• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Kadar Gula Darah Diabetisi pada Komunitas Persadia Kota Salatiga T1 462008044 BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Kadar Gula Darah Diabetisi pada Komunitas Persadia Kota Salatiga T1 462008044 BAB II"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes Melitus 2.1.1 Pengertian

Kata “diabetes” berasal dari bahasa Yunani yag artinya orang yang berdiri mengangkangkan kedua belah kakinya atau selang untuk memindahkan air. Makna tersebut berkembang dan ditafsirkan menjadi peristiwa kencing. Pada 1675 Thomas Willis menambahkan kata “mellitus” pada istilah tersebut, meskipun lebih sering disebut diabetes saja. “Mel” dalam bahasa Latin berarti madu; untuk memaksudkan urin dan darah penderita diabetes yang mengandung glukosa yang berlebihan. Diabetes melitus berarti kondisi dimana seseorang mengeluarkan urin yang mengandung glukosa tinggi. Pada masa Cina kuno, orang pernah mengamati bahwa semut tertarik pada urin penderita DM karena manis, sehingga muncul istilah penyakit kencing manis (Ardhi, 2010).

2.1.2 Klasifikasi

Menurut American Diabetes Association (ADA)

(2)

a. Diabetes Mellitus tipe I (DM yang Tergantung Insulin).

Pada DM tipe I umumnya terjadi pada umur yang lebih muda mulai dari anak-anak. Hal ini disebabkan oleh adanya proses autoimun yang merusak sel beta (β) pankreas, sehingga produksi insulin hilang atau sangat sedikit. Akibatnya pasien menjadi tergantung dengan pemberian insulin dari luar untuk mempertahankan hidupnya. Kalau tidak mendapat insulin dari luar, akan terjadi komplikasi DM akut yang segera dapat menyebabkan kematian (ketoasidosis diabetik).

b. Diabetes Mellitus tipe II (DM Tidak Tergantung Insulin).

(3)

kalau tetap dibiarkan kadar glukosanya tinggi, tentu akan dapat menyebabkan terjadinya komplikasi menahun DM yang dapat mengenai berbagai organ tubuh dan menyebabkan kematian. Banyak penyandang DM tipe II datang terlambat dan sudah mengidap komplikasi DM saat pertama kali didiagnosis sebagai penyandang DM (Waspadji, 2005).

c. Diabetes Melitus Akibat Induksi Obat

Pada DM tipe III umumnya juga terjadi secara perlahan, hampir seperti DM tipe II. Penyebab dan dasar kelainannya sudah diketahui, umumnya pada tingkat kelainan biomolekuler, misalnya karena obat-obatan, bahan kimia, infeksi dan penyebab lainnya. Walaupun sudah diketahui mekanisme dasar kelainannya, belum berarti bahwa kelainan tersebut dapat diperbaiki. Penyebab kelainan dasarnya umumnya menetap (Waspadji, 2005).

d. Diabetes Melitus pada Kehamilan

(4)

ini setelah melahirkan kadar glukosa darahnya akan kembali menjadi normal atau dapat berkembang dan menetap menjadi DM. Diabetes pada kehamilan terjadi karena perubahan metabolik fisiologis yang terjadi pada saat kehamilan. Perubahan tersebut mengarah pada terjadinya resistensi insulin. Apabila sel beta pankreas tidak dapat mengimbangi perubahan tersebut, tentu akan terjadi DM pada kehamilan. Setelah melahirkan, karena terjadi perubahan fisiologis pada saat hamil hilang, maka wanita tersebut tentu akan menjadi normal kembali. Sebaliknya, kalau seorang wanita sebelumnya sudah menyandang DM, dan baru diketahui adanya DM saat hamil, maka nantinya setelah melahirkan ia akan tetap DM (Waspadji, 2005).

2.1.3 Diagnosis

(5)

Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer (Parkeni, 2011).

Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Berdasarkan Konsensus Perkeni tahun 2011 tentang Pengelolaan DM tipe 2, diagnosis DM dapat ditegakkan melalui 3 cara, yaitu :

a. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM.

b. Gejala klasik DM + kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL sudah cukup menegakkan diagnosis DM. Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam.

(6)

Menurut American Diabetes Association tahun 2011, pemeriksaan HbA1c ≥ 6,5 % (haemoglobin

glikosilat) menjadi salah satu kriteria diagnosis DM, jika dilakukan pada laboratorium yang telah terstandarisasi dengan baik. Pemeriksaan HbA1c dilakukan setiap 3 – 6 bulan, minimal 2 kali dalam setahun (Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Type II di Indonesia tahun 2011, PERKENI)

2.1.4 Tanda dan Gejala Diabetes Melitus

(7)

2.1.5 Penyebab Diabetes Melitus 1. Faktor genetik atau keturunan

DM cenderung diturunkan, bukan ditularkan. Anggota keluarga DM atau diabetisi memiliki kemungkinan lebih besar mendapatkan penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau jenis kelamin. Biasanya pria menjadi penderita, sedangkan wanita sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya

2. Virus dan bakteri

Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta pankreas, virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Namun demikian, DM akibat bakteri masih belum bisa dideteksi.

3. Bahan toksik atau beracun

(8)

pyrinuron (rodentisida), dan streptozotocin (produk

dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.

4. Nutrisi

Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) juga merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan DM. Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit DM.

2.1.6 Komplikasi Diabetes Melitus

Komplikasi DM dapat muncul secara akut dan secara kronik yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap DM.

Komplikasi akut DM: a. Reaksi Hipoglikemia

Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh kekurangan glukosa, dengan tanda rasa lapar, gemetar, keringat dingin, pusing dan sebagainya.

(9)

penderita akan tidak sadarkan diri. Karena ini disebabkan oleh kekurangan glukosa di dalam darah, koma ini disebut koma hipoglikemia.

Penderita koma hipoglikemia harus segera dibawa ke rumah sakit dan perlu mendapat suntikan glukosa 40 % dan infuse glukosa. Diabetisi yang mengalami reaksi hipoglikemia, biasanya disebabkan oleh obat anti diabetes yang diminum dengan dosis terlalu tinggi atau terlambat makan atau juga karena latihan fisik yang berlebihan.

b. Koma Diabetik

Berlawanan dengan koma hipoglikemia, koma diabetik ini timbul karena kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi, biasanya >600mg/dL, yang ditandai dengan :

a. Nafsu makan menurun, biasanya diabetisi mempunyai nafsu makan yang besar.

b. Penurunan kesadaran, kencing banyak.

c. Rasa mual, muntah, pernafasan cepat dan dalam, serta berbau aseton, dan

(10)

c. Komplikasi kronik diabetes mellitus, sering disebut Angiopati Diabetik

a. Mikroangiopati diabetik, yaitu angiopati yang terjadi pada kapiler dan arteriol. Proses adhesi dan agregasi trombosit yang kemudian terbentuk mikrotrombus merupakan basis biokimiawi utama. Yang termasuk dalam komplikasi ini adalah retinopati diabetik (mengenai organ mata) dan nefropati diabetik (mengenai organ ginjal)

b. Makroangiopati diabetik, yaitu penebalan dan hilangnya elastisitas dinding arteri. Yang termasuk dalam komplikasi ini adalah penyakit jantung koroner, gangguan pembuluh darah kaki, dan gangguan pembuluh darah otak (Waspadji, 2006).

2.1.7 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

(11)

a. Edukasi

Untuk mendapatkan manfaat pengobatan yang maksimal, sangat diperlukan pengertian dan memahami seluk beluk tentang DM. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah :

a. Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya kecemasan. b. Memberikan informasi secara bertahap, dimulai

dengan hal-hal yang sederhana.

c. Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi.

d. Diskusikan program pengobatan secara terbuka. Memberikan penjelasan sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan pasien.

e. Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima.

f. Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan.

(12)

h. Memperhatikan kondisi jasmani dan psikologi serta tingkatkan pendidikan pasien dan keluarganya.

i. Mengunakan alat bantu audio visual. b. Terapi Gizi

Terapi Nutrisi Medis merupakan bagian dari penatalaksanaan DM secara total. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara menyeluruh anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan lain serta pasien dan keluarganya).

Berdasarkan Konsensus Perkeni tahun 2011, ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan dalam komposisi yang seimbang dalam hal persentase karbohidrat, protein, dan sayuran sesuai dengan kecukupan gizi yang baik sebagai berikut :

Tabel 2.1 Terapi Nutrisi Medis

< 3000 mg/hari, bila ada hipertensi <2400 mg/hari

25 g/hari

(13)

Kebutuhan kalori dihitung berdasarkan pada kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 – 30 kal/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor, seperti : jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dan lain-lain.

Perhitungan berat badan ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi menjadi BBI = (TB - 100) - 10 % sehingga BB dikatagorikan sebagai

Sedangkan perhitungan BBI menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus : IMT = BB (kg) / TB2 (m). Adapun klasifikasi BBI menurut IMT adalah sebagai berikut :

(14)

c. Latihan Fisik

Pada waktu melakukan latihan fisik (exercise), ambilan (uptake) glukosa oleh otot yang sedang bekerja dapat mencapai kenaikan sampai 15-20 kali lipat, karena peningkatan laju metabolik pada otot yang aktif (Yunir & Soebardi, 2006).

(15)

(Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Type

II di Indonesia tahun 2011, PARKENI).

d. Terapi Farmakologi

Terapi farmakologi diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologi terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan. Obat hipoglikemik oral, berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi 5 kategori yang selengkapnya dijelaskan dalam tabel 2.4.

Tabel 2.4 Obat Hipoglikemik Oral

Obat Fungsi

Pemicu sekresi insulin Peningkat sensitivitas insulin Penghambat glukoneogenesis Penghambat absorpsi glukosa DPP-IV inhibitor

Sulfonilurea dan Glinid Metformin dan Tiazolidindion Metformin

Penghambat Glukosidase alfa

2.2 Glukosa Darah 2.2.1 Pengertian

(16)

2.2.2 Metabolisme Gula Darah

Metabolisme gula adalah proses pembentukan energi dari makanan menjadi bahan bakar bagi sel-sel tubuh agar berfungsi normal. Setelah makan, enzim pencernaan memecah protein, lemak, dan karbohidrat menjadi asam amino, asam lemak, dan gula sederhana. Nutrisi sederhana ini akan diserap ke dalam darah untuk digunakan sebagai energi saat tubuh membutuhkannya. Sedang sumber bahan bakar paling penting adalah gula sederhana yang disebut glukosa, juga dikenal sebagai gula darah.

(17)

diubah menjadi lemak dan ditimbun sebagai cadangan energi. Sehingga kadar GD akan turun sampai batas normal kembali. Dalam waktu 2 jam, bila jumlah insulin yang disekresikan pankreas terpenuhi maka kadar GD sudah normal kembali sekitar <150 mg/dL (Waspadji, 2006).

2.2.3 Faktor Pencetus Hiperglikemia

Faktor pencetus hiperglikemia antara lain :

a. Infeksi, meliputi 20- 55 % kasus hiperlikemia disebabkan oleh infeksi.

b. Stress, pada saat stress di dalam tubuh akan terjadi pemecahan gula darah, sehingga akan meningkatkan kadar gula darah meskipun sudah mengkonsumsi obat obat hipoglikemik oral

(manadotoday.com/forum/index.php?topic=189 6.0).

c. Obat – obatan, seperti kortikosterid, diuretic.

(18)

2.2.4 Cara Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah

Menurut Konsensus Perkeni tahun 2011, ada 3 cara yaitu :

a. Pemeriksaan Glukosa Urine

Pengukuran glukosa urine memberikan penilaian yang tidak langsung. Hanya digunakan pada pasien yang tidak dapat atau tidak mau memeriksa kadar glukosa darah. Batas ekskresi glukosa renal rata-rata sekitar 180 mg/dL, dapat bervariasi pada beberapa pasien. Hasil pemeriksaan sangat bergantung pada fungsi ginjal dan tidak dapat dipergunakan untuk menilai keberhasilan terapi.

b. Pemantauan Benda Keton

(19)

kadar asam beta hidroksi butirat dalam darah secara langsung dengan menggunakan strip khusus.

c. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)

Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler, dengan alat pengukur glukosa darah reagen kering yang sederhana dan mudah dipakai serta dapat dipercaya hasilnya. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi insulin. Waktu pemeriksaan yang dianjurkan adalah pada saat sebelum makan, 2 jam setelah makan, menjelang waktu tidur dan di antara siklus tidur. PGDM terutama dianjurkan pada :

a. Penderita DM dengan terapi insulin.

b. Penderita DM direncanakan mendapat terapi insulin.

(20)

2.3 Senam Diabetes

Gaya hidup tidak sehat seperti kegemukan, kurang aktifitas fisik dan konsumsi makanan rendah serat akan menyebabkan peningkatan faktor resiko penyakit DM, terutama DM tipe II. Penderita yang telah mengalami komplikasi kronik DM, akan terganggu kualitas hidupnya. Pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup yang lebih sehat dengan melakukan perencanaan makan, latihan fisik secara teratur, terkontrol dan berkesinambungan serta mengkonsumsi obat diabetik oral yang sesuai dengan anjuran dokter (Waspadji, 2006).

Insulin dan GLUT 04 adalah hormon yang berfungsi untuk memasukkan glukosa ke dalam sel. Di dalam sel, glukosa akan mengalami metabolisme dan selanjutnya dihasilkan energi yang akan digunakan untuk aktivitas tubuh sehari - hari. Bila terdapat gangguan pada produksi insulin ataupun gangguan pada reseptor insulin di berbagai jaringan tubuh serta GLUT maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga terjadilah hipoglikemia di dalam sel. Sebaliknya glukosa akan menumpuk di dalam darah dan kadar gula darah penderita DM lebih tinggi

(21)

Latihan jasmani membantu meningkatkan sensitivitas reseptor insulin, sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel, untuk memenuhi kebutuhan sumber energi bagi tubuh pasien. Olahraga selama 30-40 menit, dapat meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam sel sebesar 7-20 kali lipat, dibandingkan tanpa latihan fisik. Penambahan pemasukan glukosa ke dalam sel bergantung pada intensitas latihan yang dilakukan. Sebagai hasil akhir latihan fisik yang teratur adalah kontrol kadar gula darah lebih baik dan mencegah komplikasi DM yang tidak diinginkan.

Latihan fisik yang tepat bagi penderita DM harus memperhatikan frekuensi, intensitas, durasi dan jenis olahraga :

1. Frekuensi Latihan

(22)

2. Intensitas Latihan

Intensitas latihan merupakan faktor terpenting dalam latihan fisik. Untuk mengetahui apakah intensitas latihan yang dilakukan sudah cukup, secara sederhana dapat diukur dengan menghitung detak nadi pada saat melakukan latihan fisik. Intensitas latihan fisik dapat ditentukan berdasarkan penentuan DNM (Denyut Nadi Maksimal) terlebih dahulu. DNM adalah 220 – umur pasien. Dalam setiap kali melakukan latihan fisik harus mencapai 72 – 87 % DNM. Selanjutnya ditetapkan intensitas latihan pasien melalui prosentase terhadap DNM. Misalnya DNM 75 % artinya 0,75 x (220-50) = 128 kali/menit dan ini yang disebut sebagai Denyut Nadi Sasaran (DNS). Selama melakukan latihan fisik, denyut nadi pasien DM yang berusia 50 tahun, mencapai namun tidak lebih dari 128 kali/menit. Penentuan prosentase ini didasarkan pada tingkat kesehatan dan kebugaran penderita DM (Asdie, 2004).

3. Lama Latihan

(23)

perlu diperhatikan adalah setiap latihan fisik terdiri atas 3 tahapan berturut-turut, pemanasan (5-10 menit), latihan inti (20-40 menit) dan pendinginan (5-10 menit).

Jenis olahraga yang dianjurkan untuk penderita DM adalah aerobic low impact dan ritmic. Senam Diabetes adalah senam aerobic low impact dan ritmic, gerakannya menyenangkan dan tidak membosankan, serta dapat diikuti oleh semua kelompok umur sehingga menarik antusiasme kelompok dalam klub-klub diabetes.

1. Manfaat Senam Diabetes

a. Menurunkan kadar glukosa darah dan mencegah kegemukan.

Pada keadaan istirahat, metabolisme otot hanya sedikit membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Tapi pada saat latihan fisik, glukosa dan lemak merupakan sumber energi utama. Setelah berolah raga 10 menit, dibutuhkan glukosa 15 kalinya dibanding pada saat istirahat.

(24)

darah, peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi darah atau penggumpalan darah).

2. Indikasi dan Kontra Indikasi Senam Diabetes

a. Indikasi : Senam diabetes dapat diberikan pada seluruh penderita DM tipe I maupun tipe II. b. Kontra Indikasi

a. Penderita mengalami perubahan fungsi fisiologi seperti dispnoe atau nyeri dada.

b. Orang yang depresi, khawatir atau cemas. 3. Gerakan Senam Diabetes

Gerakan senam menurut Widianti dan Proverawati tahun 2010, yaitu :

a. Pemanasan I

Berdiri di tempat. Angkat kedua tangan ke atas selurus bahu. Kedua tangan bertautan. Lakukan bergantian dengan posisi kedua tangan di depan tubuh.

b. Pemanasan II

(25)

tangan diangkat ke kanan-kiri tubuh hingga lurus bahu.

c. Inti I

Posisi berdiri tegap. Kaki kanan maju selangkah ke depan. Kaki di tempat. Tangan kanan diangkat ke kanan tubuh selurus bahu. Sedangkan tangan kiri ditekuk hingga telapak tangan mendekati dada. Lakukan secara bergantian.

d. Inti 2

Posisi berdiri tegap. Kaki kanan diangkat hingga paha dan betis membentuk sudut 90 derajat. Kaki kiri tetap di tempat. Tangan kanan diangkat ke kanan tubuh selurus bahu. Sedangkan tangan kiri ditekuk hingga telapak tangan mendekati dada. Lakukan secara bergantian.

e. Pendinginan 1

Kaki kanan agak menekuk, kaki kiri lurus. Tangan kiri lurus ke depan selurus bahu. Tangan kanan ditekuk ke dalam. Lakukan secara bergantian. f. Pendinginan 2.

(26)

2.4 Kerangka Konseptual

Variabel Independen Variabel Dependen

Skema 2.1 Kerangka Konsep

2.5 Hipotesis

Hipotesis berasal dari kata hupo yang berarti sementara kebenarannya dan thesis artinya pernyataan

atau teori. Jadi hipotesis merupakan pernyataan sementara yang perlu diuji kebenarannya.

Hipotesis dalam penelitian ini meliputi :

1. Hipotesis Nol (Ho)

Hipotesis nol juga sering disebut dengan hipotesis statistik yaitu merupakan hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain atau hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan suatu kejadian antara dua kelompok.

SENAM

DIABETES

KADAR GULA

(27)

Ho dalam penelitian ini adalah :

“ Tidak ada pengaruh senam diabetes terhadap kadar

gula darah Diabetisi pada Komunitas Persadia Kota Salatiga”.

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternatif. Hipotesis alternatif dapat langsung di rumuskan apabila ternyata pada suatu penelitian, hipotesis nol ditolak. Hipotesis ini merupakan hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain atau hipotesis yang menyatakan ada perbedaan sesuatu kejadian antara dua kelompok.

Ha dalam penelitian ini adalah :

“ Ada pengaruh senam diabetes terhadap kadar gula

Gambar

Tabel 2.4 Obat Hipoglikemik Oral

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang dicapai adalah aplikasi sistem basis data berbasis web yang terdiri dari modul pengadaan, pengolahan, sirkulasi, serta katalog online pada perpustakaan BPPT yang

Alasan digunakannya variabel profitabilitas, yaitu karena profitabilitas diperkirakan berpengaruh terhadap kebijakan hutang suatu perusahaan, dimana ketika suatu

yaitu mengenai bentuk perlindungan dari orang tua terhadap anak. yang mengalami kekerasan dan mengenai kewajiban orang

Prosedur kerja bagi pegawai di UPTD Pendidikan Kecamatan Tuntang sudah di tunjukan dengan adanya struktur organisasi, akan tetapi dalam pelaksanaan pekerjaan belum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan work family conflict dengan psychological well- being pada ibu yang bekerjasebagai perawat di RS Sumber

Manfaat yang diharapkan dari perancangan pusat rehabilitasi ini adalah agar dapat menyediakan sarana yang memadai bagi para residen, dan membuat rancangan interior yang sesuai

Pengenalan diri yang baik berarti bahwa mahasiswa lebih memahami akan keberadaan diri mereka sendiri seperti misalnya : menyukai diri sendiri apa adanya, mengetahui

(2) Dalam menetapkan persyaratan bangunan gedung semi-permanen dan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi