Kualitas Tidur dan Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Medan Teladan

21 

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Fisiologi Tidur 1.1Definisi

Tidur merupakan keadaan seseorang saat berada pada keadaan bawah

sadar yang dapat dibangunkan kembali apabila orang tersebut mengalami

respon terhadap rangsangan dari luar seperti rangsangan sensorik ataupun

rangsangan lainnya (Guyton & Hall, 1997). Selain itu tidur memiliki urutan

siklus yang berulang-ulang selama periode tertentu (Potter & Perry, 2005).

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya

hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan

menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun.

Salah satu aktvitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis

yang merupakan sistem yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan

saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan

kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons.

Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberi rangsangan visual, pendengaran, nyeri dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari

korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir.

Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan

katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, disebabkan

(2)

batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan

system limbik. Dengan demikian, system pada batang otak yang mengatur

siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2006).

1.2 Fungsi tidur

Siklus tidur-bangun akan mempengaruhi fungsi fisiologi, respons

perilaku, dan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi membuat keputusan

serta melakukan kegiatan sehari – harinya. (Potter & Perry, 2005). Saat sakit

kebutuhan tidur seseorang penting, hal ini disebabkan karena tidur merupakan

salah satu kebutuhan dasar manusia yang brfungsi untuk memulihkan

kesehatan seseorang (Tarwoto, 2006) agar dapat kembali pada keadaan yang

optimal (Priharjo, 1993). Selain itu tidur berfungsi untuk memulihkan

keseimbangan alami di antara pusat-pusat neuron (Guyton, 2007).

1.3 Tahapan tidur

Tahapan tidur dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Tidur NREM terdiri dari empat tahapan. Kualitas tidur akan semakin menjadi dalam

mulai dari tahap satu sampai tahap empat. Tidur yang dangkal terjadi pada

tahap satu dan tahap dua, pada tahap ini seseorang akan lebih mudah

terbangun. Sedangkan pada tahap tiga dan empat prroses melibatkan tidur

yang dalam disebut tidur gelombang rendah, dan seseorang sulit terbangun.

Tidur REM merupakan fase terakhir siklus tidur dan terjadi pemulihan

(3)

Tahapan tidur memiliki karakteristik tertentu yang dianalisis dengan

bantuan Electroencefalograph (EEG) yang menerima dan merekam gelombang otak, electrooculograph (EOG) yang merekam pergerakan mata dan electromyograph (EMG) yang merekam tonus otot (Lilis, 2001).

Tidur Non Rapid Eye Movement (NREM). Tahapan tidur NREM dibagi menjadi 4 tahap :

Tahap satu NREM merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur

dimana seseorang masih sadar dengan lingkungannya, merasa mengantuk,

frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun, dan berlangsung selama lima menit.

Kualitas tidur tahap ini sangat ringan, seseorang dapat mudah terbangun

karena stimulasi sensori seperti suara (Potter & Perry, 2003).

Tahap dua merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus

menurun yang ditandai dengan penurunan tanda-tanda vital, metabolisme

menurun dan tahap ini berlangsung selama 10-20 menit (Tartowo, 2004). Pada

tahap ini seseorang masih relative mudah untuk terbangun, dan berlangsung

selama 10-20 menit (Potter & Perry, 2003). Selain itu pada tahap ini,

hubungan seseorang dengan lingkungan terputus secara aktif dan hampir

seluruh menusia yang dibangunkan pada tahap ini mengatakan bahwa mereka

benar – benar tertidur (Maas, 2002). Menurut Potter & Perry (2003), 50% total

waktu tidur manusia dewasa normal dihabiskan pada tahap dua NREM.

Tahap tiga yaitu menunjukkan medium deep sleep yang merupakan tahap awal dari tidur yang dalam. Pada tahap ini seseorang akan sulit untuk

(4)

mengalami relaksasi penuh, adanya dominasi sistem saraf parasimpatis

(Hidayat, 2006).

Tahap empat merupakan deep sleep yaitu tahap tidur terdalam yang biasanya diperlukan rangsangan lebih kuat untuk membangunkan, sehingga

ketika bangun dari tidur yang dalam, seseorang tidak dapat langsung sadar

sempurna dan memerlukan waktu beberapa saat untuk memulihkan dari rasa

bingung dan disorientasi. Tahap ini mempunyai nilai dan fungsi perbaikan

yang sangat penting untuk penyembuhan fisik kebanyakan hormon

perkembangan manusia diproduksi malam hari dan puncaknya selama tidur

pada tahap ini (White, 2003).

Tidur Rapid Eye Movement (REM). Tahap tidur REM terjadi setelah 90 – 110 menit setelah tertidur, pada tahap ini ditandai dengan

peningkatan denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah, otot – otot relaksasi

(Maas, 2002) serta peningkatan sekresi gaster (Potter & Perry, 2003).

Seseorang akan mengalami mimpi selama tidur NREM maupun

REM, tetapi mimpi dari tidur REM lebih nyata dan diyakini penting secara

fungsional untuk konsolidasi memori jangka panjang (Potter & Perry, 2003).

1.4 Mekanisme tidur

Pengaturan mekanisme tidur dan bangun sangat dipengaruhi oleh

(5)

aktivitas neurotransmitter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik,

kolinergik, histaminergik (Japardi, 2002).

Sistem serotoninergik. Hasil serotoninergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisme asam amino triptofan. Dengan bertambahnya jumlah

triptofan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan

menyebabkan keadaan mengantuk/ tidur. Bila serotonin dalam triptofan

terhambat pembentukannya, maka terjadi keadaan tidak bisa tidur/ jaga.

Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotoninergik ini

terletak pada nucleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan aktivitas serotonis di nucleus raphe dorsalis dengan tidur REM.

Sistem adrenergik. Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepinefrin terletak di badan sel nucleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktivitas

neuron noradrenergik akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur

REM dan peningkatan keadaan jaga.

Sistem kolinergik. Menurut Sitaram dkk, (1976) dalam (Japardi, 2002) membuktikan dengan pemberian prostigimin intravena dapat

mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kolinergik ini,

mengakibatkan aktivitas gambaran EEG seperti dalam kedaan jaga. Gangguan

aktivitas kolinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini

terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM.

(6)

kolinergik dari lokus sereleus maka tampak gangguan pada fase awal dan

penurunan REM.

Sistem histaminergik. Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.

Sistem hormon. Siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti Adrenal Corticotropin Hormone (ACTH), Growth Hormon (GH), Tyroid Stimulating Hormon (TSH), Lituenizing Hormon (LH). Hormon-hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar hipofisis

anterior melalui jalur hipotalamus. Sistem ini secara teratur mempengaruhi

pengeluaran neurotransmitter norepinefirn, dopamine, serotonin yang bertugas

mengatur mekanisme tidur dan bangun.

1.5 Faktor yang memepengaruhi tidur

Penyakit. Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan tidur, misalnya : penyakit yang

disebabkan oleh infeksi (infeksi limfa) akan memerlukan lebih banyak waktu tidur

untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit yang menjadikan pasien

kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur (Mukhlidah, 2011).

Latihan dan Kelelahan. Keletihan akibat akivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah

dikeluarkan. Hal ini terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan

mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur

(7)

Stres Psikologis. Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah

psikologis mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur (Mukhlidah, 2011)

Obat. Gangguan tidur dapat disebabkan oleh penggunaan stimulan yang kronik seperti kafein, amphetamin, nikotin. Ketika tidur, tubuh mulai

memetabolisme alkohol dan hal ini mempengaruhi aktivitas otak. Alkohol bagi

sebagian orang berhasil membuat tidur lebih cepat, namun di saat yang sama,

alkohol membuat tubuh mengalami dehidrasi. Ketika tubuh terbangun untuk

mencari air karena dehidrasi, tubuh tidak dapat kembali tidur tahap REM.

Pecandu alkohol aktif mengalami gangguan tidur yang spesifik, yakni

membutuhkan waktu lebih banyak untuk jatuh tertidur, sering terbangun,

kekurangan tidur yang berkualitas, dan bahkan kelelahan di siang hari. Nikotin

dari rokok bersifat neurostimultan yang justru membangkitkan semangat. Rokok

meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung, dan meningkatkan

aktivitas otak, membuat orang yang mengisapnya justru tak bisa relaks,

mendorong pelakunya tak bisa tidur. Kafein di dalam kopi membuat jantung dan

otak kita menjadi siaga. Akibatnya, kafein menghalangi tubuh untuk melepaskan

sebuah kimia alami tubuh yang dikenal sebagai adenosin merupakan senyawa

kimia yang menimbulkan efek penenang (Mukhlidah, 2011). Selain itu beberapa

golongan obat antihipertensi dapat menimbulkan gangguan tidur (Japardi, 2002)

(8)

Lingkungan. Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang juga dapat mempercepat terjadinya proses tidur. Suara yang terlalu

keras, cahaya yang terlalu terang, tempat yang kondusif, suhu, dan kebiasaan

sebelum tidur yang dapat mengganggu konsentrasi tidur tentunya kana

mempengaruhi proses tidur (Mukhlidah, 2011).

Motivasi. Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan

untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur. (Brandon,

2006).

1.6 Kualitas tidur

Kualitas tidur adalah perasaan segar dan siap mengahadapi hidup baru

setelah bangun tidur. Kualitas tidur bersifat subjektifitas yang hanya dapat dinilai

berdasarkan indikator kondisi tubuh saat bangun tidur (Mukhlidah, 2011). Konsep

ini meliputi beberapa karakteristik seperti waktu yang diperlukan untuk memulai

tidur, frekuensi terbangun pada malam hari, lama tidur, kedalaman tidur dan

ketenangan (Eser, 2007). Kualitas tidur menyangkut pengkajian subjektif yaitu

seberapa menyegarkan dan tenangnya tidur mereka dan pengkajian objektif yang

dapat diketahui dari rekaman poligrafi, gerakan pergelangan tangan, gerakan

kepala dan mata (Mac Arthur, 1997; Nisrina, 2008).

Data subjektif. Dapat dievaluasi dengan persepsi para penderita penyakit tentang parameter tidur diantaranya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan

untuk tertidur, frekuensi terbangun pada malam hari, total waktu tidur di malam

(9)

para penderita penyakit saja yang dapat melaporkan apakah mereka mendapatkan

tidur yang baik atau buruk. Jika para penderita penyakit puas dengan kualitas dan

kuantitas tidurnya maka mereka mempunyai tidur yang baik (Potter & Perry,

2005).

Data objektif. Dapat dilihat melalui pengkajian fisik penderita penyakit yaitu dengan mengobservasi lingkaran mata, adanya respon yang lamban,

ketidakmampuan/kelemahan, penurunan konsentrasi. Selain itu, data objektif

kualitas tidur penderita penyakit juga bisa dianalisa melalui pemeriksaan

laboratorium yaitu EEG, EMG, dan EOG sinyal listrik menunjukkan perbedaan

tingkat aktivitas yang berbeda dari otak, otot, dan mata yang berhubungan dengan

tahap tidur yang berbeda (Sleep Research Society, 1993; dikutip dari (Potter &

Perry, 2005).

2. Faktor-faktor gangguan tidur pada hipertensi 2.1 Faktor fisik

Keadaan sakit menjadikan seseorang kurang tidur, bahkan tidak bisa

tidur. Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik, atau

masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi dapat menyebabkan masalah

tidur. Penderita hipertensi pada umumnya mengalami sakit kepala selain itu

penderita juga mudah lelah, sulit bernafas, sukar tidur (Dalimartha, 2008).

Gejala-gejala tersebut dapat mengganggu tidur seseorang.

(10)

klinis yang dialami pasien. Hal ini sejalan dengan Albertie (2006) yang

menyatakan bahwa pusing akan menyebabkan gangguan tidur dan apabila pusing

semakin parah maka akan semakin parah juga tingkat gangguan tidurnya. Selain

itu Rains (2006) juga menambahkan bahwa pusing dapat menyebabkan seseorang

terbangun dari tidurnya sehingga total jam tidur menjadi berkurang.

Batuk. Hal ini pada umumnya berhubungan dengan adanya efek samping dari terapi pengobatan hipertensi dengan menggunakan penghambat renin

angiotensin (ACEI) yang diberikan pada penderita hipertensi.

Sesak nafas atau sulit bernafas. Menurut Boynton (2003), kesulitan bernafas dapat menyebabkan seseorang sering terbangun dari tidurnya di malam

hari. Japardi (2002) menambahkan, kadang-kadang ada kesulitan untuk jatuh

tertidur lagi ketika sudah terbangun akibat kesulitan bernafas dan ini dapat

menyebabkan nyeri kepala dan perasaan tidak enak ketika bangun di pagi hari.

Gelisah. Martin (2000) menyatakan bahwa kesulitan tidur dapat menyebabkan berbagai gangguan tidur dan ia juga menambahkan bahwa orang

yang kesulitan tidur biasanya tidak mendapatkan tidur yang cukup sehingga akan

mempengaruhi aktivitasnya di pagi hari.

Perasaan lelah. Kelelahan dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya seseorang yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun

ketika tidur dan biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam (Shapiro et al,

1993).

(11)

(Mansoor, 2002) dan memerlukan waktu yang lama untuk mulai tertidur sehingga

akan berdampak pada total jam tidur yang berkurang dan tidak seperti orang

normal yang biasanya tertidur dalam waktu, 20 menit (Schachter, 2008)

2.2 Faktor lingkungan

Menurut Potter & Perry (2005) keadaan lingkungan dapat mempengaruhi

kemampuan untuk tertidur dan tetap tertidur di antaranya adalah suara/

kebisingan, suhu ruangan, dan pencahayaan. Keadaan lingkungan yang aman dan

nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.

Suara bising. Kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur (Hanning, 2009). WHO (2004) juga

menyatakan hal yang sama namun WHO menambahkan bahwa sebagian besar

orang tidak mengeluhkan kurang tidur karena kebisingan tetapi memiliki tidur

yang non-restoratif, mengalami kelelahan dan atau sakit kepala pada saat bangun

pagi dan kantuk yang berlebihan di siang hari.

Ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik adalah esensial untuk tidur yang tenang (Potter & Perry, 2005). Kelembaban ruangan perlu diatur agar

paru-paru tidak kering karena apabila kelembaban ruangan tidak diatur maka seseorang

tidak akan dapat tidur, walaupun dapat tidur maka seseorang akan terbangun

dengan kerongkongan kering seakan-akan seseorang tersebut menderita radang

amandel (Septiyadi, 2005).

Ruang dan tempat tidur yang nyaman. Ruang tidur merupakan tempat dimana seseorang melepaskan pikiran-pikiran yang penat / lelah setelah seharian

(12)

itulah faktor utama dari susahnya tidur (Septiyadi, 2005). Ukuran, kekerasan dan

posisi tempat tidur mempengaruhi kualitas tidur (Potter & Perry, 2005).

Cahaya lampu yang terlalu terang. Menurut Lee (1997), Sorot lampu yang terlalu terang dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat menghambat

sekresi melatonin pada tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pergeseran

sistem sirkadian, dimana jadwal tidur maju secara bertahap (Sack et al, 2007).

Suhu ruangan. Suhu ruangan yang terlalu panas/ terlalu dingin seringkali menyebabkan seseorang gelisah (Potter & Perry, 2005). Keadaan ini

akan mengganggu tidur seseorang, Lee (1997) juga menyatakan hal serupa, bahwa

seseorang akan mengalami gangguan tidur apabila tidur di ruangan yang terlalu

panas ataupun terlalu dingin.

Bau yang tidak nyaman. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2004) melaporkan bahwa tidur responden terganggu akibat bau ruangan yang

tidak nyaman. Sementara hal yang sama juga dilaporkan oleh Karota-Bukit (2003)

bahwa 13% responden mengalami gangguan tidur pada tingkat sedang karena bau

yang tidak nyaman.

2.3 Faktor Psikososial

Gangguan tidur dilaporkan oleh 90% individu yang mengalami stres,

perasaan cemas, dan depresi (Chokroverty, 1999; Suryani, 2004). Hal ini terjadi

(13)

Stres. Seseorang dapat mengalami stres emosional karena penyakit. Oleh

karena itu emosi seseorang dapat mempengaruhi kemampuan untuk tidur. Stres

emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah frustasi

apabila tidak tidur. Stres juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk

tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Stres yang

berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur yang buruk (Potter & Perry, 2005). Stres

dapat mengubah pola tidur seseorang dalam beberapa waktu. Selama adanya stres

psikologis, waktu yang dibutuhkan untuk memulai tidur dan tahap tidur NREM ke 1 dan

2 meningkat (Monroe, Simons, dan Thasle, 1992; Lee, 1997; Suryani, 2004).

Cemas. Penderita penyakit yang memiliki resiko terhadap kecemasan adalah mereka yang takut dan khawatir akan penyakitnya, diisolasi dari keluarga

dan kerabat, dan tidak familiar dengan lingkungan (Webster & Thompson, 1986).

Perasaan cemas menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk memulai tidur sangat

lama, tahap tidur NREM ke 4 dan tidur REM menurun, serta pasien lebih sering

terbangun pada malam hari (Karacan et al, 1968, 1978; Closs, 1988; Suryani,

2004).

Depresi. Depresi merupakan suatu penyakit yang berpengaruh kepada efek kejiwaan. Seseorang yang telah terkena depresi akan mengalami gangguan

tidur yang mana ciri khas seseorang yang terkena sindrome tersebut adalah susah

untuk tidur dan selalu murung (Septiyadi, 2005).

3. Kualitas tidur pada penderita hipertensi

Menurut Buysse et al (2000), kualitas tidur dapat dinilai dengan melihat

masa laten tidur, lama waktu tidur, efisiensi kebiasaan tidur, gangguan tidur,

(14)

Menurt Javaheri (2008), kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan

meningkatnya resiko hipertensi, dan dengan demikian akan meningkatkan resiko

penyakit kardiovaskular. Begitu juga sebaliknya, orang yang menderita hipertensi

akan memiliki resiko mendapatkan kualitas tidur yang buruk (Potter & Perry,

2005).

Penderita hipertensi biasanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk

mulai tertidur (Mansoor, 2002) tidak seperti orang normal yang biasanya tertidur

dalam waktu, 20 menit (Schachter, 2008). Selain itu, gejala-gejala yang biasa

dialami penderita hipertensi seperti pusing, sulit bernafas, sukar tidur dan mudah

lelah dapat membangunkan penderita dari tidurnya sehingga penderita tidak

mendapatkan tidur yang cukup yang nantinya akan berdampak pada aktivitas di

keesokan harinya (Potter & Perry, 2005).

4. Hipertensi 4.1Definisi

Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan

tekanan darah sistolik dan diastolik yang melebihi batas normal yaitu diatas

140/90 mmHg (Baradero, 2008). Hipertensi diakibatkan oleh peningkatan tekanan

darah yang yang melebihi batas normal (Murwani, 2009) dan terjadi secara terus

menerus (Brashers, 2008) sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan suatu

organ target yang lebih berat (Bustan,2007).

(15)

Menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee On Prevention, Detection, Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC 7) , tekanan darah dibagi menjadi normal, prehipertensi, hipertensi stage 1, dan

hipertensi stage 2.

Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7

Kategori Sistol (mmHg) Diastole (mmHg)

Normal <120 <80

Pre hipertensi 120-139 80-89

Hipertensi tahap 1 140-159 90-99

Hipertensi tahap 2 ≥ 160 ≥ 100

4.3 Etiologi

Hipertensi primer. Hipertensi primer juga disebut sebagai hipertensi esensial atau idiopatik (Gray, 2003). Prevalensi penderita yang mengalami

hipertensi primer yaitu sekitar 90% (Baradero, 2008). Sebagian besar penderita

hipertensi primer sulit diketahui penyebab jelasnya (Sheps, 2002) hal ini terjadi

karena penyebab hipertensi primer bersifat multifaktorial (Rubenstein, 2005)

yang mencakup kombinasi (Davey, 2003) dan interaksi (Brashers, 2008) antara

berbagai faktor genetik dan lingkungan.

Hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder merupakan jenis hipertensi yang telah diketahui penyebabnya (Gray, 2003). Hipertensi sekunder disebabkan

(16)

(Tambayong, 2000). Penyebab hipertensi primer pada umumnya yaitu penyakit

ginjal. sindrom Conn, sindrom Cushing, feokrmositoma, koarktasio aorta, dan

penggunaan obat-obat yang dapat meningkatkan tekanan darah (Sheps, 2002).

Penderita hipertensi sekunder lebih jarang ditemukan (Davey, 2003). Hal ini

dibuktikan dengan sedikitnya prevalensi pada hipertensi sekunder yaitu sekitar

5-10% (Brashers, 2008). Kondisi penderita hipertensi sekunder umumnya dapat

disembuhkan (Sheps, 2002) apabila penyakit yang menjadi faktor penyebab

hipertensi sekunder dapat diatasi dan kondisi tekanan darah penderita hipertensi

sekunder dapat menurun kembali menjadi normal (Tambayong, 2000)

4.4 Faktor risiko

Apabila semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, maka

semakin besar kemungkinan terjadinya hipertensi pada kondisi seseorang yang

normal dan bahkan dapat mengakibatkan kondisi klinis pada penderita hipertensi

menjadi semakin parah. Faktor risiko tersebut dikelompokkan menjadi 2 bagian

(Sheps, 2002) yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat

dikendalikan.

Adapun faktor risiko hipertensi primer yang tidak dapat dikendalikan dan

dimodifikasi yaitu:

Usia. Penyakit hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun umumnya hipertensi dialami seseorang pada usia 35 tahun atau lebih (Sheps, 2002). Insidens

hipertensi akan semakin meningkat dengan meningkatnya usia seseorang

(Tambayong, 2000). Sebagian besar usia yang lebih lanjut (Baradero, 2008) akan

(17)

tekanan darah meningkat (Dalimartha, 2008). Hal ini terjadi karena dipengaruhi

oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah, dan hormon (Sheps, 2002).

Jenis kelamin. Pada umumnya insidens pada pria lebih tinggi daripada wanita yang mengalami pra-menopause (Tambayong, 2000). Namun pada usia

pertengahan dan lebih tua (Tambayong, 2000) dari usia 55 tahun, ketika sebagian

wanita mengalami saat menopause (Sheps, 2002) maka insidens pada wanita lebih

tinggi dibanding pria (Tambayong, 2000). Hal ini disebabkan karena adanya

pengaruh hormon estrogen (Gray, 2003).

Riwayat penyakit hipertensi. Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan (Sheps, 2002). Sekitar 70-80% kasus hipertensi primer disebabkan

riwayat hipertensi (Dalimartha, 2008). Beberapa peneliti mengatakan bahwa

kelainan pada gen angiotensin merupakan penyebab hipertensi primer (Gray,

2003).

Sedangkan faktor risiko hipertensi primer yang tidak dapat dikendalikan

dan dimodifikasi (Sheps, 2002) yaitu:

Obesitas. Peningkatan tonus vascular dan garam serta air ginjal adalah penyebab utama hipertensi pada obesitas. Mekanisme yang mendasarinya

termasuk hiperleptinemia, meningkatnya asam lemak bebas (FFA),

hiperinsulinemia, dan insulin resisten, kesemuanya ini akan menyebabkan

stimulasi dari saraf simpatis, meningkatnya tonus vascular, disfungsi endothelial,

dan retensi sodium ginjal. Sebagai tambahan, meningkatnya aktivitas

(18)

sintesis jaringan adiposa, mengakibatkan meningkatnya retensi garam dan air

ginjal (Wahba, 2007).

Konsumsi garam berlebihan. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Hal ini

menyebabkan terjadinya retensi cairan ekstraseluler dan meningkatknya tekanan

darah. (Sheps, 2002. Pada masyarakat yang mengkonsumsi garam 3 gram atau

kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat

asupan garam sekitar 7 − 8 gram tekanan darah rata -rata lebih tinggi (Depkes,

2006).

Merokok. Tekanan darah akan meningkat sampai 10 mmHg. Tekanan darah akan kembali menurun setalah berhenti menghisap rokok selama 30 menit.

Meningkatnya tekanan darah terjadi segera setelah isapan pertama pada saat

seseorang menghisap rokok. Hanya dalam beberapa derik otak akan merespon

nikotin dalam tubuh dengan memberi rangsangan pada kelenjar adrenal untuk

melepaskan epinefrin. Hormon tersebut akan mengakibatkan penyempitan

pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat dengan cara

merusak lapisan dalam dinding arteri sehingga pembuluh darah menjadi lebih

rentan terhadap penumpukan lemak. Hal ini tentunya mengakibatkan pembuluh

darah mengalami peyempitan dan mengakibatkan jantung bekerja menjadi lebih

berat. Sedangkan karbonmonoksida pada asap rokok dapat menyebabkan kadar

oksigen dalam darah menurun sehingga jantung juga harus bekerja lebih berat

untuk memasok oksigen yang cukup ke seluruh organ dan jaringan tubuh (Sheps,

(19)

Alkohol. Alkohol dapat merangsang pelepasan epinefrin yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Selain itu konsumsi alkohol yang

berlebihan juga akan mengakibatkan penumpukan lebih banyak natrium, hal ini

disebabkan karena alkohol dapat menurunkan kadar kalium, kalsium,dan

mangnesium yang berfungi untuk mengatur keseimbangan natriun dalam sel

(Sheps, 2002). Efek konsumsi alkohol terhadap tekanan darah baru nampak

apabila mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap harinya

(Depkes, 2006).

Stres. Pada saat stres jantung bersetak cepat karena pengaruh respon yang terjadi aktivasi sistem saraf simpatis (Ronny, 2010). Hal ini tentunya akan

merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin dan kortisol

yang akan memacu jantung memompa darah lebih cepat, sehingga tekanan darah

akan meningkat (Sheps, 2002).

4.5 Manifestasi Klinis

Penderita hipertensi umumnya mengalami berbagai kondisi klinis seperti

sakit kepala , pusing, nokturia, (Corwin, 2009), dispnea, palpitasi, depresi dan

kelelahan (Murwani, 2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya

penderita hipertensi mengalami gangguan tidur yang disebabkan sulit bernafas

(Dart, 2003). Hal ini telah dibuktikan bahwa sekitar 91% penderita hipertensi

mengalami sulit bernafas saat tidur (Louis, 2005). Selain itu hasil penelitian juga

menunjukkan bahwa sekitar 68% penderita hipertensi mengalami nokturia

(20)

penderita hipertensi mengalami sakit kepala sehingga berdampak pada kualitas

tidur yang buruk (Cortelli, 2004)

4.6 Farmakologis Hipertensi

Golongan obat antihipertensi yang banyak digunakan adalah diuretik

tiazid (misalnya bendroflumetiazid), betabloker, (misalnya propanolol, atenolol,)

penghambat angiotensin converting enzymes (misalnya captopril, enalapril),

calcium channel blocker (misalnya amlodipin, nifedipin) dan alphablocker

(misalnya doksasozin).

Diuretik tiazid adalah diuretic dengan potensi menengah yang menurunkan tekanan darah dengan cara menghambat reabsorpsi sodium pada

daerah awal tubulus distal ginjal, meningkatkan ekskresi sodium dan volume urin.

Efek tiazid dapat mengakibatkan peningkatan eksresi urin.

Beta blocker memblok betaadrenoseptor. Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan memacu penglepasan neurotransmitter yang meningkatkan

aktivitas system saraf simpatis. Penggunaan betablocker pada pasien dengan

riwayat asma dan bronkhospasma harus hati-hati. Efek samping lain adalah

bradikardia, dan tangakaki terasa dingin karena vasokonstriksi akibat blokade

reseptor beta2 pada otot polos pembuluh darah perifer. Mimpi buruk kadang

dialami, terutama pada penggunaan beta‐blocker yang larut lipid seperti

propanolol.

Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi) menghambat secara kompetitif pembentukan angiotensin II. Angitensin II merupakan vasokonstriktor

(21)

perifer. ACE juga bertanggungjawab terhadap bradikinin, yang mempunyai efek

vasodilatasi. Penghambatan bradikinin akan menghasilkan efek antihipertensi

yang lebih kuat. Batuk kering merupakan efek samping yang dijumpai pada 15%

pasien yang mendapat terapi ACEi.

Calcium channel blockers (CCB) menurunkan influks ion kalsium ke dalam sel miokard, selsel dalam sistem konduksi jantung, dan selsel otot polos

pembuluh darah. Semua hal di atas adalah proses yang bergantung pada ion

kalsium. Terdapat tiga kelas CCB: dihidropiridin (misalnya nifedipin dan

amlodipin); fenilalkalamin (verapamil) dan benzotiazipin (diltiazem).

Dihidropiridin mempunyai sifat vasodilator perifer yang merupakan kerja

antihipertensinya, sedangkan verapamil dan diltiazem mempunyai efek kardiak

dan digunakan untuk menurunkan heart rate dan mencegah angina. Semua CCB

dimetabolisme di hati. Efek samping dari CCB yaitu pusing dan pembengkakan

Figur

Tabel 1.  Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7
Tabel 1 Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7 . View in document p.15

Referensi

Memperbarui...