RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Kelas : VII (Tujuh)
Semester : 2 (Dua)
Alokasi Waktu : 2 x Pertemuan (240 Jam Pelajaran)
Topik : Karakteristik Daerah Tempat Tinggal dalam Kerangka NKRI
Kompetensi Inti Sikap
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
Pengetahuan
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
Keterampilan
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
Kompetensi Dasar
3.5 Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
4.5 Menyaji hasil pengamatan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
2. Menerima keberagaman karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
3. Menjelaskan karakteristik daerah tempat tinggalnya.
4. Menunjukkan sikap positif terhadap karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
5. Berperilaku sesuai dengan karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
A. Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
2. Peserta didik menerima keberagaman karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI.
3. Peserta didik mengetahui karakteristik daerah tempat tinggalnya.
4. Peserta didik menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI.
5. Peserta didik menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
B. Materi Ajar
Karakteristik Daerah Tempat Tinggal
Tidak ada negara di dunia ini yang tidak memiliki daerah. Daerah atau wilayah merupakan unsur terbentuknya negara. Oleh karena itu,daerah memiliki kedudukan yang sangat penting bagi suatu negara. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang terdiri atas provinsi,kota, dan kabupaten. Daerah-daerah tersebut merupakan bagian yangtidak terpisahkan dari negara Indonesia.
penduduk lebih dari 240 juta jiwa. Luas wilayah dan jumlah penduduk merupakan potensi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia untuk maju dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia. Semua potensi tersebut tentu harus dikelola dengan bijak dan baikoleh seluruh komponen bangsa. Pemerintah pusat dan pemerintah daerahharus seiring sejalan dalam mengembangkan daerah. Kamu sebagai pelajarsepatutnya memahami daerah kamu masing-masing sebagai bagian yangtidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Indonesia adalah negara yang sangat luas. Luas darat dan laut wilayah Indonesia adalah 5.193.250 km. Indonesia terdiri atas 34 provinsi dan menurut data tahun 2012 di Indonesia terdapat 409 kabupaten dan 93 kota.
Daerah tempat tinggal adalah daerah yang kita tempati dalam salah satu bagian wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia. Kamu pasti menempati salah satu daerah tersebut, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Daerah di Indonesia terbagi dalam provinsi, kabupaten, dan kota.
Semua daerah di Indonesia memiliki perannya masing-masing dalam berdirinya Negara Republik Indonesia. Kita harus menanamkan pemahaman bahwa tidak ada satu daerah yang lebih berjasa dalam membangun dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, generasi muda yang berada di daerah masing-masing sebaiknya memahami kedudukan dan peran daerah masing-masing dalam pergerakan perjuangan bangsa Indonesia.
Kabupaten Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kuningan. Letak astronomis kabupaten ini di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.
Sejarah Asal Nama Kabupaten Kuningan
Ada beberapa kemungkinan tentang asal-usulnya Kuningan dijadikan nama daerah ini. Salah satu kemungkinan adalah bahwa istilah tersebut berasal dari nama sejenis logam, yaitu kuningan. Dalam bahasa Sunda (juga bahasa Indonesia), kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak dan perunggu. Jika disepuh (dibersihkan dan diberi warna indah) logam kuningan itu akan berwarna kuning mengkilap seperti emas sehingga benda dibuat dari bahan ini akan tampak bagus dan indah. Memang logam kuningan bisa dijadikan bahan untuk membuat aneka barang keperluan hidup manusia seperti patung, bokor, kerangka lampu maupun hiasan dinding.
Di Sangkanherang, dekat Jalaksana sebelum tahun 1914 ditemukan beberapa patung kecil terbuat dari kuningan. Paling tidak sampai tahun 1950-an barang-barang yang terbuat dari bahan logam kuningan itu sangat disukai oleh masyarakat elit (menak) di daerah Kuningan. Barang-barang yang dimaksud berbentuk alat perkakas rumah tangga dan barang hiasan di dalam rumah. Benda-benda dari bahan kuningan itu juga disukai pula oleh sejumlah masyarakat Sunda, Jawa, Melayu, dan beberapa kelompok masyarakat di Nusantara umumnya.
Di daerah Ciamis dan Kuningan sendiri terdapat cerita legenda yang bertalian dengan bokor (tempat menyimpan sesuatu di dalam rumah dan sekaligus sebagai barang perhiasan) yang terbuat dari logam kuningan[. Kedua cerita legenda dimaksud menuturkan tentang sebuah bokor kuningan yang dijadikan alat untuk menguji tingkat keilmuan seorang tokoh agama.
Pendeta Ajar Sukaresi yang sudah mengetahui akal busuk Sang Raja tetap tenang dalam menebak teka-teki yang diberikan oleh Sang Raja, Sang Pendeta pun berkata bahwa memang perut Sang Putri tersebut sedang hamil. Sang Raja pun merasa gembira mendengar jawaban dari Pendeta tersebut,karena beliau berpikir akal busuknya untuk mengelabui Sang Pendeta berhasil. Sang Raja dengan besar kepala berkatabahwa tebakan Sang Pendeta salah, dan kemudian memerintahkan kepada prajuritnya agar pendeta tersebut dibawa ke penjara dan segera Sang Raja mengeluarkan perintah agar pendeta tersebut di hukum mati.
Teryata tak berapa lama kemudian diketahui bahwa Sang Puteri tersebut benar-benar hamil. Muka Raja tersebut merah padam,hal ini tak mungkin terjadi pikirnya. Dengan gelap mata Sang Raja tersebut marah dan menendang bokor kuningan, kuali dan penjara besi yang berada di dekatnya. Bokor, kuali dan penjara besi itu jatuh di tempat yang berbeda. Daerah tempat jatuhnya bokor kuningan, kemudian diberi nama Kuningan yang terus berlaku sampai sekarang. Daerah tempat jatuhnya kuali (bahasa Sunda: kawali) dinamai Kawali (sekarang kota kecamatan yang termasuk ke dalam daerah Kabupaten Ciamis dan terletak antara Kuningan dan Ciamis, sekitar 65 km sebelah selatan kota Kuningan), dan daerah tempat jatuhnya penjara besi dinamai Kandangwesi (kandangwesi merupakan kosakata bahasa Sunda yang artinya penjara besi) terletak di daerah Garut Selatan.
Dalam Babad Cirebon dan tradisi Lisan Legenda Kuningan bokor kuningan itu digunakan untuk menguji tokoh ulama Islam (wali) bernama Sunan Gunung Jati. Jalan ceritanya kurang lebih sama dengan cerita Ciung Wanara, hanya di dalamnya terdapat beberapa hal yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud terletak pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa, tujuan dan akibat pengujian itu, dan tidak ada peristiwa penendangan bokor. Jika cerita Ciung Wanara menuturkan gambaran zaman kerajaan Galuh yang sepenuhnya bersifat kehinduan atau masa pra-Islam, maka Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengisahkan tuturan pada zaman peralihan dari masa Hindu menuju masa Islam atau pada masa proses Islamisasi. Dengan demikian, isi cerita Ciung Wanara lebih tua daripada isi Babad Cirebon atau tradisi lisan Legenda Kuningan. Cerita Ciung Wanara mengungkapakan tempat peristiwanya di Bojong Galuh, sedangkan Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengemukakan bahwa peristiwanya terjadi di Luragung (kota kecamatan yang terletak 19 km sebelah timur Kuningan).
Tidak seperti dalam cerita Ciung Wanara, penaksiran kehamilan Puteri dilatarbelakangi oleh tujuan mencelakakan pendeta Ajar Sukaresi dan berakibat pendeta tersebut dihukum mati, dalam Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan penaksiran kehamilan tersebut dimaksudkan untuk menguji keluhuran ilmu Sunan Gunung Jati semata-mata dan berdampak mempertinggi kedudukan keulamaan wali tersebut. Anak yang dilahirkannya adalah seorang bayi laki-laki yang kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh Ki Gedeng Luragung, penguasa daerah Luragung. Selajutnya Sunan Gunung Jati menjadi Sultan di Cirebon. Setelah dewasa bayi itu diangkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin atau kepala daerah Kuningan dengan nama Sang Adipati Kuningan.
Jadi, dari nama jenis logam bahan pembuatan bokor itulah daerah ini dinamakan daerah Kuningan. Itulah sebabnya, bokor kuningan dijadikan sebagai salah satu lambang daerah Kabupaten Kuningan. Lambang lain daerah ini adalah kuda yang berasal dari kuda samberani milik Dipati Ewangga, seorang Panglima perang Kuningan.
Menurut tradisi lisan Lagenda Kuningan yang lain, sebelum bernama Kuningan nama daerah ini adalah Kajene. Kajene katanya mengandung arti warna kuning (jene dalam bahasa Jawa berarti kuning). Secara umum warna kuning melambangkan keagungan dalam masyarakat Nusantara. Berdasarkan bahan bokor kuningan dan warna kuning itulah, kemudian pada masa awal Islamisasi daerah ini dinami Kuningan. Namun keotentikan Kajene sebaga nama pertama daerah ini patut diragukan, karena menurut naskah Carita Parahyangan sumber tertulis yang disusun di daerah Ciamis pada akhir abad ke-16 Masehi, Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) telah dikenal sejak awal kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu, wilayah kerajaan Kuningan terletak di daerah Kabupaten Kuningan sekarang.
Dalam tradisi agama Hindu terdapat sistem kalender yang enggambarkan siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu-Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke 12 dari sistem kalender tersebut. Pada periode wuku Kuningan selalu daiadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Mungkinkah, nama wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama bagi daerah ini?
Yang jelas, menurut Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan, dua naskah yang ditulis sezaman pada daun lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, pada abad ke-8 Masehi, Kuningan sudah disebut sebagai nama kerajaan yang terletak tidak jauh dari kerajaan Galuh (Ciamis sekarang) dan kerajaan Galunggung (Tasikmalaya sekarang). Lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.
Arti Penting Daerah Tempat Tinggal dalam Kerangka NKRI
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah negara besar dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa. Penduduk Indonesia beraneka ragam dalam hal suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan golongan politik. Luas wilayah dan jumlah penduduk merupakan potensi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia untuk terus maju dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Semua potensi tersebut tentu harus dikelola dengan sangat baik oleh seluruh komponen bangsa.
Dalam mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia, tidak mungkin pemerintah pusat melaksanakannya sendiri. Pemerintah daerah memiliki hak untuk mengembangkan sumber daya manusia dan bersama-sama pemerintah pusat menentukan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Hak dan kewajiban daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Mengingat keberadaan dan demi menjaga penyelenggaraan tertib pemerintah yang baik dan efisien, kekuasaan negara tentu tidak dapat dipusatkan dalam satu tangan kekuasaan saja. Oleh karena itu, penyebaran kekuasaan harus dijalankan secara efektif untuk mencapai cita-cita dan tujuan akhir negara sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai konsekuensinya, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dibagi dalam beberapa daerah, besar dan kecil.
Implementasi amanat konstitusi di atas diatur oleh peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah dan terakhir diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk menyelenggarakan otonomi, pemerintah pusat menyerahkan sejumlah urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangga daerah otonom, baik kepada daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota. Penyerahan berdasarkan kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya, pertahanan dan keamanan, serta syarat-syarat keadaan dan kemampuan daerah otonom yang bersangkutan.
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Scientific/Ilmiah Strategi/Model : - Pencarian informasi
: - Dialog mendalam dan berpikir kritis : - Penemuan
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan penugasan.
D. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Mengajak peserta didik untuk memulai pembelajaran dengan berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
b. Menginformasikan tujuan yang akan dicapai selama pembelajaran.
c. Menginformasikan relevansi bahan ajar yang akan disajikan selama pembelajaran bagi kepentingan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. d. Melaksanakan pree test secara lisan.
2. Kegiatan Inti
b. Tanya jawab atau dialog secara mendalam dan berpikir kritis tentang materi ajar karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI yang diawali dengan:
1. Penayangan gambar/video tentang karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
2. Peserta didik diminta untuk mengamati tayangan gambar/video.
3. Dialog mendalam secara klasikal untuk mengungkap bagaimana peserta didik memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI
4. Pemantapan/penguatan atas pendapat yang telah dikemukakan peserta didik.
c. Menginformasikan kegiatan selanjutnya tentang pencarian informasi terkait dengan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
d. Peserta didik diberikan tugas secara individu terkait dengan pencarian informasi karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
Pertemuan 2
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Mengajak peserta didik untuk memulai pembelajaran dengan berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
b. Menginformasikan tujuan yang akan dicapai selama pembelajaran.
c. Menginformasikan relevansi bahan ajar yang akan disajikan selama pembelajaran bagi kepentingan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. d. Melaksanakan pree test secara lisan.
2. Kegiatan Inti
a. Menginformasikan cara belajar dengan ceramah, tanya jawab (dialog secara mendalam dan berpikir kritis) , diskusi, dan pencarian informasi.
b. Tanya jawab atau dialog secara mendalam dan berpikir kritis tentang materi ajar arti penting daerah tempat tinggal dalam kerangka NKRI yang diawali dengan :
1. Mengkaji dasar hukum tentang pemerintahan daerah.
2. Peserta didik diminta untuk mengkaji konstitusi dan uu tentang pemerintahan daerah.
3. Diskusi secara berkelompok untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam mengkaji konstitusi dan uu tentang pemerintahan daerah.
4. Pemantapan/penguatan atas hasil diskusi yang telah dilakukan peserta didik.
3. Kegiatan Penutup
a. Melakukan refleksi dengan meminta pendapat peserta didik tentang kegiatan pembelajaran yang telah dialami (memberikan kemudahan dalam belajar atau sebaliknya ?).
b.
Bersama peserta didik membuat kesimpulan tentang materi ajar yang telas disajikan selama pembelajaran.c. Melaksanakan post test secara lisan.
d.
Mengajak peserta didik untuk mengakhiri pembelajaran dengan berdoa sesuai denganagama dan keyakinan masing-masing.E. Sumber Belajar 1. Media.
Lembar pencarian informasi tentang karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dari NKRI.
2. Buku teks.
3. Naskah konstitusi UUD 1945.
F. Penilaian
1. Tes lisan dan tertulis. 2. Pengamatan perilaku. Instrumen Penilaian
1. Jelaskan arti penting daerah bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Jelaskan peraturan perundangan-undangan yang mengatur otonomi daerah. 3. Jelaskan hak dan kewajiban daerah dalam pelaksanaan pemerintahan daerah. 4. Jelaskan bentuk partisipasi daerah dalam memperkuat Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
5. Jelaskan apa yang terjadi apabila pelaksanaan pemerintahan daerah tidak didukung oleh masyarakat di daerah.
Lembar Pencarian Informasi
Nama Siswa :NIS :
Nama Daerah Luas Wilayah Sejarah Daerah Budaya Daerah Potensi Daerah
Mengetahui, Kepala Sekolah
...
Guru Kelas VII,
...
Catatan :
... ...