• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah Depernas-01 Bab-08

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Rencana Pembangunan dan Rencana Kerja Pemerintah Depernas-01 Bab-08"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 8.

PERINDUSTRIAN.

Dalam Rentjana Perindustrian hanja diuraikan setjara konkrit projek-projek fang akan diselenggarakan oleh negara, sedang untuk sektor-sektor partikelir diberi petundjuk-petundjuk, per-aturan-peraturan dan rekomendasi-rekomendasi sehingga tudjuantudjuan tertentu dapat ditjapai. Dalam rangka ini keinginan untuk mengubah disesuaikan dengan kenaikan dalam sumber-sumber keuangan dan devisen.

Pembitjaraan disini dibagi dalam tiga bagian, jakni:

I. Prioritet.

II Masalah-masalah kebidjaksanaan III.Projek-projek

I. PRIORITET

Kesukaran-kesukaran utama jang dihadapi dalam perkembangan industrialisasi. ialah : kekurangan

devisen dan kekurangan

keah-lian serta jaktor-faktor chusus, misalnja tenaga pendorong dalam perusahaan-perusahaan, ataupun kekurangan modal rupiah. Berhtibung dengan itu' tidak dapat didirikan dengan sekaligus perusahaan-perusahaan jang dianggap penting. Maka prioritet-prioritet harus ditetapkan sehingga tertjapai keseimbangan jang dikehendaki. Pada tingkat terachir pilihan prioritet mengandung unsur politik tertentu, akan tetapi sering kali merupakan hasil dari pertimbangan-pertimbangan tehnis dan ekonomis. Prioritetprioritet ini bukan hanja berlaku untuk projek-projek baru, akan tetapi merupakan pula ukuran jang pentiny dalam perluasan dan pemeliharaan kapasitet jang sudah ada.

(2)

invzstasi-investasi pembantu dan fasilitet-fasilitet jang bersangkutan dengan suatu prioritet utama dapat diberikan prioritet serentak.

(3)

Kebidjaksanaan umum, termasuk Perindustrian jang dapat

dipandang sebagai inti perentjanaan dapat diringkaskan sebagai berikut :

Prioritet-prioritet pokok :

1. Penghasilan konsumsi primer haruslah tjukup, dengan ini dapat dihemat devisen.

2. Pada semua pekerdjaan harus

dipertimbangkan apakah usaha itu sungguh memperkuat sektor devisen, dalam arti menghasil-kan dan/atau menghemat devisen. 3. Memadjukan penanaman modal jang paling

ekonomis dan effisien, dalam produksi barang jang paling kurang dan jang harus diimpor. Sjarat-sjarat selandjutnja:

1. Barang-baring untuk konsumsi umum didahulukan sebelum barang-barang lain.

Produksi barang-barang mewah tidak perlu diandjurkan oleh karena, hanja dapat dibeli oleh segolongan ketjil sadja dari

rakjat.

2. Perusahaan-perusahaan jang telakada harus dipertahankan; dalam hubungan ini hendaknja perluasan kapasitet produksi ditjegah, djika bahan-bahan tmtuk perusahaan-perusahaan lama sadja sudah tidak mentjukupi.

Perusahaan-perusahaan ketjil sebaiknja dilindungi dan dibantu dalam batas-batas tertentu; jakni dengan memperhatikan. perhitungan ekonomis.

3. Pergunakanlah sebaik-baiknja bahan-bahan mentah dan ke-ahlian dalam negeri. Dalam rangka ini perlu diperhatikan organisasi dart pads, distribusi bahan-bahan tersebut.

4. Azas nasional harus dipupuk dan untuk ini harus diperluas kesempatan dan fasilitet-fasilitet untuk memperoleh keahlian dalam pimpinan dan pekerdjaan-pekerdjaan jang membutuh-kan keahlian.

5. Trajek-traiek pengangkutan jang sudah ada harus dieksploitir sebaik-baiknja,. oleh. karena djalan-djalan baru memerlukan pengeluaran-pengeluaran jang besar. Effisiensi dan penghe-rnatan harus diperhatikan.

6. Harga murah dari hasil-hasil harus didjamin. Selain dari ini mutunja harus tjukup tinggi.

(4)

hasil-hasil jang mahal serta bermutu rendahrmenambah kemiskinan rakjat.

(5)

7. Investasi-inventasi jang dengan lekas dapat menghasilkan dintana mungkin harus didahulukan, chususnja djika investasi itu menghasilkan devisen.

Meskipun demikian investasi-investasi djangka pandjang jang memberikan keuntungan lebih besar dapat dianggap baik pula.

8. Program-program investasi jang mengandung kemungkinan besar sekali akan penjelesaian dan synchronisasi harus didahulukan. Dalam hal ini perlu diadakan koordinasi antara projek-projek jang langsung saling berhubungan.

9. Aspek penempatan tenaga djanganlah diabaikan, sungguhpun diberikan prioritet kepada projek-projek jang memerlukan tenaga pekerdja jang intensip, dapat pula diadakan mekanisasi, dalam batas-batas tertentu.

10. Apabilafaktor-faktor produksi tidak begitu kekurangan maka kemungkinan-kemungkinan jang diluar prioritet harus diperkenankan. Dalam rangka ini termasuk permindahan pengeluaran-pengeluaran Pemerintah dari

lapangan jang tidak

produk-tip kelapangan jang produkproduk-tip.

Perlu diterangkan bahwa pemberantasan pemborosan haruslah dipergiat. Pemberantasan ini harus diadakan disemua. tingkat clan disemua sektor. Hams diperhatikan pula sjarat-sjarat pokok, misalnja kedjudjuran, effisiensi, keamanan kerdja dan ketertiban.

Semua program-program digolongkan dalam beberapa usa-ha, jang meliputi clients pekerdjaan tertentu. Skala prioritet hares dipandang lepas dari usaha-usaha ini. Usaha-usaha ini ialah sebagai berikut:

1) Usaha konsolidasi; dengan demikian kekajaan nasional jang ada dapat dipertahankan serta

kemunduran dan

proses penghamburan modal dapat dihentikan. Dalam rangka ini termasukpenggunaan kapasitet produksi jang sudah ada, tjara-tjara pembungkusan, pemilihan dan penjimpanan jang baik dari hasil-hasil produksi, peng-olahan bahan-bahan, dan lain-lain.

(6)

dipertimbangkan djuga rehabilitasi tambang-tambang jang sebelum perang telah dieksploitir. Usaha ini ada

hubung-an denghubung-an kebidjakshubung-anahubung-an. mengenai bahhubung-an pembakar,

jakni mempergunakan sedapat mungkin bahan-bahan

(7)

pembakar jang kurang laku seperti bate bara, kaju, arang; dengan demikian dapat diekspor lebih banjak minjak tanah.

3) Llsaha persiapan; untuk melaksanakan projek-projek barn hares diadakan persiapan sehingga apa jang dibutuhkan tersedia pada waktu jang tepat. Dalam rangka ini jang paling panting ialah pendidikan keahlian. 4) Usaha kemadjuan; ini merupakan tudjuan

terachir darl usaha-usaha lainnja. Untuk ini bimbingan Pemerintah sangat diperlukan. II. MASALAH2 KEBIDJAKSANAAN.

Kini sudah ada beberapa puluh perusahaan-perusahaan industri milik Negara dan setengah --pemerintah, jang ada dibawah pengawasan berbagai badan, Meskipun djumlah perusahaan dan angka-angka produksi dilapangan industri masih belum Iengkap, djelas sekali bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan

itu masih ditangan partikelir.

Untuk mentjapai hasil-hasil tertentu dalam waktu

jang

sesing-kat-singkatnja hams diadakan peraturan-peraturan petundjukpetundjuk dan bimbingan jang tegas dari Pemerintah untuk sektor partikelir.

Jang ditugaskan untuk memadjukan industri dengan tjara pemberian nasehat tehnis, sehingga mekanisasi dapat dimadjukan dan mutu tehnologi dapat dinaikkan, ialah Balai-Balai jang ditempatkan dibawah Kementerian Perekonomian sebagai berikut ;

Balai Penjelidikan Industri di Djakarta. Balai Penjelidikan Kimia di Bogor.

Balai Penjelidikan Kimia di Surabaja.

Balai Penjelidikan Kimia di Makasar..

Balai Penjelidikan Tekstil di Bandung.

Balai Penjelidikan Keramik di Bandung.

Balai Penjelidikan Bahan Perindustrian di Bandung.

(8)

Pekerdjaan Balai-balai ini meliputi pemeriksaan bahan-bahan, perentjanaan, penjelidikan, penjuluhan dan pendidikan technik. Sementara ini ahli-ahli bangsa asing, kebanjakan diperoleh melalui P.B.B. diperbantukan di Balai-balai oleh karena tenaga-tenaga ahli bangsa kita sendiri masih belum mentjukupi. Hendaknja hasil-basil dart penjelidikan-penjelidikan disiarkan, serta latihan-latihan dipergiat.

(9)
(10)

Mengingat banjaknja Jajasan-Jajasan serta dana uang jang dikuasainja sangat besar, sebaiknja diadakan suatu penjelidikan setjepat mungkin mengenai pekerdjaan serta bentuk Jajasan jang merupakan perusahaan, begitu pula ditetapkan

ketentuan jang

djelas mengenai lapangan-lapangan kegiatannja. Suatu uihsur jang panting dalam pembangunan perindustrian ketjil ialah terbentuknja induk-induk perusahaan. Induk-induk ini antara lain bertudjuan merasionalisir dan memekanisir tehnik produksi, memperbaiki mutu dan keadaan basil produksi, melatih dan mendidik, menginsjafkan akan arti

organisasi dan kerdjasama.

Untuk melantjarkan pelaksanaan program induk hendaknja Lembaga Penjelenggaraan

Perusahaan-Perusahaan Industri atau

suatu badan jang otonom diberi tugas chusus untuk mengatur induk-induk baik jang berbentuk Jajasan atau tidak. Dalam hal ini birokrasi harus dikurangi. Tudjuan terachir ialah mendjadikan induk-induk itu lebih babas dan lebih pertjaja pada diri sendiri.

Disamping induk-induk ini Pemerintah telah dan akan men-dirikan beberapa perusahaan pelopor (pilot plants) sebagai tjontoh dari pembikinan barang baru.

Ternjata bahwa beberapa puluh perusahaan jang berasal dari Pemerintah dan diselenggarakan oleh para bekas pedjuang meski-pun sedikit memberikan sumbangan kepada produksi nasional, ditindjau setjara politis ada pula artinja. Dengan

mengingat

hasil-hasil jang berbeda-beda dari. perusahaan-perusahaan jang telah ada, sebaiknja diadakan suatu masa konsolidasi sebelum perusaha-aniperusahaan demikian itu diperbanjak.

Hingga sekarang telah diadakan pembatasan dalam beberapa lapangan perindustrian berdasar

atas undang-undang pembatasan

(11)

padi dan perusahaan muatan kapal taut. Disamping ini masih berlaku Undang-undang Gangguan dan beberapa peraturan setempat.

Pada djenis-djenis industri lainnja pada azasnja orang merdeka untuk mendirikan, memperluas dan memindahkan perusahaannja. Untuk mengarahkan perkembangan selandjutnja kedjurusan jang dianggap sehat,. sebaiknja diadakan, suatu sistim pendaftaran dan dimana perlu perizinan dari semua djenis perusahaan-perusahaan industri.

Meskipun pada azasnja tidak boleh diadakan perbedaan diantara warba negara Indonesia , dikehendaki supaja lambat laun ditjapai keseimbangan jang sehat dalam struktur ekonomi. Keseimbangan

(12)

ini diartikan sebagai suatu keadaan dimana tidak ada suatu golonganpun jang menguasai suatu lapangan tertentu dan pula dimana penjebaran regional mentjerminkan keinginan serta hasrat daerah. Dalam hubungan ini tampak pula kebutuhan desentralisasi. jang

tegas dari badan-badan jang bersangkutan.

Selandjutnja beberapa fasilitet-fasilitet. dapat diberikan berupa keringanan-keringanan terhadap badan-badan atas perusahaanperusahaan baru, disamping perlindungan jang lajak terhadap saingan asing.

Dalam hal ini tentu sadja kepentingan masjarakat

luas tidak tjukup besar untuk menjediakan kredit untuk usaha pembangunan disektor partikelir.

Dalam rangka pendaftaranjperizinan ini termasuk pula Rentjana Undang-undar.g Penanantan Modal

Asing, jang

menjedia-kan lapangan-lapangan usaha tertentu kepada Negara, partikelir Indonesia dan partikelir asing.

Penjelesaian pendaftaran/perizinan perusahaan-perusahaan in-dustri hendaknja dikerdjakan dalam waktu jang singkat.

Perlu kiranja ada tjampur tangan Pemerintah dalam batas-batas tententu dalam penetapan harga

untuk menghindarkan

kegontjang-an harga jkegontjang-ang tidak diinginkkegontjang-an serta untuk membatasI keuntungan pedagang. Namun demikian tjampur tangan ini hendaknja sede-mikian rupa, sehingga tidak merupakan penghambatan untuk per-kembangan jang sehat dan tjukup memberi keuntungan bagi pengusaha-pengusaha.

Untuk industrialisasi Bank Industrl Negara mempunjal peranan jang panting, walaupun usahanja tidak hanja dalam lapangan in-dustri sadja melainkan djuga dalam lapangan perkebunan dan pertambangan.

Disamping memberi pindjaman B.I.N. djuga mengadakan partisipasi dalam bermatjam-matjam

perusahaan. Mengingat

(13)

bagian jang terpisah:

1) bagian jang memberikan kredit.

2) bagian jang mengawasi dan/atau mengurus perusahaan-perusahaan industri, dalam mana Pemerintah ikut serta, djuga jangsekarang ada diluar lingkungan B.I.N.

(14)

Hendaknja BIN. membatasi lapangannja hanja pada projek-projek besar jang bersifat nasional, sedang projek-projek lain diserahkan kepada kegiatan-kegiatan dan tanggung djawab daerah dengan bantuan dari pusat.

Tentu dalam hal ini perlu diadakan terlebih dahulu persiapan

jang tjukup untuk menampung pekerdjaan ini, misalnja pendidik-an tenaga ahli.

Diusulkan pula adanja Bank Pembangunan Daerah dengan kedudukan otonom disesuatu daerah otonom

jang memberikan

kredit kepada industri jang mendapat

pembelandjaan dari

ang-garan belandja Pemerintah Pusat, angang-garan belandja Pemerintah Propinsi atau sumber-sumber lain. Pun djuga perlu adanja pengawasan oleh Pemerintah Propinsi terhadap industri-industri kepunjaan Propinsi.

Mengingat banjaknja perusahaan-perusahaan negara dan setengah-negara jang terdapat dibermatjam-matjam lapangan maka perlu dibentuk Dewan-dewan atau Badan-badan jang chusus di-tugaskan mengawasi dan mengurus

perusahaan-perusahaan

ter-sebut jang sedjenis. Dengan pemusatan pegawai staf itu dapat tertjapai penghematan dan kenaikan mutu dari staf serta effisiensi dapat dipertinggi.

Untuk keperluan kredit bagi industri terdapat bermatjam-matjam sumber dari Pemerintah ja'ni : Bank Industri Negara, Bank Rakjat Indonesia, Djawatan Perindustrian, Lembaga Djaminan Kredit, Djawatan Transmigrasi, Biro Rekonstruksi Nasional, Kementerian Perburuhan, Dana Perindustrian Ketjil, Bank Tabungan Pos. Mengingat banjaknja sumber-sumber ini perlu diadakan koordinasi jang erat dan pembagian kerdja jang tegas antara badan-badan kredit tersebut.

Sedapat mungkin harus diichtiarkan penjederhanaan dan menghilangkan doublures jang dikerdjakan oleh berbagai instansi. Hendaknja segala perkreditan disalurkan melalui bank-bank.

(15)

Untuk mempererat hubungan dengan pengusaha-pengusaha partikelir, pemerintah dengan melalui djawatan-djawatannja selalu memberikan penerangan jang tjukup kepada kalangan industri tentang rentjana dan kebidjaksanaan lainnja.

(16)

Industri partikelir, pemerintah daerah dan lain-lain badan pemerintah dan setengah-pemerintah dinasehatkan supaja mengetahui prioritet-prioritet industri dengan maksud untuk mendjamin, bahwa kegiatannja tidak hanja menguntungkan mereka sendiri, tetapi djuga sedjadjar dengan kepentingan negara.

Pembatasan dan kesederhanaan dalam konsumsi umum serta kesederhanaan dalam gedung-gedung, perlengkapan dan bahan-bahan dapat membantu pembangunan industri, Dengan demikian djenis-djenis barang jang harus dibikin dan djumlah bahan-bahan jang dipakai dapat dikurangi.

Segala sesuatu Lang merupakan pemborosan

harus kita

hindar-kan atau kuranghindar-kan, Pemborosan Ini berupa sumber-sumber faktor produksi, barang-barang konsumsi, maupun barang-barang ekspor. Dalam banjak hal penghematan dapat ditjapai dalam sektor devisen,

Dalam usaha membangun industri-industri baru, pemerintah

baik pusat maupun daerah, hares merupakan perintis dan pelopor. Bagian pekerdjaan jang terbesar hendaknja dilakukan oleh pemerintah, pada chususnja dalam lapangan, dimana fihak partikelir terlalu lemah atau terlalu segan untuk memulai, akan tetapi hen-daknja mengundurkan diri dari industri, djika tingkat perintis

telah selesai.

Dengan pendjualan perusahaan-perusahaan negara kepada pihak partikelir maka tersedialah untuk pembangunan selandjutnja suatu dana berputar (revolving fund), dalam bentuk rupiah djika didjual pada partikelir.

(17)

Dengan demmikian kita menudju kepembangunan

jang

seim-bang. Dalam taraf permulaan sekarang, rentjana Pembangunan Lima Tahun pertama ini pada iumumnja masih merupakan suatu pembangunan jang bersifat nasional, sehingga perlu berangsur-angsur kita memindahkan titik berat kepembangunan daerah

(18)

(regional planning), untuk lebih memberikan isi pada desentralisasi dan otonomi daerah dengan memberikan inisiatip, tanggung djawab dan pengawasan atas beberapa projek, jang sudah dalam pikiran kita, dalam batas-batas kekuatan daerah dan jang ekonomis dapat dipertanggung djawabkan. Perlu diingat disini, bahwa kebidjaksanaan daerah dalam pembangunannja haruslah sedjalan (parallel) dengan kebidjaksanaan pemerintah pusat, dan untuk ini perlu adanja koordinasi jang baik.

Dalam rentjana ini disediakan untuk lapangan industri dari pembiajaan Pemerintah biaja sebesar ± Rp. 250. djuta selama 5 tahun untuk pemerintahan daerah. Selandjutnja dikandung mak-sud supaja pelaksanaan beberapa projek pemerintah dalam rentjana ini diserahkan kepada pemerintah daerah.

Bimbingan dari pemerintah sangat diperlukan oleh industri partikelir. Hubungan antara kedua pihak ini

hendaknja dipererat

dan diatur.

Pemberantasan terhadap semua kesukaran-kesukaran jang tim-bul karena birokrasi jang merupakan penghambat perkembangan industri harus diadakan.

Dikehendaki supaja program bantuan industri lebih

dikonsoli-dasikan lebih effisien dan praktis. Bantuan ini meliputi lapanganlapangan jang disebutkan dibawah ini :

a. Pendidikan tehnik.

b. Penjuluhan dalam tehnik produksi serta keadaan pasar. c. Standardinasi dan mekanisasi dimana perlu. Untuk ini

industri-industri ketjil hendaknja menggabungkan diri dalam sematjam

induk perusahaan. d. Pameran-pameran.

e. Koperasi-koperasi produksi dan produsen.

f. Gabungan-gabungan perusahaa, melalui gabungan-gabungan ini penjuluhan, bantuan, dan lain-lain dapat disalurkan dengan lebih baik. g. Fasilitet-fasilitet dilapangan bea, padjak dan

kredit.

(19)

bea masuk dan padjak perusahaan dalam hal-hal tertentu.

h. Devisen untuk barang-barang modal dan bahan-bahan. i. Perlindungan kepada industri dalam negeri.

Gabungan-gabungan perusahaan-perusahaan

industri seharusnja

menga-wasi hal kwalitet hasil-hasil sendiri. Djika mereka tidak berhasil dapat diambil tindakan-tindakan tertentu.

(20)

Dengan adanja perusahaan-perusahaan nega.ra bukanlah berarti bahwa perusahaan-perusahaan partikelir atau perusahaan-peru-sahaan daerah akan dihalang-halangi pertumbuhannja. Sebaliknja perusahaan-perusahaan sematjam inilah jang

dikehendaki. Djika Industri-industri partikelir jang dapat menolong negara dalam pemetjahan soal-soal devisen pada umumnja akan disambut dengan gembira.

Dengan memperbandingkan angka-angka produksi dan angkaangka impor dapatlah lebih kurang pengusaha telah disusun suatu daftar dari lapangan-lapangan Industri jang masih memberikan kesempatan kerdja dari negara kita. Diantara indus-tri-industri ini ada jang sangat diandjurkan oleh Pemerintah berhubung dengan pentingnja industri-industri itu.

III. PROJEK-PROJEK. Bagian ini terdiri atas :

A. Sumber-sumber keuangan dan pembagiannja, B. Projek-projek Istimewa dan

keterangan-keterangan singkat mengenai projek-projek ini, C. Projek-projek Pusat dan keterangan-keterangan

singkat mengenai projek-projek ini.

D. Projek-projek jang diandjurkan kepada daerah dan pengusaha partikelir.

A. Sumber-sumber keuangan untuk pembiajaan Rentjana Pembangunan Lima Tahun, berdjumlah

seluruhnja Rp. 12,5

mil-jard. Dari djumlah ini sektor industri dan pertambangan mendapat bagian sebanjak Rp. 3.125 djuta atau 25%. Alokasi untuk sektor industri sadja adalah sebesar Rp. 2.279,5 djuta atau 73% dari seluruh alokasi untuk sektor industri dan

pertambangan,

sedang-kan Rp. 757 djuta disediasedang-kan untuk sektor

(21)

Rp. 88,5 djuta untuk tjadangan kedua sektor tersebut. Perintjian pembagian dalam sektor industri adalah sebagai berikut,:

1. Untuk industri-industri di lingkungan pro-jek-projek Istimewa Rp. 1.078 djuta

(22)
(23)

2. Untuk projek-projek pusat ,, 776,5 ,,

1. Projek-projek daerah (melalui Bank-bank

Pembangunan Daerah

425 ,,

Rp. 2.279,5 Selandjutnja perlu diterangkan disini bahwa kebutuhan akan devisen untuk seluruh sektor industri merupakan Rp. 1.287,5 djuta atau ± 56% dart Rp. 2.279,5 djuta, dan perintjiannja adalah sebagai berikut:

1. Projek-projek Istimewa Rp. 735,6 djuta 2. Projek-projek Pusat ,, 351,9 ,, 3. Projek-projek Daerah ,, 200,- „

Rp. 1.287,5 djuta ± 56%

B. Projek Istimewa sangat panting bagi Negara seluruhnja: Direntjanakan 4 buah projek-projek Istimewa:

1. Kompleks Asahan di Sumatra (termasuk paberik aluminium di Belawan).

2. Gabungan projek besi dan badja. 3. Industri Kimia dan pupuk.

4. Industri rayon.

Urutan tersebut tidak menundjukkan prioritet. Pelaksanaannja hendaknja didjalankan bersamaan oleh beberapa badan jang tjuku.p mempunjai otonomi.

Dalam hal ini perlu sekali adanja koordinasi.

Biaja seluruhnja dari Projek Istimewa dalam

1. Komleks Asahan meliputi:

a. Pembangkit tenaga listrik serta transmisinja. b. Paberik aluminium (termasuk alumina)

c. Paberik pupuk superfosfat d. Paberik semen

(24)

f. pulp dan kertas (sementara pro-memori): Dalam rentjana lima tahun diharapkan dapat -dipasang 100.000k.w. tenaga listrik.

2. Gabungan projek best dan badja pada .masa ini

dipandang. sebagai 'promemori dan

penjelenggaraannja. baru dapat dimulai dalam Rentjana Lima Tahun jang..kedua.Sekarangbaru

disedia-kan Rp. 25 djuta, semata-mata untuk pekerdjaan persiapan dan penjelidikan permulaan.

(25)

3. Projek industri kimia dan pupuk akan ditempatkan dibawah Badan Industri Kimia dan pupuk dan meliputi paberik-paberik sebagai berikut; kostik soda, asam tjoka, asam belerang (3 buah), amonia, pupuk urea dan superfosfat. Alokasi untuk industri-industri tersebut dalam 5 tahun ini berdjumlah Rp. 653 djuta. Dalam hal ini timbul persoalan mengenai pemakaian bahan bakarnja. Apakah

akan dipergunakan gas alam, minjak atau batu bara. Perlu kiranja diadakan penjelidikan jang seksama dalam segala segi-seginja untuk menetapkan pemakaian bahan bakar apakah jang akan paling ekonomis. Tidak pula dilupakan kemungkinan untuk menggabungkan projek pupuk urea dengan projek rayon.

4. Untuk industri rayon telah diadakan

pemeriksaan

pendahu-luan tentang penjelidikan hutan dan penjelidikan kimiawi dari bahan-bahan kaju.

Selandjutnja akan diambil langkah-langkah untuk penjelidikan pengangkutan dan bahan bakar. Berdasarkan beberapa faktor dipertimbangkan penempatan projek rayon di Palembang.

Projek ini jang terletak didekat daerah hutan Semangus (Su-matra-Selatan) akan memakan biaja Rp. 700 djuta.

Dalam Rentjana Lima Tahun jang pertama baru disediakan Rp. 200 djuta.

C. Projek-projek Pusat. Dengan ini dimaksudkan

projek-pro-jek, jang tidak termasuk projek-projek Istimewa atau projek propinsi, dan tanggung-djawab, penjelenggaraan dan kelantjaran pelaksanaan diserahkan kepada suatu badan Pemerintah jang tjotjok pada waktu, ditempat dan dengan harga jang tepat?

(2) Apakah ada synchronisasi antara pasaran-pasaran dan me-nurut djenis jang tetap.

Perlu diterangkan bahwa tidak semua projek pusat merupakan perusahaan baru.

Semua projek-projek, baik jang masih dalam taraf permulaan maupun jang sudah selesai, seharusnja

(26)

pusat. Dalam hal ini Biro Perantjang Negara dapat bertindak

sebagai „Pendaftar”.

Dari alokasi kepada sektor pertambangan sebesar Rp. 757 djuta, sebagian besar dipergunakan untuk perluasan Tambang Timah Bangka (Rp. 300 djuta) dan untuk perluasan dan rekonstruksi Tambang Batu Bara Buick Asam (Rp. 407 djuta).

(27)

Djelasnja dibawah ini menjusul daftar dari projek-projek industri jang termasuk dalam lingkungan projek-projek istimewa, serta pro-jek-projek pusat.

Projek-projek Tempat Kapasitetsetahun

Biaja 1. Aluminium (termasuk

Alumina Belawan 18.000 ton 276 200 160

2. Superfosfat. Belawan .….. 376 100 70

3. Ammonia

Urea Palembang (100 sampai(……)

125.000 ton)

500 500 350

4. Rayon Palembang 10.000 ton 700 200 120

5. Tjuka Palembang 2.000

ton 21,4 21,4 11,4

6 Kostik Soda (untuk

penjelesaian Waru 3.600 ton 75 21 10

7. Asam-belerang

(3 Paberik) SemarangSurabja

Tandjung

8. Pemintalan benang

(28)

ka-10. Semen (untuk

penjelesaian) Gresik 250.000 tondinaikkan

sampai 375.000 ton

385 255 97

(29)

11. Semen Medan 375.000 ton 400 150 120

13. Kertas (dari kaju) Sumatra

(Toba) 12.000 ton 125 45 20

14. Kertas (dari kaju) Notong 12.000 ton 95 95 68,4

15. Botol Surabaja 15.000 ton 65 65 12

16 Pengawetan ikan

dalam kaleng Aertembaga

(Minahasa)

kaju,,Sampit Dajak” (perluasan)

Kalimantan 54.000 m3 37,5 37,5 18

18. Persiapan projek

(30)

--(Tjatatan: apabila biaja jang diperlukan untuk projek bare lebih besar dari pada alokasi berarti bahwa selesainja projek itu sesudah tahun 1960).

Selain projek-projek diatas masih ada beberapa

projek jang

dapat diselenggarakan djika tersedia lebih banjak uang.

Sisa dari alokasi Rp. 2.279,5 djuta untuk industri, sedjumlah Rp. 425 djuta disediakan untuk pembiajaan projek-projek daerah dengan melalui Bank-bank Pembangunan Daerah.

D. Projek Daerah dan Partikelir

Dalam batas-batas pembiajaan-pembiajaan jang

dapat

disedia-kan untuk daerah dan lapangan partikelir dan mengingat pokokpokok kebidjaksanaan jang diuraikan diatas, dibawah ini dimuat daftar dari berbagai golongan perusahaan-perusahaan dilapangan Industri dan Pertambangan sebagai andjuran.

Keterangan-keterangan tentang tempat,

penjebaran,

angka-angka produksi jang telah ada dan angka-angka produksi tudjuan masih terus menerus dikerdjakan dan kemudian akan dihubungkan dengan planning daerah.

Sementara ini diberbagai lapangan kebutuhan masih sedemikian besarnja dibandingkan dengan produksi jang telah ada, sehingga belum perlu dichawatirkan akan terdjadinja kelebihan-kelebihan produksi, pula djika mengingat bertambahnja penduduk dan selama ini berlakunja pembatasan-pembatasan impor terhadap berbagai basil industri atau bahan-bahan untuk industri. Pem-batasan jang tetap akan berlaku jalah persediaan devisen untuk melajani kebutuhan-kebutuhan industri, alat-alat modal maupun bahan, hal mana menjebabkan andjuran terutama ditudjukan kepada pemakaian bahan-bahan jangn tersedia didalam negeri.

Daftar dari Industri-industri jang masih mempunjai kesempatan kerdja di Indonesia.

Tanda (xx) adalah industri jang dapat dipandang sebagai industri-industri jang sangat diandjurkan.

(31)

berhubung dengan rentjana sektor Pemerintah. Lainnja, ialah merupakan lapangan industri, dimana masih ada kesempatan kerdja, dengan djaminan pasaran dalam negeri,

Susunan dari daftar industri ini telah disesuaikan dengan klasi-fikasi industri internasional jang resmi. Djadi umpamanja, industri galas dan korek api keduanja akan didjumpai dalam golongan industri kimia.

(32)

Industri-industri Bahan Makanan, Minuman dan Tembakau Bahan Makanan.

xx. Pembungkusan bahan makanan untuk etjeran. xx. Paberik pengupasan, penggorengan,

penggilingan dan pembungkusan kopi.

xx. Paberik untuk memilih, mentjampur dan membungkus teh.

xx. Pengeringan dan pengasinan ikan. xx. Pengolahan kedele.

xx. Minjak (tumbuh-tumbuhan).

xx. Pembantaian, pengawetan daging dalam kaleng, ekstrak daging, pembuatan pupuk dari tulang.

xx. Pemerahan susu.

xx. Paberik kakao dan tjoklat.

xx. Pengawetan buah-buahan dan sajur-sajuran. xx. Pengawetan susu dalam kaleng dan botol. xx. Pembuatan dan pemurnian gula, dan

xx. Minuman-minuman dari susu. Anggur buah-buahan.

Sirop.

Industri-industri Tembakau.

xx. Mengolah, mentjampur dan meradjang tembakau.

xx. Sigaret, (dengan mesin dan dengan tangan).

(33)
(34)

Industri Tekstil.

xx. Pemintalan benang dari kapas, xx. Pertenunan kain dari kapas, xx. Penjelesaian kain-kain. xx. Penglantangan.

xx. Pemintalan dan pertenunan rayon. xx. Pemintalan dan pertenunan tjampuran

rayon dan kapas, Pemintalan dan pertenunan rami,

Pentjelupan.

Serat-serat kertas,

xx. Pembuatan tali temali dari sisal. rosella atau tjampurantjampuran rosella dan guni, rami, sabut kelapa, dan serat-serat lain dalam negeri.

Karung, karung kain, dan pembuatan tas.

Industri-industri Peradjutan Pakaian dan Konpeksi.

xx. Konpeksi (prija, wanita, anak-anak). xx. Peradjutan. xx. Djaring : Untuk

menangkap ikan. Kelambu,

Industri Kaju dan Kaju Gabus, terketjuali Mebel.

xx. Penggergadjian kaju.

xx. Pembersihan dan pengolahan rotan. xx. Kaju pelapis (triplex dan sebagainja) dan fineer.

xx. Kotak-kotak dari kaju. xx. Arang kaju bermutu tinggi.

xx. Pengolahan pendahuluan kaju-kaju untuk bangunanbangunan.

xx. Sabut kelapa.

Industri-industri Mebel dan Alat-alat Rumah Tangga jang tidak dipindah-pindah.

xx. Pembuatan Mebel, termasuk

keperluan-keperluan

(35)

dari kaju

dari kaju dan logam Pengolahan kapok,

(36)

Kertas dan karton.

xx. Pulp data kertas dari kaju, djerami, bambu dan ampas.

xx. Kertas pembungkus (Kraft).

xx. Pembuatan alat-alat kantor dan kertas dan karton.

xx. Pertjetakan buku-buku, surat-surat chabar, dan lain-lain pada chususnja, diluar Djakarta.

xx. Pembuatan buku dan pendjilidan.

Paberik Kulit dan Barang-barang Kulit.

xx. Paberik kulit mentah dan kulit masak. xx. Paberik sepatu dan sandal.

xx. Barang-barang kulit untuk keperluan perdjalanan.

xx. Penjamakan kulit. xx. Sol kulit.

Industri Barang-barang Karat.

xx. Pengolahan karat (jang bermutu tinggi). Bermatjam-matjam barang-barang karet dan barang-barang karat untuk keperluan rumah tangga.

Ban kipas dan ban pengantar. Pipa untuk radiator mobil. Alat-alat pharmasi.

Sepatu karat dan sepatu karat pakai kain kampas, sol karet dan lembaran karet sol, tumit karet dan bola karet.

(37)

xx. Vulkanisir ban.

xx. Paberik ban luar dan ban dalam untuk mobil.

xx. Ban hear dan ban dalam untuk sepeda.

xx. Ban Iuar dan ban dalam untuk sepeda motor.

(38)

Industri-industri Kimia,

Bermatjam-matjam.

xx. Paberik pernis, lak dan email.

xx. Pembungkusan etjeran bahan-bahan kimia.

benalu dan ratjun perumputan. xx. Asam tjuka.

Asam dan garam hypochloriet. xx. Asam smut.

(39)

xx. Paberik sabun (untuk keperluan rumah tangga dan kesehatan).

Obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan. xx. Obat-obat desinfeksi.

Pupuk.

Ammonia tjair. Pupuk zat lemas.

(40)

Plastik, Gelas dan Kramik. xx. Paberik gelas.

xx. Katja botol, lembaran katja, katja djendela, gelas katja, tjermin, gelas minum. xx. Keramik.

Barang-barang dan bahan-bahan plastik Korek api.

xx. Alat-alat politur.

xx. Ekstrak bahan samak.

xx. Pengawetan kaju (dry wood destillation).

Tinta dan tjat.

Tinta untuk berbagai-bagai keperluan. Tjat.

Industri Bahan-bahan Bangunan.

xx. Semen.

xx. Gips dan hasil-hasil gips.

xx. Ubin, pipa, genteng, lantaian dari semen.

xx. Bata. genteng dan pipa-pipa penjaluran air jang bermutu tinggi.

xx. Genteng dan pipa (buatan mesin). xx. Lembaran dinding (hardboard).

Eternit.

Lain-lain bahan-bahan bangunan. Pembakaran gamping.

Pertambangan, Pengetjoran dan Pengolahan Logam.

xx. Pengetjoran, penggilingan, dan perbengkelan besi.

xx. Pengetjoran tembaga dan suasa. xx. Pengetjoran timah.

xx. Pengetjoran aluminium. xx. Penggilingan aluminium.

xx. Lembaran aluminium untuk atap. xx. Pertambangan dan pengolahan bidji besi.

(41)

xx. Pertambangan dan pengolahan perak. xx. Pertambangan dan pengolahan

batu bara.

xx. Pek untuk briket dan lain-lain keperluan.

xx. Pertambangan bidji mangan.

(42)

Industri Barang-arang Logam.

xx. Barang-barang dari besi, tjangkul dan lain-lain perkakas pertanian.

xx. Paberik kaleng.

xx. Perabotan-perabotan dari aluminium. xx. Timah untuk pembungkus.

xx. Hasil-hasil dari kawat dan anjaman kawat xx. Paku dan sekerup.

xx. Barang-barang keperluan rumah tangga. xx. Perlengkapan

penangkapan ikan.

xx. Perlengkapan rumah sakit. xx. Alat-alat soldir.

xx. Dapur listrik untuk membuat badja. xx. Pelapisan nikkel, perak dan chroom.

Perkakas rumah dari logam. Perkakas kantor. Kuntji.

xx. Tabung zat asam. Tangki penjimpan.

Bermatjam-matjam djenis drum. xx. Piring dan sendok

aluminium. Tuangan tembaga dan suasa. xx. Tuangan aluminium.

Tuangan Barang-barang dan besi.

Industri mesin dan Reparasi Mesin-mesin.

xx. Perlengkapan dan alat-alat pengganti untuk

paberik-paberik karet, hasil-hasil pertambangan, basil-basil

per-tanian, bengkel kereta api, paberik tekstil dan sebagainja.

xx. Pembuatan timbangan.

xx. Perusahaan assembly untuk mesin-mesin dan lain-lain perkakas tehnik.

(43)

Alat-alat listrik dan reparasi.

xx. Bola lampu dan pipa-pipa pidjar.

xx. Paberik-paberik alat-alat radio.

xx. Reparasi mesin-mesin listrik.

(44)

Paberik Alat-alat Pengangkutan.

xx.Bagian-bagian sepeda, dan. assembling. xx.Assembling dan alat-alat` sepeda motor. xx.Bis (sjasis) dan truck.

xx.Pembuatan kapal; kapal ringan untuk penumpang dan prahu angkat.

xx.Galangan, pembuatan, dan reparasi kapal ketjil dari badja.

xx.Galangan pembuatan dan reparasi kapal dari kaju.

xx. Galangan pembuatan dan reparasi kapal penangkap ikan.

xx.Bagian-bagian perlengkapan kereta api.

Industrj-industri lainnja.

xx.Alat-alat potret.

xx.Bengkel konstruksi dan reparasi setjara mechanis pada chususnja diluar Djakarta. Selain dari andjuran tersebut diatas tentang berbagai matjam industri, diminta pula perhatian terhadap beberapa kemungkinan untuk mempergunakan bahan-bahan mentah jang terdapat didalam neqeri sebagai tertera dibawah ini.

Penjelidikan kwantitatip dari bahan ini hendaknja diadakan bersama-sama dengan persiapan-persiapan untuk sesuatu projek tertentu.

Bahan-bahan mineral:

Tawas; asbes: batu barit; bitumen; pasir cerium; kapur bidji tembaga; dolomit; sumber-sumber gas; kwarts: grafit; gips; garam jodium; kaolin dan

tulis; belerang; teas; bidji; titan; batu bara muda; bidji seng.

Bahan-bahan mentah dari tumbuh-tumbuhan :

Ampas tabu: kaju balsa; bambu; ubi kaju

(tapioka); areng kaju;

(45)

kapas; katjang tanah; nila; kajuputih (minjak); kapok; djagung; minjak niaoli; pohon pinus; rami; serat rosellai rotan; karat: sagu; serat

sisal; kedele;

tabu; kulit kaju untuk:menjamak (accacia dan

sebagainja); kaju

djati: tembakau;.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam perkembangannya tidak semua teori atom Dalton benar, karena pada tahun 1897 J.J.Thomson mene- mukan partikel bermuatan listrik negatif yang kemudian disebut elektron.. Tahun

Dengan demikian pelelangan ini dinyatakan gagal dengan mengacu kepada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan

Hubungan antara reaksi oksidasi reduksi (redoks) de- ngan energi listrik dapat dipelajari dalam elektrokimia. Elek- trokimia merupakan ilmu kimia yang mempelajari hubungan timbal

Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin bahwa peralatan perancah, alat-alat kerja, bahan-bahan dan benda-benda lainnya tidak dilemparkan, diluncurkan atau dijatuhkan

Pejabat Pengadaan pada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2014, telah melaksanakan Proses Evaluasi Kualifikasi

(5) Pengusaha atau pengurus dan dokter wajib menyusun pedoman pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kerja yang menjamin penempatan tenaga kerja sesuai dengan kesehatan dan pekerjaan

Potensi sektor perbankan di Jawa Timur yang terpetakan secara spasial, terdapat 3 daerah unggulan sektor (sub sektor) perbankan, sedangkan dari aspek pengembangan

Subjek penelitian ini adalah guru Bahasa Arab dan siswa kelas X2 MAN Sabdodadi Bantul. Objek penelitian ini adalah pelaksanaan proses pembelajaran Bahasa Arab