• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK sri Astuty Komunikasi Bencana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK sri Astuty Komunikasi Bencana"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI BENCANA, KEARIFAN LOKAL,

DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM

MEMANFAATKAN POTENSI LAHAN BASAH DI

KALIMANTAN SELATAN

Sri Astuty

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNLAM Banjarmasin [email protected]

Pendahuluan

Kalimantan Selatan merupakan kawasan dengan luasan lahan basah atau lahan gambut yang cukup luas. Kawasan ini sejak dulu dijadikan sebagai kawasan kepentingan pertanian, perkebunan rakyat dan perikanan rawa. Ini dibuktikan dengan proporsi penduduk dikawasan ini dengan luasan garapan yang mereka lakukan baik bertani tadah hujan, berkebun kelapa dan tanaman lainnya yang memanfaatkan tungkunan maupun membuat sumur-sumur untuk menampung terkumpulnya ikan ketika musim kemarau.

Kawasan lahan basah juga merupakan sumber pendapatan penduduk desa karena ditumbuhi tanaman ekonomis seperti purun, telepok dan pohon galam. Tanaman purun misalnya merupakan komoditas yang mampu menghidupi penduduk yang hidup dikawasan tumbuhnya purun yang lebat dan dapat dimanfaatkan menjadi anyaman tikar, karung, tas serta kerajinan lainnya. Komoditas ini hanya bisa tumbuh dn berkembang dikawasan lahan basah dan masyarakat Kalimantan Selatan atau lebih disukai disebut sebagai masyarakat Banjar lebih cenderung menyenangi tinggal dikawasan ini berdampingan dengan lahan pertanian tadah hujan dan potensi ikan sebagai lauk sehari-harin yang tidak perlu dibeli.

(2)

masyarakat pedesaan. Lebih urgen lagi pada saat ini fungsi kayu galam itu sebagai pondasi utama untuk membangun rumah-rumah modern dan gedung-gedung khususnya diperkotaan dan kawasan yang merupakan lahan gambut dan rawa-rawa, sebab pohon gala mini semakin ditanam dalam tanah berair semakin kuat sehingga kearifan lokal sangat cocok bagi kepentingan pembuatan pondasi rumah dan gedung maupun infrastruktur lainnya dikawasan rawa dan lahan gambut.

Lebih dari itu kawasan lahan basah/gambut sudah diakui sebagai kawasan yang menampung air dari pegunungan apabila musim penghujan atau di kawasan lahan basah itu sendiri. Semakin luas kawasan lahan basah/gambut tersebut semakin terhindari masyarakat sekitarnya mengalami kebanjiran pada kampung-kampung dan pemukiman mereka. Inilah salah satu factor keberadaan penduduk masih permanen untuk tetap tinggal di kawasan ini dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki dari sumberdaya lahan basah/gambut tersebut.

(3)

Fakta sejarah pemanfaatan lahan basah/gambut tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi berdasarkan pengalaman entitas komunal masyarakat bagaimana mereka memanfaatkan dan mendorong kelembagaan masyarakat seperti Kepala Padang, Pembekal, Pengirak dalam mendukung potensi lahan basah/gambut sebagai kepentingan ekonomis mereka guna bertahan hidup. Dalam konteks ini mereka menciptakan sikap dan perilaku serta kearifan dalam memahami karakteristik fungsi lahan basah/gambut di Kalimantan Selatan. Berdasarkan hal diatas, maka penelitian ini dirumuskan bagaimana komunikasi bencana, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan potensi lahan basah yang ada di kawasan Kalimantan Selatan?

Kajian Teori

Pemberdayaan dalam istilah asing sering disebut dengan kata “empowerment” dan “empower” diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi pemberdayaan dan memberdayakan, menurut merriam webster dan oxfort english dictionery (dalam prijono dan pranarka, 1996 : 3) mengandung dua pengertian yaitu : pengertian pertama adalah give power or to authority to, dan pengertian kedua berarti to give ability to or enable. Dalam pengertian pertama diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, sedangkan dalam pengertian kedua, diartikan sebagai upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan.

(4)

Gagasan pembangunan yang mengutamakan pemberdayaan masyarakat perlu untuk dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. perubahan struktur yang sangat diharapkan adalah proses yang berlangsung secara alamiah, yaitu yang menghasilkan dan harus dapat dinikmati bersama. begitu pula sebaliknya, yang menikmati haruslah yang menghasilkan. proses ini diarahkan agar setiap upaya pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kapasitas masyarakat (penguatan capacity building)

melalui penciptaan akumulasi modal yang bersumber dari surplus yang dihasilkan, yang mana pada gilirannya nanti dapat pula menciptakan pendapatan yang akhirnya dinikmati oleh seluruh rakyat. dan proses transpormasi ini harus dapat digerakan sendiri oleh masyarakat. Menurut Sumodiningrat (1999 : 134), mengatakan bahwa kebijaksanaan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat dipilah dalam tiga kelompok yaitu : pertama, kebijaksanaan yang secara tidak langsung mengarah pada sasaran tetapi memberikan dasar tercapainya suasana yang mendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat. kedua, kebijaksanaan yang secara langsung mengarah pada peningkatan kegiatan ekonomi kelompok sasaran. ketiga, kebijaksanaan khusus yang menjangkau masyarakat miskin melalui upaya khusus.

Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, menurut Kartasasmita (1996:159-160), harus dilakukan melalui beberapa kegiatan : pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). kedua, memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi, di sinilah letak titik tolaknya yaitu bahwa pengenalan setiap manusia, setiap anggota masyarkat, memiliki suatu potensi yang selalu dapat terus dikembangkan. artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tidak berdaya, karena kalau demikian akan mudah punah.

(5)

semakin berdaya. Pemberdayaan harus berperan untuk mewujudkan konsep masyarakat belajar atau concept of societal learning dan caranya adalah dengan mempertemukan top down approach dengan bottom-up approach yang pada dasarnya adalah “kontradiktif “. Harus disadari pemberdayaan masyarakat merupakan proses perubahan struktur yang harus muncul dari masyarakat, dilakukan oleh masyarakat, dan hasilnya ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. proses perubahan tersebut berlangsung secara alamiah dengan asumsi bahwa setiap anggota masyarakat sebagai pelaku-pelaku sosial yang ikut dalam proses perubahan tersebut.

Pengertian pemberdayaan dalam arti luas dapat diterjemahkan sebagai perolehan kekuatan dan akses terhadap sumberdaya untuk mencari nakah. pemberdayaan dalam konsep (wacana) politik menurut Dahl (1963:50) merupakan sebuah kekuatan yang menyangkut suatu kemampuan seseorang (pihak pertama) untuk mempengaruhi orang lain (pihak kedua) yang sebenarnya tidak diinginkan oleh pihak kedua pemberdayaan memerlukan keterlibatan masyarakat secara aktif. Dalam konteks pemberdayaan, masyarakat harus diberdayakan untuk merumuskannya sendiri melalui sebuah proses pembangunan konsensus diantara berbagai individu dan kelompok social yang memiliki kepentingan dan menanggung resiko langsung (stakeholders) akibat adanya proses atau intervensi pembangunan, baik pembangunan ekonomi, sosial maupun lingkungan isik. yang umumnya berisikan arah, tujuan, cara dan prioritas pembangunan yang akan dilakukan.

(6)

tidak terlepas dari peran serta kelompok-kelompok masyarakat yang harus dan terus didampingi oleh tenaga pendamping program yang dijalankan.

Pemberdayaan yang akan dilakukan memerlukan langkah-langkah yang riil dalam penanganannya. langkah-langkah-langkah-langkah yang diambil dalam mewujudkan tujuan adalah melalui: membentuk iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang. dua hal yang mendasar dalam membentuk iklim bagi masyarakat adalah dengan cara:

1. Menyadarkan masyarakat dan memberikan dorongan/motivasi untuk berkembang. Proses menyadarkan masyarakat dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk mengenal wilayahnya melalui survey dan analisis. proses ini disebut dengan participatory survey dan participatory analysis. Memotivasi masyarakat dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk menggambarkan dan merencanakan wilayah, yang disebut dengan participatorydesign and planning. pendekatan yang dilakukan terhadap masyarakat secara psikologis akan memberikan rasa ke-berpihak-an kepada masyarakat.

2. Memperkuat potensi yang ada memperkuat (empowerment) dilakukan dengan mengorganisasi masyarakat dalam kelompok-kelompok/komunitas pembangun, yang selanjutnya dikembangkan dengan memberikan masukan-masukan/input serta membuka berbagai peluang-peluang berkembang sehingga masyarakat semakin berdaya. secara aplikatif empowerment terhadap kelompok masyarakat bawah dan menengah dilakukan melalui 2 (dua) hal yaitu:

a. Penguatan akses/accesibilty empowerment. Pada pemberdayaan kelompok masyarakat empowerment dilakukan melalui menciptakan aksesa dari kelompok informal kepada kelompok formal, kelompok yang diberdayakan dengan kelompok pemberdaya. kebutuhan akan akses ini sangat menentukan share dan partisipasi antar stakeholders dalam proses pemberdayaan. b. Penguatan teknis/technical empowerment. Technical

(7)

masing-masing stakeholders diwujudkan dalam bentuk share nyata seperti program, pendanaan, dan kebijaksanaan (policy).

Ada beberapa cara pandang yang dapat digunakan dalam memahami pemberdayaan masyarakat (Sutoro, 2004) yaitu :

1. Pemberdayaan dimaknai dalam konteks menempatkan posisi berdiri masyarakat. posisi masyarakat bukanlah obyek penerima manfaat (beneiciaries) yang tergantung pada pemberian dari pihak luar seperti pemerintah, melainkan dalam posisi sebagai subyek (agen atau partisipan yang bertindak) yang berbuat secara mandiri. berbuat secara mandiri bukan berarti lepas dari tanggung jawab negara. pemberian layanan publik (kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi dan seterusnya) kepada masyarakat tentu merupakan tugas (kewajiban) negara secara given. masyarakat yang mandiri sebagai partisipan berarti terbukanya ruang dan kapasitas mengembangkan potensi-kreasi, mengontrol lingkungan dan sumber dayanya sendiri, menyelesaikan masalah secara mandiri, dan ikut menentukan proses politik di ranah negara. masyarakat ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan dan pemerintahan. 2. Pemberdayaan secara prinsipil berurusan dengan upaya memenuhi

kebutuhan (needs) masyarakat. banyak orang berargumen bahwa masyarakat akar rumput sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal yang utopis (ngayawara) seperti demokrasi, desentralisasi, good governance, otonomi daerah, masyarakat sipil dan seterusnya. “apa betul masyarakat desa butuh demokrasi dan otonomi desa? masyarakat itu hanya butuh pemenuhan sandang, pangan dan papan (spp). Ini yang paling dasar tidak ada gunanya bicara demokrasi kalau rakyat masih miskin. Pendapat ini masuk akal, tetapi sangat dangkal. Mungkin kebutuhan spp itu akan selesai kalau terdapat uang yang banyak. tetapi persoalannya sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat itu sangat langka (scarcity) dan terbatas (cobstrain). Masyarakat tidak mudah bisa akses pada sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan spp. Karena itu, pemberdayaan adalah sebuah upaya memenuhi kebutuhan

(8)

(ketimpangan, eksploitasi, dominasi, hegemoni, dan lain-lain) yang menimbulkan pembagian sumberdaya secara tidak merata. dari sisi negara, dibutuhkan kebijakan dan program yang memadai, canggih, pro-poor untuk mengelola sumberdaya yang terbatas itu. Dari sisi masyarakat, seperti penulis elaborasi kemudian, membutuhkan partisipasi (voice, akses, ownership dan kontrol) dalam proses kebijakan dan pengelolaan sumberdaya.

3. Pemberdayaan terbentang dari proses sampai visi ideal. dari sisi proses, masyarakat sebagai subyek melakukan tindakan atau gerakan secara kolektif mengembangkan potensi-kreasi, memperkuat posisi tawar, dan meraih kedaulatan. dari sisi visi ideal, proses tersebut hendak mencapai suatu kondisi dimana masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian melakukan voice, akses dan kontrol terhadap lingkungan, komunitas, sumberdaya dan relasi sosial-politik dengan negara. proses untuk mencapai visi ideal tersebut harus tumbuh dari bawah dan dari dalam masyarakat sendiri. namun, masalahnya, dalam kondisi struktural yang timpang masyarakat sulit sekali membangun kekuatan dari dalam dan dari bawah, sehingga membutuhkan “intervensi” dari luar. hadirnya pihak luar (pemerintah, LSM, organisasi masyarakat sipil, organisasi agama, perguruan tinggi, dan lain-lain) ke komunitas bukanlah mendikte, menggurui, atau menentukan, melainkan bertindak sebagai fasilitator (katalisator) yang memudahkan, menggerakkan, mengorganisir, menghubungkan, memberi uang, mendorong, membangkitkan dan seterusnya. hubungan antara komunitas dengan pihak luar itu bersifat setara, saling percaya, saling menghormati, terbuka, serta saling belajar untuk tumbuh berkembang secara bersama-sama.

(9)

memiliki, gotong royong, mutual trust, kemitraan, kebersamaan, solidaritas sosial dan visi kolektif masyarakat. sedangkan pemberdayaan struktural-masyarakat berarti mengorganisir masyarakat untuk tindakan kolektif serta penguatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pemerintahan. pemberdayaan tidak bisa hanya diletakkan pada kemampuan dan mental diri individu, tetapi harus diletakkan pada konteks relasi kekuasaan yang lebih besar, dimana setiap individu berada di dalamnya. mengikuti pendapat Margot Breton (1994), realitas obyektif pemberdayaan merujuk pada kondisi struktural yang mempengaruhi alokasi kekuasaan dan pembagian akses sumberdaya di dalam masyarakat. dia juga mengatakan bahwa realitas subyektif perubahan pada level individu (persepsi, kesadaran dan pencerahan), memang penting, tetapi sangat berbeda dengan hasil-hasil obyektif pemberdayaan: perubahan kondisi sosial.

5. Pemerintahan dan negara pada intinya hendak membawa negara lebih dekat ke masyarakat desa, dengan bingkai desentralisasi (otonomi) desa, demokratisasi desa, good governance desa dan penguatan capacity building pemerintahan desa. negara dan pembangunan berbicara tentang peran negara dalam pembangunan dan pelayanan publik. fokusnya adalah perubahan haluan pembangunan yang top down menuju bottom up, membuat pelayanan publik lebih berkualitas dan semakin dekat dengan masyarakat, serta penanggulangan kemiskinan.

Wilson (1996) memaparkan, bahwa ada empat tahapan dalam proses pemberdayaan, yaitu :

1. Awakening atau penyadaran, pada tahap ini, masyarakat disadarkan akan kemampuan, sikap dan keterampilan yang dimilikinya serta rencana dan harapan mereka akan kondisi yang lebih baik .

2. Understanding, pemahaman, yaitu pemberian pemahaman dan persepsi baru mengenai diri mereka sendiri, aspirasi mereka dan keadaan umum lainnya. Proses pemahaman ini meliputi proses belajar untuk secara utuh menghargai pemberdayaan dan tentang apa yang dituntut dari mereka oleh komunitas.

(10)

mengerti mengenai pemberdayaan, saatnya mereka memutuskan untuk menggunakannya bagi kepentingan komunitasnya.

4. Using atau menggunakan ketrampilan dan kemampuan pemberdayaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kearifan lokal adalah suatu pandangan hidup tentang gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat serta mampu menyerap, mengolah kebudayaan asing sesuai watak, kemampuan, dan mampu bertahan samapai sekarang. Kearifan lokal terbentuk sebagai keuanggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geograis dalam arti luas.Keberadaan kearifan lokal memiliki fungsi yaitu untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, Sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan, bermakna sosial, bermakna etika dan moral, dan bermakna politik.

Metode Penelitian

Penelitian ini lebih melihat pada masyarakat sebagai objek dan subjek dalam penelitian ini khususnya yang tinggal di kawasan lahan basah/gambut baik bersentuhan langsung dengan perkebunan sawit skala besar, menengah dan kecil maupun kawasan lahan basah yang murni tidak tergarap dan tergarap pertanian padi sawah, perikanan dan peternakan. Mengingat masyarakat merupakan objek dan subjek dalam penelitian ini diaman bersentuhan dengan lingkungan, perilaku manusia, sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat, maka pendekatan jenis PRA (participatory research appraisal) sangat tepat dalam memecahkan persoalan penelitian. Sebab jenis pendekatan PRA ini mampu mengungkapkan aspek isik maupun non isik serta menyertakan masyarakat kelompok sasaran dalam proses kegiatan pemberdayaan dan capacity building pemerintahan desa. Dalam hal ini informan masyarakat terlibat langsung dalam penelitian baik dalam pengolahan data, proses hingga tahapan interpretasi termasuk dalam trangulasi pengumpulan data dan triangulasi peneliti itu sendiri .

(11)

memanusiakan manusia, karena ada pandangan bahwa masalah masyarakat hanya bisa ditangani oleh kaum professional atau akademisi peneliti semata. Harapan besar dengan pendekatan PRA ini masyarakat desa sekitar kawasan lahan basah/gambut memiliki kemampuan menganalisa keadaan mereka terhadap kondisi yang mereka alami, dimana hal demikian akan membangun kepekaan dan kesadaran tentang diri mereka tanpa ada apriori dengan masalah yang dipetakan oleh kaum professional atau peneliti. Sebab masyarakat sendirilah yang terlibat mempetakan masalah yang dihadapinya, prosesnya serta langkah strategis apa yang akan dilakukan dan harapan apa yang akan dicapai ( Chambers : 1992).

Pendekatan kualitatif PRA berkesuaian dengan maksud penelitian dalam kerangka meningkatkan potensi fungsi lahan basah/gambut karena adanya prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Prinsip pemberdayaan; penegasan melibatkan mereka dalam menganalisa masalah dan mempetakannya masalah mereka sendiri. 2. Prinsip Masyarakat sebagai pelaku; dimana masyarakat objek dan

subjek penelitianlah sebagai pelaku dari penelitian itu, dimana orang luar hanya sebagai pendamping dan fasilitator.

3. Prinsip terbuka, santai, informal dan praktis; masyarakat tidak terbebani dalam menganalisa masalah dihadapinya, terlebih kondisi kemiskinan di kawasan lahan basah/gambut.

4. Prinsip belajar dari kesalahan dan berkelanjutan; masyarakat terpanggil mengungkapkan kekeliruan yang mereka buat sendiri untuk terus belajar dan memperbaiki serta melakukan proses perubahan dengan kesadaran sendiri menjadi lebih baik.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

(12)

basah dapat berupa air tawar, payau dan asin. Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di pinggir laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut. Kalimantan selatan merupakan provinsi yang dijuluki dangan kota seribu sungai, karena banyak sungai yang mengaliri daerah-daerah di Kalimantan Selatan, sehingga kawasan lahan basah di daerah ini cukup luas.

Lebih jauh beragamnya agroekologi lahan rawa menyebabkan beragamnya keanekaragaman hayati termasuk lora dan memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan, tanaman buah-buahan maupun tanaman obat-obatan. Hutan yang digenangi air bersifat musiman ataupun permanen ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Jenis lora yang sering terlihat memenuhi hutan perairan ini seperti ramin (Gonystylus sp), terentang (Camnosperma sp.), durian burung (Durio carinatus), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon sp), pandan, palem-paleman, rotan dan berbagai jenis lainnya. Sedangkan faunanya yang tidak jauh berbeda dengan yang ada pada hutan di darat, seperti harimau (Panthera tigris), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), Orang utan (Pongo pygmaeus), babi hutan (Sus scrofa), badak, musang air, gajah dan berbagai jenis ikan. Jenis hutan rawa gambut pun menjadi hutan pilihan bagi beragam fauna karena daerah hutan perairan ini terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang proses penguraiannya sangat lambat sehingga tanah gambut memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi. Berdasarkan sejarah, sudah sejak dulu hutan rawa pun menjadi penyedia berbagai keperluan hidup bagi berbagai masyarakat lokal.

(13)

berbagai jenis fauna, ini karena hutan rawa mampu memproteksi dari abrasi, gelombang atau angin kencang, mengendalikan intrusi air laut, sebagai habitat berbagai jenis fauna, sebagai tempat mencari makan, memijah dan berkembang biak berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya, sebagai pembangunan lahan melalui proses sedimentasi, mampu memelihara kualitas air (mereduksi polutan, pencemar air) hingga sebagai penyerap CO2 dan penghasil O2 yang relatif tinggi dibandingkan tipe hutan lain.

Selain sebagai sumber cadangan air, hutan rawa dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering atau dengan kata lain banjir dapat dicegah, intrusi air laut ke dalam air tanah dan sungai pun dapat dihindari. Karena hutan rawa dapat dijadikan sebagai sumber bahan makanan nabati dan hewani maka tak jarang keberadaan hutan perairan yang kaya akan lora dan fauna tersebut dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian penduduk sekitarnya. Topograi hutan rawa umumnya datar yang dicirikan oleh sifat hidrologi yang dipengaruhi oleh diurnal pasang surut, yang dikenal sebagai lahan rawa pasang surut, atau tergenang melebihi 3 bulan yang dikenal sebagai lahan rawa lebak.

(14)

kehidupan masyarakat pesisir itu sendiri.

Hutan rawa luasnya relatif kecil bila dibandingkan luas hutan daratan maupun luasan tipe hutan lainnya, tapi manfaat (ekonomis dan ekologis) sangatlah penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat (khususnya masyarakat pesisir). Sedangkan, dipihak lain, ekosistem hutan rawa bersifat rentan (fragile) terhadap gangguan dan cukup sulit untuk merehabilitasi kerusakannya. Ekosistem hutan rawa, baik secara sendiri maupun bersama dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang di dalamnya berperan penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara isik maupun biologis. Dan yang pasti ekosistem di hutan rawa merupakan sumber yang kaya akan plasma nutfah yang saat ini sebagaian besar manfaatnya belum tereksplorasi.

Selain ancaman langsung pembangunan, ternyata sumber daya hutan rawa rentan terhadap aktivitas pembangunan yang terdapat jauh dari habitatnya. Ancaman dari luar tersebut yang sangat serius berasal dari pengelolaan daerah aliran sungai yang serampangan dan meningkatnya pencemaran hasil industri dan domestik (rumah tangga) yang masuk ke dalam daur hidrologi. Dampak buruk yang terjadi dari erosi tanah yang parah dan meningkatnya kuantitas serta kecepatan sedimen endapan di lingkungan hutan rawa adalah kematian masal (dieback) bakau yang tidak terhindarkan lagi karena lentiselnya tersumbat oleh sedimen tersebut.

(15)

sebanyak 88.779 ton (BPS Kalsel, 2011). Angka diperkirakan menurun sekitar rata-rata tiap tahun mencapai 5 hingga 10 %. Justru sebaliknya meningkat perkebunan kelapa sawit di kawasan lahan basah/gambut yang semakin ekspansif dan berdampak mematikan lahan basah/ gambut pertanian masyarakat karana faktor ekologis dan dampak limbah perkebunan sawit dalam skala besar yang berdampingan dengan pertanian masyarakat.

Pemanfaatan gambut dan lahan gambut ratusan ribu hektar belakangan ini pun banyak menuai protes dari para pemerhati dan penggiat lingkungan baik dari dalam negeri maupuan dari luar negeri. Hal ini tentu didasari oleh kekhawatiran rusaknya lahan gambut sebagai fungsi ekosistem yang kompleks. Berbagai macam bentuk alih fungsi menyebabkan terjadinya penurunan (degradasi) fungsi strategis lahan gambut, sehingga meningkatkan luas kawasan lahan kritis. Seperti fungsi hidrologis, yang berperan penting pada sistim biosir, yaitu sebagai sumber karbon, pengendali sirkulasi CO2 dan berpengrauh besar pada kondisi keseimbangan karbon di atmosir.

Selama ini sistem pengelolaan hutan rawa gambut umumnya tidak memperhatikan sifat inheren gambut dan melupakan prinsip-prinsip kelestariannya sehingga berpotensi lahan rawa gambut akan mengalami kerusakan dan sulit untuk diperbaharui. Terjadinya degradasi fungsi lahan gambut, salah satunya disebabkan kurangnya pemahaman terhadap karakteristik gambut dalam kondisi alami. Pengetahuan tentang keaneka-ragaman karakteristik gambut dalam kondisi masih alami menjadi sangat diperlukan, agar dapat mengelola dengan bijak (benar dan tepat) yaitu bermanfaat secara ekonomi dengan tidak mengesampingkan fungsi lingkungan.

(16)

peruntukkan dengan cara menolak kebijakan pemerintah yang selama ini justru mendorong gerakan ekspansif perusahaan.

Pembiaran yang dilakukan pemerintah sebenarnya termasuk dalam ranah kebijakan dimana berkaitan dengan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pemerintah (Parson, 2005). Termasuk kasus pembiaran yang dilakukan warga masyarakat bersama lembaga desa dan kecamatan dalam mendorong penjualan besar-besaran lahan produktif dan tidak produktif (tidak digarap karena modal bukan karena tidak subur) kepada pihak perusahaan. Ketidakberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan potensi lahan basah/gambut sehingga mereka mampu memperlakukan karakteristik lahan basah/ gambut sesuai peruntukkannya dan tidak merusak ekologis disebabkan pengetahuan dan kurangnya informasi tentang bahaya dan ancaman perkebunan kelapa sawit, terlebih mereka menjual lahan pertanian mereka yang berdampingan dengan lahan kelapa sawit. Kelembagaan desa tidak mampu menjadi penjembatan informasi kepada warga desa bahaya dan ancaman ekologis lahan basah/gambut bagi kemaslahatan pertanian dan perkebunan mereka dimasa akan datang.

(17)

Lemahnya daya tawar oleh masyarakat pedesaan baik kepada pihak perusahaan maupun pemegang otoritas pemerintah di atasnya, karena lemahnya kapasitas kelembagaan yang dimiliki oleh Pemerintahan Desa. Faktor sumberdaya manusia, dan akses informasi tentang manajemen dan pengelolaan lahan basah/gambut yang proporsional diantara masalah yang menjadi persoalan serius. Di samping itu juga berkaitan dengan partisipasi publik dalam memberikan dorongan pada kelembagaan menyebabkan kelembagaan yang seharusnya milik bersama dalam menyelesaikan setiap masalah seakan menjadi miliki sekelompok orang oligarkhi kekuasaan desa) sehingga hanya menguntungkan bagi pengambil keputusan dan kelompoknya. Fakta ini menjadi “ danau madu” bagi perusahaan karena bisa mengendalikan para pengambil keputusan di lembaga pemerintahan desa untuk membuat surat-surat dan izin-izin kapling lahan basah/gambut kepada pihak perusahaan tanpa memperdulikan kelangsungan lahan basah/gambut yang produktif bagi kepentingan masyarakat pedesaan dan kepentingan ekologis lahan basah/gambut itu sendiri. Bahkan dengan ketidakmampuan secara pengetahuan masyarakat tidak mengetahui jika bencana akan datang setiap saat dan penyempitan lahan untuk aktivitas kehidupan pertanian dan lain-lain tidak menjadi pertimbangan yang lebih baik untuk jangka waktu panjang.

(18)

Penutup

Kondisi wilayah Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar memiliki potensi yang luar biasa karena berpotensi produktif jika dikelola dengan baik. Domain pemanfaatan lahan adalah untuk pertanian. Eksistensi kelembagaan desa menjadi sangat dominan dalam menunjang pelestarian dan peningkatan fungsi kawasan lahan gambut. Disinilah urgensi komunikasi bencana pada masyarakat, dimana masyarakat dapat memahami lebih jauh lagi bahwa pemberdayaan mereka dalam mengelola lahan basah adalah untuk keberlanjutan hidup dan ekosistem lingkungan, sehingga penguatan kapasitas masyarakat untuk berdiri ditengah-tengah persoalan dalam mengelola lahan basah menjadi pertaruhan yang kuat, pesan inilah yang perlu menjadi catatan penting dalam memanfaatkan dan meningkatkan potensi lahan basah. Sehingga dari hal tersebut penguatan komunikasi bencana menjadi jawaban yang perlu dipositioningkan dalam benak masyarakat dibarengi dengan kebijakan pemetaan kawasan lahan basah yang potensial oleh pemerintah terutama berkaitan dengan kebijakan dan regulasi makro maupun mikro dengan melakukan pembatasan pemanfaatan lahan basah/lahan gambut untuk kepentingan perkebunan kelapa sawait skala besar yang tidak berbasis masyarakat pertanian dan perkebunan rakyat agar tidak merusak dan mengganggu ekosistem makro kawasan lahan basah secara komprehensif.

Datar Pustaka

Arbain, Tauik. (2013). Filsafat Penelitian dan Aplikasi Mixed Methodologi untuk Kajian Administrasi Publik. Banjarmasin: Pustaka Banua

BPS, 2012. Kalsel Dalam Angka 2011. BPS Kalsel. Banjarmasin

Chambers, R. (1992). Rural Appraissal, Rapid, Relaxed and Partisipatory. Inst.Dev.Studies,Univ.of Sussex,England

Hikmat, Harry.(2004). Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Penerbit Humaniora Utama. Bandung

(19)

Osborn, D and Ted Gabler, 1995, Reinventing Government : How the Entrepreneurial Spirit is transforming the Publik Sector.

Kartasasmita, Ginanjar. (1996). Pemberdayaan Masyarakat; Konsep Pembangunan yang berakar dari Masyarakat. Jakarta. Bappenas.

Laksono, dkk. (2002). Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan yang Berperspektif Lingkungan : Studi Ekologi Budaya Kawasan HutanMangrove/ Lahan Basah Di Jawa Tengah Dan Kalimantan Timur. Hasil Penelitian.Lemlit UGM. Yogyakarta

Levang, Patrice. (2000). Ayo ke Seberang. Transmigrasi di Indonesia. Yogyakarta; Pustaka Pelajar

Parsons, Wayne. (2005). Public Policy. Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan. Jakarta: Kencana.

Pranaji, Tri (2005) Pemberdayaan Kelembagaan dan Pembedayaan Sumberdaya lahan dan air. Kertas kerja. Jakarta

Rogers, Steve. (1990). Performance Management in Local Government. Jessica

Srinajiyati, dkk. (2005). Pemberdayaan Masyarakat di Lahan Gambut. Jakarta: Wetlands International - Indonesia Programme.

Sumodiningrat, Gunawan. (1996). Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman Sosial. Jakarta. Gramedia.

Referensi

Dokumen terkait

Bekerja sebagai buruh perkebunan seperti kuli angkat tandan buah segar kelapa sawit memerlukan kondisi tubuh yang bugar dan sehat karena pekerjaan yang dilakukan umumnya

Perkebunan Kelapa Sawit menjadi ruang yang paling tidak aman bagi Buruh Perempuan, tidak hanya karena status kerja mereka yang rentan – hanya sebagai BHL – tetapi

Di provinsi Sumatra Utara dan Sumatera Barat, suatu kombinasi dari populasi manusia yang tinggi dan pembukaan lahan hutan yang sangat besar untuk kelapa sawit, karet dan