EFEKTIVITAS PENYALURAN RASKIN PERUM BULOG
DIVISI REGIONAL SUMATERA SELATAN
DAN BANGKA BELITUNG
DI KABUPATEN OGAN ILIR
Oleh:
NOVIA AMBAR SARI
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
SUMMARY
NOVIA AMBAR SARI. The Effectiveness of Distribution Raskin Bulog Public Company South Sumatra and Bangka Belitung Regional Division in The Ogan Ilir Regency(Supervised by AMRUZI MINHA and INDRI JANUARTI).
The purpose of this research were to identify the mechanism of Raskin distribution in Bulog Public Company South Sumatra and Bangka Belitung Regional Division, analyzed the effectiveness of the achievement of 6 Right in the distribution of Raskin in Ogan Ilir Regency, analyzed factors that influence a person receives Raskin in Ogan Ilir Regency and identify constraints encountered in the distribution of Raskin.
This study chose households receiving Raskin and households that do not receive Raskin. Of the many populations, drawn household sample of 60 households. Sampling was done by Disproportionate Stratified Smpling. Site selection is done deliberately by the consideration that Ogan Ilir regency is one that receives the most Raskin. This research was conducted in April through June 2014.
RINGKASAN
NOVIA AMBAR SARI. Efektivitas Penyaluran Raskin Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan Bangka Belitung di Kabupaten Ogan Ilir (Dibimbing oleh AMRUZI MINHA dan INDRI JANUARTI).
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi mekanisme distribusi atau penyaluran Raskin di Perum BULOG Divre Sumatera Selatan, menganalisis efektivitas pencapaian 6 Tepat dalam pendistribusian Raskin di Kabupaten Ogan Ilir, menganalisis faktor – faktor yang apa yang mempengaruhi seseorang menerima Raskin di Kabupaten Ogan Ilir dan mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam penyaluran Raskin. Penelitian ini memilih rumah tangga yang menerima Raskin dan rumah tangga yang tidak menerima Raskin. Dari sekian banyak populasi, diambil rumah tangga sampel sebanyak 60 rumah tangga. Pengambilan sampel dilakukan secara acak berlapis tak berimbang. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Ogan Ilir merupakan salah satu kabupaten yang menerima Raskin terbanyak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2014.
EFEKTIVITAS PENYALURAN RASKIN PERUM BULOG DIVISI REGIONAL SUMATERA SELATAN
DAN BANGKA BELITUNG DI KABUPATEN OGAN ILIR
Oleh
NOVIA AMBAR SARI
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Skripsi
EFEKTIVITAS PENYALURAN RASKIN PERUM BULOG DIVISI REGIONAL SUMATERA SELATAN
DAN BANGKA BELITUNG DI KABUPATEN OGAN ILIR
Oleh
NOVIA AMBAR SARI 05101001026
telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian
Pembimbing I, Indralaya, Juli 2014
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Dr. Ir. Amruzi Minha, M.S. Dekan,
Pembimbing II,
Skripsi Berjudul “Efektivitas Penyaluran Raskin Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Di Kabupaten Ogan Ilir” Oleh Novia Ambar Sari telah dipertahankan di depan komisi penguji pada tanggal 10 Juli 2014.
Komisi Penguji
1. Dr. Ir. Amruzi Minha, M.S. Ketua (………)
2. Indri Januarti, S.P., M.Sc. Sekretaris (……....………)
3. 3. Ir. Nukmal Hakin, M.Si. Anggota (………)
4. Muhammad Arbi, S.P., M.Sc. Anggota (………)
5. Dwi Wulan Sari, S.P., M.Si. Anggota (………)
Mengesahkan, Ketua
Program Studi Agribisnis
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa seluruh data dan informasi yang disajikan dalam laporan skripsi ini, kecuali yang disebutkan dengan jelas sumbernya, adalah benar-benar hasil survei saya sendiri dan belum pernah atau tidak sedang diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan lain atau gelar kesarjanaan yang sama di tempat lain.
Indralaya, Juli 2014 Yang membuat pernyataan,
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 4 November 1992 di Prabumulih. Penulis merupakan anak terakhir dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Bandriyanto dan Ibu Rita Komalasari. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 48 Prabumulih pada tahun 2004, sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Prabumulih pada tahun 2007 dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 3 Prabumulih pada tahun 2010.
Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saat ini penulis masih aktif menyelesaikan pendidikan di Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul: Efektivitas Penyaluran Raskin Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan Bangka belitung di Kabupaten Ogan Ilir.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasul Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya hingga akhir zaman. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalamnya kepada Bapak Dr. Ir. Amruzi Minha, M.Sc dan Ibu Indri Januarti, S.P., M.Sc selaku pembimbing yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingan serta atas kesabarannya selama penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Erizal Sodikin selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
2. Bapak Ir. M. Yazid, M.Sc., Ph.D., selaku Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
3. Bapak Dr. Ir. Amruzi Minha, M.Si dan Ibu Indri Januarti, S.P., M.Sc selaku dosen pembimbing I dan II yang senantiasa membimbing penulis dalam membuat skripsi ini.
5. Staf dan Karyawan dilingkungan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. 6. Ibu Tini, Mbak Nurul, Kak Komar selaku staf Kasi Penyaluran yang telah
membimbing dan membantu penulis dalam melaksanakan penulisan skripsi 7. Bapak Deni Martino Paulus selaku Kabid Pelayanan Publik Perum BULOG
Palembang
8. Bapak H. Baakhtiar AS, SH, MH, selaku Kabid Keuangan dan Administrasi Perum BULOG Palembang
9. Bapak Anwar selaku staf Tata Usaha yang telah membantu dalam diterimanya penulis melaksanakan kegiatan magang di Perum BULOG Palembang
10.Seluruh Karyawan dan karyawati Perum BULOG Divre Sumsel Babel Palembang
11.Kedua orang tuaku, mama dan papa serta ayuk dan kakak dan keponakan ku yang senantiasa mendoakan dan selalu memberikan semangat dan memotivasi.
12.Sahabatku Endah, Novan, Kiki, Mayang, Yani, Nurul, Oca, Fadhli, Dika, Depri, Adi, dan seluruh keluarga Agribisnis 2010 yang selalu membantu dan menjadi motivasi serta memberikan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.
Indralaya, Juli 2014
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Dan Kegunaan... 6
II. KERANGKA PEMIKIRAN ... 8
2.1. Tinjauan Pustaka ... 8
2.1.1. Konsepsi Konsumsi ... 8
2.1.2. Konsepsi Kemiskinan ... 13
2.1.3. Konsepsi Kebutuhan Dasar ... 16
2.1.4. Konsepsi Distribusi ... 18
2.1.5. Konsepsi Efektivitas ... 22
2.2. Model Pendekatan ... 24
2.3. Hipotesis ... 26
III. PELAKSANAAN PENELITIAN ... 30
3.1. Tempat dan Waktu ... 30
3.2. Metode Penelitian ... 30
3.3. Metode Penarikan Contoh ... 30
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 31
3.5. Metode Pengolahan Data ... 32
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1. Keadaan Umum Daerah ... 38
4.1.1. Letak Geografis dan Keadaan Alam Kabupaten Ogan Ilir . 38
4.1.2. Penduduk dan Kebudayaan ... 39
4.1.3. Pendidikan dan Kesehatan ... 40
4.1.4. Sosial dan Ekonomi ... 43
4.1.5. Keadaan Umum Kecamatan Pemulutan ... 45
4.2. Mekanisme Pelaksanaan Program raskin ... 46
4.2.1. Penetapan Pagu Raskin ... 48
4.2.2. Pengelolaan dan Pengorganisasian Program Raskin ... 50
4.2.2.1. Tim Koordinasi Raskin Pusat ... 50
4.2.2.2. Tim Koordinasi raskin Provinsi ... 51
4.2.2.3. Tim Koordinasi Raskin Kabupaten Kota ... 52
4.2.2.4. Tim Koordinasi Raskin Kecamatan ... 53
4.2.3. Mekanisme Penyaluran raskin Perum Bulog Divre Sumsel 54
4.2.3.1. Penerbitan Surat Permintaan Alokasi (SPA) ... 56
4.2.3.3. Penerbitan SPPB/DO... 57
4.2.3.4. Pendistribusian Raskin ke TD dan TB ... 58
4.3. Parameter Efektivitas Penyaluran Raskin berdasarkan Kriteria 6 Tepat ... 58
4.3.1. Tepat Sasaran ... 59
4.3.2. Tepat Waktu ... 62
4.3.3. Tepat Harga ... 63
4.3.4. Tepat Jumlah ... 65
4.3.5. Tepat Administrasi ... 67
4.3.6. Tepat Kualitas ... 78
4.4. Faktor – faktor Penentu Rumah Tangga Penerima Raskin ... 81
4.5. Kendala yang dihadapi dalam Pendistribusian Raskin ... 86
V. PENUTUP ... 91
5.1. Kesimpulan ... 91
5.2. Penutup ... 92
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Sumatera Selatan... 2
2. Jumlah Penduduk Miskin di Daerah Tertinggal Sumatera Selatan... 3
3. Jumlah Pagu Raskin Sumatera Selatan Tahun 2014 ... 4
4. Populasi dan Sampel Masing-masing Lapisan... 31
5. Jenis Pekerjaan Masyarakat Kabupaten Ogan Ilir ... 44
6. Pagu Raskin RTS Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014 ... 47
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Model Pendekatan Diagramatis ... 24
2. Mekanisme Penyaluran Raskin ... 55
3. Surat Permintaan Alokasi ... 68
4. Surat Perintah Setor... 69
5. Bukti Setor Pagu Raskin ... 69
6. Bukti Setor Satker kepada Bulog ... 70
7. Surat Perintah Pengeluaran Barang ... 70
8. Rekapitulasi Penyerahan Barang (GD-1K) ... 71
9. Surat Berita Acara Serah Terima ... 71
10.Rekap BAST (MBA-0) ... 72
11.Daftar Penerima Manfaat 1 ... 72
12.Daftar Penerima Manfaat 2 ... 73
13.MBA-0 ... 73
14.MBA-1 ... 74
15.Laporan Pelaksana Raskin (LT-0) ... 74
16.Laporan Pelaksana Raskin (LT-1) ... 75
17.Laporan Pelaksana Raskin (LT-2) ... 75
18.Berita Acara Musyawarah Desa/ Kelurahan ... 76
19.Berita Acara Musyawarah Kecamatan ... 76
20.Formulir Rekapitulasi Pengganti RTS-PM ... 77
22.Kadar menir pada Raskin ... 78
23.Keadaan Raskin di gudang ... 79
24.Beras yang berkutu akibat lama disimpan ... 79
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Peta Administrasi Kabupaten Ogan Ilir ... 96
2. Peta Administrasi Kecamatan Pemulutan ... 97
3. Jumlah Penduduk Kabupaten Ogan Ilir Berdasarkan Kelompok Umur 98
4. Kriteria Rumah Tangga Penerima Raskin Desa Sembadak ... 99
5. Kriteria Rumah Tangga Penerima Raskin Desa Pelabuhan Dalam ... 100
6. Jumlah Penerimaan Rumah Tangga Sampel Desa Sembadak ... 101
7. Jumlah Penerimaan Rumah Tangga Sampel Desa Pelabuhan Dalam . 102 8. Surat Permintaan Alokasi ... 103
9. Surat Perintah Setor... 104
10.Bukti Setor Pagu Raskin ... 105
11.Bukti Setor Satker kepada Bulog ... 106
12.Surat Perintah Pengeluaran Barang ... 107
13.Rekapitulasi Penyerahan Barang (GD-1K) ... 108
14.Surat Berita Acara Serah Terima ... 109
15.Rekap BAST (MBA-0) ... 110
16.Surat Keputusan Bupati Ogan Ilir tentang Alokasi Pagu Raskin untuk Rumah Tangga Miskin se Kabupaten Ogan Ilir ... 111
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang mendunia. Setiap negara memiliki karakteristik kemiskinannya masing-masing yang dapat diakibatkan oleh begitu banyak sebab seperti geografis, kultur, sistem pemerintahan, dan lainnya. Secara sektoral, jumlah penduduk miskin di Indonesia terkonsentrasi di sektor pertanian. Sektor ini dari dulu hingga sekarang selalu menjadi tempat mayoritas rumah tangga miskin menggantungkan hidupnya. Data BPS (2010) mendapatkan bahwa, masyarakat di Indonesia sebesar 63% bekerja sebagai buruh tani, 6% bekerja di sektor industri, 10% belum atau tidak memiliki pekerjaan dan sisanya 21% bekerja di sektor-sektor lainnya. Besarnya ketergantungan masyarakat miskin terhadap sektor pertanian menjadikan sektor ini penting untuk mendapatkan prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan (Aziz, K.A. 2012).
Terpuruknya sektor pertanian membuat masyarakat Indonesia yang bergantung pada sektor ini ikut terpuruk dalam kemiskinan. Kemiskinan menjadi tantangan utama pembangunan saat ini, bahkan dunia internasional telah menetapkan penanggulangan kemiskinan sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Secara teoritis dan empiris telah dipahami bahwa usaha penanggulangan kemiskinan tidak dapat diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar (market mechanism) karena pasar hanya bekerja atas dasar efisiensi alokasi sumberdaya (Jamhari, 2012).
orang atau sebesar 13,48 persen. Meski dalam setiap tahunnya mengalami penurunan angka kemiskinan, namun angka kemiskinan sebesar 13,48 persen masih tergolong tinggi. Angka kemiskinan di Sumatera Selatan dapat dilihat pada tabel 1. Untuk garis kemiskinan di provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar Rp 259.668,-. Garis kemiskinan di daerah perkotaan sebesar Rp 296.933,- sedangkan garis kemiskinan di daerah perdesaan adalah sebesar Rp 238.901,- (Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, 2012).
Tabel 1. Jumlah Penduduk Miskin Provinsi Sumatera Selatan Tahun Jumlah Penduduk Miskin
Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) (BPS Sumsel)
tertinggal, hal ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan yang ada di daerah tersebut. Angka kemiskinan di daerah tertinggal di Sumatera Selatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Miskin di Daerah Tertinggal Sumatera Selatan
Kabupaten Penduduk Miskin
Jumlah (ribu Orang) Persentase
Ogan Komering Ilir 109,8 14,53
Lahat 66,4 17,45
Sumber: Sistem Informasi Statistik Pembangunan Daerah Tertinggal (2012)
Dengan banyaknya daerah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, maka pemerintah mengeluarkan beberapa program bantuan bagi rakyat miskin. Dari sekian banyak program bantuan pemerintah salah satunya adalah Program Bantuan Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah atau biasa disebut Program Raskin. Program ini sendiri ditugaskan pemerintah kepada Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG).
berfungsi sebagai program darurat (social safety net) untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga miskin setelah krisis moneter terjadi tahun 1997. Pada tahun 2002, fungsi program diperluas sebagai perlindungan sosial masyarakat (social protection) dan namanya diubah menjadi Raskin agar lebih tepat sasaran (Bulog, 2010).
Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan Bangka Belitung memiliki wilayah kerja yang terbagi menjadi Sub Divisi Regional (Subdivre) dan Kantor Seksi Logistik (Kansilog) yang tersebar di Sumatera Selatan. Untuk wilayah Bangka Belitung, penyaluran Raskin ditugaskan kepada Kansilog Bangka Belitung. Perintah penugasan ini diberikan melalui surat Keputusan Gubernur tentang alokasi Pagu Raskin ke seluruh Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan. Surat Keputusan ini dapat dilihat pada lampiran. Berdasarkan data terebut, didapat pagu Raskin yang akan disalurkan untuk setiap Kabupaten/Kota.
Tabel 3. Jumlah Pagu Raskin Sumatera Selatan Tahun 2014
No Kabupaten/Kota
15 Prabumulih 8.799 131.985 1.583.820
16 Pagar Alam 5.486 82.290 987.480
17 Lubuk Linggau 8.583 128.745 1.544.940
JUMLAH 419.579 6.293.685 75.524.220
Sumber: SK Gubernur tentang alokasi Pagu Raskin ke seluruh Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan
Dalam aplikasinya dilapangan, Program Raskin ini sendiri sering mengalami masalah dalam proses distribusinya, baik oleh faktor alam, teknis, maupun non teknis. Kendala yang muncul dapat mengganggu kelancaran distribusi yang memiliki tujuan untuk mencapai 6 Tepat, yaitu: 1) tepat sasaran, 2) tepat waktu, 3) tepat harga, 4) tepat jumlah, 5) tepat administrasi, dan 6) tepat kualitas. Dengan banyaknya gangguan yang ada maka efektivitas pendistribusian Raskin akan terganggu dan menyebabkan distribusinya tidak efektif.
Berbagai studi evaluasi program dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian independen, baik peguruan tinggi termasuk UGM dan UI maupun lembaga penelitian seperti LP3ES, SMERU. Kesimpulan dari berbagai penelitian selama 5 tahun terakhir adalah berkisar sekitar:
1. Subsidi itu bocor keluar RT sasaran, dibagi rata, digilir, sehingga RT miskin tidak menerima sebanyak 15 kg/KK/bulan sehingga dampak positif terhadap perbaikan gizi masyarakat yang rawan pangan menjadi berkurang
2. Lemah dalam manajemen program, terutama pengawasan, monitoring dan evaluasi, dan penanganan keluhan masyarakat
Permasalahan ketidak tepatan penyaluran Raskin yang terjadi dilingkup masyarakat saat ini sudah sangat kompleks dan sudah menjadi rahasia umum. Dengan permasalahan yang terjadi maka penulis tertarik untuk meneliti tentang Raskin dan menganalisis proses penyalurannya, sehingga dapat mengetahui permasalahan yang terjadi di masyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dapat penulis angkat adalah:
1. Bagaimana mekanisme penyaluran atau distribusi Raskin Perum BULOG Divre Sumatera Selatan di Kabupaten Ogan Ilir ?
2. Bagaimanakah efektivitas pencapaian 6 Tepat dalam pendistribusian Raskin Perum BULOG Divre Sumatera Selatan di Kabupaten Ogan Ilir ?
3. Faktor – faktor apa yang mempengaruhi Rumah Tangga dapat menerima Raskin di Kabupaten Ogan Ilir ?
4. Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam proses pendistribusian atau penyaluran Raskin di Kabupaten Ogan Ilir?
1.3. Tujuan dan Kegunaan
Berdasarkan rumusan yang dibuat diatas, maka didapat tujuannya sebagai berikut.
2. Menganalisis efektivitas pencapaian 6 Tepat dalam pendistribusian Raskin di Kabupaten Ogan Ilir.
3. Menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang menerima Raskin di Kabupaten Ogan Ilir.
4. Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pendistribusian / penyaluran Raskin
II. KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Konsepsi Konsumsi
Konsumsi tidak hanya dikeluarkan oleh sektor rumah tangga saja, namun pemerintah dan perusahaan juga terdapat pengeluaran konsumsi. Terdapat 4 bentuk teori konsumsi jika dipandang dari sektor rumah tangga diantaranya yaitu : (1). teori keynes; (2) life cycle hypothesis of consumption; (3) permanent income hypothesis; (4) relative income hypothesis (Kusuma, 2013).
a) Teori Konsumsi Keynes
Menurut John Maynard Keynes, jumlah konsumsi saat ini (current disposable income) berhubungan langsung dengan pendapatannya. Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat dijelaskan melalui fungsi konsumsi. Fungsi konsumsi menggambarkan tingkat konsumsi pada berbagai tingkat pendapatan.
C = a +bY Dimana:
C = konsumsi seluruh rumah tangga (agregat)
a = konsumsi otonom, besarnya konsumsi ketika pendapatan nol (konstanta) b = marginal propensity to consume (MPC)
Y = pendapatan disposable
Dalam hal ini, pendapatan (Y) yang dimaksud oleh Keynes adalah :
2. Pendapatan yang terjadi (current income), bukan pendapatan yang diperoleh sebelumnya, dan bukan pula pendapatan yang diperkirakan terjadi di masa datang (yang diharapkan)
3. Pendapatan absolut, bukan pendapatan relatif atau pendapatan permanen.
Variabel b adalah marginal propensity to consume (MPC) atau kecenderungan mengonsumsi marginal, yaitu berapa konsumsi bertambah bila pendapatan bertambah. Dan secara matematis dapat dirumus :
MPC = C/Y
Dalam kurva konsumsi, MPC menunjukkan kemiringan/kecondongan (slope) kurva konsumsi. Marginal propensity to save (MPS) adalah berupa tabungan bertambah karena bertambahnya pendapatan.
MPC = S/Y Dimana :
S = tabungan Y = pendapatan
Dalam teori ini, terdapat faktor-faktor yang menentukan tingkat konsumsi, antara lain:
1. Pendapatan rumah tangga (Household income), semakin besar pendapatan, semakin besar pula pengeluaran untuk konsumsi.
3. Prakiraan masa depan (Household expectations), bila masyarakat memperkirakan harga barang-barang akan mengalami kenaikan, maka mereka akan lebih banyak membeli/belanja barang-barang.
4. Tingkat bunga (Interest rate), bila tingkat bunga tabungan tinggi/naik, maka masyarakat merasa lebih untung jika uangnya ditabung daripada dibelanjakan. berarti antara tingkat bunga dengan tingkat konsumsi memepunyai korelasi negatif.
5. Pajak (Taxation), pengenaan pajak akan menurunkan pendapatan disposable yang diterima masyarakat, akibatnya akan menurunkan konsumsinya.
6. Jumlah dan Konsunsi penduduk, jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi. Sedangkan komposisi penduduk yang didominasi penduduk usia produktif/usia kerja (15-64 tahun) akan memperbesar tingkat konsumsi.
7. Faktor sosial budaya, misalnya, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih modern. Contohnya adalah berubahnya kebiasaan oranng Indonesia berbelanja dari pasar tradisional ke pasar swalayan (super market) (Ramadhana, 2012).
dari perjalanan umur seseorang. Model siklus hidup ini membagi perjalanan manusia ke dalam 3 periode:
1. Periode belum produktif (0 tahun sampai dengan usia kerja). Dalam tahap ini dikatakan bahwa seseorang melakukan konsumsi dalam kondisi “Dissaving”,
karena seseorang melakukan konsumsi sangat tergantung pada orang lain.
2. Periode produktif (dari usia kerja sampai dengan usia di mana orang tersebut sudah menjelang usia tua). Tahap ini dikatakan bahwa seseorang berkonsumsi dalam kondisi “Saving”, kenapa dikatakan demikian, karena seseorang pada
tahap ini pengeluaran konsumsinya sudah tidak tergantung pada orang lain. 3. Periode tidak produktif lagi. Tahap ini seseorang kembali berada dalam kondisi
“Dissaving”, dengan kata lain bahwa seseorang melakukan konsumsi kembali
tergantung pada orang lain. Karena dalam tahap ini seseorang tidak lagi mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.
Fungsi konsumsi menurut Modigliani (Sukirno, 2000) adalah: Ct = 1/T [Yt + (N-1)Yle +At] ...(x) Dimana:
Ct = Konsumsi pada periode t T = Lamanya hidup seseorang Yt = Pendapatan disposibel N-1 = Lama bekerja seseorang
Dari fungsi konsumsi yang diformulasikan oleh Modigliani dapat dilihat bahwa konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan yang diharapkan di masa datang dalam jangka panjang
c) Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif (Relative Income Hypothesis)
James Dusenberry mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya. Dalam teorinya, Dusenberry menggunakan dua asumsi yaitu:
a) Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang sekitarnya. Sebagai misal, seseorang yang memiliki kemampuan pengeluaran konsumsi yang sederhana tinggal di tempat masyarakat yang pengeluaran konsumsinya serba kecukupan, secara otomatis ada rangsangan dari orang tersebut untuk mengikuti pola konsumsi di masyarakat sekitarnya.
b) Pengeluaran konsumsi adalah irreversibel. Artinya pola pengeluaran seseorang pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan. Sebagai misal, apabila pendapatan seseorang mengalami kenaikan maka secara otomatis konsumsi juga mengalami kanaikan dengan proporsi tertentu, dst bila pendapatan mengalami penurunan, maka juga akan diikuti oleh penurunan konsumsinya.
Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh M Friedman. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan:
a) Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah.
b) Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (yang menciptakan kekayaan)
Kekayaan yang dimiliki seseorang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a) Kekayaan non manusia (non human wealth) adalah bentuk kekayaan fisik yaitu barang-barang konsumsi tahan lama (gedung, rumah, obligasi,dsb).
b) Kekayaan manusia (human wealth) adalah dalam bentuk kemampuan yang melekat pada diri manusia itu sendiri (keahlian, pendidikan, dsb).
Ada dua asumsi mengenai hubungan antara pendapatan permanen dengan pendapatan sementara:
a) Tidak ada korelasi antara pendapatan permanen dengan pendapatan transitory, karena pendapatan sementara merupakan faktor kebetulan saja.
b) Pendapatan sementara tidak mempengaruhi pengeluaran konsumsi (Siti, 2011).
2.1.2. Konsepsi Kemiskinan
Program Pengurangan Kompensasi Pengurangan Subsisdi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) tahun 2005. Kebijakan ini sebenarnya juga sudah dilakukan pada tahun 2003. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan PKPS-BBM tahun 2003 tersebut, misstargeting merupakan masalah yang secara umum ditemukan di semua daerah, juga ketidaktepatan dalam hal pelaksanaan dan besarnya jumlah bantuan yang diterima. Masalah-masalah serupa juga terjadi pada pelaksanaan PKPS-BBM tahun 2005 ini. Bahkan dampak yang timbul sangat jauh hingga terjadi pembunuhan terhadap aparat, pengrusakan terhadap kantor dan rumah-rumah warga, ancaman-ancaman terhadap aparat desa, dan lain sebagainya.
Kesemua masalah yang muncul di atas terjadi karena ketidakpuasan masyarakat atas sistem pendataan rumah tangga miskin sebagai yang nantinya akan menjadi target dari pelaksanaan PKPS-BBM ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah penduduk/keluarga miskin yang berhak menerima bentuan lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk/keluarga miskin yang dijadikan dasar perencanaan program.
miskin tetapi mereka tidak mendapatkan bantuan dari pelaksanaan PKPS-BBM tahun 2005 ini. Karena itu penelitian ini berusaha untuk mengungkap bagaimana kriteria penentuan rumah tangga miskin menurut masyarakat khususnya di daerah yang mempunyai Human Development Indeks (HDI) menengah ke bawah. Semakin rendah HDI suatu daerah menunjukkan semakin rendah kualitas pembangunan manusia di wilayah yang bersangkutan. Dimana HDI ini dilihat dari tiga aspek yaitu usia harapan hidup, pendidikan yang diukur dari rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf usia di atas 15 tahun, dan standar hidup yang diukur dengan pengeluaran perkapita. Untuk penelitian ini daerah yang dipilih adalah Kecamatan Gedong Tataan dan Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran yang pada tahun 2002 HDI nya 64,4 dan masuk dalam katagori menengah bawah (HDI nya berada di antara angka 50 sampai 65,99) (Susilowati, 2013).
Dalam proses penggolongan data yang ada, maka ada beberapa hal yang diajukan sebagai syarat kategori miskin, antara lain:
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi untuk masing-masing anggota keluarga.
2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah, bambu, kayu berkualitas rendah
3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terbuat dari bambu, rumbia, kayu berkualitas rendah.
5. Sumber air untuk minum/memasak berasal dari sumur/mata air tak terlindung, air sungai, danau, atau air hujan
6. Sumber penerangan di rumah bukan listrik.
7. Bahan bakar yang digunakan memasak berasal dari kayu bakar, arang, atau minyak tanah.
8. Dalam seminggu tidak pernah mengonsumsi daging, susu, atau hanya sekali dalam seminggu
9. Dalam setahun paling tidak hanya mampu membeli pakaian baru satu stel. Pekerjaan utama kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan setengah hektar, buruh tani, kuli bangunan, tukang batu, tukang becak, pemulung, atau pekerja informal lainnya dengan pendapatan maksimal Rp600 ribu per bulan.
10.Pendidikan tertinggi yang ditamatkan kepala rumah tangga bersangkutan tidak lebih dari SD.
Tidak memiliki harta senilai Rp500 ribu seperti tabungan, perhiasan emas, TV berwarna, ternak, sepeda motor [kredit/non-kredit], kapal motor, tanah, atau barang modal lainnya.
2.1.3. Konsepsi Kebutuhan Dasar
mereka. Kebutuhan pokok yang dimaksud sebagai kebutuhan dasar (Basic Human Needs), yakni kebutuhan yang sangat penting guna kelangsungan hidup manusia, baik yang menyangkut kebutuhan konsumsi individu (makan, perumahan, pakaian), maupun keperluan pelayanan sosial tertentu (air minum, sanitasi, transportasi, kesehatan dan pendidikan).
Dalam kaitan ini, Radwan dan Alfthan (1978) mengemukakan bahwa tanpa mengurangi konsep basic needs, keperluan minimum dari seorang individu atau rumah tangga berupa yang makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan, air dan sanitasi, transportasi dan partisipasi. Lain halnya dengan The Kian Wie (1983), mengemukakan kebutuhan pokok sebagai suatu paket barang dan jasa yang oleh masyarakat dianggap perlu tersedia bagi setiap orang. Kebutuhan ini merupakan tingkat minimum yang dapat dinikmati oleh setiap orang. Hal ini berarti bahwa kebutuhan pokok berbeda dari suatu daerah ke daerah lain, dari suatu negeri ke negeri lain, jadi kebutuhan pokok itu spesifik.
memungkinkan produksi barang dan jasa, ataupun dari perdagangan international untuk memperolehnya dengan kemampuan untuk menyisihkan tabungan bagi pembiayaan usaha selanjutnya. 5). Menjamin adanya partisipasi masa dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan proyek-proyek.
Sejalan dengan pandangan di atas, Radwan dan Alfhan (1978) mengemukakan bahwa terdapat pandangan baru yang menunjukkan bahwa ukuran pendapatan perjiwa saja tidak mewakili kemajuan ekonomi secara keseluruhan. Kegagalan Growth Oriented Strategis Approach dalam mengurangi ketidak merataan pendapatan masyarakat dan membasmi kemiskinan. Oleh karena itu dituntut adanya perubahan besar dalam pembangunan dengan berbagai sistem pendekatan yang jitu terhadap upaya peningkatan pendapatan masyarakat, penghapusan kemiskinan, dan kekurangan lapangan pekerjaan, maka upaya pendekatan basic human needs dari ILO pada dasarnya juga mencerminkan perubahan arah pembangunan ini. Dalam kaitan ini, program Raskin merupakan salah satu kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, yakni kebutuhan akan pangan, khususnya beras yang cukup dengan kelompok sasaran adalah rumah tangga miskin (RTM).
2.1.4. Konsepsi Distribusi
menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Distribusi akan melibatkan pergerakan dan penyimpanan produk dari pabrik ke konsumen dengan pertambahan nilai produk (Cahyo, 2013).
Distribusi adalah kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Distribusi memiliki fungsi utama. Yang dimaksud dengan fungsi utama / pokok adalah tugas-tugas yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dalam hal ini fungsi pokok distribusi meliputi:
a) Pengangkutan (Transportasi)
Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat tinggal konsumen, perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan pengangkutan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin majunya teknologi, kebutuhan manusia semakin banyak. Hal ini mengakibatkan barang yang disalurkan semakin luas, sehingga membutuhkan alat transportasi (pengangkutan).
b) Penjualan (Selling)
Di dalam pemasaran barang, selalu ada kegiatan menjual yang dilakukan oleh produsen. Pengalihan hak dari tangan produsen kepada konsumen dapat dilakukan dengan penjualan. Dengan adanya kegiatan ini maka konsumen dapat menggunakan barang tersebut.
c) Pembelian (Buying)
d) Penyimpanan (Stooring) Sebelum barang-barang disalurkan pada konsumen biasanya disimpan terlebih dahulu. Dalam menjamin kesinambungan, keselamatan dan keutuhan barang-barang, perlu adanya penyimpanan (pergudangan).
e) Pembakuan Standar Kualitas Barang
Dalam setiap transaksi jual-beli, banyak penjual maupun pembeli selalu menghendaki adanya ketentuan mutu, jenis dan ukuran barang yang akan diperjualbelikan. Oleh karena itu perlu adanya pembakuan standar baik jenis, ukuran, maupun kualitas barang yang akan diperjualbelikan tersebut. Pembakuan (standarisasi) barang ini dimaksudkan agar barang yang akan dipasarkan atau disalurkan sesuai dengan harapan.
f) Penanggung Risiko
Barang yang didistribusikan bisa jatuh dan pecah, maka rusaklah barang yang akan didistribusikan tersebut. Hal ini mungkin saja terjadi pada kegiatan distribusi, maka seorang distributor tentunya akan menanggung risiko. Pada jaman sekarang untuk menanggung risiko yang muncul bisa dilakukan kerjasama dengan lembaga/perusahaan asuransi (Eko, Y. 2009).
program perlindungan sosial masyarakat. Melalui sebuah kajian ilmiah, penamaan Raskin menjadi nama program diharapkan akan menjadi lebih tepat sasaran dan mencapai tujuan Raskin.
Penentuan kriteria penerima manfaat Raskin seringkali menjadi persoalan yang rumit. Dinamika data kemiskinan memerlukan adanya kebijakan lokal melalui musyawarah Desa/Kelurahan. Musyawarah ini menjadi kekuatan utama program untuk memberikan keadilan bagi sesama rumah tangga miskin.
Sampai dengan tahun 2006, data penerima manfaat Raskin masih menggunakan data dari BKKBN yaitu data keluarga prasejahtera alasan ekonomi dan keluarga sejahtera I alasan ekonomi. Belum seluruh KK Miskin dapat dijangkau oleh Raskin. Hal ini menjadikan Raskin sering dianggap tidak tepat sasaran, karena rumah tangga sasaran berbagi dengan KK Miskin lain yang belum terdaftar sebagai sasaran.
Secara umum, Penyaluran Raskin berawal dari Surat Perintah Alokasi (SPA) dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Perum BULOG dalam hal ini kepada Kepala divisi regional/ Kepala sub divre/Kepala Kantor Sesi Logistik Perum BULOG berdasarkan pagu Raskin (tonase dan jumlah Rumah Tangga Sasaran - RTS) dan rincian di masing-masing Kecamatan dan Desa/ Kelurahan. Pada waktu beras akan didistribusikan ke Titik Distribusi, Perum BULOG berdasarkan SPA menerbitkan Surat Perintah Pengeluaran Barang/Delivery Order (SPPB/DO) beras untuk masing-masing Kecamatan atau Desa/ Kelurahan kepada Satker Raskin. Satker Raskin mengambil beras di gudang Perum BULOG, mengangkut dan menyerahkan beras Raskin kepada Pelaksana Distribusi Raskin di Titik Distribusi. Di Titik Distribusi, penyerahan/penjualan beras kepada RTS-PM (Penerima Manfaat) Raskin dilakukan oleh salah satu dari tiga (3) Pelaksana Distribusi Raskin yaitu Kelompok Kerja (Pokja), atau Warung Desa (Wardes) atau Kelompok Masyarakat (Pokmas). Di Titik Distribusi inilah terjadi transaksi secara tunai dari RTS - PM Raskin ke Pelaksana Distribusi (BULOG. 2010).
2.1.5. Konsepsi Efektivitas
Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan. Dalam artian efektivitas merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output, kebijakan dan prosedur dari organisasi mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam pengertian teoritis atau praktis, tidak ada persetujuan yang universal mengenai apa yang dimaksud dengan “Efektivitas”.
Penggunaan metode/cara, sarana/alat dalam melaksanakan aktivitas sehingga berhasil guna (mencapai hasil yang optimal). Menurut Gibson et.al (1996) pengertian efektivitas adalah penilaian yang dibuat sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, dan organisasi. Makin dekat prestasi mereka terhadap prestasi yang diharapkan (standar), maka makin lebih efektif dalam menilai mereka.
Dari pengertian tersebut di atas dari sudut pandang bidang perilaku keorganisasian maka dapat diidentifikasikan tiga tingkatan analisis yaitu: (1) individu, (2) kelompok, dan (3) organisasi. Ketiga tingkatan analisis tersebut sejalan dengan ketiga tingkatan tanggung jawab manajerial yaitu bahwa para manajer bertanggung jawab atas efektivitas individu, kelompok dan organisasi.
meningkatkan kemampuannya untuk meningkatkan pelayanan dengan memuaskan kebutuhan pelanggan atau pengguna.
Dalam aplikasi pendistribusian Raskin, efektivitas yang diinginkan adalah tercapainya 6 Tepat, yaitu:
1. Tepat sasaran, diberikan kepada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM)
2. Tepat jumlah, 15 kg / RTS / bulan 3. Tepat harga, Rp. 1.600 / kg
4. Tepat waktu, waktu pelaksanaan penyaluran RTS-PM sesuai dengan rencana penyaluran
5. Tepat administrasi, terpenuhinya persyaratan administrasi secara benar, lengkap, dan tepat waktu
6. Tepat kualitas, terpenuhinya kualitas beras sesuai dengan standar kualitas beras BULOG
2.2. Model Pendekatan
Model pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pendekatan diagramatis yang dapat dilihat pada Gambar 1.
Keterangan:
: menjalankan : memiliki : dipengaruhi
Gambar 1. Model Pendekatan Diagramatis
Dalam usaha memenuhi kebutuhan Rumah Tangga Sasaran, Perum BULOG ditugaskan untuk menjalankan Program Beras bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah atau biasa disebut Program Raskin. Penunjukan Perum BULOG sebagai lembaga yang menangani masalah Raskin ini antara lain karena beberapa alasan seperti persiapan sarana perdagangan, sumber daya manusia, dan stok beras BULOG yang tersebar di seluruh Indonesia, dan mekanisme pembiayaan yang memungkinkan
Tujuan: mengurangi yang Dilihat Berdasarkan Kriteria (6 Tepat):
Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, Tepat Harga, Tepat Waktu, Tepat Administrasi dan Tepat
BULOG mendistribusikan terlebih dahulu berasnya, kemudian baru ditagihkan kepada pemerintah.
Perum BULOG bertugas untuk menyalurkan Raskin hingga ke Titik Distribusi. Kemudian pihak kecamatan akan menyalurkannya kepada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) yang telah ditentukan sebelumnya dengan melihat faktor-faktor yang sesuai kriteria apakah rumah tangga tersebut berhak menerima Raskin atau tidak.
Dalam proses penyaluran Raskin ada beberapa kendala yang akan menghambat Raskin untuk tersalurkan kepada yang berhak menerimanya yaitu RTS-PM. Kendala yang ada dapat berupa faktor internal dan faktor eksternal. Beras yang disalurkan BULOG hingga ke titik distribusi memiliki jumlah sesuai dengan ditentukan oleh kecamatan/kabupaten/kota. Raskin yang akan diterima RTS-PM akan dikatakan efektif apabila dalam proses penyalurannya telah memenuhi syarat indikator 6 Tepat, yaitu Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, Tepat Harga, Tepat Waaktu, Tepat Administrasi, dan Tepat Kualitas.
2.3. Hipotesis
Menurut Jamhari (2012), Risal, H.B (2013), dan Hastuti, dkk. (2012) serta rumusan masalah dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
5. Diduga mekanisme distribusi atau penyaluran Raskin di Perum BULOG Divre Sumatera Selatan berpengaruh terhadap efektivitas penyaluran Raskin
7. Diduga jenis lantai, dinding, kepemilikan jamban, bahan bakar memasak, kemampuan konsumsi daging, kemampuan membeli pakaian serta pendidikan berpengaruh nyata terhadap keputusan seseorang menerima Raskin.
8. Diduga kendala yang terkait dengan 6 Tepat berpengaruh nyata dalam pendistribusian atau penyaluran Raskin
2.4. Batasan Operasional
1. Proses pengambilan data dilakukan di Kabupaten Ogan pada bulan Mei hingga Juni 2014.
2. Untuk menjawab rumusan masalah ke tiga, pengambilan sampel dilakukan di Desa Sembadak dan Desa Pelabuhan Dalam Kecmatan Pemulutan.
3. Pemilihan daerah penelitian diambil secara sengaja dengan pertimbangan Kabupaten Ogan Ilir memiliki masyarakat miskin yang cukup tinggi, dan Kecamatan Pemulutan merupakan kecamatan yang menerima Raskin paling banyak.
4. Perum BULOG merupakan lembaga pemerintah yang melaksanakan tugas di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras (mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah – HPP), serta usaha jasa logistik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6. Distribusi Raskin merupakan penyaluran Raskin kepada Rumah Tangga Sasaran. 7. Pagu Raskin adalah jumlah beras yang dialokasikan kepada RTS-PM Raskin
untuk tingkat nasional, provinsi, atau kabupaten/kota pada tahun tertentu.
8. Efektivitas dalah kemampuan yang dilakukan berdasarkan indikator tertentu dalam mencapai tujuan program pendistribusian Raskin yang telah ditetapkan yaitu 6 Tepat, Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, Tepat Waktu, Tepat Harga, Tepat Administrasi, Dan Tepat Kualitas.
9. Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) adalah rumah tangga yang berhak menerima beras dari Program Raskin sesuai data yang diterbitkan dari Basis Data Terpadu hasil Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011 yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang disahkan oleh Kemenko Kesra RI.
10. Titik Distribusi (TD) adalah tempat atau lokasi penyerahan beras Raskin dari Perum BULOG kepada Pelaksana Distribusi Raskin di desa/kelurahan, atau lokasi lain yang disepakati secara tertulis oleh pemerintah kabupaten/kota dengan Perum BULOG.
11. Titik Bagi (TB) adalah tempat atau lokasi penyerahan beras Raskin dari Pelaksana Distribusi Raskin termasuk Warung Desa (Wardes) kepada RTS-PM. 12. Pelaksana Distribusi Raskin adala Kelompok Kerja (Pokja) di TD atau Wardes
atau Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah. 13. Kelompok Kerja (Pokja) adalah sekelompok masyarakat yang terdiri dari aparat
14. Kelompok Masyrakat (Pokmas) adalah lembaga masyarakat dan/atau kelompok masyarakat di desa/kelurahan yang ditetapkan oleh Kepala Desa/ Lurah sebagai pelaksana Distribusi Raskin.
15. Warung Desa (Wardes) adalah lembaga ekonomi di desa/kelurahan, baik milik masyarakat, koperasi maupun pemerintah desa/kelurahan yang memiliki fasilitas bangunan/tempat penjualan bahan pangan dan barang lainnya yang di tetapkan oleh tim Raskin kabupaten/kota sebagai tempat penyerahan beras.
16. HTR adalah harga tebus Raskin di TD (Rp. 1.600,00/Kg)
17. Surat Permintaan Alokasi (SPA) adalah surat yang dibuat oleh bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk kepada Perum BULOG berdasarkan alokasi pagu Raskin.
18. Surat Perintah Setor (SPS) adalah surat yang diteritkan oleh Perum BULOG untuk perintah pembayaran beras kepada pejabat di desa/kelurahan/ kabupaten/kota sesuai dengan alokasi yang diminta.
19. Surat Perintah Pengeluaran Barang/Delivery Order (SPPB/DO) adalah perintah tertulis yang dikeluarkan oleh Perum BULOG untuk mengeluarkan dan menyerahkan beras Raskin
20. Data Primer adala data yang di peroleh dari perusahaan, lembaga, dan instansi pemerintah.
III. PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir dan Perusahaan Umum BULOG Divisi Regional Sumsel Babel. Penentuan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive). Waktu pengumpulan data dilapangan dilaksanakan pada bulan April 2014 sampai dengan selesai.
3.2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode survey ini digunakan karena pada penelitian ini pengumpulan data primer dilakukan secara langsung kepada sumber yang ada dilapangan melalui wawancara langsung dan juga melalui kuisioner. Sehingga terjadi interaksi secara langsung kepada objek penelitian atau sampel penelitian pada suatu populasi, dalam penelitian ini.
3.3. Metode Penarikan Contoh
Tabel 4. Populasi dan Sampel Masing-masing Lapisan
No. Uraian Populasi Sampel Presentase (%)
1 Lapisan I 4.546 25 0.55
2 Lapisan II 6.796 35 0.51
Jumlah 11.342 60 1
Lapisan I : rumah tangga miskin yang menerima Raskin Lapisan II : rumah tangga miskin yang tidak menerima Raskin
Pemilihan lapisan digunakan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap rumah tangga penerima Raskin. Kriteria penentu rumah tangga yang tidak menerima Raskin adalah rumah tangga yang memenuhi minimal 8 dari 14 kriteria miskin yang ditetapkan oleh TNP2K.
Jumlah Rumah Tangga sampel yang dipilih adalah 60 Rumah Tangga yang terdiri dari 25 Rumah Tangga yang menerima Raskin dan 35 Rumah Tangga yang tidak menerima Raskin. Angka yang didapat diperoleh dari perhitungan penentuan sampel logit, sehingga sampel yang ada dapat mewakili populasi.
3.4. Metode Pengumpulan Data
3.5. Metode Pengolahan Data
Data yang diperoleh akan diolah secara tabulasi, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan matematis dan dijelaskan secara deskriptif pada pembahasan. Untuk menjawab tujuan pertama, yaitu untuk mengetahui mekanisme yang digunakan Perum BULOG Divre Sumsel dalam menyalurkan beras ke RTS-PM, akan dijelaskan secara deskriptif. Mekanisme yang ada akan dijelaskan mulai dari permintaan alokasi oleh kepala daerah pada daerah yang meminta Raskin hingga sampai pada Titik Bagi (TB) dimana RTS-PM dapat menebus harga Raskin.
Untuk menjawab persoalan kedua, yaitu menganalisis efektivitas pencapaian 6 Tepat pendistribusian Raskin di Kabupaten Ogan Ilir, berdasarkan Jamhari (2012) akan diolah secara kuantitatif dan dijelaskan secara deskriptif. Perhitungan statistik yang digunakan untuk mengolah data yang ada adalah sebagai berikut:
1. Ketepatan Sasaran
Menurut dari penelitian terdahulu, dalam Jamhari, 2012, untuk mengetahui tingkat ketepatan sasaran maka dibuat tabulasi silang (cross tabulation) antara data kelompok rumah tangga bukan penerima Raskin dengan data rumah tangga penerima Raskin serta dihitung indeks ketepatan sasaran sebagai berikut:
= 100% − 1
0
+ 2
0
Dimana:
IKS = Indeks Ketepatan Sasaran R0 = jumlah rumah tangga miskin
R2 = jumlah rumah tangga tidak miskin yang menerima Raskin
Dengan ketentuan IKS kurang dari 100 (IKS ≤ 100), semakin besar IKS maka
distribusi Raskin semakin tepat sasaran. 2. Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu akan dibahas secara deskriptif dengan melihat frekuensi pembagian Raskin setiap tahunnya pada setiap daerah. Data yang diperoleh akan di sajikan secara tabulasi dengan penjelasan secara deskriptif yang merinci. Frekuensi yang akan diteliti tidak hanya perwakilan daerah tetapi hingga ke
IKJ = indeks ketepatan jumlah
Q0 = jumlah Raskin program sebesar 15kg/KK/bulan
Q1 = jumlah Raskin aktual yang diterima rumah tangga (kg/KK/bulan)
Dengan ketetapan IKJ terletak antara 0 dan 100 (0 ≤ IKJ ≤ 100), semakin besar
IKJ maka distribusi Raskin semakin tepat jumlah. 4. Ketepatan Harga
Indeks ketepatan harga
P1 = harga Raskin aktual yang dibayarkan oleh rumah tangga (Rp/kg)
Dengan ketentuan IKH kurang dari 100 (IKH ≤ 100), semakin besar IKH maka
distribusi Raskin semakin tepat harga. 5. Ketepatan Administrasi
Ketepatan administrasi yang berupa pengisian data-data oleh RTS akan dibhas secara deskriptif.
6. Ketepatan Kualitas
Ketepatan kualitas beras Raskin akan dibahas secara deskriptif.Pembahasan kualitas ini akan mengacu pada Inpres No. 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras Dan Penyaluran Beras Oleh Pemerintah.
jumlah dan harga apabila nilai indeksnya kurang dari 100. Semakin besar IKS, IKJ, dan IKH maka distribusi Raskin sema- kin tepat sasaran, jumlah dan harga.
Data yang diperoleh dari lapangan diolah secara matematis, disajikan secara tabulasi dan dijelaskan deskriptif yaitu dengan memaparkan hasil yang di dapat dilapangan dalam bentuk uraian secara sistematis. Seluruh pengolahan data akan dibantu oleh aplikasi komputer SPSS 21.00 (Statistical Package for Sosial Science).
Permasalahan ke tiga mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran atau pendistribusian Raskin digunakan regresi logistik dengan persamaan sebagai berikut:
X1 = jenis lantai tempat tinggal (0 = sederhana (tanah, bambu, kayu); 1 = mewah
(keramik))
X2 = jenis dinding tempat tinggal (0 = sederhana (rumbia, bambu, kayu); 1 =
mewah)
X3 = Fasilitas Jamban (0= tidak ada; 1 = ada)
X4 = Bahan bakar memasak (0 = non gas; 1 = gas)
X5 = konsumsi daging (kg/tahun)
X6 = kemampuan membeli pakaian baru (potong/tahun)
X7 = pendidikan (0 = tidak lulus SD; 1 = lulus SD)
α = konstanta
β1.. β7 = parameter dugaan (koofisien)
e = variabel pengganggu (eror)
Pengujian dilakukan untuk melihat apakah model logit yang dihasilkan secara keseluruhan dapat menjelaskan keputusan pilihan kualitatif. Setelah didapatkan model regresi logit, selanjutnya harus dilakukan uji koefisien determinasi (R2). Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya kemmpuan variabel bebas untuk menjelaskan variabel terikat. Rumus untuk uji R2 ini adalah sebagai berikut :
2 = �
�
Semakin tinggi nilai R2 menunjukkan bahwa semakin baik persamaan fungsi penduga yang dibuat. Menurut Gomez (1995), nilai koefisien pada determinasi (R2) adalah 0 sampai 1. Apabila angka koefisien determinan semakin mendekati 1 berarti pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah kuat, yang berarti variabel-variabel bebas memenerikan hampir keseluruhan informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel-variabel terikat. Atau dengan kata lain jika semua data pada garis regresi atau dengan kata lain semua nilai residual semakin mendekati nol maka garis regresi yang didapatkan adalah garis regresi yang sempurna.
Agar diperoleh hasil analisis regresi logit yang baik, maka perlu dilakukan pengujian. Menurut Nachrowi dan Usman (2005), Uji statistik yang dapat digunakan yaitu :
1. Uji seluruh model (Uji G)
H0 : β1= β2= ……. = βp = 0
Statistik uji yang digunakan adalah:
G = -2 ln ℎ Model B ℎ Model A
Model B : Model yang hanya terdiri dari kontanta saja Model A : Model yang terdiri dari seluruh variabel
G berdistribusi Khi Kuadrat dengan derajat bebas p atau G ~ � 2. H0 ditolakjika
G > χ2α,p ; α: tingkat signifikansi. Bila H0 ditolak, artinya model A signifikan
pada tingkat signifikan α.
2. Uji Wald: uji signifikansi tiap-tiap parameter H0 : βj= 0 untuk suatu j tertentu; j = 0,1,….,p.
H1 : βj≠0
Statistik uji yang digunakan adalah:
Wj = � �
2
; j = 0,1,….,P
Statistik ini berdistribusi Khi Kuadrat dengan derajat bebas 1 atau secara simbolis ditulis Wj ~ χ2. H0 ditolak jika Wj > χ2α,1 ; dengan α adalah tingkat
signifikansi yang dipilih. Bila H0 ditolak, artinya parameter tersebut signifikan
secara statistik pada tingkat signifikansi α.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Daerah
4.1.1. Letak Geografis dan Keadaan Alam Kabupaten Ogan Ilir
Kabupaten Ogan Ilir memiliki luas wilayah 2.666,07 km2, secara geografis terletak diantara 3002' sampai 3048' Lintang Selatan dan diantara 104020' sampai 104048' Bujur Timur. Kabupaten Ogan Ilir dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Ogn Komering Ulu Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten OKI dan OKU Timur Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kota
Prabumulih
Kabupaten Ogan Ilir dialiri oleh satu sungai besar yaitu sungai Ogan yang mengalir mulai dari Kecamatan Muara Kuang, Lubuk Keliat, Rantau Alai, Kandis, Sungai Pinang, Tanjung Raja, Rantau Panjang, Indralaya, Pemulutan Selatan, Pemulutan Barat dan Pemulutan yang bermuara di Sungai Musi Kertapati Kota Palembang. Sedangkan sungai kecil antara lain sungai Kelekar, sungai Rambang, sungai Kuang, sungai Randu, sungai Kandis, sungai Kumbang yang bermuara di Sungai Ogan, dan sungai Keramasan yang bermuara di Sungai Musi Palembang. Danau yang ada berupa Danau Lebung Karangan yang terletak di Desa Sejaro Sakti Kecamatan Indralaya, serta rawa sungai Kelekar yang dijadikan objek wisata alam di Tanjung Putus Kota Indralaya.
4.1.2. Penduduk dan Kebudayaan
Pada tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 422.712 jiwa, terdiri dari jenis kelamin perempuan yang mencapai 210.663 jiwa sedangkan jenis kelamin laki-laki mencapai 212.049 jiwa, dengan kepadatan penduduk mencapai 158 jiwa/km2, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 107.106 KK, pertumbuhan penduduk tahun 2010 adalah mencapai 1,42 persen.
Pada tahun 2011 jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 432.449 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga mencapai 108.475 kepala keluarga. Jumlah penduduk Laki-laki mencapai 215.444 jiwa dan perempuan mencapai 217.005 jiwa, dengan pertumbuhan penduduk adalah 2,30 persen.
pertumbuhan penduduk adalah 2,23 persen. Komposisi jumlah penduduk menurut kelompok umur pada tahun 2012, kelompok usia lanjut (65 tahun keatas) yang berjumlah 21.328 jiwa dan penduduk pada kelompok produktif (umur 25 tahun sampai 64 tahun) mencapai 219.252 jiwa, penduduk kelompok umur 15 tahun sampai 24 tahun mencapai 84.230 jiwa, sedangkan kelompok anak usia 14 tahun ke bawah mencapai 117.263 jiwa. Tabel perkembangan penduduk menurut kelompok umur dapat dilihat pada lampiran.
4.1.3. Pendidikan dan Kesehatan
Pada tahun 2011 di Kabupaten Ogan Ilir, memiliki 476 unit sekolah terdiri dari 301 unit SD/MI terdiri dari 276 unit SD/MI Negeri dan 25 unit SD/MI Swasta, 116 unit SMP/MTs terdiri dari 67 unit SMP/MTs Negeri dan 49 unit SMP/MTs Swasta, dan 59 unit SMA/SMK/MA terdiri dari 22 unit SMA/MA Negeri, 3 unit SMK Negeri dan 34 unit SMA/SMK/MA Swasta tersebar di 16 kecamatan.
Untuk tingkat Taman Kanak-kanak pada tahun 2011 dengan sekolah negeri berjumlah 9 sekolah dan 44 sekolah swasta mempunyai siswa mencapai 2.130 siswa terdiri dari 319 siswa TK/RA Negeri dan 1.811 siswa TK/RA Swasta. Sedangkan untuk tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) saat ini berjumlah 315 sekolah yang dikelola oleh Tim Penggerak PKK Desa dengan jumlah siswa sebanyak 8.671 orang dan tenaga pengajar sebanyak 700 orang.
Jadi, jumlah murid tahun 2011 sebanyak 86.184 siswa terdiri dari :
b) Jumlah siswa tingkat SMP/MTs sebanyak 21.085 orang yakni 14.694 siswa sekolah SMP/MTs Negeri dan 6.391 siswa sekolah SMP/MTs swasta.
c) Jumlah siswa untuk tingkat SMA/SMK/MA sebanyak 13.911 orang yakni 8.022 siswa sekolah SMA/SMK/MA Negeri dan 5.889 siswa SMA/SMK/MA swasta.
Jumlah guru pada tahun 2011 adalah 7.271 orang terdiri dari : 3.608 orang guru SD/MI Negeri dan swasta yakni : Guru SD/MI negeri sebanyak 3.286 orang dan guru SD/MI swasta sebanyak 322 orang, 2.218 orang Guru / Ustazd SMP/MTs yakni : guru SMP/MTs negeri sebanyak 1.298 orang PNS dan 920 orang guru SMP/MTs swasta, dan 1.445 orang Guru SMA/SMK/MA yakni : guru SMA/SMK/MA sebanyak 683 orang PNS dan 762 orang guru SMA/SMK/MA swasta.
Praktek Dokter, 13 Apotik/Toko Obat, dan 373 unit Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (POSYANDU). Pada tahun 2011, Kabupaten Ogan Ilir sudah memiliki 24 unit Puskesmas, 18 unit Puskesmas Pembantu, 191 unit Poskesdes, 1 unit rumah bersalin, 26 unit Tempat Praktek Dokter, 6 unitApotik, 5 Toko Obat, dan 359 unit Pos Pelayanan Kesehatan Terpadu (POSYANDU) aktif.
Pada tahun 2008 Sumber daya Tenaga Kesehatan di Kabupaten Ogan Ilir terdapat 29 orang Dokter Umum, 9 Dokter Gigi, 130 orang Perawat Umum, 23 Perawat Gigi, Bidan PNS 189 orang, Bidan PTT 134 orang, Bidan TKS 51 orang, Asisten Apoteker 17 orang, Apoteker 2 orang, Strata-2 Kesehatan 2 orang, dan 55 orang Sarjana Kesehatan Masyarakat. SDM Tenaga Kesehatan Tahun 2009 antara lain : 28 orang Dokter Umum, 9 orang Dokter Gigi, 186 orang Perawat Umum, 23 Perawat Gigi, Bidan PNS 216 orang, Bidan PTT 166 orang, Bidan TKS 18 orang, Asisten Apoteker 17 orang, Apoteker 3 orang, Strata-2 Kesehatan 6 orang, dan 64 orang Sarjana Kesehatan Masyarakat.
249 orang, Bidan PTT sebanyak 22orang, Asisten Apoteker sebanyak 31 orang, Apoteker sebanyak 8 orang, Strata-2 MagisterKesehatan sebanyak 9 orang, dan 124 orang Sarjana Kesehatan Masyarakat.
4.1.4. Sosial dan Ekonomi
Masyarakat Kabupaten Ogan Ilir terdiri dari beragam suku, baik penduduk suku asli Ogan Ilir dan suku pendatang yang kebanyakan berasal dari pulau Jawa dan Sunda serta daerah sekitar Kabupaten Ogan Ilir. Adapun suku asli Penduduk Kabupaten Ogan Ilir adalah:
1. Suku Ogan: meliputi penduduk di sepanjang sungai Ogan mulai dari Desa Munggu sampai ke Desa Embacang Kecamatan Muara Kuang dan Desa Lubuk Keliat. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Ogan
2. Suku Pegagan: meliputi penduduk di Kecamatan Tanjung Raja, Rantau Panjang, Sungai Pinang, Rantau Alai, Kandis, Pemulutan, Pemulutan Barat, Pemulutan Selatan, Indralaya dan Indralaya Selatan. Bahasa yang terkenal adalah bahasa Pegagan.
3. Suku Penesak atau disebut suku Meranjat: meliputi penduduk di Kecamatan Tanjung Batu dan Payaraman serta sebagian Kecamatan Lubuk Keliat dan Kecamatan Indralaya Selatan (desa-desa ex Kecamatan Tanjung Batu) berbahasa Melayu Palembang atau dikenal dengan bahasa Meranjat.
menengah besar dan konstruksi mencapai 38.467 orang atau 14 persen, dan terkecil adalah bergerak pada jasa, PNS, TNI, Polri yang hanya mencapai 13.738 orang atau sebanyak 5 persen dari jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan utama dan tetap sebanyak 274.763 jiwa.
Persentase penduduk Kabupaten Ogan Ilir menurut jenis pekerjaan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa Jenis Pekerjaan terbanyak adalah sebagai petani dan buruh tani yang mencapai 169.329 orang atau 60,65 persen, kemudian diikuti Pedagang dan Transportasi sebesar 54.107 orang atau 19,38 persen serta Bekerja di industri kecil menengah besar dan konstruksi mencapai 41.739 orang atau 14,95 persen, dan terkecil adalah bergerak pada jasa, PNS, TNI, Polri yang hanya mencapai14.015 orang atau sebanyak 5,02 persen dari jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan utama dan tetap sebanyak 279.191 jiwa.
Persentase penduduk Kabupaten Ogan Ilir menurut jenis pekerjaan tahun 2012 menunjukkan bahwa Jenis Pekerjaan terbanyak adalah sebagai petani dan buruh tani yang mencapai 173.292 orang atau 61,08 persen, kemudian diikuti Pedagang dan Transportasi sebesar 54.132 orang atau 19,08 persen serta Bekerja di industri kecil menengah besar dan konstruksi mencapai 42.727 orang atau 15,06 persen, dan terkecil adalah bergerak pada jasa, PNS, TNI, Polri yang hanya mencapai13.561 orang atau sebanyak 4,78 persen dari jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan utama dan tetap sebanyak 283.713 jiwa.
Tabel 5. Jenis Pekerjaan Masyarakat Kabupaten Ogan Ilir
No Jenis Pekerjaan 2010 2011 2012
Jiwa Persentase Jiwa Persentase Jiwa Persentase 1 Petani dan
2 Dagang dan
Kecamatan Pemulutan merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Ogan Ilir. Kecamatan Pemulutan terdiri atas 25 desa dengan luas wilayah mencapai 122,92 km2 atau seluas 12.292 ha. Desa terluas yang terdapat di Kecamatan Pemulutan ini adalah Desa Pelabuhan Dalam dengan luas sebesar 48 km2 dimana luasnya 39,05 % dari total luas Kecamatan Pemulutan. Kecamatan Pemulutan memiliki ketinggian tempat 3 meter diatas permukaan laut, dengan wilayah daratan mencapai 30 % dan wilayah perairan/rawa-rawa mencapai 70 %, dengan derajat keasaman tanah berkisar antara 4,8 – 6,0. Peta Kecamatan Pemulutan dapat dilihat pada lampiran.
Kecamatan Pemulutan memiliki batas – batas wilayah sebagai berikut: 1. Sebelah Utara : Kecamatan Kerta Pati dan Kecamatan Rambutan 2. Sebelah Selatan : Kecamatan Pemulutan Barat dan Pemulutan Selatan 3. Sebelah Barat : Kecamatan Indralaya Utara
4. Sebelah Timur : Kecamatan Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir
dasar jenis kelamin maka jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki yaitu 21.620 jiwa sedangkan jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan yaitu 21.419 jiwa.
Sebagian besar penduduk Kecamatan Pemulutan menganut agama islam, hal ini dikarenakan penduduk di Kecamatan Pemulutan merupakan penduduk asli daerah tersebut dan merupakan keturunan asli. Di Kecamatan Pemulutan memiliki suku asli yaitu Suku Pegagan. Suku Pegagan merupakan suku asli yang terdapat di Kabupaten Ogan Ilir selain Suku Ogan dan Suku Penesak. Suku Pegagan meliputi penduduk di Kecamatan Tanjung Raja, Rantau Alai, Pemulutan dan sebagian penduduk Kecamatan Indralaya. Bahasa yang terkenal adalah bahasa Pegagan.
Sarana umum yang digunakan sebagai fasilitas hidup penduduk Kecamatan Pemulutan seperti sarana penerangan, air, transportasi serta telekomunikasi secara keseluruhan cukup baik. Untuk trasportasi umum yang digunakan penduduk di sana adalah motor dan sepeda serta sebagian kecil menggunakan mobil. Motor di daerah tersebut selalu tersedia, selain karena setiap penduduk memiliki motor, motor juga dijadikan sebagai alat mata pencaharian atau ojek.
dapat disimpulkan bahwa tingkat sosial penduduk Kecamatan Pemulutan adalah menengah ke bawah.
4.2. Mekanisme Pelaksanaan Program Raskin
Pagu Raskin Provinsi tahun 2014 merupakan besaran jumlah Rumah Tangga Sasaran yang menerima Raskin pada tahun 2014 di seluruh Indonesia atau jumlah beras yang dialokasikan untuk RTS-PM Raskin di seluruh Indonesia pada tahun 2014, sesuai dengan Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial yang bersumber dari PPLS 2011 hasil pendataan BPS yang dikelola oleh TNP2K.
Berdasarkan buku Pedoman Umum Raskin 2014, mekanisme penyaluran Raskin dimulai dengan dibuatnya jumlah Raskin yang akan diterima oleh Rumah Tangga Sasaran (RTS) di seluruh Indonesia. Besaran Pagu Raskin Nasional tahun 2014 yaitu 2,79 juta ton beras selama 12 bulan untuk 15.530.897 RTS-PM atau sebanyak 15 kg/RTS/ bulan atau 180 kg/RTS/tahun. Penetapan pagu dilakukan berdasarkan hasil pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2011. Jumlah pagu yang diajukan kepada Kemenko Kesra kemudian disetujui dan di lakukan penetapan pagu untuk provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga tingkat desa.
Tabel 6. Pagu Raskin Runah Tangga Sasaran Kab. Ogan Ilir tahun 2014
Sumber: SK bupati Ogan Ilir tentang Pagu Raskin se Kabupaten Ogan Ilir
4.2.1. Penetapan Pagu Raskin
Indonesia (Kemenko Kesra) dengan surat nomor B-1128/KMK/DEP.II/V/2012 tanggal 22 Mei 2012.
Pagu Raskin 2014 ditentukan berdasarkan Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial, yang pemutakhirannya telah dilakukan berdasarkan updating
penerima Kartu Penerima Manfaat (KPS) yang tercatat pada sistem elektronik pada bulan November 2013. Sumber utama Basis Data Terpadu adalah Pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2011 (PPLS 2011) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan diserahterimakan kepada Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Semua rumah tangga yang masuk dalam Basis Data Terpadu diperingkat berdasarkan status kesejahteraannya dengan menggunakan metode indeks kesejahteraan yang obyektif dan spesifik untuk setiap kabupaten/kota. Besaran Pagu Raskin Nasional tahun 2014 yaitu 2,79 juta ton beras selama 12 bulan untuk 15.530.897 RTS-PM atau sebanyak 15 kg/RTS/ bulan atau 180 kg/RTS/tahun.
Pagu Raskin Provinsi tahun 2014 merupakan besaran jumlah Rumah Tangga Sasaran yang menerima Raskin pada tahun 2014 di setiap provinsi atau jumlah beras yang dialokasikan untuk RTS-PM Raskin di setiap provinsi pada tahun 2014, sesuai dengan Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial yang bersumber dari PPLS 2011 hasil pendataan BPS yang dikelola oleh TNP2K. Penetapan pagu RASKIN provinsi disetujui oleh kemenkokesra.
pada tahun 2014 sesuai dengan Basis Data Terpadu untuk Program Perlindungan Sosial yang bersumber dari PPLS 2011 hasil pendataan BPS yang dikelola oleh TNP2K. Pagu Raskin untuk setiap kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur. Pemerintah kabupaten/kota dapat membuat kebijakan untuk menambah pagu Raskin bagi rumah tangga yang dianggap miskin dan tidak termasuk dalam data RTS-PM untuk Program Raskin 2014 dari Basis Data Terpadu yang dikelola oleh TNP2K. Kebijakan ini didanai oleh APBD sesuai dengan kemampuan yang disetujui oleh gubernur.