HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil analisa pH air Sungai Siak sebelum dan setelah diolah, dan dibandingkan dengan hasil penelitian Panjaitan dan Supriyono, 2008 (Tabel 1). Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa pH air setelah diolah meningkat menjadi netral. Hal ini karena pada penelitian tersebut tidak dilakukan penambahan kapur ash pada proses pengolahan air, dan juga karena adanya pengaruh dari tawas [Al2(SO4)3] bersifat asam, sehingga menyebabkan pH air semakin menurun. Variasi ketebalan media penyaring yang digunakan tidak mempengaruhi pH air, pH relatif stabil baik pada penelitian ini maupun pada penelitian lainnya.
Tabel 1. Hasil analisa pH air
Jenis Sampel
pH Air Sebelum diolah
pada penelitian ini
Setelah diolah pada penelitian ini
Setelah diolah pada penelitian
sebelumnya
Air baku 5,12 -
-Sampel 1 ketebalan filter 20
cm
5,12 7,03 5,03
Sampel 2 ketebalan filter 24
cm
5,12 7,02 5,02
Sampel 3 ketebalan filter 28
cm
5,12 7,04 5,03
Sumber : (Yusnimar, 2010)
ketebalan media penyaring 24 cm dan 28 cm adalah berwarna kuning bening dan bening.
Gambar 1. Hasil analisa warna air sebelum dan setelah diolah
Sumber : (Yusnimar, 2010)
Warna air sungai sebelum diolah sangat berbeda dengan warna air setelah diolah. Mula-mula warna air sebelum diolah berwarna coklat, setelah diolah berubah menjadi tidak berwarna atau bening. Semakin tebal media penyaring yang digunakan maka warna air semakin bening atau tidak berwarna. Hal ini disebabkan karena jumlah pori-pori pada media penyaring yang paling tebal (28 cm) lebih banyak daripada media penyaring 20 dan 24 cm, sehingga kemampuan menjerapnya juga paling besar terhadap koloid dan senyawa padatan tersuspensi dalam air. Warna dari air dapat disebabkan karena adalnya senyawa organik yang belum dihilangkan dari air. Dengan media filter yang semakin tebal maka diharapkan senyawa organik yang terkandung didalam air tidak lolos pada pori-pori pasir.
Bau pada air sebelum diolah sangat berbau humus, dan air yang telah diolah berkurang baunya. Air yang diolah dengan memggunakan media penyaring setebal 20 cm sedikit berbau. Sedangkan air yang diolah dengan menggunakan media penyaring setebal 24 cm dan 28 cm adalah tidak berbau. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tebal media penyaring yang digunakan maka air semakin tidak berbau. Dari analisa tersebut diketahui bahwa didalam sand filter
tetapi pada akhirnya zat-zat yang berhasil ditangkap oleh pasir akan menyebabkan akumulasi pada permukaan pasir. Sehingga pada akhirnya pasir haruslah diganti karena akumulasi yang terlalu banyak.
Gambar 2. Hasil analisa bau air sebelum dan setelah diolah
Sumber : (Yusnimar, 2010)
Pada analisa rasa, perbedaan perlakuan pada air menyebabkan rasa juga berbeda. Perlakuan pengolahan air pada penelitian menyebabkan air gambut bahkan menjadi tidak berasa. Analisa dari segi rasa dilakukan dengan uji organoleptik. Uji organoleptik dilakukan dengan mencicipi air hasil olahan yang didapat. Dari uji organoleptik tersebut hasilnya adalah Pada awalnya air sebelum diolah sangat berasa asam, tetapi setelah diolah air menjadi tidak berasa. Rasa air yang diolah dengan memakai media penyaring setebal 20 cm adalah sedikit berasa asam, sedangkan rasa air yang diolah dengan memakai media penyaring setebal 24 cm dan 28 cm tidak berasa. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tebal media penyaring yang digunakan maka rasa air semakin berkurang dan tidak berasa.
olahan dan media penyaring pada ketebalan 28 cm lebih besar dibandingkan pada ketebalan 20 cm dan 24 cm, sehingga penjerapan ion Fe3+ dan Cu2+ lebih banyak terjadi pada ketebalan media penyaring 28 cm dibandingkan pada ketebalan media penyaring lainnya.
Gambar 3. Hasil analisa rasa air sebelum dan setelah diolah
Sumber : (Yusnimar, 2010)
Selain telah direduksi oleh pasir. Ion Fe3+ dan Cu2+ yang terkandung didalam air juga sebelumnya telah terserap oleh bentonit. Peran bentonit yang utama adalah sebagai adsorben dari senyawa Fe3+ dan Cu2+. Sehingga pada akhirnya kadar logam yang terkandung didalam air gambut juga semakin kecil. adsorpsi, yakni konsentrasi, luas permukaan, suhu, ukuran partikel, pH, waktu kontak. Bentonit adalah salah satu adsorbat yang baik namun perlu diaktifkan terlebih dahulu yakni dengan pemanasan dan kontak asam.
Tabel 2. Hasil analisa kadar ion Fe3+ dan Cu2+ pada air
Jenis Sampel Kadar ion Fe3+ (ppm) Kadar ion Cu2+
Air baku 1,6268 0,6672
Air baku + bentonit 0,3225 0,3607
Media filtrasi 20 cm 0,0688 0,1076
Media filtrasi 24 cm 0,0326 0,0043