• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Characteristic of Pregnant Woman and Implementation of Antenatal Care Work Region Simpanggabir Clinic Madina Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Characteristic of Pregnant Woman and Implementation of Antenatal Care Work Region Simpanggabir Clinic Madina Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 The Characteristic of Pregnant Woman and Implementation of Antenatal Care Work Region

Simpanggabir Clinic Madina Indonesia

Siti SaidahNasution

Lecturer of Maternity Nursing Department Nursing Faculty of North Sumatera University

Prof. Maas Street, No.3 USU college Medan 20155 INDONESIA Phone/Fax: +62-61-8213318

E-mail: [email protected] Abstract

Health problem in Indonesia are dominated by the low health status of pregnant women, childbirth, and death of newborn. One of factor causing the highest mortality rate is pregnancy problems what do not detect early. Quality of pregnancy assessment is low and childbirth is done by non-medical personnel. Implementation of antenatal care (ANC) startedregulerly from first trimester to third trimester is more important to do for identifity existence high risk both of mother and fetus. Description of characteristic of pregnant women is important to know making right intervention at pregnancy and childbirth management. The research aims todescribe about characteristic and implementation antenatal care (ANC) of pregnant women in LinggaBayu district. Type of research is descriptive. Population of all pregnant women who live in LinggaBayu district,sampled 78 respondent. The result of research based on characteristic of maternal age classified 70% high risk, frequency of childbearing more than 3 (three) 80%, spacing pregnancies of less than 2 years 65%, 50% state residence with parents or other relatives, 100% Muslim religion, low educational level of 60%, 70% housewives, making decisions of family is husband 80%, the source of public health information about 90%, 70% implementation of the ANC is not as it should be. Conclusion circumtance and condition of pregnant women generally classified high risk morbidity and mortality of mother and fetus. The role of medical personel must be optimized involving the community at health program especially pregnancy and childbirth care.

(2)

2 1. Pendahuluan

Masalah kesehatan di Indonesia saat ini di dominasi oleh rendahnya derajat kesehatan ibu hamil, melahirkan dan kematian bayi baru lahir, sehingga program pemerintah memprioritaskan percepatan penurunan AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi). Indikator utama dalam bidang kesehatan adalah Indeks pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari umur harapan hidup (UHH), Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (Dep.Kes, 2009). Salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian adalah adanya gangguan pada saat kehamilan yang tidak terdeteksi secara dini. Rendahnya frekwensi kualitas pemeriksaan ke hamilan (ANC) kepada petugas kesehatan, pertolongan persalinan masih banyak dilakukan oleh bukan petugas kesehatan (Dep.Kes 2010).

Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi, antara lain perdarahan, tekanan darah yang tinggi saat hamil (eklampsia), infeksi, persalinan macet dan komplikasi keguguran. Sedangkan penyebab langsung kematian bayi adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kekurangan oksigen (asfiksia). Penyebab tidak langsung kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya. Kondisi geografi serta keadaan sarana pelayanan yang kurang siap ikut memperberat permasalahan ini (Bobak, 2005)

Selain hal diatas tingginya angka kematian ibu terkait dengan kondisi 3 (tiga) terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat pelayanan dan terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat) dan 4 (empat) terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu rapat jarak kelahiran). Berkaitan dengan perilaku faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan masyarakat tidak terlepas dari budaya dan kebiasaan keluarga serta lingkungan masyarakat sehari- hari (Notoatmojo,2003). Keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga dapat dihindari apabila ibu dan keluarga mengetahui tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta tindakan yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah sehingga dapat meningkatkan status kesehatan ibu melalui penurunan angka kesakitan dan kematian ibu (Dep.Kes, 2010).

Status kesehatan ibu hamil dapat ditingkatkan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal 4 kali selama kehamilan kepada petugas kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi sehingga terhindar dari anemia, merencanakan persalinan pada petugas kesehatan (Bobak, 2005). Pentingnya pemenuhan gizi pada ibu hamil sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemenuhan nutrisi keluarga yang secara umum masih dipengaruhi oleh kebiasaan keluarga (Soekirman, 2000). Kebutuhan gizi ibu hamil sangat penting dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan. Ibu hamil dengan status kesehatan yang baik akan melahirkan bayi dengan sehat dan status kesehatan yang baik.

Perawatan Kehamilan

Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan atau trimester yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai tiga bulan, triwulan kedua yaitu bulan ke empat sampai ke enam, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan (Pillitteri,2003). Periode prenatal adalah periode persiapan, baik secara fisik maupun psikologis. Kunjungan prenatal regular dimulai segera setelah pertama kali ibu terlambat menstruasi, untuk mengikuti perkembangan kehamilan ibu dan pertumbuhan perkembangan janin (Bobak, 2005). Perawatan pada prenatal bertujuan untuk menentukan bahwa ibu benar-benar hamil, mengevaluasi dan menangani keadaan medis lain yang mungkin ada, mendiagnosa dan mengobati penyulit kehamilan, memberikan dukungan akan kebutuhan psikologis pada ibu untuk menurunkan stres yang berhubungan dengan penyulit, menjelaskan nutrisi yang dibutuhkan, menyiapkan ibu untuk persalinan dan perawatan anak dengan pendidikan dan bantuan, menjelaskan perawatan post partum dan supervisi medis (Matteson, 2001 ). Perawatan mandiri dalam kehamilan harus dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan ibu dan janin. Perawatan mandiri yang dapat dilakukan adalah (Olds, 2000) :

(3)

3 Wanita perlu mempelajari bahwa setiap wanita harus selalu memperhatikan kebersihan diri yaitu mandi, buang air kecil, dan buang air besar. Memakai celana dalam yang terbuat dari bahan yang nyaman seperti katun, tidak mengenakan celana ketat atau jeans ketat untuk waktu yang lama. c. Perawatan payudara.

Payudara merupakan sumber air susu ibu (ASI) yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, oleh karena itu selama kehamilan harus dilakukan perawatan payudara untuk persiapan masa laktasi (Gorrie , 1998). Hal ini sesuai dengan penelitian Isabella (1994) yang menyatakan keberhasilan ibu menyusui akan tercapai dengan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu persepsi individu/ibu, sosial budaya dan lingkungan sehari- hari.

d. Nutrisi.

Nutrisi merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi hasil akhir kehamilan (Bobak, 2005). Status nutrisi dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurang pendidikan, kemiskinan, lingkungan yang buruk, kebiasaan makan dan kondisi kesehatan yang buruk. Ssupan gizi semasa hamil tidak boleh diabaikan. Ibu harus memenuhi panduan makanan yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang seimbang, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, kalsium, fosfor, zat besi, dan air (Berg, 1989).

Mengenal tanda-tanda bahaya risiko tinggi. Ibu hamil harus mengetahui tanda-tanda bahaya seperti hiperemesis gravidarum atau muntah berat, menggigil, demam, rasa terbakar sewaktu berkemih, diare, kram perut dan perdarahan dari vagina, tanda-tanda bahaya ini dapat berakibat buruk bagi ibu maupun janin.

Menghindari obat-obatan, alkohol, dan merokok. Pemakaian obat-obatan seharusnya selama kehamilan dihindari terutama dalam trimester pertama, karena obat-obatan tersebut mempengaruhi perkembangan janin dan dapat menbahayakan janin.

2. Metodologi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dan pelaksanaan ANC di kecamatan Lingga Bayu kabupaten Madina.

Desain yang digunakan adalah deskriptif. Populasi seluruh ibu hamil yang berdomisili di wilayah kecamatan Lingga Bayu, dengan jumlah sampel sebanyak 78 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Nopember dan Desember tahun 2012. Instrumen Penelitian dan Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti yang mengacu kepada tinjauan teoritis. Analisa Data dikakukan dengan menggunakan tabulasi frekwensi dan presentasi. Hasil analisa data disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

3. Hasil

(4)

4 Tabel 1. Karakteristik Ibu Hamil (N=78)

Tabe1.2. Distribusi frekwensi dan persentasi Pelaksanaan ANC ( N= 78)

Tabel diatas menggambarkan Pelaksanaan ANC 70 % tidak sesuai dengan yang seharusnya yaitu saat usia kehamilan trimester I minimal 1 kali, trimester II, minimal 1 kali, trimester III minimal 2 kali.

4. Pembahasan

Hasil penelitian secara umum menggambarkan Karakteristik ibu yang berkaitan dengan umur, merupakan dalam periode resiko tinggi yaitu usia

reproduksi kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Pillitteri, A. (2003).

Kehamilan paling ideal bagi seorang wanita adalah saat usianya berada pada rentang 20-35 tahun. Wanita yang hamil pada usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun memiliki risiko tinggi seperti perceraian, kematian pada anak, dan abortus spontan.

(5)

5 Selain itu umur juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang karena semakin bertambahnya umur seseorang maka akan terjadi perubahan pada aspek psikologis (mental). Pada aspek psikologis atau mental taraf berpikir seseorang semakin matang. Dari hasil penelitian juga di dapatkan data mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan dalam kategori rendah ( 60%) yaitu tidak sekolah dan hanya sampai SD. Pendidikan dalam penelitian ini merupakan pendidikan formal yang didapat dari pendidikan sekolah.

Tingkat pendidikan ibu dapat dikaitkan pada pola pikir ibu dalam merawat kehamilan, mempersiapkan persalinan dan mengasuh bayi, dimana ibu akan lebih berusaha untuk dapat memahami dan mendapatkan pelayanan keperawatan yang berkualitas untuk kesehatan diri dan janinnya. Penelitian Mardiana (2009) menyatakan bahwa ibu dengan pengetahuan baik mempunyai balita dengan status gizi baik (79,7%), sedangkan jumlah ibu yang berpengetahuan sedang mempunyai balita dengan status gizi kurang (43,5%), dimana pendidikan ibu juga akan berhubungan terhadap pengetahuannya.

Pendapat ini di dukung oleh Menurut Notoatmodjo (2003) yaitu pendidikan, pengalaman, kebudayaan, kepercayaan, informasi merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Dalam menentukan sikap, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Dan sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik) (Notoatmodjo, 2005).

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang memungkinkan terjadinya pengetahuan. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui pendidikan formal maupun nonformal dan semakin tinggi pendidikan maka semakin luas pengetahuan ( Notoatmodjo, 2003). Faktor eksternal yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi pengetahuan, salah satunya yaitu: akses terhadap informasi (Notoatmodjo, 2003).

Ibu hamil dengan tingkat pendidikan yang rendah memungkinkan untuk memiliki pengetahuan yang terbatas tentang kesehatan khususnya pemeriksaan kehamilan dan pelaksanaan ANC. Data ini seiring dengan hasil penelitian yang menggambarkan bahwa Pelaksanaan ANC ibu hamil di kecamatan Lingga ayu 70 % tidak sesuai dengan yang seharusnya yaitu saat usia kehamilan trimester I minimal 1 kali, trimester II, minimal 1 kali, trimester III minimal 2 kali.

Kunjungan pertama dilakukan pada saat ibu mengalami amenorea. Frekuensi kunjungan tergantung pada kebutuhan ibu. Sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan setiap bulan sampai usia kehamilan tujuh bulan. Setelahnya, pemeriksaan kehamilan dilakukan dua minggu sekali sampai usia kehamilan 32 minggu atau 8 bulan, selanjutnya dilakukan seminggu sekali sampai akhir kehamilan. Namun, bila ada kasus khusus, misalnya apabila ada gangguan, maka ibu hamil harus dapat memeriksakan diri kapan saja.

Notoatmodjo (2005), ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan, antara lain: umur, jenis kelamin, pekerjaan, sosial ekonomi. Hasil penelitian juga menunjukkan frekwensi melahirkan anak lebih dari 3(tiga) 80 %, jarak kehamilan kurang dari 2 tahun 65 %, status tempat tinggal 50 % bersama orang tua atau keluarga lain, agama 100 % muslim, pekerjaan ibu rumah tangga 70 %, pengambilan keputusan dalam keluarga suami 80 %, sumber informasi kesehatan masyarakat sekitar 90 %. Keadaan ini memungkinkan ibu berada pada kondisi resiko tinggi dalam kehamilan dan persalinan yang akan meningkatkan terjadinya angka kesakitan dan kematian baik pada ibu maupun janin.

Hasil penelitian diatas, sejalan dan berkaitan dengan pendapat yang mengatakan penyebab tidak langsung kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya (Pillitteri. 2003). Kondisi geografi serta keadaan sarana pelayanan yang kurang siap ikut memperberat permasalahan .

(6)

6 Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun ingkungan sosial-budaya. Untuk melakukan pendekatan perubahan perilaku kesehatan, petugas kesehatan harus menguasai berbagai macam latar belakang sosio-budaya masyarakat yang bersangkutan. Latar belakang sosial dan ekonomi mempunyai hubungan terhadap perilaku kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 2005).

Kehidupan sehari-hari masyarakat Madina, masih banyak dipengaruhi oleh adat istiadat, mitos, kepercayaan secara supranatural termasuk dalam hal perawatan ibu hamil, melahirkan dan perawatan bayi baru lahir. Dalam mengatur sistem kehidupan, masyarakat Mandailing Natal menggunakan sistem Dalian Na Tolu (tiga tumpuan). Masyarakat secara umum kehidupan termasuk berada pada tingkatan tradisional dalam soal hakekat hidup, dengan tujuan hidup utama ialah hamoraon (kekayaan), hagebeon (banyak keturunan) dan hasangapon atau kehormatan (Nasution, 2005).

Pencarian pengobatan/pertolongan apabila sakit, selalu melibatkan keluarga, saudara ataupun pemuka agama serta tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap sebagi pengambil keputusan dalam lingkungan masyarakat. Suku mandailing menganut sistim Patrilineal yaitu garis keturunan dari pihak ayah, yang ditandai dengan memberikan marga ayah pada setiap bayi baru lahir. Keluarga dari pihak laki-laki merupakan fihak yang sangat di hormati dan berhak dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam masalah kesehatan.

Kehadiran anak dalam suku Mandailing mempunyai arti yang sangat penting, khususnya anak laki-laki, karena anak dianggap sebagai penerus marga dalam keluarga, sehingga opung/nenek dari pihak ayah sangat berperan dalam perawatan anak, termasuk dalam hal kehamilan dan persalinan. Perkawinan yang tidak memberikan anak dalam adat dipandang sebagai hal yang kurang beruntung, sehingga anak yang lahir dari suatu perkawinan selalu diberkati secara adat atau di pasu-pasu, (Ritonga, 2002).

Masalah di atas di dukung oleh penelitian Rachmawati (2001), yang menyatakan penyebab kematian bayi dibagi menjadi dua bagian yaitu kematian neonatal (28 hari pertama) dan kematian pasca natal (28-365) hari. Penyebab kematian neonatal paling lazim disebabkan oleh kejadian prenatal dan kejadian tepat setelah lahir. Layanan prenatal yang memadai, yang di lengkapi dengan pengkajian dan manajemen resiko, serta kemajuan teknologi peralatan intensif.

Sedangkan penelitian Simkhada (2010) di Nepal, mengatakan angka kematian ibu secara umum terjadi pada ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan ANC, hal ini terkait dengan kebiasaan keluarga dan budaya masyarakat setempat. Faktor lain yang berkontribusi terhadap tingginya kematian ibu dan bayi adalah pemanfaatan layanan kesehatan, akses dan pengetahuan orang tua.

Simpulan dan Saran Simpulan

1. Secara umum karakteristik ibu hamil di kecamatan Lingga Bayu kabupaten Madina, Beresiko tinggi untuk terjadinya angka kesakitan dan kematian baik, pada ibu maupun janin, karakteristik ibu hamil terdiri dari usia ibu, frekwensi melahirkan, jarak kehamilan, status tempat tinggal tingkat pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan dalam keluarga, sumber informasi kesehatan.

2. Kunjungan ANC ibu hamil belum dilaksanakan dengan maksimal sesuai dengan yang seharusnya, kondisi ini memungkinkan keadaan kehamilan ibu tidak terkontrol, sehingga apabila ada kelainan tidak dapat di deteksi secara dini yang pada akhirnya dapat meningkatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada ibu dan janin.

(7)

7 1. Pemerintah daerah setempat, khususnya petugas kesehatan harus lebih meningkatkan pemberian informasi kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya angka kesakitan dan kematian terkait dengan kehamilan dan persalinan kepada masyarakat sesuai dengan tingkat dan pemahaman masyarakat setempat.

2. Perlu ditingkatkan peran petugas kesehatan dalam mengoptimalisasikan penyuluhan tentang pentingnya pelaksanaan pemeriksaan kehamilan (ANC) pada ibu hamil dan keluarga dengan melibatkan tokoh masyarakat yang dapat mempengaruhi keputusan ibu dan keluarga.

Daftar Pustaka

Bobak, I. M., Lowdermilk, D. L., & Jensen, M. D. (2005). Maternity nursing. 4th ed. (Wijayarini, M.A, &Anugrah, P.I : Penerjemah). California: The CV.Mosby. ( Sumber Asli diterbitkan 1995).

Berg.A (1989). Peranan gizi dalam pembangunan. Jakarta. CP.Rajawali

Pillitteri, A. (2003). Maternal & child health nursing : Care for chilberaing & childrearing family. (4th ed.), Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.

Rachmawati, I. N., Allenidekania, & Wijayarini, M. A. (2001). Identifikasi kebutuhan perawatan mandiri ibu nifas. Jurnal Keperawatan Indonesia. 5 (2), 60-66.

Departemen Kesehatan (2009). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta. Dep.Kes dan JICA.

Dinas kesehatan kabupaten Mandailing Natal. (2010). Propfil kesehatan kabupaten Mandailing Natal.

Simkhada.B, Porter.M, Teijlingen.E (2010) The Role of mothers-in-law in antenatal care decision-making in Nepal: a qualitative study : Journal BMC Pregnancy and Childbirth 2010, 10:34

Nasution. P (2005). Adat budaya Mandailing dalam tantangan zaman. Forkala Propinsi Sumatera Utara.

Notoatmojo,S. (2002). Metodologi penelitian kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta. ___________ (2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta.

___________ (2005). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta.

Mardiana. 2006. Hubungan Perilaku Gizi Ibu dengan Status Gizi Balita di Puskesmas Tanjung Beringin Kec. Hinai Kab. Langkat. Medan: USU e-Repository

Ritonga, P. (2002). Nilai budaya dalam turi-turian Mandailing raja gorga di langit dan sutan suasa di portibi. Medan.PT.Yandira Agung.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Ibu Hamil  (N=78)

Referensi

Dokumen terkait

Ia yang merupakan salah satu bentuk kejahatan di dunia maya yang dilakukan dengan cara mengubah tampilan suatu website, baik halaman utama atau index file ataupun halaman

Dalam proses Protokol Feige Fiat Shamir (FFS) ini dibutuhkan bilangan prima yang dicari menggunakan metode Fermat dan bilangan acak yang dicari menggunakan metode Quadratic

Makalah yang ketiga dengan judul Identifikasi Fasilitas 24 Pelabuhan di Indonesia Menggunakan Analisis Cluster dan Analysis Hierarchy Processoleh Fitri Indriastiwi, penelitian

Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan modul matematika dengan pendekatan kontekstual dan metode penemuan terbimbing yang

Terima kasih sudah jadi sahabat yang baik banget buat aku, selalu sabar dengerin kecerewetanku, anak yang paling endel tapi baik hati.. Semoga semakin baik untuk

LAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap NIM. Secara teoristis apabila LAR meningkat berarti terjadi peningkatan total kredit dengan presentase lebih besar dibandingkan

benar sekali: Setiap orang yang percaya kepada-Ku akan melakukan keajaiban- keajaiban seperti yang Aku lakukan. Dan bukan hanya itu saja, tetapi mereka juga akan melakukan

Peran serta bawahan dalam menyusun anggaran, masukan, dan diskusi antara bawahan dan atasan di lingkup pemerintahan daerah Kabupaten Situbondo dapat meningkatkan kinerja