• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompregnasi Reaktif In-Situ Kayu Kelapa Sawit Dengan Resin Damar (Agathis dammara) dan Poliuretan Termodifikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kompregnasi Reaktif In-Situ Kayu Kelapa Sawit Dengan Resin Damar (Agathis dammara) dan Poliuretan Termodifikasi"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kayu kelapa sawit adalah kayu dengan kualitas mekanik sangat rendah, sehingga

kayu jenis ini tidak dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Penelitian kayu kelapa

sawit telah banyak dilakukan dari waktu ke waktu, para ahli telah mencoba berbagai

penelitian untuk memanfaatkan kayu kelapa sawit diantaranya dengan cara membuat

papan partikel dari kayu kelapa sawit, akan tetapi hasil penelitian tersebut kurang

efisien dan memerlukan teknologi yang mahal. Belakangan ini penelitian kayu

mengarah kepada impregnasi dan kompregnasi, karena pola ini akan membuat kayu

lebih kuat dan lebih cepat perlakuannya. Diantara peneliti yang telah mencoba dalam

berbagai sistem seperti yang dilakukan untuk membuat kayu terpadatkan mencapai

fiksasi yang permanen.Salah satunya adalah dengan metode heat treatment (HT)

yaitu pemadatan kayu dalam kondisi kering menggunakan suhu tinggi. Menurut

Inoue dan Norimoto (1991), fiksasi permanen pada proses pemadatan dengan

perlakuan panas dapat dicapai pada suhu 180 oC selama 20 jam, atau pada suhu 200

oC selama 5 jam, atau pada suhu 220 oC selama 3 jam. Namun akibat penggunaan

suhu tinggi dan lamanya waktu pemadatan mengakibatkan berkurangnya sifat

mekanis kayu seiring dengan kehilangan berat kayu.

Steam treatment (ST) merupakan penelitian lain yang digunakan untuk

mencapai fiksasi permanen. Pada metode ini, uap air panas bertekanan tinggi dari

boiler dimasukkan ke dalam autoclave yang dilengkapi dengan alat kempa tahan

panas (Inoue et al. 1993). Lebih lanjut Inoue et al. (1993) mengemukakan bahwa

dengan tekanan uap panas dalam autoclave sebesar 9-20 kg/cm2 maka fiksasi

permanen dapat terjadi pada suhu 180 oC selama 8 menit, atau pada suhu 200 oC

selama 1 menit. Demikian juga Ito et al. (1998) yang mengemukakan bahwa fiksasi

tercapai pada suhu 200 oC selama 3 menit, sedangkan Morsing (2000)

(2)

Dwianto et al. (1999), fiksasi tersebut disebabkan karena adanya pelepasan tegangan

(stress relaxation) akibat terdegradasinya komponen kimia kayu. Kelebihan dari

metode ini adalah fiksasi dapat dihasilkan dalam waktu singkat dan tidak banyak

mengurangi sifat mekanis kayu. Namun kelemahannya adalah membutuhkan

peralatan yang sangat mahal, seperti boiler, autoclave dan alat kempa tahan panas.

Pemanfaatan resin phenol formaldehide ke dalam KKS juga telah dilakukan

dengan variasi tekanan dan suhu dimana hasil penelitian menunjukkan ada interaksi

antara suhu dan tekanan terhadap keteguhan lentur statis (MoR) dan keuletan batang

kayu sawit (Abidin, 2009) tetapi hasil yang diperoleh juga kurang optimal disebabkan

proses yang dilakukan belum maksimal sehingga resin belum dapat berpenetrasi

secara menyeluruh ke dalam pori–pori KKS.

Metode impregnasi menggunakan bahan kimia juga telah dilakukan beberapa

peneliti untuk memperbaiki sifat mekanik kayu berkualitas rendah menjadi kayu

berkualitas tinggi seperti yang dilakukan oleh Mukama (1984). Dan menyatakan

dalam disertasinya bahwa reaksi secara in-situ yang terjadi pada kayu dengan

menggunakan beberapa bahan kimia reaktif dapat meningkatkan sifat mekanik kayu

dan sekaligus meningkatkan daya tahan kayu terhadap oksidasi sehingga

memperlambat terjadinya pelapukan kayu, tetapi penelitian ini tidak dapat

dimanfaatkan menjadi kayu industry karena banyaknya bahan kimia yang digunakan

sehingga memerlukan biaya tinggi untuk meproduksinya. Diikuti oleh peneliti lain

seperti Guanghoo He (2004) mempelajari kinetika pematangan dari reaksi reaktif

formaldehid dengan menggunakan katalis oktan dan menghasilkan reaksi cepat dari

gugus formaldehid dengan senyawa selulosa kayu, akan tetapi penelitian ini tidak

menjelaskan besarnya pori-pori dari kayu sehingga tidak dapat menunjukkan kualitas

kayu, keunggulan dari laporan ilmiah ini adalah luasnya penjelasan mengenai

perubahan energi yang dipelajari menggunakan DSC (Defrential Scanning

Calorimetry) dan menyimpulkan bahwa dengan reaksi cepat menggunakan

(3)

perubahan konsentrasi formaldehid yang digunakan. Mallon (2002) juga mempelajari

aktivasi kimia untuk membentuk ikatan kovalen pada kayu. Hill (1999) telah berhasil

membentuk polimerisasi (grafting) pada kayu menggunakan anhidrida metakrilat

dengan katalis piridin, akan tetapi penelitian ini tidak menghasilkan reaksi grafting

keseluruh komponen bahagian dalam kayu, dengan kata lain grafting polimerisasi

yang terjadi hanya pada permukaan kayu, sehingga hasil yang diperoleh tidak dapat

digunakan untuk berbagai keperluan. Dari beberapa penelitian ini menunjukkan

bahwa bahan kimia reaktif yang mampu bereaksi cepat dengan senyawa kayu adalah

salah satu cara yang sedehana untuk meningkatkan sifat-sifat dimensi kayu.

Perkembangan penelitian menggunakan monomer reaktif juga telah dimulai

diteliti, melalui beberapa literatur penggunaan monomer reaktif untuk terjadinya

polimerisasi pada kayu adalah cara yang sederhana dan memungkinkan untuk

memodifikasi kayu dengan sifat mekanik rendah menjadi kayu berkualitas mekanik

yang tinggi. Disisi lain penelitian poliurethane saat ini telah berkembang melalui

modifikasi senyawa alam dengan monomer isosianat, membentuk jaringan urethan,

bahan polimer ini telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan karena

keunggulannya dalam bereaksi secara kimia dengan senyawa lain, seperti yang

dilakukan oleh Carme core fihrer (2008), beliau telah mempelajari karakteristik

jaringan urethane yang terbentuk dari reaksi monomer toluena diisosianat dengan

berbagai vegetable oil dan menyimpulkan bahwa jaringan urethan dapat terbentuk

melalui reaksi gugus nitrogen yang dikandung isosianat dengan gugus hidroksil dari

vegetable oil. Juga Sandip (2003) telah mempelajari poliurethane adhesip

menggunakan poliol alam untuk pengikat kayu, dan menyatakan bahwa kayu yang

dihasilkan memiliki kekuatan mekaik yang sangat baik akan tetapi kekurangan

penelitian ini kayu yang digunakan adalah kayu yang bersifat keras dan termasuk

kayu golongan dua. Dari beberapa penelitian ini yang sangat menarik adalah banyak

bahan alam dapat digunakan untuk pembentukan jaringan polimer untuk

meningkatkan dimensi kayu. Basuki dan kawan kawan (2001) juga telah meneliti

(4)

perubahan sifat mekanik yang signifikan dan sifat thermal meningkat dengan

pertambahnya kosentrasi polipropilen, akan tetapi kekurangan penelitian ini

polipropilen yang ditambahkan tidak dapat meresap sampai kedalam celah-celah

KKS karena berat molekul poliprilen sangat besar sehingga tidak dapat masuk ke

dalam pori-pori KKS dan hanya terjadi reaksi dipermukaan kayu kelapa sawit. Hal ini

membuat penelitian tersebut tidak dapat dilanjutkan untuk sekala industri bagi

keperluan pertukangan.

Salah satu polimer yang banyak diperbincangkan adalah polyurethan, polimer

ini disintesis melalui reaksi polimersisasi poliol dan isosianat untuk pembentukan

jaringan urethane dan poliol yang sering digunakan adalah polietilen glikol dan

polipropilen glikol, karena poliol ini mudah bereaksi dengan isosinat membentuk

polyurethane dan keunggulan reaksi poliol dan isosianat ini adalah dapat membentuk

polyurethane adhesive, polyurethane thermoplastic atau polyurethane foam,

tergantung dari perbandingan konsentrasi isosianat dan poliol yang digunakan serta

suasana suhu reaksi yang digunakan (Sperling 1993), Dari keunggulan-keunggulan

tersebut maka polyurethane sangat banyak digunakan dalam berbagai keperluan.

Belakangan ini penelitian poliol alam juga telah banyak dilakukan para ahli

salah satu yang belum pesat perkembangannya adalah poliol menggunakan resin

pinus damar, resin ini merupakan salah satu resin alam yang sangat berlimpah di

sepanjang pulau sumatera, karena pohon kayu ini dapat tumbuh disepanjang

pegunungan bukit barisan. Resin damar ini adalah berupa getah yang dihasilkan dari

kayu agathis melalui metoda penyadapan. Resin ini sangat mudah meleleh pada suhu

diatas suhu kamar dan mudah bereaksi dengan monomer reaktif karena banyaknya

kandungan senyawa hidroksil yang dimilikinya, oleh karena itu dalam penelitian ini

akan dimanfaatkan untuk pengganti poliol dalam pembentukan jaringan urethane

pada kayu kelapa sawit.

Berdasarkan latar belakang ini, maka peneliti akan melakukan proses

(5)

resin alam dari pohon agathis damara sebagai pengganti poliol dan juga dilakukan

penggunaan resin sintetik termodifikasi melalui reaksi tolunena diisosianat dengan

polietilen glikol untuk membentuk poliurethane, Metode kompregnasi reaktif

merupakan proses pemasukan bahan kimia sebagai resin ke dalam kayu dengan

menggunakan tekanan tanpa merusak kayu, proses ini dilakukan dengan alat

kompregnator, resin diharapkan dapat mengisi sampai pada bagian dalam kayu

(Mulyono 2000), sedangkan proses impregnasi pemasukan bahan kimia resin

kedalam kayu tanpa menggunakan tekanan, sehingga resin hanya mampu mengisi

bagian permukaan dari kayu. Optimalisasi teknik kompregnasi reaktif dirancang pada

suhu leleh resin hasil modifikasi dengan mengatur tekanan dan waktu untuk

menghindari penggunaan pelarut organik yang banyak sehingga pembentukan

jaringan urethane pada kayu kelapa sawit akan sampai pada bahagian dalam kayu

tersebut, Jadi dengan teknik ini diharapkan akan menghasilkan KKS yang berkualitas

dan dapat diaplikasikan sebagai kayu pertukangan.

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian kompregnasi reaktif secara in situ KKS dengan resin pinus merkusi dan

poliurethan termodifikasi dibatasi pada rumusan masalah :

1. Apakah teknik kompregnasi yang didesain dapat digunakan untuk

meningkatkan kemampuan monomer-monomer masuk kedalam pori-pori

hingga ke sisi KKS yang paling dalam.

2. Apakah resin damar dan resin poliurethan dapat bereaksi dengan senyawa

yang ada pada KKS sehingga mampu meningkatkan sifat mekanik KKS.

3. Bagaimanakah optimalisasi kondisi operasi dengan variasi konsentrasi resin

dan suhu yang ditetapkan pada teknik kompregnasi reaktif KKS dengan resin

damar dan poliurethan termodifikasi, dan mengamati interaksi dan

karakterisasinya dengan bahan KKS hasil kompregnasi dengan uji mekanik,

(6)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Menghasilkan seperangkat peralatan kompregnasi dan mengembangkan metode

kompregnasi reaktif resin pinus markusii dan sintetis termodifikasi dengan KKS.

2. Mendapatkan informasi mengenai resin pinus markusii dan resin PEG yang

dimodifikasi dengan TDI menjadi polimer yang terkompregnasi pada KKS

3. Mendapatkan optimalisasi kondisi operasi dengan konsentrasi resin pada teknik

kompregnasi reaktif KKS dengan resin pinus merkusi dan sintetik termodifikasi,

dan mengetahui interaksi dan karakterisasinya dengan bahan KKS dengan uji

mekanik, kimia, fisika dan morfologi.

1.4.Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat:

1. Mendapatkan seperangkat peralatan kompregnasi dan mengembangkan metode

kompregnasi reaktif resin alam dan sintetik termodifikasi dengan KKS.

2. Memberikan informasi ilmiah mengenai resin damar dan resin sintetik PEG

yang dimodifikasi dengan TDI untuk dapat bereaksi dengan senyawa KKS

menjadi jaringan urethan pada KKS

3. Mendapatkan KKS yang lebih berkualitas dengan proses kompregnasi reaktif

pada kondisi optimal dan diharapkan dapat memperluas aplikasi KKS menjadi

substitusi kayu hutan alam untuk bahan kayu pertukangan serta dapat

mengembangkan teknologi pemanfaatan resin alam dan resin sintetik

modifikasi untuk meningkatkan kualitas kayu sehingga dapat memecahkan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil karakterisasi lignin dari kayu kelapa sawit melalui FT-IR menunjukkan bilangan gelombang pada daerah serapan 3448,72 cm -1 yang merupakan serapan gugus fungsi OH..

Siburian : Impregnasi kayu kelapa sawit dengan poliblen polipropilena/karet alam dan asam akrilat, 2001 USU e-Repository © 2008.. Siburian : Impregnasi kayu kelapa sawit

Sukatik : Imregnasi kayu kelapa sawit dengan polipropilena bekas yang dimodifikasi dengan asam akrilat, 2001 USU e-Repository © 2008... Sukatik : Imregnasi kayu kelapa sawit

Monomer stirena yang terimpregnasi ke dalam pori-pori kayu kelapa sawit diharapkan akan mengalami polimerisasi 8 sehingga membentuk jaringan yang permanen di dalam

Penelitian terhadap fenomena pembakaran spontan (spontaneuse combustion) pada material sabut kelapa sawit, gambut dan berbagai jenis serpihan kayu yang dilakukan pada

Telah dilakukan penelitian peningkatan kualitas kayu kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang di kompregnasi dengan resin getah damar (Agathis dammara). Selulosa sebagai

Dari data hasil uji lentur dapat diketahui bagaimana pengaruh waktu impregnasi dan konsentarsi resin terhadap sifat mekanis kayu kelapa sawit.. Pengaruh waktu terhadap

Perlakuan kompregnasi kayu kelapa sawit dengan melamine formaldehyde (MF) secara nyata berpengaruh terhadap sifat fisik (kadar air dan berat jenis) dan sifat mekanik (modulus