atau transaksi keuangan yang lainnya. Kenaikan pendapatan juga digunakan untuk tabungan di bidang perikanan sendiri dan juga simpan pinjam. Dengan memanfaatkan perahu yang dimiliki sebagai sumber pendapatan dan merangkai jaring sendiri dengan alasan pertambahan nilainya lebih cepat, apabila perolehan rajungan untuk di sortir dan ikan di jual di pasar. Sebaliknya, kebutuhan untuk jaring, solar, dan alat untuk melaut lainnya sebagaian diperoleh dari pendapatan sebelumnya yang berfungsi sebagai alat tangkapnya.
Meskipun pendapatan dari nelayan tidak dominan karena ketergantungan cuaca, namun para nelayan masih mengharapkan usaha mereka sebagai masa depan mereka terbukti bahwa tabungan ditujukan oleh nelayan dan buruh. Mereka juga peduli dengan sisa cangkang rajungan yang sudah di pilah oleh buruh sortasi untuk dikumpulkan kemudian dijual lagi ke pabrik untuk di olah menjadi bedak. Hasil ini menunjukkan bahwa pendapatan dari luar nelayan dan buruh sortasi di
gunakan untuk menabung dengan cara disimpan pada koperasi kecil yang ada di desa (Purba, Eveline, 2014).
11. Hubungan antara Pendapatan dengan Pola Konsumsi
Rumah tangga dengan pendapatan tinggi akan membelanjakan sebagian pengeluarannya untuk biaya kebutuhan pokok, dan seblaiknya bahwa rumah tangga yang memperoleh pendapatan rendah juga akan membelanjakannya untuk kelangsungan hidup dari perolehan upahnya hal ini sudah ditetapakan oleh Hukum Angel yang tercermin pada penelitian (Adiana & Ni Luh Karmini, 2012). Presepsi masyarakat bergantung pada pola konsumsi rumah tangga dengan perolehan pendapatan permanen yang sudah diperoleh saat ini maupun yang akan datang. (Nababan, 2013) menyatakan bahwa hasrat marjinal merupakan perbandingan besarnyya pengeluaran pola konsumsi untuk pendapatan, dengan demikian pola konsumsi masyarakat secara umum bahwa besarnya pendapatan seseorang akan semakin besar pula0pengeluaran0konsumsinya. hal ini yang merupakan hubungan antara pendapatan dengan pola konsumsi.
12. Hubungan antara Usia dengan Pendapatan
Keterlibatan wanita mempengaruhi faktor kegiatan ekonomi yang berdasarkan pada usia. (Khairiyah & Sunito, 2018) menyatakan bahwa Usia yang produktif akan berpengaruh pada pendapatan, jika usia tersebut cendenrung tua sehingga pendapatan yang diperoleh juga aakan cenderung rendah dan jika memiliki usia dewasa maka pendapatan yang
yang akan diperoleh juga akan semakin tinggi. Hal ini dapat diketahui jiika dengan usia dewasanya seseorang maka semangat dan giatnya seseorang itu dalam melakukan pekerjaan, apabila usia seseorang tergolong tua maka sudah tidak mementingkan pekerjaan karena faktor usia yang sudah tidak kuat untuk bekerja yang terlalu mengguras banyak tenaga sehingga pendapatan yang diperoleh relatif rendah.
13. Hubungan antara Pendidikan dengan Pendapatan
Pendidikan seseorang tidak melibatkan penguasaan dan cara berpikir seseorang secara rasional. tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka akan mampu menangkap kesempatan yang lebih dari sekitarnya, dengan tingginya tingkat pendidikan juga akan semakin tinggi pada peningkatan mutu kerja dan tingginya tingkat produktivitas (Khairiyah & Sunito, 2018). Hubungan variabel pendidikan dengan pendapatan dalam penelitian ini tidak berpengaruh karena tinggi rendahnya0tingkat pendidkan tidak0memepengaruhi semangat kerja wanita buruh sortasi, karena tidak ada0syarat dalam0pekerjaan yang ditekuni0untuk hal pendidikan.
14. Hubungan antara Pengalaman Kerja dengan Pendapatan
Pengalaman kerja sesseorang memungkinkan adanya tambahan pendapatan, karena tingkat pelatihan yang dimiliki seseorang jika semakin lama maka akan semakin hafal dan lebih professional. Keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang jika telah melakukan perbuatan atau pekerrjaan dalam beberapa lama waktu maka
penguasaan yang dimiliki akan semakin banyak. Sehingga pengalaman yang dimiliki baik secara langsung atau tidak akan memberikan pengaruh terhadap hasil produksi yang telah dilakukan. dengan demikian hubungan antara pengalaman kerja dengan pendapatan lamanya sesorang memiliiki pengalaman yang besar maka produksi dan pendapatan akan semakin besar juga (Kosasih, 2013). Hubungan dalam penelitian ini, pengalaman kerja tidak mengacu pada pendapatan yang diperoleh karena upah yang diberikan tidak menentukan berapa lama seseorang menekuni pekerjaan tersebut.
15. Hubungan antara Jumlah Tanggungan Keluarga dengan Pendapatan
Faktor yang menyebabkan wanita sukarela dalam mengambil keputusan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan lebih bagi keluarganya untuk kebutuhan hidup rumah tangga adalah jumlah tanggungan keluarga. Tinggi rendahnya pendapatan jika suatu keluarga memiliiki jumlah tanggungan yang banyak maka pendapatan akan semakin rendah untuk menghadapi biaya hidup yang tinggi. kemudian sebaliknya, apabila jumlah tanggunggan keluarga sedikit maka pendapatan akan semakin tinggi dengan biaya hidup yang rendah. agar lebih giat dalam bekerja untuk memperoleh tingkat pendapatan yang tinggi maka hal ini akan memacu pada keluarga yang memiliki biaya kehidupan tinggi (Primafani, 2018).
16. Hubungan antara Tambahan Pemasukan Suami dengan Pendapatan Buruh
Pada umumnya suami merupakan kepala keluarga dan pencari nafkah untuk kelurganya, akan tetapi istri juga bisa dikatakan sebagai tulang punggung sampingan pada keluarga. tinggi rendahnya pemasukan suami untuk kebutuhan hidup keluarga bergantung pada pekerjaan yang dilakukan, jika memiliki taanggungan keluarga yang banyak maka pengeluaran akan banyak sehingga suami harus bisa memaksimalkan pekerjaannya agar memperoleh pendapatan yang maksimal juga, akan tetapi jika pendapatan dari suami itu rendah maka istri yang berpikir maju akan ikut terlibat menjadi peran ganda. maka hubungan tambahan pemasukan suami dengan pendapatan istri/buruh sama-sama mempengaruhi untuk pengeluaran rumah tangga.
C. Kerangka Pikir
Penulis menyusun kerangka pemikiran dibawah ini dengan menganalisis pendapatan, pola konsumsi, dan investasi rumah tangga buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran yang dipengaruhi oleh variabel dependen yakni pendapatan, kemudian variabel independen yakni usia, pendidikan, dan pengalaman kerja. maka dapat dijelaskan dengan bagan dibawah ini :
Gambar 2. 1 Kerangka Pikir Sumber : Ilustrasi Peneliti, 2021 D. Perumusan Hipotesis
𝐻1 = Diduga variabel usia berpengaruh terhadap pendapatan buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran
𝐻2 = Diduga variabel pendidikan berpengaruh terhadap pendapatan buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran
𝐻3 = Diduga variabel pengalaman kerja berpengaruh terhadap pendapatan buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran
𝐻4 = Diduga variabel jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap
pendapatan buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran
𝐻5 = Diduga variabel tambahan pemasukan suami berpengaruh terhadap pendapatan buruh wanita sortasi rajungan di Desa Paciran
Usia (X1)
Pendidikan (X2)
Pengalaman Kerja (X3) Pendapatan (Y)
Jumlah Tanggungan Keluarga (X4)
Tambahan Pemasukan Suami (X5)