• Tidak ada hasil yang ditemukan

AD ART Serikat Petani Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "AD ART Serikat Petani Indonesia"

Copied!
193
0
0

Teks penuh

(1)

ANGGARAN DASAR

ANGGARAN DASAR

ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN RUMAH TANGGA

GARIS-GARIS BESAR

HALUAN ORGANISASI

GARIS-GARIS BESAR

HALUAN ORGANISASI

PANDANGAN SIKAP DASAR

PANDANGAN SIKAP DASAR

K

U

ME

N

K

O

N

G

R

ES

II

I

K

U

M

E

N

K

O

N

G

R

E

S

I

II

DOKUMEN KONGRES III

SERIKAT PETANI INDONESIA

DOKUMEN KONGRES III

(2)
(3)

SERIKAT PETANI INDONESIA

Kesatuan Kaum Tani dan Persatuan Nasional Untuk

Mewujudkan Pembaruan Agraria dan Kedaulatan Rakyat

Menuju Keadilan Sosial

ANGGARAN DASAR

ANGGARAN RUMAH TANGGA

GARIS-GARIS BESAR

HALUAN ORGANISASI

(4)

Serikat Petani Indonesia

Cetakan pertama, September 2009

Penerbit:

SERIKAT PETANI INDONESIA

Jl. Mampang Prapatan XIV No.5, Jakarta Selatan 12790 Telp. 021 7991890 Fax. 021 7993426

Email:

[email protected]

www.spi.or.id

(5)

ANGGARAN DASAR (AD)

1

ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART)

17

GARIS-GARIS BESAR HALUAN ORGANISASI (GBHO) 101

PANDANGAN SIKAP DASAR

A. Tentang menegakkan kedaulatan rakyat

125

B. Tentang kesatuan kaum tani

137

C. Tentang persatuan nasional gerakan rakyat

147

D. Tentang pembaruan agraria dan pembangunan

pedesaan

157

E. Tentang membangun tata dunia baru melawan

neokolonialisme dan imperielisme

171

(6)
(7)

SERIKAT PETANI INDONESIA

(8)
(9)

Pada dasarnya Indonesia adalah Negara yang punya ciri dan karakteristik

agraris, maka oleh karena itu sudah selayaknya pembangunan Agraria

dijadikan sebagai tulang punggung pembangunan Bangsa dan Negara.

Namun pada kenyataannya, kebijakan pembangunan negara lebih

diarahkan kepada pembangunan yang sangat tidak sesuai dengan ciri

dan karakteristik bangsa Indonesia itu. Arah pembangunan yang tidak

sesuai itu, telah mengakibatkan kemunduran dan kehancuran peradaban

petani secara khusus, dan kehancuran peradaban bangsa dan negara

secara keseluruhan.

Sementara itu, dari masa ke masa petani Indonesia telah lama menuntut

agar pembangunan bangsa dan negara harus didasarkan pada

pembangunan sektor agraria, sesuai dengan karakteristik bangsa dan

kondisi wilayah yang agraris.

Kami Petani Indonesia, dengan segala upaya yang terorganisir dan

terencana, telah lama berusaha untuk mewujudkan cita-cita

pembangunan bangsa dan negara yang berwatak agraris itu. Upaya

tersebut diwujudkan melalui perjuangan kebebasan berserikat dan

berkumpul bagi petani.

Untuk mencegah kehancuran peradaban tersebut, kami petani Indonesia

tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan agar pembangunan bangsa

dan negara kembali berwatak dan berkarakteristik agraris. Namun upaya

tersebut tetap tidak mendapat dukungan dari sistem politik yang berkuasa

selama ini. Hal ini dapat dilihat dari semakin jauhnya pembangunan dari

watak agraris bangsa Indonesia. Demikian juga semakin besar dan

kompleksnya persoalan yang dihadapi rakyat, khususnya petani serta

semakin hancurnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, khususnya petani

Indonesia.

Dalam upaya mencapai kehidupan damai dan sejahtera bagi kehidupan

petani dan rakyat Indonesia melalui pembangunan yang berwatak agraris

dan kerakyatan itu, maka:

(10)

petani untuk berkumpul dan berorganisasi dalam memperjuangkan

haknya. Kehidupan politik otoriter selama ini, telah mencampakkan

hak-hak politik masyarakat Indonesia, khususnya hak-hak-hak-hak politik petani.

Kami menolak sistem ekonomi kapitalistik yang telah merampas

tanah-tanah petani, menghancurkan lingkungan hidup, menjerat petani pada

sistem perdagangan yang tidak adil, serta mengabaikan dan

mengkooptasi hak-hak masyarakat adat. Kesemuanya itu mengakibatkan

hancurnya tatanan ekonomi petani yang menjadi basis kehidupan

sebagian besar rakyat Indonesia.

Kami menolak sistem budaya dan hukum yang tidak emansipatorik dan

egaliter. Karena selain kehancuran tatanan politik dan ekonomi petani,

sistem budaya petani juga hancur. Petani akhirnya mengalami

keterasingan, keterbelakangan, serta terjerat pada ketidakadilan

kehidupan sosial, termasuk ketidakadilan hubungan petani perempuan

dan laki-laki. Nilai-nilai budaya yang menjadi sumber kekuatan moral,

solidaritas, dan etos kerja petani, hancur akibat dikembangkannya

nilai-nilai budaya yang konsumtif, individualistis, dan tidak emansipatorik.

Untuk mengatasi permasalahan petani tersebut, maka Atas Rahmat

Tuhan Yang Maha Adil, kami kekuatan petani Indonesia menyatakan

dengan ini berdirinya SERIKAT PETANI INDONESIA untuk merebut

kembali kedaulatan petani dalam memperjuangkan demi tercapainya

tatanan kehidupan Agraria yang adil dan tatanan politik yang demokratis.

BAB I

NAMA, WAKTU, TEMPAT DAN KEDUDUKAN

Pasal 1

1.

Organisasi ini bernama Serikat Petani Indonesia, disingkat SPI, yang

merupakan perubahan bentuk FSPI dari federatif menjadi kesatuan

yang dideklarasikan pada Kongres III FSPI pada hari Selasa, tanggal

04 Desember 2007 pukul 16.07 di Wonosobo

2.

FSPI yang pada Kongres III berubah nama menjadi SPI didirikan oleh

Petani Indonesia pada hari Rabu tanggal 8 Juli 1998 pukul 23.55 WIB

di desa Dolok Maraja, Asahan, Sumatera Utara, Indonesia

(11)

4.

SPI adalah anggota organisasi tani internasional yang bernama La

Via Campesina

5.

Sekretariat pusat SPI berkedudukan di ibu kota negara Republik

Indonesia

6.

Sekretariat Pusat SPI dapat dipindahkan dalam kondisi tertentu atas

keputusan Dewan Pengurus Pusat SPI

BAB II

KEDAULATAN

Pasal 2

Kedaulatan organisasi berada di tangan anggota yang pelaksanaannya

tercermin sepenuhnya di dalam Kongres

BAB III

BENTUK DAN SIFAT

Pasal 3

Bentuk Organisasi

SPI adalah organisasi yang berbentuk Kesatuan

Pasal 4

Sifat Organisasi

1.

SPI bersifat perjuangan massa dan kader petani Indonesia

2.

SPI bersifat independen

BAB IV

ASAS DAN PRINSIP PERJUANGAN

Pasal 5

Asas

SPI berasaskan Pancasila yaitu:

1.

Ketuhanan Yang Maha Esa,

2.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,

3.

Persatuan Indonesia,

4.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam

Permusyawaratan/ Perwakilan, dan

(12)

Pasal 6

Prinsip Perjuangan

1.

Seluruh gerak langkah perjuangan SPI senantiasa dilandasi prinsip

penegakan kedaulatan politik petani, kedaulatan politik rakyat, dan

kedaulatan politik bangsa dan negara dalam pergaulan nasional dan

internasional

2.

Seluruh gerak langkah perjuangan SPI senantiasa dilandasi prinsip

mandirinya ekonomi petani, rakyat, bangsa, dan negara dalam

pergaulan nasional dan internasional

3.

Seluruh gerak langkah perjuangan SPI senantiasa dilandasi prinsip

kebudayaan petani, rakyat, bangsa, dan negara. yang berkepribadian,

mempunyai harkat, martabat, dan harga diri dalam pergaulan nasional

dan internasional

BAB V

IDENTITAS ORGANISASI

Pasal 7

SPI mempunyai lambang, bendera, lagu, dan berbagai hal lainnya, yang

dijadikan sebagai identitas organisasi

BAB VI

TUJUAN

Pasal 8

Tujuan Sosial-Ekonomi

1.

Terjadinya perombakan, pembaruan, pemulihan dan penataan

pembangunan ekonomi nasional dan internasional, agar tercipta peri

kehidupan ekonomi petani, rakyat, bangsa dan negara yang mandiri,

adil dan makmur, secara lahir dan batin, material dan spiritual; baik

dalam kebijakan maupun dalam kenyataan hidup sehari-hari

2.

Bahwa peri kehidupan ekonomi yang mandiri, adil dan makmur

tersebut hanya dapat dicapai jika terjadi tatanan agraria yang adil dan

beradab

3.

Tatanan agraria yang adil dan beradab tersebut hanya dapat terjadi

jika dilaksanakan Pembaruan Agraria Sejati oleh petani, rakyat,

bangsa, dan negara

Pasal 9

Tujuan Sosial-Politik

(13)

pembangunan politik nasional dan internasional, agar tercipta peri

kehidupan politik yang bebas, mampu melindungi segenap bangsa

Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mampu memajukan

kesejahteraan umum, sanggup mencerdaskan kehidupan bangsa dan

sanggup untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia

2.

Peri kehidupan politik tersebut hanya dapat dicapai jika rakyat

berdaulat secara politik baik dalam kebijakan maupun dalam

kenyataan hidup sehari-hari

3.

Kedaulatan politik rakyat tersebut hanya dapat dicapai jika petani

berdaulat secara politik baik dalam kebijakan maupun dalam

kenyataan hidup sehari-hari

Pasal 10

Tujuan Sosial-Budaya

1.

Terjadinya perombakan, pembaruan, pemulihan dan penataan model

pembangunan kebudayaan nasional dan internasional, agar tercipta

peri kehidupan budaya yang berkemanusiaan, adil dan beradab

2.

Peri kehidupan kebudayaan tersebut hanya dapat dicapai jika petani,

rakyat, bangsa, dan negara mengembangkan kebudayaan yang

berkepribadian, mempunyai harkat, martabat dan harga diri baik

dalam kebijakan maupun dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam

pergaulan nasional dan internasional

BAB VII

STRATEGI PERJUANGAN

Pasal 11

1.

SPI sebagai organisasi petani yang bersifat perjuangan massa dan

kader petani, maka segenap keputusan dan kegiatan

pergerakan/perjuangan organisasi, harus mempertimbangkan

kebutuhan, permasalahan, kehendak, kekuatan, kelemahan, peluang

dan tantangan yang dihadapi massa dan kader petani yang menjadi

anggota SPI

2.

Memadukan gerakan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan petani

dengan perhitungan yang tepat, menyeluruh, dan sistematis

3.

Membangun front perjuangan kaum tani mulai dari pedesaan,

nasional, hingga internasional

4.

Membangun front perjuangan rakyat mulai dari pedesaan, nasional,

hingga internasional

(14)

BAB VIII

POSISI DAN PERAN

Pasal 12

Posisi Organisasi

1.

Sebagai front perjuangan petani Indonesia

2.

Sebagai bagian dari front perjuangan rakyat Indonesia

3.

Sebagai bagian dari front perjuangan petani internasional

4.

Sebagai bagian dari front perjuangan rakyat internasional

Pasal 13

Peran Organisasi

1.

Sebagai wadah untuk membangun, mengkonsolidasi dan

mempergunakan secara seksama kekuatan ekonomi, politik, sosial,

dan budaya yang dimiliki anggota

2.

Sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan anggota pada

khususnya dan kepentingan petani pada umumnya baik di tingkat

Nasional maupun Internasional

3.

Sebagai wadah untuk terlibat menjadi bagian dari pembela

kepentingan rakyat lainnya baik di tingkat nasional maupun

internasional

4.

Sebagai wadah untuk melakukan berbagai bentuk tekanan politik

terhadap lembaga negara dan proses politik kenegaraan agar

melaksanakan pembaruan agraria sejati

5.

Sebagai wadah untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan dan

penerima hasil dari pembaruan agraria sejati

6.

Sebagai

wadah

untuk

mengumpulkan,

menganalisis,

memformulasikan, memperkuat dan memperjuangkan aspirasi politik

petani agar sejalan dengan asas, prinsip, tujuan, serta strategi

perjuangan SPI

7.

Sebagai wadah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan partisipasi

politik kaum tani dalam rangka mempersiapkan, memunculkan dan

melahirkan pemimpin politik, bangsa dan negara yang berasal dari

kaum tani yang berwatak kerakyatan

8.

Sebagai wadah untuk memilih, menempatkan, memberikan tugas dan

mengawasi anggota dalam berbagai lembaga, baik lembaga

kenegaraan maupun bukan lembaga kenegaraan

(15)

BAB IX

KEGIATAN-KEGIATAN

Pasal 14

1.

Melakukan berbagai bentuk pendidikan/kaderisasi bagi anggota

2.

Mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berbagai informasi

yang berguna bagi petani dan anggota

3.

Membangun kehidupan ekonomi anggota yang mandiri dan berdaulat

dengan prinsip koperasi yang sejati

4.

Pengerahan Massa Aksi untuk melakukan Aksi Massa sebagai salah

satu kekuatan utama SPI

5.

Melakukan pembelaan bagi anggota yang dilanggar hak asasinya

sebagai manusia, hak asasinya sebagai petani dan haknya sebagai

warga negara

6.

Memperbanyak jumlah anggota, mendorong serta memperkuat

kerjasama di antara sesama anggota

7.

Memperkuat kepengurusan mulai dari pusat hingga basis

8.

Melakukan kerjasama dan solidaritas yang saling memperkuat

dengan organisasi tani dan organisasi rakyat lainnya yang

mempunyai pandangan, asas dan tujuan yang sejalan dengan SPI,

baik di tingkat nasional maupun ditingkat internasional

9.

Mendorong dan mendukung lahirnya organisasi rakyat lainnya yang

sejalan dengan SPI

10. Menjalin hubungan setara dengan lembaga dan aparatur negara

yang bersifat kritis baik didalam maupun diluar negeri sepanjang tidak

bertentangan dengan pandangan, asas, tujuan dan kepentingan SPI

BAB X

GARIS-GARIS BESAR HALUAN ORGANISASI

Pasal 15

1.

Sebagai organisasi yang berbentuk Kesatuan, SPI mempunyai

Garis-Garis Besar Haluan Organisasi, disingkat GBHO

2.

GBHO adalah panduan gerakan yang disusun selama 5 (lima) tahun

untuk mencapai secara bertahap tujuan jangka panjang SPI

(16)

BAB XI

STRUKTUR, KELENGKAPAN, DAN PERANGKAT ORGANISASI

Pasal 16

Struktur Organisasi

1.

Struktur Organisasi Serikat Petani Indonesia adalah:

a.

DEWAN PENGURUS PUSAT SPI (DPP SPI) sebagai

pimpinan tertinggi SPI berkedudukan di Sekretariat Pusat

b.

DEWAN PENGURUS WILAYAH SPI (DPW SPI) sebagai

pimpinan tertinggi SPI di Wilayah dan berkedudukan di

Sekretariat Wilayah

c.

DEWAN PENGURUS CABANG SPI (DPC SPI) sebagai

pimpinan tertinggi SPI di Cabang dan berkedudukan di

Sekretariat Cabang

d.

DEWAN PENGURUS RANTING SPI (DPR SPI) sebagai

pimpinan tertinggi SPI di Ranting dan berkedudukan di

Sekretariat Ranting

e.

DEWAN PENGURUS BASIS SPI (DPB SPI) sebagai

pimpinan tertinggi SPI di Basis dan berkedudukan di

Sekretariat Basis

2. Jika diperlukan, perwakilan SPI di luar negeri dapat dibentuk oleh

DPP SPI dengan tatacara yang diatur oleh DPP SPI

Pasal 17

Kelengkapan Organisasi

1. Untuk menjalankan organisasi, diperlukan pembentukan Kelengkapan

Organisasi

2.

Kelengkapan Organisasi terdiri dari:

a.

Kelengkapan Organisasi di tingkat DPP, disebut Departemen;

b.

Kelengkapan Organisasi di tingkat DPW, disebut Biro;

c.

Kelengkapan Organisasi di tingkat DPC, disebut Divisi;

d.

Kelengkapan Organisasi di tingkat DPR disebut Unit;

e.

Kelengkatan Organisasi di tingkat Basis, disebut Seksi:

Pasal 18

Perangkat Organisasi

Perangkat Organisasi terdiri dari Badan Khusus dan Lembaga

Pasal 19

(17)

perangkat organisasi mulai dari DPP hingga DPB, diatur secara tersendiri

dalam Aturan Peralihan, Aturan Tambahan, Anggaran Rumah Tangga

serta Aturan dan Keputusan Organisasi lainnya

BAB XII

SUSUNAN KEPENGURUSAN ORGANISASI

Pasal 20

Jenis Kepengurusan

Kepengurusan SPI di semua tingkatan terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu

Majelis Petani dan Badan Pelaksana, dengan periode kepengurusan

selama 5 (lima) tahun di setiap tingkatan

Pasal 21

Susunan Kepengurusan

Kepengurusan Organisasi, disusun berdasarkan struktur organisasi SPI

sebagai berikut

1.

DEWAN PENGURUS PUSAT SPI (DPP SPI), terdiri dari:

a.

Majelis Nasional Petani, disingkat MNP

b.

Badan Pelaksana Pusat, disingkat BPP

2.

DEWAN PENGURUS WILAYAH SPI (DPW SPI), terdiri dari:

a.

Majelis Wilayah Petani, disingkat MWP

b.

Badan Pelaksana Wilayah, disingkat BPW

3.

DEWAN PENGURUS CABANG SPI (DPC SPI)

a.

Majelis Cabang Petani, disingkat MCP

b.

Badan Pelaksana Cabang, disingkat BPC

4.

DEWAN PENGURUS RANTING SPI (DPR SPI)

a.

Majelis Ranting Petani, disingkat MRP

b.

Badan Pelaksana Ranting, disingkat BPR

5.

DEWAN PENGURUS BASIS SPI (DPB SPI)

a.

Majelis Basis Petani, disingkat MBP

b.

Badan Pelaksana Basis, disingkat BPB

Pasal 22

Majelis Petani

1.

Majelis Nasional Petani (MNP) Dewan Pengurus Pusat (DPP) adalah

pimpinan tertinggi organisasi yang mempunyai fungsi legislasi,

budgeter, representasi, konsultasi dan pengawasan di tingkat nasional

2.

MWP-DPW, MCP-DPC, MRP-DPR, dan MBP-DPB, adalah pimpinan

(18)

Pasal 23

Badan Pelaksana

1.

Badan Pelaksana Pusat DPP adalah pimpinan pelaksana tertinggi

organisasi yang menjalankan kegiatan dan kebijakan-kebijakan

organisasi di tingkat pusat

2.

BPW-DPW, BPC-DPC, BPR-DPR dan BPB-DPB adalah pimpinan

pelaksana organisasi yang menjalankan kegiatan dan

kebijakan-kebijakan organisasi sesuai tingkatannya

Pasal 24

Ketentuan mengenai kedudukan, tugas serta wewenang kepengurusan

diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

Pasal 25

Anggota

1.

Setiap petani warga negara Indonesia, laki-laki dan perempuan, yang

telah memenuhi ketentuan tentang keanggotaan serta menyetujui

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, serta seluruh kebijakan

dan peraturan organisasi, dapat diterima menjadi anggota

2.

Anggota SPI terdiri dari:

a.

Anggota Pemula

b.

Anggota Kader (C, D, E)

c.

Anggota Kader Inti (A, B)

d.

Anggota Kehormatan

3.

Syarat-syarat, jenjang, hak dan kewajiban menjadi anggota diatur

dalam Anggaran Rumah Tangga

BAB XIII

HIERARKI TATA URUTAN ATURAN ORGANISASI

Pasal 26

1. Hierarki keputusan organisasi disusun berdasarkan kedudukan

rapat-rapat dan struktur kepengurusan yang ada

2. Keputusan pengurus yang lebih rendah tidak boleh bertentangan

dengan keputusan pengurus yang lebih tinggi

3. Keputusan rapat-rapat yang lebih rendah tidak boleh bertentangan

dengan keputusan rapat-rapat yang lebih tinggi

(19)

memutuskan apakah keputusan-keputusan tersebut saling

bertentangan atau tidak

BAB XIV

RAPAT-RAPAT ORGANISASI

Pasal 27

Jenis-Jenis Rapat

Untuk pengambilan keputusan keorganisasian maka dibentuklah

rapat-rapat berdasarkan jenjang kewenangan, yaitu:

1.

Di tingkat Nasional:

a.

Kongres atau Kongres Luar Biasa (KLB)

b.

Musyawarah Nasional (MUNAS)

c.

Rapat Pleno Dewan Pengurus Pusat (RP-DPP)

d.

Musyawarah Majelis Nasional Petani (MMNP)

e.

Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS)

f.

Rapat Kerja BPP (RAKER-BPP)

2.

Di tingkat Wilayah:

a.

Musyawarah Wilayah (MUSWIL) atau Musyawarah Wilayah

Luar Biasa (MUSWILUB)

b.

Musyawarah Wilayah Antar Periode (MWAP)

c.

Rapat Pleno Dewan Pengurus Wilayah (RP-DPW)

d.

Musyawarah Majelis Wilayah Petani (MMWP)

e.

Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL)

f.

Rapat Kerja Badan Pelaksana Wilayah (RAKER-BPW)

3.

Di tingkat Cabang :

a.

Musyawarah Cabang (MUSCAB) atau Musyawarah Cabang

Luar Biasa (MUSCABLUB)

b.

Musyawarah Cabang Antar Periode (MCAP)

c.

Rapat Pleno Dewan Pengurus Cabang (RP-DPC)

d.

Musyawarah Majelis Cabang Petani (MMCP)

e.

Rapat Kerja Cabang (RAKERCAB)

f.

Rapat Kerja Badan Pelaksana Cabang (RAKER-BPC)

4.

Di Tingkat RANTING :

a.

Musyawarah Ranting (MUSRAN) atau Musyawarah Ranting

Luar Biasa (MUSRANLUB)

(20)

f.

Rapat Kerja Badan Pelaksana Ranting (RAKER-BPR)

5.

Di Tingkat Basis:

a.

Musyawarah Basis (MUSBA) atau Musyawarah Basis Luar

Biasa (MUSBALUB)

b.

Musyawarah Basis Antar Periode (MBAP)

c.

Rapat Pleno Dewan Pengurus Basis (RP-DPB)

d.

Musyawarah Majelis Basis Petani (MMPB)

e.

Rapat Kerja Basis (RAKERBA)

f.

Rapat Kerja Badan Pelaksana Basis (RAKER-BPB)

6. Ketentuan mengenai masing-masing jenis rapat organisasi diatur

dalam Anggaran Rumah Tangga

BAB XV

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pasal 28

1.

Pengambilan keputusan dalam seluruh rapat-rapat organisasi,

ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat

2.

Dalam hal tidak dapat dicapai mufakat, keputusan diambil

berdasarkan suara terbanyak

BAB XVI

KEUANGAN DAN KEKAYAAN ORGANISASI

Pasal 29

Sumber Keuangan dan Kekayaan Organisasi

Keuangan dan Kekayaan organisasi diperoleh dari:

1.

Uang pangkal dan iuran dari anggota SPI

2.

Usaha-usaha yang dikelola oleh SPI sesuai tingkatan kepengurusan

3.

Donatur dan simpatisan yang tidak mengikat serta tidak bertentangan

dengan AD/ART SPI dan hukum yang berlaku di negara Republik

Indonesia

4.

Peralihan hak untuk dan atas nama Organisasi

5.

Usaha-usaha lain yang tidak melanggar azas dan tujuan SPI

Pasal 30

Penggunaan Keuangan dan Kekayaan

(21)

BAB XVII

PEMBUBARAN

Pasal 31

1.

SPI hanya dapat dibubarkan oleh Kongres Luar Biasa (KLB) yang

diselenggarakan khusus untuk itu

2.

KLB tersebut dalam ayat (1) pasal ini dinyatakan sah apabila dihadiri

oleh lebih dari dua per tiga dari jumlah Dewan Pengurus Wilayah dan

dua pertiga dari jumlah Dewan Pengurus Cabang dan keputusan

yang dihasilkan itu dinyatakan sah apabila disetujui oleh lebih dari dua

pertiga suara yang hadir dalam KLB

3.

Apabila terjadi pembubaran SPI, maka segala hak milik organisasi

diserahkan kepada organisasi petani yang sehaluan dan ditetapkan

oleh KLB

BAB XVIII

ATURAN PERALIHAN

Pasal 32

1.

Untuk pertama sekali, serikat petani anggota SPI periode sebelum

Kongres III ini berlangsung, yang menyetujui untuk tetap menjadi

anggota SPI yaitu: Serikat Petani Sumatera Utaran (SPSU), Serikat

Petani Sumatera Barat (SPSB), Serikat Petani Sumatera Selatan

(SPSS), Persatuan Petani Jambi (PERTAJAM), Serikat Petani

Lampung (SPL), Serikat Petani Banten (SPB), Serikat Petani Jawa

Timur (SP-JATIM), Serikat Petani Jawa Tengah (SP-JATENG), Serikat

Petani Nusa Tenggara Barat (SERTA-NTB), dan Serikat Petani

Kabupaten Sikka (SPKS), dengan ini secara otomatis menjadi

DPW-SPI dengan catatan harus memenuhi persyaratan kepengurusan

sebuah DPW SPI berdasarkan AD/ART ini sebelum Kongres IV

berlangsung

2.

Adapun serikat petani anggota SPI yang tidak menyetujui hasil-hasil

Kongres III ini, dengan ini dinyatakan dikeluarkan dan tidak lagi

menjadi anggota dan bagian dari SPI

BAB XIX

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 33

(22)

2. Anggaran Dasar ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan

mengikat seluruh anggota, dan hanya dapat diubah melalui Kongres

dan atau Kongres Luar Biasa

Ditetapkan di : Wonosobo, Jawa Tengah

Pada tanggal : 05 Desember 2007

Pukul : 09.13 WIB

PIMPINAN SIDANG KONGRES III FSPI

Ketua

: M. Yunus Nasution

Sekretaris

: Wiwik M Kristina

Anggota

: 1. Miswadi

(23)

SERIKAT PETANI INDONESIA

(24)
(25)

BAB I

Pasal 1

IDENTITAS ORGANISASI

1) Lambang Serikat Petani Indonesia (SPI) terdiri dari unsur-unsur :

a.

Bintang, melambangkan Ketuhanan, yang bermakna bahwa

setiap pengurus dan anggota SPI dalam menjalankan

tugas-tugas organisasi selalu berlandaskan kepada nilai-nilai

religius dan kepercayaan yang dianutnya

b.

Timbangan, melambangkan Keadilan, yang bermakna bahwa

setiap pengurus dan anggota SPI dalam menjalankan

tugas-tugas organisasi berkewajiban untuk menerapkan dan

memperjuangkan nilai-nilai keadilan, dan berhak untuk

mendapatkan perlakuan yang adil dalam memperoleh hak

atas Kekayaan Alam Nasional

c.

Padi dan Kapas, melambangkan Kemakmuran, yang

bermakna bahwa setiap pengurus dan anggota SPI dalam

menjalankan tugas-tugas organisasi adalah dalam rangka

memperjuangkan tercapainya kemakmuran bagi seluruh

rakyat Indonesia, khususnya petani yang tertindas

d.

Bumi, melambangkan Pembaruan Agraria, yang bermakna

bahwa setiap pengurus dan anggota SPI dalam menjalankan

tugas-tugas organisasi haruslah dalam rangka mewujudkan

terjadinya pembaruan agraria dan memperjuangkan agar

semua petani memperoleh hak atas sumber-sumber agraria

dan kekayaan alam secara adil

e.

Petani Perempuan dan Laki-Laki, melambangkan Keadilan

dalam Hubungan Antara Laki-Laki Dan Perempuan, yang

bermakna bahwa petani perempuan dan laki-laki memiliki hak

yang sama dalam memperoleh hak atas sumber-sumber

agraria dan Kekayaan Alam, dan kesempatan yang sama

dalam pengembangan diri di semua sektor kehidupan. Karena

itu, setiap pengurus dan anggota SPI dalam menjalankan

tugas-tugas organisasi, haruslah berwawasan dan

menerapkan

nilai-nilai

keadilan

gender,

serta

memperjuangkan tegaknya keadilan gender

(26)

g.

Lambang organisasi secara keseluruhan dilampirkan sebagai

bagian tak terpisahkan dari AD/ART ini

2) Bendera Organisasi:

a.

Warna dasar bendera SPI adalah coklat tanah

b.

Pada bagian tengah sebelah kiri bendera terdapat lambang

organisasi secara lengkap

c.

Berdampingan dengan lambang organisasi, disebelah kanan

terdapat tulisan SPI

d.

Di bawah tulisan SPI terdapat tulisan Serikat Petani Indonesia

dengan huruf yang lebih kecil

e.

Bentuk bendera secara keseluruhan dilampirkan dalam

lampiran AD/ART SPI

3) SPI mempunyai Lagu Organisasi yang dijadikan sebagai identitas

organisasi dan ditetapkan dalam Kongres dan atau Kongres Luar

Biasa, serta MUNAS

Pasal 2

Penggunaan Lambang

Lambang organisasi SPI digunakan pada atribut-atribut organisasi yang

ketentuan penggunaannya akan diatur lebih lanjut oleh Dewan Pengurus

Pusat (DPP)

BAB II

Pasal 3

MASSA

1) Massa SPI adalah massa petani yang terdiri dari massa kongkrit,

massa strategis dan massa taktis sebagai konstituen atau pihak yang

diorganisir untuk mengenal, memilih dan menetapkan SPI sebagai

organisasi yang mewakili dan memperjuangkan kepentingan mereka

2) Dalam rangka memperjuangkan kepentingan konstituennya tersebut,

SPI sebagai organisasi massa, menganggap penting untuk

menggalang dan meningkatkan kualitas konstituen tersebut menjadi

Massa Aksi, dengan Aksi Massa sebagai kekuatan utama yang harus

dikerahkan bagi memperjuangkan kepentingan konstituen itu sendiri

Pasal 4

Massa Kongkrit

(27)

laki-laki maupun perempuan dan pemuda/pemudi yang berkeinginan kuat

menjadi petani, masyarakat adat petani dan telah terdaftar sebagai

anggota SPI

Pasal 5

Massa Strategis

Yang dimaksud sebagai massa strategis SPI adalah anggota rumah

tangga/keluarga dari anggota SPI

Pasal 6

Massa Taktis/Massa Pendukung

Yang dimaksud sebagai massa taktis atau massa pendukung SPI adalah

petani kecil, petani penyewa kecil, buruh tani, buruh perkebunan,

orang-orang tak bertanah, laki-laki maupun perempuan dan pemuda/pemudi

yang berkeinginan kuat menjadi petani, masyarakat adat petani dan

anggota rumah tangga/keluarganya, namun belum menjadi anggota SPI

BAB III

Pasal 7

KADER

1) Yang dimaksud sebagai Kader adalah anggota SPI, laki-laki dan

perempuan, di semua jenjang keanggotaan yang telah mendapatkan

pendidikan dan proses kaderisasi oleh SPI, telah mempraktekkan

amanat pendidikan tersebut, dan telah menjalankan tugas-tugas

keorganisasian tanpa pamrih pribadi

2) Hanya anggota Kader yang dapat menjadi pengurus organisasi

sesuai tingkatan kader dan tingkatan struktur kepengurusan

BAB IV

Pasal 8

SIMPATISAN

(28)

BAB V

Pasal 9

DISIPLIN ORGANISASI

1) Anggota dan Pengurus dilarang menggunakan dan atau

mengatasnamakan organisasi demi untuk kepentingan pribadi

2) Anggota dan Pengurus dilarang merangkap sebagai anggota dan

pengurus Serikat Petani lain

3) Anggota dan Pengurus dilarang menjadi anggota, pengurus, atau

pejabat organisasi sosial kemasyarakatan dan lembaga komersial

yang mempunyai asas dan/atau tujuan yang bertentangan dengan

asas dan/atau tujuan SPI, terutama organisasi sosial kemasyarakatan

dan lembaga komersial yang telah dimasukkan dalam Daftar Hitam

Organisasi yang secara berkala dan resmi dikeluarkan oleh DPP SPI

4) Anggota atau Pengurus harus tunduk kepada pimpinan struktur

organisasi yang lebih tinggi di dalam hal-hal yang tidak bertentangan

dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan peraturan

SPI lainnya

5) Anggota dan pengurus dilarang melakukan kerjasama langsung

maupun tidak langsung dengan mengatasnamakan SPI dengan

lembaga diluar SPI tanpa mengindahkan tertib struktural yang ada di

SPI

6) Anggota dan Pengurus SPI di semua tingkatan dilarang menjadi

pengurus Partai Politik yang tidak dibentuk oleh SPI, sebelum

diizinkan dan diatur secara resmi dan langsung oleh DPP SPI melalui

Rapat Pleno DPP

7) Anggota dan Pengurus SPI di semua tingkatan dilarang menjalankan

tugas dari Partai Politik yang tidak dibentuk oleh SPI, sebelum

diizinkan dan diatur secara resmi dan langsung oleh DPP SPI melalui

Rapat Pleno DPP

8) Anggota dan Pengurus SPI di semua tingkatan, setelah dipersiapkan

dan dinyatakan siap oleh organisasi, harus bersedia untuk diberikan

dan atau dibebaskan dari tugas dan posisi keorganisasian tertentu

BAB VI

KEDUDUKAN, TUGAS DAN WEWENANG KEPENGURUSAN

ORGANISASI

Pasal 10

Dewan Pengurus Pusat

(29)

pusat dan atau nasional

2) DPP memiliki wewenang:

a) Menetapkan kebijakan organisasi di tingkat pusat dan atau

nasional sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah

Tangga, Keputusan Musyawarah Nasional serta Peraturan

Organisasi lainnya

b) Mengesahkan komposisi dan personalia Dewan Pengurus

Wilayah (DPW)

c)

Melalui Rapat Pleno DPP, DPP dapat membekukan DPW atas

rekomendasi dua pertiga dari DPC di wilayah tersebut

d) Melalui Rapat Pleno DPP, DPP dapat membekukan DPC dengan

memperhatikan rekomendasi dari DPW

e) Melalui Rapat Pleno DPP, membahas dan menerima/menolak

usulan resmi untuk peleburan diri menjadi SPI oleh organisasi tani

baik berskala Nasional, Provinsi, dan Kabupaten di luar SPI.

Syarat-syarat dan tata-cara peleburan organisasi tani lainnya

kedalam SPI, diatur melalui peraturan tersendiri

f)

Melalui Rapat Pleno DPP, membahas dan menerima/menolak

usulan untuk mendaftarkan SPI sebagai anggota organisasi

tertentu baik tingkat nasional maupun internasional

g) Bersama-sama dengan DPC menandatangani dan mengeluarkan

Kartu Anggota sesuai jenis keanggotaannya

3) DPP berkewajiban:

a) Melaksanakan segala ketentuan dan kebijaksanaan organisasi

sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,

Keputusan Musyawarah Nasional serta Peraturan Organisasi

b) Menyampaikan laporan pertanggung jawaban kepada Kongres

c)

Membuat daftar anggota dan calon anggota secara nasional

Pasal 11

Dewan Pengurus Wilayah

1) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) adalah pimpinan SPI di Wilayah

2) DPW memiliki wewenang:

a) Menetapkan kebijaksanaan organisasi di tingkat Wilayah sesuai

dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan

MUNAS maupun MUSWIL serta Peraturan Organisasi

b) Mengesahkan komposisi dan personalia Dewan Pengurus

Cabang (DPC)

(30)

3) DPW berkewajiban:

a) Melaksanakan segala ketentuan dan kebikjasanaan organisasi

sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,

Keputusan MUNAS maupun MUSWIL serta Peraturan Organisasi

b) Membuat laporan secara berkala kepada DPP

c)

Menyampaikan laporan pertanggung jawaban kepada MUSWIL

d) Menyampaikan daftar anggota dan calon anggota yang telah

dikirimkan DPC kepada DPP

Pasal 12

Dewan Pengurus Cabang

1) Dewan Pengurus Cabang (DPC) adalah pimpinan SPI di tingkat

Cabang

2) DPC memiliki wewenang :

a) Menetapkan kebijaksanaan organisasi di tingkat Cabang sesuai

dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan

MUNAS, MUSWIL, MUSCAB, serta Peraturan Organisasi

b) Mengesahkan komposisi dan personalia Dewan Pengurus

Ranting (DPR)

c)

Melalui Rapat Pleno DPC, DPC dapat membekukan Dewan

Pengurus Basis (DPB) dengan memperhatikan rekomendasi dari

Dewan Pengurus Ranting (DPR)

d) Bersama-sama dengan DPP menandatangani dan mengeluarkan

Kartu Anggota sesuai jenis keanggotaannya

3) DPC berkewajiban :

a) Melaksanakan segala ketentuan dan kebijaksanaan Organisasi

sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,

Keputusan Musyawarah Tingkat Nasional maupun Propinsi dan

Kabupaten/ kota serta Peraturan Organisasi;

b) Membuat laporan secara berkala kepada Dewan Pengurus

Wilayah (DPW); dengan tembusan kepada DPP

c)

Menyampaikan laporan pertanggung jawaban pada MUSCAB.

d) Menyampaikan daftar anggota dan calon anggota yang telah

dikirimkan DPR kepada Dewan Pimpinan Wilayah

Pasal 13

Dewan Pengurus Ranting

1) Dewan Pengurus Ranting (DPR) adalah pimpinan SPI di Ranting

2) DPR memiliki wewenang:

(31)

dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan

MUNAS, MUSWIL, MUSCAB, dan MUSRAN, serta Peraturan

organisasi;

b) Mengesahkan komposisi dan personalia Dewan Pengurus Basis

(DPB)

3) DPR berkewajiban :

a) Melaksanakan segala ketentuan dan kebijaksanaan organisasi

sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,

Keputusan MUNAS, MUSWIL, MUSCAB, MUSRAN, serta

Peraturan Organisasi;

b) Membuat laporan secara berkala kepada Dewan Pengurus

Cabang (DPC); dengan tembusan kepada DPW

c)

Menyampaikan laporan pertanggungjawaban pada MUSRAN;

d) Menyampaikan daftar anggota dan calon anggota yang telah

dikirimkan DPB kepada Dewan Pimpinan Cabang

Pasal 14

Dewan Pengurus Basis

1) Dewan Pengurus Basis (DPB) adalah pimpinan SPI di tingkat Basis

2) DPB memiliki wewenang:

a) Menetapkan kebijaksanaan organisasi di tingkat Basis sesuai

dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan

MUNAS, MUSWIL, MUSCAB, MUSRAN, MUSBA serta Peraturan

Organisasi

b) Menerima pendaftaran calon anggota untuk disampaikan pada

Dewan Pimpinan Ranting (DPR)

3) DPB berkewajiban :

a) Melaksanakan segala ketentuan dan kebijaksanaan organisasi

sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,

Keputusan MUNAS, MUSWIL, MUSCAB, MUSRAN, MUSBA,

Rapat Anggota Tahunan, Rapat Pleno Bulanan, serta Peraturan

Organisasi

b) Membuat laporan secara berkala kepada Dewan Pengurus

Ranting (DPR); dengan tembusan kepada DPC

c)

Menyampaikan laporan pertanggung jawaban pada MUSBA

d) Menyampaikan daftar anggota dan calon anggota kepada Dewan

(32)

BAB VII

PERWAKILAN DAN HUBUNGAN KERJASAMA NASIONAL DAN

INTERNASIONAL

Pasal 15

Perwakilan Luar Negeri

1) Perwakilan di Luar Negeri dibentuk oleh DPP

2) Perwakilan Luar Negeri bertanggung jawab kepada DPP

3) Tata cara pembentukan, tugas dan tanggung-jawab perwakilan luar

negeri, di atur melalui keputusan DPP

Pasal 16

Hubungan Kerjasama Nasional dan Internasional

1) Kerjasama untuk menjalankan kegiatan dengan skala nasional dan

skala internasional sepenuhnya merupakan wewenang DPP

2) Kerjasama dengan organisasi berskala nasional dan organisasi luar

negeri sepenuhnya merupakan wewenang DPP yang tidak

bertentangan dengan asas, prinsip dan tujuan organisasi

3) Struktur di bawah DPP diwajibkan untuk memberitahukan dan

memperoleh izin tertulis dari DPP sebelum menjalankan kegiatan

dengan skala nasional dan internasional, dengan tata cara yang diatur

melalui keputusan DPP

4) Struktur di bawah DPP diwajibkan untuk memberitahukan dan

memperoleh izin tertulis dari DPP sebelum menjalin Kerjasama

dengan organisasi berskala nasional dan organisasi luar negeri,

dengan tata cara yang diatur melalui keputusan DPP

BAB VIII

Pasal 17

MAJELIS PETANI

(33)

Pasal 18

Majelis Nasional Petani

Dewan Pengurus Pusat

1)

Majelis Nasional Petani (MNP) adalah pimpinan yang berjumlah

sekurang-kurangnya 2 (dua) dan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali

jumlah DPW yang sah sebagai pemegang amanah kepemimpinan

organisasi di tingkat pusat

2)

Setiap DPW mengutus maksimal 2 (dua) orang untuk menduduki

jabatan sebagai MNP, dengan perimbangan jumlah petani perempuan

dan laki-laki, untuk mencerminkan perwakilan wilayah

3) Anggota MNP tidak boleh merangkap jabatan kepengurusan apapun

di dalam struktur DPP, DPW, DPC, DPR dan DPB

4) Seluruh pengambilan keputusan MNP hanya dapat dilakukan melalui

Rapat Majelis Nasional, bukan keputusan perseorangan yang

mengatasnamakan MNP

5) MNP berasal dari:

a) Anggota Kader A atau Anggota Kader B yang diangkat oleh

MUSWIL/MUSWILUB, dan atau Musyawarah Wilayah Antar

Periode, dan atau Rapat Majelis Wilayah Petani, untuk kemudian

disahkan dan dilantik oleh Kongres, dan atau dilantik oleh

Kongres Luar Biasa, dan atau dilantik oleh Munas, dan atau

dilantik oleh Rapat Majelis Nasional Petani yang sudah terbentuk

b) Mantan Pengurus SPI Anggota Kader A atau Anggota Kader B,

yang diangkat oleh Rapat MNP yang sudah terbentuk

6) MNP berhak menambah keanggotaannya dengan orang-orang yang

dibutuhkan oleh Organisasi, dengan catatan tambahan itu tidak lebih

dari 20 % dari total jumlah maksimal MNP

7) Susunan MNP terdiri dari seorang Ketua Majelis merangkap anggota

dan jika diperlukan beberapa orang Wakil Ketua merangkap anggota,

seorang Sekretaris merangkap anggota, dan beberapa orang anggota

8) Ketua MNP dipilih oleh Rapat MNP untuk masa jabatan selama 5

tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya

9) MNP memiliki tugas legislasi, anggaran, artikulasi, konsultasi, serta

pengawasan

10) Untuk menjalankan tugas legislasi, anggaran, artikulasi, konsultasi,

dan pengawasan, maka Rapat MNP dapat membentuk Badan-Badan

MNP sesuai keperluan

a) Tugas Legislasi

(34)

utama organisasi berdasarkan Anggaran Dasar, Anggaran

Rumah Tangga, putusan rapat-rapat dan peraturan organisasi

ii)

Menyusun dan mengesahkan Kode Etik Majelis yang berlaku

terhadap MNP, MWP, MCP, MRP, hingga MBP

iii) Membuat keputusan arah kebijakan politik organisasi,

keputusan-keputusan strategis , dan naskah-naskah azasi

organisasi lainnya yang belum di atur secara lengkap oleh

AD/ART SPI dan dianggap perlu, melalui Rapat MNP

iv) Memutuskan dan menetapkan program kerja tahunan

bersama-sama dengan BPP

b) Tugas Budgeter/Anggaran

i)

Membahas, mengubah, menyetujui atau menolak, Anggaran

Tahunan yang diajukan oleh BPP

ii)

Jika Anggaran Tahunan yang diajukan ditolak oleh MNP,

maka MNP harus menerima keputusan BPP untuk

menggunakan Anggaran Tahunan sebelumnya

c)

Tugas Konsultasi

i)

Memberikan pertimbangan kepada BPP dalam menjalankan

program kerjanya baik diminta atau tidak diminta, baik secara

perseorangan maupun melalui keputusan Rapat MNP

ii)

Mengusulkan pembentukan Kelengkapan dan Perangkat

Organisasi kepada BPP

iii) Menjadi penengah bila terjadi konflik diantara BPP dan Konflik

antara BPP dan BPW sampai konflik dapat diselesaikan

d) Tugas Pengawasan,

i)

Memelihara kemurnian perjuangan organisasi sesuai dengan

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, putusan

rapat-rapat dan peraturan organisasi

ii)

Mengontrol jalannya tugas-tugas BPP dalam menjalankan

hasil kongres, KLB, MUNAS, Rapat MNP dan Rapat Pleno

DPP

iii) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan GBHO, dan

berbagai pedoman umum kebijakan utama organisasi yang

dijalankan oleh BPP

iv) Melakukan hak angket (penyelidikan) terhadap hal-hal yang

berhubungan dengan penyimpangan atas penyelenggaraan

program kerja dan atau menyalahgunakan wewenangnya

sebagai BPP SPI.

(35)

kepada BPP

f)

Menyelenggarakan kongres dan MUNAS bersama dengan BPP

SPI

g) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan hak, wewenang dan

kewajibannya kepada kongres/KLB

11) Anggota MNP yang berasal dari pengangkatan wilayah yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, dapat diwakili oleh

salah satu anggota MWP namun suaranya dihitung abstain

12) Anggota MNP yang tidak berasal dari pengangkatan wilayah yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, tidak dapat diwakili

oleh siapapun

13) Jika ada anggota MNP yang berasal dari pengangkatan wilayah

berhalangan tetap, maka wilayah berhak mengangkat penggantinya

14) Jika ada anggota MNP yang bukan berasal dari pengangkatan

wilayah berhalangan tetap, maka Majelis Wilayah berhak mengangkat

dan mengesahkan penggantinya

Pasal 19

Majelis Wilayah Petani

Dewan Pengurus Wilayah

1)

Majelis Wilayah Petani (MWP) adalah pimpinan yang berjumlah

sekurang-kurangnya 2 (dua) dan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali

jumlah DPC yang sah sebagai pemegang amanah kepemimpinan

organisasi di tingkat wilayah

2)

Setiap DPC diwakili maksimal dua orang untuk menduduki jabatan

sebagai MWP, dengan perimbangan jumlah petani perempuan dan

laki-laki, untuk mencerminkan perwakilan Cabang

3) Anggota MWP tidak boleh merangkap jabatan kepengurusan apapun

di dalam struktur DPP, DPW, DPC, DPR, dan DPB

4)

Seluruh pengambilan keputusan MWP hanya dapat dilakukan melalui

Rapat

MWP, bukan keputusan perseorangan yang

mengatasnamakan MWP.

5)

MWP berasal dari:

(36)

b)

Mantan Pengurus SPI Anggota Kader A, B, atau C, yang diangkat

oleh Rapat MWP yang sudah terbentuk

6)

MWP berhak menambah keanggotaannya dengan orang-orang yang

dibutuhkan oleh Wilayah, dengan catatan tambahan itu tidak lebih dari

20 % dari total jumlah maksimal MWP

7)

Susunan MWP terdiri dari seorang Ketua MWP merangkap anggota

dan jika diperlukan beberapa orang Wakil Ketua merangkap anggota,

seorang Sekretaris merangkap anggota, dan beberapa orang anggota

8)

Ketua MWP dipilih oleh Rapat MWP untuk masa jabatan selama 5

tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya

9)

MWP memiliki tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi, serta

Pengawasan

10)

Untuk menjalankan tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi,

dan Pengawasan, maka Rapat MWP dapat membentuk Badan-Badan

MWP sesuai keperluan

a) Tugas Legislasi

i)

Membuat dan mengajukan kepada MNP, rancangan kebijakan

dan keputusan Politik yang sangat strategis, berkaitan dengan

kekhasan kehidupan politik wilayah dan memerlukan

keputusan politik di tingkat Nasional

ii)

Membuat, meninjau ulang bila diperlukan, serta menetapkan

Program Kerja Tahunan Wilayah sebagai penjabaran GBHO

di Wilayah bersama-sama dengan BPW

b) Tugas Budgeter/Anggaran

i)

Membahas, mengubah, menyetujui atau menolak, Anggaran

Tahunan Wilayah yang diajukan oleh BPW

ii)

Jika Anggaran Tahunan Wilayah yang diajukan ditolak oleh

MWP, maka MWP harus menerima keputusan BPW untuk

menggunakan Anggaran Tahunan Wilayah periode

sebelumnya

c)

Tugas Konsultasi

i)

Memberikan pertimbangan kepada BPW dalam menjalankan

program kerjanya baik diminta atau tidak diminta, baik secara

perseorangan maupun melalui keputusan Rapat MWP

ii)

Mengusulkan pembentukan Kelengkapan dan Perangkat

Organisasi di Wilayah kepada BPW

(37)

d) Tugas Pengawasan,

i)

Memelihara kemurnian perjuangan organisasi sesuai dengan

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, putusan

rapat-rapat dan peraturan organisasi lainnya

ii)

Mengontrol jalannya tugas-tugas BPW dalam menjalankan

berbagai hasil keputusan organisasi

iii) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan GBHO, dan

berbagai pedoman umum kebijakan utama organisasi yang

dijalankan oleh BPP

iv) Melakukan hak angket (penyelidikan) terhadap hal-hal yang

berhubungan dengan penyimpangan atas penyelenggaraan

program kerja dan atau menyalahgunakan wewenangnya

sebagai BPW SPI.

e) Tugas Artikulasi yaitu tugas untuk menampung, menerima dan

membahas persoalan dan aspirasi petani untuk diteruskan

kepada BPW

i)

Menyelenggarakan MUSWIL/MUSWILUB dan Musyawarah

Wilayah Antar Periode bersama dengan BPW

ii)

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan hak, wewenang dan

kewajibannya kepada MUSWIL/MUSWILUB

11)

Anggota MWP yang berasal dari pengangkatan cabang yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, dapat diwakili oleh

salah satu anggota MCP namun suaranya dihitung abstain

12)

Anggota MWP yang tidak berasal dari pengangkatan cabang yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, tidak dapat diwakili

oleh siapapun

13)

Jika ada anggota MWP yang berasal dari pengangkatan cabang

berhalangan tetap, maka Majelis Cabang berhak mengangkat

penggantinya

14)

Jika ada anggota MWP yang bukan berasal dari pengangkatan

cabang berhalangan tetap, maka

MWP

mengangkat dan

mengesahkan penggantinya

Pasal 20

Majelis Cabang Petani

Dewan Pengurus Cabang

(38)

organisasi di tingkat Cabang

2)

Setiap DPR diwakili maksimal dua orang untuk menduduki jabatan

sebagai MCP, dengan perimbangan jumlah petani perempuan dan

laki-laki, untuk mencerminkan perwakilan Ranting

3) Anggota MCP tidak boleh merangkap jabatan kepengurusan apapun

di dalam struktur DPP, DPW, DPC, DPR, dan DPB

4) Seluruh pengambilan keputusan MCP hanya dapat dilakukan melalui

Rapat MCP, bukan keputusan perseorangan yang mengatasnamakan

MCP.

5) MCP berasal dari:

a) Anggota Kader A, B, atau C yang diangkat oleh

MUSRAN/MUSRANLUB, dan atau Musyawarah Ranting Antar

Periode, dan atau Rapat Majelis Ranting Petani, untuk kemudian

disahkan dan dilantik oleh MUSCAB/MUSCABLUB, dan atau

dilantik oleh Musyawarah Cabang Antar Periode, dan atau dilantik

oleh Rapat MCP yang sudah terbentuk

b) Mantan Pengurus SPI Anggota Kader A, B, atau C, yang diangkat

oleh Rapat MCP yang sudah terbentuk

6) MCP berhak menambah keanggotaannya dengan orang-orang yang

dibutuhkan oleh Cabang, dengan catatan tambahan itu tidak lebih dari

20 % dari total jumlah maksimal MCP

7) Susunan MCP terdiri dari seorang Ketua MCP merangkap anggota

dan jika diperlukan beberapa orang Wakil Ketua merangkap anggota,

seorang Sekretaris merangkap anggota, dan beberapa orang anggota

8) Ketua MCP dipilih oleh Rapat MCP untuk masa jabatan selama 5

tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya

9) MCP memiliki tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi, serta

Pengawasan

10) Untuk menjalankan tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi,

dan Pengawasan, maka Rapat MCP dapat membentuk Badan-Badan

MCP sesuai keperluan

a) Tugas Legislasi

i)

Membuat dan mengajukan kepada MWP untuk diteruskan

kepada MNP, rancangan kebijakan dan keputusan Politik

yang sangat strategis, berkaitan dengan kekhasan kehidupan

politik Cabang dan memerlukan keputusan politik di tingkat

Cabang dan Nasional

(39)

b) Tugas Budgeter/Anggaran

i)

Membahas, mengubah, menyetujui atau menolak, Anggaran

Tahunan Cabang yang diajukan oleh BPC

ii)

Jika Anggaran Tahunan Cabang yang diajukan ditolak oleh

MCP, maka MCP harus menerima keputusan BPC untuk

menggunakan Anggaran Tahunan Cabang periode

sebelumnya

c)

Tugas Konsultasi

i)

Memberikan pertimbangan kepada BPC dalam menjalankan

program kerjanya baik diminta atau tidak diminta, baik secara

perseorangan maupun melalui keputusan Rapat MCP

ii)

Mengusulkan pembentukan Kelengkapan dan Perangkat

Organisasi di Cabang kepada BPC

iii) Menjadi penengah bila terjadi konflik diantara BPC, dan

Konflik antara BPC dan BPR sampai konflik dapat

diselesaikan

d) Tugas Pengawasan,

i)

Memelihara kemurnian perjuangan organisasi sesuai dengan

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, putusan

rapat-rapat dan peraturan organisasi lainnya

ii)

Mengontrol jalannya tugas-tugas BPC dalam menjalankan

berbagai hasil keputusan organisasi

iii) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan GBHO, dan

berbagai pedoman umum kebijakan utama organisasi yang

dijalankan oleh BPC

iv) Melakukan hak angket (penyelidikan) terhadap hal-hal yang

berhubungan dengan penyimpangan atas penyelenggaraan

program kerja dan atau menyalahgunakan wewenangnya

sebagai BPC SPI.

e) Tugas Artikulasi yaitu tugas untuk menampung, menerima dan

membahas persoalan dan aspirasi petani untuk diteruskan

kepada BPC

i)

Menyelenggarakan MUSCAB/MUSCABLUB dan Musyawarah

Cabang Antar Periode bersama dengan BPC

ii)

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan hak, wewenang dan

kewajibannya kepada MUSCAB/MUSCABLUB

11) Anggota MCP yang berasal dari Pengangkatan Ranting yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, dapat diwakili oleh

salah satu anggota MRP namun suaranya dihitung abstain

(40)

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, tidak dapat diwakili

oleh siapapun

13) Jika ada anggota MCP yang berasal dari Pengangkatan Ranting

berhalangan tetap, maka Majelis Ranting berhak mengangkat

penggantinya

14) Jika ada anggota MCP yang bukan berasal dari Pengangkatan

Ranting berhalangan tetap, maka MCP mengangkat dan

mengesahkan penggantinya

Pasal 21

Majelis Ranting Petani

Dewan Pengurus Ranting

1)

Majelis Ranting Petani (MRP) adalah pimpinan yang berjumlah

sekurang-kurangnya 2 (dua) dan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali

jumlah DPB yang sah sebagai pemegang amanah kepemimpinan

organisasi di tingkat Cabang

2)

Setiap DPR diwakili maksimal dua orang untuk menduduki jabatan

sebagai MRP, dengan perimbangan jumlah petani perempuan dan

laki-laki, untuk mencerminkan perwakilan Basis

3) Anggota MRP tidak boleh merangkap jabatan kepengurusan apapun

di dalam struktur DPP, DPW, DPC, DPR, dan DPB

4) Seluruh pengambilan keputusan MRP hanya dapat dilakukan melalui

Rapat MRP, bukan keputusan perseorangan yang mengatasnamakan

MRP.

5) MRP berasal dari:

a) Anggota Kader A, B, C, atau D yang diangkat oleh

MUSRAN/MUSRANLUB, dan atau Musyawarah Ranting Antar

Periode, dan atau Rapat MRP, untuk kemudian disahkan dan

dilantik oleh MUSRAN/MUSRANLUB, dan atau dilantik oleh

Musyawarah Ranting Antar Periode, dan atau dilantik oleh Rapat

MRP yang sudah terbentuk

b) Mantan Pengurus SPI Anggota Kader A, B, C, atau D, yang

diangkat oleh Rapat MRP yang sudah terbentuk

6) MRP berhak menambah keanggotaannya dengan orang-orang yang

dibutuhkan oleh Ranting, dengan catatan tambahan itu tidak lebih dari

20 % dari total jumlah maksimal MRP

(41)

tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya

9) MRP memiliki tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi, serta

Pengawasan

10) Untuk menjalankan tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi,

dan Pengawasan, maka Rapat MRP dapat membentuk Badan-Badan

MRP sesuai keperluan

a) Tugas Legislasi

i)

Membuat dan mengajukan kepada MCP untuk diteruskan

kepada MWP dan MNP, rancangan kebijakan dan keputusan

Politik yang sangat strategis, berkaitan dengan kekhasan

kehidupan politik Ranting dan memerlukan keputusan politik

di tingkat Cabang, Wilayah, dan Nasional

ii)

Membuat, meninjau ulang bila diperlukan, serta menetapkan

Program Kerja Tahunan Ranting sebagai penjabaran GBHO

di Ranting bersama-sama dengan BPR

b) Tugas Budgeter/Anggaran

i)

Membahas, mengubah, menyetujui atau menolak, Anggaran

Tahunan Ranting yang diajukan oleh BPR

ii)

Jika Anggaran Tahunan Ranting yang diajukan ditolak oleh

MRP, maka MRP harus menerima keputusan BPR untuk

menggunakan Anggaran Tahunan Ranting periode

sebelumnya

c)

Tugas Konsultasi

i)

Memberikan pertimbangan kepada BPR dalam menjalankan

program kerjanya baik diminta atau tidak diminta, baik secara

perseorangan maupun melalui keputusan Rapat MRP

ii)

Mengusulkan pembentukan Kelengkapan dan Perangkat

Organisasi di Ranting kepada BPR

iii) Menjadi penengah bila terjadi konflik diantara BPR, dan

Konflik antara BPR dan BPB sampai konflik dapat

diselesaikan

d) Tugas Pengawasan,

i)

Memelihara kemurnian perjuangan organisasi sesuai dengan

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, putusan

rapat-rapat dan peraturan organisasi lainnya

ii)

Mengontrol jalannya tugas-tugas BPR dalam menjalankan

berbagai hasil keputusan organisasi

(42)

iv) Melakukan hak angket (penyelidikan) terhadap hal-hal yang

berhubungan dengan penyimpangan atas penyelenggaraan

program kerja dan atau menyalahgunakan wewenangnya

sebagai BPR.

e) Tugas Artikulasi yaitu tugas untuk menampung, menerima dan

membahas persoalan dan aspirasi petani untuk diteruskan

kepada BPR

i)

Menyelenggarakan MUSRAN/MUSRANLUB dan Musyawarah

Ranting Antar Periode bersama dengan BPR

ii)

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan hak, wewenang dan

kewajibannya kepada MUSRAN/MUSRANLUB

11) Anggota MRP yang berasal dari Pengangkatan Basis yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, dapat diwakili oleh

salah satu anggota MBP namun suaranya dihitung abstain

12) Anggota MRP yang tidak berasal dari Pengangkatan Basis yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, tidak dapat diwakili

oleh siapapun

13) Jika ada anggota MRP yang berasal dari Pengangkatan Basis

berhalangan tetap, maka Majelis Basis berhak mengangkat

penggantinya

14) Jika ada anggota MRP yang bukan berasal dari Pengangkatan Basis

berhalangan tetap, maka MRP mengangkat dan mengesahkan

penggantinya

Pasal 22

Majelis Basis Petani

Dewan Pengurus Basis

1)

Majelis Basis Petani (MBP) adalah pimpinan yang

sekurang-kurangnya 15 % (lima belas persen) dan sebanyak-banyaknya 20%

(dua puluh persen) dari jumlah anggota DPB yang sah sebagai

pemegang amanah kepemimpinan organisasi di tingkat Basis, dengan

perimbangan jumlah petani perempuan dan laki-laki

2) Anggota MBP tidak boleh merangkap jabatan kepengurusan apapun

di dalam struktur DPP, DPW, DPC, DPR, dan DPB

3) Seluruh pengambilan keputusan MBP hanya dapat dilakukan melalui

Rapat MBP, bukan keputusan perseorangan yang mengatasnamakan

MBP.

4) MBP berasal dari:

(43)

dan atau Rapat MBP, untuk kemudian disahkan dan dilantik oleh

MUSBA/MUSBALUB, dan atau dilantik oleh Musyawarah Basis

Antar Periode, dan atau dilantik oleh Rapat MBP yang sudah

terbentuk

b) Mantan Pengurus SPI Anggota Kader A, B, C, D, E, yang diangkat

oleh Rapat Basis Petani yang sudah terbentuk

5) MBP berhak menambah keanggotaannya dengan orang-orang yang

dibutuhkan oleh Basis, dengan catatan tambahan itu tidak lebih dari

20 % dari total jumlah maksimal MBP

6) Susunan MBP terdiri dari seorang Ketua MBP merangkap anggota

dan jika diperlukan beberapa orang Wakil Ketua merangkap anggota,

seorang Sekretaris merangkap anggota, dan beberapa orang anggota

7) Ketua MBP dipilih oleh Rapat MBP untuk masa jabatan selama 5

tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya

8) MBP memiliki tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi, serta

Pengawasan

9) Untuk menjalankan tugas Legislasi, Anggaran, Artikulasi, Konsultasi,

dan Pengawasan, maka Rapat Majelis Basis dapat membentuk

Badan-Badan MBP sesuai keperluan

a) Tugas Legislasi

i)

Membuat dan mengajukan kepada MRP untuk diteruskan

kepada MCP, MWP dan MNP, rancangan kebijakan dan

keputusan Politik yang sangat strategis, berkaitan dengan

kekhasan kehidupan politik Ranting dan memerlukan

keputusan politik di tingkat Ranting, Cabang, Wilayah, dan

Nasional

ii)

Membuat, meninjau ulang bila diperlukan, serta menetapkan

Program Kerja Tahunan Basis sebagai penjabaran GBHO di

Basis bersama-sama dengan BPB

b) Tugas Budgeter/Anggaran

i)

Membahas, mengubah, menyetujui atau menolak, Anggaran

Tahunan Basis yang diajukan oleh BPB

ii)

Jika Anggaran Tahunan Basis yang diajukan ditolak oleh MBP,

maka MBP harus menerima keputusan BPB untuk

menggunakan Anggaran Tahunan Basis periode sebelumnya

c)

Tugas Konsultasi

i)

Memberikan pertimbangan kepada BPB dalam menjalankan

program kerjanya baik diminta atau tidak diminta, baik secara

perseorangan maupun melalui keputusan Rapat MBP

(44)

Organisasi di Basis kepada BPB

iii) Menjadi penengah bila terjadi konflik diantara BPB, dan

Konflik antara BPB dengan Anggota BPB sampai konflik

dapat diselesaikan

d) Tugas Pengawasan,

i)

Memelihara kemurnian perjuangan organisasi sesuai dengan

Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, putusan

rapat-rapat dan peraturan organisasi lainnya

ii)

Mengontrol jalannya tugas-tugas BPB dalam menjalankan

berbagai hasil keputusan organisasi

iii) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan GBHO, dan

berbagai pedoman umum kebijakan utama organisasi yang

dijalankan oleh BPB

iv) Melakukan hak angket (penyelidikan) terhadap hal-hal yang

berhubungan dengan penyimpangan atas penyelenggaraan

program kerja dan atau menyalahgunakan wewenangnya

sebagai BPB

e) Tugas Artikulasi yaitu tugas untuk menampung, menerima dan

membahas persoalan dan aspirasi petani untuk diteruskan

kepada BPB

i)

Menyelenggarakan MUSBA/MUSBALUB dan Musyawarah

Basis Antar Periode bersama dengan BPB

ii)

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan hak, wewenang dan

kewajibannya kepada MUSBA/MUSBALUB

10) Anggota MBP yang berasal dari Pengangkatan Anggota Basis yang

berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, dapat diwakili oleh

salah satu anggota MBP namun suaranya dihitung abstain

11) Anggota MBP yang tidak berasal dari Pengangkatan Anggota Basis

yang berhalangan hadir pada berbagai rapat organisasi, tidak dapat

diwakili oleh siapapun

12) Jika ada anggota MBP yang berasal dari Pengangkatan Anggota

Basis berhalangan tetap, maka MBP berhak mengangkat

penggantinya

(45)

BAB IX

PEMBERHENTIAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA MAJELIS

ANTAR PERIODE

Pasal 23

Pemberhentian Anggota MNP

1)

Anggota Majelis Nasional Petani yang berasal dari Pengangkatan

Wilayah dapat diberhentikan secara resmi oleh MUSWIL/MUSWILUB,

dan atau Musyawarah Wilayah Antar Periode (MWAP), dan atau

Rapat Majelis Wilayah Petani

2)

Jika Rapat MWP menyetujui pemberhentian anggota MNP yang

berasal dari wilayahnya, maka selambat-lambatnya selama 2 bulan,

melalui MUSWIL/MUSWILUB, dan atau Musyawarah Wilayah Antar

Periode (MWAP), dan atau Rapat MWP harus mengangkat MNP

penggantinya. Jika dalam tenggang waktu tersebut, MWP tidak

berhasil mengangkat MNP pengganti, maka MNP berhak mengangkat

anggota MNP dari wilayah tersebut

3) Anggota Majelis Nasional Petani yang tidak berasal dari

Pengangkatan Wilayah dapat diberhentikan secara resmi oleh Rapat

Majelis Nasional Petani

4) Anggota Majelis Nasional Petani yang berasal dari Pengangkatan

Wilayah juga dapat diberhentikan secara sementara oleh Rapat

Majelis Nasional Petani, dengan catatan:

a)

MNP memberitahukan pemberhentian sementara tersebut

beserta alasan-alasannya kepada MWP, selambat-lambatnya 10

(sepuluh) hari sejak keputusan pemberhentian diputuskan.

b) MNP memberi waktu selama-lamanya 2 (dua) bulan kepada

wilayah untuk mengambil keputusan untuk menolak atau

menerima keputusan pemberhentian tersebut

c)

Jika dalam waktu 2 (dua) bulan wilayah belum mengambil

keputusan, maka pemberhentian sementara tersebut menjadi

pemberhentian tetap.

d) Jika dalam waktu 2 (dua) bulan Wilayah mengambil keputusan

menolak, maka pemberhentian sementara tersebut dibatalkan

e) Jika dalam waktu 2 (dua) bulan Wilayah mengambil keputusan

menerima, maka pemberhentian sementara tersebut menjadi

pemberhentian tetap.

(46)

Pasal 24

Pemberhentian Anggota MWP hingga MRP

Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Majelis mulai dari MWP

hingga MRP mengikuti pola yang sama sesuai tingkatannya.

Pasal 25

Pemberhentian Anggota MBP

1)

Anggota Majelis Basis Petani yang berasal dari Pengangkatan

Anggota dapat diberhentikan secara resmi oleh MUSBA/MUSBALUB,

dan atau Musyawarah Basis Antar Periode (MBAP), dan atau Rapat

Majelis Basis Petani

2)

Jika Rapat MBP menyetujui pemberhentian anggota MRP yang

berasal dari wilayahnya, maka selambat-lambatnya selama 2 bulan,

melalui MUSBA/MUSBALUB, dan atau Musyawarah Basis Antar

Period

Referensi

Dokumen terkait

Sintesa merupakan Ornop di Sumatera Utara yang berperan sebagai organisasi pendukung gerakan-gerakan rakyat miskin lintas sektoral (buruh, miskin kota, nelayan), terutama petani,

diciptakan pemerintah cenderung tidak berpihak pada kaum buruh dan tani, dan bersifat „setengah feodal.‟4 Pada tahun 2017, SERUNI mengadakan kongres pertamanya, “Membangun Organisasi