Dampak Globalisasi dalam bidang Politik
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi ( dambaan akan kebebasan ). Dampak positif globalisasi:
Semakin menguatnya supremasi hukum, demokratisasi, dan tuntutan terhadap dilaksanakannya hak-hak asasi manusia.
Menguatnya regulasi hukum dan pembuatan peraturan perundang-undangan yang memihak dan bermanfaat untuk kepentingan rakyat banyak.
Semakin menguatnya tuntutan terhadap tugas-tugas penegak hukum yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
Menguatnya supremasi sipil dengan mendudukkan tentara dan polisi sebatas penjaga keamanan, kedaulatan, dan ketertiban negara yang profesional.
Dampak negatif globalisasi:
Peran masyarakat dalam menjaga keamanan, kedaulatan, dan ketertiban negara semakin berkurang karena hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab pihak tentara dan polisi. Perubahan dunia yang cepat, mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat secara global. Masyarakat sering kali mengajukan tuntutan kepada pemerintah dan jika tidak dipenuhi, masyarakat cenderung bertindak anarkis sehingga dapat mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Ideologi Pancasila
Globalisasi yang sedang kita rasakan saat ini dampaknya telah berpengaruh pada kehidupan politik suatu bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan dan kemakmuran yg seluas-luasnya dalam sebuah negara atupun individu masyarakat. Globalisasi saat ini bisa dikatakan sebagai bentuk penjajahan model baru yang bisa mengakibatkan keterpurukan ekonomi dan kemiskinan suatu bangsa yang tidak mampu mengimbangi pengaruh globalisasi tersebut. Janji negara Barat kepada negara berkembang bahwa globalisasi memberikan kemakmuran hanyalah retorika, kenyataanya yang mendapatkan kemakmuran hanya negara-negara maju. Globalisasi dengan ideologi
kapitalis dan liberalis mencoba untuk memecah belah Indonesia disemua aspek politik, ekonomi dan sosial budaya.
Tidak adanya kekuatan kebangsaan, ekonomi dan militer, Indonesia tidak memiliki bargaining power dalam menghadapi tekanan negara maju. Terlebih kebebasan di era globalisasi dan reformasi sudah tidak terkendali, ideologi Pancasila sebagai pemersatu untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme dikalangan pemimpin politik, pengusaha, pemuda dan tokoh-tokoh agama mulai rapuh dan kemungkinan kedepan hanya tinggal sejarah. Materi wawasan
Kemerosotan moral dikalangan pemuda, kekerasan, kemiskinan dan kesenjangan sosial, sebagai dampak dari globalisasi dan lemahnya penegakan hukum, konspirasi dan kolusi dikalangan birokrasi, militer dan penegak hukum semakin sulit bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang bisa berdiri sendiri sehingga mempermudah intervensi asing untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Karena globalisasi hanya memberikan 2 kemungkinan yaitu memberi kemakmuran dan kebebasan sekaligus mendatangkan kemiskinan dan ketergantungan pada negara lain sebagaimana yang dialami Indonesia saat ini.
Sikap menghadapi globalisasi
Globalisasi sekarang tidak lain dari hibridasi. Hibdirasi yang ditimbulkan oleh perjumpaan antarbudaya, antarfilsafat, antarideologi, antaretnis, antarkomunitas, antarilmu, juga antara agama. Mentalitas yang perlu ada di sini adalah mentalitas orang yang percaya diri. Sedangkan mentalitas orang yang kurang percaya diri justru menjadi ciri khas dari zaman orang yang kurang percaya diri justru menjadi ciri khas dari zaman kolonialisme. Banyak bangsa yang dijajah akhirnya memilih dua sikap yang eksterm. Pertama, mengikuti budaya sang tuan. Kedua, melawan apa saja yang dianggap datang dari sang tuan. Kedua sikap itu sama saja. Keduanya datang dari rasa percaya diri yang kurang. Menunjukkan kualitas diri sendiri tidak harus berarti melawan apa saja yang datang dari luar diri sendiri. Sebaliknya, mengambil alih apa-apa yang datang dari luar diri sendiri tidak harus datang dari perasaan rendah diri. Saya sering heran, mengapa kita disatu pihak sering menunjukkan sikap sinis terhadap Belanda, di pihak lain hormat kita kepada Londo jauh lebih tinggi dari pada hormat kita terhadap bangsa sendiri. Selain itu, yang tak kalah mengherankan adalah orang Belanda yang menjajah kita itu justru
menyimpan berbagai dokumen penting tentang budaya kita, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan bahkan bisa mengajari kita tentang budaya kita sendiri. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah ini bukan bukti bahwa kita memang sering percaya diri? Jika memang
demikian, bukankah lebih baik jika kita mencoba mengatasinya sendiri dan tidak justru malah meneruskan rasa tidak senang terhadap Londo (entah Londo Belanda atau Londo Inggris atau Londo Amerika, pokoknya semua Londo alias orang barat), apalagi membangun sebuah harapan bahwa kita bisa membuat suatu dunia yang bersih dari unsur-unsur barat. Perdebatan antara sains dan agama yang kita lakukan selama ini kiranya jangan sampai bergeser pada sikap-sikap pemisahan diri yang sulit untuk dipraktikkan, kecuali jika kita mampu memformat ulang dunia kita sekarang ini.
Kebijakan bidang politik dalam upaya menghadapi tantangan globalisasi disebutkan sebagai berikut :
-Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional, menitikberatkan pada solidaritas antar negara berkembang mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa, menolak penjajahan dalam segala bentuk, serta kerja sama internasional bagi kesejahteraan rakyat.