RINGKASAN MATERI
BAHASA INDONESIA
Ragam Bahasa
Resmi » Lisan
Tidak Resmi
Ragam Bahasa
Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Bahasa yang baik adalah yang sesuai
dengan situasi komunikasi
Bahasa yang benar adalah yang sesuai
dengan kaidah
Bahasa yang baik dan benar adalah yang
sesuai dengan situasi dan sekaligus
Kaidah Bahasa
1. Tata Tulis (Ejaan)
2. Tata Bentukan Kata
3. Tata Kalimat
Ejaan (EYD) adalah kaidah bahasa yang
mengatur penulisan huruf, penulisan kata,
dan penggunaan tanda baca.
Misalnya, penempatan tanda baca pada
kalimat berikut akan mempengaruhi
informasi yang disampaikan.
Menurut kabar burung Pak Amat mati
1. Huruf Miring
a. Untuk menuliskan judul buku, nama
majalah, dan nama surat kabar yang
dikutip di dalam teks;
b. Untuk menuliskan huruf, kata, atau
istilah yang dikhususkan/ditegaskan;
c. Untuk menuliskan kata atau istilah
2. Huruf Kapital
Huruf kapital seluruhnya digunakan untuk
menuliskan
a. judul utama ,
b. judul bab,
Huruf Kapital Awal Kata
Huruf kapital pada setiap awal kata
digunakan untuk menuliskan
a. judul-judulsubbab,
b. namaTuhan, nabi, agama, dan kitab suci
c. nama diri,
d. nama tahun
, bulan
, dan hari
,
Penulisan Kata
1. Penulisan Gabungan Kata
a. Gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus atau salah satu unsurnya berupa unsur terikat.
b. Gabungan kata ditulis terpisah jika tidak berimbuhan atau hanya mendapat imbuhan awalan/akhiran.
2. Penulisan Bentuk di, per, dan pun
3. Penulisan Bentuk Ulang
Penulisan Unsur Serapan
1. Penerjemahan
shophouse --- ruko (rumah toko) industrial estate --- kawasan industri balanced budget --- anggaran
berimbang
2. Penyesuaian ejaan
energy --- energi
standardization --- standardisasi
3. Penerjemahan dan Penyerapan
Penulisan Singkatan
Singkatan ialah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Misalnya:
a. LHP [el- ha pe ] b. sdr. [saudara]
PT [pe te] dst.[dan seterusnya] BPK [be-- pe - ka] dsb.[dansebagainya ] c. a.n. [atas nama], bukan a/n
PenulisanAkronim
Akronim ialah kependekan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, atau huruf awal dan suku kata yang ditulis dan dilafalkan seperti kata biasa.
Misalnya:
a. raker b. SIM rapim FISIP taplus IKIP b. Bappenas
BENTUK KATA
1. Kata Dasar
2. Kata Bentukan
a. Penggabungan kata dasar dan
kata dasar
b. Penggabungan unsur terikat dan
kata dasar
PILIHAN KATA
KriteriaPemilihanKata
1. Ketepatan
Ketepatan
Agar pilihan kata yang digunakan tepat, hal-hal
berikut perlu dipahami
a. Perbedaan makna denotasi dan konotasi
b. Perbedaan makna kata-kata yang
bersinonim
c. Penggunaan kata atau ungkapan eufisime
d. Penggunaan kata-kata generik dan spesifik
e. Penggunaan kata-kata konkret dan abstrak,
Kecermatan
Agar cermat dalam pemilihan kata, penyebab
kemubaziran kata berikut ini perlu dipahami
a. Penggunaan kata yang bermakna jamak
secara ganda
b. Penggunaan kata yang fungsi dan
maknanya bermiripan secara ganda
c. Penggunaan kata yang bermakna saling
secara ganda
Keserasian
Agar pilihan kata yang digunakan serasi, hal-hal
berikut perlu dipahami
a. Penggunaan bentuk gramatikal suatu kata
b. Penggunaan idiom
c. Penggunaan kata atau ungkapan idiomatik
d. Penggunaan majas
e. Penggunaan kata atau ungkapan yang lazim
Pengertian Kalimat
Kalima
t
Penanda
Informasi
Penanda
Kalimat (dalam ragam tulis)
diawali dengan huruf kapital dan
diakhiri dengan tanda titik, tanda
tanya, atau tanda seru.
Informasi
Kalimat merupakan rangkaian
Contoh Kasus
1. Surat tugas itu sudah ditandatangani.
2. Surat tugas yang sudah ditandatangani itu
Catatan
Struktur
Kalimat sekurang-kurangnya mengandung dua
unsur, yaitu subjek dan predikat. Namun jika
predikatnya berupa kata kerja transitif, sebuah
kalimat selain memerlukan unsur subjek dan
predikat juga memerlukan unsur lain, yaitu objek,
misalnya:
P
S
O
Pel
K
Ciri-Ciri Unsur Kalimat
1. Subjek (S) merupakan jawaban pertanyaan
apa
atau
siapa.
2. Predikat (P) merupakan jawaban pertanyaan
bagaimana
atau
apa yang dilakukan (oleh S).
3. Objek (O) keberadaannyabersifat wajib dan
dapat menjadi S dalam kalimat pasif.
4. Pelengkap (Pel.) keberadaannyabersifat wajib
dan tidak dapat menjadi S dalam kalimat pasif.
5. Keterangan (K) keberadaannya bersifat
opsional (tidak wajib) dan posisinya dapat
Contoh Kasus
1. Dalam bab ini akan membahas metode pengumpulan data.
2. Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat
Kalimat (1) tidak lengkap
karena tidak
ada subjeknya
,
sedangkan (2)
tidak
ada predikatnya
. Perhatikan
Perbaikannya di bawah ini
Pola Dasar Kalimat
1. Pola SP
Hasil pemeriksaan itu sudah dilaporkan.
2. Pola SPO
Auditor BPK sedang melakukan pemeriksaan.
3. Pola SPPel.
Mantan direktur bank itu sekarang menjadi auditor.
4. Pola SPOPel.
Jenis-Jenis Kalimat
-1. KalimatTunggal
2. KalimatMajemuk
a. MajemukSetara
Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara ditandai
dengan penggunaan kata penghubung
sebagai berikut.
dan
tetapi
atau
sedangkan
lalu
melainkan
Contoh Kasus
1. Jenis KKP Indeks B hasil pemeriksaan
proyek irigasi terdiri atas dokumen
pembangunan dam.
Sedangkan
KKP
Indeks B hasil pemeriksaandi BUMN
terdiri atas dokumenkegiatan produksi.
1a.Jenis KKP Indeks B hasil pemeriksaan
proyek irigasi terdiri atas dokumen
Majemuk Bertingkat
Penanda Ketidaksetaraan
Jika
agar
meskipun
Kalau
supaya
walaupun
Apabila
sebab
akibat
Andaikata
akibat
sesudah
Seandainya
karena
setelah
Contoh Kasus
1. Karena
biaya produksinya tinggi
sehingga
perusahaan itu sering rugi.
Struktur kalimat majemuk tersebut tidak tepat
di dalamnya terdapat dua kata penghung yang
fungsinya sama. Kata penghubung tersebut
seharusnya satu saja yang digunakan, seperti
pada perbaikannya berikut ini.
PENGERTIAN PARAGRAF
Rangkaian beberapa kalimat
yang mengandung satu
PENANDA
1. Bertakuk
……… ……….. ………..
2. Merenggang
……… ……… …………
PARAGRAF YANG BAIK
1. Kesatuan
2. Kepaduan
3. Ketuntasan
KESATUAN
Sebuah paragraf yang baik harus
memiliki satu gagasan utama
sebagai pengikat kalimat dalam
paragraf tersebut. Artinya, dalam
paragraf mungkin terdapat
beberapa gagasan tambahan,
KEPADUAN
Untuk mendukung satu kesatuan gagasan
utama, kalimat-kalimat di dalam sebuah
paragraf harus terpadu dan berkaitan satu
sama lain.
Sarana Pemadu Kalimat dalam Paragraf
1. Pengulangan (kata kunci)
2. Penggantian
Pengulangan
Kepaduan paragraf dapat dibangun dengan
mengulang kata yang sama yang merupakan
kata kunci. Kata atau ungkapan yang sama itu
sesekali dapat diulang kembali dalam kalimat
berikutnya.
Misalnya:
Minggu lalu kami mengadakan rapat. Dalam
rapat itu ada berbagai hal yang kami bicarakan.
Salah satu di antaranya adalah masalah
Penggantian
Selain dengan mengulang kata kunci,
kepaduan paragraf juga dapat dibangun
dengan menggunakan penggantian atau
kata lain yang bersinonim dengan kata
kunci, misalnya
virus HIV
sesekali dapat
disebut
virus itu, virus penyebab AIDS,
virus tersebut,
atau
virus yang mematikan
itu.
Penggantian dapat pula dilakukan
Penghubung Antarkalimat
Selain dengan menggunakan pengulangan kata kunci dan penggantian, kepaduan paragraf juga dapat dibangun
dengan menggunakan penghubung antarkalimat. Misalnya:
Oleh karena itu, Oleh sebab itu, Dengan demikian, Meskipun demikian, Jadi,
Namun,
Keparalelan
Keparalelan yang dimaksud adalah adanya kesejajaran bentuk atau struktur pengungkapannya. Jika pada
bagian yang satu bentuknya aktif, bagian yang lain pun harus demikian. Begitu pula sebaliknya, jika bagian yang satu berbentuk pasif, agar sejajar, bagian yang lain pun harus berbentuk pasif, seperti yang tampak pada contoh berikut.
Misalnya:
KETUNTASAN
Sebuah paragraf yang baik juga harus dapat mengungkapkan
gagasan secara tuntas. Artinya, paragraf itu harus dapat menyajikan informasi secara lengkap sehingga pembaca tidak dibuat bertanya-tanya tentang kelanjutannya. Sebagai contoh, kalau dalam perincian atau penjelasan digunakan kata pertama, berarti
sekurang-kurangnya harus ada kedua, dan bisa juga ada ketiga, tidak seperti pada paragraf berikut: ada kata pertama, tetapi kata kedua tidak ada.
Misalnya:
KONSISTENSI SUDUT PANDANG
Sudut pandang adalah cara yang digunakan penulis untuk menempatkan diri di dalam tulisannya. Sudut pandang itu
harus konsisten, termasuk dalam pelibatan pembaca. Sebagai contoh, kalau penulis mewakili dirinya dengan menggunakan kata peneliti atau penulis, kata itu hendaknya tetap digunakan secara konsisten sampai dengan akhir tulisannya. Sebaliknya, kalau ia menggunakan kata kita—dengan maksud melibatkan pembaca dalam tulisannya—kata itu pun sebaiknya digunakan secara konsisten sampai pada akhir tulisannya. Begitu pula, untuk menjaga objektivitas—kalau penulis tidak ingin
KERUNTUTAN
Informasi disajikan secara runtut dalam
Informasi disajikan secara runtut dalam
pola urutan yang mudah diikuti pembaca.
pola urutan yang mudah diikuti pembaca.
Ada beberapa model urutan penyajian
Ada beberapa model urutan penyajian
informasi dalam paragraf, dan tiap model
informasi dalam paragraf, dan tiap model
mempunyai kelebihannya masing
mempunyai kelebihannya masing
-
-
masing.
masing.
Model yang dimaksud, antara lain, adalah
Model yang dimaksud, antara lain, adalah
model urutan waktu, urutan tempat, urutan
model urutan waktu, urutan tempat, urutan
umum
umum
-
-
khusus atau khusus
khusus atau khusus
-
-
umum, urutan
umum, urutan
pertanyaan dan jawaban, serta urutan
JENIS PARAGRAF
:
Berdasarkan Fungsinya
Paragraf Pengantar
Paragraf pengantar/pembuka merupakan jenis
paragraf yang berfungsi mengantarkan pembaca
pada pokok persoalan yang akan dikemukakan.
Sebagai pengantar, paragraf ini hendaknya dibuat
semenarik mungkin agar dapat memikat perhatian
atau minat pembaca. Di samping itu, paragraf ini
hendaknya juga mempunyai kemampuan
Paragraf Pengembang
Paragraf pengembang merupakan jenis
paragraf yang berfungsi mengembangkan
pokok persoalan yang telah ditentukan. Di
dalam paragraf ini pula penulis menyatakan
pokok pikiran yang akan disampaikan dan
sekaligus menerangkan atau
mengembang-kannya. Pengembangan itu dapat dilakukan
Paragraf Penutup
Paragraf penutup merupakan jenis
paragraf yang berfungsi mengakhiri tulisan
atau sebagai penutup karangan. Isinya
dapat berupa suatu simpulan atau
Berdasarkan Struktur Informasinya
Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah suatu jenis paragraf yang menempatkan informasi utama —yang terkandung pada kalimat topik —pada akhir paragraf. Dengan demikian, struktur paragraf ini diawali dengan
beberapa kalimat penjelas yang mendukung informasi utama. Setelah itu, baru informasi utama ditampilkan pada bagian akhir. Paragraf ini sering disebut sebagai paragraf yang diawali dengan informasi yang umum ke informasi yang khusus. Sebagai contoh, perhatikan paragraf berikut.
Komputer dapat dijadikan alat hiburan. Banyak komputer yang
Paragraf Deduktif
Paragraf deduktif boleh dikatakan sebagai kebalikan dari paragraf induktif. Kalau paragraf induktif menampilkan informasi utama pada akhir paragraf, paragraf deduktif menampilkan informasi utama pada awal paragraf.
Informasi utama itu kemudian diikuti dengan informasi
penjelas yang terungkap pada kalimat -kalimat pengembang. Orang sering menyebut paragraf ini diawali dengan hal yang umum ke hal yang bersifat khusus. Sebagai contoh,
perhatikan paragraf berikut.
Kondisi kebun binatang Taru, Solo, makin
BerdasarkanGaya Penyajiannya
Paparan/Eksposisi
Paparan merupakan corak tulisan yang bertujuan menginformasikan, menerangkan, dan menguraikan suatu gagasan. Oleh karena itu, par
menerangkan, dan menguraikan suatu gagasan. Oleh karena itu, par ragraf agraf eksposisi harus dapat memberikan tambahan pengertian dan
eksposisi harus dapat memberikan tambahan pengertian dan
pengetahuan pembacanya.
pengetahuan pembacanya.
Obat ini mengandung bahan
Obat ini mengandung bahan--bahan yang secara klinis telah terbukti bahan yang secara klinis telah terbukti mempunyai khasiat tinggi dan efektif untuk mengatasi flu dan sin
mempunyai khasiat tinggi dan efektif untuk mengatasi flu dan sinusitis. usitis. DiDi samping
Kisahan/Narasi
Kisahan merupakan corak tulisan yang bertujuan
menceritakan peristiwa atau pengalaman manusia
berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu
agar pembaca terkesan.
Gadis itu bernama Ratih Kulitnya kuning langsat
Rambutnya dipotong pendek ala Demi More.
Setiap pagi kulihat ia lewat di depan rumahku.
Setiap kali kusapa, ia tampak enggan di depan
rumahku. Setiap kali kusapa ia tampak enggan
menjawab. Meskipun begitu, senyumnya
Pemerian/Deskripsi
Pemerian atau deskripsi merupakan gaya tulisan yang
bertujuan menggambarkan sejelas-jelasnya suatu
objek sehingga pembaca seolah-olah mengalami
sendiri sesuatu yang digambarkan itu.
Sebuah mobil bercat biru yang ditumpangi oleh
sepasang muda-mudi meluncur dengan pelan
Bahasan/Argumentasi
Bahasan atau argumentasi merupakan corak tulisan yang bertujuan membuktikan penulis dan meyakinkan atau
mempengaruhi pembaca agar menerima pendapatnya . Perbedaannya dengan eksposisi adalah bahwa
argumentasi berusaha meyakinkan pembaca , sedangkan eksposisi berusaha menjelaskan sesuatu kepada pembaca .
Kedisiplinan berlalu lintas masyarakat Jakarta cenderung menurun. Hal itu terbukti pada bertambahnya jumlah
pelanggaran yang tercatat di kepolisian. Selain itu, jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan pun makin
KRITERIA SURAT YANG BAIK
1. Surat sebaiknya ditulis dalam bentuk dan isi yang menarik serta disusun secara sistematis sesuai dengan aturan
yang berlaku dalam penyusunan surat.
2. Surat sebaiknya disusun secara sederhana dan tidak terlalu panjang karena surat yang panjang dan bertele -tele dapat menjemukan pembacanya.
3. Surat sebaiknya disusun secara jelas, lugas, dan
komunikatif agar dapat dipahami secara tepat sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh penulis.
BAHASA SURAT
1.
Agar pesan atau informasi yang disampaikan mudah
dipahami, surat hendaknya ditulis dengan menggunakan
bahasa efektif, yaitu jelas, lugas, dan komunikatif.dapat
mengungkapkan pesan secara tepat sesuai dengan
maksud yang ingin dikemukakan oleh penulis.
2.
Bahasa surat dikatakan
jelas
jika isi atau informasi yang
disampaikan mudah dipahami dan unsur-unsurnya pun
dinyatakan secara tegas atau eksplisit.
3.
Bahasa surat dikatakan
lugas
jika kata-kata yang
digunakan langsung mengungkapkan pokok persoalan
yang akan disampaikan, tidak berbunga-bunga atau
berbasa-basi.
BAGIAN
-
BAGIAN
SURAT
1. Kepala surat/kop surat 2. Tanggal surat
3. Nomor surat 4. Lampiran
5. Hal/Pokok surat 6. Alamat yang dituju 7. Salam pembuka 8. Paragraf pembuka 9. Paragraf isi
Kepala Surat/Kop
Surat
Kepala surat berfungsi untuk memberikan
informasi kepada penerima surat mengenai
nama, alamat, nomor telepon, faksimile, dan
keterangan lain yang berkaitan dengan
Contoh Kepala Surat
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI
Jalan Bina Warga 2, Kalibata Raya, Jakarta Telepon (021) 79190864, 791960885, 79182720
Tanggal Surat
1. Tanggal surat perlu dicantumkan pada setiap surat dinas. 2. Fungsinya adalah untuk memberitahukan kepada penerima
surat tentang waktu penulisan surat itu.
Contoh yang tidak tepat:
Tanggal 25 Bulan Juni Tahun 2010 Bandung, 31-08-2010
24 Sept. ‘10
Contoh yang tepat:
25 Juni 2010
31 Agustus 2010
Lampiran
Lampiran digunakan untuk memberitahukan kepada
penerima surat bahwa ada sesuatu yang disertakan
bersama surat. Oleh karena itu, jika memang tidak
ada sesuatu yang disertakan, kata
lampiran
tidak
perlu dicantumkan.
Contoh penulisan yang tidak tepat:
Lampiran: 5 (lima) lembar
Lampiran: Satu (1) berkas
Lampiran:
Hal
Surat
Hal surat atau pokok surat berfungsi untuk
memberitahukan kepada penerima surat tentang
pokok masalah yang ditulis di dalam surat. Agar
efektif, hal surat sebaiknya tidak ditulis terlalu panjang,
tetapi jelas dan dapat mencakup seluruh isi surat.
Contoh penulisan yang tidak tepat:
Hal: Undangan untuk menghadiri Rakernas
tanggal 5 Oktober 2010
Contoh penulisan yang tepat:
Alamat yang
Dituju
Alamat yang dituju berfungsi sebagai petunjuk langsung mengenai pihak yang harus menerima surat. Untuk itu, unsur hendaknya ditulis lengkap
-unsur alamat yang digunakan tidak disingkat.
Contoh penulisan yang tidak tepat:
Kepada Yth. Bapak Kepala Pusat Bahasa Jl. Daksinapati Barat IV
Rawamangun JAKARTA
Contoh penulisan yang tepat:
Salam
Pembuka
Salam pembuka selain merupakan tanda hormat penulis surat kepada penerima surat, juga merupakan salah satu penanda surat yang sopan dan beradab. Salam itu dapat diibaratkan sebagai ketukan pintu atau ucapan salam ketika seseorang akan bertamu ke rumah orang lain. Pencantuman salam pembuka itu dianjurkan pada sebelah kiri sejajar dengan margin kiri.
Misalnya:
Dengan hormat,
Bapak ... yang terhormat, Salam sejahtera,
Paragraf Pembuka
Paragraf pembuka merupakan bagian pengantar yang
berfungsi untuk mengantarkan pembaca pada permasalahan utama yang ditulis. Dengan demikian, fungsi utama paragraf pembuka adalah untuk menghubungkan pikiran pembaca dengan pokok masalah yang disampaikan.
Misalnya:
(1) Sehubungan dengan surat Saudara No.
005/1180/I/Bangda, tanggal 25 Juni 2006, kami beri tahukan hal-hal berikut.
(2) Melalui surat ini kami beri tahukan bahwa ....
Paragraf
Isi
Paragraf isi dapat dipandang sebagai bagian inti dari
sebuah surat. Pada paragraf ini penulis
mengemukakan pokok persoalan yang ingin
disampaikan. Pokok persoalan itu diharapkan
memperoleh tanggapan, jawaban, atau reaksi yang
positif sesuai dengan harapan penulis surat.
Sehubungan dengan itu, paragraf isi hendaknya
hanya mengungkapkan satu masalah. Oleh karena
itu, jika ada dua masalah atau lebih, masing-masing
-
hendaknya diungkapkan dalam paragraf yang
Paragraf Penutup
Paragraf penutup merupakan bagian akhir dari sebuah surat. Paragraf ini berfungsi untuk menyatakan bahwa pembicaraan sudah selesai. Oleh karena itu, paragraf ini biasanya
mengungkapkan harapan dan ucapan terima kasih.
Misalnya:
(1) Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. (2) Atas kesediaan Saudara, kami ucapkan terima kasih. (3) Atas perhatian dan kerja sama Bapak, kami sampaikan
terima kasih.
Contoh yang Tidak Tepat
(1)
Atas perhatiannya, diucapkan terima
kasih.
(2)
Demikian atas bantuan Saudara, kami
ucapkan terima kasih.
(3)
Demikian harap maklum, dan atas
perhatian dan kerja samanya,
diucapkan terima kasih.
Salam Penutup
Salam penutup dicantumkan di pojok kanan bawah,
tepatnya di antara paragraf penutup dan tanda tangan
pengirim surat. Salam ini dapat diibaratkan sebagai
ucapan permisi atau pamitan setelah seseorang
bertamu atau berkomunikasi dengan orang lain.
Misalnya:
Tanda Tangan
Tanda tangan merupakan pelengkap surat
dinas yang bersifat wajib karena sebuah
surat belum dapat dianggap sah jika
belum ditandatangani oleh pejabat yang
berwenang. Untuk surat-surat dinas di
Indonesia, tanda tangan penulis surat
lazimnya juga dilengkapi dengan cap atau
stempel instansinya sebagai penanda
Nama,
Jabatan,
dan NIP
Nama penanda tangan surat dinyatakan secara jelas di bawah tanda
tangan, tepatnya sejajar di bawah salam penutup. Nama penanda tatangan surat hanya huruf awal tiap unsur nama yang ditulis kapital, bukan kapital seluruhnya. Selain itu, nama penanda tangan surat juga tidak perlu diapit tanda kurung ataupun digarisbawahi. Nomor induk pegawai atau NIP dapat pula disertakan di bawah nama penanda tangan surat.
Misalnya:
(Tanda tangan)
Drs. Hartono, M.Hum.
NIP 19660605 199303 1 006
atau:
Tembusan
Tembusan berfungsi untuk memberitahukan kepada penerima surat ba hwa surat yang sama juga dikirimkan kepada pihak lain yang dipandang perlu mengetahui isi surat yang
bersangkutan. Jika tidak ada pihak lain yang diberi tembusan, kata tembusan tidak perlu dicantumkan. Dalam hubungan itu, jika pihak yang diberi tembusan lebih dari satu,
pencantumannya disertai dengan nomor urut. Namun, jika pihak yang ditembusi hanya satu nomor urut itu tidak perlu dicantumkan.
Misalnya:
Tembusan:
1. Direktur Jenderal Pembangunan Daerah 2. Kepala Biro Organisasi
3. Kepala Biro Keuangan Contoh yang tidak tepat:
Tembusan
1. Kepada Yth. Direktur Jenderal Pembangunan daerah (sebagai laporan) 2. Kepada Yth. Kepala Biro Organisasi
Inisial
Inisial adalah tanda atau kode pengenal yang berupa
singkatan, yaitu singkatan nama pengonsep surat dan
pengetik surat. Inisial ini bermanfaat untuk
mengetahui nama pengonsep dan pengetik surat
sehingga—jika terjadi kekeliruan dalam surat itu —
pimpinan dengan mudah dapat mengecek dan
Komunikasi Lisan
1. Pengertian
Komunikasi lisan adalah suatu bentuk komunikasi atau penyampaian pesan dari pembicara kepada lawan bicara yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat bicara
(mulut) manusia. Komunikasi lisan dapat bersifat langsung (hadir di tempat yang sama) dan dapat pula bersifat tidak langsung, yaitu melalui media tertentu, misalnya telepon. 2. Ciri-Ciri Komunikasi Lisan
a. Komunikasi dilakukan dengan menggunakan alat-alat bicara manusia.
b. Ada pembicara dan lawan bicara.
Teknik Komunikasi Lisan dalam Pemeriksaan
1. Teknik membuka dan menutup percakapan, 2. Teknik meminta dan menyatakan pendapat, 3. Teknik mengatur pembicaraan,
4. Teknik menanyakan dan mengklarifikasi maksud, 5. Teknik memberi komentar,
6. Teknik menyela percakapan,
7. Teknik mengecek pemahaman dan menghapus kesalahpaman,
Komunikasi Melalui Telepon
1. Gunakan bahasa atau tutur kata dan
nada suara yang sopan serta bersikap
ramah;
2. Awali pembicaraan dengan salam;
3. Sampaikan maksud dengan baik, sopan,
dan ramah;
Komunikasi Lisan dalam Pertemuan Resmi
1. Pertemuan resmi: rapat, seminar, lokakarya ,
kongres, simposium, konferensi, dsb .;
2. Awal dan akhiri pembicaraan dengan
salam;
3. Gunakan bahasa lisan yang resmi/baku;
4. Ucapkan kata-kata dengan jelas dan
fasih;