• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal of Communication Sciences Vol 3 No 1, October, 2020: Nugra Rianti Mallarangeng 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Journal of Communication Sciences Vol 3 No 1, October, 2020: Nugra Rianti Mallarangeng 1"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

41

Strategi Humas Polda Sulsel dalam Menjaga Citra Lembaga Kepolisian di

Provinsi Sulawesi Selatan

South Sulawesi Police Public Relations Strategy in Maintaining the Image of

Police Institutions in South Sulawesi Province

Nugra Rianti Mallarangeng1

1

Universitas Islam Makassar, Jl Perintis Kemerdekaan KM 9 No 29 Tamalanrea Makassar

[email protected]

Abstract

A good image of an institution will make it easier to achieve the goals set by both the individual and the organization. The large number of oblique reports about the police made the public think that the police's performance was questionable. This is what motivates the writer to find out the strategy of the Public Relations of the South Sulawesi Regional Police in maintaining the image of the Police institution which is the protector of the community, especially in South Sulawesi. Data collected by interview method. From the results of this study it can be concluded that the public relations communication strategy in building the image of the South Sulawesi Police has been carried out well, thanks to the roles between sub-sectors in the Public Relations Division of the South Sulawesi Regional Police so that a communication strategy is formed to carry out the task in this case building the image of the Polda Police. South Sulawesi, based on a communication strategy in the form of a Communicator (communicator), Relationship (Building), Back up Management (managing management), Good Image Maker (Creating Images). Factors that affect the public relations communication strategy in building the image of the South Sulawesi Police with the following supporting factors; There is an application of the role of each public relations subbid in the field of Public Relations in carrying out the main tasks and duties in building the image of the police itself, as well as the implementation of the functions, duties and powers of the Police according to the applicable SOTK Polda. While the inhibiting factors are as follows; There are police officers who neglect their duties, negative news about the Police, the speed of reporting in the media which emphasizes the Police's mistakes in carrying out their duties.

Keywords: public relations; image management; police

Abstrak

Pencitraan yang baik pada lembaga akan memudahkan dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan baik individu maupun organisasi tersebut. Banyaknya pemberitaan miring mengenai kepolisian membuat masyarakat dengan argument masing-masing menilai bahwa kinerja polisi dipertanyakan. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk mengetahui strategi Humas Polda Sulsel dalam menjaga citra lembaga Kepolisian yang merupakan pengayom masyarakat terkhusus di Sulawesi Selatan. Data dikumpulkan dengan metode wawancara. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi komunikasi humas dalam membangun citra Kepolisian Polda Sulsel sudah terlaksa dengan baik, berkat peran antar sub bidang yang ada di Bidang Humas Polda Sulsel sehingga terbentuk suatu strategi komunikasi yang dijalankan guna menjalankan tugas dalam hal ini membangun citra Kepolisian Polda Sulsel, berdasarkan strategi komunikasi dalam wujud Communicator (komunikator), Relationship (Membangun), Back up Management (mengatur manajamen), Good Image Maker (Menciptakan Citra). Faktor yang mempengaruhi strategi komunikasi humas dalam membangun citra Kepolisian Polda Sulsel dengan faktor pendukung sebagai berikut; adanya penerapan peran pada setiap subbid humas yang ada pada bidang Humas dalam menjalankan tugas utama maupun tugas dalam membangun citra kepolisian itu sendiri, serta adanya penerapan fungsi, tugas, dan wewenang Kepolisian sesuai SOTK Polda yang berlaku. Sedangkan faktor penghambat sebagai berikut; adanya oknum kepolisian yang melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas, adanya pemberitaan negatif mengenai Kepolisian, cepatnya pemberitaan di media yang menitik beratkan kesalahan Kepolisian dalam menjalankan tugas.

Kata Kunci: public relation; manajemen citra; kepolisian PENDAHULUAN

Di negara Indonesia terdapat beberapa instansi yang bertugas sebagai penegak hukum

(2)

42 salah satunya yakni kepolisian. Kepolisian

merupakan salah satu lembaga milik pemerintah yang sangat amat penting keberadaannya di negara ini dan memiliki tanggung jawab secara langsung dibawah Presiden Indonesia. Diketahui sebagai penegak hukum, pengayom serta sebagai pelindung untuk masyarakat dan berfungsi sebagai pemelihara kedamaian dalam hal keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) merupakan salah satu fungsi instansi pemerintah yaitu kepolisian.

Di kepolisian sendiri memiliki tingkatan wilayah penugasan atau wilayah yang mereka naungi di antaranya untuk tingkat pusat dikenal dengan istilah Mabes Polri, di tingkat Provinsi pun dikenal dengan istilah Polda, di tingkat Kabupaten atau Kota Madya dikenal dengan istilah Polres, dan di tingkat Kecamatan pun kepolisian di kenal dengan istilah Polsek. Di tingkat pusat sendiri merupakan pusat komando utama tertinggi, sehingga untuk masalah atau keadaan tingkat nasional akan ditangani langsung oleh Mabes Polri. Tak di pungkiri di Mabes pun, memiliki kasus merangkak yang tak kunjung terselesaikan, Contoh kasus yang ditangani Mabes Polri yakni, kasus penyiraman air keras yang terjadi pada Novel Baswedan yang terjadi pada 11 April 2017 yang merupakan senior di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan setelah penantian panjang atas penyelidikan ini, beberapa pihak meminta kepada Presiden untuk memastikan Kapolri membentuk, mendukung, serta mengawasi pelaksanaan tim gabungan untuk menyelesaikan kasus penyiraman air keras yang terjadi pada Novel Baswedan. Dan hasil penyelidikan pun rilis pada tanggal 26 Desember 2019 bahwa terduga pelaku merupakan dua anggota polisi aktif. Kasus ini pun menyita perhatian publik, mengenai insiden yang dialami oleh anggota KPK yang berprestasi tersebut.

Merujuk kasus di tahun 2019 wilayah Kepolisian Daerah Makassar pun memiliki kasus yang tak luput dari perhatian publik, di antaranya kasus Polisi memasuki mesjid tanpa membuka alas kaki. Dalam pemberitaan yang beredar via WA (whatsApp), beredar kasus

oknum kepolisian yang masuk mesjid tanpa membuka alas kaki, kejadian bermula saat anggota polri yang mengejar demostran hingga masuk Masjid Syuhada 45 yang terletak di area Pengadilan Tinggi Negeri Makassar saat aksi yang berlokasikan di Jalan Urip Sumoharjo yang terjadi pada selasa 24 September 2019. Pemberitaan negatif ini yang muncul dimedia ditepis oleh pihak Polda Sulsel akan kebenaran dari video yang beredar yang terjadi dikawasan pengamanan Polda Sulsel, akan tetapi tak berselang beberapa lama pihak Polda pun membenarkan pemberitaan akan kebenaran mengenai anggota polisi yang melakukan pengejaran dalam mesjid setelah melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara). Pihak Polda pun langsung mengklarifikasi mengenai pemberitaan negatif tersebut dan memberikan pernyataan resmi terkait hasil penyelidikan yang mereka lakukan. Kasus tak kala menyita perhatian publik yakni kasus berikutnya yang melibatkan anggota kepolisian yakni pada kasus kendaraan Taktis Polisi lindas mahasiswa dan menabrak driver ojol, di mana saat terjadinya kericuhan unjuk rasa yang terjadi antara aparat kepolisian dan mahasiswa disepanjang Jalan Urip Sumoharjo yang terjadi pada Jumat 27 September 2019 malam. Dan kasus berikutnya yakni, adanya kasus salah tangkap yang dilakukan pihak Polda Sulsel, pemberitaan ini langsung diklarifikasi oleh pihak Polda terkait pemberitaan tersebut, di mana laporan penangkapan masuk pada tanggal 27 Juli 2019, dan korfirmasi laporan yang mengatakan terjadinya penangkapan yang salah, ditepis langsung pada konfrensi pers, sabtu 30 November 2019 terkait kasus tersebut. Dari beberapa kasus di atas tak di pungkiri bahwa hal itu berdampak pada citra Kepolisian, tak lain citra Kepolisian Polda Sulsel sendiri.

Dengan adanya kondisi pemberitaan tersebut membuat masyarakat dengan argument masing-masing menilai bahwa kinerja polisi dipertanyakan. Kesalahan seperti ini seringkali terjadi di masyarakat sehingga mereka membentuk stereotype bahwa kesalahan salah satu anggota di divisi Kepolisian merupakan kesalahan dalam satu tubuh organisasi polisi secara keseluruhan.

(3)

43 Bahkan tidak sedikit di antara kasus-kasus

tersebut menimbulkan dampak negatif pada citra instansi Kepolisian Polda Sulsel yang merupakan pengayom masyarakat.

Citra merupakan aset penting bagi sebuah organisasi lembaga yang memiliki peran penting yang selayaknya harus terus dibangun dan dijaga agar tetap memiliki kedudukan yang baik. Memiliki citra yang baik merupakan salah satu pegangan yang penting, tidak hanya untuk diakui oleh lembaga lain tapi dapat sebagai landasan mendapatkan kepercayaan masyarakat yang kuat agar senantiasa hubungan kepolisian dan masyarakat dapat terjalin baik.

Pencitraan yang baik pada lembaga akan memudahkan dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan baik individu maupun organisasi tersebut. Tidak dipungkiri pula bahwa peran media dalam membangun citra sebuah lembaga atau perusahaan sangatlah penting.

Tuntutan kinerja yang extra harus mampu menyakinkan dengan bertindak sesuai norma hukum dan mengedepankan norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi setiap manusia. Selain tuntutan kinerja, Polri juga harus menjaga sikap netral dalam lingkup kehidupan masyarakat maupun lingkup politik, serta mampu menjaga kredibilitas citra lembaga agar masyarakat merasa aman dan mengetahui bahwa tugas utama kepolisian ialah sebagai pengayom masyarakat Indonesia.

Bagi sebuah lembaga besar, citra merupakan pondasi awal munculnya sebuah kepercayaan dari masyarakat sehingga pentingnya dalam menjaga citra, dan merupakan cerminan keberhasilan dan buah hasil kerja keras dalam menjunjung tinggi keprofesional dalam menjalankan tugas. Citra akan berdampak apabila ada pemberitaan baik pemberitaan positif maupun negatif yang beredar di media, sehingga pihak yang berperan dalam menjaga citra tidak boleh disepelekan karena memiliki peran penting untuk menjaga nama baik lembaga. Dengan citra polri yang dikenal sebagai lembaga yang totalitas sebagai penegak hukum yang kokoh bisa saja roboh bila mana diterpa citra negatif

yang membuat kredibilitas mereka sebagai penegak hukum akan dipertanyakan. Sehingga apabila ada pemberitaan yang muncul mengenai Polri dalam menjalankan tugas, humas harus sigap meluruskan pemberitaan tersebut.

Humas sendiri memiliki peran dalam menjaga citra lembaga. Selain humas yang memiliki peran dalam menjaga citra, tak luput diketahui bahwa dalam menjaga citra, komunikasi juga amat dibutuhkan. Jika humas tidak memiliki komunikasi yang baik, baik dalam komunikasi dilembaga itu sendiri maupun komunikasi pada media, maka sambutan buruk apabila ada pemberitaan negatif mengenai lembaga kepolisian di mata masyarakat yang cenderung paling berdampak pada citra lembaga polri. Humas harus mampu menerapkan peran humas dengan baik yakni, sebagai penasihat ahli, fasilitator komunikasi serta fasilitator dalam menyelesaikan masalah, dan merupakan teknisi komunikasi dalam menghadapi apapun. Selain humas memiliki peran yang penting dalam sebuah lembaga atau organisasi, tak lupa pula kehadiran media tak bisa dipandang sebelah mata.

Media memiliki peranannya sendiri dalam membentuk citra sebuah lembaga maupun perusahaan atau organisasi. Posisi media yang dekat dengan publik membuat humas harus extra hati-hati dalam mempublikasikan apapun. Pemberitaan di media adalah salah satu cara dalam membentuk opini publik. Cara mengakses atau memperoleh berita atau informasi kini sangatlah mudah karena informasi dapat tersebar sedemikian cepat sehingga berita apapun akan cepat terpublikasikan di khalayak luas. Selain adanya pemberitaan negatif mengenai kasus yang berkaitan langsung dengan anggota Kepolisian Polda Sulsel, Kepolisian Polda Sulsel pun memiliki pemberitaan dengan hasil kinerja yang membanggakan, di mana Polda Sulsel berhasil menggagalkan peredaran 37 kg sabu dan ribuan butir ekstasi yang dilakukan pada tahun 2019. Dan di penghujung tahun Polda Sulsel gelar rilis akhir tahun 2019, Kapolda Sulsel Irjen Pol Drs. Mas Guntur Laupe didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol

(4)

44 Ibrahim Tompo pada saat memimpin “Press

Release Akhir Tahun 2019” di Aula Mappaoddang Polrestabes Makassar, Senin 30 Desember 2019.

Setelah menjadikan media sebagai wadah sumber informasi, taklupa pula strategi komunikasi sebagai faktor penting dalam membangun dan menjaga sebuah citra lembaga. Pada proses komunikasi dipengaruhi oleh beberapa unsur, yaitu sebagai berikut: sumber, pesan, saluran, penerima, efek, umpan balik dan lingkungnan atau situasi. Agar berjalannya seluruh unsur komunikasi secara optimal maka perlu dibentuk sebuah strategi komunikasi. Di mana strategi yang dimaksud adalah menggabungkan antara perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan dalam lembaga tersebut. Pada strategi tersebut tidak hanya diterapkan dalam satu arah saja tetapi harus disertai dengan taktik operasionalnya dalam melaksanakannya (Effendy, 2009:32). Sehingga dalam berkomunikasi, kehati-hatian dalam menyampaikan sesuatu hal sangatlah diprioritaskan.

METODOLOGI PENELITIAN

Pada penelitian ini menerapkan jenis penelitian kualitatif dan deskriptif, yaitu penelitian yang memiliki tujuan dalam mendeskripsikan dan menelah permasalahan terkini dan bermaksud untuk mengungkapkan strategi Humas Kepolisian Di Polda Sulawesi Selatan dalam menjaga citra. Penulis melakukan penelitian pada bulan Maret hingga September 2020 yang dikarenakan faktor keadaan yang saat ini terjadi negara Indonesia, dan penelitian ini berlokasikan di Makassar pada Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan terkhusus pada divisi Humas Polda Sulsel serta di lima kecamatan yang ada di Kota Makassar berdasarkan pertimbangan yang telah dilakukan oleh penulis. Untuk pemilihan lokasi pada penelitian ini peneliti menentukan berdasarkan dan pertimbangan bahwa Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan adalah instansi yang berwewenang tinggi dalam tingkat Kepolisian Daerah yang menaungi satu provinsi sehingga tingkat melayani serta

menangani permasalahan yang terkait dengan citra polri sangatlah penting.

Fokus peneliti dalam penelitian ini untuk mengetahui mengenai strategi humas dalam membangun sebuah citra polri di lingkup Polda Sulsel dalam menghadapi pemberitaan di Media. Pada deskripsi penelitian ini, peneliti ingin mengetahui cara humas di Polda Sulsel dalam hal membangun citra di mata masyarakat. Dalam hal ini peneliti juga ingin mengetahui bagaimana strategi humas di Polda Sulsel dalam membangun sebuah citra di mata masyarakat dengan adanya pemberitaan di media yang berdampak pada citra Kepolisian Polda Sulsel.

Pada penelitian ini, peneliti memfokuskan meneliti pada divisi Humas Polda Sulsel di antaranya Kepala Bagian Humas Polda Sulsel selaku narasumber utama, dan 4 anggota lain dalam divisi humas Polda Sulsel. Narasumber berikutnya yakni 12 orang wartawan media yang sering kali meliput mengenai pemberitaan Polda Sulsel. Narasumber berikutnya yakni masyarakat Kota Makassar, terkhusus di wilayah Kota Makassar di mana terdiri dari masyarakat zona timur dan zona barat. Zona timur yaitu di Kecamatan Tamalate yang memiliki penduduk terbanyak dan Kecamatan Tamalanrea yang memeliki penduduk terendah, serta di zona barat yaitu di Kecamatan Ujung Pandang yang memeliki penduduk terendah dan di Kecamatan Tallo yang memiliki penduduk terbanyak. Dan Kecamatan Biringkanaya yang merupakan lokasi kantor Polda Sulsel. Terkhusus di tingkatan masyarakat yang akan diwawancarai yakni dalam kategori guru, mahasiswa, pedagang, ibu rumah tangga, dan supir kendaraan umum, yang masing-masing akan diwawancarai tiap kecamatan yang terpilih.

HASIL DAN PEMBAHASAN Humas Polda Sulsel

Humas Polda Sulsel adalah merupakan salah satu bidang kesatuan yang ada di lembaga Kepolisian Polda Sulsel, dibawah pimpinan Kepala bidang Humas Kombes Pol Ibrahim Tompo, S.I.K.,M.Si di mana ia membawahi Kasubbag Renmin, Kasubbid Penmas,

(5)

45 Kasubbid PID, dan Kasubbid MULMED, serta

30 personil aktif lainnya yang bertugas disetiap divisi guna menunjang tugas dalam bidang humas. Adapun pengertian humas menurut beberapa ahli yakni Jefkins (2003: 10), humas atau public relations ialah sebuah bentuk komunikasi yang terencana, baik internal (dalam) maupun eksternal (luar), antara suatu organisasi dan semua audiensnya untuk mencapai tujuan berdasarkan pemahaman bersama.

Adapun penjelasan mengenai humas menurut Harlow, humas atau Public Relations merupakan fungsi manajemen yang membantu dan memelihara hubungan komunikasi yang saling menguntungkan, keterbukaan dan kerjasama antara organisasi dan masyarakatnya, melibatkan pengelolaan masalah dan isu, membantu manajemen tetap mendapat informasi dan menanggapi publik. Humas yang memiliki kedudukan sebagai pemeran utama patut dituntu mampu memahami perannya dengan sangat baik. Selain berperan penting dalam organisasi lembaga dalam membentuk opini publik, humas juga mampu menjaga citra lembaga.

Dalam membangun citra humas harus mampu menerapkan strategi dalam membangun citra. Apapun menurut Rosady Ruslan (2012; 26) menjelaskan mengenai strategi Humas yakni; adanya komunikator sebagai penghubung, adanya relationship yang berperan membangun dan membina hubungan yang positif, back up management di mana mengatur manajemen sangat dibutuhkan dalam sebuah divisi atau lembaga, good image maker berperan dalam membangun citra positif organisasi. Hal tersebut pun diterapkan dalam Humas Polda Sulsel dalam membangun citra Kepolisian Polda Sulsel. Selain itu strategi yang diterapkan Humas Polda dalam membangun citra Kepolisian yakni membangun relasi dengan eksternal dalam hal ini yakni media, dan membangun hubungan internal dalam hal ini yakni antar kesatuan yang ada dalam lembaga kepolisian itu sendiri. Selain menerapkan strategi dalam membangun citra, hal paling utama yang tak luput dari faktor dalam membangun citra yakni menjalin hubungan ke berbagai pihak antara lain

hubungan ke media, lembaga lain, dan masyarakat sendiri.

Humas dan Jaringan Media

Hubungan masyarakat dalam dunia maya merupakan hubungan masyarakat yang dilakukan melalui sarana media elektronik dalam membangun merek atau lebel, dan memelihara kepercayaan publik, serta adanya pemahaman dalam citra lembaga atau perusahaan kepada khalayak yang dilakukan secara secara langsung yang bersifat interaktif (Wikipedia). Kedudukan media dalam membangun citra sangatlah erat kaitannya, dikarenakan jaringan media merupakan sumber informasi bagi masyarakat. Hubungan kerja sama antara media dan humas merupakan suatu hal yang harus dilakukan karena menjalin hubungan kerja sama yang baik antara media, humas dapat mengontrol, mencegah, dan meminimalisir pemberitaan yang diberitakan baik berita negatif, positif maupun pemberitaan mengenai lembaga yang di publikasikan. Selain itu informasi yang disebarkan melalui humas adalah untuk

menciptakan pengenalan dan

pengertian.(Frank Jepskins, 1999:22). Sehingga peneliti menjadikan media sebagai salah satu informan untuk melengkapi skripsi ini. Peran media sebagai sumber informasi bagi masyarakat, juga merupakan salah satu wadah dalam strategi membangun citra. Memiliki kedudukan sebagai pusat sumber informasi masyarakat dari berbagai kalangan sehingga peneliti pun membagi jenis media sebagai narasumber penelitian.

Jurnalis media yang melakukan peliputan berita di Polda Sulsel pun tak luput memiliki pandangan mengenai citra kepolisian Polda Sulsel sendiri. Sehingga opini yang muncul di publik pun tidak jauh berbeda dari opini yang diterbitkan media massa, karena merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki media itu sendiri berdasarkan hasil peliputan mereka. Menurut Frank Jefkins (Ruslan:2008) adapun bentuk-bentuk dalam hubungan pers sebagai berikut;

a. Adanya Kontak Pribadi

Kontak pribadi dalam berikteraksi memanglah sangat penting dan utama, terlebih kedudukan

(6)

46 humas memang mewajibkan mereka

berinterekasi secara langsung ke pada media. Hal ini dijelaskan dari interaksi antara Humas Polda Sulsel dengan pihak media dalam mempublikasikan berita terkait apa yang ditangani pihak Kepolisian Polda Sulsel, seperti yang di ungkapkan dalam wawancara saya bersama jurnalis yang melakukan peliputan di Polda Sulsel mengenai sosok Kabid Humas Polda Sulsel. Berikut penjelasan dari Faisal Wahab (Metro Tv), Rudiansyah (Fajar Koran), dan Hermawan Mappiwali (detikcom) dalam wawancara saya yang mengungkapkan bahwa;

“Mengenai sosok Kabid Humas yang sekarang yakni Kombes Pol Ibrahim Tompo, memiliki kepribadian tertutup berbeda dari kabid sebelumnya yang memiliki kepribadian yang terbuka dan mudah bergaul. Meskipun jenis kepribadian berbeda, tetapi peran sebagai Kabid Humas Polda Sulsel tidak menerapkan secara signifikan karakter tersebut, terbukti bahwa beliau mudah dihubungi melalui kontak pribadi”.(wawancara 12/07/2020)

Senada dengan penjelasan sebelumnya, hal lain pun diungkapkan oleh Mas Jaya (Ujungpandang Ekspres), dan Hasan Basri (Tribun Timur).

“Konfirmasi antara Polda ke wartawan media, terbuka dan merespon baik karena Polda dan media merupakan partner dalam mempublikasikan berita untuk masyarakat. Dan pihak humas cukup mudah dalam mengkonfirmasi bahwa akan diadakan konprensi pers, sehingga rekan media bisa mempublikasikan berita dengan baik”.(wawancara 19/03/2020)

Berdasarkan hasil wawancara penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa adanya penerapan kontak pribadi antara pihak Humas Polda Sulsel dengan rekan media. Serta menjelaskan adanya bentuk kerja sama satu sama lain guna mencapai kebutuhan satu sama lain, dan menerapkan prosedur kerja sama yang baik satu sama lain. Bentuk interaksi ini pun menjelaskan bahwa hubungan

humas dan media haruslah intens. Hubungan ini pun dibentuk melalui hubungan informal di mana adanya kejujuran, saling menghormati, dan saling pengertian serta menciptakan kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan publikasi yang baik agar berdampak positif.

b. Pelayanan Informasi atau Berita

Pelayanan Informasi yang baik yang diberikan oleh humas kepada media yakni dalam bentuk pemberian informasi, dan publikasi berita dalam bentuk media apapun. Hal ini menjelaskan bahwa rekan media dari berbagai jenis media berhak mendapatkan berita peliputan dari Humas Polda Sulsel. Seperti yang di ungkapkan dalam wawancara saya bersama jurnalis yang melakukan peliputan di Polda Sulsel mengenai pelayanan informasi untuk dipublikasikan.

Berikut penjelasan dari Lodi Aprianto (Tagar.id), Faisal Mustafa (Koran Sindo), dan Hermawan Mappiwali (detikcom) dalam saya wawancara saya yang mengungkapkan bahwa.

“Mengenai sosok Kabid Humas yang sekarang yakni Kombes Pol Ibrahim Tompo cukup terbuka, kooperatif, dan hati-hati dalam mempublikasikan berita,dan jika kita mempertanyakan detail kasus yang kami akan liput, sering kali di alihkan kepada bagian divisi yang menangani kasus yang akan diliput agar informasi yang diperoleh

lebih lengkap.”(wawancara

19/03/2020)

Senada dengan penjelasan dari Muh.Ikrar (Celebes Tv) dan Rahmat (Berita Kota Makassar) mengenai durasi atau seberapa sering meliput berita di Polda Sulsel, berikut penjelasannya

“Mengenai durasi peliputan media di Humas Polda Sulsel, bisa dikatakan sering, dikarenakan kasus juga muncul tiba-tiba, sehingga kami selaku jurnalis harus selalu stanbay dalam meliput berita di Polda Sulsel.’(wawancara 15/07/2020)

Berdasarkan hasil wawancara peneliti di atas bahwa, pelayanan informasi dari pihak Humas sangatlah dibutuhkan, karena dealine mempublikasikan berita merupakan faktor tuntutan kerja dari pihak media itu sendiri,

(7)

47 sehingga keterbukaan humas kepada media

sangatlah dibutuhkan.

c. Mengantisipasi kemungkinan hal

darurat

Dalam mengantisipasi adanya permintaan yang bersifat mendadak dari rekan media dalam hal ini wawancara dan konfirmasi kasus pihak humas harus siap melayani agar hubungan yang terbina bisa tetap terjaga. Hal ini mejelaskan bahwa jika pihak media ingin mengkonfirmasi mengenai sebuah kasus, pihak humas harus selalu stanbay dalam mengkonfirmasinya.

Berikut penjelasan Hermawan Mappawali (derikcom), Hasan Basri (Tribun Timur), dan Wahyu Ruslan (I News) dalam wawancara peneliti yang mengungkapkan bahwa;

“Media membutuhkan keterbukaan informasi di mana menjelaskan sebab akibat mengenai kasus yang diliput, sehingga kami selaku wartawan yang meliput bisa menggabungkan hasil peliputan lapangan dan hasil penanganan pihak berwajib yang menangani kasus yang ingin kami liput.(wawancara 11/07/2020)

Senada dengan penjelasan Mas Jaya (Ujungpandang Ekspres), Lodi Aprianto (Tagar.id), Hermawan Mappiwali (derikcom), mengungkapkan bahwa;

“Kami mempublikasikan berita

berdasarkan fakta, mengejar akurasi, aktual, dan faktual sesuai apa yang berhasil diliput serta sesuai keadaan di lapangan, sehingga peran dalam konfirmasi pihak Humas mengenai kasus yang diliput sangat besar pengaruhnya”(wawancara

19/03/2020).

Berdasarkan hasil wawancara peneliti di atas maka dapat disimpulkan bahwa pihak media selalu mengejar berita yang menjadi atensi publik, sehingga dibutuhkan konfirmasi secara terbuka, agar berita yang dipublikasikan kepada masyarakat bisa lebih jelas, mendalam, dan lengkap, sehingga bisa menghindari opini masyarakat yang tidak diinginkan.

Opini Publik

Dalam memahami opini seseorang dan publik tersebut bukanlah perkara muda. Menurut R.P. Abselson (1968) yakni opini seseorang mempunyai kaitan yang erat dengan kepercayaan mengenai sesuatu, apa yang sebenarnya dirasakan orang tersebut yang menjadi sikapnya, serta adanya persepsi di mana proses pemberian makna untuk hal tersebut melalui faktor latar belakang budaya, kebiasaan dan adat-istiadat yang adianut seseorang atau masyarakat tersebut. Selain hal tersebut padangan masa lalu dan adanya berita-berita serta pendapat-pendapat yang berkembang juga mampu memberikan pengaruh terhadap pandangan seseorang. Bisa diartikan berita yang dipublikasikan dan sampai kepada khalayak juga dapat sebagai pembentuk opini masyarakat entah itu individu maupun kelompok.

Untuk mengetahui opini publik hal yang dilakukan adalah mengetahui faktor-faktor pembentuk opini publik. Dalam pembentukan opini publik atau membentuk pendapat umum telah dikemukakan oleh D.W. Rajeki (Ruslan, 1999) yang menjelaskan bahwa faktor pembentuk opini publik melingkupi tiga komponen yang sering diungkapkan dengan istilah ABC of Attitude yakni; Affect (perasaan atau emosi), Behaviour (tingkah laku), dan Cognition (pengertian atau nalar).

a. Affect (perasaan atau emosi)

Affect (perasaan atau emosi) adalah komponen penjelasan mengenai rasa senang, sayang, takut, benci, dan lain sebagainya. Pada komponen ini afektif dalam mengevaluasi perasaan seseorang secara aspek emosional dalam memberikan penjelasan mengenai baik atau buruk hal tersebut.

Tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai Humas Polda Sulsel dalam mempublikasikan kasus yang mereka tangani pada media.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan mahasiswa di 5 kecamatan tersebut, mereka memiliki pendapat yang sama yakni baik, dengan pegawai dominan mengatakan baik

(8)

48 dengan 4 orang di kecamatan lain, kecuali 1

orang di Kecamatan Tallo mengatakan kurang baik, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) dominan mengatakan baik dengan 4 orang di Kecamatan lain, kecuali 1 orang di Kecamatan Biringkanaya mengatakan kurang baik, dengan pedagang dominan mengatakan baik dengan 4 orang di kecamatan lain, kecuali 1 orang di Kecamatan Biringkanaya, dengan driver semua mengatakan baik di 5 kecamatan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat dominan mengatakan bahwa kepolisian baik dalam mempublikasikan kasus pada media. Sehingga informasi yang dipublikasikan melalui media dapat tersampaikan kepada masyarakat.

Sementara tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai penilaian terhadap Citra Kepolisian, setelah membaca dan melihat berita mengenai kasus yang dalam kasus tersebut yakni anggota kepolisian sendiri yakni sebagai berikut;

Bersadarkan hasil wawancara peneliti dengan mahasiswa dominan mengatakan kurang baik dengan 4 orang di kecamatan lain, kecuali 1 orang di Kecamatan Tamalate mengatakan baik, dengan pegawai dominan mengatakan kurang baik, kecuali 2 orang dari Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Tallo mengatakan baik, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) dominan mengatakan kurang baik, kecuali 1 orang dari Kecamatan Tamalate, dengan pedagang dominan mengatakan baik, kecuali 2 orang dari Kecamatan Tamalanrea dan Kecamatan Tallo, dengan driver semua mengatakan kurang baik dari 5 kecamatan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat dominan mengatakan kurang baik mengenai penilaian terhadap citra kepolisian, setelah membaca dan melihat berita mengenai kasus yang dalam kasus tersebut yakni anggota kepolisian sendiri.

b. Behaviour (tingkah laku)

Behaviour (tingkah laku) adalah komponen yang menjelaskan mengenai tingkah laku atau perilaku seseorang. Penjelasan mengenai tingkah laku tersebut yakni dalam hal bereaksi untuk memukul, menghancurkan, menerima, menolak, dan sebagainya, sehingga menjadi cara untuk menggerakkan seseorang secara aktif dan melakukan tindakan pada reaksi yang dialaminya.

Tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai menanggapi pelayanan Humas dalam mempublikasikan perihal mengenai Kepolisian.

Bersadarkan hasil wawancara peneliti dengan mahasiswa dominan mengatakan menerima, kecuali 1 orang dari Kecamatan Biringkanaya mengatakan kurang menerima, dengan pegawai dominan mengatakan menerima, kecuali 1 orang dari Kecamatan Tallo mengatakan kurang menerima, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) semua mengatakan menerima dari 5 kecamatan tersebut, dengan pedagang semua mengatakan menerima dari 5 kecamatan tersebut, dengan driver semua mengatakan menerima dari 5 kecamatan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat dominan mengatakan menerima, mengenai tanggapan pelayanan humas dalam mempublikasikan perihal mengenai kepolisian.

Sementara tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai perihal menganggapi jika ada pemberitaan mengenai oknum kepolisian yang melakukan pelanggaran dan menitik beratkan sebagai kesalahan lembaga kepolisian.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan mahasiswa dominan memilih menolak, kecuali 1 orang dari Kecamatan Tamalanrea memilih menerima, dengan pegawai semua memilih menolak dari 5 kecamatan mengenai hal tersebut, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) dominan memilih menolak, kecuali 1 orang

(9)

49 dari Kecamatan Ujung Pandang memilih

menerima, dengan pedagang dominan memilih menerima, kecuali 1 orang dari Kecamatan Tamalate memilih menolak, dengan driver semua memilih menerima dari 5 kecamatan mengenai hal tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat dominan memilih menolak mengenai hal menanggapi jika ada pemberitaan mengenai oknum kepolisian yang melakukan pelanggaran dan menitik beratkan sebagai kesalahan lembaga kepolisian.

c. Cognition of attitude (pengertian atau penalaran)

Cognition of attitude (pengertian atau penalaran) adalah komponen yang menjelaskan mengenai penalaran seseorang untuk menilai suatu informasi, pesan, fakta, dan pengertian yang berkaitan dengan pendiriannya yang telah ia fikirkan. Dalam hal ini memfokuskan mengenai aspek pemikiran seseorang yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang telah mereka fikirkan terlebih dahulu.

Tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai hal menanggapi informasi yang diberikan Humas Polda terkait mengenai Kepolisian Polda Sulsel dalam hal ini mengenai memberikan imbauan kepada masyarakat.

Berdasarkan hasi wawancara peneliti dengan mahasiswa dominan memilih mengikuti, kecuali 1 orang dari Kecamatan Ujung Pandang memilih mengabaikan hal tersebut, dengan pegawai semua memilih mengikuti dari 5 kecamatan tersebut, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) dominan memilih mengikuti, kecuali 1 orang dari Kecamatan Biringkanaya memilih mengabaikan hal tersebut, dengan pedagang semua memilih mengikuti dari 5 kecamatan tersebut, dengan driver dominan memilih mengabaikan, kecuali 2 orang dari Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Ujung Pandang memilih mengikuti.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat, dominan memilih mengikuti informasi yang diberikan Humas Polda Sulsel terkait mengenai Kepolisian Polda Sulsel dalam hal ini memberikan imbauan kepada masyarakat. Sementara tanggapan informan di 5 kecamatan di antaranya; Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tamalanrea, Kecamatan Tallo, dan Kecamatan Ujung Pandang mengenai menilai pemberitaan mengenai Polda Sulsel yang ada pada media, apakah berita tersebut positif atau negatif. Berdasarkan hasi wawancara peneliti dengan mahasiswa semua memilih mencerna berita dengan baik dari 5 kecamatan tersebut, dengan pegawai dominan memilih mengabaikan berita tersebut, kecuali 2 orang dari Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Tallo yang memilih mencerna berita dengan baik, dengan Ibu Rumah Tangga (IRT) semua memilih mencerna berita dengan baik dari 5 Kecamatan tersebut, dengan pedagang semua memilih mencerna berita tersebut dengan baik dari ke 5 kecamatan tersebut, dengan driver semua memilih mencerna berita dengan baik dari ke 5 kecamatan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat dominan memilih mencerna berita dengan baik mengenai pemberitaan Polda Sulsel yang ada pada media, apakah berita tersebut positif atau negatif.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Strategi komunikasi humas dalam membangun citra Kepolisian Polda Sulsel sudah terlaksa dengan baik, berkat peran antar sub bidang yang ada di Bidang Humas Polda Sulsel sehingga terbentuk suatu strategi komunikasi yang dijalankan guna menjalankan tugas dalam hal ini membangun citra Kepolisian Polda Sulsel, berdasarkan strategi komunikasi dalam wujud Communicator (komunikator), Relationship (Membangun), Back up Management (mengatur manajamen), Good Image Maker

(10)

50 (Menciptakan Citra), Faktor Pendukung dan

Faktor Penghambat. Dimana bentruk strategi yang diterapkan Humas Polda Sulsel dalam membangun Citra Kepolisian Polda Sulsel yakni sebagai berikut; memberikan informasi positif dan melakukan peran sebagai komunikator yang baik dalam mempublikasikan sesuatu hal yang diwajibkan, menjalin hubungan yang baik dengan pihak internal yakni divisi lain yang ada di Kepolisian Polda Sulsel dan menjalin hubungan baik dengan pihak-pihak eksternal dimana salah satunya yakni media, kerja sama antar sub bidang yang ada di bidang humas guna meminimalisir mis komunikasi agar pengelolaan informasi dapat berjalan dengan baik serta menerapkan kerja sama dalam sub bidang dalam back up managemen yang ada di bidang Humas, memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan pemberitaan positif manengenai Kepolisian Polda Sulsel. Dalam penjelasan mengenai strategi komunikasi humas Polda Sulsel dalam membangun citra Kepolisian yakni dengan membangun relasi kepada media, hal tersebut pun sangat membantu dalam membangun citra Kepolisian dikarenakan dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai Kepolisian Polda Sulsel selama ini, sehingga masyarakat pun dalam menilai bagaimana citra Kepolisian Polda Sulsel dalam bentuk opini publik.

2. Faktor yang mempengaruhi strategi komunikasi humas dalam membangun citra Kepolisian Polda Sulsel dengan faktor pendukung sebagai berikut; adanya penerapan peran pada setiap subbid humas yang ada pada bidang Humas dalam menjalankan tugas utama maupun tugas dalam membangun citra kepolisian itu sendiri, serta adanya penerapan fungsi, tugas, dan wewenang Kepolisian sesuai SOTK Polda yang berlaku. Sedangkan faktor penghambat sebagai berikut; adanya oknum kepolisian yang melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas, adanya pemberitaan negatif mengenai Kepolisian, cepatnya pemberitaan di media yang menitik beratkan kesalahan Kepolisian dalam menjalankan tugas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Effendy, O. U. (2001). Ilmu Komunikasi Teori

dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

2. Henslowe, P. (2000). Public Relation untuk

Bisnis. Jakarta:Lembaga PPM.

3. Jefkins, F. (1992). Public Relations. Jakarta: Erlangga.

4. Ruslan, R. (2014). Manajemen PublicRelations

dan Media Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers. Hlm. 77-79

5. Ruslan, R. (1999). Manajemen Humas dan

Manajemen Komunikasi Konsepsi dan Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. h. 51

6. Ruslan, R. (2007). Seri Manajemen Public

Referensi

Dokumen terkait

Menunjukkan faktor atau atribut yang mempengaruhi kepuasan Peserta Didik MA NU Banat Kudus, termasuk unsur-unsur pelayanan yang dianggap sangat penting, namun

Kondisi tersebut potensial untuk dikembangkannya media pembelajaran berbasis internet, sehingga sumber belajar bagi mahasiswa calon guru dalam penyusunan perangkat

Gupid, Puncak PJR, Bukit Mente dan Bukit Nusantara serta terdapat 1 potensi objek wisata alam dengan kategori aksesibilitas sedang yaitu Puncak BLT.Aksesibilitas

Hadits ini menunjukan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu mereka telah mengetahui adanya puasa pada hari Asyuro, di mana hari itu adalah hari yang sudah di kenal di kalangan

1) Funding Officer sendiri bertanggung jawab pada pencapaian target bidang usaha Funding (penghimpunan dana). Seorang Funding Officer akan diberikan target dari

perbaikan toko pasca kebakaran yang cukup lama, dan adanya virus Covid-19 yang terjadi saat ini. Sepinya pembeli berpengaruh signifikan terhadap pendapatan yang diperoleh

Selaras dengan pandangan Koeswara (1987:31) bahwa kesadaran diri sebagai kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya