KLASIFIKASI DIM RUU
KLASIFIKASI DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM)
RUU TENT ANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI
KOMISI VIII DPR RI
MASA PERSIDANGAN I TAHUN SIDANG 2014
KAMIS, 04 SEPTEMBER 2014
NO
NOMOR DIM
KETERANGAN
DIM Tetap
2, 8, 10, 11, 17,_ 19, 31, 44, 19 DIM
73, 75, 76, 84, 86, 87, 100,
104, 105, 106, 107
DIM
12, 14, 16, 18,20,21,24,25, 44 DIM
Perubahan
28,29,30, 32, 33, 34, 35, 36,
Redaksi
40,41,42,43,45, 50,63, 64,
65, 66, 67, 70, 72, 74, 78,
80, 81,82,85,88,89,90,91,
94, 96, 97, 102, 103
DIM
1, 3,4, 5, 6, 7, 9, 13, 15, 22, 44 DIM
Perubahan
23, 26, 27, 37, 38, 39,46,47,
Substansi
48,49, 51, 52, 53, 54, 55, 56,
57, 58,59,60,61,62,68,69,
•71, 77, 79, 83, 92, 93, 95, 98,
99, 101.
Total
107 DIM
RE KAP
DAFTAR INVENTARISAS
MASALAH (DIM)
.. NOMOR DIM
2.
3.
4.
5.
REKAP DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM)
RANCANGAN llNDANG-llNDANG
TENT.ilNG
PENGELOL.il.ilN KEIJANGAN HAJI
Basil PanJa Pada TanegaJ 4 sept 2014
RAN CAN GAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ...
TENT ANG
PENGELOLAAN KEUANGAN HAll DENGAN RAHMA T TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
a. bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap
warga negara unruk memeluk agamanya
masing-masing dan beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu;
b.bahwa jumlah Warga Negara Indonesia yang
berkeinginan menunaikan Ibadah Haji terus
meningkat sedangkan kuota terbatas sehingga
mengakibatkan meningkatnya jumlah Jemaah
Haji tunggu dan terjadinya akumulasi Dana
Haji;
b.
bahwa akumulasi Dana Haji sebagaimana
dimaksud
dalam
huruf
b,
berpotensi
ditingkatkan
nilai
manfaatnya
guna
mendukung penyeleggaraan lbadah Haji yang
lebih berkualitas melalui pengelolaan keuangan
haji
yang tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan,
efisien,
ekonomis,
efektif, transparan, dan bertanggung jawab;
d. bahwa untuk
menjamin
pengelolaan
keuangan haji yang tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif,
transparan, dan bertanggung jawab sebagaimana
Disepakati Panja, nama RUU Tentang Pengelolaan Keuangan Haji (ketok palu 4 Sept 2014)
Tetap
Disepakati Panja Perubahan
Redaksi dan diserahkan ke
Tim Perumus (ketok palu
4Sept 2014)
disepakati Panj a diserahkan
kepada Tim Perumus (Ketok
Palu 4 Sept 2014)
Disepakati Panja Perubahan
redaksi maka diserahkan ke
Tim Perumus (ketok palu 4
Sept 2014)
NOMOR DIM 6
7
8 9 10dimaksud dalam huruf c, memerlukan payung hukum yang kuat;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pengelolaan Keuangan Haji;
Mengingat : Pasal 5 ayat
(1),
Pasal 20, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI
BABI
KETENTUAN UMUM .
Kesepakatan: disepakati perubahan Redaksi maka
diserahkan ke Timus (4sept2014) Disepakati Panja apakah usulan diserahkan kepada
TimPerumus Catatan:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, 20A ayat
(1)
dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; usulan FPKS dan FGer juga Pasal 23, apakah dapat menjadi konsideran mengingat?Tetap
Tetap
Undang-Und8!1g Tentapg Pengelolaan Keuangan Haji
NOMOR DIM 11
12
13 Pasal 1Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
2. Dana aJI a ana setoran Biaya
Penyelenggaraan Ibadah Haji dan basil
pemanfaatannya yang dikuasai oleh negara aalam rangka penyelenggaraan ibadah haji.
Tetap
Disepakati juga BPKH juga bisa menerima dana dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat, serta dirinci jenisnya, masuk dalam norma Dan masuk dalam ketentuan
um um
Disepakati pengelolaan Abadi Umat (DAU diintegrasikan dalam pengelolaan Dana haji dan masuk dalam RUU PKH, Dan sepakat dg Pemerintah bahwa seyogyanya hanya satu badan yang mengelola DAU Panja juga sepakat
pembahasan mendalam dan
perumusannya dalam Rapat Tim perumus.
14 3. Badan Pengelola Keuangan Haji yang Disepakati diserahkan kepada
selanjutnya disingkat BPKH adalah lembaga Tim Perumus
NOMOR
DIM
15
.
. .
• • < HASll Rl\PAT 4 SEPT 14
4. Kas Haji adalah rekening Menteri pada Bank Disepakati perumusannya Sentral yang digunakan untuk menampung kepada Tim Perumus DanaHaji.
Cata tan:
disepakati bahwa kas haji adalah Rekening Badan Sedangkan jamaah dapat memiliki Virtual Account jamaah,
Rekening BPKH pada bank Umum atau bank Syariah untuk menampung dana-dana jamaah
Sedangkan pada penjelasan jemaah memiliki virtual
Account nama jamaah
16
5.
Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji yang17
selanjutnya disebut BPIH adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan Ibadah Haji.
6. Jemaah Haji adalah Warga Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan Ibadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
18
7.
Pemerintah adalah Pemerintah Pusat Republik19
20
Indonesia.
8. Menteri adalah menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.
Pasal 2
Pengelolaan Keuangan Haji berasaskan:
Tetap
Tetap
NOMOR RUU USUL PEMERINTAH. HASIL.tlAPAT4 SEPT)4
DIM >:.··:·· ... ' ·. :::::/·.·.:·_.'. ·,
, ' : ,· •. ,> ... :
"'
>•
.... <">·
' '• <22 D. manfaat; dan DIM 22 Disepakati Panja
23 c. prinsip kehati-hatian. Disepakati: penambahan frase
dan perumusannya diserahkan kepada Timus
24 Sesuai dengan DIM 9
Pasal 3
Pengelolaan Keuangan Haji bertujuan untuk meningkatkan;
25 a. kualitas Penyelenggaraan Ibadah Haji;
26 b. rasionalitas dan efisiensi penggunaan BPIH; Disepakati Panja diserahkan
dan kepada Tim Perumus
27 c. manfaat bagi kemaslahatan umat Islam. Disepakati Panj a diserahkan
kepada Tim Perumus 28
BABII Disesuaikan dg DIM 9
KEUANGAN HAJI
29 Pasal 4 Disesuaikan dg DIM 9
Keuangan Haji meliputi:
30 a. penerimaan;
31
b. kekayaan yang berasal dari pengelolaan Dana
Haji; dan Tetap
32
c. pengeluaran. Disepakati diserahkan kepada
TimPerumus 33
Pasal 5
Penerimaan Keuangan Haji sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 huruf a meliputi:
34 a.setoran BPIH;
35 b.nilai manfaat BPIH;
NOMOR DIM
RUU USUL PEMERINTAH
'·.
3 7 d. sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
38
Pasal 6
(1) Setoran BPIH sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a diperoleh dari Jemaah Haji.
39 (2) Setoran BPIH dari Jemaah Haji
40
41
42
43
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibayarkan ke Kas Haji melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang memiliki
layanan yang bersifat nasional
clan
memilikilayanan syariah yang ditunjuk oleh Menteri.
Pasal 7
Setoran BPIH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 merupakan dana titipan Jemaah Haji untuk Penyelenggaraan lbadah Haji.
Pasal 8
( 1) Nilai manfaat BPIH sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf b diperoleh dari hasil
pengelolaan Dana Haji.
(2) Hasil manfaat BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) ditempatkan pada Kas Haji.
Pasal 9
Penerimaan hibah dan/atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat sebagaimana dimaksud dalam
HASIL
~PAT
4
SEPT.14
DIM 37 disepakati - Catatan: Karena disebutkan
beberapa kali, maka kalimat "sumber lain yang sah dan tidak mengikat' dirumuskan
·. . .
NOMOR RUU USUL PEMERINTAH:.: HAs1t·RAPAT
4
SEPT14
DIM
·:.·· :,•· ·:. ,.: · .. ·'.:.,'::: · .. i ':··: •., ·, ,,:. : ·.,:
44
TetapPasal
10
Kekayaan yang berasal dari pengelolaan Dana
Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4
huruf bdapat berupa uang, surat berharga, piutang, emas, serta barang dan hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang.
45
Pasal
11
1
)Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimanadimaksud dalam Pasal 4 huruf c meliputi pengeluaran untuk:
46
a. Penyelenggaraan Ibadah Haji; dan47
b. operasional BPKH.
48
(2)
Pengeluaran untuk Penyelenggaraanlbadah Haji sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1)
huruf a dilakukan denganmemindahkan dana dari Kas Haji ke kas satuan kerja penyelenggara Ibadah Haji atas nama Menteri.
49
(3)
Pengeluaran untuk operasional BPKHsebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
huruf bdilakukan dengan memindahkan dana dari Kas Haji ke kas BPKH atas nama Menteri.
50
(3) Pengeluaran untuk operasional BPKHsebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
51
a. belanja personal; dan52
b. belanja operasional kantor;53
( 4)
Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat(3) dilakukan dengan pnns1p rasional,
NO MOR RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT 14 DIM
54 (5) Besaran pengeluaran untuk operasional BK.PH
ditetapkan oleh Menteri. 55
(7) Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dilakukan berdasarkan persetujaun Menteri.
56
BAB III
PENGELOLA KEUANGAN HAJI 57
Pasal 12
(1) Pengelolaan Keuangan Haji dilakukan oleh Pemerintah.
58 (1) Dalam melakukan pengelolaan Keuangan Haji
sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Pemerintah membentuk BPKH. 59
(2) BPKH sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempunyai organ yang terdiri atas:
60 a. Badan pelaksana; dan
61
b. Dewan pengawas 62
Pasal 13
Pengelolaan Keuangan Haji oleh BPKH dilakukan secara korporatif dan nirlaba.
63
Pasal 14
(1) BPKH bertugas mengelola Dana Haji yang meliputi penerimaan, pengembangan, dan pertanggungjawaban Dana Haji.
;
...
NOMOR RUU USUL PEMERINTAH
>
HASIL'
MPilT,4
SEPT,
14<
DIM ··. . . .. ,:.::, .;:> ".!";.'.,: .. .::. .. .,;',,, ... _. .. (· ... , .... . ... :.·::·.r ...
·.•· ., ',,.,'..-'.,,.,. ' .... :
..
.. .·.·· · .., ... ; ...
, .•
65
a. pemcanaan penerimaan dan pengembangan Dana Haji;
66
b. pelaksanaan penerimaan dan pengembangan Dana Haji;
67
c. pengendalian dan pengawasan penerimaan dan pengembangan Dana Haji; dan
68
d. pelaporan dan pertanggungjawaban
pelaksanaan penerimaan dan pengembangan DanaHaji.
69
Pasal 15Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan BPK.H diatur dengan Peraturan Pemerintah.
70
BABN
TATA CARA PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI
71
Pasal 16
(1) BPKH menyusun rencana strategis untuk
j angka waktu 5 (lima) tahun.
72 (2) Rencana strategis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) disusun dengan mengacu kepada rencana strategis Kementerian Agama.
73 (3) Rencana strategis sebagaimana dimaksud Tetap
pada ayat
(I)
disahkan oleh Menteri.74
Pasal 17
(1) Berdasarkan rencana strate:§is sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, PKH menyusun rencana kerj a dan anggaran tahunan.
NOMOR DIM
RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT 14
' .· 75
76
(2) Rencana kerja dan anggaran tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai
dengan ikhtisar rencana kerja
dan
anggarantahunan.
(3) Rencana kerja dan anggaran tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun sesuai dengan jadwal penyusunan anggaran kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.
77 ( 4) Rencana kerja dan anggaran tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disetujui dan ditandatangani oleh Menteri.
78 (5) Rencana kerja dan anggaran tahunan
79
80
81
82
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi
acuan dalam pelaksanaan pengelolaan
Keuangan Haji.
Pasal 18
Pengeluaran untuk operasional
BPKH
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) dilakukan berdasarkan perintah dari Menteri.
Pasal 19
(1) Dana Haji wajib disimpan di Bank Sentral.
(2) Dana Haji sebagaimana dimaksud pada ayat
(I)
sebagian dapat ditempatkan dan/ataudiinvestasikan dengan prinsip syariah.
(3) Dalam melakukan investasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) harus
mempertimbangkan aspek keamanan, kehati-hatian, nilai manfaat, dan likuiditas.
Tetap
NO MOR DIM
83
84
85
RUU -USUL
PEMERINTAH
--Pasal 20
(1) BPKH wajib menyimpan Dana Haji yang tidak diinvestasikan setara dengan kebutuhan
2 (dua) kali biaaya Penyelenggaraan lbadah
Haji.
(2) Ketentuan mengenru. besaran kebutuhan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditaur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 21
1) lnvestasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk surat berharga, emas, dan investasi langsung.
86
2)
Investasi dalam bentuk surat berhargasebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan untuk surat berharga yang diterbitkan oleh lembaga dalam negeri.
87 J) Investasi -dalam- ben'tuk- emas
--sebagaimana-dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam bentuk batangan yang dijual di dalam negeri.
88 ~3)Investasi langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui pengadaan sarana
dan
prasarana produktif yang berkaitan dengan Penyelenggaraan lbadah Haji.
89 ,4) Investasi langsung sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) dapat dilakukan dalam bentuk kerja sama antara BPKH dengan badan usaha.
90 p) Investas1 langsung sebagru.mana d1maksud
pada ayat ( 4) dilakukan sesuai dengan prinsip syariah dengan mempertimbangl(an aspek keamanan, nifai manfaat, dan likuiditas.
HASli RAPAT
4SEPT
14Tetap
Tetap
··-
NOMOR RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT 14 DIM
·. . .··
91 6)Hasil pengelolaan Dana Haji melalui investasi
92
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) wajib disetorkan ke Kas Haji.
Pasal 22
(1) Penempatan dan penginvestasian Dana Haji
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dilakukan atas persetujuan Menteri.
93 (2) Dana Haji yang akan ditempatkan dan/atau
diinvestasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipindahkan dari Kas Haji ke kas BPKH atas persetujuan Menteri.
94
95
Pasal 23
BPKH menggunakan satuan hitung mata uang rupiah.
Pasal 24
(1) BPKH wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan Keuangan Haji kepada Menteri secara bulanan, triwulan, semester, dan tahunan.
96 (2) Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
pengelolaan Keuangan Haji sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi laporan realisasi anggaran/laporan operasional, neraca, dan catatan atas laporan keuangan, disertai laporan mengenai kinerj a.
97 (2) Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
pengelolaan Keuangan Haji diaudit oleh akuntan publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
NOMOR DIM 98 99 100 101 102 103
RUU USUL PEMERINTAH .
Pasal 25
BPKH bertanggung jawab atas pelak.sanaan
pengelolaan Keuangan Haji
sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 26
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengelolaan Keuangan
Haji
diatur
dengan
Peraturan Pemerintah.
BABV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 27
Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan oleh
Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling
lambat 1 (satu) tahun sejak. Undang-Undang ini
diundangkan.
Pasal 28
BPKH harus sudah terbentuk paling lambat 1
(satu)
tahun
sejak
Undang-Undang
ini
diundangkan.
Pasal
29Paling lama 6 (enam) bulan sejak terbentuknya
BPKH, semua aktiva dan pasiva serta hak dan
kewajiban hukum atas Dana Haji beserta kekayaan
pengelolaan Keuangan Haji menjadi hak dan
kewajiban hukum BPKH.
... .. HASIL RAP.4T
4
SEPT 14.··
NOMOR RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT
14
DIM . I• .· . 104 Tetap Pasal 30Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Undang-Undang
..
llll denganpenempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
105 Disahkan di Jakarta Tetap
Pada tanggal ...
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
106 Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal...
Tetap MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUS IA
REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN
107 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK Tetap
1
2.
3.
REKAP DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM)
RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG
PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI
Hasil Panja Pada Tanggal 9 Sept 2014
RAN CAN GAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI DENGAN RAHMATTUHAN
YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA, Menimbang
a. bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap warga negara untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu;
b.bahwa jumlah Warga Negara Indonesia yang berkeinginan menunaikan lbadah Haji terus meningkat sedangkan kuota terbatas sehingga mengakibatkan
menin katn a umlah
Disepakati Panja, nama RUU Tentang
Pengelolaan Keuangan Haji (ketok palu 4 Sept 2014)
Tetap
Disepakati Panja Perubahan Redaksi dan
diserahkan ke Tim Perumus (ketok palu
4Sept 2014)
RAN CAN GAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA, Menimbang
a. bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan
kepercayaannya itu sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa jumlah penduduk Warga Negara Indonesia yang berkeinginan
menunaikan lbadah Haji terus meningkat sedangkan kuota Haji terbatas sehingga
mengakibatkan meningkatnya 'umlahJemaah Ha'i tun u;
' '
.· , No.. ··
Ruu'.usuL
PEMERINTAH
··01M
···
4.
5.
6
Jemaah Haji tunggu dan terjadinya akumulasi Dana
Haji;
c.bahwa akumulasi Dana Haji sebagaimana dimaksud dalam huruf b, berpotensi ditingkatkan nilai manfaatnya
guna mendukung
penyeleggaraan lbadah Haji yang lebih berkualitas melalui pengelolaan keuangan haji yang tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab;
d. bahwa untuk menjamin pengelolaan keuangan haji yang tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam huruf c, memerlukan payung hukum yang kuat; e. bahwa berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang
Pengelolaan Keuangan Haji;
HASlL
.RAPAI4
SEPT 14disepakati Panja diserahkan kepada Tim Perumus (Ketok Palu 4 Sept 2014)
Disepakati Panja
Perubahan redaksi maka diserahkan ke Tim Perumus (ketok palu 4 Sept 2014) Kesepakatan: disepakati perubahan Redaksi maka diserahkan ke Timus (4sept2014) Rumusan usL1lan tfrn tekhis .DPR
c. bahwa peningkatan jumlah Jemaah Haji tunggu mengakibatkan terjadinya penumpukan akumulasi Dana Haji;
d. bahwa akumulasi Dana Haji berpotensi ditingkatkan nilai manfaatnya guna mendukung penyeleggaraan lbadah Haji yang lebih berkualitas melalui pengelolaan keuangan haji yang efektif, efisien, transparan, akuntabel, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e.bahwa untuk menjamin pengelolaan keuangan haji yang efektif, efisien, transparan, akuntabel, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan memerlukan payung hukum yang kuat;
f. bahwa berdasarkan
pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Pengelolaan Keuangan Haji;
(\JO.··... RUUUSUL .. PEMERINTAH I DIM . ·•.. .. . '.\ . . 7 8
9
1011
:. . Mengingat Pasal 5 ayat (1 ), Pasal 20, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; DenganPersetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK I NOON ES IA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI SABI KETENTUAN UMUM Pasal 1Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
...
HASIL RAPAT 4 SEPT 14 .
Disepakati Panja apakah usulan diserahkan kepada Tim Perumus Cata tan:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, 20A ayat (1) dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; usulan FPKS dan FGer juga Pasal 23, apakah dapat menjadi konsideran mengingat? Tetap Tetap Undang-Undang Tentang Pengelolaan Keuangan Haji Tetap Tetap I Rumusan usulan · .. timteKnisPPR ··. Mengingat
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK I NOON ES IA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN HAJI SABI KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
NO.
· ·OIM
12
13
14
RUU USUL PEMERINTAH · 1. Keuangan Haji adalah semua hak dan kewajiban Pemerintah yang dapat dinilai dengan uang terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji, serta semua kekayaan dalam bentuk uang atau barang yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
2.
Dana HaJi adalah dana setoran Bia ya Penyelenggaraan lbadah Haji dan hasil pemanfaatannya yang dikuasai of eh negara dalam rangka penyelenggaraan ibadah haji. 3. Sadan Pengelola Keuangan Haji yang selanjutnya disingkat BPKH adalah lembagayang melakukan
pengelolaan Dana Haji.
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
Disepakati Perubahan substansi dan
Perumusan norma diserahkan kepada Tim Perumus
Disepakati juga BPKH juga bisa menerima dana dari sumber lain yang sah dan tidak mengikat, serta dirinci jenisnya, masuk dalam norma Dan masuk dalam ketentuan umum
Disepakati pengelolaan Abadi Umat (DAU diintegrasikan dalam pengelolaan Dana haji dan masuk dalam RUU PKH,
Dan sepakat dg Pemerintah bahwa seyogyanya hanya satu badan yang mengelola DAU
Panja juga sepakat pembahasan mendalam dan perumusannya dalam Rapat Tim
erumus.
Disepakati diserahkan kepada Tim Perumus
Rumusan usulan
I.
Keuangan
Haji
adalah
segala sesuatu yang berkaitan
dengan uang atau barang yang
dapat dinilai dengan uang yang
terkait dengan penyelenggaraan
ibadah
haj i
dan
en emban ann a
\
2. ana Haji adala sejumlah dana yang berasal dari Biaya Penyelenggaraan I bad ah Haji, Hasil pengalihan aset Dana Abadi Umat, dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat serta hasil pengembangannya.
3. Sadan Pengelola Keuangan Haji yang selanjutnya disingkat BPKH adalah badan hukum publik yang melakukan pengelolaan keuangan Haji.
·.NO;
DIM
15 16 17 .·RUU fJsuL PEMERINTAH
.·
4. Kas Haji adalah rekening Menteri pada Bank Sentral yang digunakan untuk menampung Dana Haji.
5. Bia ya Penyelenggaraan lbadah Haji yang selanjutnya disebut BPIH adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan lbadah Haji.
6. Jemaah Haji adalah Warga Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan lbadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
'HASIL RAPAT4 SEPT I 14
Disepakati
perumusannya kepada Tim Perumus
Catatan:
disepakati bahwa kas haji adalah Rekening Bad an
Sedangkan jamaah dapat memiliki Virtual Account jamaah, Rekening BPKH pada bank Umum atau bank Syariah untuk
menampung dana-dana jam a ah
Sedangkan pada penjelasan jemaah memiliki virtual Account namajamaah
Tetap
Rumusan usuJan tim teknis DPR
4. Kas Haji adalah rekening BPKH pada Bank Sentral yang digunakan untuk menampung Dana Haji.
5. Biaya Penyelenggaraan lbadah Haji yang selanjutnya disingkat BPIH adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan lbadah Haji.
Biaya Penyelenggaraan lbadah Haji Khusus yang selanjutnya disebut BPIHK adalah sejumlah dana yang harus dibayar oleh Warga Negara yang akan menunaikan lbadah Haji Khusus. 6. Jemaah Haji adalah Warga
Negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan lbadah Haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
:: .·.·.; . , ,.
1 •·
~No.
.·
I·RUU
uspl.. .
PEME·~n~TAH
DIM. ·.
·
, :, • ·,;~\/,, _.:;-. <·'.'.'·,~,-'j)( \> ·.··;•.· ··,. -,. .. ' .. >~!-~:,,'. 18 7. Pemerintah adalah 19 20 Pemerintah Pu sat Republik Indonesia.8. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agarna.
Pasal2
Pengelolaan Keuangan Haji berasaskan:
21 la. prinsip syariah; 22 23 24 b. manfaat; dan c. prinsip kehati-hatian. Pasal3
Pengelolaan Keuangan Haji
bertujuan untuk
meningkatkan;
HASIL.
RAPAT
4 SEPT14 , , ,
, '
Tetap
disesuaikan dg DIM 9
DIM 22 Disepakati Panja
Disepakati: penarnbahan frase dan perumusannya diserahkan kepada Ahli
bahasa
Sesuai dengan DIM 9
Rumusan usulan
·· .. tfrn
teknisbf'k
,
.·..
;: ,· , '• ' > ., • " • .; •• <
7.Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintah Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Catatan: disesuaikan dengan UU No 32 Tahun 2004 ttg Pemda. 9.Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama.
Pasal2
Pengelolaan Keuangan Haji berasaskan: a. prinsip syariah; b. manfaat; dan c. prinsip kehati-hatian. d. Nirlaba
e. Transparansi
f. Akuntabilitas Pasal 3Pengelolaan Keuangan Haji bertujuan untuk rneningkatkan;
;:
HASIL RAPAT4 SEPT Rumusan usulan
NO.
RUU USUL PEMERINTAHDIM;• .. 14 tirn teknis DPR
'•· > .•·'<.· ..
.
; . . ;. .. ·. . . .
26 b. rasionalitas dan efisiensi Disepakati Panja b. rasionalitas dan efisiensi
penggunaan BPIH; dan diserahkan kepada Tim penggunaan BPIH; dan
Perumus
27 c. manfaat bagi Disepakati Panja c.manfaat bagi kemaslahatan
kemaslahatan umat Islam. diserahkan kepada Tim umat Islam.
Peru mus 28
BAB II Disesuaikan dg DIM 9 BAB II
KEUANGAN HAJI KEUANGAN HAJI
29 Pasal4 Disesuaikan dg DIM 9 Pasal4
Keuangan Haji meliputi: Keuangan Haji meliputi:
30
a. penerimaan; a. penerimaan;31
b. kekayaan yang berasal b. kekayaan yang berasaldari pengelolaan Dana Tetap dari pengelolaan Dana Haji; dan
Haji; dan
32
c. pengeluaran. Disepakati diserahkan c. pengeluaran.kepada Tim Perumus
33
Pasal5 Pasal5
Penerimaan Keuangan Haji Penerimaan Keuangan Haji
sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud dalam
dalam Pasal
4
huruf a Pasal 4 huruf a meliputi:meliputi:
34 a.setoran BPIH; a.BPIH dan BPIHK
35
b.nilai manfaat BPIH; b.hasil pengalihan asset DAU36 c.hibah; dan/atau c.sumber lain yang sah dan tidak
mengikat.
Masukan untuk penjelasan: Sumber lain yang sah dan tidak mengikat antara lain:
Hibah, Zakat, lnfak, Sadaqoh, Wakaf, dan dana social lainnya. Sesuai lamoiran II UU no 12
·.
.
3738
39 .:· '. RtJU
US.UL
PEMERINTAHd. sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
Pasal6
(1) Setoran BPIH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a diperoleh dari Jemaah Haji.
(2) Setoran BPIH dari Jemaah Haji
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan ke Kas Haji melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang memiliki layanan yang bersifat nasional dan memiliki layanan syariah yang ditunjuk oleh Menteri.
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
DIM 37 disepakati Catatan: Karena disebutkan beberapa
kali, maka kalimat "sumber lain yang sah
dan tidak mengikat' dirumuskan dalam ketentuan umum
Panja lebih condong menggunakan kata
setoran menjadi tabungan dan BPIH menjadi BPIH/BPIHK
Penyempurnaan rumusan pasal diserahkan kepada Tim perumus (Senin, 8 Sept
2014)
Panja sepakat BPIH menjadi BPIH/BPIHK, dan kata Menteri diganti BPKH
Catatan: perlu ada ditambahkan ayat yang menyatakan bahwa BPIH dan BPIHK hanya dpt diambil jika ada klausul sprt meninggal dunia, mengundurkan diri. Rumusannya diserahkan kpd tim perumus Runiusan us.utan . timJeknis .PPR '">'' q .· . ( • . • •• •• • • • • • ••.• Tahun 2011 ttg pembentukan peraturan perundang-undangan, maka tidak perlu menjadi
Ketentuan Umum
d.hasil pengembangan Dana Haji.
Pasal 6
(1) BPIH dan BPIHK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a diperoleh dari tabungan Jemaah Haji.
(2)BPIH dan BPIHK dari Jemaah Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibayarkan ke Kas Haji melalui bank syariah dan/atau bank umum nasional yang memiliki layanan yang bersifat nasional dan memiliki layanan syariah. (3) bank syariah dan atau bank umum nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditunjuk oleh BPKH.
40
41
42
43
RUU
Usul.
PEMERINTAH',, . .. ' · .. ,,' '
Pasal7
Setoran BPIH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
merupakan dana titipan Jemaah Haji untuk Penyelenggaraan I bad ah Haji.
Pasal
8
{1) Nilai manfaat BPIH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b diperoleh dari hasil pengelolaan Dana Haji.
(2) Hasil manfaat BPIH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada Kas Haji.
Pasal9
Penerimaan hibah dan/atau sumber lain yang sah dan tidak mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c dan huruf d dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. l-iASILRAPAT 4 SEPT .14 Diserahkan ke Tim perumus, (perubahan redaksi) Perubahan Redaksi, maka diserahkan ke tim
Peru mus
Perubahan Redaksi, maka diserahkan ke tim Perumus
Perubahan Redaksi, maka diserahkan ke tim
Perumus
Rumusan usulan tim teknis PPR
Pasal7
BPIH dan BPIHK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 merupakan dana titipan Jemaah Haji untuk Penyelenggaraan lbadah Haji.
Catatan: sudah masuk dalam ketentuan umum
Pasal8
(1) Nilai manfaat BPIH dan BPIHK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b diperoleh dari hasil pengelolaan Dana Haji. Catatan: pasal ini di hapus,
karena nilai manfaat BPIH termasuk bagian dari dana haji yang telah diatur dalam ketentuan umum dan pasal
5.
Catatan: pasal ini di hapus, karena nilai manfaat BPIH termasuk bagian dari dana haji yang telah diatur dalam ketentuan umum dan pasal
5.
Catatan: pasal ini di hapus, karena nilai manfaat BPIH termasuk bagian dari dana haji yang telah diatur dalam ketentuan umum dan pasal
44 45 46
47
~l.Ju:usui..
.
PEMERiNTAH Pasal 10Kekayaan yang berasal dari pengelolaan Dana Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b dapat berupa uang, surat berharga, piutang, emas, serta barang dan hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang.
Pasal 11
(1)Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c meliputi pengeluaran untuk:
a. Penyelenggaraan lbadah Haji; dan
b. operasional BPKH.
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
Tetap
Perubahan Redaksi, maka diserahkan ke tim
Perumus
Panja sepakat tetap
·. Rumusan usulan .
. .
tilll
tek~isDPR
·'·,': ,. ·:~-'·
Catatan: pasal ini di hapus, karena nilai manfaat BPIH termasuk bagian dari dana haji yang telah diatur dalam ketentuan umum dan pasal 5
Pasal11
(1) Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c meliputi pengeluaran untuk:
a. Penyelenggaraan Haji; dan
lbadah
Pemerintah: tdk ada b.operasional BPKH. APBN tuk Operasional
BPKH c.kemaslahatan umat Islam Tambahan (9sep14) d.pengembalian BPIH dan BPIHK bahwa ada tambahan Jemaah haji yang membatalkan pengeluaran BPKH jika keberangkatannya dengan
calh~j membatalkan alasan yang sah. pors1nya.
Disepakati rumusan catatan: penjelasan untuk alasan yang sah, misalnya sakit atau menin al dunia.
(2) Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan BPKH dan ditetapkan oleh Menteri setelah mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
NO. DIM
. · ;
48
49
RUU
USUL
PEMERINTAH..
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
(2) Pengeluaran untuk Panja sepakat rumusan Penyelenggaraan lbadah RUU
Haji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dengan memindahkan dana dari Kas Haji ke kas satuan kerja penyelenggara lbadah Haji atas nama Menteri.
(3) Pengeluaran untuk
operasional BPKH Panja Sepakat kata sebagaimana dimaksud menteri dig anti menjadi pada ayat ( 1) huruf b kepala BPKH
dilakukan dengan memindahkan dana dari Kas Haji ke kas BPKH atas nama Menteri.
(3) Pengeluaran untuk operasional BPKH sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi :
Perubahan Redaksi, maka diserahkan ke tim Perumus
Rumusan usulan
tirn
teknis DPRPasal 12
Pengeluaran untuk Penyelenggaraan lbadah Haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a dilakukan dengan cara memindahkan dana dari Kas Haji ke kas satuan kerja penyelenggara lbadah Haji atas nama Menteri.
Pasal 13
( 1) Pengeluaran untuk operasional BPKH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat ( 1) huruf b dilakukan dengan memindahkan dana dari Kas Haji ke kas BPKH atas nama Kepala BPKH.
(2) Pengeluaran untuk operasional BPKH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
51 a. belanja personal; dan Panja sepakat belanja a. belanja pegawai; dan Personal di ganti belanja
52 b. belanja operasional kantor; Pegawai Dan di penjelasan dijabarkan bahwa belanja pegawai adalah: ....
DIM 52 disepakati, dan Panja sepakat ada penambahan point C.
bahwa pengeeluaran untuk kepentingan sosial
b. belanja operasional kantor;
NO. DIM ' , ' 53
54
5556
RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT ,, 14
(4) Pengeluaran Panja sepakat rumusan
sebagaimana dimaksud menjadi
pada ayat (3) dilakukan
dengan prinsip rasional,
ekonomis, efektif, dan
efisien. (5) Besaran pengeluaran untuk operasional BKPH ditetapkan of eh Menteri. (7) Pengeluaran Keuangan Haji sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan persetujaun Menteri. BAB Ill PENGELOLA KEUANGAN HAJI Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan prinsip rasional, ekonomis, efektif, efisien, transparan dan
akuntabel
Panja sepakat bahwa pengeluaran untuk operasional BPKH diusulkan BPKH ditetapkan Menteri setelah mendapat persetujuan DPR
Panja sepakat rumusan DIM 55 disesuaikan dengan
DIM 54
Disepakati panja Rumusan usulan tim teknis DPR ' (3) Pengeluaran sebagaimanadimaksud pada ayat (2)
dilakukan dengan prinsip
rasional, efektif, efisien,
transparan, dan akuntabel,
(5)Besaran pengeluaran untuk
operasional BKPH ditetapkan
oleh Menteri.
Catatan: dihapus karena sudah diakomodir dalam Pasal 11 ayat
(2).
(+) Pengeluaran Keuangan Haji
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan
berdasarkan persetujaun
Menteri.
Catatan: sudah dipindahkan ke Pasal 11 ayat (2)
BAB Ill
PENGELOlA KEUANGAN HAJI
BAB
IllBPKH
Catatan: Bab Ill seharusnya
berjudul BPKH, karena
substansinya meliputi ttg BPKH, mulai dari organ, fungsi, tugas, hak, dan kewajiban.
NO.
. DIM
..
57
·•
RUU USUL PEMERINTAH
' •' ...
Pasal 12
(1) Pengelolaan Keuangan
Haji dilakukan oleh
Pemerintah. HASIL RAPAT4SEPT
14
Disepakati dengan mengubah redaksi Pemerintah menjadi BPKH Rumusan usulan tirn teknisDPR
Bagian Kesatu Um um Pasal14
(1) Pengelolaan Keuangan Haji dilakukan oleh BPKH.
(2) Pengelolaan Keuangan Haji
oleh BPKH sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara korporatif dan nirlaba.
Bagian Kedua Tugas, Fungsi, Hak, dan
Kewajiban
Paragraf 1
Tug as
Pasal 15
BPKH
bertugas mengelola
Keuangan
Haji
yang
meliputi
penerimaan,
pengembangan,
pengeluaran
dan
pertanggungjawaban Dana
Haji.
Paragraf 2 FungsiPasal 16
HASH,. RAPAJ 4 SEPT
14
Rumusa11··usulansebagaimana
pada
Pasal
dimaksud
15,
BPKH
menyelenggarakan fungsi:
a. perencanaan
penerimaan,
pengembangan
dan
pengeluaran Dana Haji;
b. pelaksanaan
penerimaan,
pengembangan
dan
pengeluaran Dana Haji;
c. pengendalian
dan
pengawasan
penerimaan,
pengembangan
dan
pengeluaran Dana Haji;
dan
d. pelaporan
dan
pertanggungjawaban
pelaksanaan
penerimaan,
pengembangan
dan
pengeluaran Dana Haji.
Paragraf
3
Wewenang
Pasal 17
Dalam melaksanakan tugas
sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal
15,
BPKH
berwenang untuk:
RUUUSUL PEMERiNiAH HASIL RAPAT4 SEPT
14
Rumusan usulan . tillJ
tekhi~
OPF{ ..Hak
Pasal 18
Untuk melaksanakan tugas
dan fungsi
sebagaimana
pada Pasal 15 dan Pasal
16, BPKH memiliki hak
memperoleh
dana
operasional
untuk
penyelenggaraan
program
pengelolaan keuangan haji
yang bersumber dari Dana
Haji
dan/ atau
sumber
lainnya
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan;
a. menempatkan
dan
menginvestasikan dana
haji
sesuai
prinsip
syariah
dengan
mempertimbangkan
aspek
kehati-hatian,
keamanan,
dan
nilai
manfaat; dan
b. melakukan kerja sama
dengan pihak lain dalam
rangka
pengelolaan
keuangan haji.
Paragraf 5
Kewajiban
Pasal 19
Untuk melaksanakan tugas
dan fungsi sebagaimana
pada Pasal 15 dan Pasal
RUU U,SUt..
PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT Rumusan usulan · .. tim teknisDPR16,
BPKH
berkewajiban
untuk:
( 1)mengelqla
keuangan
haji secara transparan
clan akuntabel untuk
sebesar-besamya
kepentingan
Jemaah
clan
kemaslahatan
umat islam;
(2) memberikan informasi
melalui media massa
cetak dan elektronik
mengenai
kinerja,
kondisi keuangan, serta
kekayaan
dan
hasil
pengembangannya;
(3) memberikan informasi
kepada Jemaah haji
mengenai saldo setoran
BPIH / BPIH
khusus
secara berkala;
(4) melakukan pembukuan
sesuai dengan standar
akuntansi
yang
berlaku;
(5) melaporkan
pelaksanaan pengelolan
keuangan
haji,
termasuk
kondisi
keuangan,
secara
berkala 6 ( enam) bulan
sekali kepada Menteri
dengan
tembusan
kepada
Dewan
HASlL RAPAT 4 SEPT Rumusan usulan
····NO.
RUU USUL PEMERINTAHDIM I• 14 timteknis.DPR ..
.. .. ···. " .. :·: .· . ... · ..·. .·. ·
...
) . ... ·ORGAN BPKH
Pasal20 Paragraf 1Um um
Pasal20
Organ BPKH terdiri atas: a. Sadan Pelaksana; dan
b.
Dewan PengawasParagraf 2 Sadan Pelaksana
Pasal21
Organ BPKH terdiri atas
Kepala
BPKH,
Badan
Pelaksana
dan
Dewan
Pengawas
KepalaBPKH
Pasal 22
( 1)
Kepala BPKH diangkat
dan diberhentikan oleh
Presiden.
(2)
Kepala BPKH diangkat
untuk jangka waktu 5
(lima) tahun dan dapat
diusulkan
untuk
diangkat kembali untuk
. RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT4 SEPT 14 Rumusan µsulan
·
tirn.tekni$.·b~R
.
jabatan berikutnya.
(3) Kepala
sebagaimana
(4)
disebut pada ayat
(1)memiliki tugas pokok
memimpin BPKH dalam
menjalankan
tu gas,
fungsi dan wewenang
BPKH.
Ketentuan lebih lanjut
mengenai
tata
car a
pemilihan,
pengangkatan,
dan
pemberhentian Kepala
BPKH
diatur dengan
Peraturan Presiden.
Badan Pelaksana
Pasal
23
(1)Badan
Pelaksana
mempunyai
tugas
merencanakan
dan
melaksanakan
program
pengelolaan
keuangan haji yang
meliputi
penerimaan,
pengembangan,
dan
pengeluaran dana haji
serta
mempertanggungjawab
kan dan melaporkan
pengelolaan Keuangan
Haji kepada Presiden
dan Dewan Perwakilan
Rakyat
melalui
Menteri.
NO.
DIM
;!,:''<<>
,.,'·~--HASIL RAPAT 4 SEPT 14
Rumusan usulan ·· tim teknis DPR
dimaksud pada ayat
( 1), Badan Pelaksana
menyelenggarakan
fungsi:
a. menyiapkan
rumusan kebijakan,
rencana
strategis,
dan rencana kerja
serta
anggaran
tahunan
pengelolaan
keuangan haji;
b.
melaksanakan
program
pengelolaan
keuangan haji yang
telah ditetapkan;
c. melakukan
penatausahaan
pengelolaan
keuangan haji dan
aset BPKH sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan;
d. melaporkan
pelaksanaan
program
dan
anggaran tahunan
pengelolaan,
keuangan
secara
kepada
Pengawas;
e. menyiapkan
haji,
berkala
Dewan
la po ran
tahunan
dan
la po ran
·awaba
HASIL RAPAT 4 SEPT 14 Rumusan usulan
n
BPKH
kepada
Presiden
dan
Dewan Perwakilan
Rakyat
Republik
Indonesia;
teknis
f.
menetapkan
ketentuan
pelaksanaan
operasional BPKH;
g. menyelenggarakan
administrasi
haji
dengan
pengelolaan
keuangan
sesuai
ketentuan
peraturan
perundang-undangan; dan
h. membuat
laporan
keuangan
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan.
(3) Dalam melaksanakan
tugas
se bagaimana
dimaksud pada ayat
(2), Badan Pelaksana
berwenang untuk:
a. melaksanakan
wewenang BPKH;
b. menetapkan
struktur organisasi
beserta tugas pokok
dan
fungsi,
tata
HASIL RAPAT4 SEPT 14 Rumusan usulan tim teknis DPR ' . ·~ "'.· , " ,, , ;
(1), ayat (2),
(3)diatur
Peraturan
BPKH.
Pasal24
dan ayat
dengan
Kepala
( 1) Badan
Pelaksana
terdiri
atas
paling
sedikit 5 (lima) orang
anggota yang berasal
dari unsur profesional.
(2) Anggota
Badan
Pelaksana
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1)
diangkat
dan
diberhentikan
oleh
Presiden.
(3) Presiden menetapkan
salah
seorang
dari
anggota
Badan
Pelaksana
sebagaimana
dimaksud pada ayat
( 1)
se bagai
Kepala
Badan Pelaksana.
( 4) Anggota
Badan
Pelaksana
diangkat
untuk jangka waktu 5
(lima) tahun dan dapat
diusulkan
untuk
diangkat
kembali
untuk 1 (satu) kali
ma.sa
jabatan
berikutnya.
HASIL RAPAT4SEPT
14
Rumusan usulan Dewan Pengawas Pasal25Dewan Pengawas
Pasal 24
( 1) Dewan
Pengawas
mempunyai
tug as
pengawasan terhadap
pengelolaan Keuangan
Haji
yang
meliputi
perencanaan
dan
pelaksanaan
penerimaan,
pengembangan,
dan
pengeluaran dana haji
dan melaporkan hasil
pengawasannya
kepada Menteri secara
berkala.
(2) Dalam
pelaksanaan
tugas
sebagaimana
dimaksud pada ayat
( 1), Dewan Pengawas
menyelenggarakan
fungsi:
a. melaksanakan
penilaian
atas
· rumusan kebijakan,
rencana
strategis
dan rencana kerja
serta
anggaran
tahunan
pengelolaan
keuangan haji;
.;, ,
RUU
USUL
PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT 14Rumusan usulan
tim teknis DPR
pelaksanaan
pengelolaan
keuangan haji; dan
c. menilai
dan
memberikan
pertimbangan
terhadap
la po ran
pertanggungjawaba
n
pelaksanaan
pengelolaan
Keuangan Haji dan
pengelolaan BPKH
sebelum ditetapkan
menjadi
laporan
BPKH.
(3) Dalam
menjalankan
fungsi
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(2), Dewan Pengawas
berwenang untuk:
a. memberikan
persetujuan
atas
rencana
strategis
dan rencana kerja
serta
anggaran
tahunan
pengelolaan
keuangan haji;
b. mendapatkan
dan/atau meminta
laporan dari Badan
Pelaksana;
c. mengakses
data
dan
informasi
mengenai
pengelolaan
keuangan haji;
d. melakukan
"NO; 'DIM
HASIL RAPAT 4SEPT
14
Rumusan. usulan
penelaahan
terhadap data dan
informasi mengenai
pengelolaan
keuangan haji; dan
e. memberikan saran
dan
rekomendasi
kepada
Presiden
melalui
Menteri
mengenai
kinerja
Badan Pelaksana.
(4) Ketentuan
mengenai
tata cara pelaksanaan
tugas,
fungsi
dan
wewenang
Dewan
Pengawas
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(1),ayat
(2Ldan ayat
(3)diatur
dengan
Peraturan
Kepala
BPKH.
Pasal 25
Dewan Pengawas
( 1) Dewan
Pengawas
terdiri atas 7 (orang)
orang anggota yang
berasal
dari
unsur
profesional.
(2) Dewan
Pengawas
sebagaimana
RUU USUL PEMERINTAH HASIL RAPAT 4SEPT
·14
· Rumusan. usulan tirl) teknis [)PR
(lima)
orang
unsur
masyarakat.
(3) Anggota
Dewan
Pengawas yang berasal
dari unsur Pemerintah
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(2) terdiri atas 1 ( satu)
orang
dari
kementerian
yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan
di bidang agama dan 1
(satu)
orang
dari
kementerian
yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan
di bidang keuangan.
(4) Anggota
Dewan
Pengawas yang berasal
dari unsur Pemerintah
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(3)
diusulkan
oleh
menteri
yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan
di bidang agama dan
menteri
yang
menyelenggarakan
urusan pemerintahan
di bidang keuangan.
(5) Anggota
Dewan
Pengawas yang berasal
dari unsur masyarakat
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(2) dipilih oleh panitia
seleksi
dibentuk
RUU
USlJL PEMER.INTAH HASl.L RAPAT4 SEPT 14 Rumusan usulanoleh Presiden.
Dewan
(6) Anggota
Pengawas
sebagairnana
dirnaksud pada
(1)diangkat
diberhentikan
Presiden.
ayat
dan
oleh
(7)Presiden rnenetapkan
salah
seorang
dari
anggota
Dewan
Pengawas
se bagairnana
dirnaksud pada ayat
( 1)sebagai
Ketua
Dewan Pengawas.
(8)Anggota
dewan
pelaksana
diangkat
untuk jangka waktu 5
(lirna) tahun dan dapat
diusulkan
untuk
diangkat
kernbali
untuk
1
(satu) kali
rnasa
jabatan
berikutnya.
(9)
Dalarn rnelaksanakan
tugas dan fungsinya,
Dewan
Pengawas
dapat
dibantu
oleh
sebuah kornite audit.
( 10)Pembentukan
komite
audit ditetapkan oleh
Kepala BPKH.
HASIL RAPAT 4SEPT 14 Rumusan·usulan . .
tirhtekpis.DPR;
PENETAPAN,
DAN PEMBERHENTIAN
KEPALA BPKH, ANGGOTA
BADAN PELAKSANA
DAN ANGGOTA DEWAN
PENGAWAS
Persyaratan Kepala BPKH,
Anggota Badan Pelaksana
dan Anggota Dewan
Pengawas
Persyaratan Umum
Pasal 26
(1) Untuk dapat diangkat
sebagai Kepala BPKH,
anggota
Badan
Pelaksana dan anggota
Dewan
Pengawas,
calon
yang
bersangkutan
harus
memenuhi
syarat
sebagai berikut:
a. warga
negara
Indonesia;
b. beragama Islam;
c. sehat jasmani dan
rohani;
d. memiliki integritas
dan
kepribadian
yang tidak tercela;
NO,··
DIM
RUU USUL PEMERINTAH ·· HASIL RAPAT 4 SEPT
14
Rumusan ·usulan· .. , · . ' . ..,
tirn'· ,'>
teknis' of>i=r .: ·
• • • ,, " ' · · " · <· :. / 'e. memiliki kualifikasi
dan
kompetensi
yang sesuai untuk
pengelolaan
Keuangan Haji;
f.
berusia
paling
rendah 40 (empat
puluh) tahun dan
paling
tinggi
60
(enam puluh) tahun
pada
saat
dicalonkan menjadi
anggota;
g. tidak
anggota
menjabat
pengurus
politik;
menjadi
a tau
sebagai
partai
sedang
tersangka
terdakwa
h. tidak
menjadi
a tau
dalam
proses
peradilan; dan
i.
tidak
pernah
dipidana
penjara
berdasarkan
putusan pengadilan
yang
tel
ah
memperoleh
kekuatan
hukum
tetap
karena
melakukan tindak
pidana
kejahatan
yang
diancam
dengan
pidana
penjara
5
{lima)
NO; RUU USUL PEMERINTAH DINI .. ,
.. ·.
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
I· . Rumusan usulan tini teknis DPRKepala
BPKH
serta
anggota
Badan
Pelaksana dan anggota
Dewan Pengawas tidak
boleh
merangkap
jabatan
di
pemerintahan, badan
hukum lainnya atau
sebagai
pejabat
negara.
Persyaratan Khusus
Pasal 27
Se
lain
harus
memiliki
persyaratan
um um
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pasal
25,
calon
Kepala BPKH serta anggota
Badan
Pelaksana
dan
anggota Dewan Pengawas
harus
memenuhi
persyaratan khusus, yaitu:
a.
mendapat
rekomendasi
dari
ketua/ pimpinan
dari
lembaga/ organisasi
asalnya.
b.
memiliki
kompetensi
dan
pengalaman
di
bidang
pengawasan
paling sedikit
5 (lima)
tahun.
NO.. RUU USUL PEMERINTAH .DIM
HASIL RAPAT 4 SEPT
14
Rumusan usulan tim teknis · DPR
Penetapan
Kepala BPKH, Anggota
Badan Pelaksana dan
Dewan Pengawas
Pasal 28
.
(1)
Untuk memilih dan
menetapkan
Kepala
BPKH, anggota Badan
Pelaksana dan anggota
Dewan
Pengawas,
Presiden
membentuk
panitia seleksi yang
bertugas
melaksanakan
ketentuan yang diatur
dalam Undang-Undang
ini.
(2) Keanggotaan
panitia
seleksi
sebagaimana
dimaksud pada ayat
( 1) terdiri atas 3 (tiga)
orang
unsur
Pemerintah
dan
6
(enam) orang unsur
masyarakat.
(3) Keanggotaan
panitia
seleksi
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(2) ditetapkan dengan
Keputusan Presiden.
Pasal 29
(1) Panitia
seleksi
sebagaimana
RUU USUL. PEMERINTAH HASIL RAPAT 4 SEPT
14
Rumusan uslilanpenerimaan
pendaftaran
cal on
Kepala BPKH, anggota
Badan Pelaksana dan
anggota
Dewan
Pengawas paling lama
5
(Hrna)
hari kerja
setelah ditetapkan.
(2)
Pendaftaran
dan
seleksi calon Kepala
BPKH, anggota Badan
Pelaksana dan anggota
Dewan
Pengawas
dilakukan
dalam
waktu
10
(
sepuluh)
hari
kerja
secara
terus-menerus.
(3)
Panitia
seleksi
mengumumkan nama
calon Kepala BPKH,
anggota
Badan
Pelaksana dan anggota
Dewan
Pengawas
kepada
masyarakat
untuk
mendapatkan
tanggapan paling lama
5
(lima)
hari kerja
setelah
pendaftaran
ditutup.
( 4)
Tanggapan
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(3)
disampaikan
kepada panitia seleksi
paling lama 15 (lima
belas)
hari
kerja
terhitung sejak tanggal
diumumkan.
RU.U
USUL PEMERINTAH
HASI[ RAPAT4SEPl14
menentukan
calon
Kepala BPKH, anggota
Badan Pelaksana dan
anggota
Dewan
Pengawas yang akan
disampaikan
kepada
Presiden sebanyak 2
(dua)
kali
jumlah
jabatan
yang
diperlukan paling lama
10 (sepuluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal
ditutupnya
masa
penyampaian
tanggapan
dari
masyarakat.
Pasal 30
( 1) Presiden memilih dan
menetapkan
anggota
Dewan Pengawas yang
berasal
dari
unsur
Pemerintah
dan
anggota
Badan
Pelaksana
berdasarkan usul dari
panitia seleksi.
(2) Presiden mengajukan
nama
calon
Kepala
BPKH
dan
anggota
Dewan Pengawas yang
berasal
dari
unsur
masyarakat
kepada
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Republik
Indonesia sebanyak 2
·<;··,'.; .... ·'. .. ··.,. .·,;>;;,',
,.·
. HASIL RAPAT 4 SEPT
... 14°
Rumusan usulan .· .
lama 10 ( sepuluh) hari
kerja terhitung sejak
tanggal
diterimanya
daftar nama calon dari
panitia seleksi.
(3) Dewan
Perwakilan
Rakyat
Republik
Indonesia
memilih
Kepala
BPKH
dan
anggota
Dewan
Pengawas yang berasal
dari unsur masyarakat
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(2),
paling lama 20
(dua puluh) hari kerja
terhitung sejak tanggal
penerimaan
usulan
dari Presiden.
(4) Pimpinan
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Repu blik
Indonesia
menyampaikan nama
cal on
terpilih
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(3)
kepada Presiden
paling lama 5 (lima)
hari kerja terhitung
sejak
tanggal
berakhirnya
pemilihan.
(5) Presiden menetapkan
cal on
terpilih
sebagaimana
dimaksud pada ayat
( 4)
paling lama 10
(sepuluh)
hari kerja
terhitun se'ak tan al
HASIL
RAPAT4
SEPT14
Rumusantssutah
< •••• ' ••• • • ·.··.' ' ! / ' '
penerimaan surat dari
pimpinan
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Repu blik Indonesia.
(6) Penetapan
anggota
Dewan Pengawas dari
unsur pemerintah dan
anggota
Badan
Pelaksana
dilakukan
bersarna-sarna dengan
pen eta pan
Kepala
BPKH
dan
anggota
Dewan
Pengawas
sebagaimana
dimaksud pada ayat
(5).Pasal 31
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
tata
cara
pemilihan dan penetapan
Kepala
BPKH,
Badan
Pelaksana
dan
Dewan
Pengawas
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28,
Pasal 29, dan Pasal 30
diatur dengan Peraturan
Presiden.
Pemberhentian
RUU U$UL PEMERINTAH .. HASJL RAPAT
4
SEPT14'
anggota Dewan Pengawas
berhenti dari jabatannya
karena:
a. meninggal dunia;
b. masa jabatan berakhir;
a tau
c. diberhentikan.
Pasal 33
( 1) Kepala BPKH, anggota
Badan Pelaksana atau
anggota
Dewan
Pengawas
dapat
diberhentikan
sementara karena:
a. sakit terus-menerus
lebih dari 3 (tiga)
bulan
sehingga
tidak
dapat
menjalankan
tugasnya;
b. ditetapkan menjadi
tersangka; atau
c. dikenai
sanksi
administratif
pemberhentian
sementara.
(2) Dalam
hal
Kepala
BPKH, anggota Badan
Pelaksana
atau
anggota
Dewan
Pengawas
diberhentikan
sementara
sebagaimana
dimaksud
ada a at
r\JO.
.
RUiJJJSUL
PEMERINTAH... DJf\11 . : ;
HA~IL ~PAT 4 SEPT