• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL BAHAN PEMBELAJARAN TE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL BAHAN PEMBELAJARAN TE"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. PENGEMBANGAN MODEL BAHAN PEMBELAJARAN

TEKNOPRENEURSHIP

BAB. II

STUDI KEPUSTAKAAN

Pada bagian studi kepustakaan ini secara berturut-turut dibahas tentang: (a) pengertian entrepreneurship dan entrepreneur, karakteristik wirausaha, serta peran kewirausahaan dalam pengurangan pengangguran dan kemiskinan; (b) program kewirausahaan di perguruan tinggi; (c) pengertian teknopreneurship; dan, (d) pengembangan matakuliah teknopreneurship.

A.Entrepreneurship

Dalam buku “Ciputra Quantum Leap”, Ciputra (2009) memberi pengantar

tentang masalah pengangguran, kemiskinan, dan banyaknya upaya serta biaya untuk mengatasinya, namun demikian pengangguran dan kemiskinan masih merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara berkembang di abad 21. Menurut Ciputra kegagalan program pengentasan pengangguran dan kemiskinan adalah hilangnya kata kunci “entrepreneurship”. Lebih jauh dia menulis (ibid, 2009:32) bahwa:

…dengan hanya berbekal ijasah tanpa kecakapan entrepreneurship: siapkanlah diri untuk antre pekerjaan, karena saat ini pasokan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi sudah tidak berimbang dengan peluang yang tersedia.

Berdasarkan pengalaman hidupnya sebagai seorang entrepreneur yang sukses,

(2)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. 1. Pengertian Entrepreneurship

Kata entrepreneurship digunakan oleh para akademisi, praktisi, maupun pengambil kebijakan dengan makna yang berbeda-beda.

Menurut kertas kerja yang disampaikan oleh tim kementerian usaha kecil dan menengah (Small Medium Entreprise– SME) pemerintah Thailand (2003:2) pada pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation

(APEC) di Chiang Mai Thailand dijelaskan bahwa entrepreneurship adalah: “an efforts related to the formation of an organization with the expectation of value creation to the

participants”.

Chigunta, et.all (2005: v) mempergunakan kata entrepreneurship untuk maksud:

a way of thinking, reasoning and acting - that is opportunity oriented… It is the process whereby individuals become aware of the self-employment career option, develop ideas, take and manage risks, learn the process and take the initiative in developing and owning a business.

Sobel (2010) menyebutkan entrepreneurship sebagai sebuah proses untuk menemukan cara baru mengkombinasikan sumberdaya yang dapat memberikan keuntungan kepada pelaku usaha.

Entrepreneurship adalah kata yang populer, yang dalam bahasa Indonesia

disepadankan dan diterima oleh banyak pihak dengan kata “kewirausahaan” (Harmaizar, 2006; Akbar, 2007; Suherman, 2008; Ciputra, 2009). Entrepreneurship atau

kewirausahaan sebagaimana disepakati oleh para akademisi adalah sikap mental yang diantaranya adalah: selalu aktif berusaha meningkatkan hasil karya (Tohar, 2000); proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi) atau mengadakan perubahan atas yang lama (inovasi) (Hamaizar, 2007).

Entrepreneurship yang datang dari dunia barat merupakan kata benda yang berhubungan dengan kata “entrepreneur”,yang dalam “Webster Universal Dictionary and Thesaurus” terbitan tahun 1993 pada halaman 192 kata “entrepreneur” disebutkan sebagai: “a person who take the commercial risk of starting up and running a bussines

(3)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Entrepreneur dalam “Oxford Edvanced Learner’s Dictionary” edisi ke-empat yang diterbitkan oleh Oxford University Press (OUP) tahun 1989 pada halaman 403 dijelaskan sebagai: “person who starts or organizes a commercial enterprise, especially one involving financial risk”, dan yang kedua adalah; “persons who works under

contract as an intermediary in the business affairs or others”.

Goldsmith (2010:1) merujuk pada pendapat Joseph Schumpeter (1883 – 1950), seorang pakar dalam bidang entrepreneurship yang menyatakan bahwa: “an

entrepreneur as one who reorganizes economic activity in an innovative and valuable

way”. Oleh karena itu Goldsmith menyimpulkan bahwa: entrepreneur adalah orang yang terlibat dalam kegiatan ekonomi baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Kata entrepreneur menurut Echols & Shadily (1975) dalam Kamus Inggris-Indonesia edisi XIV yang diterbitkan oleh P.T Gramedia tahun 1986 dibawah copyright Cornel University, kata entrepreneur yang tertulis pada halaman 216 diartikan sebagai: entreprenir; pengusaha; atau usahawan.

Dalam bahasa Indonesia kata entrepreneur, baik untuk komunikasi lesan maupun tulisan disepadankan dengan kata “wirausaha” yang memiliki makna orang atau pelaku usaha (Sutrisno, 2003; Pahlevi, 2006; Akbar, 2007), sedangkan Salim (2010)

mempergunakan kata wirausaha sebagai hasrat untuk mewujudkan ide sehingga mencapai kepuasan spiritual maupun finansial.

2. Karakteristik Wirausaha

(4)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Siapakah yang yang disebut wirausaha itu?, Joseph (2001) seorang general manager dari Caribbean Business Services Limited menyebutkan bahwa seorang wirausaha adalah seseorang yang dapat membuka usaha yang menguntungkan yang mempergunakan sumberdaya lokal untuk memenuhi kebutuhan daerah setempat maupun untuk memenuhi kebutuhan daerah lain.

Wirausaha setidaknya memiliki tujuh atribut, yaitu: memiliki imajinasi; memiliki kecakapan berkomunikasi; memiliki pengetahuan tentang produk dan pasar; mau bekerja keras; tidak mudah putus asa, dan; berani mengambil resiko. Schumpeter dalam Sobel (2010: 2) menekankan bahwa: “…entrepreneur as an innovator who implements change in an economy by introducing new goods or new methods of production…”.

Harefa & Siadari (2006), menyimpulkan tentang entrepreneur sebagai orang yang menonjolkan kepekaan dan kemampuan memilih bidang usaha yang cocok, sesuai dengan minat dan kemampuan, serta ilmu yang dikuasainya.

Menurut Ruwyma Rens (2010:5), seorang wirausaha dan kreator kesejahteraan dari Kenya, wirausaha setidaknya memiliki karakter sebagai berikut: determined; commited; able to tolerate risks and uncertainty; a leader; able to see opportunities; self-confident; adaptable; dan motivated.

3. Peran Kewirausahaan Dalam Program Pengurangan Pengangguran dan

Pengentasan Kemiskinan

Pentingnya peran kewirausahaan dalam upaya untuk mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan, telah diyakini oleh beberapa pihak dari kalangan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (NGO’s), lembaga pendidikan, swasta perorangan dari dalam dan luar negeri pada tingkat nasional maupun internasional.

UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), sebagai

(5)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. Rural and Women Entrepreneurship (RWE) yang bertujuan untuk: “Promoting a

conducive business environment and at building institutional and human capacities that

will encourage and support the entrepreneurial initiatives of rural people and women” (Unido, 2003:5), Unido telah melakukan berbagai macam kegiatan dan diberbagai wilayah negara berkembang.

Program yang telah dilaksanakan oleh Unido meliputi: pengembangan kurikulum pendidikan kewirausahaan di Uganda; peningkatan produktivitas usaha di Maroko; peningkatan peran wanita dalam wirausaha di Rwanda; dan menghubungkan antara asosiasi swasta, LSM dan perguruan tinggi.

Di Indonesia, pentingnya pengentasan pengangguran dan pengentasan

kemiskinan melalui pendidikan kewirausahaan dan pengembangan wirausaha juga telah lama disadari oleh pemerintah.

Konsep pendidikan kewirausahaan di Indonesia pada dasarnya telah dikenal sejak tahun 1970, yaitu dikenal sebagai kewiraswastaan. Pendidikan kewiraswasataan pada awalnya dilaksanakan adalah sebagai program penyiapan calon wirausaha baru dari kalangan karyawan purna tugas, namun program ini kemudian tidak berkembang,

sebagaimana Hadisoegondo melaporkan (2006: 50), “… kemudian setelah hampir 5-6 tahun berjalan upaya dan proses dimaksud hilang begitu saja, tanpa ada penjelasan atau ulasan apa sebabnya”.

Mulai tahun 1993 pemerintah telah menetapkan rancangan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat atau pemberdayaan berbasis masyarakat (community base development approach) dalam GBHN (Susanto, 2006). Pada tingkat kebijakan penanggulangan kemiskinan diwujudkan dengan dikeluarkannya Program Inpres (Instruksi Presiden) Desa Tertinggal atau Program IDT yang

pendanaannya mempergunakan dana APBN (YDSM, 2006).

(6)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

(Kukesra), adalah bentuk kredit keluarga yang dikeluarkan oleh BKKBN yang bertujuan untuk memberikan bantuan modal usaha serta penyangga ekonomi bagi keluarga

(Ruslan & MWK, 2006; YDSM, 2006).

Disamping adanya program pemberdayaan keluarga dan masyarakat, pemerintah juga berupaya untuk melakukan pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan cara memberikan berbagai fasilitas kemudahan. Perhatian pemerintah terhadap UKM didasari atas kesadaran arti pentingnya peran UKM dalam menunjang

pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran (Wijana, 2005), juga membantu pemerataan hasil-hasil pembangunan (Hafsah, 2004).

Dengan kesadaran tingginya peran UKM dalam mengurangi penganguran dan kemiskinan, pemerintah telah berupaya memberikan peluang kepada masyarakat untuk menciptakan wirausaha-wirausaha baru. Penciptaan wirausaha baru dilakukan melalui dua jalur, yaitu: melalui jalur pendidikan nonformal yang dilakukan lewat

pengembangan UKM oleh inkubator bisnis dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), sedangkan untuk pencetakan wirausaha baru melalui jalur pendidikan formal ditargetkan dapat dilaksanakan lewat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Ditargetkan sampai dengan akhir tahun 2009 pembentukan wirausaha baru dari jalur pendidikan nonformal adalah 1.268.400 wirausaha baru, dan; dari jalur pendidikan formal adalah 3.355.600 wirausaha baru, yang terdiri dari 2.670.600 wirausaha baru dari sekolah menengah atas, dan 685.000 wirausaha baru dari perguruan tinggi (Pahlevi, 2006).

Pada jalur pendidikan nonformal upaya mencetak wirausaha baru dilakukan dengan memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pemuda usia produktif, baik bagi pemuda warga pedesaan maupun pemuda warga perkotaan yang belum bekerja.

(7)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

kewirausahaan. Tujuan dari program kursus KWD dan KWK (Dirjen PNFI, 2010: 3). adalah:

memberikan bekal pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat sehingga setiap lulusan pendidikan nonformal dapat masuk di dunia kerja dan atau menciptakan lapangan kerja baru, menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang kreatif dan inovatif sehingga mampu memberdayakan potensi lokal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), merupakan jalur pendidikan formal jenjang sekolah menengah yang dijadikan sebagai model rintisan pendidikan kewirausahaan untuk pembentukan wirausaha baru (Dikmenjur, 2003; Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Untuk penguatan pendidikan kewirausahaan di SMK, Direktorat Penddidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) telah memberikan dana block grant

(hibah) modal kerja pengembangan kelas wirausaha kepada 59 SMK yang tersebar pada 26 propinsi pada tahun 2002 (Dikmenjur, 2002a).

Agar kegiatan kelas wirausaha pada SMK dapat terlaksana dengan baik, Direktorat Penddidikan Menengah Kejuruan juga memberikan program pembinaan kepada SMK penerima dana pengembangan kelas wirausaha yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada beberapa perguruan tinggi pendamping. Sebagai sasaran pembinaan adalah: siswa peserta kelas wirausaha; guru pengelola kelas wirausaha, dan; kepala sekolah (Dikmenjur, 2002b; LPM UM, 2003).

B.Program Kewirausahaan di Perguruan Tinggi

1. Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi

Massachute Institute of Technology (MIT) sebagai institusi pendidikan tinggi di Amerika Serikat dalam bidang teknologi melakukan launching matakuliah “New Entreprise” pada tahun 1961, dan telah tumbuh dan berkembang menjadi “MIT

Entrepreneurship Center” pada tahun 1996, serta telah menghasilkan lebih dari 5.000

wirausaha baru (MIT Entrepreneurship Center, 2010). Universitas Illinois, tak

ketinggalan telah membuka program Agricultural Entrepreneur Development Initiative

(8)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan jalan baru untuk menambah penghasilan (Gold smith, 2010).

Di Eropa, perkembangan pendidikan kewirausahaan menunjukan angka yang signifikan pula. Hasil survey NIRAS (2008), menunjukan bahwa hampir setengah dari pendidikan tinggi di Eropa terlibat dalam pendidikan kewirausahaan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi juga dirasakan di Afrika, Daodu dalam Akpomi (2009: 164) melaporkan bahwa: “ investigated the relevance and modalities of utilizing entrepreneurship and enterprise education as a

strategy/instrument for channeling the energies of university graduates in Nigeria away from paid employment into self employment”.

Jepang sebagai salah satu Negara di kawasan Asia yang paling maju dalam bidang industrinya, setelah kebangkitannya paska Perang Dunia II, menyadari akan pentingnya peran UKM sebagai motor penggerak ekonomi, oleh karenanya Jepang memfokuskan pengembangan UKM melalui beberapa strategi dan program. Dengan mega proyek: “Stand up, Japan! Dream-Gate Project”: yang bertujuan untuk

meningkatkan minat masyarakat untuk membuka usaha baru; meningkatkan pengguna pelayanan online dukungan pembukaan usaha baru; dan melakukan pendidikan intensif untuk perguruan tinggi.

Di Jepang, pendidikan wirausaha sebagai bagian penting langkah peningkatan kualitas sumberdaya diterapkan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Untuk merealisasikan program pendidikan wirausaha pada jenjang pendidikan tinggi, Jepang membuat program yang disebut “Hiranuma Plan”, lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut (Japan, 2003: 3):

(9)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Di Indonesia, lembaga pendidikan tinggi yang memiliki otonomi dalam

penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Sisdiknas, 2003: pasal 24, ayat 2), didorong untuk dapat menyelenggarakan pendidikan

kewirausahaan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing lembaga.

Sebagai salah satu jalur pendidikan formal yang telah dipilih pemerintah untuk menghasilkan wirausaha baru dengan target 137.000 wirausaha baru pertahun bagi 1.370 perguruan tinggi, setiap perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan 100 wirausaha baru dari lulusannya pertahun (Pahlevi, 2006).

Untuk mewujudkan target terlahirnya wirausaha-wirausaha baru dari perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) telah meluncurkan beberapa jenis program pendukung yang bersifat memperkuat program pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi.

Bentuk pogram pendukung untuk pembentukan calon wirausaha baru berbasis pendidikan tinggi, sebagaimana dijelaskan dalam kata sambutan oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, dalam Buku Pedoman Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) 2009 (DP2M, 2009:3 ) sebagai berikut:

Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi (PBKPT) untuk membantu melahirkan sarjana-sarjana entrepreneur sebagai tanggapan DP2M atas lambatnya perkembangan usaha kecil di Indonesia akibat kurangnya pemahaman ilmu pengetahuan di lingkungan pengusaha kecil.

Program-program pengabdian kepada masyarakat yang diluncurkan oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) dalam bentuk Program Vucer & Vucer Multi Tahun pada dasarnya adalah program hibah yang diperuntukan bagi dosen yang sasaran bidiknya adalah masyarakat pelaku usaha,

sedangkan Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi sasarannya adalah mahasiswa.

(10)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

(KKU); dan Inkubator Wirausaha Baru (INWUB); Untuk lembaga perguruan tinggi telah pula tersedia hibah Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK).

Selain program hibah yang diberikan kepada dosen, DP2M pada tahun 2001 telah meluncurkan pula Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), yang bertujuan untuk

menyiapkan kapasitas mahasiswa sebagai berikut: (DP2M, 2007:331)

Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang cendekiawan, wirausahawan, mandiri dan arif, mahasiswa diberi peluang untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggungjawab, membangun kerjasama tim maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu yang ditekuni.

Ada 5 jenis kegiatan yang ditawarkan di dalam program PKM, yaitu: (1) PKM Penelitian (PKMP), (2) PKM Penerapan Teknologi (PKMT), (3) PKM Kewirausahaan (PKMK), (4) PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKMM), dan (5) PKM Penulisan Ilmiah (PKMI).

Sesuai dengan tujuan pemberian program PKM bagi mahasiswa, maka salah satu jenis program PKM, yaitu program PKMK di fokuskan pada upaya pemberian

kesempatan bagi mahasiswa untuk berlatih berwirausaha. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Panduan PKM bahwa PKM Kewirausahaan (PKMK) merupakan kreativitas

penciptaan keterampilan berwirausaha dan berorientasi pada profit.

Namun demikian program PKMK yang ditujukan untuk menciptakan wirausaha baru dari kalangan mahasiswa masih belum dapat menghasilkan pencampaian yang memadai, permasalahan diduga karena sistem pendidikan di perguruan tinggi yang cenderung mempersiapkan mahasiswa sebagai pencari kerja (job-seeker) dan bukan pencipta kerja (job-creator), serta tidak berorientasi kebutuhan nyata pasar dan masyarakat.

Berkaitan dengan masalah ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sejak tahun 2009 telah mengembangkan sebuah strategi pendidikan dalam rangka memberi

(11)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Strategi yang dilakukan oleh DP2M untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja adalah diluncurkannya Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), yaitu: program pemberian hibah pendanaan untuk memulai usaha baru.

Disamping pemberian program PMW, DP2M juga telah memberikan program pelatihan kewirausahaan bagi dosen pendamping kewirausahaan di PTN dan PTS yang dimulai sejak tahun 2008.

Untuk lebih memantapkan dan meningkatkan kualitas pelaksanaan program kewirausahaan di perguruan tinggi, DP2M juga meluncurkan program Pengembangan Pusat Kewirausahaan dan Produktivitas Nasional (P2KPN) yang tujuannya adalah (Direktoral Kelembagaan Dirjen Dikti, 2010: 2):

Agar program kewirausahaan dapat berjalan secara berkesinambungan di perguruan tinggi serta mempunyai sistem pengelolaan yang terencana dengan sistematis dan progresif,… melalui lembaga ini diharapkan tidak hanya dapat dikaji dan dihasilkan sistem pendidikan yang tepat, tetapi juga hasil-hasil karya yang bernilai secara akademis dan ekonomis.

Sehubungan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Kelembagaan mulai tahun 2010 telah memberikan bantuan P2KPN bagi lembaga pendidikan tinggi dengan syarat dan kriteria tertentu. Diharapkan P2KPN sebagai pusat pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi, tidak hanya dapat mewadahi kegiatan mahasiswa, tetapi juga kegiatan dosen dan civitas akademik lainnya.

Dari rangkaian uraian tersebut diatas, dapat dilihat bahwa kewirausahaan telah menjadi bagian yang sangat penting dari program pengembangan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang ditujukan untuk menghasilkan wirausaha baru.

2. Pendidikan Kewirausahaan di Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang yang memiliki dua program studi, yaitu: program studi Pendidikan Teknik Bangunan (S1), dan;

(12)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Arsitektur; konsentrasi Survey dan Pemetaan; konsentrasi Analisa Struktur; konsentrasi Menggambar Bangunan; konsentrasi Jalan Raya dan Transportasi; konsentrasi

Bangunan Air; serta konsentrasi Manajemen Konstruksi dan Kewirausahaan, sedangkan pada jenjang D3 non-pendidikan hanya ada satu konsentrasi, yaitu konsentrasi Teknik Sipil (Fakultas Teknik, 2007).

Matakuliah kewirausahaan di Jurusan Teknik Sipil merupakan jenis matakuliah yang masuk dalam kelompok mata kuliah wajib bagi mahasiswa D3 TSB , sedangkan untuk mahasiswa S1 PTB yang wajib memprogram matakuliah kewirausahaan adalah mahasiswa dengan konsentrasi Manajemen Konstruksi dan Kewirausahaan.

Diberikannya matakuliah kewirausahaan pada struktur kurikulum program studi S1 PTB konsentrasi Manajemen Konstruksi dan Kewirausahaan, serta pada program studi D3 TSB adalah didasarkan atas salah satu misi jurusan Teknik Sipil, yaitu: menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi di bidang kewirausahaan. Pemberian matakuliah kewirausahaan pada struktur kurikulum jurusan Teknik Sipil adalah untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sebagai wirausahawan dalam bidang jasa konstruksi, disamping kompetensi utamanya sebagai tenaga kependidikan (S1 PTB),dan perencana dan pelaksana jasa konstruksi (D3 TSB).

Tabel 2.1. Silabi Matakuliah Kewirausahaan pada Jurusan Teknik Sipil

Silabi Matakuliah Kewirausahaan pada program studi S1 PTB

Silabi Matakuliah Kewirausahaan pada program studi D3 TSB

Dasar dasar usaha

Bentuk usaha

Dasar-dasar manajemen perusahaan dan organisasi

Manajemen sumberdaya manusia Manajemen keuangan dan perbankan

Dasar-dasar akutansi

Manajemen produksi dan operasi

Manajemen pemasaran Manajemen resiko

Dasar dasar usaha

Bentuk usaha

Dasar-dasar manajemen perusahaan dan organisasi

Manajemen keuangan dan perbankan Dasar-dasar akutansi

Manajemen produksi dan operasi

Manajemen pemasaran

(13)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. Manajemen strategi

Sistem informasi manajemen

Perpajakan

Sistem informasi manajemen Perpajakan

Observasi/studi untuk rintisan usaha

Berdasarkan katalog jurusan Teknik Sipil tahun 2009, matakuliah kewirausahaan pada program studi S1 PTB dimasukan dalam kelompok Mata Kuliah Berkarya Bidang Studi (MKBBS) dengan sandi mata kuliah PBG480, sedangkan untuk program studi D3 TSB mata kuliah kewirausahaan masuk dalam Matakuliah Perilaku Berkarya (MPB) dengan sandi mata kuliah TSB 342. Silabi mata kuliah kewirausahaan di jurusan teknik sipil pada program studi S1 PTB dan D3 TSB adalah sebagai berikut (Table 2.1). Bobot dari matakuliah kewirausahaan adalah 2 sks/js.

Silabi matakuliah kewirausahaan pada jurusan teknik sipil tersebut diatas lebih mengarah kepada silabi untuk pengelolaan bisnis daripada silabi untuk matakuliah kewirausahaan. Silabi kewirausahaan, baik silabi kewirausahaan untuk program studi S1 PTB maupun silabi kewirausahaan D3 TSB kurang mencerminkan kepentingan

penanaman karakter kewirausahaan, dimana pemahaman dan penjiwaan terhadap karakter kewirausahaan diperlukan untuk bekal mahasiswa dalam perannya sebagai calon wirausaha setelah lulus nantinya.

Penjiwaan terhadap karakter kewirausahaan juga diperlukan bilamana lulusan S1 PTB dan D3 TSB akan bekerja sebagai tenaga pelaksana pada sebuah perusahaan konstruksi, apalagi bila lulusan akan mandiri menjadi pelaku wirausaha dalam bidang usaha yang terkait dengan konstruksi.

3. Pendidikan Kewirausahaan

(14)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Lupiyoadi (2007) mempercayai bahwa sikap kewirausahaan pada realitasnya dapat dibentuk melalui proses pembelajaran.

Belajar dari pengalaman negara maju dan proyek pembelajaranan yang

dilakukannya, Cieslik (2004), mengambil kesimpulan bahwa: kewirausahaan tidak saja dapat diajarkan pada jenjang pendidikan sarjana, tetapi juga dapat diajarkan pada jenjang master, dan bahkan pada jenjang doktor dari semua jurusan. Secara khusus dia menyatakan bahwa: …Entrepreneurship is not only for business, but is also for non-business students (i.e., engineering, hard sciences, medical, and arts).

Dalam hal ini Akbar (2007) juga berpendapat bahwa sifat-sifat kewirausahaan dapat dimiliki oleh siapa saja dan apapun profesinya.Suyono (2009) setuju bahwa wirausaha dapat dibentuk melalui proses pendidikan, namun demikian juga diakui bahwa untuk membentuk budaya wirausaha memang merupakan hal yang tidak mudah.

Masalah cukup serius yang dihadapi dalam membentuk budaya wirausaha, atau melahirkan wirausaha baru dari kalangan perguruan tinggi menurut Motik (2007) adalah: pertama mindset lulusan perguruan tinggi yang masih sebagai pencari kerja bukan pencipta lapangan pekerjaan; kedua lemahnya kurikulum kewirausahaan, dan; ketiga masih minimnya daya dukung pemerintah terhadap kesempatan berwirausaha.

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Motik, Siswoyo (2009) mengambil tiga kesimpulan penting terhadap kondisi pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi, yaitu: sebagaian besar lulusan perguruan tinggi lebih siap sebagai pencari kerja daripada pencipta lapangan pekerjaan; kurikulum kewirausahaan yang diberikan kurang sesuai dengan bidang keilmuan, dan; perlu dukungan lembaga penyelenggara secara memadai.

Perubahan Mind-set dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan menjadi sangat penting dalam pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi, Suyono (2009: 2) menyatakan bahwa:

(15)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Tentang perubahan mind-set kewirausahaan, Ciputra (2009:54) memandang upaya pendidikan kewirausahaan sebagai: … upaya sengaja yang terstruktur untuk membangun mindset atau cara pandang entrepreneur dan kecakapan untuk melakukan tindakan-tindakan yang entrepreneurial.

Pendidikan kewirausahaan seharusnya tidak dikaburkan dengan pendidikan ekonomi atau bisnis, tujuan pendidikan kewirausahaan adalah untuk meningkatkan kreativitas, inovasi, dan kemauan untuk bekerja mandiri, serta beberapa elemen sebagai berikut (European Commission, 2008:10):

developing personal attributes and skills that form the basis of an entrepreneurial mindset and behaviour (crea tivity, sense of initiative, risk-taking, autonomy, self-confidence, leadership, team spirit, etc.);

raising the awareness of students about self-employment and entrepreneurship as possible career options;

working on concrete enterprise projects and activities;

providing specific business skills and knowledge of how to start a company and run it successfully

Aspek kewirausahaan yang menekankan pada Knowledge (pengetahuan), Skills

(ketrampilan), dan Attitude (sikap), atau sering disingkat KSA, menurut Albornoz (2008) dapat diajarkan pelalui proses pendidikan, namun demikian tidak semua aspek

kewirausahaan dapat diajarkan dengan prespektif pembelajaran yang sama.

Hasil penelitian Riyanti (2007) menunjukan bahwa pemberian praktek langsung yang disesuaikan dengan bidang keahlian siswa memudahkan siswa melakukan transfer of knowledge, oleh karenanya praktek langsung perlu diberikan porsi yang lebih banyak dalam proses pendidikan kewirausahaan.

Transfer of knowledge, menurut Kellet (2006) adalah pengembangan latihan-lantihan intuitif yang dapat berlangsung dalam situasi yang ditetapkan, yang dapat memberikan ketrampilan-ketrampilan dan dapat digunakan berkreasi dalam usahanya sendiri.

(16)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. People develop skills, expertise and social contacts from their work, often as employees gaining experience, understanding and know-how of how an industry works. This learning is social and relational, gained from interpersonal participation through discovery and experience. It is often functional, technical and problem solving in nature, finding out how things are done through the failures and experiences and mentoring of the more experienced.

Penekanan-penekanan pada pentingnya fasilitasi dalam proses pendidikan kewirausahaan yang melibatkan kegiatan praktek langsung yang realistis,

direkomendasikan oleh beberapa peneliti. Akpomi (2009:171 ) merekomendasikan model pendidikan kewirausahaan yang melibatkan pihak pelaku usaha, dalam hal ini dia menulis sebagai berikut:

The important aspect being the critical issue of teaching entrepreneurship to all students is encouraged and adopted. Delivery of the course should be tripartite in nature, involving academics, students, and practicing entrepreneurs. This allows educational institutions to benefit from the expertise and synergies obtainable from cross functional learning

Sejalan dengan Akpomi, Paco, et. al (2010) juga merekomendasikan pentingnya pelibatan stakeholders dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan.

Dalam pembelajaran kewirausahaan, Ibicioglu et. al (2010) menyatakan bahwa dalam pengembangan kurikulum pendekatan interdisiplin merupakan pendekatan yang seharusnya diambil, karena perilaku yang merupakan bagian dari ketrampilan

kewirausahaan dapat dicapai kemudian.

C.Teknopreneurship

Teknopreneurship telah menjadi isu yang menarik pada dua dekade terakhir, yaitu sejak terjadinya pergeseran dari sistem ekonomi tradisional menuju sistem ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertumbuhan sistem perekonomian yang bercirikan dengan pendayagunaan secara maksimal ilmu pengetahuan dan

teknologi yang terjadi pada akhir abad ke 20 dan berkembang dengan pesat memasuki abad ke 21, telah menjadikan abad ke 21 dikenal sebagai abad ekonomi dengan

(17)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Banyak penemuan baru dalam bidang teknologi yang menghasilkan peluang kerja baru, dan selanjutnya bertambahnya peluang-peluang baru yang lain berkembang bagaikan deret ukur.

Dalam era dunia baru, yang ditandai dengan sistem perekonomian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat berubah dengan sangat cepat, engineer (ahli teknik) dituntut untuk memiliki berbagai pengetahuan dan kecakapan dasar yang diperlukan untuk mendukung kemampuan teknologi yang dikuasainya.

Penemuan produk atau sistem baru yang berbasis sain maupun teknologi memerlukan proses diseminasi untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu keterpakaian produk atau sistem oleh konsumen. Proses diseminiasi produk atau sistem teknologi kepada konsumen memerlukan satu ketrampilan yang telah lama dikenal sebagai

entrepreneurship skills atau kecakapan kewirausahaan.

Kecakapan dalam bidang teknologi yang diintegrasikan dengan kecakapan dalam bidang kewirausahaan dikenal sebagai kecakapan teknopreneurship (Lumsdaine, 2010).

Teknopreneurship adalah pengembangan kecakapan aplikasi teknologi dan kecakapan kewirausahaan yang lebih menekankan pada pentingnya penemuan produk baru (invention) dan perbaikan (innovation) untuk dipasarkan sebagai penghasil uang (Hwa, 2009). Sedangkan teknopreneur, adalah sebutan yang diberikan kepada orang yang mampu melihat peluang dalam bidang usaha yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi (See, 2010).

Produk usaha bagi teknopreneur adalah temuan baru ataupun inovasi barang maupun jasa yang dihasilkan dari upaya ilmiah yang relevan dengan bidang

keahliannya, karena teknopreneur adalah entrepreneur yang mengkhususkan bidang usaha dalam produk yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Rodyat, 2003).

Fenomena pengembangan teknopreneurship sebagai satu upaya untuk

(18)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

2007), dan bahkan Singapura telah membuktikan kemampuannya dalam menarik sektor usaha berskala multi nasional/Multi National Corporations (MNCs) untuk mendukung program teknopreneurship (Lumsdaine, 2007; Chou, 2010).

Keberhasilan program teknopreneurship untuk membangkitkan kemandirian kalangan remaja dalam bidang pekerjaan, ditunjukan oleh hasil penelitian Tatpuje (2010) terhadap remaja peserta training teknopreneurship satu tahun setelah selesai pelatihan menunjukan bahwa 82,5% peserta berhasil mendirikan usaha sendiri.

Nordin et. al. (2011) mempercayai bahwa perilaku teknopreneur dapat diperoleh melalui kegiatan praktek menghasilkan produk inovatif, termasuk membangkitkan ide, menghasilkan inovasi, dan promosi. Melalui kegiatan pendidikan dan latihan perilaku teknopreneur yang wajib dimiliki seperti, kemampuan berkomunikasi, negosiasi, serta pemasaran dapat dipelajari.

Sementara Abdullah, et. al. (2004) menekankan bahwa: motivasi, pengetahuan dan ketrampilan teknopreneurship dapat diperoleh melalui program inkubasi dengan 4 aspek program yang meliputi; pengembangan diri dan kompetensi, teaching factory dan

mentoring, dukungan berkelanjutan dan, mengembangkan hubungan dengan industri. Pemberian insentif untuk memulai usaha sendiri dalam bidang usaha berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi melalui program kompetisi telah pula berhasil meningkatkan intensi pencari kerja untuk mengikuti program teknopreneurship, sebagaimana dilaporkan oleh Egge et. al. (2003).

Hal serupa juga dilaporkan oleh Lee (2001), bahwa: untuk meningkatkan

teknopreneurship sebagai satu pilihan karir maka pemerintah perlu memberikan insentif yang menarik.

(19)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

mahasiswa berprestasi dalam ide teknologi untuk mengikuti program teknopreneurship mentoring di IPB.

D.Pengembangan Matakuliah Teknopreneurship

1. Landasan Pengembangan Matakuliah Teknopreneurship

Pengembangan mata kuliah kewirausahaan yang bersifat umum (Teknik Sipil, 2009) menjadi mata kuliah kewirausahaan yang bersifat khusus dengan penyesuaian untuk bidang ilmu teknologi yang lebih dikenal dengan sebutan “teknopreneurship” didasarkan atas beberapa temuan, yaitu: (1) kewirausahaan adalah isu internasional yang telah diyakini mampu untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan pengangguran, tidak saja di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju (Unido, 2003; Nasution et. al, 2007; Tatpuje, 2010); (2) program pendidikan kewirausahaan di

perguruan tinggi telah membuktikan keberhasilannya secara signifikan dan sangat penting untuk menumbuhkan wirausaha baru (Japan, 2003; NIRAS, 2008; Akpomi, 2009; MIT Entrepreurship Center, 2010; Goldsmith, 2010); (3) Sekalipun ada bukti signifikan peran pendidikan kewirausahaan terhadap pertumbuhan wirausaha baru, tetapi proporsinya masih sangat kecil dibanding dengan jumlah lulusan jenjang pendidikan tinggi (Moreland, 2010); (4) adanya tuntutan dan dukungan yang kuat untuk mencapai target dihasilkannya wirausaha-wirausaha baru terdidik lulusan perguruan tinggi (Pahlevi, 2006; DP2M, 2007; DP2M, 2010).

Disamping didasarkan atas temuan teori sebagaimana tersebut diatas,

pengembangan materi kuliah teknopreneurship juga didasarkan pada tujuan Program Studi Diploma 3 Teknik Sipil dan Bangunan (D3 TSB), yaitu: untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sebagai: (1) tenaga estimator pada proyek konstruksi ; (2) tenaga kerja jasa konstruksi (perencana; pengawas; dan pelaksana); dan (3)

wirausahawan jasa konstruksi. Berangkat dari tujuan tersebut, mata kuliah

(20)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

sebagai pekerja; serta menerapkan kewirausahaan praktis sebagai wirausahawan dalam bidang industri konstruksi.

2. Struktur Kurikulum Matakuliah Teknopreneurship

Untuk memenuhi kriteria materi kuliah teknopreneurship sebagaimana yang dibutuhkan oleh program studi S1 PTB dan D3 TSB tersebut diatas, materi kuliah teknopreneurship dikembangkan atas pokok-pokok bahasan yang meliputi: (a) konsep teknopreneurship; (b) spirit teknopreneurship; (c) moral dan etika teknopreneurship; (d) kecakapan teknopreneurship; (e) rekayasa dan inovasi teknologi; (f) perencanaan produk; (g) analisis keekonomian; (h) pengelolaan produksi; (i) perencanaan bisnis; (j) legalitas usaha; (k) pengelolaan keuangan; (l) strategi pemasaran; (m) pengelolaan sumberdaya; (n) kepemimpinan.

Pemilihan pokok-pokok bahasan tersebut diatas didasarkan atas analisa

kebutuhan, landasan teoritik dan faktual masing-masing pokok bahasan sebagai berikut:

a. Konsep Teknopreneurship

Memahami konsep kebahasaan, makna kata, nama atau sebutan atas obyek atau subyek menjadi sangat penting untuk menghindari terjadinya salah pengertian atau yang dalam kontek pendidikan dikenal dengan istilah “misconception”. Pemahaman konsepsi

teknopreneurship menjadi dasar pengembangan pemahaman dan menjadi dasar pijak untuk memahami konsep yang terkait dengan teknopreneurship.

(21)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

sebagai materi yang pertama dalam pengembangan bahan pembelajaran teknopreneurship.

b. Spirit Teknopreneurship

Spirit atau jiwa teknopreneurship diperlukan sebagai pendorong untuk

menggerakan atau memotivasi seseorang melakukan kegiatan teknopreneurship secara sadar dari dalam dirinya sendiri. Spirit atau jiwa teknopreneurship perlu ditanamkan menjadi bagian dari hasil belajar yang bersifat permanen dan menjadi karakter pembentuk kepribadian pembelajar.

Akbar (2007) berpendapat bahwa kebermaknaan pembelajaran kewirausahaan adalah penanaman nilai-nilai kewirausahaan. Teknopreneurship sebagai salah satu bentuk wirausaha perlu didasari adanya kesadaran untuk melakukan, karena “entrepreneurship” atau kewirausahaan merupakan hasrat (Salim, 2010) untuk mewujudkan gagasan.

Pentingnya penanaman jiwa kewirausahaan juga disampaikan oleh Raharjo (2006), yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan kemandirian diperlukan jiwa kewirausahaan. Teknopreneurship adalah upaya wirausaha yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi (See, 2010), yang dicirikan dengan keunggulan pada kreativitas dan inovasi (Hwa, 2009), dan perilaku teknopreneurship yang kreatif dan inovatif hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan (Suryana, 2008).

Didasari fakta pentingnya jiwa kewirausahaan sebagai pendorong untuk bertindak dalam kegiatan teknopreneurship, maka spirit atau jiwa teknopreneurship dijadikan sebagai pokok bahasan kedua dalam pengembangan bahan pembelajaran teknopreneurship.

c. Moral dan etika teknopreneurship

(22)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

kelompok masyarakat, akan tetapi moral dan etika bermasyarakat juga berlaku secara universal pada semua bangsa.

Lulusan prodi D3 TSB, yang nantinya akan menempati posisi sebagai tenaga estimator, atau dimungkinkan sebagai pekerja konstruksi, dan bahkan dimungkinkan pula untuk menjadi pengusaha konstruksi, dituntut untuk memiliki kualitas moral dan etika dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar moral dan etika yang berlaku pada sektor pekerjaan tersebut. Sebagaimana ditetapkan dalam pasal 2 Undang-undang Jasa Konstruksi bahwa: pengaturan jasa konstruksi diantaranya adalah

berlandaskan asas kejujuran untuk kepentingan bersama (Sembiring, 2006).

Pendidikan moral dan etika dalam pembelajaranan teknopreneurship diperlukan karena temuan fakta kemerosotan moral dan etika pada dekade terakhir sangat

memprihatinkan.

Penyimpangan moral dan etika telah banyak dilakukan oleh kalangan guru, pekerja konstruksi, serta pengusaha konstruksi. Contoh pelanggaran moral dan etika dalam bidang konstruksi seperti diketemukan kasus korupsi (Detailnews, 2011). Kejahatan tidak hanya berbentuk korupsi, tetapi juga dapat berbentuk penipuan yang lain, seperti penipuan investasi (Arsal, 2010).

Mempertimbangkan posisi rentannya karir pekerjaan sebagai pekerja konstruksi serta sebagai wirausaha terhadap berbagai godaan penyimpangan moral dan etika dalam pekerjaan, baik dari dalam diri sendiri ataupun yang datang dari luar; maka pokok bahasan tentang moral dan etika bisnis diberikan sebagai dasar untuk membentuk watak disiplin, jujur, hati-hati dan amanah. Dengan etika dan moral yang baik dihasilkan bisnis yang baik (Badroen, et. al, 2006).

d. Kecakapan teknopreneurship

(23)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

sebagai bagian utama dari bahan pembelajaran teknopreneurship dikaji tentang

karakteristik entrepreneurship dan kesesuaiannya dengan karakteristik teknologi dalam bidang konstruksi.

Integrasi dari kajian entepreneurship dengan teknologi sangat dimungkinkan sebagaimana diungkapkan oleh: Cieslik (2004); Harefa & Siadari (2006); dan

Lumsdaine (2010). Bagian ini memaparkan kecakapan-kecakapan apa yang diperlukan oleh teknopreneur.

e. Rekayasa dan inovasi teknologi

Berangkat dari pengertian teknopreneurship yang merupakan usaha bisnis yang: berbasis ilmu pengetahuan (Rodyat, 2009; See, 2010); aplikasi teknologi untuk

menemukan produk baru dan melakukan inovasi (Hwa, 2009), maka rekayasa dan inovasi teknologi ditetapkan sebagai salah satu kajian dalam kurikulum

teknopreneurship.

Rekayasa dan aplikasi teknologi dijadikan kajian dalam bahan pembelajaran teknopreneuship dengan tujuan untuk memberikan wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan untuk memecahkan serta menemukan solusi terhadap permasalahan

teknologi konstruksi, solusi yang diharapkan dapat dihasilkan adalah solusi yang bersifat inovatif.

f. Perencanaan produk

Perencanaan produk adalah suatu proses dimana penggalian ide, dan gagasan inovasi diperoleh melalui kegiatan riset kebutuhan pasar sampai dengan proses perencanaan bentuk, maupun penetapan bahan yang digunakan. Perencanaan produk ditujukan untuk menghasilkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, seperti: manfaat, kenikmatan, dan kepuasan psikologis (Haming & Nurnajamuddin, 2007).

(24)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

produk baru yang mengandalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan produk merupakan karakter dari teknopreneur (Hwa, 2009; See, 2010). Perencanaan produk adalah unjuk kerja kreativitas dan inovasi dari bahan pembelajaran teknopreneurship.

g. Analisis keekonomian

Analisis keenomian adalah upaya untuk menilai manfaat dari sebuah produk atau sebuah investasi. Analisis keekonomian memberikan hasil komparatif sebuah produk terhadap produk lain yang sudah beredar, daya beli masyarakat terhadap produk, maupun kelayakan investasi untuk menghasilkan produk. Analisa dilakukan untuk menghitung nilai manfaat yang diperoleh atau membandingkan antar investasi (Pujawan, 1995). Analisis keekonomian juga memperhitungkan adanya resiko investasi (Husnan & Pudjiastuti, 1994), yang diperhitungkan mempergunakan tafsiran BEP, NPV, dan IRR (Mursidi, 1992). Analisis keekonomian tidak saja penting untuk kegiatan manufaktur, tetapi juga untuk menilai investasi kegiatan jasa.

h. Pengelolaan produksi

Untuk menghasilkan produk manufaktur maupun produk jasa diperlukan sarana produksi, sistem produksi yang dapat menghasilkan produk atau layanan yang tepat, cepat, murah, dan dapat memuaskan konsumen (Lupiyoadi, 2007). Pengelolaan produksi adalah suatu kajian tentang operasi manufaktur maupun jasa. Pengelolaan produksi menyangkut analisa pekerjaan, proses pekerjaan, teknik pekerjaan, penjadwalan pekerjaan, serta kontrol target dan kontrol pembiayaan (Harris & McCaffer, 2001).

i. Perencanaan usaha

(25)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

dihitung nilai investasi yang diperlukan, peralatan produksi yang diperlukan, penetapan lokasi pekerjaan, serta tenaga kerja yang diperlukan.

j. Legalitas usaha

Untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menjalankan usaha, sebuah usaha harus dilengkapi dengan berbagai pelengkap legalitas usaha, seperti: ijin usaha,

sertifikat, akte, dllnya. Fungsi dari perangkat legalitas usaha disamping sebagai

perlindungan hukum, juga berfungsi untuk memudahkan berinteraksi dengan lembaga-lembaga lain.

Jenis-jenis usaha tertentu secara tegas dan komplek memerlukan serangkaian legalitas yang jelas; usaha jasa konstruksi harus mengikuti legalitas perundangan-undangan yang berlaku dalam pekerjaan konstruksi (Malik, 2010), disamping legalitas yang bersifat umum, seperti keharusan memiliki SIUP, NPWP, dllnya (Hamaizar, 2006).

Legalitas adalah kekuatan dan perlindungan untuk menjalankan usaha yang tetap dan berjangka waktu yang lama, oleh karenanya legalitas usaha wajib diketahui dan dipahami oleh calon pelaku usaha.

k. Pengelolaan Keuangan

Usaha adalah upaya untuk memperoleh keuntungan atau pendapatan keuangan (Saparudin & Iskandar, 2003). Keuangan bagi sebuah organisasi usaha adalah kunci keberhasilan. Keberhasilan usaha selalu diukur dari seberapa besar margin yang diperoleh atau seberapa besar keuntungan yang dibukukan pada setiap akhir tahun.

Pengelolaan keuangan organisasi usaha tidak saja penting bagi pemilik usaha, tetapi juga penting bagi stake holder yang lain (Mandiri, 2008). Bentuk unjuk kerja organisasi usaha yang diperlukan oleh stake horder adalah laporan keuangan (Hamaizar, 2007).

Oleh karena itu, cara-cara pengelolaan keuangan organisasi usaha menjadi sangat penting diketahui oleh orang-orang yang akan terjun kedalam dunia usaha.

(26)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Pemasaran adalah satu aspek penting dalam organisasi usaha. Jalannya

perusahaan sangat ditentukan oleh kepiawaian perusahaan tersebut dalam menjalankan fungsi pemasarannya (Alma, 2010).

Pemasaran memerlukan strategi tersendiri untuk memenangkan persaingan dengan kompetitor yang lain. Dalam kajian strategi pemasaran ini dibahas tentang: penetapan harga, penetapan segmen pasar, promosi, pemenangan pasar, serta pengembangan pasar baru.

Pemanfaatan teknologi dalam pemasaran menjadi fokus yang utama dari bahasan strategi pemasaran, hal ini dikarenakan saat ini teknologi telah menjadi tulang punggung dari sistem pemasaran modern (Nasution, et.all. 2006).

Sejalan dengan ini, Tschohl (2003) menyatakan bahwa: salah satu karakter organisasi layanan dalam pemasaran adalah penggunaan sistem dan metode berteknologi tinggi. Untuk mencapai target kearah keberhasilan organisasi usaha, pelatihan layanan kepada pelanggan harus disikapi sebagai kebutuhan berkelanjutan (Davis, 2005).

m. Pengelolaan sumberdaya

Sumberdaya merupakan motor penggerak jalannya organisasi usaha, oleh karena sumberdaya harus dikelola secara maksimal. Sumberdaya dalam organisasi usaha meliputi: sumberdaya orang, material, mesin-mesin, metode dan uang (Malik, 2010).

Pengelolaan sumberdaya sangat penting dalam sebuah organisasi usaha, karena fungsi organisasi tidak dapat berjalan dengan baik tanpa deskripsi yang jelas dari pemanfaatan sumberdaya yang ada (Haming & Nurnajamuddin, 2007).

Penggunaan sumberdaya yang memadai sesuai dengan kebutuhan merupakan upaya layanan terhadap pelanggan secara memuaskan (Tschohl, 2003).

(27)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. n. Kepemimpinan

Seorang pemimpin diperlukan untuk menjalankan sebuah organisasi usaha menuju tercapainya target visi dan misi yang telah ditetapkan. Organisasi usaha sekecil apapapun yang telah memiliki pekerja sebagai pelaksana operasional usaha memerlukan peran kepemimpinan untuk mencapai tujuannya. Seorang pemimpin diperlukan untuk membimbing orang, mempengaruhi pikirannya, perilakunya, dan mengarahkan untuk mencapai target kinerja yang diperlukan oleh sebuah organisasi usaha (Naoum, 2001).

(28)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. DAFTAR RUJUKAN

Abdullah. S Hj., Dahalia. ZM., Rahim. MS. 2004. The Bussines Review, Cambride. Technopreneur Education and Incubation: Designing IT Technopreneurship Graduate Program. (online)

(

http://eprints.uum.edu.my/743/1/TECHNOPRENEUR_EDUCATION_AND_INCUBATION_-_DESIGNING_IT...pdf), diakses tanggal 11 Februari 2011.

Adiyangga. K. 2010. Membangun Perusahaan Islam- Dengan Manajemen Budaya Perusahaan Islami. Jakarta: Srigunting.

Ahmad, I. 2006. Perkembangan Tingkat Pengangguran di Indonesia. Dalam Ahmad,I & Saad,I (penyunting). Kajian Implementasi Kebijakan Trilogi Pembangunan di Indonesia . Jakarta: Stekpi.

Akbar, Sa’dun. 2007. Pembelpembelajaranan Nilai Kewira usahaan dalam Perspektif Pendidikan Umum (Prinsip-prinsip dan Vektor-vektor Percepatan Proses Internalisasi Nilai Kewirausahaan). Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Akpomi. (2009). Entrpreneurship Education (Ee) For All Students In Higher Education Institutions (Heis) In Nigeria: A Means To Sustainable Development. Journal of Sustainable Development in Africa .Volume 11, No.1, 2009 hal. 162-173. (online)

(dspace.knust.edu.gh/.../Sustainable%2520Vocational%2520Skills%2520Development%5B1%5D .p), diakses tanggal 22 April 2010.

Albornoz, C. A. 2008. Toward A Set of Trainable Content on Entrepreneurship Education: A Review of Entrepreneurship Research From Educational Prespective. J. Technol. Manag. Innov. 2008. Volume 3, Special Issue 1: 86-98.

(online)(www.jotmi.org/index.php/GT/article/viewFile/rev5/131-), diakses tanggal 6 April 2010. Alma. B. 2010. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.

Andini. 2008. Pendidikan Kejuruan (online) (one1thousand100education.wordpress.com/ - 180k), diakses tanggal 29 Maret 2009.

Anonim .2006a. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. (online) (sanyasyari.com/wp-content/uploads/2006/10/bab4-sejahtera.pdf), diakses tanggal 28 Maret 2009

Anonim. 1993. Webster’s Universal Dictionary and Thesaurus. Montreal: Tormont Publication Inc. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Edisi revisi VI. Jakarta: PT. Rineka

Cipta.

Asiyanto. 2005. Construction Project Cost Management. Cetakan kedua. Jakarta: Pradnya Paramita. Babbie, Earl. 1989. The Practice of Social Research. 5th. ed. California: Wadsworth Publishing Company. Badroen, F., Suhendra., Mufraeni. A., Bashori. A.D. 2006. Etika Bisnis Dalam Islam. Jakarta: Kencana. Bertram, Dane. Likert Scale (online) (http://poincare.matf.bg.ac.rs/~kristina//topic-dane-likert.pdf),

diakses tanggal 2 Desember 2012.

Boone, H. N. Jr & Boone, D. A. 2012. Analyzing Likert Data.Journal of Extention. Volume 50 Number 2, ArticleNumber 2TOT2, April 2012. (online)(

http://www.joe.org/joe/2012april/pdf/JOE_v50_2tt2.pdf), diakses tanggal 2 Desember 2012.

Borg. W. R. & Gall, M. D. 1989. Educational Research. New York: Longman.

BPS. 2009. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia Agustus 2009 Menurun Dibandingkan TPT Februari 2009. (online) (http://www.bps.go.id/?news=733), diakses tanggal 12 Februari 2010.

BPS Jatim. 2009. Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Timur No. 34/12/35/Th.VII,1 Desember 2009. Brett. M. 1997. Property and Money. London. E.G. Books.

Burke, R. 2003. Project Management- Planning and Control Techniques. 4th. Ed. London: John Wiley & Sons.

(29)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

Calvert, R. E., Bailey, G., Coles, D. 2003. Introduction to Building Management. 6th. Ed. London: Butterworth Heinemann.

Chang, JC & Ya Sung, H. 2009. Planning and implementation of entrepreneurship education - Taking the National Taipei University of Technology for an example. International Journal of Vocational and Technical Education Vol.1(2), pp. 025-031, October 2009. (online)

(www.academicjournals.org/ijvte/PDF/.../Chang%20and%20Sung%20..pdf), diakses tanggal 20

Oktober 2010.

Chigunta, F., Schnurr, J., James, D., Wilson, and Torres.V. 2005. Being “Real” about Youth

Entrepreneurship in Eastern and Southern Africa Implications for Adults, Institutions and Sector Structures. SEED Working Paper No. 72 . (online) ( www.oit.org/wcmsp5/groups/public/---ed.../wcms_094030.pdf), diakses tanggal 6 April 2010.

Chou, S.K. (2011) Development of University Industry Partnerships for the Promotion of Innovation and Transfer of Technology: Singapore. (online)

(www.wipo.int/export/sites/www/uipc/en/.../pdf/ui partnership sg.pdf), diakses tanggal 10 Februari 2011.

Cieslik, J. 2004. University-Level Entrepreneurship Education In Poland. (online)

(www.upm.ro/proiecte/EEE/Conferences/papers/S604.pdf), diakses tanggal 20 Oktober 2010.

Ciputra. 2009. Ciputra Quantum Leap. Entrepreneurship mengubah Masa Depan Bangsa dan Masa Depan Anda. Cetakan ke 4. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Cohen, Louis. 1976. Educational Research in Classrooms and Schools A Manual of Materials and Methods. London: Harper & Row Ltd.

Copa, G. H. & Bentley, C. B. 1992. Vocational Education. dalam Jackson, P. W (editor) : Handbook of Research on Curriculum. New York: Macmillan Publishing Company.

Darling. L., Hammond. 2008. Powerful Learning. San Fransisco: Jossey – Bass.

Davis. E. 2005. The Training Managers: A Hanbook. Alih bahasa: Ramelan. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.

Davis , K. 1967. Human Relations at Work – The Dynamics of Organizational Behavior, New York:Mac Graw-Hill Company

Dikmenjur. 2002a. Pemberian Bantuan Modal Kerja Pengembangan Kelas Wirausa ha Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas – Dirjen. Dikdasmen.

Dikmenjur. 2002b. Kerangka Acuan Kerja Pelaksanaan Pembinaan Kelas Wirausaha Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Depdiknas – Dirjen. Dikdasmen.

Dikmenjur. 2003. Pola Pengembangan Program Kewirausahaan Pada SMK. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Diknas.

Dijen PNFI. 2010. Pedoman Blockgrant 2010 Kursus Kewirausahaan Kota. (Online) (infokursus.net/download/KWK2010.pdf 9/4/2010), diakses 20 April 2010.

Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur. 2010. Pedoman Teknis Pelaksanaan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun 2010. Surabaya: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.

DP2M, 2007. Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti Edisi VII. (online) (dp2m.dikti.go.id/data/.../Buku%20II%20Edisi%20VII%20PKM.pdf), diakses tanggal 21 September 2010.

DP2M. 2010. Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa . Jakarta: Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. (online) (dp2m.dikti.go.id/data/pkm2010_REVISI02.pdf), diakses tanggal 21 September 2010.

Dyson, J. R. 2004. Accounting for non Accounting Student. Sixth ed. London: Prentice Hall. Ernawan. E. R. 2007. Bussines Ethics. Bandung: Alfabeta.

Echols,J.M & Shadly,H. 1986. Kamus Inggris-Indonesia. Cetakan XIV. Jakarta: P.T. Gramedia. European Commission. 2008. “Entrepreneurship in Higher Education, Especially In Non-Business

(30)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013.

(www.emuni.si/.../78_EC-Entrepreneurship-in-Higher-Education-2008.pdf), diakses 10

November 2010.

Fakultas Teknik. 2007. Katalog Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil. Malang: Fakultas Teknik. Fakultas Teknik. 2009. Katalog Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil. Malang: Fakultas Teknik.

Goldsmith, P. 2010. What is Entrepreneurship? IDEA: Initiative for the Development of Entrepreneurs in Agriculture. (online) (web.extension.illinois.edu/iidea/pdf/entrepreneurship.pdf), diakses tanggal 14 Oktober 2010.

Grffit, A & Howarth, T. 2000. Construction Health and Safety Management. England: Longman. Hadisoegondo, S. 2006. Upaya Penumbuhan Wirausaha Baru- Masalah dan Pendekatannya. Infokop

Nomor 29 Tahun XXII, 2006. Hal. 48 – 62. (online)

(http://www.smecda.com/deputi7/file_Infokop/EDISI%2029/wirausaha_baru.pdf), diakses 3 Maret 2010.

Hafsah, M.J. 2004. Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah. Infokop Nomor 25 Tahun XX, 2004.

Harefa,A & Siadari, E.E. 2010. The Ciputra Way- Praktek Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati. Jakarta: P.T. Elex Media Komputindo.

Harmaizar. 2007. Menggali Potensi Wirausaha . Cetakan ke 3. Jakarta: C.V. Dian Anugerah Prakasa. Harris, F & McCaffer, R. 2001. Modern Construction Management. 5th. Ed. Oxford: Blacwell Publishing. Hiebert, B & William B, W. 2002. Technical and Vocational Education and Training in the 21st Century:

New Roles and Challenges for Guidance and Counselling. UNESCO (online)

(http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001310/131005e.pdf), diakses tanggal 17 Februari 2010. Husnan, S & Pudjiastuti, E. 1994. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Hornby, A.S. 1989. Oxford Advenced Learner’s Dictionary of Current English. 4th Edition. Oxford:

Oxford University Press.

Hwa, C.E. 2009. An Century Action Learning Journey of a Technopreneur in Creating Growing a Wold Class Knowledge-Based Teaching Organisation in Factory Automation in the 21st Century. (online)

(www.fasystems.com.sg/.../Chua%20Eng%20Hwa,%20An%20Action%20Learning%20Journey

%20of%20a%20Technoprene), diakses tanggal 24 September 2010.

Ibicioglu, H., Baysal, H., and Ozkul, A.S. 2010. The Role of High Education in Entrepreneurship Training in Respect of Transition Economies – Albania Sample. (online)

(ces.epoka.edu.al/…/Role_High_Education_Entrepreneurship_ASO.pdf), diakses tanggal 10 November 2010.

Japan. 2003. Approach Toward Entrepreneurship Development in Japan. APEC. Small and Medium Enterprises Ministerial Meeting Chiang Mai, Thailand 7-8 August 2003. Working paper (online)

(www.apec.org/.../2003.MedialibDownload.v1.html?), diakses 29 Oktober 2010.

Johns, R. 2010. Likert Items and Scales. Survey Question Bank: Methods Fact Sheet 1 (March 2010), (online) (http://surveynet.ac.uk/sqb/datacollection/likertfactsheet.pdf), diakses tanggal 2 Desember 2012

Kellet, S. 2006. A Picture of Creative Entrepreneurship: Visual Narrative in Creative Entreprise

Education. (online) (http://www.ncge.com/files/biblio 1002.pdf), diakses tanggal 14 Maret 2010. Kovalik, S.1994. ITI: The Model – Integrated Thematic Instruction. 3rd. ed. Kent: Susan Kovalik &

Associate.

Lee, P.C.B. 2001. Technopreneural Inclinations and Career Management Strategy among Information Technology Professionals. (online)

(citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.98.1717&rep), diakses tanggal 6 Maret 2011.

(31)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. Lumsdaine, E. 2007. Technopreneurship. (online)

(www.me.mtu.edu/advisory_board/spring2007/Attachment_L.pdf), diakses tanggal 10 Februari

2011.

Lupiyoadi, R. 2007. Entrepreneurship from mindset to strategy. Edisi 3. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Luwuraya.com. 2011. Terpidana Kasus Korupsi Jalan Lingkar Dieksekusi

(online) ( http://www.luwuraya.com/index.php/site/detailnews/457/Terpidana-Kasus-Korupsi-Jalan-Lingkar-Dieksekusi/), diakses tanggal 2 Maret 2011.

Malang Pos. Com. 2011. Kasek Koruptor Divonis 1.6 Tahun (online) (

http://www.malang- post.com/index.php?option=com_content&view=article&id=21123:kasek-koruptor-divonis-16-tahun&catid=48:kriminal&Itemid=74), diakses tanggal 2 Maret 2011.

Malik. A. 2010. Pengantar Bisnis Jasa Pelaksanaan Konstruksi. Yogyakarta: C.V. Andi.

Mandiri. 2008. Pelatihan Mentalitas Dasar P embukuan Sederhana . Edisi-2. PKBL Mandiri & Yayasan Dharma Bhakti Astra.

MIT Entrepreneurship Center. 2010. Entrepreneurship Development Program. (online) (mitsloan.mit.edu/execed/pdf/entrepreneurship.pdf), diakses tanggal 14 Oktober 2010. Moreland, N. 2010. Learning & Employability Entrepreneurship and Higher Education: An

Employability Prespective. Esect. (online)(www.palatine.ac.uk/files/emp/1243.pdf), diakses tanggal 11 Oktober 2010.

Mullins, L.J.. 2002. Management and Organisational Behaviour (6th Ed.). Essex: Prentice Hall. Mursidi. 1992. Anggaran Perusahaan (Budgeting). Malang: UMM Press.

Nasution, A.H., Sudarso. I & Trisunarno, L. 2006. Manajemen Pemasaran Untuk Engineering. Yogyakarta: Andi.

Nasution. A.H, Noer. B.A & Suef. M. 2007. Entrepreneurship Membangun Spirit Teknopreneurship. Yogyakarta: Andi.

Naoum, S. 2001. People & Organizational Management in Construction. London: Thomas Telford Publishing.

NIRAS. 2008. Survey of Entrepreneurship in Higer Education in Europe. Main Report. (online)

(http://ec.europa.eu/enterprise/policies/sme/files/support_measures/training_education/highedsur vey_en.pdf), diakses tanggal 14 Maret 2010.

Nordin. MNM., Ramly. MK., Illyas. I., Rozan. MZA., Alias RA. 2011. Can Technopreneurs be Developed? Students Experiences of Formal Technopreneurs Academic Program in Malaysia. (online) (web.utm.my/fsksm/../Can%20Technopreneurs%20be%20Developed.doc), diakses tanggal 10 Februari 2011.

Nystrom, D. C., Bayne, G. K., McLellan, L. D. 1977. Instructional Methods in Occupational Education. Indianapolis: The Bobs-Merrill Company, Inc.

Paco, A., Ferreira, J., Raposo, M., Rodrigues, R.G., and Dinis, A. 2010. Universities’ Entrepreneurship Education and Regional Development: a Stakeholders’ Approach. (online)

(www.dge.ubi.pt/investigacao/TDiscussao/2010/TD02_2010.pdf), diakses tanggal 10 November

2010.

Pahlevi, R. 2006. Strategi Penumbuhan Wirausaha Baru. Infokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006, hal. 42 – 47. (online) (www.smecda.com/deputi7/file.../strategi_penumb_wiraush_baru.pdf), diakses 11 April 2010.

Pitoyo. W. 2010. Panduan Praktis Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: Visimedia. Pujawan, N.I. 1995. Ekonomi Teknik. Edisi pertama. Jakarta: PT. Guna Wijaya.

Raharjo, D. 2006. Menuju Indonesia Sejahtera – Upaya Konkret Pengentasan Kemiskinan. Jakarta: Khanata.

Rens, R. 2010. The successful entrepreneur must be.

(http://www.marsgroupkenya.org/yipe/Entrepreneur%

20and%20Business%20-%20Characteristics%20 of%20a %20True%20Entrepreneur.htm), diakses tanggal 15 April 2010.

(32)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. Riyanti, BPD. (2007).Metode Experiential Learning Berbasis Pada Peningkatan Rasa Diri Mampu,

Kreatif & Berani Beresiko dalam Mata Pelpembelajaranan Kewirausahaan untuk SMK (Online) (www.unesco.or.id/images/pub/89_listofunescointhenewsoneducation.doc), diakses 16 maret 2010.

Rodyat, Y. 2003. Early Stage Funding for Technopreneurship. Konvensi Kelistrikan Indonesia 2003- Medco. (online) (www.elektroindonesia.com/technopreneurship/.../yani-rodyat.pdf), diakses tanggal 11 Februari 2011.

Ruslan, M & WMK. A. 2006. Pemberdayaan Masyarakat- Mengantar Manusia Mandiri, Demokratis dan Berbudaya. Jakarta: Khanata.

Salim, G. 2010. Neuro Entrepreneurship. Jakarta: Sinergi Media.

Saparudin & Iskandar, H. 2003. Petunjuk Cara Memulai Usaha Sendiri. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan & Kantor Perburuhan Internasional (ILO).

See, S.L. 2010. Training Future Technopreneurs in Singapore. (online)

(www.swinburne.edu.au/lib/ir/onlineconferences/agse2010/000131.pdf), diakses tanggal 24 September 2010.

Sembiring, S. 2006. Himpunan Undang-undang Tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Perundang-undangan yang Terkait. Bandung: Nuansa Aulia.

Siswoyo, B B. 2009. Pengembangan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Dosen dan Mahasiswa. jurnal ekonomi bisnis | tahun 14 | nomor 2 | juli 2009. Hal. 114-123. (online) (fe.um.ac.id/wp-content/uploads/.../bambang_banu4.pdf), diakses tanggal. 20 Oktober 2010.

Siwalimanews.com. 2011. Terbukti Korupsi Dana BOS, Kepsek SDN 1 Kalauli Divonis Satu Tahun Penjara. (online) (http://www.siwalimanews.com/show.php?mode=artikel&id=4154), diakses tanggal 2 Maret 2011.

Sobel, R.S. 2010. Entrepreneurship. (online)

(www.be.wvu.edu/divecon/econ/sobel/Entr/.../FortuneEncyc.pdf), diakses tanggal 14 Oktober 2010.

Suherman, E. 2008. Desain Pembelpembelajaranan Kewira usahaan. Bandung: Alfabeta.

Suyono, H. 2009. Membangun Budaya Kewirausahaan Entrepreneurship. Makalah disampaikan pada Penandatanganan kerjasama antara Yayasan Damandiri dengan Universitas Ciputra Jakarta – 23 Februari 2009.

Suryana. 2008. Kewirausahaan- Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.

Susanto, H. 2006. Dinamika Penanggulangan Kemiskinan- Tinjauan Historis Era Orde Baru. Jakarta: Khanata.

Stevenson. J. 2003. Developing Vocational Expertise. Australia: Allen & Unwin.

Tatpuje, Dipak. U. 2010. Ensuring Sustainable Development through Techno-preneurship (Technology Entrepreneurship). (online) (www.ceeindia.org/esf/download/paper37.pdf), diakses tanggal 1 Oktober 2010.

Tatpuje. Dipak U. 2011. Model of “Technopreneurship Learning Material Package” for Development of Skills. (online) (http://www.ediindia.org/creed/data%20Tatpuje.htm), diakses tanggal 7 Februari 2011.

Teknik Sipil. 2002. Satuan Acara Perkuliahan Kurikulum 2002 Jurusan Teknik Sipil. Malang: Jurusan Teknik Sipil.

Thailand. 2003. Entrepreneurship Development. APEC. Small and Medium Enterprises Ministerial Meeting Chiang Mai, Thailand 7-8 August 2003. Working paper (online)

(www.apec.org/.../2003.MedialibDownload.v1.html?), diakses 29 Oktober 2010.

The World Bank. 2005. Mendukung Usaha Kecil & Menengah. (online)

(siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/.../SME.pdf), diakses tanggal 4 Maret 2010. Tohar, M. 2000. Membuka Usaha Kecil. Yogyakarta: Kanisius.

(33)

Tesis oleh: Hadi Wasito, Jurusan PKJ PPS Universitas Negeri Malang Pembimbing : Dr. Waras, M.Pd/ Drs. Ir. I Wayan Jirna, M.T,

Tesis telah diujikan dihadapan Dewan Penguji pada tanggal 28 Januri 2013. Turner, A. 2002. Building Procurment. London: Palgrave Macmillan.

Turisno, B.E. 2007. Etika Bisnis. Bandung: Mandar Madju.

Universitas Negeri Malang. 2010. Buku Wisuda Universitas Negeri Malang Semester Gasal 2009/2010. Malang: Universitas Negeri Malang.

UNIDO. 2003. A Path Out of Poverty Developing Rural and Women Entrepreneurship. Viena: UNIDO. (online) (www.unido.org/fileadmin/user.../Pub.../A_path_out_of_poverty.pdf), diakses tangga l 15 Maret 2010.

Gambar

Tabel 2.1.  Silabi Matakuliah Kewirausahaan pada Jurusan Teknik Sipil

Referensi

Dokumen terkait

Berkenaan dengan hal tersebut, agar Saudara dapat membawa dokumen asli dan menyerahkan rekaman/copy untuk setiap data yang telah dikirim melalui form isian elektronik aplikasi

Pekerjaan yang berulang-ulang, data yang besar dan senantiasa bertambah - berupa katalog perpustakaan sebagai wakil dokumen - serta prinsip sistem penyimpan dan penemuan

Dalam analisa kebutuhan sistem penulis melakukan analisa pada semua kebutuhan yang dibutuhkan termasuk dokumen dan interface untuk menentukan software yang

Adapun hasil uji antimakan larva kumbang kepik setelah perlakuan berbagai tingkat konsentrasi ekstrak daun jure menggunakan fraksi metanol, etil asetat dan N-Heksan

Motif pencarian terdapat pada bagian ketika Pranacitra mencari istrinya, Rara Mendut yang diculik oleh Raden Kuda Santeran dan Raden Kuda Panolih

Makin tersedia air bersih yang cukup untuk keluarga serta makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan, ditambah dengan pemahaman ibu tentang

Sebuah metode yang baik untuk benar-benar meningkatkan penambahan sirkulasi darah ke testikel Anda ketika melakukan latihan-latihan ini adalah dengan

Sebagai perlindungan atas perempuan terdapat beberapa perlindungan bagi perempuan yang telah diatur dalam Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT)