• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEMPATAN PUPUK ANORGANIK YANG EFISIEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENEMPATAN PUPUK ANORGANIK YANG EFISIEN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

169

PENEMPATAN PUPUK ANORGANIK YANG EFISIEN

PADA TANAMAN JAGUNG DI LAHAN KERING

M. Akil

Balai Penelitian Tanaman Serealia

Abstrak. Budidaya jagung yang efisien untuk produksi biji harus memperhatikan cara penempatan pupuk anorganik yang efisien sehingga pupuk yang diberikan ke tanaman jagung dapat diserap dengan baik. Pada musim kemarau tahun 2006 pada lahan kering di Bajeng, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan telah dilakukan penelitian cara penempatan pupuk anorganik yang efisien Hasil analisis tanah di Desa Bajeng mempunyai tekstur tanah liat berdebu dengan kadar N dan bahan organik tergolong rendah, kadar P tergolong sedang dan kadar K K tergolong tinggi. Persiapan lahan dengan tanpa olah tanah (TOT), lahan disemprot dengan herbisida berbahan aktif glyposhat dengan takaran 3 l/ha. Varietas yang digunakan adalah Lamuru. Tanaman diberikan pengairan sebanyak empat kali selama pertumbuhannya. Ada empat takaran urea yang di teliti (200, 300, 400 dan 500 kg/ha), dua bentuk pupuk (prill dan tablet) dan 3 cara penempatan pupuk (disebar di atas permukaan tanah, di tugal disamping tanaman dan dilarutkan dalam air). Semua plot percobaan diberi pupuk SP36 sebesar 100 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada lahan kering di Bajeng, Gowa pemberian pupuk dengan cara tugal lebih efsien dibandingkan dengan pemberian pupuk dengan cara disebar di atas permukaan tanah atau dilarutkan dalam air pada lahan kering. Pemberian pupuk tablet tidak meningkatkan efisiensi pupuk pada lahan kering.

Kata kunci : Penempatan pupuk, pupuk anorganik, lahan kering

PENDAHULUAN

Kebutuhan terhadap jagung terus meningkat, terutama untuk peternakan dan industri pakan (Sayaka 1995). Permintaan jagung meningkat sekitar 3,33%/tahun dalam periode 1990-2000 (Swastika et al. 2004). Produksi jagung dari petani belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Upaya peningkatan produksi jagung nasional selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang tinggi dan terus meningkat (Departemen Pertanian 2002), juga berpeluang untuk mengisi pasaran dunia karena permintaan jagung secara global sangat besar dan juga terus meningkat (Pingali 2001). Peluang peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas karena masih adanya perbedaan produktivitas yang lebar antara tingkat petani (3,7 t/ha) dengan tingkat penelitian (4,5 – 8,0 t/ha) dan perluasan areal tanaman utamanya pada lahan kering di luar Jawa (Subandi 2004).

(2)

170

memberikan pupuk hanya disebarkan di permukaan tanah. Pemberian pupuk urea sebanyak 5 kali, diberikan setiap dua minggu sekali mulai umur 7 hari setelah tanam sampai tanaman berbunga. Cara ini banyak dipraktekkan oleh petani jagung komersial di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Cara penempatan pupuk seperti ini perlu diperbaiki agar pupuk urea yang diberikan lebih efisien dan lebih baik dari segi penyerapan hara pupuk maupun dari segi penggunaan tenaga kerja (Akil et al. 2006, Subandi et al. 2006)

Hasil wawancara dengan beberapa petani di Kabupaten Kediri, Jawa Timur menunjukkan bahwa petani pada lahan sawah tadah hujan memupuk tanaman jagungnya hingga mencapai takaran 750 kg urea/ha yang diberikan sebanyak 5 kali. Hal ini dinilai sangat tidak rasional dalam penggunaan pupuk urea untuk tanaman jagung, sebab takaran urea yang digunakan terlalu tinggi. Kenyataan ini sejalan dengan hasil pengamatan Ispandi dan Soepangat (1986) yang menyatakan bahwa petani di kabupaten Kediri menggunakan pupuk urea dengan takaran 500 – 700 kg/ha.

Penelitian tentang cara penempatan pupuk yang efisien dapat mengurangi jumlah pemakaian pupuk baik menyangkut takaran dan waktu pemberian yang tepat perlu mendapat perhatian untuk penerapan konsep pengelolaan hara dalam budidaya jagung untuk produksi pangan dan pakan yang efisien dan berkelanjutan.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efisiensi beberapa cara penempatan pupuk dan formulasi pupuk di lahan kering.

BAHAN DAN METODE

(3)

171

Tabel 1. Susunan perlakuan penempatan dan takaran pupuk urea.

No.

Takaran Pupuk (kg/ha)

Bentuk Pupuk

Urea SP 36 KCl

1 200 100 50 Prill

2 300 100 50 Prill

3 400 100 50 Prill

4 500 100 50 Prill

5 200* 100 50 Tablet

6 300* 100 50 Tablet

7 400* 100 50 Tablet

8 500* 100 50 Tablet

9 ** 300 100 50 Prill

10 *** 300 100 50 Prill

Keterangan:

* = Seluruh takaran pupuk urea dicampur dengan seluruh takaran SP 36 dan KCl dibuat dalam bentuk pupuk tablet

** = Pemberian pupuk dengan cara tugal dan dimasukkan 5 cm ke dalam tanah pada 7 hst (50 % urea, seluruh SP 36 dan KCl) dan 50 % urea diberikan pada 30 hst.

*** = Pupuk dilarutkan dengan air sebelum diberikan ke tanaman jagung pada 7 hst (50 % urea, seluruh SP 36 dan KCl) dan 50 % urea diberikan pada 30 hst.

Data yang diamati

1. Analisis tanah sebelum percobaan

2. Tinggi tanaman pada saat umur 30 hst, 60 hst (cm) 3. Hasil biji (t/ha)

4. Kadar hara N, P dan K jaringan tanaman (%) 5. Efisiensi pemberian pupuk tablet (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Tanah

(4)

172

Tabel 2. Hasil analisis tanah sebelum penelitian di Bajeng, Gowa, Sulawesi Selatan 2006

Macam Penetapan Nilai Kriteria

Tekstur : Liat Berdebu

Liat (%) 46

Dari hasil analisis tanah pada lahan kering Bajeng, Gowa memberi petunjuk bahwa untuk pertanaman jagung di lokasi tersebut mutlak adanya pemberian pupuk N dan P, sedangkan P hanya untuk menjaga keseimbangan hara dalam tanah.

Tinggi Tanaman

Pengamatan tinggi tanaman pada umur 30 dan 60 hst) menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk yang dilarutkan sebelum aplikasi memberikan tanaman tertinggi sebesar masing-masing 95,0 cm dan 194,2 cm (Tabel 3). Kalau kita perhatikan dari data tinggi tanaman pada Tabel 3, ada kecenderungan bahwa pemberian pupuk dengan cara ditugal memberikan efek yang lebih baik dibanding dengan pemberian pupuk yang disebar diatas permukaan tanah.

Tabel 3. Pengaruh cara pemberian bentuk dan formulasi pupuk anorganik terhadap tinggi tanaman jagung umur 30 dan 60 hst di Bajeng, Gowa, 2006

Perlakuan Cara Pemberian

Tinggi Tanaman (cm)

Takaran (kg/ha)

Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Ditugal

(5)

173

Hasil analisis statistik terhadap tinggi tanaman pada umur 30 hst dan 60 hst menunjukkan bahwa dengan takaran 300 kg urea + 100 kg TSP + 50 kg KCl/ha, cara pemberian pupuk yang dilarutkan dengan air sebelum disiramkan ke tanah sekitar tanaman jagung memberikan tanaman tertinggi. Hal ini disebabkan oleh penyerapan pupuk yang lebih cepat karena pupuk telah dilarutkan dalam air sebelum diaplikasikan ke tanah sekitar tanaman jagung. Kalau kita perhatikan dari data diatas ada kecenderungan bahwa penempatan pupuk dengan cara ditugal memberikan pengaruh yang lebih baik dibanding dengan pemberian pupuk dengan diletakkan di atas permukaan tanah. Pemberian pupuk dengan cara tugal akan lebih efisien karena sebagian besar pupuk dapat terserap oleh tanaman, sedangkan dengan cara disebarkan di atas permukaan tanah sebagian pupuk yang diberikan akan menguap sehingga tidak terserap oleh tanaman jagung.

Hasil Biji

Hasil biji tertinggi sebesar 7,50 diperoleh pada perlakuan 300 kg urea+100 kg SP 36 + 50 kg KCl/ha yang diberikan secara tugal (Tabel 4). Hal ini berbeda pada lahan sawah tadah hujan di desa Ajakkang, Barru, hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan 500 kg urea + 100 kg SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam bentuk tablet memberikan hasil biji sebesar 7,91 t/ha (Akil, 2006). Hasil terendah sebesar 4,70 t/ha diperoleh pada perlakuan 200 kg urea +100 kg SP 36 +50 kg KCl/ha yang disebar diatas permukaan tanah. Pada lahan kering Bajeng ada kecenderungan bahwa pemberian dalam bentuk tablet tidak memberikan pengaruh baik terhadap hasil biji. Hal ini berbeda dengan hasil yang diperoleh pada lahan sawah tadah hujan di desa Ajakkang, Barru, pemberian pupuk tablet hingga takaran 500 kg urea + 100 kg SP 36 + 50 kg KCl/ha memberikan hasil tertinggi.

Tabel 4. Pengaruh cara pemberian bentuk dan formulasi pupuk anorganik terhadap hasil biji di Bajeng, Gowa, 2006

Perlakuan

Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Diatas permukaan tanah Ditugal

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom tang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan

Kadar Hara Jaringan Tanaman

(6)

174

takaran 200 kg urea + 100 SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam benruk prill yang di berikan di atas permukaan tanah dengan kadar hara jaringan 1,52 %. Kadar P jaringan tanaman tertinggi sebesar 0,35 % diperoleh pada perlakuan 200 kg urea + 100 SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam bentuk prill yang di sebar di atas permukaan tanah, sedangkan terendah sebesar 0,26 diperoleh pada perlakuan 300 kg urea + 100 SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam bentuk prill yang diberikan secara tugal. Hal ini disebabkan kadar hara P tanah sebelum penelitian tergolong tinggi, sehingga pada perlakuan N dalam bentuk urea yang tinggi akan menekan serapan hara P sehingga kadar hara P jaringan tanaman. Kadar K jaringan tanaman tertinggi sebesar 1,93 % diperoleh pada perlakuan 500 kg urea + 100 SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam bentuk tablet yang diberikana secara tugal, sedangkan terendah sebesar 1,62 diperoleh pada perlakuan 500 kg urea + 100 SP 36 + 50 kg KCl/ha dalam bentuk prill yang disebar di atas permukaan tanah (Tabel 5).

Tabel 5. Pengaruh cara pemberian bentuk dan formulasi pupuk anorganik terhadap kadar N, P dan K jaringan tanaman di Bajeng, Gowa. 2006

Perlakuan

Bentuk Cara Pemberian

Kadar Jaringan Tanaman (%) Takaran (kg/ha)

Efisiensi Pemberian Pupuk

(7)

175

Tabel 6. Efisiensi cara pemberian pupuk pada berbagai bentuk dan takaran pupuk

anorganik di Bajeng, Gowa. 2006

Takaran (kg/ha) Urea - SP 36 - KCl

Bentuk Pupuk

Cara Pemberian Hasil biji (t/ha)

• Pemberian pupuk dengan cara tugal lebih efsien dibandingkan dengan pemberian pupuk dengan cara disebar di atas permukaan tanah atau dilarutkan dalam air pada lahan kering.

• Pemberian pupuk tablet tidak meningkatkan efisiensi pupuk pada lahan kering.

DAFTAR PUSTAKA

Akil M., M. Rauf, A.F.Fadhly, I.U. Firmansyah, A.F. Fadhly, Syafruddin, Muhtar A. Nawir, Faesal, R. Effendi, Fahdiana T. dan A. Kamaruddin. 2005. Pengelolaan hara, air dan tanaman jagung mendukung teknologi pengelilaan tanaman terpadu (PTT) jagung. Laporan Akhir 2005, Balai Penelitian Tanaman Serealia. Tidak diterbitkan.

Akil, M. 2006. Evaluasi cara pemberian. Bentuk dan formulasi pupuk anorganik pada tanaman jagung. Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian dan Pengkajian Spesifik Lokasi. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembanagan Pertanian, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Hal.255 – 262.

Badan Litbang Pertanian. 2002. Panel Ekspose Badan Litbang Pertanian pada Festival Jagung Nasional di Bogor. 26-27 April 2002.

CRIFC. 1988. National Coordinate Research Program, and use. Farming System and Soil Resources Institute Collage of Agriculture University of The Philippines At Los Banos. Inst. Food Crops. AARD. 83 p.

Deptan. 2002. Agribisnis Jagung. Informasi dan Peluang. Festival Hagung Pangan Pokok Alternatif. Istana Bogor 26-27 April 2002. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Ispandi A. dan P. Soepangat. 1986. Pemupukan dan uji varietas jagung di Kediri. Penelitian

Palawija. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang. 1: 79-86.

Kasryno, F. 2002. Perkembangan produksi dan konsumsi jagung dunia selama empat decade yang lalu dan implikasinya bagi Indonesia. Makalah disampaikan pada Diskusi Nasional Agribisnis Jagung di Bogor. 24 Juni 2002. Badan Litbang Pertanian

Mink, S.D., P.A. Dorosh, and D.H. Perry. 1987. Corn Production Systems. In Timmer (Ed.) The Corn Economy of Indonesia. Pp. 62-87.

Sayaka, B. 1995. The total faktor productivity measurement of corn in Java. 1972-1992. Jurnal Agro Ekonomi (Agricultural Economics Journal) 14(1) :39-49.

(8)

176

Subandi, Marsum M. Dahlan, Muhadji D. Moentono, Iskandar S., Sudaryono dan Sudjadi. 1988.

Status penelitian jagung dan sorghum. Risalah Simposium II Penelitian Tanaman Pangan. Buku I. Puslitbangtan, Badan Litbang Pertanian. Hal. 189-223.

Subandi, Zubachtirodin, Sania Saenong dan I.U. Firmansyah, 2006. Ketersediaan Teknologi Produksi dan Program Penelitian Jagung. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Jagung 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Hal 11-40.

Gambar

Tabel 2.  Hasil analisis tanah sebelum penelitian di Bajeng, Gowa, Sulawesi Selatan 2006

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis angka penyabuan RBO ditunjukkan pada Grafik 4. Hasil analisis bilangan penyabunan pada berbagai perbandingan pelarut dengan bekatul dan waktu ekstraksi. dapat

Untuk membuat strategi algoritma seperti itu tentu saja sangat mudah karena kita harus memperhitungkan, berapa balok yang keluar, berapa banyak balok yang keluar,

Namun, dilihat dari nilai pearson correlation jika semakin mendekati 1 atau -1 maka hubungan antara dua variable semakin kuat, dan nilai pearson correlation di atas

Bagi calon penyedia jasa konstruksi yang keberatan atas Pengumuman ini, diberikan masa sanggah sesuai dengan jadwal Sistem Pelelangan Secara Elektronik (SPSE) dan

Oleh karena itu, jika aspek-aspek pengelolaan keuangan haji keluar dari prinsip-prinsip tersebut maka dapat dikatakan bahwa ada pelanggaran terhadap Undang-Undang,

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil post test kedua kelompok, tetapi didapatkan hasil bahwa pelatihan lari kijang jarak 1 meter 8 repetisi 5 set

[r]

[r]