• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA (1)"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

KLIPING BERITA TENTANG KEUANGAN NEGARA

Oleh:

Nama

: Intan Nur Shabrina

NPM

: 133060018162

Kelas

: 3-AE

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan

Spesialisasi Akuntansi STAN BINTARO

Untuk Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah

Pengantar Pengelolaan Keuangan Negara

(2)

BERITA 1 : Pemberian KIS dan KIP Diminta Tak Dikaitkan

dengan Pengurangan Subsidi BBM

16 November 2014 | 16:29 WIB

Presiden Joko Widodo di dampingi oleh Ibu Negara Iriana peluncuran Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kantor Pos Besar, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2014). Peluncuran kartu yang di hadiri oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani,Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek dan menteri Kabinet Kerja lainya tersebut sebagai pemenuhan janji Jokowi semasa kampanye dulu. (Warta Kota/Henry Lopulalan)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah diimbau untuk tak mengaitkan pemberian Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dengan rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

KIS dan KIP merupakan bagian atas janji kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla saat

Pilpres 2014 lalu.

"Program KIS dan KIP adalah bagian dari janji politik pilpres yang harus dipenuhi," kata Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Hanura), Nasrun Marpaung di Jakarta, Minggu (16/11/2014).

Nasrun optimistis, realisasi KIS dan KIP dapat dibiayai pemerintah melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015. Anggaran tersebut dapat diambil melalui penghematan pada pos-pos belanja kementerian dan lembaga yang relevan sesuai peraturan perundang-undangan.

(3)

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan diumumkan setelah Jokowi kembali ke Tanah Air dari lawatan ke luar negeri. Menurut JK, jumlah kenaikan nanti akan dikalkulasi berdasarkan harga minyak dunia yang turun menjadi sekitar 80 dollar AS dan melemahnya rupiah.

Tujuan pemerintah menaikkan harga BBM adalah mengalihkan subsidi ke konsumtif menjadi produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

http://nasional.kompas.com/read/2014/11/16/16290911/Pemberian.KIS.dan.KIP.Dimi nta.Tak.Dikaitkan.dengan.Pengurangan.Subsidi.BBM

Uraian :

Di dalam berita “Pemberian KIS dan KIP Diminta Tak Dikaitkan dengan Pengurangan Subsidi BBM” dijelaskan bahwa menurut Kartu Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Hanura), Nasrun Marpaung, Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dapat dibiayai pemerintah melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 melalui penghematan pada pos-pos belanja kementerian dan lembaga yang relevan sesuai peraturan perundang-undangan tanpa harus mengurangi anggaran subsidi BBM.

Dasar Hukum :

Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuang Negara

“Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan.”

Komentar :

Jadi mengacu pada ayat UU Nomor 17 Tahun 2003 diatas bahwa Presiden yang berhak berkuasa atas pengelolaan keuangan Negara. Dalam kasus ini Nasrun Marpaung memberikan komentar bahwa pemberian KIS dan KIP tidak ada kaitannya dengan harga BBM bersubsidi yang akan naik.

(4)

BERITA 2 : Menkeu Tekankan Peningkatan Kualitas Belanja

Untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

13 November 2014 | 09:58 WIB

Jakarta, 13/11/2014 MoF (Fiscal) News - Menteri Keuangan menekankan pentingnya meningkatkan kualitas belanja pemerintah untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih tinggi. Hal ini ia sampaikan di sela pertemuan dengan para analis ekonomi pada Rabu (12/11) malam di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta.

“Tentunya yang harus diperbaiki supaya tumbuh lebih cepat salah satunya adalah memperbaiki komposisi belanja,” ungkap Menkeu Bambang P.S. Brodjonegoro di sela pertemuan.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, salah satu masalah utama yang dihadapi pemerintah saat ini adalah kualitas belanja. “Problem-nya adalah, kebanyakan spending itu less productive,” katanya.

Menkeu mencontohkan, anggaran untuk infrastruktur pada tahun lalu, misalnya, masih kalah jika dibandingkan dengan anggaran untuk belanja subsidi. Pada tahun 2013, anggaran subsidi mencapai lebih lebih dari dua kali lipat dari anggaran belanja modal, termasuk untuk infrastruktur.

“Jadi sangat timpang perbedaannya, dan ini tentunya tidak akan bisa jadi daya dorong buat pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” ungkapnya.

(5)

http://www.kemenkeu.go.id/Berita/menkeu-tekankan-peningkatan-kualitas-belanja-untuk-dorong-pertumbuhan-ekonomi

Uraian :

Menteri Keuangan berkomentar mengenai kualitas belanja pemerintah yang kebanyakan less productive anggaran untuk infrastruktur pada tahun lalu, misalnya, masih kalah jika dibandingkan dengan anggaran untuk belanja subsidi. Pada tahun 2013, anggaran subsidi mencapai lebih lebih dari dua kali lipat dari anggaran belanja modal, termasuk untuk infrastruktur.

Dasar Hukum :

Dasar hukum mengenai anggaran belanja untuk subsidi BBM ini terdapat pada Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, diatur bahwa anggaran belanja pemerintah pusat dikelompokkan menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja.

“Belanja Negara dirinci menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja.”

Komentar :

Menurut ayat diatas, dilihat dari pengelompokkan menurut organisasi, subsidi BBM masuk dalam ranah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Yang bertanggung jawab atas kuota subsidi BBM adalah presiden dan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Namun mengenai permasalahan alokasi anggaran untuk subsidi BBM ini ternyata sudah dicantumkan dalam pokok-pokok kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah baru dalam RUU APBN 2015 yaitu :

1. Meningkatkan efisiensi anggaran subsidi BBM dengan alokasi yang lebih tepat sasaran.

2. Mengurangi penggunaan konsumsi BBM bersubsidi secara bertahap.

3. Melanjutkan pengendalian BBM bersubsidi.

4. Melanjutkan program konversi BBM ke bahan bakar gas terutama di kota-kota besar.

5. Mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan.

6. Meningkatkan dan mengembangkan pembangunan jaminan gas kota untuk rumah tangga

7. Meningkatkan pemakaian Bahan Bakar Nabati (BBN).

8. Meningkatkan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi

(6)
(7)

BERITA 3 : Investasi, Kunci Menjaga Pertumbuhan Tinggi

12 November 2014 | 17:21 WIB

Jakarta, 12/11/2014 MoF (Fiscal) News - Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro kembali menegaskan pentingnya investasi asing (Foreign Direct Investment-FDI) bagi Indonesia. Hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah akan berupaya untuk menarik investasi dengan cara perbaikan di bidang perijinan. Hal demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan dalam acara U.S.-Indonesia Investment Summit yang berlangsung 11-12 November 2014 di Jakarta.

Lebih lanjut, Bambang menjelaskan kata kunci yang menjadi tema dari pertemuan tersebut, yaitu investasi dan kesejahteraan rakyat. “Peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan tujuan utama negara dan pemerintah senantiasa berupaya untuk mencapai hal tersebut,” kata Menkeu.

Untuk mencapai kesejahteraan rakyat diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkesinambungan, dan lebih merata. Menkeu percaya bahwa kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tinggi berasal dari sumber yang lebih produktif, khususnya investasi. “Untuk itu, peningkatan investasi senantiasa menjadi agenda utama pemerintah,” ungkap Menkeu.

Acara U.S.-Indonesia Investment Summit ini merupakan kerja sama American chamber of commerce in Indonesia, Kamar Dagang Indonesia, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Menkeu memandang acara ini sebagai forum yang penting untuk berbagi ide dan meningkatkan pemahaman mengenai perkembangan ekonomi Indonesia, khususnya perkembangan investasi. (ya)

http://www.kemenkeu.go.id/Berita/investasi-kunci-menjaga-pertumbuhan-tinggi

(8)

Berita tersebut berisi tentang pentingnya investasi asing bagi Indonesia. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menjelaskan bahwa investasi dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam acara U.S.-Indonesia Investment Summit yang berlangsung 11-12 November 2014 di Jakarta, Menteri Keuangan memandang acara ini sebagai forum penting untuk berbagi ide dan meningkatkan pemahaman mengenai perkembangan ekonomi Indonesia, khususnya perkembangan investasi.

Dasar Hukum :

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang menjelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan penanaman modal, antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Modal yang dimaksud disini adalah investasi, baik investasi asing maupun investasi domestik.

Serta pada Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“…kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah;”

Komentar :

(9)

BERITA 4 : Penerimaan Negara Bukan Pajak Wajib

Diberikan Pejabat Kementerian

29 Agustus 2014 | 21:36 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pejabat Kementerian/Lembaga wajib menyampaikan rencana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas bagian anggaran dari Kementerian/Lembaga yang menjadi tugas dan kewenangannya kepada Kementerian Keuangan.

Hal itu telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomr 152/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian/Lembaga yang mulai berlaku pada 24 Juli 2014. Penetapan aturan ini untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi dan tata kelola pemerintahan yang baik dalam PNBP.

Adapun rencana PNBP K/L ini telah mendapat persetujuan penggunaan dana PNBP disusun dalam bentuk target dan pagu penggunaan PNBP. Target PNBP disusun secara realistis dan optimal berdasarkan jenis PNBP dan tarif atas jenis PNBP, akun pendapatan sesuai bagan akun standar dan perkiraan jumlah atau volume yang menjadi dasar perhitungan PNBP dari masing-masing PNBP.

Sementara itu, pagu penggunaan PNBP disusun dengan mengacu pada persetujuan penggunaan dana PNBP. Dalam rangka penyusunan pagu indikatif, rencana PNBP disusun dengan berpedoman pada rencana PNBP tahun anggaran berjalan, realisasi PNBP tahun anggaran sebelumnya, dan kebijakan pemerintah.

Batas waktu penerimaan PNBP ini paling lambat minggu ketiga Januari. Apabila Kementerian/Lembaga tidak menyampaikan rencana PNBP sampai batas waktu itu, maka Kemenkeu dapat melakukan perhitungan rencana PNBP K/L yang ditetapkan oleh Menteri c.q Direktur Jenderal Anggaran paling lambat pada minggu pertama Februari.

(10)

Selain itu, Kementerian Keuangan dapat melakukan perhitungan rencana penerimaan negara bukan pajak K/L jika rencana PNBP K/L pagu anggaran paling lambat pada minggu keempat Mei.

"Rencana PNBP ini digunakan sebagai bahan dalam penyusunan rancangan APBN," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementeria Keuangan, Yudi Pramadi, dalam siaran pers yang diterbitkan, Jumat (29/8/2014). (Fik/Ahm)

http://bisnis.liputan6.com/read/2098512/penerimaan-negara-bukan-pajak-wajib-diberikan-pejabat-kementerian

Uraian :

Berita ini berisi mengenai kewajiban Pejabat Kementerian/Lembaga dalam menyampaikan rencana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas bagian anggaran dari Kementerian/Lembaga yang menjadi tugas dan kewenangannya kepada Kementerian Keuangan. Hal ini telah tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian/Lembaga yang mulai berlaku pada 24 Juli 2014. Rencana ini telah mendapat persetujuan penggunaan dana PNBP disusun dalam bentuk target dan pagu penggunaan PNBP.

Dasar Hukum :

PMK Nomor 152/PMK.02/2014 tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian/Lembaga serta Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi disetorkan ke Kas Negara. Dengan adanya PMK Nomor 152/PMK.02/2014 yang baru saja berlaku bulan Juli, Pejabat Kementerian/Lembaga wajib menyampaikan rencana penerimaan negara bukan pajak (PNBP) atas bagian anggaran dari Kementerian/Lembaga. PNBP tersebut antara lain :

a. Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah.

b. Penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam.

c. Penerimaan dari hasil-hasil kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah.

(11)

e. Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi.

f. Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah.

(12)

BERITA 5 : Merdeka 69 Tahun, RI Baru Susun RUU

Pengelolaan Kekayaan Negara

20 Agustus 2014 | 15:12 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini pemerintah mempercepat penyusunan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Kekayaan Negara (RUU PKN). Hal itu mengingat hingga 69 tahun perayaan kemerdekaan, Indonesia belum memiliki satu Undang-undang yang mengatur pengelolaan kekayaan negara secara menyeluruh.

Direktur Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Tavianto Noegroho menuturkan, tidak adanya landasan hukum tersebut maka masih terdapat berbagai permasalah terkait pengelolaan kekayaan negara di tanah air.

Adapun beberapa permasalahan penting terkait pengelolaan kekayaan negara antara lain ditemui adanya permasalahan antar sektoral, antar pemerintah, dan antar pemerintah dengan pihak lain terkait dengan pengelolaan kekayaan negara.

Kedua, penerimaan negara yang dihasilkan dari pengelolaan sumber daya alam belum optimal. Ketiga, investasi pemerintah dan pengelolaan barang milik negara/daerah belum dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi penerimaan negara dan daerah.

Keempat, keseimbangan antara utilisasi kekayaan negara dan perlindungan hak negara dan masyarakat belum terjamin.

Oleh karena itu, pemerintah mempercepat penyusunan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Kekayaan Negara (RUU PKN). Prakarsa RUU PKN telah dimulai sejak tahun 2000 dengan adanya persetujuan presiden pada 19 September 2000.

(13)

Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Pertanahan Nasional," ujar Tavianto, dalam keterangan yang diterbitkan, Rabu (20/8/2014).

Adapun draft dan naskah akademis telah diuji dalam berbagai konsultasi publik serta focus group discussion (FGD), dan seminar dengan kalangan akademisi dan praktisi. Bahkan benchmarking dengan peraturan sejenis di beberapa negara termasuk Swedia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan telah dilakukan untuk menyempurnakan materi RUU PKN dengan praktik internasional.

"Dalam waktu dekat pemerintah akan melakukan harmonisasi dan finalisasi RUU PLN sebelum disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat," ujar Tavianto.

Dengan adanya landasan hukum bagi pengelolaan kekayaan negara maka diharapkan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Padahal dalam Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan pemerintah harus menyusun undang-undang yang mengatur lebih lanjut mengenai pengelolaan kekayaan negara.

Hal itu sebagaimana ditentukan pasal 33 ayat (3) kalau bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara. Lalu dipergunakan adanya Undang-Undang tersebut sangatlah penting demi pengelolaan kekayaan Negara Indonesia secara menyeluruh. Oleh karena itu, pemerintah mempercepat penyusunan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Kekayaan Negara (RUU PKN).

Prakarsa RUU PKN telah dimulai sejak tahun 2000 dengan adanya persetujuan presiden pada 19 September 2000. Pembahasan RUU ini melibatkan kementerian/lembaga terkait antara lain Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum Hak Asasi Manusia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Pertanahan Nasional.

Dasar Hukum :

Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

(14)

Bedasarkan berita di atas, Indonesia yang notabene sudah merdeka sejak tahun 1945, seharusnya memiliki peraturan tersendiri mengenai pengelolaan kekayaan negara. Kenapa? Bisa kita lihat bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Oleh karena itu perlu adanya Undang-Undang tersendiri yang mengatur mengenai pengelolaan kekayaan negara.

(15)

BERITA 6 : Upaya Pemerintah Genjot Setoran Pajak lewat

Rekening Listrik

8 April 2014 | 19:50 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak menandatangani nota kesepahaman dengan PT PLN Persero untuk memaksimalkan penerimaan pajak.

Menteri Keuangan Chatib Basri menuturkan, rekening listrik dapat jadi data yang valid dan digunakan untuk memaksimalkan penerimaan pajak. Pertumbuhan penggunaan listrik mencapai 2% terjadi pertumbuhan ekonomi sebanyak 1%.

Menurut Chatib, pertumbuhan listrik telah terjadi sebanyak 14% sebelum tahun 2000 sehingga pertumbuhan ekonomi 7%-8%. "Listrik adalah indikator jalan atau tidaknya ekonomi," ujar Chatib, Jakarta, Selasa (8/4/2014).

Ia menuturkan, dengan melakukan pengecekan terhadap pemakaian listrik bisa digunakan untuk melihat status perekonomian rumah tangga. Dengan begitu pihaknya dapat mengetahui pajak yang dikeluarkan.

Selanjutnya, dengan kerja sama tersebut diharapkan mampu menggali potensi pajak yang tersembunyi sebanyak 40%. "Potensi yang mungkin 40% underground, kalau pakai data listrik," kata dia.

Sebelumnya Direktorat Jenderal Pajak menandatangani nota kesepahaman dengan PT PLN (Persero), PT Pelindo IV, dan BPJS Ketenagakerjaan.

Menurut Dirjen Pajak, Fuad Rahmany, penandatanganan nota kesepahaman ini untuk merangkai kerja sama yang dibangun terutama sinergi dengan berbagai pemerintahan dan BUMN. Kerja sama ini dilandasi oleh pasal 35 KUP, PP 31, dan PMK tentang pajak untuk berikan data pada Ditjen Pajak.

(16)

Uraian :

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan terus melakukan upaya ekstensifikasi maupun intensifikasi guna mengejar terget penerimaan pajak yang telah ditetapkan pemerintah. Salah satu upayanya yaitu dengan melakukan penandatangan kerja sama dengan PT PLN (Persero). Rekening listrik dinilai dapat menjadi data yang valid dalam pengukuran dalam menentukan berapa banyak pajak yang harus dikenakan.

Dasar Hukum :

Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan yang berbunyi

“Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperlukan keterangan atau bukti dari bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan/atau pihak ketiga lainnya, yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak, penagihan pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, atas permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak, pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta.”

Komentar :

Dilihat dari dasar hukum yang saya cantumkan di atas, bahwa dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperlukan adanya keterangan atau bukti dari pihak ketiga. Dalam berita ini yang dimaksud dengan pihak ketiga itu adalah PLN. Menurut Menteri Keuangan Chatib Basri, listrik adalah indikator jalan atau tidaknya ekonomi.

(17)

BERITA 7 : Tilep APBD Rp 4,1 Miliar, Bupati Rembang

Dituntut 2,5 Tahun

5 Juni 2014 | 06:35 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Bupati Rembang M Salim dituntut dua tahun enam bulan penjara dan denda Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan terkait kasus dugaan korupsi penyalahgunaan APBD Rembang tahun 2006-2007 dalam penyertaan modal PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya. Tuntutan itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum dari Kejati Jateng, dalam lanjutan sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (4/6/2014).

Dalam tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Slamet Margono menyebutkan bahwa BPK menemukan indikasi kerugian negara sebesar Rp 4,1 miliar dari APBD Rembang tahun 2006-2007. Jaksa menilai pencairan uang yang dilakukan terdakwa bermasalah karena dilakukan sebelum Perda Penyertaan Modal disahkan Gubernur Jateng.

"Terdakwa bersalah melanggar pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," kata Slamet saat membacakan tuntutannya.

Dalam kasus itu, Salim didakwa menggunakan APBD Kabupaten Rembang untuk penyertaan modal awal badan usaha milik pemeritah kabupaten yaitu PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ). Lalu sebagian dari modal tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun SPBU.

(18)

Di luar itu, keuntungan SPBU senilai Rp 1,8 miliar tidak disetorkan ke PT RBSJ. Dari hasil perhitungan BPK, lanjut jaksa, total kerugian negara dalam perkara tersebut yaitu Rp 4,1 miliar.

Usai persidangan, M Salim menilai hal yang diungkapkan jaksa tidak sesuai fakta. Menurutnya jaksa hanya merangkum berita acara pemeriksaan di kepolisian.

"Nanti rinciannya akan disampaikan di pembelaan," kata Salim.

http://bisnis.liputan6.com/read/2115595/kurangi-defisit-anggaran-pemerintah-hemat-anggaran-belanja

Uraian :

Bupati Rembang M Salim terkait kasus dugaan korupsi penyalahgunaan APBD Rembang tahun 2006-2007. Dalam kasus tersebut M Salim didakwa menggunakan APBD Kabupaten Rembang untuk penyertaan modal awal badan usaha milik pemerintah kabupaten yaitu PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ). Lalu sebagian dari modal tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun SPBU. Dari hasil perhitungan BPK, lanjut jaksa, total kerugian negara dalam perkara tersebut yaitu Rp 4,1 miliar. Namun setelah sidang, M Salim menilai bahwa hall-hal yang diungkapkan jaksa dalam persidangan tidak sesuai fakta.

Dasar Hukum :

Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“Menteri/Pimpinan lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan undang-undang.”

Serta dasar hukum yang tertera dalam berita tersebut yaitu Pasal 3 Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi

“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

(19)

Seperti yang telah dijelaskan di dalam uraian bahwa Bupati Rembang ini menyalahgunakan wewenangnya dengan cara menggunakan APBD Kabupaten Rembang untuk penyertaan modal awal badan usaha milik pemerintah kabupaten yaitu PT Rembang Bangkit Sejahtera Jaya (RBSJ). Hal ini tentu saja dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi yang dengan jelas diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(20)

BERITA 8 : Defisit Anggaran 2015 Dipatok 2,32 Persen

16 Agustus 2014 | 04:57 WIB

TEMPO.CO , Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan defisit anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 sebesar Rp 257,57 triliun atau 2,32 persen dari produk domestik bruto. "Turun dari defisit APBNP 2014," ujar SBY di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat, 15 Agustus 2014.

Menurut SBY, defisit anggaran terjadi karena adanya percepatan pencapaian target pembangunan nasional melalui kebijakan fiskal yang ekspansif. "Sebagaimana kami ketahui, konsekuensi dari kebijakan fiskal yang ekspansif adalah terjadinya defisit anggaran," ujar SBY.

Defisit dalam RAPBN 2015 tersebut direncanakan dibiayai dengan pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri sebesar Rp 281,39 triliun dan luar negeri sebesar Rp 23,81 triliun.

Postur RAPBN 2015: belanja negara direncanakan sebesar Rp 2.019,9 triliun atau naik 7,6 persen dari pagu pada APBNP 2014. Dari total anggaran belanja tersebut, belanja pemerintah pusat mengambil porsi Rp 1.379,88 triliun, sedangkan anggaran transfer daerah dan dana desa Rp 639,9 triliun. Adapun pendapatan negara ditargetkan Rp 1.762,3 triliun.

Sebelumnya, dalam APBNP 2014, defisit anggaran mencapai 2,4 persen. Defisit itu terjadi karena anggaran pendapatan negara hanya Rp 1.667,1 triliun, sedangkan anggaran belanja negara Rp 1.842,5 triliun.

http://www.tempo.co/read/news/2014/08/16/087599984/Defisit-Anggaran-2015-Dipatok-232-Persen

(21)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan defisit anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015 adalah 2,32 persen dari produk domestik bruto. Target defisit anggaran ini turun dari deficit anggaran tahun sebelumnya yang mencapai 2,4 persen. Defisit dalam RAPBN 2015 tersebut direncanakan dibiayai dengan pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri sebesar Rp 281,39 triliun dan luar negeri sebesar Rp 23,81 triliun.

Dasar Hukum :

Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“Dalam hal anggaran diperkirakan defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut dalam Undang-undang tentang APBN. “

Serta dalam penjelasan atas Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara berbunyi

“Defisit anggaran dimaksud dibatasi maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto. Jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60% dari Produk Domestik Bruto.”

Komentar :

Seperti yang tercantum dalam penjelasan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa difisit anggaran dibatai maksimal 3% dari PDB. Defisit anggaran memang sebenarnya diperlukan bagi Negara yang berkembang seperti Indonesia ini dalam rangka percepatan pembangunan. Dengan adanya percepatan pencapaian target pembangunan nasional melalui kebijakan fiskal yang ekspansif yang menjadikan adanya defisit anggaran.

(22)

BERITA 9 : Realisasi Pendapatan dan Hibah APBN Capai Rp

413,11 Triliun

11 Juni 2014 | 09:47 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mengungkapkan, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk periode 1 Januari hingga 30 April menunjukkan perbaikan jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut tercermin dalam peningkatan realisasi pendapatan dan penurunan defisit anggaran.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Yudi Pramadi menjelaskan, realisasi pendapatan dan hibah mencapai Rp 413, 11 triliun atau mencapai 24,8 persen dari pagu APBN. "Di tahun lalu realisasinya hanya mencapai 23,5 persen dari pagu APBN," jelasnya seperti tertulis dalam siaran pers, Rabu (11/6/2014).

Menurutnya, peningkatan realisasi tersebut disebabkan persentase realisasi penerimaan perpajakan yang lebih tinggi 1,2 persen dan Penerimaan Negara Bulan Pajak (PNBP) yang lebih tinggi 2,2 persen dari persentase realisasi tahun lalu.

Sementara, untuk realisasi belanja mencapai Rp 432,68 triliun atau mencapai 23,5 persen dari pagu APBN. Untuk periode yang sama tahun sebelumnya, realisasi belanja mencapai 23,7 persen dari pagu. Lebih kecilnya realisasi belanja pada tahun ini dibanding dengan tahun lalu karena realisasi transfer ke daerah pada tahun ini lebih rendah 4,9 persen.

Sedangkan untuk desifit, tahun ini tercatat Rp 19,57 triliun, lebih kecil jika dibanding dengan tahun lalu yang tercatat mencapai Rp 38,99 triliun. Penurunan defisit tersebut karena ada peningkatan dari sisi pendapatan dan hibah yang tercatat 1,3 persen dan pengurangan belanja yang sebesar 0,2 persen dari persentase realisasi tahun lalu.

(23)

bisnis.liputan6.com/read/2061440/realisasi-pendapatan-dan-hibah-apbn-capai-rp-41311-triliun

Uraian :

Realisasi APBN untuk periode 1 Januari hingga 30 April menunjukkan perbaikan jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut tercermin dalam peningkatan realisasi pendapatan dan penurunan defisit anggaran. Realisasi pendapatan dan hibah naik yaitu mencapai Rp 413, 11 triliun atau mencapai 24,8 persen dari pagu APBN dibandingkan dengan tahun sebelumnya realisasinya hanya mencapai 23,5 persen dari pagu APBN. Hal ini disebabkan persentase realisasi penerimaan perpajakan yang lebih tinggi 1,2 persen dan Penerimaan Negara Bulan Pajak (PNBP) yang lebih tinggi 2,2 persen dari persentase realisasi tahun lalu.

Sedangkan untuk realisasi belanja turun yaitu mencapai Rp 432,68 triliun atau mencapai 23,5 persen dari pagu APBN dibandingkan dengan tahun sebelumnya, realisasi belanja mencapai 23,7 persen dari pagu. Lebih kecilnya realisasi belanja pada tahun ini dibanding dengan tahun lalu karena realisasi transfer ke daerah pada tahun ini lebih rendah 4,9 persen. Dan untuk desifit anggaran, tahun ini tercatat Rp 19,57 triliun, lebih kecil jika dibanding dengan tahun lalu yang tercatat mencapai Rp 38,99 triliun. Disamping itu, realisasi pembiayaan di tahun ini mencapai Rp 120, 23 triliun atau mencapai 68,6 persen dari pagu APBN. Pada tahun lalu, realisasinya baru mencapai 49,1 persen saja.

Dasar Hukum :

Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“APBN terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan.”

Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.”

(24)

Komentar :

Realisasi APBN periode 1 Januari hingga 30 April 2014 mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan naiknya pendapatan dan penurunan defisit anggaran. Perbaikan ini juga terlihat dari lengkapnya jumlah nominal realisasi anggaran tiap-tiap ruang lingkup APBN yang meliputi pendapatan Negara dan hibah, belanja Negara, surplus/defisitnya, sampai dengan pembiayaannya yang dibandingkan dengan data-data jumlah nominal APBN tahun sebelumnya.

Berdasarkan dasar hukum di atas, apabila APBN telah selesai dilaksanakan maka harus segera dibuat Laporan Realisasi Anggaran. Hal ini sesuai dengan asas pengelolaan keuangan negara yaitu Asas Akuntabilitas dan Asas Keterbukaan bahwa pengelolaan keuangan negara itu harus dipertanggung jawabkan dan harus terbuka dalam pembahasan, penetapan, dan perhitungannya. Dalam berita tersebut dijelaskan mengenai jumlah pendapatan, pengeluaran serta pembiayaannya beserta sumber-sumbernya secara jelas. Sehingga pertanggungjawaban APBN periode 1 Januari hingga 30 April telah sesuai.

BERITA 10 : Utang ke IMF Lunas, Ini yang Harus Dilakukan

Jokowi

18 Oktober 2014 | 14:49 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia telah melunasi utang-utangnya ke International Monetary Fund (IMF) pada 2006. Setelah lepas dari jeratan utang IMF, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) harus melakukan sejumlah kebijakan untuk mengamankan ekonomi Indonesia.

(25)

Dia menyebutkan, setidaknya ada beberapa UU yang harus diubah karena dibuat sepanjang 1999-2003. Aviliani memandang UU itu dibuat dalam tekanan, sehingga kurang ada keberpihakan kepada Indonesia.

"Misalnya liberalisasi di sektor tambang, keuangan devisa bebas. Nah dari situ kita bisa menata kembali mana UU yang sebenarnya sesuai dengan kebutuhan Indonesia, jadi kita tidak tergantung lagi kepada aturan-aturan yang ditetapkan oleh IMF," paparnya.

Sementara itu demi mencegah terjadinya utang kepada IMF lagi, Aviliani mengaku mengusulkan cara kepada pemerintahan baru nantinya untuk lebih mencari pendanaan melalui hubungam bilateral antar negara.

"Jadi kita sesuaikan antar kepentingan kedua belah pihak, itu lebih cocok. Misalnya dengan Jepang, mereka inginnya seperti apa. Kita juga sesuaikan kemampuan kita, jadi win win solution," pungkas Aviliani.

Pada krisis moneter 1998 silam, Indonesia memang telah menjadi pasien dari IMF. Seluruh kebijakan ekonomi pemerintah harus dengan persetujuan IMF pada saat itu. Namun pada 2006, Indonesia telah melunasi seluruh utang-utangnya ke IMF.

Pelunasan utang ini lebih cepat karena seharusnya jatuh tempo pada 2010. Sisa pinjaman yang dibayar Indonesia ke IMF saat itu adalah US$ 3,181 miliar.

(26)

Uraian :

Utang Indonesia ke IMF sekarang sudah lunas. Sekarang gilaran Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang harus melakukan sejumlah kebijakan untuk mengamankan ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah dengan menata kembali aturan-aturan yang ada dalam Undang-Undang. Ada beberapa UU yang harus diubah karena dibuat sepanjang 1999-2003 ketika Indonesia masih berutang pada IMF. Karena hal tersebut, Undang-Undang yang dibuat pun harus sesuai dengan kebijakan IMF, sehingga kurang ada keberpihakan kepada Indonesia. Seluruh kebijakan ekonomi pemerintah harus dengan persetujuan IMF pada saat itu.

Dasar Hukum :

Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang berbunyi

“Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1, meliputi :

a. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan

pinjaman;

b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan

membayar tagihan pihak ketiga;…”

Serta dasar hukum lain yang lebih khusus yaitu dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah yang berbunyi

“Pinjaman Luar Negeri dan penerimaan Hibah harus memenuhi prinsip:

(27)

Ketika Indonesia berutang ke IMF, ternyata banyak mengandung unsur politik. IMF memanfaatkan Indonesia dengan cara memesan dan menuntut Undang-Undang ataupun peraturan pemerintah agar sesuai dengan keinginan IMF. Semua kebijakan ekonomi yang akan diambil pemerintah pun harus dengan persetujuan IMF. Seharusnya hal ini sudah melanggar Peraturan Pemerintah yang telah saya sebutkan di atas.

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian yang sudah dilakuka, terdapat beberapa saran agar kedepannya frontend aplikasi mobile e-recruitment menggunakan flutter dapat dimanfaatkan dengan lebih

RINCIAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA LANGSUNG PROGRAM DAN PER KEGIATAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KODE REKENING URAIAN JUMLAH (Rp) RINCIAN PERHITUNGAN Volume Harga

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara simultan Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Dividen (Dividend Payout Ratio) dan Ukuran Perusahaan (Ln Total

Sesuai dengan amanat Pasal 23E Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 20

Bahwa ketentuan Pasal 15A Undang-Undang APBN-P Tahun Anggaran 2012, terkait dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 27 ayat (4) yang

Ada sedikit perbedaan nilai MOS yang diperoleh dari hasil percobaan sebelumnya (gambar 4.6) dengan nilai MOS yang diperoleh pada pengujian ini, di mana pada

14 Tingginya jumlah infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas sp ini kemungkinan karena bakteri ini telah berkoloni dengan lingkungan rumah sakit (seperti peralatan medis, udara

Ketidakstabilan tingkat ekspor sektor tambang di PT Bursa Efek Indonesia yang terus mengalami penurunan berturut-turut dari tahun 2012-2016 dapat menyebabkan dampak negatif