• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Politik dan Demokrasi Bangsa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendidikan Politik dan Demokrasi Bangsa"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Pendidikan Politik dan Demokrasi Bangsa Demokrasi dan Politik Desentralisasi

Dosen Pengampu : Dr. Nasiwan, M.Si

Disusun Oleh : Siti Handayani 15416241042

Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial

(2)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara Demokrasi yang menjunjung tinggi hak setiap warga negaranya di depan hukum. Setiap 5 tahun sekali Indonesia mengadakan pesta demokrasi atau pemilu, untuk memilih pemimpin baru. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pertama kali dilaksanakan secara langsung pada tahun 2004. Diman amasyarakat Indonesia dapat menggunakan hak pilihnya secara langsung, bebas dan jujur. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat yang menyelenggarakan dan mengantur pelaksanaan pemilu. Disisi lain adanya politik desentralisasi namun hanya menyentuh birokrasi. Dapat kita lihat saat pemilihan ada masalah seperti kekurangan surat suara maka harus menunggung dari pusat padahal ada Komisi Pemilihan Umum tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota.

Untuk lebih lanjut akan di bahas dalam makalah ini. B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pelaksanaan Demokrasi di Indonesia ? 2. Bagaiman keadaan ruang publik ?

3. Bagaimana pelaksanaan pendidikan politik dan demokrasi ? C. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 2. Untuk mengetahui bagaiman keadaan ruang publik

3. Bagaimana pelaksanaan pendidikan politik dan demokrasi

D. Manfaat

(3)

Memberikan pengetahuan mengenai demokrasi di Indonesia 2. Bagi pemerintah

Memberikan masukan mengenai penyelenggaraan pemilu

(4)

A. Demokrasi

Dalam negara yang menerapkan demokrasi sebagai prinsip penyelenggaraan pemerintah, pemilu merupakan media bagi rakyat untuk menyatakan kedaulatannya. Secara ideal, pemilu atau general election bertujuan agar terselenggara perubahan kekuasaan pemerintah secara teratur dan damai sesuai dengan mekanisme yang dijamin oleh konstitusi. Dengan demikian, pemilu menjadi prasyaratan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat secara demokratis sehingga melalui pemilu sebenarnya rakyat sebagai pemegang kedaulatan akan :

a. Pertama: mempengaruhi kontak sosial b. Kedua : memilih pemerintahan baru

c. Ketiga : menaruh harapan baru dengan adanya pemerintah baru

Istilah kontrak umumnya dikenal dalam ilmu hukum dan ekonomi yang mengandung makna sebagai perjanjian antara dua pihak atau lebih yang setara, makna perjanjian antara kedua pihak atau lebih , dimana kedua belah pihak menyepakati sejumlah persyaratan yang mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Dalam kajian Ilmu Politik, istilah kontrak digunakan oleh J.J Rousseau ( kontrak sosial) untuk menyebutkan konsep negara yang dilandasi perjanjian antara pemerintah dan yang diperintah.

(5)

Sebagai konsekuensi dari kontrak sosial yang baru tersenut, maka akan terbentuk pemerintahan baru yang terdiri dari mereka yang terpilih dalam pemilu. Pemerintahan baru inilah yang kemudian akan bekerja sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dalam pemilu. Sebagai suatu kontrak, idealnya rakyat telah mengetahui isi dari kontrak tersebut sehingga bersedia mengikatkan diri dengan pihak lainnya. Karenanya, transparasi selama proses menjadi nilai prinsipil yang tidak mungkin diabaikan. Kejelasan ideologi, tujuan, program, serta cara partai politik atau kandidat melaksanakan program tersebut untuk mencapai tujuan menjadi elemen-elemen penting yang harus diketahui selama proses kampanye berlangsung.

Rotasi kekuasaan yang tercermin dari terbentuknya pemerintahan baru akan membawa harapan baru bagi rakyat, yakni harapan bahwa penyelenggaraan pemerintah akan lebih berpihak pada rakyat sebagaimana telah disepakati dalam kontrak sosial. Karena didasari oleh suatu kontrak, maka asumsinya kedua belah pihak saling percaya sehingga terbentuknya pemerintahan baru ini akan memperoleh legitimasi politik dalam bentuk kepercayaan sebagian besar rakyat. Legitimasi politik ini diperluhkan selama masa pemerintahannya untuk menjalankan program-program yang telah disepakati dalam kontrak. Di sisi lain, legitimasi politik yang diperoleh akan menjadi dasar yang kuat untuk membangkitkan dukungan dan komitmen seluruh komponen negara dan masyarakat.

(6)

Pemungutan Suara (TPS), tetapi lebih jauh lagi, pemilu hanyalah awal dari terbentuknya hubungan penguasa dengan pemegang kedaulatan yakni rakyat.

Sehingga rakyat sangat berperan dalam menentukan pemerintahan yang baru, karena satu suara rakyat dapat memberikan harapan baru pada pemerintah baru. Tidak seharusnya kita sebagai rakyat menjadi golongan putih (Golput) tidak memberikan suara atau tidak menggunakan hak pilihnya. Pemerintah juga memberikan kemudahan bagi warga negara untuk menggunakan pilihnya yaitu pada saat hari pemilu dijadikan libur agar semua warga bisa mencoblos, kemudian diberikan izin untuk mencoblos jika tidak dalam pemilu serentak misal pemilihan kepala desa itu tidak sama se Indonesia sehingga daerah yang baru ada pemilihan kepala desa warganya diberikan izin untuk mencoblos, bahkan banyak TPS-TPS di Indonesia yang mendesain TPS semenarik mungkin agar menarik warga untuk mencoblos, sampai-sampai TPS di beberapa daerah membagikan sembako, hadiah bagi warga yang sudah mencoblos

Pemilu yang diadakan setiap 5 tahun sekali ini menjadi ajang demokrasi bagi warga Negara Indonesia. Dimana setiap warga Negara Indonesia yang sudah berumur 17 tahun berhak untuk megikuti pemilu. Pemilu menjadi bagian dari interaksi sosial masyarakat bahkan pemilu sebagai bentuk rekayasa sosial, mkasudnya bagaimana ? istilah “rekayasa sosial atau sociial engineering) seringkali dipandang negatif karena lebih banyak digunakan untuk menunjukan perilaku yang manipulatif. Padahal, secara konseptual istilah “rekayasa sosial” adalah suatu konsep yang netral yang mengandung makna upaya mendesain suatu perubahan sosial sehingga efek yang diperoleh dari perubahan tersebut dapat diarahkan dan diantisipasi.

(7)

kekuasaan, namun juga sebagai media untuk pendidikan politik dimana para pihak yang terlibat belajar untuk mengaplikasikan nilai-nilai demokrasi.

Nilai-nilai demokrasi antara lain menghendaki adanya desentralisasi atau pemencaran kekuasaan dalam segenap aspek kehidupan. Desentralisasi mengandung makna yang luas, bukan hanya dalam hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, namun juga hubungan antara pemerintah dengan yang diperintah.

Desentralisasi menghendaki agar kekuasaan didistribusikan sehingga pelaksanaan suatu urusan dapat menjadi lebih efektif, efisien dan responsif. Tetapi dalam prakteknya desentralisasi ternyata hanya menyentuh level birokrasi pemerintah karena kenyataanya dalam pemilu 2004 ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu justru berperilaku sentralistik. Strategi KPU dalam menangani persoalan-persoalan teknis penyelenggaraan pemilu cenderung sentralistik, misalnya soal pencetakan kertas pemilu, kotak suara, dan logistik pemilu masih dikelola secara terpusat oleh KPU Pusat.

Padahal urusan-urusan teknis semacam ani akan lebih muda diselenggarakan kalau KPU Pusat mau mendestralisasikan urusan-urusan tersenut kepada KPU Provinsi dan KPU Kbupaten/Kota.

KPU Pusat tetap berperan dalam menentukan standar kualitasnya sehingga produk yang digunakan tetap otentik. Yang namanya autentik tidak harus dipahami sama dengan dicetak dari Jakarta tetapi memenuhi standar yang ditetapkan.

(8)

teknis mengalami kendala, seperti terlambat tiba di daerah atau jumlah yang kurang dalam permintaan daerah. Pemilu seyogianya mengkondisikan seluruh pihak yang terlibat untuk belajar berbagai peran sehingga tidak semuanya harus berpusat pada salah satu aktor atau satu lokus (pusat).

Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa keperluan pemilu masih ditangani oleh pusat yang berada di Jakarta, sehingga saat ada desentralisasi hanya sampai birokrasi. Disisi lain masih identik dalam penyelenggaraan pemilu semua dari pusat baik kertas, kotak dll seperti ada yang kurang saat tidak dari pusat yang menyediakan. Kemudian KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota sebagai tempat menghitung suara dan mencoblos sehingga saat ada kekurangan kertas suara maka harus menungguh pengiriman kertas suara dari pusat ini menganggu jalannya pemilu, belum lagi setiap daerah di Indonesia berbeda-beda aksesibilitasnya.

Pemerintah perluh ada perubahan sehingga dalam penyelenggaraan pemilu KPU Pusat bersama KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota dapat saling bekerja sama diman aada yang membuat kertas suara, ada yang menyedikan kotak suara dll.

(9)

Pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa pemilu belum diarahkan untuk kepentingan rekayasa sosial dan lebih sebagai alat legitimasi politik. Sehingga rasanya tidak berlebihan jika Pemilu 2004 bisa lebih berperan sebagai rekayasa sosial yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Berbagai peraturan dan praktik penyelenggaraan Pemilu 2004 seharusnya didesain untuk semakin mendewasakan seluruh komponen bangsa dan negara sehingga masing-masing mengetahui perannya.

Inilah langkah awal yang harus dilakukan untuk mengkondisikan elite dan massa untuk berperilaku lebih demokratis. Pemilu 2004 bukanlah projek segelintir elite, tetapi projek besar seluruh rakyat Indonesia. Sudah saatnya pengelolaan seluruh kegiatan Pemilu 2004 didasarkan pada prinsip kemitraan sehingga tidak ada salah satu pihak yang dominan. Dengan prinsip kemitraan ini, rakyat dilevel grass root maupun institusi-institusi di level lokal dapat berperan lebih signifikan dan proaktif. Karenanya, marilah mengembalikan pemilu pada rakyat agar Pemilu 2004 tidak menjadi langkah mundur bagi pelembagaan demokrasi.

(10)

Berdirinya suatu negara dan terbentuknya suatu pemerintahan sebagai pelaksana negara didasari oleh tujuan untuk mencapai kesejahteraan bagi para warganya. Dalam rangka rangka mencapai tujuan inilah, demokrasindipandang sebagai suatu cara atau mekanisme yang paling baik dibandingkan mekanisme lainnya, seperti otoritarianisme, fasisme dan sejenisnya. Namun pada kenyataanya dari seluruh negara yang memilih untuk menerapkan demokrasi ternyata mengalami tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang sangat berbeda. Permasalahan-permasalahan seperti kemiskinan, pemerataan kemakmuran, korupsi, kesenjangan ekonomi, kesehatan yang buruk, lemahnya pendidikan dan lain-lain masih menjadi momok yang dialami negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang baru belajar menerapkan demokrasi.

Kebijakan politik, baik nasional maupun lokal masih mendistorsi upaya-upaya pemulihan ekonomi, padahal secara historis pengalaman negara-negara lain demokrasi justru mendorong pertumbuhan ekonomi ideal. Idealnya, demokrasi akan mengarahkan pada pencapaian kesejahteraan karena demokrasi akan memperluas akses publik untuk memperoleh barang-barang publik, seperti pertumbuhan ekonomi, peninhkatan pendapatan perkapita, perluasan kesempatan kerja,dll.

Namun yang terjadi sekarang sepertinya penerapan demokrasi di Indonesia belum menunjukkan keterkaitan dengan pencapaian kesejahteraan.

(11)

dijalankan baru sebatas elit dan parpol, belum sampai ke massa atau rakyat/warga, sehingga otonomi daerah cenderung oligarkhis pelaksanaanya.

Kondisi ini mengakibatkan akses rakyat/ warga terhadap pengambilan keputusan strategis, misalnya dalam penetapan APBN dan APBD hampir tidak ada. Artinya, rakyat masih tetap ada di pinggiran di dalam proses berpemerintah dan tetap menempati posisi marginal. Sementara dari dimensi perilaku aktor politik, orientasi para pelaku politik sekarang ini cenderung mengalami pergeseran dari yang semula didasari oleh orientasi ideologis menjadi sekedar orientasi pragmatis yakni untuk memperoleh kekuasaan dan menggunakannya untukkepentingan kelompoknya.

Penyelenggaraan pemerintah cenderung terpaku pada konsep-konsep dan paradigma ala Barat, yang tanpa disadari bermuatan jebakan “neoliberalisme”. Di Jawa Barat misalnya penerapan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) sebagai indikator makro keberhasilan kinerja politik pemerintahan, dan pembangunan terlalu simplistis dan tidak kritis dasar teoretiknya sebagai argumentasi

Pemilihan kebijakan tersebut, sehingga tanpa disadari politik lokal dan ekonomi politik di tingkat lokal JAWA Barat masuk kedalam perangkap pemikiran neoliberalisme.

(12)

kinerja politik dan ekonomi bukan tujuan itu sendiri. Kesejahteraan dan keadilan sosial adalah tujuan setiap kebijakan politik dan ekonomi bagi suatu negara dan daerah.

Dominasi elit dalam penyelenggaraan pemerintah ini juga dapat dilihat dari argumen-argumen legal-formal ketika merespon tuntutan penerapan mekanisme pemilihan penjabt publik secara langsung. Munculnya alternatif pemilihan kepala daerah semi langsung disikapi oleh DPRD secara konservatif, legal, formal, dengan alasan belum ada landasan hukumnya, padahal bisa saja dengan Perda sebagai bentuk kesepakatan politik selama secara substantif tidak bertentangan dengan UU.

Keterbatasan peran masyarakat dalam dinamika politik lokal tampak dari proses pemilihan para penjabat publik. Pemilihan anggota DPRD berlangsung dalam sistem proposional dimana para calon ditentukan oleh dewan pimpinan partai sementara proses pemilihan kepala daerah didominasi oleh peran DPRD. Dalam kedua proses politik ini saja sudah terindikasi sempitnya ruang publik bagi partisipasi masyarakat, padahal desentralisasi juga mengandung dimensi politik yang mensyaratkan adanya keterlibatan rakyatbdalam seluruh proses pemerintahan.

(13)

mengenai relevansi pemilihan kepala daerah secara langsung dengan penguatandemokrasi ditingkat lokal.

UU No. 22 Tahun 1999 membawa perubahan yang cukup signifikan dalam mekanisme maupun substansi pemilihan kepala daerah. Secara prosedural, pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD, mulai tahap pencalonan sampai dengan penetapan. Proses pemilihan kepala daerah dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara secara langsung dengan ketentuan one man one vote (setiapanggota DPRD dapat memberikan suara pada satu pasang calon kepala daerah dan wakil kepala daerah). Pemerintah pusat, dalam hal ini presiden hanya berperan dalam pengesahan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang telah ditetapkan oleh DPRD.

Secara substansial mekanisme semacam ini memberikan kewenangan politik yang lebih besar bagi masyarakat di daerah untuk menentukan siapa yang akan menjadi kepala daerahnya.

Pemilihan kepala daerah secara langsung peluang demokratisasi, maksudnya esensi demokratisasi adalah partisipasi publik dalam menentukkan pejabat-pejabat politik dan dalam pembuatan kebijakan publik. Dalam pandangan Rosseau, demokrasi tanpa partisipasi langsung oleh rakyat merupakan bentuk pengingkaran terhadap demokrasi itu sendiri.

(14)

Pertama pemilihan langsung diperluhkan untuk memutus oligarkhi partai yang mewarnai pola pengorganisasian partai pilitik di DPRD. Kepentingan partai dan bahkan kepentingan elit partai seringkali dimanipulasi sebagai kepentingan kolektif masyarakat. Dengan demikian, pemilihan secara langsung bagi kepala daerah diperluhkan untuk memutus distorsi dan politisasi aspirasi publik yang cenderung dilakukan partai dan para politisi partai jika kepala daerah dipilih secara elitis ileh DPRD.

Kedua, pemilihan kepala daerah secara langsung dapat meningkatkan kualitas akuntabilitas para elit politik lokal, termasuk kepala-kepala daerah. Mekanisme pemilihan kepala daerah secara perwakilan cenderung menciptakan ketergantungan berlebihan kepada kepada daerah di DPRD.

Akibatnya, kepala daerah lebih bertanggung jawab kepada DPRD daripada kepada publik. Pola hubungan kepala daerah dan DPRD yang lebih condong pada DPRD inilah yang kemudian mengarahkan pada praktik politik uang dan kolusi, baik dalam proses pemilihan kepala daerah maupun dalam proses penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).

(15)

Keempat, pemilihan secara langsung lebih meningkatkan kualitas keterwakilan karena masyarakat dapat menentukan pemimpinnya ditingkat lokal. Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat secara langsung dalam proses seleksi kepemimpinan lokal yang transparan akan menambah legitimasi dari proses pemilihan tersebut sehingga pemimpin yang lahir dari proses seleksi yang legitim akan memperoleh legitimasi politik dimata publik.

Sehingga pemilihan kepala daerah secara langsung jauh lebih baik daripada melalui perwakilan karena dapat dengan mudah terjadinya politik uang untuk melanggengkan kekuasaan para anggota DPRD. Sebagai warga negara yang baik maka harus mengikuti peraturan yang ada seperti menggunakan hak pilihnya dan tidak menerima uang agar memilih calon kepala daerah yang memberi uang.

Jadilah warga negara yang memberikan perubahan bagi negara nya melalui berbagai cara salah satunya menaati peraturan karena Negara Indonesia merupakan negara hukum yang setiap kegiatan selalu ada aturan yang harus ditaati. Dan menjadi warga negara yang bersedia memberikan saran, kritik terhadap hasil kerja kepala daerah agar kepala daerah bertanggung jawab atas amanah yang telah di embannya

B. Ruang publik

(16)

Sementara itu sisanya adalah lanjutan dari perjalanan reformasi yang rangkaiannya dimulai 1998/1999 yang lalu. Ada baiknya bila kita bersyukur. Persoalan berat pasca rezim Soeharto berhasil kita lampaui dengan baik. Saat ini banyak orang pesimis dengan beberapa agenda demokrasi, seperti potensi konflik dalam pilkada, penyelenggaraan pilkada pertama di Aceh yang diduga akan membahayakan posisi NKRI, sementara itu TNI akan pasang kuda-kuda untuk mengambil alih. Tapi nyatanya, konflik yang diperkirakan itu nihil adanya. Banten dan Aceh sukses memilih sepasang pemimpinnya, tanpa gejolak.

Persoalah fundamental berupa tuntutan akan reformasi birokrasi pemerintahan semakin kuat dan tegas. Demikian pulandengan sektor hukum. Penegakan hukum, pemberantasan KKN, perluasan ruang publik, intelijen negara, sampai sejauh manapun intervensi negara dalam kehidupan privat adalah sejumlah isu yang berkembang sepanjang tahun ini.

Reformasi memang sebuah momentum yang tidak mudah berulang, namun pelembagaan demokrasi sebagai tindak lanjut dari proses reformasi asdalah proses yang tidak berkesudahan. Apakah selama sepuluh tahun kedepan akan ada perkembangan signifikan dalam demokratisasi atau sebaliknya nanti demokrasi kehilangan popularitasnya, apakah prakondisi yang diperluhkan untuk menjaga agar reformasi tetap berjalan di atas “rel demokrasi” bagaimana proyeksi Indonesia sepuluh tahun kedepan : stagna, maju, atau bahka kembali ke era demokrasi semu.

Demokrasi di Indonesia saat ini sedang berkembang sehingga masih belum maksimal dalam menjalankannya. Pasca rezim Soeharto runtuh disinilah demokrasi mulai berkembang. Rakyat memiliki hak untuk memilih bahwa kedudukan tertinggi berada di tangan rakyat.

(17)

indikator dalam mengetahui tingkat pembangunan, ekonomi dan hasil kerja para pemimpin. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) seperti kebarat-baratan dimana alat ukut untuk mengetahui tingkat keberhasilan menggunakan sedikit aspek padahal banyak aspek yang berpengaruh.

Sebagai cerminan kondisi didalam negeri, politik luar negeri Indonesia pun masih menghadapi sejumlah persoalan. Politik luar negeri eksklusif terpisah dari yang lain. Pengelolaan politik luar negeri terpisah dari departemen lainnya, mengindikasikan ketiadaan koordinasi antar sektor. Upaya diplomasi belum diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan krusial dalam negeri. Kasus aceh menjadi contoh buruknya kinerja diplomasi politik luat negeri Indonesia. Banyaknya kunjungan Presiden ke luar negeri untuk mencari investasi asing juga dipandang belum berpengaruh secara signifikan terhadap perbaikan ekonomi dalam negeri.

Politik luar negeri Indonesia dimasa mendatang seyogianya diarahkan untuk membangun citra positif Indonesia dimata dunia, sehingga seharusnya ada keterkaitan antardepartemen. Kemiskinan dan pengangguran menjadi dua indikator lemahnya kinerja pembangunan, baik ditingkat nasional maupun daerah. Pertumbuhan ekonomi memang meningkat namun belum diimbangi pemerataan.

Laju pertumbuhan ekonomi pun masih didominasi oleh konsumsi, bukan oleh peningkatan kapasitas produksi. Meningkatnya upah minimum regional diprediksi akan menambah jumlah pengagngguran karena tidak disertai dengan peningkatan kemampuan perusahaa. Investasi memang mengalami peningkatan, namun masih bersifat fluktuaktif sehingga pertumbuhan ekonomi secra rill masih belum stabil .

(18)

posisi Polri dalam kelembagaan negara, praktik kekerasan polisi intelejen Polri, anggaran Polri serta hubungan Polri dengan pemerintah daerah terkait fundi satpol ppl dan linmasmerupakan isu-isu yang belum tuntas dibahas dalam kaitanya dengan reformasi sektor keamanan. Demikian pula di sektor pertahanan negara sekalipun jumlah UU telah lahir membawa “wajah baru” TNI, namun sejumlah persoalan internal maupun eksternal di tubuh TNI, seperti anggaran pertahana, alutsista, postur TNI, struktur teritorial dal lain-lain masih menghambat lancarnya reformasi TNI.

Namun angin segar masih berhembus dalam perjalanan reformasi publik Indonesia. Pilkada langsung yang dikhawatirkan akan memicu konflik horisontal ternyata bisa berlangsung damai bahkan di sejumlah daerah yang rawan konflik seperti Aceh dan Banten. Di luar dugaan masyarakat ternyata mampu memilih sesuai dengan hati nuraninya. Terpilihnya calon yang independen sebagai Gubenur Aceh membuktikan bahwa masyarakat ternyata mampu memilih sesuai hati nuraninya.

Sebagai contoh hasil penelitian dari Dr. Nasiwan, M.Si mengenai

(19)

administrasi, yang tidak memiliki pengaruh yang serius pada hasil Pilkada. Selama berlangsungnya proses Pilkada semenjak masa persiapan, masa kampanye, sampai hari pencoblosan tidak ditemukan pelanggaran yang bersifat pidana yang berakibat adanya korban nyawa ataupun berakibat dibatalkannya hasil Pilkada. Sekalipun ada perselisihan pada akhirnya dapat diselesaikan dengan cara damai dengan bantuan pihak keamanan dibantu kesiapan KPUD Kota Yogyakarta dalam mengantisipasi persoalan-persoalan yang muncul di lapangan.

Ketiga, arah demokratisasi elit lokal Kota Yogyakarta pada Pilkada 2006 di satu sisi menghadapi kendala-kendala serius serta di sisi lain memiliki potensi untuk berkembang. Dari penelitian ini ditemukan bahwa masyarakat belum memiliki keberanian untuk mengungkap secara transparan berbagai penyimpangan terkait dengan pelaksanaan kampanye yang diindikasikasikan melibatkan politik uang. Karena tidak ada pihak dari masyarakat yang berani mengungkap adanya politik uang dalam kampanye Pilkada, maka secara formal di atas kertas Pilkada diakui syah tetapi dibawah permukaan masih ada aspirasi yang tidak tersampaikan. Haltersebut dikuatkan dengan adanya protes dari salah satu saksi dari Koalisi Merah Putih (KMP) yang tidak bersedia menandatangani pengesahan hasil Pilkada Kota 2006. Diluar berbagai kendala sebagaimana telah dikemukakan demokratisasi elit di Kota Yogyakarta juga memiliki potensi untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Potensi tersebut antara lain sikap untuk mau menghormati aturan main, adanya komitmen untuk melakukan Pilkada secara damai, tidak melakukan kampanye hitam, serta sikap elit politik lokal Yogyakarta yang secara umum

(20)

(distrust) publik pemilih kepada elit politik lokal yang mencalonkan diri sebagai Walikota Yogyakarta.

Karena tidak mengherankan bila kebijakan publik yang lahir sangat sedikit merefleksikan keberpihakan terhadap publik atau masyarakat umum. Perencanaan pembangunan disusun dengan skema proyek. Tidak ada jaminan akankeberlanjutan suatu kegiatan. Orientasi penganggaran lebih banyak untuk pembiayaan birokrasi. Ancaman pemberantasan korupsi tidak menimbulkan rasa jera, justru memacu lahirnya “kelihaian-kelihaian” yang lebih canggih untuk memanipulasi pengadaan barang dan jasa publik. Akibatnya pembangunan mengalami perlambatan. Masyarakat kembali menjadi pihak yang dirugikan.

Memperluas ruang publik , segala keluh kesah dan permasalahan tersebut sebenarnya bisa diminmalkan bila masyarakat dilibatkan sejak awal dalam pemerintahan dan pembangunan sehingga prasangka negatif dapat di kurangi. Ruang-ruang publik sesungguhnya dibangun untuk mentrasformasikan peran sebagai “complainer” menjadi “participator”. Pihak yang semula hanya bisa berkeluh kesah terhadap kinerja pemerintah ketika dilibatkan akan memiliki rasa tanggung jawab untuk mendukung keberhasilan pemerintah . akan muncul keinginan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru yang selanjutnya akan memperbaiki tata kelola pemerintahan.

partisipasi tidak harus secra formla direfleksikan dalam bentuk kehadiran fisik dalam rapat-rapat yang diselenggarakan oleh lembaga organisasi kemasyarakatan, melalui lembaga pendidikan, melalui diskusi-diskusi kritis dan lain-lain. Banyak cara untuk memperluas ruang publik agar partisipasi menjadi lebih bermakna.

Ruang publik memiliki arti dalam penyelenggaraan demokrasi karena dalam ruang publik mudah untuk diakses masyarakat dan di dalam ruang publik banyak kegiatan yag memperkaya pemahaman kita mengena apa yang sedang terjadi di demokrasi saat ini.

(21)

publik. Dapat melatih skill keberanian dan berbicara di depan umum bukankah demokrasi bukan hanya soal pemilu, itu terlalu sempit. Berani mengungkapkan pendapat juga merupakan bagian dari demokrasi di Indonesia. Praktik politik di Indonesia kini membuktikan bahwa mekanisme pemilu atau pilkada lima tahun tidak cukup ampuh untuk “memaksa” para elit menepati jani-janjinya. Namun bukan berarti mekaisme ini tidak diperuhkan lagi sebagai media rekrumen dan seleksi kepemimpinan politik, mekanisme yang berlaku sekarang jauh lebih demokratis dibandingkan masa lalu. Manum perluh adanya alternatif untuk mengatasi kelemahan-kelemahan mekanisme demokrasi perwakilah.

Kapasitas partai politik perluh ditingkatkan agar benar-benar berfungsi sebagai instrumen antar patai perluh terus dikembangkan agar stabilitas dan tertib politik terjaga. Pencerahan politik bagi masyarakat perluh di lakukan secara dini dan kontintu agar perilaku politik semakin rasional. Singapura dan Malaysia betapapun makmurnya, tidak ada apa-apanya dengan demokrasi kita. Tapi itulah ironisnya di Indonesia. Di satu sisi demokratis, disisi lain seolah belum bersibak peluang bagi pemakmuran rakyat segera. Tampaknya inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di tahun-tahun mendatang, bagaimana mensinergikan pertumbuhan demokrasi dengan pertumbuhan kesejahteraan.

Pemilihan umum yang diadakan 5 tahun sekali, membuat masyarakat Indonesia bertambah jumlah premilih dininya, dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang banyak dan bertambah setiap tahunnya menjadikan jumlah pemilih meningkat setiap tahunnya. Bisa di bayangkan betapa banyaknya jumlah pemilih dini pada 5 tahun sekali.

(22)

simbolik, ikatan yang menyatuhkan mereka dengan pengikut, citra mereka, karakteristik sosial dan pemilihan, kita akan menutup pembahasan “siapa” yang akan memperkenalkan tiga bidang ketidakpastian dalam kegiatan komunikator politik.

Yang pertama berurusan dengan masalah profesionalisme. Beberapa orang sarjana dalam tahun-tahun terakhir ini bertambah khawatir bahwa komunikator politik telah meninggalkan klien, pemilih dan khalayak, mereka disebabkan oleh kesetiaan kepada nilai-nilai impersonal dan profesional, Disini ada pradoks, sebab profesionalisme jawatan pemerintah politik dan industri komunikasi telah lama menjadi tujuan reformer politik dan banyak pendidik administrasi publik , jurnalisme, hubungan masyarakat dan periklanan. Alasan fundamental mereka ialah bahwa profesionalisme mendukung pemerintah lebih bai dengan menekankan pada teknik-teknik intelektual, penerapan keseluruhan pengetahuan secara sistematis, pertanggung jawaban pribadi profesional terhadap penilaian dan rindakan, tekanan pada pelayanan dan bukan pada keuntungan ekonomis, pribadi dan standar etika yang jelas untuk mengukur prestasi.

Bahwa telah ada profesionalisasi yang tampak dalam komunikasi politik, ternyata dari banyak studi yang menetapkan ktiteria profesionalisme dan menerapkan mereka pada prestasi politikus yang berpraktek, administrator pemerintah, jurnalis, orang-orang dari hubungan masyarakat dan sebagainya.

(23)

satunya saat anggota DPRD dapat memberikan hasil kerja yang baik dan memberikan perubahan yang signifikan. Maka akan mudah untuk dapat terpilih kembali pada pemilu berikutnya karena sudah dapat untuk memikat hati masyarakat dengan hasil kerjanya.

Berbeda dengan anggota DPRD yang belum menunjukkan progres dari hasil kerjanya, mungkin tidak akan mengikuti pemilu selanjutnya karena sudah merasa bahwa hasil kerjanya kurang bagus dan kurang sesuai dengan keinginan masyarakat. Tidak sulit untuk dapat mempertahankan kekuasaan salah satunya cukup memberikan hasil kerja yang dapat bermanfaat bagi masyarakat, kepentingan umum. Saat hati masyarakat sudah terpikat maka akan mudah untuk mendapatkan suara di pemilu.

C. Pelaksanaan Pendidikan Politik dan Demokrasi

(24)

Indonesia merupakan Negara Demokrasi, melalui musyawara salah satunya. Pada saat berbicar pemilu sebenarnya apa yang istimewa ? mencoblos atau memasukan jari kelingking pada tinta sebagai wujud telah mencoblos.

Perluh adanya pendidikan politik dan demokrasi kepada masyarakat secara langsung. Saat ini di sekolah-sekolah sudah ada pengenalan mengenail politik dan demokrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, namun itu kebanyakan teori dan prakteknya masih sedikit.

Pendidikan politik dan demokrasi penting dilaksanakan kepada masyarakat untuk memperkenalkan bagaimana itu politik, bagaimana itu demokrasi, apakah harus saling membenci jika berbeda mengenai siapa yang dipilih. Masyarakat Indonesia yang identik dengan murah senyum, bersahaja namun tiba-tiba menjadi bermusuhan karena pemilu sebagai contoh 2 orang yang bertentang dapat menjadi musuh karena berbeda mengenai siapa yang dipilih dan berusaha mengajak orang untuk ikut memilih yang dipilih.

Ini kan mengagnggu keamanan dan kenyamanan dalam hidup bertentangga. Inilah yang harus di tanamkan kepada masyarakat mengenai bagaimana sikap yang baik saat berpolitik. Agar kehidupan bernegara tetap terjaga walau berbeda-beda kepentingan.

Pelaksanaan pendidikan politik dan demokrasi dapat di mulai dari : 1. Keluarga

(25)

2. Tempat tinggal/ Dusun

Melalui acara perkumpulan masyarakat dusun seperti saat arisan, saat senam pagi karena banyak warga yang datang. Berikan pengetahuan dengan cara melalui alat peraga karena masyarakat dusun berbeda-beda usianya. Masyarakat yang berusi lanjut tidak suka banyak mendengarkan lenbih mudah paham saat melihatnya langsung contoh saat akan memberiakn pendapat dapat dengan menunjukan jari tangan atau menyebutkan nama dan kemudian berpendapat

3. Tingkat Desa/ Kelurahan

Melalui perwakilahpak Dukuh, RT/RW setempat sebagai sasaran dalam memberikan pengetahuan. Karyawan-karyawan juga perluh diberikan pembinaan agar dapat memaknai apai itu politik dan apa itu demokrasi

4. Tingkat Kabupaten/ Kota

Dengan sosialisai kepada masyarakat sekitar yang mendapat undangan. 5. Tingkat Provinsi

Sosialisai lebih kepada toko-toko umum yang di kenal masyarakat 6. Tingkat Nasional

(26)

Dengan tingkat sosialisasi secara bertahap diharapkan pendidikan politik dan demokrasi bukan hanya sekedar teori namun juga ada wujud dari contoh pelaksanaannya .

Karena sasaran dari pendidikan politik dan demokrasi adalah : 1. Anak-anak SD

2. Anak-anak SMP

3. Anak-anak SMA/ Sederajat 4. Mahasiswa

5. Masyarakat umum

Dengan berbeda-bedanya karakteristik sasaran makan metode yang digunakan juga berbeda-beda agar tepat dan sesuai sasaran.

Metode penyampaian yang salah dapat berpengaruh terhadap pandangan masyarakat, sebagai contoh sasarannya orang tua atai kakek-kakek dan nenek-nenek menggunakan metode ceramah berjam-jam jelas saja sasaran tidak akan paham kalau pun paham hanya sedikit, usia tua merupakan usia yang tidak tahan untuk banyak mendengarkan lebih dari 1 jam.

(27)

Saat pendidikan politik dan demokrasi sudah mulai ditanamkan sejakdini maka akan sangat mudah untuk menyerap nilai-nilai yang ada dalam politik dan demokrasi. Saat seseorang atau masyarakat paham mengenai politik dan demokrasi dan dapat memahani maknanya maka akan timbul rasa ingin tahun mengenai politik seperti saat pemimpin daerah memberikan hasil kerja yang biik maka jika mencalonkan lagi dalam pemilu berikutnya pasti akan menang. Perasaan seperti itu akan menarik dan membuat kita ingin tahu lagi dan lagi.

Pelaksanaan pendidikan politik perluh mendapat dukungan dari beberapa pihak dan elemen, diantaranya

1. Di lingkung keluarga

Terdapat dukungan dan peran orang tua, saudara, teman 2. Di lingkungan tempat tinggal / Dusun

Perluh mendapat dukungan dari RT/RW, Kepala Dusun, anggota masyarakat 3. Di lingkungan kelurahan/desa

(28)

Perluh mendapat dukungan dari jajaran karyawan dan pegawai 5. Di lingkunga Provinsi

Perluh mendapat dukungan dari Gubenur dan perangkat serta sarana dan prasarana 6. Di lingkunga Nasional

Perluh mendapatkan dukungan dari Presiden dan Wakil Presiden beserta menteri dan star jajarannya

Jika semua sudah terlaksana maka akan berakhir dengan tujuan yang ingin di capai. Tidak ada usaha yang sia-sia, maka jangan berputus asa. Gunakan hak pilih dan menjadi bagian dari perubahan Bangsa Indonesia.

(29)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Demokrasi menjadi bagian terpenting dalam Bangsa Indonesia karena Bangsa Indonesia merupakan Negara Demokrasi. Penggunaan hak pilih menentukan perubahan dengan adnya pemimpin baru. Melalui pendidikan politik dan demokrasi warga negara diharapkan mampu memiliki pemahaman mengenai politik dan demokrasi.

B. Saran

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Mariana, Dede.2008. demokrasi dan politik desentralisasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nimmo, Dan. 2011. Komunikasi politik, komunikkator, pesan, dan media. Bandung: PT Remaja Rosadakarya.

Penelitian. Nasiwan. 2007. Demokrasi elit lokal pada pilkada 2006 di kota yogyakarta: UNY

(31)

Referensi

Dokumen terkait

Sistem Informasi Warga Belajar dan Tenaga Pendidik pada PKBM Sinar Harapan Bangsa berbasis web secara online diperlukan sebagai system yang memberikan kemudahan

Pendidikan politik Amin Rais yang sangat dikenang dan di kenal masyarakat adalah beliau termasuk salah satu Tokoh Reformasi bangsa, yang menginginkan Rakyat Indonesia

Terhadap masyarakat/warga negara yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak harus

Ringkasnya jika dilihat dari perspektif Undang-Undang No 10 Tahun 2008 tentang pemilihan umum, sikap Golput atau sikap memilih untuk tidak memberikan suara dalam pemilu adalah

Kemampuan berlaba juga tidak efektif karena pelayanan dan kemudahan dalam proses pengajuan Kredit Usaha Rakyat kurang berjalan dengan baik karena memang

Hal ini berarti bahwa demokrasi tidak serta merta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi sebaliknya, demokrasi dapat menyengsarakan rakyat, oleh kareena

Dalam negara dengan sistem politik demokratik, perilaku politik warga negara diantaranya dalam bentuk partisipasinya dalam pemilihan umum, yaitu kegiatan memberikan suara

Menurut Dede Rosyada yang istilah demokrasi memang muncul dan dipakai dalam kajian politik, yang bermakna kekuasaan berada di tangan rakyat, mekanisme berdemokrasi dalam politik tidak